باب الصلاة

فصل في الصلاة على الميت

فصل في الصلاة على الميت

فصل في الصلاة على الميت

Fasal tentang Shalat Jenazah

صلاة الميت فرض كفاية كغسله ولو غريقا بتعميم بدنه بالماء مرة,

Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah, sebagaimana memandikannya meskipun jenazah tenggelam dengan meratakan air ke seluruh tubuhnya sekali,

فصل في الصلاة على الميت.

Fasal tentang Shalat Jenazah.

وشرعت بالمدينة وقيل هي من خصائص هذه الأمة.

Disyariatkan di Madinah, dan ada yang berpendapat bahwa shalat jenazah termasuk keistimewaan umat ini.

صلاة الميت أي الميت المسلم غير الشهيد.

Shalat jenazah, yaitu jenazah seorang muslim selain mati syahid.

فرض كفاية للإجماع والأخبار.

Hukumnya fardhu kifayah berdasarkan ijmak dan hadis-hadis.

كغسله ولو غريقا لانا مأمورون بغسله فلا يسقط الفرض عنا إلا بفعلنا وإن شاهدنا الملائكة تغسله

Sebagaimana memandikannya meskipun tenggelam, karena kita diperintahkan untuk memandikannya, sehingga kewajiban tersebut tidak gugur dari kita kecuali dengan perbuatan kita, meskipun kita menyaksikan para malaikat memandikannya.

ويكفي غسل كافر.

Dan cukuplah pemandian dari orang kafir.

ويحصل أقله بتعميم بدنه بالماء مرة حتى ما تحت قلفة الأقلف على الأصح صبيا كان الأقلف أو بالغا.

Batasan minimalnya tercapai dengan meratakan air ke seluruh tubuhnya sekali, bahkan bagian di bawah kulup orang yang belum dikhitan menurut pendapat yang lebih shahih, baik orang yang belum dikhitan itu masih anak-anak maupun sudah dewasa.

قال العبادي وبعض الحنفية: لا يجب غسل ما تحتها فعلى

Al-'Abbadi dan sebagian ulama Mazhab Hanafi berkata: Tidak wajib membasuh bagian di bawah kulup (kuncup/pembungkus kemaluan). Maka berdasarkan…

وتكفينه بساتر عورة,

Dan mengkafaninya dengan penutup aurat,

المرجح لو تعذر غسل ما تحت القلفة بأنها لا تتقلص إلا بجرح يمم عما تحتها كما قاله شيخنا وأقره غيره.

…pendapat yang diunggulkan: Jika sulit membasuh bagian di bawah kulup, misalnya kulup tidak dapat ditarik/ditingkapkan kecuali dengan melukainya, maka dipertayamumkan untuk bagian di bawahnya tersebut, sebagaimana dikatakan oleh guru kami dan disetujui oleh yang lainnya.

وأكمله: تثليثه وأن يكون في خلوة وقميص وعلى مرتفع بماء بارد إلا لحاجة كوسخ وبرد فالمسخن حينئذ أولى والمالح أولى من العذب ويبادر بغسله إذا تيقن موته ومتى شك في موته وجب تأخيره إلى اليقين بتغير ريح ونحوه فذكرهم العلامات الكثيرة له إنما تفيد حيث لم يكن هناك شك ولو خرج منه بعد الغسل نجس لم ينقض الطهر بل تجب إزالته فقط إن خرج قبل التكفين لا بعده ومن تعذر غسله لفقد ماء أو لغيره: كاحتراق ولو غسل تهرى يمم وجوبا.

Dan cara memandikan yang paling sempurna adalah: membasuh tiga kali, dilakukan di tempat yang sepi (tertutup), menggunakan baju kurung (gamis), di atas tempat yang tinggi, dengan air dingin kecuali jika ada kebutuhan seperti adanya kotoran atau cuaca dingin, maka air hangat saat itu lebih utama, dan air asin lebih utama daripada air tawar. Memandikannya disegerakan apabila telah diyakini kematiannya. Jika diragukan kematiannya, wajib menundanya hingga diyakini (kematiannya) dengan perubahan bau atau sejenisnya. Penyebutan mereka terhadap tanda-tanda kematian yang banyak itu hanya berguna apabila tidak ada keraguan di sana. Apabila keluar najis darinya setelah dimandikan, hal itu tidak membatalkan bersucinya, melainkan hanya wajib dihilangkan saja jika keluar sebelum dikafani, bukan setelahnya. Barang siapa yang sulit memandikannya karena tidak ada air atau karena hal lain seperti luka bakar yang jika dimandikan akan hancur dagingnya, maka wajib dipertayamumkan.

فرع [في بيان من يغسل الميت] الرجل أولى بغسل الرجل والمرأة أولى بغسل المرأة وله غسل حليلة ولزوجة لا أمة غسل زوجها ولو نكحت غيره بلا مس بل بلف خرقة على يد فإن خالف صح الغسل فإن لم يحضر إلا أجنبي في المرأة أو أجنبية في الرجل يمم الميت.

Cabang masalah [Penjelasan tentang siapa yang memandikan jenazah]: Laki-laki lebih berhak memandikan jenazah laki-laki dan perempuan lebih berhak memandikan jenazah perempuan. Seorang laki-laki boleh memandikan istrinya, dan seorang istri—bukan budak wanita—boleh memandikan suaminya meskipun wanita tersebut telah menikah dengan laki-laki lain, tanpa menyentuh langsung melainkan dengan melapiskan kain pada tangan. Jika terjadi pelanggaran (selain dari yang berhak), memandikannya tetap sah. Jika tidak ada yang hadir kecuali laki-laki asing bagi jenazah wanita atau wanita asing bagi jenazah laki-laki, maka jenazah tersebut ditayamumkan.

نعم لهما غسل من لا يشتهى من صبي أو صبية لحل نظر كل ومسه وأولى الرجال به أولاهم بالصلاة كما يأتي.

Ya, boleh bagi keduanya (laki-laki dan perempuan) memandikan anak kecil (laki-laki/perempuan) yang belum menimbulkan syahwat, karena halalnya memandang dan menyentuhnya. Dan laki-laki yang paling berhak memandikan jenazah adalah yang paling berhak mensalatkannya, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

وتكفينه بساتر عورة مختلفة بالذكورة والأنوثة دون الرق

Dan mengkafaninya dengan penutup aurat yang berbeda-beda berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, bukan berdasarkan status perbudakan…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

والحرية فيجب في المرأة ولو أمة ما يستر غير الوجه والكفين وفي الرجل ما يستر ما بين السرة والركبة.

…dan kemerdekaan. Maka wajib pada wanita—meskipun budak wanita—sesuatu yang menutup selain wajah dan kedua telapak tangan, dan pada laki-laki sesuatu yang menutup antara pusar dan lutut.

والاكتفاء بساتر العورة هو ما صححه النووي في أكثر كتبه ونقله عن الأكثرين لأنه حق لله تعالى.

Cukup dengan penutup aurat saja adalah pendapat yang dishahihkan oleh Imam An-Nawawi di sebagian besar kitabnya dan beliau nukil dari mayoritas ulama, karena hal itu merupakan hak Allah Ta'ala.

وقال آخرون: يجب ستر جميع البدن ولو رجلا وللغريم منع الزائد على ساتر كل البدن لا الزائد على ساتر العورة لتأكد أمره وكونه حقا للميت بالنسبة للغرماء.

Sebagian ulama lain berkata: Wajib menutup seluruh tubuh, meskipun jenazah laki-laki. Dan penagih utang (kreditur) berhak melarang kain kafan yang melebihi penutup seluruh tubuh, bukan melarang yang melebihi penutup aurat saja, karena penutupan seluruh tubuh sangat ditekankan dan merupakan hak bagi mayit jika dibandingkan dengan para penagih utang.

وأكمله للذكر ثلاثة يعم كل منها البدن وجاز أن يزاد تحتها قميص وعمامة وللأنثى إزار فقميص فخمار فلفافتان.

Dan kafan yang paling sempurna bagi laki-laki adalah tiga lapis kain yang masing-masing menutup seluruh tubuh, dan boleh ditambahkan di bawahnya baju kurung (gamis) dan sorban. Sedangkan bagi wanita adalah kain sarung, baju kurung, kerudung, kemudian dua lapis kain pembungkus.

ويكفن الميت بما له لبسه حيا فيجوز حرير ومزعفر للمرأة والصبي مع الكراهة.

Jenazah dikafani dengan pakaian yang boleh ia kenakan semasa hidupnya, maka boleh kain sutra dan kain yang dicelup warna za'faran untuk wanita dan anak kecil, disertai hukum makruh.

ومحل تجهيزه: التركة إلا زوجة وخادمها: فعلى زوج غني عليه نفقتهما فإن لم يكن له تركة فعلى من عليه نفقته من قريب وسيد فعلى بيت المال فعلى مياسير المسلمين.

Dan sumber biaya pengurusan jenazah adalah diambil dari harta peninggalannya (tarikah), kecuali jenazah istri dan pelayannya; maka biayanya menjadi tanggung jawab suami yang mampu yang wajib menafkahi keduanya. Jika ia tidak memiliki harta peninggalan, maka menjadi tanggung jawab kerabat atau tuan yang wajib menafkahinya. Jika tidak ada, maka dari Baitulmal, kemudian menjadi tanggung jawab orang-orang muslim yang mampu.

ويحرم التكفين في جلد إن وجد غيره وكذا الطين والحشيش فإن لم يوجد ثوب وجب جلد ثم حشيش ثم طين فيما استظهره شيخنا.

Haram mengkafani dengan kulit jika ditemukan bahan lain, begitu pula dengan lumpur dan rumput kering. Namun jika tidak ditemukan kain, maka wajib menggunakan kulit, kemudian rumput kering, lalu lumpur, menurut pendapat yang diunggulkan oleh guru kami.

ويحرم كتابة شيء من القرآن وأسماء الله تعالى على الكفن ولا بأس بكتابته بالريق لأنه لا يثبت.

Haram menuliskan sesuatu dari Al-Qur'an dan nama-nama Allah Ta'ala pada kain kafan, tetapi tidak mengapa menulisnya dengan air liur karena tidak bertahan lama (tidak berbekas).

ودفنه في حفرة تمنع رائحة وسبعا,

Dan menguburnya di dalam lubang yang dapat mencegah timbulnya bau dan gangguan binatang buas,

وأفتى ابن الصلاح بحرمة ستر الجنازة بحرير ولو امرأة كما يحرم تزيين بيتها بحرير.

Ibnu ash-Salah berfatwa tentang keharaman menutup jenazah dengan kain sutra meskipun jenazah wanita, sebagaimana diharamkan menghias rumah wanita tersebut dengan sutra.

وخالفه الجلال البلقيني فجوز الحرير فيها وفي الطفل واعتمده جمع مع أن القياس الأول.

Al-Jalal al-Bulqini menyelisihinya, sehingga beliau membolehkan penggunaan sutra padanya (jenazah wanita) dan pada anak-anak. Pendapat ini dijadikan pegangan oleh sekelompok ulama, meskipun kias mendukung pendapat yang pertama.

ودفنه في حفرة تمنع بعد طمها رائحة أي ظهورها.

Dan memakamkannya di dalam lubang yang dapat mencegah—setelah ditimbun tanah—baunya, maksudnya kemunculan aromanya.

وسبعا أي نبشه لها فيأكل الميت.

Dan (mencegah) binatang buas, yaitu mencegahnya menggali kubur tersebut lalu memakan jenazah.

وخرج بحفرة: وضعه بوجه الأرض ويبنى عليه ما يمنع ذينك حيث لم يتعذر الحفر نعم من مات بسفينة وتعذر البر جاز١ إلقاؤه في البحر وتثقيله ليرسب وإلا فلا.

Dikecualikan dengan kata "lubang": meletakkannya di permukaan tanah lalu dibangun di atasnya sesuatu yang dapat mencegah dua hal tersebut (bau dan binatang buas), selama penggalian kubur tidak berhalangan. Ya, barang siapa meninggal di atas kapal laut dan sulit mencapai daratan, boleh melemparnya ke laut dan memberinya pemberat agar tenggelam; jika tidak (memungkinkan ke daratan), maka tidak boleh.

وبتمنع ذينك ما يمنع أحدهما كأن اعتادت سباع ذلك المحل الحفر عن موتاه فيجب بناء القبر بحيث يمنع وصولها إليه.

Dan dikecualikan dengan "mencegah dua hal tersebut": sesuatu yang hanya mencegah salah satunya saja, seperti jika binatang buas di tempat itu terbiasa menggali kuburan orang-orang mati di sana, maka wajib membangun kubur sekira mencegah binatang buas mencapainya.

وأكمله قبر واسع عمق أربعة أذرع ونصف بذراع اليد.

Ukuran kuburan yang paling sempurna adalah yang luas dengan kedalaman empat setengah hasta berdasarkan ukuran hasta tangan.

ويجب اضطجاعه للقبلة.

Dan wajib membaringkan jenazah menghadap kiblat.

ويندب الإفضاء بخده الأيمن بعد تنحية الكفن عنه إلى نحو تراب مبالغة في الاستكانة والذل.

Disunnahkan menempelkan pipi kanannya—setelah menyingkap kain kafan darinya—ke tanah atau sejenisnya sebagai bentuk kesungguhan dalam merendahkan diri dan ketundukan.

ورفع رأسه بنحو لبنة.

Serta meninggikan kepalanya dengan sejenis bata (tanah mentah).

وكره صندوق إلا لنحو نداوة فيجب.

Dimakruhkan menggunakan peti jenazah, kecuali jika ada kondisi seperti tanah yang basah/lembap, maka hukumnya menjadi wajib.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ويحرم دفنه بلا شيء يمنع وقوع التراب عليه.

Dan diharamkan menguburnya tanpa sesuatu yang dapat mencegah jatuhnya tanah ke atas jenazah.

ويحرم دفن اثنين من جنسين بقبر إن لم يكن بينهما محرمية أو زوجية ومع أحدهما كره كجمع متحدي جنس فيه بلا حاجة ويحرم أيضا: إدخال ميت على آخر وإن اتحدا جنسا قبل بلاء جميعه ويرجع فيه لأهل الخبرة بالأرض.

Diharamkan mengubur dua orang beda jenis kelamin dalam satu kubur jika tidak ada hubungan mahram atau suami-istri di antara keduanya. Apabila ada salah satu dari hubungan tersebut, hukumnya makruh sebagaimana makruh mengumpulkan dua orang yang sejenis dalam satu kubur tanpa ada hajat. Diharamkan pula memasukkan jenazah baru kepada jenazah lain—meskipun sejenis—sebelum seluruh jasad jenazah yang lama hancur, dan hal ini dikembalikan kepada penilaian para ahli tanah.

ولو وجد بعض عظمه قبل تمام الحفر وجب رد ترابه أو بعده فلا.

Apabila ditemukan sebagian tulangnya sebelum selesainya penggalian, wajib mengembalikan tanahnya (menutupnya kembali); namun jika ditemukan setelah penggalian selesai, maka tidak wajib.

ويجوز الدفن معه ولا يكره الدفن ليلا خلافا للحسن البصري والنهار أفضل للدفن منه.

Boleh menguburkan jenazah bersamanya, dan tidak dimakruhkan mengubur di malam hari—berbeda dengan pendapat al-Hasan al-Bashri—namun mengubur di siang hari lebih utama daripadanya.

ويرفع القبر قدر شبر ندبا وتسطيحه أولى من تسنيمه.

Disunnahkan meninggikan kuburan setinggi satu jengkal, dan meratakannya (tashthih) lebih utama daripada membuatnya melengkung (tasnim).

ويندب لمن على شفير القبر أن يحثي ثلاث حثيات بيديه قائلا مع الأولى: ﴿مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ﴾ [٢٠ سورة طه الآية: ٥٥] ومع الثانية: ﴿وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ﴾ [٢٠ سورة طه الآية: ٥٥] ومع الثالثة: ﴿وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى﴾ [٢٠ سورة طه الآية: ٥٥] .

Disunnahkan bagi orang yang berada di tepi kubur untuk menggenggam dan melemparkan tanah sebanyak tiga genggaman dengan kedua tangannya seraya mengucapkan pada genggaman pertama: {Dari tanah itulah Kami menciptakan kamu} [QS. Thaha: 55], pada genggaman kedua: {dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu} [QS. Thaha: 55], dan pada genggaman ketiga: {dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain} [QS. Thaha: 55].

مهمة يسن وضع جريدة خضراء على القبر للاتباع ولأنه يخفف عنه ببركة تسبيحها وقيس بها ما اعتيد من طرح نحو الريحان الرطب ويحرم أخذ شيء منهما ما لم ييبسا لما في أخذ الأولى من تفويت حظ الميت المأثور عنه ﷺ [البخاري رقم: ٢١٦, مسلم رقم: ٢٩٢] , وفي الثانية من تفويت حق الميت بارتياح الملائكة النازلين لذلك قاله

Catatan penting: Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang hijau di atas kubur karena mengikut ajaran Nabi (ittiba') dan karena diringankan azab dari jenazah dengan keberkahan tasbih pelepah tersebut. Di-kias-kan darinya tradisi menaburkan sejenis tumbuhan harum yang basah. Diharamkan mengambil sesuatu dari keduanya selama belum kering, karena mengambil yang pertama memutus bagian/keuntungan jenazah yang bersumber dari Nabi ﷺ [HR. al-Bukhari no. 216, Muslim no. 292], sedangkan pada yang kedua memutus hak jenazah berupa ketenangan dari para malaikat yang turun untuk hal itu. Demikian dikatakan oleh…

وكره بناء له أو عليه ووطء عليه إلا لضرورة.

Dimakruhkan membangun untuk kuburan atau di atasnya, serta menginjaknya, kecuali karena darurat.

شيخانا ابن حجر وزياد.

Dua guru kami, Ibnu Hajar dan Ziyad.

وكره بناء له أي للقبر أو عليه لصحة النهي عنه بلا حاجة كخوف نبش أو حفر سبع أو هدم سيل.

Dimakruhkan membangun untuk kuburan, yaitu untuknya atau di atasnya, karena kesahihan larangan tentangnya tanpa adanya hajat (kebutuhan), seperti rasa takut akan pembongkaran, galian binatang buas, atau kehancuran akibat banjir.

ومحل كراهة البناء إذا كان بملكه فإن كان بناء نفس القبر بغير حاجة مما مر أو نحو قبة عليه بمسبلة وهي ما اعتاد أهل البلد الدفن فيها عرف أصلها ومسبلها أم لا أو موقوفة حرم وهدم وجوبا لأنه يتأبد بعد انمحاق الميت ففيه تضييق على المسلمين بما لا غرض فيه.

Letak kemakruhan membangun tersebut adalah jika bangunan itu berada di tanah miliknya sendiri. Namun, jika bangunan pada makam itu sendiri tanpa adanya hajat dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, atau berupa kubah di atasnya di pemakaman umum (musabbalah)—yaitu tempat yang biasa digunakan oleh penduduk negeri untuk menguburkan jenazah, baik diketahui asal-usul dan pewakifnya maupun tidak—atau di tanah wakaf, maka hukumnya haram dan wajib dibongkar. Hal ini karena bangunan tersebut akan kekal setelah jenazah hancur, sehingga dapat mempersempit lahan bagi kaum muslimin tanpa ada tujuan yang dibenarkan.

تنبيه: وإذا هدم ترد الحجارة المخرجة إلى أهلها إن عرفوا أو يخلى بينهما وإلا فمال ضائع وحكمه معروف كما قاله بعض أصحابنا.

Peringatan: Ketika dibongkar, batu-batu yang dikeluarkan dikembalikan kepada pemiliknya jika diketahui, atau diserahkan kepada mereka. Jika tidak diketahui pemiliknya, maka batu tersebut menjadi harta yang terlantar (mal dha'i') dan hukumnya sudah dimaklumi sebagaimana dikatakan oleh sebagian ashab kita.

وقال شيخنا الزمزمي: إذا بلي الميت وأعرض ورثته عن الحجارة جاز الدفن مع بقائها إذا جرت العادة بالإعراض عنها كما في السنابل.

Guru kami Az-Zamzami berkata: Apabila mayat telah hancur dan ahli warisnya membiarkan (memalingkan diri dari) batu-batu tersebut, maka boleh menguburkan jenazah lain dengan tetap membiarkan batu-batu itu, apabila kebiasaan memang menunjukkan pengabaian terhadapnya sebagaimana disebutkan dalam kitab As-Sanabil.

وكره وطئ عليه أي على قبر مسلم ولو مهدرا قبل بلاء.

Dan dimakruhkan menginjak di atasnya, yaitu di atas kuburan seorang muslim, meskipun yang darahnya sia-sia (muhdar ad-dam), sebelum hancurnya jenazah.

إلا لضرورة كأن لم يصل لقبر ميته بدونه وكذا ما يريد زيارته ولو غير قريب وجزم شرح مسلم [الحديث رقم: ٩٧١] كآخرين بحرمة القعود عليه والوطء لخبر فيه يرده أن المراد بالجلوس عليه جلوسه

Kecuali karena darurat, seperti jika ia tidak dapat mencapai kuburan jenazahnya tanpa menginjaknya, demikian pula kuburan yang ingin ia ziarahi meskipun bukan kerabatnya. Penulis Syarah Muslim [Hadis nomor: 971] bersama yang lainnya menegaskan keharaman duduk di atas kuburan dan menginjaknya berdasarkan hadis mengenai hal tersebut, namun pendapat ini dibantah bahwa yang dimaksud dengan 'duduk di atasnya' adalah duduknya seseorang…

ونبش لغسل ولا تدفن امرأة في بطنها جنين حتى يتحقق موته وووري سقط فإن اختلج صلي عليه.

Dan dibongkar untuk dimandikan. Seorang wanita tidak boleh dikuburkan sementara di dalam perutnya terdapat janin sampai dipastikan kematiannya. Dan janin yang gugur (siqth) ditutupi, lalu jika ia pernah bergerak/memiliki tanda kehidupan, maka disalatkan.

لقضاء الحاجة كما بينته رواية أخرى.

…untuk buang hajat, sebagaimana dijelaskan oleh riwayat yang lain.

ونبش وجوبا قبر من دفن بلا طهارة لغسل أو تيمم نعم إن تغير ولو بنتن حرم ولأجل مال غير كأن دفن في ثوب مغصوب أو أرض مغصوبة إن طلب المالك ووجد ما يكفن أو يدفن فيه وإلا لم يجز النبش أو سقط فيه متمول وإن لم يطلبه مالكه.

Wajib membongkar kuburan seseorang yang dikubur tanpa bersuci, baik dengan mandi maupun tayamum. Ya, jika jenazah telah berubah (berubah bentuk/membusuk) meskipun baru sebatas berbau busuk, maka haram dibongkar. Begitu pula dibongkar karena harta orang lain, seperti dikafani dengan kain ghasab atau dikubur di tanah ghasab, apabila pemiliknya menuntut dan ditemukan kain kafan lain atau tempat pemakaman lain untuknya; jika tidak ada, maka tidak boleh dibongkar. Atau jika harta bernilai (mutamawwal) terjatuh ke dalam kubur, meskipun pemiliknya tidak menuntutnya.

لا للتكفين إن دفن بلا كفن ولا للصلاة بعد إهالة التراب عليه.

Tidak boleh dibongkar hanya untuk dikafani jika ia dikuburkan tanpa kafan, dan tidak pula untuk disalatkan setelah tanah ditimbunkan di atasnya.

ولا تدفن امرأة ماتت في بطنها جنين حتى يتحقق موته أي الجنين ويجب شق جوفها والنبش له إن رجي حياته بقول القوابل لبلوغه ستة أشهر فأكثر فإن لم يرج حياته حرم الشق لكن يؤخر الدفن حتى يموت كما ذكر.

Seorang wanita yang meninggal sementara dalam perutnya terdapat janin tidak boleh dikuburkan sampai dipastikan kematiannya, yaitu kematian si janin. Wajib membedah perut wanita tersebut dan membongkar kuburnya untuk mengeluarkan janin jika ada harapan hidup berdasarkan keterangan bidan, karena janin tersebut telah mencapai usia enam bulan atau lebih. Namun jika tidak diharapkan hidupnya, maka haram membedah perutnya, melainkan pemakamannya ditunda sampai janin itu mati sebagaimana telah disebutkan.

وما قيل إنه يوضع على بطنها شيء ليموت غلط فاحش.

Pendapat yang mengatakan bahwa diletakkan sesuatu di atas perut wanita tersebut agar janinnya mati adalah kesalahan yang sangat fatal.

ووري أي ستر بخرقة سقط ودفن وجوبا كطفل كافر نطق بالشهادتين.

Dan ditutupi (yaitu diselubungi dengan kain) bayi yang keguguran (siqth) dan wajib dikuburkan, sebagaimana anak kecil kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat.

ولا يجب غسلهما بل يجوز.

Tidak wajib memandikan keduanya, melainkan hukumnya boleh.

وخرج بالسقط العلقة والمضغة فيدفنان ندبا من غير ستر ولو انفصل بعد أربعة أشهر غسل وكفن ودفن وجوبا.

Dikecualikan dari kategori siqth adalah 'alaqah (gumpalan darah) dan mudhghah (gumpalan daging), maka keduanya disunnahkan dikubur tanpa perlu ditutupi kain. Namun jika janin gugur setelah berusia empat bulan, ia wajib dimandikan, dikafani, dan dikuburkan.

فإن اختلج أو استهل بعد انفصاله صلي عليه وجوبا.

Jika janin tersebut sempat bergerak atau menangis (bersuara) setelah terpisah (lahir), maka wajib disalatkan.

وأركانها: ١- نية ٢- وقيام ٣- وأربع تكبيرات ٤- وفاتحة,

Rukun-rukunnya (shalat jenazah): 1. Niat, 2. Berdiri, 3. Empat kali takbir, 4. Membaca Al-Fatihah,

وأركانها أي الصلاة على الميت سبعة:

(Rukun-rukunnya) yaitu rukun shalat jenazah ada tujuh:

١- أحدهما: نية كغيرها ومن ثم وجب فيها ما يجب في نية سائر الفروض من نحو اقترانها بالتحرم والتعرض للفرضية وإن لم يقل فرض كفاية.

1. Yang pertama: Niat sebagaimana pada shalat lainnya. Oleh karena itu, wajib dalam niat shalat jenazah apa yang wajib dalam niat fardhu-fardhu lainnya, seperti menyertakannya dengan takbiratul ihram dan menentukan maksud fardhu, meskipun tidak mengucapkan 'fardhu kifayah'.

ولا يجب تعيين الميت ولا معرفته بل الواجب أدنى مميز فيكفي أصلي الفرض على هذا الميت.

Tidak wajib menentukan identitas jenazah dan tidak wajib pula mengenalnya, melainkan yang wajib cukup penentu yang paling minimal, sehingga cukuplah berniat: 'Aku berniat shalat fardhu atas jenazah ini'.

قال جمع: يجب تعيين الميت الغائب بنحو اسمه.

Sekelompok ulama berpendapat: Wajib menentukan jenazah yang gaib (tidak ada di tempat) seperti dengan menyebutkan namanya.

٢- وثانيها: قيام لقادر عليه فالعاجز يقعد ثم يضطجع.

2. Yang kedua: Berdiri bagi orang yang mampu. Orang yang tidak mampu boleh shalat dengan duduk, kemudian berbaring miring.

٣- وثالثها: أربع تكبيرات مع تكبيرة التحرم للاتباع فإن خمس لم تبطل صلاته.

3. Yang ketiga: Empat kali takbir beserta takbiratul ihram karena mengikuti sunnah (ittiba'). Jika seseorang bertakbir lima kali, shalatnya tidak batal.

ويسن رفع يديه في التكبيرات حذو منكبيه ووضعهما تحت صدره بين كل تكبيرتين.

Disunnahkan mengangkat kedua tangan pada setiap takbir sejajar dengan kedua bahunya dan meletakkannya di bawah dadanya di antara setiap dua takbir.

٤- ورابعها: فاتحة فبدلها فوقوف بقدرها والمعتمد أنها تجزئ بعد غير الأولى خلافا للحاوي كالمحرر وإن لزم عليه جمع ركنين في تكبيرة وخلو الأولى عن ذكر.

4. Yang keempat: Membaca Al-Fatihah, atau penggantinya (jika tidak mampu) yaitu berdiam diri selama kadar bacaannya. Pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) adalah bahwa Al-Fatihah sah dibaca setelah takbir selain yang pertama, berbeda dengan pendapat dalam al-Hawi sebagaimana al-Muharrar, meskipun konsekuensinya menggabungkan dua rukun dalam satu takbir dan mengosongkan takbir pertama dari dzikir.

ويسن إسرار بغير التكبيرات والسلام وتعوذ وترك افتتاح وسورة إلا على غائب أو قبر.

Disunnahkan memelankan bacaan selain takbir dan salam, membaca ta'awwudz, serta meninggalkan doa iftitah dan surah, kecuali jika shalat dilakukan atas jenazah gaib atau di atas kubur.

٥- وصلاة على النبي بعد ثانية, ٦- ودعاء لميت بعد ثالثة,

5. Membaca shalawat kepada Nabi setelah takbir kedua, 6. Mendoakan jenazah setelah takbir ketiga,

٥- وخامسها: صلاة على النبي ﷺ بعد تكبيرة ثانية أي عقبها فلا تجزئ في غيرها.

5. Yang kelima: Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ setelah takbir kedua, yaitu tepat setelahnya, sehingga tidak sah jika dibaca di selain takbir kedua.

ويندب ضم السلام للصلاة والدعاء للمؤمنين والمؤمنات عقبها والحمد قبلها.

Disunnahkan menyertakan salam pada shalawat, mendoakan kaum mukminin dan mukminat setelahnya, serta membaca hamdalah sebelumnya.

٦- وسادسها: دعاء لميت بخصوصه ولو طفلا بنحو: اللهم اغفر له وارحمه بعد ثالثة فلا يجزئ بعد غيرها قطعا.

6. Yang keenam: Mendoakan jenazah secara khusus meskipun jenazah anak-anak, dengan seumpama: 'Allaahummaghfir lahu warhamhu' (Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia) setelah takbir ketiga, maka secara pasti tidak sah jika dibaca di selain takbir ketiga.

ويسن أن يكثر من الدعاء له ومأثورة أفضل وأولاه ما رواه مسلم [رقم: ٩٦٣] عنه ﷺ وهو: اللهم اغفر له وارحمه واعف عنه وعافه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس وأبدله دارا خيرا من داره وأهلا خيرا من أهله وزوجا خيرا من زوجه وأدخله الجنة وأعذه من عذاب القبر وفتنته ومن عذاب النار.

Disunnahkan memperbanyak doa untuk jenazah, dan doa yang ma'tsur (diriwayatkan dari Nabi) adalah yang lebih utama. Yang paling utama adalah doa yang diriwayatkan oleh Muslim [No. 963] dari beliau ﷺ, yaitu: 'Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, sejahterakanlah dia, muliakanlah tempat persinggahannya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun, bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran, gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya, masukkanlah dia ke dalam surga, serta lindungilah dia dari azab kubur beserta fitnahnya dan dari azab neraka.'

ويزيد عليه ندبا: اللهم اغفر لحينا وميتنا إلى آخره.

Disunnahkan pula menambahkan padanya doa: 'Allaahummaghfir lihayyinaa wa mayyitinaa…' (Ya Allah, ampunilah orang yang hidup di antara kami dan orang yang telah meninggal di antara kami…) hingga akhir doa.

ويقول في الطفل مع هذا: اللهم اجعله فرطا لأبويه وسلفا وذخرا وعظة واعتبارا وشفيعا وثقل به موازينهما وأفرغ الصبر على قلوبهما ولا تفتنهما بعده ولا تحرمهما أجره.

Dan pada jenazah anak-anak dibaca bersama doa ini: 'Ya Allah, jadikanlah ia sebagai tabungan pendahulu bagi kedua orang tuanya, simpanan, nasihat, iktibar, dan pemberi syafaat, beratkanlah dengannya timbangan (kebaikan) keduanya, curahkanlah kesabaran ke dalam hati keduanya, janganlah Engkau timbulkan fitnah kepada keduanya setelah kepergiannya, dan janganlah Engkau halangi keduanya dari pahalanya.'

قال شيخنا: وليس قوله: اللهم اجعله فرطا إلى آخره مغنيا عن الدعاء له لأنه دعاء باللازم وهو لا يكفي لأنه إذا لم يكف الدعاء له بالعموم الشامل كل فرد فأولى هذا.

Guru kami berkata: Ucapan 'Allaahummaj'alhu farathan…' hingga akhir tidaklah cukup untuk menggantikan doa khusus bagi jenazah anak tersebut, karena doa itu adalah mendoakan konsekuensi (bagi orang tuanya) dan hal itu tidak mencukupi. Sebab jika doa secara umum yang mencakup setiap individu saja tidak mencukupi, maka doa ini tentu lebih tidak mencukupi.

٧- وسلام بعد رابعة.

7. Dan salam setelah takbir keempat.

وشرط لها: تقدم طهره,

Dan disyaratkan baginya (salat jenazah): didahului dengan menyucikannya (jenazah),

ويؤنث الضمائر في الأنثى ويجوز تذكيرها بإرادة الميت أو الشخص ويقول في ولد الزنا: اللهم اجعله فرطا لامه.

Dan kata ganti (dhamir) diubah menjadi feminin (mu'annats) untuk jenazah perempuan, serta boleh dibuat maskulin (mudzakkar) dengan memaksudkan 'al-mayyit' (mayat) atau 'as-syakhsh' (seseorang). Dan diucapkan pada jenazah anak hasil zina: 'Allahummaj'alhu farathan li-ummihi' (Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan/penolong bagi ibunya).

والمراد بالإبدال في الأهل والزوجة إبدال الأوصاف لا الذوات لقوله تعالى: ﴿ألحقنا بهم ذريتهم﴾ [٥٢ سورة الطور الآية: ٢١] ولخبر الطبراني [مجمع الزوائد رقم: ١٨٧٥٥] وغيره: إن نساء الجنة من نساء الدنيا أفضل من الحور العين انتهى.

Yang dimaksud dengan penggantian (ibdal) pada keluarga dan istri (dalam doa salat jenazah) adalah penggantian sifat-sifatnya, bukan fisiknya (zatnya), berdasarkan firman Allah Ta'ala: 'Kami hubungkan dengan mereka anak cucu mereka' [QS. At-Thur: 21], serta berdasarkan hadis riwayat at-Thabrani [Majma' az-Zawa'id no. 18755] dan selainnya: 'Sesungguhnya wanita-wanita surga yang berasal dari wanita dunia itu lebih utama daripada bidadari (hurul 'in)'. Selesai.

٧- وسابعها: سلام كغيرها بعد رابعة ولا يجب في هذه ذكر غير السلام لكن يسن: اللهم لا تحرمنا أجره

7. Dan yang ketujuh: Salam sebagaimana pada salat lainnya setelah takbir keempat. Tidak wajib membaca sebutan selain salam pada takbir (keempat) ini, namun disunnahkan membaca: 'Allahumma la tahrimna ajrahu' (Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya)

أي أجر الصلاة عليه أو أجر المصيبة ولا تفتنا بعده أي بارتكاب المعاصي واغفر لنا وله.

Yaitu pahala menyalatkannya atau pahala musibah tersebut, 'wa la taftinna ba'dahu' (dan janganlah Engkau beri kami fitnah/cobaan setelahnya) yaitu dengan melakukan kemaksiatan, 'waghfir lana wa lahu' (dan ampunilah kami dan dia).

ولو تخلف عن إمامه بلا عذر بتكبيرة حتى شرع إمامه في أخرى بطلت صلاته ولو كبر إمامه تكبيرة أخرى قبل قراءة المسبوق الفاتحة تابعه في تكبيره وسقطت القراءة عنه وإذا سلم الإمام تدارك المسبوق ما بقي عليه مع الأذكار ويقدم في الإمامة في صلاة الميت ولو امرأة: أب أو نائبه فأبوه ثم ابن فابنه ثم أخ لأبوين فلأب ثم ابنهما ثم العم كذلك ثم سائر العصبات ثم معتق ثم ذو رحم ثم زوج.

Jika seorang makmum tertinggal dari imamnya tanpa uzur sebanyak satu takbir hingga imam mulai masuk ke takbir berikutnya, maka batallah salatnya. Jika imamnya melakukan takbir berikutnya sebelum makmum masbuk selesai membaca al-Fatihah, maka ia (masbuk) harus mengikuti imam dalam takbirnya dan gugurlah bacaan al-Fatihah darinya. Apabila imam mengucapkan salam, maka makmum masbuk menyempurnakan bagian salatnya yang tersisa beserta dzikir-dzikirnya. Dan diutamakan untuk menjadi imam dalam salat jenazah—meskipun jenazahnya perempuan—yaitu: ayah atau wakilnya, kemudian kakek (ayah dari ayah), lalu anak laki-laki, kemudian cucu laki-laki (anak dari anak laki-laki), lalu saudara laki-laki seayah-seibu, kemudian saudara laki-laki seayah, lalu anak laki-laki mereka, kemudian paman (seayah-seibu lalu seayah), kemudian sisa kerabat 'ashabah, lalu orang yang memerdekakan, kemudian kerabat dzawil arham, lalu suami.

وشرط لها أي للصلاة على الميت مع شروط سائر الصلوات.

Dan disyaratkan baginya, yaitu bagi salat jenazah, beserta syarat-syarat salat lainnya:

تقدم طهره أي الميت بماء فتراب فإن وقع بحفرة أو بحر

Didahului penyuciannya, yaitu penyucian jenazah dengan air lalu dengan debu (jika tayamum). Jika jenazah jatuh ke dalam lubang atau laut

وأن لا يتقدم عليه وتصح على غائب عن بلد

Dan tidak berdiri mendahuluinya (jenazah). Dan sah salat atas jenazah yang gaib dari negeri (tempat tinggal)

وتعذر إخراجه وطهره لم يصل عليه على المعتمد.

serta sulit untuk mengeluarkan dan menyucikannya, maka ia tidak disalati menurut pendapat yang mu'tamad (kuat).

وأن لا يتقدم المصلى عليه أي الميت إن كان حاضرا ولو في قبر.

Dan (syarat berikutnya adalah) mushalli (orang yang salat) tidak berdiri mendahului jenazah yang disalati jika jenazahnya hadir, meskipun sudah berada di dalam kubur.

أما الميت الغائب فلا يضر فيه كونه وراء المصلي.

Adapun jenazah yang gaib (tidak di tempat), maka tidak mengapa jika posisinya berada di belakang orang yang menyalati.

ويسن جعل صفوفهم ثلاثة فأكثر للخبر الصحيح [الترمذي رقم: ١٠٢٨, أبو داود رقم: ٣١٦٦, ابن ماجه رقم: ١٤٩٠] : "من صلى عليه ثلاثة صفوف فقد أوجب" أي غفر له.

Dan disunnahkan menjadikan shaf (shaf-shaf jamaah) berjumlah tiga shaf atau lebih, berdasarkan hadis shahih [At-Tirmidzi no. 1028, Abu Dawud no. 3166, Ibn Majah no. 1490]: 'Barangsiapa yang disalati oleh tiga shaf, maka sungguh telah dipastikan (baginya pengampunan)', yaitu diampuni baginya.

ولا يندب تأخيرها لزيادة المصلين إلا لولي واختار بعض المحققين أنه إذا لم يخش تغيره ينبغي انتظاره مائة أو أربعين رجي حضورهم قريبا للحديث وفي مسلم [رقم: ٩٤٧] : "ما من مسلم يصلي عليه أمة من المسلمين يبلغون مائة كلهم يشفعون له إلا شفعوا فيه".

Dan tidak disunnahkan menunda salat jenazah demi menambah jumlah orang yang menyalati kecuali bagi wali (ahli waris). Namun, sebagian ulama muhaqqiqin memilih pendapat bahwa jika tidak dikhawatirkan perubahan kondisi mayat, seyogianya menunggu hingga genap seratus atau empat puluh orang yang diharapkan kedatangannya dalam waktu dekat, berdasarkan hadis. Dalam riwayat Muslim [no. 947]: 'Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu disalati oleh sekelompok umat Islam yang jumlahnya mencapai seratus orang, yang semuanya memberi syafaat (mendoakan) untuknya, melainkan syafaat mereka akan diterima untuknya'.

ولو صلي عليه فحضر من لم يصل ندب له الصلاة عليه وتقع فرضا فينويه ويثاب ثوابه والأفضل له فعلها بعد الدفن للاتباع ولا يندب لمن صلاها ولو منفردا إعادتها مع جماعة فإن أعادها وقعت نفلا.

Jika jenazah telah disalati, lalu datang orang yang belum menyalatkannya, disunnahkan baginya untuk menyalatkannya dan salat tersebut berstatus fardhu baginya, maka ia berniat fardhu dan diberi pahala fardhu. Yang lebih utama baginya adalah melakukannya setelah pemakaman demi mengikut sunnah (ittibā'). Tidak disunnahkan bagi orang yang telah menyalatkannya—meskipun sendirian—untuk mengulangnya bersama jamaah; jika ia mengulangnya, maka salat itu berstatus sunnah.

وقال بعضهم: الإعادة خلاف الأولى.

Sebagian ulama berpendapat: Mengulangnya adalah khilaf al-awla (menyelisahi yang lebih utama).

وتصح الصلاة على ميت غائب عن بلد بأن يكون الميت بمحل بعيد عن البلد بحيث لا ينسب إليها عرفا أخذا من قول الزركشي: إن خارج السور القريب منه كداخله.

Dan sah melakukan salat atas jenazah yang gaib dari suatu negeri/kota, dengan gambaran jenazah tersebut berada di tempat yang jauh dari kota sekira secara 'urf (kebiasaan umum) tidak lagi dianggap bagian dari kota tersebut, berdasarkan pendapat Az-Zarkasyi: 'Sesungguhnya bagian luar benteng yang dekat darinya berstatus seperti bagian dalamnya'.

لا فيها ومدفون غير نبي من أهل فرضها وقت موته وسقط الفرض بذكر وتحرم صلاة على شهيد

Tidak (pula boleh shalat ghaib) atas orang yang berada di dalam negeri tersebut, dan orang yang dikubur selain nabi, dari orang yang tergolong wajib melaksanakannya pada saat kematiannya. Kewajiban tersebut gugur dengan (dilakukannya oleh) seorang laki-laki, dan haram hukumnya menshalati orang yang mati syahid.

لا على غائب عن مجلسه فيها وإن كبرت نعم لو تعذر الحضور لها بنحو حبس أو مرض: جازت حينئذ على الأوجه.

Tidak (boleh menshalati ghaib) terhadap orang yang tidak berada di majelisnya di dalam negeri tersebut, meskipun negeri itu sangat luas. Ya, jika sulit untuk menghadiri shalat darat baginya karena alasan seperti dipenjara atau sakit, maka pada saat itu hukumnya boleh menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah).

وتصح على حاضر مدفون ولو بعد بلائه غير نبي فلا تصح على قبر نبي لخبر الشيخين [البخاري رقم: ٤٣٦, مسلم رقم: ٥٣١] .

Dan sah menshalati mayit yang hadir yang sudah dikubur, meskipun setelah jasadnya hancur, selain nabi. Maka tidak sah menshalati di atas kubur seorang nabi berdasarkan hadis Asy-Syaikhani [Al-Bukhari no. 436, Muslim no. 531].

من أهل فرضها وقت موته فلا تصح من كافر وحائض يومئذ كمن بلغ أو أفاق بعد الموت ولو قبل الغسل كما اقتضاه كلام الشيخين.

(Orang yang menshalati di atas kubur/ghaib harus) termasuk orang yang wajib melaksanakannya pada saat kematian mayit tersebut. Maka tidak sah dilakukan oleh orang kafir dan wanita yang sedang haid pada hari itu, sebagaimana halnya orang yang baru baligh atau baru sembuh dari gila setelah kematiannya, meskipun sebelum dimandikan, sebagaimana konsekuensi dari perkataan Asy-Syaikhani.

وسقط الفرض فيها بذكر ولو صبيا مميزا ولو مع وجود بالغ وإن لم يحفظ الفاتحة ولا غيرها بل وقف بقدرها ولو مع وجود من يحفظها لا بأنثى مع وجوده.

Dan gugur kewajiban padanya dengan (dilakukannya oleh) seorang laki-laki, meskipun anak kecil yang mumayyiz, dan meskipun ada orang dewasa, serta meskipun ia tidak hafal Al-Fatihah atau surat lainnya melainkan hanya diam sekadar durasi membacanya, dan meskipun ada orang yang hafal; serta tidak gugur dengan (dilakukannya oleh) perempuan selama laki-laki itu ada.

وتجوز على جنائز صلاة واحدة فينوي الصلاة عليهم إجمالا.

Dan boleh menyalatkan beberapa jenazah sekaligus dalam satu kali shalat, lalu ia berniat menshalati mereka secara keseluruhan.

وحرم تأخيرها عن الدفن بل يسقط الفرض بالصلاة على القبر.

Dan haram menunda shalat jenazah hingga setelah pemakaman, melainkan kewajiban tersebut tetap gugur dengan melakukan shalat di atas kubur.

وتحرم صلاة على كافر لحرمة الدعاء له بالمغفرة.

Dan haram hukumnya menshalati orang kafir karena haram mendoakan ampunan untuknya.

قال تعالى: ﴿وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَداً﴾ [٩ سورة التوبة الآية: ٨٤] ومنهم أطفال الكفار سواء أنطقوا بالشهادتين أم لا فتحرم الصلاة عليهم.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka untuk selama-lamanya" [QS. At-Taubah: 84]. Dan di antara mereka adalah anak-anak orang kafir, baik mereka sempat mengucapkan dua kalimat syahadat maupun tidak, maka haram hukumnya menshalati mereka.

وعلى شهيد وهو بوزن فعيل بمعنى مفعول لأنه مشهود له بالجنة أو فاعل لان روحه تشهد الجنة قبل غيره.

Dan (haram shalat) atas orang yang mati syahid. Kata "syahid" (شهيد) mengikuti wazan "fa'il" dengan makna "maf'ul" (yang disaksikan) karena ia dipersaksikan mendapat surga, atau makna "fa'il" (yang menyaksikan) karena ruhnya menyaksikan surga sebelum yang lainnya.

كغسله وهو من مات في قتال كفار لا أسير قتل صبرا,

Sebagaimana (haram pula) memandikannya. Dan ia adalah orang yang gugur dalam peperangan melawan orang-orang kafir, bukan tawanan yang dibunuh dalam keadaan terikat (shabr),

ويطلق لفظ الشهيد على من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو شهيد الدنيا والآخرة وعلى من قاتل لنحو حمية فهو شهيد الدنيا وعلى مقتول ظلما وغريق وحريق ومبطون أي من قتله بطنه كاستسقاء أو إسهال.

Dan istilah "syahid" juga disematkan kepada orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka ia adalah syahid dunia dan akhirat; dan kepada orang yang berperang karena membela diri/fanatisme, maka ia adalah syahid dunia; serta kepada orang yang terbunuh secara zalim, orang yang tenggelam, terbakar, dan yang meninggal karena penyakit perut (mabthun), yaitu orang yang terbunuh oleh penyakit di perutnya seperti busung air atau diare.

فهم الشهداء في الآخرة فقط.

Maka mereka itu adalah orang-orang yang mendapat pahala syahid di akhirat saja.

كغسله أي الشهيد ولو جنبا لأنه ﷺ لم يغسل قتلى أحد.

Sebagaimana (haram) memandikannya, yaitu mati syahid, meskipun dalam keadaan junub, karena Nabi ﷺ tidak memandikan para korban gugur dalam Perang Uhud.

ويحرم إزالة دم شهيد.

Dan haram membersihkan/menghilangkan darah orang yang mati syahid.

وهو من مات في قتال كفار أو كافر واحد قبل انقضائه وإن قتل مدبرا.

Yaitu orang yang gugur dalam pertempuran melawan orang-orang kafir atau satu orang kafir sebelum pertempuran usai, meskipun ia terbunuh saat berlari mundur.

بسببه أي القتال كأن أصابه سلاح مسلم آخر خطأ أو قتله مسلم استعانوا به أو تردى ببئر حال قتال١ أو جهل ما مات به وإن لم يكن به أثر دم.

Disebabkan olehnya, yaitu pertempuran, seperti terkena senjata muslim lain secara tidak sengaja, atau dibunuh oleh seorang muslim yang dimintai bantuan oleh pihak kafir, atau jatuh ke dalam sumur saat bertempur, atau tidak diketahui pasti penyebab kematiannya, meskipun tidak ada bekas darah padanya.

لا أسير قتل صبرا فإنه ليس بشهيد على الأصح لان قتله ليس بمقاتلة ولا من مات بعد انقضائه وقد بقي فيه حياة مستقرة إن قطع بموته بعد من جرح به.

Bukan tawanan yang dibunuh secara terikat (shabr), karena ia bukan syahid menurut pendapat yang lebih shahih sebab pembunuhannya bukan dalam situasi pertempuran; tidak pula orang yang meninggal setelah pertempuran usai sedangkan padanya masih ada kehidupan yang stabil (hayat mustaqirrah), jika dapat dipastikan kematiannya setelah itu disebabkan oleh luka akibat pertempuran tersebut.

أما من حركته حركة مذبوح عند انقضائه فشهيد جزما والحياة المستقرة ما تجوز أن يبقى يوما أو يومين على ما قاله النووي والعمراني.

Adapun orang yang gerakannya adalah gerakan orang yang disembelih (harakah madhbuh) ketika pertempuran usai, maka ia dipastikan syahid. Sedangkan kehidupan yang stabil (hayat mustaqirrah) adalah kehidupan yang memungkinkan seseorang untuk tetap hidup sehari atau dua hari, menurut apa yang dikatakan oleh An-Nawawi dan Al-Imrani.

وكفن شهيد في ثيابه لا حرير ويندب

Dan seorang syahid dikafani dengan pakaiannya, bukan kain sutra; dan disunnahkan…

ولا من وقع بين كفار فهرب منهم فقتلوه لان ذلك ليس بقتال كما أفتى به شيخنا ابن زياد رحمه الله تعالى.

Begitu pula bukan tergolong syahid orang yang jatuh di antara orang-orang kafir lalu ia lari dari mereka kemudian mereka membunuhnya, karena hal tersebut tidak termasuk peperangan, sebagaimana yang difatwakan oleh guru kami Ibnu Ziyad rahimahullah ta'ala.

ولا من قتله اغتيالا حربي دخل بيننا نعم إن قتله عن مقاتلة كان شهيدا كما نقله السيد السمهودي عن الخادم.

Dan bukan pula orang yang dibunuh secara rahasia (pembunuhan gelap) oleh kafir harbi yang masuk ke tengah-tengah kita. Ya, jika ia membunuhnya karena adanya perlawanan/pertempuran, maka ia adalah seorang syahid, sebagaimana dinukil oleh As-Sayyid As-Samhudi dari Al-Khadim.

وكفن ندبا شهيد في ثيابه التي مات فيها والملطخة بالدم أولى للاتباع ولو لم تكفه بأن لم تستر كل بدنه تممت وجوبا.

Disunnahkan mengkafani seorang syahid dengan pakaian yang ia kenakan saat meninggal dunia, dan pakaian yang berlumuran darah lebih utama untuk digunakan demi mengikuti sunnah (Ittiba'). Jika pakaian tersebut tidak mencukupinya, yaitu tidak menutupi seluruh tubuhnya, maka wajib disempurnakan (ditambah kain kafan lain).

لا في حرير لبسه لضرورة الحرب فينزع وجوبا.

Tidak dikafani dengan sutra yang ia pakai karena darurat perang, sehingga sutra tersebut wajib dilepas.

ويندب أن يلقن محتضر ولو مميزا على الأوجه الشهادة: أي لا إله إلا الله فقط لخبر مسلم [رقم: ٩١٦] "لقنوا موتاكم" أي من حضره الموت لا إله إلا الله مع الخبر الصحيح [أبو داود رقم: ٣١١٦, مستدرك الحاكم ١/٣٥١] : من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة أي مع الفائزين وإلا فكل مسلم ولو فاسقا يدخلها ولو بعد عذاب وإن طال.

Dan disunnahkan menuntun (talqin) orang yang sedang menghadapi sakaratul maut, meskipun ia anak mumayyiz menurut pendapat yang lebih kuat, yaitu mengucapkan kalimat syahadat: maksudnya kalimat 'Laa ilaaha illallah' saja, berdasarkan hadis riwayat Muslim [No: 916]: "Tuntunlah orang yang hendak mati di antara kalian (untuk mengucapkan) Laa ilaaha illallah", serta hadis sahih [Abu Dawud No: 3116, Mustadrak Al-Hakim 1/351]: "Barang siapa yang akhir ucapannya adalah 'Laa ilaaha illallah', maka ia masuk surga", yakni bersama orang-orang yang beruntung. Jika tidak (sejak awal), maka setiap muslim—meskipun fasik—pasti akan memasukinya, walau setelah mengalami azab meskipun panjang.

وقول جمع: يلقن محمد رسول الله أيضا لان القصد موته على الإسلام ولا يسمى مسلما إلا بهما مردود بأنه مسلم وإنما القصد ختم كلامه بلا إله إلا الله ليحصل له ذلك الثواب وبحث تلقينه الرفيق الأعلى لأنه آخر ما تكلم به رسول الله ﷺ مردود بأن ذلك لسبب لم يوجد في غيره وهو أن الله خيره فاختاره.

Pendapat sekelompok ulama bahwa dituntunkan pula ucapan 'Muhammadur Rasulullah' karena tujuannya adalah agar meninggal dalam keadaan Islam dan seseorang tidak dinamai muslim kecuali dengan keduanya, adalah pendapat yang tertolak; sebab ia sudah seorang muslim, dan tujuannya hanyalah mengakhiri ucapannya dengan 'Laa ilaaha illallah' agar memperoleh pahala tersebut. Begitu pula pembahasan untuk menuntunnya mengucapkan 'Ar-Rafiq Al-A'la' karena itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, juga tertolak; sebab hal tersebut dikarenakan sebab khusus yang tidak ada pada selain beliau, yaitu bahwasanya Allah memberinya pilihan, lalu beliau memilih-Nya.

وأما الكافر فيلقنهما قطعا مع لفظ أشهد لوجوبه أيضا على

Adapun orang kafir, maka ia dituntunkan kedua kalimat syahadat secara pasti beserta lafaz 'Asyhadu', karena hal itu juga wajib atasnya berdasarkan…

تلقين بالغ ولو شهيدا بعد دفن وزيارة قبور لرجل

…talqin untuk orang dewasa meskipun mati syahid setelah pemakaman, dan ziarah kubur bagi laki-laki.

ما سيأتي فيه إذ لا يصير مسلما إلا بهما.

…apa yang akan dijelaskan nanti padanya, karena ia tidak menjadi muslim kecuali dengan keduanya.

وأن يقف جماعة بعد الدفن عند القبر ساعة يسألون له التثبيت ويستغفرون له.

Dan disunnahkan sekelompok orang berdiri sesaat setelah pemakaman di dekat kubur untuk memohonkan keteguhan (jawaban) baginya dan memohonkan ampunan untuknya.

وتلقين بالغ ولو شهيدا كما اقتضاه إطلاقهم خلافا للزركشي بعد تمام دفن فيقعد رجل قبالة وجهه ويقول: يا عبد الله ابن أمة الله: اذكر العهد الذي خرجت عليه من

Dan (disunnahkan pula) talqin bagi orang dewasa meskipun mati syahid—sebagaimana konsekuensi dari pernyataan mutlak para ulama, berbeda dengan pendapat Az-Zarkasyi—setelah selesai pemakaman. Maka seorang laki-laki duduk menghadap wajahnya dan berkata: 'Wahai hamba Allah putra dari hamba perempuan Allah, ingatlah janji yang engkau bawa saat keluar dari…'

الدنيا: شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا رسول الله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد ﷺ نبيا وبالقرآن إماما وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخوانا ربي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم.

…dunia: kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bahwa surga itu benar, neraka itu benar, hari kebangkitan itu benar, hari kiamat pasti datang tiada keraguan padanya, dan bahwasanya Allah akan membangkitkan siapa saja yang ada di dalam kubur; dan bahwa engkau telah ridha Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad ﷺ sebagai nabimu, Al-Qur'an sebagai imammu, Ka'bah sebagai kiblatmu, dan orang-orang mukmin sebagai saudaramu. Tuhanku adalah Allah, tiada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dialah Tuhan Pemilik Arasy yang agung.'

قال شيخنا: ويسن تكراره ثلاثا والأولى للحاضرين الوقوف وللملقن القعود ونداؤه بالأم فيه أي إن عرفت وإلا فبحواء لا ينافي دعاء الناس يوم القيامة بآبائهم لان كليهما توقيف لا مجال للرأي فيه والظاهر أنه يبدل العبد بالأمة في الأنثى ويؤنث الضمائر انتهى.

Guru kami berkata: Disunnahkan mengulangnya tiga kali. Yang lebih utama bagi orang-orang yang hadir adalah berdiri, sedangkan bagi penuntun (mulaqqin) adalah duduk, dan memanggilnya dengan nama ibunya dalam talqin tersebut jika diketahui, jika tidak maka dengan nama Hawa. Hal ini tidak bertentangan dengan dipanggilnya manusia pada hari kiamat dengan nama bapak-bapak mereka, karena keduanya berdasarkan petunjuk syariat (tauqifi) yang tidak ada ruang ijtihad di dalamnya. Dan yang tampak jelas bahwa kata 'abd' (hamba laki-laki) diganti dengan 'amah' (hamba perempuan) pada jenazah perempuan dan kata gantinya diubah menjadi feminim (mu'annats). Selesai.

ويندب زيارة قبور لرجل لا لأنثى فتكره لها نعم يسن لها زيارة قبر النبي ﷺ.

Dan disunnahkan berziarah kubur bagi laki-laki, bukan bagi perempuan, maka hukumnya makruh bagi perempuan. Ya, disunnahkan baginya berziarah ke makam Nabi ﷺ.

قال بعضهم: وكذا سائر الأنبياء والعلماء والأولياء.

Sebagian ulama berkata: Demikian pula (disunnahkan bagi perempuan berziarah ke) makam para nabi lainnya, para ulama, dan para wali.

وسلام.

Dan mengucapkan salam.

ويسن كما نص عليه أن يقرأ من القرآن ما تيسر على القبر فيدعو له مستقبلا للقبلة.

Dan disunnahkan, sebagaimana ditegaskan oleh beliau (Imam Syafi'i), untuk membaca ayat Al-Qur'an yang mudah di atas kubur, kemudian mendoakannya dengan menghadap kiblat.

وسلام لزائر على أهل المقبرة عموما ثم خصوصا فيقول: السلام عليكم دار قوم مؤمنين عند أول

Dan disunnahkan memberi salam bagi peziarah kepada penghuni pemakaman secara umum kemudian secara khusus. Ia mengucapkan: "Assalamu 'alaikum daara qaumim mu'minin" di awal

المقبرة ويقول عند قبر أبيه مثلا: السلام عليك يا والدي فإن أراد الاقتصار على أحدهما أتى بالثانية لأنه أخص بمقصوده وذلك لخبر مسلم [مسلم رقم: ١٥٠] أنه ﷺ قال: "السلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون".

area pemakaman, dan mengucapkan di sisi kubur ayahnya misalnya: "Assalamu 'alaika ya waalidii". Jika ia ingin mencukupkan pada salah satu dari keduanya, hendaklah ia mendatangkan yang kedua karena lebih khusus dengan maksudnya. Hal itu berdasarkan riwayat Muslim [Muslim no. 150] bahwa beliau ﷺ bersabda: "Assalamu 'alaikum daara qaumim mu'minin wa innaa insyaa'allahu bikum laahiquun".

والاستثناء للتبرك أو للدفن بتلك البقعة أو للموت على الإسلام.

Dan pengecualian (kalimat 'insya Allah') di sini bertujuan untuk bertabarruk (mengambil keberkahan), atau untuk pemakaman di tempat tersebut, atau untuk diwafatkan dalam keadaan Islam.

فائدة: ورد أن من مات يوم الجمعة أو ليلتها أمن من عذاب القبر وفتنته [راجع الترمذي رقم: ١٠٧٤, مسند أحمد رقم: ٦٦٠٨, ٧٠١٠] .

Faedah: Diriwayatkan bahwa barang siapa meninggal pada hari Jumat atau malamnya, ia akan aman dari azab kubur dan fitnahnya [lihat At-Tirmidzi no. 1074, Musnad Ahmad no. 6608, 7010].

وورد أيضا: من قرأ ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ في مرض موته مائة مرة لم يفتن في قبره وأمن من ضغطة القبر

Diriwayatkan juga: Barang siapa membaca ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ dalam sakit menjelang kematiannya sebanyak seratus kali, ia tidak akan terfitnah di dalam kuburnya dan aman dari himpitan kubur,

وجاوز الصراط على أكف الملائكة [مجمع الزوائد رقم: ١١٥٣٨] .

serta melintasi ash-shirath di atas telapak tangan para malaikat [Majma' az-Zawa'id no. 11538].

وورد أيضا: "من قال: لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين أربعين مرة في مرضه فمات فيه أعطي أجر شهيد وإن برئ برئ مغفورا له" [كنز العمال رقم: ١٩٤٧] .

Diriwayatkan juga: "Barang siapa mengucapkan: 'Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin' sebanyak empat puluh kali ketika sakitnya lalu ia meninggal dalam sakitnya tersebut, maka ia diberi pahala seorang syahid, dan jika ia sembuh, ia sembuh dalam keadaan diampuni dosa-dosanya" [Kanz al-'Ummal no. 1947].

غفر الله لنا وأعاذنا من عذاب القبر وفتنته.

Semoga Allah mengampuni kita dan melindungi kita dari azab kubur serta fitnahnya.