المقام الأول من المرابطة: المشارطة
المقام الأول من المرابطة: المشارطة
Maqam Pertama dari Murabathah: Musharathah (Penetapan Syarat/Komitmen Diri)
اعلم أن مطالب المتعاملين في التجارات المشتركين في البضائع عند المحاسبة سلامة الربح وكما أن التاجر يستعين بشريكه فيسلم إليه المال حتى يتجر ثم يحاسبه فكذلك العقل هو التاجر في طريق الآخرة وإنما مطالبة وربحه تزكية النفس لأن بذلك فلاحها قال الله تعالى ﴿قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها﴾ وإنما فلاحها بالأعمال الصالحة
Ketahuilah bahwa tujuan orang-orang yang bertransaksi dalam perdagangan yang berserikat dalam modal ketika melakukan perhitungan (muhasabah) adalah keselamatan keuntungan. Sebagaimana seorang pedagang meminta bantuan sekutunya dengan menyerahkan modal kepadanya agar ia berdagang kemudian memperhitungkannya, maka demikian pula akal adalah pedagang di jalan akhirat. Tujuan dan keuntungannya tidak lain adalah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), karena dengan itulah keberuntungannya tercapai. Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10). Dan keberuntungan jiwa itu hanya dapat dicapai dengan amal-amal saleh.
والعقل يستعين بالنفس في هذه التجارة إذ يستعملها ويستسخرها فيما يزكيها كما يستعين التاجر بشريكه وغلامه الذي يتجر في ماله وكما أن الشريك يصير خصماً منازعاً يجاذبه في الربح فيحتاج إلى أن يشارطه أولاً ويراقبه ثانياً ويحاسبه ثالثا ويعاقبه أو يعاتبه رابعاً فكذلك العقل يحتاج إلى مشارطة النفس أولاً فيوظف عليها الوظائف ويشرط عليها الشروط ويرشدها إلى طريق الفلاح ويحزم عليها الأمر بسلوك تلك الطرق ثم لا يغفل عن مراقبتها لحظة فإنه لو أهملها لم ير منها إلا الخيانة وتضييع رأس المال كالعبد الخائن إذا خلا له الجو وانفرد بالمال
Dan akal meminta bantuan jiwa dalam perdagangan ini dengan cara mempekerjakan dan menundukkannya dalam hal-hal yang menyucikannya, sebagaimana pedagang meminta bantuan sekutu dan pelayannya yang berdagang menggunakan hartanya. Sebagaimana seorang sekutu dapat menjadi penentang yang berselisih dan memperebutkan keuntungan sehingga membutuhkan penetapan syarat (musharathah) terlebih dahulu, pengawasan (muraqabah) kedua, perhitungan (muhasabah) ketiga, dan pemberian sanksi (mu'aqabah) atau teguran (mu'atabah) keempat; maka demikian pula akal membutuhkan musharathah terhadap jiwa terlebih dahulu, yaitu dengan membebankan tugas-tugas kepadanya, menetapkan syarat-syarat atasnya, membimbingnya ke jalan keberuntungan, serta meyakinkannya untuk menempuh jalan-jalan tersebut. Kemudian akal tidak boleh lalai dari mengawasinya (muraqabah) sekejap pun, sebab jika akal mengabaikannya, tidak ada yang terlihat dari jiwa selain pengkhianatan dan penghamburan modal, seperti seorang hamba sahaya pengkhianat ketika ia mendapati kesempatan bebas dan memegang harta sendirian.
ثم بعد الفراغ ينبغي أن يحاسبها ويطالبها بالوفاء بما شرط عليها فإن هذه تجارة ربحها الفردوس الأعلى وبلوغ سدرة المنتهى مع الأنبياء والشهداء فتدقيق الحساب في هذا مع النفس أهم كثيراً من تدقيقه في أرباح الدنيا مع أنها محتقرة بالإضافة إلى نعيم العقبى ثم كيفما كانت فمصيرها إلى التصرم والانقضاء ولا خير في خير لا يدوم بل شر لا يدوم خير من خير لا يدوم لأن الشر الذي لا يدوم إذا انقطع بقي الفرح بانقطاعه دائماً وقد انقضى الشر والخير الذي لا يدوم يبقى الأسف على انقطاعه دائماً وقد انقضى الخير
Kemudian setelah selesai dari urusan tersebut, hendaklah ia memperhitungkannya (muhasabah) dan menuntutnya untuk memenuhi apa yang telah disyaratkan kepadanya. Sebab perdagangan ini berhadiah surga Firdaws yang tertinggi dan pencapaian Sidratul Muntaha bersama para nabi dan syuhada. Maka meneliti perhitungan terhadap diri (jiwa) dalam hal ini jauh lebih penting daripada menelitinya dalam keuntungan-keuntungan dunia, padahal keuntungan dunia itu sangat hina jika dibandingkan dengan nikmat akhirat. Lagi pula, bagaimanapun bentuknya, kebahagiaan dunia akan berakhir dan sirna. Dan tidak ada kebaikan pada kebaikan yang tidak abadi; bahkan keburukan yang tidak abadi itu lebih baik daripada kebaikan yang tidak abadi. Karena keburukan yang tidak abadi apabila terputus, maka kegembiraan atas terputusnya hal itu akan tersisa selamanya sementara keburukan itu telah berlalu. Sedangkan kebaikan yang tidak abadi, penyesalan atas terputusnya hal itu akan tersisa selamanya sementara kebaikan itu telah berlalu.
ولذلك قيل
Oleh karena itu dikatakan:
أشد الغم عندي في سرور … تيقن عنه صاحبه انتقالا فختم عَلَى كُلِّ ذِي حَزْمٍ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ لَا يَغْفُلَ عَنْ مُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ وَالتَّضْيِيقِ عَلَيْهَا فِي حَرَكَاتِهَا وَسَكَنَاتِهَا وَخَطَرَاتِهَا وَخُطُوَاتِهَا فَإِنَّ كُلَّ نَفَسٍ مِنْ أَنْفَاسِ الْعُمُرِ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ لَا عِوَضَ لَهَا يُمْكِنُ أَنْ يُشْتَرَى بِهَا كَنْزٌ مِنَ الْكُنُوزِ لَا يَتَنَاهَى نَعِيمُهُ أبد الآباد فانقباض هَذِهِ الْأَنْفَاسِ ضَائِعَةً أَوْ مَصْرُوفَةً إِلَى مَا يَجْلِبُ الْهَلَاكَ خُسْرَانٌ عَظِيمٌ هَائِلٌ لَا تَسْمَحُ به نفس عاقل
"Kesedihan yang paling berat bagiku dalam kesenangan… adalah ketika temannya yakin akan kepindahannya." Maka dimaktubkan atas setiap orang yang memiliki ketetapan hati yang beriman kepada Allah dan hari Akhir agar tidak lalai dari mengintrospeksi dirinya (muhasabah) serta mempersempit gerak-gerik, kediaman, lintasan hati, dan langkah-langkahnya. Sebab setiap napas dari napas-napas umur merupakan permata yang sangat berharga yang tidak ada gantinya, yang dengannya dapat dibeli salah satu dari simpanan harta karun yang nikmatnya tidak akan pernah berakhir selama-lamanya. Maka terbuangnya napas-napas ini secara sia-sia atau dialihkannya pada sesuatu yang mendatangkan kebinasaan merupakan kerugian besar yang sangat mengerikan, yang tidak akan direlakan oleh jiwa orang yang berakal.
فإذا أَصْبَحَ الْعَبْدُ وَفَرَغَ مِنْ فَرِيضَةِ الصُّبْحِ يَنْبَغِي أن يفرغ قلبه ساعة لمشارطة النفس كما أن التاجر عند تسليم البضاعة إلى الشريك العامل يفرغ المجلس لمشارطته
Maka apabila seorang hamba memasuki waktu pagi dan selesai dari shalat fardhu Subuh, hendaknya ia mengosongkan hatinya sejenak untuk bermusharathah (membuat kesepakatan syarat) dengan jiwanya, sebagaimana seorang pedagang ketika menyerahkan barang dagangan kepada sekutu pengelolanya mengosongkan majelis untuk menetapkan syarat padanya.
فيقول للنفس مَا لِي بِضَاعَةٌ إِلَّا الْعُمُرُ وَمَهْمَا فَنِيَ فَقَدْ فَنِيَ رَأْسُ الْمَالِ وَوَقَعَ الْيَأْسُ عَنِ التِّجَارَةِ وَطَلَبِ الرِّبْحِ وَهَذَا الْيَوْمُ الْجَدِيدُ قَدْ أَمْهَلَنِي اللَّهُ فِيهِ وَأَنْسَأَ فِي أَجْلِي وَأَنْعَمَ عَلَيَّ بِهِ وَلَوْ تَوَفَّانِي لَكُنْتُ أَتَمَنَّى أَنْ يُرْجِعَنِي إِلَى الدُّنْيَا يَوْمًا وَاحِدًا حَتَّى أَعْمَلَ فِيهِ صَالِحًا فَاحْسَبِي
Lalu ia berkata kepada jiwanya: "Aku tidak memiliki modal selain umur ini. Apabila ia habis, maka habis pulalah modal itu dan terputuslah harapan untuk berdagang serta mencari keuntungan. Hari yang baru ini sungguh Allah telah memberikan penangguhan waktu kepadaku padanya, mengundurkan ajalku, dan mengaruniakannya kepadaku. Sekiranya Dia mewafatkanku, niscaya aku sangat berharap Dia mengembalikanku ke dunia walau sehari saja agar aku dapat beramal saleh di dalamnya. Maka anggaplah
أَنَّكِ قَدْ تُوُفِّيتِ ثُمَّ قَدْ رُدِدْتِ فَإِيَّاكِ ثُمَّ إِيَّاكِ أَنْ تُضَيِّعِي هَذَا الْيَوْمَ فَإِنَّ كُلَّ نَفَسٍ مِنَ الْأَنْفَاسِ جَوْهَرَةٌ لَا قِيمَةَ لها واعلمي يا نفس أن اليوم والليلة أربع وعشرون ساعة وقد ورد في الخبر أنه ينشر للعبد بكل يوم وليلة أربع وعشرون خزانة مصفوفة فيفتح له منها خزانة فيراها مملوءة نوراً من حسناته التي عملها في تلك الساعة فيناله من الفرح والسرور والاستبشار بمشاهدة تلك الأنوار التي هي وسيلته عند الملك الجبار ما لو وزع على أهل النار لأدهشهم ذلك الفرح عن الإحساس بألم النار ويفتح له خزانة أخرى سوداء مظلمة يفوح منها نتنها ويغشاه ظلامها وهي الساعة التي عصي فيها فيناله من الهول والفزع ما لو قسم على أهل الجنة لتنغص عليهم نعيمها ويفتح له خزانة أخرى فارغة ليس فيها ما يسره ولا ما يسؤه وهي الساعة التي نام فيها أو غفل أو اشتغل بشيء من مباحات الدنيا فيتحسر على خلوها ويناله من غبن ذلك ما ينال القادر على الربح الكثير والملك الكبير إذا أهمله وتساهل فيه حتى فاته وناهيك به حسرة وغبناً وهكذا تعرض عليه خزائن أوقاته طول عمره فيقول لنفسه اجتهدي اليوم في أن تعمري خزانتك ولا تدعيها فارغة عن كنوزك التي هي أسباب ملكك ولا تَمِيلِي إِلَى الْكَسَلِ وَالدَّعَةِ وَالِاسْتِرَاحَةِ فَيَفُوتَكِ مِنْ دَرَجَاتِ عِلِّيِّينَ مَا يُدْرِكُهُ غَيْرُكِ وَتَبْقَى عِنْدَكِ حَسْرَةٌ لَا تُفَارِقُكِ وَإِنْ دَخَلْتِ الْجَنَّةَ فَأَلَمُ الغبن وحسرته لا يطاق وإن كان دون ألم النار
bahwa engkau telah diwafatkan kemudian engkau dikembalikan lagi. Maka berhati-hatilah engkau, sungguh berhati-hatilah jangan sampai engkau menyia-nyiakan hari ini! Karena setiap napas dari napas-napas umur adalah permata yang tak ternilai harganya. Ketahuilah wahai jiwa, bahwa sehari semalam terdiri dari dua puluh empat jam. Dan sungguh telah datang dalam riwayat bahwa akan dibentangkan bagi hamba pada setiap hari dan malam dua puluh empat perbendaharaan yang berderet. Lalu dibukakan baginya satu perbendaharaan dari antaranya, dan ia melihatnya penuh dengan cahaya dari kebaikan-kebaikannya yang ia kerjakan pada jam tersebut. Maka ia diliputi oleh kegembiraan, kesenangan, dan kabar gembira ketika menyaksikan cahaya-cahaya tersebut—yang merupakan perantara keselamatannya di hadapan Raja Yang Maha Perkasa—yang sekiranya dibagi kepada penghuni neraka, niscaya kegembiraan itu akan membuat mereka lupa dari merasakan pedihnya siksa neraka. Dan dibukakan baginya perbendaharaan lain yang hitam kelam, membubung bau busuknya dan menyelimutinya kegelapannya, yaitu jam ketika ia bermaksiat di dalamnya, maka ia diliputi oleh ketakutan dan kepanikan yang sekiranya dibagi kepada penghuni surga, niscaya hal itu akan merusak kenikmatan surga mereka. Dan dibukakan baginya perbendaharaan lain yang kosong, tidak ada di dalamnya sesuatu yang mengembirakannya dan tidak pula yang menyedihkannya, yaitu jam ketika ia tidur padanya, lalai, atau disibukkan oleh sesuatu dari hal-hal mubah duniawi. Maka ia sangat menyesal atas kekosongannya dan diliputi oleh penyesalan atas kerugian sebagaimana yang dialami oleh orang yang mampu meraih keuntungan melimpah dan kekuasaan besar namun ia mengabaikan dan meremehkannya hingga kesempatan itu luput darinya; dan cukuplah hal itu sebagai penyesalan dan kerugian. Demikianlah dibeberkan kepadanya perbendaharaan-perbendaharaan waktunya sepanjang umurnya." Maka ia berkata kepada jiwanya: "Berusahalah hari ini untuk memakmurkan perbendaharaanmu dan jangan engkau biarkan ia kosong dari simpanan-simpananmu yang merupakan sebab kekuasaanmu (di akhirat). Dan janganlah engkau cenderung kepada kemalasan, kelapangan, dan istirahat, sehingga luput darimu derajat-derajat 'Illiyyin yang dicapai oleh orang lain, dan tersisa padamu penyesalan yang tidak akan berpisah darimu meskipun engkau masuk surga. Sebab rasa sakit atas kerugian dan penyesalan itu tidak tertahankan, meskipun nilainya di bawah rasa sakit siksa neraka."
وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ هَبْ أَنَّ الْمُسِيءَ قَدْ عُفِيَ عَنْهُ أَلَيْسَ قَدْ فَاتَهُ ثَوَابُ الْمُحْسِنِينَ أَشَارَ بِهِ إِلَى الْغَبْنِ وَالْحَسْرَةِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ﴾ فَهَذِهِ وَصِيَّتُهُ لِنَفْسِهِ فِي أَوْقَاتِهِ
Sebagian dari mereka berkata: "Katakanlah bahwa pelaku keburukan telah dimaafkan, bukankah telah luput darinya pahala orang-orang yang berbuat baik?" Beliau mengisyaratkan dengannya pada kerugian dan penyesalan. Dan Allah Ta'ala berfirman: "(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan (kerugian)." (QS. At-Taghabun: 9). Maka inilah wasiatnya kepada jiwanya berkenaan dengan waktu-waktunya.
ثُمَّ لْيَسْتَأْنِفْ لَهَا وَصِيَّةً فِي أَعْضَائِهِ السَّبْعَةِ وَهِيَ الْعَيْنُ وَالْأُذُنُ وَاللِّسَانُ وَالْبَطْنُ وَالْفَرْجُ وَالْيَدُ وَالرِّجْلُ وتسليمها إليها فإنها رعايا خادمة لنفسه في هذه التجارة وبها تتم أعمال هذه التجارة وإن لجهنم سبعة أبواب لكل باب منهم جزء مقسوم وإنما تتعين تلك الأبواب لمن عصى الله تعالى بهذه الأعضاء فَيُوصِيَهَا بِحِفْظِهَا عَنْ مَعَاصِيهَا أَمَّا الْعَيْنُ فَيَحْفَظُهَا عَنِ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِ مَنْ لَيْسَ لَهُ بِمَحْرَمٍ أَوْ إِلَى عَوْرَةِ مُسْلِمٍ أَوِ النَّظَرِ إلى مسلم بعين الاحتقار بل عن كل فضول مستغنى عنه فإن الله تعالى يسأل عبده عن فضول النظر كما يسأله عن فضول الكلام ثم إذا صرفها عن هذا لم تقنع بِهِ حَتَّى يَشْغَلَهَا بِمَا فِيهِ تِجَارَتُهَا وَرِبْحُهَا وَهُوَ مَا خُلِقَتْ لَهُ مِنَ النَّظَرِ إِلَى عَجَائِبِ صُنْعِ اللَّهِ بِعَيْنِ الِاعْتِبَارِ وَالنَّظَرِ إِلَى أَعْمَالِ الْخَيْرِ لِلِاقْتِدَاءِ وَالنَّظَرِ فِي كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَمُطَالَعَةِ كُتُبِ الْحِكْمَةِ لِلِاتِّعَاظِ وَالِاسْتِفَادَةِ
Kemudian hendaklah ia melanjutkan wasiat baginya pada ketujuh anggota badannya, yaitu: mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan, dan kaki, serta menyerahkan pengawasannya kepada jiwa. Sebab anggota-anggota badan itu merupakan rakyat dan pelayan bagi jiwanya dalam perdagangan ini, dan dengannya sempurna amal-amal perdagangan tersebut. Dan sungguh neraka Jahanam memiliki tujuh pintu, untuk setiap pintu ada bagian yang telah ditetapkan bagi mereka; dan pintu-pintu itu hanya diperuntukkan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Ta'ala dengan anggota-anggota badan ini. Maka ia mewasiatkan jiwanya untuk menjaganya dari maksiat-maksiatnya. Adapun mata, maka ia menjaganya dari melihat wajah orang yang bukan mahram baginya, atau melihat aurat seorang muslim, atau melihat seorang muslim dengan pandangan meremehkan, bahkan dari setiap pandangan tak berguna yang tidak diperlukan. Sebab Allah Ta'ala akan meminta pertanggungjawaban dari hamba-Nya tentang pandangan yang tak berguna sebagaimana Dia meminta pertanggungjawaban tentang perkataan yang tak berguna. Kemudian apabila ia telah memalingkan mata dari hal ini, mata tidak cukup hanya berhenti di situ sampai ia menyibukkannya dengan apa yang di dalamnya terdapat perdagangan dan keuntungannya, yaitu untuk apa mata itu diciptakan: dari melihat keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dengan pandangan mengambil iktibar (pelajaran), melihat amal-amal kebaikan untuk diteladani, serta melihat Kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, dan mempelajari kitab-kitab hikmah untuk mengambil pengajaran serta manfaat.
وَهَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُفَصَّلَ الْأَمْرُ عَلَيْهَا فِي عُضْوٍ عُضْوٍ لَا سِيَّمَا اللِّسَانُ وَالْبَطْنُ أَمَّا اللسان فلأنه منطلق بالطبع ولا مؤنة عَلَيْهِ فِي الْحَرَكَةِ وَجِنَايَتُهُ عَظِيمَةٌ بِالْغِيبَةِ وَالْكَذِبِ وَالنَّمِيمَةِ وَتَزْكِيَةِ النَّفْسِ وَمَذَمَّةِ الْخَلْقِ وَالْأَطْعِمَةِ وَاللَّعْنِ وَالدُّعَاءِ عَلَى الْأَعْدَاءِ وَالْمُمَارَاةِ فِي الْكَلَامِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا ذَكَّرْنَاهُ فِي كِتَابِ آفَاتِ اللِّسَانِ فَهُوَ بِصَدَدِ ذَلِكَ كُلِّهِ مَعَ أَنَّهُ خُلِقَ للذكر والتذكير وتكرار العلم والتعليم وإرشاد عباد اللَّهِ إِلَى طَرِيقِ اللَّهِ وَإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ وسائر خيراته فليشترط على نفسه أن لا يحرك اللسان طول النهار إلا في الذكر فنطق المؤمن ذكر ونظره وعبرة وصمته فكرة و ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عتيد﴾ وَأَمَّا الْبَطْنُ فَيُكَلِّفُهُ تَرْكَ الشَّرَهِ وَتَقْلِيلَ الْأَكْلِ من الحلال
Demikian pula hendaknya perkara ini dirincikan atas jiwa pada anggota badan demi anggota badan, terkhusus lidah dan perut. Adapun lidah, karena ia secara tabiat mudah berucap dan tidak memerlukan biaya dalam bergerak, sedangkan kejahatannya sangat besar berupa ghibah (mengumpat), dusta, adu domba (namimah), menyucikan diri sendiri (tazkiyatun nafs), mencela makhluk dan makanan, melaknat, mendoakan keburukan atas musuh, berbantah-bantahan dalam perkataan, dan lain-lain dari apa yang telah kami sebutkan dalam Kitab Afat al-Lisan (Bahaya-bahaya Lidah). Maka lidah berpotensi melakukan semua itu, padahal ia diciptakan untuk zikir, memberi peringatan, mengulang-ulang ilmu dan mengajarkannya, membimbing hamba-hamba Allah ke jalan Allah, mendamaikan perselisihan, serta kebaikan-kebaikan lainnya. Maka hendaknya ia mensyaratkan atas dirinya untuk tidak menggerakkan lidah sepanjang hari melainkan dalam zikir. Maka ucapan seorang mukmin adalah zikir, pandangannya adalah iktibar, diamnya adalah fikiran (tafakur), dan "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf: 18). Adapun perut, maka ia membebankannya untuk meninggalkan ketamakan dan mengurangi makan dari yang halal,
واجتناب الشبهات ويمنعه من الشهوات ويقتصر على قدر الضرورة
menjauhi syubhat (keraguan), mencegahnya dari memperturutkan syahwat, serta membatasi diri pada kadar kebutuhan darurat saja.
ويشرط على نفسه أنها إن خالفت شيئاً من ذلك عاقبها بالمنع عن شهوات البطن ليفوتها أكثر مما نالته بشهواتها
Dan ia menetapkan syarat atas nafsunya (dirinya) bahwa jika nafsunya menyelesihi sesuatu dari hal itu, ia akan menghukumnya dengan menghalanginya dari syahwat perut, agar hilangnya kesempatan bagi nafsu tersebut lebih besar daripada apa yang telah ia dapatkan melalui syahwatnya.
هكذا يَشْرِطُ عَلَيْهَا فِي جَمِيعِ الْأَعْضَاءِ وَاسْتِقْصَاءُ ذَلِكَ يطول ولا تخفى معاصي الأعضاء وطاعاتها
Demikianlah ia menetapkan syarat atas nafsunya pada seluruh anggota badan. Menjelaskannya secara terperinci akan memakan waktu yang panjang, sementara maksiat dan ketaatan anggota badan bukanlah hal yang tersembunyi.
ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ وَصِيَّتَهَا فِي وَظَائِفِ الطَّاعَاتِ الَّتِي تتكرر عليه في اليوم والليلة ثم النوافل التي يقدر عليها ويقدر على الاستكثار منها ويرتب لها تفصيلها وكيفيتها وكيفية الاستعداد لها بأسبابها
Kemudian ia memperbarui wasiat kepada nafsunya mengenai tugas-tugas ketaatan yang berulang padanya siang dan malam, lalu amalan-amalan sunnah (nawafil) yang mampu ia laksanakan dan sanggup ia perbanyak; ia mengaturnya secara rinci, menjelaskan tata caranya, serta cara bersiap diri melaksanakannya beserta sebab-sebabnya.
وهذه شروط يفتقر إليها في كل يوم ولكن إذا تعود الإنسان شرط ذلك على نفسه أياماً وطاوعته نفسه في الوفاء بجميعها استغنى عن المشارطة فيها وإن أطاعت في بعضها بقيت الحاجة إلى تجديد المشارطة فيما بقي ولكن لا يخلو كل يوم عن مهم جديد وواقعة حادثة لها حكم جديد ولله عليه في ذلك حق ويكثر هذا على من يَشْتَغِلُ بِشَيْءٍ مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا مِنْ وِلَايَةٍ أو تجارة أو تدريس إذ قلما يخلو يوم عن واقعة جَدِيدَةٍ يَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يَقْضِيَ حَقَّ اللَّهِ فِيهَا فَعَلَيْهِ أَنْ يَشْتَرِطَ عَلَى نَفْسِهِ الِاسْتِقَامَةَ فِيهَا وَالِانْقِيَادَ لِلْحَقِّ فِي مَجَارِيهَا وَيُحَذِّرَهَا مَغَبَّةَ الْإِهْمَالِ وَيَعِظَهَا كَمَا يُوعَظُ الْعَبْدُ الْآبِقُ الْمُتَمَرِّدُ فَإِنَّ النَّفْسَ بِالطَّبْعِ مُتَمَرِّدَةٌ عَنِ الطَّاعَاتِ مُسْتَعْصِيَةٌ عَنِ الْعُبُودِيَّةِ وَلَكِنَّ الْوَعْظَ وَالتَّأْدِيبَ يُؤَثِّرُ فِيهَا ﴿وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين﴾
Syarat-syarat ini senantiasa dibutuhkan setiap hari. Namun, apabila seseorang telah terbiasa mensyaratkan hal itu kepada dirinya selama beberapa hari dan nafsunya menaatinya dengan memenuhi semuanya, maka ia tidak lagi memerlukan musharatah (penetapan syarat) dalam hal-hal tersebut. Jika nafsunya hanya menaati sebagian, maka kebutuhan untuk memperbarui musharatah tetap ada pada bagian yang tersisa. Akan tetapi, tidak ada satu hari pun yang sunyi dari urusan baru dan peristiwa yang terjadi yang memiliki hukum baru, sementara Allah memiliki hak atasnya dalam hal tersebut. Hal ini semakin banyak dialami oleh orang yang sibuk dengan urusan duniawi, baik berupa kepemimpinan, perdagangan, maupun pengajaran; sebab jarang sekali ada hari tanpa peristiwa baru yang menuntutnya menunaikan hak Allah di dalamnya. Maka, ia wajib mensyaratkan kepada nafsunya untuk istiqamah dalam hal tersebut, tunduk pada kebenaran dalam setiap prosesnya, memperingatkannya dari dampak buruk kelalaian, dan menasihatinya sebagaimana hamba sahaya yang kabur dan membangkang dinasihati. Sebab, nafsu secara tabiatnya memang membangkang terhadap ketaatan dan enggan tunduk pada penghambaan ('ubudiyyah). Namun demikian, nasihat dan penempaan (ta'dib) akan memberikan pengaruh padanya: "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Az-Zariyat: 55).
فهذا وما يجري مجراه هو أول مقام المرابطة مع النفس وهي محاسبة قبل العمل
Hal ini dan yang seumpamanya merupakan maqam (tingkatan) pertama dari murabatah (kesiapsiagaan spiritual) bersama nafsu, yaitu muhasabah (perhitungan diri) sebelum beramal.
والمحاسبة تارة تكون بعد العمل وتارة قبله للتحذير قال الله تَعَالَى ﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أنفسكم فاحذروه﴾ وهذا للمستقبل
Muhasabah itu terkadang dilakukan setelah beramal dan terkadang dilakukan sebelumnya sebagai bentuk peringatan dan kewaspadaan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 235). Hal ini ditujukan untuk masa yang akan datang.
وكل نظر في كثرة ومقدار لمعرفة زيادة ونقصان فإنه يسمى محاسبة
Setiap pengamatan terhadap kuantitas dan kadar untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan, maka dinamakan muhasabah.
فالنظر فيما بين يدي العبد في نهاره ليعرف زيادته من نقصانه من المحاسبة وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمنوا إذا ضربتم في سبيل الله فتبينوا﴾ وقال تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فاسق بنبأ فتبينوا﴾ وقال تعالى ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ماتوسوس به نفسه ذكر ذلك تحذيراً وتنبيهاً للاحتراز منه في المستقبل
Maka pengamatan terhadap apa yang ada di hadapan seorang hamba pada siang harinya guna mengetahui kelebihan dari kekurangannya adalah bagian dari muhasabah. Allah Ta'ala telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah (tabayyun)." (QS. An-Nisa': 94). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya." (QS. Qaf: 16). Hal itu disebutkan sebagai peringatan dan pengingat agar seseorang berhati-hati dan menjaga diri di masa yang akan datang.
وروى عبادة بن الصامت أنه ﵇ قال لرجل سأله أن يوصيه ويعظه إذا أردت أمراً فتدبر عاقبته فإن كان رشداً فامضه وإن كان غياً فانته عنه
Diriwayatkan dari 'Ubadah bin ash-Shamit bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada seseorang yang meminta wasiat dan nasihat kepada beliau: "Apabila engkau hendak melakukan suatu urusan, maka renungkanlah akibatnya. Jika urusan itu membawa kebaikan (petunjuk), maka laksanakanlah; dan jika membawa kesesatan, maka berhentilah (tinggalkanlah)."
وقال بعض الحكماء إذا أردت أن يكون العقل غالباً للهوى فلا تعمل بقضاءالشهوة حتى تنظر العاقبة فإن مكث الندامة في القلب أكثر من مكث خفة الشهوة وقال لقمان إن المؤمن إذا أبصر العاقبة أمن الندامة وروى شداد بن أوس عنه ﷺ أنه قال الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْأَحْمَقُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى على الله دان نفسه أي حاسبها ويوم الدين يوم الحساب وقوله ﴿أئنا لمدينون﴾ أي لمحاسبون
Sebagian orang bijak (hukama) berkata: "Jika engkau ingin akal mengalahkan hawa nafsu, maka janganlah engkau bertindak memenuhi syahwat hingga engkau mempertimbangkan akibatnya; sebab menetapnya penyesalan di dalam hati jauh lebih lama daripada menetapnya kenikmatan semu dari syahwat." Luqman berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin apabila melihat akibat akhir dari suatu perkara, niscaya ia aman dari penyesalan." Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya (mengintrospeksi dirinya) dan beramal untuk kehidupan setelah kematian; sedangkan orang yang lemah/bodoh adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berharap (berangan-angan) kepada Allah." Kata dana nafsahu berarti hasabaha (ia menghitung/mengevaluasi nafsunya). Dan Yaumud-Din adalah Hari Perhitungan (Hari Hisab). Adapun firman Allah: "Apakah bila kita telah mati… sungguh kita benar-benar akan dihitung/dihisab?" (lamadinun) maknanya adalah sungguh kita akan dihitung (lamuhasabun).
وَقَالَ عمر ﵁ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وتهيئوا للعرض الأكبر وكتب إلى أبي موسى الأشعري حاسب نفسك في الرخاء قبل حساب الشدة
'Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Hitunglah (introspeksilah) diri kalian sebelum kalian dihitung (dihisab kelak), dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, serta bersiaplah untuk pameran yang maha besar (hari perhitungan di hadapan Allah)." Beliau juga menulis surat kepada Abu Musa al-Asy'ari: "Hitunglah dirimu di saat lapang sebelum datang perhitungan di saat sempit/sulit."
وقال لكعب كيف تجدها في كتاب الله قال ويل لديان الأرض من ديان السماء فعلاه بالدرة وقال إلا من حاسب نفسه فقال كعب ياأمير المؤمنين إنها إلى جنبها في التوراة ما بينهما حرف إلا من حاسب نفسه
Dan ('Umar) berkata kepada Ka'ab: "Bagaimana engkau mendapati hal itu dalam Kitab Allah (Taurat)?" Ka'ab menjawab: "Celakalah penguasa/hakim di bumi dari Hakim di langit." Maka 'Umar mengangkat cambuknya kepadanya seraya berkata: "Kecuali orang yang menghitung (mengintrospeksi) dirinya!" Ka'ab pun berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh kalimat itu berdampingan di dalam Taurat, tidak ada satu huruf pun di antara keduanya: 'Kecuali orang yang menghitung dirinya'."
وهذا كله إشارة إلى المحاسبة للمستقبل إذ قال من دان نفسه يعمل لما بعد الموت
Semua hal ini merupakan isyarat kepada muhasabah untuk masa depan, sebagaimana sabda beliau: "Orang yang menundukkan/menghitung dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian."
ومعناه وزن الأمور أولا وقدرها ونظر فيها وتدبرها ثم أقدم عليها فباشرها المرابطة الثانية: المراقبة
Maknanya adalah menimbang segala perkara terlebih dahulu, mengukurnya, mengamati serta merenungkannya, baru kemudian melangkah dan melaksanakannya. Murabatah Kedua: Muraqabah (Pengawasan Diri).
إذا أوصى الإنسان نفسه وشرط عليها ما ذكرناه فلا يبقى إلا المراقبة لها عند الخوض في الأعمال وملاحظاتها
Apabila seseorang telah berwasiat kepada nafsunya dan mensyaratkan kepadanya apa yang telah kami sebutkan, maka tidak tersisa lagi kecuali melakukan muraqabah (pengawasan) terhadap nafsunya ketika mulai masuk dalam beramal serta memperhatikannya.
بالعين الكالئة فإنها إن تركت طغت وفسدت
Dengan pengawasan mata yang penuh penjagaan; karena sesungguhnya jika nafsu itu dibiarkan tanpa pengawasan, niscaya ia akan melampaui batas dan menjadi rusak.
ولنذكر فضيلة المراقبة ثم درجاتها
Mari kita sebutkan keutamaan muraqabah, kemudian tingkatan-tingkatannya.
أما الفضيلة فقد سأل جبريل ﵇ عَنِ الْإِحْسَانِ فَقَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تراه وقال ﵇ اعبد اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى أَفَمَنْ هُوَ قائم على كل نفس بما كسبت وَقَالَ تَعَالَى أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى وقال الله تعالى إن الله كان عليكم رقيبا وقال تَعَالَى وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ وَالَّذِينَ هم بشهاداتهم قائمون وقال ابن المبارك لرجل راقب الله تعالى فسأله عن تفسيره فقال كن أبدا كأنك ترى الله ﷿
Adapun keutamaannya, sungguh Jibril 'alaihissalam pernah bertanya tentang ihsan, lalu Nabi ﷺ bersabda: "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Dan Allah Ta'ala telah berfirman: "Maka apakah Tuhan yang menjaga (mengawasi) setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)?" (QS. Ar-Ra'd: 33). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?" (QS. Al-'Alaq: 14). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu." (QS. An-Nisa': 1). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya." (QS. Al-Ma'arij: 32-33). Ibnul Mubarak berkata kepada seseorang: "Awasilah dirimu di hadapan Allah Ta'ala (raqibillāh)." Lalu orang itu menanyakan tafsirnya, maka ia menjawab: "Jadilah engkau senantiasa seolah-olah melihat Allah 'Azza wa Jalla."
وقال عبد الواحد بن زيد إذا كان سيدي رقيبا على فلا أبالى بغيره
Abdul Wahid bin Zaid berkata: "Apabila Tuanku (Allah) Maha Mengawasi diriku, maka aku tidak memedulikan selain-Nya."
وقال أبو عثمان المغربي أفضل ما يلزم الإنسان نفسه في هذه الطريقة المحاسبة والمراقبة وسياسة عمله بالعلم وقال ابن عطاء أفضل الطاعات مراقبة الحق على دوام الأوقات وقال الجريري أمرنا هذا مبنى على أصلين أن تلزم نفسك المراقبة لله ﷿ ويكون العلم على ظاهرك قائما وقال أبو عثمان قال لي أبو حفص إذا جلست للناس فكن واعظا لنفسك وقلبك ولا يغرنك اجتماعهم عليك فإنهم يراقبون ظاهرك والله رقيب على باطنك
Abu 'Utsman al-Maghribi berkata: "Hal paling utama yang wajib diterapkan seseorang pada dirinya dalam jalan (thariqah) ini adalah muhasabah, muraqabah, dan mengelola amalnya dengan ilmu." Ibn 'Atha' berkata: "Ketaatan yang paling utama adalah mengawasi Allah yang Mahabenar (muraqabatul-Haqq) di setiap waktu." Al-Jariri berkata: "Urusan kita (jalan tasawuf) ini dibangun di atas dua pokok: hendaklah engkau menetapkan dirimu dalam muraqabah kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan hendaklah ilmu tegak membimbing lahiriahmu." Abu 'Utsman berkata: Abu Hafs berkata kepadaku: "Jika engkau duduk di hadapan manusia (untuk mengajar/menasihati), maka jadilah penasihat bagi dirimu dan hatimu sendiri, dan janganlah engkau tertipu oleh berkumpulnya mereka di sekelilingmu; sebab mereka mengawasi lahiriahmu, sedangkan Allah mengawasi batinmu."
وحكى أنه كان لبعض المشايخ من هذه الطائفة تلميذ شاب وكان يكرمه ويقدمه فقال له بعض أصحابه كيف تكرم هذا وهو شاب ونحن شيوخ فدعا بعدة طيور وناول كل واحد منهم طائرا وسكينا وقال ليذبح كل واحد منكم طائره في موضع لا يراه أحد ودفع إلى الشاب مثل ذلك وقال له كما قال لهم فرجع كل واحد بطائره مذبوحا ورجع الشاب والطائر حي في يده فقال ما لك لم تذبح كما ذبح أصحابك فقال لم أجد موضعا لا يراني فيه أحد إذ الله مطلع على فى كل مكان فاستحسنوا منه هذه المراقبة وقالوا حق لك أن تكرم
Dikisahkan bahwa salah seorang guru dari kalangan ahli tasawuf memiliki seorang murid muda yang sangat beliau muliakan dan utamakan. Sebagian sahabatnya bertanya, "Mengapa engkau memuliakan pemuda ini padahal kami adalah orang-orang tua?" Maka guru itu memanggil beberapa ekor burung, menyerahkan seekor burung dan pisau kepada masing-masing dari mereka, lalu berkata, "Hendaklah kalian masing-masing menyembelih burungnya di tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun." Guru itu pun memberikan hal yang sama kepada si pemuda dan berpesan demikian. Kemudian, setiap orang kembali dengan burung yang telah disembelih, sedangkan si pemuda kembali sementara burung itu masih hidup di tangannya. Guru bertanya, "Mengapa engkau tidak menyembelihnya sebagaimana sahabat-sahabatmu?" Pemuda itu menjawab, "Aku tidak menemukan satu tempat pun di mana tidak ada seorang pun yang melihatku, karena Allah senantiasa mengawasi aku di segala tempat." Maka mereka pun mengagumi muraqabah pemuda tersebut dan berkata, "Memang layaknya engkau memuliakannya."
وحكى أن زليخا لما همت بيوسف ﵇ قامت فغطت وجه صنم كان لها فقال يوسف مالك أتستحيين من مراقبة جماد ولا أستحيى من مراقبة الملك الجبار وحكى عن بعض الأحداث أنه راود جارية عن نفسها فقالت له ألا تستحيى فقال ممن أستحيى وما يرانا إلا الكواكب قالت فأين مكوكبها وَقَالَ رَجُلٌ للجنيد بِمَ أَسْتَعِينُ عَلَى غَضِّ الْبَصَرِ فَقَالَ بِعِلْمِكَ أَنَّ نَظَرَ النَّاظِرِ إِلَيْكَ أسبق من نظرك إلى المنظور إليه
Dikisahkan pula bahwa tatkala Zulaikha bermaksud buruk terhadap Nabi Yusuf 'alaihis salam, ia berdiri lalu menutupi wajah berhala miliknya. Nabi Yusuf berkata, "Ada apa denganmu? Apakah engkau merasa malu dari pengawasan benda mati, sedangkan aku tidak merasa malu dari pengawasan Maha Raja Yang Mahaperkasa?" Dikisahkan dari sebagian pemuda bahwa ia merayu seorang budak wanita untuk berbuat maksiat. Wanita itu berkata, "Apakah engkau tidak malu?" Pemuda itu menjawab, "Dari siapa aku harus malu, sedangkan tidak ada yang melihat kita selain bintang-bintang?" Wanita itu berkata, "Lalu di manakah Pencipta bintang-bintang itu?" Seorang laki-laki bertanya kepada Al-Junaid, "Dengan apa aku dapat memohon pertolongan untuk menundukkan pandangan (ghaddul bashar)?" Al-Junaid menjawab, "Dengan pengetahuanmu bahwa pandangan Dia (Allah) Yang Maha Melihat kepadamu lebih mendahului daripada pandanganmu kepada apa yang engkau lihat."
وقال الجنيد إنما يتحقق بالمراقبة من يخاف على فوت حظه من ربه ﷿ وعن مالك بن دينار قال جنات عدن من جنات الفردوس وفيها حور خلقن من ورد الجنة قيل له ومن يسكنها قال يقول الله ﷿ وإنما يسكن جنات عدن الذين إذا هموا بالمعاصي ذكروا عظمتي فراقبوني والذين انثنت أصلابهم من خشيتي وعزتي وجلالى إنى لأهم بعذاب أهل الأرض فإذا نظرت إلى أهل الجوع والعطش من مخافتي صرفت عنهم العذاب
Al-Junaid berkata, "Sesungguhnya yang benar-benar mewujudkan muraqabah hanyalah orang yang takut kehilangan bagian (karunia)nya dari Rabbnya 'Azza wa Jalla." Dari Malik bin Dinar, ia berkata, "Surga 'Adn adalah bagian dari surga Firdaus, di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan dari mawar surga." Ditanyakan kepadanya, "Siapakah yang menghuninya?" Ia menjawab, "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Hanyasanya yang menghuni Surga 'Adn adalah orang-orang yang apabila hendak melakukan kemaksiatan, mereka mengingat keagungan-Ku lalu mereka bersikap muraqabah kepada-Ku; serta orang-orang yang tulang punggung mereka membungkuk karena takut kepada-Ku. Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, sungguh Aku hampir menurunkan azab kepada penduduk bumi, namun apabila Aku melihat orang-orang yang lapar dan haus karena takut kepada-Ku, maka Aku simpangkan azab itu dari mereka.'"
وسئل المحاسبي عن المراقبة فقال أولها علم القلب بقرب الله تعالى وقال المرتعش المراقبة مراعاة السر بملاحظة الغيب مع كل لحظة ولفظة
Al-Muhasibi ditanya tentang muraqabah, lalu beliau menjawab, "Awal muraqabah adalah pengetahuan hati akan dekatnya Allah Ta'ala." Dan Al-Murta'isy berkata, "Muraqabah adalah penjagaan rahasia hati (sirr) dengan senantiasa mengamati hal yang gaib pada setiap kerlingan mata dan ucapan."
ويروى أن الله تعالى قال لملائكته أنتم موكلون بالظاهر وأنا الرقيب على الباطن
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya, "Kalian diserahi tugas mengawasi hal yang lahir (tampak), sedangkan Aku adalah Maha Mengawasi (Ar-Raqib) atas hal yang batin (tersembunyi)."
وقال محمد بن علي الترمذي اجعل مراقبتك لمن لا تغيب عن نظره إليك وأجعل شكرك لمن لا تنقطع نعمة عنك وأجعل طاعتك لمن لا تستغنى عنه وأجعل خضوعك لمن لا تخرج عن ملكه وسلطانه
Muhammad bin 'Ali At-Tirmidzi berkata, "Jadikanlah muraqabahmu kepada Zat yang pandangan-Nya tidak pernah luput darimu, jadikanlah syukurmu kepada Zat yang nikmat-Nya tidak pernah terputus darimu, jadikanlah ketaatanmu kepada Zat yang engkau tidak pernah merasa tidak membutuhkan-Nya, dan jadikanlah ketundukanmu kepada Zat yang engkau tidak dapat keluar dari kerajaan dan kekuasaan-Nya."
وقال سهل لم يتزين القلب بشىء أفضل ولا أشرف من علم العبد بأن الله شاهدة حيث كان وَسُئِلَ بَعْضُهُمْ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ فَقَالَ مَعْنَاهُ ذَلِكَ لِمَنْ رَاقَبَ رَبَّهُ ﷿ وحاسب نفسه وتزود لمعاده وسئل ذو النون بم ينال العبد الجنة فقال بخمس استقامة ليس فيها روغان واجتهاد ليس معه سهوومراقبة الله تعالى في السر والعلانية وانتظار الموت بالتأهب
Sahl berkata, "Hati tidak pernah terhiasi oleh sesuatu yang lebih utama dan lebih mulia daripada pengetahuan seorang hamba bahwa Allah menyaksikannya di mana pun ia berada." Sebagian ulama ditanya tentang firman Allah Ta'ala: 'Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Rabbnya' (QS. Al-Bayyinah: 8), maka ia menjawab, "Maknanya adalah: hal itu bagi orang yang bersikap muraqabah kepada Rabbnya 'Azza wa Jalla, mengintrospeksi (muhasabah) dirinya, dan menyiapkan bekal untuk hari kembalikannya." Dzun Nun ditanya, "Dengan apa hamba dapat meraih surga?" Beliau menjawab, "Dengan lima hal: keistiqamahan tanpa penyimpangan, kesungguhan tanpa kelalaian, muraqabah kepada Allah Ta'ala dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, dan menantikan kematian dengan penuh persiapan."
له ومحاسبة نفسك قبل أن تحاسب وقد قيل
kepadanya, serta mengintrospeksi dirimu sebelum engkau dihitung (dihisab). Dan sungguh telah dikatakan dalam bait syair:
إذا ما خلوت الدهر يوما فلا تقل … خلوت ولكن قل على رقيب
Apabila sepanjang masa engkau menyendiri pada suatu hari, maka janganlah engkau katakan, "Aku menyendiri," tetapi katakanlah, "Di atasku ada Zat Yang Maha Mengawasi."
ولا تحسبن الله يغفل ساعة … ولا أن ما تخفيه عنه يغيب
Dan jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai walau sesaat, atau bahwa apa yang engkau sembunyikan itu akan gaib dari-Nya.
ألم تر أن اليوم أسرع ذاهب … وأن غدا إذا للناظرين قريب
Tidakkah engkau tahu bahwa hari ini begitu cepat berlalu, dan bahwa esok hari bagi orang-orang yang melihatnya amatlah dekat?
وقال حميد الطويل لسليمان بن علي عظنى فقال لئن كنت إذا عصيت الله خاليا ظننت أنه يراك لقد اجترأت على أمر عظيم ولئن كنت تظن أنه لا يراك فلقد كفرت وقال سفيان الثورى عليك بالمراقبة ممن لا تخفى عليه خافية وعليك بالرجاء ممن يملك الوفاء وعليك بالحذر ممن يملك العقوبة
Humaid At-Thawil berkata kepada Sulaiman bin 'Ali, "Nasihatilah aku." Maka beliau berkata, "Jika tatkala engkau bermaksiat kepada Allah dalam keadaan menyendiri engkau menyangka bahwa Dia melihatmu, sungguh engkau telah bersikap lancang atas perkara yang sangat besar; namun jika engkau menyangka bahwa Dia tidak melihatmu, sungguh engkau telah kufur." Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Hendaklah engkau melakukan muraqabah kepada Zat yang tidak ada satu rahasia pun tersembunyi bagi-Nya, hendaklah engkau berharap (raja') kepada Zat yang memiliki pemenuhan janji, dan hendaklah engkau waspada (hadzar) terhadap Zat yang memiliki siksaan."
وقال فرقد السنجى إن المنافق ينظر فإذا لم ير أحدا دخل مدخل السوء وإنما يراقب الناس ولا يراقب الله تعالى
Farqad As-Sanji berkata, "Sesungguhnya orang munafik itu melihat-lihat, jika ia tidak melihat seorang pun, ia memasuki tempat keburukan. Ia hanya melakukan muraqabah (merasa diawasi) kepada manusia dan tidak bersikap muraqabah kepada Allah Ta'ala."
وقال عبد الله بن دينار خرجت مع عمر ابن الخطاب ﵁ إلى مكة فعرسنا في بعض الطريق فانحدر عليه راع من الجبل فقال له يا راعي بعنى شاة من هذه الغنم فقال إنى مملوك فقال قل لسيدك أكلها الذئب قال فأين الله قال فبكى عمر ﵁ ثم غدا إلى المملوك فاشتراه من مولاه وأعتقه وقال أعتقتك في الدنيا هذه الكلمة وأرجو أن تعتقك في الآخرة
'Abdullah bin Dinar berkata, "Aku keluar bersama 'Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu 'anhu menuju Makkah, lalu kami beristirahat di sebagian jalan. Tiba-tiba seorang penggembala turun dari gunung menemui beliau. 'Umar berkata kepadanya, 'Wahai penggembala, juallah kepadaku seekor domba dari kawanan domba ini!' Penggembala itu menjawab, 'Sesungguhnya aku adalah seorang budak sahaya.' 'Umar berkata, 'Katakanlah kepada tuanmu bahwa domba itu dimakan serigala.' Penggembala itu merespons, 'Lalu di manakah Allah?' Maka 'Umar radhiyallahu 'anhu menangis, kemudian esok harinya beliau mendatangi budak tersebut, membelinya dari tuannya, lalu memerdekakannya. Beliau berkata, 'Kalimat ini telah memerdekakanmu di dunia, dan aku berharap kalimat ini juga memerdekakanmu di akhirat.'"
بيان حقيقة المراقبة ودرجاتها
Penjelasan Hakikat Muraqabah dan Tingkatan-tingkatannya
أعلم أن حقيقة المراقبة هي ملاحظة الرقيب والصراف الهم إليه فمن احترز من أمر من الأمور بسبب غيره يقال أنه يراقب فلانا ويراعى جانبه ويعنى بهذه المراقبة حَالَةٌ لِلْقَلْبِ يُثْمِرُهَا نَوْعٌ مِنَ الْمَعْرِفَةِ وَتُثْمِرُ تِلْكَ الْحَالَةُ أَعْمَالًا فِي الْجَوَارِحِ وَفِي الْقَلْبِ
Ketahuilah bahwa hakikat muraqabah adalah senantiasa mengamati Zat Yang Maha Pengawas (Ar-Raqib) serta memalingkan seluruh perhatian kepada-Nya. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari suatu perkara karena keberadaan orang lain, dikatakan bahwa ia sedang mengawasi (muraqabah) si Fulan dan memelihara hubungannya. Yang dimaksud dengan muraqabah di sini adalah suatu kondisi (hal) bagi hati yang dibuahkan oleh sejenis ma'rifah, dan kondisi tersebut nantinya membuahkan amal perbuatan pada anggota badan serta di dalam hati.
أما الحالة فهي مراعاة القلب للرقيب واشتغاله به والتفاته إليه وملاحظتهإياه وانصرافه إليه
Adapun kondisi (hal) tersebut adalah pemeliharaan hati terhadap Zat Yang Maha Pengawas, kesibukan hati dengan-Nya, keterpautan serta perhatian hati kepada-Nya, senantiasa mengamati-Nya, dan berpalingnya hati hanya kepada-Nya.
وأما المعرفة التي تثمر هذه الحالة فهو الْعِلْمُ بِأَنَّ اللَّهَ مُطَّلِعٌ عَلَى الضَّمَائِرِ عَالِمٌ بِالسَّرَائِرِ رَقِيبٌ عَلَى أَعْمَالِ الْعِبَادِ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَأَنَّ سِرَّ الْقَلْبِ فِي حَقِّهِ مَكْشُوفٌ كَمَا أَنَّ ظَاهِرَ الْبَشَرَةِ للخلق مكشوف بل أشد من ذلك
Adapun ma'rifah (pengetahuan) yang membuahkan kondisi ini adalah pengetahuan bahwa Allah Maha Mengawasi apa yang ada di dalam batin, Maha Mengetahui segala rahasia tersembunyi, Maha Mengawasi atas amalan para hamba, senantiasa mengawasi setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, serta bahwasanya rahasia terdalam hati bagi-Nya adalah tampak terbuka sebagaimana permukaan kulit luar itu tampak terbuka bagi makhluk, bahkan jauh lebih tampak dari itu.
فهذه المعرفة إذا صارت يقينا أعنى أنها خلت عن الشك ثم استولت بعد ذلك على القلب قهرته فرب علم لا شك فيه لا يغلب على القلب كالعلم بالموت فإذا استولت على القلب استجرت القلب إلى مراعاة جانب الرقيب وصرفت همه إليه والموقنون بهذه المعرفة هم المقربون وهم ينقسمون إلى الصديقين وإلى أصحاب اليمين فمراقبتهم على درجتين
Pengetahuan ini, apabila telah menjadi keyakinan—maksudnya telah bersih dari keraguan—lalu setelah itu menguasai hati, niscaya ia akan menaklukkannya. Sebab, betapa banyak pengetahuan yang tiada keraguan di dalamnya namun tidak menguasai hati, seperti pengetahuan tentang kematian. Apabila pengetahuan tersebut telah menguasai hati, ia akan menarik hati untuk senantiasa memelihara hubungan dengan Zat Yang Maha Pengawas dan memalingkan seluruh cita-citanya kepada-Nya. Orang-orang yang yakin dengan pengetahuan ini adalah golongan Muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah), dan mereka terbagi menjadi golongan Shiddiqin dan golongan Ashabul Yamin (golongan kanan). Maka muraqabah mereka berada pada dua tingkatan.
الدرجة الأولى مراقبة المقربين من الصديقين وهي مراقبة التعظيم والإجلال وهو أن يصير القلب مستغرقا بملاحظة ذلك الجلال ومنكسرا تحت الهيبة فلا يبقى فيه متسع للالتفات إلى الغير أصلا وهذه مراقبة لا نطول النظر في تفصيل أعمالها فإنها مقصورة على القلب
Tingkatan pertama adalah muraqabah golongan Muqarrabun dari kalangan Shiddiqin, yaitu muraqabah yang dilandasi pengagungan dan penghormatan (at-ta'zhim wal ijlal). Hal ini terjadi tatkala hati tenggelam dalam mengamati keagungan tersebut dan tunduk hancur di bawah ketundukan haibat (rasa takut yang agung), sehingga tidak tersisa lagi ruang di dalam hati untuk berpaling kepada selain-Nya sama sekali. Muraqabah jenis ini tidak akan kita perpanjang pembahasannya dalam merincikan amalan-amalannya, karena ia hanya terbatas pada ranah hati.
أما الجوارح فإنها تتعطل عن التلفت إلى المباحات فضلا عن المحظورات وإذا تحركت بالطاعات كانت كالمستعملة بها فلا تحتاج إلى تدبير وتثبيت في حفظها على سنن السداد
Adapun anggota badan (jawarikh), ia akan terhalang dari berpaling kepada hal-hal yang mubah, apalagi hal-hal yang diharamkan (mahzhurat). Dan apabila ia bergerak dalam ketaatan, ia seolah-olah dipergunakan secara otomatis untuknya, sehingga tidak memerlukan lagi pengaturan dan pemantapan ekstra untuk menjaganya tetap berada pada jalan kebenaran (sunan as-sadad).
بل يسدد الرعية من ملك كلبة الراعى والقلب هو الراعى فإذا صار مستغرقا بالمعبود صارت الجوارح مستعملة جارية على السداد والاستقامة من غير تكلف وهذا هو الذي صار همه هما واحدا فكفاه الله سائر الهموم
Bahkan rakyat akan lurus jika pengembala berhasil mengendalikan anjing gembalanya, dan hati adalah sang pengembala. Maka apabila hati telah tenggelam (mustaghraq) dalam pengabdian kepada Sang Ma'bud (Dzat yang disembah), anggota badan akan otomatis dipergunakan dan berjalan di atas kebenaran serta keistiqamahan tanpa memaksakan diri (takalluf). Inilah orang yang hasrat (hamm)-nya telah menjadi satu, maka Allah mencukupkan baginya segala hasrat dan kesedihan lainnya.
ومن نال هذه الدرجة فقد يغفل عن الخلق حتى لا يبصر من يحضر عنده وهو فاتح عينيه ولا يسمع ما يقال له مع أنه لا صمم به وقد يمر على ابنه مثلا فلا يكلمه حتى كان بعضهم يجري عليه ذلك فقال لمن عاتبه إذا مررت بي فحركنى
Barang siapa mencapai derajat ini, sungguh ia bisa lalai dari makhluk hingga ia tidak melihat orang yang hadir di sisinya padahal kedua matanya terbuka, dan tidak mendengar apa yang dikatakan kepadanya padahal ia tidak tuli. Bahkan pernah ada yang melewati anaknya sendiri misalnya, lalu ia tidak menyapanya. Sampai-sampai sebagian dari mereka mengalami hal itu, lalu berkata kepada orang yang mencelanya: 'Jika engkau melewatu-ku, maka gerakkanlah (goyangkanlah) tubuhku'.
ولا تستبعد هذا فإنك تجد نظير هذا في القلوب المعظمة لملوك الأرض حتى إن خدم الملك قد لا يحسون بما يجري عليهم في مجالس الملوك لشدة استغراقهم بهم بل قد يشتغل القلب بمهم حقير من مهمات الدنيا فيغوص
Janganlah engkau menganggap hal ini mustahil, sebab engkau akan menemukan padanannya pada hati yang mengagungkan raja-raja bumi. Hingga para pelayan raja terkadang tidak menyadari apa yang terjadi pada diri mereka di majelis-majelis raja karena sangat tenggelamnya perhatian mereka kepada sang raja. Bahkan, hati terkadang disibukkan oleh urusan dunia yang remeh, lalu ia menyelam…
الرجل في الفكر فيه ويمشى فربما يجاوز الموضع الذي قصده وينسى الشغل الذي نهض له
…seorang pria dalam memikirkannya sambil berjalan, hingga terkadang ia melewati tempat yang ia tuju dan melupakan urusan yang mendasarinya berangkat.
وقد قيل لعبد الواحد ابن زيد هل تعرف في زمانك هذا رجلا قد اشتغل بحاله عن الخلق فقال ما أعرف إلا رجلا سيدخل عليكم الساعة فما كان إلا سريعا حتى دخل عتبه الغلام فقال له عبد الواحد بن زيد من أين جئت يا عتبه فقال من موضع كذا وكان طريقه على السوق فقال من لقيت في الطريق فقال ما رأيت أحدا
Pernah dikatakan kepada Abdul Wahid bin Zaid: 'Apakah engkau mengenali seseorang pada zamanmu ini yang disibukkan oleh keadaannya (spiritualnya) sehingga tidak memedulikan makhluk?' Ia menjawab: 'Aku tidak mengenal kecuali seorang pria yang akan masuk menemui kalian sebentar lagi.' Tidak lama kemudian, Utbah Al-Ghulham masuk. Abdul Wahid bin Zaid lalu bertanya kepadanya: 'Dari manakah engkau datang, wahai Utbah?' Ia menjawab: 'Dari tempat anu.' Padahal jalannya melewati pasar. Beliau bertanya lagi: 'Siapa yang engkau temui di jalan?' Ia menjawab: 'Aku tidak melihat seorang pun.'
ويروى عن يحيى بن زكريا ﵉ أنه مر بامرأة فدفعها فسقطت على وجهها فقيل له لم فعلت هذا فقال ما ظننتها إلا جدارا
Diriwayatkan dari Yahya bin Zakariya 'alaihissalam bahwa beliau pernah berjalan melewati seorang wanita lalu tersenggol olehnya hingga wanita itu jatuh tersungkur. Dikatakan kepadanya: 'Mengapa engkau melakukan ini?' Beliau menjawab: 'Aku tidak mengiranya melainkan sebuah tembok.'
وحكى عن بعضهم أنه قال مررت بجماعة يترامون وواحد جالس بعيدا منهم فتقدمت إليه فأردت أن أكلمه فقال ذكر الله تعالى أشهى فقلت وحدك فقال معي ربي وملكاي فقلت من سبق من هؤلاء فقال من غفر الله له فقلت أين الطريق فأشار نحو السماء وقام ومشى وقال أكثر خلقك شاغل عنك فهذا كلام مستغرق بمشاهدة الله تعالى لا يتكلم إلا منه ولا يسمع إلا فيه
Diceritakan dari sebagian ahli hikmah bahwa ia berkata: Aku pernah melewati sekelompok orang yang sedang saling melempar (memanah), sementara ada seorang pria duduk jauh dari mereka. Aku lalu mendekatinya dan ingin mengobrol dengannya, namun ia berkata: 'Mengingat Allah Ta'ala lebih manis.' Aku bertanya: 'Apakah engkau sendirian?' Ia menjawab: 'Bersamaku ada Tuhanku dan dua malaikatku.' Aku bertanya: 'Siapakah yang menang di antara mereka (yang memanah itu)?' Ia menjawab: 'Orang yang diampuni oleh Allah.' Aku bertanya: 'Di manakah jalan keluar?' Maka ia menunjuk ke arah langit, lalu berdiri dan berjalan seraya berkata: 'Betapa banyaknya makhluk-Mu yang menyibukkan dari-Mu!' Ini adalah ucapan orang yang tenggelam dalam musyahadah (penyaksian) kepada Allah Ta'ala; ia tidak berbicara melainkan dari-Nya dan tidak mendengar melainkan tentang-Nya.
فهذا لا يحتاج إلى مراقبة لسانة وجوارحه فإنها لا تتحرك إلا بما هو فيه
Maka orang seperti ini tidak lagi membutuhkan pengawasan (muraqabah) terhadap lidah dan anggota badannya, sebab seluruh anggota badannya tidak akan bergerak melainkan untuk apa yang sedang ia alami (dalam fokus spiritualnya).
ودخل الشبلى على أبي الحسين النووي وهو معتكف فوجده ساكنا حسن الاجتماع لا يتحرك من ظاهرة شيء فقال له من أين أخذت هذه المراقبة والسكون فقال من سنور كانت لنا فكانت إذا أرادت الصيد رابطت رأس الحجر لا تتحرك لها شعرة
Asy-Syibli pernah menemui Abu Al-Husain An-Nuri yang sedang beriktikaf, dan ia mendapatinya tenang, sangat fokus (hasan al-ijtimā'), tidak ada satu pun dari lahiriahnya yang bergerak. Maka ia bertanya kepadanya: 'Dari manakah engkau mempelajari muraqabah dan ketenangan seperti ini?' Beliau menjawab: 'Dari seekor kucing milik kami; apabila ia hendak berburu, ia berjaga (murabathah) di tepi lubang batu, tidak bergerak sehelai bulu pun darinya.'
وقال أبو عبد الله بن خفيف خرجت من مصر أريد الرملة للقاء أبي على الروذبارى فقال لي عيسى بن يونس المصري المعروف بالزاهد وأن في صور شابا وكهلا قد اجتمعا على حال المراقبة فلو نظرت إليهما نظرة لعلك تستفيد منهما فدخلت صورا وأنا جائع عطشان وفي وسطى خرقة وليس على كتفي شيء فدخلت المسجد فإذا بشخصين قاعدين مستقبلى القبلة فسلمت عليهما فما أجابانى فسلمت ثانية وثالثة فلم أسمع الجواب فقلت نشدتكما بالله إلا رددتما على السلام فرفع الشاب رأسه من مرقعته فنظر إلى وقال يا ابن خفيف الدنيا قليل ومابقى من القليل إلا القليل فخذ من القليل الكثير يا ابن خفيف ما أقل شغلك حتى تتفرغ إلى لقائنا قال فأخذ بكليتي ثم طأطأ رأسه في المكان فبقيت عندهما حتى صلينا الظهر والعصر فذهب جوعي وعطشي وعنائي فلما كان وقت العصر قلت عظنى فرفع رأسه إلى وقال يا ابن خفيف نحن أصحاب المصائب ليس لنا لسان العظة فبقيت عندهما ثلاثة أيام لا آكل ولا أشرب ولا أنام ولا رأيتهما أكلا شيئا ولا شربا فلما كان اليوم الثالث قلت في سري أحلفهما أن يعظاني لعلى أن أنتفع اضطرها فرفع الشاب رأسه وقال لي يا ابن خفيف عليك بصحبة من يذكرك الله رؤيته وتقع هيبته على قلبك يعظك بلسان فعله ولا يعظك بلسان قوله والسلام قم عنا فهذه درجة المراقبين الذين غلب على قلوبهم الإجلال والتعظيم فلم يبق فيهم متسع لغير ذلك
Abu Abdullah bin Khafif bercerita: Aku keluar dari Mesir menuju Ramlah untuk menemui Abu Ali Ar-Rudzabari. Lalu Isa bin Yunus Al-Mishri yang dikenal sebagai sang zahid berkata kepadaku: 'Sesungguhnya di Shur (Tirus) ada seorang pemuda dan seorang pria paruh baya yang berkumpul dalam keadaan muraqabah. Sekiranya engkau memandang mereka sejenak, mungkin engkau bisa mengambil manfaat dari keduanya.' Maka aku memasuki Shur dalam keadaan lapar dan haus, di pinggangku hanya ada sepotong kain dan tidak ada sesuatu pun di pundakku. Aku masuk ke masjid, lalu tampak dua orang duduk menghadap kiblat. Aku mengucapkan salam kepada keduanya, namun mereka tidak menjawabku. Aku mengucapkan salam kedua dan ketiga kalinya, tetapi aku tidak mendengar jawaban. Maka aku berkata: 'Aku memohon kepada kalian demi Allah, sudilah kalian membalas salamku.' Pemuda itu mengangkat kepalanya dari jubah tambalannya (muraqqa'ah), memandangku lalu berkata: 'Wahai Ibn Khafif, dunia ini sedikit, dan yang tersisa dari yang sedikit itu tinggal sedikit pula. Maka ambillah dari yang sedikit itu bagian yang banyak! Wahai Ibn Khafif, betapa sedikitnya kesibukanmu hingga engkau sempat meluangkan waktu untuk menemui kami!' Beliau berkata: Kata-kata itu menguasai segenap hatiku, lalu pemuda itu menundukkan kepalanya kembali di tempatnya. Aku pun tinggal di sisi mereka berdua hingga kami menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar, dan hilanglah rasa lapar, haus, serta kelelahan dari diriku. Ketika tiba waktu Ashar, aku berkata: 'Nasihatilah aku.' Pemuda itu mengangkat kepalanya kepadaku seraya berkata: 'Wahai Ibn Khafif, kami ini orang-orang yang tertimpa musibah, kami tidak memiliki lidah untuk memberi nasihat.' Aku tinggal bersama mereka selama tiga hari tanpa makan, minum, dan tidur, dan aku pun tidak melihat mereka makan atau minum sedikit pun. Ketika hari ketiga, aku berkata dalam hatiku: 'Aku akan bersumpah meminta mereka memberi nasihat kepadaku, mudah-mudahan aku bisa mengambil manfaat darinya.' Maka pemuda itu mengangkat kepalanya dan berkata kepadaku: 'Wahai Ibn Khafif, hendaklah engkau bersahabat dengan orang yang penampakannya mengingatkanmu kepada Allah, kewibawaannya menghujam ke dalam hatimu, serta menasihatimu dengan lisan perbuatannya bukan dengan lisan ucapannya. Wassalamu 'alaik, berdirilah dan pergilah dari kami!' Maka inilah derajat para murāqib (orang-orang yang bermuraqabah) yang hatinya didominasi oleh keagungan dan kebesaran Allah, sehingga tidak tersisa lagi ruang di dalam diri mereka untuk selain-Nya.
الدرجة الثانية مراقبة الورعين من أصحاب اليمين وهم قوم غلب يقين اطلاع الله على ظاهرهم وباطنهم وعلى قلوبهم ولكن لم تدهشهم ملاحظة الجلال بل بقيت قلوبهم على حد الاعتدال متسعة للتلفت إلى الأحوال والأعمال إنها مع ممارسة الأعمال لا تخلو عن المراقبة
Derajat kedua adalah muraqabah orang-orang yang wara' dari golongan kanan (ashāb al-yamīn). Mereka adalah kaum yang keyakinannya begitu dominan bahwa Allah mengawasi lahiriah dan batiniah mereka serta hati mereka. Namun demikian, pengamatan terhadap Keagungan (Jalal) Allah tidak membuat mereka terpesona hingga linglung, melainkan hati mereka tetap berada dalam batas keseimbangan, cukup lapang untuk memperhatikan berbagai kondisi dan amal perbuatan. Sesungguhnya hati mereka, bersamaan dengan pelaksanaan amal perbuatan, tidak pernah sunyi dari muraqabah.
نعم غلب عليهم الحياء من الله فلا يقدمون ولا يحجمون إلا بعد التثبت فيه ويمتنعون عن كل ما يفتضحون به في القيامة فإنهم يرون الله في الدنيا مطلعا عليهم فلا يحتاجون إلى انتظار القيامة
Benar, rasa malu kepada Allah telah menguasai mereka, sehingga mereka tidak melangkah maju atau mundur melainkan setelah melakukan penelitian (tatsabbut) padanya, dan mereka menahan diri dari segala hal yang akan mempermalukan mereka kelak di hari Kiamat. Sebab mereka memandang Allah di dunia ini senantiasa mengawasi mereka, sehingga tidak perlu lagi menunggu hari Kiamat.
وتعرف اختلاف الدرجتين بالمشاهدات فإنك في خلوتك قد تتعاطى أعمالا فيحضرك صبي أو امرأة فتعلم أنه مطلع عليك فتستحيى منه فتحسن جلوسك وتراعى أحوالك لا عن إجلال وتعظيم بل عن حياء فإن
Perbedaan antara kedua derajat ini dapat diketahui melalui pengalaman kasatmata (musyahadat). Sesungguhnya dalam kesendirianmu, engkau mungkin melakukan suatu aktivitas, lalu seorang anak kecil atau wanita hadir di hadapanmu, maka engkau tahu bahwa ia memperhatikanmu. Lalu engkau merasa malu kepadanya, sehingga engkau memperbaiki sikap dudukmu dan menjaga keadaanmu; hal itu bukan karena pengagungan (ijlal wa ta'zhim) kepadanya, melainkan karena rasa malu. Sebab…
مشاهدته وإن كانت لا تدهشك ولا تستغرقك فإنها تهيج الحياء منك
…pemandangan kehadirannya, meskipun tidak membuatmu tercengang atau tenggelam (terpesona), namun ia membangkitkan rasa malu dari dalam dirimu.
وقد يدخل عليك ملك من الملوك أو كبير من الأكابر فيستغرقك التعظيم حتى تترك كل ما أنت فيه شغلا به لا حياء منه فهكذا تختلف مراتب العباد في مراقبة الله تعالى
Sebaliknya, terkadang seorang raja dari raja-raja atau tokoh besar dari orang-orang terkemuka masuk menemui dirimu, lalu pengagungan kepadanya menyelimutimu secara total hingga engkau meninggalkan segala hal yang sedang engkau kerjakan karena sibuk dengannya, bukan sekadar rasa malu padanya. Demikianlah tingkatan para hamba berbeda-beda dalam muraqabah kepada Allah Ta'ala.
ومن كان في هذه الدرجة فيحتاج أن يراقب جميع حركاته وسكناته وخطراته ولحظاته وبالجملة جميع اختياراته وله فيها نَظَرَانِ نَظَرٌ قَبْلَ الْعَمَلِ وَنَظَرٌ فِي الْعَمَلِ أما قبل العمل فلينظر أن ما ظهر له وتحرك بفعله خاطره أهو لله خاصة أو هو في هوى النَّفْسِ وَمُتَابَعَةِ الشَّيْطَانِ فَيَتَوَقَّفُ فِيهِ وَيَتَثَبَّتُ حَتَّى يَنْكَشِفَ لَهُ ذَلِكَ بِنُورِ الْحَقِّ فَإِنْ كَانَ لِلَّهِ تَعَالَى أَمْضَاهُ وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِ اللَّهِ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ وَانْكَفَّ عَنْهُ ثُمَّ لَامَ نَفْسَهُ عَلَى رَغْبَتِهِ فِيهِ وَهَمِّهِ بِهِ وَمَيْلِهِ إليه وعرفها سوء فعلها وسعيها في فضيحتها وأنها عدوة نفسها إن لم يتداركها الله بعصمته
Siapa yang berada pada derajat ini, ia perlu mengawasi (muraqabah) seluruh gerak-gerik, diam, terbersitnya pikiran, pandangan matanya, dan secara umum seluruh pilihan kehendaknya. Dalam hal ini ia memiliki dua pengamatan (nazhar): pengamatan sebelum beramal dan pengamatan saat beramal. Adapun sebelum beramal, hendaklah ia meneliti apakah yang tampak baginya dan yang menggerakkan hatinya untuk berbuat itu murni karena Allah semata, ataukah karena hawa nafsu dan mengikut setan. Maka ia harus berhenti sejenak dan memastikan (tatsabbut) hingga hal itu tersingkap baginya dengan cahaya kebenaran (nur al-haqq). Jika itu karena Allah Ta'ala, ia melaksanakannya. Namun jika karena selain Allah, ia merasa malu kepada Allah dan menahan diri darinya, kemudian mencela nafsunya atas keinginannya, tekadnya, dan kecenderungannya pada hal itu, serta memahamkan nafsunya akan keburukan perbuatannya dan usahanya yang mempermalukan dirinya sendiri, dan bahwa nafsu itu adalah musuh bagi dirinya sendiri jika Allah tidak menyelamatkannya dengan perlindungan-Nya (ismah).
وهذا التوقف في بداية الأمور إلى حد البيان واجب محتوم لا محيص لأحد عنه فإن في الخبر أنه ينشر للعبد في كل حركة من حركاته وإن صغرت ثلاثة دواوين الديوان الأول لم والثاني كيف والثالث لمن ومعنى لم أي لم فعلت هذا أكان عليك أن تفعله لمولاك أو ملت إليه بشهوتك وهواك فإن سلم منه بأن كان عليه أن يعمل ذلك لمولاه سئل عن الديوان الثاني فقيل له كيف فعلت هذا فإن لله في كل عمل شرطا وحكما لا يدرك قدره ووقته وصفته إلا بعلم فيقال له كيف فعلت أبعلم محقق أم بجهل وظن فإن سلم من هذا نشر الديوان الثالث وهو المطالبة بالإخلاص فيقال له لمن عملت ألوجه الله خالصا وفاء بقولك لا إله إلا الله فيكون أجرك على الله أو لمراءاة خلق مثلك فخذ أجرك منه أم عملته لتنال عاجل دنياك فقد وفيناك نصيبك من الدنيا أم عملته بسهو وغفلة فقد سقط أجرك وحبط عملك وخاب سعيك وإن عملت لغيري فقد استوجبت مقتى وعقابي إذ كنت عبدا لي تأكل رزقي وتترفه بنعمتي ثم تعمل لغيري أما سمعتني أقول إن الذين تدعون من دون الله عباد أمثالكم إن الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقاً فابتغوا عند الله الرزق واعبدوه ويحك أما سمعتني أقول ألا لله الدين الخالص فإذا عرف العبد أنه بصدد هذه المطالبات والتوبيخات طالب نفسه قبل أن تطالب وأعد للسؤال جوابا وليكن الجواب صوابا فلا يبدئ ولا يعيد إلا بعد التثبت ولايحرك جفنا ولا أنمله إلا بعد التأمل
Sikap henti (tawaqquf) pada awal urusan hingga mencapai kejelasan ini merupakan kewajiban yang pasti, tidak ada jalan menghindar bagi siapa pun. Sebab terdapat dalam khabar (riwayat) bahwa dibentangkan bagi seorang hamba pada setiap geraknya sekecil apa pun tiga buku catatan (diwan): Diwan pertama 'Mengapa' (lima), diwan kedua 'Bagaimana' (kaifa), dan diwan ketiga 'Untuk siapa' (liman). Makna 'Mengapa' adalah: Mengapa engkau melakukan ini? Apakah engkau wajib melakukannya demi Pelindungmu (Maula) ataukah engkau cenderung kepadanya karena syahwat dan hawa nafsumu? Jika ia selamat darinya dengan bukti bahwa ia memang wajib melakukan hal itu demi Maula-nya, maka ia ditanya mengenai diwan kedua, lalu dikatakan kepadanya: 'Bagaimana engkau melakukannya?' Sebab bagi Allah pada setiap amal ada syarat dan hukum yang tidak dapat diketahui kadar, waktu, dan sifatnya kecuali dengan ilmu. Maka dikatakan kepadanya: 'Bagaimana engkau melakukannya, apakah dengan ilmu yang meyakinkan ataukah dengan kebodohan dan prasangka?' Jika ia selamat dari ini, dibentangkanlah diwan ketiga, yaitu tuntutan keikhlasan, lalu dikatakan kepadanya: 'Untuk siapa engkau beramal? Apakah murni karena Wajah Allah demi menepati ucapanmu La ilaha illallah, sehingga pahalamu ada pada Allah; ataukah untuk pamer (riya') kepada makhluk sesamamu, maka ambillah pahalamu darinya; ataukah engkau melakukannya demi memperoleh dunia yang sekejap ini, maka Kami telah menyempurnakan bagianmu dari dunia; ataukah engkau melakukannya dengan kelalaian dan kelengahan, maka gugurlah pahalamu, hapuslah amalmu, dan rugilah usahamu. Dan jika engkau beramal untuk selain-Ku, maka engkau berhak mendapatkan kemurkaan dan siksa-Ku, karena engkau adalah hamba-Ku yang memakan rezeki-Ku dan bersenang-senang dengan nikmat-Ku, namun kemudian engkau beramal untuk selain-Ku. Tidakkah engkau mendengar Aku berfirman: "Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah itu adalah hamba-hamba jua seperti kamu" [QS. Al-A'raf: 194], "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia" [QS. Al-'Ankabut: 17]? Celaka engkau, tidakkah engkau mendengar Aku berfirman: "Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang murni" [QS. Az-Zumar: 3]?' Maka apabila hamba menyadari bahwa ia berhadapan dengan tuntutan-tuntutan dan teguran-teguran ini, hendaklah ia menuntut dirinya sebelum dituntut, dan mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut, serta hendaknya jawaban itu benar (shawab). Maka ia tidak memulai dan tidak mengulang suatu tindakan melainkan setelah pemantapan (tatsabbut), dan tidak menggerakkan kelopak mata maupun ujung jari melainkan setelah perenungan mendalam.
وقد قال النبي ﷺ لمعاذ إن الرجل ليسئل عن كحل عينيه وعن فته الطين بإصبعيه وعن لمسه ثوب أخيه حديث سعد حين أوصاه سلمان أن اتق الله عند همك إذا هممت أخرجه أحمد والحاكم وصححه وهذا القدر منه موقوف وأوله مرفوع تقدم // وقال محمد بن علي إن المؤمن وقاف متأن يقف عند همه ليس كحاطب ليل
Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda kepada Mu'adh: 'Sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar akan ditanya tentang celak matanya, tentang meremas-remas tanah dengan kedua jarinya, dan tentang menyentuh pakaian saudaranya.' Hadis Sa'ad ketika Salman menasihatinya: 'Bertakwalah kepada Allah saat timbul niatmu (hamm) apabila engkau berniat,' diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim yang mensahihkannya. Bagian ini padanya adalah mauquf (berhenti pada sahabat) dan bagian awalnya marfu' sebagaimana telah berlalu. Dan Muhammad bin Ali berkata: 'Sesungguhnya seorang mukmin itu selalu berhenti meneliti dan berhati-hati; ia berhenti saat muncul kehendak hatinya, ia tidak seperti pencari kayu bakar di malam hari (yang mengambil apa saja tanpa melihat).'
فهذا هو النظر الأول في هذه المراقبة ولا يخلص من هذا إلا العلم المتين والمعرفة الحقيقة بأسرار الأعمال وأغوار النفس ومكايد الشيطان فمتى لم يعرف نفسه وربه وعدوة إبليس ولم يعرف ما يوافق هواه ولم يميز بينه وبين ما يحبه الله ويرضاه في نيته وهمته وفكرته وسكونه وحركته فلا يسلم في هذه المراقبة بل الأكثرون يرتكبون الجهل فيما يكرهه الله تعالى وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا ولا تظنن أن الجاهل بما يقدر على التعلم فيه يعذر هيهات بل طلب العلم فريضة على كل مسلم ولهذا كانت ركعتان من عالم
Maka inilah pengamatan (nazhar) pertama dalam muraqabah ini. Dan tidak ada yang selamat dari hal ini kecuali ilmu yang kokoh dan ma'rifat sejati tentang rahasia-rahasia amal, kedalaman nafsu, serta tipu daya setan. Apabila seseorang tidak mengenal dirinya, Tuhannya, dan musuhnya yaitu Iblis, serta tidak mengetahui apa yang sesuai dengan hawa nafsunya dan tidak dapat membedakan antara hal itu dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah dalam niat, tekad, pikiran, ketenangan, maupun gerakannya, niscaya ia tidak akan selamat dalam muraqabah ini. Bahkan mayoritas manusia melakukan kebodohan dalam apa yang dibenci oleh Allah Ta'ala padahal mereka mengira bahwasanya mereka berbuat sebaik-baiknya. Janganlah engkau mengira bahwa orang yang bodoh terhadap hal yang mampu ia pelajari itu diberi uzur, sekali-kali tidak! Bahkan menuntut ilmu itu fardhu bagi setiap muslim. Oleh karena itulah, dua rakaat shalat dari seorang yang berilmu ('alim)…
أفضل من ألف ركعة من غير عالم لأنه يعلم آفات النفوس ومكايد الشيطان ومواضع الغرور فيتقى ذلك والجاهل لا يعرفه فكيف يحترز منه فلا يزال الجاهل في تعب والشيطان منه في فرح وشماته فنعوذ بالله من الجهل والغفلة فهو رأس كل شقاوة وأساس كل خسران
lebih utama daripada seribu rakaat ibadah dari selain orang alim, karena orang alim mengetahui penyakit-penyakit jiwa, tipu daya setan, dan tempat-tempat terperdaya (ghurur) sehingga ia memelihara diri darinya. Sedangkan orang bodoh tidak mengetahuinya, maka bagaimana mungkin ia dapat membentengi diri darinya? Maka orang bodoh senantiasa berada dalam keletihan, sementara setan bersenang-senang dan bersukacita atasnya. Kita berlindung kepada Allah dari kebodohan dan kelalaian, karena keduanya adalah pangkal dari segala kesengsaraan dan asas dari setiap kerugian.
فحكم الله تعالى على كل عبد أن يراقب نفسه عند همه بالفعل وسعيه بالجارحة فيتوقف عن الهم وعن السعي حتى ينكشف له بنور العلم أنه لله تعالى فيمضيه أو هو لهوى النفس فيتقيه ويزجر القلب عن الفكر فيه وعن الهم به فإن الخطوة الأولى في الباطل إذا لم تدفع أورثت الرغبة والرغبة تورث الهم والهم يورث جزم القصد والقصد يورث الفعل والفعل يورث البوار والمقت فينبغى أن تحسم مادة الشر من منبعه الأول وهو الخاطر فإن جميع ما وراءه يتبعه
Maka hukum Allah Ta'ala atas setiap hamba adalah hendaknya ia senantiasa mengawasi (muraqabah) jiwanya ketika berniat (hamm) melakukan suatu perbuatan dan ketika hendak melangkah dengan anggota badannya. Ia harus berhenti dari niat dan langkah itu sampai menjadi jelas baginya dengan cahaya ilmu, apakah perbuatan itu karena Allah Ta'ala sehingga ia melanjutkannya, ataukah karena hawa nafsu sehingga ia menjauhinya serta mencegah hatinya dari memikirkannya dan bercita-cita akannya. Sebab, langkah pertama dalam kebatilan apabila tidak ditolak akan melahirkan kerinduan (raghbah), kerinduan melahirkan niat kuat (hamm), niat kuat melahirkan kebulatan tekad (qasd), kebulatan tekad melahirkan perbuatan (fi'l), dan perbuatan melahirkan kebinasaan serta kemurkaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah bahan baku kejahatan diputus dari sumber pertamanya, yaitu terlintasnya pikiran (al-khatir), karena segala hal setelahnya pasti akan mengikutinya.
ومهما أشكل على العبد ذلك وأظلمت الواقعة فلم ينكشف له فيتفكر في ذلك بنور العلم ويستعيذ بالله من مكر الشيطان بواسطة الهوى فإن عجز عن الاجتهاد والفكر بنفسه فيستضىء بنور علماء الدين وليفر من العلماء المضلين المقبلين على الدنيا فراره من الشيطان بل أشد فقد أوحى الله تعالى إلى داود ﵇ لاتسأل عنى عالما أسكره حب الدنيا فيقطعك عن محبتي أولئك قطاع الطريق على عبادي فالقلوب المظلمة بحب الدنيا وشدة الشرة والتكآلب عليها محجوبة عن نور الله تعالى فإن مستضاء أنوار القلوب حضرة الربوبية فكيف يستضئ بها من أستدبرها وأقبل على عدوها وعشق بغيضها ومقيتها وهي شهوات الدنيا فلتكن همه المريد أولا في أحكام العلم أو في طلب عالم معرض عن الدنيا أو ضعيف الرغبة فيها إن لم يجد من هو عديم الرغبة فيها وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الله يحب البصر الناقد عند ورود الشبهات والعقل الكامل عند هجوم الشهوات جمع بين الأمرين وهما متلازمان حقا فمن ليس له عقل وازع عن الشهوات فليس له بصر ناقد في الشبهات
Dan apabila hal itu tampak samar bagi seorang hamba dan keadaan menjadi gelap sehingga belum jelas baginya, hendaknya ia merenungkan hal itu dengan cahaya ilmu serta memohon perlindungan kepada Allah dari tipu daya setan melalui perantara hawa nafsu. Jika ia lemah untuk berijtihad dan berpikir sendiri, hendaknya ia mencari penerangan dengan cahaya ulama agama, dan hendaknya ia lari dari ulama penyesat yang berpaling kepada dunia sebagaimana ia lari dari setan, bahkan lebih keras lagi. Allah Ta'ala telah mewahyukan kepada Nabi Daud 'alaihissalam: 'Janganlah engkau bertanya tentang Aku kepada alim yang dimabukkan oleh cinta dunia, sehingga ia memotong jalanmu dari mencintai-Ku. Mereka itu adalah para penyamun di jalan hamba-hamba-Ku.' Maka hati yang tergelapkan oleh cinta dunia, ketamakan yang amat sangat, serta perebutan atasnya adalah terhalang (mahjub) dari cahaya Allah Ta'ala. Sebab, tempat memancarnya cahaya hati adalah Hadirat Rububiyyah, lalu bagaimana mungkin orang yang membelakanginya, menghadap musuh-Nya, serta mencintai apa yang dibenci dan dimurkai-Nya—yaitu syahwat dunia—akan mendapat penerangan dengannya? Maka hendaklah cita-cita seorang murid (pencari hakikat) pada mulanya tercurah untuk memperkokoh ilmu atau mencari ulama yang berpaling dari dunia, atau yang lemah hasrat dunianya jika ia tidak menemukan orang yang sama sekali tidak berhasrat pada dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah menyukai penglihatan (bashirah) yang tajam saat timbulnya keraguan (syubhat) dan akal yang sempurna saat gempuran syahwat.' Beliau memadukan kedua hal ini, dan keduanya memang saling berkaitan dengan erat; barang siapa tidak memiliki akal yang mampu mencegah dari syahwat, maka ia tidak memiliki bashirah yang tajam dalam menghadapi syubhat.
ولذلك قال ﵇ من قارف ذنباً فارقه عقل لا يعود إليه أبدا فما قدر العقل الضعيف الذي سعد الآدمي به حتى يعمد إلى محوه ومحقه بمقارنة الذنوب ومعرفة آفات الأعمال قد اندرست في هذه الأعصار فإن الناس كلهم قد هجروا هذه العلوم واشتغلوا بالتوسط بين الخلق في الخصومات الثائرة في اتباع الشهوات وقالوا هذا هو الفقة وأخرجوا هذا العلم الذي هو فقه الدين عن جملة العلوم وتجردوا لفقه الدنيا الذى ما قصد به الا دفع الشواغل عن القلوب ليتفرغ لفقه الدين فكان فقه الدنيا من الدين بواسطة هذا الفقه
Oleh karena itu Nabi 'alaihissalam bersabda: 'Barang siapa melakukan suatu dosa, maka terpisahlah darinya satu bagian akal yang tidak akan pernah kembali kepadanya selamanya.' Seberapa besarlah nilai akal yang lemah tempat manusia meraih kebahagiaan itu, hingga ia sengaja menghapus dan memusnahkannya dengan melakukan dosa-dosa? Sedangkan pengetahuan tentang penyakit-penyakit amal (afatul a'mal) sungguh telah musnah pada zaman ini, karena manusia secara keseluruhan telah meninggalkan ilmu-ilmu ini dan disibukkan dengan perantara di antara makhluk dalam perselisihan yang bergejolak demi menuruti syahwat, seraya mereka berkata: 'Inilah fiqih.' Mereka mengeluarkan ilmu ini—yang sejatinya merupakan fiqih agama (fiqhud din)—dari keseluruhan ilmu, dan memfokuskan diri pada fiqih dunia, yang padahal tidaklah dimaksudkan melainkan untuk menolak gangguan dari hati agar hati sempat mendalami fiqih agama. Maka fiqih dunia menjadi bagian dari agama hanyalah dengan perantara fiqih agama ini.
وفي الخبر أنتم اليوم في زمان خيركم فيه المسارع وسيأتى عليكم زمان خيركم فيه المتثبت ولهذا توقف طائفة من الصحابة في القتال مع أهل العراق وأهل الشام لما أشكل عليهم الأمر كسعد بن أبي وقاص وعبد الله بن عمر وأسامة ومحمد بن مسلمة وغيرهم
Dalam sebuah riwayat disebutkan: 'Kalian hari ini berada di suatu zaman yang orang terbaik di antara kalian adalah yang bersegera (dalam kebaikan), dan akan datang kepada kalian suatu zaman yang orang terbaik di antara kalian adalah yang berhati-hati dan menahan diri (al-mutatsabbit).' Oleh karena inilah sekelompok sahabat menahan diri dari peperangan bersama penduduk Irak dan penduduk Syam ketika perkara tersebut membingungkan mereka, seperti Sa'ad bin Abi Waqqas, 'Abdullah bin 'Umar, Usamah, Muhammad bin Maslamah, dan selain mereka.
فمن لم يتوقف عند الاشتباه كان متبعا لهواه معجبا برأيه وكان ممن وَصَفَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذ قال فإذا رأيت شحا مطاعاً وهوى متبعاً وإعجاب كل ذي رأي برأيه فعليك بخاصة نفسك وكل من خاض في شبهه بغير تحقيق فقد خالف قوله تعالى ولا تقف ما ليس لك به علم وقوله ﵇ إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث وأراد به ظنا بغير دليل كما يستفتى بعض العوام قلبه فيما أشكل عليه ويتبع ظنه ولصعوبة هذا الأمر وعظمة كان دعاء الصديق رضي الله تعالى عنه اللهم أرني الحق حقاً وارزقنى اتباعه وأرني الباطل باطلا وارزقنى اجتنابه ولا تجعله متشابها على فأتبع الهوى وقال عيسى عليه
Maka barang siapa tidak menahan diri ketika terjadi kesamaran (syubhat), berarti ia telah mengikuti hawa nafsunya dan kagum pada pendapatnya sendiri, serta termasuk orang yang digambarkan oleh Rasulullah ﷺ ketika bersabda: 'Apabila engkau melihat kebaktian/kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan setiap orang yang punya pendapat kagum dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau mengurus dirimu sendiri.' Setiap orang yang menceburkan diri dalam syubhat tanpa pembuktian yang hakiki (tahqiq), maka sungguh ia telah menyelisih firman Allah Ta'ala: 'Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,' serta sabda Nabi ﷺ: 'Jauhilah olehmu persangkaan (dzan), karena persangkaan itu adalah sebohong-bohongnya perkataan.' Dan yang dimaksud dengan dugaan/persangkaan di sini adalah persangkaan tanpa dalil, sebagaimana sebagian orang awam meminta fatwa kepada hatinya sendiri dalam perkara yang samar baginya lalu menuruti prasangkanya. Karena sulit dan besarnya perkara ini, maka doa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah: 'Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku yang haq itu sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kepadaku kemampuan untuk mengikutinya, serta perlihatkanlah kepadaku yang batil itu sebagai kebatilan dan anugerahkanlah kepadaku kemampuan untuk menjauhinya, dan janganlah Engkau menjadikannya samar bagiku sehingga aku mengikuti hawa nafsu.' Dan Nabi 'Isa 'alaihissalam berkata:
السلام الأمور ثلاثة أمر استبان رشده فاتبعه وأمر استبان غيه فاجتنبه وأمر أشكل عليك فكله إلى عالمه وقد كان من دعاء النبي ﷺ اللهم إني أعوذ بك أن أقول في الدين بغير علم فأعظم نعمة الله على عباده هو العلم وكشف الحق والإيمان عبارة عن نوع كشف وعلم ولذلك قال تعالى امتنانا على عبده ﴿وكان فضل الله عليك عظيما﴾ وأراد به العلم وقال تَعَالَى ﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تعلمون﴾ وقال تعالى ﴿إن علينا للهدى﴾ وقال ﴿ثم إن علينا بيانه﴾ وقال ﴿وعلى الله قصد السبيل﴾
'Perkara itu ada tiga: perkara yang telah jelas kebenarannya maka ikutilah ia, perkara yang telah jelas kesesatannya maka jauhilah ia, dan perkara yang samar bagimu maka serahkanlah kepada orang yang mengetahuinya (ahlinya).' Dan di antara doa Nabi ﷺ adalah: 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berkata dalam urusan agama tanpa ilmu.' Maka nikmat Allah yang paling agung atas hamba-hamba-Nya adalah ilmu dan tersingkapnya kebenaran (kasyf al-haqq). Dan iman itu merupakan sejenis singkapan spiritual (kasyf) dan ilmu. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman sebagai karunia atas hamba-Nya: 'Dan karunia Allah kepadamu adalah sangat besar,' dan yang dimaksudkan dengannya adalah ilmu. Allah Ta'ala juga berfirman: 'Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,' dan berfirman: 'Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk,' serta berfirman: 'Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya,' dan berfirman: 'Dan hak Allah-lah (menerangkan) jalan yang lurus.'
وقال علي كرم الله وجهه الهوى شريك العمى ومن التوفيق التوقف عند الحيرة ونعم طارد الهم اليقين وعاقبة الكذب الندم وفي الصدق السلامة رب بعيد أقرب من قريب وغريب من لم يكن له حبيب والصديق من صدق غيبه ولا يعدمك من حبيب سوء ظن نعم الخلق التكرم والحياء سبب إلى كل جميل وأوثق العرا التقوى واوثق سبب أخذت به سبب بينك وبين الله تعالى إنما لك من دنياك ما أصلحت به مثواك والرزق رزقان رزق تطلبه ورزق يطلبك فان لم تأته أتاك وإن كنت جازعا على ما أصيب مما في يديك فلا تجزع على ما لم يصل إليك واستدل على ما لم يكن بما كان فإنما الأمور أشباه والمرء يسره درك ما لم يكن ليفوته ويسوءه فوت ما لم يكن ليدركه فما نالك من دنياك فلا تكثرن به فرحا وما فاتك منها فلا تتبعه نفسك أسفا وليكن سرورك بما قدمت وأسفك على ما خلفت وشغلك لآخرتك وهمك فيما بعد الموت
Dan Ali karramallahu wajhah berkata: 'Hawa nafsu adalah sekutu dari kebutaan hati; dan di antara pertolongan Allah (taufiq) adalah menahan diri di saat kebingungan. Sebaik-baik pengusir kecemasan adalah keyakinan (yaqin); akibat dari kebohongan adalah penyesalan; dan dalam kejujuran terdapat keselamatan. Berapa banyak orang yang jauh justru lebih dekat daripada kerabat dekat; dan orang asing adalah orang yang tidak memiliki kekasih. Sahabat sejati adalah orang yang jujur ketulusannya dalam kegaiban (di belakangmu); dan tidak akan luput dari kekasih adanya prasangka buruk. Sebaik-baik akhlak adalah keluhuran budi; rasa malu adalah perantara menuju setiap kebaikan; tali yang paling kuat adalah ketakwaan; dan perantara paling kokoh yang engkau pegang adalah perantara antara dirimu dan Allah Ta'ala. Harta yang engkau miliki dari duniamu tidak lain hanyalah apa yang engkau pergunakan untuk membenahi tempat kembalimu (akhirat). Rezeki itu ada dua macam: rezeki yang engkau cari dan rezeki yang mencarimu, jika engkau tidak mendatanginya maka ia yang akan mendatangimu. Jika engkau bersedih atas apa yang hilang dari tanganmu, maka janganlah engkau bersedih atas apa yang belum sampai kepadamu. Jadikanlah apa yang telah terjadi sebagai petunjuk atas apa yang belum terjadi, karena sesungguhnya segala perkara itu saling serupa. Seseorang terkadang digembirakan oleh tercapainya apa yang tidak akan luput darinya, dan disedihkan oleh terlepasnya apa yang memang tidak akan dapat diraihnya. Maka apa pun yang engkau peroleh dari duniamu, janganlah engkau terlalu bergembira dengannya, dan apa pun yang luput darimu, janganlah jiwamu mengikutinya dengan penyesalan. Hendaklah kegembiraanmu adalah atas kebaikan yang telah engkau perbuat untuk masa depanmu, penyesalanmu atas apa yang engkau tinggalkan (kebaikan yang terlewat), kesibukanmu untuk akhiratmu, dan cita-citamu pada kehidupan setelah kematian.'
وغرضنا من نقل هذه الكلمات قوله ومن التوفيق التوقف عند الحيرة فإذن النظر الأول للمراقب نظره في الهم والحركة أهي لله أم للهوى وقد قال ﷺ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فيه استكمل إيمانه لا يخاف في الله لومة لائم ولا يرائي بشيء من عمله وإذا عرض له أمران أحدهما للدنيا والآخر للآخرة آثر الآخرة على الدنيا وأكثر ما ينكشف له في حركاته أن يكون مباحا ولكن لا يعنيه فيتركه لقوله ﷺ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المرء تركه مالا يعنيه
Maksud kami dari mengutip kata-kata ini adalah perkataan beliau: 'Dan di antara taufiq adalah menahan diri di saat kebingungan.' Maka, pengamatan pertama bagi seorang yang melakukan muraqabah (muraqib) adalah pengamatannya pada niat (hamm) dan geraknya: apakah itu karena Allah ataukah karena hawa nafsu? Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: 'Tiga hal yang barang siapa memilikinya maka telah sempurna imannya: ia tidak takut celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah, tidak berbuat riya sedikit pun dalam amalnya, dan apabila dihadapkan padanya dua perkara—satu untuk dunia dan yang lain untuk akhirat—ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia.' Dan yang paling sering tersingkap baginya dalam gerak-geriknya adalah perbuatan mubah, tetapi tidak berguna baginya (tidak penting baginya), maka ia meninggalkannya karena sabda Nabi ﷺ: 'Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.'
النظر الثاني للمرقبة عند الشروع في العمل وذلك بِتَفَقُّدِ كَيْفِيَّةِ الْعَمَلِ لِيَقْضِيَ حَقَّ اللَّهِ فِيهِ ويحسن النية في إتمامه ويكمل صورته وَيَتَعَاطَاهُ عَلَى أَكْمَلِ مَا يُمْكِنُهُ وَهَذَا مُلَازِمٌ له في جميع أحواله فإنه لا يخلو في جميع أحواله عن حركة وسكون فإذا راقب الله تعالى في جميع ذلك قدر على عبادة الله تعالى فيها بالنية وحسن الفعل ومراعاة الأدب فإن كان قاعدا مثلا فينبغى أن يقعد مستقبل القبلة لقوله ﷺ خير المجالس ما استقبل به القبلة ولا يجلس متربعا إذ لا يجالس الملوك كذلك وملك الملوك مطلع عليه قال إبراهيم بن أدهم ﵀ جلست مرة متربعا فسمعت هاتفا يقول هكذا تجالس الملوك فلم أجلس بعد ذلك متربعا وإن كان ينام
Pengamatan kedua bagi muraqabah adalah ketika hendak memulai perbuatan, yaitu dengan memeriksa tata cara pelaksanaan amal tersebut agar ia memenuhi hak Allah di dalamnya, memperbaiki niat dalam menyempurnakannya, melengkapi bentuk lahiriahnya, serta menjalankannya dengan cara yang paling sempurna yang mampunya. Hal ini senantiasa menyertainya dalam seluruh keadaannya, karena dalam setiap keadaan ia tidak lepas dari bergerak atau diam. Apabila ia mengawasi Allah Ta'ala (muraqabah) dalam semua itu, niscaya ia sanggup beribadah kepada Allah Ta'ala pada keadaan tersebut melalui niat, kebaikan perbuatan, dan pemeliharaan adab. Jika ia sedang duduk misalnya, hendaknya ia duduk menghadap kiblat berdasarkan sabda Nabi ﷺ: 'Sebaik-baik majelis adalah yang dihadapkan ke arah kiblat.' Dan janganlah ia duduk bersila, karena para raja tidak diduduki majelisnya dengan cara demikian, padahal Raja dari segala raja (Malikul Muluk) senantiasa mengawasinya. Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata: 'Pernah suatu kali aku duduk bersila, lalu aku mendengar suara tanpa rupa (hatif) berkata: 'Apakah seperti ini engkau duduk bersama para raja?' Maka setelah itu aku tidak pernah lagi duduk bersila.' Dan jika ia hendak tidur,
فينام على اليد اليمنى مستقبل القبلة مع سائر الآداب التي ذكرناها في موضعها فكل ذلك داخل في المراقبة بل لو كان في قضاء الحاجة فمراعاته لآدابها وفاء بالمراقبة
maka ia tidur miring di atas sisi kanan badan dengan menghadap kiblat beserta seluruh adab lain yang telah kami sebutkan pada tempatnya. Maka semua itu masuk dalam cakupan muraqabah. Bahkan, jika ia sedang buang hajat, pemeliharaannya terhadap adab-adabnya merupakan pemenuhan hak muraqabah.
فإذن لا يخلو العبد إِمَّا أَنْ يَكُونَ فِي طَاعَةٍ أَوْ فِي معصية أو في مباح
Dengan demikian, seorang hamba tidak pernah lepas dari tiga keadaan: adakalanya ia berada dalam ketaatan, maksiat, atau perkara mubah.
فمراقبته في الطاعة بِالْإِخْلَاصِ وَالْإِكْمَالِ وَمُرَاعَاةِ الْأَدَبِ وَحِرَاسَتِهَا عَنِ الْآفَاتِ
Maka muraqabah-nya dalam ketaatan adalah dengan keikhlasan, penyempurnaan, pemeliharaan adab, serta menjaganya dari penyakit-penyakit amal (afat).
وَإِنْ كَانَ فِي مَعْصِيَةٍ فَمُرَاقَبَتُهُ بِالتَّوْبَةِ وَالنَّدَمِ والإقلاع والحياء والاشتغال بالتفكر
Dan apabila ia berada dalam kemaksiatan, maka muraqabah-nya adalah dengan taubat, penyesalan, meninggalkan dosa tersebut secara seketika (iqla'), rasa malu, serta menyibukkan diri dengan perenungan (tafakur).
وَإِنْ كَانَ فِي مُبَاحٍ فَمُرَاقَبَتُهُ بِمُرَاعَاةِ الْأَدَبِ ثُمَّ بِشُهُودِ الْمُنْعِمِ فِي النِّعْمَةِ وَبِالشُّكْرِ عَلَيْهَا
Dan apabila ia berada dalam perkara mubah, maka muraqabah-nya adalah dengan memelihara adab, kemudian bersaksi akan Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun'im) di dalam nikmat tersebut serta bersyukur atasnya.
وَلَا يَخْلُو الْعَبْدُ فِي جُمْلَةِ أَحْوَالِهِ عَنْ بَلِيَّةٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنَ الصَّبْرِ عَلَيْهَا وَنِعْمَةٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنَ الشُّكْرِ عَلَيْهَا وَكُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْمُرَاقَبَةِ
Dan seorang hamba dalam keseluruhan keadaannya tidak pernah lepas dari ujian (baliyyah) yang ia harus bersabar atasnya, atau nikmat yang ia harus bersyukur atasnya. Kesemua itu adalah bagian dari muraqabah.
بَلْ لَا يَنْفَكُّ العبد في كل حال من فرض لله تَعَالَى عَلَيْهِ إِمَّا فِعْلٍ يَلْزَمُهُ مُبَاشَرَتُهُ أَوْ مَحْظُورٍ يَلْزَمُهُ تَرْكُهُ أَوْ نَدْبٍ حَثَّ عَلَيْهِ لِيُسَارِعَ بِهِ إِلَى مَغْفِرَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَيُسَابِقَ بِهِ عِبَادَ اللَّهِ أَوْ مُبَاحٍ فِيهِ صَلَاحُ جِسْمِهِ وَقَلْبِهِ وَفِيهِ عَوْنٌ لَهُ عَلَى طَاعَتِهِ ولكل واحد من ذلك حدود لابد مِنْ مُرَاعَاتِهَا بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ ﴿وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ الله فقد ظلم نفسه﴾ فينبغي أن يتفقد العبد نفسه في جميع أوقاته في هذه الأقسام الثلاثة فإذا كَانَ فَارِغًا مِنَ الْفَرَائِضِ وَقَدَرَ عَلَى الْفَضَائِلِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَلْتَمِسَ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ لِيَشْتَغِلَ بِهَا فَإِنَّ مَنْ فَاتَهُ مَزِيدُ رِبْحٍ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى دَرْكِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ وَالْأَرْبَاحُ تُنَالُ بِمَزَايَا الفضائل فبذلك يأخذ العبد من دنياه لآخرته كما قال تعالى ﴿ولا تنس نصيبك من الدنيا﴾
Bahkan hamba tidak pernah terlepas dalam setiap keadaan dari kewajiban dari Allah Ta'ala atasnya: adakalanya berupa perbuatan wajib yang harus ia laksanakan, atau larangan yang wajib ia tinggalkan, atau perbuatan sunnah (nadb) yang dianjurkan kepadanya agar ia bersegera dengannya menuju ampunan Allah Ta'ala dan berlomba dengan hamba-hamba Allah lainnya, atau perkara mubah yang di dalamnya terdapat kebaikan jasmani dan hatinya serta membantu baginya untuk taat kepada-Nya. Setiap dari hal tersebut memiliki batas-batas (hudud) yang wajib dipelihara dengan keberlanjutan muraqabah: 'Dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.' Maka hendaknya seorang hamba memeriksa jiwanya dalam seluruh waktunya pada ketiga pembagian ini. Apabila ia telah selesai dari amalan-amalan fardhu dan mampu mengerjakan keutamaan-keutamaan (fadhail), hendaknya ia mencari amal yang paling utama untuk disibukkan dengannya. Karena barang siapa yang terlewat dari tambahan keuntungan padahal ia mampu meraihnya, maka ia adalah orang yang rugi (maghbun). Sedangkan keuntungan-keuntungan diraih melalui keutamaan-keutamaan amal. Dengan demikian, hamba mengambil dari dunianya untuk akhiratnya, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.'
وكل ذلك إنما يمكن بصبر ساعة واحدة فإن الساعات ثلاث ساعة مضت لا تعب فيها على العبد كيفما انقضت في مشقة أو رفاهية
Dan semua itu hanya mungkin terlaksana dengan kesabaran satu saat saja. Sebab, saat/waktu itu ada tiga: saat yang telah berlalu, tidak ada lagi keletihan di dalamnya bagi seorang hamba bagaimanapun berlalunya, baik dalam kesukaran maupun kesenangan;
وساعة مستقبلة لم تأت بعد لا يدري العبد أيعيش إليها أم لا ولا يدرى ما يقضى الله فيها وساعة راهنة ينبغي أن يجاهد فيها نفسه ويراقب فيها ربه فإن لم تأته الساعة الثانية لم يتحسر على فوات هذه الساعة وإن أتته الساعة الثانية استوفى حقه منها كما استوفى من الاولى
saat mendatang yang belum tiba, di mana seorang hamba tidak mengetahui apakah ia akan hidup sampai waktu itu atau tidak, dan tidak tahu apa yang Allah tetapkan di dalamnya; serta saat yang sedang berlangsung (rahinah), yang hendaknya ia bermujahadah padanya menundukkan jiwanya dan bermuraqabah kepada Rabbnya. Jika saat kedua tidak mendatanginya, ia tidak akan menyesali berlalunya saat ini, dan jika saat kedua mendatanginya, ia menunaikan haknya sebagaimana ia telah menunaikan hak saat yang pertama.
ولا يطول أمله خمسين سنة فيطول عليه العزم على المراقبة فيها بل يكون ابن وقته كأنه في آخر أنفاسه فلعله آخر أنفاسه وهو لا يدرى وإذا أمكن أن يكون آخر أنفاسه فينبغي أن يكون على وجه لا يكره أن يدركه الموت وهو على تلك الحالة وتكون جميع أحواله مقصورة على ما رواه أبو ذر رضي الله تعالى عنه من قوله ﵇ لا يكون المؤمن ظاعناً إلا في ثلاث تزود لمعاد أو مرمة لمعاش أو لذة في غير محرم
Dan janganlah ia memanjangkan angan-angannya hingga lima puluh tahun, sehingga menjadi berat baginya tekad untuk bermuraqabah di dalamnya. Hendaklah ia menjadi 'anak dari waktunya' (ibnu waqtihi), seolah-olah ia berada pada nafasnya yang terakhir. Karena boleh jadi itu memang nafas terakhirnya tanpa ia sadari. Apabila ada kemungkinan itu adalah nafas terakhir, maka hendaknya ia berada dalam keadaan yang tidak ia benci sekiranya kematian menjemputnya dalam kondisi tersebut. Dan hendaknya seluruh keadaannya terbatas pada apa yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu 'anhu dari sabda Nabi ﷺ: 'Tidaklah seorang mukmin melakukan perjalanan/kesibukan melainkan dalam tiga hal: bekal untuk tempat kembali (akhirat), membenahi penghidupan (sumber mata pencaharian), atau menikmati kelezatan yang tidak diharamkan.'
وما روى عنه أيضا في معناه وعلى العاقل أن تكون له أربعة ساعات ساعة يناجي فيها ربه وساعة يحاسب فيها نفسه وساعة يتفكر فيها في صنع الله تعالى وساعة يخلو فيها للمطعم والمشرب فإن في هذه الساعة عونا له على بقية الساعات
Dan apa yang diriwayatkan dari beliau juga yang bermakna serupa: "Dan hendaknya seorang yang berakal memiliki empat saat (waktu): saat di mana ia bermunajat kepada Tuhannya, saat di mana ia mengintrospeksi (muhasabah) dirinya, saat di mana ia merenungkan (tafakkur) ciptaan Allah Ta'ala, dan saat di mana ia menyendiri untuk keperluan makan dan minumnya. Karena sesungguhnya pada saat ini terdapat pertolongan baginya untuk menjalankan saat-saat sisanya."
ثم هذه الساعات التي هو فيها مشغول الجوارح بالمطعم والمشرب لا ينبغي أن يخلو عن عمل هو أفضل الأعمال وهو الذكر والفكر فإن الطعام الذى يتناوله مثلا فيه من العجائب ما لو تفكر فيه وفطن له كان ذلك أفضل من كثير من أعمال الجوارح
Kemudian saat-saat ini, di mana anggota tubuhnya disibukkan dengan makan dan minum, tidak seyogianya kosong dari amalan yang merupakan sebaik-baik amalan, yaitu dzikir dan fikr (perenungan). Sebab, makanan yang ia santap misalnya, di dalamnya terdapat keajaiban-keajaiban yang jika ia merenungkannya dan menyadarinya, hal itu sungguh lebih utama daripada banyak amalan anggota tubuh.
والناس فيه أقسام قسم ينظرون إليه بعين التبصر والاعتبار فينظرون في عجائب صنعته وكيفية ارتباط قوام الحيوانات به وكيفية تقدير الله لأسبابه وخلق الشهوات الباعثة عليه وخلق الآلات المسخرة للشهوة فيه كما فصلنا بعضه في كتاب الشكر وهذا مقام ذوى الألباب
Manusia dalam hal ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama memandangnya dengan pandangan mata batin (tabashshur) dan iktibar (i'tibar), lalu mereka melihat keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya, bagaimana keterkaitan kelangsungan hidup hewan dengannya, bagaimana penentuan (taqdir) Allah terhadap sebab-sebabnya, penciptaan syahwat yang mendorong ke arahnya, serta penciptaan organ-organ yang ditundukkan untuk syahwat padanya, sebagaimana telah kami perincikan sebagian darinya dalam Kitab asy-Syukr. Dan ini adalah maqam bagi orang-orang yang berakal (dzawil albab).
وقسم ينظرون فيه بعين المقت والكراهة ويلاحظون وجه الاضطرار إليه وبودهم لو استغنوا عنه ولكن يرون أنفسهم مقهورين فيه مسخرين لشهواته وهذا مقام الزاهدين
Kelompok kedua memandangnya dengan pandangan kejengkolan dan kebencian, serta memperhatikan sisi keterpaksaan padanya. Mereka berharap andaikan mereka tidak membutuhkannya, namun mereka melihat diri mereka terkalahkan di dalamnya dan ditundukkan oleh syahwat-syahwatnya. Dan ini adalah maqam orang-orang yang berzuhud (az-zahidin).
وقوم يرون في الصنعة الصانع ويترقون منها إلى صفات الخالق فتكون مشاهدة ذلك سببا لتذكر أبواب من الفكر تنفتح عليهم بسببه وهو أعلى المقامات وهو من مقامات العارفين وعلامات المحبين إذ المحب إذا رأي صنعة حبيبه وكتابه وتصنيفه نسى الصنعة واشتغل قلبه بالصانع وكل ما يتردد العبد فيه صنع الله تعالى فله في النظر منه إلى
Dan sekelompok orang melihat Sang Maha Pencipta (ash-Shani') dalam ciptaan (ash-Shun'ah), lalu mereka naik derajat darinya menuju sifat-sifat Maha Pencipta. Maka penyaksian (musyahadah) akan hal tersebut menjadi sebab teringatnya pintu-pintu pemikiran yang terbuka bagi mereka karenanya. Dan ini adalah maqam tertinggi, yang merupakan bagian dari maqam orang-orang yang makrifat (al-'arifin) dan tanda-tanda orang-orang yang mencintai (al-muhibbin). Sebab, seorang pecinta apabila melihat karya kekasihnya, tulisannya, dan karangannya, ia akan melupakan karya itu dan hatinya disibukkan oleh Sang Pembuat karya tersebut. Dan setiap hal yang di dalamnya seorang hamba bolak-balik padanya adalah ciptaan Allah Ta'ala, maka baginya dalam memandang darinya menuju…
الصانع مجال رحب إن فتحت له أبواب الملكوت وذلك عزيز جدا
…Sang Maha Pencipta terdapat lapangan yang luas, jika pintu-pintu alam Malakut dibukakan baginya; dan hal itu sangatlah langka.
وقسم رابع ينظرون إليه بعين الرغبة والحرص فيتأسفون على ما فاتهم منه ويفرحون بما حضرهم من جملته ويذمون منه مالا يوافق هواهم ويعيبونه ويذمون فاعله فيذمون الطبيخ والطباخ ولا يعلمون أن الفاعل للطبيخ والطباخ ولقدرته ولعلمه هو الله تعالى وأن من ذم شيئا من خلق الله بغير إذن فقد ذم الله ولذلك قال النبي ﷺ لا تسبوا الدهر فإن الله هو الدهر فهذه المرابطة الثانية بمراقبة الأعمال على الدوام والاتصال وشرح ذلك يطول وفيما ذكرناه تنبيه على المنهاج لمن أحكم الأصول المرابطة الثالثة محاسبة النفس بعد العمل ولنذكر فضيلة المحاسبة ثم حقيقتها
Dan kelompok keempat memandangnya dengan pandangan hasrat (raghbah) dan ketakusahan/kerakusan (hirsh), lalu mereka bersedih atas apa yang luput dari mereka darinya dan bergembira atas apa yang hadir pada mereka darinya. Mereka mencela apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, mencacatnya, dan mencela pelakunya. Maka mereka mencela masakan dan koki penyedianya, sementara mereka tidak mengetahui bahwa yang menciptakan masakan dan koki tersebut, beserta kekuasaan dan ilmu-Nya, adalah Allah Ta'ala. Dan barangsiapa mencela sesuatu dari ciptaan Allah tanpa izin, maka sungguh ia telah mencela Allah. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mencela waktu (ad-dahr), karena sesungguhnya Allah Dialah (pemilik) waktu." Maka inilah murabathah (penjagaan diri) kedua dengan muraqabah terhadap amalan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Dan penjelasan mengenai hal ini sangat panjang, namun apa yang telah kami sebutkan memuat peringatan mengenai metode bagi orang yang telah mengukuhkan dasar-dasar pokok. Murabathah ketiga adalah muhasabah (mengintrospeksi) jiwa setelah beramal, dan marilah kita sebutkan keutamaan muhasabah kemudian hakikatnya.
أما الفضيلة فقد قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ﴾ وَهَذِهِ إِشَارَةٌ إِلَى الْمُحَاسِبَةِ عَلَى مَا مَضَى من الأعمال ولذلك قال عمر رضي الله تعالى عَنْهُ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قبل أن توزنوا وفي الخبر انه ﵇ جاءه رجل فقال يا رسول الله أوصنى فقال أمستوص أنت فقال نعم قال إذا هممت بأمر فتدبر عاقبته فإن كان رشداً فامضه وإن كان غيا فانته عنه وفي الخبر وينبغى للعاقل أن يكون له أربع ساعات ساعة يحاسب فيها نفسه وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا المؤمنون لعلكم تفلحون﴾ وَالتَّوْبَةُ نَظَرٌ فِي الْفِعْلِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهُ بالندم عليه وقد قال ﷺ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ﴾ وعن عمر ﵁ انه كان يضرب قدميه بالدره إذا جنه الليل ويقول لنفسه ماذا عملت اليوم وعن ميمون ابن مهران أنه قال لا يكون العبد من المتقين حتى يحاسب نفسه أشد من محاسبة شريكه والشريكان يتحاسبان بعد العمل وروى عن عائشة رضي الله تعالى عنها أن أبا بكر رضوان الله عليه قال لها عند الموت ما أحد من الناس أحب إلي من عمر ثم قال لها كيف قلت فأعادت عليه ما قال فقال لا أحد أعز على من عمر
Adapun keutamaan, maka Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok" (QS. Al-Hasyr: 18). Dan ini merupakan isyarat menuju muhasabah atas amalan yang telah berlalu. Oleh karena itu Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang." Dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: "Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Apakah engkau benar-benar meminta wasiat?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Apabila engkau bermaksud melakukan suatu perkara, maka pertimbangkanlah akibatnya. Jika itu merupakan petunjuk (kebaikan), maka laksanakanlah; dan jika itu merupakan kesesatan, maka hentikanlah." Dan dalam sebuah riwayat: "Dan seyogianya bagi orang yang berakal memiliki empat saat (waktu), saat di mana ia mengintrospeksi dirinya…" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" (QS. An-Nur: 31). Tobat adalah peninjauan terhadap perbuatan setelah selesainya perbuatan tersebut dengan cara menyesalinya. Dan sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah Ta'ala dan bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS. Al-A'raf: 201). Dan diriwayatkan dari Umar radhiyallahu 'anhu bahwa ia memukul kedua kakinya dengan cambuk apabila malam telah gelap, seraya berkata kepada dirinya: "Apa yang telah engkau amalkan hari ini?" Dan dari Maimun bin Mihran bahwasanya ia berkata: "Seorang hamba tidak termasuk orang yang bertakwa hingga ia menghisab dirinya lebih ketat daripada pemeriksaan seorang mitra bisnis terhadap mitranya, padahal dua orang mitra bisnis itu saling menghisab setelah beramal." Dan diriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya tatkala hendak wafat: "Tidak ada seorang pun manusia yang lebih kucintai daripada Umar." Kemudian ia berkata kepadanya: "Bagaimana tadi yang kukatakan?" Maka 'Aisyah mengulangi apa yang dikatakannya, lalu Abu Bakar berkata: "Tidak ada seorang pun yang lebih mulia bagiku daripada Umar."
فانظر كيف نظر بعد الفراغ من الكلمة فتدبرها وأبدلها بكلمة غيرها وحديث أبى طلحة حين شغله الطائر في صلاته فتدبر ذلك فجعل حائطه صدقة لله تعالى ندما ورجاء للعوض مما فاته
Maka perhatikanlah bagaimana ia meninjau kembali setelah selesainya ucapan tersebut, lalu ia merenungkannya dan menggantinya dengan ucapan yang lain. Demikian pula hadis Abu Thalhah tatkala ia terganggu oleh seekor burung dalam shalatnya, lalu ia merenungkan hal tersebut dan menjadikan kebunnya sebagai sedekah karena Allah Ta'ala sebagai bentuk penyesalan dan harapan akan balasan pengganti dari apa yang telah luput darinya.
وفي حديث ابن سلام أنه حمل حزمة من حطب فقيل له يا أبا يوسف قد كان في بنيك وغلمانك ما يكفونك هذا فقال أردت أن أجرب نفسي هل تنكره وقال الحسن المؤمن قوام على نفسه يحاسبها لله وإنما خف الحساب على قوم حاسبوا أنفسهم في الدنيا وإنما شق الحساب يوم القيامة على قوم أخذوا هذا الأمر من غير محاسبه ثم فسر المحاسبة فقال إن المؤمن يفجؤه الشيء يعجبه فيقول والله إنك لتعجبني وإنك من حاجتي ولكن هيهات حيل بيني وبينك وهذا حساب قبل العمل ثم قال ويفرط منه الشيء فيرجع إلى نفسه فيقول ماذا أردت بهذا والله لا أعذر بهذا والله لا أعود لهذا أبدا إن شاء الله وقال أنس بن مالك سمعت عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه يوما وقد خرج وخرجت معه حتى دخل حائطا فسمعته يقول وبيني وبينه جدار وهو في الحائط عمر
Dan dalam hadis Ibnu Salam bahwasanya ia memikul seikat kayu bakar, lalu dikatakan kepadanya: "Wahai Abu Yusuf, sungguh anak-anakmu dan pelayan-pelayanmu sudah cukup untuk mencukupimu dari beban ini." Maka ia menjawab: "Aku ingin menguji diriku, apakah ia akan mengingkarinya (merasa enggan/sombong)." Dan Al-Hasan berkata: "Seorang mukmin adalah pemimpin atas dirinya yang senantiasa mengintrospeksinya karena Allah. Hanyasanya hisab itu menjadi ringan bagi kaum yang telah menghisab diri mereka sewaktu di dunia, dan hanyasanya hisab itu menjadi berat pada hari kiamat bagi kaum yang mengambil perkara ini tanpa muhasabah." Kemudian beliau menafsirkan muhasabah seraya berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu dikejutkan oleh sesuatu yang mengagumkannya, lalu ia berkata: 'Demi Allah, engkau benar-benar mengagumkanku dan engkau termasuk kebutuhanku, namun mustahil, telah dihalangi antara aku dan engkau.' Dan ini adalah hisab sebelum beramal." Kemudian beliau berkata: "Dan tatkala terlanjur terjadi sesuatu darinya, ia kembali kepada dirinya lalu berkata: 'Apa yang engkau maksudkan dengan ini? Demi Allah, aku tidak memberi uzur untuk ini, dan demi Allah aku tidak akan mengulanginya lagi selama-lamanya, insya Allah.'" Dan Anas bin Malik berkata: "Aku mendengar Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pada suatu hari ketika ia keluar dan aku keluar bersamanya hingga ia memasuki sebuah kebun, lalu aku mendengarnya berkata—sementara antara aku dan dia terhalang tembok dan ia berada di dalam kebun—: 'Umar…
ابن الخطاب أمير المؤمنين بخ بخ والله لتتقين الله أو ليعذبنك وقال الحسن في قوله تعالى ﴿ولا أقسم بالنفس اللوامة﴾ قال لا يلقى المؤمن إلا يعاتب نفسه ماذا أردت بكلمتي ماذا أردت بأكلتي ماذا أردت بشربتي والفاجر يمضى قدما لا يعاتب نفسه وقال مالك بن دينار رحمه الله تعالى رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا قَالَ لِنَفْسِهِ أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا ثُمَّ ذَمَّهَا ثُمَّ خَطَمَهَا ثُمَّ أَلْزَمَهَا كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَى فَكَانَ له قائدا وهذا من معاتبة النفس كما سيأتي في موضعه وقال ميمون بن مهران التقى أشد محاسبة لنفسه من سلطان غاشم ومن شريك شحيح وقال إبراهيم التيمي مثلت نفسي في الجنة آكل من ثمارها وأشرب من أنهارها وأعانق أبكارها ثم مثلت نفسي في النار آكل من زقومها وأشرب من صديدها وأعالج سلاسلها وأغلالها فقلت لنفسي يا نفس أي شيء تريدين فقالت أريد أن أرد إلى الدنيا فأعمل صالحاقلت فأنت في الأمنية فاعملي وقال مالك بن دينار سمعت الحجاج يخطب وهو يقول رحم الله امرأ حاسب نفسه قبل أن يصير الحساب إلى غيره رحم الله امرأ أخذ بعنان عمله فنظر ماذا يريد به رحم الله امرأ نظر في مكياله رحم الله امرأ نظر في ميزانه فما زال يقول حتى أبكانى وحكى صاحب للأحنف ابن قيس قال كنت أصحبه فكان عامة صلاته بالليل الدعاء وكان يجئ إلى المصباح فيضع أصبعه فيه حتى يحس بالنار ثم يقول لنفسه ياحنيف ما حملك على ما صنعت يوم كذا ما حملك على ما صنعت يوم كذا
…bin al-Khattab Amirul Mukminin, wah wah! Demi Allah, engkau harus benar-benar bertakwa kepada Allah atau Dia sungguh-sungguh akan mengazabmu.' Dan Al-Hasan berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan aku tidak bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)" (QS. Al-Qiyamah: 2), beliau berkata: 'Tidaklah engkau menjumpai seorang mukmin melainkan ia mencela dirinya sendiri: Apa yang engkau maksudkan dengan ucapanku ini? Apa yang engkau maksudkan dengan makananku ini? Apa yang engkau maksudkan dengan minumanku ini? Sedangkan orang yang fujur (durhaka) terus melangkah maju tanpa pernah mencela dirinya.' Dan Malik bin Dinar rahmatullah 'alaih berkata: 'Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya: Bukankah engkau pelaku ini? Bukankah engkau pelaku ini? Kemudian ia mencelanya, lalu mengekangnya, lalu mewajibkannya berpegang pada Kitabullah Ta'ala sehingga Al-Qur'an menjadi penuntun baginya.' Dan ini termasuk bagian dari celaan terhadap jiwa (mu'atabatun nafs) sebagaimana akan datang pada tempatnya. Dan Maimun bin Mihran berkata: 'Orang yang bertakwa itu lebih ketat menghisab dirinya daripada penguasa yang lalim dan dari mitra bisnis yang kikir.' Dan Ibrahim at-Taimi berkata: 'Aku membayangkan diriku berada di surga, makan dari buah-buahannya, minum dari sungai-sungainya, dan memeluk bidadari-bidadarinya. Kemudian aku membayangkan diriku berada di neraka, makan dari buah zaqqumnya, minum dari nanahnya, serta menanggung rantai-rantai dan belenggu-belenggunya. Maka aku berkata kepada diriku: Wahai jiwa, apakah yang engkau inginkan? Maka jiwa itu menjawab: Aku ingin dikembalikan ke dunia lalu aku beramal saleh. Aku katakan: Maka engkau sekarang berada dalam cita-cita itu, maka beramallah!' Dan Malik bin Dinar berkata: Aku mendengar Al-Hajjaj berkhotbah seraya berkata: 'Semoga Allah merahmati seseorang yang menghisab dirinya sebelum hisab berpindah kepada yang lain. Semoga Allah merahmati seseorang yang memegang kendali amalnya lalu melihat apa yang ia inginkan dengannya. Semoga Allah merahmati seseorang yang melihat takarannya. Semoga Allah merahmati seseorang yang melihat timbangannya.' Ia terus-menerus mengatakan itu hingga membuatku menangis. Dan diceritakan oleh sahabat Ahnaf bin Qais, ia berkata: Aku pernah menyertainya, dan sebagian besar shalatnya di malam hari adalah doa. Ia biasa mendatangi lampu penerang (pelita) lalu meletakkan jarinya di sana hingga ia merasakan panasnya api, kemudian ia berkata kepada dirinya: 'Wahai Hanif, apa yang mendorongmu melakukan apa yang kau perbuat pada hari anu? Apa yang mendorongmu melakukan apa yang kau perbuat pada hari anu?'
بيان حقيقة المحاسبة بعد العمل
Penjelasan Hakikat Muhasabah (Introspeksi Diri) Setelah Beramal
أعلم أن العبد كما يكون له وقت في أول النهار يشارط فيه نفسه على سبيل التوصية بالحق فينبغى أن يكون له فِي آخِرِ النَّهَارِ سَاعَةٌ يُطَالِبُ فِيهَا النَّفْسَ وَيُحَاسِبُهَا عَلَى جَمِيعِ حَرَكَاتِهَا وَسَكَنَاتِهَا كَمَا يَفْعَلُ التُّجَّارُ فِي الدُّنْيَا مَعَ الشُّرَكَاءِ فِي آخِرِ كُلِّ سَنَةٍ أَوْ شَهْرٍ أَوْ يَوْمٍ حِرْصًا منهم على الدنيا وخوفا من أن يفوتهم منها ما لو فاتهم لكانت الخيرة لهم في فواته ولو حصل ذلك لهم فلا يبقى إلا أياما قلائل فكيف لَا يُحَاسِبُ الْعَاقِلُ نَفْسَهُ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ خَطَرُ الشَّقَاوَةِ وَالسَّعَادَةِ أَبَدَ الْآبَادِ مَا هَذِهِ المساهلة إلا عن الغفلة والخذلان وقلة التوفيق نعوذ بالله من ذلك وَمَعْنَى الْمُحَاسَبَةِ مَعَ الشَّرِيكِ أَنْ يَنْظُرَ فِي رَأْسِ الْمَالِ وَفِي الرِّبْحِ وَالْخُسْرَانِ لِيَتَبَيَّنَ لَهُ الزِّيَادَةُ مِنَ النُّقْصَانِ فَإِنْ كَانَ مِنْ فَضْلٍ حَاصِلٍ اسْتَوْفَاهُ وَشَكَرَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ خُسْرَانٍ طَالَبَهُ بِضَمَانِهِ وَكُلَّفَهُ تَدَارُكَهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ فَكَذَلِكَ رَأْسُ مَالِ الْعَبْدِ فِي دِينِهِ الْفَرَائِضُ وَرِبْحُهُ النَّوَافِلُ وَالْفَضَائِلُ وَخُسْرَانُهُ الْمَعَاصِي وَمَوْسِمُ هَذِهِ التِّجَارَةِ جملة النهار ومعامله نفسه الأمارة بالسوء فيحاسبها عَلَى الْفَرَائِضِ أَوَّلًا فَإِنْ أَدَّاهَا عَلَى وَجْهِهَا شَكَرَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَيْهِ وَرَغَّبَهَا فِي مِثْلِهَا وَإِنْ فَوَّتَهَا مِنْ أَصْلِهَا طَالَبَهَا بِالْقَضَاءِ وَإِنْ أَدَّاهَا نَاقِصَةً كَلَّفَهَا الْجُبْرَانَ بِالنَّوَافِلِ وَإِنِ ارْتَكَبَ معصية اشتغل بعقوبتها وتعذيبها وَمُعَاتَبَتِهَا لِيَسْتَوْفِيَ مِنْهَا مَا يَتَدَارَكُ بِهِ مَا فرط كما يصنع التاجر بشريكه وكما أنه يفتش في حساب الدنيا عن الحبة والقيراط فيحفظ مداخل الزيادة والنقصان حتى لا يغبن في شيء منها فينبغى أن يتقى غبينة النفس ومكرها فإنها خداعة ملبسة مكارة فليطالبها أولا بتصحيح الجواب عن جميع ماتكلم به طول نهاره وَلْيَتَكَفَّلْ بِنَفْسِهِ مِنَ الْحِسَابِ مَا سَيَتَوَلَّاهُ غَيْرُهُ في صعيد القيامة وهكذا عن نظره بل عن خواطره وأفكاره وقيامه وقعوده وأكله وشربه ونومه حتى عن سكوته أنه لم سكت وعن سكونه لم سكن فإذا عرف مجموع الواجب على النفس وصح عنده قدر أدى الواجب فيه كان ذلك القدر محسوبا له فيظهر له الباقي على نفسه فليثبته عليها وليكتبه على صحيفة قلبه كما يكتب الباقي الذي على شريكه على قلبه وفي جريدة حسابه
Ketahuilah bahwasanya seorang hamba, sebagaimana ia memiliki waktu di awal siang untuk bermusyarakah/musharathah (membuat kesepakatan) dengan dirinya dalam bentuk berwasiat dengan kebenaran, maka seyogianya ia memiliki satu saat di akhir siang untuk menuntut jiwa dan menghisabnya atas seluruh gerak dan diamnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para pedagang di dunia bersama mitra bisnis mereka di akhir setiap tahun, bulan, atau hari, karena ketakusahan mereka terhadap dunia dan rasa takut luputnya sesuatu dari dunia itu, padahal jika hal itu luput dari mereka niscaya kebaikan bagi mereka justru ada pada luputnya hal tersebut, dan kalaupun itu diperoleh maka ia tidak akan tersisa melainkan hanya beberapa hari saja. Maka betapa tidak seyogianya orang yang berakal tidak menghisab dirinya dalam hal yang berkaitan dengan bahaya kesengsaraan dan kebahagiaan yang abadi selama-lamanya? Tidaklah pembiaran ini melainkan bersumber dari kelalaian, kehinaan, dan sedikitnya taufik, kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Dan makna muhasabah bersama mitra bisnis adalah dengan melihat pada modal pokok, keuntungan, dan kerugian, agar menjadi jelas baginya antara kelebihan dan kekurangan. Jika terdapat kelebihan yang diperoleh, ia mengambilnya dan bersyukur atasnya. Namun jika terdapat kerugian, ia menuntut jaminannya dan membebaninya untuk menanggulanginya di masa mendatang. Demikian pula modal pokok seorang hamba dalam agamanya adalah kewajiban-kewajiban (al-fara'idh), keuntungannya adalah amalan-amalan sunnah dan keutamaan-keutamaan (an-nawafil wal-fadhail), sedangkan kerugiannya adalah kemaksiatan-kemaksiatan. Dan musim perdagangan ini adalah keseluruhan siang hari, dan mitra transaksinya adalah jiwanya yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan (al-ammaratu bis-su'). Maka ia menghisab jiwanya atas kewajiban-kewajiban terlebih dahulu: jika jiwanya telah menunaikannya sesuai ketentuannya, ia bersyukur kepada Allah Ta'ala atasnya dan memotivasinya untuk melakukan hal yang serupa. Namun jika jiwanya melewatkannya sama sekali, ia menuntutnya untuk mengada (qadha'). Jika jiwanya menunaikannya secara kurang sempurna, ia membebaninya untuk menutupi kekurangan tersebut dengan amalan-amalan sunnah. Dan jika jiwanya melakukan kemaksiatan, ia disibukkan dengan memberikan hukuman, siksaan, dan celaan kepadanya agar ia menuntut darinya apa yang dapat menanggulangi apa yang telah ia lalaikan, sebagaimana yang dilakukan pedagang terhadap mitranya. Sebagaimana ia memeriksa dalam hisab dunia hingga masalah sekecil biji dan kirat, serta menjaga pintu-pintu masuk kelebihan dan kekurangan agar tidak tertipu sedikit pun di dalamnya, maka seyogianya ia bertakwa dari penipuan jiwa dan tipu muslihatnya, karena jiwa itu sangat penipu, pemalsu, dan pembuat makar. Maka hendaklah ia menuntut jiwanya terlebih dahulu untuk membenarkan jawaban atas semua yang ia ucapkan sepanjang siangnya, dan hendaknya ia menanggung sendiri hisab terhadap dirinya atas apa yang kelak akan diurus oleh pihak lain di padang mahsyar kiamat. Demikian pula terhadap pandangannya, bahkan terhadap terlintasnya pikiran dan gagasannya, berdiri dan duduknya, makan dan minumnya, tidurnya, hingga diamnya: mengapa ia diam, dan tenangnya: mengapa ia tenang. Maka apabila ia telah mengetahui keseluruhan kewajiban atas jiwanya dan telah sah baginya kadar kewajiban yang telah ditunaikan di dalamnya, maka kadar tersebut dihitung baginya, lalu tampaklah baginya kewajiban yang tersisa atas jiwanya. Maka hendaklah ia menetapkannya atas jiwanya dan menuliskannya di lembaran hatinya sebagaimana ia menuliskan sisa piutang yang ada pada mitranya di dalam hatinya dan di buku catatan hisabnya.
ثم النفس غريم يمكن أن يستوفى منه الديون أما بعضها فبالغرامة والضمان وبعضها برد عينه وبعضها
Kemudian jiwa itu adalah pihak berutang (gharim) yang memungkinkan untuk dilunasi utang-utang darinya; adapun sebagian dengannya adalah dengan denda dan ganti rugi, sebagian lagi dengan mengembalikan wujud fisiknya, dan sebagian lagi…
بالعقوبة لها على ذلك ولا يمكن شيء من ذلك إلى بعد تحقيق الحساب وتمييز الباقي من الحق الواجب عليه فإذا حصل ذلك اشتغل بعده بالمطالبة والاستيفاء
…dengan hukuman atasnya atas perbuatan tersebut. Dan tidaklah memungkinkan sesuatu pun dari hal itu melainkan setelah merealisasikan hisab (penghitungan) dan membedakan sisa hak yang wajib atasnya. Apabila hal itu telah diperoleh, maka setelah itu ia disibukkan dengan penuntutan dan pelunasan.
ثم ينبغي أن يحاسب النفس على جميع العمر يوما يوما وساعة ساعة في جميع الأعضاء الظاهرة والباطنة كما نقل عن توبه ابن الصمة وكان بالرقة وكان محاسبا لنفسه فحسب يوما فإذا هو ابن ستين سنة فحسب أيامها فإذا هي أحد وعشرون ألف يوم وخمسمائة يوم فصرخ وقال يا ويلتي ألقى الملك بأحد وعشرين ألف ذنب فكيف وفي كل يوم عشرة آلاف ذنب ثم خر مغشيا عليه فإذا هو ميت فسمعوا قائلا يقول يا لك ركضة إلى الفردوس الأعلى فهكذا ينبغي أن يحاسب نفسه على الأنفاس وعلى معصيته بالقلب والجوارح في كل ساعة ولو رمى العبد بكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره ولكنه يتساهل في حفظ المعاصى والملكان يحفظان عليه ذلك ﴿أحصاه الله ونسوه﴾ المرابطة الرابعة في معاقبة النفس على تقصيرها
Kemudian seyogianya ia menghisab jiwanya atas seluruh umurnya hari demi hari dan saat demi saat pada seluruh anggota tubuh lahiriah dan batiniah, sebagaimana diriwayatkan dari Taubah bin ash-Shimmah—dan ia berada di Raqqah serta seorang yang sangat menghisab dirinya. Pada suatu hari ia menghitung umurnya, ternyata ia telah berusia enam puluh tahun. Lalu ia menghitung hari-harinya, ternyata berjumlah dua puluh satu ribu lima ratus hari. Maka ia menjerit seraya berkata: "Duhai celakanya aku! Apakah aku akan menemui Sang Raja dengan membawa dua puluh satu ribu dosa? Maka bagaimana jika dalam setiap hari terdapat sepuluh ribu dosa?" Kemudian ia jatuh pingsan hingga wafat. Lalu orang-orang mendengar suara yang berkata: "Duhai, alangkah indahnya pacuan menuju Surga Firdaus yang tertinggi!" Maka seperti inilah seyogianya seseorang menghisab dirinya atas setiap helaan napas dan atas kemaksiatannya dengan hati dan anggota tubuh pada setiap saat. Seandainya seorang hamba melempar batu di rumahnya untuk setiap kemaksiatan, niscaya rumahnya akan penuh dalam jangka waktu yang singkat dari umurnya. Namun ia meremehkan dalam menjaga/mencatat kemaksiatan, padahal kedua malaikat mencatat hal itu atasnya: "Allah telah menghitungnya sementara mereka telah melupakannya" (QS. Al-Mujadilah: 6). Murabathah keempat: Dalam menghukum (mu'aqabah) jiwa atas kelalaiannya.
مهما حاسب نفسه فلم تسلم عن مقارفه معصية وارتكاب تقصير في حق الله تعالى فلا ينبغى أن يهملها فإنه أن أهملها سهل عليه مقارفة المعاصي وأنست بها نفسه وعسر عليه فطامها وكان ذلك بسبب هلاكها بل ينبغي أن يعاقبها فإذا أكل لقمة شبهة بشهوة نفس ينبغى أن يعاقب البطن بالجوع وإذا نظر إلى غير محرم ينبغي أن يعاقب العين بمنع النظر وكذلك يعاقب كل طرف من أطراف بدنه بمنعه عن شهواته
Setiap kali ia menghisab jiwanya lalu jiwanya tidak selamat dari melakukan kemaksiatan dan melakukan kelalaian terhadap hak Allah Ta'ala, maka tidak seyogianya ia membiarkannya. Sebab jika ia membiarkannya, akan menjadi mudah baginya melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, jiwanya menjadi terbiasa dengannya, dan menjadi sulit baginya untuk menyapihnya, sehingga hal itu menjadi sebab kebinasaannya. Bahkan seyogianya ia menghukumnya. Apabila ia memakan sesuap syubhat karena syahwat jiwanya, seyogianya ia menghukum perutnya dengan kelaparan. Dan apabila ia memandang kepada yang bukan mahramnya, seyogianya ia menghukum matanya dengan mencegah pandangan. Demikian pula ia menghukum setiap anggota tubuhnya dengan mencegahnya dari syahwat-syahwatnya.
هكذا كانت عادة سالكي طريق الآخرة فقد روى عن منصور بن إبراهيم أن رجلا من العباد كلم امرأة فلم يزل حتى وضع يده على فخذها ثم ندم فوضع يده على النار حتى يبست وروى أنه كان في بني إسرائيل رجل يتعبد في صومعته فمكث كذلك زمانا طويلا فأشرف ذات يوم فإذا هو بامرأة فافتتن بها وهم بها فأخرج رجله لينزل إليها فأدركه الله بسابقه فقال ما هذا الذي أريد أن أصنع فرجعت إليه نفسه وعصمه الله تعالى فندم فلما أراد أن يعيد رجله إلى الصومعة قال هيهات هيهات رجل خرجت تريد أن تعصى الله تعود في صومعتي لا يكون والله له ذلك أبدا فتركها معلقة في الصومعة تصيبها الأمطار والرياح والثلج والشمس حتى تقطعت فسقطت فشكر الله له ذلك وأنزل في بعض كتبه ذكره ويحكى عن الجنيد قال سمعت ابن الكريبي يقول أصابتني ليلة جنابة فاحتجت أن أغتسل وكانت ليلة باردة فوجدت في نفسي تأخرا وتقصيرا فحدثتني نفسي بالتأخير حتى أصبح وأسخن الماء أو أدخل الحمام ولا أعنى على نفسي فقلت واعجبا أنا أعامل الله في طول عمري فيجب له على حق فلا أجد في المسارعة وأجد الوقوف والتأخر آليت أن لا أغتسل إلا في مرقعتي هذه وآليت أن لا أنزعها ولا أعصرها ولا أجففها في الشمس ويحكى أن غزوان وأبا موسى كانا في بعض مغازيهما فتكشفت جارية فنظر إليها غزوان فرفع يده فلطم عينه حتى بقرت وقال إنك للحاظة إلى ما يضرك
Seperti inilah kebiasaan para penempuh jalan akhirat (saliki thariqil akhirah). Sungguh telah diriwayatkan dari Manshur bin Ibrahim bahwasanya seorang laki-laki dari kalangan ahli ibadah berbicara dengan seorang wanita, dan ia tidak berhenti hingga meletakkan tangannya di atas paha wanita itu. Kemudian ia menyesal, lalu ia meletakkan tangannya di atas api hingga mengering. Dan diriwayatkan bahwa di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki yang beribadah di biara (shauma'ah)-nya, ia berdiam demikian dalam waktu yang lama. Pada suatu hari ia melongok keluar, tiba-tiba ia melihat seorang wanita lalu terfitnah dengannya dan berhasrat kepadanya. Maka ia mengeluarkan kakinya untuk turun kepadanya, lalu Allah mendapatinya dengan takdir kebaikan-Nya terdahulu, maka ia berkata: "Apakah ini yang ingin aku perbuat?" Maka jiwanya kembali tersadar dan Allah Ta'ala memeliharanya, lalu ia menyesal. Ketika ia hendak mengembalikan kakinya ke biara, ia berkata: "Mustahil, mustahil! Kaki yang telah keluar ingin bermaksiat kepada Allah, kembali ke biaraku? Demi Allah, tidak akan pernah demikian baginya selama-lamanya!" Maka ia membiarkannya tergantung di luar biara diterpa hujan, angin, salju, dan terik matahari hingga terputus dan jatuh. Maka Allah bersyukur kepadanya atas hal itu dan menurunkan sebutannya dalam sebagian Kitab-Kitab-Nya. Dan diceritakan dari Al-Junaid, ia berkata: Aku mendengar Ibnul Kuraibi berkata: Pada suatu malam aku tertimpa janabah sehingga aku perlu mandi, dan saat itu malam sangat dingin. Maka aku mendapati dalam diriku ada penundaan dan kelalaian, lalu jiwanya membisikkan penundaan hingga pagi hari dan memanaskan air atau masuk ke pemandian umum (hammam), dan aku tidak memaksakan diriku. Maka aku berkata: "Sungguh menakjubkan! Aku berhubungan dengan Allah sepanjang umurku, dan Dia memiliki hak atas diriku, namun aku tidak mendapati kesegeraan melainkan mendapati kesetopan dan penundaan. Aku bersumpah tidak akan mandi kecuali dengan jubah perca (muraqqa'ah)ku ini, dan aku bersumpah tidak akan mencopotnya, tidak memerasnya, dan tidak mengeringkannya di bawah terik matahari." Dan diceritakan bahwasanya Ghazwan dan Abu Musa berada dalam sebagian peperangan mereka, lalu tersingkaplah seorang budak wanita lalu Ghazwan memandangnya. Maka ia mengangkat tangannya dan menampar matanya hingga terluka/pecah, seraya berkata: "Sesungguhnya engkau benar-benar suka memandang kepada apa yang memudaratkanmu."
ونظر بعضهم نظرة واحدة امرأة فجعل على نفسه أن لا يشرب الماء البارد طول حياته فكان يشرب الماء الحار لينغص على نفسه العيش
Dan sebagian dari mereka memandang satu pandangan kepada seorang wanita, lalu ia mewajibkan atas dirinya untuk tidak meminum air dingin sepanjang hidupnya. Maka ia selalu meminum air panas untuk menyulitkan/mengeruhkan jalan hidup bagi jiwanya.
ويحكى أن حسان بن أبي سنان مر بغرفة فقال متى بنيت هذه ثم أقبل على نفسه فقال تسألين عما لا يعنيك لأعاقبنك بصوم سنة فصامها
Dan diceritakan bahwa Hassan bin Abi Sinan melewati sebuah kamar atas (ghurfah), lalu ia berkata: "Kapan ini dibangun?" Kemudian ia menghadap jiwanya seraya berkata: "Engkau bertanya tentang apa yang tidak penting bagimu? Sungguh aku akan menghukummu dengan berpuasa selama satu tahun." Maka ia pun berpuasa selama satu tahun.
وقال مالك بن ضيغم جاء رباح القيسي يسأل عن أبي بعد العصر فقلنا إنه نائم فقال أنوم هذه الساعة هذا وقت نوم ثم ولى منصرفا فأتبعناه رسولا وقلنا له ألا نوقظه لك فجاء الرسول وقال هو أشغل من أن يفهم عني شيئا أدركته وهو يدخل المقابر وهو يعاتب نفسه ويقول أقلت وقت نوم هذه الساعة أفكان هذا عليك ينام الرجل متى شاء وما يدريك أن هذا ليس وقت
Malik bin Dhaigham menceritakan: Rabaḥ al-Qaisi datang menanyakan tentang ayahku setelah salat Asar. Kami katakan kepadanya, "Sesungguhnya beliau sedang tidur." Rabaḥ pun berkata, "Apakah tidur pada jam seperti ini? Apakah ini waktu untuk tidur?" Kemudian ia berpaling dan pergi. Lalu kami mengutus seorang utusan di belakangnya dan kami katakan kepadanya, "Tidakkah sebaiknya kami membangunkan ayah untukmu?" Utusan itu kembali dan berkata, "Ia terlalu sibuk hingga tidak memahami apa pun dariku. Aku mendapatinya sedang memasuki pemakaman sembari mencela dirinya sendiri seraya berkata: 'Apakah engkau tadi katakan: Ini waktu tidur? Apakah hal itu urusanmu? Seseorang boleh tidur kapan saja ia mau. Dan apa yang memberitahumu bahwa ini bukan waktu…
نوم تتكلمين بما لا تعلمين أما إن لله على عهدا لا أنقضه أبدا لا أوسدك الأرض لنوم حولا إلا لمرض حائل أو لعقل زائل سوأة لك أما تستحين كم توبخين وعن غيك لا تنتهين قال وجعل يبكى وهو لا يشعر بمكاني فلما رأيت ذلك انصرفت وتركته
…tidur? Engkau berbicara tentang apa yang tidak engkau ketahui. Ketahuilah, sungguh demi Allah, aku memiliki janji kepada Allah yang tidak akan pernah aku langgar: aku tidak akan pernah merendahkanmu ke tanah untuk tidur selama setahun penuh, kecuali karena sakit yang merintangi atau ingatan yang hilang. Sungguh buruk engkau! Tidakkah engkau malu? Berapa kali engkau dicela, namun engkau tidak berhenti dari kesesatanmu!' Perawi berkata: "Ia pun menangis tanpa menyadari keberadaanku. Ketika aku melihat hal itu, aku berbalik dan meninggalkannya."
ويحكى عن تميم الداري أنه نام ليلة لم يقم فيها يتهجد فقام سنة لم ينم فيها عقوبة للذي صنع
Diceritakan dari Tamim ad-Dari bahwasanya beliau pernah tertidur pada suatu malam hingga tidak bangun untuk bertahajud, maka beliau pun bangun (beribadah) selama satu tahun tanpa tidur (pada malam hari) sebagai hukuman atas apa yang telah dilakukannya.
وعن طلحة رضي الله تعالى عنه قال انطلق رجل ذات يوم فنزع ثيابه وتمرغ في الرمضاء فكان يقول لنفسه ذوقى ونار جهنم أشد حرا أجيفة بالليل بطالة بالنهار فبينما هو كذلك إذ أبصر النبي ﷺ في ظل شجرة فأتاه فقال غلبتني نفسي فقال له النبي ﷺ ألم يكن لك بد من الذي صنعت أما لقد فتحت لك أبواب السماء ولقد باهى الله بك الملائكة ثم قال لأصحابه تزودوا من أخيكم فجعل الرجل يقول له يا فلان أدع لي يا فلان ادع لى فقال النبي ﷺ عمهم فقال اللهم أجعل التقوى زادهم واجمع على الهدى أمرهم
Diriwayatkan dari Talhah r.a., ia berkata: Suatu hari seorang laki-laki pergi, lalu menanggalkan pakaiannya dan berguling-guling di atas padang pasir yang sangat panas. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Rasakanlah! Dan api neraka Jahanam itu jauh lebih panas. Apakah engkau menjadi bangkai di malam hari dan pengangguran di siang hari?" Ketika ia sedang demikian, tiba-tiba ia melihat Nabi ﷺ berada di bawah naungan sebuah pohon. Ia pun mendatangi beliau dan berkata, "Nafsuku telah mengalahkanku." Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Tidakkah ada cara lain bagimu selain dari apa yang telah engkau lakukan? Ketahuilah, sungguh pintu-pintu langit telah dibuka untukmu, dan Allah telah membanggakanmu di hadapan para malaikat." Kemudian beliau bersabda kepada para sahabatnya, "Mintalah bekal (doa) dari saudaramu ini!" Maka orang-orang mulai berkata kepadanya, "Wahai Fulan, doakanlah aku! Wahai Fulan, doakanlah aku!" Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Ratakanlah untuk mereka semua (berdoalah secara umum)!" Maka lelaki itu berdoa, "Ya Allah, jadikanlah takwa sebagai bekal mereka, dan himpunlah urusan mereka di atas petunjuk."
فجعل النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ اللَّهُمَّ سدده فقال الرجل اللهم أجعل الجنة مآبهم // حديث طلحة: انطلق رجل ذات يوم فنزع ثيابه وتمرغ في الرمضاء وكان يقول لنفسه: ونار جهنم أشد حراالحديث بطوله أخرجه ابن أبي الدنيا في محاسبة النفس من رواية ليث بن أبي سليم عنه وهذا منقطع أو مرسل ولا أدري من طلحة هذا وقال حذيفة بن قتاده قيل لرجل كيف تصنع بنفسك في شهواتها فقال ما على وجه الأرض نفس أبغض إلى منها فكيف أعطيها شهواتها ودخل ابن السماك على داود الطائي حين مات وهو في بيته على التراب فقال: يا داود سجنت نفسك قبل أن تسجن وعذبت نفسك قبل أن تعذب فاليوم ترى ثواب من كنت تعمل له
Lalu Nabi ﷺ mengucapkan, "Ya Allah, berilah ia petunjuk dan keteguhan." Laki-laki itu berdoa lagi, "Ya Allah, jadikanlah surga tempat kembali mereka." // Hadis Talhah: "Seorang laki-laki pergi pada suatu hari lalu menanggalkan pakaiannya dan berguling-guling di padang pasir yang panas…" Hadis selengkapnya diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam Muḥāsabat an-Nafs dari riwayat Laits bin Abi Sulaim darinya; dan ini adalah hadis munqathi' atau mursal, dan aku tidak tahu siapa Talhah ini. // Hudzaifah bin Qatadah berkata: Dikatakan kepada seorang laki-laki, "Bagaimana engkau memperlakukan nafsumu dalam hal syahwatnya?" Ia menjawab, "Tidak ada di muka bumi ini nafsu yang lebih aku benci daripadanya, maka bagaimana mungkin aku menuruti syahwatnya?" Ibn as-Sammak pernah menemui Dawud at-Tha'i ketika ia wafat, sementara ia berada di rumahnya di atas tanah, lalu Ibn as-Sammak berkata, "Wahai Dawud, engkau telah memenjarakan dirimu sebelum engkau dipenjara, dan engkau telah menyiksa dirimu sebelum engkau disiksa, maka hari ini engkau melihat pahala dari Zat yang engkau beramal untuk-Nya."
وعن وهب بن منبه: إن رجلا تعبد زمانا ثم بدت له إلى الله تعالى حاجة فقام سبعين سبتا يأكل في كل سبت إحدى عشرة تمرة ثم سأل حاجته فلم يعطها فرجع إلى نفسه وقال منك أتيت لو كان فيك خير لأعطيت حاجتك فنزل إليه ملك وقال يا ابن آدم ساعتك هذه خير من عبادتك التي مضت وقد قضى الله حاجتك
Dari Wahb bin Munabbih: Bahwasanya seorang laki-laki beribadah dalam waktu yang lama, kemudian ia memiliki suatu hajat kepada Allah Ta'ala. Ia pun berdiri beribadah selama tujuh puluh hari Sabtu, di mana pada setiap Sabtu ia hanya memakan sebelas butir kurma. Kemudian ia memohon hajatnya, namun belum dikabulkan. Maka ia kembali mencela dirinya sendiri dan berkata, "Dari dirimulah (penyebab kegagalan) ini datang! Sekiranya ada kebaikan pada dirimu, niscaya hajatmu telah dipenuhi." Lalu seorang malaikat turun kepadanya dan berkata, "Wahai anak Adam, saatmu (kesadaran dan perendahan dirimu) ini lebih baik daripada ibadahmu yang telah lalu, dan sungguh Allah telah mengabulkan hajatmu."
وقال عبد الله بن قيس كنا في غزاة لنا فحضر العدو فصيح في الناس فقاموا إلى المصاف في يوم شديد الريح وإذا رجل أمامي وهو يخاطب نفسه ويقول أي نفسي ألم أشهد مشهد كذا فقلت لي أهلك وعيالك فأطعتك ورجعت ألم أشهد مشهد كذا وكذا فقلت لي أهلك وعيالك فأطعتك ورجعت والله لأعرضنك اليوم على الله أخذك أو تركك فقلت لأرمقنه اليوم فرمقته فحمل الناس على عدوهم فكان في أوائلهم ثم أن العدو حمل على الناس فانكشفوا فكان في موضعه حتى انكشفوا مرات وهو ثابت يقاتل فوالله ما زال ذاك دأبه حتى رأيته صريعا فعددت به وبدابته ستين أو أكثر من ستين طعنة
Abdullah bin Qais menceritakan: Kami berada dalam suatu peperangan, lalu musuh pun datang dan orang-orang dipanggil bertempur. Mereka berdiri menuju barisan pertempuran pada hari yang sangat berangin kencang. Tiba-tiba ada seorang laki-laki di depanku sedang berbicara kepada dirinya sendiri, ia berkata: "Wahai nafsuku, bukankah aku pernah menghadiri pertempuran ini dan itu, lalu engkau katakan padaku, 'Istri dan anak-anakmu!', maka aku menurutimu dan kembali? Bukankah aku pernah menghadiri pertempuran anu dan anu, lalu engkau katakan padaku, 'Istri dan anak-anakmu!', maka aku menurutimu dan kembali? Demi Allah, sungguh hari ini aku akan menghadapkanmu kepada Allah, baik Dia mengampunimu/menerimamu atau meninggalkanmu!" Aku berkata (dalam hati), "Sungguh aku akan mengawasinya hari ini." Maka aku pun mengawasinya. Ketika kaum muslimin menyerbu musuh, ia berada di barisan paling depan. Kemudian musuh menyerang balik hingga pasukan terdesak mundur, namun ia tetap bertahan di tempatnya. Walaupun pasukan kocar-kacir beberapa kali, ia tetap teguh bertempur. Demi Allah, demikianlah terus keadaannya hingga aku melihatnya gugur bersimbah darah. Aku menghitung pada tubuhnya dan hewannya ada enam puluh atau lebih dari enam puluh tusukan.
وقد ذكرنا حديث أبى طلحة لما اشتغل قلبه في الصلاة بطائر في حائطه فتصدق بالحائط كفارة لذلك
Dan kami telah menyebutkan kisah Abu Talhah ketika hatinya tersibukkan dalam salat oleh seekor burung di kebunnya, lalu ia bersedekah dengan kebun tersebut sebagai kafarat atas hal itu.
وإن عمر كان يضرب قدميه بالدره كل ليلة ويقول ماذا عملت اليوم وعن مجمع أنه رفع رأسه إلى السطح فوقع بصره على امرأة فجعل على نفسه أن لا يرفع رأسه إلى السماء ما دام في الدنيا
Dan bahwasanya Umar biasa memukul kedua kakinya dengan cambuk setiap malam seraya berkata, "Apa yang telah engkau kerjakan hari ini?" Diriwayatkan dari Mujamma' bahwasanya ia pernah menengadahkan kepalanya ke atap rumah lalu pandangannya jatuh pada seorang wanita, maka ia mewajibkan atas dirinya untuk tidak lagi menengadahkan kepalanya ke langit selama ia hidup di dunia.
وكان الأحنف بن قيس لا يفارقه المصباح بالليل فكان يضع أصبعه عليه ويقول لنفسه ما حملك على أن صنعت يوم كذا كذا وأنكر وهيب بن الورد شيئا على نفسه فنتف شعرات على صدره حتى عظم ألمه ثم جعل يقول لنفسه ويحك إنما أريد بك الخير
Al-Ahnaf bin Qais selalu menyalakan lampu di malam hari; ia biasa meletakkan jarinya di atas api lampu seraya berkata kepada dirinya, "Apa yang mendorongmu melakukan hal ini pada hari anu dan anu?" Waheeb bin Al-Ward merutuki sesuatu pada dirinya, lalu ia mencabut beberapa helai rambut di dadanya hingga rasa sakitnya amat sangat, kemudian ia mulai berkata kepada dirinya, "Celaka engkau! Sesungguhnya aku hanya menginginkan kebaikan bagimu."
ورأى محمد بن بشر داود الطائى وهو يأكل عند إفطاره خبزا بغير ملح فقال له لو اكلته بملح فقال أن نفسى لتدعوني الى الملح منذ سنة ولا ذاق دواد ملحا ما دام في الدنيا
Muhammad bin Bisyr melihat Dawud at-Tha'i sedang memakan roti tanpa garam saat berbuka puasa, lalu ia berkata kepadanya, "Sekiranya engkau memakannya dengan garam…" Dawud menjawab, "Sesungguhnya nafsuku telah mengajakku untuk makan garam sejak satu tahun yang lalu." Dan Dawud tidak pernah mengecap garam lagi selama hidup di dunia.
فكذا كانت عقوبة أولى الحزم لأنفسهم والعجب انك تعاقب عبدك وأمتك واهلك وولدك على ما يصدر منهم من سوء خلق وتقصير في أمر وتخاف انك لو تجاوزت عنهم لخرج أمرهم عن الاختيار وبغوا عليك ثم تهمل
Demikianlah hukuman orang-orang yang teguh tekadnya terhadap diri mereka sendiri. Yang mengherankan adalah engkau menghukum hamba sahayamu yang laki-laki maupun perempuan, keluargamu, dan anakmu atas akhlak buruk yang timbul dari mereka atau kelalaian dalam suatu urusan, dan engkau takut jika engkau membiarkan mereka, urusan mereka akan keluar dari kendali dan mereka mendurhakaimu, tetapi kemudian engkau mengabaikan…
نفسك وهى أعظم عدو لك واشد طغيانا عليك وضررك من طغيانها أعظم من ضررك من طغيان أهلك فان غايتهم أن يشوشوا عليك معيشة الدنيا ولو عقلت لعلمت إن العيش عيش الآخرة وإن فيه النعيم المقيم الذى لا آخر له ونفسك هى التي تنغص عليك عيش الآخرى فهى بالمعاقبة أولى من غيرها المرابطة الخامسة: المجاهدة
…dirimu sendiri, padahal ia adalah musuh terbesarmu dan paling keras pembangkangannya terhadapmu! Bahaya bagimu dari pembangkangan nafsumu jauh lebih besar daripada bahaya dari pembangkangan keluargamu. Puncak bahaya dari mereka hanyalah mengacaukan kehidupan duniamu, dan sekiranya engkau berakal, niscaya engkau mengetahui bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat, yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang tiada akhir. Sedangkan nafsumulah yang memperkeruh kehidupan akhiratmu, maka ia jauh lebih berhak untuk dihukum daripada yang lainnya. Stasiun Ribath Kelima: Al-Mujahadah (Kesungguhan Berjuang)
وهو انه إذا حاسب نفسه فرآها قد قارفت معصية فينبغى ان يعاقبها بالعقوبات التي مضت وان رآها تتوانى بحكم الكسل في شىء من الفضائل أو ورد من الأوراد فينبغى أن يؤدبها بتثقيل الأوراد عليها ويلزمها فنونا من الوظائف جبرا لما فات منه وتداركالما فرط فهكذا كان يعمل عمال الله تعالى فقد عاقب عمر بن الخطاب نفسه حين فاتته صلاة العصر في جماعة بأن تصدق بأرض كانت له قيمتها مائتا ألف درهم وكان ابن عمر إذا فاتته صلاة في جماعة أحيا تلك الليلة وأخر ليلة صلاة المغرب حتى طلع كوكبان فأعتق رقبتين
Yaitu, apabila seseorang mengintrospeksi (muhasabah) dirinya lalu melihatnya telah melakukan suatu kemaksiatan, hendaknya ia menghukumnya dengan hukuman-hukuman yang telah disebutkan. Dan jika ia melihatnya bermalas-malasan dalam suatu keutamaan atau wirid dari wirid-wirid ibadah, hendaknya ia mendidiknya dengan memperberat beban wirid atasnya dan mewajibkan berbagai ragam tugas amalan baginya sebagai penambal atas apa yang terlewat dan penanggulangan atas apa yang dilalaikan. Demikianlah para pengamal jalan Allah Ta'ala berbuat. Umar bin al-Khattab r.a. telah menghukum dirinya ketika tertinggal salat Asar berjamaah dengan bersedekah sebidang tanah miliknya senilai dua ratus ribu dirham. Begitu pula Ibn Umar, apabila tertinggal salat berjamaah, ia menghidupkan malam tersebut dengan ibadah; dan pada suatu malam ia mengakhirkan salat Maghrib hingga muncul dua bintang, maka ia memerdekakan dua orang budak.
وفات ابن أبى ربيعة ركعتا الفجر فاعتق رقبة
Ibn Abi Rabi'ah pernah tertinggal dua rakaat sunnah Fajr, maka ia memerdekakan seorang budak.
وكان بعضهم يجعل على نفسه صوم سنة أو الحج ما شيا أو التصدق بجميع ماله
Sebagian dari mereka mewajibkan atas diri mereka untuk berpuasa selama satu tahun, atau menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, atau bersedekah dengan seluruh hartanya.
كل ذلك مرابطه للنفس ومؤاخذة لها بما فيه نجاتها
Semua itu adalah bentuk murabaṭah (penjagaan ketat) terhadap jiwa dan tindakan menuntutnya demi hal yang mendatangkan keselamatannya.
فإن قلت إن كانت نفسى لا تطاوعنى على المجاهدة والمواظبة على الأوراد فما سبيل معالجتها فأقول سبيلك في ذلك ان تسمعها ما ورد في الأخبار من فضل المجتهدين ومن أنفع أسباب العلاج أن تطلب صحبة عبد من عباد الله مجتهد في العبادة فتلاحظ أقواله وتقتدى به وكان بعضهم يقول كنت إذا اعترتنى فترة في العبادة نظرت إلى أحوال محمد بن واسع والى اجتهاده فعملت على ذلك أسبوعا إلا أن هذا العلاج قد تعذر اذ قد فقد في هذا الزمان من يجتهد في العبادة اجتهاد الاولين فينبغى ان يعدل من المشاهدة الى السماع فلا شىء انفع من سماع أحوالهم ومطالعة اخبارهم وما كانوا فيه من الجهد الجهيد وقد انقضى تعبهم وبقى ثوابهم ونعيمهم ابد الاباد لا ينقطع فما اعظم ملكهم وما أشد حسرة من لا يقتدى بهم فيمتع نفسه أياما قلائل بشهوات مكدرة ثم يأتيه الموت ويحال بينه وبين كل ما يشتهيه أبد الآباد نعوذ بالله تعالى من ذلك
Jika engkau bertanya, "Jika nafsuku tidak mau menurutiku untuk melakukan mujāhadah (perjuangan bersungguh-sungguh) dan beristiqamah dalam wirid, maka bagaimanakah cara mengobatinya?" Maka aku katakan: Caramu dalam hal itu adalah memperdengarkan kepadanya riwayat-riwayat yang datang mengenai keutamaan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Dan di antara sebab pengobatan yang paling bermanfaat adalah engkau mencari persahabatan dengan seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, lalu engkau perhatikan ucapan/keadaannya dan engkau teladani dia. Sebagian dari mereka berkata, "Dahulu apabila timbul rasa kelesuan (fatrah) dalam ibadah pada diriku, aku melihat kepada keadaan Muhammad bin Wasi' dan kesungguhannya, maka aku dapat beramal atas dasar hal itu selama seminggu." Akan tetapi, pengobatan ini telah menjadi sulit karena pada zaman ini telah langka orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah seperti kesungguhan generasi terdahulu. Oleh karena itu, hendaknya berpaling dari menyaksikan (musyāhadah) kepada mendengarkan (samā'); tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat daripada mendengarkan riwayat keadaan mereka dan mempelajari kisah-kisah mereka serta kesungguhan luar biasa yang mereka jalani. Kini kepayahan mereka telah usai, sedangkan pahala dan kenikmatan mereka tetap abadi selama-lamanya tanpa terputus. Betapa agungnya kerajaan mereka, dan betapa besarnya penyesalan orang yang tidak meneladani mereka, yang hanya memanjakan dirinya beberapa hari yang sedikit dengan syahwat yang keruh, kemudian kematian menjemputnya lalu dihalangi antara dirinya dan segala yang diinginkannya selama-lamanya. Kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari hal demikian.
ونحن نورد من اوصاف المجتهدين وفضائلهم ما يحرك رغبة المريد في الاجتهاد اقتداء بهم فقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رحم الله اقواما يحسبهم الناس مرضى وما هم بمرضى حديث طوبي لمن طال عمره وحسن عمله أخرجه الطبراني من حديث عبد الله بن بشر وفيه بقية رواه بصيغة عن وهو مدلس وللترمذى من حديث أبى بكرة خير الناس من طال عمره وحسن عمله وقال حسن صحيح وقد تقدم //
Dan kami akan menuturkan sebagian dari sifat-sifat orang yang bersungguh-sungguh dan keutamaan-keutamaan mereka yang dapat menggerakkan kerinduan murid untuk bersungguh-sungguh demi meneladani mereka. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Semoga Allah merahmati kaum yang dikira orang-orang sedang sakit, padahal mereka tidaklah sakit." // Hadis: "Beruntunglah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya," diriwayatkan oleh at-Thabrani dari hadis Abdullah bin Busr, dan di dalamnya terdapat Baqiyyah yang meriwatkannya dengan shighah 'an dan ia seorang mudallis. Dan bagi at-Tirmidzi dari hadis Abu Bakrah: "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya," dan ia berkata: hadis hasan shahih, dan telah lalu pembahasannya. //
ويروى أن الله تعالى يقول لملائكته ما بال عبادي مجتهدين فيقولون الهنا خوفتهم شيئا فخافوه وشوقتهم الى شىء فاشتاقوا إليه فيقول الله ﵎ فكيف لو رآنى عبادى لكانوا اشد اجتهادا وقال الحسن أدركت أقواما وصحبت
Diriwayatkan bahwasanya Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya, "Mengapa hamba-hamba-Ku bersungguh-sungguh?" Para malaikat menjawab, "Tuhan kami, Engkau menakut-nakuti mereka dengan sesuatu maka mereka pun takut, dan Engkau membuat mereka rindu pada sesuatu maka mereka pun rindu." Maka Allah Subḥānahū berfirman, "Lalu bagaimana sekiranya hamba-hamba-Ku melihat-Ku? Niscaya mereka akan lebih bersungguh-sungguh lagi." Dan Al-Hasan berkata, "Aku telah mendapati kaum-kaum dan bersahabat…"
طوائف منهم ما كانوا يفرحون بشيء من الدنيا أقبل ولا يتأسفون على شيء منها أدبر ولهى كانت أهون في أعينهم من هذا التراب الذى تطئونه بارجلكم أن كان احدهم ليعيش عمره كله ما طوى له ثوب ولا أمر أهله بصنعة طعام قط ولا جعل بينه وبين الأرض شيئاً قط وأدركتهم عاملين بكتاب ربهم وسنة نبيهم إذا جنهم الليل فقيام على أطرافهم يفترشون وجوههم تجري دموعهم على خدودهم يناجون ربهم في فكاك رقابهم إذا عملوا الحسنة فرحوا بها ودأبوا في شكرها وسألوا الله ان يتقبلها وإذا عملوا السيئة أحزنتهم وسألوا الله تعالى أن يغفرها لهم والله ما زالوا كذلك وعلى ذلك ووالله ما سلموا من الذنوب ولا نجوا الا بالمغفرة ويحكى أن قوماً دخلوا على عمر بن عبد العزيز يعودونه في مرضه واذا فيهم شاب ناحل الجسم فقال عمر له يا فتى ما الذى بلغ بك ما أرى فقال يا أمير المؤمنين اسقام وأمراض فقال سألتك بالله الا صدقتنى فقال يا أمير المؤمنين ذقت حلاوة الدنيا فوجدتها مرة وصغر عندى زهرتها وحلاوتها واستوى عند ذهبها وحجرها وكأنى أنظر إلى عرش ربى والناس يساقون إلى الجنة والنار فأظمأت لذلك نهارى وأسهرت ليلى وقليل حقير كل ما إنا فيه في جنب ثواب الله وعقابه وقال أبو نعيم كان داود الطائى يشرب الفتيت ولا يأكل الخبز فقيل له في ذلك فقال بين مضغ الخبز وشرب الفتيت قراءة خمسين آية
Golongan-golongan dari mereka tidak pernah bergembira atas sesuatu dari dunia yang datang, dan tidak pernah menyesali sesuatu darinya yang pergi. Sungguh, dunia itu lebih hina dalam pandangan mereka daripada debu yang kalian pijak dengan kaki kalian. Sungguh, ada di antara mereka yang hidup sepanjang umurnya tanpa pernah lipatan bajunya dilipat, tidak pernah memerintahkan keluarganya memasak makanan secara khusus, dan tidak pernah membuat penghalang apa pun antara dirinya dan bumi. Aku mendapati mereka beramal dengan Kitab Rabb mereka dan Sunnah Nabi mereka. Apabila malam telah melingkupi mereka, mereka berdiri tegak di atas ujung-ujung kaki mereka, meratakan wajah-wajah mereka dalam sujud, air mata mereka mengalir di pipi mereka, seraya bermunajat kepada Rabb mereka demi pembebasan leher mereka dari siksa. Apabila mereka melakukan kebajikan, mereka bergembira dengannya, bersungguh-sungguh dalam mensyukurinya, dan memohon kepada Allah agar menerima-Nya. Apabila mereka melakukan keburukan, hal itu membuat mereka berduka, dan mereka memohon kepada Allah Ta'ala agar mengampuni mereka. Demi Allah, mereka senantiasa dalam keadaan demikian dan di atas jalan itu. Demi Allah, mereka tidak selamat dari dosa-dosa dan tidak akan selamat melainkan dengan ampunan-Nya. Dikisahkan bahwa suatu kaum menjenguk Umar bin Abdul Aziz saat beliau sakit. Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang kurus kering badannya. Umar berkata kepadanya, "Wahai pemuda, apakah yang membuatmu hingga mencapai kondisi yang kulihat ini?" Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, rasa sakit dan penyakit-penyakit." Umar berkata, "Aku memohon kepadamu demi Allah, hendaklah engkau berkata jujur kepadaku." Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku telah mengecap kemanisan dunia, lalu aku mendapatinya pahit. Keindahan dan kemanisannya menjadi kecil bagiku, serta emas dan batu menjadi sama saja bagiku. Seolah-olah aku sedang memandang ke Arasy Rabbku, sementara manusia digiring ke Surga dan Neraka. Maka karena itulah aku dahagakan siangku dengan berpuasa dan aku jagakan malamku dengan beribadah. Sungguh, segala hal yang ada padaku ini sangat sedikit dan hina jika dibandingkan dengan pahala dan siksa Allah." Abu Nu'aim berkata: Dawud ath-Tha'i biasa meminum remukan roti yang dilarutkan dan tidak makan roti kering. Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, "Di antara rentang waktu mengunyah roti dan meminum remukan roti terdapat waktu untuk membaca lima puluh ayat."
ودخل رجل عليه يوما فقال ان في سقف بيتك جذعا مكسورا فقال يا ابن أخي ان لى في البيت منذ عشرين سنة ما نظرت الى السقف
Suatu hari seorang lelaki menemuinya dan berkata, "Sesungguhnya pada langit-langit rumahmu ada balok kayu yang patah." Dawud menjawab, "Wahai putra saudaraku, sesungguhnya aku telah berada di rumah ini sejak dua puluh tahun, namun aku tidak pernah memandang ke arah langit-langit rumah."
وكانوا يكرهون فضول النظر كما يكرهون فضول الكلام
Mereka membenci pandangan mata yang berlebihan (fadhul an-nazhar) sebagaimana mereka membenci ucapan yang berlebihan (fadhul al-kalam).
وقال محمد بن عبد العزيز جلسنا إلى أحمد بن رزين من غدوة إلى العصر فما التفت يمنه ولا يسرة فقيل له في ذلك فقال إن الله ﷿ خلق العينين لينظر بهما العبد الى عظمة الله تعالى فكل من نظر بغير اعتبار كتبت عليه خطيئة وقالت امرأة مسروق ما كان يوجد مسروق إلا وساقاه منتفختان من طول الصلاة
Muhammad bin Abdul Aziz berkata, "Kami duduk bersama Ahmad bin Razin sejak pagi hingga Asar, dan beliau tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri." Ketika ditanyakan kepadanya mengenai hal itu, beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan kedua mata agar seorang hamba memandang keagungan Allah Ta'ala dengannya. Maka setiap orang yang memandang tanpa mengambil iktibar, akan dicatat atasnya suatu kesalahan." Istri Masruq berkata, "Tidaklah Masruq dijumpai melainkan kedua betisnya dalam keadaan bengkak karena lamanya shalat."
وقالت والله ان كنت لاجلس خلفه فابكى رحمة له
Istri Masruq juga berkata, "Demi Allah, sungguh aku pernah duduk di belakangnya lalu aku menangis karena iba kepadanya."
وقال أبو الدرداء لولا ثلاث ما أحببت العيش يوما واحدا الظمأ لله بالهواجر والسجود لله في جوف الليل ومجالسة أقوام ينتقون أطايب الكلام كما ينتقى أطايب الثمر وكان الأسود بن يزيد يجتهد في العبادة ويصوم فى الحر حتى يخضر جسده ويصفر فكان علقمة بن قيس يقول له لم تعذب نفسك فيقول كرامتها أريد
Abu ad-Darda' berkata, "Jikalau bukan karena tiga perkara, aku tidak akan menyukai hidup walau sehari pun: rasa dahaga karena Allah di tengah terik siang hari, sujud kepada Allah di kegelapan malam, dan duduk bersama kaum yang memilih kata-kata yang paling baik sebagaimana buah-buahan yang paling baik dipilih." Al-Aswad bin Yazid sangat bermujahadah dalam ibadah dan berpuasa di cuaca panas hingga tubuhnya menguning dan menghijau pucat. Alqamah bin Qais pernah berkata kepadanya, "Mengapa engkau menyiksa dirimu?" Beliau menjawab, "Kemuliaan jiwaku itulah yang aku kehendaki."
وكان يصوم حتى يخضر جسده ويصلى حتى يسقط فدخل عليه أنس بن مالك والحسن فقالا له إن الله ﷿ لم يأمرك بكل هذا فقال إنما أنا عبد مملوك لا أدع من الاستكانة شيئا الا جئت به
Beliau berpuasa hingga tubuhnya pucat dan shalat hingga terjatuh. Lalu Anas bin Malik dan al-Hasan menemuinya dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak memerintahkanmu melakukan semua ini." Beliau menjawab, "Aku hanyalah seorang hamba sahaya; tidak ada satu bentuk ketundukan (istikanah) pun melainkan aku pasti mendatangkannya."
وكان بعض المجتهدين يصلى كل يوم الف ركعة حتى أقعد من رجليه فكان يصلى جالسا ألف ركعة فإذا صلى العصر احتبى ثم قال عجبت للخليقة كيف أرادت بك بدلا منك عجبت للخليقة كيف أنست بسواك بل عجبت للخليقة كيف استنارت قلوبها بذكر سواك وكان ثابت البنانى قد حببت إليه الصلاة فكان يقول اللهم ان كنت أذنت لأحد أن يصلى لك في قبره فائذن لي أن أصلى في قبرى
Sebagian ahli ibadah yang bersungguh-sungguh (mujtahidin) shalat setiap hari seribu rakaat hingga kedua kakinya lumpuh. Setelah itu, ia shalat sambil duduk sebanyak seribu rakaat. Apabila telah shalat Asar, ia duduk berikhtiba' (memeluk lutut) lalu berkata, "Aku heran pada para makhluk, bagaimana bisa mereka menginginkan pengganti selain Engkau? Aku heran pada para makhluk, bagaimana bisa mereka merasa tenteram dengan selain Engkau? Bahkan aku heran pada para makhluk, bagaimana bisa hati mereka menjadi terang dengan mengingat selain Engkau?" Tsabit al-Bunani telah dijadikan mencintai shalat, sehingga beliau kerap berdoa, "Ya Allah, jika Engkau mengizinkan seseorang untuk shalat bagi-Mu di dalam kuburnya, maka izinkanlah aku untuk shalat di dalam kuburku."
وقال الجنيد ما رأيت أعبد من السرى اتت عليه ثمان وتسعون سنة ما رؤى مضطجعا إلا في علة الموت
Al-Junaid berkata, "Aku belum pernah melihat orang yang lebih tekun beribadah daripada as-Sari. Beliau mencapai usia sembilan puluh delapan tahun, dan tidak pernah terlihat berbaring melainkan saat menderita sakit yang membawa kematiannya."
وقال الحارث بن سعد مر قوم براهب فرأوا ما يصنع بنفسه من شدة اجتهاده فكلموه في ذلك فقال وما هذا عند ما يراد بالخلق من ملاقاة الأهوال وهم غافلون قد اعتكفوا على حظوظ أنفسهم ونسوا حظهم الأكبر من ربهم فبكى القوم عن آخرهم
Al-Harits bin Saad berkata: Suatu kaum berjalan melewati seorang rahib (pertapa), lalu mereka melihat apa yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri berupa kesungguhan (mujahadah) yang luar biasa. Maka mereka membicarakan hal itu dengannya, lalu ia berkata, "Apakah artinya ini jika dibandingkan dengan dahsyatnya kondisi yang akan dihadapi oleh para makhluk, sementara mereka dalam keadaan lalai, sibuk mengurusi bagian-bagian hawa nafsu mereka, dan melupakan bagian terbesar mereka dari Rabb mereka?" Maka menangislah seluruh kaum tersebut tanpa tersisa.
وعن أبى محمد المغازلى قال جاور أبو محمد الجريرى بمكة سنة فلم ينم ولم يتكلم ولم يستند إلى عمود ولا الى حائط ولم يمد رجليه فعبر عليه أبو بكر الكتانى فسلم عليه وقال له يا أبا محمد بم قدرت على اعتكافك هذا فقال علم صدق باطنى فأعاننى على ظاهرى فاطرق الكتاني ومشى مفكرا وعن بعضهم قال دخلت على فتح الموصلى فرأيته قد مد كفيه
Diriwayatkan dari Abu Muhammad al-Maghazili, ia berkata: Abu Muhammad al-Jariri pernah bertinggal menetap (ber-ikhtikaf) di Mekkah selama satu tahun; beliau tidak tidur, tidak berbicara, tidak bersandar ke tiang maupun dinding, dan tidak pernah memanjangkan kedua kakinya. Lalu Abu Bakr al-Kattani lewat di hadapannya, memberi salam kepadanya, dan berkata, "Wahai Abu Muhammad, dengan apa engkau sanggup melakukan ikhtikaf seperti ini?" Beliau menjawab, "Ilmu Allah mengetahui kebenaran batinku, maka Dia menolong zahirku." Al-Kattani pun menundukkan kepala dan berjalan seraya berpikir. Diriwayatkan dari sebagian mereka, ia berkata: Aku menemui Fath al-Maushili, lalu aku melihat beliau membentangkan kedua telapak tangannya…
يبكى حتى رأيت الدموع تنحدر من بين أصابعه فدنوت منه فإذا دموعه قد خالطها صفرة فقلت ولم بالله يا فتح بكيت الدم فقال لولا أنك أحلفتنى بالله ما أخبرتك نعم بكيت دما فقلت له على ماذا بكيت الدموع فقال على تخلفى عن واجب حق الله تعالى وبكيت الدم على الدموع لئلا يكون ما صحت لى الدموع قال فرأيته بعد موته في المنام فقلت ما صنع الله بك قال غفر لى فقلت له فماذا صنع في دموعك فقال قربنى ربى ﷿ وقال لى يا فتح الدمع على ماذا قلت يارب على تخلفى عن واجب حقك فقال والدم على ماذا فقلت على دموعى أن لا تصح لى فقال لى يا فتح ما أردت بهذا كله وعزتى وجلالى لقد صعد حافظاك أربعين سنة بصحيفتك ما فيها خطيئة
…beliau menangis hingga aku melihat air mata mengalir deras dari celah-celah jarinya. Aku mendekatinya, ternyata air matanya telah bercampur dengan warna kekuningan. Aku berkata, "Demi Allah, wahai Fath, mengapa engkau menangis darah?" Beliau menjawab, "Seandainya engkau tidak bersumpah atas nama Allah kepadaku, niscaya aku tidak akan memberitahumu. Ya, aku menangis darah." Aku bertanya kepadanya, "Karena apa engkau menangiskan air mata?" Beliau menjawab, "Karena kelalaianku dari menunaikan hak Allah Ta'ala yang wajib." Aku bertanya, "Dan mengapa engkau menangiskan darah atas air mata itu?" Beliau menjawab, "Agar jangan sampai air mata itu tidak tulus bagiku." Perawi berkata: Kemudian aku melihatnya dalam mimpi setelah kematiannya, aku bertanya, "Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?" Beliau menjawab, "Dia telah mengampuniku." Aku bertanya lagi, "Lalu apa yang Dia perbuat terhadap air matamu?" Beliau menjawab, "Rabbku Azza wa Jalla mendekatkanku, lalu berfirman kepadaku, 'Wahai Fath, karena apa air mata itu?' Aku menjawab, 'Wahai Rabbku, karena kelalaianku dari hak-Mu yang wajib.' Dia berfirman, 'Dan karena apa darah itu?' Aku menjawab, 'Atas air mataku, karena takut ia tidak tulus bagiku.' Maka Dia berfirman kepadaku, 'Wahai Fath, apa yang engkau kehendaki dengan semua ini? Demi Keagungan-Ku dan Keluhuran-Ku, sungguh dua malaikat penjagamu telah naik selama empat puluh tahun membawa lembaran catatan amalmu tanpa ada satu kesalahan pun di dalamnya.'"
وقيل إن قوما أرادوا سفرا فحادوا عن الطريق فانتهوا إلى راهب منفرد عن الناس فنادوه فأشرف عليهم من صومعته فقالوا يا راهب إنا قد أخطأنا الطريق فكيف الطريق فأومأ برأسه إلى السماء فعلم القوم ما أراد فقالوا يا راهب إنا سائلوك فهل أنت مجيبنا فقال سلوا ولا تكثروا فإن النهار لن يرجع والعمر لا يعود والطالب حثيث فعجب القوم من كلامه فقالوا يا راهب علام الخلق غدا عند مليكهم فقال على نياتهم فقالوا أوصنا فقال تزودوا على قدر سفركم فإن خير الزاد ما بلغ البغية
Dikatakan bahwa suatu kaum hendak melakukan perjalanan, lalu mereka tersesat dari jalan hingga sampai ke tempat seorang pertapa yang menyendiri dari manusia. Mereka memanggilnya, maka ia muncul dari tempat pertapapannya dan memandang mereka. Mereka berkata, "Wahai pertapa, sesungguhnya kami tersesat jalan, maka ke manakah jalannya?" Pertapa itu mengisyaratkan kepalanya ke arah langit, maka kaum itu pun memahami apa yang dikendakinya. Mereka berkata, "Wahai pertapa, kami ingin bertanya kepadamu, apakah engkau mau menjawab kami?" Ia menjawab, "Bertanyalah dan jangan memperbanyak pertanyaan, karena sesungguhnya siang tidak akan kembali, umur tidak akan berulang, dan penuntut ajal bergerak sangat cepat." Kaum itu kagum dengan ucapannya, lalu mereka bertanya, "Wahai pertapa, atas dasar apa para makhluk dikumpulkan esok di hadapan Raja mereka?" Ia menjawab, "Atas dasar niat-niat mereka." Mereka berkata, "Berilah kami wasiat!" Ia menjawab, "Bawalah bekal sesuai kadar perjalanan kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah apa yang menyampaikan kepada tujuan."
ثم أرشدهم إلى الطريق وأدخل رأسه في صومعته
Kemudian ia menunjukkan jalan kepada mereka dan memasukkan kembali kepalanya ke dalam tempat pertapaannya.
وقال عبد الواحد بن زيد مررت بصومعة راهب من رهبان الصين فناديته يا راهب فلم يجبنى فناديته الثانية فلم يجبنى فناديته الثالثة فأشرف على وقال يا هذا ما أنا براهب إنما الراهب من رهب الله في سمائه وعظمه في كبريائه وصبر على بلائه ورضى بقضائه وحمده على آلائه وشكره على نعمائه وتواضع لعظمته وذل لعزته واستسلم لقدرته وخضع لمهابته وفكر في حسابه وعقابه فنهاره صائم وليله قائم قد أسهره ذكر النار ومسألة الجبار فذلك هو الراهب وأما أنا فكلب عقور حسبت نفسى فى هذه الصومعة عن الناس لئلا أعقرهم فقلت يا راهب فما الذى قطع الخلق عن الله تعالى بعد أن عرفوه فقال يا أخى لم يقطع الخلق عن الله تعالى إلا حب الدنيا وزينتها لأنها محل المعاصى والذنوب والعاقل من رمى بها عن قلبه وتاب إلى الله تعالى من ذنبه وأقبل على ما يقربه من ربه
Abdul Wahid bin Zaid berkata: Aku melewati tempat pertapaan seorang pertapa dari pertapa-pertapa di negeri Tiongkok, lalu aku memanggilnya, "Wahai pertapa!" Namun ia tidak menjawabku. Aku memanggilnya kedua kali, ia tidak menjawabku. Aku memanggilnya ketiga kali, maka ia memandang darinya dan berkata, "Wahai Fulan, aku bukanlah seorang rahib sejati. Sesungguhnya rahib sejati adalah orang yang takut kepada Allah di langit-Nya, mengagungkan-Nya dalam kebesaran-Nya, bersabar atas ujian-Nya, ridha terhadap ketetapan-Nya, memuji-Nya atas anugerah-Nya, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, bertawadhu kepada keagungan-Nya, merasa hina di hadapan kemuliaan-Nya, berserah diri kepada kekuasaan-Nya, tunduk pada kehebatan-Nya, dan merenungkan hisab serta siksa-Nya. Maka di siang hari ia berpuasa dan di malam hari ia mendirikan shalat, di mana ingatan akan Neraka dan permohonan kepada Yang Mahaperkasa membuat malamnya terjaga. Itulah rahib sejati. Adapun aku hanyalah seekor anjing galak yang menahan diriku di tempat pertapaan ini dari manusia agar aku tidak menggigit mereka." Aku berkata, "Wahai rahib, apakah yang memutuskan para makhluk dari Allah Ta'ala setelah mereka mengenal-Nya?" Ia menjawab, "Wahai saudaraku, tidak ada yang memutuskan para makhluk dari Allah Ta'ala melainkan cinta dunia dan perhiasannya, karena dunia adalah tempat kemaksiatan dan dosa-dosa. Orang yang berakal adalah orang yang membuang dunia dari hatinya, bertobat kepada Allah Ta'ala dari dosanya, dan menghadap kepada apa yang mendekatkan dirinya kepada Rabbnya."
وقيل لداود الطائى لو سرحت لحيتك فقال إنى إذن لفارغ
Dikatakan kepada Dawud ath-Tha'i, "Sekiranya engkau menyisir janggutmu." Beliau menjawab, "Jika demikian, berarti aku adalah orang yang banyak waktu luang."
وكان أويس القرنى يقول هذه ليلة الركوع فيحيى الليل كله في ركعة وإذا كانت الليلة الآتية قال هذه ليلة السجود فيحيى الليل كله في سجدة
Uwais al-Qarani biasa berkata, "Ini adalah malam rukuk," lalu beliau menghidupkan seluruh malam dalam satu rukuk. Dan apabila datang malam berikutnya, beliau berkata, "Ini adalah malam sujud," lalu beliau menghidupkan seluruh malam dalam satu sujud.
وقيل لما تاب عتبة الغلام كان لا يتهنأ بالطعام والشراب فقالت له أمه لو رفقت بنفسك قال الرفق أطلب دعينى أتعب قليلا وأتنعم طويلا وحج مسروق فما نام قط إلا ساجدا وكان سفيان الثورى يقول عند الصباح يحمد القوم السرى وعند الممات يحمد القوم التقى
Dikatakan bahwa ketika Utbah al-Ghulam bertobat, ia tidak dapat menikmati makanan dan minuman dengan lezat. Ibunya berkata kepadanya, "Sekiranya engkau bersikap lembut pada dirimu sendiri." Utbah menjawab, "Kelembutan dan keselamatan itulah yang sedang kucari. Biarkanlah aku lelah sejenak agar aku dapat bernikmat-nikmat dalam waktu yang panjang." Masruq melaksanakan ibadah haji, dan beliau tidak pernah tidur melainkan dalam keadaan sujud. Sufyan ats-Tsauri sering berkata, "Di waktu pagi kaum memuji perjalanan malam (as-sura), dan di saat kematian kaum memuji ketakwaan (at-tuqa)."
وقال عبد الله بن داود كان أحدهم إذا بلغ أربعين سنة طوى فراشه أى كان لا ينام طول الليل
Abdullah bin Dawud berkata, "Dahulu salah seorang dari mereka apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, ia melipat kasurnya," yaitu ia tidak tidur sepanjang malam.
وكان كهمس بن الحسن يصلى كل يوم ألف ركعة ثم يقول لنفسه قومى يا مأوى كل شر فلما ضعف اقتصر على خمسمائة ثم كان يبكى ويقول ذهب نصف عملى
Kahmas bin al-Hasan biasa shalat setiap hari seribu rakaat, kemudian beliau berkata kepada jiwanya, "Bangkitlah wahai tempat kediaman setiap keburukan!" Ketika beliau melemah, beliau mencukupkan diri dengan lima ratus rakaat, lalu beliau menangis seraya berkata, "Telah hilang separuh amalku."
وكانت ابنة الربيع بن خثيم تقول له يا أبت مالى أرى الناس ينامون وأنت لا تنام فيقول يا ابنتاه إن أباك يخاف البيات
Putri ar-Rabi' bin Khutsaim pernah berkata kepadanya, "Wahai ayahku, mengapa aku melihat orang-orang tidur sedangkan engkau tidak tidur?" Beliau menjawab, "Wahai putriku, sesungguhnya ayahmu ini takut akan azab yang datang di malam hari (serangan mendadak)."
ولما رأت أم الربيع ما يلقى الربيع من البكاء والسهر نادته يا بنى لعلك قتلت قتيلا قال نعم يا أماه قالت فمن هو حتى نطلب أهله فيعفو عنك فوالله لو يعلمون ما أنت فيه لرحموك وعفوا عنك فيقول يا أماه هى نفسى
Ketika ibunda ar-Rabi' melihat apa yang dialami ar-Rabi' berupa tangisan dan tiadanya tidur di malam hari, beliau memanggilnya, "Wahai anakku, mungkinkah engkau telah membunuh seseorang?" Ar-Rabi' menjawab, "Ya, wahai Ibu." Ibunya berkata, "Siapakah dia agar kita meminta kepada keluarganya sehingga mereka memaafkanmu? Demi Allah, seandainya mereka mengetahui penderitaan yang sedang engkau alami, niscaya mereka akan merahmatimu dan memaafkanmu." Maka ar-Rabi' berkata, "Wahai Ibuku, (yang kubunuh itu) adalah diriku sendiri."
وعن عمر ابن أخت بشر بن الحارث قال سمعت خالى بشر بن الحارث يقول لأمى يا أختى جوفي وخواصرى تضرب على فقالت له أمى يا أخى أتأذن لى حتى أصلح لك قليل حساء بكف دقيق عندى تتحساه يرم جوفك فقال لها ويحك أخاف أن يقول أين لك هذا الدقيق فلا أدرى إيش
Diriwayatkan dari 'Umar, putra saudara perempuan Bisyir bin al-Harits, ia berkata: Aku mendengar pamanku, Bisyir bin al-Harits, berkata kepada ibuku, "Wahai saudaraku, perut dan lambungku terasa amat perih menekan." Maka ibuku berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, apakah engkau mengizinkanku untuk membuatkan sedikit sup dari segenggam tepung yang ada padaku untuk engkau hirup demi memulihkan perutmu?" Beliau menjawab, "Celaka engkau, aku takut Dialah (Allah) akan berfirman, 'Dari mana engkau mendapatkan tepung ini?' Lalu aku tidak tahu apa…
أقول له
…yang harus kukatakan kepada-Nya."
فبكت أمى وبكى معهما وبكيت معهم
Maka ibuku menangis, beliau (Bisyir) pun ikut menangis bersama mereka, dan aku pun menangis bersama mereka.
قال عمر ورأت أمى ما ببشر من شدة الجوع وجعل يتنفس نفسا ضعيفا فقالت له أمى يا أخى ليت أمك لم تلدنى فقد والله تقطعت كبدى مما أرى بك فسمعته يقول لها وأنا فليت أمى لم تلدنى وإذ ولدتنى لم يدر ثديها على
'Umar berkata: Ibuku melihat keadaan Bisyir yang menderita kelaparan amat sangat, hingga ia bernapas dengan sangat lemah. Maka ibuku berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, duhai sekiranya ibumu tidak melahirkan aku! Demi Allah, sungguh hatiku hancur luluh melihat apa yang terjadi padamu." Maka aku mendengarnya berkata kepada ibuku, "Dan aku pun demikian, duhai sekiranya ibuku tidak melahirkan aku, dan jika ia melahirkan aku, duhai sekiranya air susunya tidak pernah mengalir untukku!"
قال عمر وكانت أمى تبكى عليه الليل والنهار
'Umar berkata: "Dan ibuku senantiasa menangisinya siang dan malam."
وقال الربيع أتيت أويسا فوجدته جالسا حتى صلى الفجر ثم جلس فجلست فقلت لا أشغله عن التسبيح فمكث مكانه حتى صلى الظهر ثم قام إلى الصلاة حتى صلى العصر ثم جلس موضعه حتى صلى المغرب ثم ثبت مكانه حتى صلى العشاء ثم ثبت مكانه حتى صلى الصبح ثم جلس فغلبته عيناه فقال اللهم إني أعوذ بك من عين نوامة ومن بطن لا تشبع فقلت حسبى هذا منه ثم رجعت
Ar-Rabi' berkata: Aku mendatangi Uwais (al-Qarani) dan mendapatinya sedang duduk hingga beliau melaksanakan shalat Subuh. Kemudian beliau tetap duduk, lalu aku pun duduk dan berkata (dalam hati), "Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih." Beliau tetap bergeming di tempatnya hingga melaksanakan shalat Dzuhur, lalu bangkit untuk shalat hingga melaksanakan shalat Ashar, kemudian duduk di tempatnya hingga melaksanakan shalat Maghrib, lalu tetap bertahan di tempatnya hingga melaksanakan shalat Isya, kemudian tetap bertahan di tempatnya hingga melaksanakan shalat Subuh. Setelah itu beliau duduk, lalu matanya terkalahkan oleh rasa kantuk, maka beliau berdoa, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang suka tidur dan dari perut yang tidak pernah kenyang." Aku pun berkata (dalam hati), "Cukuplah ini bagiku darinya," kemudian aku pulang.
ونظر رجل إلى أويس فقال يا أبا عبد الله ما لى أراك كأنك مريض فقال وما لأويس أن لا يكون مريضا يطعم المريض وأويس غير طاعم وينام المريض وأويس غير نائم
Seseorang memandang kepada Uwais lalu berkata, "Wahai Abu 'Abdillah, ada apa denganku hingga aku melihatmu seakan-akan engkau sedang sakit?" Uwais menjawab, "Bagaimana mungkin Uwais tidak sakit, sedangkan orang yang sakit pun diberi makan sementara Uwais tidak makan, dan orang yang sakit pun tidur sementara Uwais tidak tidur?"
وقال أحمد بن حرب يا عجباً لمن يعرف أن الجنة تزين فوقه وأن النار تسعر تحته كيف ينام بينهما وقال رجل من النساك أتيت إبراهيم ابن أدهم فوجدته قد صلى العشاء فقعدت أرقبه فلف نفسه بعباءة ثم رمى بنفسه فلم ينقلب من جنب إلى جنب الليل كله حتى طلع الفجر وأذن المؤذن فوثب إلى الصلاة ولم يحدث وضوءا فحاك ذلك في صدرى فقلت له رحمك الله قد نمت الليل كله مضطجعا ثم لم تجدد الوضوء فقال كنت الليل كله جائلا في رياض الجنة أحيانا وفي أودية النار أحيانا فهل في ذلك نوم
Ahmad bin Harb berkata, "Betapa mengherankan bagi orang yang mengetahui bahwa Surga sedang dihiasi di atasnya dan Neraka sedang dinyalakan di bawahnya, bagaimana bisa ia tidur di antara keduanya?" Seorang ahli ibadah bercerita: Aku mendatangi Ibrahim bin Adham dan mendapatinya telah selesai shalat Isya. Lalu aku duduk mengawasinya. Beliau menyelimuti dirinya dengan sehelai jubah (aba-ah) lalu membaringkan badannya, dan beliau tidak berbalik dari satu sisi ke sisi lain sepanjang malam hingga terbit fajar dan muazin mengumandangkan azan. Beliau pun langsung bangkit untuk shalat tanpa memperbarui wudhu. Hal itu mengganjal di dadaku, maka aku berkata kepadanya, "Semoga Allah merahmatimu, engkau telah tidur sepanjang malam dalam keadaan berbaring, kemudian engkau tidak memperbarui wudhu?" Beliau menjawab, "Sepanjang malam aku berkelana, kadang di taman-taman surga dan kadang di lembah-lembah neraka, maka apakah dalam keadaan demikian ada tidur?"
وقال ثابت البنانى أدركت رجالا كان أحدهم يصلى فيعجز عن أن يأتى فراشه إلا حبوا وقيل مكث أبو بكر بن عياش أربعين سنة لا يضع جنبه على فراش ونزل الماء في إحدى عينيه فمكث عشرين سنة لا يعلم به أهله وقيل كان ورد سمنون في كل يوم خمسمائة ركعة
Tsabit al-Bunani berkata, "Aku sempat mendapati orang-orang (generasi Salaf) yang mana salah seorang dari mereka melaksanakan shalat hingga ia tidak mampu mendatangi tempat tidurnya melainkan dengan merangkak." Dan dikatakan bahwa Abu Bakr bin 'Ayasy menetap selama empat puluh tahun tanpa pernah meletakkan lambungnya di atas tempat tidur, dan beliau menderita katarak pada salah satu matanya selama dua puluh tahun tanpa diketahui oleh keluarganya. Dikatakan pula bahwa wirid Samnun setiap hari adalah lima ratus rakaat.
وعن أبى بكر المطوعى قال كان وردى في شبيبتى كل يوم وليلة أقرأ فيه قل هو الله أحد إحدى وثلاثين ألف مرة أو أربعين ألف مرة شك الراوى وكان منصور بن المعتمر إذا رأيته قلت رجل أصيب بمصيبة منكسر الطرف منخفض الصوت رطب العينين إن حركته جاءت عيناه بأربع ولقد قالت له أمه ما هذا الذى تصنع بنفسك تبكى الليل عامته لا تسكت لعلك يا بنى أصبت نفسا لعلك قتلت قتيلا فيقول يا أمه أنا أعلم بما صنعت بنفسى وقيل لعامر ابن عبد الله كيف صبرك على سهر الليل وظمأ الهواجر فقال هل هو إلا أنى صرفت طعام النهار إلى الليل ونوم الليل إلى النهار وليس في ذلك خطير أمر وكان يقول ما رأيت مثل الجنة نام طالبها ولا مثل النار نام هاربها وكان إذا جاء الليل قال أذهب حر النار النوم فما ينام حتى يصبح فإذا جاء النهار قال أذهب حر النار النوم فما ينام حتى يمسى فإذا جاء الليل قال من خاف أدلج وعند الصباح يحمد القوم السرى
Diriwayatkan dari Abu Bakr al-Muthawwi'i, ia berkata: Wiridku pada masa mudaku setiap siang dan malam adalah membaca Surat al-Ikhlas (Qul Huwallāhu Aḥad) sebanyak tiga puluh satu ribu kali atau empat puluh ribu kali (perawi ragu). Dan Manshur bin al-Mu'tamir, jika engkau melihatnya, engkau akan berkata: "Ia adalah pria yang tertimpa musibah," dengan pandangan tertunduk, suara rendah, dan kedua mata yang basah. Jika engkau mengusik perasaannya, matanya akan mencurahkan air mata deras. Ibunya pernah berkata kepadanya, "Apa yang kaulakukan terhadap dirimu sendiri ini? Engkau menangis sepanjang malam tanpa henti. Mungkinkah engkau wahai anakku telah menghilangkan nyawa seseorang? Mungkinkah engkau telah membunuh seseorang?" Maka ia menjawab, "Wahai Ibu, aku lebih tahu tentang apa yang telah kulakukan terhadap diriku." Dan dikatakan kepada 'Amir bin 'Abdullah, "Bagaimana engkau sanggup bersabar atas jaga di malam hari dan rasa dahaga di tengah terik siang?" Beliau menjawab, "Bukankah ini tiada lain kecuali aku memindahkan makan siang ke malam hari dan tidur malam ke siang hari? Dan hal itu bukanlah perkara yang besar." Beliau juga sering berkata, "Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti Surga yang mana orang yang mencarinya justru tidur, dan tidak pula seperti Neraka yang mana orang yang lari darinya justru tidur." Dan apabila malam tiba, beliau berkata, "Rasa panas Neraka telah menghilangkan tidur," maka beliau tidak tidur hingga pagi. Apabila siang tiba, beliau berkata, "Rasa panas Neraka telah menghilangkan tidur," maka beliau tidak tidur hingga sore. Dan apabila malam tiba, beliau berkata, "Barang siapa takut, niscaya ia berjalan di awal malam (adlaja), dan pada waktu pagi kaum tersebut memuji perjalanan malam (as-sura)."
وقال بعضهم صحبت عامر بن عبد القيس أربعة أشهر فما رأيته نام بليل ولا نهار
Sebagian dari mereka berkata, "Aku menyertai 'Amir bin 'Abd al-Qais selama empat bulan, dan aku tidak pernah melihatnya tidur baik pada waktu malam maupun siang."
ويروى عن رجل من أصحاب علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال صليت خلف علي رضي الله تعالى عنه الفجر فلما سلم انفتل عن يمينه وعليه كآبة فمكث حتى طلعت الشمس ثم قلب يده وقال والله لقد رأيت أصحاب محمد ﷺ وما أرى اليوم شيئا يشبههم كانوا يصبحون شعثا غبرا صفرا قد باتوا لله سجدا وقياما يتلون كتاب الله يراوحون بين أقدامهم وجباههم وكانوا إذا ذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح وهملت أعينهم حتى تبل ثيابهم وكأن القوم باتوا غافلين يعنى من كان حوله وكان أبو مسلم الخولاني قد علق سوطا في مسجد بيته يخوف به نفسه وكان يقول لنفسه قومى فوالله لأزحفن بك زحفا حتى يكون الكلل منك لا منى فإذا دخلت الفترة تناول سوطه وضرب به ساقه ويقول أنت أولى بالضرب من دابتى وكان يقول أيظن أصحاب محمد ﷺ أن يستأثروا به دوننا كلا والله لنزاحمهم عليه زحاما
Diriwayatkan dari seorang sahabat 'Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu 'anhu bahwa ia berkata: Aku shalat Subuh di belakang 'Ali radhiyallāhu 'anhu. Ketika beliau menguncupkan salam, beliau berpaling ke arah kanannya dalam keadaan duka yang mendalam. Beliau berdiam diri hingga terbit matahari, kemudian menepuk kedua tangannya dan berkata, "Demi Allah, sungguh aku telah melihat para sahabat Muhammad ﷺ, dan hari ini aku tidak melihat sesuatu pun yang menyerupai mereka. Mereka memasuki waktu pagi dalam keadaan rambut acak-acakan, berdebu, dan pucat. Mereka melewatkan malam demi Allah dengan bersujud dan berdiri, membaca Kitabullah, bergantian antara kaki-kaki dan dahi-dahi mereka. Dan apabila mereka mengingat Allah, mereka bergoyang sebagaimana pohon bergoyang di hari yang berangin kencang, serta mata mereka mencurahkan air mata hingga membasahi pakaian mereka. Dan seolah-olah kaum (di sekitarku) ini melewatkan malam dalam keadaan lalai" — maksudnya orang-orang di sekitarnya saat itu. Dan Abu Muslim al-Khaulani telah menggantungkan sebuah cambuk di tempat shalat (masjid) di rumahnya untuk menakut-nakuti dirinya. Beliau berkata kepada dirinya, "Bangkitlah! Demi Allah, aku benar-benar akan menyeretmu bertahap-tahap hingga rasa lelah itu datang darimu, bukan dariku." Apabila timbul rasa malas (fatrah), beliau mengambil cambuknya dan memukulkannya ke betisnya seraya berkata, "Engkau lebih berhak dipukul daripada binatang tungganganku." Beliau juga berkata, "Apakah para sahabat Muhammad ﷺ mengira bahwa mereka dapat memonopoli beliau tanpa kita? Sekali-kali tidak! Demi Allah, sungguh kami akan mendesak mereka mendekati beliau dengan desakan yang kuat…"
حتى يعلموا أنهم قد خلفوا وراءهم رجالا
"…hingga mereka mengetahui bahwa mereka telah meninggalkan laki-laki (sejati) di belakang mereka."
وكان صفوان بن سليم قد تعقدت ساقاه من طول القيام وبلغ من الاجتهاد ما لو قيل له القيامة غدا ما وجد متزايدا
Shafwan bin Sulaim kedua betisnya sampai membengkak kaku karena lamanya berdiri (dalam shalat), dan kesungguhannya dalam beribadah telah mencapai tingkat yang seandainya dikatakan kepadanya, "Hari Kiamat adalah besok," niscaya beliau tidak menemukan lagi ruang untuk menambah ibadahnya.
وكان إذا جاء الشتاء اضطجع على السطح ليضر به البرد وإذا كان في الصيف اضطجع داخل البيوت ليجد الحر فلا ينام وانه مات وهو ساجد وانه كان يقول اللهم إني أحب لقاءك فأحب لقائي
Apabila musim dingin tiba, beliau berbaring di atas atap rumah agar didera rasa dingin; dan apabila musim panas tiba, beliau berbaring di dalam rumah agar merasakan panas, sehingga beliau tidak tidur. Dan sesungguhnya beliau wafat dalam keadaan bersujud, serta senantiasa berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku menyukai pertemuan dengan-Mu, maka sukailah pertemuan denganku."
وقال القاسم بن محمد غدوت يوما وكنت إذا غدوت بدأت بعائشة ﵂ أسلم عليها فغدوت يوما إليها فإذا هى تصلى صلاة الضحى وهى تقرأ فمن الله علينا ووقانا عذاب السموم وتبكى وتدعو وتردد الآية فقمت حتى مللت وهى كما هى فلما رأيت ذلك ذهبت إلى السوق فقلت أفرغ من حاجتى ثم أرجع ففرغت من حاجتى ثم رجعت وهى كما هى تردد الآية وتبكى وتدعو
Al-Qasim bin Muhammad berkata: Suatu hari di pagi hari aku pergi—dan biasanya apabila aku pergi di pagi hari, aku memulainya dengan mendatangi 'Aisyah radhiyallāhu 'anhā untuk mengucapkan salam kepadanya. Pada hari itu aku mendatangi beliau, dan ternyata beliau sedang melaksanakan shalat Dhuha seraya membaca ayat: "Faman-nallāhu 'alainā wa waqānā 'ażābas-samūm" (Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka), seraya menangis, berdoa, dan mengulang-ulang ayat tersebut. Maka aku berdiri hingga merasa lelah, sedangkan beliau masih tetap dalam keadaannya. Ketika aku melihat hal itu, aku pergi ke pasar seraya berkata, "Aku akan menyelesaikan keperluanku lalu kembali." Setelah aku menyelesaikan keperluanku, aku pun kembali, dan beliau masih tetap seperti semula, mengulang-ulang ayat tersebut, menangis, dan berdoa.
وقال محمد بن إسحاق لما ورد علينا عبد الرحمن ابن الأسود حاجا اعتلت إحدى قدميه فقام يصلى على قدم واحدة حتى صلى الصبح بوضوء العشاء
Muhammad bin Ishaq berkata: Ketika 'Abdurrahman bin al-Aswad datang kepada kami untuk menunaikan ibadah haji, salah satu kakinya menderita sakit. Maka beliau berdiri melaksanakan shalat dengan satu kaki hingga beliau melaksanakan shalat Subuh dengan wudhu shalat Isya.
وقال بعضهم ما أخاف من الموت إلا من حيث يحول بيني وبين قيام الليل
Sebagian dari mereka berkata, "Aku tidak merasa takut akan kematian melainkan hanya dari sisi bahwa kematian itu akan menghalangi antara diriku dan shalat malam (qiyamul lail)."
وقال علي بن أبي طالب كرم الله وجهه سيما الصالحين صفرة الألوان من السهر وعمش العيون من البكاء وذبول الشفاه من الصوم عليهم غبرة الخاشعين وقيل للحسن ما بال المتهجدين أحسن الناس وجوها فقال لأنهم خلوا بالرحمن فألبسهم نورا من نوره وكان عامر بن عبد القيس يقول إلهى خلقتنى ولم تؤامرنى وتميتنى ولا تعلمنى وخلقت معى عدوا وجعلته يجرى منى مجرى الدم وجعلته يرانى ولا أراه ثم قلت لى استمسك إلهى كيف أستمسك إن لم تمسكنى إلهى في الدنيا الهموم والأحزان وفي الآخرة العقاب والحساب فأين الراحة والفرح وقال جعفر بن محمد كان عتبة الغلام يقطع الليل بثلاث صيحات كان إذا صلى العتمة وضع رأسه بين ركبتيه يتفكر فإذا مضى ثلث الليل صاح صيحة ثم وضع رأسه بين ركبتيه يتفكر فإذا مضى الثلث الثانى صاح صيحة ثم وضع رأسه بين ركبتيه يتفكر فإذا كان السحر صاح صيحة قال جعفر بن محمد فحدثت به بعض البصريين فقال
Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata: "Tanda-tanda orang-orang saleh adalah pucatnya warna kulit karena begadang (melakukan tahajud), kaburnya mata karena menangis, dan layunya bibir karena berpuasa; pada diri mereka terdapat kewibawaan orang-orang yang khusyuk." Dikatakan kepada Al-Hasan (Al-Bashri): "Mengapa orang-orang yang rajin shalat malam (tahajud) memiliki wajah paling elok di antara manusia?" Beliau menjawab: "Karena mereka menyendiri dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, maka Dia mengenakan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya." Amir bin Abd Qais pernah berdoa: "Tuhanku, Engkau menciptakanku tanpa meminta persetujuanku, Engkau mematikkanku tanpa memberitahuku, dan Engkau menciptakan musuh bersamaku yang Engkau jadikan ia mengalir dalam diriku bagaikan aliran darah, Engkau jadikan ia dapat melihatku sedangkan aku tidak dapat melihatnya, kemudian Engkau berfirman kepadaku: 'Pegang teguhlah (tali agama-Ku).' Tuhanku, bagaimana aku dapat berpegang teguh jika Engkau tidak memegangiku? Tuhanku, di dunia terdapat kegundahan dan kesedihan, sedangkan di akhirat terdapat siksa dan hisab, maka di manakah ketenangan dan kebahagiaan itu?" Ja'far bin Muhammad berkata: "Utbah Al-Ghulam biasa melewati malam dengan tiga kali jeritan. Apabila selesai shalat Isya, ia meletakkan kepalanya di antara kedua lututnya seraya bertafakur. Ketika berlalu sepertiga malam, ia menjerit satu kali jeritan, lalu meletakkan kembali kepalanya di antara kedua lututnya seraya bertafakur. Ketika berlalu sepertiga malam kedua, ia menjerit satu kali jeritan, lalu meletakkan kembali kepalanya di antara kedua lututnya seraya bertafakur. Dan ketika tiba waktu sahur (akhir malam), ia menjerit satu kali jeritan." Ja'far bin Muhammad berkata: "Lalu aku menceritakan hal itu kepada sebagian penduduk Bashrah, maka ia berkata:"
لا تنظر الى صياحه ولكن انظر إلى ما كان فيه بين الصيحتين حتى صاح وعن القاسم بن راشد الشيبانى قال كان زمعة نازلا عندنا بالمحصب وكان له أهل وبنات وكان يقوم فيصلى ليلا طويلا فإذا كان السحر نادى بأعلى صوته أيها الركب المعرسون أكل هذا الليل ترقدون أفلا تقومون فترحلون فيتواثبون فيسمع من ههنا باك ومن ههنا داع من ههنا قارئ ومن ههنا متوضئ فإذا طلع الفجر نادى بأعلى صوته عند الصباح يحمد القوم السرى
"Janganlah engkau melihat pada jeritannya, tetapi lihatlah apa yang ia alami di antara dua jeritan itu hingga ia menjerit." Dari Al-Qasim bin Rasyid Ash-Syaibani, ia berkata: "Zamah pernah singgah bersama kami di Al-Muhassab. Ia membawa keluarga dan anak-anak perempuannya. Ia biasa bangun lalu shalat malam yang sangat panjang. Ketika tiba waktu sahur, ia berseru dengan suara terkerasnya: 'Wahai para musafir yang singgah beristirahat malam! Apakah sepanjang malam ini kalian tertidur? Tidakkah kalian bangun lalu berangkat melanjutkan perjalanan?' Maka mereka pun bergegas bangun, sehingga terdengar dari sini orang yang menangis, dari sana orang yang berdoa, dari sini orang yang membaca Al-Qur'an, dan dari sana orang yang berwudhu. Ketika fajar menyingsing, ia berseru dengan suara terkerasnya: 'Pada pagi hari, para musafir akan memuji perjalanan malam (mereka).'"
وقال بعض الحكماء إن لله عبادا أنعم عليهم فعرفوه وشرح صدورهم فأطاعوه وتوكلوا عليه فسلموا الخلق والأمر إليه فصارت قلوبهم معادن لصفاء اليقين وبيوتا للحكمة وتوابيت للعظمة وخزائن للقدرة فهم بين الخلق مقبلون ومدبرون وقلوبهم تجول في الملكوت وتلوذ بمحجوب الغيوم ثم ترجع ومعها طوائف من لطائف الفوائد وما لا يمكن واصفا أن يصفه فهم في باطن أمورهم كالديباج حسنا وهم الظاهر مناديل مبذولون لمن أرادهم تواضعا
Sebagian orang bijak (hukama) berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang telah Dia beri nikmat hingga mereka mengenali-Nya, Dia lapangkan dada mereka hingga mereka menaati-Nya, dan mereka bertawakal kepada-Nya hingga menyerahkan seluruh ciptaan dan urusan kepada-Nya. Maka hati mereka menjadi tambang-tambang kebeningan keyakinan, rumah-rumah hikmah, wadah-wadah keagungan, dan khazanah-khazanah kekuasaan. Mereka berada di tengah-tengah manusia, datang dan pergi, sementara hati mereka berkelana di alam Malakut dan berlindung di balik tirai keghaiban, lalu kembali dengan membawa berbagai kemanfaatan yang lembut serta hal-hal yang tidak mungkin digambarkan oleh seorang penjelas pun. Secara batiniah, keadaan mereka sangat indah bagaikan kain sutra, sedangkan secara lahiriah, mereka bagaikan sapu tangan yang siap melayani siapa saja yang membutuhkan mereka karena ketundukan dan kerendahan hati."
وهذه طريقة لا يبلغ إليها بالتكلف وإنما هو فضل الله يؤتيه من يشاء
Dan jalan ini tidak akan dapat dicapai dengan berpura-pura (dipaksakan), melainkan ini adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.
وقال بعض الصالحين بينما أنا أسير في بعض جبال بيت المقدس إذ هبطت إلى واد هناك فإذا أنا بصوت قد علا وإذا تلك الجبال تجيبه لها دوى عال فاتبعت الصوت فإذا أنا بروضة عليها شجر ملتف وإذا أنا برجل قائم فيها يردد هذه الآية يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خير محضرا إلى قوله ويحذركم الله نفسه قال فجلست خلفه أسمع كلامه وهو يردد هذه الآية إذ صاح صيحة خر مغشيا عليه فقلت وا أسفاه هذا لشقائى
Sebagian orang saleh menceritakan: "Ketika aku sedang berjalan di salah satu pegunungan Baitul Maqdis, tiba-tiba aku turun ke sebuah lembah di sana, dan seketika terdengar suara yang sangat keras, lalu gunung-gunung itu memantulkan gema yang membahana. Aku pun mengikuti arah suara itu, hingga sampai di sebuah taman dengan pepohonan yang rindang, dan ternyata ada seorang laki-laki berdiri di sana seraya mengulang-ulang ayat ini: '(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapati kebajikan yang telah dikerjakannya dihadapkan (kepadanya)…' hingga firman-Nya: 'Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya (siksa-Nya)' [QS. Ali 'Imran: 30]. Ia berkata: Maka aku duduk di belakangnya mendengarkan ucapannya sementara ia terus mengulang-ulang ayat tersebut, hingga tiba-tiba ia menjerit satu jeritan lalu jatuh pingsan. Aku pun berkata: 'Alangkah malangnya, ini terjadi karena kesialanku!'
ثم انتظرت إفاقته فأفاق بعد ساعة فسمعته وهو يقول أعوذ بك من مقام الكذابين أعوذ بك من أعمال البطالين أعوذ بك من إعراض الغافلين
Kemudian aku menunggu kesadarannya. Setelah satu jam, ia pun sadar, lalu aku mendengarnya berdoa: 'Aku berlindung kepada-Mu dari kedudukan orang-orang pendusta, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan orang-orang yang sia-sia, dan aku berlindung kepada-Mu dari keberpalingan orang-orang yang lalai.'
ثم قال لك خشعت قلوب الخائفين وإليك
Kemudian ia berkata: 'Hanya kepada-Mu tunduk khusyuk hati orang-orang yang takut, dan hanya kepada-Mu…'
فزعت آمال المقصرين ولعظمتك ذلت قلوب العارفين ثم نفض يده فقال مالى وللدنيا وما للدنيا وما لى عليك يا دنيا بأبناء جنسك وألاف نعيمك إلى محبيك فاذهبى وإياهم فاخدعى ثم قال أين القرون الماضية وأهل الدهور السالفة في التراب يبلون وعلى الزمان يفنون فناديته يا عبد الله أنا منذ اليوم خلفك أنتظر فراغك فقال وكيف يفرغ من يبادر الأوقات وتبادره يخاف سبقها بالموت إلى نفسه أم كيف يفرغ من ذهبت أيامه وبقيت آثامه ثم قال أنت لها ولكل شدة أتوقع نزولها ثم لها عنى ساعة وقرأ وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون ثم صاح صيحة أخرى أشد من الأولى وخر مغشيا عليه فقلت قد خرجت روحه فدنوت منه فإذا هو يضطرب ثم أفاق وهو يقول من أنا ما خطرى هب لى إساءتى من فضلك وجللني بسترك واعف عن ذنوبى بكرم وجهك إذا وقفت بين يديك فقلت له بالذى ترجوه لنفسك وتثق به إلا كلمتنى فقال عليك بكلام من ينفعك كلامه ودع كلام من أو بقته ذنوبه إنى لفى هذا الموضع مذ شاء الله أجاهد إبليس ويجاهدنى فلم يجد عونا على ليخرجنى مما أنا فيه غيرك فإليك عنى يا مخدوع فقد عطلت على لسانى وميلت إلى حديثك شعبة من قلبى وأنا أعوذ بالله من شرك ثم أرجو أن يعيذنى من سخطه ويتفضل على برحمته قال فقلت هذا ولى الله أخاف أن أشغله فأعاقب فى موضعى هذا فانصرفت وتركته
'…berpulang harapan orang-orang yang serba kekurangan, dan karena keagungan-Mu tunduk hina hati orang-orang yang arif (makrifat).' Kemudian ia mengibaskan tangannya seraya berkata: 'Apa urusanku dengan dunia dan apa urusan dunia denganku? Pergilah wahai dunia bersama orang-orang sejenismu dan kenikmatan-kenikmatanmu yang engkau sukai kepada para pecinta-Mu, maka pergilah dan tipulah mereka!' Lalu ia berkata: 'Di manakah generasi-generasi terdahulu dan penghuni zaman masa lalu? Mereka telah hancur di dalam tanah dan binasa dimakan waktu.' Maka aku memanggilnya: 'Wahai hamba Allah, sejak tadi aku berada di belakangmu menunggu kelonggaran waktumu.' Ia menjawab: 'Bagaimana mungkin bisa senggang orang yang berpacu dengan waktu dan waktu pun memburunya, ia takut kematian mendahului dirinya? Atau bagaimana mungkin bisa senggang orang yang hari-harinya telah berlalu sedangkan dosa-dosanya masih tersisa?' Kemudian ia berkata: 'Engkau (Allah) adalah Pelindung bagiku dan bagi setiap kesukaran yang aku perkirakan akan turun, kemudian jauhkanlah kesukaran itu dariku walau sejenak.' Lalu ia membaca ayat: 'Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.' [QS. Az-Zumar: 47]. Kemudian ia menjerit lagi dengan jeritan yang lebih keras dari yang pertama dan jatuh pingsan. Aku berkata: 'Rupanya ruhnya telah dicabut.' Maka aku mendekatinya, ternyata ia masih bergerak-gerak, lalu ia sadar seraya berkata: 'Siapakah aku ini? Apa hargaku? Anugerahkanlah ampunan atas kejahatanku dengan karunia-Mu, tutuplah diriku dengan penutup-Mu, dan maafkanlah dosa-dosaku dengan kemuliaan Dzat-Mu jika aku berdiri di hadapan-Mu.' Lalu aku berkata kepadanya: 'Demi Dzat yang engkau harapkan dan engkau percayai untuk dirimu, bicaralah denganku!' Ia menjawab: 'Hendaklah engkau mendengarkan ucapan orang yang bermanfaat ucapannya bagimu, dan tinggalkanlah ucapan orang yang telah dibinasakan oleh dosa-dosanya! Sesungguhnya aku berada di tempat ini sejak waktu yang dikehendaki Allah, berjuang melawan Iblis dan ia pun memerangiku. Namun ia tidak menemukan penolong untuk melawanku demi mengeluarkanku dari keadaanku ini selain dirimu. Maka menjauhlah dariku wahai orang yang tertipu, sungguh engkau telah menghambat lisanku dan menyimpangkan sebagian hatiku pada pembicaraanmu. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu, kemudian aku berharap Dia melindungiku dari kemurkaan-Nya dan melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.' (Perawi) berkata: Maka aku berkata dalam hati: 'Ini adalah wali Allah, aku takut mengganggunya sehingga aku dihukum di tempatku ini.' Lalu aku berbalik pergi dan meninggalkannya.
وقال بعض الصالحين بينما أنا أسير في مسير لى إذ ملت إلى شجرة لأستريح تحتها فإذا أنا بشيخ قد أشرف على فقال لى يا هذا قم فإن الموت لم يمت ثم هام على وجه فاتبعته فسمعته وهو يقول كل نفس ذائقة الموت اللهم بارك لى في الموت فقلت وفيما بعد الموت فقال من أيقن بما بعد الموت شمر مئزر الحذر ولم يكن له في الدنيا مستقر ثم قال يا من لوجهه عنت الوجوه بيض وجهى بالنظر إليك واملأ قلبى من المحبة لك وأجرنى من ذلك التوبيخ غدا عندك فقد آن لى الحياء منك وحان لى الرجوع عن الإعراض عنك قم قال لولا حلمك لم يسعنى أجلى ولولا عفوك لم ينبسط فيما عندك أملى ثم مضى وتركنى
Sebagian orang saleh menceritakan: "Ketika aku sedang menempuh suatu perjalanan, aku menyimpang ke sebuah pohon untuk beristirahat di bawahnya. Tiba-tiba ada seorang syekh yang menatapku lalu berkata kepadaku: 'Wahai orang ini, bangunlah! Sesungguhnya kematian itu belum mati.' Kemudian ia berjalan tanpa arah, maka aku mengikutinya dan mendengarnya berkata: 'Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Ya Allah, berkahilah aku dalam kematian.' Maka aku berucap: 'Dan juga pada apa yang setelah kematian.' Ia berkata: 'Barangsiapa meyakini apa yang terjadi setelah kematian, niscaya ia akan menyingsingkan lengan baju kewaspadaan dan tidak akan memiliki tempat bermukim yang tenang di dunia.' Kemudian ia berdoa: 'Wahai Dzat yang kepada Wajah-Nya tunduk segala wajah, putihkanlah wajahku dengan memandang kepada-Mu, penuhilah hatiku dengan kecintaan kepada-Mu, dan lindungilah aku dari celaan besok di sisi-Mu, sungguh telah tiba waktunya bagiku untuk malu kepada-Mu dan telah tiba saatnya bagiku untuk kembali dari berpaling dari-Mu.' Kemudian ia berkata: 'Jikalau bukan karena kelembutan-Mu, niscaya ajalku tidak akan melapangkanku, dan jikalau bukan karena ampunan-Mu, niscaya harapanku terhadap apa yang ada di sisi-Mu tidak akan membentang.' Kemudian ia berlalu dan meninggalkanku."
وقد أنشدوا في هذا المعنى
Dan mereka (para ulama) telah mendendangkan syair mengenai makna ini:
نحيل الجسم مكتئب الفؤاد … تراه بقمة أو بطن وادى
Tubuhnya kurus kering, hatinya didera duka cita… Engkau dapat melihatnya berada di puncak gunung atau di dasar lembah.
ينوح على معاص فاضحات … يكدر ثقلها صفو الرقاد
Ia meratapi maksiat-maksiat yang menyingkapkan aibnya… Yang beratnya telah mengeruhkan kebeningan tidurnya.
فإن هاجت مخاوفه وزادت … فدعوته أغثنى يا عمادى
Maka jika rasa takutnya bergejolak dan kian bertambah… Dianjurkannya doa: 'Tolonglah aku, wahai Sandaranku!'
فأنت بما ألاقيه عليم
Sebab Engkau Maha Mengetahui apa yang aku hadapi,
كثير الصفح عن زلل العباد وقيل أيضا
Maha Banyak memberi maaf atas kekhilafan para hamba. Dan dikatakan pula (dalam bait lain):
ألذ من التلذذ بالغوانى … إذا أقبلن في حلل حسان
Lebih lezat daripada bersenang-senang dengan wanita-wanita jelita… Ketika mereka datang mengenakan gaun-gaun yang indah,
منيب فر من أهل ومال … يسيح إلى مكان من مكان
Yaitu seorang penyesal (yang bertaubat) yang lari dari keluarga dan harta… Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain,
ليخمل ذكره ويعيش فردا … ويظهر في العبادة بالأمانى
Agar sebutannya menjadi tak dikenal dan ia hidup menyendiri… Dan ia tampak dalam beribadah dengan cita-cita yang mulia.
تلذذه التلاوة أين ولى … وذكر بالفؤاد وباللسان
Kelezatannya adalah bacaan Al-Qur'an ke mana pun ia berpaling… Serta zikir dengan hati dan dengan lisan.
وعند الموت يأتيه بشير … يبشر بالنجاة من الهوان
Dan saat kematian datanglah kepadanya pembawa kabar gembira… Yang menyampaikan berita gembira berupa keselamatan dari kehinaan.
فيدرك ما أراد وما تمنى … من الراحات في غرف الجنان
Maka ia mendapati apa yang ia kehendaki dan ia cita-citakan… berupa kedamaian dan kenikmatan di mahligai-mahligai surga.
وكان كرز بن وبرة يختم القرآن في كل يوم ثلاث مرات ويجاهد نفسه في العبادات غاية المجاهدة فقيل له قد أجهدت نفسك فقال كم عمر الدنيا فقيل سبعة آلاف سنة فقال كم مقدار يوم القيامة فقيل خمسون ألف سنة فقال كيف يعجز أحدكم أن يعمل سبع يوم حتى يأمن ذلك اليوم يعنى أنك لو عشت عمر الدنيا واجتهدت
Dahulu Kurz bin Wabarah biasa mengkhatamkan Al-Qur'an tiga kali dalam sehari dan bermujahadah menundukkan nafsunya dalam ibadah hingga puncak mujahadah. Lalu dikatakan kepadanya, 'Engkau telah terlalu memaksakan dirimu.' Ia pun bertanya, 'Berapakah umur dunia?' Dijawab, 'Tujuh ribu tahun.' Ia bertanya lagi, 'Berapakah kadar waktu Hari Kiamat?' Dijawab, 'Lima puluh ribu tahun.' Maka ia berkata, 'Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian merasa lemah untuk beramal selama sepertujuh hari (dibandingkan masa itu) agar ia aman pada hari tersebut?' Maksudnya, sekiranya engkau hidup sepanjang umur dunia dan bersungguh-sungguh (bermujahadah)…
سبعة آلاف سنة وتخلصت من يوم واحد كان مقداره خمسين ألف سنة لكان ربحك كثيرا وكنت بالرغبة فيه جديرا فكيف وعمرك قصير والآخرة لا غاية لها فهكذا كانت سيرة السلف الصالحين في مرابطة النفس ومراقبتها
…selama tujuh ribu tahun, lalu engkau dapat selamat dari satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, sungguh keuntunganmu sangat besar dan engkau sangat layak untuk menginginkannya. Lantas bagaimana lagi padahal umurmu singkat sedangkan akhirat tidak ada batasnya? Demikianlah rekam jejak (sirah) para Salaf yang saleh dalam bermurabathah (mengawal) dan bermuraqabah (mengawasi) nafsu mereka.
فمهما تمردت نفسك عليك وامتنعت من المواظبة على العبادة فطالع أحوال هؤلاء فإنه قد عز الآن وجود مثلهم ولو قدرت على مشاهدة من اقتدى بهم فهو أنجع في القلب وأبعث على الاقتداء فليس الخبر كالمعاينة وإذا عجزت عن هذا فلا تغفل عن سماع أحوال هؤلاء فإن لم تكن إبل فمعزى وخير نفسك بين الاقتداء بهم والكون في زمرتهم وغمارهم وهم العقلاء والحكماء وذوو البصائر في الدين وبين الاقتداء بالجهلة الغافلين من أهل عصرك ولا ترض لها أن تنخرط في سلك الحمقى وتقنع بالتشبه بالأغبياء وتؤثر مخالفة العقلاء
Maka bilamana nafsumu membangkang terhadapmu dan enggan untuk konsisten (muwadhabah) dalam beribadah, perhatikanlah keadaan orang-orang tersebut. Sungguh, pada masa sekarang sangat langka menemukan orang yang seperti mereka. Sekiranya engkau sanggup menyaksikan orang yang meneladani mereka, hal itu akan lebih berbekas dalam hati dan lebih membangkitkan tekad untuk meniru, sebab 'kabar berita tidaklah sama dengan menyaksikan langsung'. Dan apabila engkau tidak mampu melakukan hal ini, janganlah lalai dari mendengarkan riwayat keadaan mereka; sebab 'jika tidak ada unta, kambing pun jadilah'. Berikan pilihan kepada nafsumu antara meneladani mereka dan berada dalam rombongan serta barisan mereka—yaitu orang-orang yang berakal, berhikmah, dan memiliki mata hati (bashirah) dalam agama—atau meneladani orang-orang bodoh yang lalai dari penduduk zamanmu. Janganlah engkau merelakan nafsumu masuk ke dalam golongan orang-orang dungu, merasa puas menyerupai orang-orang bodoh, dan memilih untuk menyelisihi orang-orang yang berakal.
فإن حدثتك نفسك بأن هؤلاء رجال أقوياء لا يطاق الاقتداء بهم فطالع أحوال النساء المجتهدات وقل لها يا نفس لا تستنكفى أن تكونى أقل من امرأة فأخسس برجل يقصر عن امرأة في أمر دينها ودنياها ولنذكر الآن نبذة من أحوال المجتهدات فقد روى عن حبيبة العدوية أنها كانت إذا صلت العتمة قامت على سطح لها وشدت عليها درعها وخمارها ثم قالت إلهى قد غارت النجوم ونامت العيون وغلقت الملوك أبوابها وخلا كل حبيب بحبيبه وهذا مقامى بين يديك ثم تقبل على صلاتها فإذا طلع الفجر قالت إلهى هذا الليل قد أدبر وهذا النهار قد أسفر فليت شعرى أقبلت منى ليلتى فأهنا أم رددتها على فأعزى وعزتك لهذا دأبى ودأبك ما أبقيتنى وعزتك لو انتهرتنى عن بابك ما برحت لما وقع في نفسى من جودك وكرمك
Jika nafsumu membisikkan kepadamu bahwa mereka adalah kaum lelaki yang kuat yang tidak sanggup diteladani, maka perhatikanlah keadaan para wanita yang bersungguh-sungguh dalam beribadah (al-mujtahidat). Katakanlah kepadanya, 'Wahai nafsu, janganlah engkau enggan sehingga menjadi lebih rendah dari seorang wanita! Sungguh alangkah hinanya seorang lelaki yang kalah dari seorang wanita dalam urusan agama dan dunianya.' Dan marilah sekarang kita sebutkan sekelumit dari keadaan para wanita yang giat beribadah tersebut. Diriwayatkan dari Habibah al-Adawiyyah bahwa apabila ia telah menunaikan shalat 'Isya, ia berdiri di atas atap rumahnya, merapatkan baju dan kerudungnya, lalu berkata, 'Wahai Tuhanku, bintang-bintang telah tenggelam, mata-mata telah tertidur, raja-raja telah mengunci pintu-pintu mereka, dan setiap kekasih telah berduaan dengan kekasihnya, sementara inilah berdiriku di hadapan-Mu.' Kemudian ia menghadap penuh pada shalatnya. Ketika fajar menyingsing, ia berkata, 'Wahai Tuhanku, malam ini telah berlalu dan siang ini telah terang. Duhai sekiranya aku tahu, apakah malamku ini Engkau terima dariku sehingga aku merasa bahagia, ataukah Engkau tolak sehingga aku harus berbelasungkawa? Demi keagungan-Mu, inilah kebiasaanku dan kebiasaan (kedermawanan)-Mu selagi Engkau menghidupkanku. Demi keagungan-Mu, sekiranya Engkau mengusirku dari pintu-Mu, aku tidak akan bergeming, disebabkan apa yang tertancap dalam jiwaku akan kedermawanan dan kemurahan-Mu.'
ويروى عن عجزة أنها كانت تحيى الليل وكانت مكفوفة البصر فإذا كان في السحر نادت بصوت لها محزون إليك قطع العابدون دجى الليالى يستبقون إلى رحمتك وفضل مغفرتك فبك يا إلهى أسألك لا بغيرك أن تجعلنى في أول زمرة السابقين وأن ترفعنى لديك في عليين في درجة المقربين وان تلحقنى بعبادك الصالحين فأنت أرحم الرحماء وأعظم العظماء وأكرم الكرماء يا كريم ثم تخر ساجدة فيسمع لها وجبة ثم لا تزال تدعو وتبكى إلى الفجر
Diriwayatkan pula dari 'Ajazah bahwa ia biasa menghidupkan malam (dengan ibadah) dan ia adalah seorang wanita tuna netra. Apabila tiba waktu sahur, ia memanggil dengan suaranya yang pilu, 'Kepada-Mu lah para hamba yang ahli ibadah menembus kegelapan malam, berlomba-lomba menuju rahmat-Mu dan keutamaan ampunan-Mu. Maka demi Diri-Mu wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dan bukan kepada selain-Mu, agar Engkau menjadikanku berada dalam barisan awal orang-orang yang terdahulu (as-sabiqun), mengangkat derajatku di sisi-Mu di 'Illiyyin dalam derajat orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun), dan mempertemukanku dengan hamba-hamba-Mu yang saleh. Sebab Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara penyayang, Maha Agung di antara yang agung, dan Maha Pemurah di antara yang pemurah, wahai Yang Maha Pemurah.' Kemudian ia tersungkur sujud hingga terdengar hempasan tubuhnya, lalu ia terus berdoa dan menangis sampai terbit fajar.
وقال يحيى بن بسطام كنت أشهد مجلس شعوانة فكنت أرى ما تصنع من النياحة والبكاء فقلت لصاحب لى لو أتيناها إذا خلت فأمرناها بالرفق بنفسها فقال أنت وذاك قال فأتينا فقلت لها لو رفقت بنفسك وأقصرت عن هذا البكاء شيئا فكان لك أقوى على ما تريدين قال فبكت ثم قالت والله لوددت أنى أبكى حتى تنفد دموعى ثم أبكى دما حتى لا تبقى قطرة من دم في جارحة من جوارحى وأنى لى بالبكاء وأنى لى بالبكاء
Yahya bin Bastam berkata: Aku pernah menghadiri majelis Sya'wanah, dan aku melihat apa yang dilakukannya berupa tangisan meratap dan kesedihan yang mendalam. Maka aku berkata kepada seorang temanku, 'Bagaimana kalau kita mendatanginya ketika ia sedang sendiri, lalu kita minta ia bersikap lembut terhadap dirinya sendiri?' Temanku menjawab, 'Terserah padamu.' Ia menceritakan: Maka kami mendatangi Sya'wanah dan aku berkata kepadanya, 'Sekiranya engkau bersikap lembut pada dirimu dan sedikit mengurai tangisan ini, tentu itu akan membuatmu lebih kuat melakukan apa yang engkau inginkan.' Ia berkata: Maka Sya'wanah pun menangis lalu berkata, 'Demi Allah, sungguh aku berkeinginan untuk menangis hingga air mataku habis, kemudian menangis darah hingga tidak tersisa setetes darah pun di setiap anggota tubuhku. Dan dari mana aku bisa puas menangis? Dari mana aku bisa puas menangis?'
فلم تزل تردد وأنى لى بالبكاء حتى غشى عليها
Ia terus mengulang-ulang perkataan: 'Dan dari mana aku bisa puas menangis?' hingga ia pingsan.
وقال محمد بن معاذ حدثتنى امرأة من المتعبدات قالت رأيت في منامى كأنى أدخلت الجنة فإذا أهل الجنة قيام على أبوابهم فقلت ما شأن أهل الجنة قيام فقال لى قائل خرجوا ينظرون إلى هذه المرأة التى زخرفت الجنان لقدومها فقلت ومن هذه المرأة فقيل أمة سوداء من أهل الأيكة يقال لها شعوانة
Muhammad bin Mu'adz berkata: Seorang wanita ahli ibadah menceritakan kepadaku, katanya: Aku bermimpi seolah-olah dimasukkan ke dalam surga. Tiba-tiba penghuni surga berdiri di depan pintu-pintu mereka. Aku bertanya, 'Ada apa dengan penghuni surga sampai berdiri begitu?' Seorang penyeru berkata kepadaku, 'Mereka keluar untuk melihat wanita yang surga-surga dihiasi demi menyambut kedatangannya.' Aku bertanya, 'Siapakah wanita ini?' Dikatakan, 'Seorang hamba wanita berkulit hitam dari penduduk Al-Aikah yang bernama Sya'wanah.'
قالت فقلت أختى والله قالت فبينما أنا كذلك إذ أقبل بها على نجيبة تطير بها في الهواء فلما رأيتها ناديت يا أختى أما ترين مكانى من مكانك فلو دعوت لى مولاك فألحقنى بك قالت فتبسمت إلى وقالت لم يأن لقدومك ولكن احفظى عنى اثنتين ألزمى الحزن قلبك وقدمى محبة الله على هواك ولا يضرك متى مت وقال عبد الله بن الحسن كانت لى جارية رومية وكنت بها معجبا فكانت في بعض الليالى نائمة إلى جنبى فانتبهت فالتمستها فلم أجدها فقمت أطلبها فإذا هى ساجدة وهي تقول بحبك لي الا ما غفرت لي ذنوبي فقلت لها لا تقولي بحبك لي ولكن قولي بحبى لك فقالت يا مولاي بحبه لي أخرجني من الشرك إلى الاسلام وبحبه لي أيقظ عيني وكثير من خلقه نيام وقال أبو هاشم القرشي قدمت علينا امرأة من أهل اليمن يقال لها سرية فنزلت في بعض
Ia menceritakan: Aku berkata, 'Demi Allah, ia adalah saudariku.' Ketika aku sedang demikian, tiba-tiba ia datang menunggangi unta betina yang cerdas yang terbang membawanya di udara. Ketika aku melihatnya, aku berteriak, 'Wahai saudariku, tidakkah engkau melihat posisiku dari posisimu? Sekiranya engkau berdoa kepada Tuhanmu untukku agar Dia mempertemukanku denganmu.' Wanita itu tersenyum kepadaku dan berkata, 'Belum tiba saatnya kedatanganmu, namun jagalah dariku dua hal: tetapkanlah rasa sedih (atas dosa) di dalam hatimu, dan dahulukanlah kecintaan kepada Allah di atas hawa nafsumu, niscaya tidak akan membahayakanmu kapan pun engkau mati.' Dan Abdullah bin al-Hasan berkata: Aku memiliki seorang hamba sahaya wanita dari Romawi dan aku sangat mengaguminya. Pada suatu malam ia sedang tidur di sampingku, lalu aku terbangun dan mencarinya namun tidak menemukannya. Aku berdiri mencarinya, dan ternyata ia sedang sujud seraya berdoa, 'Demi cinta-Mu kepadaku, ampunilah dosa-dosaku.' Maka aku berkata kepadanya, 'Jangan katakan demi cinta-Mu kepadaku, tetapi katakanlah demi cintaku kepada-Mu.' Wanita itu menjawab, 'Wahai tuanku, karena cinta-Nya kepadakulah Dia mengeluarkanku dari kemusyrikan menuju Islam, dan karena cinta-Nya kepadakulah Dia membangunkan mataku padahal banyak dari makhluk-Nya yang tertidur.' Dan Abu Hasyim al-Qurasyi berkata: Seorang wanita dari penduduk Yaman bernama Surriyyah datang kepada kami, lalu ia singgah di sebagian…
ديارنا قال فكنت أسمع لها من الليل أنينا وشهيقا فقلت يوما لخادم لي أشرف على هذه المرأة ماذا تصنع قال فأشرف عليها فما رآها تصنع شيئيا غير أنها لا ترد طرفها عن السماء وهي مستقبلة القبلة تقول خلقت سرية ثم غذيتها بنعمتك من حال إلى حال وكل أحوالك لها حسنة وكل بلائك عندها جميل وهي مع ذلك متعرضة لسخطك بالتوثب على معاصيك فلتة بعد فلتة أتراها تظن أنك لا ترى فعالها وأنت عليم خبير وأنت على كل شيء قدير وقال ذو النون المصري خرجت ليلة من وادي كنعان فلما علوت الوادي إذا سواد مقبل على وهو يقول وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون ويبكي فلما قرب مني السواد اذا هي امرأة عليها جبة صوف وبيدها ركوة فقالت لي من أنت غير فزعة مني فقلت رجل غريب فقالت يا هذا وهل يوجد مع الله غربة قال فبكيت لقولها فقالت ما الذي أبكاك فقلت قد وقع الدواء على داء قد قرح فأسرع في نجاحه قالت فإن كنت صادقا فلم بكيت قلت يرحمك الله والصادق لا يبكي قالت لا قلت ولم ذاك قالت لأن البكاء راحة القلب فسكت متعجبا من قولها
…negeri kami. Ia berkata: Aku sering mendengar rintihan dan isak tangisnya di malam hari. Suatu hari aku berkata kepada pelayanku, 'Lihatlah wanita ini, apa yang sedang dilakukannya?' Pelayan itu pun mengamatinya, dan ia tidak melihat wanita itu melakukan sesuatu melainkan tidak memalingkan pandangannya dari langit seraya menghadap kiblat dan berkata, 'Engkau menciptakan Surriyyah, kemudian Engkau memberinya rezeki dari kenikmatan-Mu dari satu keadaan ke keadaan lain, dan seluruh keadaan-Mu baginya adalah baik, serta seluruh ujian-Mu di sisinya adalah indah; namun ia dengan itu semua tetap menantang kemurkaan-Mu dengan menerjang kemaksiatan-Mu berkali-kali. Haruskah ia mengira bahwa Engkau tidak melihat perbuatannya, padahal Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Teliti, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu?' Dan Dzun Nun al-Mishri berkata: Pada suatu malam aku keluar dari Lembah Kan'an. Ketika aku menaiki lembah tersebut, tiba-tiba ada sosok hitam mendatangiku seraya mengutip, 'Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perhitungkan' (QS. Az-Zumar: 47) sambil menangis. Ketika sosok itu mendekat, ternyata ia adalah seorang wanita yang mengenakan jubah wol dan memegang bejana air (rakwah). Ia berkata kepadaku tanpa rasa takut sedikit pun dariku, 'Siapakah engkau?' Aku menjawab, 'Seorang yang asing.' Ia berkata, 'Wahai orang ini, apakah ada keterasingan jika bersama Allah?' Dzun Nun berkata: Aku pun menangis karena ucapannya. Wanita itu bertanya, 'Apa yang membuatmu menangis?' Aku menjawab, 'Obat telah tepat mengenai penyakit yang telah meluka hingga mempercepat kesembuhannya.' Ia berkata, 'Jika engkau jujur, lantas mengapa engkau menangis?' Aku berkata, 'Semoga Allah merahmatimu, apakah orang yang jujur itu tidak menangis?' Ia menjawab, 'Tidak.' Aku bertanya, 'Mengapa demikian?' Ia menjawab, 'Karena tangisan adalah peristirahatan bagi hati.' Maka aku pun diam terpesona oleh ucapannya.
وقال أحمد بن علي استأذنا على عفيرة فحجبتنا فلازمنا الباب فلما علمت ذلك قامت لتفتح الباب لنا فسمعتها وهي تقول اللهم إني أعوذ بك ممن جاء يشغلني عن ذكرك ثم فتحت الباب ودخلنا عليها فقلنا لها يا أمة الله ادعي لنا فقالت جعل الله قراءكم في بيتى المغفرة ثم قالت لنا مكث عطاء السلمي أربعين سنة فكان لا ينظر إلى السماء فحانت منه نظرة فخر مغشيا عليه فأصابه فتق في بطنه فيا ليت عفيرة إذا رفعت رأسها لم تعص وياليتها إذا عصت لم تعد وقال بعض الصالحين خرجت يوما إلى السوق ومعى جارية حبشية فاحتبستها في موضع بناحية السوق وذهبت في بعض حوائجى وقلت لا تبرحى حتى أنصرف إليك قال فانصرفت فلم أجدها في الموضع فانصرفت إلى منزلى وأنا شديد الغضب عليها فلما رأتنى عرفت الغضب في وجهى فقالت يا مولاى لا تعجل على إنك أجلستنى في موضع لم أر فيه ذاكرا لله تعالى فخفت أن يخسف بذلك الموضع فعجبت لقولها وقلت لها أنت حرة
Ahmad bin 'Ali berkata: Kami meminta izin menemui 'Afirah, lalu ia membatasi/menutup diri dari kami. Kami pun tetap menanti di pintu. Ketika ia mengetahui hal itu, ia berdiri membukakan pintu untuk kami. Aku mendengarnya berkata, 'Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari orang yang datang untuk memalingkanku dari mengingat-Mu.' Kemudian ia membuka pintu dan kami masuk menemunya. Kami berkata kepadanya, 'Wahai hamba Allah, doakanlah kami.' Ia berkata, 'Semoga Allah menjadikan bacaan Al-Qur'an orang-orang yang membaca di rumahku ini sebagai sebab ampunan.' Kemudian ia berkata kepada kami, 'Athā' al-Sulamī menetap selama empat puluh tahun tanpa menengadahkan pandangannya ke langit. Suatu ketika terlintas pandangannya (ke langit), lalu ia jatuh pingsan hingga perutnya menderita luka. Duhai, sekiranya 'Afirah ketika mengangkat kepalanya tidak bermaksiat, dan duhai sekiranya ketika bermaksiat ia tidak mengulanginya.' Dan sebagian orang saleh bercerita: Pada suatu hari aku keluar ke pasar bersama seorang hamba sahaya wanita asal Habasyah. Aku menyuruhnya menunggu di suatu tempat di sudut pasar, lalu aku pergi untuk suatu keperluanku seraya berkata, 'Jangan beranjak sampai aku kembali padamu.' Ia menceritakan: Ketika aku kembali, aku tidak menemukannya di tempat tersebut, maka aku pulang ke rumah dalam keadaan sangat marah kepadanya. Ketika ia melihatku, ia mengenali kemarahan di wajahku dan berkata, 'Wahai tuanku, janganlah terburu-buru menghukumku. Sungguh engkau mendudukkanku di tempat yang tidak kulihat seorang pun mengingat Allah Ta'ala di sana, maka aku takut tempat itu akan dibenamkan ke bumi.' Aku pun kagum dengan ucapannya dan berkata kepadanya, 'Engkau merdeka!'
فقالت ما صنعت كنت أخدمك فيكون لى أجران وأما الآن فقد ذهب عنى أحدهما
Hamba sahaya itu berkata, 'Betapa ruginya apa yang engkau perbuat. Dahulu aku melayanimu sehingga aku mendapat dua pahala, sedangkan sekarang telah hilang dariku salah satu dari pahala tersebut.'
وقال ابن العلاء السعدى كانت لى ابنة عم يقال لها بريرة تعبدت وكانت كثيرة القراءة في المصحف فكلما أتت على آية فيها ذكر النار بكت فلم تزل تبكى حتى ذهبت عيناها من البكاء فقال بنو عمها انطلقوا بنا إلى هذه المرأة حتى نعدلها في كثرة البكاء قال فدخلنا عليها فقلنا يا بريرة كيف أصبحت قالت أصبحنا أضيافا منيخين بأرض غربة ننتظر متى ندعى فنجيب فقلنا لها ما هذا البكاء قد ذهبت عيناك منه فقالت إن يكن لعينى عند الله خير فما يضرهما ما ذهب منهما في الدنيا وإن كان لهما عند الله شر فسيزيدهما بكاء أطول من هذا ثم أعرضت
Ibnu al-'Ala' as-Sa'di berkata: Aku memiliki sepupu wanita bernama Barirah. Ia sangat tekun beribadah dan banyak membaca mushaf Al-Qur'an. Setiap kali ia melewati ayat yang menyebutkan neraka, ia menangis. Ia terus menangis hingga penglihatannya hilang akibat menangis. Maka sepupu-sepupunya berkata, 'Marilah kita pergi menemui wanita ini agar kita dapat menasihatinya supaya mengurangi tangisannya.' Ia menceritakan: Kami pun mendatangi Barirah dan bertanya, 'Wahai Barirah, bagaimana keadaanmu pagi ini?' Ia menjawab, 'Kami memasuki pagi sebagai para tamu yang menghentikan tunggangan di tanah asing, menanti kapan kami dipanggil lalu kami menyambutnya.' Kami berkata kepadanya, 'Apa arti tangisan yang terus-menerus ini, padahal penglihatan matamu telah hilang karenanya?' Ia menjawab, 'Jika kedua mataku memiliki kebaikan di sisi Allah, tidaklah memudaratkan apa yang hilang dari keduanya di dunia; namun jika keduanya memiliki keburukan di sisi Allah, niscaya Allah akan menambah bagi keduanya tangisan yang lebih panjang dari ini.' Kemudian ia berpaling.
قال فقال القوم قوموا بنا فهى والله في شىء غير ما نحن فيه وكانت معاذة العدوية إذا جاء النهار تقول هذا يومى الذى أموت فيه فما تطعم حتى تمسى فإذا جاء الليل تقول هذه الليلة التى أموت فيها فتصلى حتى تصبح وقال أبو سليمان الداراني بت ليلة عند رابعة فقامت إلى محراب لها وقمت أنا إلى ناحية من البيت فلم تزل قائمة إلى السحر فلما كان السحر قلت ما جزاء من قوانا على قيام هذه الليلة قالت جزاؤه أن تصوم له غدا وكانت شعوانة تقول في دعائها إلهى ما أشوقنى إلى لقائك وأعظم رجائى لجزائك وأنت الكريم الذى لا يخيب لديك أمل الآملين ولا يبطل عندك شوق المشتاقين إلهى إن كان دنا أجلى ولم يقربنى منك عمل فقد جعلت الاعتراف بالذنب وسائل عللى فإن عفوت فمن أولى منك بذلك وإن عذبت فمن أعدل منك هنالك إلهى قد جرت على نفسى في النظر لها وبقى لها حسن نظرك فالويل لها إن لم تسعدها إلهى إنك لم تزل بى برا أيام حياتى فلا تقطع عنى برك بعد مماتى
Ia berkata: Orang-orang pun berkata, 'Berdirilah kalian bersama kami, demi Allah, sungguh ia berada dalam kesadaran spiritual yang amat berbeda dengan keadaan kita.' Mu'adzah al-'Adawiyyah apabila siang datang biasa berkata, 'Inilah hari di mana aku akan mati,' maka ia tidak makan hingga sore hari. Dan apabila malam tiba ia berkata, 'Inilah malam di mana aku akan mati,' maka ia shalat hingga pagi. Abu Sulaiman ad-Darani berkata: Aku menginap semalam di rumah Rabi'ah. Ia berdiri shalat di mihrabnya sementara aku berdiri di salah satu sudut rumah. Ia terus berdiri shalat hingga waktu sahur. Ketika waktu sahur tiba, aku berkata, 'Apakah balasan bagi yang telah menguatkan kita untuk melakukan qiyamul lail malam ini?' Ia menjawab, 'Balasannya adalah engkau berpuasa untuk-Nya esok hari.' Dan Sya'wanah dalam doanya sering mengucapkan: 'Tuhanku, alangkah rindunya aku untuk bertemu dengan-Mu, dan alangkah besarnya harapanku akan balasan pahala-Mu. Engkaulah Yang Maha Pemurah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang-orang yang berharap di sisi-Mu, dan tidak pernah menyia-nyiakan kerinduan orang-orang yang rindu. Tuhanku, jika ajalku telah dekat sementara amal perbuatanku belum mendekatkanku kepada-Mu, maka aku jadikan pengakuan akan dosa sebagai sarana permohonanku. Jika Engkau mengampuni, siapakah yang lebih berhak akan hal itu selain Engkau? Dan jika Engkau mengazab, siapakah yang lebih adil dari-Mu dalam keputusan itu? Tuhanku, sungguh aku telah berbuat zalim terhadap diriku dalam mengurusnya, namun yang tersisa baginya adalah kebaikan pandangan-Mu; maka celakalah ia jika Engkau tidak membahagiakannya. Tuhanku, Engkau senantiasa berbuat baik kepadaku sepanjang hari-hari hidupku, maka janganlah Engkau putuskan kebaikan-Mu dariku setelah kematianku.'
ولقد رجوت ممن تولانى في حياتى بإحسانه أن يسعفنى عند مماتى بغفرانه إلهى كيف أيأس من حسن نظرك بعد مماتى ولم تولنى إلا الجميل في حياتى إلهى إن كانت ذنوبى قد أخافتنى فإن محبتى لك قد أجارتنى فتول من أمرى ما أنت أهله وعد بفضلك على من غره جهله إلهى لو أردت إهانتى لما هديتنى ولو أردت فضيحتى لم تسترنى فمتعنى بما له هديتنى وأدم لى ما به سترتنى إلهى ما أظنك تردنى في حاجة أفنيت فيها عمرى إلهى لولا ما قارفت من الذنوب ما خفت عقابك ولولا ما عرفت من كرمك ما رجوت ثوابك وقال الخواص دخلنا على رحلة العابدة وكانت قد صامت حتى اسودت وبكت حتى عميت وصلت حتى أقعدت وكانت تصلى قاعدة فسلمنا عليها ثم ذكرناها شيئا من العفو ليهون عليها الأمر قال فشهقت ثم قالت علمى بنفسى قرح فؤادى وكلم كبدى والله لوددت أن الله لم يخلقنى ولم أك شيئا مذكورا ثم أقبلت على صلاتها
'Dan sungguh aku sangat berharap kepada Dzat yang memeliharaku sepanjang hidupku dengan kebaikan-Nya untuk menolongku sewaktu matiku dengan ampunan-Nya. Tuhanku, bagaimana aku akan berputus asa dari kebaikan pandangan-Mu setelah matiku, padahal Engkau tidak pernah memberikanku selain keindahan sepanjang hidupku? Tuhanku, jika dosa-dosaku telah menakutiku, maka sungguh kecintaanku kepada-Mu telah melindungiku. Maka uruslah perkaraku sebagaimana yang patut bagi-Mu, dan kembalilah dengan karunia-Mu kepada orang yang telah terperdaya oleh kebodohannya. Tuhanku, jikalau Engkau menghendaki kehinaanku, tentu Engkau tidak akan memberiku petunjuk; dan jikalau Engkau menghendaki aibku terbuka, tentu Engkau tidak akan menutupi dosaku. Maka berilah aku kenikmatan atas apa yang telah Engkau tunjukkan kepadaku, dan abadikanlah bagiku penutup aib yang telah Engkau berikan padaku. Tuhanku, aku tidak menyangka Engkau akan menolakku dalam hajat yang telah aku habiskan usiaku padanya. Tuhanku, jikalau bukan karena dosa-dosa yang telah aku perbuat, niscaya aku tidak takut akan siksa-Mu; dan jikalau bukan karena apa yang aku ketahui dari kemurahan-Mu, niscaya aku tidak berharap akan pahala-Mu.' Dan al-Khawwash berkata: Kami mendatangi Rihlata al-'Abidah (wanita ahli ibadah), dan ia telah berpuasa hingga kulitnya menghitam, menangis hingga buta, dan shalat hingga fisik kakinya tidak mampu berdiri sehingga ia shalat sambil duduk. Kami memberi salam kepadanya, lalu mengingatkannya tentang kelapangan ampunan Allah agar hal itu melegakan bebannya. Ia menceritakan: Maka ia menghela napas panjang (terisak) lalu berkata, 'Pengetahuanku tentang diriku telah melukai hatiku dan menggores jiwaku. Demi Allah, sungguh aku berkeinginan sekiranya Allah tidak menciptakanku dan aku tidak menjadi sesuatu yang disebut-sebut.' Kemudian ia kembali melanjutkan shalatnya.
فعليك إن كنت من المرابطين المراقبين لنفسك أن تطالع أحوال الرجال والنساء من المجتهدين لينبعث نشاطك ويزيد حرصك وإياك أن تنظر إلى أهل عصرك فإنك إن تطع أكثر من في الأرض يضلوك على سبيل الله
Maka hendaknya engkau—jika engkau termasuk orang-orang yang bermurabathah (berjaga-jaga) dan bermuraqabah (mengawasi) dirimu—memperhatikan keadaan kaum pria dan wanita dari kalangan yang bersungguh-sungguh dalam ibadah (al-mujtahidin wal-mujtahidat), agar bangkit semangatmu dan bertambah kesungguhanmu. Dan berhati-hatilah dari melihat (meneladani) penduduk zamanmu, karena sesungguhnya 'jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah' (QS. Al-An'am: 116).
وحكايات المجتهدين غير محصورة وفيما ذكرناه كفاية للمعتبر
Kisah-kisah orang yang giat beribadah tidaklah terhitung jumlahnya, dan apa yang telah kami sebutkan ini sudah mencukupi bagi orang yang ingin mengambil iktibar (pelajaran).
وإن أردت مزيدا فعليك بالمواظبة على مطالعة كتاب حلية الأولياء فهو مشتمل على شرح أحوال الصحابة والتابعين ومن بعدهم وبالوقوف عليه يستبين لك بعدك وبعد أهل عصرك من أهل الدين
Dan jika engkau menginginkan tambahan, hendaknya engkau mendawamkan (merutinkan) pembacaan kitab *Hilyatul Auliya'*, sebab kitab tersebut mencakup penjelasan keadaan para Sahabat, Tabi'in, dan orang-orang setelah mereka. Dengan menelaahnya, akan makin jelas bagimu betapa jauhnya engkau dan penduduk zamanmu dari ahli agama (orang-orang yang taat).
فإن حدثتك نفسك بالنظر إلى أهل زمانك وقالت إنما تيسر الخير في ذلك الزمانلكثرة الأعوان والآن فإن خالفت أهل زمانك رأوك مجنونا وسخروا بك فوافقهم فيما هم فيه وعليه فلا يجرى عليك إلا ما يجرى عليهم والمصيبة إذا عمت طابت فإياك أن تتدلى بحبل غرورها وتنخدع بتزويرها وقل لها أرأيت لو هجم سيل جارف يغرق أهل البلد وثبتوا على مواضعهم ولم يأخذوا حذرهم لجهلهم بحقيقة الحال وقدرت أنت على أن تفارقيهم وتركبى في سفينة تتخلصين بها من الغرق فهل يختلج في نفسك أن المصيبة إذا عمت طابت أم تتركين موافقتهم وتستجهلينهم في صنيعهم وتأخذين حذرك مما دهاك فإذا كنت تتركين موافقتهم خوفا من الغرق وعذاب الغرق لا يتمادى إلا ساعة فكيف لا تهربين من عذاب الأبد وأنت متعرضة له في كل حال ومن أين تطيب المصيبة إذا عمت ولأهل النار شغل شاغل عن الالتفات إلى العموم والخصوص ولم يهلك الكفار إلا بموافقة أهل زمانهم حيث قالو إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون فعليك إذا اشتغلت بمعاتبة نفسك وحملها على الاجتهاد فاستعصت أن لا تترك معاتبتها وتوبيخها وتعريفها سوء نظرها لنفسها فعساها تنزجر عن طغيانها المرابطة السادسة في تَوْبِيخُ النَّفْسِ وَمُعَاتَبَتُهَا
Jika nafsumu membisikkan untuk melihat kepada penduduk zamanmu seraya berkata, 'Kebaikan itu hanya mudah di zaman dahulu karena banyaknya penolong, sedangkan sekarang jika engkau menyelisihi penduduk zamanmu, mereka akan menganggapmu gila dan mengejekmu. Maka cocokilah mereka dalam apa yang mereka jalani, sehingga tidak berlaku bagimu melainkan apa yang berlaku bagi mereka; lagipula musibah jika sudah merata akan terasa ringan,' maka waspadalah! Jangan sekali-kali engkau bergantung pada tali perdayaan nafsu dan tertipu oleh kepalsuannya. Katakanlah kepadanya, 'Bagaimana pendapatmu jika ada banjir bandang yang menghanyutkan penduduk kota, lalu mereka tetap bertahan di tempat mereka tanpa bersiap siaga karena ketidaktahuan mereka akan hakikat keadaan, sementara engkau mampu meninggalkan mereka dan naik ke dalam bahtera untuk menyelamatkan diri dari tenggelam? Apakah akan terbesit dalam hatimu bahwa musibah jika merata terasa ringan, ataukah engkau akan meninggalkan kesesuaian dengan mereka, menganggap bodoh perbuatan mereka, dan mengambil tindakan kewaspadaan dari bahaya yang menimpamu? Jika engkau meninggalkan kesesuaian dengan mereka karena takut tenggelam—padahal siksa tenggelam tidak berlangsung melainkan sesaat—lantas bagaimana mungkin engkau tidak lari dari siksa abadi, padahal engkau terancam olehnya dalam setiap keadaan? Dan dari mana musibah terasa ringan jika merata, padahal bagi penghuni neraka ada kesibukan amat dahsyat yang memalingkan mereka dari memperhatikan hal yang umum maupun khusus? Tidaklah orang-orang kafir itu binasa melainkan karena menuruti penduduk zaman mereka ketika mereka berkata, "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka" (QS. Az-Zukhruf: 23).' Maka hendaknya engkau—apabila sibuk mengecam nafsumu dan mendorongnya untuk bersungguh-sungguh lalu ia membangkang—tidak meninggalkan kecaman, celaan, dan penyadaran kepadanya akan buruknya sudut pandangnya terhadap dirinya sendiri; mudah-mudahan ia menjadi jera dari pembangkangannya. Pos Penjagaan (Murabathah) Keenam: Tentang Mencela dan Mengecam Nafsu (Taubikh an-Nafs wa Mu'atabatuha).
اعْلَمْ أَنَّ أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ وَقَدْ خُلِقَتْ أَمَّارَةً بِالسُّوءِ مَيَّالَةً إِلَى الشَّرِّ فَرَّارَةً مِنَ الْخَيْرِ وَأُمِرْتَ بِتَزْكِيَتِهَا وَتَقْوِيمِهَا وَقَوْدِهَا بِسَلَاسِلِ الْقَهْرِ إِلَى عبادة ربها وخالقها ومنعها عن شهواتها وَفِطَامِهَا عَنْ لَذَّاتِهَا فَإِنْ أَهْمَلْتَهَا جَمَحَتْ وَشَرَدَتْ وَلَمْ تَظْفَرْ بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ وَإِنْ لَازَمْتَهَا بالتوبيخ والمعاتبة والعذل والملامة كانت نفسك هى النفس اللوامة التى أقسم الله بها ورجوت أَنْ تَصِيرَ النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ الْمَدْعُوَّةَ إِلَى أَنْ تَدْخُلَ فِي زُمْرَةِ عِبَادِ اللَّهِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً قال تغفلن ساعة عن تذكيرها ومعاتبتها ولا تشتغلن بوعظ غيرك ما لم تشتغل أولا بوعظ نفسك أوحى الله تعالى إلى عيسى ﵇ يا ابن مريم عظ نفسك فإن اتعظت فعظ الناس إلا فاستحى منى وقال تعالى وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين وَسَبِيلُكَ أَنْ تُقْبِلَ عَلَيْهَا فَتُقَرِّرَ عِنْدَهَا جَهْلَهَا وغباوتها وأنها أبدا تتعزر بِفِطْنَتِهَا وَهِدَايَتِهَا وَيَشْتَدُّ أَنَفُهَا وَاسْتِنْكَافُهَا إِذَا نُسِبَتْ إِلَى الْحُمْقِ فَتَقُولَ لَهَا يَا نَفْسُ مَا أَعْظَمَ جَهْلَكِ تَدَّعِينَ الْحِكْمَةَ
Ketahuilah bahwa musuh terbesarmu adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu. Ia diciptakan bertabiat selalu menyuruh kepada keburukan (ammārah bi as-sū'), cenderung pada kejahatan, dan lari dari kebaikan. Engkau diperintahkan untuk menyucikannya (tazkiyah), meluruskannya, dan menuntunnya dengan rantai pemaksaan menuju ibadah kepada Tuhan dan Penciptanya, serta menghentikannya dari syahwat-syahwatnya dan menyapihnya dari kelezatan-kelezatannya. Jika engkau mengabaikannya, ia akan liar dan lari, serta engkau tidak akan sanggup menguasainya setelah itu. Namun jika engkau senantiasa menyertainya dengan celaan, teguran, kecaman, dan salahan, maka nafsumu akan menjadi nafs al-lawwāmah (jiwa yang menyesali diri) yang dengannya Allah bersumpah, dan engkau dapat berharap ia berkembang menjadi nafs al-muṭma'innah (jiwa yang tenang) yang dipanggil untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Janganlah engkau lalai sesaat pun dari mengingatkan dan menegurnya, dan janganlah engkau sibuk menasihati orang lain selama engkau belum disibukkan terlebih dahulu dengan menasihati dirimu sendiri. Allah Ta'ala berwahyu kepada 'Isa 'Alaihissalam: "Wahai putra Maryam, nasihatilah dirimu sendiri. Jika engkau telah menerima nasihat itu, maka nasihatilah manusia; jika tidak, maka malulah kepada-Ku." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." Dan jalanmu adalah hendaknya engkau menghadapinya (nafsumu), lalu menetapkan kepadanya kebodohan dan ketololannya, serta bahwa ia senantiasa membanggakan kecerdasan dan petunjuknya, padahal kesombongan dan keengganannya makin menjadi-jadi jika dikaitkan dengan kedunguan. Maka katakanlah kepadanya: "Wahai nafsu, betapa besarnya kebodohanmu! Engkau mengklaim hikmah…
وَالذَّكَاءَ وَالْفِطْنَةَ وَأَنْتِ أَشَدُّ النَّاسِ غَبَاوَةً وَحُمْقًا أَمَا تَعْرِفِينَ مَا بَيْنَ يَدَيْكِ مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَأَنَّكِ صَائِرَةٌ إِلَى إِحْدَاهُمَا عَلَى الْقُرْبِ فما لك تفرحين وتضحكين وتشتغلين باللهو وأنت مطلوبة لهذا الخطب الجسيم وعساك اليوم تختطفين أو غدا فأراك ترين الموت بعيدا ويراه الله قريبا أَمَا تَعْلَمِينَ أَنَّ كُلَّ مَا هُوَ آتٍ قريب وأن البعيد ما ليس بآت أما تعلمين أن الموت يأتى بغتة من غير تقديم رسول ومن غير مواعدة ومواطأة وأنه لا يأتى في شيء دون شيء ولا في شتاء دون صيف ولا في صيف دون شتاء ولا في نهار دون ليل ولا في ليل دون نهار ولا يأتى في الصبا دون الشباب ولا في الشباب دون الصبا بل كل نفس من الأنفاس يمكن أن يكون فيه الموت فجأة فإن لم يكن الموت فجأة فيكون المرض فجأة ثم يفضى إلى الموت فما لك لا تستعدين للموت وهو أقرب إليك من كل قريب أَمَا تَتَدَبَّرِينَ قَوْلَهُ تَعَالَى اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يلعبون لاهية قلوبهم وَيْحَكِ يَا نَفْسُ إِنْ كَانَتْ جَرَاءَتُكِ عَلَى مَعْصِيَةِ اللَّهِ لِاعْتِقَادِكِ أَنَّ اللَّهَ لَا يَرَاكِ فَمَا أَعْظَمَ كُفْرَكِ وَإِنْ كَانَ مَعَ عِلْمِكِ بِاطِّلَاعِهِ عَلَيْكِ فَمَا أَشَدَّ وَقَاحَتَكِ وَأَقَلَّ حَيَاءَكِ وَيْحَكِ يَا نَفْسُ لَوْ وَاجَهَكِ عَبْدٌ مِنْ عَبِيدِكِ بَلْ أَخٌ مِنْ إِخْوَانِكِ بِمَا تَكْرَهِينَهُ كَيْفَ كَانَ غَضَبُكِ عَلَيْهِ وَمَقْتُكِ لَهُ فَبِأَيِّ جَسَارَةٍ تَتَعَرَّضِينَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَغَضَبِهِ وَشَدِيدِ عِقَابِهِ أَفَتَظُنِّينَ أَنَّكِ تُطِيقِينَ عَذَابَهُ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ جَرِّبِي نَفْسَكِ إِنْ أَلْهَاكِ الْبَطَرُ عَنْ أَلِيمِ عَذَابِهِ فَاحْتَبِسِي سَاعَةً فِي الشَّمْسِ أَوْ فِي بَيْتِ الْحَمَّامِ أَوْ قَرِّبِي أُصْبُعَكِ مِنَ النَّارِ لِيَتَبَيَّنَ قدر طاقتك أمتغترين بكرم الله وفضله واستغنائه عن طاعتك وعبادتك فَمَا لَكِ لَا تُعَوِّلِينَ عَلَى كَرَمِ اللَّهِ تعالى في مهمات دنياك فإذا قصدك عدو فلم تستنبطين الحيل في دفعه ولا تكلينه إلى كرم الله تعالى وإذا أَرْهَقَتْكِ حَاجَةٌ إِلَى شَهْوَةٍ مِنْ شَهَوَاتِ الدُّنْيَا مِمَّا لَا يَنْقَضِي إِلَّا بِالدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ فَمَا لَكِ تَنْزِعِينَ الرُّوحَ فِي طَلَبِهَا وَتَحْصِيلِهَا مِنْ وجوه الحيل فلا تُعَوِّلِينَ عَلَى كَرَمِ اللَّهِ تَعَالَى حَتَّى يَعْثُرَ بِكِ عَلَى كَنْزٍ أَوْ يُسَخِّرَ عَبْدًا مِنْ عبيده فيحمل إليك حاجتك مِنْ غَيْرِ سَعْيٍ مِنْكِ وَلَا طَلَبٍ أَفَتَحْسَبِينَ أَنَّ اللَّهَ كَرِيمٌ فِي الْآخِرَةِ دُونَ الدُّنْيَا وَقَدْ عَرَفْتِ أَنَّ سُنَّةَ اللَّهِ لَا تَبْدِيلَ لَهَا وَأَنَّ رَبَّ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا وَاحِدٌ وَأَنْ ليس للإنسان إلا ما سعى
…dan kecerdasan serta ketajaman akal, padahal engkau adalah manusia yang paling bebal dan dungu! Tidakkah engkau mengetahui apa yang ada di hadapanmu berupa surga dan neraka, dan bahwa engkau akan menuju ke salah satunya dalam waktu dekat? Maka mengapa engkau bergembira, tertawa, dan sibuk dengan kesenangan sia-sia, padahal engkau dituntut untuk menghadapi perkara yang sangat besar ini? Bisa jadi hari ini atau besok engkau dijemput maut, namun aku melihatmu menganggap kematian itu masih jauh, padahal Allah melihatnya dekat. Tidakkah engkau tahu bahwa setiap yang akan datang itu dekat, dan yang jauh itu adalah apa yang tidak akan datang? Tidakkah engkau tahu bahwa kematian datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan utusan terlebih dahulu, tanpa janji, dan tanpa kesepakatan? Ia tidak datang pada suatu saat saja tanpa yang lain, tidak pada musim dingin tanpa musim panas, tidak pada musim panas tanpa musim dingin, tidak pada siang hari tanpa malam hari, tidak pada malam hari tanpa siang hari, tidak pada masa kanak-kanak tanpa masa muda, dan tidak pada masa muda tanpa masa kanak-kanak. Bahkan setiap helaan napas memungkinkan terjadinya kematian secara tiba-tiba. Jika kematian tidak datang secara tiba-tiba, maka penyakitlah yang datang tiba-tiba lalu berujung pada kematian. Lantas mengapa engkau tidak bersiap menghadapi kematian, padahal ia lebih dekat kepadamu dari segala yang dekat? Tidakkah engkau merenungkan firman Allah Ta'ala: 'Telah makin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai dan berpaling. Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main, hati mereka dalam keadaan lalai.' Celaka engkau, wahai nafsu! Jika keberanianmu melanggar maksiat kepada Allah disebabkan keyakinanmu bahwa Allah tidak melihatmu, betapa besarnya kekufuranmu! Dan jika engkau melakukannya padahal engkau tahu Dia mengawasimu, betapa tebalnya muka dan betapa sedikitnya rasa malumu! Celaka engkau, wahai nafsu! Seandainya seorang hambamu, atau bahkan seorang saudaramu, membalasmu dengan sesuatu yang engkau benci, betapa besarnya kemarahan dan kebencianmu padanya! Lalu dengan keberanian apa engkau menantang kebencian Allah, murka-Nya, dan siksa-Nya yang sangat keras? Apakah engkau mengira sanggup menanggung siksa-Nya? Sungguh jauh dari kenyataan! Ujilah dirimu jika kemegahan dunia membuatmu lalai dari siksa-Nya yang pedih: berdirilah sesaat di bawah terik matahari, atau di dalam kamar mandi panas, atau dekatkan jarimu ke api agar jelas seberapa batas kemampuanmu! Apakah engkau terperdaya oleh kemurahan Allah, karunia-Nya, dan ketidakbutuhan-Nya pada ketaatan dan ibadahmu? Lalu mengapa engkau tidak bersandar pada kemurahan Allah Ta'ala dalam urusan-urusan duniamu yang penting? Ketika musuh mengincarmu, mengapa engkau mencari berbagai tipu daya untuk menolaknya dan tidak menyerahkannya saja pada kemurahan Allah Ta'ala? Dan jika engkau terdesak oleh suatu kebutuhan dari syahwat duniawi yang tidak dapat terpenuhi kecuali dengan dinar dan dirham, mengapa engkau menguras jiwa dalam mencarinya dan mengupayakannya melalui berbagai jalan tipu daya, tanpa bersandar pada kemurahan Allah Ta'ala hingga Dia menemukan harta karun bagimu atau menundukkan seorang hamba-Nya untuk membawakan kebutuhanmu tanpa jeri payah dan pencarian darimu? Apakah engkau mengira bahwa Allah Maha Pemurah di akhirat saja dan tidak di dunia? Padahal engkau telah tahu bahwa ketetapan (sunnatullah) tidak akan mengalami perubahan, bahwa Tuhan akhirat dan dunia adalah Satu, dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
ويحك يا نفس ما أعجب نفاقك ودواعيك الباطلة فإنك تدعين الإيمان بلسانك وأثر النفاق ظاهر عليك ألم يقل لك سيدك ومولاك وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها وقال في أمر الآخرة وأن ليس للإنسان إلا ما سعى فقد تكفل لك بأمر الدنيا خاصة وصرفك عن السعى فيها فكذبته بأفعالك وأصبحت تتكالبين على طلبها تكالب المدهوش المستهتر ووكل أمر الآخرة إلى سعيك فأعرضت عنها إعراض المغرور المستحقر ما هذا من علامات الإيمان لو كان الإيمان باللسان فلم كان المنافقون في الدرك الأسفل من النار ويحك يا نفس كأنك لا تؤمنين بيوم الحساب وتظنين أنك إذا مت انفلت وتخلصت وهيهات أتحسبين أنك تتركين سدى ألم تكونى نطفة من مني يمنى ثم كنت علقة فخلق فسوى أليس ذلك بقادر على أن يحيى الموتى فإن كان هذا من إضمارك فما أكفرك وأجهلك أما تتفكرين أنه مماذا خلقك من نطفة خلقك فقدرك ثم السبيل يسرك ثم أماتك فأقبرك أفتكذبينه في قوله
Celaka engkau, wahai nafsu! Betapa mengherankannya kemunafikanmu dan dorongan-dorongan kebathilanmu! Engkau mengklaim iman dengan lidahmu, namun bekas kemunafikan nampak jelas padamu. Bukankah Tuhan dan Pelindungmu telah berfirman: 'Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allahlah yang menanggung rezekinya', dan Dia berfirman tentang perkara akhirat: 'Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya'? Dia telah menjamin bagimu urusan dunia secara khusus dan memalingkanmu dari berlebih-lebihan mengusahakannya, namun engkau mendustakan-Nya dengan perbuatanmu, dan engkau menjadi sangat bernafsu mencarinya seperti serigala gila yang hilang akal. Sedangkan urusan akhirat Dia pasrahkan pada usahamu, lalu engkau berpaling darinya seperti orang terperdaya yang meremehkan. Ini bukanlah tanda-tanda keimanan. Sekiranya iman itu cukup dengan lidah, mengapa orang-orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka? Celaka engkau, wahai nafsu! Seolah-olah engkau tidak beriman pada Hari Perhitungan, dan engkau mengira jika mati engkau akan terlepas dan bebas. Sungguh jauh! Apakah engkau mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban? Bukankah engkau dahulu berasal dari setetes mani yang ditumpahkan, kemudian menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Bukankah (Dzat yang berbuat) demikian berkuasa menghidupkan orang mati? Jika ini yang tersembunyi dalam batinmu, betapa kufur dan bodohnya engkau! Tidakkah engkau memikirkan dari apa Dia menciptakanmu? Dari setetes mani Dia menciptakanmu lalu menentukan takdirmu, kemudian Jalan Dia mudahkan bagimu, kemudian Dia mematikanmu lalu memasukkanmu ke dalam kubur. Apakah engkau mendustakan-Nya dalam firman-Nya:
ثم إذا شاء أنشرك فإن لم تكونى مكذبة فما لك لا تأخذين حذرك ولو أن يهوديا أخبرك في ألذ أطعمتك بأنه يضرك في مرضك لصبرت عنه وتركته وجاهدت نفسك فيه أفكان قول الأنبياء المؤيدين بالمعجزات وقول الله تعالى في كتبه المنزلة أقل عندك تأثيرا من قول يهودى يخبرك عن حدس وتخمين وظن مع نقصان عقل وقصور علم والعجب أنه لو أخبرك طفل بأن في ثوبك عقربا لرميت ثوبك في الحال من غير مطالبة له بدليل وبرهان أفكان قول الأنبياء والعلماء والحكماء وكافة
'Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkanmu kembali'? Jika engkau tidak mendustakan-Nya, mengapa engkau tidak mengambil sikap waspada? Seandainya seorang Yahudi memberitahumu tentang makananmu yang paling lezat bahwa makanan itu akan membahayakanmu saat sakit, niscaya engkau akan bersabar menahannya, meninggalkannya, dan memerangi nafsumu padanya. Apakah firman para nabi yang didukung dengan mukjizat-mukjizat dan firman Allah Ta'ala dalam kitab-kitab yang diturunkan-Nya memiliki pengaruh yang lebih kecil bagimu daripada perkataan seorang Yahudi yang memberitahumu berdasarkan perkiraan, prasangka, dan dugaan belaka disertai kekurangan akal dan keterbatasan ilmu? Dan yang lebih mengherankan, jika seorang anak kecil memberitahumu bahwa di dalam pakaianmu ada kalajengking, niscaya engkau akan melempar pakaianmu seketika itu juga tanpa menuntut bukti dan dalil darinya. Apakah perkataan para nabi, ulama, ahli hikmah, dan seluruh…
الأولياء أقل عندك من قول صبى من جملة الأغبياء أم صار حر جهنم وأغلالها وأنكالها وزقومها ومقامعها وصديدها وسمومها وأفاعيها وعقاربها أحقر عندك من عقرب لا تحسين بألمها إلا يوما أو أقل منه ما هذه أفعال العقلاء بل لو انكشف للبهائم حالك لضحكوا منك وسخروا من عقلك فإن كنت يا نفس قد عرفت جميع ذلك وآمنت به فما لك تسوفين العمل والموت لك بالمرصاد ولعله يختطفك من غير مهلة فبماذا أمنت استعجال الأجل وهبك أنك وعدت بالإمهال مائة سنة أفتظنين أن من يطعم الدابة في حضيض العقبة يفلح ويقدر على قطع العقبة بها إن ظننت ذلك فما أعظم جهلك أرأيت لو سافر رجل ليتفقه في الغربة فأقام فيها سنين متعطلا بطالا يعد نفسه بالتفقه فى السنة الأخيرة عند رجوعه إلى وطنه هل كنت تضحكين من عقله وظنه أن تفقيه النفس مما يطمع فيه بمدة قريبة أو حسبانه أن مناصب الفقهاء تنال من غير تفقه اعتمادا على كرم الله ﷾ ثم هبى أن الجهد في آخر العمر نافع وأنه موصل إلى الدرجات العلا فلعل اليوم آخر عمرك فلم تشتغلين فيه بذلك فإن أوحى إليك بالإمهال فما المانع من المبادرة وما الباعث لك على التسويف هل له سبب إلا عجزك عن مخالفة شهواتك لما فيها من التعب والمشقة أفتنتظرين يوما يأتيك لا تعسر فيه مخالفة الشهوات هذا يوم لم يخلقه الله قط ولا يخلقه فلا تكون الجنة قط إلا محفوفة بالمكاره ولا تكون المكاره قط خفيفة على النفوس وهذا محال وجوده أما تتأملين مذ كم تعدين نفسك وتقولين غدا غدا فقد جاء الغد وصار يوما فكيف وجدته أما علمت أن الغد الذى جاء وصار يوما كان له حكم الأمس لا بل الذى تعجزين عنه اليوم فأنت غدا عنه أعجز وأعجز لأن الشهوة كالشجرة الراسخة التى تعبد العبد بقلعها فإذا عجز العبد عن قلعها للضعف وأخرها كان كمن عجز عن قلع شجرة وهو شاب قوى فأخرها إلى سنة أخرى مع العلم بأن طول المدة يزيد الشجرة قوة ورسوخا ويزيد القالع ضعفا ووهنا فما لا يقدر عليه في الشباب لا يقدر عليه قط فى المشيب بل من العناء رياضة الهرم ومن التعذيب تهذيب الذيب
…para wali memiliki kedudukan yang lebih rendah bagimu daripada perkataan seorang anak kecil yang termasuk golongan orang bodoh? Ataukah panasnya neraka Jahannam beserta belenggu-belenggunya, rantai-rantainya, pohon Zaqqum-nya, gada-gada besinya, nanahnya, angin beracunnya, ular-ularnya, dan kalajengking-kalajengkingnya lebih remeh bagimu daripada seekor kalajengking yang sengatannya hanya engkau rasakan sehari atau kurang dari itu? Ini bukanlah perbuatan orang-orang yang berakal! Bahkan sekiranya keadaanmu tersingkap bagi hewan ternak, niscaya mereka akan tertawa dan mengejek akalmu. Jika engkau, wahai nafsu, telah mengetahui semua itu dan mengimaninya, lantas mengapa engkau menunda-nunda amal padahal kematian mengintaimu dan boleh jadi menjemputmu tanpa penangguhan? Dengan apa engkau merasa aman dari datangnya ajal yang cepat? Katakanlah engkau diberi janji penangguhan selama seratus tahun, apakah engkau mengira orang yang memberi makan hewan tunggangannya di dasar tanjakan yang curam akan berhasil dan sanggup melintasi tanjakan itu dengannya? Jika engkau mengira demikian, betapa besarnya kebodohanmu! Tahukah engkau, seandainya seorang pria bepergian untuk menuntut ilmu fiqih di rantau, lalu ia tinggal di sana selama bertahun-tahun dalam keadaan menganggur dan mengabaikan tugasnya seraya menjanjikan diri untuk belajar fiqih pada tahun terakhir saat kembali ke tanah airnya, apakah engkau tidak akan tertawa melihat akal dan prasangkanya bahwa penguasaan fiqih adalah sesuatu yang dapat diraih dalam waktu singkat, atau persangkaannya bahwa kedudukan para ahli fiqih dapat dicapai tanpa belajar fiqih hanya dengan bersandar pada kemurahan Allah Azza wa Jalla? Kemudian, anggaplah bahwa jeri payah di akhir umur itu bermanfaat dan dapat menyampaikan ke derajat yang tinggi, namun boleh jadi hari ini adalah akhir umurmu, lantas mengapa engkau sibuk menundanya hari ini? Jika diwahyukan kepadamu bahwa ada penangguhan, apa yang menghalangi untuk bersegera dan apa yang mendorongmu untuk menunda-nunda? Adakah sebabnya selain ketidakmampuanmu menentang syahwatmu karena adanya keletihan dan kesukaran di dalamnya? Apakah engkau menunggu suatu hari yang tidak ada kesukaran di dalamnya untuk menentang syahwat? Hari seperti ini tidak pernah diciptakan Allah sama sekali dan tidak akan pernah diciptakan-Nya. Surga tidak akan pernah ada kecuali diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai (makārih), dan hal-hal yang tidak disukai itu tidak akan pernah menjadi ringan bagi jiwa; keberadaan hal yang demikian adalah mustahil. Tidakkah engkau merenungkan sudah berapa lama engkau berjanji pada dirimu sendiri seraya berkata: 'Besok, besok'? Dan esok pun telah tiba lalu menjadi hari ini, maka bagaimana engkau mendapatinya? Tidakkah engkau tahu bahwa esok hari yang telah datang dan menjadi hari ini memiliki hukum yang sama dengan hari kemarin? Bahkan apa yang engkau tidak mampu menahannya hari ini, niscaya besok engkau akan jauh lebih tidak mampu lagi, karena syahwat itu bagaikan pohon yang tertancap kuat yang hamba diperintahkan mencabutnya. Jika hamba tidak mampu mencabutnya karena kelemahan lalu menundanya, maka ia seperti orang yang tidak mampu mencabut pohon ketika masih muda dan kuat, lalu menundanya hingga tahun depan, padahal ia tahu bahwa bertambahnya waktu akan menambah kekuatan dan kekokohan pohon tersebut serta menambah kelemahan dan kerapuhan orang yang mencabutnya. Maka apa yang tidak mampu dilakukan pada masa muda, tidak akan pernah mampu dilakukan pada masa tua. Bahkan melakukan riyadhah pada usia renta adalah suatu kepayahan, dan mendidik serigala serta meluruskan dahan yang kering adalah suatu siksaan.
والقضيب الرطب يقبل الانحناء فإذا جف وطال عليه الزمان لم يقبل ذلك فإذا كنت أيتها النفس لا تفهمين هذه الأمور الجلية وتركنين إلى التسويف فما بالك تدعين الحكمة وأية حماقة تزيد على هذه الحماقة
Dahan yang masih basah dapat menerima lengkungan (dapat dibengkokkan), namun jika telah kering dan berlalu waktu yang lama atasnya, ia tidak akan menerimanya lagi. Maka jika engkau, wahai nafsu, tidak memahami perkara-perkara yang jelas ini dan cenderung pada menunda-nunda amal, mengapa engkau mengaku memiliki hikmah? Dan kebodohan manakah yang lebih besar daripada kebodohan ini?
ولعلك تقولين ما يمنعنى عن الاستقامة إلا حرصى على لذة الشهوات وقلة صبرى على الآلام والمشقات فما أشد غباوتك وأقبح اعتذارك إن كنت صادقة في ذلك فاطلبى التنعم بالشهوات الصافية عن الكدورات الدائمة أبد الآباد ولا مطمع في ذلك إلا في الجنة فإن كنت ناظرة لشهوتك فالنظر لها في مخالفتها قرب أكلة تمنع أكلات
Boleh jadi engkau berkata: 'Tidak ada yang menghalangiku dari keteguhan (istiqāmah) melainkan ketamakanku akan kelezatan syahwat dan sedikitnya kesabaranku menanggung rasa sakit dan kesukaran.' Betapa besarnya kebebalanmu dan betapa buruknya dalihmu! Jika engkau jujur dalam hal itu, maka carilah kenikmatan dengan syahwat yang murni dari keruhan dan bersifat kekal abadi selamanya, dan tidak ada harapan untuk itu melainkan di dalam surga. Jika engkau betul-betul memperhatikan syahwatmu, maka bentuk perhatian padanya adalah dengan menentangnya; berapa banyak satu suapan mencegah sekian banyak suapan!
وما قولك في عقل مريض أشار عليه الطبيب بترك الماء البارد ثلاثة أيام ليصح ويهنأ بشربة طول عمره وأخبره أنه إن شرب ذلك مرض مرضا مزمنا وامتنع عليه شربه طول العمر فما مقتضى العقل في قضاء حق الشهوة أيصبر ثلاثة أيام ليتنعم طول العمر أم يقضى شهوته في الحال خوفاً من ألم المخالفة ثلاثة أيام حتى يلزمه ألم المخالفة ثلثمائة يوم وثلاثة آلاف يوم وجميع عمرك بالإضافة إلى الأبد الذى هو مدة نعيم أهل الجنة وعذاب أهل النار أقل من ثلاثة أيام بالإضافة إلى جميع العمر وإن طالت مدته
Bagaimana pendapatmu tentang akal seorang sakit yang dinasihati oleh dokter untuk meninggalkan air dingin selama tiga hari agar ia sembuh dan menikmati minuman sepanjang hidupnya, lalu dokter memberitahunya bahwa jika ia meminumnya, ia akan menderita sakit menahun dan terhalang meminumnya sepanjang hidup? Apakah tuntutan akal dalam memenuhi hak syahwat? Apakah ia bersabar selama tiga hari agar dapat bersenang-senang sepanjang hidup, ataukah ia memenuhi syahwatnya seketika itu juga karena takut akan rasa sakit menahannya selama tiga hari, hingga ia harus menanggung rasa sakit menahannya selama tiga ratus hari dan tiga ribu hari? Padahal seluruh umurmu jika dibandingkan dengan keabadian—yang merupakan durasi kenikmatan penghuni surga dan azab penghuni neraka—adalah lebih sedikit daripada tiga hari dibandingkan dengan seluruh umur, betapapun panjang durasinya.
وليت شعرى ألم الصبر عن الشهوات أعظم شدة وأطول مدة أو ألم النار في دركات جهنم فمن لا يطيق الصبر على ألم المجاهدة كيف يطيق ألم عذاب الله ما أراك تتوانين عن النظر لنفسك إلا لكفر خفى أو لحمق جلى
Duhai, sekiranya aku tahu, apakah rasa sakit bersabar dari syahwat itu lebih dahsyat dan lebih panjang durasinya, ataukah rasa sakit neraka di tingkatan-tingkatan Jahannam? Barang siapa yang tidak sanggup bersabar menahan rasa sakit mujahadah, bagaimana mungkin ia sanggup menahan rasa sakit azab Allah? Aku tidak melihatmu lamban dalam memperhatikan dirimu sendiri melainkan karena kekufuran yang tersembunyi (kufur khafi) atau kebodohan yang nyata (ḥumuq jali).
أما الكفر الخفى فهو ضعف إيمانك بيوم الحساب وقلة معرفتك بعظم قدر الثواب والعقاب
Adapun kekufuran yang tersembunyi adalah lemahnya imanmu kepada Hari Perhitungan dan sedikitnya pengetahuanmu akan keagungan nilai pahala dan siksaan.
وأما الحمق الجلى فاعتمادك على كرم الله تعالى وعفوه من غير التفات إلى مكره واستدراجه واستغنائه عن عبادتك مع أنك لا تعتمدين على كرمه في لقمة من الخبز أو حبة من المال أو كلمة واحدة تسمعينها
Adapun kebodohan yang nyata adalah sandaranmu pada kemurahan dan ampunan Allah Ta'ala tanpa berpaling pada makar-Nya, uluran bertahap-Nya (istidrāj), dan ketidakbutuhan-Nya pada ibadahmu, padahal engkau tidak pernah bersandar pada kemurahan-Nya dalam hal sesuap roti, sekeping harta, atau satu kata yang engkau dengar…
من الخلق بل تتوصلين إلى غرضك في ذلك بجميع الحيل وبهذا الجهل تستحقين لقب الحماقة من رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَيْثُ قال الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الموت والأحمق من أتبع نفسههواها وتمنى على الله الأماني
…dari makhluk. Bahkan engkau berusaha mencapai tujuanmu dalam hal itu dengan segala macam tipu daya. Dengan kebodohan inilah engkau berhak mendapatkan julukan dungu (aḥmaq) dari Rasulullah ﷺ sebagaimana sabda beliau: 'Orang yang cerdas (al-kayyis) adalah orang yang mengendalikan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang dungu (al-aḥmaq) adalah orang yang mengikutkan nafsunya pada hawa nafsunya lalu mengangan-angankan berbagai pengandaian kepada Allah.'
ويحك يا نفس لا ينبغى أن تغرك الحياة الدنيا ولا يغرنك بالله الغرور فانظرى لنفسك فما أمرك بمهم لغيرك ولا تضيعى أوقاتك فالأنفاس معدودة فإذا مضى منك نفس فقد ذهب بعضك فاغتنمى الصحة قبل السقم والفراغ قبل الشغل والغنى قبل الفقر والشباب قبل الهرم والحياة قبل الموت واستعدي للآخرة على قدر بقائك فيها يَا نَفْسُ أَمَا تَسْتَعِدِّينَ لِلشِّتَاءِ بِقَدْرِ طُولِ مُدَّتِهِ فَتَجْمَعِينَ لَهُ الْقُوتَ وَالْكُسْوَةَ وَالْحَطَبَ وَجَمِيعَ الْأَسْبَابِ وَلَا تَتَّكِلِينَ فِي ذَلِكَ عَلَى فَضْلِ اللَّهِ وَكَرَمِهِ حَتَّى يَدْفَعَ عَنْكِ الْبَرْدَ مِنْ غَيْرِ جُبَّةٍ وَلَبَدٍ وَحَطَبٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قادر على ذلك أفتظنين أيتها النفس أن زمهرير جهنم أخف بردا وأقصر مدة من زمهرير الشتاء أم تظنين أن ذلك دون هذا كلا أن يكون هذا كذلك أو أن يكون بينهما مناسبة في الشدة والبرودة أفتظنين أن العبد ينجو منها يغير سَعْيٍ هَيْهَاتَ كَمَا لَا يَنْدَفِعُ بَرْدُ الشِّتَاءِ إِلَّا بِالْجُبَّةِ وَالنَّارِ وَسَائِرِ الْأَسْبَابِ فَلَا يَنْدَفِعُ حَرُّ النَّارِ وَبَرْدُهَا إِلَّا بِحِصْنِ التَّوْحِيدِ وَخَنْدَقِ الطَّاعَاتِ وَإِنَّمَا كَرَمُ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ عَرَّفَكِ طَرِيقَ التَّحَصُّنِ وَيَسَّرَ لَكِ أَسْبَابَهُ لَا فى أن يندفع عنك العذاب دون حصنه كما أن كرم الله تعالى فى دفع برد الشتاء أن خلق النار وهداك لطريق استخراجها من بين حديدة وحجر حتى تدفعى بها برد الشتاء عن نفسك وكما ان شراه الحطب والجبة مما يستغنى عنه خالقك ومولاك وإنما تشترينه لنفسك إذ خلقه سببا لاستراحتك فطاعاتك ومجاهداتك أيضا هو مستغن عنها وإنما هى طريقك إلى نجاتك فمن أحسن فلنفسه ومن أساء فعليها والله غنى عن العالمين
Celaka engkau, wahai nafsu! Jangan sampai kehidupan dunia memperdayaimu dan jangan sampai penipu (Setan) memperdayaimu tentang Allah. Perhatikanlah dirimu, karena urusanmu tidaklah penting bagi orang lain, dan janganlah menyia-nyiakan waktu-waktumu, sebab helaan napas itu terhitung; apabila satu helaan napas telah berlalu darimu, maka telah hilang sebagian dari dirimu. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum sakitmu, masa luangmu sebelum kesibukanmu, masa kayamu sebelum kemiskinanmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan hidupmu sebelum kematianmu. Bersiaplah menghadapi akhirat sesuai tingkat kelanggenganmu di dalamnya. Wahai nafsu, tidakkah engkau bersiap-siap menghadapi musim dingin sesuai dengan panjangnya durasi musim tersebut, lalu engkau mengumpulkan makanan, pakaian, kayu bakar, dan segala perlengkapannya, serta engkau tidak berserah diri begitu saja dalam hal itu kepada karunia dan kemurahan Allah agar Dia menghalau rasa dingin darimu tanpa jubah, wol, kayu bakar, dan selainnya? Padahal Dia Mahakuasa atas hal tersebut. Apakah engkau mengira, wahai nafsu, bahwa dinginnya Zamharir di Jahannam lebih ringan dinginnya dan lebih pendek durasinya daripada dinginnya musim dingin? Ataukah engkau mengira bahwa yang ini berada di bawah yang itu? Sekali-kali tidak! Mana mungkin hal itu terjadi, atau mana mungkin ada kesetaraan di antara keduanya dalam hal kedahsyatan dan mendinginkan! Apakah engkau mengira seorang hamba dapat selamat darinya tanpa usaha? Sungguh jauh dari kenyataan! Sebagaimana dinginnya musim dingin tidak dapat dihalau kecuali dengan jubah, api, dan perlengkapan lainnya, maka panasnya api neraka dan dinginnya tidak dapat dihalau kecuali dengan benteng tauhid dan parit ketaatan. Sesungguhnya kemurahan Allah Ta'ala terletak pada Dialah yang mengenalkan kepadamu jalan membentengi diri dan memudahkan sebab-sebabnya bagimu, bukan pada terhalau-Nya azab darimu tanpa benteng tersebut. Sebagaimana kemurahan Allah Ta'ala dalam menghalau dinginnya musim dingin adalah dengan menciptakan api dan memberi petunjuk kepadamu cara mengeluarkannya dari antara besi dan batu hingga engkau dapat menghalau dinginnya musim dingin dari dirimu. Dan sebagaimana pembelian kayu bakar dan jubah adalah sesuatu yang Pencipta dan Pelindungmu tidak membutuhkannya—dan sesungguhnya engkau membelinya untuk dirimu sendiri karena Dia menjadikannya sebagai sebab bagi kenyamananmu—maka ketaatan-ketaatan dan mujahadah-mu pun Dia tidak membutuhkannya, melainkan itu adalah jalan menuju keselamatanmu. Barang siapa berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat, maka kejahatan itu menimpa dirinya sendiri, dan Allah Mahakaya dari seluruh alam.
ويحك يا نفس انزعى عن جهلك وقيسى آخرتك بدنياك فما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة وكما بدأنا أول خلق نعيده وكما بدأكم تعودون وسنة الله تعالى لا تجدين لها تبديلا ولا تحويلا ويحك يا نفس ما أراك إلا ألفت الدنيا وأنست بها فعسر عليك مفارقتها وأنت مقبلة على مقاربتها وتؤكدين في نفسك مودتها فاحسن أنك غافلة عن عقاب الله وثوابه وعن أهوال القيامة وأحوالها فما أنت مؤمنة بالموت المفرق بينك وبين محابك أفترين أن من يدخل دار ملك ليخرج من الجانب الآخر فمد بصره إلى وجه مليح يعلم أنه يستغرق ذلك قلبه ثم يضطر لا محالة إلى مفارقته أهو معدود من العقلاء أم من الحمقى أما تعلمين أن الدنيا دار لملك الملوك ومالك فيها إلا مجاز وكل ما فيها لا يصحب المجتازين بها بعد الموت ولذلك قال سيد البشر ﷺ إن روح القدس نفث في روعي أحبب من أحببت فإنك مفارقه واعمل ما شئت فإنك مجزى به وعش ما شئت فإنك ميت ويحك يا نفس أتعلمين أن كل من يلتفت إلى ملاذ الدنيا ويأنس بها مع أن الموت من ورائه فإنما يستكثر من الحسرة عند المفارقة وإنما يتزود من السم المهلك وهو لا يدرى أو ما تنظرين إلى الذين مضوا كيف بنوا وعلوا ثم ذهبوا وخلوا وكيف أورث الله أرضهم وديارهم أعداءهم أما ترينهم كيف يجمعون ما لا يأكلون ويبنون ما لا يسكنون ويؤملون ما لا يدركون يبنى كل واحد قصرا مرفوعا إلى جهة السماء ومقره قبر محفور تحت الأرض فهل في الدنيا حمق وانتكاس أعظم من هذا يعمر الواحد دنياه وهو مرتحل عنها يقينا ويخرب آخرته وهو صائر إليها قطعا
Celaka engkau, wahai nafsu! Lepaskanlah kebodohanmu dan ukurlah akhiratmu dengan duniamu, sebab penciptaan dan kebangkitan kamu sekalian tidak lain hanyalah seperti penciptaan dan kebangkitan satu jiwa saja, dan sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, Kami akan mengulangnya kembali, dan sebagaimana Dia memulai penciptaan kamu sekalian, demikian pula kamu akan kembali. Dan ketetapan Allah (sunnatullah) tidak akan pernah engkau dapati mengalami perubahan atau pengalihan. Celaka engkau, wahai nafsu! Aku tidak melihatmu melainkan telah terbiasa dengan dunia dan merasa tenteram padanya, sehingga berat bagimu untuk berpisah darinya, padahal engkau sedang menuju kepasrahannya dan meneguhkan rasa cinta padanya di dalam dirimu. Anggaplah engkau lalai dari siksaan dan pahala Allah serta dari kedahsyatan hari kiamat dan kondisinya, bukankah engkau beriman pada kematian yang memisahkan antara dirimu dan apa yang engkau cintai? Apakah engkau melihat orang yang memasuki istana raja untuk keluar dari sisi lainnya, lalu ia melayangkan pandangannya ke wajah yang elok yang ia tahu hal itu akan menawan hatinya kemudian ia pasti terpaksa berpisah dengannya, apakah ia terhitung sebagai orang berakal ataukah orang dungu? Tidakkah engkau tahu bahwa dunia adalah istana bagi Raja dari segala raja, dan tidaklah engkau di dalamnya melainkan hanya seorang musafir penyeberang, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya tidak akan menyertai para penyeberang itu setelah kematian? Oleh karena itu, Pemimpin Manusia ﷺ bersabda: 'Malaikat Jibril (Rūḥ al-Qudus) membisikkan ke dalam hatiku: Cintailah siapa saja yang engkau cintai, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; beramallah sekehendakmu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan atasnya; dan hiduplah sekehendakmu, sesungguhnya engkau akan mati.' Celaka engkau, wahai nafsu! Tidakkah engkau tahu bahwa setiap orang yang berpaling pada kelezatan dunia dan merasa tenteram dengannya padahal kematian ada di belakangnya, sesungguhnya ia hanya sedang memperbanyak penyesalan saat perpisahan dan hanya sedang membekali diri dengan racun yang mematikan tanpa ia sadari? Tidakkah engkau melihat orang-orang yang telah berlalu sebelummu bagaimana mereka membangun dan meninggikan bangunan lalu mereka pergi dan meninggalkannya, serta bagaimana Allah mewariskan tanah dan kediaman mereka kepada musuh-musuh mereka? Tidakkah engkau melihat mereka bagaimana mengumpulkan apa yang tidak mereka makan, membangun apa yang tidak mereka tinggali, dan mengangankan apa yang tidak mereka capai? Masing-masing membangun istana yang menjulang tinggi ke arah langit, padahal tempat tinggalnya adalah kubur yang digali di bawah tanah. Adakah kebodohan dan pemutarbalikkan yang lebih besar di dunia ini daripada hal ini: seseorang memakmurkan dunianya padahal ia pasti meninggalkannya secara meyakinkan, dan ia merobohkan akhiratnya padahal ia pasti menuju ke sana secara pasti?
أما تستحيين يا نفس من مساعدة هؤلاء الحمقى على حماقتهم واحسبى أنك لست ذات بصيرة تهتدى إلى هذه الأمور وإنما تميلين بالطبع إلى التشبه والاقتداء فقيسى عقل الأنبياء والعلماء
Tidakkah engkau malu, wahai nafsu, membantu orang-orang dungu ini atas kedunguan mereka? Anggaplah engkau bukan pemilik mata hati (baṣīrah) yang mendapat petunjuk kepada perkara-perkara ini, melainkan secara tabiat engkau cenderung untuk bertasyabuh (menyerupai) dan meneladani, maka ukurlah akal para nabi, ulama…
والحكماء بعقل هؤلاء المنكبين على الدنيا واقتدى من الفريقين بمن هو أعقل عندك إن كنت تعتقدين في نفسك العقل والذكاء
…dan ahli hikmah dengan akal orang-orang yang tenggelam dalam dunia ini, dan teladanilah dari kedua kelompok tersebut siapa yang menurutmu paling berakal, jika engkau meyakini dirimu memiliki akal dan kecerdasan.
يا نفس ما أعجب أمرك وأشد جهلك وأظهر طغيانك عجبا لك كيف تعمين عن هذه الأمور الواضحة الجليلة ولعلك يا نفس أسكرك حب الجاه وأدهشك عن فهمها أو ما تتفكرين أن الجاه لا معنى له إلا ميل القلوب من بعض الناس إليك فاحسبى أن كل من على وجه الأرض سجد لك وأطاعك أفما تعرفين أنه بعد خمسين سنة لا تبقين انت ولا أحد ممن على وجه الأرض ممن عبدك وسجد لك وسيأتى زمان لا يبقى ذكرك ولا ذكر من ذكرك كما أتى على الملوك الذين كانوا من قبلك فهل تحس منهم من أحد أو تسمع لهم ركزا فكيف تبيعين يا نفس ما يبقى أبد الآباد بما لا يبقى أكثر من خمسين سنة إن بقى هذا إن كنت ملكا من ملوك الأرض سلم لك الشرق والغرب حتى أذعنت لك الرقاب وانتظمت لك الأسباب كيف ويأبى إدبارك وشقاوتك أن يسلم لك أمر محلتك بل أمر دارك فضلا عن محلتك فإن كنت يا نفس لا تتركين الدنيا رغبة في الآخرة لجهلك وعمى بصيرتك فما لك لا تتركينها ترفعا عن خسة شركائها وتنزها عن كثرة عنائها وتوقيا من سرعة فنائها أم ما لك لا تزهدين في قليلها بعد أن زهد فيك كثيرها وما لك تفرحين بدنيا إن ساعدتك فلا تخلو بلدك من جماعة من اليهود والمجوس يسبقونك بها ويزيدون عليك في نعيمها وزينتها فأف لدنيا يسبقك بها هؤلاء الأخساء فما أجهلك وأخس همتك وأسقط رأيك إذ رغبت عن ان تكونى في زمرة المقربين من النبيين والصديقين في جوار رب العالمين أبد الآبدين لتكونى في صف النعال من جملة الحمقى الجاهلين أياما قلائل فيا حسرة عليك إن خسرت الدنيا والدين فبادرى ويحك يا نفس فقد أشرفت على الهلاك واقترب الموت وورد النذير فمن ذا يصلى عنك بعد الموت ومن ذا يصوم عنك بعد الموت ومن ذا يترضى عنك ربك بعد الموت
Wahai nafsu, betapa mengherankannya urusanmu, betapa besarnya kebodohanmu, dan betapa nyatanya pembangkanganmu! Sungguh ajaib bagimu, bagaimana engkau buta dari perkara-perkara yang jelas dan agung ini! Boleh jadi, wahai nafsu, cinta kedudukan telah memabukkanmu dan memukau pandanganmu dari memahaminya. Tidakkah engkau memikirkan bahwa kedudukan itu tidak ada artinya selain kecenderungan hati sebagian manusia kepadamu? Maka anggaplah seluruh manusia di muka bumi bersujud dan mematuhimu, tidakkah engkau tahu bahwa setelah lima puluh tahun engkau tidak akan tersisa lagi, begitu pula seorang pun dari orang-orang di muka bumi yang menyembah dan bersujud kepadamu? Dan akan datang suatu masa di mana tidak tersisa sebutan tentangmu dan sebutan tentang orang yang menyebutmu, sebagaimana telah terjadi pada raja-raja sebelummu; apakah engkau merasakan adanya seorang pun dari mereka atau mendengar bisikan suara mereka? Maka bagaimana engkau menjual, wahai nafsu, apa yang kekal abadi selamanya dengan apa yang tidak bertahan lebih dari lima puluh tahun—jika pun bertahan—hal itu jika engkau termasuk raja dari raja-raja bumi yang diserahkan kepadamu wilayah timur dan barat hingga tunduk kepadamu leher-leher manusia dan teratur bagimu sebab-sebabnya? Bagaimana bisa, padahal kemalangan dan kesengsaraanmu enggan menyerahkan kepadamu urusan daerahmu, bahkan urusan rumahmu, apalagi daerahmu! Jika engkau, wahai nafsu, tidak meninggalkan dunia karena mengharapkan akhirat disebabkan kebodohan dan kebutaan mata hatimu, lantas mengapa engkau tidak meninggalkannya karena menganggap hina sekutu-sekutunya yang rendah, enggan menanggung banyaknya kepayahannya, dan menjaga diri dari kecepatannya sirna? Atau mengapa engkau tidak bersikap zuhud pada yang sedikit darinya setelah sebagian besar darinya bersikap zuhud padamu? Mengapa engkau bergembira dengan dunia yang jika ia membantumu, negerimu tidak akan sepi dari sekelompok Yahudi dan Majusi yang mendahuluimu dalam hal itu dan melebihi dirimu dalam kenikmatan dan perhiasannya? Maka celakalah bagi dunia yang engkau didahului di dalamnya oleh orang-orang rendah ini! Betapa bodohnya engkau, betapa rendahnya cita-citamu, dan betapa gugurnya pendapatmu ketika engkau enggan untuk berada dalam kelompok orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabūn) dari kalangan para nabi dan orang-orang shiddiq di samping Tuhan semesta alam selama-lamanya, hanya untuk berada di barisan paling belakang dari golongan orang-orang dungu yang bodoh selama beberapa hari yang sedikit! Betapa besar penyesalan atasmu jika engkau merugi dunia dan agama! Maka bersegeralah, celaka engkau wahai nafsu, sungguh engkau telah berada di ambang kebinasaan, kematian telah mendekat, dan sang penyampai peringatan telah datang. Maka siapakah yang akan shalat gantimu setelah kematian? Siapakah yang akan berpuasa gantimu setelah kematian? Dan siapakah yang akan membuat Tuhanmu ridha kepadamu setelah kematian?
ويحك يا نفس مالك إلا أيام معدودة هى بضاعتك إن اتجرت فيها وقد ضيعت أكثرها فلو بكيت بقية عمرك على ما ضيعت منها لكنت مقصرة في حق نفسك فكيف إذا ضيعت البقية وأصررت على عادتك أما تعلمين يا نفس أن الموت موعدك والقبر بيتك والتراب فراشك والدود أنيسك والفزع الأكبر بين يديك أما علمت يا نفس أن عسكر الموتى عندك على باب البلد ينتظرونك وقد آلوا على أنفسهم كلهم بالأيمان المغلظة أنهم لا يبرحون من مكانهم ما لم يأخذوك معهم أما تعلمين يا نفس أنهم يتمنون الرجعة إلى الدنيا يوما ليشتغلوا بتدارك ما فرط منهم وأنت في أمنيتهم ويوم من عمرك لو بيع منهم بالدنيا بحذافيرها لا شتروه لو قدروا عليه وأنت تضيعين أيامك في الغفلة والبطالة ويحك يا نفس أما تستحيين تزينين ظاهرك للخلق وتبارزين الله في السر بالعظائم أفتستحيين من الخلق ولا تستحيين من الخالق ويحك أهو أهون الناظرين عليك أتأمرين الناس بالخير وأنت متلطخة بالرذائل تدعين إلى الله وأنت عنه فارة وتذكرين بالله وأنت له ناسية أما تعلمين يا نفس أن المذنب أنتن من العذرة وأن العذرة لا تطهر غيرها فلم تطمعين في تطهير غيرك وأنت غير طيبة في نفسك ويحك يا نفس لو عرفت نفسك حق المعرفة لظننت أن الناس ما يصيبهم بلاء إلا بشؤمك ويحك يا نفس قد جعلت نفسك حمارا لإبليس يقودك إلى حيث يريد ويسخر بك ومع هذا فتعجبين بعملك وفيه من الآفات ما لو نجوت منه رأسا برأس لكان الربح في يديك وكيف تعجبين بعملك مع كثرة خطاياك وزللك وقد لعن الله إبليس بخطيئة واحدة بعد أن عبده مائتى ألف سنة وأخرج آدم من الجنة بخطيئة واحدة مع كونه نبيه وصفيه ويحك يا نفس ما أغدرك ويحك يا نفس ما أوقحك ويحك يا نفس ما أجهلك وما أجرأك على المعاصى ويحك كم تعقدين فتنقضين ويحك كم تعهدين فتغدرين ويحك يا نفس أتشتغلين مع هذه الخطايا بعمارة دنياك كأنك غير
Celaka engkau, wahai nafsu! Engkau tidak memiliki melainkan hari-hari yang terhitung yang merupakan modal dagangmu jika engkau berniaga padanya, namun engkau telah menyia-nyiakan sebagian besarnya. Seandainya engkau menangisi sisa umurmu atas apa yang telah engkau sia-siakan darinya, niscaya engkau masih dianggap lalai terhadap hak dirimu; lantas bagaimana jika engkau menyia-nyiakan sisanya dan terus-menerus dalam kebiasaan burukmu? Tidakkah engkau tahu, wahai nafsu, bahwa kematian adalah janji pertemuanmu, kubur adalah rumahmu, tanah adalah peraduanmu, cacing adalah teman hiburanmu, dan ketakutan yang paling besar berada di hadapanmu? Tidakkah engkau tahu, wahai nafsu, bahwa pasukan orang-orang mati ada di dekatmu di pintu kota menunggu kedatanganmu, dan mereka telah mengambil sumpah setia yang berat atas diri mereka bahwa mereka tidak akan bergeming dari tempat mereka selama belum membawamu bersama mereka? Tidakkah engkau tahu, wahai nafsu, bahwa mereka mengangan-angankan untuk kembali ke dunia sehari saja agar mereka sibuk mengobati apa yang telah mereka kelalaikan, sedangkan engkau berada dalam apa yang mereka angan-angankan? Dan sehari dari umurmu jika dijual kepada mereka dengan seluruh isi dunia, niscaya mereka akan membelinya sekiranya mereka mampu. Namun engkau menyia-nyiakan hari-harimu dalam kelalaian dan pengangguran. Celaka engkau, wahai nafsu! Tidakkah engkau malu memperindah lahiriahmu untuk makhluk, sedangkan engkau menantang Allah dalam kerahasiaan dengan dosa-dosa besar? Apakah engkau malu kepada makhluk namun tidak malu kepada Sang Pencipta? Celaka engkau, apakah Dia adalah Dzat yang paling remeh penglihatannya bagimu? Apakah engkau menyuruh manusia pada kebaikan sedangkan engkau sendiri berlumuran dengan kerebahan? Engkau mengajak kepada Allah sedangkan engkau lari dari-Nya, dan engkau mengingatkan kepada Allah sedangkan engkau melupakan-Nya. Tidakkah engkau tahu, wahai nafsu, bahwa orang yang berdosa itu lebih busuk daripada kotoran, dan kotoran itu tidak dapat menyucikan yang lain? Maka bagaimana engkau mengharapkan untuk menyucikan orang lain sedangkan engkau sendiri tidak suci dalam dirimu? Celaka engkau, wahai nafsu! Seandainya engkau mengenali dirimu dengan sebenar-benarnya pengenalan, niscaya engkau akan menduga bahwa tidaklah manusia ditimpa cobaan melainkan karena kesialanmu. Celaka engkau, wahai nafsu! Engkau telah menjadikan dirimu sebagai keledai bagi Iblis yang menuntunmu ke mana pun ia mau dan memperolok-olokmu; namun demikian, engkau merasa kagum ('ujub) dengan amalmu, padahal di dalamnya terdapat cacat-cacat yang sekiranya engkau selamat darinya secara pas-pasan (tanpa pahala dan dosa), niscaya keuntungan telah ada di tanganmu. Bagaimana engkau bisa kagum dengan amalmu padahal dosamu dan kekeliruanmu begitu banyak, sedangkan Allah melaknat Iblis hanya karena satu kesalahan setelah ia beribadah kepada-Nya selama dua ratus ribu tahun, dan Dia mengeluarkan Adam dari surga karena satu kesalahan padahal beliau adalah nabi-Nya dan hamba pilihan-Nya? Celaka engkau, wahai nafsu! Betapa pengkhianatnya engkau! Celaka engkau, wahai nafsu! Betapa tebal mukamu! Celaka engkau, wahai nafsu! Betapa bodohnya engkau dan betapa beraninya engkau melakukan maksiat! Celaka engkau, berapa kali engkau berjanji lalu engkau merusaknya? Celaka engkau, berapa kali engkau berikrar lalu engkau mengkhianatinya? Celaka engkau, wahai nafsu! Apakah bersama dosa-dosa ini engkau sibuk memakmurkan duniamu seolah-olah engkau tidak…
مرتحلة عنها أما تنظرين إلى أهل القبور كيف كانوا جمعوا كثيرا وبنوا مشيدا وأملوا بعيدا فأصبح جمعهم بورا وبنيانهم قبورا وأملهم غرورا ويحك يا نفس أما لك بهم عبرة أما لك إليهم نظرة أتظنين أنهم دعوا إلى الآخرة وأنت من المخلدين هيهات هيهات ساء ما تتوهمين ما أنت إلا فى هدم عمرك منذ سقطت من بطن أمك فابنى على وجه الأرض قصرك فإن بطنها عن قليل يكون قبرك أما تخافين إذا بلغت النفس منك التراقى أن تبدو رسل ربك منحدرة إليك بسواد الألوان وكلح الوجوه وبشرى بالعذاب فهل ينفعك حينئذ الندم أو يقبل منك الحزن أو يرحم منك البكاء والعجب كل العجب منك يا نفس أنك مع هذا تدعين البصيرة والفطنة ومن فطنتك أنك تفرحين كل يوم بزيادة مالك ولا تحزنين بنقصان عمرك وما نفع مال يزيد وعمر ينقص ويحك يا نفس تعرضين عن الآخرة وهى مقبلة عليك وتقبلين على الدنيا وهى معرضة عنك فكم من مستقبل يوما لا يستكمله وكم من مؤمل لغد لا يبلغه فأنت تشاهدين ذلك في إخوانك وأقاربك وجيرانك فترين تحسرهم عند الموت ثم لا ترجعين عن جهالتك فاحذرى أيتها النفس المسكينة يوما آلى الله فيه على نفسه أن لا يترك عبد أمره في الدنيا ونهاه حتى يسأله عن عمله دقيقه وجليله سره وعلانيته فانظرى يَا نَفْسُ بِأَيِّ بَدَنٍ تَقِفِينَ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَبِأَيِّ لِسَانٍ تُجِيبِينَ وَأَعِدِّي لِلسُّؤَالِ جَوَابًا وَلِلْجَوَابِ صَوَابًا وَاعْمَلِي بَقِيَّةَ عُمُرِكِ فِي أَيَّامٍ قِصَارٍ لِأَيَّامٍ طِوَالٍ وَفِي دَارِ زَوَالٍ لِدَارِ مُقَامَةٍ وَفِي دَارِ حَزَنٍ وَنَصَبٍ لِدَارِ نَعِيمٍ وخلود اعملى قبل أن لا تعملى اخرجى من الدنيا اختيارا خروج الأحرار قبل أن تخرجى منها على الاضطرار ولا تفرحى بما يساعدك من زهرات الدنيا فرب مسرور مغبون ورب مغبون لا يشعر فويل لمن له الويل ثم لا يشعر يضحك ويفرح ويلهو ويمرح ويأكل ويشرب وقد حق له في كتاب الله انه من وقود النار فليكن نظرك يا نفس إلى الدنيا اعتبارا وسعيك لها اضطرارا ورفضك لها اختيارا وطلبك للآخرة ابتدارا ولا تكونى ممن يعجز عن شكر ما أوتى ويبتغى الزيادة فيما بقى وينهى الناس ولا ينتهى واعلمى يا نفس أَنَّهُ لَيْسَ لِلدِّينِ عِوَضٌ وَلَا لِلْإِيمَانِ بَدَلٌ وَلَا لِلْجَسَدِ خَلَفٌ وَمَنْ كَانَتْ مَطِيَّتَهُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ فَإِنَّهُ يُسَارُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَسِرْ
…akan meninggalkannya? Tidakkah engkau melihat penghuni kubur bagaimana mereka dahulu mengumpulkan banyak harta, membangun bangunan yang kokoh, dan mengangankan angan-angan yang jauh, lalu apa yang mereka kumpulkan menjadi sia-sia, bangunan mereka menjadi kuburan, dan angan-angan mereka menjadi tipu daya? Celaka engkau, wahai nafsu! Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari mereka? Tidakkah engkau memandang kepada mereka? Apakah engkau mengira bahwa mereka dipanggil menuju akhirat sedangkan engkau termasuk orang-orang yang kekal? Sungguh jauh dari kenyataan! Alangkah buruknya apa yang engkau prasangkakan! Tidaklah engkau melainkan berada dalam perobohan umurmu sejak engkau jatuh dari perut ibumu; maka bangunlah istanamu di atas permukaan bumi, karena sesungguhnya perut bumi dalam waktu singkat akan menjadi kuburmu. Tidakkah engkau takut apabila nyawa telah sampai di kerongkongan, utusan-utusan Tuhanmu turun kepadamu dengan rupa berwajah hitam, bermuka muram, dan membawa kabar gembira berupa azab? Maka apakah penyesalan saat itu bermanfaat bagimu, apakah kesedihan diterima darimu, ataukah tangisanmu dikasihi? Sungguh sangat mengherankan dirimu, wahai nafsu, bahwa bersamaan dengan ini engkau mengklaim memiliki mata hati dan kecerdasan! Di antara bentuk kecerdasanmu adalah engkau bergembira setiap hari dengan bertambahnya hartamu, namun engkau tidak bersedih dengan berkurangnya umurmu; padahal apa gunanya harta yang bertambah jika umur berkurang? Celaka engkau, wahai nafsu! Engkau berpaling dari akhirat padahal ia sedang menghadap kepadamu, dan engkau menghadap kepada dunia padahal ia sedang berpaling darimu. Betapa banyak orang yang menyongsong suatu hari namun tidak dapat menyempurnakannya, dan betapa banyak orang yang mengangankan esok hari namun tidak mencapainya. Engkau menyaksikan hal itu pada saudara-saudaramu, kerabat-kerabatmu, dan tetangga-tetanggamu, engkau melihat penyesalan mereka saat kematian, namun engkau tidak juga kembali dari kebodohanmu. Maka waspadalah, wahai nafsu yang malang, terhadap suatu hari yang dengannya Allah bersumpah atas diri-Nya sendiri bahwa Dia tidak akan membiarkan seorang hamba yang telah Dia perintahkan dan larang di dunia hingga Dia menanyakannya tentang amalnya, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Maka perhatikanlah, wahai nafsu, dengan tubuh mana engkau akan berdiri di hadapan Allah, dengan lidah mana engkau akan menjawab, dan siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut serta kebenaran untuk jawaban itu. Beramallah pada sisa umurmu di hari-hari yang pendek ini untuk hari-hari yang panjang, di negeri yang sirna untuk negeri yang kekal, dan di negeri duka serta kepayahan untuk negeri kenikmatan dan keabadian. Beramallah sebelum engkau tidak sanggup beramal! Keluarlah dari dunia secara sukarela sebagaimana keluarnya orang-orang merdeka sebelum engkau dikeluarkan darinya secara terpaksa, dan janganlah engkau bergembira dengan kemewahan dunia yang membantumu, sebab betapa banyak orang yang bergembira padahal ia tertipu, dan betapa banyak orang tertipu yang tidak menyadarinya. Maka celakalah bagi orang yang celaka namun ia tidak menyadarinya; ia tertawa, bergembira, bersenang-senang, bersuka ria, makan, dan minum, padahal telah dipastikan baginya dalam Kitab Allah bahwa ia termasuk bahan bakar neraka! Maka hendaklah pandanganmu, wahai nafsu, terhadap dunia adalah pandangan mengambil pelajaran (i'tibār), usahamu padanya adalah karena terpaksa (iḍṭirār), penolakanmu padanya adalah karena pilihan (ikhtiyār), dan pencarianmu akan akhirat adalah dengan bersegera (ibtidār). Dan janganlah engkau menjadi orang yang lemah dalam mensyukuri apa yang telah diberikan namun menuntut tambahan pada apa yang tersisa, serta melarang manusia tetapi ia sendiri tidak berhenti. Ketahuilah, wahai nafsu, bahwa tidak ada ganti bagi agama, tidak ada penukar bagi iman, dan tidak ada pengganti bagi jasad. Dan barang siapa yang kendaraannya adalah malam dan siang, maka sesungguhnya ia sedang dijalankan walau ia tidak berjalan.
فَاتَّعِظِي يَا نَفْسُ بِهَذِهِ الْمَوْعِظَةِ وَاقْبَلِي هَذِهِ النَّصِيحَةَ فَإِنَّ مَنْ أَعْرَضَ عَنِ الْمَوْعِظَةِ فَقَدْ رضى بالنار وما أراك بها راضية ولا لهذه الموعظة واعية فإن كانت القساوة تمنعك عن قبول الموعظة فاستعينى عليها بدوام التهجد والقيام فإن لم تزل فالمواظبة على الصيام فإن لم يزل فبقلة المخالطة والكلام فإن لم تزل فبصلة الأرحام واللطف بالأيتام فإن لم تزل فاعلمى أن الله قد طبع على قلبك وأقفل عليه وأنه قد تراكمت ظلمة الذنوب على ظاهره وباطنه فوطنى نفسك على النار فقد خلق الله الجنة وخلق لها أهلاً وخلق النار وخلق لها أهلا فكل ميسر لما خلق له فإن لم يبق فيك مجال للوعظ فاقنطى من نفسك والقنوط كبيرة من الكبائر نعوذ بالله من ذلك فلا سبيل لك إلى القنوط ولا سبيل لك إلى الرجاء مع انسداد طرق الخير عليك فإن ذلك اغترار وليس برجاء فانظرى الآن هل يأخذك حزن على هذه المصيبة التى ابتليت بها وهل تسمح عينك بدمعة رحمة منك على نفسك فإن سمحت فمستقى الدمع من بحر الرحمة فقد بقى فيك موضع للرجاء فواظبي على النياحة والبكاء واستعينى بأرحم الراحمين واشتكى إلى أكرم الأكرمين وأدمنى الاستغاثة ولا تملى طول الشكاية لعله أن يرحم ضعفك ويغيثك فإن مصيبتك قد عظمت وبليتك قد تفاقمت وتماديك قد طال وقد انقطعت منك الحيل وراحت عنك العلل فلا مذهب ولا مطلب ولا مستغاث ولا مهرب ولا ملجأ ولا منجا إلا إلى مولاك فافزعى إليه بالتضرع واخشعى في تضرعك على قدر عظم جهلك وكثرة ذنوبك لأنه يرحم المتضرع الذليل ويغيث الطالب المتلهف ويجيب دعوة
Maka ambillah pelajaran, wahai nafsu, dengan nasihat ini dan terimalah nasihat ini! Sebab barang siapa berpaling dari nasihat, maka sungguh ia telah ridha dengan neraka, dan aku tidak melihatmu ridha dengannya dan tidak pula menyadari nasihat ini. Jika kerasnya hati menghalangimu dari menerima nasihat, maka mintalah bantuan atasnya dengan terus-menerus shalat malam (tahajjud) dan qiyām; jika belum hilang juga, maka dengan melanggengkan puasa; jika belum hilang juga, maka dengan sedikit bergaul dan bicara; jika belum hilang juga, maka dengan menyambung tali silaturahmi dan berbuat lembut kepada anak-anak yatim. Namun jika belum hilang juga, ketahuilah bahwa Allah telah mengunci mati hatimu dan menutupnya, serta telah menumpuk kegelapan dosa pada lahir dan batinnya; maka siapkanlah dirimu untuk neraka, sebab Allah telah menciptakan surga dan menciptakan penghuninya, serta menciptakan neraka dan menciptakan penghuninya, maka masing-masing dimudahkan untuk apa ia diciptakan. Jika tidak tersisa lagi padamu ruang untuk menerima nasihat, maka berputus asalah dari dirimu, padahal keputusasaan adalah dosa besar dari dosa-dosa besar, kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Maka tidak ada jalan bagimu menuju keputusasaan, dan tidak ada jalan bagimu menuju harapan (rajā') beserta tertutupnya jalan-jalan kebaikan atasmu, sebab hal itu adalah terperdaya (ightirār) dan bukan harapan (rajā'). Maka lihatlah sekarang, apakah kesedihan menyergapmu atas musibah yang menimpamu ini, dan apakah matamu mengalirkan air mata karena kasih sayangmu pada dirimu sendiri? Jika ia mengalirkan air mata, maka muara air mata itu berasal dari samudra rahmat, sehingga masih tersisa padamu tempat untuk berharap. Maka langgengkanlah ratapan dan tangisan, mintalah bantuan kepada Dzat yang Maha Penyayang di antara para penyayang, mengadulah kepada Dzat yang Maha Pemurah di antara para pemurah, dan terus-meneruslah memohon pertolongan serta janganlah jemu dari panjangnya pengaduan, mudah-mudahan Dia mengasihi kelemahanmu dan menolongmu. Sesungguhnya musibahmu telah membesar, cobaanmu telah berat, dan penundaanmu telah lama, sedangkan tipu daya telah terputus darimu dan alasan-alasan telah sirna. Maka tidak ada tempat dituju, tidak ada yang dicari, tidak ada tempat memohon pertolongan, tidak ada tempat lari, tidak ada tempat berlindung, dan tidak ada tempat selamat melainkan hanya kepada Pelindungmu. Maka berlarilah kepada-Nya dengan merendahkan diri (taḍarru'), dan khusyuklah dalam perendahan dirimu sesuai dengan besarnya kebodohanmu dan banyaknya dosa-dosamu, karena sesungguhnya Dia mengasihi orang yang merendahkan diri lagi hina, menolong pencari yang sangat membutuhkan, dan mengabulkan doa…
المضطر وقد أصبحت إليه اليوم مضطرة وإلى رحمته محتاجة وقد ضاقت بك السبل وانسدت عليك الطرق وانقطعت منك الحيل ولم تنجح فيك العظات ولم يكسرك التوبيخ فالمطلوب منه كريم والمسئول جواد والمستغاث به بر رءوف والرحمة واسعة والكرم فائض والعفو شامل وقولى يا أرحم الراحمين يا رحمن يا رحيم يا حليم يا عظيم يا كريم أنا المذنب المصر أنا الجرىء الذى لا أقلع أنا المتمادى الذى لا أستحى هذا مقام المتضرع المسكين والبائس الفقير والضعيف الحقير والهالك الغريق فعجل إغاثتى وفرجى وأرنى آثار رحمتك وأذقنى برد عفوك ومغفرتك وارزقنى قوة عظمتك يا أرحم الراحمين
…orang yang terdesak, dan sungguh engkau pada hari ini menjadi sangat terdesak kepada-Nya dan membutuhkan rahmat-Nya. Jalan-jalan telah menyempit bagimu, pintu-pintu telah tertutup atasmu, segala tipu daya telah terputus darimu, nasihat-nasihat tidak lagi mempan padamu, dan celaan tidak mampu mematahkan (kesombongan)mu. Maka Dialah Tempat Meminta yang Mahamulia, Tempat Memohon yang Mahapemurah, Tempat Meminta Pertolongan yang Mahabaik lagi Mahapenyayang. Rahmat-Nya mahaluas, kemurahan-Nya melimpah, dan ampunan-Nya meliputi segala sesuatu. Katakanlah: 'Wahai Yang Mahapenyayang dari segala yang penyayang, wahai Yang Mahapengasih, wahai Yang Mahapenyayang, wahai Yang Mahapenyantun, wahai Yang Mahaagung, wahai Yang Mahamulia, akulah pendosa yang terus-menerus berbuat dosa, akulah orang nekat yang tidak berhenti, akulah orang yang melampaui batas yang tidak tahu malu. Inilah maqam (kedudukan) hamba yang merendah lagi miskin, yang sengsara lagi fakir, yang lemah lagi hina, dan yang binasa lagi tenggelam. Maka segerakanlah pertolongan-Mu dan kelapangan bagiku, perlihatkanlah kepadaku jejak-jejak rahmat-Mu, rasakanlah kepadaku kesejukan ampunan dan maaf-Mu, serta karuniakanlah kepadaku kekuatan dari keagungan-Mu, wahai Yang Mahapenyayang dari segala yang penyayang.'
اقتداء بأبيك آدم ﵇ فقد قال وهب بن منبه لما أهبط الله آدم من الجنة إلى الأرض مكث لا ترقأ له دمعة فاطلع الله ﷿ عليه في اليوم السابع وهو محزون كئيب كظيم منكس رأسه فأوحى الله تعالى إليه يا آدم ما هذا الجهد الذى أرى بك قال يا رب عظمت مصيبتى وأحاطت بى خطيئتى وأخرجت من ملكوت ربى فصرت في دار الهوان بعد الكرامة وفي دار الشقاء بعد السعادة وفي دار النصب بعد الراحة وفي دار البلاء بعد العافية وفي دار الزوال بعد القرار وفي دار الموت والفناء بعد الخلود والبقاء فكيف لا أبكى على خطيئتى فأوحى الله تعالى إليه يا آدم ألم أصطفك لنفسى وأحللتك دارى وخصصتك بكرامتى وحذرتك سخطى ألم أخلقك بيدى ونفخت فيك من روحى وأسجدت لك ملائكتى فعصيت أمرى ونسيت عهدى وتعرضت لسخطى فو عزتى وجلالى لو ملأت الأرض رجالا كلهم مثلك يعبدونني ويسبحونني ثم عصونى لأنزلتهم منازل العاصين فبكى آدم ﵇ عند ذلك ثلثمائة عام
(Lakukanlah itu) demi meneladani ayahmu, Adam 'alaihissalam. Wahb bin Munabbih berkata: Ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, ia berdiam diri tanpa pernah berhenti meneteskan air mata. Lalu Allah Azza wa Jalla menyingkap (keadaan)-nya pada hari ketujuh, sementara ia sedang bersedih hati, duka mendalam, menahan sesak dada, dan menundukkan kepalanya. Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: 'Wahai Adam, penderitaan apakah ini yang Kulihat pada dirimu?' Ia menjawab: 'Wahai Tuhanku, sungguh besar musibahku, dosa-dosaku telah meliputiku, dan aku telah dikeluarkan dari kerajaan Tuhanku, sehingga aku berada di negeri kehinaan setelah kemuliaan, di negeri kesengsaraan setelah kebahagiaan, di negeri kelelahan setelah ketenangan, di negeri cobaan setelah kesejahteraan, di negeri ketiadaan setelah kemapanan, dan di negeri kematian serta kebinasaan setelah kekekalan dan keabadian. Maka bagaimana mungkin aku tidak menangisi dosaku?' Lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: 'Wahai Adam, bukankah Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku, menempatkanmu di kediaman-Ku, mengkhususkanmu dengan kemuliaan-Ku, dan memperingatkanmu dari kemurkaan-Ku? Bukankah Aku menciptakanmu dengan tangan-Ku, meniupkan ke dalam dirimu dari roh-Ku, dan memerintahkan para malaikat-Ku sujud kepadamu? Namun engkau mendurhakai perintah-Ku, melupakan janji-Ku, dan mendedahkan dirimu pada kemurkaan-Ku. Maka demi keagungan-Ku dan keluhuran-Ku, sekiranya Aku memenuhi bumi dengan laki-laki yang semuanya sepertimu, mereka menyembah-Ku dan bertasbih kepada-Ku, lalu mereka mendurhakai-Ku, niscaya Aku akan menempatkan mereka di tempat orang-orang yang maksiat.' Maka Adam 'alaihissalam menangis setelah itu selama tiga ratus tahun.
وكان عبيد الله البجلى كثير البكاء يقول في بكائه طول ليله إلهى أنا الذى كلما طال عمرى زادت ذنوبى أنا الذى كلما هممت بترك خطيئة عرضت لى شهوة أخرى واعبيداه خطيئة لم تبل وصاحبها في طلب أخرى واعبيداه إن كانت النار لك مقيلا ومأوى واعبيداه إن كانت المقامع برأسك تهيأ واعبيداه قضيت حوائج الطالبين ولعل حاجتك لا تقضى
Ubaidullah al-Bajali adalah seorang yang sangat banyak menangis. Ia berkata dalam tangisnya sepanjang malam: 'Tuhanku, akulah orang yang setiap kali bertambah umurku, bertambah pula dosa-dosaku. Akulah orang yang setiap kali berniat meninggalkan satu kesalahan, tampak bagiku syahwat yang lain. Wahai Ubaid yang malang, satu dosa belum lagi usang sementara pelakunya telah mencari dosa yang lain! Wahai Ubaid yang malang, bagaimana jika neraka menjadi tempat istirahat dan tempat tinggalmu? Wahai Ubaid yang malang, bagaimana jika pemukul-pemukul besi telah disiapkan untuk kepalamu? Wahai Ubaid yang malang, Engkau telah menunaikan kebutuhan orang-orang yang memohon, namun boleh jadi kebutuhanmu sendiri tidak ditunaikan.'
وقال منصور بن عمار سمعت في بعض الليالى بالكوفة عابدا يناجى ربه وهو يقول يا رب وعزتك ما أرد بمعصيتك مخالفتك ولا عصيتك إذ عصيتك وأنا بمكانك جاهل ولا لعقوبتك متعرض ولا لنظرك مستخف ولكن سولت لى نفسى وأعاننى على ذلك شقوتى وغرنى سترك المرخى على فعصيتك بجهلى وخالفتك بفعلى فمن عذابك الآن من يستنقذنى أو بحبل من أعتصم إن قطعت حبلك عنى واسوأتاه من الوقوف بين يديك غدا إذا قيل للمخفين جوزوا وقيل للمثقلين حطوا أمع المخفين أجوز أم مع المثقلين أحط ويلى كلما كبرت سنى كثرت ذنوبى ويلى كلما طال عمرى كثرت معاصى فإلى متى أتوب وإلى متى أعود أما آن لى أن أستحيى من ربي
Manshur bin Ammar berkata: Pada suatu malam di Kufah, aku mendengar seorang ahli ibadah bermunajat kepada Tuhannya seraya berkata: 'Wahai Tuhan, demi keagungan-Mu, aku tidak bermaksud menentang-Mu dengan kemaksiatanku, dan tidaklah aku mendurhakai-Mu ketika aku berbuat maksiat karena aku tidak tahu akan kedudukan-Mu, tidak pula karena menantang siksa-Mu, atau menganggap remeh pandangan-Mu. Namun nafsukulah yang membujukku, celakanya diriku ikut membantuku, dan tirai penutup-Mu yang terurai padaku telah memperdayaku. Maka aku mendurhakai-Mu karena kebodohanku dan menyelisahi-Mu dengan perbuatanku. Maka siapakah kini yang dapat menyelamatkanku dari azab-Mu, atau pada tali siapa aku berpegang jika Engkau memutuskan tali-Mu dariku? Alangkah buruknya penyesalan saat berdiri di hadapan-Mu besok, ketika dikatakan kepada orang-orang yang berbeban ringan, "Lewatlah!", dan dikatakan kepada orang-orang yang berbeban berat, "Berhentilah!" Apakah aku akan lewat bersama orang-orang yang berbeban ringan, ataukah aku akan berhenti bersama orang-orang yang berbeban berat? Celakalah aku, setiap kali usiaku bertambah tua, dosa-dosaku semakin banyak. Celakalah aku, setiap kali umurku bertambah panjang, kemaksiatanku semakin melimpah. Maka sampai kapan aku bertobat dan sampai kapan aku kembali berbuat dosa? Belum kah tiba saatnya bagiku untuk malu kepada Tuhanku?'
فهذه طرق القوم في مناجاة مولاهم وفي معاتبة نفوسهم وإنما مطلبهم من المناجاة الاسترضاء ومقصدهم من المعاتبة التنبيه والاسترعاء فمن أهمل المعاتبة والمناجاة لَمْ يَكُنْ لِنَفْسِهِ مُرَاعِيًا وَيُوشِكُ أَنْ لَا يكون الله تعالى عنه راضيا والسلام ثم كتاب المحاسبة والمراقبة
Inilah jalan kaum sufi dalam bermunajat kepada Pelindung mereka dan dalam mencela nafsu mereka. Sesungguhnya yang mereka cari dari munajat adalah meraih keridaan-Nya, dan tujuan mereka dari celaan terhadap diri adalah memberi peringatan dan kewaspadaan. Maka barangsiapa mengabaikan celaan diri dan munajat, niscaya ia tidak menjaga jiwanya, dan dikhawatirkan Allah Ta'ala tidak rida kepadanya. Wassalam. Selesailah Kitab Muhasabah dan Muraqabah.
يتلوه كتاب التفكر إن شاء الله تعالى والحمد لله وحده وصلاته على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلامه
Akan dilanjutkan dengan Kitab Tafakur, insya Allah Ta'ala. Segala puji bagi Allah semata, serta salawat dan salam-Nya semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.
كتاب التفكر وهو الكتاب التاسع من ربع المنجيات من كتاب إحياء علوم
Kitab Tafakur, yaitu kitab kesembilan dari Rubu' al-Munjiyat (seperempat bagian tentang hal-hal yang menyelamatkan) dari Kitab Ihya' 'Ulum
الدين
iddin (Ihya Ulumuddin).
﷽
Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.
الحمد لله الذي لم يقدر لانتهاء عزته نحوا ولا قطرا ولم يجعل لمراقى أقدام الأوهام ومرمى سهام الأفهام إلى حمى عظمته مجرى بل ترك قلوب الطالبين في بيداء كبريائه والهة حيرى كلما اهتزت لنيل مطلوبها ردتها سبحات الجلال قسرا وإذا همت بالانصراف آيسة نوديت من سرادقات الجمال صبرا صبرا ثم قيل لها أجيلى فى ذل العبودية منك فكرا لأنك لو تفكرت في جلال الربوبية لم تقدرى له قدرا وإن طلبت وراء الفكر في صفاتك أمرا فانظرى في نعم الله تعالى وأياديه كيف توالت عليك تترى وجددى لكل نعمة منها ذكرا وشكرا وتأملى في بحار المقادير كيف فاضت على العالمين خيرا وشرا ونفعا وضرا وعسرا ويسرا وفوزا وخسرا وجبرا وكسرا وطيا ونشرا وإيمانا وكفرا وعرفانا ونكرا فإن جاوزت النظر في الأفعال إلى النظر في الذات فقد حاولت أمرا إمرا وخاطرت بنفسك مجاوزة حد طاقة البشر ظلما وجورا فقد انبهرت العقول دون مبادى إشراقهوانتكصت على أعقابها اضطرارا وقهرا والصلاة على محمد سيد ولد آدم وإن كان لم يعد سيادته فخرا صلاة تبقى لنا في عرصات القيامة عدة وذخرا وعلى آله وأصحابه الذين أصبح كل واحد منهم في سماء الدين بدرا ولطوائف المسلمين صدرا وسلم تسليماً كثيراً
Segala puji bagi Allah yang tidak menetapkan batas akhir dan penjuru bagi keagungan-Nya, serta tidak menjadikan jalan bagi pijakan prasangka dan bidikan anak panah pemahaman menuju kawasan keagungan-Nya. Sebaliknya, Dia membiarkan hati orang-orang yang mencari terombang-ambing kebingungan di padang kebesaran-Nya; setiap kali hati itu tergerak untuk mencapai apa yang dicari, cahaya keagungan-Nya memukulnya mundur secara paksa, dan ketika hati berniat berpaling dalam keputusasaan, ia dipanggil dari balik tirai keindahan: 'Bersabarlah, bersabarlah!' Kemudian dikatakan kepadanya: 'Putarlah pikiranmu dalam kehinaan perhambaanmu, karena sekiranya engkau memikirkan keagungan ketuhanan, engkau tidak akan mampu mengukurnya sebagaimana mestinya. Jika engkau mencari hal lain di balik pemikiran tentang sifat-sifatmu, maka pandanglah nikmat-nikmat Allah Ta'ala dan kemudahan-Nya bagaimana semuanya melimpah kepadamu secara berturut-turut; perbaruilah pengingatan dan kesyukuran untuk setiap nikmat darinya. Renungkanlah lautan takdir bagaimana meluap ke atas seluruh alam, berupa kebaikan dan keburukan, manfaat dan bahaya, kesulitan dan kemudahan, keberuntungan dan kerugian, pemulihan dan kehancuran, penggulungan dan pembentangan, keimanan dan kekufuran, serta pengakuan dan pengingkaran. Jika engkau melampaui pengamatan pada perbuatan-perbuatan (Af'al) menuju pengamatan pada Zat, sungguh engkau telah menghendaki perkara yang sangat mungkar dan mempertaruhkan dirimu melampaui batas kemampuan manusia secara zalim dan melampaui batas. Sungguh akal-akal telah terperangah di hadapan permulaan pancaran cahaya-Nya dan berbalik ke belakang secara terpaksa dan tunduk. Salawat semoga tercurah kepada Muhammad, penghulu anak cucu Adam, sekalipun beliau tidak menganggap kepemimpinannya sebagai kebanggaan—suatu salawat yang tetap menjadi bekal dan simpanan bagi kita di padang mahsyar Hari Kiamat; juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang masing-masing telah menjadi bulan purnama di langit agama dan pemimpin bagi kelompok-kelompok kaum muslimin, serta salam sejahtera yang melimpah.
أما بعد فقد وردت السنة بأن تفكر ساعة خير من عبادة سنة وكثر الحث في كتاب الله تعالى على التدبر والاعتبار والنظر والافتكار ولا يخفى أن الفكر هو مفتاح الأنوار ومبدأ الاستبصار وهو شبكة العلوم ومصيدة المعارف والفهوم وأكثر الناس قد عرفوا فضله ورتبته لكن جهلوا حقيقته وثمرته ومصدره ومورده ومجراه ومسرحه وطريقه وكيفيته ولم يعلم أنه كيف يتفكر وفيماذا يتفكر ولماذا يتفكر وما الذى يطلب به أهو مراد لعينه أم لثمرة تستفاد منه فإن كان لثمرة فما تلك الثمرة أهى من العلوم أو من الأحوال أو منهما جميعا وكشف جميع ذلك مهم ونحن نذكر أولا فضيلة التفكر
Amma ba'du: Sungguh telah tertuang dalam Sunnah bahwa bertafakur sejenak (satu saat) itu lebih baik daripada beribadah satu tahun. Dorongan di dalam Kitab Allah Ta'ala untuk bertadabur, mengambil pelajaran (i'tibar), memandang (nazhar), dan bertafakur sangatlah banyak. Tidak tersembunyi lagi bahwa tafakur adalah kunci cahaya-cahaya spiritual dan permulaan mata hati (istibshar). Ia adalah jaring ilmu-ilmu serta penangkap ma'rifat dan pemahaman. Kebanyakan manusia telah mengetahui keutamaan dan tingkatannya, namun mereka tidak mengetahui hakikatnya, buahnya, sumbernya, muaranya, alirannya, lapangannya, jalannya, dan caranya. Tidak diketahui bagaimana seseorang bertafakur, tentang apa ia bertafakur, mengapa ia bertafakur, serta apa yang dicari dengannya; apakah ia dituntut demi dirinya sendiri ataukah demi buah yang dipetik darinya? Jika demi suatu buah, apakah buah itu berupa ilmu-ilmu, atau keadaan-keadaan spiritual (ahwal), ataukah dari keduanya sekaligus? Mengungkap semua ini adalah hal yang penting, dan kami akan menyebutkan terlebih dahulu keutamaan bertafakur,
ثم حقيقة التفكر وثمرته
kemudian hakikat bertafakur dan buahnya,
ثم مجارى الفكر ومسارحه إن شاء الله تعالى فضيلة التفكر
kemudian alur-alur pikiran dan lapangannya, insya Allah Ta'ala. Keutamaan Bertafakur
قَدْ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِالتَّفَكُّرِ وَالتَّدَبُّرِ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ فِي مَوَاضِعَ لَا تُحْصَى وَأَثْنَى عَلَى الْمُتَفَكِّرِينَ فَقَالَ تَعَالَى الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا وَقَدْ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ ﵄ إِنَّ قَوْمًا تَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ ﷿ فقال ﷺ تفكروا في
Sungguh Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk bertafakur dan bertadabur di dalam Kitab-Nya yang mulia pada tempat-tempat yang tidak terhitung banyaknya, serta memuji orang-orang yang bertafakur. Allah Ta'ala berfirman: '(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia."' (QS. Ali 'Imran: 191). Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: 'Sesungguhnya ada suatu kaum yang memikirkan tentang Zat Allah Azza wa Jalla, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bertafakurlah kalian pada
خلق الله ولا تتفكروا في الله فإنكم لن تقدروا قدره وعن النبي ﷺ أنه خرج على قوم ذات يوم وهم يتفكرون فقال ما لكم لا تتكلمون فقالوا نتفكر في خلق الله ﷿ قال فكذلك فافعلوا تفكروا في خلقه ولا تتفكروا فيه فإن بهذا المغرب أرضا بيضاء نورها بياضها وبياضها نورها مسيرة الشمس أربعين يوما بها خلق من خلق الله ﷿ لم يعصوا الله طرفة عين قالوا يا رسول الله فأين الشيطان منهم قال ما يدرون خلق الشيطان أم لا قالوا من ولد آدم قال لا يدرون خلق آدم أم لا وعن عطاء قال انطلقت يوما أنا وعبيد بن عمير إلى عائشة ﵂ فكلمتنا وبيننا وبينها حجاب فقالت يا عبيد ما يمنعك من زيارتنا قال قول رسول الله ﷺ زر غبا تزدد حبا قال ابن عمير فأخبرينا بأعجب شئ رأيته من رسول الله ﷺ قال فبكت وقالت كل أمره كان عجبا أتانى في ليلتى حتى مس جلده جلدى ثم قال ذرينى أتعبد لربى ﷿ فقام إلى القربة فتوضأ منها ثم قام يصلي فبكى حتى بل لحيته ثم سجد حتى بل الأرض ثم اضطجع على جنبه حتى أتى بلال يؤذنه بصلاة الصبح فقال يا رسول الله ما يبكيك وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر فقال ويحك يا بلال وما يمنعنى أن أبكى وقد أنزل الله تعالى على في هذه الليلة إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولى الألباب ثم قال ويل لمن قرأها ولم يتفكر فيها فقيل للأوزاعى ما غاية التفكير فيهن قال يقرؤهن ويعقلهن
ciptaan Allah dan janganlah kalian memikirkan tentang Zat Allah, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengukur keagungan-Nya sebagaimana mestinya."' Diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa pada suatu hari beliau keluar menemui suatu kaum yang sedang bertafakur, lalu beliau bersabda: "Mengapa kalian tidak berbicara?" Mereka menjawab: "Kami sedang memikirkan tentang ciptaan Allah Azza wa Jalla." Beliau bersabda: "Demikian itulah yang harus kalian lakukan. Bertafakurlah pada ciptaan-Nya dan janganlah bertafakur pada Zat-Nya. Karena di arah barat ini ada suatu bumi yang putih, cahayanya adalah keputihannya dan keputihannya adalah cahayanya, seluas perjalanan matahari selama empat puluh hari. Di sana ada makhluk dari ciptaan Allah Azza wa Jalla yang tidak pernah mendurhakai Allah sekejap mata pun." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, di manakah setan dari mereka?" Beliau menjawab: "Mereka tidak tahu apakah setan diciptakan atau tidak." Mereka bertanya: "Apakah mereka dari keturunan Adam?" Beliau menjawab: "Mereka tidak tahu apakah Adam diciptakan atau tidak." Diriwayatkan dari 'Atha', ia berkata: Pada suatu hari aku dan 'Ubaid bin 'Umair pergi menemui 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau berbicara kepada kami dari balik tabir. Beliau berkata: "Wahai 'Ubaid, apa yang menghalangimu untuk berkunjung kepada kami?" Ia menjawab: "Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: 'Berkunjunglah secara jarang-jarang, niscaya akan menambah rasa cinta.'" Ibnu 'Umair berkata: "Beritahukanlah kepada kami tentang hal paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." 'Aisyah pun menangis lalu berkata: "Seluruh urusan beliau adalah menakjubkan. Beliau mendatangi ku pada malam giliranku hingga kulit beliau menyentuh kulitku, lalu beliau bersabda: 'Biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku Azza wa Jalla.' Maka beliau bangkit menuju qirbah (wadah air dari kulit) lalu bertaharah darinya, kemudian berdiri shalat dan menangis hingga membasahi janggutnya. Lalu beliau sujud hingga membasahi tanah, kemudian berbaring miring hingga Bilal datang memberitahu beliau untuk shalat Subuh. Bilal berkata: 'Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?' Beliau bersabda: 'Celaka engkau wahai Bilal, apa yang menghalangiku untuk menangis padahal Allah Ta'ala telah menurunkan kepadaku pada malam ini: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal" (QS. Ali 'Imran: 190).' Kemudian beliau bersabda: 'Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya.'" Ditanyakan kepada Al-Auza'i: "Apakah puncak dari memikirkan ayat-ayat itu?" Ia menjawab: "Ia membacanya dan memahaminya."
وعن محمد بن واسع إن رجلا من أهل البصرة ركب إلى أم ذر بعد موت أبى ذر فسألها عن عبادة أبى ذر فقالت كان نهاره أجمع في ناحية البيت يتفكر
Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi', bahwa seorang laki-laki dari penduduk Bashrah pergi berkendara menemui Ummu Dzarr setelah wafatnya Abu Dzarr. Ia bertanya kepadanya tentang ibadah Abu Dzarr. Ummu Dzarr menjawab: "Sepanjang harinya ia berada di sudut rumah sambil bertafakur."
وعن الحسن قال تفكر ساعة خير من قيام ليلة
Diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri), ia berkata: "Bertafakur sejenak (satu saat) itu lebih baik daripada shalat malam satu malam penuh."
وعن الفضيل قال الفكر مرآة تريك حسناتك وسيئاتك
Diriwayatkan dari Fudhail (bin 'Iyadh), ia berkata: "Tafakur adalah cermin yang memperlihatkan kebaikan-kebaikanmu dan keburukan-keburukanmu."
وقيل لإبراهيم إنك تطيل الفكرة فقال الفكرة مخ العقل وكان سفيان بن عيينة كثيرا ما يتمثل بقول القائل
Dikatakan kepada Ibrahim (bin Adham): "Sesungguhnya engkau memperlama bertafakur." Ia menjawab: "Tafakur adalah inti (otak) dari akal." Dan Sufyan bin 'Uyainah sering kali melantunkan bait syair seorang penyair:
إذا المرء كانت له فكرة … ففى كل شئ له عبرة
"Apabila seseorang memiliki daya tafakur… Maka pada segala sesuatu terdapat pelajaran baginya."
وعن طاوس قال قال الحواريون لعيسى بن مريم يا روح الله هل على الأرض اليوم مثلك فقال نعم من كان منطقه ذكرا وصمته فكرا ونظره عبرة فإنه مثلى
Dari Thawus, ia berkata bahwa kaum Hawariyyun berkata kepada 'Isa bin Maryam, "Wahai Ruhullah, apakah di bumi hari ini ada orang yang sepertimu?" Beliau menjawab, "Ya, barangsiapa yang ucapannya adalah zikir, diamnya adalah tafakur, dan pandangannya adalah iktibar (pelajaran), maka sesungguhnya ia seperti diriku."
وقال الحسن من لم يكن كلامه حكمة فهو لغو ومن لم يكن سكوته تفكرا فهو سهو ومن لم يكن نظره اعتبارا فهو لهو وفي قوله تَعَالَى سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرض يغير الحق قال أمنع قلوبهم التفكر في أمرى
Al-Hasan berkata, "Barangsiapa yang perkataannya bukan hikmah, maka itu adalah kesia-siaan (laghw). Barangsiapa yang diamnya bukan tafakur, maka itu adalah kelalaian (sahw). Dan barangsiapa yang pandangannya bukan pengambil pelajaran (i'tibar), maka itu adalah permainan (lahw)." Mengenai firman Allah Ta'ala, "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dari tanda-tanda kekuasaan-Ku," ia berkata, "Maksudnya, Aku menghalangi hati mereka dari bertafakur tentang urusan-Ku."
وعن أبى سعيدى الخدري قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أعطوا أعينكم حظها من العبادة فقالوا يا رسول الله وما حظها من العبادة قال النظر في المصحف والتفكر فيه والاعتبار عند عجائبه وعن امرأة كانت تسكن البادية قريبا من مكة أنها قالت لو تطالعت قلوب المتقين بفكرها إلى ما قد ادخر لها في حجب الغيب من خير الآخرة لم يصف لهم في الدنيا عيش ولم تقر لهم في الدنيا عين
Dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Berikanlah kepada mata kalian bagiannya dari ibadah." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah bagiannya dari ibadah itu?" Beliau bersabda, "Melihat mushaf, bertafakur padanya, dan mengambil pelajaran dari keajaiban-keajaibannya." Dan diriwayatkan dari seorang wanita yang tinggal di pedalaman dekat Makkah, ia berkata, "Seandainya hati orang-orang yang bertakwa meneliti melalui tafakurnya kepada apa yang telah disimpan untuk mereka di balik tirai kegaiban berupa kebaikan akhirat, niscaya kehidupan dunia tidak akan pernah terasa murni murni nikmat bagi mereka dan mata mereka tidak akan merasa tenang di dunia."
وكان لقمان يطيل الجلوس وحده فكان يمر به مولاه فيقول يا لقمان إنك تديم الجلوس وحدك فلو
Luqman dahulu sering memperlama duduk sendirian. Suatu ketika tuannya melewatinya lalu berkata, "Wahai Luqman, engkau terus-menerus duduk sendirian, seandainya…
جلست مع الناس كان آنس لك فيقول لقمان إن طول الوحدة أفهم للفكر وطول الفكر دليل على طريق الجنة وقال وهب بن منبه ما طالت فكرة امرئ قط إلا علم وما علم امرؤ قط إلا عمل
…engkau duduk bersama orang-orang, tentu itu akan lebih menghiburmu." Luqman pun menjawab, "Sesungguhnya lamanya kesendirian itu lebih memberi pemahaman bagi pikiran (tafakur), dan lamanya tafakur adalah penunjuk jalan menuju surga." Wahb bin Munabbih berkata, "Tidaklah pemikiran seseorang berlarut-larut melainkan ia akan paham (berilmu), dan tidaklah seseorang berilmu melainkan ia akan beramal."
وقال عمر بن عبد العزيز الفكرة في نعم الله ﷿ من أفضل العبادة
Umar bin Abdul Aziz berkata, "Bertafakur tentang nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla termasuk ibadah yang paling utama."
وقال عبد الله بن المبارك يوما لسهل بن على ورآه ساكتا متفكرا أين بلغت قال الصراط
Pada suatu hari Abdullah bin Al-Mubarok berkata kepada Sahl bin 'Ali ketika melihatnya terdiam sedang bertafakur, "Sampai di manakah jangkauan pikiranmu?" Sahl menjawab, "Shirat (jembatan di akhirat)."
وقال بشر لو تفكر الناس في عظمة الله ما عصوا الله ﷿ وعن ابن عباس ركعتان مقتصدتان في تفكر خير من قيام ليلة بلا قلب
Bishr berkata, "Seandainya manusia bertafakur tentang keagungan Allah, niscaya mereka tidak akan bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla." Dan dari Ibnu Abbas, "Dua rakaat yang sederhana dengan bertafakur itu lebih baik daripada shalat malam semalaman penuh tanpa kehadiran hati."
وبينا أبو شريح يمشى إذ جلس فتقنع بكسائه فجعل يبكى فقيل له ما يبكيك قال تفكرت في ذهاب عمرى وقلة عملى واقتراب أجلى
Ketika Abu Shuraih sedang berjalan, tiba-tiba ia duduk lalu menyelimuti dirinya dengan kainnya dan mulai menangis. Ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Ia menjawab, "Aku bertafakur tentang berlalunya umurku, sedikitnya amalku, dan semakin dekatnya ajalku."
وقال أبو سليمان عودوا أعينكم البكاء وقلوبكم التفكر وقال أبو سليمان الفكر في الدنيا حجاب عن الآخرة وعقوبة لأهل الولاية والفكر في الآخرة يورث الحكمة ويحيى القلوب وَقَالَ حاتم مِنَ الْعِبْرَةِ يَزِيدُ الْعِلْمُ وَمِنَ الذكر يزيد يَزِيدُ الْحُبُّ وَمِنَ التَّفَكُّرِ يَزِيدُ الْخَوْفُ
Abu Sulaiman berkata, "Biasakanlah mata kalian untuk menangis dan hati kalian untuk bertafakur." Abu Sulaiman juga berkata, "Berpikir tentang dunia adalah penghalang dari akhirat dan merupakan hukuman bagi para wali, sedangkan berpikir tentang akhirat membuahkan hikmah serta menghidupkan hati." Hatim berkata, "Dari i'tibar (mengambil pelajaran) bertambahlah ilmu, dari zikir bertambahlah mahabbah (cinta), dan dari tafakur bertambahlah khauf (rasa takut kepada Allah)."
وَقَالَ ابن عباس التفكر في الخير يدعو إلى العمل به والندم على الشر يدعو إلى تركه
Ibnu Abbas berkata, "Bertafakur tentang kebaikan mendorong untuk mengamalkannya, dan penyesalan atas kejahatan mendorong untuk meninggalkannya."
ويروى أن الله تعالى قال في بعض كتبه إنى لست أقبل كلام كل حكيم ولكن انظر إلى همه وهواه فإذا كان همه وهواه لى جعلت صمته تفكرا وكلامه حمدا وإن لم يتكلم
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman dalam sebagian kitab-Nya, "Sesungguhnya Aku tidak menerima ucapan dari setiap orang yang bijak (ahli hikmah), tetapi Aku melihat kepada keinginan dan hawa nafsunya. Jika keinginan dan hawa nafsunya adalah untuk-Ku, maka Aku jadikan diamnya sebagai tafakur dan ucapannya sebagai pujian (hamd), meskipun ia tidak berbicara."
وقال الحسن إن أهل العقل لم يزالوا يعودون بالذكر على الفكر وبالفكر على الذكر حتى استنطقوا قلوبهم فنطقت بالحكمة
Al-Hasan berkata, "Sesungguhnya orang-orang yang berakal senantiasa kembali dari zikir kepada tafakur, dan dari tafakur kepada zikir, hingga mereka membuat hati mereka berbicara, maka hati itu pun berbicara dengan hikmah."
وقال إسحاق بن خلف كان داود الطائي رحمة الله تعالى على سطح في ليلة قمراء فتفكر في ملكوت السموات والأرض وهو ينظر إلى السماء ويبكى حتى وقع في دار جار له قال فوثب صاحب الدار من فراشه عريانا وبيده سيف وظن أنه لص فلما نظر إلى داود رجع ووضع السيف وقال من ذا الذى طرحك من السطح قال ما شعرت بذلك
Ishaq bin Khalaf berkata bahwa Daud At-Tha'i—rahmatullah 'alaihi—berada di atas atap pada suatu malam yang terang bulan. Lalu ia bertafakur tentang kerajaan langit dan bumi seraya memandang ke langit dan menangis, hingga ia jatuh ke rumah tetangganya. Ishaq berkata: Pemilik rumah itu melompat dari tempat tidurnya tanpa pakaian (hanya berpakaian minim) dengan membawa pedang karena menyangka ada pencuri. Ketika ia melihat Daud, ia kembali dan meletakkan pedangnya seraya berkata, "Siapakah yang melemparkanmu dari atas atap?" Daud menjawab, "Aku tidak menyadari hal itu."
وقال الجنيد اشرف المجالس وأعلاها الجلوس مع الفكرة في ميدان التوحيد والتنسم بنسيم المعرفة والشرب بكأس المحبة من بحر الوداد والنظر بحسن الظن لله ﷿ ثم قال يا لها من مجالس ما أجلها ومن شراب ما ألذه طوبى لمن رزقه
Al-Junaid berkata, "Majelis yang paling mulia dan paling tinggi adalah duduk bersama tafakur di medan tauhid, menghirup hembusan angin makrifat, meminum dari cangkir mahabbah dari samudra kasih sayang (widad), dan memandang dengan husnuzan kepada Allah Azza wa Jalla." Kemudian beliau berkata, "Betapa agungnya majelis-majelis itu, dan betapa lezatnya minuman itu! Beruntunglah orang yang dikaruniai hal tersebut."
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى اسْتَعِينُوا عَلَى الكلام بالصمت وعلى الاستنباط بالفكر
Asy-Syafi'i—rahimahullāhu ta'ālā—berkata, "Mintalah bantuan untuk berbicara dengan cara diam, dan untuk mengambil kesimpulan hukum (istinbath) dengan bertafakur."
وقال أيضا صحة النظر في الأمور نجاة من الغرور والعزم في الرأي سلامة من التفريط والندم والروية والفكر يكشفان عن الحزم والفطنة ومشاورة الحكماء ثبات في النفس وقوة في البصيرة ففكر قبل أن تعزم وتدبر قبل أن تهجم وشاور قبل أن تقدم
Beliau juga berkata, "Ketelitian dalam memandang berbagai perkara adalah keselamatan dari tipu daya (gurur), keteguhan dalam berpendapat adalah keselamatan dari keteledoran dan penyesalan, pertimbangan yang matang serta tafakur dapat menyibak ketegasan dan kecerdasan, dan bermusyawarah dengan orang-orang bijak adalah keteguhan jiwa serta kekuatan mata hati (bashirah). Maka bertafakurlah sebelum engkau berazam, pertimbangkanlah sebelum engkau bertindak, dan bermusyawarahlah sebelum engkau melangkah."
وقال أيضا الفضائل أربع إحداها الحكمة وقوامها الفكرة
Beliau juga berkata, "Keutamaan-keutamaan itu ada empat: Salah satunya adalah hikmah, dan pilar penyangganya adalah tafakur."
والثانية العفة وقوامها في الشهوة
"Yang kedua adalah 'iffah (kesucian diri), dan pilar penyangganya ada pada pengendalian syahwat."
والثالثة القوة وقوامها في الغضب والرابعة العدل وقوامه في اعتدال قوى النفس
"Yang ketiga adalah kekuatan (keberanian), dan pilar penyangganya ada pada pengendalian amarah. Dan yang keempat adalah keadilan, dan pilar penyangganya ada pada keseimbangan daya-daya jiwa."
فهذه أقاويل العلماء في الفكرة وما شرع أحد منهم في ذكر حقيقتها وبيان مجاريها
Demikianlah perkataan para ulama mengenai tafakur (berpikir), dan belum ada seorang pun dari mereka yang mulai menyebutkan hakikatnya serta menjelaskan alur-alurnya.
بيان حقيقة الفكر وثمرته
Penjelasan Hakikat Tafakur dan Buahnya
أعلم أن معنى الفكر هو إحضار معرفتين في القلب ليستثمر منهما معرفة ثالثة
Ketahuilah bahwa makna tafakur (berpikir) adalah menghadirkan dua pengetahuan (makrifat) di dalam hati agar menghasilkan pengetahuan ketiga dari keduanya.
ومثاله أن من مال إلى العاجلة وآثر الحياة الدنيا وإراد أن يعرف أن الآخرة أولى بالإيثار من العاجلة فله طريقان ﴿أحدهما﴾ أن يسمع من غيره أن الآخرة أولى بالإيثار من الدنيا فيقلده ويصدقه من غير بصيرة بحقيقة الأمر فيميل بعمله إلى إيثار الآخرة اعتمادا على مجرد قوله وهذا يسمى تقليدا ولا يسمى معرفة
Contohnya, seseorang yang cenderung kepada kenikmatan yang disegerakan (duniawi), mengutamakan kehidupan dunia, lalu ingin mengetahui bahwa akhirat lebih utama untuk diutamakan daripada duniawi, ia memiliki dua jalan. (Pertama), ia mendengar dari orang lain bahwa akhirat lebih utama untuk diutamakan daripada dunia, lalu ia bertaklid dan membenarkannya tanpa adanya mata hati (basirah) terhadap hakikat perkara tersebut, sehingga ia mengarahkan amalnya untuk mengutamakan akhirat hanya bersandar pada ucapan orang itu semata. Hal ini dinamakan taklid dan tidak dinamakan pengetahuan (makrifat).
والطريق الثاني أن يعرف أن الأبقى أولى بالإيثار ثم يعرف أن الآخرة أبقى
Jalan kedua adalah ia mengetahui bahwa apa yang lebih kekal itu lebih utama untuk diutamakan, kemudian ia mengetahui bahwa akhirat itu lebih kekal.
فيحصل له من هاتين المعرفتين معرفة ثالثة وهو أن الآخرة أولى بالإيثار ولا يمكن تحقق المعرفة بأن الآخرة أولى بالإيثار إلا بالمعرفتين السابقتين
Maka dari kedua pengetahuan tersebut diperoleh pengetahuan ketiga, yaitu bahwa akhirat lebih utama untuk diutamakan. Terwujudnya pengetahuan bahwa akhirat lebih utama untuk diutamakan tidak mungkin terjadi kecuali melalui dua pengetahuan sebelumnya.
فإحضار المعرفتين السابقتين في القلب للتوصل به إلى المعرفة الثالثة يسمى تفكرا واعتبارا وتذكرا ونظرا
Maka menghadirkan dua pengetahuan sebelumnya di dalam hati untuk sampai pada pengetahuan ketiga dinamakan tafakur (berpikir), i'tibar (mengambil pelajaran), tadzakkur (mengingat), dan nazar (penalaran).
وتأملا وتدبرا
Serta taamul (perenungan) dan tadabur (pendalaman).
أما التدبر والتأمل والتفكر فعبارات مترادفة على معنى واحد ليس تحتها معان مختلفة
Adapun tadabur, taamul, dan tafakur adalah ungkapan-ungkapan yang sinonim (mempunyai makna yang sama), tidak mengandung makna yang berbeda-beda di baliknya.
وأما اسم التذكر والاعتبار والنظر فهى مختلفة المعانى وإن كان أصل المسمى واحد كما أن اسم الصارم والمهند والسيف يتوارد على شيء واحد ولكن باعتبارات مختلفة
Adapun istilah tadzakkur, i'tibar, dan nazar, ketiganya memiliki makna yang berbeda-beda meskipun asal objek yang dinamai adalah satu; sebagaimana nama ash-sharim (yang tajam), al-muhannad (pedang India), dan as-saif (pedang) merujuk pada satu benda yang sama, namun dengan peninjauan (sudut pandang) yang berbeda.
فالصارم يدل على السيف من حيث هو قاطع والمهند يدل عليه من حيث نسبته إلى موضعه والسيف يدل دلالة مطلقة من غير إشعار بهذه الزوائد
Sebab ash-sharim menunjukkan pedang dari segi sifatnya yang memotong, al-muhannad menunjukkan pedang dari segi nisbahnya kepada tempat pembuatannya, sedangkan as-saif menunjukkan penunjukan mutlak tanpa menyertakan tambahan-tambahan makna ini.
فكذلك الاعتبار ينطلق على إحضار المعرفتين من حيث إنه يعبر منهما إلى معرفة ثالثة وإن لم يقع العبور ولم يمكن إلا الوقوف على المعرفتين فينطلق عليه اسم التذكر لا اسم الاعتبار وأما النظر والتفكر فيقع عليه من حيث إن فيه طلب معرفة ثالثة فمن ليس يطلب المعرفة الثالثة لا يسمى ناظرا فكل متفكر فهو متذكر وليس كل متذكر متفكرا
Demikian pula i'tibar, istilah ini diterapkan pada proses menghadirkan dua pengetahuan dari segi bahwa seseorang menyeberang (beralih) dari keduanya menuju pengetahuan ketiga. Jika penyeberangan itu tidak terjadi dan yang memungkinkan hanyalah berhenti pada dua pengetahuan tersebut, maka itu dinamakan tadzakkur, bukan i'tibar. Adapun nazar dan tafakur, keduanya diterapkan dari segi bahwa di dalamnya terdapat tuntutan untuk mencari pengetahuan ketiga. Barang siapa tidak mencari pengetahuan ketiga, maka ia tidak dinamakan nazhir (orang yang menalar). Oleh karena itu, setiap orang yang bertafakur adalah orang yang bertadzakkur, tetapi tidak setiap orang yang bertadzakkur itu bertafakur.
وفائدة التذكار تكرار المعارف على القلب لترسخ ولا تنمحى عن القلب
Manfaat tadzakkur (pengulangan ingatan) adalah mengulang-ulang pengetahuan di dalam hati agar ia tertancap dengan kokoh dan tidak terhapus dari hati.
وفائدة التفكر تكثير العلم واستجلاب معرفة ليست حاصلة
Manfaat tafakur adalah memperbanyak ilmu dan mendatangkan pengetahuan yang belum diperoleh.
فهذا هو الفرق بين التذكر والتفكر
Inilah perbedaan antara tadzakkur dan tafakur.
والمعارف إذا اجتمعت في القلب وازدوجت في القلب على ترتيب مخصوص أثمرت معرفة أخرى فالمعرفة نتاج المعرفة
Pengetahuan-pengetahuan itu apabila berkumpul dan berpasangan di dalam hati berdasarkan urutan yang khusus, niscaya akan membuahkan pengetahuan lainnya; maka pengetahuan adalah buah dari pengetahuan.
فإذا حصلت معرفة أخرى وازدوجت مع معرفة أخرى حصل من ذلك نتاج آخر
Ketika pengetahuan lain itu telah diperoleh dan berpasangan lagi dengan pengetahuan yang lain, maka terhasillan darinya buah hasil yang baru.
وهكذا يتمادى النتاج وتتمادى العلوم ويتمادى الفكر إلى غير نهاية وإنما تنسد طريق زيادة المعارف بالموت
Demikianlah pembuahan tersebut terus berlanjut, ilmu pengetahuan terus berkembang, dan tafakur terus berjalan tanpa batas. Sungguh, jalan bertambahnya pengetahuan itu hanyalah terputus oleh kematian,
أو بالعوائق وهذا لمن يقدر على استثمار العلوم ويهتدى إلى طريق التفكير
atau oleh rintangan-rintangan. Hal ini berlaku bagi orang yang mampu membuahkan ilmu-ilmu dan mendapat petunjuk menuju jalan pemikiran (tafakur).
وأما أكثر الناس فإنما منعوا الزيادة في العلوم لفقدهم رأس المال وهو المعارف التى بها تستثمر العلوم كالذى لا بضاعة له فإنه لا يقدر على الربح وقد يملك البضاعة ولكن لا يحسن صناعة التجارة فلا يربح شيئا فكذلك قد يكون معه من المعارف ما هو رأس مال العلوم ولكن ليس يحسن استعمالها وتأليفها وإيقاع الازدواج المفضى إلى النتاج فيها
Adapun kebanyakan manusia terhalang dari bertambahnya ilmu pengetahuan karena mereka tidak memiliki modal utama, yaitu pengetahuan-pengetahuan dasar yang dengannya ilmu-ilmu dapat dibuahkan. Hal itu bagaikan orang yang tidak memiliki barang dagangan, maka ia tidak akan mampu meraih keuntungan. Terkadang seseorang memiliki barang dagangan, tetapi ia tidak mahir dalam seni perniagaan sehingga ia tidak mendapatkan keuntungan apa pun. Demikian pula, terkadang seseorang memiliki pengetahuan yang menjadi modal ilmu pengetahuan, tetapi ia tidak mampu menggunakannya, menyusunnya, dan memperpasangkannya hingga menghasilkan buah pengetahuan.
ومعرفة طريق الاستعمال والاستثمار تارة تكون بنور إلهى في القلب يحصل بالفطرة كما كان للأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين وذلك عزيز جدا وقد تكون بالتعلم والممارسة وهو الأكثر
Dan pengetahuan tentang cara penggunaan dan pembuahan (hasil pemikiran) ini terkadang terjadi dengan cahaya ilahi di dalam hati yang diperoleh melalui fitrah (bawaan), sebagaimana yang dialami oleh para nabi—shalawat Allah atas mereka semuanya—dan hal ini sangatlah istimewa dan langka. Namun terkadang juga terjadi melalui proses belajar dan latihan, dan inilah yang paling umum terjadi.
ثم المتفكر قد تحضره هذه المعارف وتحصل له الثمرة وهو لا يشعر بكيفية حصولها ولا يقدر على التعبير عنها لقلة ممارسته لصناعة التعبير في الإيراد
Kemudian, seorang yang bertafakur terkadang mendapati pengetahuan-pengetahuan ini hadir dalam dirinya dan memperoleh buahnya, padahal ia tidak menyadari bagaimana proses terjadinya, serta tidak mampu mengutarakannya karena kurangnya latihan dalam seni mengungkapkan dan menyampaikan.
فكم من إنسان يعلم أن الآخرة أولى بالإيثار علما حقيقيا ولو سئل عن سبب معرفته لم يقدر على إيراده والتعبير عنه مع أنه لم تحصل معرفته إلا عن المعرفتين السابقتين وهو أن الأبقى أولى بالإيثار وأن الآخرة أبقى من الدنيا فتحصل له معرفة ثالثة وهو أن الآخرة أولى بالإيثار فرجع حاصل حقيقة التفكر إلى إحضار معرفتين للتوصل بهما إلى معرفة ثالثة
Betapa banyak orang yang mengetahui secara hakiki bahwa akhirat lebih utama untuk diutamakan, namun jika ia ditanya mengenai sebab pengetahuannya tersebut, ia tidak mampu mengutarakannya dan memaparkannya. Padahal pengetahuannya itu tidaklah diperoleh melainkan dari dua pengetahuan sebelumnya, yaitu bahwa 'yang lebih kekal itu lebih utama untuk diutamakan' dan bahwa 'akhirat itu lebih kekal daripada dunia', sehingga darinya diperoleh pengetahuan ketiga yaitu bahwa 'akhirat lebih utama untuk diutamakan'. Maka, hakikat dari proses tafakur itu kembali pada menghadirkan dua pengetahuan untuk dijadikan sarana mencapai pengetahuan yang ketiga.
وأما ثمرة الفكر فهى العلوم والأحوال والأعمال ولكن ثمرته الخاصة
Adapun buah dari berpikir (tafakur) itu adalah berbagai ilmu, keadaan spiritual (ahwal), dan amal perbuatan. Akan tetapi, buah khususnya…
العلم لا غير
…tidak lain adalah ilmu.
نعم إذا حَصَلَ الْعِلْمُ فِي الْقَلْبِ تَغَيَّرَ حَالُ الْقَلْبِ وَإِذَا تَغَيَّرَ حَالُ الْقَلْبِ تَغَيَّرَتْ أَعْمَالُ الْجَوَارِحِ
Ya, apabila ilmu telah bertapak di dalam hati, maka berubah pulalah keadaan (hal) hati tersebut. Dan apabila keadaan hati telah berubah, maka berubah pula amal perbuatan anggota badan.
فالعمل تابع الحال والحال تابع العلم والعلم تابع الفكر
Maka amal perbuatan itu mengikut kepada hal (keadaan hati), hal mengikut kepada ilmu, dan ilmu mengikut kepada pemikiran (tafakur).
فَالْفِكْرُ إِذَنْ هُوَ الْمَبْدَأُ وَالْمِفْتَاحُ لِلْخَيْرَاتِ كُلِّهَا وهذا هو الذى يكشف لك فضيلة التفكر وأنه خير من الذكر والتذكر لأن الفكر ذكر وزيادة
Dengan demikian, tafakur adalah permulaan dan kunci bagi segala kebaikan. Hal inilah yang menyikapkan bagimu keutamaan tafakur dan bahwasanya tafakur itu lebih baik daripada zikir dan tadzakkur (mengingat), karena tafakur adalah zikir yang disertai dengan nilai tambah.
وذكر القلب خير من عمل الجوارح بل شرف العمل لما فيه من الذكر
Dan zikir hati itu lebih baik daripada amal anggota badan, bahkan kemuliaan suatu amal perbuatan itu terletak pada kadar zikir yang terkandung di dalamnya.
فإذن التفكر أفضل من جملة الأعمال ولذلك قيل تفكر ساعة خير من عبادة سنة فقيل هو الذى ينقل من المكاره إلى المحاب ومن الرغبة والحرص إلى الزهد والقناعة وقيل هو الذى يحدث مشاهدة وتقوى ولذلك قال تعالى ﴿لعلهم يتقون أو يحدث لهم ذكرا﴾ وإن أردت أن تفهم كيفية تغير الحال بالفكر فمثاله ما ذكرناه من أمر الآخرة فإن الفكر يعرفنا أن الآخرة أولى بالإيثار فإذا رسخت هذه المعرفة يقينا
Maka dari itu, bertafakur adalah lebih utama daripada keseluruhan amal perbuatan. Oleh karena itulah dikatakan: 'Tafakur selama satu jam lebih baik daripada beribadah selama satu tahun.' Ada pula yang mengatakan bahwa tafakur dialah yang memindahkan seseorang dari hal-hal yang dibenci menuju hal-hal yang dicintai, serta dari ketakutan dan ketamakan menuju zuhud dan qana'ah. Dikatakan pula bahwa tafakur dialah yang melahirkan musyahadah dan ketakwaan. Oleh sebab itu, Allah Ta'ala berfirman: 'Agar mereka bertakwa atau Al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka' (QS. Thaha: 113). Jika engkau ingin memahami bagaimana perubahan hal (keadaan jiwa) terjadi melalui tafakur, perumpamaannya adalah seperti apa yang telah kami sebutkan mengenai perkara akhirat. Sesungguhnya tafakur itu memberi tahu kita bahwa akhirat lebih utama untuk diutamakan. Maka apabila pengetahuan ini telah tertanam secara yakin…
في قلوبنا تغيرت القلوب إلى الرغبة في الآخرة والزهد في الدنيا
…di dalam hati kita, berubah pulalah arah hati menuju kecintaan pada akhirat dan zuhud terhadap dunia.
وهذا ما عنيناه بالحال إذ كان حال القلب قبل هذه المعرفة حب العاجلة والميل إليها والنفرة عن الآخرة وقلة الرغبة فيها
Inilah yang kami maksudkan dengan hal (keadaan jiwa); sebab keadaan hati sebelum adanya pengetahuan ini adalah mencintai dunia yang fana ini, cenderung kepadanya, enggan terhadap akhirat, serta sedikitnya kecintaan kepadanya.
وبهذه المعرفة تغير حال القلب وتبدلت إرادته ورغبته ثم أثمر تغير الإرادة أعمال الجوارح في إطراح الدنيا والإقبال على أعمال الآخرة
Dengan pengetahuan ini, berubah pulalah keadaan hati, serta berganti kehendak dan kecenderungannya. Kemudian, perubahan kehendak tersebut membuahkan amal perbuatan anggota badan dalam membuang keterikatan dunia dan menghadap pada amal-amal akhirat.
فههنا خمس درجات أولاها التذكر وهو إحضار المعرفتين في القلب وثانيتها التفكر وهو طلب المعرفة المقصودة منهما والثالثة حصول المعرفة المطلوبة واستنارة القلب بها
Maka di sini terdapat lima tingkatan: Pertama, tadzakkur (mengingat kembali), yaitu menghadirkan dua pengetahuan di dalam hati. Kedua, tafakur (berpikir mendalam), yaitu mengupayakan pengetahuan yang dituju dari keduanya. Ketiga, tergapainya pengetahuan yang dicari tersebut serta terteranginya hati dengannya.
والرابعة تغير حال القلب عما كان بسبب حصول نور المعرفة
Keempat, berubahnya keadaan hati dari kondisinya semula disebabkan berolehnya cahaya pengetahuan (nur al-ma'rifah).
﴿والخامسة﴾ خدمة الجوارح للقلب بحسب ما يتجدد له من الحال
Dan kelima, tunduknya pengabdian anggota badan kepada hati sesuai dengan keadaan (hal) baru yang terbarui padanya.
فكما يضرب الحجر على الحديد فيخرج منه نار يستضىء بها الموضع فتصير العين مبصرة بعد أن لم تكن مبصرة وتنتهض الأعضاء للعمل فكذلك زناد نور المعرفة هو الفكر فيجمع بين المعرفتين كما يجمع بين الحجر والحديد ويؤلف بينهما تأليفا مخصوصا كما يضرب الحجر على الحديد ضربا مخصوصا فينبعث نور المعرفة كما تنبعث النار من الحديد ويتغير القلب بسبب هذا النور حتى يميل إلى ما لم يكن يميل إليه كما يتغير البصر بنور النار فيرى ما لم يكن يراه
Sebagaimana batu yang dihantamkan pada besi sehingga memercikkan api yang menerangi tempat tersebut, lalu mata menjadi dapat melihat setelah sebelumnya tidak dapat melihat dan anggota tubuh pun bangkit untuk bertindak; maka demikian pulalah pemantik cahaya ma'rifat (nur al-ma'rifah) itu adalah tafakur. Tafakur mempertemukan antara dua pengetahuan sebagaimana dipertemukannya batu dan besi, lalu menyatukan keduanya dengan penyatuan yang khusus sebagaimana batu dihantamkan ke besi dengan hantaman yang khusus. Maka terpancarlah cahaya ma'rifat sebagaimana terpancarnya api dari besi, dan hati pun berubah disebabkan cahaya ini hingga ia cenderung kepada apa yang sebelumnya tidak ia cintai, sebagaimana penglihatan berubah dengan cahaya api sehingga ia dapat melihat apa yang sebelumnya tidak terlihat.
ثم تنتهض الأعضاء للعمل بمقتضى حال القلب كما ينتهض العاجز عن العمل بسبب الظلمة للعمل عند إدراك البصر ما لم يكن يبصره
Kemudian anggota-anggota tubuh bangkit untuk beramal sesuai dengan tuntutan keadaan (hal) hati, sebagaimana seseorang yang tadinya tidak mampu berbuat sesuatu karena kegelapan kini bangkit berbuat ketika penglihatannya menangkap apa yang sebelumnya tidak terlihat.
فإذن ثمرة الفكر العلوم والأحوال والعلوم لا نهاية لها والأحوال التى تتصور أن تتقلب على القلب لا يمكن حصرها
Maka dengan demikian, buah dari tafakur adalah ilmu-ilmu dan keadaan-keadaan spiritual (ahwal). Sedangkan ilmu-ilmu itu tiada bertepi, dan ahwal yang dapat dibayangkan berbolak-balik di dalam hati tidaklah mungkin terhitung.
ولهذا لو أراد مريد أن يحصر فنون الفكر ومجاريه وأنه فيماذا يتفكر لم يقدر عليه لأن مجارى الفكر غير محصورة وثمراته غير متناهية نعم نحن نجتهد في ضبط مجاريه بالإضافة إلى مهمات العلوم الدينية وبالإضافة إلى الأحوال التى هى مقامات السالكين ويكون ذلك ضبطا جمليا فإن تفصيل ذلك يستدعى شرح العلوم كلها وجملة هذه الكتب كالشرح لبعضها فإنها مشتملة على علوم تلك العلوم تستفاد من أفكار مخصوصة
Oleh karena itu, jika seorang pencari kebenaran (murid) hendak membatasi jenis-jenis tafakur dan alirannya serta objek apa saja yang ditafakuri, niscaya ia tidak akan sanggup melakukannya. Sebab, alur-alur tafakur itu tidak terbatas dan buahnya tiada berkesudahan. Namun demikian, kami berikhtiar untuk merumuskan alur-alurnya bila dinisbatkan pada perkara-perkara penting dari ilmu-ilmu agama, serta dinisbatkan pada keadaan-keadaan spiritual (ahwal) yang merupakan stasiun-stasiun spiritual (maqamat) para pengelana jalan spiritual (salikin), dan perumusan ini bersifat garis besar (ijmali). Sebab, pemaparan secara terperinci akan membutuhkan penjelasan seluruh cabang ilmu, dan keseluruhan buku-buku ini seolah menjadi penjelasan bagi sebagiannya, karena buku-buku tersebut memuat ilmu-ilmu yang dipetik dari pemikiran-pemikiran yang khusus.
فلنشر إلى ضبط الجامع فيها ليحصل الوقوف على مجارى الفكر
Mari kita tunjukkan kaidah menyeluruh dalam hal ini agar dapat memahami alur-alur perenungan (tafakur).
بيان مجارى الفكر
Penjelasan tentang Alur-Alur Perenungan (Tafakur)
أعلم أن الفكر قد يجرى في أمر يتعلق بالدين وقد يجرى فيما يتعلق بغير الدين وإنما غرضنا ما يتعلق بالدين فلنترك القسم الآخر
Ketahuilah bahwa perenungan (tafakur) terkadang berjalan pada perkara yang berkaitan dengan agama, dan terkadang berjalan pada perkara yang tidak berkaitan dengan agama. Sungguh, tujuan kita adalah perkara yang berkaitan dengan agama, maka mari kita tinggalkan bagian yang lain.
ونعنى بالدين المعاملة التى بين العبد وبين الرب تعالى فجميع أفكار العبد إما أن تتعلق بالعبد وصفاته وأحواله وإما أن تتعلق بالمعبود وصفاته وأفعاله لا يمكن أن يخرج عن هذين القسمين
Yang kami maksud dengan agama di sini adalah hubungan (muamalah) antara hamba dan Tuhan Yang Mahatinggi. Maka seluruh perenungan hamba, baik berkaitan dengan diri hamba itu sendiri beserta sifat-sifat dan keadaan-keadaannya, maupun berkaitan dengan Dzat Yang Disembah (Al-Ma'bud) beserta sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya; tidak mungkin keluar dari kedua bagian ini.
وما يتعلق بالعبد إما أن يكون نظرا فيما هو محبوب عند الرب تعالى أو فيما هو مكروه ولا حاجة إلى الفكر في غير هذين القسمين
Adapun yang berkaitan dengan hamba, bisa berupa pengamatan terhadap apa yang dicintai di sisi Tuhan Yang Mahatinggi, atau apa yang dibenci-Nya. Dan tidak ada keperluan untuk merenungkan selain kedua bagian ini.
وما يتعلق بالرب تعالى إما ان يكون نظرا في ذاته وصفاته وأسمائه الحسنى وإما أن يكون في أفعاله وملكه وملكوته وجميع ما في السموات والأرض وما بينهما
Sedangkan yang berkaitan dengan Tuhan Yang Mahatinggi, bisa berupa perenungan tentang Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan Asmaul Husna-Nya; atau berupa perenungan tentang perbuatan-perbuatan-Nya, kerajaan-Nya (mulk), kekuasaan gaib-Nya (malakut), serta seluruh apa yang ada di langit, di bumi, dan di antara keduanya.
وينكشف لك انحصار الفكر في هذه الأقسام بمثال وهو أن حال السائرين إلى الله تعالى والمشتاقين إلى لقائه يتعلق بمعشوقه أو يتعلق بنفسه
Akan tersingkap jelas bagimu pembatasan perenungan (tafakur) pada bagian-bagian ini melalui sebuah perumpamaan: bahwasanya keadaan orang-orang yang berjalan menuju Allah Ta'ala (as-sa'irin) dan yang rindu untuk bertemu dengan-Nya, pastilah berkaitan dengan Yang Dicintainya atau berkaitan dengan dirinya sendiri.
فإن تفكر في معشوقه فإما أن يتفكر في جماله وحسن صورته في ذاته ليتنعم بالفكر فيه وبمشاهدته وإما ان يتفكر في أفعاله اللطيفة الحسنة الدالة على أخلاقه وصفاته ليكون ذلك مضعفا للذة ومقويا لمحبته
Jika ia merenungkan Yang Dicintainya, bisa jadi ia merenungkan keindahan-Nya dan keagungan Dzat-Nya agar ia merasakan kenikmatan dalam merenungkan dan menyaksikan-Nya (musyahadah); atau ia merenungkan perbuatan-perbuatan-Nya yang penuh kelembutan dan kebaikan yang menunjukkan sifat-sifat-Nya, agar hal itu melipatgandakan kelezatan dan memperkuat kecintaannya.
وإن تفكر في نفسه فيكون فكره في صفاته التى تسقطه من عين محبوبه حتى يتنزه عنها أو في الصفات التى تقربه منه وتحببه إليه حتى يتصف بها
Jika ia merenungkan tentang dirinya sendiri, maka perenungannya berada pada sifat-sifat yang dapat menjatuhkan kedudukannya dari pandangan Yang Dicintainya sehingga ia berusaha membersihkan diri darinya; atau pada sifat-sifat yang mendekatkan dan menumbuhkan kecintaan-Nya kepadanya sehingga ia berusaha menghiasi diri dengannya.
فإن تفكر في شيء خارج عن هذه الأقسام فذلك خارج عن حد العشق وهو نقصان فيه لأن العشق التام الكامل ما يستغرق العاشق ويستوفي القلب حتى لا يترك فيه متسعا لغيره
Jika ia merenungkan sesuatu di luar bagian-bagian ini, maka hal itu keluar dari batas cinta yang mendalam ('isyq) dan merupakan kekurangan padanya. Sebab, cinta yang sempurna dan paripurna adalah cinta yang meliputi seluruh diri sang pecinta dan memenuhi hatinya, hingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi selain yang dicintainya.
فمحب الله تعالى ينبغى أن يكون كذلك فلا يعدو نظره وتفكره محبوبه
Maka orang yang mencintai Allah Ta'ala hendaknya demikian; pandangan dan perenungannya tidak boleh melampaui Yang Dicintainya.
ومهما كان تفكره محصورا في هذه الأقسام الأربعة لم يكن خارجاً عن مقتضى المحبة أصلا فلنبدأ بالقسم الأول وهو تفكره في صفات نفسه وأفعال نفسه ليميز المحبوب منها عن المكروه فإن هذا الفكر هو الذى يتعلق بعلم المعاملة الذى هو المقصود بهذا الكتاب وأما القسم الآخر فيتعلق بعلم المكاشفة
Selama perenungannya terbatas pada empat bagian ini, ia tidak keluar sama sekali dari tuntutan kecintaan (mahabbah). Maka mari kita mulai dengan bagian pertama, yaitu perenungannya tentang sifat-sifat dirinya dan perbuatan-perbuatannya sendiri untuk membedakan apa yang dicintai dari apa yang dibenci di antaranya. Sebab, perenungan inilah yang berkaitan dengan ilmu muamalah yang menjadi tujuan dari kitab ini, sedangkan bagian yang lain berkaitan dengan ilmu mukasyafah.
ثم كل واحد مما هو مكروه عند الله أو محبوب ينقسم إلى ظاهر كالطاعات والمعاصى وإلى باطن كالصفات المنجيات والمهلكات التى محلها القلب وذكرنا تفصيلها في ربع المهلكات والمنجيات
Kemudian, masing-masing dari apa yang dibenci atau dicintai di sisi Allah terbagi menjadi yang lahiriah—seperti ketaatan dan kemaksiatan—dan yang batiniah—seperti sifat-sifat yang menyelamatkan (al-munjiyat) dan yang membinasakan (al-muhlikat) yang berpusat di dalam hati—yang telah kami sebutkan rinciannya pada seperempat kitab tentang al-muhlikat dan al-munjiyat.
والمعاصى تنقسم إلى ما يتعلق بالأعضاء السبعة وإلى ما ينسب إلى جميع البدن كالفرار من الزحف وعقوق الوالدين والسكون في المسكن الحرام
Kemaksiatan terbagi menjadi kemaksiatan yang berkaitan dengan tujuh anggota badan, dan kemaksiatan yang dinisbatkan kepada seluruh tubuh, seperti melarikan diri dari medan perang, durhaka kepada kedua orang tua, serta bertempat tinggal di kediaman yang haram.
ويجب في كل واحد من المكاره التفكر في ثلاثة أمور ﴿الأول﴾ التفكر في أنه هل هو مكروه عند الله أم لا فرب شيء لا يظهر كونه مكروها بل يدرك بدقيق النظر والثاني التفكر في أنه إن كان مكروها فما طريق الاحتراز عنه والثالث أن هذا المكروه هل هو متصف به في الحال فيتركه أو هو متعرض له في الاستقبال فيحترز عنه أو قارفه فيما مضى من الأحوال فيحتاج إلى تداركه وكذلك كل واحد من المحبوبات ينقسم إلى هذه الانقسامات فإذا جمعت هذه الاقسام زادت مجارى الفكر في الأقسام على مائة والعبد مدفوع إلى الفكر إما في جميعها أو في أكثرها
Wajib pada setiap hal yang dibenci untuk merenungkan tiga hal: (Pertama) merenungkan apakah hal itu dibenci di sisi Allah atau tidak, sebab betapa banyak sesuatu yang tidak nampak kebenciannya melainkan baru tersingkap melalui ketelitian pandangan; (Kedua) merenungkan jika hal itu dibenci, lalu bagaimana jalan untuk membentengi diri darinya; dan (Ketiga) apakah perkara yang dibenci ini sedang melekat pada dirinya saat ini sehingga ia harus meninggalkannya, ataukah ia berpotensi menghadapinya di masa depan sehingga ia harus mewaspadainya, ataukah ia telah melakukannya di masa lalu sehingga ia perlu mengobatinya (bertaubat). Demikian pula setiap perkara yang dicintai terbagi ke dalam pembagian-pembagian ini. Apabila engkau menghimpun seluruh bagian ini, alur perenungan tersebut akan melebihi seratus bagian, dan seorang hamba terdorong untuk merenungkan seluruhnya atau sebagian besarnya.
وشرح آحاد هذه الانقسامات يطول ولكن انحصر هذا القسم في أربعة أنواع الطاعات والمعاصى والصفات المهلكات والصفات المنجيات
Penjelasan rincian dari pembagian-pembagian ini sangatlah panjang, namun bagian ini terangkum dalam empat jenis: ketaatan, kemaksiatan, sifat-sifat yang membinasakan (al-muhlikat), dan sifat-sifat yang menyelamatkan (al-munjiyat).
فلنذكر في كل نوع مثالا ليقيس به المريد سائرها وينفتح له باب الفكر ويتسع عليه طريقه
Maka mari kita sebutkan sebuah contoh pada setiap jenisnya, agar seorang murid (pencari kebenaran) dapat mengkiaskan hal-hal lainnya dengannya, sehingga terbuka baginya pintu perenungan dan terbentang luas baginya jalannya.
النوع الأول المعاصى ينبغى أَنْ يُفَتِّشَ الْإِنْسَانُ صَبِيحَةَ كُلِّ يَوْمٍ جَمِيعَ أعضائه السبعة تفصيلا ثم بدنه على الجملة هَلْ هُوَ فِي الْحَالِ مُلَابِسٌ لِمَعْصِيَةٍ بِهَا فَيَتْرُكَهَا أَوْ لَابَسَهَا بِالْأَمْسِ فَيَتَدَارَكَهَا بِالتَّرْكِ وَالنَّدَمِ أَوْ هُوَ مُتَعَرِّضٌ لَهَا فِي نَهَارِهِ فَيَسْتَعِدَّ لِلِاحْتِرَازِ وَالتَّبَاعُدِ عَنْهَا
Jenis Pertama: Kemaksiatan. Hendaknya seseorang memeriksa setiap pagi seluruh dari tujuh anggota badannya secara terperinci, kemudian tubuhnya secara keseluruhan; apakah saat ini ia sedang diliputi oleh suatu kemaksiatan padanya sehingga ia harus meninggalkannya, ataukah ia telah melakukannya kemarin sehingga ia harus mengobatinya dengan meninggalkan dan menyesalinya, ataukah ia berpotensi menghadapinya pada siang harinya sehingga ia bersiap-siap untuk membentengi dan menjauhkan diri darinya.
فَيَنْظُرَ فِي اللِّسَانِ وَيَقُولَ إِنَّهُ مُتَعَرِّضٌ لِلْغَيْبَةِ وَالْكَذِبِ وَتَزْكِيَةِ النَّفْسِ وَالِاسْتِهْزَاءِ بِالْغَيْرِ وَالْمُمَارَاةِ وَالْمُمَازَحَةِ وَالْخَوْضِ فِيمَا لَا يَعْنِي إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْمَكَارِهِ فَيُقَرِّرَ أَوَّلًا فِي نَفْسِهِ أَنَّهَا مَكْرُوهَةٌ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى وَيَتَفَكَّرَ فِي شَوَاهِدِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ عَلَى شِدَّةِ العذاب فيها ثم يتفكر في أحواله أنه كيف يتعرض لها من حيث لا يشعر ثم يتفكر أنه كيف يحترز منه ويعلم أنه لا يتم له ذلك إلا بالعزلة والانفراد أو بأن لا يجالس إلا صالحا تقيا ينكر عليه مهما تكلم بما يكرهه الله وإلا فيضع حجرا في فيه إذا جالس غيره حتى يكون ذلك مذكرا له فهكذا يكون الفكر في حيلة الاحتراز
Hendaknya ia memeriksa lisan dan berkata: 'Sesungguhnya lisan ini berpotensi jatuh ke dalam ghibah (pengumpatan), kedustaan, menyucikan diri sendiri, mengolok-olok orang lain, perdebatan kusir, gurauan berlebihan, dan membicarakan hal yang tidak berguna, serta perkara-perkara tercela lainnya.' Maka pertama-tama ia tetapkan di dalam dirinya bahwa hal-hal tersebut dibenci di sisi Allah Ta'ala, dan ia merenungkan bukti-bukti dari Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang kerasnya siksaan atas hal itu. Kemudian ia merenungkan keadaan dirinya, bagaimana ia dapat terjerumus ke dalamnya tanpa ia sadari. Lalu ia merenungkan bagaimana cara membentengi diri darinya, dan ia menyadari bahwa hal itu tidak akan sempurna baginya kecuali dengan uzlah (mengasingkan diri) dan menyendiri, atau dengan tidak duduk berkumpul melainkan bersama orang saleh yang bertakwa yang akan menegurnya setiap kali ia mengucapkan apa yang dibenci Allah; jika tidak, maka hendaknya ia meletakkan batu di mulutnya ketika duduk bersama orang lain agar hal itu menjadi pengingat baginya. Demikianlah hendaknya perenungan dalam mencari cara pembentengan diri.
ويتفكر في سمعه يُصْغِيَ بِهِ إِلَى الْغَيْبَةِ وَالْكَذِبِ وَفُضُولِ الْكَلَامِ وإلى اللهو والبدعة وأن ذلك إنما يسمعه من زيد وعمرو وأنه ينبغى أن يحترز عنه بالاعتزال أو بالنهى عن المنكر فمهما كان ذلك فيتفكر فِي بَطْنِهِ أَنَّهُ إِنَّمَا يَعْصِي اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِمَّا بِكَثْرَةِ الْأَكْلِ مِنَ الحلال
Dan ia merenungkan pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengarkan ghibah, kedustaan, perkataan sia-sia, kelalaian, dan bidah; serta menyadari bahwa ia mendengarkan hal itu dari si Fulan dan si Fulan, dan bahwa ia hendaknya membentengi diri darinya dengan cara mengasingkan diri (uzlah) atau dengan mengamalkan nahi munkar. Setelah selesai dari hal itu, ia merenungkan tentang perutnya, bahwa sesungguhnya ia bermaksiat kepada Allah Ta'ala padanya melalui makanan dan minuman, baik dengan memperbanyak makan dari yang halal…
فإن ذلك مكروه عند الله ومقوى للشهوة التى هى سلاح الشيطان عدو الله وإما بأكل الحرام أو الشبهة فينظر من أين مطعمه وملبسه ومسكنه ومكسبه وما مكسبه ويتفكر في طريق الحلال ومداخله
Sebab, hal itu dibenci di sisi Allah dan dapat memperkuat syahwat yang merupakan senjata syaitan, musuh Allah. Adapun jika hal itu berkaitan dengan memakan makanan yang haram atau syubhat, maka hendaknya ia memikirkan dari mana makanan, pakaian, tempat tinggal, serta pencariannya berasal, dan apa bentuk pencariannya itu, lalu ia merenungkan jalan rizki yang halal beserta pintu-pintu masuknya.
ثم يتفكر في طريق الحيلة في الاكتساب منه والاحتراز من الحرام وَيُقَرِّرَ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّ الْعِبَادَاتِ كُلَّهَا ضَائِعَةٌ مع أكل الحرام وأن أكل الحلال هو أساس العبادات كلها وأن الله تعالى لا يقبل صلاة عبد في ثمن ثوبه درهم حرام كما ورد الخبر به
Kemudian ia memikirkan cara (strategi) dalam mencari penghidupan dengannya serta berhati-hati dari yang haram, dan ia menegaskan pada dirinya bahwa seluruh ibadah akan sia-sia apabila disertai dengan memakan yang haram. Sesungguhnya memakan yang halal adalah fondasi dari seluruh ibadah, dan bahwasanya Allah Ta'ala tidak menerima shalat seorang hamba yang di dalam harga pakaiannya terdapat satu dirham uang haram, sebagaimana tertera dalam riwayat.
فهكذا يتفكر في أعضائه ففى هذا القدر كفاية عن الاستقصاء
Demikianlah ia merenungkan tentang anggota tubuhnya; maka kadar sekian ini sudah mencukupi tanpa perlu pembahasan yang lebih terperinci.
فمهما حصل بالتفكر حقيقة المعرفة بهذه الأحوال اشتغل بالمراقبة طول النهار حتى يحفظ الأعضاء عنها
Maka kapan saja ia telah memperoleh hakikat ma'rifah tentang kondisi-kondisi ini melalui tafakur, hendaknya ia sibuk dengan muraqabah (pengawasan diri) sepanjang hari hingga ia dapat menjaga anggota tubuhnya dari keburukan-keburukan tersebut.
وأما النوع الثاني وهو الطَّاعَاتُ فَيَنْظُرُ أَوَّلًا فِي الْفَرَائِضِ الْمَكْتُوبَةِ عَلَيْهِ أَنَّهُ كَيْفَ يُؤَدِّيهَا وَكَيْفَ يَحْرُسُهَا عَنِ النُّقْصَانِ والتقصير أو كيف يجبر نقصانها بكثرة النوافل ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى عُضْوٍ عُضْوٍ فَيَتَفَكَّرُ فِي الأفعال التى تتعلق بها مما يحبه الله تعالى فيقول مثلا
Adapun jenis yang kedua, yaitu ketaatan, maka pertama-tama ia memperhatikan kewajiban-kewajiban fardhu yang diwajibkan atasnya: bagaimana ia menunaikannya dan bagaimana ia menjaganya dari kekurangan serta kelalaian, atau bagaimana ia menutupi kekurangannya dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah (nawafil). Kemudian ia kembali memeriksa anggota tubuhnya satu demi satu, lalu merenungkan perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengannya dari apa yang dicintai Allah Ta'ala, seraya berkata misalnya:
إن العين خلقت للنظر في ملكوت السموات وَالْأَرْضِ عِبْرَةً وَلِتُسْتَعْمَلَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى وتنظر في كتاب الله وسنة رسوله ﷺ وَأَنَا قَادِرٌ عَلَى أَنْ أَشْغَلَ الْعَيْنَ بِمُطَالَعَةِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فَلِمَ لَا أَفْعَلُهُ وَأَنَا قَادِرٌ عَلَى أَنْ أَنْظُرَ إِلَى فُلَانٍ الْمُطِيعِ بِعَيْنِ التعظيم فأدخل السرور على قلبه وأنظر إلى فلان الفاسق بعين الازدراء فأزجره بذلك عن معصيته فَلِمَ لَا أَفْعَلُهُ
"Sesungguhnya mata diciptakan untuk memandang kerajaan (malakut) langit dan bumi sebagai pelajaran ('ibrah), serta untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala dan melihat Kitabullah serta Sunnah Rasul-Nya ﷺ. Aku mampu menyibukkan mata ini dengan mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah, lalu mengapa aku tidak melakukannya? Aku juga mampu memandang si Fulan yang taat dengan pandangan penghormatan sehingga aku memasukkan kegembiraan ke dalam hatinya, dan memandang si Fulan yang fasik dengan pandangan celaan guna mencegahnya dari maksiat, lalu mengapa aku tidak melakukannya?"
وَكَذَلِكَ يَقُولُ فِي سَمْعِهِ إلى قَادِرٌ عَلَى اسْتِمَاعِ كَلَامِ مَلْهُوفٍ أَوِ اسْتِمَاعِ حكمة وعلمالسرور على قلبه وأنظر إلى فلان الفاسق بعين الازدراء فأزجره بذلك عن معصيته فَلِمَ لَا أَفْعَلُهُ وَكَذَلِكَ يَقُولُ فِي سَمْعِهِ إلى قَادِرٌ عَلَى اسْتِمَاعِ كَلَامِ مَلْهُوفٍ أَوِ اسْتِمَاعِ حكمة وعلم أو استماع قراءة وذكر فمالى أُعَطِّلُهُ وَقَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ بِهِ وَأَوْدَعَنِيهِ لأشكره فمالى أكفر نعمة الله فيه بتضييعه أو تعطيله
Dan demikian pula ia berkata mengenai pendengarannya: Aku mampu mendengarkan perkataan orang yang terzalimi (meminta pertolongan) atau mendengarkan hikmah dan ilmu, atau mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan dzikir. Lantas mengapa aku mengabaikannya, padahal Allah telah mengaruniakan nikmat itu kepadaku dan menitipkannya agar aku bersyukur kepada-Nya? Mengapa aku mengingkari nikmat Allah pada pendengaran ini dengan menyia-nyiakannya atau menelantarkannya?
وَكَذَلِكَ يَتَفَكَّرُ فِي اللِّسَانِ وَيَقُولُ إِنِّي قَادِرٌ عَلَى أَنْ أَتَقَرَّبَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالتَّعْلِيمِ وَالْوَعْظِ وَالتَّوَدُّدِ إِلَى قُلُوبِ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَبِالسُّؤَالِ عَنْ أَحْوَالِ الْفُقَرَاءِ وَإِدْخَالِ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ زَيْدٍ الصَّالِحِ وَعَمْرٍو الْعَالِمِ بِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ وَكُلُّ كَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ
Demikian pula ia merenungkan tentang lisan, seraya berkata: "Sesungguhnya aku mampu mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan mengajar, memberi nasihat, menanamkan rasa kasih sayang ke dalam hati orang-orang saleh, menanyakan keadaan orang-orang fakir, dan memasukkan kegembiraan ke dalam hati Zaid yang saleh serta 'Amr yang berilmu melalui perkataan yang baik, padahal setiap perkataan yang baik adalah sedekah."
وَكَذَلِكَ يَتَفَكَّرُ فِي مَالِهِ فَيَقُولُ أَنَا قَادِرٌ عَلَى أَنْ أَتَصَدَّقَ بالمال الفلاني فإنا مُسْتَغْنٍ عَنْهُ وَمَهْمَا احْتَجْتُ إِلَيْهِ رَزَقَنِي اللَّهُ تعالى مثله وإن كنت محتاجا الآن فأبا إِلَى ثَوَابِ الْإِيثَارِ أَحْوَجُ مِنِّي إِلَى ذَلِكَ الْمَالِ
Begitu pula ia merenungkan tentang hartanya, lalu berkata: "Aku mampu bersedekah dengan harta tertentu ini karena aku tidak membutuhkannya, dan kapan pun aku membutuhkannya, Allah Ta'ala pasti memberiku rezeki yang serupa. Dan sekiranya aku sedang membutuhkannya saat ini, maka aku lebih membutuhkan pahala ithar (mendahulukan orang lain) daripada harta tersebut."
وَهَكَذَا يُفَتِّشُ عَنْ جَمِيعِ أَعْضَائِهِ وَجُمْلَةِ بدنه وأمواله بل عن دوابه وغلمانه وَأَوْلَادِهِ فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ أَدَوَاتُهُ وَأَسْبَابُهُ وَيَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ تَعَالَى بِهَا فَيَسْتَنْبِطَ بِدَقِيقِ الْفِكْرِ وُجُوهُ الطَّاعَاتِ الْمُمْكِنَةِ بِهَا وَيَتَفَكَّرُ فِيمَا يُرَغِّبُهُ فِي الْبِدَارِ إِلَى تِلْكَ الطَّاعَاتِ ويتفكر في إخلاص النية فيها ويطلب لها مظان الاستحقاق حتى يزكو بها عمله وقس على هذا سائر الطاعات
Demikianlah ia memeriksa seluruh anggota tubuhnya, segenap fisiknya, hartanya, bahkan hewan tunggangannya, pelayannya, dan anak-anaknya. Sebab, semua itu adalah sarana dan perantaranya, di mana ia mampu menggunakannya untuk menaati Allah Ta'ala. Maka dengan pemikiran yang mendalam, ia menggali berbagai bentuk ketaatan yang memungkinkan melaluinya, memikirkan hal-hal yang mendorongnya untuk bersegera menuju ketaatan tersebut, merenungkan keikhlasan niat di dalamnya, serta mencari sasaran-sasaran yang berhak menerimanya agar amalnya menjadi bersih dan berkembang. Dan kiaskanlah seluruh ketaatan lainnya atas dasar ini.
وأما النوع الثالث فهى الصِّفَاتُ الْمُهْلِكَةُ الَّتِي مَحَلُّهَا الْقَلْبُ فَيَعْرِفُهَا مِمَّا ذكرناه في ربع المهلكات وَهِيَ اسْتِيلَاءُ الشَّهْوَةِ وَالْغَضَبِ وَالْبُخْلِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ وَالْحَسَدِ وَسُوءِ الظَّنِّ وَالْغَفْلَةِ وَالْغُرُورِ وَغَيْرِ ذلك ويتفقد من قلبه هذه الصفات فإن ظن أن قلبه منزه عنها فيتفكر في كيفية امتحانه والاستشهاد بالعلامات عليه فإن النفس أبدا تعد بالخير من نفسها وتخلف فإذا ادعت التواضع والبراءة من الكبر فينبغى أن تجرب بحمل حزمة حطب في السوق كما كان الأولون يجربون به أنفسهم
Adapun jenis yang ketiga adalah sifat-sifat yang membinasakan (al-muhlikat) yang tempatnya ada di dalam hati. Ia dapat mengetahuinya dari apa yang telah kami sebutkan pada Rubu' Al-Muhlikat (Bagian Hal-Hal yang Membinasakan), yaitu dominasi syahwat, amarah, sifat kikir (bukhil), kesombongan (kibr), ujub (rasa bangga diri), riya, dengki (hasad), prasangka buruk (su'udzan), kelalaian (ghaflah), terperdaya (ghurur), dan sebagainya. Maka ia memeriksa sifat-sifat ini di dalam hatinya. Jika ia menduga bahwa hatinya bersih dari sifat-sifat tersebut, hendaknya ia memikirkan cara mengujinya dan mencari pembuktian berdasarkan tanda-tandanya; sebab nafsu itu senantiasa menjanjikan kebaikan dari dirinya namun menyalahinya. Maka apabila nafsu mengaku memiliki sifat tawadhu' dan terbebas dari takabur, hendaknya ia diuji dengan memikul seikat kayu bakar di pasar sebagaimana orang-orang terdahulu menguji diri mereka melaluinya.
وإذا ادعت الحلم تعرض لغضب يناله من غيره ثم يجربها في كظم الغيظ وكذلك في سائر الصفات
Dan apabila nafsu mengaku memiliki sifat hilm (kesantunan dan kesabaran), hendaknya ia menghadapkan dirinya pada kemarahan yang menimpanya dari orang lain, kemudian mengujinya dalam menahan amarah (kazhmul ghaizh). Demikian pula halnya pada seluruh sifat lainnya.
وهذا تفكر في أنه هل هو موصوف بالصفة المكروهة أم لا ولذلك علامات ذكرناها
Ini adalah tafakur mengenai apakah dirinya dihinggapi oleh sifat yang dibenci tersebut atau tidak, dan untuk hal itu ada tanda-tanda yang telah kami sebutkan…
في ربع المهلكات فإذا دلت العلامة على وجودها فكر في الأسباب التى تقبح تلك الصفات عنده وتبين أن منشأها من الجهل والغفلة وخبث الدخلة
…pada Rubu' Al-Muhlikat. Apabila tanda-tanda itu menunjukkan keberadaan sifat tersebut, maka ia memikirkan sebab-sebab yang membuat sifat-sifat itu tampak buruk baginya dan memperjelas bahwa sumbernya adalah kebodohan, kelalaian, serta keburukan batin (khubtsud-dakhilah).
كما لو رأى من نفسه عجبا بالعمل فيتفكر ويقول إنما عمل ببدني وجارحتى وبقدرتى وإرادتى وكل ذلك ليس مني ولا إلى وإنما هو من خلق الله وفضله علي فهو الذي خلقني وخلق جارحتي وخلق قدرتي وإرادتي وهو الذي حرك أعضائي بقدرته وكذلك قدرتي وإرادتي فكيف أعجب بعملي أو بنفسي ولا أقوم لنفسي بنفسي
Sebagaimana jika ia melihat pada dirinya ada sifat 'ujub (bangga diri) terhadap amal, maka ia merenungkan dan berkata: "Sesungguhnya amalan ini terjadi pada tubuhku, anggota badanku, serta dengan daya dan kehendakku. Semua itu bukanlah berasal dari diriku dan bukan pula milikku, melainkan merupakan ciptaan Allah dan karunia-Nya kepadaku. Dialah yang menciptakan aku, menciptakan anggota tubuhku, menciptakan daya dan kehendakku, serta Dialah yang menggerakkan anggota-anggota tubuhku dengan kuasa-Nya, demikian pula daya dan kehendakku. Lantas bagaimana aku bisa bangga dengan amalku atau diriku sendiri, padahal aku tidak mampu mengurus diriku sendiri?"
فإذا أحس في نفسه بالكبر قرر على نفسه ما فيه من الحماقة ويقول لها لم ترين نفسك أكبر والكبير من هو عند الله كبير وذلك ينكشف بعد الموت وكم من كافر في الحال يموت مقربا إلى الله تعالى بنزوعه عن الكفر وكم من مسلم يموت شقيا بتغير حاله عند الموت بسوء الخاتمة
Apabila ia merasakan adanya rasa takabur (sombong) dalam dirinya, ia menegaskan pada dirinya akan kebodohan yang ada di dalamnya, seraya berkata kepadanya: "Mengapa engkau memandang dirimu lebih besar? Padahal Yang Maha Besar adalah barang siapa yang agung di sisi Allah, dan hal itu baru akan terungkap setelah kematian. Berapa banyak orang yang saat ini kafir lalu mati dalam keadaan didekatkan kepada Allah Ta'ala karena ia meninggalkan kekafirannya, dan berapa banyak orang muslim yang mati dalam keadaan celaka karena perubahan kondisinya menjelang maut akibat su'ul khatimah (akhir yang buruk)."
فإذا عرف أن الكبر مهلك وأن أصله الحماقة فيتفكر في علاج إزالة ذلك بأن يتعاطى أفعال المتواضعين
Maka apabila ia menyadari bahwa sifat takabur itu membinasakan dan bahwa akarnya adalah kebodohan, ia merenungkan terapi untuk menghilangkannya, yaitu dengan membiasakan perilaku orang-orang yang tawadhu' (rendah hati).
وإذا وجد في نفسه شهوة الطعام وشرهه تفكر في أن هذه صفة البهائم ولو كان في شهوة الطعام والوقاع كمال لكان ذلك من صفات الله وصفات الملائكة كالعلم والقدرة ولما اتصف به البهائم ومهما كان الشره عليه أغلب كان بالبهائم أشبه وعن الملائكة المقربين أبعد
Apabila ia mendapati pada dirinya ada syahwat makanan dan ketamakan padanya, ia merenungkan bahwa ini merupakan sifat hewan ternak. Sekiranya pada syahwat makanan dan persetubuhan terdapat kesempurnaan, tentu hal itu menjadi bagian dari sifat-sifat Allah dan sifat-sifat para malaikat seperti ilmu dan kekuasaan, dan tidak akan menjadi sifat hewan. Sejauh mana ketamakan itu lebih menguasainya, sejauh itu pula ia lebih menyerupai hewan ternak dan semakin jauh dari para malaikat yang didekatkan (Muqarrabin).
وكذلك يقرر على نفسه في الغضب ثم يتفكر في طريق العلاج وكل ذلك ذكرناه في هذه الكتب
Demikian pula ia menegaskan hal itu pada dirinya berkenaan dengan amarah, kemudian ia memikirkan jalan terapinya. Semua itu telah kami jelaskan di dalam kitab-kitab ini.
فمن يريد أن يتسع له طريق الفكر فلا بد له من تحصيل ما في هذه الكتب
Maka barang siapa yang ingin agar jalan pikiran (tafakur)-nya menjadi luas, ia harus menguasai apa yang ada di dalam kitab-kitab ini.
وأما النوع الرابع وهو المنجيات فهو التَّوْبَةُ وَالنَّدَمُ عَلَى الذُّنُوبِ وَالصَّبْرُ عَلَى الْبَلَاءِ وَالشُّكْرُ عَلَى النَّعْمَاءِ وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا وَالْإِخْلَاصُ وَالصِّدْقُ فِي الطَّاعَاتِ وَمَحَبَّةُ اللَّهِ وَتَعْظِيمُهُ وَالرِّضَا بِأَفْعَالِهِ وَالشَّوْقُ إِلَيْهِ وَالْخُشُوعُ وَالتَّوَاضُعُ له
Adapun jenis keempat, yaitu hal-hal yang menyelamatkan (al-munjiyat), meliputi taubat dan penyesalan atas dosa-dosa, sabar atas cobaan, syukur atas nikmat, khauf (rasa takut) dan raja' (harapan), zuhud terhadap dunia, ikhlas dan jujur (shidq) dalam ketaatan, mahabah (cinta) kepada Allah dan mengagungkan-Nya, ridha terhadap perbuatan-Nya, rindu (syauq) kepada-Nya, serta khusyuk dan tawadhu' di hadapan-Nya.
وكل ذلك ذكرناه في هذا الربع وذكرنا أسبابه وعلاماته
Dan semua itu telah kami sebutkan dalam seperempat bagian (kitab) ini, serta kami sebutkan pula sebab-sebab dan tanda-tandanya.
فليتفكر العبد كُلَّ يَوْمٍ فِي قَلْبِهِ مَا الَّذِي يَعُوزُهُ مِنْ هَذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِي هِيَ الْمُقَرِّبَةُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فَإِذَا افْتَقَرَ إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا فَلْيَعْلَمْ أَنَّهَا أَحْوَالٌ لَا يُثْمِرُهَا إِلَّا عُلُومٌ وَأَنَّ الْعُلُومَ لَا يُثْمِرُهَا إِلَّا أَفْكَارٌ
Hendaklah seorang hamba setiap hari merenungkan di dalam hatinya sifat-sifat manakah yang masih kurang dari dirinya, yaitu sifat-sifat yang mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Jika ia mendapati dirinya membutuhkan salah satu dari sifat-sifat tersebut, hendaknya ia menyadari bahwa sifat-sifat itu adalah kondisi-kondisi spiritual (ahwal) yang tidak akan membuahkan hasil melainkan melalui ilmu pengetahuan, dan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan membuahkan hasil melainkan melalui tafakur.
فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَكْتَسِبَ لِنَفْسِهِ أَحْوَالَ التَّوْبَةِ وَالنَّدَمِ فَلْيُفَتِّشْ ذُنُوبَهُ أَوَّلًا وَلْيَتَفَكَّرْ فِيهَا وَلْيَجْمَعْهَا عَلَى نَفْسِهِ وَلْيُعَظِّمْهَا فِي قَلْبِهِ
Maka apabila ia hendak mengusahakan bagi dirinya kondisi taubat dan penyesalan, hendaklah ia terlebih dahulu memeriksa dosa-dosanya, merenungkannya, mengumpulkannya dalam ingatannya, dan memandangnya sebagai perkara besar di dalam hatinya.
ثُمَّ لْيَنْظُرْ فِي الْوَعِيدِ وَالتَّشْدِيدِ الَّذِي وَرَدَ فِي الشَّرْعِ فِيهَا وليتحقق عِنْدَ نَفْسِهِ أَنَّهُ مُتَعَرِّضٌ لِمَقْتِ اللَّهِ تَعَالَى حَتَّى يَنْبَعِثَ لَهُ حَالُ النَّدَمِ
Kemudian hendaklah ia memperhatikan ancaman dan ketegasan hukum yang tercantum dalam syariat mengenai dosa-dosa tersebut, dan hendaknya ia meyakini dalam dirinya bahwa ia sedang memperhadapkan dirinya pada kemurkaan Allah Ta'ala, sehingga bergelora lah kondisi penyesalan (hal an-nadam) dalam hatinya.
وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْتَثِيرَ مِنْ قَلْبِهِ حَالَ الشُّكْرِ فَلْيَنْظُرْ في إحسان الله إليه وَأَيَادِيهِ عَلَيْهِ وَفِي إِرْسَالِهِ جَمِيلَ سَتْرِهِ عَلَيْهِ على ما شرحنا بعضه في كتاب الشكر فليطالع ذلك
Dan jika ia ingin membangkitkan kondisi rasa syukur dari dalam hatinya, hendaklah ia memandang kepada kebaikan Allah kepadanya, karunia-karunia-Nya atasnya, serta penutupan-Nya yang indah terhadap keburukannya, sebagaimana telah kami jelaskan sebagian darinya dalam Kitab Syukur; maka hendaklah ia mempelajarinya.
وَإِذَا أَرَادَ حَالَ الْمَحَبَّةِ وَالشَّوْقِ فَلْيَتَفَكَّرْ فِي جَلَالِ اللَّهِ وَجَمَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَذَلِكَ بِالنَّظَرِ في عجائب حكمته وبدائع صنعه كما سنشير إلى طرف منه في القسم الثاني من الفكر وَإِذَا أَرَادَ حَالَ الْخَوْفِ فَلْيَنْظُرْ أَوَّلًا فِي ذُنُوبِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ ثُمَّ لْيَنْظُرْ فِي الْمَوْتِ وسكراته ثم فيما بعده من سؤال منكر ونكير وعذاب الْقَبْرِ وَحَيَّاتِهِ وَعَقَارِبِهِ وَدِيدَانِهِ ثُمَّ فِي هَوْلِ النداء عند نفخة الصور ثم في هول المحشر عند جمع الْخَلَائِقِ عَلَى صَعِيدٍ وَاحِدٍ ثُمَّ فِي الْمُنَاقَشَةِ في الحساب في النقير والقطمير ثم في الصراط ودقته وحدته ثم في خطر الأمر عنده أنه يصرف إلى الشمال فيكون من أصحاب النار أو يصرف إلى اليمين فينزل دار القرار ثم ليحضر بعد أهوال القيامة في قلبه صورة جهنم ودركاتها ومقامعها وأهوالها وسلاسلها وأغلالها وزقومها وصديدها وأنواع العذاب فيها وقبح صور الزبانية الموكلين بها وَأَنَّهُمْ كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بُدِّلُوا جُلُودًا غَيْرَهَا
Dan apabila ia menghendaki kondisi kecintaan (mahabah) dan kerinduan (syauq), hendaklah ia merenungkan keagungan (jalal), keindahan (jamal), kebesaran, dan keperkasaan Allah. Hal itu dilakukan dengan memandang keajaiban hikmah-Nya dan keindahan ciptaan-Nya, sebagaimana akan kami isyaratkan sebagian darinya pada bagian kedua dari pembahasan tentang tafakur. Dan apabila ia menghendaki kondisi takut (khauf), hendaklah ia terlebih dahulu memperhatikan dosa-dosanya, baik yang lahir maupun yang batin. Kemudian hendaknya ia merenungkan kematian dan sakaratulmaut, lalu hal-hal sesudahnya berupa pertanyaan Munkar dan Nakir, azab kubur beserta ular, kalajengking, dan cacing-cacing di dalamnya. Kemudian hendaknya ia merenungkan kehebatan panggilan ketika tiupan sangkakala, lalu dahsyatnya Padang Mahsyar ketika seluruh makhluk dikumpulkan di satu tanah lapang, lalu ketelitian dalam hisab hingga sekecil-kecilnya (an-naqir wa al-qithmir), kemudian jembatan (shirath) beserta kelembutan dan ketajamannya, serta besarnya bahaya pada saat itu apakah ia akan dipalingkan ke sebelah kiri sehingga menjadi penghuni neraka atau dipalingkan ke sebelah kanan sehingga menempati tempat tinggal yang kekal. Setelah dahsyatnya hari kiamat itu, hendaknya ia menghadirkan dalam hatinya gambaran tentang Jahannam beserta tingkatan-tingkatannya, gada-gadanya, kengeriannya, rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, buah zaqqumnya, nanahnya, berbagai macam azab di dalamnya, serta buruknya rupa malaikat Zabaniyah yang ditugaskan atasnya, dan bahwa setiap kali kulit mereka hangus, kulit itu diganti dengan kulit yang lain.
وأنهم كلما أرادوا أن يخرجوا منها أعيدوا فيها وَأَنَّهُمْ إِذَا رَأَوْهَا مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لها تغيظا وزفيرا وَهَلُمَّ جَرًّا إِلَى جَمِيعِ مَا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ مِنْ شَرْحِهَا
Dan bahwasanya setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya; dan apabila mereka melihatnya dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marah dan merintih; dan seterusnya dari seluruh penjelasan yang tercantum di dalam Al-Qur'an mengenai gambaran neraka tersebut.
وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْتَجْلِبَ حَالَ الرَّجَاءِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى الْجَنَّةِ وَنَعِيمِهَا وَأَشْجَارِهَا وأنهارها وحورها وولدانها وَنَعِيمِهَا الْمُقِيمِ وَمُلْكِهَا الدَّائِمِ
Dan apabila ia hendak menghadirkan kondisi harapan (raja'), hendaklah ia memandang kepada surga beserta kenikmatannya, pepohonannya, sungai-sungainya, bidadari-bidadarinya, pemuda-pemudanya, kenikmatannya yang abadi, dan kerajaannya yang kekal.
فَهَكَذَا طَرِيقُ الْفِكْرِ الَّذِي يُطْلَبُ بِهِ الْعُلُومُ الَّتِي تُثْمِرُ اجْتِلَابَ أَحْوَالِ مَحْبُوبَةٍ أَوِ التَّنَزُّهِ عن صفات مذمومة
Maka demikianlah jalan tafakur yang dengannya dicari ilmu-ilmu yang membuahkan lahirnya kondisi-kondisi (ahwal) yang dicintai atau pembersihan diri dari sifat-sifat yang tercela.
وقد ذكرنا في كل واحد من هذه الأحوال كتابا مفردا يستعان به على تفصيل الفكر أما بذكر مجامعه فَلَا يُوجَدُ فِيهِ أَنْفَعُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بالتفكر فإنه جَامِعٌ لِجَمِيعِ الْمَقَامَاتِ وَالْأَحْوَالِ وَفِيهِ شِفَاءٌ لِلْعَالَمِينَ وفيه مَا يُورِثُ الْخَوْفَ وَالرَّجَاءَ وَالصَّبْرَ وَالشُّكْرَ وَالْمَحَبَّةَ وَالشَّوْقَ وَسَائِرَ الْأَحْوَالِ وَفِيهِ مَا يَزْجُرُ عَنْ سَائِرِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْرَأَهُ الْعَبْدُ وَيُرَدِّدَ الْآيَةَ الَّتِي هُوَ مُحْتَاجٌ إِلَى التَّفَكُّرِ فِيهَا مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى وَلَوْ مِائَةَ مَرَّةٍ فَقِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَفَكُّرٍ وَفَهْمٍ خَيْرٌ مِنْ خَتْمَةٍ بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ وَفَهْمٍ فَلْيَتَوَقَّفْ فِي التَّأَمُّلِ فِيهَا وَلَوْ لَيْلَةً وَاحِدَةً فَإِنَّ تَحْتَ كُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا أَسْرَارًا لَا تَنْحَصِرُ وَلَا يُوقَفُ عَلَيْهَا إِلَّا بِدَقِيقِ الْفِكْرِ عَنْ صَفَاءِ الْقَلْبِ بَعْدَ صِدْقِ الْمُعَامَلَةِ
Kami telah menyebutkan dalam setiap kondisi ini sebuah kitab tersendiri yang dapat dijadikan sarana bantuan untuk merinci perenungan. Adapun dalam menghimpun pokok-pokoknya secara menyeluruh, tidak ada yang lebih bermanfaat daripada membaca Al-Qur'an dengan bertafakur; karena Al-Qur'an menghimpun seluruh maqam (stasiun spiritual) dan hal (kondisi jiwa), serta memuat penawar bagi seluruh alam. Di dalamnya terdapat apa yang mewariskan rasa takut (khauf), harapan (raja'), sabar, syukur, mahabah (cinta), kerinduan (syauq), dan seluruh kondisi spiritual lainnya. Di dalamnya juga terdapat peringatan keras dari seluruh sifat yang tercela. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba membacanya dan mengulang-ulang ayat yang ia butuhkan untuk direnungkan berulang kali, meskipun sampai seratus kali. Sebab, membaca satu ayat dengan tafakur dan pemahaman itu lebih baik daripada satu kali khatam tanpa tadabur dan pemahaman. Maka hendaklah ia berhenti untuk merenungkannya meskipun sepanjang satu malam, karena di balik setiap kata darinya terdapat rahasia-rahasia yang tak terhitung jumlahnya, dan tidak dapat disingkap melainkan dengan kecermatan pemikiran yang bersumber dari kesucian hati setelah kejujuran dalam beramal (shidq al-mu'amalah).
وَكَذَلِكَ مُطَالَعَةُ أَخْبَارِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَإِنَّهُ قَدْ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَكُلُّ كَلِمَةٍ مِنْ كَلِمَاتِهِ بَحْرٌ مِنْ بُحُورِ الْحِكْمَةِ وَلَوْ تَأَمَّلَهَا الْعَالِمُ حَقَّ التَّأَمُّلِ لَمْ يَنْقَطِعْ فِيهَا نَظَرُهُ طُولَ عُمُرِهِ
Demikian pula mempelajari sabda-sabda Rasulullah ﷺ, karena beliau telah dikaruniai jawami' al-kalim (ungkapan yang ringkas namun padat makna). Setiap kata dari sabda beliau merupakan lautan dari lautan hikmah. Seandainya seorang alim merenungkannya dengan sebenar-benarnya perenungan, niscaya pengamatannya terhadapnya tidak akan pernah terputus sepanjang umurnya.
وشرح آحاد الآيات والأخبار يطول فانظر إلى قوله ﷺ إن روح القدس نفث في روعي أحبب من أحببت فإنك مفارقه وعش ما شئت فإنك ميت واعمل ما شئت فإنك مجزى به فإن هذه الكلمات جامعة حكم الأولين والآخرين وهي كافية للمتأملين فيها طول العمر إذ لو وقفوا على معانيها وغلبت على قلوبهم غلبة يقين لاستغرقتهم ولحال ذلك بينهم وبين التلفت إلى الدنيا بالكلية
Penjelasan rinci terhadap setiap ayat dan hadis sangatlah panjang. Maka perhatikanlah sabda Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya Malaikat Jibril (Ruhul Qudus) telah menghembuskan ke dalam batinku: 'Cintailah siapa pun yang engkau cintai, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah darinya; hiduplah sekehendakmu, sesungguhnya engkau pasti akan mati; dan berbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya engkau pasti akan diberi balasan atasnya.'" Sesungguhnya kata-kata ini menghimpun hikmah orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, serta cukup bagi orang-orang yang merenungkannya sepanjang umur. Sebab, jika mereka memahami makna-maknanya dan makna itu menguasai hati mereka secara penuh keyakinan, niscaya makna tersebut akan menyerap seluruh perhatian mereka dan menghalangi mereka dari berpaling kepada dunia secara keseluruhan.
فهذا هو طريق الفكر في علوم المعاملة وصفات العبد من حيث هي محبوبة عند الله تعالى أو مكروهة
Inilah jalan tafakur dalam ilmu-ilmu muamalah (hubungan amaliah hamba dengan Allah) dan sifat-sifat hamba ditinjau dari segi apakah sifat itu dicintai di sisi Allah Ta'ala atau dibenci.
والمبتدئ ينبغي أن يكون مستغرق الوقت في هذه الأفكار حتى يعمر قلبه بالأخلاق المحمودة والمقامات الشريفة وينزه باطنه وظاهره عن المكاره وليعلم أن هذا مع أنه أفضل من سائر العبادات فليس هو له غاية المطلب بل المشغول به محجوب عن مطلب الصديقين وهوالتنعم بالفكر في جلال الله تعالى وجماله واستغراق القلب بحيث يفنى عن نفسه أي ينسى نفسه وأحواله ومقاماته وصفاته فيكون مستغرق الهم بالمحبوب كالعاشق المستهتر عند لقاء الحبيب فإنه لا يتفرغ للنظر في أحوال نفسه وأوصافها بل كالمبهوت الغافل عن نفسه وهو منتهى لذة العشاق
Bagi seorang pemula (mubtadi'), hendaknya ia menggunakan seluruh waktunya dalam pemikiran-pemikiran ini hingga hatinya memakmurkan diri dengan akhlak yang terpuji dan maqamat (kedudukan spiritual) yang mulia, serta membersihkan batin dan lahirnya dari hal-hal yang dibenci. Namun hendaknya ia mengetahui bahwa meskipun hal ini lebih utama daripada seluruh ibadah lainnya, ia bukanlah puncak dari tujuan yang dicari. Bahkan orang yang sibuk dengannya masih terhalang (mahjub) dari tujuan para shiddiqin, yaitu menikmati perenungan tentang keagungan (jalal) dan keindahan (jamal) Allah Ta'ala, serta larutnya hati hingga ia fana dari dirinya sendiri—artinya ia melupakan dirinya, kondisi-kondisinya, maqam-maqam-nya, dan sifat-sifatnya. Sehingga seluruh perhatiannya tercurah sepenuhnya kepada Sang Kekasih, bagaikan seorang pecinta yang mabuk asmara ketika bertemu Sang Kekasih; ia tidak memiliki waktu luang untuk memikirkan keadaan dan sifat-sifat dirinya sendiri, melainkan seperti orang yang terpesona dan lupa akan dirinya, dan itulah puncak kelezatan para pecinta.
فأما ما ذكرناه فهو تفكر في عمارة الباطن ليصلح للقرب والوصال فإذا ضيع جميع عمره في إصلاح نفسه فمتى يتنعم بالقرب ولذلك كان الخواص يدور في البوادي فلقيه الحسين بن منصور وقال فيم أنت قال أدور في البوادي أصلح حالي في التوكل فقال الحسين أفنيت عمرك في عمران باطنك فأين الفناء في التوحيد فالفناء في الواحد الحق هو غاية مقصد الطالبين ومنتهى نعيم الصديقين
Adapun apa yang telah kami sebutkan adalah tafakur dalam pemakmuran batin agar ia layak untuk kedekatan (qurb) dan perjumpaan (wishal). Jika seseorang menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk memperbaiki dirinya, lantas kapankah ia akan merasakan kenikmatan kedekatan itu? Oleh karena itu, al-Khawwash dahulu pernah berkelana di padang pasir, lalu Al-Husain bin Manshur (al-Hallaj) bertemunya dan bertanya, "Sedang sibuk apakah engkau?" Ia menjawab, "Aku berkelana di padang pasir untuk memperbaiki kondisiku dalam hal tawakal." Maka Al-Husain berkata, "Engkau telah menghabiskan umurmu untuk memakmurkan batinmu, lantas di manakah fana dalam tauhid?" Maka fana pada Yang Maha Esa lagi Mahabenar itulah puncak tujuan para pencari (ath-thalibin) dan muara kenikmatan para shiddiqin.
وأما التنزه عن الصفات المهلكات فيجري مجرى الخروج عن العدة في النكاح
Adapun membersihkan diri dari sifat-sifat yang membinasakan (al-muhlikat), hal itu berkedudukan seperti selesainya masa idah dalam pernikahan.
وأما الاتصاف بالصفات المنجيات وسائر الطاعات فيجري مجرى تهيئة المرأة وجهازها وتنظيفها ووجهها ومشطها شعرها لتصلح بذلك للقاء زوجها فإن استغرقت جميع عمرها في تبرئة الرحم وتزيين الوجه كان ذلك حجابا لها عن لقاء المحبوب
Adapun berhias dengan sifat-sifat yang menyelamatkan (al-munjiyat) dan seluruh ketaatan, berkedudukan seperti persiapan seorang wanita, perlengkapannya, pembersihan dirinya, perhiasan wajahnya, dan menyisir rambutnya agar layak menyambut perjumpaan dengan suaminya. Apabila ia menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk memastikan kekosongan rahim dan merias wajah, hal itu justru menjadi penghalang baginya dari berjumpa dengan Sang Kekasih.
فهكذا ينبغي أن تفهم طريق الدين إن كنت من أهل المجالسة وإن كنت كالعبد السوء لا يتحرك إلا خوفا من الضرب وطمعا في الأجرة فدونك وإلعاب البدن بالأعمال الظاهرة فإن بينك وبين القلب حجابا كثيفا فإذا قضيت حق الأعمال كنت من أهل الجنة ولكن للمجالسة أقوم آخرون
Demikianlah hendaknya engkau memahami jalan agama jika engkau termasuk golongan ahli kebersamaan (ahl al-mujalasah). Namun jika engkau bagaikan hamba sahaya yang buruk, yang tidak bergerak melainkan karena takut akan pukulan dan mendambakan upah, maka sibukkanlah tubuhmu dengan amal-amal lahiriah semata; sebab antara engkau dan mata hati terdapat dinding penghalang yang tebal. Apabila engkau telah menunaikan hak amalan-amalan tersebut, engkau tetap termasuk penghuni surga, namun bagi tingkat kebersamaan (al-mujalasah) ada kaum lain yang memilikinya.
وإذا عرفت مجال الفكر في علوم المعاملة التى بين العبد وبين ربه فينبغي أن تتخذ ذلك عادتك وديدنك صباحا ومساء فلا تغفل عن نفسك وعن صفاتك المبعدة من الله تعالى وأحوالك المقربة إليه ﷾
Dan apabila engkau telah mengetahui ranah tafakur dalam ilmu-ilmu muamalah antara seorang hamba dengan Tuhannya, maka hendaknya engkau menjadikan hal itu sebagai kebiasaan dan ketetapanmu pagi dan petang. Janganlah engkau lalai dari dirimu sendiri, dari sifat-sifatmu yang menjauhkan diri dari Allah Ta'ala, serta kondisi-kondisimu yang mendekatkan diri kepada-Nya Azza wa Jalla.
بل كل مريد فينبغي أن يكون له جريدة يثبت فيها
Bahkan, setiap murid (pencari jalan Allah) hendaknya memiliki catatan khusus (buku muhasabah) di mana ia mencatat di dalamnya
جملة الصفات المهلكات وجملة الصفات المنجيات وجملة المعاصي والطاعات ويعرض نفسه عليها كل يوم
seluruh sifat yang membinasakan (al-muhlikat), seluruh sifat yang menyelamatkan (al-munjiyat), serta seluruh kemaksiatan dan ketaatan, lalu ia menguji (memeriksa) dirinya terhadap catatan itu setiap hari.
ويكفيه من المهلكات النظر في عشرة فإنه إن سلم منها سلم من غيرها وهي البخل والكبر والعجب والرياء والحسد وشدة الغضب وشره الطعام وشره الوقاع وحب المال وحب الجاه
Dan cukuplah baginya dalam hal al-muhlikat (sifat-sifat pembinasa) dengan memperhatikan sepuluh perkara, sebab jika ia selamat darinya, niscaya ia akan selamat dari selainnya. Perkara-perkara tersebut yaitu: bakhil (kikir), kibir (sombong), ujub (bangga diri), riya (pamer), hasad (dengki), marah yang berlebihan, ketamakan akan makanan, ketamakan akan jima' (hubungan seksual), cinta harta, dan cinta kedudukan (hubbul jah).
ومن المنجيات عشرة الندم على الذنوب والصبر على البلاء والرضا بالقضاء والشكر على النعماء واعتدال الخوف والرجاء والزهد في الدنيا والإخلاص في الأعمال وحسن الخلق مع الخلق وحب الله تعالى والخشوع له
Adapun dari al-munjiyat (sifat-sifat penyelamat) ada sepuluh perkara: penyesalan atas dosa-dosa (taubat), sabar menghadapi cobaan, ridha terhadap ketetapan takdir (qadha), bersyukur atas nikmat-nikmat, keseimbangan antara khauf (takut) dan raja' (harap), zuhud terhadap dunia, ikhlas dalam beramal, berakhlak baik kepada sesama makhluk, serta mencintai Allah Ta'ala dan khusyuk kepada-Nya.
فهذه عشرون خصلة عشرة مذمومة وعشرة محمودة فمهما كفى من المذمومات واحدة فيخط عليها في جريدته ويدع الفكر فيها ويشكر الله تعالى على كفايته إياها وتنزيه قلبه عنها ويعلم أن ذلك لم يتم إلا بتوفيق الله تعالى وعونه ولو وكله إلى نفسه لم يقدر على محو أقل الرذائل عن نفسه فيقبل على التسعة الباقية وهكذا يفعل حتى يخط على الجميع وكذا يطالب نفسه بالاتصاف بالمنجيات فإذا اتصف بواحدة منها كالتوبة والندم مثلا خطعليها واشتغل بالباقي وهذا يحتاج إليه المريد المشمر
Maka inilah dua puluh perkara: sepuluh tercela (mazmumah) dan sepuluh terpuji (mahmudah). Kapan saja ia telah terbebas dari salah satu sifat tercela tersebut, hendaknya ia mencoretnya dalam catatannya, meninggalkan pemikiran tentangnya, dan bersyukur kepada Allah Ta'ala karena telah menghindarkannya dari sifat itu serta menyucikan hatinya darinya. Hendaklah ia menyadari bahwa hal tersebut tidak akan tercapai melainkan dengan taufik dan pertolongan Allah Ta'ala; seandainya Allah menyerahkan urusan itu kepada dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan sanggup menghapus kehinaan yang paling ringan pun dari dirinya. Kemudian ia beralih pada sembilan sifat sisanya, dan demikianlah seterusnya ia lakukan hingga ia berhasil mencoret semuanya. Begitu pula ia menuntut dirinya untuk bersifat dengan al-munjiyat; jika ia telah memiliki salah satunya, seperti taubat dan penyesalan misalnya, maka ia mencoretnya dan berkonsentrasi pada sisanya. Hal ini sangat dibutuhkan oleh seorang murid yang bersungguh-sungguh.
وأما أكثر الناس من المعدودين من الصالحين فينبغي أن يثبتوا في جرائدهم المعاصي الظاهرة كأكل الشبهة وإطلاق اللسان بالغيبة والنميمة والمراء والثناء على النفس والإفراط في معاداة الأعداء وموالاة الأولياء والمداهنة مع الخلق في ترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فإن أكثر من يعد نفسه من وجوه الصالحين لا ينفك عن جملة من هذه المعاصي في جوارحه وما لم يظهر الجوارح عن الآثام لا يمكن الاشتغال بعمارة القلب وتطهيره
Adapun kebanyakan manusia yang tergolong sebagai orang-orang saleh, hendaknya mereka mencatat dalam catatan-catatan mereka kemaksiatan-kemaksiatan lahiriah, seperti memakan perkara syubhat, mengumbar lisan dengan ghibah (mengarang/mengumpat), namimah (adu domba), mira' (berdebat), memuji diri sendiri, berlebihan dalam memusuhi musuh dan mencintai kekasih (kelompoknya), serta bermuka dua (mudahanah) terhadap sesama makhluk dalam meninggalkan amar makruf nahi munkar. Sebab, sebagian besar orang yang menganggap dirinya termasuk pemuka orang saleh tidak terlepas dari sejumlah kemaksiatan pada anggota badannya ini. Selama anggota badan belum disucikan dari dosa-dosa, tidaklah mungkin berkonsentrasi untuk memakmurkan dan menyucikan hati.
بل كل فريق من الناس يغلب عليهم نوع من المعصية فينبغي أن يكون تفقدهم لها وتفكرهم فيها لا في معاص هم بمعزل عنها
Bahkan, setiap kelompok manusia biasanya didominasi oleh jenis kemaksiatan tertentu. Oleh karena itu, hendaknya pemeriksaan dan perenungan mereka tertuju pada kemaksiatan tersebut, bukan pada kemaksiatan yang terpisah atau jauh dari mereka.
مثاله العالم الورع فإنه لا يخلو في غالب الأمر عن إظهار نفسه بالعلم وطلب الشهرة وانتشار الصيت إما بالتدريس أو بالوعظ ومن فعل ذلك تصدى لفتنة عظيمة لا ينجو منها إلا الصديقون فإنه إن كان كلامه مقبولا حسن الوقع في القلوب لم ينفك عن الإعجاب والخيلاء والتزين والتصنع وذلك من المهلكات وإن رد كلامه لم يخل عن غيظ وأنفة وحقد على من يرده وهو أكثر من غيظه على من يرد كلام غيره وقد يلبس الشيطان عليه ويقول إن غيظك من حيث إنه رد الحق وأنكره فإن وجد تفرقة بين أن يرد عليه كلامه أو يرد على عالم آخر فهو مغرور وضحكة للشيطان ثم مهما كان له ارتياح بالقبول وفرح بالثناء واستنكاف من الرد أو الإعراض لم يخل عن تكلف وتصنع لتحسين اللفظ والإيراد حرصا على استجلاب الثناء والله لا يحب المتكلفين والشيطان قد يلبس عليه ويقول إنما حرصك على تحسين الألفاظ والتكلف فيها لينتشر الحق ويحسن موقعه في القلب إعلاء لدين الله
Contohnya adalah seorang ulama yang warak, yang umumnya tidak lepas dari memperlihatkan keilmuannya, mencari ketenaran, dan mendambakan keharuman nama, baik melalui mengajar maupun memberi nasihat (khutbah/ceramah). Siapa yang berbuat demikian, ia sedang menghadapi fitnah besar yang tidak ada yang selamat darinya kecuali para shiddīqīn. Apabila ucapannya diterima dan berkesan baik di dalam hati manusia, ia tidak akan terlepas dari sifat ujub, keangkuhan, berhias diri, dan dibuat-buat (tasannu'), yang kesemuanya merupakan perkara pembinasa. Namun jika ucapannya ditolak, ia tidak akan lepas dari rasa jengkel, sombong, dan kedengkian terhadap orang yang menolaknya, yang rasanya jauh lebih besar daripada kejengkelannya ketika perkataan ulama lain ditolak. Terkadang setan mengelabuinya dengan membisikkan, 'Kejengkelanmu itu hanyalah karena ia menolak dan mengingkari kebenaran.' Padahal jika ia merasakan perbedaan antara penolakan terhadap perkataannya sendiri dengan penolakan terhadap perkataan ulama lain, maka ia adalah orang yang tertipu dan menjadi bahan tertawaan setan. Kemudian, kapan saja ia merasa puas dengan penerimaan orang lain, bahagia atas pujian, serta enggan ditolak atau dipalingkan, niscaya ia tidak lepas dari sikap memaksakan diri (takalluf) dan berpura-pura dalam memperindah lafal dan penyampaian demi meraih pujian. Padahal Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat takalluf, sedang setan terus mengelabuinya dengan berkata, 'Keinginanmu memperindah kata-kata dan ber-takalluf di dalamnya hanyalah agar kebenaran tersebar dan meresap baik ke dalam hati demi meninggikan agama Allah.'
فإن كان فرحه بحسن ألفاظه وثناء الناس عليه أكثر من فرحه بثناء الناس على واحد من أقرانه فهو مخدوع وإنما يدور حول طلب الجاه وهو يظن أن مطلبه الدين ومهما اختلج ضميره بهذه الصفات ظهر على ظاهره ذلك حتى يكون للموقر له المعتقد لفضله أكثر احتراما ويكون بلقائه أشد فرحا واستبشارا ممن يغلو في موالاة غيره وإن كان ذلك الغير مستحقا للموالاة وربما ينتهي الأمر بأهل العلم إلى أن يتغايروا تغاير النساء فيشق على أحدهم أن يختلف بعض تلامذته إلى غيره وإن كان يعلم أنه منتفع بغيره ومستفيد منه في دينه
Jika kegembiraannya atas keindahan kata-katanya dan pujian orang kepadanya lebih besar daripada kegembiraannya saat orang memuji salah seorang rekannya, maka ia telah tertipu. Ia sesungguhnya hanya berputar mengelilingi pencarian kedudukan (jah), padahal ia mengira bahwa tujuannya adalah agama. Setiap kali batinnya bergejolak dengan sifat-sifat ini, hal itu akan tampak pada lahiriahnya, sehingga ia akan lebih menghormati orang yang mengagungkannya dan meyakini keutamaannya, serta merasa lebih bahagia dan berseri-seri saat bertemu dengannya ketimbang orang yang sangat mendukung ulama lain—meskipun ulama lain tersebut memang berhak didukung. Bahkan terkadang urusan di antara para ahli ilmu bermuara pada saling cemburu sebagaimana kecemburuan di antara wanita, sehingga terasa berat bagi salah seorang dari mereka jika sebagian muridnya berguru kepada ulama lain, padahal ia tahu bahwa muridnya itu mengambil manfaat dan pelajaran keagamaan dari ulama lain tersebut.
وكل ذلك رشح الصفات المهلكات المستكنة في سر القلب التى قد يظن العالم النجاة منها وهو مغرور فيها وإنما ينكشف ذلك بهذه العلامات ففتنة العالم عظيمة وهو إما مالك وإماهالك ولا مطمع له في سلامة العوام
Semua itu merupakan rahasia rembesan (dampak) dari sifat-sifat membinasakan yang tersembunyi di relung hati yang paling dalam, yang terkadang disangka oleh sang ulama bahwa dirinya telah selamat darinya, padahal ia sedang tertipu. Hal itu hanya akan terungkap melalui tanda-tanda ini. Maka fitnah bagi seorang ulama amatlah besar; ia bisa menjadi seorang raja (penguasa jiwanya) atau justru menjadi orang yang binasa, dan tidak ada harapan baginya untuk selamat seperti rakyat awam.
فمن أحس في نفسه بهذه الصفات فالواجب عليه العزلة والانفراد وطلب الخمول والمدافعة للفتاوي مهما سئل
Maka barangsiapa merasakan sifat-sifat ini pada dirinya, kewajiban baginya adalah melakukan uzlah (mengasingkan diri), menyendiri, mencari ketidakterkenalan (khumul), serta saling menolak (menghindari) memberikan fatwa kapan pun ia ditanya.
فقد كان المسجد يحوى في زمن الصحابة رضي الله تعالى عنهم جميعا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كلهم مفتون وكانوا يتدافعون الفتوى
Sungguh, pada zaman para Sahabat—semoga Allah Ta'ala meredhai mereka semua—masjid dapat memuat banyak dari sahabat Rasulullah ﷺ yang semuanya adalah ahli fatwa, namun mereka saling melempar (menolak) dalam memberikan fatwa.
وكل من كان يفتى كان يود أن يكفيه غيره
Dan setiap orang yang memberikan fatwa sebenarnya berharap agar orang lainlah yang mencukupinya (menggantikannya).
وعند هذا ينبغي أن يتقى شياطين الإنس إذا قالوا لا تفعل هذا فإن هذا الباب لو فتح لاندرست العلوم من بين الخلق وليقل لهم إن دين الإسلام مستغن عني فإنه قد كان معمورا قبلي وكذلك يكون بعدي ولو مت لا تنهدم أركان الإسلام فإن الدين مستغن عني وأما أنا فلست مستغنيا عن إصلاح قلبي
Dalam keadaan seperti ini, hendaknya ia mewaspadai setan-setan dari kalangan manusia ketika mereka berkata, 'Janganlah engkau melakukan hal ini (uzlah), karena jika pintu ini dibuka, niscaya ilmu akan punah di tengah makhluk!' Hendaklah ia menjawab mereka, 'Sesungguhnya agama Islam tidak membutuhkan diriku, sebab agama ini telah makmur sebelumku dan demikian pula akan tetap makmur setelahku. Sekiranya aku mati, rukun-rukun Islam tidak akan runtuh; agama ini tidak memerlukan diriku, sedangkan aku sangat memerlukan perbaikan hatiku.'
وأما أداء ذلك إلى اندارس العلم فخيال يدل على غاية الجهل فإن الناس لو حبسوا في السجن وقيدوا بالقيود وتوعدوا بالنار على طلب العلم لكان حب الرياسة والعلو يحملهم على كسر القيود وهدم حيطان الحصون والخروج منها والاشتغال بطلب العلم
Adapun anggapan bahwa hal itu akan menyebabkan punahnya ilmu merupakan khayalan yang menunjukkan puncak kebodohan. Sebab, seandainya manusia dipenjarakan di dalam bui, diikat dengan belenggu, dan diancam dengan neraka agar tidak menuntut ilmu, niscaya kecintaan akan kepemimpinan (riyasah) dan keluhuran akan mendorong mereka untuk mematahkan belenggu, merubuhkan tembok-tembok benteng, keluar darinya, dan sibuk menuntut ilmu.
فالعلم لا يندرس ما دام الشيطان يحبب إلى الخلق الرياسة والشيطان لا يفتر عن عمله إلى يوم القيامة
Maka ilmu tidak akan punah selama setan masih menanamkan rasa cinta kepemimpinan ke dalam hati makhluk, dan setan tidak akan pernah berhenti dari pekerjaannya itu hingga hari kiamat.
بل ينتهض لنشر العلم أقوام لا نصيب لهم في الآخرة كما قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الله يؤيد هذا الدين بأقوام لا خلاق لهم وإن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر فلا ينبغي أن يغتر العالم بهذه التلبيسات فيشتغل بمخالطة الخلق حتى يتربي في قلبه حب الجاه والثناء والتعظيم فإن ذلك بذر النفاق
Bahkan, orang-orang yang tidak memiliki bagian di akhirat akan bangkit menyebarkan ilmu, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan kaum yang tidak memiliki bagian (kebaikan di akhirat),' dan 'Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan agama ini dengan laki-laki yang jahat (fajir).' Maka tidak sepatutnya seorang ulama tertipu oleh kerancuan-kerancuan (talbis) ini sehingga ia sibuk berbaur dengan makhluk sampai tumbuh subur di dalam hatinya cinta kedudukan, pujian, dan penghormatan, karena hal itu merupakan benih kemunafikan.
قال ﷺ حب الجاه والمال ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء البقل وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما ذئبان ضاريان أرسلا في زريبة غنم بأكثر إفساد فيها من حب الجاه والمال في دين المرء المسلم ولا ينقلع حب الجاه من القلب إلا بالاعتزال عن الناس والهرب من مخالطتهم وترك كل ما يزيد جاهه في قلوبهم
Nabi ﷺ bersabda: 'Cinta kedudukan dan harta menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur.' Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di kandang domba tidaklah lebih merusak baginya daripada cinta kedudukan dan harta bagi agama seorang muslim.' Serta tidak akan tercabut cinta kedudukan dari dalam hati melainkan dengan menyingkir (mengasingkan diri) dari manusia, lari dari pergaulan dengan mereka, dan meninggalkan segala hal yang dapat menambah kedudukannya di hati mereka.
فليكن فكر العالم في التفطن لخفايا هذه الصفات من قلبه وفي استنباط طريق الخلاص منها وهذه وظيفة العالم المتقي
Maka hendaklah pemikiran seorang ulama tertuju pada menyadari kelembutan-kelembutan tersembunyi dari sifat-sifat ini di dalam hatinya dan menemukan jalan pelepasan darinya; inilah tugas seorang ulama yang bertakwa.
فأما أمثالنا فينبغي أن يكون تفكرنا فيما يقوي إيماننا بيوم الحساب إذ لو رآنا السلف الصالحون لقالوا قطعا إن هؤلاء لا يؤمنون بيوم الحساب فما أعمالنا أعمال من يؤمن بالجنة والنار فإن من خاف شيئاً هرب منه ومن رجا شيئاً طلبه وقد علمنا أن الهرب من النار بترك الشبهات والحرام وبترك المعاصي ونحن منهمكون فيها وأن طلب الجنة بتكثير نوافل الطاعات ونحن مقصرون في الفرائض منها
Adapun orang-orang seperti kita, hendaknya pemikiran kita tertuju pada hal-hal yang memperkuat iman kita kepada hari perhitungan (hisab). Sebab, seandainya para Salafus Saleh melihat kita, niscaya mereka pasti akan berkata, 'Orang-orang ini tidak beriman kepada hari perhitungan.' Sebab, amal perbuatan kita bukanlah amal perbuatan orang yang beriman kepada surga dan neraka. Sesungguhnya barangsiapa yang takut akan sesuatu niscaya ia akan lari darinya, dan barangsiapa yang mengharapkan sesuatu niscaya ia akan mencarinya. Padahal kita telah mengetahui bahwa berlari dari neraka itu adalah dengan meninggalkan syubhat dan yang haram serta meninggalkan maksiat, sedangkan kita tenggelam di dalamnya; dan bahwa menuntut surga itu adalah dengan memperbanyak ketaatan-ketaatan sunnah, sedangkan kita masih lalai dalam hal kewajiban-kewajibannya.
فلم يحصل لنا من ثمرة العلم إلا أنه يقتدى بنا في الحرص على الدنيا والتكالب عليها ويقال لو كان هذا مذموما لكان العلماء أحق وأولى باجتنابه منا
Maka tidak ada buah ilmu yang kita peroleh melainkan bahwa kita dijadikan teladan dalam ketamakan terhadap dunia dan perebutan atasnya. Dan dikatakan, 'Sekiranya hal ini tercela, tentu para ulama adalah orang yang paling berhak dan utama untuk menjauhinya daripada kita.'
فليتنا كنا كالعوام إذا متنا ماتت معنا ذنوبنا
Aduhai, sekiranya kita seperti orang-orang awam; jika kita mati, mati pulalah dosa-dosa kita bersama kita.
فما أعظم الفتنة التى تعرضنا لها لو تفكرنا فنسأل الله تعالى أن يصلحنا ويصلح بنا ويوفقنا للتوبة قبل أن يتوفانا إنه الكريم اللطيف بنا المنعم علينا
Betapa besarnya fitnah yang menimpa kita sekiranya kita mau merenungkannya. Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala agar memperbaiki diri kita, memperbaiki (orang lain) melalui diri kita, dan memberikan kita taufik untuk bertobat sebelum Dia mewafatkan kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Lembut kepada kita, lagi Maha Pemberi Nikmat kepada kita.
فهذه مجاري أفكار العلماء والصالحين في علم المعاملة فإن فرغوا منها انقطع التفاتهم عن أنفسهم وارتقوا منها إلى التفكر في جلال الله وعظمته والتنعم بمشاهدته بعين القلب ولا يتم ذلك إلا بعد الانفكاك من جميع المهلكات والاتصاف بجميع المنجيات وإن ظهر شيء منه قبل ذلك كان مدخولا معلولا مكدرا مقطوعا وكان ضعيفا كالبرق الخاطف لا يثبت ولا يدوم ويكون كالعاشق الذي خلا بمعشوقه ولكن تحت ثيابه حيات وعقارب تلدغه مرة بعد أخرى فتنغص عليه لذة المشاهدة ولا طريق له في كمال التنعم إلا بإخراج العقارب والحيات من ثيابه
Maka inilah alur-alur pemikiran para ulama dan orang-orang saleh dalam ilmu muamalah. Apabila mereka telah selesai darinya, terputuslah perhatian mereka dari diri mereka sendiri, lalu mereka naik darinya menuju tafakur tentang keagungan dan kebesaran Allah, serta menikmati musyahadah (penyaksian) kepada-Nya dengan mata hati. Hal itu tidak akan sempurna melainkan setelah terbebas dari segala perkara yang membinasakan (al-muhlikat) dan terhiasi dengan segala perkara yang menyelamatkan (al-munjiyat). Sekiranya tampak sesuatu dari hal itu sebelum (terbebas dan terhiasi) tersebut, niscaya ia bernoda, cacat, keruh, lagi terputus, serta lemah seperti kilat yang menyambar; tidak tetap dan tidak bertahan lama. Ia bagaikan seorang pencinta yang berduaan dengan kekasihnya, tetapi di balik pakaiannya terdapat ular-ular dan kalajengking-kalajengking yang menyengatnya berkali-kali, sehingga merusak kelezatan musyahadah baginya. Tidak ada jalan baginya untuk mencapai kesempurnaan kenikmatan melainkan dengan mengeluarkan kalajengking dan ular tersebut dari pakaiannya.
وهذه الصفات المذمومة عقارب وحيات وهي مؤذيات ومشوشات وفي القبر يزيد ألم لدغها على
Sifat-sifat tercela ini adalah kalajengking dan ular; ia menyakiti dan mengganggu. Dan di dalam kubur, rasa sakit akibat sengatannya melebihi…
لدغ العقارب والحيات
…sengatan kalajengking dan ular.
فهذا القدر كاف في التنبيه على مجارى فكر العبد في صفات نفسه المحبوبة والمكروهة عنه ربه تعالى
Maka kadar ini cukuplah untuk memberi peringatan tentang alur-alur pikiran seorang hamba berkenaan dengan sifat-sifat dirinya yang dicintai maupun yang dibenci di sisi Rabbnya Ta'ala.
القسم الثاني الفكر في جلال الله وعظمته وكبريائه
Bagian Kedua: Tafakur tentang Keagungan, Kebesaran, dan Keperkasaan Allah.
وفيه مقامان المقام الأعلى الفكر في ذاته وصفاته ومعاني أسمائه وهذا مما منع منه حيث قيل تفكروا في خلق الله تعالى ولا تفكروا في ذات الله وذلك لأن العقول تتحير فيه فلا يطيق مد البصر إليه إلا الصديقون ثم لا يطيقون دوام النظر
Dalam bagian ini terdapat dua tingkatan (maqam). Tingkatan tertinggi adalah tafakur tentang Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan makna nama-nama-Nya. Hal ini termasuk perkara yang dilarang, sebagaimana dikatakan: 'Bertafakurlah kamu sekalian tentang ciptaan Allah Ta'ala dan janganlah kamu bertafakur tentang Zat Allah.' Hal itu karena akal akan bingung padanya, sehingga tidak ada yang sanggup menajamkan pandangan kepadanya melainkan para shiddiqin, itu pun mereka tidak akan sanggup memandang secara terus-menerus.
بل سائر الخلق أحوال أبصارهم بالإضافة إلى جلال الله تعالى كحال بصر الخفاش بالإضافة إلى نور الشمس فإنه لا يطيقه البتة بل يختفي نهارا وانما يتردد ليلا ينظر في بقية نور الشمس إذا وقع على الأرض
Bahkan, keadaan pandangan seluruh makhluk jika dibandingkan dengan keagungan Allah Ta'ala adalah seperti keadaan penglihatan kelelawar jika dibandingkan dengan cahaya matahari; ia tidak sanggup menahannya sama sekali, melainkan bersembunyi di siang hari dan baru berkeliaran di malam hari untuk melihat sisa-sisa cahaya matahari ketika jatuh ke bumi.
وأحوال الصديقين كحال الإنسان في النظر إلى الشمس فإنه يقدر على النظر إليها ولا يطيق دوامه ويخشى على بصره لو أدام النظر ونظره المختطف إليها يورث العمش ويفرق البصر
Sedangkan keadaan para shiddiqin adalah seperti keadaan manusia saat memandang matahari; ia mampu memandangnya namun tidak sanggup terus-menerus, dan ia mengkhawatirkan penglihatannya jika ia terus-menerus memandang. Pandangannya yang sekilas kepadanya memicu kekaburan dan memecah penglihatan.
وكذلك النظر إلى ذات الله تعالى يورث الحيرة والدهش واضطراب العقل فالصواب إذن أن لا يتعرض لمجاري الفكر في ذات الله سبحانه وصفاته فإن أكثر العقول لا تحتمله بل القدر اليسير الذي صرح به بعض العلماء وهو أن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الأقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل بالعالم ولا هو منفصل عنه قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته
Demikian pula memandang (memikirkan) Zat Allah Ta'ala akan melahirkan kebingungan, ketercengangan, dan kekacauan akal. Maka yang benar adalah hendaknya seseorang tidak memasuki alur-alur pikiran tentang Zat Allah Subhanah dan sifat-sifat-Nya, sebab mayoritas akal tidak akan kuat menanggungnya. Bahkan kadar yang sedikit yang dijelaskan secara tegas oleh sebagian ulama—yaitu bahwa Allah Ta'ala Maha Suci dari tempat dan Maha Bersih dari penjuru serta arah, dan bahwasanya Dia tidak berada di dalam alam maupun di luar alam, tidak pula bersambung dengan alam dan tidak terpisah darinya—telah membingungkan akal sebagian kaum hingga mereka mengingkarinya karena mereka tidak sanggup mendengar dan memahaminya.
بل ضعفت طائفة عن احتمال أقل من هذا إذ قيل لهم إنه يتعاظم ويتعالى عن أن يكون له رأس ورجل ويد وعين وعضو وأن يكون جسما مشخصا له مقدار وحجم
Bahkan, ada segolongan orang yang lemah untuk menanggung hal yang lebih sedikit dari ini, tatkala dikatakan kepada mereka bahwa Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari memiliki kepala, kaki, tangan, mata, dan anggota badan, serta dari merupakan jasmani yang berbentuk yang memiliki ukuran dan volume.
فأنكروا هذا وظنوا أن ذلك قدح في عظمة الله وجلاله حتى قال بعض الحمقى من العوام إن هذا وصف بطيخ هندي لا وصف الإله لظن المسكين أن الجلالة والعظمة في هذه الأعضاء
Maka mereka mengingkari hal ini dan mengira bahwa hal tersebut mengurangi keagungan dan kebesaran Allah. Sampai-sampai sebagian orang dungu dari kalangan awam berkata, 'Ini adalah sifat semangka India, bukan sifat Tuhan,' karena si malang itu mengira bahwa kebesaran dan keagungan terletak pada anggota-anggota badan ini.
وهذا لأن الإنسان لا يعرف إلا نفسه فلا يستعظم إلا نفسه فكل ما لا يساويه في صفاته فلا يفهم العظمة فيه نعم غايته أن يقدر نفسه جميل الصورة جالسا على سريره وبين يديه غلمان يمتثلون أمره فلا جرم غايته أن يقدر ذلك في حق الله تعالى وتقدس حتى يفهم العظمة
Hal ini terjadi karena manusia tidak mengenal melainkan dirinya sendiri, sehingga ia tidak menganggap besar melainkan dirinya. Maka segala sesuatu yang tidak menyamai sifat-sifatnya, ia tidak dapat memahami keagungan padanya. Ya, puncak kemampuannya hanyalah mengandaikan dirinya berparas tampan, duduk di atas singgasananya, dan di hadapannya terdapat para pelayan yang mematuhi perintahnya. Niscaya puncak kemampuannya adalah mengandaikan hal tersebut pada hak Allah Ta'ala wa Taqaddas agar ia dapat memahami keagungan.
بل لو كان للذباب عقل وقيل له ليس لخالقك جناحان ولا يد ولا رجل ولا له طيران لأنكر ذلك وقال كيف يكون خالقي أنقص مني أفيكون مقصوص الجناح أو يكون زمنا لا يقدر على الطيران أو يكون لي آلة وقدرة لا يكون له مثلها وهو خالقي ومصوري وعقول أكثر الخلق قريب من هذا العقل وإن الإنسان لجهول ظلوم كفار ولذلك أوحى الله تعالى إلى بعض أنبيائه لا تخبر عبادي بصفاتى فينكروني ولكن أخبرهم عني بما يفهمون
Bahkan, sekiranya lalat memiliki akal dan dikatakan kepadanya, 'Penciptamu tidak memiliki dua sayap, tidak ada tangan, tidak ada kaki, dan tidak terbang,' niscaya ia akan mengingkarinya seraya berkata, 'Bagaimana mungkin Penciptaku lebih tidak sempurna dariku? Apakah Dia terpotong sayapnya, ataukah Dia lumpuh tidak mampu terbang, ataukah aku memiliki alat dan kemampuan yang tidak dimiliki-Nya, padahal Dia adalah Penciptaku dan Pembentuk rupaku?' Akal mayoritas makhluk mendekati akal semacam ini. Sungguh manusia itu sangat zalim, sangat bodoh, lagi sangat ingkar. Oleh karena itulah Allah Ta'ala mewahyukan kepada sebagian nabi-Nya: 'Janganlah engkau memberitahukan kepada hamba-hamba-Ku tentang sifat-sifat-Ku sehingga mereka mengingkari-Ku, tetapi beritahukanlah kepada mereka tentang Aku dengan apa yang dapat mereka pahami.'
ولما كان النظر في ذات الله تعالى وصفاته خطرا من هذا الوجه اقتضى أدب الشرع وصلاح الخلق أن لا يتعرض لمجاري الفكر فيه لكنا نعدل إلى المقام الثاني وهو النظر في أفعاله ومجاري قدره وعجائب صنعه وبدائع أمره في خلقه فإنها تدل على جلاله وكبريائه وتقدسه وتعاليه وتدل على كمال علمه وحكمته وعلى نفاذ مشيئته وقدرته
Oleh karena memikirkan Zat Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya bahaya dari segi ini, maka adab syariat dan kemaslahatan makhluk menuntut untuk tidak memasuki alur-alur pikiran padanya. Akan tetapi, kita beralih ke tingkatan (maqam) kedua, yaitu memikirkan perbuatan-perbuatan-Nya, alur ketetapan takdir-Nya, keajaiban ciptaan-Nya, serta keindahan urusan-Nya pada makhluk-Nya. Sebab, semuanya itu menunjukkan keagungan, kebesaran, kesucian, dan keluhuran-Nya, serta menunjukkan kesempurnaan ilmu dan hikmah-Nya, serta berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya.
فينظر إلى صفاته من آثار صفاته فإنا لا نطيق النظر إلى صفاته كما أنا نطيق النظر إلى الأرض مهما استنارت بنور الشمس
Maka seseorang memandang kepada sifat-sifat-Nya dari bekas-bekas (atsar) sifat-sifat-Nya, karena kita tidak mampu memandang langsung kepada sifat-sifat-Nya, sebagaimana kita mampu memandang ke bumi manakala ia diterangi oleh cahaya matahari.
ونستدل بذلك على عظم نور الشمس بالإضافة إلى نور القمر وسائر الكواكب لأن الأرض من آثار نور الشمس والنظر في الآثار يدل على المؤثر دلالة ما وإن كان لا يقوم مقام النظر في نفس المؤثر
Dan kita mengambil petunjuk dengannya atas besarnya cahaya matahari jika dibandingkan dengan cahaya bulan dan seluruh bintang, sebab bumi termasuk dari bekas-bekas cahaya matahari. Memandang kepada bekas (atsar) menunjukkan kepada Pembuat bekas (al-mu'atstsir) dengan petunjuk tertentu, walaupun tidak menggantikan kedudukan memandang langsung kepada Pembuat bekas itu sendiri.
وجميع موجودات الدنيا أثر من آثار قدرة الله تعالى ونور من أنوار ذاته بل لا ظلمة أشد من العدم ولا نور أظهر من الوجود
Segala yang ada di dunia ini merupakan bekas (atsar) dari bekas-bekas kekuasaan Allah Ta'ala dan cahaya dari cahaya-cahaya Zat-Nya. Bahkan tidak ada kegelapan yang lebih pekat daripada ketiadaan (al-'adam), dan tidak ada cahaya yang lebih terang daripada keberadaan (al-wujud).
ووجود الأشياء كلها نور من أنوار ذاته تعالى وتقدس إذ قوام وجود الأشياء بذاته القيوم بنفسه كما أن قوام
Keberadaan segala sesuatu seluruhnya adalah pancaran cahaya dari cahaya-cahaya Zat-Nya Yang Mahatinggi dan Mahasuci, karena kelangsungan wujud segala sesuatu bergantung pada Zat-Nya Yang Maha Berdiri Sendiri (Al-Qayyum), sebagaimana kelangsungan…
نور الأجسام بنور الشمس المضيئة بنفسها ومهما انكشف بعض الشمس فقد جرت العادة بأن يوضع طشت ماء حتى ترى الشمس فيه ويمكن النظر إليها فيكون الماء واسطة يغض قليلا من نور الشمس حتى يطاق النظر إليها فكذلك الأفعال واسطة نشاهد فيها صفات الفاعل ولا نبهر بأنوار الذات بعد أن تباعدنا عنها بواسطة الأفعال
…cahaya benda-benda bergantung pada cahaya matahari yang menerangi dirinya sendiri. Dan ketika sebagian dari matahari tersingkap, merupakan kebiasaan untuk meletakkan bejana berisi air agar matahari dapat terlihat di dalamnya dan memungkinkan untuk dipandang. Air itu menjadi perantara yang sedikit meredupkan cahaya matahari hingga sanggup dipandang. Demikian pula perbuatan-perbuatan (Af'al) merupakan perantara yang melaluinya kita menyaksikan sifat-sifat Pelaku (Al-Fa'il), dan kita tidak silau oleh cahaya-cahaya Zat setelah kita dijauhkan darinya melalui perantara perbuatan-perbuatan tersebut.
فهذا سر قوله ﷺ تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ الله ولا تتفكروا في ذات الله تعالى
Inilah rahasia dari sabda Rasulullah ﷺ: "Pikirkanlah (bertafakurlah) tentang ciptaan Allah, dan janganlah kalian memikirkan tentang Zat Allah Ta'ala."
بَيَانُ كَيْفِيَّةِ التَّفَكُّرِ فِي خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى
Penjelasan Cara Bertafakur tentang Ciptaan Allah Ta'ala
اعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِي الْوُجُودِ مِمَّا سِوَى اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ فِعْلُ اللَّهِ وَخَلْقُهُ وكل ذرة من الذرات من جوهر وعرض وصفة وموصوف فَفِيهَا عَجَائِبُ وَغَرَائِبُ تَظْهَرُ بِهَا حِكْمَةُ اللَّهِ وَقُدْرَتُهُ وَجَلَالُهُ وَعَظَمَتُهُ وَإِحْصَاءُ ذَلِكَ غَيْرُ مُمْكِنٍ لأنه لو كان البحر مداداً لذلك لنفد البحر قبل أن ينفد عشر عشيره
Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang ada di alam wujud selain Allah Ta'ala adalah perbuatan dan ciptaan Allah. Setiap zarah dari zarah-zarah yang ada, baik berupa substansi (jauhar), aksiden ('aradh), sifat, maupun yang disifati (maushuf), di dalamnya terdapat keajaiban dan keunikan yang menampakkan hikmah, kekuasaan, keagungan, dan kebesaran Allah. Menghitung semua itu adalah hal yang tidak mungkin, karena seandainya lautan menjadi tinta untuk mencatatnya, niscaya lautan akan habis sebelum habis seperseratus bagian darinya.
ولكنا نشير إلى جمل منه ليكون ذلك كالمثال لماعداه
Namun kami akan mengisyaratkan sebagian garis besarnya, agar hal itu menjadi perumpamaan bagi apa yang selainnya.
فنقول الموجودات المخلوقة منقسمة الى مالا يعرف أصلها فلا يمكننا التفكر فيها وكم من الموجودات التى لا نعلمها كما قال الله تعالى ويخلق ما لا تعلمون سبحان الذي خلق الأزواج كلها مما تنبت الأرض ومن أنفسهم ومما لا يعلمون ﴿وقال﴾ وننشئكم فيما لا تعلمون ﴿وإلى﴾ ما يعرف أصلها وجملتها ولا يعرف تفصيلها فيمكننا أن نتفكر في تفصيلها
Maka kami katakan: Wujud-wujud ciptaan terbagi menjadi apa yang tidak diketahui hakikat dasarnya sehingga kita tidak mungkin bertafakur tentangnya. Betapa banyak wujud yang tidak kita ketahui, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui." Juga firman-Nya: "Mahasuci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." Dan firman-Nya: "Dan menciptakan kamu dalam keadaan yang tidak kamu ketahui." Dan (terbagi pula ke dalam) apa yang diketahui dasar dan gambaran umumnya namun tidak diketahui rinciannya, maka kita dapat bertafakur mengenai rinciannya.
وهي منقسمة إلى ما أدركناه بحس البصر وإلى ما لا ندركه بالبصر أما الذي لا ندركه بالبصر فكالملائكة والجن والشياطين والعرش والكرسي وغير ذلك
Hal itu terbagi lagi menjadi apa yang dapat kita jangkau dengan indera penglihatan dan apa yang tidak dapat kita jangkau dengan penglihatan. Adapun yang tidak dapat kita jangkau dengan penglihatan adalah seperti malaikat, jin, setan, Arsy, Kursi, dan lain sebagainya.
ومجال الفكر في هذه الأشياء مما يضيق ويغمض
Dan ruang lingkup pemikiran tentang hal-hal ini tergolong sempit dan rumit.
فلنعدل إلى الأقرب إلى الأفهام وهي المدركات بحس البصر وذلك هو السموات السبع والأرض وما بينهما فالسموات مشاهدة بكواكبها وشمسها وقمرها وحركتها ودورانها في طلوعها وغروبها والأرض مشاهدة بما فيها من جبالها ومعادنها وأنهارها وبحارها وحيوانها ونباتها وما بين السماء والأرض وهو الجو مدرك بغيومها وأمطارها وثلوجها ورعدها وبرقها وصواعقها وشهبها وعواصف رياحها
Maka hendaklah kita beralih kepada yang lebih dekat dengan pemahaman, yaitu hal-hal yang terjangkau oleh indera penglihatan. Hal itu meliputi tujuh langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Langit dapat disaksikan dengan bintang-bintangnya, mataharinya, bulannya, serta gerakan dan perputarannya saat terbit dan terbenam. Bumi dapat disaksikan dengan apa yang ada di dalamnya, berupa gunung-gunung, barang tambang, sungai-sungai, lautan, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan apa yang ada di antara langit dan bumi, yaitu angkasa, dapat dijangkau melalui awan, hujan, salju, guruh, kilat, petir, meteor, dan angin kencangnya.
فهذه هي الأجناس المشاهدة من السموات والأرض وما بينهما وكل جنس منها ينقسم إلى أنواع وكل نوع ينقسم إلى أقسام ويتشعب كل قسم إلى أصناف
Inilah jenis-jenis yang disaksikan dari langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Setiap jenis darinya terbagi menjadi beberapa spesies, setiap spesies terbagi menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian bercabang menjadi bermacam-macam ragam.
ولا نهاية لانشعاب ذلك وانقسامه في اختلاف صفاته وهيآته ومعانيه الظاهرة والباطنة وجميع ذلك مجال الفكر
Tidak ada batas akhir bagi percabangan dan pembagian tersebut dalam perbedaan sifat-sifatnya, bentuk-bentuknya, serta makna-makna lahiriah maupun batiniahnya. Seluruhnya itu merupakan ruang lingkup bertafakur.
فلا تتحرك ذرة في السموات والأرض من جماد ولا نبات ولا حيوان ولا فلك ولا كوكب إلا والله تعالى هو محركها وفي حركتها حكمة أو حكمتان أو عشر أو ألف حكمة كل ذلك شاهد لله تعالى بالوحدانية ودال على جلاله وكبريائه وهي الآيات الدالة عليه
Maka tidak ada satu zarah pun yang bergerak di langit maupun di bumi, baik berupa benda mati, tumbuhan, hewan, garis edar (falak), maupun bintang, melainkan Allah Ta'ala-lah yang menggerakkannya. Dalam pergerakannya terkandung satu hikmah, dua hikmah, sepuluh, atau bahkan ribuan hikmah. Seluruhnya itu menjadi saksi atas keesaan Allah Ta'ala, serta menunjuk pada keagungan dan kebesaran-Nya. Itulah tanda-tanda (ayat-ayat) yang menunjuk kepada-Nya.
وقد ورد القرآن بالحث على التفكر في هذه الايات كما قال الله تعالى إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب وكما قال تعالى ومن آياته من أول القرآن إلى آخره فلنذكر كيفية الفكر في بعض الآيات
Al-Qur'an sungguh telah datang dengan anjuran untuk bertafakur tentang tanda-tanda ini, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." Dan sebagaimana firman-Nya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya…" dari awal Al-Qur'an hingga akhirnya. Maka marilah kita sebutkan tata cara bertafakur tentang sebagian dari tanda-tanda tersebut.
فمن آياته الْإِنْسَانُ الْمَخْلُوقُ مِنَ النُّطْفَةِ وَأَقْرَبُ شَيْءٍ إِلَيْكَ نَفْسُكَ وَفِيكَ مِنَ الْعَجَائِبِ الدَّالَّةِ عَلَى عَظَمَةِ اللَّهِ تَعَالَى مَا تَنْقَضِي الْأَعْمَارُ فِي الْوُقُوفِ على عشر عشيره وأنت غافل عنه
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah manusia yang diciptakan dari setetes nutfah (air mani). Sesuatu yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri, dan di dalam dirimu terdapat keajaiban-keajaiban yang menunjuk pada keagungan Allah Ta'ala, yang mana seluruh usia akan habis hanya untuk memahami seperseratus bagian darinya, sedangkan engkau berada dalam kelalaian darinya.
فيامن هُوَ غَافِلٌ عَنْ نَفْسِهِ وَجَاهِلٌ بِهَا كَيْفَ تَطْمَعُ فِي مَعْرِفَةِ غَيْرِكَ وَقَدْ أَمَرَكَ اللَّهُ تَعَالَى بِالتَّدَبُّرِ فِي نَفْسِكَ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ فقال وفي أنفسكم أفلا تبصرون وذكر أنك مَخْلُوقٌ مِنْ نُطْفَةٍ قَذِرَةٍ فَقَالَ قُتِلَ الْإِنْسَانُ ما أكفره من أي شئ خَلَقَهُ مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ ثُمَّ إِذَا شَاءَ أنشره وَقَالَ تَعَالَى وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تراب ثم إذا أنتم بشر تنتشرون وقال تعالى
Wahai orang yang lalai akan dirinya dan tidak mengenalnya, bagaimana engkau berambisi mengenal yang selain dirimu, padahal Allah Ta'ala telah memerintahkanmu untuk merenungkan dirimu sendiri dalam Kitab-Nya yang Mulia, seraya berfirman: "Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?" Dan Dia menyebutkan bahwa engkau diciptakan dari nutfah yang kotor, seraya berfirman: "Binasalah manusia; alangkah kufurnya dia! Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukan takdirnya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak." Dan Dia Ta'ala berfirman:
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى ثُمَّ كان علقة فخلق فسوى وَقَالَ تَعَالَى أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ ﴿وقال﴾ أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فإذا هو خصيم مبين ﴿وقال﴾ إنا خلقنا الإنسان من نطفة أمشاج ثم ذكر كَيْفَ جَعَلَ النُّطْفَةَ عَلَقَةً وَالْعَلَقَةَ مُضْغَةً وَالْمُضْغَةَ عِظَامًا فَقَالَ تَعَالَى وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قرار مكين ثم خلقنا النطفة علقة الْآيَةَ
"Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya?" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami meletakkannya dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan?" Dan Dia berfirman: "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata?" Dan Dia berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur…" Kemudian Dia menyebutkan bagaimana Dia menjadikan nutfah sebagai segumpal darah ('alaqah), segumpal darah menjadi segumpal daging (mudhghah), dan segumpal daging menjadi tulang-belulang, seraya berfirman Ta'ala: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah…" hingga akhir ayat.
فَتَكْرِيرُ ذِكْرِ النُّطْفَةِ فِي الْكِتَابِ الْعَزِيزِ لَيْسَ لِيُسْمَعَ لَفْظُهُ وَيُتْرَكَ التَّفَكُّرُ فِي مَعْنَاهُ فَانْظُرِ الْآنَ إِلَى النُّطْفَةِ وَهِيَ قَطْرَةٌ مِنَ الْمَاءِ قَذِرَةٌ لَوْ تُرِكَتْ سَاعَةً لِيَضْرِبَهَا الْهَوَاءُ فَسَدَتْ وَأَنْتَنَتْ كَيْفَ أَخْرَجَهَا رَبُّ الْأَرْبَابِ مِنَ الصلب والترائب وَكَيْفَ جَمَعَ بَيْنَ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَأَلْقَى الْأُلْفَةَ وَالْمَحَبَّةَ فِي قُلُوبِهِمْ وَكَيْفَ قَادَهُمْ بِسِلْسِلَةِ الْمَحَبَّةِ وَالشَّهْوَةِ إِلَى الِاجْتِمَاعِ وَكَيْفَ اسْتَخْرَجَ النُّطْفَةَ مِنَ الرَّجُلِ بِحَرَكَةِ الْوِقَاعِ وَكَيْفَ اسْتَجْلَبَ دَمَ الْحَيْضِ مِنْ أَعْمَاقِ الْعُرُوقِ وَجَمَعَهُ فِي الرَّحِمِ
Maka pengulangan penyebutan nutfah dalam Kitab yang Mulia bukanlah agar lafaznya sekadar didengar lalu ditinggalkan pemikiran akan maknanya. Lihatlah sekarang pada nutfah itu, yaitu setetes air yang hina, yang jika dibiarkan sesaat terkena udara niscaya akan rusak dan berbau busuk; bagaimana Tuhan segala pemelihara mengeluarkannya dari tulang sulbi dan tulang dada (tara'ib), bagaimana Dia mempertemukan antara laki-laki dan perempuan serta menanamkan rasa kelembutan dan cinta di dalam hati mereka, bagaimana Dia menuntun mereka dengan rantai kecintaan dan syahwat menuju persetubuhan, bagaimana Dia mengeluarkan nutfah dari laki-laki melalui gerakan senggama, dan bagaimana Dia menarik darah haid dari kedalaman pembuluh-pembuluh darah lalu mengumpulkannya di dalam rahim.
ثُمَّ كَيْفَ خَلَقَ الْمَوْلُودَ مِنَ النُّطْفَةِ وَسَقَاهُ بِمَاءِ الحيض وغذاه حتى نما وربا وَكَبُرَ وَكَيْفَ جَعَلَ النُّطْفَةَ وَهِيَ بَيْضَاءُ مُشْرِقَةٌ عَلَقَةً حَمْرَاءَ ثُمَّ كَيْفَ جَعَلَهَا مُضْغَةً ثُمَّ كيف قسم أجزاء النطفة وهي متساوية متشابهة إِلَى الْعِظَامِ وَالْأَعْصَابِ وَالْعُرُوقِ وَالْأَوْتَارِ وَاللَّحْمِ ثُمَّ كَيْفَ رَكَّبَ مِنَ اللُّحُومِ وَالْأَعْصَابِ وَالْعُرُوقِ الْأَعْضَاءَ الظَّاهِرَةَ فَدَوَّرَ الرَّأْسَ وَشَقَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْأَنْفَ وَالْفَمَ وَسَائِرَ الْمَنَافِذِ ثُمَّ مَدَّ الْيَدَ وَالرِّجْلَ وقسم رءوسها بِالْأَصَابِعِ وَقَسَّمَ الْأَصَابِعَ بِالْأَنَامِلِ ثُمَّ كَيْفَ رَكَّبَ الْأَعْضَاءَ الْبَاطِنَةَ مِنَ الْقَلْبِ وَالْمَعِدَةِ وَالْكَبِدِ وَالطِّحَالِ وَالرِّئَةِ وَالرَّحِمِ وَالْمَثَانَةِ وَالْأَمْعَاءِ كُلُّ وَاحِدٍ عَلَى شكل مخصوص ومقدار مخصوص لعمل مخصوص ثم كيف قسم كل عضو من هذه الأعضاء بأقسام أخر فركب العين من سبع طبقات لكل طبقة وصف مخصوص وهيئة مخصوصة لو فقدت طبقة منها أو زالت صفة من صفاتها تعطلت العين عن الإبصار فلو ذهبنا إلى أن نصف ما في آحاد هذه الأعضاء من العجائب والآيات لانقضي فيه الْأَعْمَارُ
Kemudian bagaimana Dia menciptakan bayi dari nutfah tersebut, memberinya minum dengan darah haid dan mengasupnya hingga tumbuh, berkembang, dan membesar. Bagaimana Dia menjadikan nutfah—padahal ia berwarna putih bening—menjadi segumpal darah ('alaqah) yang merah, kemudian menjadikannya segumpal daging (mudhghah), lalu bagaimana Dia membagi bagian-bagian nutfah yang semula serupa dan sama itu menjadi tulang, urat saraf, pembuluh darah, tendon, dan daging. Kemudian bagaimana Dia merangkai dari daging, saraf, dan pembuluh darah itu menjadi anggota-anggota tubuh bagian luar: membulatkan kepala, membelah pendengaran, penglihatan, hidung, mulut, dan lubang-lubang lainnya. Lalu memanjangkan tangan dan kaki, membagi ujung-ujungnya menjadi jari-jemari, dan membagi jari-jemari menjadi ruas-ruas jari. Kemudian bagaimana Dia merangkai organ-organ batin (dalam), seperti hati (qalb), lambung, hati (hepar), limpa, paru-paru, rahim, kandung kemih, dan usus, yang masing-masing memiliki bentuk khusus dan ukuran khusus untuk fungsi yang khusus pula. Kemudian bagaimana Dia membagi setiap organ ini dengan pembagian yang lain, seperti merangkai mata dari tujuh lapisan yang masing-masing lapisan memiliki sifat dan struktur khusus, di mana jika hilang satu lapisan saja atau lenyap satu sifatnya, niscaya mata akan terhalang dari penglihatan. Maka seandainya kita hendak menggambarkan keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan yang ada pada tiap-tiap organ tubuh ini, niscaya usia kita akan habis untuk itu.
فَانْظُرِ الْآنَ إِلَى الْعِظَامِ وَهِيَ أَجْسَامٌ صُلْبَةٌ قَوِيَّةٌ كَيْفَ خَلَقَهَا مِنْ نُطْفَةٍ سَخِيفَةٍ رَقِيقَةٍ ثُمَّ جَعَلَهَا قِوَامًا لِلْبَدَنِ وَعِمَادًا لَهُ ثُمَّ قَدَّرَهَا بِمَقَادِيرَ مُخْتَلِفَةٍ وَأَشْكَالٍ مُخْتَلِفَةٍ فَمِنْهُ صَغِيرٌ وَكَبِيرٌ وَطَوِيلٌ وَمُسْتَدِيرٌ وَمُجَوَّفٌ وَمُصْمَتٌ وَعَرِيضٌ وَدَقِيقٌ
Maka lihatlah sekarang pada tulang-belulang, yang merupakan benda-benda yang keras dan kuat, bagaimana Dia menciptakannya dari nutfah yang lemah dan cair. Kemudian Dia menjadikannya penopang tubuh dan tiangnya, lalu menakdirkannya dengan ukuran yang berbeda-beda dan bentuk yang bermacam-macam; di antaranya ada yang kecil, besar, panjang, bulat, berongga, padat, lebar, dan tipis.
وَلَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ مُحْتَاجًا إِلَى الْحَرَكَةِ بِجُمْلَةِ بَدَنِهِ وَبِبَعْضِ أَعْضَائِهِ مُفْتَقِرًا لِلتَّرَدُّدِ فِي حاجاته لَمْ يَجْعَلْ عَظْمَهُ عَظْمًا وَاحِدًا بَلْ عِظَامًا كَثِيرَةً بَيْنَهَا مَفَاصِلُ حَتَّى تَتَيَسَّرَ بِهَا الْحَرَكَةُ وَقَدَّرَ شَكْلَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا عَلَى وَفْقِ الْحَرَكَةِ الْمَطْلُوبَةِ بِهَا ثُمَّ وَصَلَ مَفَاصِلَهَا وَرَبَطَ بعضها ببعض بِأَوْتَارٍ أَنْبَتَهَا مِنْ أَحَدِ طَرَفَيِ الْعَظْمِ وَأَلْصَقَهُ بالعطم الْآخَرِ كَالرِّبَاطِ لَهُ ثُمَّ خَلَقَ فِي أَحَدِ طَرَفَيِ الْعَظْمِ زَوَائِدَ خَارِجَةً مِنْهُ وَفِي الْآخَرِ حُفَرًا غَائِصَةً فِيهِ مُوَافِقَةً لِشَكْلِ الزَّوَائِدِ لِتَدْخُلَ فيها وتنطبق عليها فصار العبد إِنْ أَرَادَ تَحْرِيكَ جُزْءٍ مِنْ بَدَنِهِ لَمْ يَمْتَنِعْ عَلَيْهِ وَلَوْلَا الْمَفَاصِلُ لَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ
Ketika manusia membutuhkan pergerakan dengan seluruh tubuhnya dan sebagian anggotanya, serta memerlukan bolak-balik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, Dia (Allah) tidak menjadikan tulangnya berupa satu tulang tunggal, melainkan tulang-tulang yang banyak dengan persendian di antara tulang-tulang tersebut agar pergerakan menjadi mudah. Dia menentukan bentuk setiap tulang sesuai dengan pergerakan yang dituntut darinya, kemudian menyambungkan persendiannya dan mengikat sebagian dengannya dengan urat-urat (ligamen) yang Dia tumbuhkan dari salah satu ujung tulang dan melekatkannya pada tulang lainnya sebagai pengikatnya. Kemudian Dia menciptakan pada salah satu ujung tulang tonjolan-tonjolan yang keluar darinya, dan pada ujung tulang lainnya cekungan-cekungan yang masuk ke dalamnya yang sesuai dengan bentuk tonjolan tersebut, agar tonjolan itu dapat masuk dan pas padanya. Maka jadilah seorang hamba, jika ia hendak menggerakkan sebagian dari tubuhnya, hal itu tidak terhalang baginya. Seandainya bukan karena adanya persendian-persendian ini, niscaya hal itu sulit baginya.
ثُمَّ انْظُرْ كَيْفَ خَلَقَ عِظَامَ الرَّأْسِ وَكَيْفَ جمعها وركبها وقد ركبها من خمسة وخمسين عظما مختلفة الأشكال والصور فَأَلَّفَ بَعْضَهَا إِلَى بَعْضٍ بِحَيْثُ اسْتَوَى بِهِ كرة الرأس كما تراه فمنها ستة تخص القحف وأربعة عشر للحي الأعلى واثنان للحي الْأَسْفَلَ وَالْبَقِيَّةُ هِيَ الْأَسْنَانُ بَعْضُهَا عَرِيضَةٌ تَصْلُحُ لِلطَّحْنِ وَبَعْضُهَا حَادَّةٌ تَصْلُحُ لِلْقَطْعِ وَهِيَ الْأَنْيَابُ وَالْأَضْرَاسُ وَالثَّنَايَا ثُمَّ جَعَلَ الرَّقَبَةَ مَرْكَبًا لِلرَّأْسِ وركبها من سبع خرزات مجوفات مستديرات فيها تحريفات
Kemudian lihatlah bagaimana Dia menciptakan tulang-tulang kepala, serta bagaimana Dia mengumpulkan dan menyusunnya. Sungguh, Dia menyusunnya dari lima puluh lima tulang yang berbeda bentuk dan rupanya. Lalu Dia memadukan sebagian ke sebagian yang lain sedemikian rupa sehingga membentuk bulatnya kepala secara sempurna sebagaimana yang engkau lihat. Di antaranya ada enam tulang khusus untuk tengkorak (kranium), empat belas untuk rahang atas, dua untuk rahang bawah, dan sisanya adalah gigi-gigi: sebagiannya lebar yang cocok untuk menumbuk (geraham), dan sebagiannya tajam yang cocok untuk memotong, yaitu gigi taring, gigi geraham, dan gigi seri. Kemudian Dia menjadikan leher sebagai penopang bagi kepala, dan menyusunnya dari tujuh ruas tulang leher yang berongga, bulat, serta memiliki lekukan-lekukan,
وزيادات ونقصانات لينطبق بعضها على بعض ويطول ذكر وجه الحكمة فيها
serta tonjolan dan cekungan agar sebagian dapat pas tertangkup pada sebagian lainnya, dan sungguh akan panjang jika disebutkan segi hikmah pada hal tersebut.
ثُمَّ رَكَّبَ الرَّقَبَةَ عَلَى الظَّهْرِ وَرَكَّبَ الظَّهْرَ مِنْ أَسْفَلِ الرَّقَبَةِ إِلَى مُنْتَهَى عَظْمِ الْعَجُزِ من أربع وعشرين خرزة وركب عظم العجز من ثلاثة أجزاء مختلفة فيتصل به من أسفله عظم العصعص وهو أيضا مؤلف من ثلاثة أجزاء
Kemudian Dia menyusun leher di atas punggung, dan menyusun punggung dari bagian bawah leher hingga ujung tulang kelangkang (sakrum) dari dua puluh empat ruas tulang belakang. Dia menyusun tulang kelangkang dari tiga bagian yang berbeda, lalu tersambung dengannya di bagian bawahnya tulang ekor (koksiks), yang juga terdiri dari tiga bagian.
ثُمَّ وَصَلَ عِظَامَ الظَّهْرِ بِعِظَامِ الصَّدْرِ وَعِظَامِ الْكَتِفِ وَعِظَامِ الْيَدَيْنِ وَعِظَامِ الْعَانَةِ وَعِظَامِ الْعَجُزِ وعظام الفخذين والساقين وأصابع الرجلين فلا نطول بذكر عدد ذلك ومجموع عدد العظام فى بدن الإنسان مائتا عظم وثمانية وأربعون عظما سوى العظام الصغيرة التى حشى بها خلل المفاصل فَانْظُرْ كَيْفَ خَلَقَ جَمِيعَ ذَلِكَ مِنْ نُطْفَةٍ سخيفة رقيقة
Kemudian Dia menyambungkan tulang-tulang punggung dengan tulang-tulang dada, tulang bahu, tulang kedua tangan, tulang kemaluan, tulang kelangkang, tulang kedua paha, kedua betis, dan jari-jari kedua kaki. Maka kami tidak akan memperpanjang dengan menyebutkan jumlah itu; adapun total jumlah tulang dalam tubuh manusia adalah dua ratus empat puluh delapan tulang, selain tulang-tulang kecil yang menyumpal celah-celah persendian. Maka lihatlah bagaimana Dia menciptakan semua itu dari setetes mani yang hina lagi encer.
وليس المقصود من ذكر أعداد العظام أن يعرف عددها فإن هذا علم قريب يعرفه الأطباء والمشرحون إنما الغرض أن ينظر منها فى مدبرها وخالقها أنه كيف قدرها ودبرها وخالف بين أشكالها وأقدارها وخصصها بهذا العدد الْمَخْصُوصِ لِأَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَيْهَا وَاحِدًا لَكَانَ وَبَالًا عَلَى الْإِنْسَانِ يَحْتَاجُ إِلَى قَلْعِهِ وَلَوْ نَقَصَ مِنْهَا وَاحِدًا لَكَانَ نُقْصَانًا يَحْتَاجُ إِلَى جبره فالطبيب ينظر فيها ليعرف وجه العلاج فى جبرها وأهل البصائر ينظرون فيها ليستدلوا بها على جلالة خالقها ومصورها فشتان بين النظرين
Maksud dari menyebutkan jumlah tulang-tulang ini bukanlah sekadar untuk mengetahui hitungannya, karena ini adalah ilmu lahiriah yang diketahui oleh para dokter dan ahli anatomi. Akan tetapi, tujuannya adalah agar dari situ seseorang memandang kepada Pengatur dan Penciptanya: bagaimana Dia menentukan ukurannya, mengaturnya, membedakan bentuk dan ukurannya, serta mengkhususkannya dengan jumlah yang tertentu ini. Sebab seandainya Dia menambahinya satu tulang saja, niscaya itu akan menjadi beban bahaya bagi manusia yang perlu dicabut, dan seandainya Dia menguranginya satu tulang saja, niscaya itu menjadi cacat yang perlu diperbaiki. Maka seorang dokter memandangnya untuk mengetahui tata cara pengobatan dalam menyambungnya, sedangkan ahli mata hati (ahlul bashair) memandangnya untuk menjadikannya petunjuk atas keagungan Pencipta dan Pembentuk rupanya. Sungguh jauh perbedaan antara kedua pandangan tersebut.
ثم انظر كيف خلق الله تعالى آلات لتحريك العظام وهو العضلات فخلق فى بدن الإنسان خمسمائة عضلة وتسعا وعشرين عضلة والعضلة مركبة من لحم وعصب ورباط وأغشية وهى مختلفة المقادير والأشكال بحسب اختلاف مواضعها وقدر حاجاتها فأربع وعشرون عضلة منها هى لتحريك حدقة العين وأجفانها لو نقصت واحدة من جملتها اختل أمر العين وهكذا لكل عضو عضلات بعدد مخصوص وقدر مخصوص وأمر الاعصاب والعروق والأوردة والشرايين وعددها ومنابتها وانشعاباتها أعجب من هذا كله وشرحه يطول فللفكر مجال فى آحاد هذه الأجزاء ثم فى جملة البدن فكل ذلك نظر إلى عجائب أجسام البدن وعجائب المعانى والصفات التي لا تدرك بالحواس أعظم فانظر الآن إلى ظاهر الإنسان وباطنه وإلى بدنه وصفاته فترى به من العجائب والصنعة ما يقضى به العجب وَكُلُّ ذَلِكَ صُنْعُ اللَّهِ فِي قَطْرَةِ مَاءٍ قَذِرَةٍ فَتَرَى مِنْ هَذَا صُنْعَهُ فِي قَطْرَةِ ماء فما صنعه فى ملكوت السموات وكواكبها وما حكمته فى أوضاعها وأشكالها ومقاديرها وأعدادها واجتماع بعضها وتفرق بعضها وَاخْتِلَافِ صُوَرِهَا وَتَفَاوَتِ مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا فَلَا تَظُنَنَّ أن ذرة من ملكوت السموات تَنْفَكُّ عَنْ حِكْمَةٍ وَحِكَمٍ بَلْ هِيَ أَحْكَمُ حلقا وَأَتْقَنُ صُنْعًا وَأَجْمَعُ لِلْعَجَائِبِ مِنْ بَدَنِ الْإِنْسَانِ بَلْ لَا نِسْبَةَ لِجَمِيعِ مَا فِي الْأَرْضِ إلى عجائب السموات وَلِذَلِكَ قَالَ تَعَالَى أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وأخرج ضحاها
Kemudian lihatlah bagaimana Allah Ta'ala menciptakan alat-alat untuk menggerakkan tulang-tulang tersebut, yaitu otot-otot. Maka Dia menciptakan di dalam tubuh manusia lima ratus dua puluh sembilan otot. Otot itu tersusun dari daging, urat saraf, ligamen, dan selaput-selaput. Semuanya berbeda-beda ukuran dan bentuknya sesuai dengan perbedaan tempat dan tingkat kebutuhannya. Dua puluh empat otot di antaranya adalah untuk menggerakkan pupil mata dan kelopaknya; seandainya berkurang satu saja dari jumlah tersebut, niscaya terganggulah urusan mata. Demikian pula setiap anggota tubuh memiliki otot-otot dengan jumlah tertentu dan ukuran tertentu. Adapun urusan urat-urat saraf, pembuluh darah, pembuluh balik (vena), dan pembuluh nadi (arteri), beserta jumlahnya, sumbernya, dan cabang-cabangnya, adalah lebih menakjubkan dari semua ini, dan penjelasannya sangat panjang. Maka perenungan memiliki ruang yang luas pada bagian-bagian ini satu per satu, kemudian pada keseluruhan tubuh. Semua itu adalah pandangan terhadap keajaiban fisik tubuh, sedangkan keajaiban makna dan sifat yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra adalah lebih agung lagi. Maka lihatlah sekarang pada lahiriah manusia dan batinnya, serta pada tubuh dan sifat-sifatnya, niscaya engkau melihat padanya keajaiban dan mahakarya yang menimbulkan takjub yang luar biasa. Dan semua itu adalah ciptaan Allah pada setetes air yang kotor. Jika engkau melihat ciptaan-Nya yang demikian pada setetes air, maka bagaimanakah ciptaan-Nya dalam kerajaan langit dan bintang-bintangnya, serta bagaimanakah hikmah-Nya dalam tata letak, bentuk, ukuran, jumlah, perkumpulan sebagian, dan perpisahan sebagian yang lain, perbedaan rupa-rupanya, serta keragaman tempat terbit dan terbenamnya? Maka jangan sekali-kali engkau mengira bahwa satu zarrah pun dari kerajaan langit terlepas dari hikmah dan rahasia-rahasia hikmah. Bahkan ia lebih kukuh penciptaannya, lebih sempurna buatannya, dan lebih banyak menghimpun keajaiban daripada tubuh manusia. Bahkan tidak ada perbandingan bagi seluruh apa yang ada di bumi ini jika dibandingkan dengan keajaiban langit. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: 'Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, serta menjadikan siangnya terang benderang.' (QS. An-Nazi'at: 27-29).
فَارْجِعِ الْآنَ إِلَى النُّطْفَةِ وَتَأَمَّلْ حَالَهَا أَوَّلًا وَمَا صَارَتْ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَتَأَمَّلْ أَنَّهُ لَوِ اجْتَمَعَ الْجِنُّ وَالْإِنْسُ عَلَى أَنْ يَخْلُقُوا لِلنُّطْفَةِ سَمْعًا أَوْ بَصَرًا أَوْ عَقْلًا أَوْ قُدْرَةً أَوْ عِلْمًا أَوْ رُوحًا أَوْ يَخْلُقُوا فِيهَا عَظْمًا أَوْ عِرْقًا أَوْ عَصَبًا أَوْ جِلْدًا أَوْ شَعْرًا هَلْ يَقْدِرُونَ عَلَى ذَلِكَ بَلْ لَوْ أَرَادُوا أَنْ يَعْرِفُوا كُنْهَ حَقِيقَتِهِ وَكَيْفِيَّةَ خِلْقَتِهِ بَعْدَ أَنْ خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى ذَلِكَ لَعَجَزُوا عَنْهُ فَالْعَجَبُ مِنْكَ لَوْ نَظَرْتَ إِلَى صورة إنسان مصور على حائط تأنق النقاش فى تصويرها حتى قرب ذلك من صورة الإنسان وقال الناظر إليها كأنه إنسان عظم تعجبك من صنعة النقاش وحذقه وخفة يده وتمام فطنته وعظم فى قلبك محله مع أنك تعلم أن تلك الصورة إنما تمت بالصبغ والقلم واليد وبالقدرة وبالعلم وبالإرادة وشىء من ذلك ليس من
Maka kembalilah sekarang kepada setetes mani (nutfah), dan renungkanlah keadaannya semula dan menjadi apa ia kemudian. Renungkanlah seandainya jin dan manusia berkumpul untuk menciptakan bagi mani itu pendengaran, penglihatan, akal, kemampuan, ilmu, atau ruh, atau menciptakan padanya tulang, pembuluh darah, urat saraf, kulit, atau rambut, apakah mereka mampu melakukannya? Bahkan seandainya mereka ingin mengetahui hakikat sebenarnya dan tata cara penciptaannya setelah Allah Ta'ala menciptakannya, niscaya mereka akan lemah dan tidak mampu. Sungguh mengherankan dirimu, seandainya engkau melihat lukisan manusia yang dilukis di dinding, di mana si pelukis sangat cermat dalam melukisnya hingga mendekati rupa manusia sesungguhnya dan orang yang melihatnya berkata, 'Seakan-akan ia manusia hidup,' niscaya akan agung rasa takjubmu terhadap buatan si pelukis, keahliannya, kelincahan tangannya, serta kesempurnaan kecerdasannya, dan kedudukannya menjadi agung di dalam hatimu. Padahal engkau tahu bahwa gambar itu hanya sempurna dengan cat, pena, tangan, serta dengan kemampuan, ilmu, dan kehendak, di mana tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang merupakan
فعل النقاش ولا خلقه بل هو من خلق غيره وإنما منتهى فعله الجمع بين الصبغ والحائط على ترتيب مخصوص فيكثر تعجبك منه وتستعظمه
buatan si pelukis atau ciptaannya sendiri, melainkan itu adalah ciptaan selain dirinya. Batas akhir perbuatannya hanyalah menggabungkan antara cat dan dinding menurut susunan tertentu, namun betapa besar ketakjubanmu kepadanya dan engkau mengagungkannya.
وَأَنْتَ تَرَى النُّطْفَةَ الْقَذِرَةَ كَانَتْ مَعْدُومَةً فَخَلَقَهَا خَالِقُهَا فِي الْأَصْلَابِ وَالتَّرَائِبِ ثُمَّ أَخْرَجَهَا مِنْهَا وَشَكَّلَهَا فَأَحْسَنَ تَشْكِيلَهَا وَقَدَّرَهَا فَأَحْسَنَ تَقْدِيرَهَا وَتَصْوِيرَهَا وَقَسَّمَ أَجْزَاءَهَا الْمُتَشَابِهَةَ إِلَى أَجْزَاءٍ مُخْتَلِفَةٍ فَأَحْكَمَ الْعِظَامَ فِي أَرْجَائِهَا وَحَسَّنَ أَشْكَالَ أَعْضَائِهَا وَزَيَّنَ ظَاهِرَهَا وَبَاطِنَهَا وَرَتَّبَ عُرُوقَهَا وَأَعْصَابَهَا وَجَعَلَهَا مَجْرًى لِغِذَائِهَا لِيَكُونَ ذَلِكَ سَبَبَ بَقَائِهَا وَجَعَلَهَا سَمِيعَةً بصيرة عالمة ناطفة وَخَلَقَ لَهَا الظَّهْرَ أَسَاسًا لِبَدَنِهَا وَالْبَطْنَ حَاوِيًا لِآلَاتِ غِذَائِهَا وَالرَّأْسَ جَامِعًا لِحَوَاسِّهَا فَفَتَّحَ الْعَيْنَيْنِ ورتب طبقاتها وأحسن شكلها ولونها وهيئاتها ثُمَّ حَمَاهَا بِالْأَجْفَانِ لِتَسْتُرَهَا وَتَحْفَظَهَا وَتَصْقُلَهَا وَتَدْفَعَ الْأَقْذَاءَ عَنْهَا ثُمَّ أَظْهَرَ فِي مِقْدَارِ عَدَسَةٍ منها صورة السموات مَعَ اتِّسَاعِ أَكْنَافِهَا وَتَبَاعُدِ أَقْطَارِهَا فَهُوَ يَنْظُرُ إليها ثم شق أذنيه وَأَوْدَعَهُمَا مَاءً مُرًّا لِيَحْفَظَ سَمْعَهَا وَيَدْفَعَ الْهَوَامَّ عنها وحوطها بصدقة الْأُذُنِ لِتَجْمَعَ الصَّوْتَ فَتَرُدَّهُ إِلَى صِمَاخِهَا وَلِتُحِسَّ بِدَبِيبِ الْهَوَامِّ إِلَيْهَا وَجَعَلَ فِيهَا تَحْرِيفَاتٍ وَاعْوِجَاجَاتٍ لِتَكْثُرَ حَرَكَةُ مَا يَدُبُّ فِيهَا وَيَطُولَ طَرِيقُهُ فَيَتَنَبَّهَ مِنَ النَّوْمِ صَاحِبُهَا إِذَا قَصَدَهَا دَابَّةٌ فِي حَالِ النَّوْمِ ثُمَّ رَفَعَ الْأَنْفَ مِنْ وَسَطِ الْوَجْهِ وَأَحْسَنَ شَكْلَهُ وَفَتَحَ مَنْخَرَيْهِ وَأَوْدَعَ فيه حاسه الشم ليستدل باستنشاق الروايح على مطاعمه وأغذيته وليستنشقة بِمَنْفَذِ الْمَنْخَرَيْنِ رَوْحَ الْهَوَاءِ غِذَاءً لِقَلْبِهِ وَتَرْوِيحًا لِحَرَارَةِ بَاطِنِهِ وَفَتَحَ الْفَمَ وَأَوْدَعَهُ اللِّسَانَ نَاطِقًا وترجما وَمُعْرِبًا عَمَّا فِي الْقَلْبِ وَزَيَّنَ الْفَمَ بِالْأَسْنَانِ لتكون آلَةَ الطَّحْنِ وَالْكَسْرِ وَالْقَطْعِ فَأَحْكَمَ أُصُولَهَا وَحَدَّدَ رءوسها وبيض لونها ورتب صفوفها متساوية الرءوس مُتَنَاسِقَةَ التَّرْتِيبِ كَأَنَّهَا الدَّرُّ الْمَنْظُومُ وَخَلَقَ الشَّفَتَيْنِ وَحَسَّنَ لَوْنَهَا وَشَكْلَهَا لِتَنْطَبِقَ عَلَى الْفَمِ فَتَسُدَّ منفذه وليتم بها حروف الكلام وخلق الْحَنْجَرَةَ وَهَيَّأَهَا لِخُرُوجِ الصَّوْتِ وَخَلَقَ لِلِّسَانِ قُدْرَةً للحركات والتقطيعات لتتقطع الصَّوْتَ فِي مَخَارِجَ مُخْتَلِفَةٍ تَخْتَلِفُ بِهَا الْحُرُوفُ لِيَتَّسِعَ بِهَا طَرِيقُ النُّطْقِ بِكَثْرَتِهَا ثُمَّ خَلَقَ الْحَنَاجِرَ مُخْتَلِفَةَ الْأَشْكَالِ فِي الضِّيقِ وَالسَّعَةِ وَالْخُشُونَةِ وَالْمَلَاسَةِ وَصَلَابَةِ الْجَوْهَرِ وَرَخَاوَتِهِ وَالطُّولِ وَالْقِصَرِ حَتَّى اخْتَلَفَتْ بِسَبَبِهَا الْأَصْوَاتُ فَلَا يَتَشَابَهُ صَوْتَانِ بَلْ يظهر بين كل صوتين فرقا حَتَّى يُمَيِّزَ السَّامِعُ بَعْضَ النَّاسِ عَنْ بَعْضٍ بِمُجَرَّدِ الصَّوْتِ فِي الظُّلْمَةِ ثُمَّ زَيَّنَ الرَّأْسَ بِالشَّعَرِ وَالْأَصْدَاغِ وَزَيَّنَ الْوَجْهَ بِاللِّحْيَةِ وَالْحَاجِبَيْنِ وَزَيَّنَ الْحَاجِبَ بِرِقَّةِ الشَّعَرِ وَاسْتِقْوَاسِ الشَّكْلِ وَزَيَّنَ الْعَيْنَيْنِ بِالْأَهْدَابِ
Sedangkan engkau melihat air mani yang kotor itu dulunya tidak ada, lalu Penciptanya menciptakannya di dalam tulang sulbi dan tulang dada. Kemudian Dia mengeluarkannya dari sana dan membentuknya, lalu mengindahkan pembentukannya, menentukan ukurannya, mengindahkan penentuan dan pencitraannya, serta membagi bagian-bagiannya yang serupa menjadi bagian-bagian yang berbeda-beda. Dia memperkokoh tulang-tulang di bagian-bagiannya, mengindahkan bentuk anggota tubuhnya, menghiasi lahir dan batinnya, serta merapikan pembuluh-pembuluh darah dan urat-urat sarafnya dan menjadikannya sebagai saluran makanannya agar hal itu menjadi sebab kelangsungan hidupnya. Dia menjadikannya mendengar, melihat, mengetahui, dan berbicara. Dia menciptakan punggung sebagai fondasi bagi tubuhnya, perut sebagai penampung alat-alat pencernaan makanannya, dan kepala sebagai penghimpun indra-indranya. Lalu Dia membuka kedua mata, merapikan lapisan-lapisannya, serta mengindahkan bentuk, warna, dan kondisinya. Kemudian Dia melindunginya dengan kelopak mata untuk menutupi, menjaga, memoles, dan menolak kotoran darinya. Kemudian Dia memunculkan pada ukuran sebesarnya biji lentil dari mata itu gambaran langit beserta keluasannya dan kejauhan penjuru-penjurunya, sehingga manusia dapat memandangnya. Kemudian Dia membelah kedua telinganya dan menempatkan pada keduanya cairan yang pahit untuk menjaga pendengarannya dan menolak serangga darinya, serta mengelilinginya dengan daun telinga untuk mengumpulkan suara lalu memantulkannya ke liang telinga dan agar dapat merasakan rayapan serangga padanya. Dia menjadikan padanya lekukan dan celah yang berliku agar pergerakan hewan yang merayap di dalamnya menjadi banyak dan jalannya panjang, sehingga pemiliknya dapat terbangun dari tidur apabila ada binatang yang menuju ke telinganya dalam keadaan tidur. Kemudian Dia meninggikan hidung di tengah wajah, mengindahkan bentuknya, membuka kedua lubang hidungnya, dan menempatkan padanya indra penciuman untuk mengambil petunjuk dengan menghirup bau-bauan atas makanan dan nutrisinya, serta agar ia menghirup udara segar melalui kedua lubang hidung sebagai nutrisi bagi hatinya (penyegar ruhani/jantungnya) dan penyejuk bagi panas batinnya. Dia membuka mulut dan menempatkan lidah di dalamnya sebagai pembicara, penerjemah, dan pengungkap apa yang ada di dalam hati. Dia menghiasi mulut dengan gigi-gigi agar menjadi alat penumbuk, pemecah, dan pemotong. Maka Dia memperkokoh akar-akarnya, menajamkan ujung-ujungnya, memutihkan warnanya, dan menyusun barisannya dengan sejajar dan teratur rapi seakan-akan untaian mutiara. Dia menciptakan kedua bibir dan mengindahkan warna serta bentuknya agar menutup rapat di atas mulut untuk menyumbat jalurnya dan agar dengannya sempurnalah huruf-huruf percakapan. Dia menciptakan tenggorokan dan menyiapkannya untuk keluarnya suara, serta menciptakan kemampuan bagi lidah untuk bergerak dan memotong-motong suara pada makhraj-makhraj yang berbeda sehingga huruf-huruf menjadi berbeda, agar jalan pembicaraan menjadi luas dengan banyaknya huruf tersebut. Kemudian Dia menciptakan tenggorokan-tenggorokan yang berbeda bentuknya dalam hal kesempitan, keluwasan, kekasaran, kehalusan, kekerasan zatnya, kelembutannya, kepanjangannya, dan kependekannya, hingga suara-suara menjadi berbeda karenanya sehingga tidak ada dua suara yang sama persis; bahkan tampak perbedaan antara setiap dua suara hingga pendengar dapat membedakan sebagian orang dari yang lain hanya dengan mendengar suaranya di dalam kegelapan. Kemudian Dia menghiasi kepala dengan rambut dan pelipis, menghiasi wajah dengan jenggot dan kedua alis, menghiasi alis dengan kehalusan rambut dan bentuknya yang melengkung, serta menghiasi kedua mata dengan bulu mata.
ثُمَّ خَلَقَ الْأَعْضَاءَ الْبَاطِنَةَ وَسَخَّرَ كُلَّ وَاحِدٍ لِفِعْلٍ مَخْصُوصٍ فَسَخَّرَ الْمَعِدَةَ لِنُضْجِ الْغِذَاءِ والكبد لإحالة الغذاء إلى الدم والطحال والمرارة والكلية لخدمة الكبد فالطحال يخدمها بجذب السوداء عنها والمرارة تخدمها بجذب الصفراء عنها والكلية تخدمها بجذب المائية عنها والمثانة تخدم الكلية بقبول الماء عنها ثم تُخْرِجَهُ فِي طَرِيقِ الْإِحْلِيلِ وَالْعُرُوقَ تَخْدِمُ الْكَبِدَ فِي إِيصَالِ الدَّمِ إِلَى سَائِرِ أَطْرَافِ الْبَدَنِ ثُمَّ خَلَقَ الْيَدَيْنِ وَطَوَّلَهُمَا لِتَمْتَدَّ إِلَى الْمَقَاصِدِ وَعَرَّضَ الْكَفَّ وَقَسَّمَ الْأَصَابِعَ الْخَمْسَ وَقَسَّمَ كُلَّ أصبع بثلاث أنامل ووضع الأربعة فِي جَانِبٍ وَالْإِبْهَامَ فِي جَانِبٍ لِتَدُورَ الْإِبْهَامُ على الجميع ولو اجتمع الأولون والآخرون على أن يستنبطوا بدقيق الفكر وجها آخر فى وضع الأصابع سوى ما وضعت عليه من بعد الإبهام عن الأربع وتفاوت الأربع فى الطول وترتيبها فى صف واحد لم يقدروا عليه إذ بهذا الترتيب صلحت اليد للقبض والإعطاء فإن بسطها كانت له طبقا يضع عليها ما يريد وإن جمعها كانت له آلة للضرب وإن ضمها ضما غير تام كانت مغرفة له وإن بسطها وضم أصابعها كانت مجرفة له ثم خلق الأظفار على رءوسها زِينَةً لِلْأَنَامِلِ وَعِمَادًا لَهَا مِنْ وَرَائِهَا حَتَّى لا تنقطع وَلِيَلْتَقِطَ بِهَا الْأَشْيَاءَ الدَّقِيقَةَ الَّتِي
Kemudian Dia menciptakan organ-organ batin (dalam) dan menundukkan masing-masing untuk fungsi yang khusus. Dia menundukkan lambung untuk mematangkan/mencerna makanan, hati (liver) untuk mengubah makanan menjadi darah, serta limpa, empedu, dan ginjal untuk melayani hati (liver). Limpa melayaninya dengan menyerap empedu hitam (sauda') darinya, kantung empedu melayaninya dengan menyerap empedu kuning (safra') darinya, ginjal melayaninya dengan menyerap kadar air darinya, dan kandung kemih melayani ginjal dengan menerima air darinya lalu mengeluarkannya melalui saluran kencing (uretra). Dan pembuluh-pembuluh darah melayani hati (liver) dalam menyampaikan darah ke seluruh ujung-ujung tubuh. Kemudian Dia menciptakan kedua tangan dan memanjangankannya agar dapat menjangkau tujuan-tujuan, melebarkan telapak tangan, dan membagi lima jari-jemari. Dia membagi setiap jari dengan tiga ruas jari, serta menempatkan yang empat di satu sisi dan ibu jari di sisi lain agar ibu jari dapat berputar menghadapi keempat jari lainnya. Seandainya orang-orang terdahulu dan kemudian berkumpul untuk menggali dengan pemikiran yang mendalam suatu cara lain dalam tata letak jari-jemari selain yang telah ditetapkan—berupa jarak ibu jari dari yang empat, perbedaan panjang keempat jari itu, dan susunannya dalam satu baris—niscaya mereka tidak akan mampu. Sebab dengan susunan inilah tangan menjadi layak untuk menggenggam dan memberi: jika ia membentangkannya, jadilah ia nampan baginya untuk meletakkan apa yang diinginkannya; jika ia mengepalkannya, jadilah ia alat untuk memukul; jika ia menguncupkannya secara tidak sempurna, jadilah ia gayung/sendok baginya; dan jika ia membentangkannya serta merapatkan jari-jarinya, jadilah ia sekop baginya. Kemudian Dia menciptakan kuku-kuku di ujung-ujungnya sebagai perhiasan bagi ruas jari dan penopang baginya dari belakang agar tidak patah, serta agar manusia dapat mengambil darinya benda-benda halus yang
لَا تَتَنَاوَلُهَا الْأَنَامِلُ وَلِيَحُكَّ بِهَا بَدَنَهُ عِنْدَ الحاجة فالظفر الذى هو أخس الأعضاء لو عدمه الإنسان وظهر به حكة لكان أعجز الخلق وأضعفهم ولم يقم أحد مقامه فى حك بدنه ثم هدى اليد إِلَى مَوْضِعِ الْحَكِّ حَتَّى تَمْتَدَّ إِلَيْهِ وَلَوْ فِي النَّوْمِ وَالْغَفْلَةِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى طَلَبٍ وَلَوِ اسْتَعَانَ بِغَيْرِهِ لَمْ يَعْثُرْ عَلَى مَوْضِعِ الْحَكِّ إِلَّا بَعْدَ تَعَبٍ طَوِيلٍ ثُمَّ خَلَقَ هَذَا كُلَّهُ مِنَ النُّطْفَةِ وَهِيَ فِي داخل الرحم فى ظلمات ثلاث ولو كشف الغطاء والغشاء وامتد إليه البصر لكان يرى التخطيط والتصوير يظهر عليها شيئا فشيئا ولا يرى المصور ولا آلته فهل رأيت مصورا أو فاعلا لا يمس آلته ومصنوعه ولا يلاقيه وهو يتصوف فيه فَسُبْحَانَهُ مَا أَعْظَمَ شَأْنَهُ وَأَظْهَرَ بُرْهَانَهُ
tidak dapat dijangkau oleh ujung jari, dan agar ia menggaruk tubuhnya dengannya ketika dibutuhkan. Maka kuku yang merupakan anggota tubuh paling rendah ini, seandainya manusia tidak memilikinya padahal ia merasa gatal, niscaya ia menjadi makhluk paling lemah dan paling tidak berdaya, serta tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan kedudukannya dalam menggaruk tubuhnya. Kemudian Dia memberi petunjuk kepada tangan menuju tempat gatal sehingga tangan itu terulur kepadanya meskipun dalam keadaan tidur dan lalai tanpa perlu mencari-cari; seandainya ia meminta bantuan orang lain, niscaya orang itu tidak menemukan tempat yang gatal melainkan setelah bersusah payah dalam waktu lama. Kemudian Dia menciptakan ini semua dari air mani yang berada di dalam rahim dalam tiga kegelapan. Seandainya tutupan dan selaput dibuka lalu pandangan mata tertuju padanya, niscaya seseorang melihat pembentukan dan pemodelan muncul padanya sedikit demi sedikit tanpa melihat Pembentuknya dan tanpa melihat alat-Nya. Maka pernahkah engkau melihat seorang pelukis atau pembuat yang tidak menyentuh alat dan buatan-Nya serta tidak bertemu langsung dengannya padahal Dia membentuknya? Maka Mahasuci Allah, betapa agung kedudukan-Nya dan betapa nyata bukti-bukti kekuasaan-Nya!
ثُمَّ انْظُرْ مَعَ كَمَالِ قُدْرَتِهِ إِلَى تَمَامِ رَحْمَتِهِ فَإِنَّهُ لَمَّا ضَاقَ الرَّحِمُ عَنِ الصَّبِيِّ لَمَّا كَبِرَ كَيْفَ هَدَاهُ السَّبِيلَ حَتَّى تَنَكَّسَ وَتَحَرَّكَ وَخَرَجَ مِنْ ذَلِكَ الْمَضِيقِ وَطَلَبَ الْمَنْفَذَ كَأَنَّهُ عَاقِلٌ بَصِيرٌ بِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ
Kemudian lihatlah, di samping kesempurnaan kuasa-Nya, kepada kesempurnaan rahmat-Nya: sesungguhnya ketika rahim menjadi sempit bagi si bayi lantaran ia telah membesar, bagaimana Dia memberinya petunjuk jalan hingga bayi itu berputar membalikkan badannya, bergerak, dan keluar dari tempat sempit itu serta mencari jalan keluar seakan-akan ia seorang yang berakal lagi melihat apa yang dibutuhkannya.
ثُمَّ لَمَّا خَرَجَ وَاحْتَاجَ إِلَى الْغِذَاءِ كَيْفَ هَدَاهُ إِلَى الْتِقَامِ الثَّدْيِ ثُمَّ لَمَّا كَانَ بَدَنُهُ سَخِيفًا لَا يَحْتَمِلُ الْأَغْذِيَةَ الْكَثِيفَةَ كَيْفَ دَبَّرَ لَهُ فِي خَلْقِ اللَّبَنِ اللَّطِيفِ وَاسْتَخْرَجَهُ مِنْ بَيْنِ الفرث والدم سائغا خالصا وَكَيْفَ خَلَقَ الثَّدْيَيْنِ وَجَمَعَ فِيهِمَا اللَّبَنَ وَأَنْبَتَ منهما حَلَمَتَيْنِ عَلَى قَدْرِ مَا يَنْطَبِقُ عَلَيْهِمَا فَمُ الصَّبِيِّ ثُمَّ فَتَحَ فِي حَلَمَةِ الثَّدْيِ ثُقْبًا ضَيِّقًا جِدًّا حَتَّى لَا يَخْرُجَ اللَّبَنُ مِنْهُ إلا بعد المص تدريجا فإن الطفل لايطيق مِنْهُ إِلَّا الْقَلِيلَ ثُمَّ كَيْفَ هَدَاهُ لِلِامْتِصَاصِ حَتَّى يَسْتَخْرِجَ مِنْ ذَلِكَ الْمَضِيقِ اللَّبَنَ الْكَثِيرَ عِنْدَ شِدَّةِ الْجُوعِ
Kemudian ketika ia telah keluar dan membutuhkan makanan, bagaimana Dia memberinya petunjuk untuk mengulum puting payudara. Kemudian ketika tubuhnya masih sangat lemah dan belum mampu menanggung makanan yang padat/kasar, bagaimana Dia mengaturnya dengan menciptakan air susu yang halus, serta mengeluarkannya dari antara kotoran dan darah sebagai minuman yang lezat lagi bersih murni. Dan bagaimana Dia menciptakan kedua payudara, mengumpulkan air susu di dalamnya, serta menumbuhkan dari keduanya dua puting seukuran yang pas tertangkup oleh mulut bayi. Kemudian Dia membuka pada puting payudara lubang yang sangat sempit agar air susu tidak keluar darinya melainkan setelah dihisap secara bertahap, karena bayi tidak sanggup menampung kecuali sedikit. Kemudian bagaimana Dia memberinya petunjuk untuk menghisap sehingga ia dapat mengeluarkan air susu yang banyak dari saluran yang sempit itu ketika lapar membara.
ثُمَّ انْظُرْ إِلَى عَطْفِهِ وَرَحْمَتِهِ وَرَأْفَتِهِ كَيْفَ أَخَّرَ خَلْقَ الْأَسْنَانِ إِلَى تَمَامِ الْحَوْلَيْنِ لِأَنَّهُ فِي الْحَوْلَيْنِ لَا يَتَغَذَّى إِلَّا بِاللَّبَنِ فَيَسْتَغْنِي عَنِ السِّنِّ وَإِذَا كَبِرَ لَمْ يُوَافِقْهُ اللَّبَنُ السَّخِيفُ وَيَحْتَاجُ إِلَى طَعَامٍ غَلِيظٍ وَيَحْتَاجُ الطَّعَامُ إِلَى الْمَضْغِ وَالطَّحْنِ فَأَنْبَتَ لَهُ الْأَسْنَانَ عِنْدَ الْحَاجَةِ لَا قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا فَسُبْحَانَهُ كَيْفَ أَخْرَجَ تِلْكَ الْعِظَامَ الصُّلْبَةَ فى تلك اللثات اللَّيِّنَةِ ثُمَّ حَنَنَّ قُلُوبَ الْوَالِدَيْنِ عَلَيْهِ لِلْقِيَامِ بِتَدْبِيرِهِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي كَانَ عَاجِزًا عَنْ تَدْبِيرِ نَفْسِهِ فَلَوْ لَمْ يُسَلِّطِ اللَّهُ الرَّحْمَةَ عَلَى قُلُوبِهِمَا لَكَانَ الطِّفْلُ أَعْجَزَ الْخَلْقِ عَنْ تَدْبِيرِ نَفْسِهِ
Kemudian lihatlah kepada kelembutan, rahmat, dan kasih sayang-Nya: bagaimana Dia menunda penciptaan gigi hingga genap dua tahun (masa penyapuan). Karena selama dua tahun itu ia hanya memakan air susu sehingga ia tidak membutuhkan gigi; dan ketika ia bertambah besar, air susu yang cair itu tidak lagi mencukupi baginya dan ia membutuhkan makanan yang padat, sedangkan makanan padat membutuhkan pengunyahan dan penumbukan. Maka Dia menumbuhkan gigi untuknya pada saat dibutuhkan, tidak sebelum itu dan tidak pula sesudahnya. Maka Mahasuci Allah, bagaimana Dia mengeluarkan tulang-tulang yang keras itu di dalam gusi yang lembut tersebut. Kemudian Dia melembutkan hati kedua orang tua kepadanya untuk mengurusnya pada saat ia tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Seandainya Allah tidak menguasakan rahmat ke dalam hati keduanya, niscaya anak kecil itu menjadi makhluk yang paling tidak berdaya dalam mengurus dirinya sendiri.
ثُمَّ انْظُرْ كَيْفَ رَزَقَهُ الْقُدْرَةَ وَالتَّمْيِيزَ وَالْعَقْلَ وَالْهِدَايَةَ تَدْرِيجًا حَتَّى بَلَغَ وَتَكَامَلَ فَصَارَ مُرَاهِقًا ثُمَّ شَابًّا ثُمَّ كَهْلًا ثُمَّ شَيْخًا إِمَّا كَفُورًا أَوْ شَكُورًا مُطِيعًا أَوْ عَاصِيًا مُؤْمِنًا أَوْ كَافِرًا تَصْدِيقًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا فَانْظُرْ إِلَى اللُّطْفِ وَالْكَرَمِ ثُمَّ إِلَى الْقُدْرَةِ وَالْحِكْمَةِ تَبْهَرْكَ عَجَائِبُ الْحَضْرَةِ الرَّبَّانِيَّةِ
Kemudian lihatlah bagaimana Dia mengaruniakan kepadanya kemampuan, daya pembeda (tamyiz), akal, dan petunjuk secara bertahap hingga ia dewasa dan sempurna, lalu menjadi pemuda yang hampir baligh, kemudian pemuda, kemudian setengah baya (kahil), lalu menjadi tua renta: adakalanya ia sangat kufur atau sangat bersyukur, taat atau bermaksiat, beriman atau kafir, sebagai pembenaran atas firman-Nya Ta'ala: 'Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.' (QS. Al-Insan: 1-3). Maka lihatlah kepada kelembutan dan kemurahan-Nya, kemudian kepada kekuasaan dan hikmah-Nya, niscaya keajaiban-keajaiban Kehadiran Rabbaniyah akan memukau dirimu.
وَالْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ مِمَّنْ يَرَى خَطًّا حَسَنًا أَوْ نَقْشًا حسنا على حائط فيستحسنه فيصرف جميع همه إِلَى التَّفَكُّرِ فِي النَّقَّاشِ وَالْخَطَّاطِ وَأَنَّهُ كَيْفَ نَقَشَهُ وَخَطَّهُ وَكَيْفَ اقْتَدَرَ عَلَيْهِ وَلَا يَزَالُ يَسْتَعْظِمُهُ فِي نَفْسِهِ وَيَقُولُ مَا أَحْذَقَهُ وَمَا أَكْمَلَ صَنْعَتَهُ وَأَحْسَنَ قُدْرَتَهُ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى هَذِهِ الْعَجَائِبِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ ثُمَّ يغفل عن صانعه ومصوره فلا تدهشه عَظَمَتُهُ وَلَا يُحَيِّرُهُ جَلَالُهُ وَحِكْمَتُهُ فَهَذِهِ نُبْذَةٌ مِنْ عَجَائِبِ بَدَنِكَ الَّتِي لَا يُمْكِنُ اسْتِقْصَاؤُهَا فَهُوَ أَقْرَبُ مَجَالٍ لِفِكْرِكَ وَأَجْلَى شَاهِدٍ عَلَى عَظَمَةِ خَالِقِكَ وَأَنْتَ غَافِلٌ عَنْ ذَلِكَ مَشْغُولٌ ببطنك وفرجك ولا تَعْرِفُ مِنْ نَفْسِكَ إِلَّا أَنْ تَجُوعَ فَتَأْكُلَ وتشبع فينام وتشتهى فتجامع وتغضب فتقاتل والبهائم كلها تُشَارِكُكَ فِي مَعْرِفَةِ ذَلِكَ وَإِنَّمَا خَاصِّيَّةُ الْإِنْسَانِ الَّتِي حُجِبَتِ الْبَهَائِمُ عَنْهَا مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى بالنظر في ملكوت السموات وَالْأَرْضِ وَعَجَائِبِ الْآفَاقِ وَالْأَنْفُسِ إِذْ بِهَا يَدْخُلُ الْعَبْدُ فِي زُمْرَةِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَيُحْشَرُ فِي زُمْرَةِ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ مُقَرَّبًا مِنْ حَضْرَةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَيْسَتْ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ لِلْبَهَائِمِ وَلَا لِإِنْسَانٍ رَضِيَ مِنَ الدُّنْيَا بِشَهَوَاتِ الْبَهَائِمِ فَإِنَّهُ شَرٌّ مِنَ الْبَهَائِمِ بِكَثِيرٍ
Dan sungguh sangat mengherankan orang yang melihat tulisan yang indah atau ukiran yang indah pada dinding, lalu ia menganggapnya indah dan memalingkan seluruh perhatiannya untuk memikirkan si pengukir dan si kaligrafer: bagaimana ia mengukir dan menulisnya, serta bagaimana ia mampu melakukannya, dan ia terus-menerus mengagungkannya dalam dirinya seraya berkata, 'Betapa mahir dirinya, betapa sempurna buatannya, dan betapa indah kemampuannya!' Namun kemudian ia melihat keajaiban-keajaiban ini pada dirinya sendiri dan pada orang lain, lalu ia lalai dari Pencipta dan Pembentuk rupanya, sehingga keagungan-Nya tidak memukaukannya, dan keagungan serta hikmah-Nya tidak membuatnya terpesona. Maka ini adalah segelintir dari keajaiban tubuhmu yang tidak mungkin dihitung secara tuntas, padahal tubuh itu adalah ranah terdekat bagi pemikiranmu dan saksi paling nyata atas keagungan Penciptamu. Namun engkau lalai dari hal itu, sibuk dengan perut dan kemaluanmu. Engkau tidak mengenal dari dirimu melainkan jika lapar engkau makan, jika kenyang engkau tidur, jika bernafsu engkau bersetubuh, dan jika marah engkau berkelahi; padahal seluruh binatang berserikat denganmu dalam mengetahui hal tersebut. Padahal keistimewaan manusia yang terhalang dari binatang adalah maqam makrifat (pengenalan) kepada Allah Ta'ala dengan cara memandang ke dalam kerajaan langit dan bumi serta keajaiban-keajaiban ufuk dan jiwa. Sebab dengan itulah seorang hamba masuk ke dalam rombongan para malaikat mukarrabin dan dihimpunkan dalam kelompok para nabi dan shiddiqin, lagi didekatkan dengan Kehadiran Tuhan semesta alam. Kedudukan ini tidaklah dimiliki oleh binatang, dan tidak pula oleh manusia yang ridha terhadap dunia hanya dengan syahwat binatang, karena ia jauh lebih buruk daripada binatang.
إِذْ لَا قُدْرَةَ لِلْبَهِيمَةِ عَلَى ذَلِكَ وَأَمَّا هُوَ فَقَدْ خَلَقَ اللَّهُ لَهُ الْقُدْرَةَ ثُمَّ عَطَّلَهَا وَكَفَرَ نِعْمَةَ اللَّهِ فِيهَا فَأُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بل هم أضل سبيلا
Sebab binatang memang tidak memiliki kemampuan untuk hal itu. Adapun manusia, Allah telah menciptakan baginya kemampuan tersebut namun ia menyia-nyiakannya dan mengingkari nikmat Allah padanya. Maka 'mereka itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.' (QS. Al-A'raf: 179).
وَإِذَا عَرَفْتَ طَرِيقَ الْفِكْرِ فِي نَفْسِكَ فَتَفَكَّرْ فِي الْأَرْضِ الَّتِي هِيَ مَقَرُّكَ ثُمَّ فِي أنهارها وجبالها ومعادتها ثم ارتفع منها إلى ملكوت السموات أما الأرض فمن آياته أَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَمِهَادًا وَسَلَكَ فِيهَا سُبُلًا فِجَاجًا وَجَعَلَهَا ذَلُولًا لِتَمْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَجَعَلَهَا قَارَّةً لَا تَتَحَرَّكُ وَأَرْسَى فِيهَا الْجِبَالَ أَوْتَادًا لَهَا تَمْنَعُهَا مِنْ أَنْ تَمِيدَ ثُمَّ وَسَّعَ أَكْنَافَهَا حَتَّى عَجَزَ الْآدَمِيُّونَ عَنْ بُلُوغِ جميع جوانبها وإن طالت إعمارهم وكثر تطوافهم فقال تعالى والسماء بنيناها بأيد وإنا لموسعون والأرض فرشناها فنعم الماهدون وقال تعالى هو الذى جعل لكم الأرض ذلولا فامشوا فى مناكبها وقال تعالى الذى جعل لكم الأرض فراشا وقد أكثر فى كتابه العزيز ممن ذِكْرِ الْأَرْضِ لِيُتَفَكَّرَ فِي عَجَائِبِهَا فَظَهْرُهَا مَقَرُّ للأحياء وبطنها مرقد للأموات قال تَعَالَى أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا
Jika engkau telah mengetahui tata cara berfikir (tafakur) tentang dirimu, maka berfikirlah tentang bumi yang menjadi tempat tinggalmu, kemudian tentang sungai-sungainya, gunung-gunungnya, dan barang tambangnya; kemudian naiklah darinya menuju kerajaan langit. Adapun bumi, maka di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa Dia menciptakan bumi sebagai hamparan dan tempat tinggal, melintaskan padanya jalan-jalan yang luas, menjadikannya mudah dijelajahi agar kamu berjalan di segala penjurunya, serta menjadikannya tenang tidak bergoncang. Dia memancangkan padanya gunung-gunung sebagai pasak-pasak baginya yang mencegahnya agar tidak bergoyang. Kemudian Dia memperluas penjuru-penjurunya hingga manusia tidak mampu mencapai seluruh jalurnya meskipun umur mereka panjang dan penjelajahan mereka banyak. Maka Allah Ta'ala berfirman: 'Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sungguh Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).' (QS. Az-Zariyat: 47-48). Dan berfirman: 'Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya.' (QS. Al-Mulk: 15). Dan berfirman: 'Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu.' (QS. Al-Baqarah: 22). Sungguh Dia telah banyak menyebutkan tentang bumi dalam Kitab-Nya yang Mulia agar dipikirkan keajaiban-keajaibannya; permukaan bumi adalah tempat tinggal bagi yang hidup, sedangkan perutnya adalah tempat peristirahatan bagi yang mati. Allah Ta'ala berfirman: 'Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) mengumpulkan, orang-orang yang hidup dan yang mati?' (QS. Al-Mursalat: 25-26).
فانظر إلى الأرض وهى ميتة فإذا أنزل عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاخْضَرَّتْ وَأَنْبَتَتْ عَجَائِبَ النبات وَخَرَجَتْ مِنْهَا أَصْنَافُ الْحَيَوَانَاتِ ثُمَّ انْظُرْ كَيْفَ أَحْكَمَ جَوَانِبَ الْأَرْضِ بِالْجِبَالِ الرَّاسِيَاتِ الشَّوَامِخِ الصُّمِّ الصِّلَابِ وَكَيْفَ أَوْدَعَ الْمِيَاهَ تَحْتَهَا فَفَجَّرَ الْعُيُونَ وَأَسَالَ الْأَنْهَارَ تَجْرِي عَلَى وَجْهِهَا وَأَخْرَجَ مِنَ الْحِجَارَةِ الْيَابِسَةِ وَمِنَ التُّرَابِ الْكَدِرِ مَاءً رَقِيقًا عذبا صَافِيًا زُلَالًا وَجَعَلَ بِهِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ فَأَخْرَجَ بِهِ فُنُونَ الْأَشْجَارِ وَالنَّبَاتِ مِنْ حَبٍّ وَعِنَبٍ وَقَضْبٍ وَزَيْتُونٍ وَنَخْلٍ وَرُمَّانٍ وَفَوَاكِهَ كَثِيرَةٍ لَا تُحْصَى مُخْتَلِفَةِ الْأَشْكَالِ وَالْأَلْوَانِ وَالطُّعُومِ وَالصِّفَاتِ والأرابيح يُفَضَّلُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ تُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَتُخْرَجُ مِنْ أَرْضٍ وَاحِدَةٍ
Maka lihatlah pada bumi ketika ia mati; lalu apabila Dia menurunkan air di atasnya, gemburlah bumi itu dan mengembang, menghijau, serta menumbuhkan keajaiban tumbuhan, dan darinya keluar berbagai jenis hewan. Kemudian lihatlah bagaimana Dia memperkokoh penjuru-penjuru bumi dengan gunung-gunung yang kokoh, menjulang tinggi, padat, lagi keras. Dan bagaimana Dia menyimpan air di bawahnya lalu memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai yang mengalir di atas permukaannya. Dia mengeluarkan dari batu yang kering dan tanah yang keruh air yang jernih, tawar, bersih, lagi segar; dan Dia menjadikan dengannya segala sesuatu hidup. Maka dengannya Dia mengeluarkan beraneka ragam pepohonan dan tumbuhan berupa biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma, delima, dan buah-buahan yang banyak tak terhitung yang berbeda-beda bentuk, warna, rasa, sifat, dan aromanya, sebagiannya dilebihkan atas sebagian yang lain dalam hal rasa makanannya, padahal disiram dengan air yang sama dan dikeluarkan dari tanah yang sama.
فَإِنْ قُلْتَ إِنَّ اخْتِلَافَهَا بِاخْتِلَافِ بُذُورِهَا وَأُصُولِهَا فَمَتَى كان فى النواة نخلة مطوقة لعناقيد الرطب ومتى كان فى حبة واحدة سمع سنابل فى كل سنبلة مائة ثُمَّ انْظُرْ إِلَى أَرْضِ الْبَوَادِي وَفَتِّشْ ظَاهِرَهَا وَبَاطِنَهَا فَتَرَاهَا تُرَابًا مُتَشَابِهًا فَإِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهَا الْمَاءُ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجِ بَهِيجٍ أَلْوَانًا مُخْتَلِفَةً وَنَبَاتًا مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ لِكُلِّ وَاحِدٍ طَعْمٌ وَرِيحٌ وَلَوْنٌ وَشَكْلٌ يُخَالِفُ الْآخَرَ فَانْظُرْ إِلَى كَثْرَتِهَا وَاخْتِلَافِ أَصْنَافِهَا وَكَثْرَةِ أَشْكَالِهَا ثُمَّ اخْتِلَافِ طَبَائِعِ النَّبَاتِ وَكَثْرَةِ مَنَافِعِهِ وَكَيْفَ أَوْدَعَ اللَّهُ تَعَالَى الْعَقَاقِيرَ الْمَنَافِعَ الْغَرِيبَةَ فَهَذَا النَّبَاتُ يُغَذِّي وَهَذَا يُقَوِّي وَهَذَا يُحْيِي وَهَذَا يَقْتُلُ وَهَذَا يُبَرِّدُ وَهَذَا يُسَخِّنُ وَهَذَا إذا حصل في المعدة قمع الصفراء من أعماق العروق وهذا يستحيل إلى الصفراء وهذا يقمع البلغم والسوداء وهذا يستحيل إليهما وهذا يصفى الدم وهذا يستحل دما وهذا يفرح وهذا ينوم وهذا يقوى وهذا يضعف فلم تنبت من الأرض ورقة ولا تبنة إِلَّا وَفِيهَا مَنَافِعُ لَا يَقْوَى الْبَشَرُ عَلَى الْوُقُوفِ عَلَى كُنْهِهَا وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذَا النَّبَاتِ يَحْتَاجُ الْفَلَّاحُ فِي تَرْبِيَتِهِ إِلَى عَمَلٍ مخصوص فالنخل تؤثر الكرم يكسح والزرع ينقى عنه الحشيش والدغل وبعض ذلك يستنبت ببث البذر فى الأرض وبعضه بغرس الأغصان وبعضه يركب فى الشجر وَلَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَ اخْتِلَافَ أَجْنَاسِ النَّبَاتِ وأنواعة ومنافعه وأحواله وعجائبه لا نقضت الْأَيَّامُ فِي وَصْفِ ذَلِكَ فَيَكْفِيكَ مِنْ كُلٍّ جنس نبذة يسيرة تدلك على طريق الفكر فهذه عجائب النبات
Jika engkau berkata: 'Sesungguhnya perbedaannya terjadi karena perbedaan benih dan pohon asalnya', maka bilakah dalam sebuah biji kurma terdapat pohon kurma yang sarat dengan tandan-tandan kurma basah? Dan bilakah dalam sebutir biji terdapat tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir ada seratus biji? Kemudian perhatikanlah tanah padang sahara, selidikilah bagian luar dan dalamnya, niscaya engkau melihatnya sebagai tanah yang serupa. Namun, apabila dipersiapkan air atasnya, hiduplah tanah itu dan suburlah ia serta menumbuhkan berbagai macam pasangan tanaman yang indah, beragam warna, ada yang serupa dan ada yang tidak serupa; masing-masing memiliki rasa, aroma, warna, dan bentuk yang berbeda satu sama lain. Maka lihatlah betapa banyaknya tanaman itu, beranekaragam jenisnya, betapa banyak bentuknya, kemudian perbedaan sifat dasar (tabiat) tanaman serta banyaknya manfaatnya, dan bagaimana Allah Ta'ala menitipkan pada obat-obatan herbal manfaat-manfaat yang menakjubkan. Tumbuhan ini memberi gizi, yang ini menguatkan, yang ini menyegarkan (menghidupkan), yang ini membunuh (beracun), yang ini mendinginkan, yang ini menghangatkan. Tumbuhan ini jika masuk ke dalam lambung dapat menekan cairan empedu (safra') dari kedalaman pembuluh darah, yang ini berubah menjadi empedu, yang ini meredam dahak (balgham) dan empedu hitam (sauda'), yang ini berubah menjadi keduanya, yang ini membersihkan darah, yang ini meluluhkan darah, yang ini menggembirakan, yang ini menidurkan, yang ini menguatkan, dan yang ini melemahkan. Maka tidaklah tumbuh dari bumi selembar daun pun dan sebatang jerami pun melainkan padanya terdapat manfaat-manfaat yang manusia tidak sanggup mengetahui hakikat intinya. Masing-masing dari tanaman ini membutuhkan perlakuan khusus dari petani dalam perawatannya. Pohon kurma membutuhkan perhatian, pohon anggur dipangkas, tanaman jelai/padi dibersihkan dari rumput liar dan gulma. Sebagian tanaman ditanam dengan menyebar benih di tanah, sebagian dengan menanam cabangnya, dan sebagian disambung pada pohon lain. Sekiranya kita hendak menyebutkan perbedaan jenis-jenis tanaman, macam-macamnya, manfaatnya, keadaan-keadaannya, dan keajaiban-keajaibannya, niscaya hari-hari akan habis untuk menggambarkan hal itu. Maka cukuplah bagimu dari setiap jenis suatu gambaran singkat yang menunjukkannya kepadamu pada jalan tafakur. Maka inilah keajaiban-keajaiban tumbuh-tumbuhan.
ومن أياته الجواهر المودعة تحت الجبال والمعادن الحاصلة من الأرض ففى الأرض قطع متجاورات مختلفة فانظر إلى الجبال كيف يخرج منها الجواهر النفيسة من الذهب والفضة والفيروزج واللعل وغيرها بعضها منطبعة تحت المطارق كالذهب والفضة والنحاس والرصاص والحديد وبعضها لا ينطبع كالفيروزوج واللعل
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah permata-permata yang disimpan di bawah gunung-gunung dan barang tambang yang dihasilkan dari bumi. Di bumi terdapat berdampingan bagian-bagian tanah yang berbeda-beda. Maka perhatikanlah gunung-gunung, bagaimana daripadanya dikeluarkan permata-permata berharga seperti emas, perak, pirus (firuza), la'al (rubi), dan lainnya. Sebagian daripadanya dapat ditempa di bawah palu seperti emas, perak, tembaga, timah, dan besi; sedang sebagian lagi tidak dapat ditempa seperti pirus dan la'al.
وكيف هدى الله الناس إلى استخراجها وتنقيتها واتخاذ الأوانى والآلات والنقود والحلى منها ثم انظر إلى معادن الأرض من النفط والكبريت والقار وغيرها وأقلها الملح ولا يحتاج إليه إلا لتطييب الطعام ولو خلت عنه بلدة لتسارع الهلاك إليها فانظر إلى رحمة الله تعالى كيف خلق بعض الأراضى سبخة بجوهرها بحيث يجتمع فيها الماء الصافى من المطر فيستحيل ملحا مالحا محرقا لا يمكن تناول مثقال منه ليكون ذلك تطييبا لطعامك إذا أكلته فيتهنأ عيشك وما من جماد ولا حيوان ولا نبات إلا وفيه حكمة وحكم من هذا الجنس ما خلق شىء منها عبثا ولا لعبا ولا هزلا بل خلق الكل بالحق كما ينبغى وعلى الوجه الذى ينبغى وكما يليق بجلاله وكرمه ولطفه ولذلك قال تعالى وما خلقنا السموات والأرض وما بينهما لاعبين ما خلقنهما إلا بالحق
Dan bagaimana Allah memberi petunjuk kepada manusia untuk menggalinya, memurnikannya, serta menggunakannya sebagai bejana, peralatan, mata uang, dan perhiasan. Kemudian perhatikanlah barang tambang bumi seperti minyak bumi, belerang, aspal, dan lainnya, yang paling sederhana di antaranya adalah garam. Garam tidaklah dibutuhkan melainkan untuk melezatkan makanan, namun seandainya suatu negeri tidak memiliki garam, niscaya kehancuran akan menyergapnya dengan cepat. Maka perhatikanlah rahmat Allah Ta'ala bagaimana Dia menciptakan sebagian tanah dalam keadaan asin secara zatnya, sehingga apabila air hujan yang jernih berkumpul di sana, air itu berubah menjadi garam yang asin dan tajam, yang tidak dapat dimakan seberat timbangan sekecil pun secara langsung, agar menjadi penyedap bagi makananmu saat engkau memakannya sehingga kehidupanmu menjadi nikmat. Dan tidaklah ada benda mati, hewan, atau tumbuhan melainkan padanya terdapat hikmah dan rahasia hukum dari jenis ini; tidak ada sesuatu pun darinya yang diciptakan secara sia-sia, main-main, atau tanpa arti, melainkan Dia menciptakan semuanya dengan kebenaran (tujuan yang hak) sebagaimana mestinya, menurut cara yang seharusnya, dan sesuai dengan keagungan, kemurahan, serta kelembutan-Nya. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: 'Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak (tujuan yang benar).'
ومن آياته أصناف الحيوانات وانقسمها إِلَى مَا يَطِيرُ وَإِلَى مَا يَمْشِي وَانْقِسَامَ مَا يَمْشِي إِلَى مَا يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وإلى ما يمشى على أَرْبَعٍ وَعَلَى عَشْرٍ وَعَلَى مِائَةٍ كَمَا يُشَاهَدُ فِي بَعْضِ الْحَشَرَاتِ ثُمَّ انْقِسَامَهَا فِي الْمَنَافِعِ وَالصُّوَرِ وَالْأَشْكَالِ وَالْأَخْلَاقِ وَالطِّبَاعِ فَانْظُرْ إِلَى طُيُورِ الجو وإلى وحوش البر والبهائم الأهلية ترى فيها من العجائب ولا تَشُكُّ مَعَهُ فِي عَظَمَةِ خَالِقِهَا وَقُدْرَةِ مُقَدِّرِهَا وَحِكْمَةِ مُصَوِّرِهَا وَكَيْفَ يُمْكِنُ أَنْ يُسْتَقْصَى ذَلِكَ بَلْ لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَ عَجَائِبَ الْبَقَّةِ أو النملة أو النخلة أو العنكبوت وهى من صغار الحيوانات بِنَائِهَا بَيْتَهَا وَفِي جَمْعِهَا غِذَاءَهَا وَفِي إِلْفِهَا لزوجها وفى ادخارها لنفسا وَفِي حِذْقِهَا فِي هَنْدَسَةِ بَيْتِهَا وَفِي هِدَايَتِهَا إلى حاجاتها لم نقدر على ذلك فترى العنكبوت يبنى بيته على طرف نهر فيطلب أولا موضعين متقاربين بينهما فرجة بمقدار ذراع فما دونه حتى يمكنه أن يصل بالخيط بين طرفيه ثم يبتدىء ويلقى اللعاب الذى هو خيطه على جانب ليلتصق به ثم يغدو إلى الجانب الآخر فيحكم الطرف الآخر من الخيط ثم كذلك يتردد ثانيا وثالثا ويجعل بعد ما بينهما متناسبا تناسبا هندسيا حتى إذا أحكم معاقد القمط ورتب الخيوط كالسدى اشتغل باللحمة فيضع اللحمة على السدى ويضيف بعضه إلى بعض ويحكم العقد على موضع التقاء اللحمة بالسدى ويراعى فى جميع ذلك تناسب الهندسة ويجعل ذلك شبكة يقع فيها البق والذباب ويقعد فى زاوية مترصدا لوقوع الصيد فى الشبكة فإذا وقع الصيد بادر إلى أخذه وأكله فإن عجز عن الصيد كذلك طلب لنفسه زاوية من حائط ووصل بين طرفى الزاوية بخيط ثم علق نفسه فيها بخيط آخر وبقى منكسا فى الهواء ينتظر ذبابة تطير فإذا طارت رمى بنفسه إليه فإخذه ولف خيطه على رجليه وأحكمه ثم أكله وما من حيوان صغير ولا كبير إلا وفيه من العجائب ما لا يحصى أفترى أنه تعلم هذه الصنعة من نفسه أو تكون بنفسه أو كونه آدمى أو علمه أو لا هادى له ولا معلم أفيشك ذو بصيرة فى أنه مسكين ضعيف عاجز بل الفيل العظيم شخصه الظاهرة قوته عاجز عن أمر نفسه فكيف هذا الحيوان الضعيف أفلا يشهد هو بِشَكْلِهِ وَصُورَتِهِ وَحَرَكَتِهِ وَهِدَايَتِهِ وَعَجَائِبِ صَنْعَتِهِ لِفَاطِرِهِ الْحَكِيمِ وَخَالِقِهِ الْقَادِرِ الْعَلِيمِ فَالْبَصِيرُ يَرَى فِي هَذَا الْحَيَوَانِ الصَّغِيرِ مِنْ عَظَمَةِ الْخَالِقِ الْمُدَبِّرِ وَجَلَالِهِ وَكَمَالِ قُدْرَتِهِ وَحِكْمَتِهِ مَا تَتَحَيَّرُ فِيهِ الْأَلْبَابُ وَالْعُقُولُ فَضْلًا عَنْ سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ وَهَذَا الْبَابُ أَيْضًا لَا حَصْرَ لَهُ فَإِنَّ الْحَيَوَانَاتِ وأشكالها وأخلاقها وَطِبَاعَهَا غَيْرُ مَحْصُورَةٍ وَإِنَّمَا سَقَطَ تَعَجُّبُ الْقُلُوبِ مِنْهَا لِأُنْسِهَا بِكَثْرَةِ الْمُشَاهَدَةِ نَعَمْ إِذَا رَأَى حيوانا غريبا وَلَوْ دُودًا تَجَدَّدَ تَعَجُّبُهُ وَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا أَعْجَبَهُ وَالْإِنْسَانُ أَعْجَبُ الْحَيَوَانَاتِ وَلَيْسَ يَتَعَجَّبُ مِنْ نَفْسِهِ بَلْ لَوْ نَظَرَ إِلَى الْأَنْعَامِ التى ألفها تَعَجُّبُهُ وَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا أَعْجَبَهُ وَالْإِنْسَانُ أَعْجَبُ الْحَيَوَانَاتِ وَلَيْسَ يَتَعَجَّبُ مِنْ نَفْسِهِ بَلْ لَوْ نَظَرَ إِلَى الْأَنْعَامِ الَّتِي أَلِفَهَا وَنَظَرَ إِلَى أَشْكَالِهَا وَصُوَرِهَا ثُمَّ إِلَى مَنَافِعِهَا وَفَوَائِدِهَا مِنْ جُلُودِهَا وَأَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا الَّتِي جَعَلَهَا الله لباسا لخلقه وأكانا لَهُمْ فِي ظَعْنِهِمْ وَإِقَامَتِهِمْ وَآنِيَةً لَأَشْرِبَتِهِمْ وَأَوْعِيَةً لأغذيتهم وَصِوَانًا لِأَقْدَامِهِمْ وَجَعَلَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah beranekaragam jenis hewan; pembagiannya menjadi yang terbang dan yang berjalan, serta pembagian yang berjalan menjadi yang berjalan dengan dua kaki, empat kaki, sepuluh kaki, hingga seratus kaki sebagaimana disaksikan pada sebagian serangga. Kemudian pembagiannya dalam hal manfaat, bentuk, rupa, watak, dan tabiat. Maka perhatikanlah burung-burung di udara, binatang liar di darat, dan binatang ternak peliharaan; niscaya engkau melihat padanya keajaiban-keajaiban yang membuatmu tidak ragu lagi akan keagungan Penciptanya, kekuasaan Yang Menakdirkan-Nya, serta hikmah Yang Membentuk rupa-Nya. Dan bagaimana mungkin hal itu bisa terhitung secara tuntas? Bahkan sekiranya kita hendak menyebutkan keajaiban nyamuk, semut, atau laba-laba — padahal laba-laba termasuk hewan yang kecil — dalam hal bagaimana ia membangun rumahnya, mengumpulkan makanannya, menyayangi pasangannya, menyimpan cadangan untuk dirinya, kecermatannya dalam arsitektur rumahnya, dan petunjuk baginya menuju kebutuhan-kebutuhannya, niscaya kita tidak akan sanggup melakukan itu. Engkau melihat laba-laba membangun rumahnya di tepi sungai: pertama-tama ia mencari dua tempat yang berdekatan dengan jarak sekitar satu hasta atau kurang agar ia dapat menghubungkan benang di antara kedua ujungnya. Kemudian ia memulai dan mengeluarkan air liur yang merupakan benangnya ke satu sisi agar melekat padanya, lalu bergegas ke sisi lain dan mengokohkan ujung benang yang lain. Demikianlah ia bolak-balik untuk kedua dan ketiga kalinya, serta menjadikan jarak di antaranya selaras secara arsitektural. Hingga apabila ia telah menguatkan simpul-simpul pengikat dan merapikan benang-benang seperti benang lungsin (arah membujur), ia sibuk membuat benang pakan (arah melintang). Ia meletakkan benang pakan di atas benang lungsin, menyambung sebagian dengannya, dan menguatkan ikatan pada titik pertemuan benang pakan dan lungsin, seraya memperhatikan keselarasan arsitekturnya dalam seluruh proses itu. Ia menjadikan hal itu sebagai jaring tempat terjeratnya nyamuk dan lalat, lalu ia duduk di sudut sambil mengintai jatuhnya mangsa ke dalam jaring. Jika mangsa jatuh, ia bersegera menangkap dan memakannya. Apabila ia tidak sanggup berburu dengan cara demikian, ia mencari sudut dinding untuk dirinya, menghubungkan dua sisi sudut dengan benang, lalu menggantungkan dirinya di sana dengan benang lain dan tetap bergantung terbalik di udara menantikan lalat yang terbang. Jika lalat terbang mendekat, ia melompat ke arahnya, menangkapnya, melilitkan benangnya ke kaki lalat itu, mengikatnya dengan kuat, lalu memakannya. Maka tidak ada hewan kecil maupun besar melainkan padanya terdapat keajaiban-keajaiban yang tidak terhitung. Apakah engkau mengira bahwa ia mempelajari keterampilan ini dari dirinya sendiri, atau terjadi dengan sendirinya, atau apakah ia manusia, atau ada yang mengajarinya sedang tidak ada penunjuk jalan maupun pengajar baginya? Mampukah orang yang memiliki mata hati (basirah) meragukan bahwa laba-laba itu adalah makhluk yang miskin, lemah, lagi tak berdaya? Bahkan gajah yang fisiknya amat besar dan kekuatannya tampak nyata pun tak berdaya atas urusan dirinya sendiri, maka bagaimana dengan hewan yang lemah ini? Tidakkah ia dengan bentuknya, rupanya, gerakannya, petunjuk hidupnya, dan keajaiban keterampilannya bersaksi bagi Penciptanya Yang Mahabijaksana dan Penciptanya Yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui? Maka orang yang memiliki basirah melihat pada hewan kecil ini sebagian dari keagungan Pencipta Yang Maha Mengatur, kebesaran-Nya, serta kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya yang membuat akal dan pikiran terpana, terlebih lagi pada hewan-hewan lainnya. Bab ini pun tidak ada batasnya, karena jenis hewan, bentuk, watak, dan tabiatnya tidak terbatas. Hanya saja rasa takjub dalam hati lenyap disebabkan oleh rasa terbiasa karena seringnya menyaksikan. Ya, jika seseorang melihat hewan yang asing, meskipun hanya seekor cacing, niscaya rasa takjubnya akan terbaharui dan ia berkata: 'Maha Suci Allah, alangkah ajaibnya!' Padahal manusia adalah makhluk bernyawa yang paling ajaib, namun ia tidak takjub kepada dirinya sendiri. Bahkan jika ia melihat binatang ternak yang biasa ia temui, melihat bentuk dan rupanya, kemudian melihat manfaat dan kegunaannya berupa kulitnya, bulu dombanya (ashwaf), bulu untanya (aubar), dan bulu kambingnya (asy'ar) yang dijadikan Allah sebagai pakaian bagi makhluk-Nya, tempat berteduh bagi mereka dalam bepergian dan menetap, bejana untuk minuman mereka, tempat bagi makanan mereka, serta pelindung bagi kaki mereka, dan Dia menjadikan…
أَلْبَانَهَا وَلُحُومَهَا أَغْذِيَةً لَهُمْ ثُمَّ جَعَلَ بَعْضَهَا زِينَةً لِلرَّكُوبِ وَبَعْضَهَا حَامِلَةً لِلْأَثْقَالِ قَاطِعَةً لِلْبَوَادِي وَالْمُفَازَاتِ الْبَعِيدَةِ لَأَكْثَرَ النَّاظِرُ التَّعَجُّبَ مِنْ حِكْمَةِ خَالِقِهَا وَمُصَوِّرِهَا فَإِنَّهُ مَا خَلَقَهَا إِلَّا بِعِلْمٍ مُحِيطٍ بِجَمِيعِ مَنَافِعِهَا سَابِقٍ عَلَى خَلْقِهِ إِيَّاهَا فَسُبْحَانَ مَنِ الْأُمُورُ مَكْشُوفَةٌ فِي عِلْمِهِ مِنْ غَيْرِ تَفَكُّرٍ وَمِنْ غَيْرِ تَأَمُّلٍ وَتَدَبُّرٍ وَمِنْ غَيْرِ اسْتِعَانَةٍ بِوَزِيرٍ أَوْ مُشِيرٍ فَهُوَ الْعَلِيمُ الخبير الْقَدِيرُ فَلَقَدِ اسْتَخْرَجَ بِأَقَلِّ الْقَلِيلِ مِمَّا خَلَقَهُ صِدْقَ الشَّهَادَةِ مِنْ قُلُوبِ الْعَارِفِينَ بِتَوْحِيدِهِ فَمَا لِلْخَلْقِ إِلَّا الْإِذْعَانُ لِقَهْرِهِ وَقُدْرَتِهِ وَالِاعْتِرَافُ بِرُبُوبِيَّتِهِ وَالْإِقْرَارُ بِالْعَجْزِ عَنْ مَعْرِفَةِ جَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ فَمَنْ ذَا الَّذِي يُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ بَلْ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ وَإِنَّمَا غَايَةُ مَعْرِفَتِنَا الِاعْتِرَافُ بِالْعَجْزِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أن يكرمنا بهدايته بمنه ورأفته ومن آياته البحار العميقة المكتنفة لأقطار الأرض التى هى قطع من البحر الأعظم المحيط بجميع الأرض حتى إن جميع المكشوف من البوادى والجبال والأرض بالإضافة إلى الماء كجزيرة صغيرة فى بحر عظيم وبقية الأرض مستورة بالماء قال النبي ﷺ الأرض في البحر كالاصطبل في الأرض فانسب اصطبلا إلى جميع الأرض واعلم أن الأرض بالإضافة إلى البحر مثله
…susu dan dagingnya sebagai makanan bagi mereka. Kemudian Dia menjadikan sebagian daripadanya sebagai perhiasan untuk ditunggangi, dan sebagian lagi sebagai pemikul beban-beban berat yang menembus padang sahara dan gurun yang jauh; niscaya orang yang memandang akan memperbanyak rasa takjub terhadap hikmah Penciptanya dan Pembentuk rupanya. Sebab, Dia tidaklah menciptakannya melainkan dengan ilmu yang meliputi segala manfaatnya, yang telah mendahului penciptaan-Nya terhadap binatang itu. Maka Maha Suci Zat yang segala urusan terungkap dalam ilmu-Nya tanpa perlu berpikir, tanpa merenung dan bertafakur, serta tanpa meminta bantuan wazir (menteri) atau penasihat; Dialah Yang Maha Mengetahui, Maha Mengenal, lagi Mahakuasa. Sungguh Dia telah mengeluarkan persaksian yang sebenar-benarnya dari hati para arifin yang mengesakan-Nya melalui bagian yang amat sedikit dari ciptaan-Nya. Maka tidak ada bagi makhluk melainkan tunduk kepada kekuasaan dan takdir-Nya, mengakui kepemimpinan-Nya (rububiyyah), serta mengakui kelemahan diri dari mengenal keagungan dan kebesaran-Nya. Siapakah yang sanggup menghitung pujian kepada-Nya? Bahkan Dia adalah sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri. Dan sungguh, puncak pengetahuan kita adalah pengakuan atas kelemahan untuk mengenal-Nya. Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala agar memuliakan kita dengan petunjuk-Nya melalui karunia dan kasih sayang-Nya. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah lautan-lautan yang dalam yang mengelilingi penjuru bumi, yang merupakan bagian-bagian dari samudra agung yang mengelilingi seluruh bumi, sehingga seluruh wilayah daratan yang terbuka berupa padang pasir, gunung, dan tanah apabila dibandingkan dengan air bagaikan sebuah pulau kecil di laut yang sangat luas, sedang sisa bumi tertutup oleh air. Nabi ﷺ bersabda: 'Bumi di dalam laut itu bagaikan sebuah kandang di bumi.' Maka bandingkanlah sebuah kandang dengan seluruh bumi, dan ketahuilah bahwa daratan bumi dibandingkan dengan lautan adalah seperti itu pula.
وقد شاهدت عجائب الأرض وما فيها فتأمل الآن عجائب البحر فإن عجائب ما فيه من الحيوان والجواهر أضعاف عجائب مَا تُشَاهِدُهُ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ كَمَا أَنَّ سعته أضعاف سعة الارض ولعظم البحر كان فيه من الحيوانات العظام ما ترى ظهورها فى البحر فتظن أنها جزيرة فينزل أنها جزيرة فينزل الركاب عليها فربما تحس بالنيران إذا اشتغلت فتتحرك ويعلم أنها حيوان وما من صنف من أصناف حيوان البر من فرس أو طير أو بقر أو إنسان إلا وفى البحر أمثاله وأضعافه وفيه أجناس لا يعهد لها نظير فى البر وقد ذكرت أوصافها فى مجلدات وجمعها أقوام عنوا بركوب البحر وجمع عجائبه
Engkau telah menyaksikan keajaiban-keajaiban daratan dan apa yang ada di dalamnya, maka renungkanlah sekarang keajaiban-keajaiban lautan. Sesungguhnya keajaiban apa yang ada di dalamnya berupa hewan dan permata adalah berlipat ganda dari keajaiban yang engkau saksikan di permukaan bumi, sebagaimana keluasannya pun berlipat ganda dari luas daratan bumi. Karena agungnya lautan, di dalamnya terdapat hewan-hewan besar yang engkau melihat punggungnya di laut lalu engkau mengira bahwa itu adalah sebuah pulau, sehingga para penumpang kapal turun ke atasnya. Terkadang hewan itu merasakan api apabila api dinyalakan di atasnya, lalu ia bergerak sehingga diketahui bahwa itu adalah hewan. Dan tidak ada satu jenis pun dari jenis hewan darat — baik kuda, burung, sapi, maupun manusia — melainkan di dalam laut terdapat tandingannya dan kelipatannya. Di dalamnya terdapat jenis-jenis yang tidak pernah dikenal tandingannya di daratan. Sifat-sifatnya telah disebutkan dalam jilid-jilid buku dan dikumpulkan oleh orang-orang yang menaruh perhatian untuk mengarungi lautan dan mengumpulkan keajaiban-keajaibannya.
ثم انْظُرْ كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ اللُّؤْلُؤَ وَدَوَّرَهُ فِي صَدَفِهِ تَحْتَ الْمَاءِ وَانْظُرْ كَيْفَ أَنْبَتَ الْمَرْجَانَ من صم الصخور تحت الماء وإنما هو نبات على هيئة شجر ينبت من الحجر ثُمَّ تَأَمَّلْ مَا عَدَاهُ مِنَ الْعَنْبَرِ وَأَصْنَافِ النَّفَائِسِ الَّتِي يَقْذِفُهَا الْبَحْرُ وَتُسْتَخْرَجُ مِنْهُ ثُمَّ انْظُرْ إِلَى عَجَائِبِ السُّفُنِ كَيْفَ أَمْسَكَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ وَسَيَّرَ فِيهَا التُّجَّارَ وَطُلَّابَ الْأَمْوَالِ وَغَيْرَهُمْ وَسَخَّرَ لَهُمُ الْفُلْكَ لِتَحْمِلَ أثقالهم ثم أرسل الرياح لتسوق السفن ثم عرف الملاحين موارد الرياح ومهابها ومواقيتها ولا يستقصى على الجملة عجائب صنع الله فى البحر فى مجلدات وأعجب من ذلك كله مَا هُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ ظَاهِرٍ وَهُوَ كَيْفِيَّةُ قَطْرَةِ الْمَاءِ وَهُوَ جِسْمٌ رَقِيقٌ لَطِيفٌ سَيَّالٌ مُشِفٌّ مُتَّصِلُ الْأَجْزَاءِ كَأَنَّهُ شَيْءٌ وَاحِدٌ لطيف التركيب سريع القبول للتقطيع كأنه منفصل مسخر للتصرف قابل للانفصال والاتصال بِهِ حَيَاةُ كُلِّ مَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مِنْ حَيَوَانٍ وَنَبَاتٍ فَلَوِ احْتَاجَ الْعَبْدُ إِلَى شَرْبَةِ مَاءٍ وَمُنِعَ مِنْهَا لَبَذَلَ جَمِيعَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ وَمُلْكَ الدُّنْيَا فِي تَحْصِيلِهَا لَوْ مَلَكَ ذَلِكَ ثُمَّ لَوْ شَرِبَهَا وَمُنِعَ مِنْ إِخْرَاجِهَا لَبَذَلَ جَمِيعَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ وَمُلْكَ الدُّنْيَا فِي إِخْرَاجِهَا فَالْعَجَبُ مِنَ الْآدَمِيِّ كَيْفَ يَسْتَعْظِمُ الدِّينَارَ وَالدِّرْهَمَ وَنَفَائِسَ الْجَوَاهِرِ وَيَغْفُلُ عَنْ نِعْمَةِ اللَّهِ فِي شَرْبَةِ مَاءٍ إِذَا احْتَاجَ إِلَى شُرْبِهَا أَوِ الِاسْتِفْرَاغِ عَنْهَا بَذَلَ جَمِيعَ الدُّنْيَا فِيهَا فَتَأَمَّلْ فِي عَجَائِبِ الْمِيَاهِ وَالْأَنْهَارِ وَالْآبَارِ وَالْبِحَارِ فَفِيهَا مُتَّسَعٌ لِلْفِكْرِ وَمَجَالٌ
Kemudian perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan mutiara dan membulatkannya di dalam kerang di bawah air, serta perhatikanlah bagaimana Dia menumbuhkan terumbu karang (marjan) dari batu karang di bawah air; padahal karang itu adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tumbuh dari batu! Kemudian renungkanlah apa yang selain itu berupa ambar dan beraneka barang berharga yang dilemparkan oleh laut dan dikeluarkan darinya. Lalu perhatikanlah keajaiban bahtera (kapal), bagaimana Allah Ta'ala menahannya di atas permukaan air dan menjalankan padanya para pedagang, pencari harta, dan lainnya, serta menundukkan kapal-kapal bagi mereka untuk membawa beban-beban berat mereka. Kemudian Dia mengirimkan angin untuk menggerakkan kapal-kapal itu, lalu mengenalkan kepada para pelaut arah berhembusnya angin, tempat bertiupnya, serta waktu-waktunya. Secara umum, keajaiban ciptaan Allah di lautan tidak akan sanggup diuraikan secara tuntas dalam berjilid-jilid buku. Namun yang lebih menakjubkan dari semua itu adalah sesuatu yang lebih jelas dari segala yang tampak jelas, yaitu hakikat setetes air: ia adalah benda yang halus, lembut, mengalir, tembus cahaya, bersambung bagian-bagiannya seakan-akan satu kesatuan, lembut susunannya, cepat menerima pemisahan seolah-olah ia terpisah, ditundukkan untuk dimanfaatkan, menerima pemisahan dan penyatuan. Dengan air itulah hidup segala sesuatu yang ada di atas permukaan bumi berupa hewan dan tumbuhan. Maka seandainya seorang hamba membutuhkan seteguk air lalu ia dihalangi darinya, niscaya ia akan mengorbankan seluruh perbendaharaan bumi dan kerajaan dunia untuk mendapatkannya sekiranya ia memilikinya. Kemudian jika ia telah meminumnya dan dilarang untuk mengeluarkannya (buang air), niscaya ia akan mengorbankan seluruh perbendaharaan bumi dan kerajaan dunia untuk mengeluarkannya. Maka sungguh mengherankan manusia, bagaimana ia mengagungkan dinar, dirham, dan permata-permata berharga, namun ia lalai dari nikmat Allah dalam seteguk air, yang apabila ia butuh meminumnya atau mengeluarkannya niscaya ia korbankan seluruh dunia demi hal itu. Maka renungkanlah keajaiban air, sungai-sungai, sumur-sumur, dan lautan, sebab di dalamnya terdapat ruang yang luas dan medan bagi tafakur.
وَكُلُّ ذَلِكَ شَوَاهِدُ مُتَظَاهِرَةٌ وَآيَاتٌ مُتَنَاصِرَةٌ نَاطِقَةٌ بِلِسَانِ حَالِهَا مُفْصِحَةٌ عَنْ جَلَالِ بَارِئِهَا مُعْرِبَةٌ عَنْ كَمَالِ حِكْمَتِهِ فيها منادية أرباب القلوب بنغماتها قائلة لكل ذى لب أما ترانى وترى صورتى وتركيبى
Dan semua itu adalah bukti-bukti yang saling menguatkan dan tanda-tanda yang saling mendukung, yang berkata-kata dengan bahasa keadaannya (lisanul hal), menjelaskan tentang keagungan Penciptanya, mengungkapkan kesempurnaan hikmah-Nya padanya, seraya menyeru pemilik hati (arbabul qulub) dengan nada suaranya, memanggil setiap orang yang memiliki akal budi: 'Apakah engkau tidak melihatku, tidak melihat bentukku, susunanku…
وصفات ومنافعى واختلاف حالاتى وكثرة فوائدى أتظن أنى كونت نفسى أو خلقنى أحد من جنسى أو ما تستحيى أن تنظر فى كلمة مرقومة من ثلاثة أحرف فتقطع بأنها من صنعة آدمى عالم قادر مريد متكلم ثم تنظر إلى عجائب الخطوط الإلهية المرقومة على صفحات وجهى بالقلم الإلهى الذى لا تدرك الأبصار ذاته ولا حركته ولا اتصاله بمحل الخط ثم ينفك قلبك عن جلالة صانعه
…sifat-sifatku, manfaat-manfaatku, perbedaan keadaan-keadaanku, dan banyaknya kegunaanku? Apakah engkau mengira bahwa aku membentuk diriku sendiri, atau diciptakan oleh seseorang dari jenisku? Tidakkah engkau malu memandang sebuah kata tertulis yang terdiri dari tiga huruf lalu engkau memastikan bahwa itu adalah karya manusia yang berilmu, berkuasa, berkehendak, lagi berkata-kata, kemudian engkau memandang keajaiban garisan-garisan ilahi yang terukir di lembaran permukaanku dengan Pena Ilahi (Al-Qalam Al-Ilahi) yang zatnya, geraknya, dan persambungannya dengan tempat garisan tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, lalu hatimu terlepas dari memikirkan keagungan Penciptanya?'
وتقول النطفة لأرباب السمع والقلب لا للذين هم عن السمع معزولون توهمنى فى ظلمة الأحشاء مغموسة فى دم الحيض فى الوقت الذى يظهر التخطيط والتصوير على وجهى فينفش النقاش حدقتى وأجفانى وجبهتى وخدى وشفتى فترى التقويس يظهر شيئاً فشيئاً على التدريج ولا ترى داخل النطفة نقاشا ولا خارجها ولا داخل الرحم ولا خارجه ولا خبر منها للأم ولا للأب ولا للنطفة ولا للرحم فما هذا النقاش بأعجب مما نشاهده ينقش بالقلم صورة عجيبة لو نظرت إليها مرة أو مرتين لتعلمته فهل تقدر على أن تتعلم هذا الجنس من النقش والتصوير الذى يعم ظاهر النطفة وباطنها وجميع أجزائها من غير ملامسة للنطفة ومن غير اتصال بها لا من داخل ولا من خارج فإن كنت لا تتعجب من هذه العجائب ولا تفهم بها أن الذى صور ونقش وقدر لا نظير له ولا يساويه نقاش ولا مصور كما أن نقشه وصنعه لا يساويه نقش وصنع فبين الفاعلين من المباينة والتباعد ما بين الفعلين فإن كنت لا تتعجب من هذا فتعجب من عدم تعجبك فإنه أعجب من كل عجب فإن الذى أعمى بصيرتك مع هذا الوضوح ومنعك من التبيين مع هذا البيان جدير بأن تتعجب منه فسبحان من هدى وأضل وأغوى وأرشد وأشقى وأسعد وفتح بصائر أحبابه فشاهدوه فى جميع ذرات العالم وأجزائه وأعمى قلوب أعدائه واحتجب عنهم بعزه وعلائه فله الخلق والأمر والامتنان والفضل واللطف والقهر لا راد لحكمه ولا معقب لقضائه
Setetes nutfah (air mani) berkata kepada para pemilik pendengaran dan hati — bukan kepada orang-orang yang terhalang dari pendengaran: 'Bayangkanlah aku di dalam kegelapan rongga perut, terbenam dalam darah haid pada saat munculnya pembentukan garis dan pengukiran rupa pada permukaanku. Pengukir itu mengukir manik mataku, kelopak mataku, dahiku, pipiku, dan bibirku. Maka engkau melihat lengkungan bentuk muncul sedikit demi sedikit secara bertahap, sementara engkau tidak melihat adanya pengukir di dalam nutfah maupun di luarnya, tidak pula di dalam rahim atau di luarnya. Tidak ada berita (kesadaran) tentangnya dari sang ibu, tidak pula sang ayah, tidak pula dari nutfah itu sendiri maupun dari rahim. Pengukir ini tidaklah lebih mengherankan daripada apa yang kita saksikan saat ia mengukir dengan pena bentuk yang ajaib yang jika engkau memandangnya sekali atau dua kali niscaya engkau dapat memahaminya. Maka apakah engkau sanggup mempelajari jenis pengukiran dan pembentukan rupa ini yang merambah bagian luar nutfah, bagian dalamnya, dan seluruh bagian-bagiannya tanpa ada sentuhan langsung pada nutfah dan tanpa persambungan padanya, baik dari dalam maupun dari luar? Jika engkau tidak takjub terhadap keajaiban-keajaiban ini dan tidak memahami melaluinya bahwa Zat yang membentuk rupa, mengukir, dan menakdirkan itu tidak ada tandingan bagi-Nya, serta tidak ada pengukir maupun pembentuk rupa yang menyamai-Nya sebagaimana ukiran dan buatan-Nya tidak dapat disamai oleh ukiran dan buatan apa pun — sebab perbedaan dan jarak antara kedua Pelaku adalah sejauh perbedaan antara kedua perbuatan tersebut — maka jika engkau tidak takjub akan hal ini, takjublah pada ketiadaan rasa takjubmu, karena sungguh itu lebih menakjubkan dari segala keajaiban! Sebab Zat yang telah membutakan mata hatimu (basirah) di tengah kejelasan ini dan menghalangimu dari pemahaman di tengah kejelasan penjelas ini sangat layak untuk engkau takjubi. Maka Maha Suci Zat yang memberi petunjuk dan menyesatkan, yang memalingkan dan memberi bimbingan, yang menyengsarakan dan membahagiakan, yang membuka mata hati kekasih-kekasih-Nya sehingga mereka menyaksikan-Nya dalam setiap zarrah alam dan bagian-bagiannya, serta membutakan hati musuh-musuh-Nya dan terhijab dari mereka dengan keagungan dan ketinggian-Nya. Hanya milik-Nyalah ciptaan, urusan, karunia, keutamaan, kelembutan, dan kekuasaan; tidak ada yang menolak hukum-Nya dan tidak ada yang dapat mengubah ketetapan-Nya.
ومن آياته الهواء اللطيف المحبوس بين مقعر السماء ومحدب الأرض يدرك بحس اللمس عند هبوب الرياح جسمه ولا يرى بالمين شخصه وجملته مثل البحر الواحد والطيور محلقة فى جو السماء ومستبقة سباحة فيه بأجنحتها كما تسبح حيوانات البحر فى الماء وتضطرب جوانبه وأمواجه عند هبوب الرياح كما تضطرب أمواج البحر فإذا حرك الله الهواء وجعله ريحا هابة فإن شاء جعله نشرابين يَدَيْ رَحْمَتِهِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لواقح فَيَصِلُ بِحَرَكَتِهِ رُوحُ الْهَوَاءِ إِلَى الْحَيَوَانَاتِ وَالنَّبَاتَاتِ فَتَسْتَعِدُّ لِلنَّمَاءِ وَإِنْ شَاءَ جَعَلَهُ عَذَابًا عَلَى الْعُصَاةِ مِنْ خَلِيقَتِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ ثم انظر إلى لطف الهواء ثم شدته وقوته مهما ضغط فى الماء فالزق المنفوخ يتحامل عليه الرجل القوى ليغمسه فى الماء فيعجز عنه والحديد الصلب تضعه على وجه الماء فيرسب فيه
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah udara yang lembut yang terkurung di antara lekukan langit dan cembungan bumi; wujud fisiknya dapat dirasakan dengan indra peraba ketika angin berhembus, tetapi bentuk rupanya tidak terlihat oleh penglihatan mata. Kumpulannya bagaikan satu lautan, dan burung-burung terbang melayang di angkasa raya seraya berlomba-lomba berenang padanya dengan sayap-sayap mereka sebagaimana hewan laut berenang di dalam air. Sisi-sisi dan gelombangnya bergejolak saat angin bertiup sebagaimana bergejolaknya gelombang laut. Apabila Allah menggerakkan udara dan menjadikannya angin yang berhembus, maka jika Dia menghendaki, Dia menjadikannya sebagai pembawa kabar gembira di hadapan rahmat-Nya sebagaimana firman-Nya yang Maha Suci: 'Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan)…', sehingga dengan gerakannya, nafas (ruh) udara sampai kepada hewan dan tumbuhan lalu bersiap untuk tumbuh berkembang. Dan jika Dia menghendaki, Dia menjadikannya sebagai azab atas orang-orang yang bermaksiat dari makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari naas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya.' Kemudian perhatikanlah kelembutan udara, lalu kekerasan dan kekuatannya sewaktu ditekan di dalam air: kantong kulit yang ditiup udara akan ditahan oleh orang yang kuat untuk dicelupkan ke dalam air namun ia tidak sanggup, sementara besi yang keras engkau letakkan di atas permukaan air lalu ia langsung tenggelam ke dalamnya.
فانظر كيف ينقبض الهواء من الماء بقوته مع لطافته وبهذه الحكمة أمسك الله تعالى السفن على وجه الماء وكذلك كل مجوف فيه هواء لا يغوص فى الماء لأن الهواء ينقبض عن الغوص فى الماء فلا ينفصل عن السطح الداخل من السفينة فتبقى السفينة الثقيلة مع قوتها وصلابتها معلقة فى الهواء اللطيف كالذى يقع فى بئر فيتعلق بذيل رجل قوى ممتنع عن الهوى فى البئر
Maka perhatikanlah bagaimana udara menolak untuk masuk ke dalam air dengan kekuatannya beserta kelembutannya. Dengan hikmah inilah Allah Ta'ala menahan kapal-kapal di atas permukaan air. Demikian pula setiap benda berongga yang di dalamnya terdapat udara tidak akan tenggelam ke dalam air, karena udara menolak untuk tenggelam ke dalam air sehingga tidak terpisah dari permukaan bagian dalam kapal. Maka tetaplah kapal yang berat itu — beserta kekuatan dan kekerasannya — bergantung pada udara yang lembut, bagaikan seseorang yang jatuh ke dalam sumur lalu ia berpegangan pada ujung pakaian lelaki kuat yang bertahan dari jatuh ke dalam sumur.
فالسفينة بمقعرها تتشبث بأذيال الهواء القوى حتى تمتنع من الهوى والغوص فى الماء فسبحان من علق المركب الثقيل فى الهواء اللطيف من غير علاقة تشاهد وعقدة تشد
Maka kapal dengan bagian lekukannya berpegangan pada ujung-ujung udara yang kuat hingga ia terhalang dari jatuh dan tenggelam ke dalam air. Maka Maha Suci Zat yang menggantungkan bahtera yang berat pada udara yang lembut tanpa ikatan yang terlihat dan tanpa simpul yang diikatkan!
ثُمَّ انْظُرْ إِلَى عَجَائِبِ الْجَوِّ وَمَا يَظْهَرُ فِيهِ مِنَ الْغُيُومِ وَالرُّعُودِ وَالْبُرُوقِ وَالْأَمْطَارِ وَالثُّلُوجِ وَالشُّهُبِ وَالصَّوَاعِقِ فَهِيَ عَجَائِبُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَقَدْ أَشَارَ الْقُرْآنُ إِلَى جُمْلَةِ ذَلِكَ في قوله تعالى وما خلقنا السموات والأرض
Kemudian perhatikanlah keajaiban-keajaiban angkasa raya dan apa yang tampak padanya berupa awan, guruh, kilat, hujan, salju, meteor, dan petir. Itu semua adalah keajaiban-keajaiban apa yang ada di antara langit dan bumi. Al-Qur'an telah mengisyaratkan keseluruhan hal itu dalam firman Allah Ta'ala: 'Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi…'
وما بينهما لاعبين وَهَذَا هُوَ الَّذِي بَيْنَهُمَا
…'dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.' Dan inilah apa yang ada di antara keduanya itu.
وَأَشَارَ إِلَى تَفْصِيلِهِ فِي مَوَاضِعَ شَتَّى حَيْثُ قَالَ تَعَالَى وَالسَّحَابِ المسخر بين السماء والأرض وحيث تعرض للرعد والبرق والسحاب والمطر فإذا لم يكن لك حظ من هذه الجملة إلا أن ترى المطر بعينك وتسمع الرعد بأذنك فالبهيمة تشاركك فى هذه المعرفة فارتفع من حضيض عالم البهائم إلى عالم الملأ الأعلى فقد فتحت عينيك فأدركت ظاهرها فغمض عينك الظاهرة وانظر ببصيرتك الباطنة لترى عجائب باطنها وغرائب أسرارها وهذا أيضا باب يطول الفكر فيه إذ لا مطمع في استقصائه
Dan Dia telah mengisyaratkan rinciannya di berbagai tempat, seperti dalam firman Allah Ta'ala: '…dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi…', serta ketika menyebutkan guruh, kilat, awan, dan hujan. Apabila engkau tidak memiliki bagian dari keseluruhan ini kecuali sebatas melihat hujan dengan matamu dan mendengar guruh dengan telingamu, maka binatang pun berserikat denganmu dalam pengetahuan (penginderaan) ini! Maka bangkitlah dari jurang alam binatang menuju alam malaikat yang tinggi (al-mala'ul a'la). Sungguh engkau telah membuka kedua matamu lalu menangkap bagian lahiriahnya, maka pejamkanlah mata lahiriahmu dan pandanglah dengan mata hati batinmu (basirah) agar engkau dapat melihat keajaiban-keajaiban batinnya dan keanehan-keanehan rahasianya. Ini juga merupakan bab yang membutuhkan jalan tafakur yang panjang, sebab tidak ada harapan untuk menguraikannya secara habis tuntas.
فَتَأَمَّلِ السَّحَابَ الْكَثِيفَ الْمُظْلِمَ كَيْفَ تَرَاهُ يَجْتَمِعُ فِي جَوٍّ صَافٍ لَا كُدُورَةَ فِيهِ وَكَيْفَ يَخْلُقُهُ اللَّهُ تَعَالَى إِذَا شَاءَ وَمَتَى شَاءَ وَهُوَ مَعَ رَخَاوَتِهِ حَامِلٌ لِلْمَاءِ الثَّقِيلِ وَمُمْسِكٌ لَهُ فِي جَوِّ السَّمَاءِ إِلَى أَنْ يَأْذَنَ الله فى إرسال الماء وتقطيع القشرات كل قطرة بالقدر الذي أراده الله تعالى وعلى الشكل الذى شاءه فترى السحاب يرش الماء على الأرض ويرسله قطرات متفاصلة لا تدرك قطرة منها قطرة ولا تتصل واحدة بأخرى بل تنزل كل واحدة فى الطريق الذى رسم لها لا تعدل عنه فلا يتقدم المتأخر ولا يتأخر المتقدم حَتَّى يُصِيبَ الْأَرْضَ قَطْرَةً قَطْرَةً فَلَوِ اجْتَمَعَ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ عَلَى أَنْ يَخْلُقُوا مِنْهَا قَطْرَةً أو يعرفوا عدد ما ينزل منها فى بلدة واحدة أو قرية واحدة لعجز حساب الجن والإنس عن ذلك فلا يعلم عددها الا الذى أوجدها
Maka renungkanlah awan yang tebal lagi gelap, bagaimana engkau melihatnya berkumpul di angkasa yang jernih tanpa kekeruhan sedikit pun, dan bagaimana Allah Ta'ala menciptakannya apabila Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Awan itu, beserta kelembutannya, membawa air yang berat dan menahannya di angkasa langit hingga Allah mengizinkan untuk menurunkan air tersebut dan memisah-misahkan tetesannya; setiap tetes sesuai kadar yang dikehendaki Allah Ta'ala dan menurut bentuk yang Dia inginkan. Maka engkau melihat awan menyiramkan air ke bumi dan memancarkannya berupa tetesan-tetesan terpisah yang tidak menyusul satu tetes akan tetes lainnya dan tidak menyatu satu sama lain, melainkan setiap tetes turun di jalan yang telah ditentukan baginya tanpa menyimpang darinya; yang belakangan tidak mendahului dan yang terdahulu tidak terbelakang, hingga mengenai bumi tetes demi tetes. Sekiranya orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian berkumpul untuk menciptakan sebutir tetes saja darinya atau mengetahui jumlah apa yang turun darinya di satu negeri atau satu desa, niscaya perhitungan jin dan manusia akan lemah tak berdaya untuk hal itu, tidak ada yang mengetahui jumlahnya melainkan Zat yang mewujudkannya.
ثم كل قطرة منها عينت لكل جزء من الأرض ولكل حيوان فيها من طير ووحش وجميع الحشرات والدواب ومكتوب على تلك القطرة بخط إلهى لا يدرك بالبصر الظاهر أنها رزق الدودة الفلانية التى فى ناحية الجبل الفلانى تصل إليها عند عطشها فى الوقف الفلانى هذا مع ما فى انعقاد البرد الصلب من الماء اللطيف وفى تناثر الثلوج كالقطن المندوف من العجائب التى لا تحصى
Kemudian setiap tetes darinya telah ditentukan untuk setiap bagian bumi dan untuk setiap hewan di dalamnya, baik burung, binatang liar, serta seluruh serangga dan melata. Tertulis pada tetesan itu dengan tulisan Ilahi yang tidak terjangkau oleh penglihatan lahiriah: 'Bahwa ini adalah rezeki bagi cacing anu yang berada di sudut gunung anu, yang sampai kepadanya saat ia haus pada waktu anu.' Ini belum lagi keajaiban yang tidak terhitung pada pembentukan embun es (hujan es) yang keras dari air yang lembut, serta pada berjatuhannya salju bagaikan kapas yang dibusur.
كل ذلك فضل من الجبار القادر وقهر من الخلاق القاهر ما لأحد من الخلق فيه شرك ولا مدخل بل ليس للمؤمنين من خلقه إلا الاستكانة والخضوع تحت جلاله وعظمته ولا للعميان الجاحدين إلا الجهل بكيفيته ورجم الظنون بذكر سببه وعلته فيقول الجاهل المغرور إنما ينزل الماء لأنه ثقيل بطبعه وإنما هذا سبب نزوله ويظن أن هذه معرفة انكشفت له ويفرح بها ولو قيل له ما معنى الطبع وما الذى خلقه ومن الذى خلق الماء الذي طبعه الثقل وما الذى رقى الماء المصبوب فى أسافل الشجر إلى أعالى الأغصان وهو ثقيل بطبعه فكيف هوى إلى أسفل ثم ارتفع إلى فوق فى داخل تجاويف الأشجار شيئا فشيئا بحيث لا يرى ولا يشاهد حتى ينتشر فى جميع أطراف الأوراق فيغذى كل جزء من كل ورقة ويجرى إليها فى تجاويف عروق شعرية صغار يروى منه العرق الذى هو أصل الورقة ثم ينتشر من ذلك العرق الكبير الممدود فى طول الورقة عروق صغار فكأن الكبير نهر وما انشعب عنه جداول ثم ينشعب من الجداول سوق أصغر منها ثم ينتشر منها خيوط عنكبوتية دقيقة تخرج عن إدراك البصر حتى تنبسط فى جميع عرض الورقة فيصل الماء فى أجوافها إلى سائر أجزاء الورقة ليغذيها وينميها ويزينها وتبقى طراوتها ونضارتها وكذلك إلى سائر أجزاء الفواكه فإن كان الماء يتحرك بطبعه إلى أسفل فكيف تحرك إلى فوق فإن كان ذلك يجذب جاذب فما الذى سخر ذلك الجاذب وإن كان ينتهى بالآخرة إلى خالق السموات والأرض وجبار الملك والملكوت فلم لا يحال عليه من أول الأمر فنهاية الجاهل بداية العاقل
Semua itu adalah karunia dari Yang Maha Perkasa lagi Mahakuasa, dan kehendak mutlak dari Sang Pencipta Yang Maha Menundukkan. Tidak ada bagi seorang pun dari makhluk yang memiliki andil maupun campur tangan di dalamnya. Bahkan tidak ada bagi orang-orang beriman dari ciptaan-Nya melainkan ketundukan dan kerendahan hati di bawah keagungan dan kebesaran-Nya; dan tidak ada bagi orang-orang buta yang ingkar melainkan kebodohan akan hakikatnya serta menerka-nerka prasangka dengan menyebutkan sebab dan alasannya. Maka orang jahil yang tertipu berkata: 'Sesungguhnya air turun hanya karena ia berat secara tabiatnya, dan inilah sebab turunnya.' Ia mengira bahwa ini adalah pengetahuan yang terungkap baginya dan ia bergembira karenanya. Padahal jika dikatakan kepadanya: 'Apakah arti tabiat itu? Siapakah yang menciptakannya? Dan siapakah yang menciptakan air yang tabiatnya berat itu? Serta apa yang menaikkan air yang dituangkan di bagian bawah pohon menuju ujung-ujung dahan yang tinggi padahal ia berat secara tabiatnya? Bagaimana bisa ia turun ke bawah lalu naik ke atas di dalam rongga-rongga pohon sedikit demi sedikit hingga tidak terlihat dan tidak tersaksikan sampai menyebar ke seluruh tepi daun, lalu memberi makan setiap bagian dari tiap lembar daun, serta mengalir padanya dalam rongga pembuluh-pembuluh kapiler kecil yang mengairi pembuluh utama yang menjadi asal daun? Kemudian menyebar dari pembuluh besar yang membujur di sepanjang daun itu pembuluh-pembuluh kecil, seolah-olah yang besar itu adalah sungai dan cabang-cabangnya adalah parit-parit. Lalu dari parit-parit itu bercabang lagi saluran-saluran yang lebih kecil darinya, kemudian menyebar darinya benang-benang halus bagaikan sarang laba-laba yang keluar dari jangkauan penglihatan mata hingga terhampar di seluruh lebar daun, sehingga air sampai di dalam rongga-rongganya ke seluruh bagian daun untuk memberi makan, menumbuhkan, dan memperindahnya, serta menjaga kesegaran dan keasriannya; demikian pula ke seluruh bagian buah-buahan.' Jika air itu bergerak ke bawah karena tabiatnya, lantas bagaimana ia bergerak ke atas? Jika hal itu karena ditarik oleh suatu penarik, lantas siapa yang menundukkan penarik itu? Dan jika pada akhirnya semua itu kembali kepada Pencipta langit dan bumi serta Penguasa alam kerajaan bumi dan alam malakut, lantas mengapa tidak disandarkan kepada-Nya sejak awal perkara? Maka akhir batas pengetahuan orang jahil adalah awal permulaan bagi orang yang berakal.
ومن آياته ملكوت السموات والأرض وما فيها من الكواكب وهو الأمر كله ومن أدرك الكل وفاته عجائب السموات فقد فاته الكل تحقيقا
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Kerajaan (Malakut) langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya berupa bintang-bintang, dan itu adalah segala urusan. Barangsiapa memahami seluruhnya namun luput darinya keajaiban-keajaiban langit, maka sungguh telah luput darinya segalanya secara hakiki.
فالأرض والبحار والهواء وكل جسم سوى السموات بالإضافة إلى السموات قطرة فى بحر وأصغر
Maka bumi, lautan, udara, dan setiap materi selain langit, jika dibandingkan dengan langit, hanyalah ibarat setetes air di dalam lautan, bahkan lebih kecil dari itu.
ثم انظر كيف عظم الله أمر السموات وَالنُّجُومِ فِي كِتَابِهِ فَمَا مِنْ سُورَةٍ إِلَّا وَتَشْتَمِلُ عَلَى تَفْخِيمِهَا فِي مَوَاضِعَ وَكَمْ مِنْ قَسَمٍ فِي الْقُرْآنِ بِهَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى وَالسَّمَاءِ ذات البروج والسماء والطارق والسماء
Kemudian perhatikanlah bagaimana Allah mengagungkan perihal langit dan bintang-bintang di dalam Kitab-Nya. Hampir tidak ada satu surah pun melainkan memuat pemuliaan terhadapnya di berbagai tempat. Betapa banyak sumpah di dalam Al-Qur'an dengannya, seperti firman Allah Ta'ala: "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," (QS. Al-Buruj: 1), "Demi langit dan yang datang pada malam hari," (QS. At-Tariq: 1), "Demi langit…
ذات الحبك والسماء وما بناها وكقوله تعالى والشمس وضحاها والقمر إذا تلاها وكقوله تعالى فلا أقسم بالخنس الجوار الكنس وقوله تعالى والنجم إذا هوى فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تعلمون عظيم فقد عَلِمْتَ أَنَّ عَجَائِبَ النُّطْفَةِ الْقَذِرَةِ عَجَزَ عَنْ مَعْرِفَتِهَا الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ وَمَا أَقْسَمَ اللَّهُ بِهَا فَمَا ظَنُّكَ بِمَا أَقْسَمَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ وَأَحَالَ الْأَرْزَاقَ عَلَيْهِ وَأَضَافَهَا إِلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى وفي السماء رزقكم وما توعدون وأثنى على المفكرين فيه فقال ويتفكرون في خلق السموات والأرض وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ويل لمن قرأ هذه الآية ثم مسح بها سبلته أى تجاوزها من غير فكر وذم المعرضين عنها فقال وجعلنا السماء سقفا محفوظا وهم عن آياتها معرضون فأى نسبة لجميع البحار والأرض إلى السماء وهى متغيرات على القرب والسموات صلاب شداد محفوظات عن التغير إلى أن يبلغ الكتاب أجله ولذلك سماه الله تعالى محفوظا فقال وجعلنا السماء سقفا محفوظا وقال سبحانه وبنينا فوقكم سبعاً شداداً ﴿وقال﴾ أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا رَفَعَ سمكها فسواها فانظر إلى الملكوت لترى عجائب العز والجبروت
…yang mempunyai jalan-jalan," (QS. Az-Zariyat: 7), "Demi langit serta pembinaannya," (QS. Asy-Syams: 5), dan seperti firman-Nya Ta'ala: "Demi matahari dan sinarnya di pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya," (QS. Asy-Syams: 1-2), dan firman-Nya Ta'ala: "Sungguh, Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam," (QS. At-Takwir: 15-16), serta firman-Nya Ta'ala: "Demi bintang ketika terbenam," (QS. An-Najm: 1), "Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui," (QS. Al-Waqi'ah: 75-76). Engkau telah mengetahui bahwa keajaiban setetes nutfah yang hina saja membuat orang-orang terdahulu maupun belakangan tidak mampu memahaminya secara sempurna, padahal Allah tidak bersumpah dengannya. Maka bagaimana persangkaanmu terhadap apa yang Allah Ta'ala jadikan sumpah, dan Dia sandarkan rezeki kepadanya serta menisbahkannya kepada langit? Allah Ta'ala berfirman: "Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Az-Zariyat: 22). Allah juga memuji orang-orang yang bertafakur tentangnya seraya berfirman: "Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali 'Imran: 191). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini kemudian mengusap kumisnya (yakni melewatinya begitu saja tanpa bertafakur)." Allah juga mencela orang-orang yang berpaling darinya seraya berfirman: "Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka berpaling dari tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (QS. Al-Anbiya: 32). Lalu bagaimanakah perbandingan seluruh lautan dan bumi ini terhadap langit? Padahal benda-benda bumi berubah dalam waktu dekat, sedangkan langit itu kokoh, kuat, dan terpelihara dari perubahan hingga datang ketetapan batas waktunya. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menamainya terpelihara (mahfuzh), firman-Nya: "Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara," dan Mahasuci Dia berfirman: "Dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh," (QS. An-Naba': 12), serta firman-Nya: "Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya." (QS. An-Nazi'at: 27-28). Maka pandanglah alam Malakut (kerajaan kerohanian/langit) agar engkau menyaksikan keajaiban keagungan dan kekuasaan-Nya.
ولا تظنن أن معنى النظر إلى الملكوت بأن تمد البصر إليه فترى زرقة السماء وضوء الكواكب وتفرقها فإن البهائم تشاركك فى هذا النظر
Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa makna memandang alam Malakut itu cukup dengan membentangkan pandangan mata kepadanya, sehingga engkau melihat bahagian langit yang biru, cahaya bintang-bintang, dan sebarannya; sebab binatang ternak pun ikut serta bersamamu dalam cara memandang yang seperti ini.
فإن كان هذا هو المراد فلم مدح الله تعالى إبراهيم بقوله وكذلك نرى إبراهيم ملكوت السموات والأرض لا بل كل ما يدرك بحاسة البصر فالقرآن يعبر عنه بالملك والشهادة وما غاب عن الأبصار فيعبر عنه بالغيب والملكوت والله تعالى عالم الغيب والشهادة وجبار الملك والملكوت ولا يحيط أحد بشيء من علمه إلا بما شاء وهو عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحداً إلا من ارتضى من رسول
Sekiranya hal itu yang dimaksudkan, niscaya Allah Ta'ala tidak akan memuji Nabi Ibrahim dengan firman-Nya: "Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim alam Malakut langit dan bumi," (QS. Al-An'am: 75). Tidak demikian, melainkan segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh indra penglihatan diistilahkan dalam Al-Qur'an sebagai 'Muluk' (kerajaan fisik) dan 'Syahadah' (alam nyata). Sedangkan apa yang gaib dari penglihatan mata diistilahkan sebagai 'Ghaib' dan 'Malakut' (alam gaib/kerohanian). Dan Allah Ta'ala adalah Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Mahakuasa atas alam nyata dan alam kerohanian. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki, dan Dia Mahamengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diratai-Nya.
فأجل أيها العاقل فكر فى الملكوت فعسى يفتح لك ابواب السماء فتجول بقلبك فى أقطارها إلى أن يقوم قلبك بين يدي عرش الرحمن فعند ذلك ربما يرجى لك أن تبلغ رتبة عمر بن الخطاب ﵁ حيث قال رأى قلبى ربى وهذا لأن بلوغ الأقصى لا يكون إلا بعد مجاوزة الأدنى وأدنى شىء إليك نفسك ثم الأرض التى هى مقرك ثم الهواء المكتنف لك ثم النبات والحيوان وما على وجه الأرض ثم عجائب الجو وهو ما بين السماء والأرض ثم السموات السبع بكواكبها ثم الكرسى ثم العرش ثم الملائكة الذين هم حملة العرش وخزان السموات ثم منه تجاوز إلى النظر إلى رب العرش والكرسي والسموات والأرض وما بينهما فبينك وبين هذه المفاوز العظيمة والمسافات الشاسعة والعقبات الشاهقة وأنت بعد لم تفرغ من العقبة القريبة النازلة وهى معرفة ظاهر نفسك ثم صرت تطلق اللسان بوقاحتك وتدعى معرفة ربك وتقول قد عرفته وعرفت خلقه ففي ماذا أتفكر إلى ماذا أتطلع
Maka wahai orang yang berakal, luaskanlah pemikiranmu tentang alam Malakut. Semoga dibukakan bagimu pintu-pintu langit, sehingga hatimu dapat berkelana di penjuru-penjurunya hingga hatimu berdiri di hadapan 'Arsy Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih). Pada saat itulah, boleh jadi engkau diharapkan dapat mencapai tingkatan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu ketika beliau berkata: "Hatiku telah melihat Tuhanku." Yang demikian itu karena pencapaian batas tertinggi tidak akan terjadi kecuali setelah melampaui tingkat terdekat. Dan hal yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri, kemudian bumi yang menjadi tempat tinggalmu, lalu udara yang mengelilingimu, kemudian tumbuh-tumbuhan, hewan, dan apa yang ada di permukaan bumi, lalu keajaiban cakrawala yaitu antara langit dan bumi, kemudian tujuh lapis langit beserta bintang-bintangnya, lalu Kursi, lalu 'Arsy, kemudian para malaikat pembawa 'Arsy dan penjaga langit. Setelah itu, engkau melampauinya untuk memandang kepada Tuhan Pemilik 'Arsy, Kursi, langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Namun di antaramu dan bentangan-bentangan yang agung, jarak yang sangat jauh, serta tanjakan-tanjakan yang menjulang ini terdapat rintangan, padahal engkau belum selesai menempuh tanjakan terdekat dan terendah, yaitu mengenal lahiriah dirimu sendiri. Kemudian engkau malah lancang berkata-kata dengan kelancanganmu dan mengaku telah mengenal Tuhanmu seraya berkata: "Aku telah mengenal-Nya dan mengenal ciptaan-Nya, maka apa lagi yang harus kubayangkan dan apa lagi yang harus kulihat?"
فارفع الآن رَأْسَكَ إِلَى السَّمَاءِ وَانْظُرْ فِيهَا وَفِي كَوَاكِبِهَا وفى دورانها وَطُلُوعِهَا وَغُرُوبِهَا وَشَمْسِهَا وَقَمَرِهَا وَاخْتِلَافِ مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا وَدُؤُوبِهَا فِي الْحَرَكَةِ عَلَى الدَّوَامِ مِنْ غَيْرِ فُتُورٍ فِي حَرَكَتِهَا وَمِنْ غَيْرِ تَغَيُّرٍ فِي سَيْرِهَا بَلْ تَجْرِي جَمِيعًا فِي مَنَازِلَ مُرَتَّبَةٍ بِحِسَابٍ مُقَدَّرٍ لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ إِلَى أن يطويها الله تعالى طى السجل للكتاب وتدبر عدد كواكبها وكثرتها واختلاف ألوانها فبعضها يميل إلى الحمرة وبعضها إلى البياض وبعضها إلى اللون الرصاصى ثم انظر كيفية أشكالها فبعضها على صورة العقرب وبعضها على صورة الحمل والثور والأسد والإنسان وما من صورة فى الأرض إلا ولها مثال فى السماء
Maka angkatlah kepalamu sekarang ke arah langit, pandanglah langit itu beserta bintang-bintangnya, perputarannya, terbit dan terbenamnya, matahari dan bulannya, perbedaan tempat-tempat terbit dan terbenamnya, serta ketekunannya dalam bergerak secara terus-menerus tanpa ada rasa lelah dalam gerakannya dan tanpa ada perubahan pada lintasannya. Bahkan semuanya beredar pada garis edar yang teratur dengan perhitungan yang telah ditentukan, tidak bertambah dan tidak berkurang, hingga Allah Ta'ala menggulungnya seperti menggulung lembaran-lembaran surat. Dan renungkanlah jumlah bintang-bintangnya, kelimpahannya, dan keragaman warnanya; sebagiannya cenderung kemerahan, sebagiannya putih, dan sebagiannya berwarna kelabu. Kemudian perhatikanlah bentuk-bentuknya; sebagian berbentuk Kalajengking, Domba, Lembu, Singa, dan Manusia. Tidak ada satu pun bentuk di bumi melainkan terdapat perumpamaannya di langit.
ثُمَّ انْظُرْ إِلَى مَسِيرِ الشَّمْسِ فِي فَلَكِهَا فِي مُدَّةِ سَنَةٍ ثُمَّ هِيَ تَطْلُعُ فِي كل يوم وتغرب
Kemudian perhatikanlah edaran matahari di garis edarnya dalam kurun waktu satu tahun, yang kemudian ia terbit dan terbenam pada setiap harinya…
بسير آخر سخرها له خالقها وَلَوْلَا طُلُوعُهَا وَغُرُوبُهَا لَمَا اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَمْ تُعْرَفِ الْمَوَاقِيتُ وَلَأَطْبَقَ الظَّلَامُ عَلَى الدَّوَامِ أَوِ الضِّيَاءُ عَلَى الدَّوَامِ فَكَانَ لَا يَتَمَيَّزُ وقت المعاش عن وقت الاستراحة فانظر كيف جعل الله تعالى الليل لباسا والنوم سباتا والنهار معاشا وَانْظُرْ إِلَى إِيلَاجِهِ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَالنَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَإِدْخَالِهِ الزِّيَادَةَ وَالنُّقْصَانَ عَلَيْهِمَا عَلَى ترتيب مخصوص
…dengan edaran lain yang telah ditundukkan Penciptanya baginya. Sekiranya bukan karena terbit dan terbenamnya, niscaya tidak akan ada pergantian malam dan siang, tidak akan diketahui waktu-waktu, dan kegelapan akan meliputi terus-menerus atau terang akan berlangsung terus-menerus, sehingga tidak dapat dibedakan antara waktu mencari penghidupan dan waktu beristirahat. Maka perhatikanlah bagaimana Allah Ta'ala menjadikan malam sebagai pakaian, tidur untuk istirahat, dan siang untuk mencari penghidupan. Serta perhatikanlah bagaimana Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, serta memasukkan penambahan dan pengurangan pada keduanya menurut aturan tertentu.
وانظر إلى إمالته مسير الشمس عن وسط السماء حتى اختلف بسببه الصيف والشتاء والربيع والخريف فإذا انخفضت الشمس من وسط السماء فى مسيرها برد الهواء وظهر الشتاء وإذا استوت فى وسط السماء اشتد القيظ وإذا كانت فيما بينهما اعتدل الزمان
Dan perhatikanlah kemiringan garis edar matahari dari tengah langit hingga menyebabkan perbedaan musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur. Apabila matahari menurun dari tengah langit dalam lintasannya, udara menjadi dingin dan muncullah musim dingin. Apabila ia tegak lurus di tengah langit, terik panas menjadi menyengat. Dan apabila berada di antara keduanya, cuaca menjadi seimbang.
وعجائب السموات لَا مَطْمَعَ فِي إِحْصَاءِ عُشْرِ عُشَيْرِ جُزْءٍ مِنْ أَجْزَائِهَا وَإِنَّمَا هَذَا تَنْبِيهٌ عَلَى طَرِيقِ الفكر واعتقد على طريق الجملة أنه ما مِنْ كَوْكَبٍ مِنَ الْكَوَاكِبِ إِلَّا وَلِلَّهِ تَعَالَى حكم كثيرة فى خلقه ثم فى مقداره ثم فى شكله ثم فى لونه ثم فى وضعه من السماء وقربه من الكواكب التى بجنبه وبعده وقس على ذلك ما ذكرناه من أعضاء بدنك إذ ما من جزء إلا وفيه حكمة بل حكم كثيرة وأمر السماء أعظم بل لا نسبة لعالم الأرض إلى عالم السماء لا فى كبر جسم ولا فى كثرة معانيه
Keajaiban-keajaiban langit tidak ada harapan untuk dapat menghitung satu persen dari sepersepuluh bagiannya saja. Ini hanyalah sekadar peringatan untuk membuka jalan bertafakur. Yakinilah secara garis besar bahwa tidak ada satu pun bintang melainkan bagi Allah Ta'ala terdapat banyak hikmah dalam penciptaannya, ukurannya, bentuknya, warnanya, tata letaknya di langit, serta jarak dekat dan jauhnya dari bintang-bintang di sampingnya. Analogikanlah hal itu dengan apa yang telah kami sebutkan tentang anggota tubuhmu, sebab tidak ada satu bagian pun melainkan padanya terdapat hikmah, bahkan banyak hikmah. Padahal urusan langit jauh lebih agung, bahkan tidak ada perbandingannya antara alam bumi dengan alam langit, baik dalam besarnya bentuk fisik maupun dalam banyaknya kandungan maknanya.
وقس التفاوت الذى بينهما فى كثرة المعانى بما بينهما من التفاوت فى كبر الأرض فأنت تعرف من كبر الأرض واتساع أطرافها أنه لا يقدر آدمى على أن يدركها ويدور بجوانبها وقد اتفق الناظرون على أن الشمس مثل الأرض مائة ونيفاً وستين مرة وفي الأخبار ما يدل على عظمتها ثم الكواكب التى تراها أصغرها مثل الأرض ثمانى مرات وأكبرها ينتهى إلى قريب من مائة وعشرين مرة مثل الأرض
Bandingkanlah perbedaan antara keduanya dalam kelimpahan makna dengan perbedaan di antara keduanya dalam hal besarnya bumi. Engkau mengetahui besarnya bumi dan bahagian-bahagiannya yang luas, bahwa seorang manusia tidak akan mampu menjangkau dan mengelilingi seluruh penjurunya. Padahal para ahli pengamat telah sepakat bahwa matahari itu besarnya seratus enam puluh kali lebih dari ukuran bumi. Dalam riwayat-riwayat pun terdapat hal yang menunjukkan keagungannya. Kemudian bintang-bintang yang engkau lihat, yang terkecil di antaranya adalah delapan kali sebesar bumi, dan yang terbesar mencapai sekitar seratus dua puluh kali sebesar bumi.
وبهذا تعرف ارتفاعها وبعدها إذ للعبد صارت ترى صغارا ولذلك أشار الله تعالى إلى بعدها فقال رفع سمكها فسواها
Dengan ini engkau mengetahui betapa tingginya dan jauhnya langit, karena bintang-bintang itu terlihat kecil oleh hamba. Oleh karena itulah Allah Ta'ala mengisyaratkan tentang jauhnya langit dengan firman-Nya: "Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya." (QS. An-Nazi'at: 28).
وفى الأخبار أن ما بين كل سماء إلى الأخرى مسيرة خمسمائة عام فإذا كان مقدرا كوكب واحد مثل الأرض أضعافا فانظر إلى كثرة الكواكب
Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa jarak antara satu langit ke langit berikutnya adalah perjalanan lima ratus tahun. Jika satu bintang saja berukuran kelipatan dari besarnya bumi, maka bayangkanlah betapa banyaknya bintang-bintang itu.
ثم أنظر إلى السماء التى الكواكب مركوزة فيها وإلى عظمها
Kemudian perhatikanlah langit yang menjadi tempat tertanamnya bintang-bintang tersebut dan betapa mahabesarnya langit itu.
ثم انظر إلى سرعة حركتها وأنت لا تحس بحركتها فضلا عن أن تدرك سرعتها لكن لا تشك أنها فى لحظة تسير مقدار عرض كوكب لأن الزمان من طلوع أول جزء من كوكب إلى تمامه يسير وذلك الكوكب هو مثل الأرض مائة مرة وزيادة فقد دار الفلك فى هذه اللحظة مثل الأرض مائة مرة وهكذا يدور على الدوام وأنت غافل عنه
Lalu perhatikanlah kecepatan gerakannya, padahal engkau tidak merasakan gerakannya, apalagi menyadari kecepatannya. Namun engkau tidak dapat meragukan bahwa dalam sekejap mata ia bergerak sejauh lebar suatu bintang, karena rentang waktu dari terbitnya bagian pertama suatu bintang hingga sempurna terbitnya sangatlah singkat, padahal bintang itu berukuran seratus kali lipat dari bumi bahkan lebih. Berarti garis edar langit dalam sekejap mata itu telah berputar seluas seratus kali bumi, dan demikianlah ia berputar terus-menerus sementara engkau lalai darinya.
وانظر كيف عبر جبريل ﵇ عن سرعة حركته إذ قال له النبي ﷺ هل زالت الشمس فقال لا نعم فقال كيف تقول لا نعم فقال من حين قلت لا إلى أن قلت نعم سارت الشمس خمسمائة عام فانظر إلى عظم شخصها ثم إلى خفة حركتها ثم انظر إلى قدرة الفاطر الحكيم كيف أثبت صورتها مع اتسع أكنافها فى حدقة العين مع صغرها حتى تجلس على الأرض وتفتح عينيك نحوها فترى جميعها
Perhatikanlah bagaimana Malaikat Jibril 'alaihissalam menggambarkan kecepatan gerakannya ketika Nabi ﷺ bertanya kepadanya: "Apakah matahari sudah tergelincir?" Jibril menjawab: "Tidak, ya." Nabi bertanya: "Mengapa engkau mengatakan 'tidak, ya'?" Jibril menjawab: "Sejak saat aku mengatakan 'tidak' hingga aku mengatakan 'ya', matahari telah menempuh perjalanan lima ratus tahun." Maka perhatikanlah besarnya wujud fisiknya, lalu kecermatan gerakannya, kemudian perhatikanlah kekuasaan Maha Pencipta yang Mahabijaksana, bagaimana Dia menetapkan gambaran langit beserta keluasan penjurunya di dalam biji mata yang kecil, hingga ketika engkau duduk di bumi dan membuka matamu ke arahnya, engkau dapat melihat semuanya.
فهذه السماء بعظمها وكثرة كواكبها لا تنظر إليها بل انظر إلى بارئها كيف خلقها ثم أَمْسَكَهَا مِنْ غَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَمِنْ غَيْرِ علاقة من فوقها وكل العالم
Maka langit dengan keagungannya dan banyaknya bintang-bintang ini, janganlah engkau hanya memandangnya semata, melainkan pandanglah Penciptanya, bagaimana Dia menciptakannya kemudian menahannya tanpa tiang yang kamu lihat dan tanpa gantungan dari atasnya. Sedangkan seluruh alam ini…
كَبَيْتٍ وَاحِدٍ وَالسَّمَاءُ سَقْفُهُ فَالْعَجَبُ مِنْكَ أَنَّكَ تَدْخُلُ بَيْتَ غَنِيٍّ فَتَرَاهُ مُزَوَّقًا بِالصَّبْغِ مُمَوَّهًا بِالذَّهَبِ فَلَا يَنْقَطِعُ تَعَجُّبُكَ مِنْهُ وَلَا تَزَالُ تَذْكُرُهُ وَتَصِفُ حُسْنَهُ طُولَ عُمُرِكَ وَأَنْتَ أَبَدًا تَنْظُرُ إِلَى هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ وَإِلَى أَرْضِهِ وَإِلَى سَقْفِهِ وَإِلَى هَوَائِهِ وَإِلَى عَجَائِبِ أَمْتِعَتِهِ وغرائب حيواناته وبدائع نقوشه ثُمَّ لَا تَتَحَدَّثُ فِيهِ وَلَا تَلْتَفِتُ بِقَلْبِكَ إليه فما هذا البيت دون ذلك البيت الذى تصفه بل ذلك البيت هو ايضا جزء من الأرض التى هى أخس أجزاء هذا البيت ومع هذا فلا تنظر إليه ليس له سبب إلا أنه بيت ربك هو الذى انفرد ببنائه وترتيبه وأنت قد نسيت نفسك وربك وبيت ربك واشتغلت ببطنك وفرجك ليس لك هم إلا شهوتك أو حشمتك وغاية
…adalah bagaikan satu rumah dan langit adalah atapnya. Sungguh mengherankan dirimu, ketika engkau memasuki rumah seorang yang kaya lalu engkau melihatnya terhiasi dengan cat berwarna-warni dan dilapisi emas, engkau tidak henti-hentinya takjub kepadanya, serta senantiasa menyebut dan menggambarkan keindahannya sepanjang umurmu. Padahal engkau senantiasa memandang rumah yang mahabesar ini: buminya, atapnya, udaranya, keajaiban perabotnya, keanehan hewan-hewannya, dan keindahan ukirannya; namun engkau tidak membicarakannya dan tidak memalingkan hatimu kepadanya. Mengapa rumah ini nilainya lebih rendah di matamu daripada rumah yang engkau puji-puji itu? Padahal rumah itu pun hanyalah sebahagian kecil dari bumi yang merupakan bagian terendah dari rumah agung ini. Namun demikian engkau tidak memandangnya, tidak lain sebabnya melainkan karena ini adalah rumah Tuhanmu, Dialah yang Maha Esa dalam membangun dan mengaturnya, sementara engkau telah melupakan dirimu, Tuhanmu, dan rumah Tuhanmu, lalu sibuk dengan perut dan kemaluanmu; tidak ada kemauan bagimu selain memenuhi syahwat atau menjaga gengsimu, dan puncak…
شهوتك أن تملأ بطنك ولا تقدر على أن تأكل عشر ما تأكله بهيمة فتكون البهيمة فوقك بعشر درجات
…syahwatmu hanyalah memenuhi perutmu, padahal engkau tidak mampu makan sepersepuluh dari apa yang dimakan oleh seekor binatang ternak. Dengan demikian, binatang ternak itu berada sepuluh tingkat di atasmu.
وغاية حشمتك أن تقبل عليك عشرة أو مائة من معارفك فينافقون بألسنتهم بين يديك ويضمرون خبائث الاعتقادات عليك وإن صدقوك فى مودتهم إياك فلا يملكون لك ولا لأنفسهم نفعاً ولا ضراً ولا موتاً ولا حياة ولا نشورا وقد يكون فى بلدك من أغنياء اليهود والنصارى من يزيد جاهه على جاهك وقد اشتغلت بهذا الْغُرُورِ وَغَفَلْتَ عَنِ النَّظَرِ فِي جَمَالِ مَلَكُوتِ السموات والأرض ثم غفلت عن التنعم بالنظر إلى جلال مالك الملكوت والملك
Puncak kebanggaanmu hanyalah ketika sepuluh atau seratus orang dari kenalanmu menghadap kepadamu, lalu mereka bermuka dua dengan lidah mereka di hadapanmu, sementara mereka menyembunyikan prasangka-prasangka buruk kepadamu di dalam hati. Jikapun mereka tulus dalam kasih sayang mereka kepadamu, mereka tetap tidak memiliki kuasa untuk memberi kemanfaatan maupun kemudaratan, kematian, kehidupan, atau kebangkitan kembali, baik bagi dirimu maupun bagi diri mereka sendiri. Bahkan di negerimu bisa jadi ada di antara orang-orang kaya dari kaum Yahudi dan Nasrani yang kedudukannya melebihi kedudukanmu. Namun engkau justru disibukkan oleh tipu daya (al-ghurur) ini dan lalai dari memandang keindahan malakut langit dan bumi, kemudian engkau lalai dari menikmati pemandangan keagungan Pemilik Malakut dan Kerajaan (Allah).
وما مثلك ومثل عقلك إلا مثل النملة تخرج من جحرها الذى حفرته فى قصر مشيد من قصور الملك رفيع البنيان حصين الأركان مزين بالجوارى والغلمان وأنواع الذخائر والنفائس فإنها إذا خرجت من جحرها ولقيت صاحبتها لم تتحدث لو قدرت على النطق إلا عن بيتها وغذائها وكيفية ادخارها فأما حال القصر والملك الذى فى القصر فهى بمعزل عنه وعن التفكر فيه بل لا قدرة لها على المجاوزة بالنظر عن نفسها وغذائها وبيتها إلى غيره
Tidaklah perumpamaan dirimu dan akalmu melainkan seperti seekor semut yang keluar dari sarangnya yang ia gali di sebuah istana megah milik seorang raja, yang tinggi bangunannya, kokoh tiang-tiang fondasinya, serta dihiasi dengan para pelayan wanita dan pria serta berbagai simpanan harta yang berharga. Apabila semut itu keluar dari sarangnya dan bertemu dengan sesamanya, sekiranya ia sanggup berbicara, ia tidak akan memperbincangkan melainkan tentang rumahnya, makanannya, dan bagaimana cara menyimpannya. Adapun perihal istana dan raja yang ada di dalamnya, ia sama sekali terasing dari hal itu dan dari memikirkannya; bahkan ia tidak memiliki kemampuan untuk melampauikan pandangannya dari dirinya, makanannya, dan rumahnya kepada yang lain.
وكما غفلت النملة عن القصر وعن أرضه وسقفه وحيطانه وسائر بنيانه وغفلت أيضا عن سكانه فأنت أيضا غافل عن بيت الله تعالى وعن ملائكته الذين هم سكان عوانه فلا تعرف من السماء إلا ما تعرفه النملة من سقف بيتك ولا تعرف من ملائكة السموات إلا ما تعرف النملة منك ومن سكان بيتك
Sebagaimana semut itu lalai dari istana, lantainya, atapnya, dinding-dindingnya, dan seluruh bangunannya, serta lalai pula dari para penghuninya, engkau pun lalai dari rumah Allah Ta'ala dan dari para malaikat-Nya yang merupakan para penghuni alam-Nya. Maka engkau tidak mengenali langit melainkan sebagaimana semut mengenali atap rumahmu, dan engkau tidak mengenali para malaikat di langit melainkan sebagaimana semut mengenali dirimu dan para penghuni rumahmu.
نعم ليس للنملة طريق إلى أن تعرفك وتعرف عجائب قصرك وبدائع صنعة الصانع فيه وأما أنت فلك قدرة على أن تجول فى الملكوت وتعرف من عجائبه ما الخلق غافلون عنه
Benar, semut memang tidak memiliki jalan untuk mengenali dirimu, mengenali keajaiban istanamu, dan keindahan ciptaan pembuatnya. Adapun engkau, engkau memiliki kemampuan untuk menjelajahi alam malakut dan mengenali keajaiban-keajaibannya yang dilalaikan oleh mayoritas makhluk.
ولنقبض عنان الكلام عن هذا النمط فإنه مجال لا آخر له ولو استقصينا أعمارا طويلة لم نقدر على شرح ما تفضل الله تعالى علينا بمعرفته وكل ما عرفناه قليل نزر حقير بالإضافة إلى ما عرفه جملة العلماء والأولياء وما عرفوه قليل نزر حقير بالإضافة إلى ما عرفه الأنبياء عليهم الصلاة والسلام وجملة ما عرفوه قليل بالإضافة إلى ما عرفه محمد نبينا ﷺ وما عرفه الأنبياء كلهم قليل بالإضافة إلى ما عرفته الملائكة المقربون كإسرافيل وجبريل وغيرهما ثم جميع علوم الملائكة والجن والإنس إذا أضيف إلى علم الله ﷾ لم يستحق أن يسمى علماً بل هو إلى أن يسمى دهشا وحيرة وقصورا وعجزا أقرب
Mari kita tahan kendali pembicaraan dari corak pembahasan ini, karena ini adalah ranah yang tiada bertepi. Sekiranya kita menghabiskan umur yang panjang, kita tidak akan sanggup menguraikan apa yang telah Allah Ta'ala karuniakan kepada kita berupa pengetahuan-Nya. Dan seluruh apa yang kita ketahui hanyalah sedikit, amat kecil, dan tak berarti dibanding apa yang diketahui oleh seluruh ulama dan para wali. Apa yang mereka ketahui pun sedikit, amat kecil, dan tak berarti dibanding apa yang diketahui oleh para nabi 'alaihimus shalatu was salam. Seluruh pengetahuan yang diketahui oleh para nabi pun sedikit dibanding apa yang diketahui oleh Nabi kita, Muhammad ﷺ. Dan apa yang diketahui oleh seluruh nabi amat sedikit dibanding apa yang diketahui oleh para malaikat muqarrabun (yang didekatkan), seperti Israfil, Jibril, dan lainnya. Kemudian seluruh ilmu malaikat, jin, dan manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah 'Azza wa Jalla, sungguh tidak layak dinamakan ilmu, melainkan lebih dekat untuk dinamakan kebingungan, ketakjuban yang melumpuhkan, keterbatasan, dan kelemahan.
فسبحان من عرف عباده ما عرف ثم خاطب جميعهم فقال وما أوتيتم من العلم إلا قليلاً
Maha Suci Dzat yang telah mengenalkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang Dia kenalkan, kemudian menyapa mereka semua seraya berfirman: "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85).
فهذا بيان معاقد الجمل التى تجول فيها فكر المتفكرين في خلق الله تعالى وليس فيها فكر في ذات الله تعالى ولكن يستفاد من الفكر فى الخلق لا محالة معرفة الخالق وعظمته وجلاله وقدرته وكلما استكثرت من معرفة عجيب صنع الله تعالى كانت معرفتك بجلاله وعظمته أتم
Inilah penjelasan mengenai pokok-pokok kaidah yang di dalamnya berputar pikiran orang-orang yang bertafakur tentang ciptaan Allah Ta'ala. Di dalamnya tidak terdapat tafakur tentang Dzat Allah Ta'ala, namun dari tafakur terhadap ciptaan niscaya diperoleh ma'rifat (pengetahuan spiritual) tentang Sang Pencipta, keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Semakin banyak engkau memperdalam ma'rifat tentang keajaiban ciptaan Allah Ta'ala, niscaya ma'rifatmu tentang keagungan dan kebesaran-Nya akan semakin sempurna.
وهذا كما أنك تعظم عالما بسبب معرفتك بعلمه فلا تزال تطلع على غريبه من تصنيفه أو شعره فتزداد به معرفة وتزداد بحسنه له توقيرا وتعظيما واحتراما حتى إن كل كلمة من كلماته وكل بيت عجيب من أبيات شعره يزيده محلا من قلبك يستدعى التعظيم له فى نفسك
Hal ini sebagaimana engkau mengagungkan seorang alim karena pengetahuanmu akan ilmunya; engkau terus-menerus mendapati hal-hal yang menakjubkan dari karya tulisnya atau syairnya, sehingga pengetahuanmu tentangnya semakin bertambah, dan lantaran keindahannya engkau semakin menaruh rasa hormat, pengagungan, dan takzim kepadanya. Hingga setiap kata dari perkataannya dan setiap bait menakjubkan dari bait-bait syairnya semakin meningkatkan kedudukannya di dalam hatimu serta menuntut pengagungan terhadapnya di dalam dirimu.
فهكذا تأمل في خلق الله تعالى وتصنيفه وتأليفه وكل ما في الوجود من خلق الله وتصنيفه والنظر والفكر فيه لا يتناهى أبدا وإنما لكل عبد
Demikian pulalah perenungan terhadap ciptaan Allah Ta'ala, rancangan-Nya, dan penyusunan-Nya. Segala sesuatu yang ada di alam semesta merupakan ciptaan dan hasil kehendak Allah, dan pengamatan serta tafakur tentangnya tidak akan pernah ada habisnya; melainkan bagi setiap hamba…
منها بقدر ما رزق فلنقتصر على ما ذكرناه ولنضف إلى هذا ما فصلناه في كتاب الشكر فإنا نظرنا فى ذلك الكتاب فى فعل الله تعالى من حيث هو إحسان إلينا وإنعام علينا
…di antaranya memperoleh bagian sesuai dengan kadar rezeki yang dikaruniakan kepadanya. Maka marilah kita mencukupkan pada apa yang telah kita sebutkan, dan hendaknya kita menautkan hal ini dengan apa yang telah kita perinci dalam Kitab Asy-Syukr (Kitab Syukur), karena dalam kitab tersebut kita memandang perbuatan Allah Ta'ala dari sudut pandang bahwa ia adalah bentuk kebaikan dan limpahan nikmat-Nya kepada kita.
وفى هذا الكتاب نظرنا فيه من حيث أنه فعل الله فقط وكل ما نظرنا فيه فإن الطبيعي ينظر فيه ويكون نظره سبب ضلاله وشقاوته والموفق ينظر فيه فيكون سبب هدايته وسعادته
Sedangkan dalam kitab ini, kita memandangnya semata-mata dari sudut pandang bahwa ia adalah perbuatan (fi'l) Allah semata. Dan dari semua yang kita amati itu, seorang pengamat sains alamiah (at-thabi'i) memandangnya hingga pandangannya menjadi sebab kesesatan dan kesengsaraannya, sedangkan orang yang mendapat taufik (al-muwaffaq) memandangnya hingga pandangannya itu menjadi sebab hidayah dan kebahagiaannya.
وما من ذرة في السماء والأرض إلا والله ﷾ يضل بها من يشاء ويهدي بها من يشاء فمن نظر في هذه الأمور من حيث إنها فعل الله تعالى وصنعه استفاد منه المعرفة بجلال الله تعالى وعظمته واهتدى به ومن نظر فيها قاصرا للنظر عليها من حيث تأثير بعضها فى بعض لا من حيث ارتباطها بمسبب الأسباب فقد شقى وارتدى فنعوذ بالله من الضلال ونسأله أن يجنبنا مزلة أقدام الجهال بمنه وكرمه وفضله وجوده ورحمته
Tidak ada satu zarrah pun di langit dan di bumi melainkan Allah 'Azza wa Jalla menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengannya dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengannya. Barang siapa memandang perkara-perkara ini dari sudut pandang bahwa semuanya adalah perbuatan dan ciptaan Allah Ta'ala, niscaya ia memetik darinya ma'rifat tentang keagungan dan kebesaran Allah Ta'ala serta mendapat petunjuk dengannya. Namun barang siapa memandangnya secara terbatas hanya pada pengaruh sebab-akibat antara satu sama lain, bukan dari sudut keterkaitannya dengan Sang Pembuat Sebab (Musabbibal Asbab), sungguh ia telah sengsara dan celaka. Maka kita berlindung kepada Allah dari kesesatan, dan kita memohon kepada-Nya agar menjauhkan kita dari ketergelinciran langkah orang-orang bodoh, dengan karunia-Nya, kemuliaan-Nya, keutamaan-Nya, kemurahan-Nya, dan rahmat-Nya.
تم الكتاب التاسع من ربع المنجيات والحمد لله وحده وصلواته على محمد وآله وسلامه يتلوه كتاب ذكر الموت وما بعده وبه كمل جميع الديوان بحمد الله تعالى وكرمه
Telah selesai Kitab Kesembilan dari Rubu' Al-Munjiyat (Seperempat Bagian yang Menyelamatkan). Segala puji bagi Allah semata, serta shalawat dan salam-Nya semoga tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Berikutnya adalah Kitab Dzikrul Maut wa Ma Ba'dahu (Kitab Mengingat Kematian dan Alam Setelahnya), dan dengannya sempurnalah seluruh himpunan kitab (Ihya Ulumuddin) ini dengan pujian kepada Allah Ta'ala dan kemuliaan-Nya.
كتاب ذكر الموت وما بعده وهو الكتاب العاشر من ربع المنجيات وبه اختتام
Kitab Mengingat Kematian dan Alam Setelahnya, merupakan kitab kesepuluh dari Rubu' Al-Munjiyat (Seperempat Bagian yang Menyelamatkan), sekaligus menjadi penutup…
كتاب إحياء علوم الدين بسم الله الرحمن الرحيم
…kitab Ihya Ulumuddin. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذى قصم بالموت رقاب الجبابرة وكسر به ظهور الأكاسرة وقصر به آمال القياصرة الذين لم تزل قلوبهم عن ذكر الموت نافرة حتى جاءهم الوعد الحق فأرداهم فى الحافرة فنقلوا من القصور إلى القبور ومن ضياء المهود إلى ظلمة اللحود ومن ملاعبة الجوارى والغلمان إلى مقاساة الهوام والديدان ومن التنعم بالطعام والشراب إلى التمرغ فى التراب ومن أنس العشرة إلى وحشة الوحدة ومن المضجع الوثير إلى المصرع الوبيل فانظر هل وجدوا من الموت حصنا وعزا واتخذوا من دونه حجابا وحرزا وانظر هل تحس منهم من أحد أو تسمع لهم ركزا فسبحان من انفرد بالقهر والاستيلاء واستأثر باستحقاق البقاء وأذل أصناف الخلق بما كتب عليهم من الفناء ثم جعل الموت مخلصا للأتقياء وموعدا فى حقهم للقاء وجعل القبر سجنا للأشقياء وحبسا ضيقا عليهم إلى يوم الفصل والقضاء فله الإنعام بالنعم المتظاهرة وله الانتقام بالنقم القاهرة وله الشكر فى السموات والأرض وله الحمد فى الأولى والآخرة والصلاة على محمد ذي المعجزات الظاهرة والآيات الباهرة وعلى آله وأصحابه وسلم تسليماً كثيراً
Segala puji bagi Allah yang telah mematahkan leher para penguasa sombong dengan kematian, mematahkan punggung para raja Kisra dengannya, dan memendekkan angan-angan para Kaisar dengannya—orang-orang yang hatinya senantiasa enggan dari mengingat kematian hingga datanglah kepada mereka janji yang pasti benar, lalu kematian menjatuhkan mereka ke dalam lubang kubur. Mereka dipindahkan dari istana-istana menuju kubur, dari terangnya buaian menuju gelapnya liang lahat, dari bersenang-senang dengan para pelayan wanita dan pria menuju penderitaan bersama serangga dan cacing, dari menikmati makanan dan minuman menuju bergelimang di dalam tanah, dari kehangatan pergaulan menuju kesendirian yang mencekam, dan dari pembaringan yang empuk menuju pembaringan kehancuran yang mengerikan. Maka perhatikanlah, apakah mereka menemukan benteng dan kemuliaan untuk menolak kematian, ataukah mereka dapat mengambil penghalang dan pelindung selain-Nya? Dan perhatikanlah, apakah engkau melihat seorang pun dari mereka atau mendengar suara mereka yang samar? Maka Maha Suci Dzat yang Maha Tunggal dalam keperkasaan dan kekuasaan, yang mengkhususkan Diri-Nya dengan keabadian yang mutlak, dan merendahkan berbagai jenis makhluk dengan menetapkan kepunahan atas mereka. Kemudian Dia menjadikan kematian sebagai sarana kebebasan bagi orang-orang yang bertakwa dan waktu yang dijanjikan bagi mereka untuk bertemu dengan-Nya, serta menjadikan kubur sebagai penjara bagi orang-orang celaka dan kurungan yang sempit bagi mereka hingga Hari Keputusan dan Pengadilan. Maka milik-Nyalah segala pemberian nikmat yang nyata, milik-Nyalah balasan dengan siksaan yang memikat, milik-Nyalah rasa syukur di langit dan di bumi, dan milik-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat. Semoga shalawat dan salam yang melimpah tercurah kepada Muhammad yang memiliki mukjizat-mukjizat yang nyata dan tanda-tanda yang mengagumkan, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.
أما بعد فجدير بمن الموت مصرعه والتراب مضجعه والدود أنيسه ومنكر ونكير جليسه والقبر مقره وبطن الأرض مستقره والقيامة موعده والجنة أو النار مورده أن لا يكون له فكر إلا فى الموت ولا ذكر إلا له ولا استعداد إلا لأجله ولا تدبير إلا فيه ولا تطلع إلا إليه ولا تعريج إلا عليه ولا اهتمام إلا به ولا حول إلا حوله ولا انتظار وتربص إلا له وحقيق بأن يعد نفسه من الموتى ويراها فى أصحاب القبور فإن كل ما هو آت قريب والبعيد ما ليس بآت وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ
Amma ba'du (Adapun setelah itu): Sungguh sudah sepantasnya bagi siapa saja yang tempat kejatuhannya adalah kematian, pembaringannya adalah tanah, teman dekatnya adalah ulat-ulat, teman duduknya adalah Munkar dan Nakir, tempat tinggalnya adalah kubur, persemayamannya adalah perut bumi, waktu yang dijanjikan baginya adalah Kiamat, dan tempat kembalinya adalah surga atau neraka, untuk tidak memiliki pikiran kecuali tentang kematian, tidak ada ingatan kecuali kepadanya, tidak ada persiapan kecuali untuk menghadapinya, tidak ada perencanaan kecuali di dalamnya, tidak ada pengamatan kecuali kepadanya, tidak ada perhatian berpaling kecuali kepadanya, tidak ada hasrat kecuali di sekitarnya, serta tidak ada penantian melainkan untuknya. Dan sudah seharusnya ia menganggap dirinya termasuk orang-orang mati serta memandang dirinya berada di antara para penghuni kubur, karena segala sesuatu yang akan datang itu dekat, dan yang jauh itu adalah apa yang tidak akan datang. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Orang yang cerdas (al-kayyis) adalah orang yang menundukkan jiwanya dan beramal…"
لما بعد الموت ولن يتيسر الاستعداد للشيء إلا عند تجدد ذكره على القلب ولا يتجدد ذكره إلا عند التذكر بالإصغاء إلى المذكرات له والنظر في المنبهات عليه
"…untuk kehidupan setelah kematian." Dan tidaklah kemudahan dalam bersiap siaga menghadapi sesuatu itu terwujud melainkan ketika ingatan kepadanya senantiasa terbarui di dalam hati. Dan ingatan itu tidak akan terbarui melainkan dengan cara mengingat kembali melalui mendengarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan petunjuk-petunjuk yang memperingatkannya.
ونحن نذكر من أمر الموت ومقدماته ولواحقه وأحوال الآخرة والقيامة والجنة والنار ما لا بد للعبد من تذكاره على التكرار وملازمته بالافتكار والاستبصار ليكون ذلك مستحثا على الاستعداد فقد قرب لما بعد الموت الرحيل فما بقي من العمر إلا القليل والخلق عنه غافلون اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ ونحن نذكر ما يتعلق بالموت في شطرين الشطر الأول في مقدماته وتوابعه إلى نفخة الصور وفيه ثمانية أبواب
Maka kami akan menyebutkan perihal kematian, tanda-tanda awalnya, hal-hal yang menyertainya, serta kondisi akhirat, Kiamat, surga, dan neraka; hal-hal yang wajib bagi seorang hamba untuk mengingatnya secara berulang-ulang dan melaziminya dengan perenungan (iftikar) dan mata hati (istibshar), agar hal tersebut menjadi pendorong untuk bersiap siaga. Sungguh telah dekat saat keberangkatan menuju apa yang ada setelah kematian, dan tidaklah tersisa dari umur melainkan tinggal sedikit saja, sedangkan para makhluk melalaikannya: "Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaaan lalai berpaling dari padanya." (QS. Al-Anbiya': 1). Dan kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan kematian ini dalam dua bagian: Bagian Pertama membahas tentang pengantar-pengantarnya dan hal-hal yang mengikutinya hingga tiupan sangkakala, yang memuat delapan bab.
الباب الأول في فضل ذكر الموت والترغيب فيه
Bab Pertama: Tentang Keutamaan Mengingat Kematian dan Anjuran Untuknya.
الباب الثاني في ذكر طول الأمل وقصره
Bab Kedua: Tentang Panjang Angan-Angan dan Pendek Angan-Angan.
الباب الثالث في سكرات الموت وشدته وما يستحب من الأحوال عند الموت
Bab Ketiga: Tentang Sakaratul Maut, Kedahsyatannya, dan Keadaan-Keadaan yang Disunnahkan ketika Menghadapi Kematian.
الباب الرابع في وفاة رسول الله ﷺ والخلفاء الراشدين من بعده
Bab Keempat: Tentang Wafatnya Rasulullah ﷺ dan Al-Khulafa'ur Rasyidin Setelah Beliau.
الباب الخامس في كلام المحتضرين من الخلفاء والأمراء والصالحين
Bab Kelima: Tentang Perkataan Orang-Orang yang Menjelang Ajal dari Kalangan Khalifah, Pemimpin, dan Orang-Orang Saleh.
الباب السادس في أقاويل العارفين على الجنائز والمقابر وحكم زيارة القبور
Bab Keenam: Tentang Perkataan Para 'Arifin di Samping Jenazah dan Pemakaman, serta Hukum Ziarah Kubur.
الباب السابع في حقيقة الموت وما يلقاه الميت في القبر إلى نفخة الصور
Bab Ketujuh: Tentang Hakikat Kematian dan Apa yang Dialami Mayit di Dalam Kubur hingga Tiupan Sangkakala.
الباب الثامن فيما عرف من أحوال الموتى بالمكاشفة في المنام
Bab Kedelapan: Tentang Keadaan Orang-Orang Mati yang Diketahui Melalui Mukasyafah dalam Mimpi.
الباب الأول في ذكر الموت والترغيب في الإكثار من ذكره
Bab Pertama: Tentang Mengingat Kematian dan Anjuran untuk Memperbanyak Mengingatnya.
أعلم أَنَّ الْمُنْهَمِكَ فِي الدُّنْيَا الْمُكِبَّ عَلَى غُرُورِهَا الْمُحِبَّ لِشَهَوَاتِهَا يَغْفُلُ قَلْبُهُ لَا مَحَالَةَ عَنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ فَلَا يَذْكُرُهُ وَإِذَا ذُكِّرَ بِهِ كَرِهَهُ وَنَفَرَ مِنْهُ أُولَئِكَ هُمُ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون ثُمَّ النَّاسُ إِمَّا مُنْهَمِكٌ وَإِمَّا تَائِبٌ مُبْتَدِئٌ أو عَارِفٌ مُنْتَهٍ أَمَّا الْمُنْهَمِكُ فَلَا يَذْكُرُ الْمَوْتَ وَإِنْ ذَكَرَهُ فَيَذْكُرُهُ لِلتَّأَسُّفِ عَلَى دُنْيَاهُ وَيَشْتَغِلُ بِمَذِمَّتِهِ وَهَذَا يَزِيدُهُ ذِكْرُ الْمَوْتِ مِنَ اللَّهِ بُعْدًا
Ketahuilah bahwa orang yang tenggelam dalam urusan dunia, tersungkur pada tipu dayanya, dan mencintai kenikmatan syahwatnya, hatinya pasti lalai dari mengingat kematian sehingga ia tidak mengingatinya. Jika ia diingatkan padanya, ia membenci dan berlari darinya. Mereka itulah orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka: "Katakanlah: 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'" Kemudian, manusia terbagi menjadi tiga tingkatan: orang yang tenggelam dalam dunia, orang yang bertaubat di tingkat pemula (tā'ib mubtadi'), atau seorang 'ārif (orang yang ma'rifat) di tingkat puncak (muntahī). Adapun orang yang tenggelam dalam dunia, ia tidak mengingat kematian; dan jikapun ia mengingatnya, ia mengingatnya untuk meratapi dunianya dan sibuk mencelanya. Mengingat kematian bagi orang seperti ini justru semakin menjauhkannya dari Allah.
وَأَمَّا التَّائِبُ فَإِنَّهُ يُكْثِرُ مَنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ لِيَنْبَعِثَ بِهِ مِنْ قَلْبِهِ الْخَوْفُ وَالْخَشْيَةُ فيفي بتمام التوبة وربما يكره الموت خيفة من أن يختطفه قبل تمام التوبة وقبل إصلاح الزاد وهو معذور في كراهة الموت ولا يدخل هذا تحت قوله ﷺ من كره لقاء الله كره الله لقاءه فإن هذا ليس يكره الموت ولقاء الله وإنما يخاف فوت لقاء الله لقصوره وتقصيره وهو كالذي يتأخر عن لقاء الحبيب مشتغلا بالاستعداد للقائه على وجه يرضاه فلا يعد كارها للقائه
Adapun orang yang bertaubat, ia memperbanyak mengingat kematian agar tumbuh dari hatinya rasa takut (khauf) dan kekhawatiran (khasyyah), sehingga ia dapat memenuhi kesempurnaan taubatnya. Terkadang ia membenci kematian karena takut ajalnya merenggutnya sebelum taubatnya sempurna dan sebelum pembekalannya diperbaiki. Ia dimaklumi dalam kebenciannya terhadap kematian ini, dan hal ini tidak termasuk di dalam sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah membenci perjumpaan dengannya." Sebab, orang ini sesungguhnya tidak membenci kematian maupun perjumpaan dengan Allah, melainkan ia takut terluput dari perjumpaan (yang diridhai) dengan Allah karena keterbatasan dan kelalaian dirinya. Ia ibarat orang yang menunda perjumpaan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk perjumpaan tersebut dengan cara yang diridhai sang kekasih, maka ia tidak dianggap membenci perjumpaan tersebut.
وعلامة هذا أن يكون دائم الاستعداد له لا شغل له سواه وإلا التحق بالمنهمك في الدنيا وَأَمَّا الْعَارِفُ فَإِنَّهُ يَذْكُرُ الْمَوْتَ دَائِمًا لِأَنَّهُ موعد لقائه لِحَبِيبِهِ وَالْمُحِبُّ لَا يَنْسَى قَطُّ مَوْعِدَ لِقَاءِ الحبيب وهذا في غالب الأمر يستبطئ مجيء الموت ويحب مجيئه ليتخلص من دار العاصين وينتقل إلى جوار رب العالمين
Tanda dari keadaan ini adalah ia senantiasa mempersiapkan diri untuknya dan tidak memiliki kesibukan selain itu; jika tidak, ia tergolong sebagai orang yang tenggelam dalam dunia. Adapun orang yang 'ārif, ia senantiasa mengingat kematian karena kematian adalah janji perjumpaan dengan Sang Kekasih, dan seorang pencinta tidak akan pernah melupakan janji perjumpaan dengan Kekasihnya. Pada umumnya, orang seperti ini menganggap datangnya kematian itu lambat dan menyukai kedatangannya agar terbebas dari negeri orang-orang yang bermaksiat dan berpindah menuju keharibaan Tuhan semesta alam.
كما روي عن حذيفة أنه لما حضرته الوفاة قال حبيب جاء على فاقة لا أفلح من ندم اللهم إن كنت تعلم
Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menjelang wafatnya ia berkata: "Kekasih telah datang saat berada dalam hajat (kebutuhan mendesak). Tidak beruntung orang yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui…"
أن الفقر أحب إلي من الغنى والسقم أحب إلى من الصحة والموت احب إلى من العيش فسهل على الموت حتى ألقاك فإذن التائب معذور في كراهة الموت وهذا معذور في حب الموت وتمنيه وأعلى منهما رتبة من فوض أمره إلى الله تعالى فصار لا يختار لنفسه موتاً ولا حياة بل يكون أحب الأشياء إليه احبها إلى مولاه
"…bahwa kefakiran lebih aku cintai daripada kekayaan, sakit lebih aku cintai daripada kesehatan, dan kematian lebih aku cintai daripada kehidupan, maka permudahlah kematian bagiku hingga aku bertemu dengan-Mu." Dengan demikian, orang yang bertaubat dimaklumi dalam ketidaksukaannya pada kematian, dan orang ini (sang 'ārif) dimaklumi dalam kecintaannya pada kematian serta keinginannya untuk mati. Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya adalah orang yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta'ala (tafwīḍ), sehingga ia tidak lagi memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya sendiri; melainkan hal yang paling ia cintai adalah apa yang paling dicintai oleh Pelindungnya.
فهذا قد انتهى بفرط الحب والولاء إلى مقام التسليم والرضا وهو الغاية والمنتهى
Orang ini telah sampai, sebab meluapnya rasa cinta dan kesetiaan, pada maqam pasrah (taslim) dan ridha, dan itulah puncak serta tujuan akhir.
وعلى كل حال ففي ذكر الموت ثواب وفضل فإن المنهمك أيضا يستفيد بذكر الموت التجافي عن الدنيا إذ ينغص عليه نعيمه ويكدر عليه صفو لذته
Bagaimanapun juga, dalam mengingat kematian terdapat pahala dan keutamaan. Sebab orang yang tenggelam dalam dunia pun tetap memetik manfaat dari mengingat kematian berupa kerenggangan dari dunia, karena hal itu mengusik kenikmatannya dan memperkeruh kejernihan kelezatan dunianya.
وكل ما يكدر على الإنسان اللذات والشهوات فهو من أسباب النجاة
Dan setiap hal yang memperkeruh kelezatan serta syahwat manusia, maka hal itu termasuk sebab-sebab keselamatan.
بيان فضل ذكر الموت كيفما كان
Penjelasan tentang Keutamaan Mengingat Kematian dalam Keadaan Bagaimanapun.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أكثروا من ذكر هاذم اللذات ومعناه نغصوا بذكره اللذات حتى ينقطع ركونهم إليها فتقبلوا على اللَّهُ تَعَالَى وَقَالَ ﷺ لو تعلم البهائم من الموت ما يعلم ابن آدم ما أكلتم منها سمينا وقالت عائشة ﵂ يا رسول الله هل يحشر مع الشهداء أحد قال نعم من يذكر الموت في اليوم والليلة عشرين مرة وإنما سبب هذه الفضيلة كلها أن ذكر الموت يوجب التجافي عن دار الغرور ويتقاضى الاستعداد للآخرة والغفلة عن الموت تدعو إلى الانهماك في شهوات الدنيا
Rasulullah ﷺ bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan." Maknanya adalah usiklah kelezatan-kelezatan itu dengan mengingatinya, hingga terputus kecondongan mereka kepadanya dan mereka menghadap kepada Allah Ta'ala. Beliau ﷺ juga bersabda: "Sekiranya hewan ternak mengetahui tentang kematian sebagaimana yang diketahui oleh anak cucu Adam, niscaya kamu tidak akan pernah memakan dagingnya dalam keadaan gemuk." 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang dihimpunkan bersama para syuhada?" Beliau menjawab: "Ya, yaitu orang yang mengingat kematian dalam sehari semalam sebanyak dua puluh kali." Sebab dari seluruh keutamaan ini adalah bahwa mengingat kematian meniscayakan kerenggangan dari negeri tipu daya (dunia) dan menuntut persiapan menghadapi akhirat, sedangkan kelalaian dari kematian mendorong seseorang untuk tenggelam dalam syahwat duniawi.
وقال ﷺ تحفة المؤمن الموت وإنما قال هذا لأن الدنيا سجن المؤمن إذ لا يزال فيها في عناء من مقاساة نفسه ورياضة شهواته ومدافعه شيطانه فالموت إطلاق له من هذا العذاب والإطلاق تحفة في حقه وقال ﷺ الموت كفارة لكل مسلم واراد بهذا المسلم حقا المؤمن صدقا الذي يسلم المسلمون من لسانه ويده ويتحقق فيه أخلاق المؤمنين ولم يتدنس من المعاصي إلا باللمم والصغائر فالموت يطهره منها ويكفرها بعد اجتنابه الكبائر وإقامته الفرائض قال عطاء الخراساني مر رسول الله ﷺ بمجلس قد استعلى فيه الضحك فقال شوبوا مجلسكم بذكر مكدر اللذات قالوا وما مكدر اللذات قال الموت وقال أنس رضي الله تعالى عنه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ فَإِنَّهُ يُمَحِّصُ الذُّنُوبَ ويزهد في الدنيا وقال ﷺ كفى بالموت مفرقا وقال ﵇ كفى بالموت واعظا وخرج رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى المسجد فإذا قوم يتحدثون ويضحكون فقال اذكروا الموت أما والذي نفسي بيده لو تعلمون
Beliau ﷺ bersabda: "Hadiah terbaik bagi orang mukmin adalah kematian." Beliau mengatakan demikian karena dunia adalah penjara bagi orang mukmin, sebab di dalamnya ia senantiasa berada dalam kesusahan menundukkan nafsu jiwanya, melatih (riyadhah) syahwatnya, dan memalingkan godaan setannya. Maka kematian adalah pembebasan baginya dari azab ini, dan pembebasan merupakan anugerah (hadiah) bagi dirinya. Beliau ﷺ juga bersabda: "Kematian adalah pelebur dosa (kaffarah) bagi setiap muslim." Yang beliau maksud adalah muslim sejati dan mukmin yang sesungguhnya, yaitu orang yang orang-orang muslim lain selamat dari lisan dan tangannya, terwujud padanya akhlak orang-orang beriman, serta tidak ternoda oleh maksiat kecuali sekadar dosa kecil yang tidak sengaja (lamam). Maka kematian menyucikannya dari dosa-dosa tersebut dan meleburnya setelah ia menjauhi dosa-dosa besar serta menegakkan kewajiban-kewajiban. 'Athā' Al-Khurasāni berkata: Rasulullah ﷺ pernah melewati suatu majelis yang di dalamnya dipenuhi gelak tawa, lalu beliau bersabda: "Campurlah majelis kalian dengan mengingat pemutus kelezatan." Mereka bertanya: "Apakah pemutus kelezatan itu?" Beliau menjawab: "Kematian." Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Perbanyaklah mengingat kematian, karena sesungguhnya ia dapat membersihkan dosa-dosa dan menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia." Beliau ﷺ juga bersabda: "Cukuplah kematian sebagai pemisah." Dan beliau 'alaihis salam bersabda: "Cukuplah kematian sebagai penceramah (penasihat)." Rasulullah ﷺ pernah keluar menuju masjid, lalu mendapati sekelompok orang sedang berbincang-bincang dan tertawa, maka beliau bersabda: "Ingatlah kematian! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kamu mengetahui…"
ما أعلم لضحكتم قليلاً ولبكيتم كثيرا وذكر عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ رجل فأحسنوا الثناء عليه فقال كيف ذكر صاحبكم للموت قالوا ما كنا نكاد نسمعه يذكر الموت قال فإن صاحبكم ليس هنالك وقال ابن عمر ﵄ أتيت النبي ﷺ عاشر عشرة فقال رجل من الأنصار من أكيس الناس وأكرم الناس يا رسول الله فقال أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ وَأَشَدُّهُمُ اسْتِعْدَادًا لَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْأَكْيَاسُ ذَهَبُوا بِشَرَفِ الدُّنْيَا وَكَرَامَةِ الْآخِرَةِ
"…apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Pernah pula disebut di hadapan Rasulullah ﷺ tentang seseorang, lalu mereka memujinya dengan pujian yang baik. Beliau lantas bertanya: "Bagaimanakah penuturan sahabatmu itu tentang kematian?" Mereka menjawab: "Hampir-hampir kami tidak pernah mendengarnya menyebut tentang kematian." Beliau bersabda: "Maka sahabat kalian tidaklah sampai pada tingkatan yang kalian bayangkan itu." Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Aku mendatangi Nabi ﷺ bersama sembilan orang lainnya (menjadi orang yang kesepuluh). Lalu seorang laki-laki dari kaum Anshar bertanya: "Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas; mereka pergi membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat."
أما الآثار فقد قال الحسن رحمه الله تعالى فضح الموت الدنيا فلم يترك لذى لب فرحا
Adapun riwayat-riwayat (atsar), Al-Hasan—semoga Allah Ta'ala merahmatinya—berkata, "Kematian telah membongkar keaiban dunia, sehingga tidak meninggalkan sedikit pun kegembiraan bagi orang yang berakal."
وقال الربيع بن خثيم
Dan Ar-Rabi' bin Khutsaim berkata,
ما غائب ينتظره المؤمن خيرا له من الموت وكان يقول لا تشعروا بي أحدا وسلوني إلى ربي سلا
"Tidak ada sesuatu yang gaib yang dinantikan oleh seorang mukmin yang lebih baik baginya daripada kematian." Dan ia biasa berkata, "Janganlah kalian memberitahukan kematianku kepada siapa pun, dan hantarkanlah aku kepada Tuhanku secara perlahan-lahan."
وكتب بعض الحكماء إلى رجل من إخوانه يا أخي أحذر الموت في هذه الدار قبل أن تصير إلى دار تتمنى فيها الموت فلا تجده
Sebagian ahli hikmah menulis surat kepada salah seorang saudaranya, "Wahai saudaraku, waspadailah kematian di negeri ini (dunia) sebelum engkau sampai di negeri di mana engkau mendambakan kematian namun tidak dapat menemukannya."
وكان ابن سيرين إذا ذكر عنده الموت مات كل عضو منه
Dan Ibnu Sirin, apabila kematian disebut di hadapannya, seakan-akan mati seluruh anggota tubuhnya (karena sangat takut).
وكان عمر بن عبد العزيز يجمع كل ليلة الفقهاء فيتذا كرون الموت والقيامة والآخرة ثم يبكون حتى كأن بين أيديهم جنازة
Dan Umar bin Abdul Aziz setiap malam mengumpulkan para ahli fiqih (fuqaha), lalu mereka saling mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan akhirat. Kemudian mereka menangis seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah.
وقال إبراهيم التيمى شيئان قطعا عني لذة الدنيا ذكر الموت والوقوف بين يدي الله ﷿
Ibrahim At-Taimi berkata, "Dua hal yang telah memutuskan kelezatan dunia dariku: mengingat kematian dan berdiri di hadapan Allah 'Azza wa Jalla."
وقال كعب من عرف الموت هانت عليه مصائب الدنيا وهمومها
Ka'ab berkata, "Barangsiapa mengenal (menyadari hakikat) kematian, niscaya akan terasa ringan baginya segala musibah dan kesedihan dunia."
وقال مطرف رأيت فيما يرى النائم كأن قائلا يقول في وسط مسجد البصرة قطع ذكر الموت قلوب الخائفين فوالله ما تراهم إلا والهين
Mutharrif berkata, "Aku bermimpi melihat seolah-olah ada seseorang yang berseru di tengah Masjid Bashrah, 'Mengingat kematian telah memutus (meremukkan) hati orang-orang yang takut (kepada Allah), maka demi Allah, engkau tidak melihat mereka melainkan dalam keadaan bingung dan cemas (karena rindu dan takut kepada-Nya)."
وقال أشعث كنا ندخل على الحسن فإنما هو النار وأمر الآخرة وذكر الموت
Asy'ats berkata, "Kami pernah menemui Al-Hasan, dan tidaklah pembicaraannya melainkan tentang Neraka, urusan akhirat, serta mengingat kematian."
وقالت صفية رضي الله تعالى عنها أن امرأة اشتكت إلى عائشة ﵂ قساوة قلبها فقالت اكثري ذكر الموت يرق قلبك ففعلت فرق قلبها فجاءت تشكر عائشة ﵂ وكان عيسى ﵇ إذا ذكر الموت عنده يقطر جلده دما
Shafiyyah—semoga Allah Ta'ala merahmatinya—berkata bahwa seorang wanita mengadukan kerasnya hatinya kepada Aisyah—semoga Allah meridhainya. Maka Aisyah berkata, "Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu menjadi lembut." Wanita itu pun melakukannya hingga hatinya menjadi lembut, lalu ia datang untuk berterima kasih kepada Aisyah radhiyallahu 'anha. Dan Nabi Isa 'alaihissalam apabila kematian disebut di hadapannya, kulitnya sampai meneteskan darah.
وكان داود ﵇ إذا ذكر الموت والقيامة يبكي حتى تنخلع أوصاله فإذا ذكر الرحمة رجعت إليه نفسه
Dan Nabi Daud 'alaihissalam apabila mengingat kematian dan kiamat, ia menangis hingga persendiannya seolah-olah lepas. Namun apabila rahmat Allah disebut, jiwanya kembali tenang.
وقال الحسن ما رأيت عاقلا قط إلا أصبته من الموت حذرا وعليه حزينا
Al-Hasan berkata, "Aku tidak pernah melihat orang berakal sama sekali melainkan aku mendapatinya waspada terhadap kematian dan bersedih menghadapinya."
وقال عمر بن عبد العزيز لبعض العلماء عظني فقال لست أول خليفة تموت قال زدني قال ليس من آبائك أحد إلى آدم إلا ذاق الموت وقد جاءت نويتك فبكى عمر لذلك وكان الربيع بن خثيم قد حفر قبرا في داره فكان ينام فيه كل يوم مرات يستديم بذلك ذكر الموت وكان يقول لو فارق ذكر الموت قلبي ساعة واحدة لفسد
Umar bin Abdul Aziz berkata kepada sebagian ulama, "Berilah aku nasihat!" Ulama itu berkata, "Engkau bukanlah khalifah pertama yang akan mati." Umar berkata, "Tambahkan lagi!" Ulama itu menjawab, "Tidak ada seorang pun dari nenek moyangmu hingga Nabi Adam melainkan telah merasakan kematian, dan giliranmu kini telah tiba." Maka Umar pun menangis karena hal itu. Dan Ar-Rabi' bin Khutsaim telah menggali kubur di dalam rumahnya, ia tidur di dalamnya beberapa kali setiap hari untuk senantiasa mengekalkan ingatan akan kematian. Ia biasa berkata, "Seandainya ingatan akan kematian berpisah dari hatiku sejurus saja, niscaya hatiku akan rusak."
وقال مطرف بن عبد الله بن الشخير إِنَّ هَذَا الْمَوْتَ قَدْ نَغَّصَ عَلَى أَهْلِ النَّعِيمِ نَعِيمَهُمْ فَاطْلُبُوا نَعِيمًا لَا مَوْتَ فِيهِ وقال عمر بن عبد العزيز لعنبسة اكثر ذكر الموت فإن كنت واسع العيش ضيقه عليك وإن كنت ضيق العيش وسعه عليك وقال أبو سليمان الداراني قلت لأم هرون أتحبين الموت قالت لا قلت لم قالت لو عصيت آدميا ما اشتهيت لقاءه فكيف أحب لقاءه وقد عصيته
Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir berkata, "Sesungguhnya kematian ini telah mengeruhkan kenikmatan bagi para pemilik kenikmatan, maka carilah kenikmatan yang tidak ada kematian di dalamnya." Dan Umar bin Abdul Aziz berkata kepada 'Anbasah, "Perbanyaklah mengingat kematian! Sebab jika engkau berada dalam kelapangan hidup, ia akan menyempitkannya bagimu (sehingga engkau tidak sombong), dan jika engkau dalam kesempitan hidup, ia akan melapangkannya bagimu (sehingga engkau bersabar)." Dan Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Aku bertanya kepada Ummu Harun, 'Apakah engkau menyukai kematian?' Ia menjawab, 'Tidak.' Aku bertanya, 'Mengapa?' Ia menjawab, 'Seandainya aku bermaksiat kepada seorang manusia biasa, tentu aku tidak suka bertemu dengannya, maka bagaimana aku suka bertemu dengan-Nya padahal aku telah bermaksiat kepada-Nya?'"
بيان الطريق في تحقيق ذكر الموت
Penjelasan Metode dalam Merealisasikan Ingatan akan Kematian
اعلم أن الموت هائل وخطره عظيم وغفلة الناس عنه لقلة فكرهم فيه وذكرهم له ومن يذكره ليس يذكره بقلب فارغ بل بقلب مشغول بشهوة الدنيا فلا ينجع ذكر الموت في قلبه
Ketahuilah bahwa kematian itu sangat dahsyat dan risikonya amat besar. Kelalaian manusia darinya disebabkan oleh sedikitnya pemikiran dan ingatan mereka kepadanya. Barangsiapa yang mengingatnya, ia tidak memikirkannya dengan hati yang kosong, melainkan dengan hati yang disibukkan oleh syahwat duniawi, sehingga ingatan akan kematian tidak memberi bekas pada hatinya.
فالطريق فيه أن يفرغ العبد قلبه عن كل
Maka jalan untuk mencapainya adalah seorang hamba harus mengosongkan hatinya dari segala
شيء إلا عن ذكر الموت الذي هو بين يديه كالذي يريد أن يسافر إلى مفازة مخطرة أو يركب البحر فإنه لا يتفكر إلا فيه فإذا باشر ذكر الموت قلبه فيوشك أن يؤثر فيه وعند ذلك يقل فرحه وسروره بالدنيا وينكسر قلبه
sesuatu kecuali ingatan akan kematian yang ada di hadapannya, bagaikan seseorang yang hendak bepergian mengarungi padang sahara yang berbahaya atau mengarungi lautan, di mana ia tidak memikirkan melainkan hal itu saja. Apabila ingatan akan kematian telah menyentuh hatinya secara langsung, niscaya ia akan segera memberi pengaruh padanya. Pada saat itulah berkurang kegembiraan dan kesenangannya terhadap dunia, serta hatinya menjadi tunduk dan hancur.
وأنجع طريق فيه أَنْ يُكْثِرَ ذِكْرَ أَشْكَالِهِ وَأَقْرَانِهِ الَّذِينَ مَضَوْا قَبْلَهُ فَيَتَذَكَّرَ مَوْتَهُمْ وَمَصَارِعَهُمْ تَحْتَ التُّرَابِ وَيَتَذَكَّرَ صُوَرَهُمْ فِي مَنَاصِبِهِمْ وَأَحْوَالِهِمْ وَيَتَأَمَّلَ كَيْفَ مَحَا التُّرَابُ الْآنَ حُسْنَ صُوَرِهِمْ
Jalan yang paling berkesan untuk hal itu adalah dengan memperbanyak mengingat orang-orang yang serupa dengannya dan teman-teman sebayanya yang telah mendahuluinya. Hendaklah ia mengingat kematian mereka, kejatuhan mereka di bawah himpitan tanah, serta mengingat rupa mereka semasa memegang jabatan dan keadaannya dulu, lalu merenungkan bagaimana tanah kini telah menghapus keindahan rupa mereka.
وَكَيْفَ تَبَدَّدَتْ أَجَزَاؤُهُمْ في قبورهم وكيف أرملوا نساءهم وأيتموا أولادهم وضيعوا أموالهم وخلت منهم مساجدهم ومجالسهم وانقطعت آثارهم فمهما تذكر رجل رجلا وفصل في قلبه حاله وكيفية موته وتوهم صورته وتذكر نشاطه وتردده وتأمله للعيش والبقاء ونسيانه للموت وانخداعه بمواتاة الأسباب وركونه إلى القوة والشباب وميله إلى الضحك واللهو وغفلته عما بين يديه من الموت الذريع والهلاك السريع
Dan bagaimana anggota-anggota tubuh mereka hancur berantakan di dalam kubur mereka, bagaimana isteri-isteri mereka menjadi janda, anak-anak mereka menjadi yatim, harta benda mereka terbuang sia-sia, serta masjid-masjid dan majelis-majelis mereka menjadi kosong dari kehadiran mereka, dan jejak-jejak mereka pun terputus. Maka, bilamana seseorang mengingat orang lain dan merenungkan secara terperinci di dalam hatinya akan keadaannya dan tata cara kematiannya, membayangkan sosoknya, mengingat keceriaan dan aktivitasnya, angan-angannya untuk hidup kekal, kelalaiannya terhadap kematian, tertipunya ia oleh kemudahan sebab-sebab duniawi, kesenangannya bersandar pada kekuatan dan masa muda, kecenderungannya pada tawa dan senda gurau, serta kelalaiannya dari apa yang ada di hadapannya berupa kematian yang merenggut dan kebinasaan yang amat cepat,
وأنه كيف كان يتردد والآن قد تهدمت رجلاه ومفاصله
dan bagaimana dahulu ia lalu-lalang beraktivitas, sedangkan kini kedua kaki dan sendi-sendinya telah hancur luluh,
وأنه كيف كان ينطق وقد أكل الدود لسانه
dan bagaimana dahulu ia berbicara, padahal kini lidahnya telah dimakan ulat,
وكيف كان يضحك وقد أكل التراب أسنانه
dan bagaimana dahulu ia tertawa, padahal kini gigi-giginya telah dilahap tanah,
وكيف كان يدبر لنفسه ما لا يحتاج إليه إلى عشر سنين في وقت لم يكن بينه وبين الموت إلا شهر وهو غافل عما يراد به حتى جاءه الموت في وقت لم يحتسبه فانكشف له صورة الملك وقرع سمعه النداء إما بالجنة أو بالنار فعند ذلك ينظر في نفسه أنه مثلهم وغفلته كغفلتهم وستكون عاقبته كعاقبتهم
serta bagaimana dahulu ia merencanakan bagi dirinya apa yang tidak ia perlukan hingga sepuluh tahun mendatang, padahal antara dirinya dan kematian hanya tersisa waktu satu bulan saja, sementara ia lalai terhadap apa yang diperuntukkan baginya, hingga kematian mendatangnya pada waktu yang tidak ia sangka-sangka; maka tersingkaplah baginya rupa malaikat dan terdengarlah oleh pendengarannya seruan berita gembira berupa surga atau ancaman neraka. Pada saat itulah seseorang akan memandang dirinya sendiri bahwa ia serupa dengan mereka, kelalaiannya seperti kelalaian mereka, dan kesudahannya pun akan menjadi seperti kesudahan mereka.
قال أبو الدرداء ﵁ إذا ذكرت الموتى فعد نفسك كأحدهم
Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu berkata, "Jika engkau mengingat orang-orang yang telah meninggal dunia, maka anggaplah dirimu sebagai salah seorang dari mereka."
وقال ابن مسعود ﵁ السعيد من وعظ بغيره
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari nasib orang lain."
وقال عمر بن عبد العزيز ألا ترون أنكم تجهزون كل يوم غاديا أو رائحا إلى الله ﷿ تضعونه في صدع من الأرض قد توسد التراب وخلف الأحباب وقطع الأسباب
Umar bin Abdul Aziz berkata, "Tidakkah kalian memperhatikan bahwa setiap hari kalian mengantarkan orang yang berangkat pagi atau petang menuju Allah Azza wa Jalla, kalian membaringkannya di dalam belahan bumi (liang kubur), berbantal tanah, meninggalkan orang-orang tercinta, dan terputuslah segala ikatan sebab-sebab duniawi."
فملازمة هذه الأفكار وأمثالها مَعَ دُخُولِ الْمَقَابِرِ وَمُشَاهَدَةِ الْمَرْضَى هُوَ الَّذِي يجدد ذكر الموت في القلب حتى يغلب عليه بحيث يصير نصب عينيه فعند ذلك يوشك أن يسند له ويتجافى عن دار الغرور وإلا فالذكر بظاهر القلب وعذبة اللسان قليل الجدوى في التحذير والتنبيه وَمَهْمَا طَابَ قَلْبُهُ بِشَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَذَكَّرَ فِي الْحَالِ أَنَّهُ لَا بُدَّ له مِنْ مُفَارَقَتِهِ نَظَرَ ابن مطيع ذَاتَ يَوْمٍ إِلَى دَارِهِ فَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا ثُمَّ بَكَى فَقَالَ وَاللَّهِ لَوْلَا الْمَوْتُ لَكُنْتُ بِكِ مَسْرُورًا وَلَوْلَا مَا نَصِيرُ إِلَيْهِ مِنْ ضِيقِ الْقُبُورِ لَقَرَّتْ بالدنيا أعيننا ثم بكى بكاء شديدا حتى ارتفع صوته
Maka, merenungkan pikiran-pikiran ini secara terus-menerus beserta ziarah kubur dan menyaksikan orang-orang sakit, itulah yang akan memperbarui ingatan akan kematian di dalam hati, hingga ingatan itu menguasainya dan menjadi tampak di depan matanya. Saat itulah hampir pasti ia akan bersiap dengannya dan menjauhkan diri dari negeri tipu daya (dunia). Jika tidak demikian, maka mengingat kematian hanya di permukaan hati dan dengan ujung lidah saja sangat sedikit manfaatnya untuk memberi peringatan dan menggugah kesadaran. Dan bilamana hatinya merasa senang dengan sesuatu dari keduniaan, hendaknya ia seketika itu pula mengingat bahwa ia pasti akan berpisah dengannya. Ibnu Muthi' pada suatu hari memandang rumahnya, lalu keindahannya membuatnya kagum, kemudian ia menangis seraya berkata, "Demi Allah, seandainya bukan karena kematian, niscaya aku sangat bergembira denganmu, dan seandainya bukan karena sempitnya kubur yang akan kita tuju, niscaya mata kita akan merasa sejuk bahagia dengan dunia." Kemudian ia menangis tersedu-sedu hingga suaranya meninggi.
الباب الثاني في طول الأمل وفضيلة قصر الأمل وسبب طوله وكيفية
Bab Kedua: Tentang Panjang Angan-Angan, Keutamaan Pendek Angan-Angan, Sebab Panjang Angan-Angan, dan Cara
معالجته فَضِيلَةُ قِصَرِ الْأَمَلِ
Mengobatinya. Keutamaan Pendek Angan-Angan (Qashar al-Amal).
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ إذا أصبحت فلا تحدث نفسك بالمساء وإذا أمسيت فلا تحدث نفسك بالصباح وَخُذْ مِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ وَمِنْ صِحَّتِكَ لِسَقَمِكَ فإنك يا عبد الله لا تدري ما اسمك غدا وروى علي كرم الله وجهه أنه ﷺ قال إِنَّ أَشَدَّ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ خَصْلَتَانِ اتِّبَاعُ الْهَوَى وَطُولُ الْأَمَلِ فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَإِنَّهُ يَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَإِنَّهُ الحب للدنيا ثم قال إلا إن الله تعالى يعطي الدنيا من يحب ويبغض وإذا أحب عبدا أعطاه الإيمان ألا إن للدين أبناء وللدنيا أبناء فكونوا من أبناء الدين ولا تكونوا
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Umar, "Apabila engkau berada di pagi hari, maka janganlah engkau membisikkan jiwamu dengan waktu petang. Dan apabila engkau berada di petang hari, janganlah engkau membisikkan jiwamu dengan waktu pagi. Manfaatkanlah masa hidupmu untuk kematianmu, dan masa sehatmu untuk masa sakitmu; karena sesungguhnya engkau, wahai Abdullah, tidak tahu apa sebutan namamu besok (apakah orang hidup atau mayat)." Dan diriwayatkan oleh Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya hal yang paling aku takuti atas kalian ada dua perkara: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, maka ia menghalangi dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan, maka ia adalah cinta dunia." Kemudian beliau bersabda, "Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan orang yang Dia benci, namun jika Dia mencintai seorang hamba, Dia memberinya iman. Ketahuilah bahwa agama memiliki anak-anak (pengikut) dan dunia pun memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak agama dan janganlah kalian menjadi…
من أبناء الدنيا ألا إن الدنيا قد ارتحلت مولية ألا إن الآخرة قد ارتحلت مقبلة ألا وإنكم في يوم عمل ليس فيه حساب ألا وإنكم توشكون في يوم حساب ليس فيه عمل وقالت أم المنذر اطلع رسول الله ﷺ ذات عشية إلى الناس فقال أيها الناس إما تستحون من الله قالوا وما ذاك يا رسول الله قال تجمعون مالا تأكلون وتأملون ما لا تدركون وتبنون ما لا تسكنون وقال أبو سعيد الخدري اشترى أسامة بن زيد من زيد ابن ثابت وليدة بمائة دينار إلى شهر فسمعت رسول الله ﷺ يقول ألا تعجبون من أسامة المشترى إلى شهر إن أسامة لطويل الأمل والذي نفسي بيده ما طرفت عيناي إلا ظننت أن شفري لا يلتقيان حتى يقبض الله روحي ولا رفعت طرفي فظننت أنى واضعه حتى أفيض ولا لقمت لقمة إلا ظننت أني لا أسيغها حتى أغص بها من الموت ثم قال يا بني آدم إن كنتم تعقلون فعدوا أنفسكم من الموتى والذي نفسي بيده إن ما توعدون لآت وما أنتم بمعجزين وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ﵄ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يخرج يهريق الماء فيتمسح بالتراب فأقول له يا رسول الله إن الماء منك قريب فيقول ما يدريني لعلي لا أبلغه والبزاز بسند ضعيف وروي أنه ﷺ أخذ ثلاثة أعواد فغرز عودا بين يديه والآخر إلى جنبه وأما الثالث فأبعده فقال هل تدرون ما هذا قالوا الله ورسوله أعلم قال هذا الإنسان وهذا الأجل وذاك الأمل يتعاطاه ابن آدم ويختلجه الأجل دون الأمل وقال ﵇ مثل ابن آدم وإلى جنبه تسع وتسعون منية إن اخطأته المنايا وقع في الهرم قال ابن مسعود هذا المرء وهذه الحتوف حوله شوارع إليه والهرم وراء الحتوف والأمل وراء الهرم فهو يؤمل وهذه الحتوف شوارع إليه فأيها أمر به أخذه فإن اخطأته الحتوف قتله الهرم وهو ينتظر الأمل
…dari anak-anak dunia. Ketahuilah bahwa dunia telah berangkat berpaling membelakangi, dan ketahuilah bahwa akhirat telah berangkat datang menyongsong. Ketahuilah bahwa kalian berada di hari beramal yang tidak ada padanya perhitungan (hisab), dan ketahuilah bahwa kalian hampir berada di hari perhitungan yang tidak ada lagi padanya amal." Dan Ummu al-Mundzir berkata, "Pada suatu petang Rasulullah ﷺ memperhatikan para manusia lalu bersabda, 'Wahai manusia, tidakkah kalian malu kepada Allah?' Mereka bertanya, 'Mengapa demikian, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Kalian mengumpulkan apa yang tidak kalian makan, kalian mengangan-angankan apa yang tidak kalian capai, dan kalian membangun apa yang tidak kalian huni.'" Abu Sa'id al-Khudri berkata, "Usamah bin Zaid membeli seorang budak wanita dari Zaid bin Tsabit seharga seratus dinar dengan pembayaran ditangguhkan hingga satu bulan. Maka aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Tidakkah kalian heran kepada Usamah yang membeli dengan penangguhan satu bulan? Sesungguhnya Usamah benar-benar panjang angan-angan. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah kedua mataku mengedip melainkan aku menduga kedua kelopak mataku tidak akan bertemu kembali hingga Allah mencabut ruhku; dan tidaklah aku mengangkat pandanganku melainkan aku menduga aku tidak akan menurunkannya kembali hingga ruhku terlepas; dan tidaklah aku menyuap satu suapan melainkan aku menduga aku tidak dapat menelannya hingga aku tersedak oleh kematian.' Kemudian beliau bersabda, 'Wahai anak cucu Adam, jika kalian berakal, maka hitunglah diri kalian termasuk golongan orang-orang yang mati. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti akan datang dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri.'" Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah keluar untuk buang air kecil, lalu beliau bertayamum dengan debu tanah. Maka aku berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya air itu dekat darimu." Beliau bersabda, "Apa yang memberitahukanku, boleh jadi aku tidak akan sempat mencapainya." (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad dha'if). Dan diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ mengambil tiga buah ranting kayu, lalu beliau menancapkan satu ranting di hadapannya, yang lain di sampingnya, sedangkan yang ketiga beliau jauhkan. Beliau bersabda, "Apakah kalian tahu apa ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah manusia, ini adalah ajal, dan yang jauh itu adalah angan-angan. Anak Adam menggapai angan-angannya, padahal ajal telah merenggutnya sebelum angan-angan itu tercapai." Dan Nabi 'alaihis salam bersabda, "Perumpamaan anak Adam adalah di sampingnya ada sembilan puluh sembilan kebinasaan (sebab kematian). Jika kebinasaan-kebinasaan itu luput darinya, ia akan jatuh ke dalam ketaatan masa tua (keuzuran usia)." Ibnu Mas'ud berkata, "Ini adalah manusia dan ini adalah berbagai kebinasaan di sekelilingnya yang mengarah kepadanya, sedangkan masa tua ada di balik kebinasaan-kebinasaan itu, dan angan-angan ada di balik masa tua. Ia terus berharap (berangan-angan), padahal kebinasaan-kebinasaan ini mengarah kepadanya; mana saja dari kebinasaan itu yang diperintahkan kepadanya, niscaya ia akan mengambilnya. Jika kebinasaan-kebinasaan itu luput darinya, maka masa tua akan membunuhnya sementara ia masih menunggu terwujudnya angan-angan."
قال عبد الله خط لنا رسول الله ﷺ خطا مربعا وخط وسطه خطا وخط خطوطا إلى جنب الخط وخط خطا خارجا وقال أتدرون ما هذا قلنا الله ورسوله أعلم قال هذا الإنسان للخط الذي في الوسط وهذا الأجل محيط به وهذه الأعراض للخطوط التي حوله تنهشه إن اخطأه هذا نهشه هذا وذاك الأمل يعني الخط الخط الخارج وقال أنس قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يهرم ابن آدم ويبقى معه اثنتان الحرص والأمل وفي رواية وتشب معه اثنتان الحرص على المال والحرص على العمر وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Abdullah (bin Mas'ud) berkata: Rasulullah ﷺ membuatkan garis persegi empat untuk kami, dan beliau membuat garis di tengahnya, serta membuat garis-garis kecil di samping garis tengah itu, dan beliau membuat satu garis yang keluar (dari persegi tersebut). Beliau bersabda, "Apakah kalian tahu apa ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah manusia —yaitu garis yang berada di tengah— dan ini adalah ajalnya yang mengepungnya, sedangkan garis-garis di sekitarnya ini adalah berbagai hambatan/bencana yang siap menerkamnya. Jika ia terlepas dari yang satu ini, ia akan diterkam oleh yang itu. Dan garis yang keluar di luar itu adalah angan-angan." Anas berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Anak Adam menjadi tua renta, namun tetap ada dua hal yang tersisa padanya: ketamakan dan panjang angan-angan." Dan dalam satu riwayat: "Dan tumbuh semakin muda bersamanya dua hal: ketamakan terhadap harta dan ketamakan terhadap umur (panjang usia)." Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
نجا أول هذه الأمة باليقين والزهد ويهلك آخر هذه الأمة بالبخل والأمل وقيل بينما عيسى ﵇ جالس وشيخ يعمل بمسحاة يثير بها الأرض فقال عيسى اللهم أنزع منه الأمل فوضع الشيخ المسحاة واضطجع فلبث ساعة فقال عيسى اللهم اردد إليه الأمل فقام فجعل يعمل فسأله عيسى عن ذلك فقال بينما أنا أعمل إذ قالت لي نفسي إلى متى تعمل وأنت شيخ كبير فألقيت المسحاة واضطجعت ثم قالت لي نفسي والله لا بد لك من عيش ما بقيت فقمت إلى مسحاتي
"Generasi awal umat ini selamat dengan keyakinan (yaqin) dan kezahudan (zuhud), dan generasi akhir umat ini akan binasa disebabkan kebaktian/kikir dan panjang angan-angan." Dan dikatakan bahwa ketika Nabi Isa 'alaihis salam sedang duduk, ada seorang tua yang sedang bekerja dengan cangkul membongkar tanah. Maka Isa berdoa, "Ya Allah, cabutlah angan-angan darinya." Maka orang tua itu pun meletakkan cangkulnya lalu berbaring. Setelah berlalu beberapa saat, Isa berdoa, "Ya Allah, kembalikanlah angan-angan kepadanya." Maka orang tua itu pun bangkit dan kembali bekerja. Lalu Isa bertanya kepadanya tentang hal itu, maka orang tua itu menjawab, "Ketika aku sedang bekerja, tiba-tiba nafsuku berkata kepadaku: 'Sampai kapan engkau akan terus bekerja padahal engkau sudah tua renta?' Maka aku melemparkan cangkul dan berbaring. Kemudian nafsuku berkata lagi kepadaku: 'Demi Allah, engkau harus tetap memiliki penghidupan selama engkau masih hidup.' Maka aku pun bangkit kembali mengambil cangkulku."
وقال الحسن قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أكلكم يحب أن يدخل الجنة قالوا نعم يا رسول الله قال قصروا من الأمل وثبتوا آجالكم بين أبصاركم واستحيوا من الله حق الحياء وَكَانَ ﷺ يَقُولُ فِي دعائه اللهم إني أعوذ بك من دنيا تمنع خير الآخرة وأعوذ بك من حياة تمنع خير الممات وأعوذ بك من أمل يمنع خير العمل
Al-Hasan berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah kalian semua ingin masuk surga?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pendekkanlah angan-angan, tetapkanlah ajal kalian di depan mata kalian, dan malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Dan beliau ﷺ senantiasa mengucapkan dalam doanya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dunia yang menghalangi kebaikan akhirat, aku berlindung kepada-Mu dari kehidupan yang menghalangi kebaikan kematian, dan aku berlindung kepada-Mu dari angan-angan yang menghalangi kebaikan amal."
الآثار قال مطرف بن عبد الله لو علمت متى أجلي لخشيت على ذهاب عقلي ولكن الله تعالى من على عباده بالغفلة عن الموت ولولا الغفلة ما تهنأوا بعيش ولا قامت بينهم الأسواق
Atsar (Atsar Para Sahabat dan Tabi'in): Mutharrif bin Abdullah berkata, "Seandainya aku mengetahui kapan ajalku tiba, niscaya aku khawatir akalku akan hilang. Akan tetapi Allah Ta'ala melimpahkan karunia-Nya kepada para hamba-Nya berupa kelalaian dari (pengetahuan pasti waktu) kematian. Seandainya bukan karena kelalaian tersebut, niscaya mereka tidak akan merasakan kenikmatan hidup dan pasar-pasar tidak akan pernah berdiri di antara mereka."
وقال الحسن السهو والأمل نعمتان عظيمتان على بني آدم ولولاهما ما مشى المسلمون في الطرق وقال الثوري بلغني أن الإنسان خلق احمق ولولا ذلك لم يهنأه العيش وقال أبو سعيد بن عبد الرحمن إنما عمرت الدنيا بقلة عقول أهلها وقال سلمان الفارسي ﵁ ثلاث أعجبتني حتى أضحكتني مؤمل الدنيا والموت يطلبه وغافل وليس يغفل عنه وضاحك ملء فيه ولا يدري أساخط رب العالمين عليه أم راض وثلاث أحزنتني حتى أبكتني فراق الأحبة محمد وحزبه وهول المطلع والوقوف بين يدي الله ولا أدري إلى الجنة يؤمر بي أو إلى النار
Al-Hasan berkata, "Kelupaan dan angan-angan adalah dua nikmat yang sangat agung bagi anak cucu Adam, seandainya bukan karena keduanya, niscaya orang-orang muslim tidak akan berjalan di jalan-jalan." Sufyan ats-Tsauri berkata, "Telah sampai kepadaku berita bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berakal sempurna (dungu), seandainya tidak demikian, niscaya hidup tidak akan terasa nyaman baginya." Abu Sa'id bin Abdurrahman berkata, "Sesungguhnya dunia ini makmur hanyalah karena kurangnya akal para penghuninya." Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu berkata, "Ada tiga hal yang mengherankanku hingga membuatku tertawa: orang yang mengangan-angankan dunia padahal kematian terus mencarinya, orang yang lalai padahal ia tidak pernah dilalaikan (dari pengawasan Allah), dan orang yang tertawa terbahak-bahak sepenuh mulutnya padahal ia tidak tahu apakah Tuhan semesta alam murka kepadanya atau ridha kepadanya. Dan ada tiga hal yang menyedihkanku hingga membuatku menangis: berpisah dengan orang-orang tercinta yaitu Muhammad dan kelompoknya, kedahsyatan saat menghadapi kematian/alam kubur (haul al-muthala'), dan berdiri di hadapan Allah sementara aku tidak tahu apakah aku diperintahkan menuju surga ataukah menuju neraka."
وقال بعضهم رأيت زرارة بن أبي أوفى بعد موته في المنام فقلت أي الأعمال أبلغ عندكم قال التوكل وقصر الأمل
Sebagian ulama berkata, "Aku melihat Zurarah bin Abi Aufa dalam mimpi setelah wafatnya, lalu aku bertanya, 'Amal apakah yang paling utama/berbekas menurut kalian?' Ia menjawab, 'Tawakal dan pendek angan-angan (qashar al-amal).'"
وقال الثوري الزهد في الدنيا قصر الأمل ليس بأكل الغليظ ولا لبس العباءة
Sufyan ats-Tsauri berkata, "Kezahudan (zuhud) di dunia itu adalah pendek angan-angan, bukan dengan memakan makanan yang kasar atau memakai pakaian jubah kasar (jubah wol)."
وسأل المفضل بن فضالة ربه أن يرفع عنه الأمل فذهبت عن شهوة الطعام والشراب ثم دعا ربه فرد عليه الأمل فرجع إلى الطعام والشراب وقيل للحسن يا أبا سعيد ألا تغسل قميصك فقال الأمر أعجل من ذلك
Al-Mufadhdhal bin Fadhalah memohon kepada Tuhannya agar mencabut panjang angan-angan darinya, maka hilanglah syahwat makan dan minum darinya. Kemudian ia berdoa kepada Tuhannya agar mengembalikan angan-angannya, lalu ia pun kembali memiliki selera makan dan minum. Dan dikatakan kepada Al-Hasan Al-Bashri, "Wahai Abu Sa'id, tidakkah engkau mencuci bajumu?" Ia menjawab, "Urusan (ajal) itu jauh lebih cepat dari itu."
وقال الحسن الموت معقود بنواصيكم والدنيا تطوى من ورائكم
Al-Hasan berkata, "Kematian itu terikat pada ubun-ubun kalian, dan dunia ini digulung dari belakang kalian."
وقال بعضهم أنا كرجل ماد عنقه والسيف عليه ينتظر متى تضرب عنقه
Sebagian dari mereka berkata, "Aku seperti seorang laki-laki yang menjulurkan lehernya sementara pedang telah berada di atasnya, menunggu kapan lehernya akan ditebas."
وقال داود الطائي لو أملت أن أعيش شهرا لرأيتني قد أتيت عظيما وكيف أؤمل ذلك وأرى الفجائع تغشى الخلائق في ساعات الليل والنهار وحكى أنه جاء شقيق البلخى إلى أستاذ له يقال له أبو هاشم الرمانى وفي طرف كسائه شيء مصرور فقال له استاذه إيش هذا معك فقال لوزات دفعها إلى أخ لي وقال أحب أن تفطر عليها فقال يا شقيق وأنت تحدث نفسك أنك تبقى إلى الليل لا كلمتك أبدا قال فأغلق في وجهي الباب ودخل وقال عمر بن عبد العزيز في خطبته إن لكل سفر زادا لا محالة فتزودوا لسفركم من الدنيا إلى الآخرة التقوى وكونوا كمن عاين ما أعد الله من ثوابه وعقابه ترغبوا وترهبوا ولا يطولن عليكم الأمد فتقسو قلوبكم وتنقادوا لعدوكم فإنه والله ما بسط أمل من لا يدرى لعله لا يصبح بعد مسائه ولا يمسى بعد صباحه وربما كانت بين ذلك خطفات المنايا وكم رأيت ورأيتم من كان بالدنيا مغترا وإنما تقر عين من
Daud Ath-Tha'i berkata, "Jikalau aku berangan-angan untuk hidup selama sebulan, niscaya aku memandang diriku telah melakukan perkara yang sangat besar. Bagaimana mungkin aku berangan-angan demikian, padahal aku melihat musibah kematian mendatangi makhluk pada waktu-waktu malam dan siang?" Diceritakan pula bahwa Syaqiq Al-Balkhi mendatangi gurunya yang bernama Abu Hasyim Ar-Rummani, sementara di ujung kainnya ada sesuatu yang terikat. Gurunya bertanya, "Apakah ini yang ada bersamamu?" Ia menjawab, "Beberapa butir kacang almond yang diberikan oleh seorang saudaraku, ia berkata: 'Aku ingin engkau berbuka puasa dengannya.'" Maka gurunya berkata, "Wahai Syaqiq, apakah engkau membiarkan dirimu membayangkan bahwa engkau akan tetap hidup sampai malam hari? Aku tidak akan pernah berbicara padamu lagi!" Syaqiq berkata, "Lalu beliau menutup pintu di hadapanku dan masuk." Dan Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khotbahnya, "Sesungguhnya setiap perjalanan itu niscaya membutuhkan bekal. Maka berbekallah untuk perjalanan kalian dari dunia menuju akhirat dengan takwa. Jadilah kalian seperti orang yang telah menyaksikan sendiri apa yang disiapkan Allah berupa pahala dan siksa-Nya, agar kalian berharap dan takut. Janganlah panjang angan-angan membuat masa berlalu lama bagi kalian sehingga hati kalian menjadi keras dan tunduk kepada musuh kalian. Demi Allah, sungguh tidaklah membentangkan angan-angan orang yang tidak tahu bahwa boleh jadi ia tidak mendapati pagi setelah sore harinya, dan tidak mendapati sore setelah pagi harinya. Boleh jadi pula di antara rentang waktu itu terjadi sambaran kematian. Betapa banyak aku melihat dan kalian pun melihat orang yang terperdaya oleh dunia, padahal hanyalah tenteram mata orang yang…"
وثق بالنجاة من عذاب الله تعالى وإنما يفرح من أمن أهوال القيامة فأما من لا يداوى كلما إلا أصابه جرح من ناحية أخرى فكيف يفرح أعوذ بالله من أن آمركم بما لا أنهى عنه نفسي فتخسر صفقتي وتظهر عيبتي وتبدو مسكنتي في يوم يبدو فيه الغنى والفقر والموازين فيه منصوبة لقد عنيتم بأمر لو عنيت به النجوم لانكدرت ولو عنيت به الجبال لذابت ولو عنيت به الأرض لتشققت أما تعلمون أنه ليس بين الجنة والنار منزلة وإنكم صائرون إلى إحداهما
"…percaya akan keselamatan dari azab Allah Ta'ala, dan hanyalah berbahagia orang yang aman dari kedahsyatan hari Kiamat. Adapun orang yang tidaklah disembuhkan suatu lukanya melainkan tertimpa luka lain dari sisi yang berbeda, maka bagaimana ia bisa berbahagia? Aku berlindung kepada Allah dari memerintahkan kalian melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak melarang diriku darinya, sehingga merugilah perniagaanku, tampaklah cacatku, dan tersingkaplah kemiskinanku pada hari diperlihatkan padanya kekayaan dan kemiskinan serta timbangan-timbangan ditegakkan. Sungguh, kalian telah diperintahkan untuk memperhatikan suatu perkara yang jika sekiranya bintang-bintang diperintahkan dengannya niscaya akan berjatuhan, jika gunung-gunung diperintahkan dengannya niscaya akan hancur meleleh, dan jika bumi diperintahkan dengannya niscaya akan terbelah. Tidakkah kalian mengetahui bahwa tidak ada tempat tinggal antara surga dan neraka, dan sesungguhnya kalian pasti akan menuju ke salah satu dari keduanya?"
وكتب رجل إلى أخ له أما بعد فإن الدنيا حلم والآخرة يقظة والمتوسط بينهما الموت ونحن في أضغات أحلام والسلام
Seseorang menulis surat kepada saudaranya: "Amma ba'du, sesungguhnya dunia adalah mimpi, akhirat adalah kesadaran saat terjaga, dan perantara di antara keduanya adalah kematian, sedangkan kita berada dalam mimpi-mimpi yang kacau. Wassalam."
وكتب آخر إلى أخ له إن الحزن على الدنيا طويل والموت من الإنسان قريب وللنقص في كل يوم منه نصيب وللبلاء في جسمه دبيب فبادر قبل أن تنادى بالرحيل والسلام
Yang lain menulis kepada saudaranya: "Sesungguhnya kesedihan atas dunia itu panjang, kematian itu dekat dari manusia, setiap hari ada bagian dari kekurangan pada dirinya, dan musibah terus merayap di tubuhnya. Maka bersegeralah sebelum engkau dipanggil untuk berangkat pergi. Wassalam."
وقال الحسن كان آدم ﵇ قبل أن يخطئ أمله خلف ظهره وأجله بين عينيه فلما أصاب الخطيئة حول فجعل أمله بين عينيه وأجله خلف ظهره
Al-Hasan berkata, "Nabi Adam 'alaihissalam sebelum melakukan kesalahan, angan-angannya berada di belakang punggungnya dan ajalnya berada di hadapan kedua matanya. Namun ketika ia melakukan kesalahan, hal itu terbalik: ia menjadikan angan-angannya berada di hadapan kedua matanya dan ajalnya di belakang punggungnya."
وقال عبد الله بن سميط سمعت أبي يقول أيها المغتر بطول صحته أما رأيت ميتا قط من غير سقم أيها المغتر بطول المهلة أما رأيت مأخوذا قط من غير عدة إنك لو فكرت في طول عمرك لنسيت ما قد تقدم من لذاتك أبالصحة تغترون أم بطول العافية تمرحون أم الموت تأمنون أم على ملك الموت تجترئون إن ملك الموت إذا جاء لا يمنعه منك ثروة مالك ولا كثرة احتشادك أما علمت أن ساعة الموت ذات كرب وغصص وندامة على التفريط ثم يقال رحم الله عبدا عمل لما بعد الموت رحم الله عبداً نظر لنفسه قبل نزول الموت وقال أبو زكريا التيمي بينما سليمان بن عبد الملك في المسجد الحرام إذ أتى بحجر منقور فطلب من يقرؤه فأتى بوهب بن منبه فإذا فيه ابن آدم إنك لو رأيت قرب ما بقى من أجلك لزهدت في طول أملك ولرغبت في الزيادة من عملك ولقصرت من حرصك وحيلك وإنما يلقاك غدا ندمك لو قد زلت بك قدمك وأسلمك أهلك وحشمك وفارقك الوالد والقريب ورفضك الولد والنسيب فلا أنت إلى دنياك عائد ولا في حسناتك زائد فاعمل ليوم القيامة قبل الحسرة والندامة فبكى سليمان بكاء شديدا وقال بعضهم رأيت كتابا من محمد بن يوسف إلى عبد الرحمن بن يوسف سلام عليك فإني أحمد الله إليك الذي لا إله إلا هو أما بعد فإني أحذرك متحولك من دار مهلتك إلى دار إقامتك وجزاء أعمالك فتصير في قرار باطن الأرض بعد ظاهرها فيأتيك منكر ونكير فيقعدانك وينتهرانك فإن يكن الله معك فلا يأس ولا وحشة ولا فاقة وإن يكن غير ذلك فأعاذني الله وإياك من سوء مصرع وضيق مضجع ثم تبلغك صيحة الحشر ونفخ الصور وقيام الجبار لفصل قضاء الخلائق وخلاء الأرض من أهلها والسماوات من سكانها فباحت الأسرار وأسعرت النار ووضعت الموازين وجىء بالنبيين والشهداء وقضى بينهم بالحق وقيل الحمد لله رب العالمين فكم من مفتضح ومستور وكم من هالك وناج وكم من معذب ومرحوم فيا ليت شعري مالى وحالك يومئذ ففي هذا ما هدم اللذات وأسلى عن الشهوات وقصر عن الأمل وأيقظ النائمين وحذر الغافلين أعاننا الله وإياكم على هذا الخطر العظيم وأوقع الدنيا والآخرة من قلبي وقلبك موقعهما من قلوب المتقين فإنما نحن به وله والسلام وخطب عمر بن عبد العزيز فحمد الله وأثنى عليه وقال أيها الناس إنكم لم تخلقوا عبثا ولن تتركوا سدى وإن لكم معادا يجمعكم الله فيه للحكم والفضل فيما بينكم فخاب وشقى غدا عبد أخرجه الله من رحمته التي وسعت كل شيء وجنته التي عرضها السموات والأرض وإنما يكون الأمان غدا لمن خاف واتقى وباع قليلا بكثير وفانيا بباق وشقوة بسعادة ألا ترون أنكم في أسلاب الهالكين وسيخلف بعدكم الباقون ألا ترون أنكم في كل يوم تشيعون غاديا ورائحا إلى الله ﷿ قد قضى نحبه وانقطع أمله فتضعونه في بطن صدع من الأرض غير موسد ولا ممهد
Abdullah bin Sumaith berkata: Aku mendengar ayahku berkata, "Wahai orang yang terperdaya oleh panjangnya kesehatan, pernahkah engkau melihat orang mati tanpa penyakit? Wahai orang yang terperdaya oleh penundaan yang lama, pernahkah engkau melihat orang dijemput maut tanpa persiapan? Seandainya engkau merenungkan panjangnya umurmu, niscaya engkau melupakan kelezatan yang telah lalu. Apakah dengan kesehatan engkau terperdaya, atau dengan panjangnya keafiatan engkau bersuka ria, ataukah terhadap kematian engkau merasa aman, ataukah terhadap Malaikat Maut engkau berani? Sesungguhnya Malaikat Maut apabila datang, melimpahnya hartamu dan banyaknya pengawalmu tidak akan mampu menghalanginya darimu. Tidakkah engkau tahu bahwa saat kematian itu penuh dengan kedukaan, kesengsaraan, dan penyesalan atas kelalaian? Kemudian dikatakan: Semoga Allah merahmati seorang hamba yang beramal untuk kehidupan setelah kematian, semoga Allah merahmati seorang hamba yang memperhatikan dirinya sebelum turunnya kematian." Dan Abu Zakariya At-Taimi berkata: Ketika Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba dibawakan kepadanya sebuah batu berukir, lalu ia mencari orang yang bisa membacanya. Maka dibawakanlah Wahb bin Munabbih, ternyata di dalamnya tertulis: "Wahai anak Adam, seandainya engkau melihat betapa dekatnya sisa ajalmu, niscaya engkau akan zuhud dari panjangnya angan-anganmu, sangat ingin menambah amalmu, serta mengurangi ketamakan dan tipu dayamu. Sesungguhnya penyesalanmu besok akan menemui jika kakimu telah tergelincir, keluarga dan pelayanmu telah menyerahkanmu, orang tua serta kerabat memisahkan diri darimu, dan anak serta sanak saudara menolakmu. Engkau tidak akan kembali ke duniamu dan tidak pula bertambah kebaikan-kebaikanmu, maka beramallah untuk hari Kiamat sebelum datangnya kerugian dan penyesalan." Maka Sulaiman pun menangis dengan tangisan yang amat sedih. Sebagian dari mereka berkata: Aku melihat surat dari Muhammad bin Yusuf kepada Abdurrahman bin Yusuf: "Keselamatan atasmu. Sesungguhnya aku memuji Allah bagimu, yang tidak ada tuhan selain Dia. Amma ba'du, sesungguhnya aku memperingatkanmu tentang perpindahanmu dari negeri tenggang waktumu menuju negeri tempat tinggalmu dan balasan amal perbuatanmu. Maka engkau akan berada di kedalaman perut bumi setelah sebelumnya berada di atas permukaannya. Lalu Munkar dan Nakir akan mendatangi serta mendudukkan dan membentakmu. Jika Allah bersamamu, maka tidak ada keputusasaan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada kemiskinan. Namun jika selain itu, semoga Allah melindungiku dan engkau dari keburukan tempat kejatuhan dan kesempitan tempat berbaring. Kemudian teriakan hari berbangkit, tiupan sangkakala, dan berdirinya Al-Jabbar (Allah Yang Mahaperkasa) untuk memutuskan perkara di antara para makhluk mencapaimu, serta kosongnya bumi dari penghuninya dan langit dari penduduknya. Maka tersingkaplah rahasia-rahasia, dinyalakanlah neraka, diletakkanlah timbangan-timbangan, didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi, serta diputuskan perkara di antara mereka dengan adil dan diucapkan: 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.' Betapa banyak orang yang dipertontonkan aibnya dan orang yang ditutupi aibnya, betapa banyak orang yang binasa dan orang yang selamat, serta betapa banyak orang yang diazab dan orang yang dirahmati. Duhai sekiranya aku tahu bagaimana keadaanku dan keadaanmu pada hari itu! Pada hal ini terdapat perkara yang menghancurkan kelezatan-kelezatan, mengusir syahwat-syahwat, memotong angan-angan, membangunkan orang-orang yang tidur, dan memperingatkan orang-orang yang lalai. Semoga Allah menolong kami dan kalian atas bahaya yang besar ini, serta menempatkan kedudukan dunia dan akhirat di hatiku dan hatimu sebagaimana kedudukan keduanya di hati orang-orang yang bertakwa. Karena sesungguhnya kita hanyalah dengan-Nya dan untuk-Nya. Wassalam." Dan Umar bin Abdul Aziz berkhotbah, maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak diciptakan secara sia-sia dan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Sesungguhnya kalian memiliki hari kembali tempat Allah mengumpulkan kalian untuk menetapkan hukum dan karunia di antara kalian. Maka sungguh rugi dan celaka esok hari hamba yang dikeluarkan oleh Allah dari rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu dan dari surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi. Sesungguhnya keamanan pada hari esok hanyalah bagi orang yang takut dan bertakwa, yang menjual yang sedikit dengan yang banyak, yang fana dengan yang kekal, dan kesengsaraan dengan kebahagiaan. Tidakkah kalian melihat bahwa kalian berada di bekas-bekas peninggalan orang-orang yang binasa, dan akan digantikan oleh orang-orang yang tersisa setelah kalian? Tidakkah kalian melihat bahwa setiap hari kalian mengantar orang yang pergi di pagi atau sore hari menuju Allah Azza wa Jalla, yang telah genap ajalnya dan terputus angan-angannya, lalu kalian meletakkannya di dalam rongga belahan bumi tanpa beralaskan bantal dan tanpa berhamparan kasur?"
قد خلع الأسباب وفارق الأحباب وواجه الحساب وايم الله إني لأقول مقالتي هذه ولا أعلم عند أحدكم من الذنوب أكثر مما أعلم من نفسي ولكنها سنن من الله عادلة آمر فيها بطاعته وأنهى فيها عن معصيته واستغفر الله ووضع كمه على وجهه وجعل يبكي حتى بلت دموعه لحيته وما عاد إلى مجلسه حتى مات
"Ia telah menanggalkan segala perantara, berpisah dari para kekasih, dan menghadapi perhitungan (hisab). Demi Allah, sungguh aku mengatakan perkataanku ini sedang aku tidak mengetahui dosa pada seseorang di antara kalian yang lebih banyak daripada apa yang aku ketahui dari diriku sendiri. Namun ini adalah sunnah-sunnah yang adil dari Allah, yang di dalamnya aku memerintahkan ketaatan kepada-Nya dan melarang dari kemaksiatan kepada-Nya. Dan aku memohon ampunan kepada Allah." Lalu beliau meletakkan lengan bajunya di wajahnya dan menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, dan beliau tidak pernah kembali ke majelisnya itu hingga beliau wafat.
وقال القعقاع بن حكيم قد استعددت للموت منذ ثلاثين سنة فلو أتاني ما أحببت تأخير شيء عن شيء
Al-Qa'qa' bin Hakim berkata, "Aku telah bersiap-siap menghadapi kematian sejak tiga puluh tahun yang lalu. Seandainya ia mendatangi aku, aku tidak ingin menunda satu perkara pun dari perkara lainnya."
وقال الثوري رأيت شيخا في مسجد الكوفة يقول أنا في هذا المسجد منذ ثلاثين سنة لو أنتظر الموت أن ينزل بي ولو أتاني ما أمرته بشيء ولا نهيته عن شيء ولا لى على أحد شيء ولا لأحد عندي شيء
Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Aku melihat seorang syekh di Masjid Kufah berkata: 'Aku berada di masjid ini sejak tiga puluh tahun yang lalu menunggu kematian turun kepadaku. Seandainya kematian datang kepadaku, aku tidak akan memerintahkannya melakukan sesuatu dan tidak melarangnya dari sesuatu. Aku tidak memiliki hak menuntut apa pun atas seseorang, dan tidak ada seorang pun yang memiliki hak tuntutan padaku.'"
وقال عبد الله بن ثعلبة تضحك ولعل أكفانك قد خرجت من عند القصار
Abdullah bin Tha'labah berkata, "Engkau tertawa, padahal boleh jadi kain kafanmu telah keluar dari tukang pencuci kain."
وقال أبو محمد بن علي الزاهد خرجنا في جنازة بالكوفة وخرج فيها داود الطائي فانتبذ فقعد ناحية وهي تدفن فجئت فقعدت قريبا منه فتكلم فقال من خاف الوعيد قصر عليه البعيد ومن طال أمله ضعف عمله وكل ما هو آت قريب واعلم يا أخي أن كل شيء يشغلك عن ربك فهو عليك مشؤم واعلم أن أهل الدنيا جميعا من أهل القبور إنما يندمون على ما يخلفون ويفرحون بما يقدمون فما ندم عليه أهل القبور أهل الدنيا عليه يقتتلون وفيه يتنافسون وعليه عند القضاة يختصمون وروى أن معروفاً الكرخي رحمه الله تعالى أقام الصلاة قال محمد بن أبي توبة فقال لي تقدم فقلت إني إن صليت بكم هذه الصلاة لم أصل بكم غيرها فقال معروف وأنت تحدث نفسك أن تصلي صلاة أخرى نعوذ بالله من طول الأمل فإنه يمنع من خير العمل
Abu Muhammad bin Ali Az-Zahid berkata: Kami keluar mengiringi jenazah di Kufah, dan Daud Ath-Tha'i juga ikut serta. Lalu beliau memisahkan diri dan duduk di satu sisi saat jenazah sedang dimakamkan. Aku pun datang lalu duduk di dekat beliau. Beliau berbicara dan berkata, "Barang siapa takut akan ancaman siksa, niscaya hal yang jauh menjadi terasa dekat baginya. Barang siapa yang panjang angan-angannya, niscaya lemah amalnya. Setiap apa yang akan datang itu adalah dekat. Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa segala sesuatu yang memalingkanmu dari Tuhanmu adalah kesialan bagimu. Ketahuilah bahwa seluruh penduduk dunia dari kalangan ahli kubur hanyalah menyesali apa yang mereka tinggalkan dan bergembira atas apa yang telah mereka persembahkan berupa amal saleh. Maka apa yang disesali oleh para ahli kubur, justru itulah yang diperebutkan oleh penduduk dunia, dibanggakan secara kompetitif, dan diperkarakan di hadapan para hakim." Dan diriwayatkan bahwa Ma'ruf Al-Karkhi rahimahullah Ta'ala mengumandangkan iqamah shalat, Muhammad bin Abi Taubah berkata: Lalu beliau berkata kepadaku, "Majulah (menjadi imam)." Aku menjawab, "Jika aku memimpin shalat ini bersama kalian, aku tidak akan memimpin shalat lain setelahnya." Maka Ma'ruf berkata, "Apakah engkau membiarkan dirimu membayangkan akan melakukan shalat yang lain? Kita berlindung kepada Allah dari panjang angan-angan, karena sesungguhnya itu menghalangi dari sebaik-baik amal."
وقال عمر بن عبد العزيز في خطبته إن الدنيا ليست بدار قراركم دار كتب الله عليها الفناء وكتب على أهلها الظعن عنها فكم من عامر موثق عما قليل يخرب وكم من مقيم مغتبط عما قليل يظعن فأحسنوا رحمكم الله منها الرحلة بأحسن ما بحضرتكم من النقلة وتزودوا فإن خير الزاد التقوى إنما الدنيا كفىء ظلال قلص فذهب بينا ابن آدم في الدنيا ينافس وهو قدير العين إذ دعاه الله بقدره ورماه بيوم حتفه فسلبه آثاره ودنياه وصير لقوم آخرين مصانعه ومغناه إن الدنيا لا تسر بقدر ما تضر إنها تسر قليلا وتحزن طويلا
Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khotbahnya, "Sesungguhnya dunia bukanlah negeri tempat tinggal kalian yang kekal. Ia adalah negeri yang telah Allah tetapkan kebinasaan baginya dan Allah tetapkan kepergian darinya bagi para penghuninya. Betapa banyak bangunan yang megah dan kokoh dalam waktu singkat menjadi runtuh hancur, dan betapa banyak orang yang menetap dengan penuh gembira dalam waktu singkat harus pergi berpindah. Maka perbaikilah kepergian kalian darinya—semoga Allah merahmati kalian—dengan sebaik-baik perbekalan perpindahan yang ada pada kalian, dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Sesungguhnya dunia itu tak ubahnya seperti naungan bayang-bayang yang menyusut lalu lenyap. Ketika anak Adam sedang bersaing di dunia dalam keadaan bersenang-senang, tiba-tiba Allah memanggilnya dengan takdir-Nya dan melemparnya dengan hari kematiannya, lalu merampas peninggalan serta dunianya, dan menjadikan benteng-benteng serta kekayaannya milik kaum yang lain. Sesungguhnya dunia tidaklah menyenangkan sebanding dengan kadar bahayanya; ia hanya menyenangkan sedikit dan menyedihkan dalam waktu yang panjang."
وعن أبي بكر الصديق رضي الله تعالى عنه إنه كان يقول في خطبته أين الوضاء الحسنة وجوههم المعجبون بشبابهم أين الملوك الذين بنوا المدائن وحصنوها بالحيطان أين الذين كانوا يعطون الغلبة في مواطن الحرب قد تضعضع بهم الدهر فأصبحوا في ظلمات القبور الوحا الوحا ثم النجا النجا
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ta'ala 'anhu bahwa beliau biasa berkata dalam khotbahnya, "Di manakah orang-orang yang elok nan rupawan wajahnya, yang bangga dengan masa mudanya? Di manakah para raja yang membangun kota-kota dan mengukuhkannya dengan benteng-benteng? Di manakah orang-orang yang selalu diberi kemenangan di medan peperangan? Sungguh zaman telah menghempaskan mereka sehingga mereka berada di dalam kegelapan kubur. Bersegeralah, bersegeralah! Kemudian selamatkanlah diri, selamatkanlah diri!"
بيان السبب في طول الأمل وعلاجه
Penjelasan tentang Sebab Panjang Angan-Angan dan Obat Penawarnya
اعلم أن طول الأمل له سببان أحدهما الجهل والآخر حب الدنيا
Ketahuilah bahwa panjang angan-angan (thulul amal) memiliki dua sebab: salah satunya adalah kebodohan dan yang lainnya adalah cinta dunia (hubbud dunya).
أما حب الدنيا فهو أنه إذا أنس بها وبشهواتها ولذاتها وعلائقها ثقل على قلبه مفارقتها فامتنع قلبه من الفكر في الموت الذي هو سبب مفارقتها وكل من كره شيئا دفعه عن نفسه والإنسان مشغوف بالأماني الباطلة فيمنى نفسه أبدا بما يوافق مراده وإنما يوافق مراده البقاء في الدنيا فلا يزال يتوهمه ويقدره في نفسه ويقدر توابع البقاء وما يحتاج إليه من مال وأهل ودار وأصدقاء ودواب وسائر أسباب الدنيا فيصير قلبه عاكفا على هذا الفكر موقوفا عليه فيلهو عن ذكر الموت فلا يقدر قربه فإن خطر له في بعض الأحوال أمر الموت والحاجة إلى الإستعداد له سوف ووعد نفسه وقال الأيام بين يديك إلى أن تكبر ثم تتوب وإذا كبر فيقول إلى أن تصير شيخا فإذا صار شيخا قال إلى أن تفرغ من بناء هذه الدار وعمارة هذه الضيعة أو ترجع من هذه السفرة أو تفرغ من تدبير هذا الولد وجهازه وتدبير مسكن له أو تفرغ من قهر هذا العدو الذي يشمت بك
Adapun cinta dunia, yaitu apabila seseorang telah merasa tenteram dengannya, dengan syahwat-syahwatnya, kelezatan-kelezatannya, dan keterikatannya, maka terasa beratalah bagi hatinya untuk berpisah darinya. Akibatnya, hatinya enggan berpikir tentang kematian yang merupakan sebab perpisahan darinya. Setiap orang yang membenci sesuatu tentu akan mengusirnya dari dirinya. Manusia itu sangat keranjingan dengan angan-angan batil, sehingga ia selalu menuruti angan-angan dirinya dengan apa yang sesuai dengan keinginannya. Padahal yang sesuai dengan keinginannya hanyalah kelestarian hidup di dunia. Maka ia senantiasa membayangkannya dan menakdirkannya dalam dirinya, serta mengira-ngira konsekuensi dari kelestarian hidup itu dan apa saja yang dibutuhkannya berupa harta, keluarga, rumah, sahabat, kendaraan, dan seluruh sarana duniawi lainnya. Sehingga hatinya menjadi tekun terpaut pada pemikiran ini dan terhenti padanya, lalu melalaikan ingatan akan kematian dan tidak memperkirakan dekatnya kematian itu. Jika dalam sebagian keadaan terlintas di hatinya urusan kematian dan kebutuhan untuk bersiap menghadapinya, ia menunda-nunda (taswif) dan memberi janji palsu kepada dirinya seraya berkata, "Hari-hari masih panjang di hadapanmu, tunggulah sampai engkau dewasa lalu engkau bertobat." Dan apabila ia telah dewasa, ia berkata, "Tunggulah sampai engkau menjadi tua." Lalu apabila ia telah menjadi tua, ia berkata, "Tunggulah sampai engkau selesai dari membangun rumah ini, mengelola ladang ini, atau kembali dari perjalanan ini, atau selesai dari mengurus anak ini serta perkelengkapannya dan menyediakan tempat tinggal baginya, atau selesai dari menundukkan musuh yang mencelamu ini."
فَلَا يَزَالُ يُسَوِّفُ وَيُؤَخِّرُ وَلَا يَخُوضُ فِي شُغُلٍ إِلَّا وَيَتَعَلَّقُ بِإِتْمَامِ ذَلِكَ الشُّغُلِ عَشَرَةُ أشغال أخر وهكذا على التدريج
Maka ia senantiasa menunda-nunda dan mengakhirkan, serta tidaklah ia mendalami suatu kesibukan melainkan keterikatan untuk menyelesaikan kesibukan itu melahirkan sepuluh kesibukan lainnya, dan demikianlah seterusnya secara bertahap.
يُؤَخِّرُ يَوْمًا بَعْدَ يَوْمٍ وَيُفْضِي بِهِ شُغُلٌ إِلَى شُغُلٍ بَلْ إِلَى أَشْغَالٍ إِلَى أَنْ تختطفه الْمَنِيَّةُ فِي وَقْتٍ لَا يَحْتَسِبُهُ فَتَطُولُ عِنْدَ ذَلِكَ حَسْرَتُهُ وَأَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ وَصِيَاحُهُمْ مِنْ سَوْفَ يَقُولُونَ وَاحُزْنَاهُ مِنْ سَوْفَ
Ia menunda-nunda hari demi hari, dan satu kesibukan menyeretnya kepada kesibukan yang lain, bahkan kepada berbagai kesibukan, hingga kematian merenggutnya secara tiba-tiba di waktu yang tidak ia sangka-sangka. Maka pada saat itulah penyesalannya menjadi panjang. Dan sebagian besar jeritan serta teriakan penghuni neraka adalah berasal dari ucapan "nanti" (menunda-nunda). Mereka akan berkata, "Alangkah malangnya diriku karena ucapan nanti!"
وَالْمُسَوِّفُ الْمِسْكِينُ لَا يَدْرِي أَنَّ الَّذِي يَدْعُوهُ إِلَى التَّسْوِيفِ الْيَوْمَ هُوَ مَعَهُ غَدًا وَإِنَّمَا يَزْدَادُ بِطُولِ الْمُدَّةِ قُوَّةً وَرُسُوخًا وَيَظُنُّ أَنَّهُ يَتَصَوَّرُ أَنْ يكون للخائض في الدنيا والحافظ لها فراغ قط وهيهات فما يفرغ منها إلا من طرحها فَمَا قَضَى أَحَدٌ مِنْهَا لُبَانَتَهُ … وَمَا انْتَهَى أرب إلا إلى أرب
Orang miskin yang suka menunda-nunda (al-musawwif) itu tidak menyadari bahwa faktor yang mendorongnya untuk menunda-nunda hari ini akan tetap bersamanya esok hari, bahkan justru akan semakin kuat dan mengakar seiring bertambahnya waktu. Ia mengira bahwa mungkinkah ada waktu luang bagi orang yang tenggelam dalam urusan dunia dan menggenggamnya? Sungguh jauh dari kenyataan! Tidak ada yang bisa lepas dari kesibukan dunia kecuali orang yang membuangnya. Sebab, tidak ada seorang pun yang pernah menuntaskan seluruh hajat dunianya… dan tidaklah suatu keinginan berakhir melainkan akan melahirkan keinginan yang lain.
وأصل هذه الأماني كلها حب الدنيا والأنس بها والغفلة عن معنى قوله ﷺ أحبب من أحببت فإنك مفارقه
Akar dari seluruh angan-angan kosong ini adalah kecintaan kepada dunia, rasa nyaman dengannya, serta kelalaian dari makna sabda Rasulullah ﷺ: "Cintailah siapa pun yang engkau cintai, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya."
وأما الجهل فهو أن الإنسان قد يعول على شبابه فيستبعد قرب الموت مع الشباب وليس يتفكر المسكين أن مشايخ بلده لو عدوا لكانوا أقل من عشر رجال البلد وإنما قلوا لأن الموت في الشباب أكثر فإلى أن يموت شيخ يموت ألف صبي وشاب
Adapun kebodohan, ia wujud dalam bentuk seseorang yang mengandalkan kemudaannya sehingga menganggap kematian masih jauh lantaran ia masih muda. Orang miskin ini tidak merenungkan bahwa jika para sesepuh di negerinya dihitung, jumlah mereka kurang dari sepuluh persen dari penduduk negeri tersebut. Jumlah mereka sedikit justru karena kematian di usia muda lebih banyak terjadi; sebelum seorang tua meninggal dunia, seribu anak-anak dan pemuda telah mendahuluinya.
وقد يستبعد الموت لصحته ويستبعد الْمَوْتِ فَجْأَةً وَلَا يَدْرِي أَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ بعيد وإن كان ذلك بعيدا فالمرض فجأة غير بعيد وكل مرض فإنما يقع فجأة وإذا مرض لم يكن الموت بعيد ولو تفكر هذا الغافل وعلم أن الموت ليس له وقت مخصوص مِنْ شَبَابٍ وَشَيْبٍ وَكُهُولَةٍ وَمِنْ صَيْفٍ وَشِتَاءٍ وخريف وربيع من ليل ونهار لعظم استشعاره واشتغل بالاستعداد له ولكن الجهل بهذه الأمور وحب الدنيا دعواه إلى طول الأمل وإلى الغفلة عن تقدير الموت القريب فهو أبدا يظن أن الموت يكون بين يديه ولا يقدر نزوله به ووقوعه فيه وهو أبدا يظن أنه يشيع الجنائز ولا يقدر أن تشيع جنازته لأن هذا قد تكرر عليه وألفه وهو مشاهدة موت غيره فأما موت نفسه فلم يألفه ولم يتصور أن يألفه فإنه لم يقع وإذا وقع في دفعه أخرى بعد هذه فهو الأول وهو الآخر
Terkadang seseorang menganggap kematian masih jauh karena kesehatannya dan menganggap kematian mendadak itu mustahil, padahal ia tidak tahu bahwa hal itu tidaklah jauh. Kalaupun kematian mendadak itu dianggap jauh, maka datangnya penyakit secara mendadak bukanlah hal yang jauh, dan setiap penyakit senantiasa datang secara mendadak. Dan jika ia sudah sakit, maka kematian tidak lagi jauh. Seandainya orang yang lalai ini mau merenung dan menyadari bahwa kematian tidak memiliki waktu khusus—baik di masa muda, tua, maupun setengah baya; baik di musim panas, dingin, gugur, maupun semi; baik malam maupun siang—niscaya rasa kewaspadaannya akan menghebat dan ia akan sibuk bersiap menghadapinya. Akan tetapi, kebodohan terhadap perkara-perkara ini serta kecintaan pada dunia telah menyeretnya kepada panjang angan-angan (thulul amāl) dan kelalaian dalam membayangkan dekatnya ajalnya. Ia selalu mengira bahwa kematian berada di hadapan orang lain dan tidak pernah mengandaikan turun dan menimpa dirinya. Ia selalu mengira bahwa ialah yang mengiringi jenazah dan tidak mengandaikan jenazahnya yang akan diiringi, sebab hal ini telah berulang kali ia saksikan dan terbiasa baginya, yaitu menyaksikan kematian orang lain. Adapun kematian dirinya sendiri, ia belum terbiasa dan tidak dapat membayangkan kebiasaan itu karena hal itu belum terjadi. Dan jika kematian itu kelak terjadi pada kesempatan berikutnya, maka itulah yang pertama sekaligus yang terakhir baginya.
وسبيله أَنْ يَقِيسَ نَفْسَهُ بِغَيْرِهِ وَيَعْلَمَ أَنَّهُ لَا بُدَّ وَأَنْ تُحْمَلَ جِنَازَتُهُ وَيُدْفَنَ فِي قَبْرِهِ ولعل اللبن الذي يغطي به لحده قد ضرب وفرغ منه وهو لا يدري فتسويفه جهل محض
Jalannya adalah hendaknya ia mengkiaskan dirinya dengan orang lain dan menyadari bahwa jenazahnya kelak pasti akan dipikul dan dikuburkan di dalam liang lahatnya. Boleh jadi batu bata yang akan menutupi liang lahatnya telah dicetak dan diselesaikan sedangkan ia tidak menyadarinya. Maka, sikap menunda-nundanya itu adalah murni bentuk kebodohan.
وإذا عرفت أن سببه الجهل وحب الدنيا فعلاجه دفع سببه
Apabila engkau telah mengetahui bahwa penyebabnya adalah kebodohan dan cinta dunia, maka obatnya adalah dengan menghilangkan penyebabnya.
أما الجهل فيدفع بالفكر الصافي من القلب الحاضر وبسماع الحكمة البالغة من القلوب الطاهرة
Adapun kebodohan, ia dihilangkan dengan tafakur yang jernih dari hati yang hadir (khusyuk) serta dengan mendengarkan hikmah yang mendalam dari hati-hati yang suci.
وأما حب الدنيا فالعلاج في إخراجه من القلب شديد وهو الداء العضال الذي أعيا الأولين والآخرين علاجه ولا علاج له إِلَّا الْإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِمَا فِيهِ مِنْ عظيم العقاب وجزيل الثواب ومهما حَصَلَ لَهُ الْيَقِينُ بِذَلِكَ ارْتَحَلَ عَنْ قَلْبِهِ حُبُّ الدُّنْيَا فَإِنَّ حُبَّ الْخَطِيرِ هُوَ الَّذِي يمحو عن القلب حب الحقير فإذا رأى حقارة الدنيا ونفاسة الآخرة استنكف أن يلتفت إلى الدنيا كلها وإن أعطى ملك الأرض من المشرق إلى المغرب وكيف وليس عنده من الدنيا إلا قدر يسير مكدر منغص فكيف يفرح بها أو يترسخ في القلب حبها مع الإيمان بالآخرة فنسأل الله تعالى أن يرينا الدنيا كما أراها الصالحين من عباده
Adapun cinta dunia, maka pengobatannya untuk mengeluarkannya dari hati sangatlah berat. Ia merupakan penyakit kronis yang membuat lelah orang-orang terdahulu maupun kemudian dalam mengobatinya. Tidak ada obat baginya kecuali iman kepada hari akhir beserta siksa yang amat dahsyat dan pahala yang amat besar di dalamnya. Manakala keyakinan (yaqin) akan hal itu telah terpatri padanya, niscaya kecintaan kepada dunia akan pergi meninggalkan hatinya. Sebab, kecintaan kepada perkara yang agung itulah yang mengikis kecintaan kepada perkara yang hina dari dalam hati. Apabila ia melihat kehinaan dunia dan keagungan akhirat, ia akan enggan berpaling kepada dunia secara keseluruhan, sekalipun ia diberi kerajaan bumi dari timur hingga barat. Lalu bagaimana mungkin (ia akan terbuai), padahal bagian dunia yang ada padanya hanyalah sedikit, keruh, dan penuh kekeruhan? Lantas bagaimana ia dapat bergembira dengannya atau bagaimana cinta dunia dapat mengakar di dalam hatinya padahal ia beriman kepada akhirat? Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala agar memperlihatkan kepada kita hakikat dunia sebagaimana Dia telah memperlihatkannya kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.
ولا علاج في تقدير الموت في القلب مثل النظر إلى من مات من الأقران والأشكال وأنهم كيف جاءهم الموت في وقت لم يحتسبوا
Dan tidak ada obat dalam menghadirkan kesadaran akan kematian di dalam hati yang sebanding dengan melihat orang-orang yang telah wafat dari kalangan sebaya dan kerabat, serta bagaimana kematian mendatangi mereka pada waktu yang tidak mereka sangka-sangka.
أما من كان مستعدا فقد فاز فوزا عظيما وأما من كان مغرورا بطول الأمل فقد خسر خسرانا مبينا
Adapun barang siapa yang telah bersiap diri, maka sungguh ia telah beruntung dengan keberuntungan yang besar. Dan barang siapa yang terperdaya oleh panjang angan-angan, maka sungguh ia telah rugi dengan kerugian yang nyata.
فلينظر الإنسان كل ساعة في أطرافه وأعضائه وليتدبر أنها كيف تأكلها الديدان لا محالة وكيف تتفتت عظامها وليتفكر أن الدود يبدأ بحدقته اليمنى أولا أو اليسرى فما على بدنه شيء إلا وهو طعمة الدود وما له من نفسه إلا العلم والعمل الخالص لوجه الله تعالى
Maka hendaklah manusia setiap saat memandangi anggota tubuh dan persendiannya, lalu merenungkan bagaimana ulat-ulat tanah pasti akan memakannya dan bagaimana tulang-belulangnya akan hancur lebur. Hendaklah ia bertafakur apakah ulat akan mulai memakan biji mata kanannya terlebih dahulu atau mata kirinya, sebab tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya melainkan akan menjadi makanan ulat, dan tidak ada yang berguna bagi dirinya selain ilmu dan amal yang ikhlas demi mengharapkan keridaan Allah Ta'ala.
وكذلك يتفكر فيما سنورده من عذاب القبر وسؤال منكر ونكير ومن الحشر والنشر وأهوال القيامة وقرع النداء يوم العرض الأكبر
Demikian pula hendaklah ia merenungkan apa yang akan kami paparkan mengenai azab kubur, pertanyaan Munkar dan Nakir, kebangkitan dan pengumpulan (al-hasyr wan-nasyr), dahsyatnya hari kiamat, serta gemuruh panggilan pada hari menghadap yang maha agung (yaumul 'ardhil akbar).
فأمثال هذه الأفكار هي التي تجدد ذكر الموت على قلبه وتدعوه إلى الاستعداد له
Pemikiran-pemikiran semisal inilah yang akan memperbarui ingatan akan kematian di dalam hatinya dan mendorongnya untuk bersiap diri menghadapinya.
بيان مراتب الناس في طول الأمل وقصره
Penjelasan mengenai tingkatan manusia dalam panjang dan pendeknya angan-angan (thulul amāl wa qashruhu).
أعلم أن الناس في ذلك يتفاوتون فمنهم من يأمل البقاء ويشتهى ذلك أبدا قال الله تعالى يود أحدهم لو يعمر ألف سنة ومنهم من يأمل البقاء إلى الهرم وهو أقصى العمر الذي شاهده ورآه وهو الذي يحب الدنيا حبا شديدا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الشيخ شاب في حب طلب الدنيا وإن التفت ترقوتاه من الكبر إلا الذين اتقوا وقليل ما هم ومنهم من يأمل إلى سنة فلا يشتغل بتدبير ما وراءها فلا يقدر لنفسه وجودا في عام قابل ولكن هذا يستعد في الصيف للشتاء وفي الشتاء للصيف فإذا جمع ما يكفيه لسنته اشتغل بالعبادة ومنهم من يأمل مدة الصيف أو الشتاء فلا يدخر في الصيف ثياب الشتاء ولا في الشتاء ثياب الصيف
Ketahuilah bahwa manusia dalam hal ini berbeda-beda tingkatan. Di antara mereka ada yang berharap tetap hidup dan mendambakan hal itu selamanya. Allah Ta'ala berfirman, "Masing-masing dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun." Di antara mereka ada pula yang berharap tetap hidup hingga usia renta, yaitu batas usia maksimal yang pernah ia saksikan dan lihat, dan ia adalah orang yang sangat mencintai dunia secara berlebihan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang tua itu hatinya tetap muda dalam hal mencintai dan menuntut dunia, sekalipun kedua tulang selangkangannya telah bengkok karena tua renta; kecuali orang-orang yang bertakwa, dan jumlah mereka sangat sedikit." Di antara mereka ada yang menaruh harapan hingga satu tahun, sehingga ia tidak disibukkan oleh pengaturan urusan di luar tahun tersebut, dan tidak mengandaikan keberadaan dirinya pada tahun berikutnya. Namun, orang semacam ini bersiap-siap di musim panas untuk menghadapi musim dingin, dan di musim dingin untuk menghadapi musim panas. Maka apabila ia telah mengumpulkan apa yang mencukupinya selama satu tahun, ia sibuk beribadah. Dan di antara mereka ada yang angan-angannya hanya sebatas rentang musim panas atau musim dingin, sehingga ia tidak menyimpan pakaian musim dingin di musim panas, dan tidak pula pakaian musim panas di musim dingin.
ومنهم من يرجع أمله إلى يوم وليلة فلا يستعد إلا لنهاره وأما للغد فلا
Di antara mereka ada yang angan-angannya hanya sebatas sehari semalam, sehingga ia tidak bersiap-siap melainkan untuk siangnya, sedangkan untuk esok hari ia tidak (menyiapkan apa pun).
قال عيسى ﵇ لا تهتموا برزق غد فإن يكن غد من آجالكم فستأتى فيه أرزاقكم مع آجالكم وإن لم يكن من آجالكم فلا تهتموا لآجال غيركم
Nabi Isa 'alaihissalam berkata, "Janganlah kalian merisaukan rezeki esok hari. Jika esok hari termasuk dari bagian ajal (sisa umur) kalian, niscaya rezeki kalian akan datang di dalamnya bersamaan dengan ajal kalian. Dan jika esok hari bukan bagian dari ajal kalian, maka janganlah kalian merisaukan ajal orang lain."
ومنهم من لا يجاوز أمله ساعة كما قال نبينا ﷺ يا عبد الله إذا أصبحت فلا تحدث نفسك بالمساء وإذا أمسيت فلا تحدث نفسك بالصباح ومنهم من لا يقدر البقاء أيضا ساعة كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يتيمم مع القدرة على الماء قبل مضي ساعة ويقول لعلى لا أبلغه ومنهم من يكون الموت نصب عينيه كأنه واقع به فهو ينتظره وهذا الإنسان هو الذي يصلي صلاة مودع وفيه ورد ما نقل عن معاذ بن جبل رضي الله تعالى عنه لما سأله رسول الله ﷺ عن حقيقة إيمانه فقال ما خطوت خطوة إلا ظننت أنى لا أتبعها أخرى وكما نقل عن الأسود وهو حبشي أنه كان يصلي ليلا ويلتفت يمينا وشمالا فقال له قائل ما هذا قال أنظر ملك الموت من أي جهة يأتينى
Di antara mereka ada yang angan-angannya tidak melampaui kurun waktu satu jam, sebagaimana sabda Nabi kita ﷺ, "Wahai hamba Allah, jika engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau membisikkan jiwamu dengan waktu sore, dan jika engkau berada di sore hari maka janganlah membisikkan jiwamu dengan waktu pagi." Di antara mereka ada pula yang bahkan tidak mengandaikan dirinya bertahan hidup walau satu jam; Rasulullah ﷺ pernah bertayamum padahal mampu menggunakan air sebelum berlalunya satu jam, seraya bersabda, "Bisa jadi aku tidak sampai menyentuh air tersebut." Dan di antara mereka ada yang menjadikan kematian senantiasa di pelupuk mata seolah-olah sedang menimpanya sehingga ia menunggunya. Manusia jenis inilah yang mendirikan shalat seperti shalatnya orang yang berpamitan (shalat muwaddi'). Mengenai hal ini terdapat riwayat dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya tentang hakikat imannya, ia menjawab, "Aku tidak melangkah satu langkah pun melainkan aku menyangka bahwa aku tidak akan menyusulnya dengan langkah berikutnya." Sebagaimana pula diriwayatkan dari Al-Aswad, seorang pria Habasyah, bahwasanya ia shalat di malam hari lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Seseorang bertanya kepadanya, "Apakah ini?" Ia menjawab, "Aku sedang memperhatikan Malaikat Maut, dari arah manakah ia akan mendatangi aku."
فهذه مراتب الناس ولكل درجات عند الله وليس من أمله مقصور على شهر كمن أمله شهر ويوم بل بينهما تفاوت في الدرجة عند الله ف إن الله لا يظلم مثقال ذرة ومن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ثم يظهر أثر قصر الأمل في المبادرة إلى العمل وكل إنسان يدعى أنه قصير الأمل وهو كاذب إنما يظهر ذلك بأعماله فإنه يعتنى بأسباب ربما لا يحتاج إليها في سنة فيدل ذلك على طول أمله
Maka inilah tingkatan-tingkatan manusia, dan bagi masing-masing ada derajat di sisi Allah. Orang yang angan-angannya terbatas pada satu bulan tidaklah sama dengan orang yang angan-angannya sebulan ditambah sehari, melainkan di antara keduanya terdapat perbedaan derajat di sisi Allah. Sebab sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun seberat dzarrah, dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya ia akan melihat perbalasannya. Kemudian, pengaruh dari pendeknya angan-angan (qashrul amal) itu tampak pada kesegeraan dalam beramal. Setiap orang bisa saja mengaku bahwa ia pendek angan-angan padahal ia berdusta, sebab hal itu hanya tampak nyata melalui amal perbuatannya. Jika ia sangat menyibukkan diri dengan sarana-sarana yang mungkin tidak ia butuhkan dalam kurun waktu satu tahun, maka hal itu menunjukkan akan panjangnya angan-angannya (thulul amal).
وإنما علامة التوفيق أن يكون الموت نصب العين لا يغفل عنه ساعة فليستعد للموت الذي يرد عليه في الوقت فإن عاش إلى المساء شكر الله تعالى على طاعته وفرح بأنه لم يضيع نهاره بل استوفى منه حظه وادخره لنفسه ثم يستأنف مثله إلى الصباح وهكذا إذا أصبح
Sesungguhnya tanda taufik (pertolongan Allah) adalah ketika kematian senantiasa berada di depan mata tanpa dilupakan barang sesaat pun. Maka hendaklah ia bersiap menghadapi kematian yang bisa datang kepadanya sewaktu-waktu. Jika ia masih hidup hingga sore hari, ia bersyukur kepada Allah Ta'ala atas ketaatan yang dilakukannya dan bergembira karena tidak mensia-siakan siangnya, melainkan telah mengambil bagian pahala darinya serta menabungnya untuk dirinya sendiri. Kemudian ia memulai kembali hal serupa hingga pagi hari, dan demikian pula ketika ia memasuki waktu pagi.
ولا يتيسر هذا إلا لمن فرغ القلب عن الغد وما يكون فيه
Hal ini tidak akan mudah dicapai melainkan oleh orang yang telah mengosongkan hatinya dari angan-angan tentang esok hari dan apa yang akan terjadi di dalamnya.
فمثل هذا إذا مات سعد وغنم وإن عاش سر بحسن الاستعداد ولذة المناجاة فالموت له سعادة والحياة له مزيد فليكن الموت على بالك يا مسكين فإن السير حاث بك وأنت غافل عن نفسك ولعلك قد قاربت المنزل وقطعت المسافة ولا تكون كذلك إلا بمبادرة العمل اغتناما لكل نفس أمهلت فيه
Maka orang yang seperti ini, jika ia meninggal dunia, ia akan berbahagia dan beruntung. Dan jika ia tetap hidup, ia bergembira dengan indahnya persiapannya dan kelezatan bermunajat. Maka kematian baginya adalah kebahagiaan, dan kehidupan baginya adalah tambahan kebaikan. Oleh karena itu, hendaklah kematian selalu ada dalam benakmu wahai orang miskin (yang lemah)! Sesungguhnya perjalanan (menuju akhirat) terus memburumu sedangkan engkau lalai akan dirimu. Boleh jadi engkau telah mendekati tempat tujuan dan telah menempuh sebagian besar jarak perjalanannya. Engkau tidak akan dapat bersiap kecuali dengan bersegera beramal untuk memanfaatkan setiap helaan napas yang masih diberikan kepadamu.
بيان المبادرة إلى العمل وحذر آفة التأخير
Penjelasan tentang bersegera dalam beramal dan mewaspadai bahaya menunda-nunda.
اعلم أن من له أخوان غائبان وينتظر قدوم أحدهما في غد وينتظر قدوم الآخر بعد شهر أو سنة فلا يستعد للذي يقدم إلى شهر أو سنة وإنما يستعد للذي ينتظر قدومه غد
Ketahuilah bahwa barangsiapa memiliki dua saudara yang sedang bepergian, lalu ia menantikan kedatangan salah satunya esok hari dan menantikan kedatangan yang lainnya setelah sebulan atau setahun, maka ia tidak akan bersiap-siap untuk saudara yang baru datang bulan depan atau tahun depan. Ia hanya akan bersiap-siap untuk saudara yang ia nanti kedatangannya esok hari.
فالاستعداد نتيجة قرب الإنتظار فمن انتظر مجيء الموت بعد سنة اشتغل قلبه بالمدة ونسى ما وراء المدة ثم يصبح كل يوم وهو منتظر للسنة بكمالها لا ينقص منها اليوم الذي مضى وذلك يمنعه من مبادرة العمل أبدا يرى لنفسه متسعا في تلك السنة فيؤخر العمل كما قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما ينتظر أحدكم من الدنيا إلا غنى مطغبا أو فقرا منسيا أو مرضا مفسدا أو هرما مقيدا أو موتا مجهزا أو الدجال فالدجال شر غائب ينتظر أو الساعة والساعة أدهى وأمر وقال ابن عباس قال النبي ﷺ لرجل وهو يعظه اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَقَالَ ﷺ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ من الناس الصحة والفراغ حديث من خاف أدلج ومن أدلج بلغ المنزل أخرجه الترمذي من حديث ابن عباس وقد تقدم حديث جاءت الرجفه تتبعها الرادفة الحديث أخرجه الترمذي وحسنه من حديث أبي بن كعب حديث كان إذا أنس من أصحابه غفلة أو غرة نادى فيهم بصوت رفيع أتتكم المنية الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في قصر الأمل من حديث زيد السليمي مرسلا حديث أبي هريرة أنا النذير والموت المغير والساعة الموعد أخرجه أبن أبي الدنيا في قصر الأمل وأبو القاسم البغوي بإسناد فيه لين حديث ابن عمر خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ والشمس على أطراف السعف فقال ما بقى من الدنيا إلا مثل ما بقى من يومنا هذا في مثل ما مضى منه أخرجه ابن أبي الدنيا فيه بإسناد حسن والترمذي نحوه من حديث أبي سعيد وحسنه حديث مثل الدنيا مثل ثوب شق من أوله إلى آخره الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا فيه من حديث أنس ولا يصح وقال ابن مسعود ﵁ تلا رسول الله ﷺ فمن يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ﴿فقال﴾ إن النور إذا دخل الصدر انفسح فقيل يا رسول الله هل لذلك من علامة تعرف
Maka kesiapan (al-isti'dad) merupakan buah dari dekatnya penantian. Barangsiapa menantikan kedatangan ajal/kematian setelah satu tahun, hatinya akan disibukkan oleh jangka waktu tersebut dan ia melupakan apa yang ada di balik jangka waktu itu. Kemudian setiap hari ia melalui paginya dengan menanti waktu satu tahun secara utuh tanpa menganggap berkurang oleh hari yang telah berlalu. Hal demikian menghalanginya dari bersegera dalam beramal selamanya, karena ia memandang masih ada kelapangan waktu baginya dalam tahun tersebut sehingga ia menunda-nunda amal. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah ada yang ditunggu oleh salah seorang dari kalian dari dunia ini melainkan kekayaan yang menyesatkan, kemiskinan yang membuat lupa, penyakit yang merusak, masa tua yang melemahkan, kematian yang menyergap dengan cepat, Dajal—dan Dajal adalah seburuk-buruk gaib yang ditunggu—atau hari kiamat, padahal kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.' Dan Ibnu Abbas berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki ketika menasihatinya: 'Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu.' Dan beliau ﷺ bersabda: 'Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.' Hadis: 'Barangsiapa yang takut, niscaya ia berjalan di awal malam; dan barangsiapa berjalan di awal malam, niscaya ia sampai ke tujuan' (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadis Ibnu Abbas). Dan telah berlalu hadis: 'Telah datang tiupan pertama (ar-rajifah) yang diikuti oleh tiupan kedua (ar-radifah)…' (Hadis diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menghasankannya dari hadis Ubay bin Ka'b). Hadis: Apabila beliau mendapati timbulnya kelalaian atau keteledoran pada sahabatnya, beliau menyeru mereka dengan suara lantang: 'Telah datang kepada kalian kematian…' (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Qashar al-Amal dari hadis Zaid as-Sulami secara mursal). Hadis Abu Hurairah: 'Aku adalah pemberi peringatan, kematian adalah penyerbu, dan Kiamat adalah waktu yang dijanjikan' (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Qashar al-Amal dan Abu al-Qasim al-Baghawi dengan sanad yang padanya terdapat kelemahan). Hadis Ibnu Umar: Rasulullah ﷺ keluar saat matahari berada di ujung pelepah kurma, lalu beliau bersabda: 'Tidaklah tersisa dari dunia ini melainkan seperti tersisanya hari kita ini dari apa yang telah berlalu darinya' (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya padanya dengan sanad hasan, dan at-Tirmidzi meriwayatkan semisalnya dari hadis Abu Sa'id dan menghasankannya). Hadis: 'Perumpamaan dunia seperti pakaian yang robek dari awal hingga akhirnya…' (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya padanya dari hadis Anas, dan hadis ini tidak shahih). Dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ membaca ayat: 'Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam' (QS. Al-An'am: 125). Lalu beliau bersabda: 'Sesungguhnya cahaya itu apabila telah masuk ke dalam dada, maka dada itu akan lapang.' Lalu ditanyakan: 'Wahai Rasulullah, apakah ada tanda untuk mengenalnya?'
﴿قال﴾ نعم التجافي عن دار الغرور والإنابة إلى دار الخلود والاستعداد للموت قبل نزوله وقال السدي الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم احسن عملا أي أيكم أكثرللموت ذكرا وأحسن له استعدادا وأشد منه خوفا وحذرا
Beliau bersabda: 'Ya, yaitu merenggangkan diri dari negeri tipu daya (dunia), kembali ke negeri keabadian (akhirat), dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum kedatangannya.' Dan as-Suddi berkata mengenai firman Allah Ta'ala: 'Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya' (QS. Al-Mulk: 2), yakni siapa di antara kamu yang paling banyak mengingat kematian, paling baik persiapannya untuk itu, serta paling besar rasa takut dan kewaspadaannya terhadapnya.
وقال حذيفة ما من صباح ولا مساء إلا ومنادى ينادى أيها الناس الرحيل الرحيل
Dan Hudzaifah berkata: 'Tidak ada suatu pagi maupun sore melainkan ada penyeru yang menyerukan: Wahai manusia, bersiaplah untuk berangkat, bersiaplah untuk berangkat!'
وتصديق ذلك قوله تعالى إنها لإحدى الكبر نذيرا للبشر لمن شاء منكم أن يتقدم أو يتأخر في الموت
Dan pembenaran atas hal itu adalah firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya neraka Saqar itu adalah salah satu (bencana) yang sangat besar, sebagai ancaman bagi manusia, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju (dengan taat) atau mundur (dengan bermaksiat)' (QS. Al-Muddatstsir: 35-37) dalam menyikapi kematian.
وقال سحيم مولى بني تميم جلست إلى عامر بن عبد الله وهو يصلي فأوجز في صلاته ثم أقبل على فقال أرحني بحاجتك فإني أبادر قلت وما تبادر قال ملك الموت رحمك الله قال فقمت عنه وقام إلى صلاته
Dan Suhaim, bekas hamba sahaya Bani Tamim, berkata: 'Aku duduk di dekat 'Amir bin 'Abdullah ketika ia sedang shalat, lalu ia memperringkas shalatnya kemudian menghadap kepadaku seraya berkata: Bebaskanlah aku dengan menyampaikan hajatmu (segera), karena sesungguhnya aku sedang berlomba. Aku bertanya: Perlombaan apa yang sedang engkau lakukan? Ia menjawab: Berlomba mendahului Malaikat Maut, semoga Allah merahmatimu. Suhaim berkata: Maka aku pun berdiri meninggalkannya, dan ia kembali melanjutkan shalatnya.'
ومر داود الطائي فسأله رجل عن حديث فقال دعنى إنما أبادر خروج نفسي قال عمر ﵁ التؤدة في كل شيء خير إلا في أعمال الخير للآخرة
Dan Daud ath-Tha'i lewat, lalu seseorang bertanya kepadanya tentang sebuah hadis, maka ia menjawab: 'Biarkanlah aku, sesungguhnya aku sedang berlomba mendahului keluarnya nafas-ku (kematianku).' Umar radhiyallahu 'anhu berkata: 'Kehati-hatian dan ketenangan dalam segala hal itu baik, kecuali dalam amalan-amalan kebaikan untuk akhirat.'
وقال المنذر سمعت مالك بن دينار يقول لنفسه ويحك بادرى قبل أن يأتيك الأمر ويحك بادرى قبل أن يأتيك الأمر حتى كرر ذلك ستين مرة أسمعه ولا يراني
Dan al-Mundzir berkata: 'Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya sendiri: Celaka engkau, bersegeralah sebelum perkara (kematian) itu mendatangi dirimu! Celaka engkau, bersegeralah sebelum perkara itu mendatangi dirimu! Hingga ia mengulanginya sebanyak enam puluh kali, aku mendengarnya sedang ia tidak melihatku.'
وَكَانَ الحسن يَقُولُ فِي مَوْعِظَتِهِ الْمُبَادِرَةَ الْمُبَادِرَةَ فَإِنَّمَا هِيَ الْأَنْفَاسُ لَوْ حُبِسَتِ انْقَطَعَتْ عَنْكُمْ أَعْمَالُكُمُ الَّتِي تَتَقَرَّبُونَ بِهَا إِلَى اللَّهِ ﷿ رحم الله امرأ نَظَرَ إِلَى نَفْسِهِ وَبَكَى عَلَى عَدَدِ ذُنُوبِهِ ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عدا يَعْنِي الْأَنْفَاسَ آخِرُ الْعَدَدِ خُرُوجُ نَفْسِكَ آخِرُ الْعَدَدِ فِرَاقُ أَهْلِكَ آخِرُ الْعَدَدِ دُخُولُكَ فِي قبرك
Al-Hasan biasa berkata dalam nasihatnya: 'Bersegeralah, bersegeralah! Karena sesungguhnya hidup ini hanyalah kumpulan hembusan napas. Jika napas itu ditahan, niscaya terputuslah amal-amal kalian yang dengannya kalian mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla. Semoga Allah merahmat seseorang yang melihat kepada dirinya sendiri dan menangisi jumlah dosa-dosanya.' Kemudian ia membaca ayat ini: 'Kami hanya menghitung (hari-hari) untuk mereka dengan hitungan yang teliti' (QS. Maryam: 84), yakni hitungan napas. Akhir dari hitungan itu adalah keluarnya napasmu, akhir dari hitungan itu adalah perpisahanmu dengan keluargamu, dan akhir dari hitungan itu adalah masuknya engkau ke dalam kuburmu.
واجتهد أبو موسى الأشعري قبل موته اجتهادا شديدا فقيل له لو أمسكت أو رفقت بنفسك بعض الرفق فقال إن الخيل إذا أرسلت فقاربت رأس مجراها أخرجت جميع ما عندها والذي بقي من أجلى أقل من ذلك قال فلم يزل على ذلك حتى مات
Dan Abu Musa al-Asy'ari berijtihad (bersungguh-sungguh dalam ibadah) dengan sangat keras menjelang kematiannya, lalu dikatakan kepadanya: 'Alangkah baiknya jika engkau menahan diri sedikit atau bersikap lemah lembut kepada dirimu.' Maka ia menjawab: 'Sesungguhnya kuda balap itu apabila dilepaskan dan mendekati garis akhir perjalanannya, ia akan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada padanya. Dan sisa ajalku lebih sedikit daripada itu.' Perawi berkata: Maka ia senantiasa demikian hingga ia wafat.
وكان يقول لامرأته شدي رحلك فليس على جهنم معبرة
Dan ia pernah berkata kepada istrinya: 'Kencangkanlah ikatan perbekalanmu, karena di atas neraka Jahanam tidak ada jembatan persinggahan (yang mudah dilalui tanpa kesungguhan).'
وقال بعض الخلفاء على منبره عباد الله اتقوا الله ما استطعتم وكونوا قوما صيح بهم فانتبهوا وعلموا أن الدنيا ليست لهم بدار فاستبدلوا واستعدوا للموت فقد أظلكم وترحلوا فقد جد بكم وإن غاية تنقصها اللحظة وتهدمها الساعة لجديرة بقصر المدة وإن غائبا يجد به الجديدان الليل والنهار لحرى بسرعة الأوبة وإن قادما يحل بالفوز أو الشقوة لمستحق لأفضل العدة فالتقى عند ربه من ناصح نفسه وقدم توبته وغلب شهوته فإن أجله مستور عنه وأمله خادع له والشيطان موكل به يمنيه التوبة ليسوقها ويزين إليه المعصية ليرتكبها حتى تهجم منيته عليه أغفل ما يكون عنها وإنه ما بين أحدكم وبين الجنة أو النار إلا الموت أن ينزل به فيا لها حسرة على ذي غفلة أو يكون عمره عليه حجة وان ترديه أيامه إلى شقوة جعلنا الله وإياكم ممن لا تبطره نعمة ولا تقصر به عن طاعة الله معصية ولا يحل به بعد الموت حسرة إنه سميع الدعاء وإنه بيده الخير دائما فعال لما يشاء
Sebagian khalifah pernah berkata di atas mimbar: 'Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah semampu kalian! Jadilah kaum yang diteriaki lalu mereka terbangun, dan mereka menyadari bahwa dunia bukanlah negeri tempat tinggal mereka, maka mereka pun mencari gantinya dan bersiap-siap menghadapi kematian yang telah menaungi kalian. Berangkatlah (menuju akhirat) karena sungguh perjalanan kalian telah dipicu dengan cepat! Sesungguhnya akhir kehidupan yang terus berkurang setiap saat dan diruntuhkan oleh waktu benar-benar layak berdurasi singkat. Dan sesuatu yang gaib (kematian) yang terus didorong oleh malam dan siang benar-benar patut untuk segera tiba. Serta sesuatu yang akan datang bawaan kemenangan atau kesengsaraan benar-benar berhak mendapatkan perbekalan terbaik. Maka orang yang bertakwa di sisi Tuhannya adalah orang yang menasihati dirinya sendiri, mendahulukan tobatnya, dan menundukkan hawa nafsunya. Sebab, ajalnya tersembunyi darinya, angan-angannya menipunya, dan setan ditugaskan mengawasinya; setan memberinya angan-angan tobat untuk terus menundanya dan menghiasi kemaksiatan baginya agar ia melakukannya, hingga kematiannya menyergapnya saat ia dalam keadaan paling lalai darinya. Padahal tidak ada jarak antara salah seorang dari kalian dengan Surga atau Neraka melainkan kematian yang turun menimpanya. Alangkah besarnya penyesalan bagi orang yang lalai, atau jika umurnya justru menjadi bumerang baginya, dan hari-harinya menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan! Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang tidak dikufurkan oleh nikmat, tidak dihalangi dari ketaatan kepada Allah oleh maksiat, dan tidak ditimpa penyesalan setelah kematian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa, dan di tangan-Nya lah seluruh kebaikan senantiasa berada, lagi Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.'
وقال بعض المفسرين في قوله تعالى فتنتم أنفسكم قال بالشهوات واللذات وتربصتم قال بالتوبة وارتبتم قال شككتم حتى جاء أمر الله قال الموت وغركم بالله الغرور قال الشيطان وقال الحسن تصبروا وتشددوا فإنما هي أيام قلائل وإنما أنتم ركب وقوف يوشك أن يدعى الرجل منكم فيجيب ولا يلتفت فانتقلوا بصالح ما بحضرتكم
Sebagian ahli tafsir berkata tentang firman Allah Ta'ala: 'Kamu telah mencelakakan dirimu sendiri' (QS. Al-Hadid: 14), ia berkata: 'Yaitu dengan syahwat dan kelezatan dunia.' Dan firman-Nya: 'Dan kamu menanti-nanti', ia berkata: 'Yaitu menanti-nanti tobat.' Dan firman-Nya: 'Dan kamu ragu-ragu', ia berkata: 'Yaitu ragu-ragu terhadap kebenaran.' 'Sampai datang keputusan Allah', ia berkata: 'Yaitu kematian.' 'Dan kamu telah ditipu oleh (setan) yang maha penipu', ia berkata: 'Yaitu setan.' Dan al-Hasan berkata: 'Bersabarlah dan bersungguh-sungguhlah! Karena sesungguhnya ini hanyalah hari-hari yang sedikit. Kalian tidak lain adalah rombongan musafir yang sedang berhenti sejenak; hampir saja seseorang dari kalian dipanggil lalu ia memenuhi panggilan itu tanpa menoleh lagi. Maka berpindahlah (ke akhirat) dengan membawa amal shalih yang ada pada kalian.'
وقال ابن مسعود ما منكم من أحد أصبح إلا وهو ضيف وما له عارية والضيف مرتحل والعارية مؤداة
Dan Ibnu Mas'ud berkata: 'Tidak ada seorang pun dari kalian yang memasuki waktu pagi melainkan ia adalah seorang tamu, dan harta miliknya adalah pinjaman. Sedangkan tamu itu pasti akan berangkat pergi, dan barang pinjaman itu harus dikembalikan.'
وقال أبو عبيدة الباجي دخلنا على الحسن في مرضه الذي مات فيه فقال مرحبا بكم وأهلا حياكم الله بالسلام وأحلنا وإياكم دار المقام هذه علانية حسنة إن صبرتم وصدقتم واتقيتم فلا يكن حظكم من هذا الخبر رحمكم الله أن تسمعوه بهذه الأذن وتخرجوه من هذه الأذن فإن من رأى محمداً ﷺ فقد رآه غاديا
Dan Abu 'Ubaidah al-Baji berkata: 'Kami menjenguk al-Hasan pada sakit yang membawa kematiannya, lalu ia berkata: Selamat datang kepada kalian! Semoga Allah menyapa kalian dengan kesejahteraan dan menempatkan kami serta kalian di negeri keabadian (Surga). Ini adalah keterbukaan yang baik jika kalian bersabar, jujur (tulus), dan bertakwa. Maka jangan sampai bagian kalian dari perkataan ini—semoga Allah merahmat kalian—hanya sekadar mendengarkannya dengan telinga ini lalu mengeluarkannya dari telinga ini. Sebab barangsiapa melihat Muhammad ﷺ, sungguh ia telah melihat beliau pergi di waktu pagi…'
ورائحا لم يضع لبنة على لبنة ولا قصبة على قصبة ولكن رفع له علم فشمر إليه الوحا الوحا النجا النجا علام تعرجون أتيتم ورب الكعبة كأنكم والأمر معا رحم الله عبدا جعل العيش عيشا واحدا فأكل كسرة ولبس خلقا ولزق بالأرض واجتهد في العبادة وبكى على الخطيئة وهرب من العقوبة وابتغى الرحمة حتى يأتيه أجله وهو على ذلك وقال عاصم الأحول قال لي فضيل الرقاشي وأنا سائلة يا هذا لا يشغلنك كثرة الناس عن نفسك فإن الأمر يخلص إليك دونهم ولا تقل أذهب ههنا وههنا فينقطع عنك النهار في لا شيء فإن الأمر محفوظ عليك ولم تر شيئا قط أحسن طلبا ولا أسرع إدراكا من حسنة حديثة لذنب قديم
…dan pulang di waktu sore tanpa pernah menumpuk batu bata di atas batu bata lainnya, atau jalinan bambu di atas jalinan bambu lainnya. Namun telah ditegakkan baginya sebuah panji/tanda, maka beliau pun bersiap-siap menyongsongnya: Segeralah! Segeralah! Keselamatan! Keselamatan! Mengapa kalian masih tertahan? Demi Tuhan Ka'bah, kalian telah didatangi (kematian) seolah-olah kalian dan perkara itu terjadi bersamaan! Semoga Allah merahmat hamba yang menjadikan pola hidupnya satu jenis saja: ia memakan sepotong roti, memakai pakaian usang, menempelkan diri ke tanah (rendah hati), bersungguh-sungguh dalam ibadah, menangisi dosa kesalahan, lari dari siksaan, dan mencari rahmat hingga ajalnya mendatangi dirinya dalam keadaan demikian.' Dan 'Ashim al-Ahwal berkata: Fudhayl ar-Raqqasyi berkata kepadaku sewaktu aku bertanya kepadanya: 'Wahai Fulan, jangan sampai banyaknya manusia menyibukkanmu dari dirimu sendiri, karena perkara (perhitungan akhirat) itu akan tertuju khusus kepadamu tanpa mereka! Dan janganlah engkau berkata: Aku akan pergi ke sini dan ke sana, sehingga harimu habis dalam kesia-siaan, sebab sungguh perkara itu dicatat dan dijaga atasmu. Dan engkau tidak akan pernah melihat sesuatu yang paling baik pencariannya dan paling cepat pencapaiannya melebihi satu kebaikan baru untuk menghapus dosa lama.'
الباب الثالث في سكرات الموت وشدته وما يستحب من الأحوال عنده
Bab Ketiga: Sakaratul Maut dan Kedahsyatannya serta Keadaan-Keadaan yang Disukai saat Menghadapinya
اعْلَمْ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيِ الْعَبْدِ الْمِسْكِينِ كَرْبٌ وَلَا هَوْلٌ وَلَا عَذَابٌ سِوَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ بِمُجَرَّدِهَا لَكَانَ جَدِيرًا بِأَنْ يَتَنَغَّصَ عَلَيْهِ عَيْشُهُ وَيَتَكَدَّرَ عَلَيْهِ سُرُورُهُ وَيُفَارِقَهُ سَهْوُهُ وَغَفْلَتُهُ وَحَقِيقًا بِأَنْ يُطَوِّلَ فِيهِ فِكْرَهُ وَيُعَظِّمَ لَهُ اسْتِعْدَادَهُ لَا سِيَّمَا وَهُوَ فِي كُلِّ نَفَسٍ بِصَدَدِهِ كَمَا قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ كَرْبٌ بِيَدِ سِوَاكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَغْشَاكَ
Ketahuilah bahwa seandainya di hadapan seorang hamba yang miskin (lemah) ini tidak ada penderitaan, kedahsyatan, maupun siksaan selain sakaratul maut itu sendiri, niscaya sudah sepatutnya hal itu merusak kenikmatan hidupnya, mengeruhkan kegembiraannya, serta melenyapkan kelalaian dan kelengahannya. Sudah selayaknya pula ia memperpanjang perenungan tentangnya dan memperbesar persiapannya untuk menyambutnya, terlebih lagi ia berada dalam ancamannya pada setiap hembusan napas. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian hukama (orang bijak): "Penderitaan yang berada di tangan selainmu, engkau tidak tahu kapan ia akan menimpamu."
وقال لقمان لابنه
Dan Luqman berkata kepada putranya:
يا بني أمر لا تدري متى يلقاك استعد له قبل أن يفجأك
"Wahai putraku, suatu perkara yang engkau tidak tahu kapan akan menemuimu, maka bersiaplah menghadapinya sebelum ia mendatangimu secara tiba-tiba."
والعجب أن الإنسان لو كان في أعظم اللذات وأطيب مجالس اللهو فانتظر أن يدخل عليه جندي فيضربه خمس خشبات لتكدرت عليه لذته وفسد عليه عيشه وهو في كل نفس بصدد أن يدخل عليه ملك الموت بسكرات النزع وهو عنه غافل فما لهذا سبب إلا الجهل والغرور واعلم أن شدة الألم في سكرات الموت لا يعرفها بالحقيقة إلا من ذاقها ومن لم يذقها فإنما يعرفها إلا بالقياس إلى الآلام التي أدركها وإما الاستدلال بأحوال الناس في النزع على شدة ما هم فيه
Alangkah anehnya manusia, seandainya ia berada dalam kenikmatan terbesar dan majelis kelalaian yang paling menyenangkan, lalu ia menanti seorang prajurit masuk untuk memukulnya dengan lima pukulan kayu, niscaya kenikmatannya akan keruh dan kehidupannya akan rusak. Padahal, pada setiap hembusan napas ia berada dalam ancaman masuknya Malaikat Maut membawa sakaratul maut (kepedihan pencabutan nyawa), namun ia lalai darinya. Tidak ada penyebab bagi hal ini melainkan kebodohan dan keterperdayaan (terbujuk kesenangan duniawi). Ketahuilah bahwa dahsyatnya rasa sakit dalam sakaratul maut tidak diketahui secara hakiki kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Dan barangsiapa belum merasakannya, ia hanya dapat mengetahuinya melalui kias (analogi) dengan rasa sakit yang pernah ia alami, atau dengan mengambil petunjuk dari keadaan orang-orang yang sedang berada dalam sakaratul maut mengenai dahsyatnya apa yang mereka alami.
فأما القياس الذي يشهد له فهو أن كل عضو لا روح فيه فلا يحس بالألم فإذا كان فيه الروح فالمدرك للألم هو الروح فمهما أصاب العضو جرح أو حريق سرى الأثر إلى الروح فيقدر ما يسري إلى الروح يتألم والمؤلم يتفرق على اللحم والدم وسائر الأجزاء فلا يصيب الروح إلا بعض الألم فإن كان في الآلام ما يباشر نفس الروح ولا يلاقي غيره فما أعظم ذلك الألم وما أشده
Adapun kias (analogi) yang menguatkannya adalah bahwa setiap anggota tubuh yang tidak berjiwa (tidak ada ruh padanya) tidak akan merasakan sakit. Jika padanya terdapat ruh, maka yang merasakan rasa sakit itu adalah ruh. Ketika anggota tubuh tertimpa luka atau terbakar, pengaruhnya merambat ke ruh; maka sejauh mana pengaruh itu merambat ke ruh, sebesar itulah rasa sakit yang dialaminya. Penyebab rasa sakit itu terbagi ke daging, darah, dan seluruh bagian tubuh lainnya, sehingga ruh hanya tertimpa sebagian rasa sakit. Maka seandainya di antara rasa sakit itu ada yang langsung mengenai zat ruh itu sendiri dan tidak mengenai selainnya, betapa agungnya rasa sakit itu dan betapa dahsyatnya!
والنزع عبارة عن مؤلم نزل بنفس الروح فاستغرق جميع أجزائه حتى لم يبق جزء من أجزاء الروح المنتشر في أعماق البدن إلا وقد حل به الألم فلو أصابته شوكة فالألم الذي يجده إنما يجري في جزء من الروح يلاقي ذلك الموضع الذي أصابته الشوكة وإنما يعظم أثر الاحتراق لأن أجزاء النار تغوص في سائر أجزاء البدن فلا يبقى جزء من العضو المحترق ظاهرا وباطنا إلا وتصيبه النار فتحسه الأجزاء الروحانية المنتشرة في سائر أجزاء اللحم
Sedangkan pencabutan nyawa (naz'u) adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menimpa zat ruh itu sendiri dan meliputi seluruh bagiannya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari ruh yang tersebar di kedalaman tubuh melainkan telah dihinggapi rasa sakit itu. Apabila seseorang tertusuk duri, maka rasa sakit yang ia rasakan hanya menjalar pada bagian ruh yang bertemu dengan tempat tertusuk duri tersebut. Dan sungguh dahsyat pengaruh luka terbakar karena bagian-bagian api meresap ke seluruh bagian tubuh, sehingga tidak tersisa satu bagian pun dari anggota tubuh yang terbakar, baik lahir maupun batin, melainkan tertimpa api, lalu dirasakan oleh bagian-bagian ruhani yang tersebar di seluruh bagian daging.
وأما الجراحة فإنما تصيب الموضع الذي مسه الحديد فقط فكان لذلك ألم الجرح دون ألم النار فألم النزع يهجم على نفس الروح ويستغرق جميع أجزائه فإنه المنزوع المجذوب من كل عرق من العروق وعصب من الأعصاب وجزء من الأجزاء ومفصل من المفاصل ومن أصل كل شعرة وبشرة من الفرق إلى القدم فلا تسأل عن كربة وألمه حتى قالوا إن الموت لا شد من ضرب بالسيف ونشر بالمناشير وقرض بالمقاريض لأن قطع البدن بالسيف إنما يؤلم لتعلقه بالروح فكيف إذا كان المقاول المباشر نفس الروح وإنما يستغيث المضروب ويصيح لبقاء قوته في قلبه وفي لسانه وإنما انقطع صوت الميت وصياحه من شدة ألمه لأن الكرب قد بالغ فيه وتصاعد على قلبه وبلغ كل
Adapun luka tebasan hanya menimpa bagian yang tersentuh besi saja, oleh karena itu rasa sakit luka tebasan berada di bawah rasa sakit terbakar api. Sedangkan rasa sakit sakaratul maut menyerang zat ruh itu sendiri dan meliputi seluruh bagiannya, karena ruh itulah yang dicabut dan ditarik dari setiap pembuluh darah, urat saraf, bagian tubuh, persendian, serta dari pangkal setiap helai rambut dan kulit dari ujung kepala hingga ujung kaki. Maka janganlah engkau bertanya tentang penderitaan dan rasa sakitnya, hingga para ulama mengatakan bahwa kematian itu sungguh lebih dahsyat daripada sabetan pedang, gergajian gergaji, dan guntingan gunting. Sebab pemotongan tubuh dengan pedang hanya menimbulkan rasa sakit karena keterkaitannya dengan ruh, maka bagaimanakah halnya jika yang langsung ditindak dan dicabut adalah zat ruh itu sendiri? Sesungguhnya orang yang dipukul masih bisa berteriak dan menjerit karena masih tersisanya kekuatan pada hati dan lidahnya. Hanyasanya terputus suara dan jeritan orang yang mati adalah karena sangat dahsyatnya rasa sakit yang dialaminya, sebab penderitaan itu telah memuncak pada dirinya, naik membakar hatinya, dan mencapai setiap
موضع منه فهد كل قوة وضعف كل جارحة فلم يترك له قوة الاستغاثة
bagian tubuhnya, lalu merubuhkan setiap kekuatan dan melemahkan setiap anggota badan, sehingga tidak menyisakan padanya kekuatan untuk meminta pertolongan.
أما العقل فقد غشيه وشوشه
Adapun akal, maka sakaratul maut telah menutupi dan mengacaukannya.
وأما اللسان فقد أبكمه وأما الأطراف فقد ضعفها
Adapun lidah, maka ia telah membukukannya (membuatnya bisu); dan adapun anggota-anggota badan, maka ia telah melemahkannya.
ويود لو قدر على الاستراحة بالأنين والصياح والاستغاثة ولكنه لا يقدر على ذلك فإن بقيت فيه قوة سمعت له عند نزع الروح وجذبها خوارا وغرغرة من حلقه وصدره وقد تغير لونه واربد حتى كأنه ظهر منه التراب الذي هو أصل فطرته وقد جذب منه كل عرق على حياله فالألم منتشر في داخله وخارجه حتى ترتفع الحدقتان إلى أعالي أجفانه وتتقلص الشفتان ويتقلص اللسان إلى أصله وترتفع الأنثيان إلى أعالي موضعهما وتخضر أنامله
Ia sangat berharap seandainya mampu beristirahat (meredakan sakit) dengan merintih, menjerit, dan berteriak meminta pertolongan, namun ia tidak berdaya melakukan itu. Jika masih tersisa sedikit kekuatan padanya, niscaya engkau akan mendengar darinya saat pencabutan dan penarikan ruh berupa suara dengkur dan ngorok (ghargharah) dari tenggorokan dan dadanya, warnanya telah berubah dan memucat keabu-abuan hingga seakan-akan tampak darinya tanah yang merupakan asal kejadiannya. Setiap pembuluh darah ditarik secara terpisah, rasa sakit menyebar di batin dan lahirnya, hingga kedua bola matanya terangkat ke atas kelopak matanya, kedua bibirnya mengerut, lidahnya mengkerut ke pangkalnya, kedua buah zakarnya terangkat ke atas posisinya, dan ujung-ujung jarinya menghijau.
فلا تسل عن بدن يجذب منه كل عرق من عروقه ولو كان المجذوب عرقا واحدا لكان ألمه عظيما فكيف والمجذوب نفس الروح المتألم لا من عرق واحد بل من جميع العروق
Maka janganlah engkau bertanya tentang jasad yang ditarik daripadanya setiap pembuluh darahnya. Seandainya yang ditarik itu hanyalah satu pembuluh darah saja, niscaya rasa sakitnya sudah sangat besar; maka bagaimanakah halnya jika yang ditarik adalah zat ruh itu sendiri yang merasakan sakit bukan dari satu pembuluh darah saja, melainkan dari seluruh pembuluh darah?
ثم يموت كل عضو من أعضائه تدريجا فتبرد أولا قدماه ثم ساقاه ثم فخذاه ولكل عضو سكرة بعد سكرة وكربة بعد كربة حتى يبلغ بها إلى الحلقوم فعند ذلك ينقطع نظره عن الدنيا وأهلها ويغلق دونه باب التوبة وتحيط به الحسرة والندامة وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ تقبل توبة العبد ما لم يغرغر وقال مجاهد في قوله تعالى وليست التوبة للذين يعلمون السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إني تبت الآن قال إذا عاين الرسل فعند ذلك تبدو له صفحة وجه ملك الموت فلا تسأل عن طعم مرارة الموت وكربه عند ترادف سكراته ولذلك كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يقول اللهم هون على محمد سكرات الموت والناس إنما لا يستعيذون منه ولا يستعظمونه لجهلهم به فإن الأشياء قبل وقوعها إنما تدرك بنور النبوة والولاية ولذلك عظم خوف الأنبياء ﵈ والأولياء من الموت حتى قال عيسى ﵇ يا معشر الحواريين ادعوا الله تعالى أن يهون على هذه السكرة يعني الموت فقد خفت الموت مخافة أوقفني خوفي من الموت على الموت وروى أن نفرا من إسرائيل مروا بمقبرة فقال بعضهم لبعض لو دعوتم الله تعالى أن يخرج لكم من هذه المقبرة ميتا تسألونه فدعوا الله تعالى فإذا هم برجل قد قام وبين عينيه أثر السجود قد خرج من قبر من القبور فقال يا قوم ما أردتم مني لقد ذقت الموت منذ خمسين سنة ما سكنت مرارة الموت من قلبي
Kemudian setiap anggota tubuhnya mati secara bertahap: pertama-tama kedua kakinya menjadi dingin, kemudian kedua betisnya, lalu kedua pahanya. Bagi setiap anggota tubuh terdapat sakarat demi sakarat dan penderitaan demi penderitaan hingga ruh itu sampai ke kerongkongan. Pada saat itulah pandangannya terputus dari dunia dan penghuninya, pintu taubat ditutup baginya, serta penyesalan dan kerugian melingkupinya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Taubat seorang hamba akan diterima selama ruhnya belum sampai di kerongkongan (menggorok)." Mujahid berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan tidaklah taubat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, ia berkata: 'Sesungguhnya aku bertaubat sekarang'" (QS. An-Nisa': 18), ia berkata: "Yaitu ketika ia telah menyaksikan para utusan (malaikat)." Pada saat itulah tampak baginya rupa wajah Malaikat Maut, maka janganlah engkau bertanya tentang kepahitan rasa kematian dan penderitaannya ketika sakaratnya datang bertubi-tubi. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ senantiasa berdoa: "Ya Allah, ringankanlah atas Muhammad sakaratul maut." Manusia sesungguhnya tidak memohon perlindungan darinya dan tidak menganggapnya dahsyat hanyalah karena kebodohan mereka tentangnya; sebab segala sesuatu sebelum terjadinya hanya dapat diindera dengan cahaya kenabian (nubuwwah) dan kewalian (wilayah). Oleh sebab itu, sangat besarlah rasa takut para nabi 'alaihimussalam dan para wali terhadap kematian, hingga Nabi Isa 'alaihissalam berkata: "Wahai kaum Hawariyyun, berdoalah kepada Allah Ta'ala agar Dia meringankan dariku sakarat ini—yakni kematian—karena sungguh aku takut pada kematian dengan ketakutan yang melumpuhkanku." Dan diriwayatkan bahwa sekelompok orang dari Bani Israil melewati sebuah pemakaman, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Seandainya kalian berdoa kepada Allah Ta'ala agar Dia mengeluarkan seorang mayit dari pemakaman ini untuk kalian tanyai." Maka mereka pun berdoa kepada Allah Ta'ala, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang bangkit dari salah satu kubur dengan bekas sujud di antara kedua matanya. Laki-laki itu berkata: "Wahai kaum, apa yang kalian inginkan dariku? Sungguh aku telah merasakan kematian sejak lima puluh tahun yang lalu, namun kepahitan kematian belum juga reda dari hatiku."
وقالت عائشة ﵂ لا أغبط أحد يهون عليه الموت بعد الذي رأيت من شدة مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وروي أنه ﵇ كان يقول اللهم إنك تأخذ الروح من بين العصب والقصب والأنامل اللهم فأعني على الموت وهونه علي وعن الحسن أن رسول الله ﷺ ذكر الموت وغصته وألمه فقال هو قدر ثلثمائة ضربة بالسيف وسئل ﷺ عن الموت وشدته فقال إن أهون الموت بمنزلة حسكة في صوف فهل تخرج الحسكة من الصوف إلا ومعها صوف ودخل ﷺ على مريض ثم قال إني أعلم ما يلقى ما منه عرق إلا ويألم للموت على حدته // حديث دخل على مريض فقال أني لايعلم ما يلقى ما منه عرق إلا ويألم للموت على جدته أخرجه ابن أبي الدنيا فيه من حديث سلمان بسند ضعيف ورواه في المرض والكفارات من رواية عبيد بن عمير مرسلا مع إختلاف ورجاله ثقات وكان علي كرم الله وجهه يحض على القتال ويقول
Dan Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Aku tidak iri kepada siapapun yang diringankan kematian atasnya setelah apa yang aku lihat dari dahsyatnya kematian Rasulullah ﷺ." Diriwayatkan bahwa beliau 'alaihissalam berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mencabut ruh dari antara urat saraf, tulang, dan ujung jemari. Ya Allah, maka tolonglah aku menghadapi kematian dan ringankanlah ia atasku." Dari Al-Hasan bahwasanya Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang kematian, cekikannya, dan rasa sakitnya, lalu beliau bersabda: "Ia sebanding dengan tiga ratus sabetan pedang." Dan beliau ﷺ ditanya tentang kematian dan kedahsyatannya, maka beliau bersabda: "Sesungguhnya kematian yang paling ringan itu bagaikan duri yang berada di dalam kain wol. Bukankah duri itu tidak dapat dikeluarkan dari kain wol melainkan membawa serta wol tersebut?" Dan beliau ﷺ pernah menjenguk seorang yang sakit lalu bersabda: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang dialaminya, tidak ada satu pembuluh darah pun padanya melainkan merasakan sakitnya kematian secara tersendiri." // Hadis: Beliau menjenguk orang sakit lalu bersabda: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang dialaminya…" diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya di dalamnya dari hadis Salman dengan sanad yang dha'if; dan diriwayatkan dalam kitab Al-Maradh wa Al-Kaffarat dari riwayat Ubaid bin Umair secara mursal dengan sedikit perbedaan, dan perawinya tsiqah. Dan Ali karramallahu wajhah dahulu selalu mengobarkan semangat untuk berperang seraya berkata:
إن لم تقتلوا تموتوا والذي نفسي بيده لألف ضربة بالسيف أهون علي من موت على فراش
"Jika kalian tidak terbunuh (di jalan Allah), kalian tetap akan mati. Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seribu sabetan pedang jauh lebih ringan bagiku daripada mati di atas tempat tidur."
وقال الأوزاعي بلغنا أن الميت يجد ألم الموت ما لم يبعث من قبره
Al-Auza'i berkata: "Telah sampai kepada kami bahwa seorang mayit tetap merasakan sakitnya kematian selama ia belum dibangkitkan dari kuburnya."
وقال شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وإلى في القدور ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم
Syaddad bin Aus berkata: "Kematian adalah huru-hara paling mengerikan di dunia dan akhirat bagi seorang mukmin. Ia lebih dahsyat daripada digergaji dengan gergaji, digunting dengan gunting, dan direbus dalam kuali. Seandainya seorang mayit dihidupkan kembali lalu mengabarkan kepada penduduk dunia tentang kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan tidak akan merasakan indahnya tidur."
وعن زيد بن أسلم عن أبيه قال إذا بقي على المؤمن من درجاته شيء لم يبلغها بعمله شدد عليه الموت ليبلغ بسكرات الموت وكربه درجته في الجنة وإذا كان للكافر معروف لم يجز به هون عليه في الموت ليستكمل ثواب معروفه فيصير إلى النار
Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata: "Apabila masih ada kedudukan/derajat bagi seorang mukmin yang belum ia capai dengan amalnya, maka kematiannya dipersengit agar ia mencapai kedudukannya di surga melalui sakaratul maut dan penderitaannya. Dan apabila seorang kafir memiliki kebaikan yang belum dibalas, maka kematiannya diringankan agar ia menyempurnakan balasan kebaikannya (di dunia) lalu ia menuju ke neraka."
وعن بعضهم أنه كان يسأل كثيرا من المرضى كيف تجدون الموت فلما مرض قيل له فأنت كيف تجده فقال كأن السموات مطبقة على الأرض وكأن نفسي يخرج من ثقب إبرة
Diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa ia sering bertanya kepada banyak orang sakit: "Bagaimana kalian merasakan (kedatangan) kematian?" Ketika ia sendiri jatuh sakit, ditanyakan kepadanya: "Lalu bagaimana engkau merasakannya?" Ia menjawab: "Seakan-akan langit ditindihkan di atas bumi, dan seakan-akan jiwaku keluar melalui lubang jarum."
وقال ﷺ موت الفجأة راحة للمؤمن وأسف على الفاجر وروى عن مكحول عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال لو أن شعرة من شعر الميت وضعت على أهل السموات والأرض لماتوا بإذن الله تعالى لأن في كل شعرة الموت ولا يقع الموت بشيء إلا مات ويروى لو أن قطرة من ألم الموت وضعت على جبال الدنيا كلها لذابت وروى إن إبراهيم ﵇ لما مات قال الله تعالى له كيف وجدت الموت يا خليلي قال كسفود جعل في صوف رطب ثم جذب فقال أما إنا قد هونا عليك وروى عن موسى ﵇ أنه لما صارت روحه إلى الله تعالى قال له ربه يا موسى كيف وجدت الموت قال وجدت نفسي كالعصفور حين يقلى على المقلى لا يموت فيستريح ولا ينجو فيطير وروى عنه أنه قال وجدت نفسي كشاة حية تسلخ بيد القصاب وروي عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ كان عنده قدح من ماء عند الموت فجعل يدخل يده في الماء ثم يمسح بها وجهه ويقول اللهم هون علي سكرات الموت وفاطمة ﵂ تقول واكرباه لكربك يا أبتاه وهو يقول لا كرب على أبيك بعد اليوم وقال عمر ﵁ لكعب الأحبار يا كعب حدثنا عن الموت فقال نعم يا أمير المؤمنين إن الموت كغصن كثير الشوك أدخل في جوف رجل وأخذت كل شوكة بعرق ثم جذبه رجل شديد الجذب فأخذ ما أخذ وأبقى ما أبقى وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّ العبد ليعالج كرب الموت وسكرات الموت وإن مفاصله ليسلم بعضها على بعض تقول عليك السلام تفارقني وأفارقك إلى يوم القيامة
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Mati mendadak adalah peristirahatan bagi orang beriman dan penyesalan bagi orang yang durhaka." Diriwayatkan dari Makhul dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "Seandainya sehelai rambut dari orang yang mati diletakkan pada penduduk langit dan bumi, niscaya mereka akan mati dengan izin Allah Ta'ala, karena pada setiap helai rambut terdapat kematian, dan kematian tidak menimpa sesuatu melainkan ia akan mati." Diriwayatkan pula: "Seandainya satu tetes dari rasa sakit kematian diletakkan pada seluruh gunung di dunia, niscaya gunung-gunung itu akan hancur meleleh." Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim a.s. wafat, Allah Ta'ala berfirman kepadanya: "Bagaimana engkau mendapati kematian, wahai Kekasih-Ku (Khalil-Ku)?" Beliau menjawab: "Seperti besi pemanggang berkait yang dimasukkan ke dalam bulu domba yang basah lalu ditarik dengan keras." Maka Allah berfirman: "Ketahuilah, sungguh Kami telah meringankannya bagimu." Diriwayatkan dari Nabi Musa a.s. bahwa ketika ruhnya kembali kepada Allah Ta'ala, Tuhannya berfirman kepadanya: "Wahai Musa, bagaimana engkau mendapati kematian?" Beliau menjawab: "Aku mendapati diriku seperti burung pipit ketika digoreng di atas kuali; ia tidak mati sehingga bisa beristirahat, dan tidak pula selamat sehingga bisa terbang." Diriwayatkan juga darinya bahwa beliau berkata: "Aku mendapati diriku seperti domba hidup yang dikuliti oleh tangan tukang jagal." Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa di sisi beliau terdapat sebuah wadah berisi air saat menjelang wafat. Beliau memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajahnya seraya berdoa: "Ya Allah, ringankanlah bagiku sakaratul maut." Dan Fatimah r.a. berkata: "Alangkah beratnya penderitaanmu, wahai ayahku!" Maka beliau bersabda: "Tidak ada lagi penderitaan atas ayahmu setelah hari ini." Umar r.a. berkata kepada Ka'ab al-Ahbar: "Wahai Ka'ab, ceritakanlah kepada kami tentang kematian." Ka'ab menjawab: "Ya, wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya kematian itu seperti dahan pohon yang penuh duri yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh seorang manusia, lalu setiap duri menyangkut pada urat pembuluh darah, kemudian ditarik oleh seorang laki-laki yang sangat kuat tarikannya; maka dahan itu membawa apa yang dibawanya dan meninggalkan apa yang ditinggalkannya." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengalami kepedihan dan sakaratul maut, dan sesungguhnya persendian-persendiannya saling mengucapkan salam satu sama lain seraya berkata: 'Keselamatan atasmu, engkau berpisah denganku dan aku berpisah denganmu hingga hari kiamat.'"
فهذه سكرات الموت على أولياء الله وأحبابه في حالنا ونحن المنهمكون في المعاصي وتتوالى علينا مع سكرات الموت بقية الدواهي فإن دواهي الموت ثلاث
Maka inilah dahsyatnya sakaratul maut yang dialami oleh para wali Allah dan kekasih-Nya, lalu bagaimanakah keadaan kita sedangkan kita adalah orang-orang yang bergelimang dalam kemaksiatan? Sementara beruntun menimpa kita bersama sakaratul maut itu malapetaka-malapetaka yang tersisa, sebab malapetaka (bencana dahsyat) kematian itu ada tiga.
الأولى شدة النزع كما ذكرناه
Yang pertama: dahsyatnya pencabutan nyawa (nazak) sebagaimana yang telah kami sebutkan.
الدهية الثانية مشاهدة صورة ملك الموت ودخول الروع والخوف منه على القلب فلو رأى صورته التي يقبض عليها روح العبد المذنب أعظم الرجال قوة لم يطق رؤيته
Malapetaka kedua: menyaksikan wujud Malaikat Maut serta masuknya rasa takut dan ketakutan yang mencekam darinya ke dalam hati. Seandainya laki-laki yang paling perkasa melihat wujudnya saat mencabut ruh hamba yang berdosa, niscaya ia tidak akan sanggup melihatnya.
فقد روى عن إبراهيم الخليل ﵇ أنه قال لملك الموت هل تستطيع أن تريني صورتك التي تقبض عليها روح الفاجر قال لا تطيق ذلك قال بلى قال فأعرض عنى فأعرض عنه
Sungguh telah diriwayatkan dari Ibrahim al-Khalil a.s. bahwa beliau berkata kepada Malaikat Maut: "Bisakah engkau memperlihatkan kepadaku rupa wujudmu saat engkau mencabut ruh orang yang durhaka (fajir)?" Malaikat Maut menjawab: "Engkau tidak akan sanggup mengamatinya." Ibrahim berkata: "Tentu, aku sanggup." Malaikat Maut berkata: "Berpalinglah dariku." Maka Ibrahim pun berpaling darinya.
ثم التفت فإذا هو برجل أسود قائم الشعر منتن الريح أسود الثياب يخرج من فيه ومناخيره لهيب النار والدخان فغشى على إبراهيم ﵇
Kemudian beliau menoleh, dan tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki berkulit hitam, berambut berdiri tegak, berbau sangat busuk, berpakaian hitam, yang keluar dari mulut dan kedua lubang hidungnya kobaran api dan asap. Maka Ibrahim a.s. pun pingsan.
ثم أفاق وقد عاد ملك الموت إلى صورته الأولى فقال ملك الموت لو لم يلق الفاجر عند الموت إلا صورة وجهك لكان حسبه وروى أبو هريرة عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ داود ﵇ كان رجلا غيورا وكان إذا خرج أغلق الأبواب فأغلق ذات يوم وخرج فأشرفت امرأته فإذا هي برجل في الدار فقالت من أدخل هذا الرجل لئن جاء داود ليلقين منه عناء فجاء داود فرآه فقال من أنت فقال أنا الذي لا أهاب الملوك ولا يمنع مني الحجاب فقال فأنت والله إذن ملك الموت وزمل داود ﵇ مكانه وروي أن عيسى ﵇ مر بجمجمة فضربها برجله فقال تكلمي بإذن الله فقالت يا روح الله أنا ملك زمان كذا وكذا بينا أنا جالس في ملكي على تاجي وحولي جنودي وحشمي على سرير ملكي إذ بدا لي ملك الموت فزال مني كل عضو على حياله ثم خرجت نفسي إليه فيا ليت ما كان من تلك الجموع كان فرقة وياليت ما كان من ذلك الأنس كان وحشة فهذه يلقاها العصاة ويكفاها المطيعون فقد حكى الأنبياء مجرد سكرة النزع دون الروعة التي يدركها من يشاهد صورة ملك الموت كذلك ولو رآها في منامه ليلة لتنغص عليه بقية عمره فكيف برؤيته في مثل تلك الحال
Kemudian beliau sadar kembali dan Malaikat Maut telah kembali ke rupa wujudnya yang semula. Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada Malaikat Maut: "Seandainya orang yang durhaka saat kematiannya tidak menemui apa pun selain menyaksikan rupa wajahmu ini, niscaya itu sudah cukup baginya (sebagai siksaan)." Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Daud a.s. adalah seorang laki-laki yang sangat cemburu. Apabila beliau keluar rumah, beliau mengunci pintu-pintu. Pada suatu hari beliau mengunci pintu lalu keluar. Tiba-tiba istrinya melihat ke dalam rumah dan ada seorang laki-laki di dalam rumah. Istrinya berkata: "Siapa yang memasukkan laki-laki ini? Sungguh, jika Daud datang, ia pasti akan mengalami kesulitan darinya." Lalu Daud datang dan melihatnya, lalu bertanya: "Siapakah engkau?" Laki-laki itu menjawab: "Aku adalah sosok yang tidak takut kepada raja-raja dan tidak terhalang oleh pembatas." Maka Daud berkata: "Demi Allah, kalau begitu engkau adalah Malaikat Maut." Lalu Daud a.s. pun terkulai lemas di tempatnya. Diriwayatkan pula bahwa Isa a.s. melewati sebuah tengkorak, lalu beliau memukulnya dengan kakinya dan bersabda: "Bicaralah dengan izin Allah." Tengkorak itu berkata: "Wahai Ruhullah, aku adalah raja pada zaman ini dan itu. Ketika aku sedang duduk dalam kerajaanku dengan mahkotaku, di sekelilingku terdapat prajurit-prajurit dan pelayan-pelayanku di atas singgasana kerajaanku, tiba-tiba menampakkan diri kepadaku Malaikat Maut. Maka terlepaslah dariku setiap sendi anggota tubuh secara terpisah, kemudian keluarlah jiwaku kepadanya. Maka duhai, seandainya perkumpulan-perkumpulan itu dahulu adalah perpisahan, dan alangkah baiknya seandainya keakraban itu dahulu adalah kesendirian." Maka inilah yang ditemui oleh orang-orang yang bermaksiat, sedangkan orang-orang yang taat dipelihara darinya. Sungguh para nabi telah menceritakan hanya sebatas pedihnya sakaratul nazak (pencabutan nyawa), belum termasuk ketakutan dahsyat yang dialami oleh orang yang menyaksikan rupa wujud Malaikat Maut yang seperti itu. Seandainya seseorang melihatnya dalam mimpinya di suatu malam, niscaya akan keruhlah sisa usianya, maka bagaimana pula dengan melihatnya dalam keadaan nyata seperti itu?
وأما المطيع فإنه يراه في أحسن صورة وأجملها فقد روى عكرمة عن ابن عباس إن إبراهيم ﵇ كان رجلا غيورا وكان له بيت يتعبد فيه فإذا خرج أغلقه فرجع ذات يوم فإذا برجل في جوف البيت فقال من أدخلك داري فقال أدخلنيها ربها فقال أنا ربها فقال أدخلنيها من هو أملك بها مني ومنك فقال من أنت من الملائكة قال أنا ملك الموت قال هل تستطيع أن تريني الصورة التي تقبض فيها روح المؤمن قال نعم فأعرض عني فأعرض ثم التفت فإذا هو بشاب فذكر من حسن وجهه وحسن ثيابه وطيب ريحه فقال يا ملك الموت لو لم يلق المؤمن عند الموت إلا صورتك كان حسبه
Adapun orang yang taat, sesungguhnya ia akan melihatnya dalam rupa yang paling baik dan paling indah. Diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibn Abbas bahwa Ibrahim a.s. adalah seorang laki-laki yang cemburu dan beliau memiliki rumah khusus untuk beribadah. Jika beliau keluar, beliau menguncinya. Suatu hari beliau kembali dan melihat seorang laki-laki di dalam rumah tersebut. Beliau bertanya: "Siapa yang memasukkanmu ke dalam rumahku?" Laki-laki itu menjawab: "Pemiliknya yang memasukkanku." Ibrahim berkata: "Akulah pemiliknya." Laki-laki itu menjawab: "Yang memasukkanku adalah Dia yang lebih memiliki rumah ini daripada aku dan engkau." Ibrahim bertanya: "Siapakah engkau di antara para malaikat?" Ia menjawab: "Aku adalah Malaikat Maut." Ibrahim berkata: "Dapatkah engkau memperlihatkan kepadaku rupa wujud yang dengannya engkau mencabut ruh orang mukmin?" Ia menjawab: "Ya, berpalinglah dariku." Maka Ibrahim berpaling, kemudian beliau menoleh dan tiba-tiba beliau melihat seorang pemuda (lalu disebutkan ketampanan wajahnya, keindahan pakaiannya, dan keharuman aromanya). Maka Ibrahim berkata: "Wahai Malaikat Maut, seandainya orang mukmin tidak menemui sesuatu pun saat kematiannya selain rupa wujudmu ini, niscaya itu sudah cukup baginya (sebagai nikmat kebahagiaan)."
ومنها مشاهدة الملكين الحافظين قال وهيب بلغنا أنه ما من ميت يموت حتى يتراءى له ملكاه الكاتبان عمله فإن كان مطيعا قالا له جزاك الله عنا خيرا فرب مجلس صدق أجلستنا وعمل صالح أحضرتنا وإن كان فاجرا قالا له لا جزاك الله عنا خيرا فرب مجلس سوء أجلستنا وعمل غير صالح أحضرتنا وكلام قبيح أسمعنا فلا جزاك الله عنا خيرا
Dan di antaranya (di antara peristiwa saat kematian) adalah menyaksikan dua malaikat pencatat (Hafazhah). Wuhaib berkata: "Telah sampai kepada kami bahwa tidak ada seorang mayit pun yang meninggal dunia hingga tampak baginya kedua malaikat yang mencatat amalnya. Jika ia orang yang taat, keduanya berkata kepadanya: 'Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari kami; betapa banyak majelis kebenaran yang telah engkau duduki bersama kami dan amal saleh yang engkau hadirkan bagi kami.' Dan jika ia orang yang durhaka, keduanya berkata kepadanya: 'Semoga Allah tidak membalasmu dengan kebaikan dari kami; betapa banyak majelis keburukan yang telah engkau duduki bersama kami, amal tidak saleh yang engkau hadirkan bagi kami, dan perkataan buruk yang engkau perdengarkan kepada kami, maka semoga Allah tidak membalasmu dengan kebaikan dari kami.'"
فذلك شخوص بصر الميت إليهما ولا يرجع إلى الدنيا أبدا
Maka itulah sebab membelalaknya pandangan mata orang yang meninggal dunia ke arah kedua malaikat itu, dan ia tidak akan pernah kembali lagi ke dunia selama-lamanya.
الداهية الثالثة مشاهدة العصاة مواضعهم من النار وخوفهم قبل المشاهدة فإنهم في حال السكرات قد تخاذلت قواهم واستسلمت للخروج أرواحهم ولن تخرج أرواحهم ما لم يسمعوا نغمة ملك الموت بأحد البشريين إما أبشر يا عدو الله بالنار أو أبشر يا ولي الله بالجنة
Malapetaka ketiga: disaksikannya tempat tinggal orang-orang yang bermaksiat di neraka serta ketakutan mereka sebelum menyaksikan hal itu. Karena dalam keadaan sakaratul maut, kekuatan mereka telah lumpuh dan ruh-ruh mereka telah pasrah untuk keluar. Dan ruh-ruh mereka tidak akan keluar sebelum mereka mendengar seruan Malaikat Maut dengan salah satu dari dua kabar gembira: baik 'Bergembiralah wahai musuh Allah dengan neraka', atau 'Bergembiralah wahai wali (kekasih) Allah dengan surga'.
ومن هذا كان خوف أرباب الألباب وقد قال النبي ﷺ لن يخرج أحدكم من الدنيا حتى يعلم أين مصيره وحتى يرى مقعده من الجنة أو النار وقال ﷺ
Dari sinilah timbul rasa takut para pemilik akal budi (arbabul albab). Dan sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Tidaklah salah seorang dari kalian keluar dari dunia (meninggal) hingga ia mengetahui ke mana tempat kembalinya dan hingga ia melihat tempat duduknya dari surga atau neraka." Dan Nabi ﷺ bersabda:
من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه وفقالوا كلنا نكره الموت قال ليس ذاك بذاك إن المؤمن إذا فرج له عما هو قادم عليه أحب لقاء الله وأحب الله لقاءه وروى أن حذيفة بن اليمان قال لابن مسعود وهو لما به من آخر الليل قم فأنظر أي ساعة هي فقام ابن مسعود ثم جاءه فقال قد طلعت الحمراء فقال حذيفة أعوذ بالله من صباح إلى النار ودخل مروان على أبي هريرة فقال مروان اللهم خفف عنه فقال أبو هريرة اللهم اشدد ثم بكى أبو هريرة وقال والله ما أبكى حزنا على الدنيا ولا جزعا من فراقكم ولكن انتظر إحدى البشريين من ربى بجنة أم بنار
"Barangsiapa menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun menyukai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya." Para sahabat bertanya: "Kita semua membenci kematian." Beliau bersabda: "Bukan demikian maknanya. Sesungguhnya seorang mukmin apabila dibukakan baginya apa yang akan ia hadapi, ia menyukai pertemuan dengan Allah dan Allah pun menyukai pertemuan dengannya." Diriwayatkan bahwa Hudzaifah ibn al-Yaman berkata kepada Ibn Mas'ud saat ia mengalami sakit menjelang wafat di akhir malam: "Bangunlah dan lihatlah jam berapa sekarang?" Maka Ibn Mas'ud bangun lalu kembali dan berkata: "Cahaya kemerahan (fajar) telah terbit." Maka Hudzaifah berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari pagi hari yang menuju neraka." Dan Marwan masuk menemui Abu Hurairah lalu Marwan berdoa: "Ya Allah, ringankanlah darinya." Maka Abu Hurairah berkata: "Ya Allah, beratkanlah." Kemudian Abu Hurairah menangis seraya berkata: "Demi Allah, aku tidak menangis karena sedih atas dunia dan tidak pula karena cemas berpisah dengan kalian, melainkan aku sedang menunggu salah satu dari dua kabar dari Tuhanku, apakah dengan surga atau dengan neraka."
وروى في الحديث عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال إن الله إذا رضى عن عبد قال يا ملك الموت أذهب إلى فلان فأتني بروحه لأريحه حسبي من عمله قد بلوته فوجدته حيث أحب فينزل ملك الموت ومعه خمسمائة من الملائكة ومعهم قضبان الريحان وأصول الزعفران كل واحد منهم يبشره ببشارة سوى بشارة صاحبه وتقوم الملائكة صفين لخروج روحه معهم الريحان فإذا نظر إليهم إبليس وضع يده على رأسه ثم صرخ قال فيقول له جنوده مالك يا سيدنا فيقول أما ترون ما أعطى هذا العبد من الكرامة أين كنتم من هذا قالوا قد جهدنا به فكان معصوما وقال الحسن لا راحة للمؤمن إلا في لقاء الله ومن كانت راحته في لقاء الله تعالى فيوم الموت يوم سروره وفرحه وأمنه وعزه وشرفه
Diriwayatkan dalam hadis dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah apabila rida kepada seorang hamba, Dia berfirman: 'Wahai Malaikat Maut, pergilah kepada si Fulan dan bawalah ruhnya kepada-Ku untuk Aku berikan ketenangan padanya. Cukuplah bagiku amal perbuatannya, Aku telah mengujinya dan Aku mendapatinya berada pada apa yang Aku sukai.' Maka Malaikat Maut turun bersama lima ratus malaikat yang membawa tangkai-tangkai bunga raihan dan akar-akar za'faran; setiap malaikat dari mereka menyampaikan kabar gembira yang berbeda dengan kabar gembira temannya. Dan para malaikat berdiri dalam dua barisan menyambut keluarnya ruhnya seraya membawa bunga raihan. Ketika Iblis melihat mereka, ia meletakkan tangannya di atas kepalanya lalu menjerit." Beliau bersabda: "Maka prajurit-prajuritnya berkata kepadanya: 'Ada apa denganmu wahai tuan kami?' Iblis menjawab: 'Tidakkah kalian melihat kemuliaan yang diberikan kepada hamba ini? Di mana kalian saat ia hidup?' Mereka menjawab: 'Kami telah berusaha keras menggodanya tetapi ia senantiasa terpelihara (terjaga).'" Dan Al-Hasan berkata: "Tidak ada peristirahatan bagi orang mukmin kecuali dalam pertemuan dengan Allah. Dan barangsiapa peristirahatan dirinya berada pada pertemuan dengan Allah Ta'ala, maka hari kematian adalah hari kegembiraannya, sukacitanya, ketenangannya, kemuliaannya, dan keagungannya."
وقيل لجابر بن زيد عند الموت ما تشتهي قال نظرة إلى الحسن فلما دخل عليه الحسن قيل له هذا الحسن فرفع طرفه إليه ثم قال يا إخواناه الساعة والله افارقكم إلى النار أو إلى الجنة
Dikatakan kepada Jabir bin Zaid menjelang kematiannya: "Apa yang engkau inginkan?" Beliau menjawab: "Melihat Al-Hasan." Ketika Al-Hasan masuk menemui beliau, dikatakan kepadanya: "Ini Al-Hasan." Maka beliau mengangkat pandangannya kepadanya kemudian berkata: "Wahai saudara-saudaraku, demi Allah, saat ini aku berpisah dengan kalian menuju neraka atau menuju surga."
وقال محمد بن واسع عند الموت يا إخواناه عليكم السلام إلى النار أو يعفو الله وتمنى بعضهم أن يبقى في النزع أبدا ولا يبعث لثواب ولا عقاب فخوف سوء الخاتمة قطع قلوب العارفين وهو من الدواهي العظيمة عند الموت
Muhammad bin Wasi' berkata menjelang kematiannya: "Wahai saudara-saudaraku, keselamatan atas kalian; (aku pergi) menuju neraka atau Allah memberi ampunan." Dan sebagian dari mereka berharap agar tetap berada dalam keadaan nazak (sakaratul maut) selamanya dan tidak dibangkitkan untuk pahala maupun siksa. Maka rasa takut terhadap su'ul khatimah (kesudahan yang buruk) telah menyayat hati para arifin, dan itu termasuk bencana dahsyat yang amat besar saat kematian.
وقد ذكرنا معنى سوء الخاتمة وشدة خوف العارفين منه في كتاب الخوف والرجاء وهو لائق بهذا الموضع
Dan sungguh telah kami sebutkan makna su'ul khatimah (kesudahan yang buruk) dan besarnya rasa takut para arifin darinya di dalam Kitab Al-Khauf wal Raja' (Kitab Rasa Takut dan Harapan), dan hal itu sangat relevan dengan tempat ini.
ولكننا لا نطول بذكره وإعادته
Akan tetapi kami tidak akan memperpanjang dengan menyebutkan dan mengulangnya kembali.
بيان ما يستحب من أحوال المحتضر عند الموت
Penjelasan Mengenai Keadaan yang Disukai dari Orang yang Mengalami Sakaratul Maut (Muhtadhar) Saat Kematian
أعلم أن المحبوب عند الموت من صورة المحتضر هو الهدوء والسكون ومن لسانه أن يكون ناطقا بالشهادة ومن قلبه أن يكون حسن الظن بالله تعالى
Ketahuilah bahwa keadaan yang disukai saat kematian dari rupa lahiriah orang yang hendak meninggal (muhtadhar) adalah ketenangan dan ketenteraman; dari lisannya adalah mengucap dua kalimat syahadat; dan dari hatinya adalah berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Ta'ala.
أما الصورة فقد رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه قال ارقبوا الميت عند ثلاث إذا رشح جبينة ودمعت عيناه ويبست شفتاه فهي من رحمة الله قد نزلت به وإذا غط غطيط المخنوق وأحمر لونه واربدت شفتاه فهو من عذاب الله قد نزل به // حديث ارقبوا الميت عند ثلاث إذا رشح جبينه وذرفت عيناه الحديث أخرجه الترمذي الحكيم في نوادر الأصول من حديث سلمان ولا يصح
Adapun bentuk fisiknya, telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "Perhatikanlah orang yang hendak meninggal pada tiga tanda: jika dahinya berkeringat, kedua matanya meneteskan air mata, dan kedua bibirnya mengering, maka itu adalah rahmat Allah yang telah turun kepadanya. Namun jika ia mengorok seperti orang yang tercekik, warna kulitnya memerah, dan kedua bibirnya memucat keabu-abuan, maka itu adalah azab Allah yang telah turun kepadanya." // Hadis "Perhatikanlah orang yang hendak meninggal pada tiga tanda: jika dahinya berkeringat…" diriwayatkan oleh At-Tirmidzi Al-Hakim dalam Nawadir al-Ushul dari hadis Salman, dan statusnya tidak shahih.
وأما انطلاق لسانه بكلمة الشهادة فهي علامة الخير قال أبو سعيد الخدري قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Adapun kelancaran lidahnya dalam mengucapkan kalimat syahadat, maka itu merupakan tanda kebaikan. Abu Sa'id Al-Khudri ﵁ berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لقنوا موتاكم لا إله إلا الله وفي رواية حذيفة فإنها تهدم ما قبلها من الخطايا وقال عثمان قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من مات وهو يعلم أن لا إله إلا الله دخل الجنة وقال عبيد الله وهو يشهد وقال عثمان إذا احتضر الميت فلقنوه لا إله إلا الله فإنه ما من عبد يختم له بها عند موته إلا كانت زاده إلى الجنة
"Tuntunlah (bimbinglah) orang-orang yang hendak meninggal di antara kalian dengan kalimat 'Laa ilaaha illallaah'." Dalam riwayat Hudzaifah disebutkan: "Karena sesungguhnya kalimat itu menghancurkan dosa-dosa sebelumnya." Dan Utsman ﵁ berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa meninggal dunia sedangkan ia meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah, niscaya ia masuk surga." Dan Ubaidullah menambahkan dalam riwayatnya: "sedangkan ia bersaksi". Utsman ﵁ juga berkata: "Jika seseorang hendak meninggal dunia, maka tuntunlah ia dengan 'Laa ilaaha illallaah', karena tidak ada seorang hamba pun yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat itu saat matinya, melainkan kalimat itu menjadi bekalnya menuju surga."
وقال عمر ﵁ احضروا موتاكم وذكروهم فإنهم يرون ما لا ترون ولقنوهم لا إله إلا الله
Umar ﵁ berkata: "Hadirilah orang-orang yang hendak meninggal di antara kalian dan ingatkanlah mereka, karena sesungguhnya mereka menyaksikan apa yang tidak kalian saksikan, serta tuntunlah mereka dengan kalimat 'Laa ilaaha illallaah'."
وقال أبو هريرة سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول حضر ملك الموت رجلا يموت فنظر في قلبه فلم يجد فيه شيئا ففك لحييه فوجد طرف لسانه لاصقا بحنكه يقول لا إله إلا الله فغفر له بكلمة الإخلاص
Abu Hurairah ﵁ berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Malaikat maut mendatangi seorang laki-laki yang hendak meninggal, lalu ia melihat ke dalam hatinya namun tidak menemukan amalan kebaikan apa pun di dalamnya. Kemudian ia membuka kedua rahangnya dan menemukan ujung lidahnya menempel pada langit-langit mulutnya seraya mengucapkan 'Laa ilaaha illallaah', maka ia diampuni berkat kalimat ikhlas (tauhid) tersebut."
وينبغي للملقن أن لا يلح في التلقين ولكن يتلطف فربما لا ينطق لسان المريض فيشق عليه ذلك ويؤدى إلى استثقاله التلقين وكراهيته للكلمة ويخشى أن يكون ذلك سبب سوء الخاتمة
Hendaknya orang yang menuntun (talqin) tidak mendesak secara berlebihan, melainkan bersikap lemah lembut. Sebab, terkadang lidah orang yang sakit tidak mampu berkata-kata sehingga hal itu terasa amat berat baginya, lalu menyebabkannya merasa terbebani oleh bimbingan tersebut hingga membenci kalimat tauhid, dan dikhawatirkan hal itu menjadi penyebab su'ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk).
وإنما معنى هذه الكلمة أن يموت الرجل وليس في قلبه شيء غير الله فإذا لم يبق له مطلوب سوى الواحد الحق كان قدومه بالموت على محبوبه غاية النعيم في حقه وإن كان القلب مشغوفا بالدنيا ملتفتا إليها متأسفا على لذاتها وكانت الكلمة على رأس اللسان ولم ينطبق القلب على تحقيقها وقع الأمر في خطر المشيئة فإن مجرد حركة اللسان قليل الجدوى إلا أن يتفضل الله تعالى بالقبول
Sesungguhnya makna hakiki dari kalimat ini adalah bahwa seseorang meninggal dunia dalam keadaan di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun selain Allah. Apabila tidak ada lagi yang dicarinya selain Yang Maha Esa lagi Maha Benar, maka kedatangannya melalui kematian menuju Dzat yang dicintainya menjadi puncak kenikmatan baginya. Namun, jika hatinya terpaut pada dunia, berpaling kepadanya, serta menyesali kehilangannya akan kenikmatan-kenikmatan duniawi, sementara kalimat itu hanya di ujung lidah tanpa ditopang oleh penjiwaan hati, maka urusannya berada dalam bahaya kehendak Allah (bisa diampuni atau diadzab). Sebab, semata-mata gerakan lidah amat sedikit manfaatnya, kecuali jika Allah Ta'ala melimpahkan karunia-Nya dengan menerima amal tersebut.
وأما حسن الظن فهو مستحب في هذا الوقت وقد ذكرنا ذلك في كتاب الرجاء وقد وردت الأخبار بفضل حسن الظن بالله
Adapun berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, hukumnya adalah sunnah pada waktu sakaratul maut ini, dan hal itu telah kami sebutkan dalam Kitab ar-Raja' (Harapan). Sungguh telah banyak riwayat yang menerangkan keutamaan berprasangka baik kepada Allah.
دخل وائلة بن الأسقع على مريض فقال أخبرني كيف ظنك بالله قال أغرقتني ذنوب لي وأشرفت على هلكة ولكني أرجو رحمة ربي فكبر واثلة وكبر أهل البيت بتكبيره وقال الله أكبر سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول يقول الله تعالى أنا عند ظن عبدي بي فليظن بي ما شاء ودخل النبي ﷺ على شاب وهو يموت فقال كيف تجدك قال أرجو الله وأخاف ذنوبي فقال ﷺ ما اجتمعا في قلب عبد في مثل هذا المظن إلا أعطاه الله الذي يرجو وآمنه من الذي يخاف وقال ثابت البناني كان شاب به حدة وكان له أم تعظه كثيرا وتقول له يا بني إن لك يوما فاذكر يومك فلما نزل به أمر الله تعالى أكبت عليه أمه وجعلت تقول له يا بني قد كنت أحذرك مصرعك هذا وأقول إن لك يوما فقال يا أمه إن لي ربا كثير المعروف وإني لأرجو أن لا يعدمني اليوم بعض معروفه قال ثابت فرحمه الله بحسن ظنه بربه
Watsilah bin al-Asqa' mendatangi seorang yang sedang sakit lalu bertanya: "Beritahukan kepadaku bagaimana prasagkamu kepada Allah?" Ia menjawab: "Dosa-dosaku telah tenggelamkan diriku dan aku hampir binasa, namun aku mengharapkan rahmat Tuhanku." Maka Watsilah bertakbir, dan penghuni rumah pun bertakbir mengiringi takbirnya, lalu ia berkata: "Allahu Akbar! Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sekehendaknya'." Dan Nabi ﷺ pernah menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut, lalu bersabda: "Bagaimana keadaan yang kau rasakan?" Pemuda itu menjawab: "Aku mengharapkan rahmat Allah dan takut akan dosa-dosaku." Maka beliau ﷺ bersabda: "Tidaklah dua hal ini berkumpul dalam hati seorang hamba pada kondisi seperti ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti." Tsabit al-Bunani menceritakan: Ada seorang pemuda yang berperangai keras, dan ibunya sering menasihatinya seraya berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya engkau memiliki suatu hari (kematian), maka ingatlah harimu itu." Ketika ketetapan Allah Ta'ala (kematian) mendatangi pemuda itu, ibunya merangkulnya seraya berkata: "Wahai anakku, aku telah memperingatkanmu akan tempat kematianmu ini dan sering berkata padamu bahwa engkau memiliki suatu hari." Pemuda itu menjawab: "Wahai ibuku, sesungguhnya aku memiliki Tuhan yang amat banyak kebaikannya, dan aku sungguh berharap Dia tidak menghalangiku dari sebagian kebaikan-Nya pada hari ini." Tsabit berkata: "Maka Allah merahmatinya disebabkan prasangka baiknya kepada Tuhannya."
وقال جابر بن وداعة كان شاب به رهق فاحتضر فقالت له أمه يا بني توصي بشيء قال نعم خاتمى لا تسلبينيه فإن فيه ذكر الله تعالى فلعل الله يرحمني فلما دفن رؤى في المنام فقال أخبروا أمي أن الكلمة قد نفعتني وأن الله قد غفر لي
Jabir bin Wada'ah bercerita: Ada seorang pemuda yang terbiasa berbuat dosa, lalu ia mengalami sakaratul maut. Ibunya bertanya: "Wahai anakku, apakah engkau hendak berwasiat tentang sesuatu?" Ia menjawab: "Ya, cincinku ini janganlah engkau lepaskan dariku, karena di dalamnya terdapat dzikir (ukiran nama) Allah Ta'ala, mudah-mudahan Allah merahmatiku." Ketika ia telah dimakamkan, ia terlihat dalam mimpi dan berkata: "Beritahukanlah kepada ibuku bahwa kalimat itu telah memberi manfaat kepadaku dan sesungguhnya Allah telah mengampuniku."
ومرض اعرابي فقيل له إنك تموت فقال أين يذهب بي قالوا إلى الله قال فما كراهتي أن أذهب إلى من لا يرى الخير إلا منه
Seorang Arab Badui jatuh sakit, lalu dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya engkau akan mati." Ia bertanya: "Ke manakah aku akan dibawa pergi?" Mereka menjawab: "Kepada Allah." Ia berkata: "Lantas apa alasanku untuk enggan pergi kepada Dzat yang mana segala kebaikan tidaklah bersumber melainkan dari-Nya?"
وقال أبو المعتمر بن سليمان قال أبي لما حضرته الوفاة يا معتمر حدثني بالرخص لعلى ألقى الله ﷿ وأنا حسن الظن به وكانوا يستحبون أن يذكر للعبد محاسن عمله عند موته لكى يحسن ظنه بربه
Abu al-Mu'tamir bin Sulaiman menceritakan: Ayahku berkata ketika menjelang wafatnya: "Wahai Mu'tamir, ceritakanlah kepadaku tentang keringanan-keringanan (kemudahan agama), agar aku bertemu dengan Allah ﷿ dalam keadaan berprasangka baik kepada-Nya." Para ulama salaf menyukai untuk disebutkan kebaikan-kebaikan amal seorang hamba menjelang wafatnya agar ia berprasangka baik kepada Tuhannya.
بيان الحسرة عند لقاء ملك الموت بحكايات يعرب لسان الحال عنها
Penjelasan tentang Penyesalan ketika Bertemu Malaikat Maut Melalui Kisah-Kisah yang Diungkapkan oleh Lisanul Hal (Bahasa Keadaan)
قال أشعث بن أسلم سأل إبراهيم ﵇ ملك الموت وأسمه عزرائيل وله عينان عين في وجهه وعين في قفاه فقال يا ملك الموت ما تصنع
Asy'ats bin Aslam berkata: Nabi Ibrahim ﵇ bertanya kepada Malaikat Maut—yang bernama Izrail dan memiliki dua mata, satu mata di wajahnya dan satu mata di tengkuknya—seraya berkata: "Wahai Malaikat Maut, apa yang engkau lakukan…
إذا كان نفس بالمشرق ونفس بالمغرب ووقع الوباء بأرض والتقى الزحفان كيف تصنع قال أدعوا الأرواح بإذن الله فتكون بين اصبعي هاتين وقال قد دحيت له الأرض فتركت مثل الطشت بين يديه يتناول منها ما يشاء قال وهو يبشره بأنه خليل الله ﷿
…apabila ada satu jiwa di timur dan satu jiwa di barat, sementara wabah penyakit melanda suatu negeri dan dua pasukan tempur sedang saling berhadapan, bagaimana engkau mencabut nyawa mereka?" Malaikat Maut menjawab: "Aku memanggil roh-roh itu dengan izin Allah, maka mereka berada di antara dua jariku ini." Perawi berkata: Bumi telah dihamparkan baginya sehingga ditinggalkan seperti sebuah nampan di hadapannya, ia mengambil darinya apa yang ia kehendaki. Perawi berkata: Malaikat Maut saat itu juga memberi kabar gembira kepadanya bahwa Ibrahim adalah Khalilullah (kekasih Allah) ﷿.
وقال سليمان بن داود ﵉ لملك الموت ﵇ مالى لا أراك تعدل بين الناس تأخذ هذا وتدع هذا قال ما أنا بذلك بأعلم منك إنما هي صحف أو كتب تلقى إلي فيها أسماء وقال وهب بن منبه كان ملك من الملوك أراد أن يركب إلى أرض فدعا بثياب ليلبسها فلم تعجبه فطلب غيرها حتى لبس ما أعجبه بعد مرات وكذلك طلب دابة فأتى بها فلم تعجبه حتى أتى بدواب فركب أحسنها فجاء إبليس فنفخ في منخره نفخة فملأه كبرا
Sulaiman bin Daud ﵉ berkata kepada Malaikat Maut ﵇: "Mengapa aku melihatmu tidak berlaku adil di antara manusia; engkau mencabut nyawa orang ini dan membiarkan orang itu?" Malaikat Maut menjawab: "Aku tidak lebih tahu tentang hal itu daripada dirimu. Sesungguhnya itu hanyalah lembaran-lembaran atau kitab-kitab yang disampaikan kepadaku yang di dalamnya tercantum nama-nama." Dan Wahb bin Munabbih menceritakan: Dahulu ada seorang raja yang hendak bepergian menunggangi kendaraannya ke suatu daerah. Ia meminta pakaian untuk dikenakan, namun ia tidak menyukainya, lalu ia meminta pakaian lain hingga setelah beberapa kali baru ia mengenakan apa yang disukainya. Demikian pula ia meminta tunggangan, lalu dibawakan kepadanya namun ia tidak menyukainya, hingga dibawakan beberapa tunggangan dan ia menunggangi yang paling bagus. Kemudian Iblis datang lalu meniupkan tiupan ke dalam lubang hidungnya, sehingga memenuhinya dengan kesombongan.
ثم سار وسارت معه الخيول وهو لا ينظر إلى الناس كبرا فجاءه رجل رث الهيئة فسلم فلم يرد ﵇ فأخذ بلجام دابته فقال أرسل اللجام فقد تعاطيت أمر عظيما قال إن لي إليك حاجة قال اصبر حتى أنزل قال لا الآن فقهره على لجام دابته فقال أذكرها قال هو سر فأدنى له رأسه فساره وقال أنا ملك الموت فتغير لون الملك واضطرب لسانه ثم قال دعني حتى أرجع إلى أهلي وأقضي حاجتي وأودعهم قال لا والله لا ترى أهلك وثقلك أبدا فقبض روحه فخر كأنه خشبة ثم مضى فلقي عبدا مؤمنا في تلك الحال فسلم عليه فرد السلام فقال إن لي إليك حاجة أذكرها في أذنك فقال هات فساره وقال أنا ملك الموت فقال أهلا ومرحبا بمن طالت غيبته على فوالله ما كان في الأرض غائب أحب إلى أن ألقاه منك فقال ملك الموت اقض حاجتك التي خرجت لها فقال مالي حاجة أكبر عندي ولا أحب من لقاء الله تعالى قال فاختر على أي حال شئت أن أقبض روحك فقال تقدر على ذلك قال نعم إني أمرت بذلك قال فدعني حتى اتوضأ وأصلي ثم اقبض روحي وأنا ساجد فقبض روحه وهو ساجد وقال أبو بكر بن عبد الله المزني جمع رجل من بني إسرائيل مالا فلما أشرف على الموت قال لبنيه أروني أصناف أموالي فأتى بشيء كثير من الخيل والإبل والرقيق وغيره فلما نظر إليه بكي تحسرا عليه فرآه ملك الموت وهو يبكى فقال له ما يبكيك فوالذي خولك ما أنا بخارج من منزلك حتى أفرق بين روحك وبدنك قال فالمهلة حتى أفرقه قال هيهات انقطعت عنك المهلة فهلا كان ذلك قبل حضور أجلك فقبض روحه
Kemudian raja itu berjalan diiringi pasukan berkuda, dan ia tidak memandang kepada manusia karena sombongnya. Lalu datanglah seorang laki-laki berpakaian lusuh memberi salam padanya, tetapi raja itu tidak membalas salamnya. Orang itu lalu memegang tali kekang tunggangannya. Raja berkata: "Lepaskan tali kekang itu! Sungguh engkau telah melakukan hal yang sangat lancang." Orang itu berkata: "Sesungguhnya aku memiliki suatu keperluan kepadamu." Raja berkata: "Bersabarlah sampai aku turun." Orang itu menjawab: "Tidak, harus sekarang!" Lalu ia memaksa memegang tali kekang tunggangannya. Raja berkata: "Sampaikanlah!" Orang itu berkata: "Ini adalah rahasia." Maka raja mendekatkan kepalanya, lalu orang itu membisikkan kepadanya: "Aku adalah Malaikat Maut." Wajah raja seketika berubah pucat dan lidahnya kelu, lalu ia berkata: "Biarkan aku kembali kepada keluargaku untuk menyelesaikan keperluanku dan berpamitan kepada mereka." Malaikat Maut menjawab: "Tidak, demi Allah, engkau tidak akan pernah melihat keluarga dan harta bendamu lagi selamanya." Lalu ia mencabut nyawanya sehingga raja itu tersungkur jatuh seolah-olah batang kayu yang kering. Kemudian Malaikat Maut berlalu dan bertemu dengan seorang hamba yang beriman dalam keadaan tersebut, lalu ia mengucapkan salam kepadanya dan hamba itu membalas salamnya. Malaikat Maut berkata: "Aku memiliki keperluan padamu yang ingin kubisikkan ke telingamu." Hamba itu berkata: "Katakanlah." Maka Malaikat Maut membisikkan kepadanya: "Aku adalah Malaikat Maut." Hamba itu berkata: "Selamat datang kepada sosok yang sekian lama kutunggu kedatangannya. Demi Allah, tidak ada seorang gaib pun di bumi yang lebih kucintai untuk kutemui daripada dirimu." Malaikat Maut berkata: "Selesaikanlah keperluanmu yang karenanya engkau keluar." Hamba itu menjawab: "Tidak ada keperluan yang lebih besar bagiku dan lebih kucintai daripada bertemu dengan Allah Ta'ala." Malaikat Maut berkata: "Pilihlah dalam keadaan bagaimana engkau ingin aku mencabut nyawamu." Hamba itu bertanya: "Apakah engkau bisa melakukan itu?" Malaikat Maut menjawab: "Ya, sesungguhnya aku diperintahkan untuk itu." Hamba itu berkata: "Biarkan aku berwudhu dan shalat, kemudian cabutlah nyawaku ketika aku sedang sujud." Maka Malaikat Maut mencabut nyawanya ketika ia sedang sujud. Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani menceritakan: Ada seorang laki-laki dari Bani Israil mengumpulkan harta, lalu ketika menjelang ajalnya ia berkata kepada anak-anaknya: "Perlihatkanlah kepadaku bermacam-macam hartaku!" Maka dibawakanlah kepadanya banyak kuda, unta, budak, dan lainnya. Ketika memandangnya, ia menangis karena meratapi harta itu. Malaikat Maut melihatnya sedang menangis lalu berkata kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis? Demi Dzat yang telah mengaruniakan harta ini kepadamu, aku tidak akan keluar dari rumahmu hingga aku memisahkan antara roh dan jasadmu." Laki-laki itu berkata: "Berilah aku penangguhan waktu agar aku membagikannya." Malaikat Maut menjawab: "Mustahil! Penangguhan waktu telah terputus darimu, mengapa hal itu tidak engkau lakukan sebelum datangnya ajalmu?" Lalu Malaikat Maut mencabut nyawanya.
وروى أن رجلا جمع مالا فأوعى ولم يدع صنفا من المال إلا اتخذه وابتنى قصرا وجعل عليه بابين وثيقين وجمع عليه حرسا من غلمانه ثم جمع أهله وصنع لهم طعاما وقعد على سريره ورفع إحدى رجليه على الأخرى وهم يأكلون فلما فرغوا قال يا نفس أنعمي لسنين فقد جمعت لك ما يكفيك فلم يفرغ من كلامه حتى أقبل إليه ملك الموت في هيئة رجل عليه خلقان من الثياب وفي عنقه مخلاة يتشبه بالمساكين فقرع الباب بشدة عظيمة قرعا أفزعه وهو على فراشه فوثب إليه الغلمان وقالوا ما شأنك فقال أدعوا إلى مولاكم فقالوا وإلى مثلك يخرج مولانا قال نعم فأخبروه بذلك فقال هلا فعلتم به وفعلتم فقرع الباب قرعة أشد من الأولى فوثب إليه الحرس فقال أخبروه أني ملك الموت فلما سمعوه ألقى عليهم الرعب ووقع على مولاهم الذل والتخشع فقال قولوا له قولا لينا وقولوا هل تأخذ به أحدا فدخل عليه وقال اصنع في مالك ما أنت صانع فإني لست بخارج منها حتى أخرج روحك فأمر بماله حتى وضع بين يديه فقال حين رآه لعنك الله من مال أنت شغلتني عن عبادة ربي ومنعتني أن أتخلى لربي فأنطق
Diriwayatkan pula bahwa seorang laki-laki mengumpulkan harta lalu menyimpannya rapat-rapat, tidak meninggalkan satu jenis harta pun melainkan ia memilikinya. Ia membangun sebuah istana dan memasang dua pintu yang kokoh padanya serta mengumpulkan pengawal dari para pelayannya. Kemudian ia mengumpulkan keluarganya dan membuatkan makanan untuk mereka. Ia duduk di atas singgasananya seraya menumpangkan satu kakinya di atas kaki yang lain saat mereka sedang makan. Ketika mereka selesai makan, ia berkata: "Wahai jiwaku, bersenang-senanglah selama bertahun-tahun, karena aku telah mengumpulkan untukmu apa yang mencukupimu." Belum selesai ia berbicara, Malaikat Maut datang kepadanya dalam wujud seorang laki-laki yang mengenakan pakaian lusuh dan di lehernya tergantung kantong perbekalan, menyerupai orang-orang miskin. Malaikat Maut mengetuk pintu dengan sangat keras, ketukan yang mengejutkannya sewaktu berada di atas pembaringannya. Para pelayan pun berhamburan mendekatinya dan bertanya: "Ada apa denganmu?" Malaikat Maut berkata: "Panggillah tuan kalian keluar kepadaku." Mereka berkata: "Apakah kepada orang sepertimu tuan kami harus keluar?" Ia menjawab: "Ya." Maka mereka memberitahukan hal itu kepada tuannya, lalu sang tuan berkata: "Mengapa kalian tidak mengusirnya begini dan begitu?" Lalu Malaikat Maut mengetuk pintu dengan ketukan yang lebih keras dari yang pertama. Para pengawal pun berhamburan mendekatinya, lalu ia berkata: "Beritahukan kepadanya bahwa aku adalah Malaikat Maut!" Ketika mereka mendengarnya, rasa takut yang amat sangat menimpa mereka, serta kehinaan dan rasa tunduk menghampiri tuan mereka. Sang tuan berkata: "Katakanlah kepadanya perkataan yang lembut, dan tanyakan apakah engkau bisa mengambil pengganti selain dirinya?" Maka Malaikat Maut masuk menghampirinya dan berkata: "Perbuatlah terhadap hartamu apa yang hendak kau perbuat, karena sesungguhnya aku tidak akan keluar dari sini sebelum aku mencabut rohmu." Maka laki-laki itu memerintahkan hartanya agar diletakkan di hadapannya. Ketika melihat harta itu, ia berkata: "Semoga Allah melaknatmu wahai harta! Engkaulah yang telah menyibukkanku dari beribadah kepada Tuhanku dan menghalangiku untuk berkhalwat bagi Tuhanku." Maka Allah membuat harta itu berbicara:
الله المال فقال لم تسبني وقد كنت تدخل على السلاطين بي ويرد المتقي عن بابهم وكنت تنكح المتنعمات بي وتجلس مجالس الملوك بي وتنفقني في سبيل الشر فلا امتنع منك ولو أنفقتني في سبيل الخير نفعتك خلقت يا بن آدم من تراب فمنطلق ببر ومنطلق بإثم ثم قبض ملك الموت روحه فسقط
Harta itu berkata: "Mengapa engkau memamakiku? Padahal engkau dapat menemui para raja dengan perantaraanku sementara orang yang bertakwa ditolak dari pintu mereka. Engkau dapat menikahi wanita-wanita yang hidup mewah denganku, duduk di majelis para raja denganku, dan engkau menginfakkanku dalam jalan keburukan tanpa aku menolak darimu. Seandainya engkau menginfakkanku di jalan kebaikan, niscaya aku akan memberi manfaat padamu. Engkau diciptakan wahai anak Adam dari tanah, maka ada yang pergi membawa kebajikan dan ada yang pergi membawa dosa." Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya, lalu ia pun tersungkur.
وقال وهب بن منبه قبض ملك الموت روح جبار من الجبابرة ما في الأرض مثله ثم عرج إلى السماء فقالت الملائكة لمن كنت أشد رحمة ممن قبضت روحه قال أمرت بقبض نفس امرأة في فلاة من الأرض فأتيتها وقد ولدت مولودا فرحمتها لغربتها ورحمت ولدها لصغره وكونه في فلاة لا متعهد له بها
Wahb bin Munabbih menceritakan: Malaikat Maut mencabut nyawa seorang penguasa zalim dari para penguasa zalim yang tiada tandingannya di bumi. Kemudian ia naik ke langit, lalu para malaikat bertanya: "Kepada siapakah engkau paling merasa kasihan di antara orang-orang yang telah engkau cabut nyawanya?" Malaikat Maut menjawab: "Aku pernah diperintahkan untuk mencabut nyawa seorang wanita di suatu padang sahara di bumi. Aku mendatangingya saat ia baru melahirkan seorang bayi, maka aku merasa kasihan kepadanya karena keterasingannya, dan aku kasihan kepada bayinya karena masih kecil serta berada di padang sahara tanpa ada seorang pun yang mengurusnya."
فقالت الملائكة الجبار الذي قبضت الآن روحه هو ذلك المولود الذي رحمته فقال ملك الموت سبحان اللطيف لما يشاء قال عطاء بن يسار إذا كانت ليلة النصف من شعبان دفع إلى ملك الموت صحيفة فيقال اقبض في هذه السنة من في هذه الصحيفة قال فإن العبد ليغرس الغراس وينكح الأزواج ويبني البنيان وإن اسمه في تلك الصحيفة وهو لا يدري
Para malaikat berkata, "Orang yang kejam yang ruhnya baru saja engkau cabut itu adalah bayi yang dulu engkau kasihaninya." Maka Malaikat Maut berkata, "Maha Suci Allah Yang Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki." 'Atha' bin Yasar berkata, "Apabila tiba malam Nisfu Sya'ban, diserahkanlah selembar catatan (sahifah) kepada Malaikat Maut, lalu dikatakan kepadanya, 'Cabutlah ruh orang-orang yang tercantum dalam lembaran ini pada tahun ini.' Sungguh, seorang hamba benar-benar sedang menanam tanaman, menikahi wanita-wanita, dan mendirikan bangunan, padahal namanya telah tercantum dalam lembaran tersebut tanpa ia menyadarinya."
وقال الحسن ما من يوم إلا وملك اليوم يتصفح كل بيت ثلاث مرات فمن وجده منهم قد استوفى رزقه وانقضى أجله قبض روحه فإذا قبض روحه أقبل أهله برنة وبكاء فيأخذ ملك الموت بعضادتي الباب فيقول والله ما أكلت له رزقا ولا أفنيت له عمرا ولا انتقصت له أجلا وإن لي فيكم لعودة بعد عودة حتى لا ابقي منكم أحدا
Al-Hasan berkata, "Tidak ada satu hari pun melainkan malaikat yang bertugas pada hari itu mengamati setiap rumah sebanyak tiga kali. Siapa di antara penghuninya yang didapati telah menyempurnakan rezekinya dan telah habis ajalnya, maka ia mencabut ruhnya. Ketika ia telah mencabut ruhnya, keluarganya datang menangis dan meratap. Lalu Malaikat Maut memegang kedua sisi kusen pintu seraya berkata, 'Demi Allah, aku tidak menghabiskan rezekinya, tidak mengurangi umurnya, dan tidak pula mempercepat ajalnya. Sungguh, aku akan kembali kepada kalian berkali-kali hingga tidak ada seorang pun di antara kalian yang tersisa.'"
قال الحسن فوالله لو يرون مقامه ويسمعون كلامه لذهلوا عن ميتهم ولبكوا على أنفسهم وقال يزيد الرقاشى بينما جبار من الجبابرة من بني إسرائيل جالس في منزله قد خلا ببعض أهله إذ نظر إلى شخص قد دخل من باب بيته فثار إليه فزعا مغضبا فقال له من أنت ومن أدخلك على داري فقال أما الذي أدخلني الدار فربها وأما أنا فالذي لا يمنع من الحجاب ولا استأذن على الملوك ولا أخاف صولة المتسلطين ولا يمتنع مني كل جبار عنيد ولا شيطان مريد قال فسقط في يد الجبار وارتعد حتى سقط منكبا على وجهه ثم رفع رأسه إليه مستجديا متذللا له فقال له أنت إذن ملك الموت قال أنا هو قال فهل أنت ممهل حتى أحدث عهدا قال هيهات انقطعت مدتك وانقضت أنفاسك ونفدت ساعاتك فليس إلى تأخيرك سبيل قال فإلى أين تذهب بي قال إلى عملك الذي قدمته وإلى بيتك الذي مهدته قال فإني لم اقدم عملا صالحا ولم أمهد بيتا حسنا قال فإلى لظى نزاعة للشوى ثم قبض روحه فسقط ميتا بين أهله فمن بين صارخ وباك
Al-Hasan berkata, "Demi Allah, seandainya mereka dapat melihat kedudukan Malaikat Maut dan mendengar perkataannya, niscaya mereka akan berpaling dari mayat mereka dan menangisi diri mereka sendiri." Yazid Ar-Raqasyi bercerita: Ketika seorang penguasa zalim dari Bani Israil sedang duduk di rumahnya dalam keadaan berdua-duaan dengan keluarganya, tiba-tiba ia melihat seseorang masuk dari pintu rumahnya. Penguasa itu pun bangkit terperanjat dengan marah seraya berkata kepadanya, "Siapakah engkau dan siapa yang memasukkanmu ke rumahku?" Orang itu menjawab, "Adapun yang memasukkanku ke rumah ini adalah Pemilik rumah ini sendiri. Sedangkan aku adalah sosok yang tidak terhalangi oleh tabir penutup, tidak meminta izin kepada raja-raja, tidak takut pada gertakan orang-orang yang berkuasa, dan tidak ada seorang pun pangeran yang sombong lagi membangkang atau setan yang durhaka yang sanggup menghindar dariku." Penguasa zalim itu pun terdiam terpukul dan gemetar hingga tersungkur jatuh pada wajahnya. Kemudian ia mengangkat kepalanya seraya memohon dan merendahkan diri kepadanya, "Kalau begitu, engkaukah Malaikat Maut?" Ia menjawab, "Akulah dia." Penguasa itu berkata, "Apakah engkau berkenan memberiku penangguhan waktu agar aku dapat bertobat?" Malaikat Maut menjawab, "Mustahil! Jangkamu telah terputus, helaan nafasmu telah usai, dan saat-saatmu telah habis; maka tidak ada jalan untuk menangguhkanmu." Penguasa itu bertanya, "Lalu ke mana engkau akan membawaku?" Jawabnya, "Kepada amal yang telah engkau perbuat dan ke rumah yang telah engkau siapkan." Ia berkata, "Sungguh, aku belum pernah mendahulukan amal saleh dan belum pernah menyiapkan rumah yang baik." Malaikat Maut berkata, "Kalau begitu, menuju neraka Laza yang mengelupaskan kulit kepala!" Kemudian Malaikat Maut mencabut ruhnya, lalu ia jatuh terjerembap mati di tengah-tengah keluarganya; di antara mereka ada yang menjerit dan ada yang menangis.
قال يزيد الرقاشى لو يعلمون سوء المنقلب كان العويل على ذلك اكثر
Yazid Ar-Raqasyi berkata, "Seandainya mereka mengetahui betapa buruknya tempat kembali itu, niscaya ratapan atas hal tersebut akan jauh lebih dahsyat."
وعن الأعمش عن خيثمة قال دخل ملك الموت على سليمان بن داود ﵇ فجعل ينظر إلى رجل من جلسائه يديم النظر إليه فلما خرج قال الرجل من هذا قال هذا ملك الموت قال لقد رايته ينظر إلى كأنه يريدني قال فماذا تريد قال أريد أن تخلصني منه فتأمر الريح حتى تحملني إلى أقصى الهند ففعلت الريح ذلك ثم قال سليمان لملك الموت بعد أن أتاه ثانيا رأيتك تديم النظر إلى واحد من جلسائي قال نعم كنت أتعجب منه لأني كنت أمرت أن أقبضه بأقصى الهند في ساعة قريبة وكان عندك فعجبت من ذلك
Dari Al-A'masy, dari Khaitsamah, ia berkata: Malaikat Maut masuk menemui Nabi Sulaiman bin Dawud 'alaihis salam, lalu ia memandang terus-menerus kepada salah seorang rekan yang duduk bersama beliau. Ketika Malaikat Maut keluar, orang itu bertanya, "Siapakah orang tadi?" Sulaiman menjawab, "Itu adalah Malaikat Maut." Orang itu berkata, "Aku melihatnya terus-menerus menatapku seakan-akan ia menginginkanku." Sulaiman bertanya, "Lalu apa yang engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Aku ingin engkau menyelamatkanku darinya dengan memerintahkan angin agar membawaku ke ujung negeri India." Maka angin pun melakukan hal itu. Kemudian Sulaiman berkata kepada Malaikat Maut setelah ia datang untuk kedua kalinya, "Aku melihatmu terus memandang ke arah salah satu rekan dudukku." Malaikat Maut menjawab, "Ya, aku heran terhadapnya karena aku diperintahkan untuk mencabut ruhnya di ujung negeri India dalam waktu dekat ini, padahal ia sedang berada di sisimu. Maka aku pun merasa heran akan hal itu."
الباب الرابع في وفاة رسول الله ﷺ والخلفاء الراشدين من بعده
Bab Keempat: Tentang Wafatnya Rasulullah ﷺ dan Para Khulafaur Rasyidin Setelah Beliau.
وفاة رسول الله ﷺ
Wafatnya Rasulullah ﷺ
اعلم أن في رسول الله ﷺ أسوة حسنة حيا وميتا وفعلا وقولا وجميع أحواله عبرة للناظرين
Ketahuilah bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang baik (uswatun hasanah), baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafat, dalam perbuatan, perkataan, dan seluruh keadaan beliau menjadi ikhtibar (pelajaran) bagi orang-orang yang memandang.
وتبصرة للمستبصرين إذ لم يكن أحد أكرم على الله منه إذ كان خليل الله وحبيبه ونجيه وكان صفيه ورسوله ونبيه فأنظر هل أمهله ساعة عند انقضاء مدته وهل أخره لحظة بعد حضور منيته لا بل أرسل إليه الملائكة الكرام الموكلين بقبض أرواح الأنام فجدوا بروحه الزكية الكريمة لينقلوها وعالجوها ليرحلوها عن جسده الطاهر إلى رحمة ورضوان وخيرات حسان بل إلى مقعد صدق في جوار الرحمن فاشتد مع ذلك في النزع كربه وظهر أنينه وترادف قلقه وارتفع حنينه وتغير لونه وعرق جبينه واضطربت في الإنقباض والإنبساط شماله ويمينه حتى بكى لمصرعه من حضره وانتحب لشدة حاله من شهد منظره فهل رأيت منصب النبوة دافعا عنه مقدورا وهل راقب الملك فيه أهلا وعشيرا وهل سامحه إذ كان للحق نصيرا وللخلق بشيرا ونذيرا هيهات بل امتثل ما كان به مأمورا واتبع ما وجده في اللوح مسطورا فهذا كان حاله وهو عند الله ذو المقام المحمود والحوض المورود وهو أول من تنشق عنه الأرض وهو صاحب الشفاعة يوم العرض فالعجب أنا لا نعتبر به ولسنا على ثقة فيما نلقاه بل نحن أسراء الشهوات وقرناء المعاصي والسيئات فما بالنا لا نتعظ بمصرع محمد سيد المرسلين وإمام المتقين وحبيب رب العالمين لعلنا نظن أننا مخلدون أو نتوهم أنا مع سوء أفعالنا عند الله مكرمون هيهات هيهات بل نتيقن أنا جميعا على النار واردون ثم لا ينجو منها إلا المتقون فنحن للورود مستيقنون وللصدور عنها متوهمون لا بل ظلمنا أنفسنا إن كنا كذلك لغالب الظن منتظرين فما نحن والله من المتقين وقد قال الله رب العالمين ﴿وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظالمين فيها جثيا﴾ فلينظر كل عبد إلى نفسه أنه إلى الظالمين أقرب أم إلى المتقين فانظر إلى نفسك بعد أن تنظر إلى سيرة السلف الصالحين فلقد كانوا مع ما وفقوا له من الخائفين
Serta menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Sebab tidak ada seorang pun yang lebih mulia di sisi Allah melebihi beliau; beliau adalah kekasih Allah (Khalilullah), kekasih-Nya (Habibullah), teman bisikan-Nya (Najiyyullah), hamba pilihan-Nya (Shafiyyullah), serta Utusan dan Nabi-Nya. Maka perhatikanlah, apakah Allah menangguhkannya sesaat ketika ajalnya telah habis? Apakah Allah mengundurkannya walau sekejap setelah kematiannya tiba? Tidak, justru Allah mengutus malaikat-malaikat yang mulia yang ditugaskan mencabut ruh-ruh manusia. Mereka bersegera mengambil ruhnya yang suci nan mulia untuk memindahkannya, dan memprosesnya untuk melepasnya dari jasadnya yang murni menuju rahmat, keridaan, dan kebaikan-kebaikan yang agung, bahkan menuju tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih. Namun demikian, kepayahan saat sakaratul maut amat berat beliau rasakan, rintihannya nampak jelas, rasa gelisahnya berturut-turut, rindu dan rintihannya meninggi, warnanya berubah, dahinya berkeringat, serta tangan kiri dan kanannya bergerak-gerak mengatup dan menggenggam, hingga menangislah siapa saja yang hadir menyaksikan pembaringannya dan merataplah yang melihat keadaannya yang sangat berat itu. Maka, apakah engkau melihat kedudukan kenabian dapat menolak takdir yang telah ditentukan darinya? Apakah Malaikat Maut mempertimbangkan keluarga dan kerabatnya? Apakah Malaikat mengasihaninya padahal beliau adalah penolong kebenaran, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan bagi makhluk? Sungguh tidak! Bahkan beliau melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dan mengikuti apa yang telah tertulis dalam Lauh Mahfuz. Demikianlah keadaan beliau, padahal di sisi Allah beliau memiliki Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan yang terpuji) dan Al-Haudh Al-Mawrud (telaga yang didatangi), beliau adalah orang pertama yang dibangkitkan dari bumi, dan pemilik syafaat pada hari berbangkit. Betapa anehnya kita tidak mengambil pelajaran dari beliau, padahal kita tidak memiliki jaminan atas apa yang akan kita hadapi! Sebaliknya, kita adalah tawanan hawa nafsu dan teman karib keburukan serta perbuatan dosa. Mengapa kita tidak mengambil ikhtibar dari wafatnya Muhammad, penghulu para rasul, imam orang-orang bertakwa, dan kekasih Tuhan semesta alam? Mungkinkah kita mengira bahwa kita akan kekal, atau menduga bahwa meskipun perbuatan kita buruk, kita tetap dimuliakan di sisi Allah? Mustahil, sungguh mustahil! Bahkan kita meyakini bahwa kita semua pasti akan mendatangi neraka, kemudian tidak ada yang selamat daripadanya melainkan orang-orang yang bertakwa. Kita meyakini akan mendatangi neraka tersebut, namun sekadar berangan-angan untuk bisa selamat meninggalkannya. Sungguh kita telah menzalimi diri sendiri jika kita hanya menantikan persangkaan belaka, padahal demi Allah kita bukanlah termasuk orang-orang yang bertakwa. Allah Tuhan semesta alam telah berfirman, "Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." [QS. Maryam: 71-72]. Maka hendaklah setiap hamba melihat pada dirinya sendiri, apakah ia lebih dekat kepada orang-orang zalim ataukah kepada orang-orang yang bertakwa. Perhatikanlah dirimu setelah engkau melihat riwayat hidup para Salafus Saleh, padahal mereka itu—bersamaan dengan taufik yang dikurniakan kepada mereka—tetap termasuk orang-orang yang merasa takut (kepada Allah).
ثم انظر إلى سيد المرسلين فإنه كان من أمره على يقين إذ كان سيد النبيين وقائد المتقين واعتبر كيف كان كربه عند فراق الدنيا وكيف اشتد أمره عند الانقلاب إلى جنة المأوى قال ابن مسعود ﵁ دخلنا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في بيت أمنا عائشة ﵂ حين دنا الفراق فنظر إلينا فدمعت عيناه ﷺ ثم قال مرحبا بكم حياكم الله آواكم الله نصركم الله وأوصيكم بتقوى الله وأوصى بكم الله إني لكم منه نذير مبين ألا تعلوا على الله في بلاده وعباده وقد دنا الأجل والمنقلب إلى الله وإلى سدرة المنتهى وإلى جنة المأوى وإلى الكأس الأوفى فاقرءوا على أنفسكم وعلى من دخل في دينكم بعدى مني السلام ورحمة الله حديث ابن مسعود دخلنا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في بيت أمنا عائشة حين دنا الفراق الحديث رواه البزار وقال هذا الكلام قد روى عن مرة عن عبد الله من غير وجه وأسانيدها متقاربة قال وعبد الرحمن الأصبهاني لم يسمع هذا من مرة وإنما هو عمن أخبره عن مرة قال ولا أعلم أحد رواه عن عبد الله غير مرة قلت وقد روى من غير وجه رواه ابن سعد في الطبقات من رواية ابن عوف عن ابن مسعود وروينا في مشيخة القاضي أبي بكر الأنصاري من رواية الحسن العربي عن ابن مسعود ولكنهما منقطعان وضعيفان والحسن العربي إنما يرويه عن مرة كما رواه ابن أبي الدنيا والطبراني في الأوسط حديث أنه ﷺ قال لجبريل عند موته من لأمتي بعدي فأوحى الله تعالى إلى جبريل أن بشر حبيبي ان لا أخذله في أمته الحديث أخرجه الطبراني من حديث جابر وابن عباس في حديث طويل فيه من لأمتي المصطفاة من بعدي قال أبشر ياحبيب الله فإن الله ﷿ يقول قد حرمت الجنة على جميع الأنبياء والأمم حتى تدخلها أنت وأمتك قال الآن طابت نفسي وإسناده ضعيف وقالت عائشة ﵂ أمرنا
Kemudian pandanglah Penghulu para Rasul, karena sesungguhnya beliau berada dalam keyakinan atas urusannya; sebab beliau adalah penghulu para nabi dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Ambilah ikhtibar bagaimana kesusahan (sakarat) beliau saat berpisah dengan dunia dan betapa dahsyat urusannya saat berpindah menuju Surga Al-Ma'wa. Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Kami masuk menemui Rasulullah ﷺ di rumah ibu kita, 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ketika perpisahan sudah dekat. Beliau memandang kepada kami lalu kedua mata beliau ﷺ meneteskan air mata, kemudian beliau bersabda, "Selamat datang kepada kalian, semoga Allah memelihara kehidupan kalian, semoga Allah melindungi kalian, semoga Allah menolong kalian. Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan aku mempercayakan kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untuk kalian. Janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah di negeri-negeri-Nya dan hamba-hamba-Nya. Sungguh, ajal telah dekat dan tempat kembali adalah kepada Allah, menuju Sidratul Muntaha, menuju Surga Al-Ma'wa, dan menuju cangkir yang penuh nikmat. Maka sampaikanlah salam dan rahmat Allah dariku kepada diri kalian dan kepada siapa saja yang masuk ke dalam agama kalian setelahku." [Hadis Ibnu Mas'ud, "Kami masuk menemui Rasulullah ﷺ di rumah ibu kita 'Aisyah ketika perpisahan sudah dekat…" diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Ia berkata, "Perkataan ini diriwayatkan dari Murrah dari 'Abdullah melalui beberapa jalur, dan sanad-sanadnya berdekatan." Ia berkata, "Dan 'Abdurrahman Al-Ashbahani tidak mendengar ini dari Murrah, melainkan dari orang yang mengabarkannya dari Murrah." Ia berkata, "Dan aku tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya dari 'Abdullah selain Murrah." Aku berkata: Dan telah diriwayatkan dari jalur lain, diriwayatkan oleh Ibn Sa'ad dalam At-Thabaqat dari riwayat Ibn 'Auf dari Ibn Mas'ud, dan kami diriwayatkan dalam Masyikhat Al-Qadhi Abu Bakr Al-Anshari dari riwayat Al-Hasan Al-'Arabi dari Ibn Mas'ud, tetapi keduanya munqathi' dan dha'if. Al-Hasan Al-'Arabi meriwayatkannya dari Murrah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abi Ad-Dunya dan At-Thabrani dalam Al-Ausath. Adapun hadis bahwa beliau ﷺ berkata kepada Jibril saat wafatnya, "Siapakah yang menjaga umatku setelahku?" Maka Allah Ta'ala mengwahyukan kepada Jibril, "Sampaikan kabar gembira kepada Kekasih-Ku bahwa Aku tidak akan mengecewakannya dalam urusan umatnya…" Hadis ini dikeluarkan oleh At-Thabrani dari hadis Jabir dan Ibn 'Abbas dalam hadis yang panjang, di dalamnya disebutkan, "Siapakah bagi umat pilihanku setelahku?" Jibril berkata, "Bergembiralah wahai Kekasih Allah, sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Sungguh telah Aku haramkan surga bagi seluruh nabi dan umat hingga engkau dan umatmu memasukinya." Beliau bersabda, "Sekarang hatiku telah tenang." Sanadnya dha'if.] Dan 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Kami diperintahkan…
رسول الله ﷺ أن نغسله بسبع قرب من سبعة آبار ففعلنا ذلك فوجد راحة فخرج فصلى بالناس واستغفر لأهل أحد ودعا لهم وأوصى بالأنصار فقال أما بعد يا معشر المهاجرين فإنكم تزيدون وأصبحت الأنصار لا تزيد على التى هي عليها اليوم وإن الأنصار عيبتي التي أويت إليها فأكرموا كريمهم يعنى محسنهم وتجاوزوا عن مسيئهم ثم قال إن عبدا خير بين الدنيا وبين ما عند الله فاختار ما عند الله فبكى أبو بكر ﵁ وظن أنه يريد نفسه فقال النبي ﷺ على رسلك يا أبا بكر سدوا هذه الأبواب الشوارع في المسجد إلا باب أبي بكر فإني لا أعلم أمرا أفضل عندي في الصحبة من أبي بكر قالت عائشة ﵂ فقبض ﷺ في بيتي وفي يومي وبين سحري ونحري وجمع الله بين ريقي وريقه عند الموت فدخل على أخي عبد الرحمن وبيده سواك فجعل ينظر إليه فعرفت انه يعجبه ذلك فقلت له آخذه لك فأومأ برأسه أن نعم فناولته إياه فأدخله في فيه فاشتد عليه فقلت إلينه لك فأومأ برأسه أن نعم فلينته وكان بين يديه ركوة ماء فجعل يدخل فيها يده ويقول لا إله إلا الله إن للموت لسكرات ثم نصب يده يقول الرفيق الأعلى الرفيق الأعلى فقلت إذن والله لا يختارنا وروى سعيد بن عبد الله عن أبيه قال لما رأت الأنصار أن النبي ﷺ يزداد ثقلا أطافوا بالمسجد فدخل العباس ﵁ على النبي ﷺ فأعلمه بمكانهم وإشفاقهم ثم دخل عليه الفضل فأعلمه بمثل ذلك ثم دخل عليه علي ﵁ فأعلمه بمثله فمد يده وقال ها فتناولوه فقال ﴿ما تقولون﴾ قالوا نقول نخشى أن تموت وتصايح نساؤهم لاجتماع رجالهم إلى النبي ﷺ فثار رسول الله ﷺ فخرج متوكئا على علي والفضل والعباس أمامه ورسول الله ﷺ معصوب الرأس يخط برجليه حتى جلس على أسفل مرقاة من المنبر وثاب الناس إليه فحمد الله وأثنى عليه وقال أيها الناس إنه بلغني أنكم تخافون على الموت كأنه استنكار منكم للموت وما تنكرون من موت نبيكم ألم أنع إليكم وتنعى إليكم أنفسكم هل خلد نبي قبلي فيمن بعث فأخلد فيكم ألا إني لاحق بربي وإنكم لاحقون به وإني أوصيكم بالمهاجرين الأولين خيرا وأوصي المهاجرين فيما بينهم فإن الله ﷿ قال وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمنوا إلى آخرها وإن الأمور تجري بإذن الله فلا يحملنكم استبطاء أمر على استعجاله فإن الله ﷿ لا يعجل لعجلة أحد ومن غالب الله غلبه ومن خادع الله خدعه فهل عسيتم إن توليتم أن تفسدوا في الأرض وتقطعوا أرحامكم وأوصيكم بالأنصار خيرا فإنهم الذين تبوءوا الدار والإيمان من قبلكم أن تحسنوا إليهم ألم يشاطروكم الثمار ألم يوسعوا عليكم في الديار ألم يؤثروكم على أنفسهم وبهم الخصاصة ألا فمن ولي أن يحكم بين رجلين فليقبل من محسنهم وليتجاوز عن مسيئهم ألا ولا تستأثروا عليهم ألا وإني فرط لكم وأنتم لاحقون بي ألا وإن موعدكم الحوض حوضي أعرض مما بين بصرى الشام وصنعاء اليمن يصب فيه ميزاب الكوثر ماؤه أشد بياضاً من اللبن وألين من الزبد وأحلى من الشهد من شرب منه لم يظمأ أبدا حصباؤه اللؤلؤ وبطحاؤه المسك من حرمه في الموقف غدا حرم الخير كله ألا فمن أحب أن يرده علي غدا فليكفف لسانه ويده إلا مما ينبغي فقال العباس يا نبي الله أوص بقريش فقال إنما أوصي بهذا الأمر قريشا والناس تبع لقريش برهم لبرهم وفاجرهم لفاجرهم فاستوصوا آل قريش بالناس خيرا يا أيها الناس إن الذنوب تغير النعم وتبدل القسم فإذا بر الناس برهم أئمتهم وإذا فجر الناس عقولهم قال الله تعالى وكذلك نولى
…oleh Rasulullah ﷺ agar memandikan beliau dengan air dari tujuh qirbah (kantong kulit) yang diambil dari tujuh sumur. Kami pun melakukannya, sehingga beliau merasa agak segar. Beliau keluar lalu memimpin shalat bersama manusia, memohonkan ampunan bagi ahli Uhud dan mendoakan mereka, serta berwasiat tentang kaum Anshar. Beliau bersabda, 'Amma ba'du, wahai sekalian kaum Muhajirin! Sesungguhnya jumlah kalian akan terus bertambah, sedangkan kaum Anshar tidak bertambah dari jumlah mereka hari ini. Dan sesungguhnya kaum Anshar adalah tempat naunganku yang menjadi tempatku berlindung. Maka muliakanlah orang yang mulia di antara mereka—yaitu yang berbuat baik—dan maafkanlah orang yang berbuat salah di antara mereka.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya seorang hamba telah diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, maka ia memilih apa yang ada di sisi Allah.' Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menangis karena ia paham bahwa yang dimaksud hamba itu adalah diri beliau sendiri. Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Tenanglah engkau wahai Abu Bakar. Tutuplah pintu-pintu yang menuju ke masjid ini kecuali pintu Abu Bakar, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui seseorang yang lebih utama bagiku dalam persahabatan melebihi Abu Bakar.' 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Maka Nabi ﷺ wafat di rumahku, pada hari giliranku, di antara dada dan leherku. Allah mengumpulkan antara air liurku dan air liur beliau saat mendekati ajal. Saudaraku 'Abdurrahman masuk membawa siwak di tangannya, dan Rasulullah mulai memandangnya, maka aku tahu beliau menyukainya. Aku bertanya, 'Apakah aku ambilkan siwak itu untukmu?' Beliau menganggukkan kepala mengiyakan. Lalu aku mengambilkannya dan memasukkannya ke mulut beliau, namun siwak itu agak keras bagi beliau. Aku bertanya, 'Apakah aku lunakkan siwak ini untukmu?' Beliau mengangguk mengiyakan, maka aku melunakkannya. Di hadapan beliau ada bejana air, beliau memasukkan tangannya ke dalam air itu seraya mengucapkan, 'Laa ilaaha illallah, sesungguhnya sakaratul maut itu memiliki himpitan-himpitan dahsyat.' Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya berkata, 'Ar-Rafiq Al-A'la, Ar-Rafiq Al-A'la (Tempat Kembali Yang Tertinggi).' Maka aku berkata (dalam hati), 'Demi Allah, kalau begitu beliau tidak memilih bersama kita lagi.' Diriwayatkan oleh Sa'id bin 'Abdullah dari ayahnya, ia berkata: Ketika kaum Anshar melihat sakit Nabi ﷺ semakin berat, mereka mengelilingi masjid. Al-'Abbas radhiyallahu 'anhu masuk menemui Nabi ﷺ dan memberitahukan posisi serta kecemasan mereka. Kemudian Al-Fadhl masuk dan memberitahukan hal serupa. Lalu 'Ali radhiyallahu 'anhu masuk dan memberitahukan hal yang sama. Nabi membentangkan tangannya seraya bersabda, 'Peganglah aku!' Beliau bertanya, 'Apa yang kalian katakan?' Mereka menjawab, 'Kami takut engkau wafat.' Dan wanita-wanita mereka pun berteriak kencang karena berkumpulnya para lelaki di dekat Nabi ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bangkit dan keluar seraya berpegangan pada 'Ali dan Al-Fadhl, sementara Al-'Abbas berada di depan beliau. Kepala Rasulullah ﷺ diikat dengan kain dan kedua kaki beliau menyeret tanah hingga beliau duduk di anak tangga terbawah dari mimbar. Orang-orang pun berkumpul mengerumuni beliau. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda, 'Wahai manusia! Telah sampai kepadaku bahwa kalian merasa takut akan kematianku, seakan-akan kalian mengingkari kematian. Mengapa kalian mengingkari kematian nabimu? Bukankah berita kematianku telah disampaikan kepada kalian dan kematian kalian sendiri pun disampaikan kepada kalian? Adakah nabi sebelumku yang kekal di antara orang-orang yang diutus kepadanya sehingga aku akan kekal di antara kalian? Ketahuilah, aku akan menyusul Tuhanku dan kalian pun akan menyusul-Nya. Dan aku berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada kaum Muhajirin yang pertama, serta aku berwasiat kepada kaum Muhajirin di antara sesama mereka; sebab Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman…' hingga akhir surah. Dan sesungguhnya segala urusan berjalan dengan izin Allah, maka janganlah lambatnya sesuatu mendorong kalian untuk tergesa-gesa; sebab Allah 'Azza wa Jalla tidak tergesa-gesa karena ketergesaan seseorang. Barangsiapa mencoba mengalahkan Allah niscaya Dia akan mengalahkannya, dan barangsiapa mencoba menipu Allah niscaya Dia akan menipunya. Maka apakah sekiranya kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutus hubungan kekeluargaanmu? Dan aku berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada kaum Anshar, sebab merekalah yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kalian. Hendaklah kalian berbuat baik kepada mereka. Bukankah mereka telah berbagi hasil buah-buahan dengan kalian? Bukankah mereka telah melapangkan rumah-rumah mereka untuk kalian? Bukankah mereka mengutamakan kalian atas diri mereka sendiri padahal mereka memerlukan? Ketahuilah, barangsiapa yang diserahi kekuasaan untuk memutuskan hukum di antara dua orang, hendaklah ia menerima dari orang yang berbuat baik di antara mereka dan memaafkan orang yang berbuat salah di antara mereka. Ketahuilah, janganlah kalian mementingkan diri sendiri atas mereka. Ketahuilah bahwa aku adalah pendahulu kalian dan kalian akan menyusulku. Ketahuilah bahwa tempat pertemuan kalian adalah Al-Haudh (telagaku). Telagaku lebih luas daripada jarak antara Bushra di Syam dan Sana'a di Yaman, dialiri oleh talang telaga Al-Kautsar, airnya lebih putih dari susu, lebih lembut dari mentega, dan lebih manis dari madu. Barangsiapa meminumnya niscaya tidak akan haus selama-lamanya. Kerikilnya adalah mutiara dan tanahnya adalah minyak kasturi. Barangsiapa dihalangi darinya di padang mahsyar besok, sungguh ia telah dihalangi dari seluruh kebaikan. Ketahuilah, barangsiapa ingin mendatangi telagaku esok, hendaklah ia menahan lidah dan tangannya kecuali dari apa yang sepatutnya.' Maka Al-'Abbas berkata, 'Wahai Nabi Allah, berikanlah wasiat tentang Quraisy.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku mewasiatkan perkara kekuasaan ini kepada Quraisy; manusia adalah pengikut bagi Quraisy, yang baik mengikuti yang baik dari mereka dan yang jahat mengikuti yang jahat dari mereka. Maka berwasiatlah kebaikan untuk keluarga Quraisy bagi manusia. Wahai manusia, sesungguhnya dosa-dosa itu mengubah kenikmatan dan mengganti pembagian. Jika manusia berbuat baik, para pemimpin mereka pun akan berbuat baik; dan jika manusia berbuat jahat, akal pikiran mereka (akan rusak).' Allah Ta'ala berfirman: 'Dan demikianlah Kami jadikan…'
بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون حديث ابن مسعود أن النبي ﷺ قال لأبي بكر سل يا أبا بكر فقال يا رسول الله دنا الأجل فقال قد دنا الأجل الحديث في سؤالهم له من يلي غسلك وفيم نكفنك وكيفية الصلاة عليه رواه ابن سعد في الطبقات عن محمد بن عمر وهو الواقدي باسناد ضعيف إلى ابن عوف عن ابن مسعود وهو مرسل ضعيف كما تقدم فقام عمر فلما كبر وكان رجلا صيتا سمع رسول الله ﷺ صوته بالتكبير فقال أين أبو بكر يأبى الله ذلك والمسلمون قالها ثلاث مرات مروا أبا بكر فليصل بالناس فقالت عائشة ﵂ يا رسول الله إن أبا بكر رجل رقيق القلب إذا قام في مقامك غلبه البكاء فقال إنكن صويحبات يوسف مروا أبا بكر فليصل بالناس قال فصلى أبو بكر بعد الصلاة التي صلى عمر فكان عمر يقول لعبد الله بن زمعة بعد ذلك ويحك ماذا صنعت بي والله لولا أني ظننت أن رسول الله ﷺ أمرك ما فعلت
…sebagian orang-orang yang zalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.' [Hadis Ibnu Mas'ud: Bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Bakar, 'Bertanyalah wahai Abu Bakar!' Abu Bakar berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah ajal telah dekat?' Beliau menjawab, 'Sungguh ajal telah dekat…' Al-Hadis tentang pertanyaan mereka mengenai siapa yang memandikan beliau, kain apa yang digunakan untuk mengkafani beliau, dan tata cara shalat atas beliau. Diriwayatkan oleh Ibn Sa'ad dalam At-Thabaqat dari Muhammad bin 'Umar—yaitu Al-Waqidi—dengan sanad dha'if sampai kepada Ibn 'Auf dari Ibn Mas'ud, dan hadis ini mursal dha'if sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya]. Maka 'Umar berdiri, lalu ketika ia bertakbir—dan ia adalah seorang lelaki bersuara lantang—Rasulullah ﷺ mendengar suaranya saat bertakbir. Beliau bersabda, 'Di mana Abu Bakar? Allah dan orang-orang mukmin menolak hal itu.' Beliau mengucapkannya tiga kali, 'Suruhlah Abu Bakar agar memimpin shalat bersama manusia!' Maka 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang lembut hatinya; apabila ia berdiri di tempatmu, ia akan dikuasai oleh tangisan.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya kalian ini seperti wanita-wanita pada zaman Yusuf! Suruhlah Abu Bakar agar memimpin shalat bersama manusia!' 'Aisyah berkata: Maka Abu Bakar mengerjakan shalat (menjadi imam) setelah shalat yang diimami 'Umar. Dan 'Umar kemudian berkata kepada 'Abdullah bin Zam'ah setelah itu, 'Celaka engkau, apa yang telah engkau perbuat padaku? Demi Allah, seandainya aku tidak mengira bahwa Rasulullah ﷺ yang memerintahkanmu, niscaya aku tidak akan melakukannya!'
فيقول عبد الله إني لم أر أحدا أولى بذلك منك قالت عائشة ﵂ وما قلت ذاك ولا صرفته عن أبي بكر إلا رغبة به عن الدنيا ولما في الولاية من المخاطرة والهلكة إلا من سلم الله وخشيت أيضا أن لا يكون الناس يحبون رجلا صلى في مقام النبي ﷺ وهو حي أبدا إلا أن يشاء الله فيحسدونه ويبغون عليه ويتشاءمون به فإذن الأمر أمر الله والقضاء قضاؤه وعصمه الله من كل ما تخوفت عليه من أمر الدنيا والدين وقالت عائشة ﵂ فلما
Maka 'Abdullah berkata, 'Aku tidak melihat seorang pun yang lebih berhak akan hal itu melebihi dirimu.' 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, 'Tidaklah aku mengatakan hal itu dan tidaklah aku berusaha memalingkan kepemimpinan shalat dari Abu Bakar melainkan karena aku menginginkan beliau terjaga dari fitnah dunia, serta karena dalam kepemimpinan terdapat risiko dan kebinasaan kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah. Aku juga khawatir orang-orang tidak menyukai seseorang yang berdiri shalat di tempat Nabi ﷺ sewaktu beliau masih hidup selamanya—kecuali jika Allah menghendaki—sehingga mereka akan mendengki kepadanya, berbuat zalim kepadanya, dan menganggapnya membawa kesialan. Maka sesungguhnya perkara ini adalah perkara Allah dan takdir adalah takdir-Nya, dan Allah telah memeliharanya dari segala yang aku khawatirkannya baik dalam urusan dunia maupun agama.' Dan 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Ketika…
كان اليوم الذي مات فيه رسول الله ﷺ رأوا منه خفة في أول النهار فتفرق عنه الرجال إلى منازلهم وحوائجهم مستبشرين وأخلوا رسول الله ﷺ بالنساء فبينا نحن على ذلك لم نكن على مثل حالنا في الرجاء والفرح قبل ذلك قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اخرجن عني هذا الملك يستأذن علي فخرج من في البيت غيري ورأسه في حجري فجلس وتنحيت في جانب البيت فناجى الملك طويلا ثم إنه دعاني فأعاد رأسه في حجري وقال للنسوة ادخلن فقلت ما هذا بحس جبريل ﵇ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أجل يا عائشة هذا ملك الموت جاءني فقال إن الله ﷿ أرسلني وأمرني أن لا أدخل عليك إلا بإذن فإن لم تأذن لي أرجع وإن أذنت لي دخلت وأمرني أن لا أقبضك حتى تأمرني فماذا أمرك فقلت أكفف عني حتى يأتيني جبريل ﵇ فهذه ساعة جبريل فقالت عائشة رضي الله تعالى عنها فاستقبلنا بأمر لم يكن له عندنا جواب ولا رأى فوجمنا وكأنما ضربنا بصاخة ما نحير إليه شيئا وما يتكلم أحد من أهل البيت إعظاما لذلك الأمر وهيبة ملأت أجوافنا قالت وجاء جبريل في ساعته فسلم فعرفت حسه وخرج أهل البيت فدخل فقال إن الله ﷿ يقرأ عليك السلام ويقول كيف تجدك وهو أعلم بالذي تجد منك ولكن أراد أن يزيدك كرامة وشرفا وأن يتم كرامتك وشرفك على الخلق وأن تكون سنة في أمتك فقال أجدني وجعا فقال أبشر فإن الله تعالى أراد أن يبلغك ما أعد لك فقال يا جبريل إن ملك الموت استأذن علي وأخبره الخبر فقال جبريل يا محمد إن ربك إليك مشتاق ألم يعلمك الذي يريد بك لا والله تعالى ما استأذن ملك الموت على أحد قط ولا يستأذن عليه أبدا إلا أن ربك متم شرفك وهو إليك مشتاق قال فلا تبرح إذن حتى يجىء وأذن للنساء فقال يا فاطمة ادنى فأكبت عليه فناجاها فرفعت رأسها وعيناها تدمع وما تطيق الكلام ثم قال أدني مني رأسك فأكبت عليه فناجاها فرفعت رأسها وهي تضحك وما تطيق الكلام فكان الذي رأينا منها عجبا فسألتها بعد ذلك فقالت أخبرني وقال إني ميت اليوم فبكيت ثم قال إني دعوت الله أن يلحقك بي في أول أهلي وأن يجعلك معي فضحكت وأدنت ابنيها منه فشمهما قالت وجاء ملك الموت واستأذن فأذن له فقال الملك
…tiba hari saat Rasulullah ﷺ wafat, orang-orang melihat sedikit kesegaran pada diri beliau di awal siang, maka para lelaki berpisah pergi ke rumah dan hajat mereka masing-masing dengan penuh gembira, dan mereka meninggalkan Rasulullah ﷺ bersama para wanita. Ketika kami berada dalam keadaan seperti itu—yang belum pernah kami rasakan harapan dan kegembiraan seperti sebelumnya—Rasulullah ﷺ bersabda, 'Keluarlah kalian dariku! Ini ada malaikat yang meminta izin masuk kepadaku.' Maka semua orang yang ada di rumah keluar kecuali aku, sedangkan kepala beliau berada di pangkuanku. Beliau pun duduk dan aku berpindah ke samping rumah. Malaikat itu berbisik lama dengan beliau, kemudian beliau memanggilku dan mengembalikan kepalanya ke pangkuanku seraya berkata kepada para wanita, 'Masuklah kalian!' Aku berkata, 'Suara ini bukan seperti suara Jibril 'alaihissalam.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Benar, wahai 'Aisyah. Ini adalah Malaikat Maut yang datang kepadaku seraya berkata: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengutusku dan memerintahkanku agar tidak masuk menemui mu melainkan dengan izinmu. Jika engkau tidak mengizinkanku maka aku akan kembali, dan jika engkau mengizinkanku maka aku masuk. Dan Dia memerintahkanku agar tidak mencabut ruhmu sampai engkau memerintahkanku. Maka apakah yang engkau perintahkan?' Aku menjawab, 'Tahanlah dariku sampai Jibril 'alaihissalam datang kepadaku, karena ini adalah waktu kedatangan Jibril.' 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Maka kami menghadapi suatu perkara yang kami tidak memiliki jawaban dan pendapat mengenainya. Kami bungkam terperanjat seolah-olah ditimpa suara gemuruh yang memekakkan, tidak mampu mengembalikan sepatah kata pun, dan tidak seorang pun dari ahli rumah yang berbicara karena mengagungkan perkara tersebut serta rasa gentar yang memenuhi dada kami. 'Aisyah berkata: Lalu Jibril datang pada waktunya dan mengucapkan salam, maka aku mengenali suaranya. Ahli rumah pun keluar lalu Jibril masuk dan berkata, 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Bagaimana engkau mendapati dirimu? Padahal Dia lebih mengetahui keadaan yang engkau rasakan, namun Dia hendak menambah kemuliaan dan keutamaan bagimu, menyempurnakan karamah dan kemuliaanmu atas seluruh makhluk, serta menjadikannya sebagai sunnah bagi umatmu.' Beliau bersabda, 'Aku mendapati diriku merasa sakit.' Jibril berkata, 'Bergembiralah, karena Allah Ta'ala hendak menyampaikanmu pada apa yang telah Dia sediakan bagimu.' Beliau bersabda, 'Wahai Jibril, sesungguhnya Malaikat Maut telah meminta izin kepadaku,' lalu beliau memberitahukan kabarnya. Jibril berkata, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu sangat rindu kepadamu. Bukankah Dia telah memberitahukan kepadamu apa yang Dia kehendaki bagimu? Tidak, demi Allah Ta'ala, Malaikat Maut tidak pernah meminta izin kepada seorang pun sebelum ini dan tidak akan pernah meminta izin kepada siapa pun selamanya. Namun Tuhanmu hendak menyempurnakan kemuliaanmu dan Dia merindukanmu.' Beliau bersabda, 'Maka janganlah engkau beranjak sampai ia datang.' Beliau lalu mengizinkan para wanita masuk, dan bersabda, 'Wahai Fatimah, mendekatlah!' Maka Fatimah menunduk rapat ke arah beliau dan beliau membisikinya. Lalu Fatimah mengangkat kepalanya dengan kedua mata meneteskan air mata dan tidak sanggup berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, 'Mendekatkanlah kepalamu kepadaku!' Fatimah menunduk lagi dan beliau membisikinya, lalu Fatimah mengangkat kepalanya seraya tersenyum gembira dan tidak sanggup berkata-kata. Keadaan yang kami lihat darinya itu sangat menakjubkan. Aku bertanya kepadanya setelah itu, lalu Fatimah menjawab, 'Beliau memberitahuku dan bersabda: Sesungguhnya aku akan wafat hari ini, maka aku menangis. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya aku mendoakan kepada Allah agar engkau menjadi keluargaku yang pertama kali menyusulku dan menjadikanmu bersamaku, maka aku tersenyum.' Dan Fatimah mendekatkan kedua putranya kepada beliau, lalu beliau mencium keduanya. 'Aisyah berkata: Dan Malaikat Maut datang lalu meminta izin, maka beliau mengizinkannya. Lalu Malaikat itu berkata…
ما تأمرنا يا محمد قال الحقني بربي الآن فقال بلى من يومك هذا أما إن ربك إليك مشتاق ولم يتردد عن أحد تردده عنك ولم ينهنى عن الدخول على أحد إلا بإذن غيرك ولكن ساعتك أمامك وخرج قالت وجاء جبريل فقال السلام عليك يا رسول الله هذا آخر ما أنزل فيه إلى الأرض أبدا طوى الوحي وطويت الدنيا وما كان لي في الأرض حاجة غيرك ومالي فيها حاجة إلا حضورك ثم لزوم موقفي لا والذي بعث محمدا بالحق ما في البيت أحد يستطيع أن يحير إليه في ذلك كلمة ولا يبعث إلى أحد من رجاله لعظم ما يسمع من حديثه ووجدنا وإشفاقنا قالت فقمت إلى النبي ﷺ حتى أضع رأسه بين ثديي وأمسكت بصدره وجعل يغمى عليه حتى يغلب وجبهته ترشح رشحا ما رأيته من إنسان قط فجعلت أسلت ذلك العرق وما وجدت رائحة شيء أطيب منه فكنت أقول له إذا أفاق بأبي أنت وأمي ونفسي وأهلي ما تلقى جبهتك من الرشح فقال يا عائشة إن نفس المؤمن تخرج بالرشح ونفس الكافر تخرج من شدقيه كنفس الحمار فعند ذلك ارتعنا وبعثنا إلى أهلنا فكان أول رجل جاءنا ولم يشهده أخي بعثه إلى أبي فمات رسول الله ﷺ قبل أن يجيء أحد وإنما صدهم الله عنه لأنه ولاه جبريل وميكائيل وجعل إذا أغمى عليه قال بل الرفيق الأعلى كأن الخيرة تعاد عليه فإذا أطاق الكلام قال الصلاة الصلاة إنكم لا تزالون متماسكين ما صليتم جميعا الصلاة الصلاة كان يوصي بها حتى مات وهو
'Apakah yang engkau perintahkan kepada kami wahai Muhammad?' Beliau bersabda, 'Pertemukanlah aku dengan Tuhanku sekarang!' Malaikat Maut berkata, 'Baik, pada harimu ini. Ketahuilah bahwa Tuhanmu sangat rindu kepadamu. Dia tidak pernah ragu terhadap seseorang seperti keraguan-Nya terhadapmu, dan Dia tidak pernah melarangku masuk kepada seseorang tanpa izin selain dirimu. Namun saatmu telah ada di hadapanmu.' Lalu Malaikat Maut keluar. 'Aisyah berkata: Dan Jibril datang seraya berkata, 'Sejahtera atasmu wahai Rasulullah. Ini adalah kali terakhir aku turun ke bumi untuk selamanya. Wahyu telah dilipat dan dunia telah dilipat; tidak ada lagi bagiku hajat di bumi selain dirimu, dan tidak ada hajatku padanya melainkan menghadiri wujudmu, kemudian aku menetap di tempat kedudukanku. Tidak, demi Tuhan yang mengutus Muhammad dengan kebenaran! Tidak ada seorang pun di dalam rumah yang sanggup mengembalikan sepatah kata pun kepadanya mengenai hal itu, dan tidak pula mengutus kepada seorang pun dari para lelakinya karena mengagungkan apa yang didengar dari perkataannya, serta rasa duka dan kecemasan kami.' 'Aisyah berkata: Maka aku bangkit menuju Nabi ﷺ hingga aku meletakkan kepala beliau di antara dadaku dan memegang dadanya. Beliau mulai pingsan tidak sadarkan diri hingga sangat berat, dan dahi beliau mengucurkan keringat deras yang belum pernah aku lihat pada manusia mana pun. Aku mulai menyapu keringat itu dan aku tidak mendapati wewangian apa pun yang lebih harum daripadanya. Aku berkata kepada beliau ketika beliau sadar, 'Demi ayahku, ibuku, diriku, dan keluargaku sebagai tebusanmu! Betapa derasnya keringat yang mengucur dari dahimu.' Beliau bersabda, 'Wahai 'Aisyah, sesungguhnya jiwa seorang mukmin keluar dengan mengucurnya keringat, sedangkan jiwa orang kafir keluar dari kedua sudut mulutnya seperti jiwanya keledai.' Pada saat itulah kami sangat terperanjat lalu kami mengutus seseorang kepada keluarga kami. Maka orang pertama yang datang kepada kami—dan saudara lakiku tidak menyaksikannya—diutus kepada ayahku. Lalu Rasulullah ﷺ wafat sebelum ada seorang pun yang datang. Sesungguhnya Allah menahan mereka dari beliau karena Jibril dan Mikail yang mengurus beliau. Dan apabila beliau pingsan, beliau mengucapkan, 'Bahkan (aku memilih) Ar-Rafiq Al-A'la (Tempat Kembali Yang Tertinggi),' seakan-akan pilihan terus ditawarkan kembali kepada beliau. Apabila beliau sanggup berbicara, beliau bersabda, 'Shalat! Shalat! Sesungguhnya kalian akan senantiasa kuat bertahan selama kalian mendirikan shalat bersama-sama. Shalat! Shalat!' Beliau terus berwasiat dengannya hingga beliau wafat dalam keadaan…
يقول الصلاة الصلاة قالت عائشة ﵂ مات رسول الله ﷺ بين ارتفاع الضحى وانتصاف النهار يوم الاثنين قالت فاطمة ﵂ ما لقيت من يوم الاثنين والله لا تزال الأمة تصاب فيه بعظيمة وقالت أم كلثوم يوم أصيب علي كرم الله وجهه بالكوفة مثلها ما لقيت من يوم الاثنين مات فيه رسول الله ﷺ وفيه قتل علي كرم وفيه قتل أبي فما لقيت من يوم الاثنين وقالت عائشة ﵂ لما مات رسول الله ﷺ اقتحم الناس حين ارتفعت الرنة وسجى رسول الله ﷺ الملائكة بثوبة فاختلفوا فكذب بعضهم بموته وأخرس بعضهم فما تكلم إلا بعد البعد وخلط آخرون فلاثوا الكلام بغير بيان وبقي آخرون معهم عقولهم وأقعد آخرون فكان عمر بن الخطاب فيمن كذب بموته وعلي فيمن أقعد وعثمان فيمن أخرس
…mengucapkan, 'Shalat! Shalat!' 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah ﷺ wafat di antara waktu dhuha yang telah tinggi dan pertengahan siang pada hari Senin. Fatimah radhiyallahu 'anha berkata, 'Betapa berat ujian yang aku temui pada hari Senin! Demi Allah, umat ini akan senantiasa ditimpa musibah besar pada hari itu.' Dan Umm Kultsum berkata pada hari saat 'Ali karramallahu wajhah tertimpa musibah di Kufah dengan ucapan serupa, 'Betapa berat ujian yang aku temui pada hari Senin; pada hari itu Rasulullah ﷺ wafat, pada hari itu 'Ali dibunuh, dan pada hari itu ayahku dibunuh. Betapa berat ujian yang aku temui dari hari Senin!' Dan 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Ketika Rasulullah ﷺ wafat, orang-orang saling berdesakan masuk ketika tangisan keras membumbung tinggi, dan malaikat telah menutupi jasad Rasulullah ﷺ dengan kainnya. Maka mereka pun berselisih paham; sebagian menolak (mendustakan) kematian beliau, sebagian menjadi bisu sehingga tidak berbicara melainkan setelah sekian lama, sebagian lagi bingung hingga pembicaraannya kacau tanpa kejelasan, sebagian lagi tetap memiliki akal sehat, dan sebagian lainnya terkulai lumpuh tak berdaya. 'Umar bin Al-Khattab termasuk orang yang mendustakan kematian beliau, 'Ali termasuk yang terkulai lumpuh, dan 'Utsman termasuk yang menjadi bisu.
فخرج عمر على الناس وقال أن رسول الله ﷺ لم يمت وليرجعنه الله ﷿ وليقطعن أيدي وأرجل رجال من المنافقين يتمنون لرسول الله ﷺ الموت إنما واعده الله ﷿ كما واعد موسى وهو آتيكم وفي رواية أنه قال يا أيها الناس كفوا ألسنتكم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فإنه لم يمت والله لا أسمع أحدا يذكر أن رسول الله ﷺ قد مات إلا علوته بسيفي هذا
Maka 'Umar keluar menemui orang-orang dan berkata, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak mati, dan sungguh Allah 'Azza wa Jalla akan mengembalikan beliau, serta beliau sungguh akan memotong tangan dan kaki orang-orang munafik yang mengharapkan kematian bagi Rasulullah ﷺ. Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berjanji kepada beliau sebagaimana Dia berjanji kepada Musa, dan beliau akan kembali kepada kalian." Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa ia berkata, "Wahai manusia, tahanlah lidah kalian dari menduga kematian Rasulullah ﷺ, karena sesungguhnya beliau tidak mati! Demi Allah, aku tidak mendengar seorang pun menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat melainkan aku akan menebasnya dengan pedangku ini!"
وأما علي فإنه أقعد فلا يبرح البيت
Adapun 'Ali, sesungguhnya ia terkulai lumpuh tak berdaya sehingga ia tidak beranjak dari rumah.
وأما عثمان فجعل لا يكلم أحدا يؤخذ بيده فيجاء به ويذهب به ولم يكن أحد من المسلمين في مثل حال أبي بكر والعباس فإن الله ﷿ أيدهما بالتوفيق والسداد وإن كان الناس لم يرعووا إلا بقول أبي بكر حتى جاء العباس فَقَالَ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لقد ذاق رسول الله ﷺ الموت ولقد قال وهو بين أظهركم ﴿إنك ميت وإنهم ميتون ثم إنكم يوم القيامة عند ربكم تختصمون﴾
Adapun 'Utsman, ia tidak berbicara kepada seorang pun; tangannya dipegang lalu ia dituntun dibawa kemari dan dibawa pergi. Dan tidak ada seorang pun di antara kaum muslimin yang keadaannya sekuat Abu Bakar dan Al-'Abbas, karena Allah 'Azza wa Jalla menguatkan keduanya dengan taufik dan kebenaran. Meskipun demikian, orang-orang tidak sadar dan tenang melainkan dengan perkataan Abu Bakar hingga Al-'Abbas datang dan berkata, "Demi Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia, sungguh Rasulullah ﷺ telah merasakan kematian! Dan sungguh beliau telah bersabda ketika beliau berada di tengah-tengah kalian: 'Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula. Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu.' [QS. Az-Zumar: 30-31]."
وبلغ أبا بكر الخبر وهو في بني الحرث بن الخزرج فجاء ودخل عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فنظر إليه
Dan kabarnya sampai kepada Abu Bakar ketika ia berada di tempat Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Maka ia datang dan masuk menemui Rasulullah ﷺ lalu memandang kepada beliau.
ثم أكب عليه فقبله ثم قال بأبي أنت وأمي يا رسول الله ما كان الله تعالى ليذيقك الموت مرتين فقد والله توفي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ خرج إلى الناس فقال أيها الناس من كان يعبد محمدا فإن محمدا قد مات ومن كان يعبد رب محمد فإنه حى لا يموت قال الله تعالى وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل أنقلبتم على أعقابكم الآية فكأن الناس لم يسمعوا هذه الآية إلا يومئذ وفي رواية أن أبا بكر رضي الله تعالى عنه لما بلغه الخبر دخل بيت رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وعيناه تهملان وغصصه ترتفع كقصع الجرة وهو في ذلك جلد الفعل والمقال فأكب عليه فكشف عن وجهه وقبل جبينه وخديه ومسح وجهه وجعل يبكي ويقول بأبي أنت وأمي ونفسي وأهلي طبت حيا وميتا انقطع لموتك ما لم ينقطع لموت أحد من الأنبياء والنبوة فعظمت عن الصفة وجللت عن البكاء وخصصت حتى صرت مسلاة وعممت حتى صرنا فيك سواء ولولا أن موتك كان اختيارا منك لجدنا لحزنك بالنفوس ولولا أنك نهيت عن البكاء لأنفذنا عليك ماء العيون فأما مالا نستطيع نفيه عنا فكمد وأدكار محالفان لا يبرحان اللهم فأبلغه عنا اذكرنا يا محمد صلى الله عليك عند ربك ولنكن من بالك فلولا ما خلفت من السكينة لم يقم أحد لما خلفت من الوحشة اللهم أبلغ نبيك عنا وأحفظه فينا
Kemudian Abu Bakar membungkuk di atas jasad Rasulullah lalu menciumnya, kemudian berkata, "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah, Allah Ta'ala tidak akan pernah merasakan kematian padamu dua kali. Sungguh, demi Allah, Rasulullah ﷺ telah wafat." Kemudian beliau keluar menemui khalayak lalu berkata, "Wahai sekalian manusia, barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Tuhan Muhammad, maka sesungguhnya Dia Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Allah Ta'ala berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (QS. Ali 'Imran: 144). Seolah-olah orang-orang belum pernah mendengar ayat ini kecuali pada hari itu. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika berita (wafatnya Rasulullah) sampai kepada Abu Bakar r.a., beliau masuk ke rumah Rasulullah ﷺ seraya mengucapkan salawat kepada Nabi ﷺ, sementara kedua matanya bercucuran air mata dan isak tangisnya membuncah bagaikan gelembung air dalam bejana, namun dalam situasi itu beliau tetap teguh dalam tindakan maupun perkataan. Beliau membungkuk di atas jasad Rasulullah, menyingkap kain dari wajah beliau, mencium dahi dan kedua pipi beliau, serta mengusap wajah beliau seraya menangis dan berkata: "Demi ayahku, ibuku, diriku, dan keluargaku sebagai tebusanmu, engkau sungguh alangkah indahnya baik sewaktu hidup maupun setelah wafat. Terputuslah dengan wafatmu apa yang tidak terputus dengan wafatnya seorang pun dari para nabi, yaitu kenabian. Keagunganmu melebihi segala sifat, keagunganmu terlalu tinggi untuk sekadar ditangisi, engkau memiliki keistimewaan hingga menjadi penghibur kesedihan, dan duka atasmu meliputi semuanya hingga kami semua merasa sama dalam kesedihan bagimu. Sekiranya wafatmu bukan karena pilihan darimu, niscaya kami korbankan jiwa kami demi duka atasmu. Sekiranya engkau tidak melarang menangis, niscaya kami habiskan air mata kami untukmu. Adapun apa yang tak sanggup kami singkirkan dari diri kami adalah kesedihan mendalam dan kenangan yang terikat erat tak kunjung pergi. Ya Allah, sampaikanlah salam kami kepadanya. Ingatlah kami, wahai Muhammad ﷺ, di sisi Tuhanmu, dan jadikanlah kami senantiasa dalam ingatanmu. Sekiranya bukan karena ketenangan yang engkau tinggalkan, niscaya tidak seorang pun yang sanggup bertahan menghadapi kesepian mendalam yang engkau tinggalkan. Ya Allah, sampaikanlah salam kami kepada Nabi-Mu dan peliharalah ajaran beliau pada diri kami."
وعن ابن عمر أنه لما دخل أبو بكر البيت وصلى وأثنى عج أهل البيت عجيجا سمعه أهل المصلى كلما ذكر شيئا ازدادوا فما سكن عجيجهم إلا تسليم رجل على الباب صيت جلد قال السلام عليكم يا أهل البيت ﴿كل نفس ذائقة الموت﴾ الآية إن في الله خلفا من كل أحد ودركا لكل رغبة ونجاة من كل مخافة فالله تعالى فارجوا وبه فثقوا
Diriwayatkan dari Ibn Umar r.a. bahwa ketika Abu Bakar masuk ke dalam rumah, lalu bersalawat dan memuji Nabi, anggota keluarga di rumah menangis tersedu-sedu hingga terdengar oleh orang-orang di tempat shalat. Setiap kali Abu Bakar menyebutkan sesuatu tentang Nabi, tangisan mereka semakin keras. Tangisan mereka tidak reda sampai ada salam dari seorang laki-laki di pintu yang bersuara lantang dan berwibawa. Laki-laki itu berkata, "Assalamu 'alaikum wahai Ahlul Bait. 'Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…' (Ayat). Sesungguhnya pada Allah ada pengganti dari segala yang hilang, pencapaian bagi segala harapan, dan penyelamat dari segala ketakutan. Maka hanya kepada Allah Ta'ala hendaknya kalian berharap, dan hanya kepada-Nya hendaknya kalian percaya."
فاستمعوا له وأنكروه وقطعوا البكاء فلما انقطع البكاء فقد صوته فاطلع أحدهم فلم ير أحدا ثم عادوا فبكوا فناداهم مناد آخر لا يعرفون صوته يا اهل البيت اذكروا الله تعالى واحمدوه على كل حال تكونوا من المخلصين إن في الله عزاء من كل مصيبة وعوضا من كل رغيبة فالله فأطيعوا وبأمره فاعملوا
Maka mereka mendengarkan suara itu seraya merasa asing padanya dan menghentikan tangisan. Ketika tangisan terhenti, suara itu pun lenyap. Salah seorang dari mereka melihat ke luar namun tidak melihat siapa-siapa. Kemudian mereka kembali menangis, lalu ada penyeru lain yang menyeru mereka dengan suara yang tidak mereka kenali: "Wahai Ahlul Bait, ingatlah Allah Ta'ala dan pujilah Dia dalam segala keadaan, niscaya kalian termasuk orang-orang yang ikhlas. Sesungguhnya pada Allah ada penghibur dari setiap musibah dan ganti dari setiap kebaikan yang diinginkan. Maka taatilah Allah dan amalkanlah perintah-Nya."
فقال أبو بكر هذا الخضر واليسع ﵉ حضرا النبي ﷺ واستوفى القعقاع بن عمرو حكاية خطبة أبي بكر ﵁ فقال قام أبو بكر في الناس
Maka Abu Bakar berkata, "Ini adalah Khidir dan Ilyasa' 'alaihimassalam yang menyemayamkan Nabi ﷺ." Al-Qa'qa' bin 'Amr melengkapi riwayat khotbah Abu Bakar r.a. dengan mengatakan: Abu Bakar berdiri di hadapan orang banyak.
خطيبا حيث قضى الناس عبراتهم بخطبة جلها الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فحمد الله وأثنى عليه على كل حال وَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وحده صدق وعده ونصر عبده وغلب الأحزاب وحده فلله الحمد وحده وأشهد أن محمداً عبده ورسوله وخاتم أنبيائه وأشهد أن الكتاب كما شرع وأن الدين كما شرع وأن الحديث كما حدث وأن القول كما قال وأن الله هو الحق المبين اللهم فصل على محمد عبدك ورسولك ونبيك وحبيبك وأمينك وخيرتك وصفوتك بأفضل ما صليت به على أحد من خلقك اللهم واجعل صلواتك ومعافاتك ورحمتك على سيد المرسلين وخاتم النبيين وإمام المتقين محمد قائد الخير وإمام الخير ورسول الرحمة اللهم قرب زلفته وعظم برهانه وكرم مقامه وابعثه مقاما محمودا يغبطه به الأولون وألاخرون وانفعنا بمقامه المحمود يوم القيامة واخلفه فينا في الدنيا والآخرة وبلغه الدرجة والوسيلة في الجنة اللهم صلي على محمد وعلى آل محمد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما صليت وباركت على إبراهيم إنك حميد مجيد أيها الناس إنه من كان يعبد محمدا فإن محمدا قد مات ومن كان يعبد الله فإن الله حي لم يمت وإن الله قد قدم إليكم في أمره فلا تدعوه جزعا فإن الله ﷿ قد اختار لنبيه ﷺ ما عنده على ما عندكم وقبضه إلى ثوابه وخلف فيكم كتابه وسنة نبيه ﷺ فمن أخذ بهما عرف ومن فرق بينهما أنكر ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ﴾ ولا يشغلنكم الشيطان بموت نبيكم ولا يفتننكم عن دينكم وعالجوا الشيطان بالخير تعجزوه ولا تستنظروه فيلحق بكم ويفتنكم
Beliau berkhotbah setelah orang-orang meredakan tangisan mereka, sebuah khotbah yang sebagian besarnya berisi salawat kepada Nabi ﷺ. Beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya dalam segala keadaan, lalu berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, yang menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan sekutu sendirian, maka hanya bagi Allah segala pujian. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya serta penutup para nabi-Nya. Aku bersaksi bahwa Kitab (Al-Qur'an) adalah sebagaimana yang Dia syariatkan, agama adalah sebagaimana yang Dia tetapkan, hadis adalah sebagaimana yang disampaikan, perkataan adalah sebagaimana yang Dia firmankan, dan bahwa Allah adalah Yang Mahabenar lagi Maha Menjelaskan. Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad, hamba-Mu, utusan-Mu, nabi-Mu, kekasih-Mu, pemegang amanah-Mu, hamba pilihan-Mu, dan insan murni-Mu, dengan salawat paling utama yang pernah Engkau limpahkan kepada seorang pun dari makhluk-Mu. Ya Allah, jadikanlah salawat-Mu, perlindungan-Mu, dan rahmat-Mu tercurah kepada pemimpin para rasul, penutup para nabi, dan imam orang-orang yang bertakwa, Muhammad, pelopor kebaikan, imam kebaikan, dan rasul pembawa rahmat. Ya Allah, dekatkanlah kedudukannya di sisi-Mu, agungkanlah argumentasinya, muliahkanlah tempatnya, dan bangkitkanlah beliau di tempat yang terpuji (makam mahmud) yang dicemburui oleh orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, dan berilah kami manfaat dari tempat terpuji beliau pada hari kiamat, serta gantikanlah beliau di tengah-tengah kami di dunia dan akhirat, dan sampaikanlah beliau ke derajat yang tinggi dan al-wasilah di dalam surga. Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, serta berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat dan keberkahan kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Wahai sekalian manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati. Sesungguhnya Allah telah mendahulukan firman-Nya kepada kalian dalam urusan-Nya, maka janganlah kalian meninggalkannya karena rasa keluh kesah. Karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah memilih bagi Nabi-Nya ﷺ apa yang ada di sisi-Nya daripada apa yang ada di sisi kalian, dan mengambil ruhnya menuju pahala-Nya, serta meninggalkan untuk kalian Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Barang siapa yang berpegang teguh pada keduanya niscaya ia berada dalam kebenaran, dan barang siapa memisahkannya niscaya ia akan mengingkarinya. 'Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan…' (QS. An-Nisa': 135). Dan janganlah sekali-kali setan menyibukkan kalian dengan wafatnya Nabi kalian, serta janganlah ia memfitnah kalian dari agama kalian. Obatilah bisikan setan dengan kebaikan niscaya kalian melemahkannya, dan janganlah kalian menundanya sehingga ia menyusul kalian dan memfitnah kalian."
وقال ابن عباس لما فرغ أبو بكر من خطبته قال يا عمر أنت الذي بلغني انك تقول ما مات نبي الله ﷺ أما ترى أن نبي الله ﷺ قال يوم كذا كذا وكذا ويوم كذا كذا وكذا وقال تعالى في كتابه ﴿إنك ميت وإنهم ميتون﴾ فقال والله لكأني لم أسمع بها في كتاب الله قبل الآن لما نزل بنا أشهد أن الكتاب كما أنزل وأن الحديث كما حدث وأن الله حي لا يموت ﴿إنا لله وإنا إليه راجعون﴾ وصلوات الله على رسوله وعند الله نحتسب رسوله ﷺ ثم جلس إلى أبي بكر
Ibn Abbas r.a. berkata: Ketika Abu Bakar selesai dari khotbahnya, beliau berkata, "Wahai Umar, apakah engkau orang yang sampai padaku kabar bahwa engkau mengatakan Nabi Allah ﷺ belum wafat? Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi Allah ﷺ pernah bersabda pada hari ini demikian dan demikian, dan pada hari ini demikian dan demikian, serta Allah Ta'ala telah berfirman dalam Kitab-Nya: 'Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula.' (QS. Az-Zumar: 30)?" Maka Umar berkata, "Demi Allah, seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat itu dalam Kitab Allah sebelum ini karena dahsyatnya musibah yang menimpa kita. Aku bersaksi bahwa Al-Kitab adalah sebagaimana yang diturunkan, hadis adalah sebagaimana yang disampaikan, dan sesungguhnya Allah Maha Hidup tidak akan mati. 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.' Salawat Allah semoga tercurah kepada Rasul-Nya, dan hanya kepada Allah kami menyerahkan pahala atas musibah wafatnya Rasulullah ﷺ." Kemudian Umar duduk di samping Abu Bakar.
وقالت عائشة ﵂ لما اجتمعوا لغسله قالوا والله ما ندري كيف نغسل رسول الله ﷺ أنجرده عن ثيابه كما نصنع بموتانا أو نغسله في ثيابه قالت فأرسل الله عليهم النوم حتى ما بقي منهم رجل إلا واضع لحيته على صدره نائما ثم قال قائل لا يدري من هو غسلوا رسول الله ﷺ في ثيابه فانتبهوا ففعلوا ذلك فغسل رسول الله ﷺ في قميصه حتى إذا فرغوا من غسله كفن
Aisyah r.a. berkata: Ketika para sahabat berkumpul untuk memandikan beliau, mereka berkata, "Demi Allah, kami tidak tahu bagaimana cara memandikan Rasulullah ﷺ. Apakah kami harus menanggalkan pakaian beliau sebagaimana yang kami lakukan pada jenazah-jenazah kami, ataukah kami memandikan beliau dalam keadaan berpakaian?" Aisyah berkata: Maka Allah menimpa mereka dengan rasa kantuk yang berat hingga tidak ada seorang pun dari mereka melainkan dagunya menempel di dadanya dalam keadaan tertidur. Kemudian seorang penyeru—yang tidak diketahui siapa dia—berkata, "Memandikanlah Rasulullah ﷺ dalam keadaan beliau mengenakan pakaiannya." Maka mereka terbangun dan melaksanakan perintah tersebut; Rasulullah ﷺ dimandikan dengan tetap mengenakan gamis beliau. Hingga setelah selesai memandikan, beliau pun dikafani.
وقال علي كرم الله وجهه أردنا خلع قميصه فنودينا لا تخلعوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثيابه
Ali karramallahu wajhah berkata: "Kami hendak menanggalkan gamis beliau, namun ada suara menyeru kami: 'Jangan kalian tanggalkan pakaian dari Rasulullah ﷺ!'"
فأقررناه فغسلناه في قميصه كما نغسل موتانا مستلقيا ما نشاء أن يقلب لنا منه عضو لم يبالغ فيه إلا قلب لنا حتى نفرغ منه وإن معنا لحفيفا في البيت كالريح الرخاء ويصوت بنا ارفقوا برسول الله ﷺ فإنكم ستكفون فهكذا كانت وفاة رسول الله ﷺ ولم يترك
"Maka kami membiarkannya dan memandikan beliau dalam keadaan mengenakan gamisnya sebagaimana kami memandikan jenazah kami dalam posisi terlentang. Tidaklah kami hendak membalikkan suatu anggota tubuh beliau tanpa memaksakannya melainkan anggota tubuh itu terbalik sendiri untuk kami hingga kami selesai. Sungguh kami mendengar desir halus di dalam rumah bagaikan angin sepoi-sepoi, dan ada suara yang menyeru kami: 'Berlemah-lembutlah kepada Rasulullah ﷺ, karena sesungguhnya kalian akan dicukupi.' Begitulah wafatnya Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak meninggalkan…"
سبدا ولا لبدا إلا دفن معه
"…harta benda sekecil apa pun melainkan dikuburkan bersama beliau."
قال أبو جعفر فرش لحده بمفرشه وقطيفته وفرشت ثيابه عليها التي كان يلبس يقظان على القطيفة والمفرش ثم وضع عليها في أكفانه فلم يترك بعد وفاته مالا ولا نبي في حياته لبنة على لبنة ولا وضع قصبة على قصبة ففي وفاته عبرة تامة وللمسلمين به أسوة حسنة وفاة أبي بكر الصديق رضي الله تعالى عنه
Abu Ja'far berkata: Lahad beliau dihampar dengan alas tidur dan kain beludru milik beliau, serta dibentangkan pakaian yang biasa beliau kenakan sewaktu hidup di atas kain beludru dan alas tidur tersebut. Kemudian beliau diletakkan di atasnya dalam kain kafannya. Beliau tidak meninggalkan harta setelah wafatnya, dan tidak pernah mendirikan batu bata di atas batu bata sewaktu hidupnya, serta tidak pernah menumpuk buluh di atas buluh. Maka dalam wafatnya terdapat iktibar (pelajaran) yang sempurna dan bagi umat Islam terdapat suri teladan yang baik pada diri beliau. Wafatnya Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu 'anhu.
لما احتضر أبو بكر رضي الله تعالى عنه جاءت عائشة ﵂ فتمثلت بهذا البيت لعمرك ما يغنى الثراء عن الفتى … إذا حشرجت يوما وضاق بها الصدر
Ketika Abu Bakar r.a. menghadapi sakaratul maut, Aisyah r.a. datang lalu melantunkan bait syair ini: "Demi umurmu, kekayaan tidak akan berguna bagi seorang pemuda… apabila suatu hari napasnya telah menggegar di tenggorokan dan dada terasa sesak."
فكشف عن وجهه وقال ليس كذا ولكن قولي ﴿وجاءت سكرة الموت بالحق ذلك ما كنت منه تحيد﴾ انظروا ثوبي هذين فاغسلوهما وكفنوني فيهما فإن الحي إلى الجديد أحوج من الميت
Maka Abu Bakar menyingkap kain dari wajahnya dan berkata, "Bukan demikian, tetapi katakanlah: 'Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang kamu selalu lari darinya.' (QS. Qaf: 19). Perhatikanlah dua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafanilah aku dengan keduanya, karena sesungguhnya orang yang masih hidup lebih membutuhkan pakaian baru daripada orang yang sudah mati."
وقالت عائشة ﵂ عند موته
Aisyah r.a. berkata ketika menjelang wafatnya Abu Bakar:
وأبيض يستسقى الغمام بوجهه … ربيع اليتامى عصمة للأرامل
"Seorang yang berseri putih, yang memohon hujan dari awan melalui wajahnya… musim semi bagi anak-anak yatim dan pelindung bagi para janda."
فقال أبو بكر ذاك رسول الله ﷺ ودخلوا عليه فقالوا ألا ندعوا لك طبيبا ينظر إليك قال قد نظر إلى طبيبي وقال إني فعال لما أريد
Maka Abu Bakar berkata, "Itu adalah Rasulullah ﷺ." Dan orang-orang menjenguknya seraya berkata, "Tidakkah kami panggilkan tabib untuk merawatmu?" Beliau menjawab, "Tabibku telah melihatku dan berkata: 'Sesungguhnya Aku Maha Melaksanakan apa yang Aku kehendaki.'"
ودخل عليه سلمان الفارسي رضي الله تعالى عنه يعوده فقال يا أبا بكر أوصنا فقال إن الله فاتح عليكم الدنيا فلا تأخذن منها إلا بلاغك واعلم أن من صلى صلاة الصبح فهو في ذمة الله فلا تخفرن الله في ذمته فيكبك في النار على وجهك
Salman Al-Farisi r.a. masuk menjenguk beliau dan berkata, "Wahai Abu Bakar, berilah kami wasiat." Abu Bakar berkata, "Sesungguhnya Allah akan membukakan dunia bagi kalian, maka janganlah kalian mengambil dari dunia kecuali sekadar bekal yang mencukupi. Dan ketahuilah bahwa barang siapa melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan perlindungan Allah, maka janganlah kalian melanggar jaminan perlindungan Allah, yang menyebabkan Dia menyungkurkan kalian ke dalam neraka atas wajah kalian."
ولما ثقل أبو بكر رضي الله تعالى عنه وأراد الناس منه أن يستخلف فاستخلف عمر ﵁ فقال الناس له استخلفت علينا فظا غليظا فماذا تقول لربك فقال أقول استخلفت على خلقك خير خلقك
Ketika sakit Abu Bakar r.a. semakin berat dan orang-orang menginginkan beliau menunjuk pengganti (khalifah), beliau menunjuk Umar r.a. Orang-orang pun berkata kepadanya, "Engkau mengangkat atas kami seorang yang keras dan tegas, lalu apa yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu?" Abu Bakar menjawab, "Aku akan berkata: Aku telah mengangkat sebagai pemimpin atas makhluk-Mu orang yang terbaik di antara makhluk-Mu."
ثم أرسل إلى عمر ﵁ فجاء فقال إني موصيك بوصية اعلم إن لله حقا في النهار لا يقبله في الليل وأن لله حقا في الليل لا يقبله في النهار وأنه لا يقبل النافلة حتى تؤدى الفريضة وإنما ثقلت موازين من ثقلت موازينهم يوم القيامة باتباعهم الحق في الدنيا وثقله عليهم وحق لميزان لا يوضع فيه إلا الحق أن يثقل وإنما خفت موازين من خفت موزاينهم يوم القيامة باتباع الباطل وخفته عليهم وحق لميزان لا يوضع فيه إلاالباطل أن يخف وإن الله ذكر أهل الجنة بأحسن أعمالهم وتجاوز عن سيئاتهم فيقول القائل أنا دون هؤلاء ولا أبلغ مبلغ صالح الذي عملوا فيقول القائل أنا أفضل من هؤلاء وإن الله ذكر آية الرحمة وآية العذاب ليكون المؤمن راغبا راهبا ولا يلقى بيديه إلى التهلكة ولا يتمنى على الله غير الحق
Kemudian Abu Bakar mengutus seseorang kepada Umar r.a., lalu Umar datang dan Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya aku akan menyampaikan padamu suatu wasiat. Ketahuilah bahwa bagi Allah ada hak pada siang hari yang tidak diterima-Nya pada malam hari, dan bagi Allah ada hak pada malam hari yang tidak diterima-Nya pada siang hari. Dan sesungguhnya amalan sunnah tidak akan diterima hingga amalan fardu ditunaikan. Sesungguhnya timbangan orang-orang yang berat timbangannya pada hari kiamat menjadi berat karena mereka mengikuti kebenaran di dunia serta beratnya kebenaran itu bagi mereka; dan memang sudah sepatutnya timbangan yang tidak diletakkan di dalamnya melainkan kebenaran itu menjadi berat. Dan sesungguhnya timbangan orang-orang yang ringan timbangannya pada hari kiamat menjadi ringan karena mereka mengikuti kebatilan serta ringannya kebatilan itu bagi mereka; dan memang sudah sepatutnya timbangan yang tidak diletakkan di dalamnya melainkan kebatilan itu menjadi ringan. Sesungguhnya Allah menyebutkan penghuni surga dengan sebaik-baik amal mereka dan mengampuni keburukan-keburukan mereka, hingga ada orang yang berkata: 'Aku berada di bawah derajat mereka dan tidak mencapai tingkatan kebaikan yang mereka amalkan', dan ada yang berkata: 'Aku lebih utama dari mereka'. Dan sesungguhnya Allah menyebutkan ayat rahmat bersandingan dengan ayat azab agar seorang mukmin berada dalam keadaan berharap (raja') sekaligus takut (khauf), tidak menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan, dan tidak mengharapkan dari Allah sesuatu selain kebenaran."
فإن حفظت وصيتي هذه فلا يكون غائب أحب إليك من الموت ولا بد لك منه وإن ضيعت وصيتي فلا يكون غائب أبغض إليك من الموت ولا بد لك منه ولست بمعجزه
"Maka jika engkau menjaga wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang gaib (belum datang) yang lebih engkau cintai daripada kematian, dan kematian itu pasti mendatangimu. Namun jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang gaib yang lebih engkau benci daripada kematian, padahal kematian itu pasti mendatangimu dan engkau tidak akan mampu melepaskan diri darinya."
وقال سعيد بن المسيب لما احتضر أبو بكر ﵁ أتاه ناس من الصحابة فقالوا يا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ زودنا فإنا نراك لما بك
Sa'id bin al-Musayyib berkata, "Ketika Abu Bakar radhiyallahu 'anhu hendak wafat (dalam keadaan naza'), beberapa orang sahabat mendatangi beliau seraya berkata, 'Wahai Khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berilah kami bekal (nasihat), sebab kami melihat kondisi yang sedang engkau alami.'"
فقالوا أبو بكر من قال هؤلاء الكلمات ثم مات جعل الله روحه في الأفق المبين قالوا وما الأفق المبين قال قاع بين يديالعرش فيه رياض الله وأنهار وأشجار يغشاه كل يوم مائة
Maka Abu Bakar berkata, "Barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini kemudian meninggal dunia, niscaya Allah menjadikan ruhnya berada di al-Ufuq al-Mubin." Mereka bertanya, "Apakah al-Ufuq al-Mubin itu?" Beliau menjawab, "Sebuah hamparan di hadapan 'Arsy, di dalamnya terdapat taman-taman, sungai-sungai, dan pepohonan milik Allah, yang diliputi setiap hari oleh seratus…"
رحمة فمن قال هذا القول جعل الله روحه في هذا المكان اللهم إنك ابتدأت الخلق من غير حاجة بك إليهم ثم جعلتهم فريقين فريقا للنعيم وفريقا للسعير فاجعلني للنعيم ولا تجعلني للسعير اللهم إنك خلقت الخلق فرقا وميزتهم قبل أن تخلقهم فجعلت منهم شقيا وسعيدا وغويا ورشيدا فلا تشقني بمعاصيك
"…rahmat. Barangsiapa mengucapkan perkataan ini, Allah akan menjadikan ruhnya di tempat tersebut: 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memulai penciptaan makhluk tanpa ada kebutuhan dari-Mu kepada mereka, kemudian Engkau menjadikan mereka dua golongan: golongan yang berada dalam kenikmatan (surga) dan golongan yang berada dalam neraka Sa'ir. Maka jadikanlah aku termasuk golongan yang mendapat kenikmatan, dan jangan jadikan aku termasuk golongan neraka Sa'ir. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan makhluk dalam berbagai kelompok dan membedakan mereka sebelum Engkau menciptakan mereka, lalu Engkau menjadikan di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia, ada yang sesat dan ada yang mendapat petunjuk, maka janganlah Engkau celakakan aku sebab kemaksiatan-kemaksiatan yang aku perbuat.'"
اللهم إنك علمت ما تكسب كل نفس قبل أن تخلقها فلا محيص لها مما علمت فاجعلني ممن تستعمله بطاعتك اللهم إن أحدا لا يشاء حتى تشاء فاجعل مشيئتك أن أشاء ما يقربني إليك
"'Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap jiwa sebelum Engkau menciptakannya, maka tidak ada tempat menghindar baginya dari apa yang telah Engkau ketahui. Maka jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau pergunakan untuk mentaati-Mu. Ya Allah, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang berkehendak melainkan setelah Engkau berkehendak, maka jadikanlah kehendak-Mu agar aku menghendaki apa yang mendekatkan diriku kepada-Mu.'"
اللهم إنك قد قدرت حركات العباد فلا يتحرك شيء إلا بإذنك فاجعل حركاتي في تقواك اللهم إنك خلقت الخير والشر وجعلت لكل واحد منهما عاملا يعمل به فاجعلني من خير القسمين اللهم إنك خلقت الجنة والنار وجعلت لكل واحدة منهما أهلا فاجعلني من سكان جنتك
"'Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mentakdirkan gerak-gerik para hamba, maka tidak ada sesuatupun yang bergerak melainkan dengan izin-Mu. Maka jadikanlah gerak-gerikku senantiasa dalam ketakwaan kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan kebaikan dan keburukan, dan Engkau jadikan bagi masing-masing dari keduanya orang yang mengamalkannya. Maka jadikanlah aku dari bagian yang terbaik (kebaikan). Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan surga dan neraka, dan Engkau jadikan bagi masing-masing dari keduanya penghuni. Maka jadikanlah aku termasuk penghuni surga-Mu.'"
اللهم إنك أردت بقوم الضلال وضيقت به صدورهم فاشرح صدري للإيمان وزينه في قلبي اللهم إنك دبرت الأمور وجعلت مصيرها إليك فأحيني بعد الموت حياة طيبة وقربني إليك زلفى اللهم من أصبح وأمسى ثقته ورجاؤه غيرك فأنت ثقتي ورجائي ولا حول ولا قوة إلا بالله قال أبو بكر هذا كله في كتاب الله ﷿ وفاة عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه
"'Ya Allah, sesungguhnya Engkau menghendaki kesesatan bagi suatu kaum dan menyempitkan dada mereka dengannya, maka lapangkanlah dadaku untuk keimanan dan hiasilah keimanan itu di dalam hatiku. Ya Allah, sesungguhnya Engkau yang mengatur segala urusan dan menjadikan muaranya kembali kepada-Mu, maka hidupkanlah aku setelah kematian dengan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dan dekatkanlah aku kepada-Mu sedekat-dekatnya. Ya Allah, barangsiapa di pagi dan sore hari sandaran kepercayaan dan harapannya kepada selain Engkau, maka Engkaulah sandaran kepercayaan dan harapanku, dan tiada daya serta upaya melainkan dengan pertolongan Allah.'" Abu Bakar berkata, "Semua ini terdapat di dalam Kitab Allah Azza wa Jalla." Wafatnya Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ta'ala 'anhu.
قال عم بن ميمون كنت قائما غداة أصيب عمر ما بيني وبينه إلا عبد الله بن عباس وكان إذا مر بين الصفين قام بينهما فإذا رأى خللا قال استووا حتى إذا لم ير فيهم خللا لا تقدم فكبر قال وربما قرأ سورة يوسف أو النحل أو نحو ذلك في الركعة الأولى حتى يجتمع الناس فما هو إلا أن أكبر فسمعته يقول قتلني أو أكلني الكلب حين طعنه أبو لؤلؤة وطار العلج بسكين ذات طرفين لا يمر على أحد يمينا أو شمالا إلا طعنه حتى طعن ثلاثة عشر رجلا فمات منهم تسعة وفي رواية سبعة
Amr bin Maimun berkata, "Aku sedang berdiri pada pagi hari saat Umar ditikam, tidak ada jarak antara aku dan beliau selain Abdullah bin Abbas. Apabila Umar berjalan di antara dua shaf, beliau berdiri di antara keduanya; jika melihat celah, beliau berkata, 'Luruskan shaf kalian!' Hingga apabila tidak melihat celah lagi, beliau maju lalu bertakbir. Beliau terkadang membaca surah Yusuf, an-Nahl, atau semisal itu pada rakaat pertama agar orang-orang berkumpul. Namun tidak berapa lama setelah beliau bertakbir, aku mendengar beliau berkata, 'Anjing ini telah membunuhku (atau memangsaku)'—ketika Abu Lu'lu'ah menikamnya. Lalu orang kafir/non-Arab itu berlari membawa pisau bermata dua, tidaklah ia melewati seseorang ke kanan atau ke kiri melainkan menancapkan pisaunya hingga ia menikam tiga belas orang, sembilan di antaranya meninggal dunia—dalam riwayat lain: tujuh orang."
فلما رأى ذلك رجل من المسلمين طرح عليه برنسا فلما ظن العلج أنه مأخوذ نحر نفسه
Ketika seorang laki-laki Muslim melihat hal itu, ia melemparkan baju jubah berkupluk (burnus) ke atasnya. Maka ketika orang kafir itu menyadari bahwa dirinya akan tertangkap, ia menyembelih dirinya sendiri (bunuh diri).
وتناول عمر رضي الله تعالى عنه عبد الرحمن بن عوف فقدمه فأما من كان يلي عمر فقد رأى ما رأيت وأما نواحي المسجد ما يدرون ما الأمر غير أنهم فقدوا صوت عمر وهم يقولون سبحان الله سبحان الله فصلى بهم عبد الرحمن صلاة خفيفة فلما انصرفوا قال يا ابن العباس انظر من قتلني قال فغاب ساعة ثم جاء فقال غلام المغيرة بن شعبة فقال عمر ﵁ قاتله الله لقد كنت أمرت به معروفا
Kemudian Umar radhiyallahu ta'ala 'anhu memegang tangan Abdurrahman bin Auf lalu memajukannya (untuk menjadi imam). Adapun orang-orang yang berada dekat di belakang Umar melihat apa yang aku lihat, sedangkan di sudut-sudut masjid lainnya mereka tidak tahu apa yang terjadi selain kehilangan suara Umar, dan mereka menyerukan, 'Subhanallah, Subhanallah.' Maka Abdurrahman memimpin mereka shalat dengan ringkas. Ketika mereka selesai shalat, Umar berkata, 'Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang menikamku!' Beliau pergi sejenak lalu kembali dan berkata, 'Budak laki-laki milik al-Mughirah bin Syu'bah.' Maka Umar radhiyallahu 'anhu berkata, 'Semoga Allah membinasakannya, padahal sungguh aku telah memerintahkan kebaikan kepadanya.'
ثم قال الحمد لله الذي لم يجعل منيتي بيد رجل مسلم قد كنت أنت وأبوك تحبان أن يكثر العلوج بالمدينة وكان العباس أكثرهم رقيقا فقال ابن عباس إن شئت فعلت أي إن شئت قتلناهم قال بعدما تكلموا بلسانكم وصلوا إلى قبلتكم وحجوا حجكم فاحتمل إلى بيته فانطلقنا معه قال وكأن الناس لم تصبهم مصيبة قبل يومئذ قال فقائل يقول أخاف عليه وقائل يقول لا بأس
Kemudian beliau berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang laki-laki Muslim. Dahulu engkau dan ayahmu suka jika jumlah orang-orang non-Arab diperbanyak di Madinah"—dan Al-Abbas adalah orang yang paling banyak memiliki budak. Maka Ibnu Abbas berkata, "Jika engkau mau, aku akan melakukannya"—maksudnya: jika engkau mau, kami akan membunuh mereka. Umar berkata, "Apakah (akan kalian bunuh) setelah mereka berbicara dengan bahasa kalian, shalat menghadap kiblat kalian, dan menunaikan haji seperti haji kalian?" Lalu Umar diusung ke rumahnya dan kami pun berangkat bersamanya. Perawi berkata, "Seolah-olah manusia belum pernah tertimpa musibah sebesar itu sebelum hari tersebut. Ada yang berkata, 'Aku mengkhawatirkan keselamatannya,' dan ada yang berkata, 'Tidak apa-apa (akan sembuh).'"
فأتى بنبيذ فشرب منه فخرج من جوفه ثم أتى بلبن فشرب منه فخرج من جوفه فعرفوا أنه ميت
Lalu dibawakanlah rendaman kurma (nibidz) untuknya, beliau meminumnya namun cairan itu keluar lagi dari perutnya (melalui luka tikaman). Kemudian dibawakan susu, beliau meminumnya dan susu itu pun keluar lagi dari perutnya, maka mereka menyadari bahwa beliau akan meninggal dunia.
قال فدخلنا عليه وجاء الناس يثنون عليه وجاء رجل شاب فقال أبشر يا أمير المؤمنين ببشرى من الله ﷿ قد كان لك صحبة من رسول الله ﷺ وقدم في الإسلام ما قد علمت ثم وليت فعدلت ثم شهادة فقال وددت أن ذلك كان كفافاً لا علي ولا لي
Perawi berkata, "Maka kami masuk menemui beliau dan orang-orang berdatangan memujinya. Lalu datanglah seorang pemuda seraya berkata, 'Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah Azza wa Jalla. Engkau telah memiliki persahabatan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keutamaan terdahulu dalam Islam seperti yang engkau ketahui, kemudian engkau memimpin dan berlaku adil, lalu kini meraih mati syahid.' Umar menjawab, 'Aku berharap semua itu impas (kifafan), tidak ada dosa bagiku dan tidak ada pahala bagiku (bebas dari tanggungan).'"
فلما أدبر الرجل إذا إزاره يمس الأرض فقال ردوا على الغلام فقال يا ابن أخي أرفع ثوبك فإنه أنقى لثوبك وأتقى لربك
Ketika pemuda itu berpaling untuk pergi, ternyata kain sarungnya menyentuh tanah. Umar berkata, "Panggillah kembali pemuda itu!" Lalu beliau berkata, "Wahai putra saudaraku, angkatlah pakaianmu, karena sesungguhnya itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih bertakwa kepada Tuhanmu."
ثم قال يا عبد الله انظر ما على من الدين فحسبوه فوجدوه ستة وثمانين ألفا أو نحوه فقال إن وفي به مال آل عمر فأده من أموالهم وإلا فسل في بني عدي بن كعب فإن لم تف أموالهم فسل في قريش ولا تعدهم إلى غيرهم وأد عني هذا المال وانطلق إلى أم المؤمنين عائشة فقل
Kemudian beliau berkata, "Wahai Abdullah, hitunglah berapa utang yang menanggungku." Maka mereka menghitungnya dan mendapatinya sebanyak delapan puluh enam ribu (dirham) atau sekitarnya. Beliau berkata, "Jika harta keluarga Umar mencukupi, maka bayarlah dari harta mereka. Jika tidak mencukupi, mintalah bantuan kepada Bani Adi bin Ka'b. Jika harta mereka juga tidak mencukupi, mintalah kepada kaum Quraisy dan jangan melampaui mereka kepada selain mereka, lalu lunasilah harta (utang) ini atas namaku. Kemudian pergilah engkau kepada Ummul Mukminin Aisyah dan katakanlah…"
عمر يقرأ عليك السلام ولا تقل أمير المؤمنين فإني لست اليوم للمؤمنين أميرا وقل يستأذن عمر بن الخطاب أن يدفن مع صاحبيه
"…'Umar menyampaikan salam kepadamu.' Dan jangan engkau katakan 'Amirul Mukminin', sebab hari ini aku bukan lagi pemimpin bagi orang-orang mukmin. Katakanlah, 'Umar bin al-Khaththab meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar).'"
فذهب عبد الله فسلم واستأذن ثم دخل عليها فوجدها قاعدة تبكي فقال يقرأ عليك عمر ابن الخطاب السلام ويستأذن أن يدفن مع صاحبيه فقالت كنت أريده لنفسي ولأوثرنه اليوم على نفسي فلما اقبل قيل هذا عبد الله بن عمر قد جاء فقال ارفعوني فأسنده رجل إليه فقال ما لديك قال الذي تحب يا أمير المؤمنين قد أذنت قال الحمد لله ما كان شيء أهم إلى من ذلك فإذا أنا قبضت فاحملوني ثم سلم وقل يستأذن عمر فإن أذنت لي فأدخلوني وإن ردتني ردوني إلى مقابر المسلمين
Maka Abdullah pergi, memberi salam dan meminta izin, lalu masuk menemui Aisyah. Ia mendapatinya sedang duduk menangis. Abdullah berkata, "Umar bin al-Khaththab menyampaikan salam kepadamu dan meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya." Aisyah berkata, "Dahulu aku menginginkan tempat itu untuk diriku sendiri, namun hari ini sungguh aku akan mengutamakannya di atas diriku." Ketika Abdullah kembali, dikatakan kepada Umar, "Ini Abdullah bin Umar telah datang." Umar berkata, "Angkatlah aku!" Lalu seorang laki-laki menyandarkan Umar kepadanya. Umar bertanya, "Kabar apa yang engkau bawa?" Abdullah menjawab, "Kabar yang engkau sukai wahai Amirul Mukminin, beliau telah mengizinkan." Umar berkata, "Alhamdulillah, tidak ada sesuatupun yang lebih penting bagiku daripada hal itu. Apabila aku telah wafat, maka usunglah aku, kemudian sampaikan salam dan katakan, 'Umar bin al-Khaththab meminta izin.' Jika beliau mengizinkanku kembali, maka masukkanlah aku, namun jika beliau menolakku, maka kembalikanlah aku ke pemakaman umum kaum Muslimin."
وجاءت أم المؤمنين حفصة والنساء يسترنها فلما رأيناها قمنا فولجت عليه فكبت عنده ساعة واستأذن الرجال فولجت داخلا فسمعنا بكاءها من داخل فقالوا أوص يا أمير المؤمنين واستخلف فقال ما أرى أحق بهذا الأمر من هؤلاء النفر الذين توفي رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ عنهم راض فسمى عليا وعثمان والزبير وطلحة وسعدا وعبد الرحمن وقال يشهدكم عبد الله بن عمر وليس له من الأمر شيء كهيئة التعزية له فإن أصابت الإمارة سعدا فذاك وإلا فليستعن به أيكم أمر فإني لم اعز له من عجز ولا خيانة
Kemudian datanglah Ummul Mukminin Hafshah dengan para wanita yang melindunginya dari pandangan orang-orang. Ketika kami melihatnya, kami berdiri. Hafshah masuk menemui Umar lalu tersungkur menangis di sisinya sejenak. Ketika kaum pria meminta izin masuk, ia masuk ke dalam ruangan dalam, lalu kami mendengar tangisannya dari dalam. Mereka berkata, "Berilah wasiat wahai Amirul Mukminin, dan tunjuklah pengganti (khalifah)!" Umar berkata, "Aku tidak melihat orang yang paling berhak atas urusan ini melebihi kelompok orang yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha kepada mereka." Maka beliau menyebutkan Ali, Utsman, az-Zubair, Thalhah, Sa'ad, dan Abdurrahman. Beliau melanjutkan, "Abdullah bin Umar hendaknya menjadi saksi bagi kalian, namun ia tidak memiliki bagian sama sekali dari kepemimpinan ini"—sebagai hiburan baginya. "Jika kepemimpinan ini jatuh kepada Sa'ad, maka itulah yang diharapkan; namun jika tidak, maka siapapun di antara kalian yang memegang kekuasaan hendaknya meminta bantuan kepadanya, karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya (dari jabatan gubernur sebelumnya) lantaran kelemahan ataupun pengkhianatan."
وقال أوصى الخليفة من بعدي بالمهاجرين الأولين أن يعرف لهم فضلهم وبحفظ لهم حرمتهم وأوصيه بالأنصار خيرا الذين تبوءوا الدار والإيمان من قبلهم أن يقبل من محسنهم وأن يعفو عن مسيئهم وأوصيه بأهل الأمصار خيرا فإنهم ردء الإسلام وجباة الأموال وغيظ العدو وأن لا يأخذ منهم إلا فضلهم عن رضا منهم وأوصيه بالأعراب خيرا فإنهم أصل العرب ومادة الإسلام وأن يأخذ من حواشي أموالهم ويرد على فقرائهم وأوصيه بذمة الله ﷿ وذمة رسول الله ﷺ أن يوفى لهم بعهدهم وأن يقاتل لهم من وراءهم ولا يكلفهم إلا طاقتهم قال فلما قبض خرجنا به فانطلقنا نمشي فسلم عبد الله بن عمر وقال يستأذن عمر بن الخطاب فقالت أدخلوه فأدخلوه في موضع هنالك مع صاحبيه الحديث
Beliau juga berkata, "Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang pertama, hendaknya ia mengakui keutamaan mereka dan menjaga kehormatan mereka. Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada kaum Anshar, yaitu orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, hendaknya ia menerima kebaikan dari orang yang berbuat baik di antara mereka dan memaafkan orang yang berbuat salah di antara mereka. Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada penduduk kota-kota wilayah (al-Amsyar), karena mereka adalah benteng Islam, pemungut harta, dan pembuat jengkel musuh, serta janganlah mengambil dari mereka melainkan sisa kelebihan harta mereka dengan keridhaan mereka. Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui, karena mereka adalah asal-usul bangsa Arab dan pokok kekuatan Islam, hendaknya diambil dari kelebihan harta-harta mereka (zakat) dan dikembalikan kepada kaum fakir mereka. Dan aku berwasiat kepadanya terkait perlindungan (dzimmah) Allah Azza wa Jalla dan perlindungan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam agar ditepati janji untuk mereka, dilindungi keselamatan mereka dari belakang mereka, serta tidak dibebani melainkan sesuai kemampuan mereka." Perawi berkata, "Maka ketika Umar wafat, kami membawanya keluar dan berjalan. Abdullah bin Umar mengucapkan salam dan berkata, 'Umar bin al-Khaththab meminta izin.' Aisyah menjawab, 'Masukkanlah beliau.' Maka mereka memasukkannya di tempat yang ada di sana bersama kedua sahabatnya…" al-hadits.
وعن النبي ﷺ قال قال لي جبريل ﵇ ليبك الإسلام على موت عمر وعن ابن عباس قال وضع عمر على سريره فتكنفه الناس يدعون ويصلون قبل أن يرفع وأنا فيهم فلم يرعني إلا رجل قد أخذ بمنكبي فالتفت فإذا هو عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ﵁ فترحم على عمر وقال ما خلفت أحد أحب إلى أن ألقى الله بمثل عمله منك وأيم الله إن كنت لأظن ليجعلنك الله مع صاحبيك وذلك أني كنت كثيرا أسمع النبي ﷺ يقول ذهبت أنا وأبو بكر وعمر وخرجت أنا وأبو بكر وعمر ودخلت أنا وأبو بكر وعمر // حديث ابن عباس قال وضع عمر على سريره فتكنفه الناس يدعون ويصلون فذكر قول علي بن أبي طالب كنت كثيرا أسمع النبي ﷺ يقول ذهبت أنا وأبو بكر وعمر الحديث متفق عليه فإني كنت لأرجو أن لأظن أن يجعلك الله معهما وفاة عثمان ﵁
Dan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Jibril 'alaihis salam berkata kepadaku: 'Hendaklah Islam menangisi kematian Umar.'" Dan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Umar diletakkan di atas tempat tidurnya (keranda), lalu orang-orang mengelilinginya seraya mendoakan dan menyalatkannya sebelum diangkat. Aku berada di antara mereka, tiba-tiba aku terkejut oleh seorang laki-laki yang memegang pundakku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Ia mendoakan rahmat untuk Umar lalu berkata: "Engkau tidak meninggalkan seorang pun yang lebih aku cintai untuk menemui Allah dengan amal seperti amalanmu melebihi engkau. Demi Allah, sungguh aku dahulu sangat yakin bahwa Allah pasti akan menyatukanmu bersama kedua sahabatmu, hal itu karena aku dahulu sangat sering mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar…'". Hadis Ibnu Abbas: Ia berkata, "Umar diletakkan di atas tempat tidurnya…" lalu ia menyebutkan perkataan Ali bin Abi Thalib: "Aku dahulu sangat sering mendengar Nabi ﷺ bersabda: 'Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar…'". Hadis ini muttafaq 'alaih. "…maka sesungguhnya aku sangat berharap dan yakin Allah akan menyatukanmu bersama keduanya." Wafatnya Utsman radhiyallahu 'anhu.
الحديث في قتله مشهور
Hadis mengenai terbunuhnya beliau sudah masyhur (terkenal).
وقد قال عبد الله بن سلام أتيت أخي عثمان لأسلم عليه وهو محصور فدخلت عليه فقال مرحبا يا أخي رأيت رسول الله ﷺ الليلة في هذه الخوخة وهي خوخة في البيت فقال يا عثمان حصروك قلت نعم قال عطشوك قلت نعم فأدلى إلى دلوا فيه ماء فشربت حتى رويت حتى
Abdullah bin Salam berkata, "Aku mendatangi saudaraku, Utsman, untuk mengucapkan salam kepadanya ketika beliau sedang dikepung. Aku pun masuk menemui beliau, lalu beliau berkata, 'Selamat datang, wahai saudaraku. Aku melihat Rasulullah ﷺ malam ini di celah jendela ini'—yaitu sebuah jendela kecil di dalam rumah—'lalu beliau bersabda: Wahai Utsman, apakah mereka mengepungmu? Aku menjawab: Ya. Beliau bersabda: Apakah mereka membuatmu haus? Aku menjawab: Ya. Maka beliau mengulurkan kepadaku sebuah timba berisi air, lalu aku minum hingga merasa segar, sampai…
إني لأجد برده بين ثديي وبين كتفي وقال لي إن شئت نصرت عليهم وإن شئت أفطرت عندنا فاخترت أن أفطر عنده فقتل ذلك اليوم ﵁ وقال عبد الله بن سلام لمن حضر تشحط عثمان في الموت حين جرح ماذا قال عثمان وهو يتشحط قالوا سمعناه يقول اللهم اجمع أمة محمد ﷺ ثلاثا قال والذي نفسي بيده لو دعا الله أن لا يجتمعوا أبدا ما اجتمعوا إلى يوم القيامة
…sungguh aku benar-benar merasakan dinginnya air itu di antara dada dan kedua pundakku. Beliau bersabda kepadaku: Jika engkau mau, engkau akan ditolong mengatasi mereka, dan jika engkau mau, engkau berbuka puasa di tempat kami. Maka aku memilih untuk berbuka puasa di tempat beliau.' Lalu beliau terbunuh pada hari itu semoga Allah meredainya. Abdullah bin Salam berkata kepada orang-orang yang menyaksikan Utsman berlumuran darah menjelang wafatnya ketika terluka, 'Apa yang diucapkan Utsman saat berlumuran darah?' Mereka menjawab, 'Kami mendengarnya mengucapkan: Ya Allah, persatukanlah umat Muhammad ﷺ (beliau mengucapkannya tiga kali).' Abdullah bin Salam berkata, 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya beliau berdoa agar mereka tidak bersatu selamanya, niscaya mereka tidak akan pernah bersatu hingga hari kiamat.'
وعن ثمامة بن حزن القشيري قال شهدت الدار حين أشرف عليهم عثمان ﵁ فقال ائتوني بصاحبيكم اللذين ألباكم على قال فجيء بهما كأنما هما حملان أو حماران فأشرف عليهم عثمان ﵁ فقال أنشدكم بالله والإسلام هل تعلمون أن رسول الله ﷺ قدم المدينة وليس بها ماء يستعذب غير بئر رومة فقال من يشترى رومة يجعل دلوه مع دلاء المسلمين بخير له منها في الجنة فاشتريتها من صلب مالي فأنتم اليوم تمنعوني ان أشرب منها ومن ماء البحر قالوا اللهم نعم قال أنشدكم الله والإسلام هل تعلمون أنى جهزت جيش العسرة من مالي قالوا نعم أنشدكم الله والإسلام هل تعلمون أن المسجد كان ضاق بأهله فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من يشترى بقعة آل فلان فيزيدها في المسجد بخير منها في الجنة فاشتريتها من صلب مالى فأنتم اليوم تمنعونى أن أصلى فيها ركعتين قالوا اللهم نعم قالوا أنشدكم الله والإسلام هل تعلمون أن رسول الله ﷺ كان على ثبير بمكة ومعه أبو بكر وعمر وأنا فتحرك الجبل حتى تساقط حجارته بالحضيض قال فركضه برجله وقال أسكن ثبير فما عليك إلا نبي وصديق وشهيدان قالوا اللهم نعم قال الله أكبر شهدوا لي ورب الكعبة أني شهيد وروى عن شيخ من ضبة أن عثمان حين ضرب والدماء تسيل على لحيته جعل يقول ﴿لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين﴾ اللهم إني أستعديك عليهم وأستعينك على جميع أموري وأسألك الصبر على ما ابتليتني وفاة علي كرم الله وجهه
Dari Tsumamah bin Hazn Al-Qusyairi, ia berkata, "Aku menghadiri rumah Utsman ﵁ ketika beliau mengamati mereka dari atas, lalu beliau berkata, 'Bawakan kepadaku dua orang teman kalian yang telah menghasut kalian untuk menentangku!' Lalu kedua orang itu didatangkan seolah-olah seperti dua ekor domba atau dua ekor keledai. Kemudian Utsman ﵁ menatap mereka seraya berkata, 'Aku memohon kepada kalian demi Allah dan Islam, apakah kalian tahu bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, tidak ada air tawar di sana selain sumur Rumat, lalu beliau bersabda: Siapa yang membeli sumur Rumat lalu menjadikan timbanya bersama timba-timba kaum muslimin, maka ia akan mendapatkan yang lebih baik darinya di surga? Lalu aku membelinya dari murni harta kekayaanku sendiri, namun hari ini kalian melarangku minum darinya dan dari air laut.' Mereka menjawab, 'Ya Allah, benar.' Beliau berkata, 'Aku memohon kepada kalian demi Allah dan Islam, apakah kalian tahu bahwa aku menyiapkan perbekalan Pasukan Kesulitan (Jaysy al-'Usrah) dari hartaku?' Mereka menjawab, 'Ya.' Beliau berkata, 'Aku memohon kepada kalian demi Allah dan Islam, apakah kalian tahu bahwa Masjid Nabawi dahulunya sempit bagi jamaahnya, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Siapa yang membeli tanah keluarga Fulan lalu menambahkan luasnya ke dalam masjid dengan balasan yang lebih baik di surga? Maka aku membelinya dari murni hartaku, namun hari ini kalian melarangku shalat dua rakaat di dalamnya.' Mereka menjawab, 'Ya Allah, benar.' Beliau berkata, 'Aku memohon kepada kalian demi Allah dan Islam, apakah kalian tahu bahwa Rasulullah ﷺ berada di atas Gunung Thabir di Mekkah bersama Abu Bakar, Umar, dan aku, lalu gunung itu bergetar hingga batu-batunya berguguran ke jurang?' Ia berkata, 'Maka beliau menghentakkan kakinya ke gunung itu dan bersabda: Tenanglah wahai Thabir, karena di atasmu tidak ada siapa-siapa kecuali seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan dua orang Syahid.' Mereka menjawab, 'Ya Allah, benar.' Utsman berkata, 'Allahu Akbar! Demi Tuhan Ka'bah, mereka telah bersaksi untukku bahwa aku adalah seorang syahid.' Diriwayatkan pula dari seorang syekh dari suku Dhabbah bahwa ketika Utsman ditebas dan darah mengalir di janggutnya, beliau terus mengucapkan, 'Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pertolongan-Mu atas mereka, aku memohon pertolongan-Mu dalam segala urusanku, dan aku memohon kepada-Mu kesabaran atas cobaan yang Engkau timpakan kepadaku.' Wafatnya Ali karramallahu wajhah:
قال الأصبغ الحنظلي لما كانت الليلة التي أصيب فيها علي كرم الله وجهه اتاه ابن التياح حين طلع الفجر يؤذنه بالصلاة وهو مضطجع متثاقل فعاد الثانية وهو كذلك ثم عاد الثالثة فقام علي يمشي وهو يقول
Al-Asbagh Al-Hanzhali berkata, "Ketika tiba malam di mana Ali karramallahu wajhah ditimpa musibah (diserang), Ibnut-Tayyah mendatangi beliau saat fajar menyingsing untuk memberitahukan waktu shalat, sementara beliau sedang berbaring dalam keadaan terasa berat (lesu). Ia kembali untuk kedua kalinya dan beliau masih demikian, lalu ia kembali untuk ketiga kalinya. Maka Ali pun bangkit dan berjalan seraya bersyair:
اشدد حيازيمك للموت … فإن الموت لافيكا
Kencangkan ikat pinggangmu untuk menghadapi kematian… karena sesungguhnya kematian pasti akan menemui dirimu.
ولا تجزع من الموت … إذا حل بواديكا
Dan janganlah engkau berkeluh kesah karena kematian… apabila ia telah singgah di lembah kediamanmu.
فلما بلغ الباب الصغير شد عليه ابن ملجم فضربه
Maka ketika beliau sampai di pintu kecil, Ibnu Muljam menerjang dan menebas beliau.
فخرجت أم كلثوم أبنة علي رضى الله وعنه فجعلت تقول مالي ولصلاة الغداة قتل زوجي أمير المؤمنين صلاة الغداة وقتل أبي صلاة
Lalu Ummu Kultsum, putri Ali radhiyallahu 'anhuma, keluar seraya terus menangis dan berkata, "Ada apa gerangan denganku dan shalat subuh? Suamiku (Umar bin al-Khaththab), Amirul Mukminin, terbunuh pada waktu shalat subuh, dan ayahku pun terbunuh pada waktu shalat…
الغداة وعن شيخ من قريش أن علياً كرم الله وجهه لما ضربه ابن ملجم قال فزت ورب الكعبة
…subuh." Dan dari seorang syekh dari kaum Quraisy, bahwa ketika Ali karramallahu wajhah ditebas oleh Ibnu Muljam, beliau berkata, "Aku telah menang, demi Tuhan Ka'bah!"
وعن محمد بن علي أنه لما ضرب أوصى بنيه ثم لم ينطق إلا بلا إله إلا الله حتى قبض
Dari Muhammad bin Ali, bahwa ketika beliau (Ali) ditebas, beliau berwasiat kepada putra-putranya, kemudian beliau tidak berkata-kata lagi selain kalimat Laa ilaaha illallaah (Tidak ada tuhan selain Allah) hingga beliau wafat.
ولما ثقل الحسن بن علي ﵄ دخل عليه الحسين ﵁ فقال يا أخي لأي شيء تجزع تقدم عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعلى علي بن أبي طالب وهما أبواك وعلى خديجة بنت خويلد وفاطمة بنت محمد وهما أماك وعلى حمزة وجعفر وهما عماك قال يا أخي أقدم على أمر لم أقدم على مثله
Ketika sakit Al-Hasan bin Ali ﵄ kian berat menjelang wafatnya, Al-Husain ﵁ masuk menemui beliau dan berkata, "Wahai saudaraku, mengapa engkau gelisah? Engkau akan menghadap Rasulullah ﷺ dan Ali bin Abi Thalib, dan keduanya adalah ayah-ayahmu; engkau akan menghadap Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad, dan keduanya adalah ibu-ibumu; serta engkau akan menghadap Hamzah dan Ja'far, dan keduanya adalah paman-pamanmu." Al-Hasan menjawab, "Wahai saudaraku, aku sedang menghadap suatu perkara yang belum pernah aku hadapi hal yang serupa dengannya."
وعن محمد بن الحسن ﵄ قال لما نزل القوم بالحسين ﵁ وأيقن أنهم قاتلوه قام في أصحابه خطيبا فحمد الله وأثنى عليه ثم قال قد نزل من الأمر ما ترون وإن الدنيا قد تغيرت وتنكرت وأدبر
Dari Muhammad bin Al-Hasan ﵄, ia berkata, "Ketika pasukan musuh mendatangi Al-Husain ﵁ dan beliau meyakini bahwa mereka akan membunuhnya, beliau berdiri berkhotbah di hadapan sahabat-sahabatnya. Beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu bersabda: 'Sungguh telah terjadi perkara sebagaimana yang kalian lihat, dan sesungguhnya dunia telah berubah, asing, dan membelakangi…
معروفها وانشمرت حتى لم يبق منها إلا كصبابة الإناء ألا حسبي من عيش كالمرعي الوبيل ألا ترون الحق لا يعمل به والباطل لا ينتاهي عنه ليرغب الؤمن في لقاء الله تعالى وإني لا أرى الموت إلا سعادة والحياة مع الظالمين إلا جرما
…kebaikan-kebaikannya serta makin menyusut hingga tidak ada lagi yang tersisa darinya kecuali bagaikan sisa air di dasar bejana. Ketahuilah, cukuplah bagiku kehidupan yang seperti padang gembala beracun! Tidakkah kalian melihat bahwa kebenaran tidak lagi diamalkan dan kebatilan tidak lagi dihentikan? Maka hendaknya seorang mukmin merindukan pertemuan dengan Allah Ta'ala. Dan sungguh, aku tidak melihat kematian melainkan sebagai suatu kebahagiaan, dan kehidupan bersama orang-orang zalim melainkan sebagai suatu kenistaan.'
الباب الخامس في كلام المحتضرين من الخلفاء والأمراء والصالحين
Bab Kelima: Ucapan Orang-Orang yang Hendak Wafat dari Kalangan Para Khalifah, Amir, dan Orang-Orang Saleh
لما حضرت معاوية بن أبي سفيان الوفاة قال أقعدوني فأقعد فجعل يسبح الله تعالى ويذكره ثم بكى وقال تذكر ربك يا معاوية بعد الهرم والانحطاط إلا كان هذا وغصن الشباب نضر ريان وبكى حتى علا بكاؤه وقال يا رب أرحم الشيخ العاصي ذا القلب القاسي اللهم أقل العثرة واغفر الزلة وعد بحلمك على من لا يرجو غيرك ولم يثق بأحد سواك
Ketika Mu'awiyah bin Abi Sufyan hendak wafat, beliau berkata, "Dudukkanlah aku." Lalu beliau didudukkan, dan beliau mulai bertasbih kepada Allah Ta'ala serta mengingat-Nya. Kemudian beliau menangis seraya berkata, "Apakah engkau baru mengingat Tuhanmu, wahai Mu'awiyah, setelah tua renta dan rapuh? Mengapa hal ini tidak dilakukan sewaktu dahan kemudaan masih segar dan berseri-seri?" Beliau menangis hingga makin keras tangisnya, lalu berdoa, "Ya Tuhan, kasihanilah orang tua yang bermaksiat dan berhati keras ini. Ya Allah, ampunilah kekhilafan, maafkanlah keterlanjuran, dan limpahkanlah kelembutan-Mu kepada orang yang tidak berharap kepada selain-Mu dan tidak percaya kepada siapa pun selain Engkau."
وروى عن شيخ من قريش انه دخل مع جماعة عليه في مرضه فرأوا في جلده غضونا فحمد الله وأثنى عليه ثم قال أما بعد فهل الدنيا أجمع إلا ما جربنا ورأينا أما والله لقد استقبلنا زهرتها بجدتنا وباستلذاذنا بعيشنا فما لبثتنا الدنيا أن نقضت ذلك منا حالا بعد حال وعروة بعد عروة فأصبحت الدنيا وقد وترتنا وأخلفتنا واستلأمت إلينا أف للدنيا من دار ثم أف لها من دار
Diriwayatkan dari seorang syekh dari kaum Quraisy bahwa ia bersama sekelompok orang menjenguk Mu'awiyah saat beliau sakit, lalu mereka melihat kerutan pada kulitnya. Maka Mu'awiyah memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian berkata, "Amma ba'du: Bukankah dunia secara keseluruhan hanyalah apa yang telah kita uji dan kita lihat? Demi Allah, sungguh kita dahulu menyambut keindahannya dengan segenap kesungguhan dan kenikmatan hidup kita, namun tidak lama kemudian dunia merenggut hal itu dari kita keadaan demi keadaan, dan ikatan demi ikatan. Maka beradalah dunia kini dalam keadaan merugikan kita, menyalahi janjinya, dan bersikap kejam kepada kita. Celakalah dunia sebagai sebuah tempat tinggal, sungguh celakalah dunia sebagai sebuah tempat tinggal!"
ويروى أن آخر خطبة خطبها معاوية أن قال أيها الناس إني من زرع قد استحصد وإني وليتكم ولن يليكم أحد من بعدي إلا وهو شر مني كما كان من قبلي خيرا مني ويا يزيد إذا وفى أجلي فول غسلي رجلا لبيبا فإن اللبيب من الله بمكان فلينعم الغسل وليجهر بالتكبير ثم اعمد إلى منديل في الخزانة فيه ثوب من ثياب النبي ﷺ وقراضة من شعره وأظفاره فاستودع القراضة أنفي وفمي وأذني وعيني واجعل الثوب على جلدي دون أكفاني ويا يزيد احفظ وصية الله في الوالدين فإذا أدرجتموني في جديدي ووضعتموني في حفرتي فخلوا معاوية وأرحم الراحمين وقال محمد بن عقبة لما نزل بمعاوية الموت قال يا ليتني كنت رجلا من قريش بذي طوى وإني لم أل من هذا الأمر شيئا
Diriwayatkan bahwa khotbah terakhir yang disampaikan Mu'awiyah adalah beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya aku bagaikan tanaman yang telah tiba masa panennya. Sesungguhnya aku telah memimpin kalian, dan tidak ada seorang pun setelahku yang memimpin kalian melainkan ia lebih buruk dariku, sebagaimana orang sebelumku lebih baik dariku. Wahai Yazid, jika ajalku telah tiba, serahkanlah pemandian jenazahku kepada seorang lelaki yang berakal cerdas, karena orang yang cerdas memiliki kedudukan di sisi Allah; hendaknya ia memandikan dengan sebaik-baiknya dan memperjelas suara takbir. Kemudian ambillah kain saputangan di tempat penyimpanan yang di dalamnya terdapat salah satu pakaian Nabi ﷺ serta potongan rambut dan kuku beliau. Letakkanlah potongan rambut dan kuku itu pada hidung, mulut, telinga, dan mataku, serta jadikanlah pakaian itu langsung menyentuh kulitku di bawah kain kafanku. Wahai Yazid, jagalah wasiat Allah mengenai orang tua. Apabila kalian telah membungkusku dengan kain kafan baruku dan meletakkanku di liang kuburku, maka biarkanlah Mu'awiyah berdua saja bersama Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang." Dan Muhammad bin Uqbah berkata, ketika kematian menjelang Mu'awiyah, beliau berkata, "Duhai, sekiranya aku dahulu hanyalah seorang lelaki Quraisy di Dzi Tuwa dan tidak pernah memegang urusan (kekuasaan) ini sedikit pun."
ولما حضرت عبد الملك بن مروان الوفاة نظر إلى غسال بجانب دمشق يلوي ثوبا بيده ثم يضرب به المغسلة فقال عبد الملك ليتني كنت غسالا آكل من كسب يدي يوما بيوم ولم أل من أمر الدنيا شيئا فبلغ ذلك أبا حازم فقال الحمد لله الذي جعلهم إذا حضرهم الموت يتمنون ما نحن فيه وإذا حضرنا الموت لم نتمن ما هم فيه
Ketika Abdul Malik bin Marwan menjelang wafatnya, ia memandang ke arah seorang tukang cuci pakaian di pinggiran kota Damaskus yang sedang memeras pakaian dengan tangannya lalu memukulkannya ke batu cuci. Abdul Malik pun berkata, "Duhai, sekiranya aku dahulu seorang tukang cuci pakaian yang makan dari hasil kerja tanganku sendiri hari demi hari, dan tidak pernah memegang urusan dunia sedikit pun." Tatkala hal itu sampai kepada Abu Hazim, ia berkata, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan mereka, ketika kematian mendatangi mereka, bercita-cita menginginkan keadaan yang kita jalani; sedangkan apabila kematian mendatangi kita, kita tidak bercita-cita menginginkan keadaan yang mereka jalani."
وقيل لعبد الملك بن مروان في مرضه الذي مات فيه كيف تجدك يا أمير المؤمنين قال أجدني كما قال الله تعالى ﴿ولقد جئتمونا فرادى كما خلقناكم أول مرة وتركتم ما خولناكم وراء ظهوركم﴾ الآية ومات
Ditanyakan kepada Abdul Malik bin Marwan pada sakit yang membawa kematiannya, "Bagaimana engkau mendapati dirimu, wahai Amirul Mukminin?" Ia menjawab, "Aku mendapati diriku sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dan sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada pertama kali, dan kamu tinggalkan di belakang punggungmu apa yang telah Kami kurniakan kepadamu…' hingga akhir ayat." Lalu ia pun wafat.
وقالت فاطمة بنت عبد الملك بن مروان امرأة عمر بن عبد العزيز كنت أسمع عمر في مرضه الذي مات فيه يقول اللهم أخف عليهم موتي ولو ساعة من نهار فلما كان اليوم الذي قبض فيه خرجت من عنده فجلست في بيت آخر بيني وبينه باب وهو في قبة له فسمعته يقول ﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ علواً في الأرض ولا فساداً والعاقبة للمتقين﴾ ثم هدا فجعلت لا أسمع حركة ولا كلاما فقلت لوصيف له انظر أنائم هو فلما دخل صاح فوثبت فإذا هو ميت
Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, istri Umar bin Abdul Aziz, berkata, "Aku pernah mendengar Umar dalam sakitnya yang membawa kematian terus berdoa: 'Ya Allah, sembunyikanlah kematianku dari mereka walaupun hanya sesaat di siang hari.' Ketika tiba hari di mana beliau diwafatkan, aku keluar dari sisinya dan duduk di ruangan lain yang dipisahkan oleh sebuah pintu, sementara beliau berada di dalam kubah (kemah kecil) miliknya. Aku mendengarnya membaca: 'Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.' Kemudian beliau menjadi tenang, sehingga aku tidak lagi mendengar gerakan maupun percakapan. Maka aku berkata kepada seorang pelayan mudanya, 'Lihatlah, apakah beliau sedang tidur?' Ketika pelayan itu masuk, ia berteriak. Aku pun bergegas masuk, dan ternyata beliau telah wafat."
وقيل له لما حضره الموت أعهد يا أمير المؤمنين قال احذركم مثل مصرعي هذا فإنه لا بد لكم منه وروى أنه لما ثقل عمر بن عبد العزيز دعى له طبيب فلما نظر إليه قال أرى الرجل قد سقى السم ولا آمن عليه الموت فرفع عمر بصره وقال ولا تأمن الموت أيضا على من لم يسق السم قال الطبيب هل أحسست بذلك يا أمير المؤمنين قال نعم قد عرفت ذلك حين وقع في بطني قال فتعالج يا أمير المؤمنين فإني أخاف أن تذهب نفسك قال ربي خير مذهوب إليه والله لو علمت أن شفائي عند شحمة أذنى
Dan dikatakan kepadanya ketika menjelang kematiannya, "Berilah kami wasiat, wahai Amirul Mukminin." Beliau menjawab, "Aku memperingatkan kalian dari tempat pembaringan kematian seperti ini, karena sesungguhnya kalian pasti akan mengalaminya." Diriwayatkan bahwa ketika sakit Umar bin Abdul Aziz makin memberat, dipanggilkanlah seorang tabib untuknya. Ketika tabib itu melihatnya, ia berkata, "Aku melihat orang ini telah diberi minum racun dan aku tidak menjaminnya selamat dari kematian." Umar mengangkat pandangannya lalu berkata, "Dan janganlah engkau menjamin selamat dari kematian juga terhadap orang yang tidak diberi minum racun." Tabib berkata, "Apakah engkau merasakannya, wahai Amirul Mukminin?" Beliau menjawab, "Ya, aku sudah mengetahuinya sejak racun itu jatuh ke dalam perutku." Tabib berkata, "Maka berobatlah, wahai Amirul Mukminin, karena aku khawatir engkau akan kehilangan nyawamu." Beliau menjawab, "Tuhanku adalah sebaik-baik tempat kembali. Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa kesembuhanku ada di dekat cuping telingaku,"
ما رفعت يدي إلى أذنى فتناولته
"niscaya aku tidak akan mengangkat tanganku ke telingaku untuk mengambilnya."
اللهم خر لعمر في لقائك فلم يلبث إلا أياما حتى مات وقيل لما حضرته الوفاة بكى فقيل له ما يبكيك يا أمير المؤمنين أبشر فقد أحيا الله بك سننا وأظهر بك عدلا فبكى ثم قال أليس أوقف فأسئل عن أمر هذا الخلق فوالله لو عدلت فيهم لخفت على نفسي أن لا تقوم بحجتها بين يدي الله إلا أن يلقنها الله حجتها فكيف بكثير مما ضيعنا وفاضت عيناه فلم يلبث إلا يسيراً حتى مات ولما قرب وقت موته قال أجلسوني فأجلسوه فقال أنا الذي امرتني فقصرت ونهيتني فعصيت ثلاث مرات ولكن لا إله إلا الله ثم رفع رأسه فأحد النظر فقيل له في ذلك فقال إني لأرى خضرة ما هم بإنس ولا جن ثم قبض ﵀
"Ya Allah, pilihkah yang terbaik bagi Umar dalam menemui-Mu." Tidak berselang lama kecuali beberapa hari hingga beliau wafat. Dikatakan pula bahwa ketika menjelang wafatnya beliau menangis, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin? Bergembiralah, sungguh Allah telah menghidupkan sunnah-sunnah melalui perantaraanmu dan menampakkan keadilan dengannmu." Beliau menangis lalu berkata, "Bukankah aku akan dihentikan di Mahsyar lalu ditanya tentang urusan umat ini? Demi Allah, seandainya aku telah berbuat adil di antara mereka, niscaya aku tetap takut jika diriku tidak sanggup menegakkan hujahnya di hadapan Allah, kecuali jika Allah mendiktekan hujah-Nya kepada jiwa ini. Maka bagaimana dengan banyak hal yang telah kita lalaikan?" Lalu kedua matanya meneteskan air mata, dan tidak berselang lama hingga beliau wafat. Ketika waktu kematiannya makin dekat, beliau berkata, "Dudukkanlah aku." Lalu mereka mendudukkannya, maka beliau berkata, "Akulah orang yang Engkau perintahkan namun aku lalai, dan Engkau larang namun aku bermaksiat," beliau mengucapkannya tiga kali, "Akan tetapi tiada Tuhan selain Allah." Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan menajamkan pandangannya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau berkata, "Sesungguhnya aku melihat makhluk yang hijau, mereka bukanlah manusia dan bukan pula jin." Kemudian beliau diwafatkan—semoga Allah merahmatinya.
وحكى عن هرون الرشيد أنه انتقى أكفانه بيده عند الموت وكان ينظر إليها ويقول ﴿ما أغنى عني ماليه هلك عني سلطانيه﴾
Diceritakan dari Harun Ar-Rasyid bahwa beliau memilih kain kafannya sendiri dengan tangannya saat menjelang kematian, dan beliau memandang ke arah kain kafan itu seraya berkata, "Harta bahagiaku tidak memberi manfaat sedikit pun kepadaku. Kekuasaanku telah hilang dariku."
وفرش المأمون رمادا واضطجع عليه وكان يقول يا من لا يزول ملكه ارحم من قد زال ملكه وكان المعتصم يقول عند موته لو علمت ان عمري هكذا قصير ما فعلت
Al-Ma'mun menggelar abu dan berbaring di atasnya seraya berkata, "Wahai Zat yang kerajaan-Nya tidak pernah sirna, rahmatilah orang yang kerajaannya telah sirna." Dan Al-Mu'tashim berkata menjelang kematiannya, "Seandainya aku tahu bahwa umurku sesingkat ini, niscaya aku tidak akan melakukan (apa yang telah aku perbuat)."
وكان المنتصر يضطرب على نفسه عند موته فقيل له لا بأس عليك يا أمير المؤمنين فقال ليس إلا هذا لقد ذهبت الدنيا واقبلت الآخرة
Al-Muntashir tampak gelisah atas dirinya sendiri ketika hendak meninggal dunia, maka dikatakan kepadanya, "Tidak apa-apa bagimu, wahai Amirul Mukminin." Beliau menjawab, "Bukan karena itu; melainkan dunia telah pergi dan akhirat telah datang."
وقال عمرو بن العاص عند الوفاة وقد نظر إلى صناديق لبنيه من يأخذها بما فيها ليته كان بعرا
Amr bin al-Ash berkata menjelang wafatnya ketika memandang ke peti-peti milik anak-anaknya, "Siapakah yang mau mengambil peti ini beserta isinya? Seandainya saja isi peti itu hanyalah kotoran unta."
وقال الحجاج عند موته اللهم أغفر لي فإن الناس يقولون إنك لا تغفر لي
Al-Hajjaj berkata saat hendak meninggal, "Ya Allah, ampunilah aku, karena sesungguhnya orang-orang mengatakan bahwa Engkau tidak akan mengampuniku."
فكان عمر بن عبد العزيز تعجبه هذه الكلمة منه ويغبطه عليها ولما حكى ذلك للحسن قال أقالها قيل نعم قال عسى
Umar bin Abdul Aziz mengagumi ucapan Al-Hajjaj tersebut dan menyukai prasangka baiknya kepada Allah. Ketika hal itu diceritakan kepada Al-Hasan Al-Bashri, beliau bertanya, "Apakah dia benar-benar mengucapkannya?" Dijawab, "Ya." Beliau berkata, "Semoga (Allah mengampuninya)."
بيان أقاويل جماعة من خصوص الصالحين من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من
Penjelasan ucapan-ucapan sejumlah hamba-hamba pilihan yang saleh dari kalangan sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka dari
أهل التصوف رضي الله عنهمم أجمعين
kalangan ahli tasawuf—semoga Allah meredai mereka semua.
لما حضرت معاذاً ﵁ الوفاة قال اللهم إني قد كنت أخافك وأنا اليوم ارجوك اللهم إنك تعلم أني لم أكن أحب الدنيا وطول البقاء فيها لجرى الأنهار ولا لغرس الأشجار ولكن لظمأ الهواجر ومكابدة الساعات ومزاحمة العلماء بالركب عند حلق الذكر ولما اشتد به النزع ونزع نزعا لم ينزعه احد كان كلما أفاق من غمرة فتح طرفه ثم قال رب ما أخنقني خنقك فوعزتك إنك تعلم أن قلبي يحبك
Ketika Mu'adz radhiyallahu 'anhu menjelang wafatnya, beliau berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku takut kepada-Mu dan hari ini aku berharap kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyukai dunia dan tinggal lama di dalamnya demi mengalirnya sungai-sungai atau menanam pepohonan, melainkan untuk merasakan dahaga di siang hari yang terik (berpuasa), bersusah payah menghidupkan waktu-waktu malam (beribadah), dan berdesak-desakan lutut bersama para ulama di halakah-halakah zikir." Dan ketika sakaratulmaut makin hebat menimpanya—dengan kepayahan sakarat yang belum pernah dirasakan siapa pun—setiap kali beliau sadar dari pingsannya, beliau membuka matanya seraya berkata, "Wahai Tuhanku, betapa pun kerasnya Engkau mencekikku (dengan sakarat ini), maka demi keagungan-Mu, Engkau tahu bahwa hatiku sungguh mencintai-Mu."
ولما حضرت سلمان الوفاة بكى فقيل له ما يبكيك قال ما أبكى جزعا على الدنيا ولكن عهد إلينا رسول الله ﷺ أن تكون بلغة أحدنا من الدنيا كزاد الراكب فلما مات سلمان نظر في جميع ما ترك فإذا قيمته بضعة عشر درهما
Ketika Salman Al-Farisi menjelang wafatnya, beliau menangis. Ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, "Aku menangis bukan karena bersedih atas dunia, melainkan karena Rasulullah ﷺ telah berpesan kepada kami agar bekal hidup salah seorang dari kita di dunia ini cukuplah seperti bekal seorang musafir." Ketika Salman wafat, diteliti seluruh harta peninggalannya, ternyata nilainya hanya belasan dirham saja.
ولما حضرت بلالا الوفاة قالت امرأته واحزناه فقال بل واطرباه غدا نلقى الأحبة محمدا وحزبه
Ketika Bilal menjelang wafatnya, istrinya berkata, "Alangkah menyedihkannya!" Maka Bilal berkata, "Bahkan alangkah bahagianya! Besok kita akan bertemu dengan para kekasih, Muhammad dan golongannya."
وقيل فتح عبد الله بن المبارك عينه عند الوفاة وضحك وقال ﴿لمثل هذا فليعمل العاملون﴾
Dikatakan bahwa Abdullah bin al-Mubarak membuka kedua matanya menjelang wafatnya, lalu tersenyum dan berkata, "Untuk kemenangan serupa inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal."
ولما حضرت إبراهيم النخعي الوفاة بكى فقيل له ما يبكيك قال انتظر من الله رسولا يبشرني بالجنة أو بالنار ولما حضرت ابن المنكدر الوفاة بكى فقيل له ما يبكيك فقال والله ما أبكى لذنب أعلم أني أتيته ولكن
Ketika Ibrahim An-Nakha'i menjelang wafatnya, beliau menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, "Aku sedang menunggu utusan dari Allah yang akan memberi kabar gembira kepadaku berupa surga atau neraka." Dan ketika Ibnul Munkadir menjelang wafatnya, beliau menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, "Demi Allah, aku tidak menangis karena dosa yang aku tahu pernah aku lakukan, melainkan"
أخاف أني أتيت شيئا حسبته هيناً وهو عند الله عظيم
"aku takut telah melakukan sesuatu yang kuanggap sepele, padahal di sisi Allah perkara itu sangat besar."
ولما حضرت عامر بن عبد القيس الوفاة بكى فقيل له ما يبكيك قال ما أبكى جزعا من الموت ولا حرصا على الدنيا ولكن ابكي على ما يفوتني من ظمأ الهواجر وعلى قيام الليل في الشتاء ولما حضرت فضيلا الوفاة غشي عليه ثم فتح عينيه وقال وابعد سفراه واقلة زاده
Ketika Amir bin Abdis Qais menjelang wafatnya, beliau menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, "Aku menangis bukan karena takut akan kematian dan bukan pula karena kecintaan pada dunia, melainkan aku menangis atas hilangnya kesempatan bagiku untuk merasakan dahaga di siang hari yang terik (berpuasa) dan shalat malam di musim dingin." Dan ketika Fudhail bin 'Iyadh menjelang wafatnya, beliau pingsan, kemudian membuka kedua matanya seraya berkata, "Alangkah jauhnya perjalanan ini dan alangkah sedikitnya bekal!"
ولما حضرت ابن المبارك الوفاة قال لنصر مولاه
Ketika Ibnul Mubarak menjelang wafatnya, beliau berkata kepada Nashr, budak terbebasnya,
اجعل رأسي على التراب فبكى نصر فقال له ما يبكيك قال ذكرت ما كنت فيه من النعيم وأنت هو ذا تموت فقيرا غريبا قال اسكت فإني سألت الله تعالى أن يحييني حياة الأغنياء وأن يميتني موت الفقراء ثم قال له لقنى ولا تعد علي ما لم أتكلم بكلام ثان
"Letakkan kepalaku di atas tanah." Maka Nashr pun menangis, lalu beliau bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Nashr menjawab, "Aku teringat akan kenikmatan hidup yang dahulu pernah engkau jalani, sedangkan kini engkau meninggal dalam keadaan miskin dan terasing." Beliau berkata, "Diamlah! Sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah Ta'ala agar menghidupkanku dengan kehidupan orang-orang kaya dan mematikanku dengan kematian orang-orang fakir." Kemudian beliau berkata kepadanya, "Tuntunlah aku mengucapkan kalimat tauhid, dan jangan engkau mengulangnya kepadaku selama aku belum mengucapkan perkataan yang lain."
وقال عطاء بن يسار تبدى إبليس لرجل عند الموت فقال له نجوت فقال ما آمنك بعد
Athā' bin Yasār berkata, "Iblis menampakkan diri kepada seorang laki-laki ketika hendak meninggal dunia, lalu Iblis berkata kepadanya, 'Engkau telah selamat dariku.' Maka laki-laki itu menjawab, 'Aku belum merasa aman darimu (sampai nyawaku benar-benar terpisah).'"
وبكى بعضهم عند الموت فقيل له ما يبكيك آية في كتاب الله تعالى قوله ﷿ ﴿إنما يتقبل الله من المتقين﴾ ودخل الحسن ﵁ على رجل يجود بنفسه فقال إن أمرا هذا أوله لجدير أن يتقي آخره وإن أمرا هذا آخره لجدير أن يزهد في أوله وقال الجريري كنت عند الجنيد في حال نزعه وكان يوم الجمعة ويوم النيروز وهو يقرأ القرآن فختم فقلت له في الحالة يا أبا القاسم فقال ومن أولى بذلك مني وهو ذا تطوى صحيفتى وقال رويم حضرت وفاة أبي سعيد الخراز وهو يقول حنين قلوب العارفين إلى الذكر … وتذكارهم وقت المناجاة للسر
Sebagian dari mereka menangis ketika hendak meninggal dunia, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Ia menjawab, "(Karena satu) ayat dalam Kitab Allah Ta'ala, yaitu firman-Nya yang Maha Agung lagi Maha Mulia: 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.'" Al-Hasan radhiyallahu 'anhu pernah menjenguk seorang laki-laki yang sedang sakaratulmaut, lalu beliau berkata, "Sesungguhnya suatu perkara yang ini adalah awalnya (yakni akhirat/kematian), sangat patut untuk ditakuti akhirnya. Dan sesungguhnya suatu perkara yang ini adalah akhirnya (yakni dunia), sangat patut untuk dizuhudkan awalnya." Al-Jariri berkata, "Aku berada di sisi Al-Junaid saat beliau dalam keadaan sakaratulmaut pada hari Jumat yang juga hari Nayruz. Beliau sedang membaca Al-Qur'an hingga mengkhatamkannya. Maka aku berkata kepadanya dalam kondisi demikian, 'Wahai Abu al-Qasim!' Beliau menjawab, 'Siapakah yang lebih berhak melakukan hal ini daripadaku, sedangkan saat ini lembaran amalku sedang dilipat?'" Ruwaim berkata, "Aku menghadiri wafatnya Abu Sa'id al-Kharraz, sementara beliau sedang bersyair: 'Kerinduan hati para 'arifin adalah kepada dzikir… dan ingatan mereka pada saat bermunajat adalah untuk rahasia ilahi (sirr).'
أديرت كؤوس للمنايا عليهم … فأغفوا عن الدنيا كإغفاء ذي الشكر
"Piala-piala kematian telah diedarkan kepada mereka… sehingga mereka terlelap dari dunia bagaikan terlelapnya orang yang mabuk."
همومهم جوالة بمعسكر … به أهل ود الله كالأنجم الزهر
"Cita-cita dan kerinduan mereka berkelana di suatu perkemahan… yang di dalamnya berisi para kekasih Allah bagaikan bintang-bintang yang bersinar terang."
فأجسامهم في الأرض قتلى بحبه … وأرواحهم في الحجب نحو العلا تسري
"Maka jasad-jasad mereka di bumi terbunuh oleh rasa cinta kepada-Nya… sedangkan ruh-ruh mereka menembus tirai-tirai menuju tempat yang maha tinggi."
فما عرسوا إلا بقرب حبيبهم … وما عرجوا من مس بؤس ولا ضر
"Maka tidaklah mereka singgah melainkan di dekat Kekasih mereka… dan tidaklah mereka terhalang oleh sentuhan kesengsaraan maupun penderitaan."
وقيل للجنيد إن أبا سعيد الخزاز كان كثير التواجد عند الموت فقال لم يكن بعجب أن تطير روحه اشتياقا
Dikatakan kepada Al-Junaid bahwa Abu Sa'id al-Kharraz mengalami banyak tawajud (hanyut dalam rasa rindu kepada Allah) ketika hendak meninggal dunia. Maka Al-Junaid berkata, "Tidaklah mengherankan jika ruhnya terbang melayang karena rasa rindu."
وقيل لذي النون عند موته ما تشتهي قال أن أعرفه قبل موتي بلحظة
Dikatakan kepada Dzu an-Nun saat hendak meninggal dunia, "Apakah yang engkau inginkan?" Beliau menjawab, "(Aku ingin) mengenal-Nya (ma'rifatullah) sekejap sebelum matiku."
وقيل لبعضهم وهو في النزع قل الله فقال إلى متى تقولون الله وأنا محترق بالله
Dikatakan kepada salah seorang dari mereka ketika sedang sakaratulmaut, "Katakanlah: Allah." Maka ia menjawab, "Sampai kapan kalian menyuruhku mengatakan 'Allah', padahal aku sedang terbakar (oleh kerinduan) kepada Allah?"
وقال بعضهم كنت عند ممشاد الدينوري فقدم فقيرا وقال السلام عليكم هل هنا موضع نظيف يمكن الإنسان أن يموت فيه قال فأشاروا إليه بمكان وكان ثم عين ماء فجدد الفقير الوضوء وركع ما شاء الله ومضى إلى ذلك المكان ومد رجليه ومات وكان أبو عباس الدينوري يتكلم في مجلسه فصاحت امرأة تواجدا فقال لها موتى فقامت المرأة فلما بلغت الدار التفتت إليه وقالت قد مت ووقعت ميتة
Sebagian dari mereka berkata, "Aku pernah berada di dekat Mimsyad ad-Dinawari, lalu datanglah seorang fakir (sufi) seraya mengucapkan, 'Assalamu 'alaikum, apakah di sini ada tempat yang bersih di mana seseorang dapat mati di situ?'" Ia berkata, "Maka mereka menunjuk ke suatu tempat yang di sana terdapat mata air. Orang fakir itu pun memperbarui wudhunya, shalat sunnah beberapa rakaat sesuai kehendak Allah, lalu berjalan menuju tempat tersebut, meluruskan kedua kakinya, lalu meninggal dunia." Dan Abu al-'Abbas ad-Dinawari pernah berbicara dalam majelisnya, lalu seorang wanita berteriak karena hanyut dalam rasa haru (tawajud). Maka beliau berkata kepadanya, "Matilah engkau!" Wanita itu pun bangkit. Ketika telah sampai di pintu rumah, ia menoleh kepadanya dan berkata, "Aku telah mati," lalu ia jatuh terjerembab dalam keadaan meninggal dunia.
ويحكى عن فاطمة أخت أبي علي الروذباري قالت لما قرب أجل أبي علي الروذباري وكان رأسه في حجري فتح عينيه وقال هذه أبواب السماء قد فتحت وهذه الجنان قد زينت وهذا قائل يقول يا أبا علي قد بلغناك الرتبة القصوى وإن لم تردها ثم أنشا يقول
Diriwayatkan dari Fatimah, saudara perempuan Abu 'Ali ar-Rudzabari, ia berkata, "Ketika ajal Abu 'Ali ar-Rudzabari semakin dekat, dan kepalanya berada di pangkuanku, beliau membuka kedua matanya seraya berkata, 'Pintu-pintu langit ini telah dibuka, surga-surga ini telah dihiasi, dan ada suara yang berkata: Wahai Abu 'Ali, Kami telah menyampaikanku ke derajat yang tertinggi meskipun engkau tidak memintanya.' Kemudian beliau mengumandangkan syair:
وحقك لا نظرت إلى سواكا … بعين مودة حتى أراكا
"Demi Hak-Mu, aku tidak akan memandang kepada selain-Mu… dengan pandangan kasih sayang sampai aku melihat-Mu."
أراك معذبي بفتور لحظ … وبالخد المورد من حياكا
"Aku melihat-Mu mengujiku dengan lembutnya pandangan… dan dengan keindahan yang terpancar dari rasa malu kepada-Mu."
وقيل للجنيد قل لا إله إلا الله فقال ما نسيته فأذكره وسأل جعفر بن نصير بكران أن الدينوري خادم الشبلي ما الذي رأيت منه فقال قال على درهم مظلمة وتصدقت عن صاحبه بألوف فما على قلبي شغل أعظم منه ثم
Dikatakan kepada Al-Junaid, "Katakanlah: Laa ilaaha illallaah." Beliau menjawab, "Aku tidak pernah melupakan-Nya sehingga aku harus mengingat-Nya kembali." Dan Ja'far bin Nushair bertanya kepada Bakran ad-Dinawari, pelayan Asy-Syibli, "Apa yang engkau lihat darinya (saat hendak wafat)?" Ia menjawab, "Beliau berkata: 'Aku menanggung kezaliman hak orang lain senilai satu dirham, dan aku telah bersedekah ribuan dirham atas nama pemiliknya, namun tidak ada kesibukan dalam hatiku yang lebih berat daripada hal itu.' Kemudian…
قال وضئني للصلاة ففعلت فنسيت تخليل لحيته وقد أمسك على لسانه فقبض على يدي وأدخلها في لحيته ثم مات فبكى جعفر وقال ما تقولون في رجل لم يفته في آخر عمره أدب من آداب الشريعة وقيل لبشر بن الحارث لما احتضر وكان يشق عليه كأنك تحب الحياة فقال القدوم على الله شديد
Beliau berkata, 'Wudhukanlah aku untuk shalat.' Maka aku melakukannya, tetapi aku lupa menyela-nyela jenggotnya. Padahal lisan beliau sudah terkunci, maka beliau memegang tanganku dan memasukkannya ke dalam jenggotnya (agar disela-selai), lalu beliau meninggal dunia." Maka Ja'far menangis dan berkata, "Bagaimana pendapat kalian tentang seorang laki-laki yang di akhir usianya tidak melewatkan satu pun adab dari adab-adab syariat?" Dan dikatakan kepada Bisyr bin al-Harits ketika beliau sedang sakaratulmaut dan tampak berat baginya, "Seolah-olah engkau menyukai kehidupan?" Beliau menjawab, "Datang menghadap Allah itu sangatlah berat."
وقيل لصالح بن مسمار ألا توصي بابنك وعيالك فقال إني لأستحي من الله أن أوصي بهم إلى غيره ولما احتضر أبو سليمان الداراني أتاه أصحابه فقالوا أبشر فإنك تقدم على رب غفور رحيم فقال لهم ألا تقولون احذر فإنك تقدم على رب يحاسبك بالصغير ويعاقبك بالكبير ولما احتضر أبو بكر الواسطي قيل له أوصنا فقال احفظوا مراد الحق فيكم واحتضر بعضهم فبكت امرأته فقال لها ما يبكيك فقالت عليك أبكي فقال إن كنت باكية فابكي على نفسك فلقد بكيت لهذا اليوم أربعين سنة
Dikatakan kepada Shalih bin Mismar, "Tidakkah engkau berwasiat tentang anak dan keluargamu?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku malu kepada Allah jika berwasiat tentang mereka kepada selain-Nya." Dan ketika Abu Sulaiman ad-Darani sakaratulmaut, para sahabatnya mendatangi beliau lalu berkata, "Bergembiralah, karena engkau akan menghadap Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Beliau berkata kepada mereka, "Mengapa kalian tidak mengatakan: 'Waspadalah, karena engkau akan menghadap Tuhan yang akan memperhitungkanmu atas dosa kecil dan mengazabmu atas dosa besar?'" Ketika Abu Bakr al-Wasiti sakaratulmaut, dikatakan kepadanya, "Berilah kami wasiat." Beliau berkata, "Peliharalah kehendak Al-Haq (Allah) pada diri kalian." Dan ketika salah seorang dari mereka sakaratulmaut, istrinya menangis, maka ia berkata kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Istrinya menjawab, "Aku menangisi dirimu." Ia berkata, "Jika engkau hendak menangis, menangislah untuk dirimu sendiri, sebab sungguh aku telah menangis untuk menghadapi hari ini selama empat puluh tahun."
وقال الجنيد دخلت على سري السقطي أعوده في مرض موته فقلت كيف تجدك فأنشأ يقول
Al-Junaid berkata, "Aku menjenguk Sari as-Saqati dalam sakit yang mengantarkan pada wafatnya, lalu aku bertanya, 'Bagaimana keadaan yang engkau rasakan?' Maka beliau melantunkan syair:
كيف أشكو إلى طبيبي ما بي … والذي بي أصابني من طبيبي
"Bagaimana aku akan mengadukan penyakitku kepada tabibku… padahal apa yang menimpaku ini berasal dari tabibku sendiri."
فأخذت المروحة لأروحه فقال كيف ريح المروحة يجد من جوفه يحترق ثم أنشأ يقول
Maka aku mengambil kipas untuk mengipasinya, lalu beliau berkata, "Bagaimana mungkin angin kipas dapat dirasakan oleh orang yang bagian dalamnya terbakar (oleh kerinduan)?" Kemudian beliau mengumandangkan syair:
القلب محترق والدمع مستبق … والكرب مجتمع والصبر مفترق
"Hati terbakar dan air mata berlomba mencurah… duka cita berhimpun dan kesabaran pun berpisah."
كيف القرار على من لا قرار له … مما جناه الهوى والشوق والقلق
Bagaimanakah ketenangan ada pada orang yang tak memiliki ketenangan… akibat apa yang ditimbulkan oleh hawa nafsu, kerinduan, dan kegelisahan.
يا رب إن يك شيء فيه لي فرج … فامنن على به ما دام بي رمق
Wahai Tuhan, jika ada sesuatu yang di dalamnya terdapat jalan keluar bagiku… maka karuniakanlah ia kepadaku selama sisa hembusan nafasku masih ada.
وحكي أن قوماً من أصحاب الشبلي دخلوا عليه وهو في الموت فقالوا له قل لا إله إلا الله فأنشأ يقول
Diriwayatkan bahwa sekelompok sahabat Asy-Syibli mendatangi beliau ketika beliau sedang sakaratul maut. Mereka berkata kepadanya, "Ucapkanlah *Laa ilaaha illallah*," maka beliau melantunkan syair:
إن بيتا أنت ساكنه … غير محتاج إلى السرج
Sesungguhnya rumah yang Engkau tinggali… tidak membutuhkan lampu penerang.
وجهك المأمول حجتنا … يوم يأتي الناس بالحجج
Wajah-Mu yang diharapkan adalah pegangan kami… pada hari ketika manusia datang membawa pegangan dan alasan.
لا أتاح الله لي فرجا … يوم أدعو منك بالفرج
Semoga Allah tidak memberikan kelapangan bagiku… pada hari aku memohon kelapangan dari selain-Mu.
وحكى أن أبا العباس بن عطاء دخل على الجنيد في وقت نزعه فسلم عليه فلم يجبه ثم أجاب بعد ساعة وقال أعذرني فإني كنت في وردى ثم ولى وجهه إلى القبلة وكبر ومات
Diriwayatkan bahwa Abu al-Abbas bin 'Atha' menjenguk Al-Junaid saat naza' (sakaratul maut). Ia mengucapkan salam kepadanya, namun Al-Junaid tidak menjawabnya. Baru setelah beberapa saat, beliau menjawab dan berkata, "Maafkan aku, sesungguhnya tadi aku sedang berada dalam wiridku." Kemudian beliau menghadapkan wajahnya ke arah kiblat, bertakbir, lalu wafat.
وقيل للكناني لما حضرته الوفاة ما كان عملك فقال لو لم يقرب أجلي ما أخبرتكم به وقفت على باب قلبي أربعين سنة فكلما مر فيه غير الله حجبته عنه
Dikatakan kepada Al-Kinani ketika ajal menjelang kepadanya, "Apakah amalanmu?" Beliau menjawab, "Seandainya ajalku tidak dekat, niscaya aku tidak akan memberitahukannya kepada kalian. Aku telah berjaga di pintu hatiku selama empat puluh tahun; setiap kali ada selain Allah yang hendak melintas di dalamnya, maka aku menghalanginya dari hatiku."
وحكى عن المعتمر قال كنت فيمن حضر الحكم بن عبد الملك حين جاءه الحق فقلت اللهم هون عليه سكرات الموت فإنه كان وكان فذكرت محاسنه فأفاق فقال من المتكلم فقلت أنا فقال إن ملك الموت ﵇ يقول لي إني بكل سخي رفيق ثم طفئ
Diriwayatkan dari Al-Mu'tamir, ia berkata: Aku termasuk orang yang mendampingi Al-Hakam bin Abdul Malik ketika kematian menjemputnya. Lalu aku berdoa, "Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut atasnya, karena sesungguhnya ia dahulu begini dan begitu," lalu aku menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Kemudian ia sadar dan bertanya, "Siapa yang berbicara?" Aku menjawab, "Aku." Ia berkata, "Sesungguhnya Malaikat Maut 'alaihis salam berkata kepadaku: Sesungguhnya aku bersikap lembut kepada setiap orang yang dermawan." Kemudian ia pun menghembuskan napas terakhirnya.
ولما حضرت يوسف بن أسباط الوفاة شهده حذيفة فوجده قلقا فقال يا أبا محمد هذا أوان القلق والجزع فقال يا أبا عبد الله وكيف لا أقلق ولا أجزع وإني لا أعلم أني صدقت الله في شيء من عملي فقال حذيفة واعجباه لهذا الرجل الصالح يخلف عند موته أنه لا يعلم أنه صدق الله في شيء من عمله
Ketika wafat menjelang Yusuf bin Asbath, Hudzaifah menjenguknya dan mendapatinya gelisah. Hudzaifah berkata, "Wahai Abu Muhammad, apakah sekarang waktunya gelisah dan cemas?" Yusuf menjawab, "Wahai Abu Abdillah, bagaimana aku tidak gelisah dan cemas, padahal aku tidak meyakini bahwa aku telah ikhlas dan tulus kepada Allah dalam satu pun dari amalku." Hudzaifah berkata, "Sungguh menakjubkan orang saleh ini! Ia bersumpah pada saat kematiannya bahwa ia tidak tahu apakah ia telah tulus kepada Allah dalam satu pun dari amalnya."
وعن المغازلي قال دخلت على شيخ لي من أصحاب هذه الصفة وهو عليل وهو يقول يمكنك أن تعمل ما تريد فارفق بي ودخل بعض المشايخ على ممشاد الدينوري في وقت وفاته فقال له فعل الله تعالى وصنع من باب الدعاء فضحك ثم قال منذ ثلاثين سنة تعرض على الجنة بما فيها فما أعرتها طرفي
Dari Al-Mughazili, ia berkata: Aku menemui seorang guruku dari kalangan ahli maqam ini saat ia sedang sakit. Guru tersebut berdoa, "Engkau berkuasa melakukan apa yang Engkau kehendaki, maka bersikap lembutlah kepadaku." Dan sebagian guru menemui Mimsyad Ad-Dinawari pada saat wafatnya, lalu berdoa untuknya, "Semoga Allah Ta'ala melimpahkan kebaikan-Nya kepadamu." Maka Mimsyad tersenyum lalu berkata, "Sejak tiga puluh tahun yang lalu, surga beserta segala isinya telah ditawarkan kepadaku, namun aku tidak pernah meliriknya sedikit pun."
وقيل لرويم عند الموت قل لا إله إلا الله فقال لا أحسن غيره
Dikatakan kepada Ruwaim menjelang kematiannya, "Ucapkanlah *Laa ilaaha illallah*." Maka beliau menjawab, "Aku tidak pandai mengucapkan selain kalimat itu."
ولما حضرت الثوري الوفاة قيل له قل لا إله إلا الله فقال أليس ثم أمر ودخل المزني على الشافعي رحمة الله عليهما في مرضه الذي توفي فيه فقال له كيف أصبحت
Ketika Sufyan Ats-Tsauri menghadapi sakaratul maut, dikatakan kepadanya, "Ucapkanlah *Laa ilaaha illallah*." Beliau menjawab, "Bukankah perkara ini memang milik-Nya?" Dan Al-Muzani menjenguk Imam Asy-Syafi'i—rahimahumallah—pada sakit yang membawa wafatnya, lalu Al-Muzani bertanya kepadanya, "Bagaimana keadaannmu pagi ini…
يا أبا عبد الله فقال أصبحت من الدنيا راحلا وللإخوان مفارقا ولسوء عملي ملاقيا ولكأس المنية شاربا وعلى الله تعالى واردا ولا أدري أروحي تصير إلى الجنة فأهنيها أم إلى النار فأعزيها ثم أنشأ يقول
… wahai Abu Abdillah?" Asy-Syafi'i menjawab, "Pagi ini aku menjadi orang yang pergi meninggalkan dunia, berpisah dari saudara-saudara, menemui keburukan amalku, meminum cawan kematian, dan menghadap kepada Allah Ta'ala. Aku tidak tahu apakah ruhku akan menuju ke surga sehingga aku menyelamatinya, ataukah menuju ke neraka sehingga aku berbelasungkawa atasnya." Kemudian beliau melantunkan syair:
ولما قسا قلبي وضاقت مذاهبي … جعلت رجائي نحو عفوك سلما
Ketika hatiku membatu dan jalan-jalanku terasa sempit… kujadikan harapanku menuju ampunan-Mu sebagai tangga.
تعاظمني ذنبي فلما قرنته … بعفوك ربي كان عفوك أعظما
Dosaku terasa amat besar bagiku, namun ketika aku menyandingkannya… dengan ampunan-Mu wahai Tuhanku, ampunan-Mu jauh lebih besar.
فما زلت ذا عفو عن الذنب لم تزل … تجود وتعفو منة وتكرما
Engkau senantiasa Pemilik ampunan atas dosa, Engkau senantiasa… memberi dan mengampuni sebagai karunia dan kemuliaan.
ولولاك لم يغوي بإبليس عابد … فكيف وقد أغوى صفيك آدما
Jikalau bukan karena kehendak-Mu, niscaya Iblis tidak akan mampu menyesatkan seorang hamba pun… bagaimana tidak, sedangkan ia telah menyesatkan kekasih pilihan-Mu, Adam.
ولما حضرت أحمد بن خضروية الوفاة سئل عن مسئلة فدمعت عيناه وقال يا بني باب كنت أدقه خمسا وتسعين سنة هو ذا يفتح الساعة لي لا أدري أيفتح بالسعادة أو الشقاوة فآن لي أوان الجواب
Ketika Ahmad bin Khadhruwaih menjelang wafatnya, beliau ditanyai suatu masalah, maka kedua matanya meneteskan air mata dan berkata, "Wahai anakku, sebuah pintu yang telah kuketuk selama sembilan puluh lima tahun, kini baru saja dibuka untukku. Aku tidak tahu apakah dibuka dengan kebahagiaan atau kesengsaraan, maka apakah ini saatnya bagiku memberi jawaban masalah fiqih?"
فهذه أقاويلهم وإنما اختلفت بحسب اختلاف أحوالهم فغلب على بعضهم الخوف وعلى بعضهم الرجاء وعلى بعضهم الشوق والحب فتكلم كل واحد منهم على مقتضى حاله والكل صحيح بالإضافة إلى أحوالهم
Maka inilah perkataan-perkataan mereka. Ungkapan tersebut berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi batin (*ahwal*) mereka. Pada sebagian mereka mendominasi rasa takut (*khauf*), pada sebagian lain harapan (*raja'*), dan pada sebagian lainnya kerinduan (*syauq*) dan rasa cinta (*mahabbah*). Maka masing-masing dari mereka berbicara sesuai dengan tuntutan keadaan batinnya, dan semuanya benar jika ditinjau dari kondisi batin mereka masing-masing.
الباب السادس في أقاويل العارفين على الجنائز والمقابر وحكم زيارة
Bab Keenam: Ucapan Orang-Orang Ma'rifat (Al-Arifin) Mengenai Jenazah, Pemakaman, dan Hukum Ziarah
القبور
Kubur
أعلم أَنَّ الْجَنَائِزَ عِبْرَةٌ لِلْبَصِيرِ وَفِيهَا تَنْبِيهٌ وَتَذْكِيرٌ لِأَهْلِ الْغَفْلَةِ فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُهُمْ مُشَاهَدَتُهَا إِلَّا قساوة لِأَنَّهُمْ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ أَبَدًا إِلَى جِنَازَةِ غَيْرِهِمْ يَنْظُرُونَ وَلَا يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ لَا مَحَالَةَ عَلَى الْجَنَائِزِ يُحْمَلُونَ أَوْ يَحْسَبُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّهُمْ عَلَى الْقُرْبِ لَا يَقَدِّرُونَ وَلَا يَتَفَكَّرُونَ أَنَّ الْمَحْمُولِينَ على الجنائز هكذا كانوا يَحْسَبُونَ فَبَطَلَ حُسْبَانُهُمْ وَانْقَرَضَ عَلَى الْقُرْبِ زَمَانُهُمْ فَلَا يَنْظُرُ عَبْدٌ إِلَى جِنَازَةٍ إِلَّا وَيُقَدِّرُ نَفْسَهُ مَحْمُولًا عَلَيْهَا فَإِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَيْهَا عَلَى الْقُرْبِ وَكَأَنْ قَدْ وَلَعَلَّهُ فِي غَدٍ أَوْ بعد غد
Ketahuilah bahwa jenazah itu memuat pelajaran bagi orang yang memiliki mata hati (al-basirah), serta peringatan dan penggugah bagi ahli kelalaian (ahlul ghaflah). Sungguh, menyaksikan jenazah tidaklah menambah bagi ahli kelalaian melainkan kekerasan hati, sebab mereka mengira bahwa mereka selamanya hanya menyaksikan jenazah orang lain. Mereka tidak memperhitungkan bahwa mereka pun pasti akan diusung di atas keranda jenazah. Atau mereka memperhitungkan hal itu, tetapi mereka tidak mengira betapa dekatnya ajal itu, dan mereka tidak merenungkan bahwa orang-orang yang diusung di atas keranda jenazah itu dulunya juga menduga demikian, lalu dugaan mereka batil dan waktu mereka pun habis dalam waktu dekat. Maka, tidaklah seorang hamba memandang jenazah melainkan ia harus membayangkan dirinya sedang diusung di atasnya, karena sesungguhnya ia akan diusung di atasnya dalam waktu dekat, seakan-akan hal itu telah terjadi, dan boleh jadi besok atau lusa.
ويروى عن أبي هريرة أنه كان إذا رأى جنازة قال امضوا فإنا على الأثر
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa apabila beliau melihat jenazah, beliau berkata: "Berjalanlah kalian mendahului, sebab kami pasti menyusul di belakang."
وكان مكحول الدمشقي إذا رأى جنازة قال اغدوا فإنا رائحون
Makhul ad-Dimasyqi apabila melihat jenazah, beliau berkata: "Berjalanlah kalian di waktu pagi, sebab kami akan menyusul di waktu petang."
موعظة بليغة وغفلة سريعة يذهب الأول والآخر لا عقل له
Nasihat yang sangat mendalam, namun kelalaian terjadi begitu cepat. Orang yang terdahulu pergi, sementara orang yang belakangan sama sekali tidak berakal (tidak mau mengambil pelajaran).
وقال أسيد بن حضير ما شهدت جنازة فحدثتني نفسي بشيء سوى ما هو مفعول به وما هو صائر إليه
Usaid bin Hudhair berkata: "Tidaklah aku menghadiri jenazah melainkan jiwaku tidak pernah membicarakan hal lain selain apa yang sedang diperlakukan terhadap mayit itu dan ke mana ia akan kembali."
ولما مات اخو مالك بن دينار خرج مالك في جنازته يبكي ويقول والله لا تقر عيني حتى أعلم إلى ماذا صرت إليه ولا أعلم ما دمت حياً
Ketika saudara laki-laki Malik bin Dinar meninggal dunia, Malik keluar mengiringi jenazahnya seraya menangis dan berkata: "Demi Allah, mataku tidak akan merasa tenang hingga aku mengetahui ke mana engkau telah berpulang, dan aku tidak akan pernah mengetahuinya selama aku masih hidup."
وقال الأعمش كنا نشهد الجنائز فلا ندري من نعزى لحزن الجميع
Al-A'masy berkata: "Dahulu kami menghadiri jenazah, lalu kami tidak tahu siapa yang harus kami beri ucapan bela sungkawa, karena semua orang yang hadir diliputi kesedihan."
وقال ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ كُنَّا نَشْهَدُ الْجَنَائِزَ فَلَا نَرَى إِلَّا مُتَقَنِّعًا بَاكِيًا
Tsabit al-Bunani berkata: "Dahulu kami menghadiri penyelenggaraan jenazah, dan kami tidak melihat seorang pun kecuali dalam keadaan menutupi kepala seraya menangis."
فَهَكَذَا كَانَ خَوْفُهُمْ مِنَ الْمَوْتِ
Maka seperti itulah rasa takut mereka terhadap kematian.
وَالْآنَ لَا نَنْظُرُ إِلَى جَمَاعَةٍ يَحْضُرُونَ جِنَازَةً إِلَّا وَأَكْثَرُهُمْ يَضْحَكُونَ وَيَلْهُونَ وَلَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا فِي مِيرَاثِهِ وَمَا خَلَّفَهُ لِوَرَثَتِهِ وَلَا يَتَفَكَّرُ أَقْرَانُهُ وَأَقَارِبُهُ إِلَّا فِي الْحِيلَةِ الَّتِي بِهَا يَتَنَاوَلُ بَعْضَ مَا خَلَّفَهُ وَلَا يَتَفَكَّرُ واحد منهم إلا ما شاء الله في جنازة نفسه وفي حَالِهِ إِذَا حُمِلَ عَلَيْهَا وَلَا سَبَبَ لِهَذِهِ الْغَفْلَةِ إِلَّا قَسْوَةُ الْقُلُوبِ بِكَثْرَةِ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ حَتَّى نَسِينَا اللَّهَ تَعَالَى وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَالْأَهْوَالَ الَّتِي بَيْنَ أَيْدِينَا فَصِرْنَا نَلْهُو وَنَغْفُلُ وَنَشْتَغِلُ بما لا يعنينا
Sedangkan sekarang, kita tidak melihat sekelompok orang yang menghadiri jenazah melainkan mayoritas mereka tertawa, bersenda gurau, dan tidak membicarakan sesuatu kecuali tentang harta warisan mayit dan apa yang ia tinggalkan untuk para ahli warisnya. Teman-teman sebaya dan kerabatnya tidak memikirkan kecuali tipu daya untuk memperoleh sebagian dari harta peninggalannya. Tidak seorang pun di antara mereka—kecuali yang dikehendaki Allah—yang merenungkan jenazah dirinya sendiri dan keadaannya kelak apabila diusung di atas keranda. Tidak ada penyebab bagi kelalaian ini selain kerasnya hati akibat banyaknya kemaksiatan dan dosa, hingga kita melupakan Allah Ta'ala, hari akhirat, dan kedahsyatan petaka yang ada di hadapan kita, sehingga kita menjadi bersenda gurau, lalai, dan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kita.
فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى الْيَقَظَةَ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ فإن أحسن أحوال الحاضرين على الجنائز بكاؤهم على الميت ولو عقلوا لبكوا على أنفسهم لا على الميت
Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala kesadaran dari kelalaian ini. Karena sesungguhnya, keadaan terbaik dari orang-orang yang menghadiri jenazah adalah tangisan mereka atas mayit tersebut. Seandainya mereka berakal, niscaya mereka akan menangisi diri mereka sendiri, bukan menangisi si mayit.
نظر إبراهيم الزيات إلى إناس يترحمون على الميت فقال لو ترحمون على أنفسكم لكان خيرا لكم إنه نجا من أهوال ثلاثة وجه ملك الموت وقد رأى ومرارة الموت وقد ذاق وخوف الخاتمة وقد أمن
Ibrahim az-Zayyat memandang sekelompok orang yang mendoakan rahmat bagi si mayit, lalu ia berkata: "Seandainya kalian mendoakan rahmat untuk diri kalian sendiri, tentu itu lebih baik bagi kalian. Sungguh, mayit ini telah selamat dari tiga kedahsyatan: rupa Malaikat Maut dan ia telah melihatnya, kepahitan maut dan ia telah merasakannya, serta rasa takut akan akhir kehidupan (su'ul khatimah) dan kini ia telah aman darinya."
وقال أبو عمرو بن العلاء جلست إلى جرير وهو يملي على كاتبه شعرا فأطلعت جنازة فأمسك وقال شيبتي والله هذه الجنائز
Abu 'Amr bin al-'Ala' berkata: "Aku duduk di dekat Jarir ketika ia sedang mendiktekan syair kepada juru tulisnya, lalu tampaklah sebuah jenazah melintas. Maka Jarir berhenti mendikte dan berkata: 'Demi Allah, jenazah-jenazah inilah yang telah menyebabkanku beruban.'"
وأنشأ يقول
Lalu ia melantunkan bait syair:
تروعنا الجنائز مقبلات … ونلهو حين تذهب مدبرات
Jenazah-jenazah mengejutkan dan menggentarkan kita tatkala datang mengusung… Namun kita kembali lalai dan bersenda gurau tatkala mereka telah berlalu pergi.
كروعة ثلة لمغار ذئب … فلما غاب عادت راتعات
Bagaikan terkejutnya sekawan domba akibat serangan serigala… Namun ketika serigala itu menghilang, mereka kembali merumput dengan gembira.
فمن آداب حضور الجنائز التَّفَكُّرُ وَالتَّنَبُّهُ وَالِاسْتِعْدَادُ وَالْمَشْيُ أَمَامَهَا عَلَى هَيْئَةِ التواضع كما ذكرنا آدابه وسننه في فن الفقه وَمِنْ آدَابِهِ حُسْنُ الظَّنِّ بِالْمَيِّتِ وَإِنْ كَانَ فَاسِقًا وَإِسَاءَةُ الظَّنِّ بِالنَّفْسِ وَإِنْ كَانَ ظَاهِرُهَا الصلاح فإن الخاتمة مخطرة لا تدري حقيقتها
Maka di antara adab-adab menghadiri jenazah adalah tafakur (perenungan), kesadaran, bersiap siaga, dan berjalan di depannya dalam sikap tawadhuk sebagaimana telah kami sebutkan adab-adab dan sunnah-sunnahnya dalam ilmu Fiqih. Dan di antara adabnya pula adalah husnuzhan (berprasangka baik) terhadap mayit walaupun ia seorang yang fasik, serta su'uzhan (berprasangka buruk) terhadap diri sendiri walaupun lahiriahnya tampak saleh, karena akhir kehidupan (khotimah) itu sangat berisiko dan tidak diketahui hakikatnya.
ولذلك روي عن عمر بن ذر أنه مات واحد من جيرانه وكان مسرفا على نفسه فتجافى كثير من الناس عن جنازته فحضرها هو وصلى عليها فلما دلى في قبره وقف على قبره وقال يرحمك الله يا أبا فلان فلقد صحبت عمرك بالتوحيد وعفرت وجهك بالسجود وإن قالوا مذنب وذو خطايا فمن منا غير مذنب وغير ذي خطايا ويحكى أن رجلا من المنهمكين في الفساد مات في بعض نواحي البصرة فلم تجد امرأته من يعينها على مل جنازته إذ لم يدر بها أحد من جيرانه لكثرة فسقه فاستأجرت حمالين وحملتها إلى المصلى فما صلى عليه أحد فحملتها إلى الصحراء للدفن فكان على جبل قريب من الموضع زاهد من الزهاد الكبار فرأته كالمنتظر للجنازة ثم قصد أن يصلي عليها فانتشر الخبر في البلد بأن الزاهد نزل ليصلي على فلان فخرج أهل البلد فصلى الزاهد وصلوا عليه وتعجب الناس من صلاة الزاهد عليه فقال قيل لي في المنام انزل إلى موضع فلان ترى فيه جنازة ليس معها أحد إلا امرأة فصل عليه فإنه مغفور له فزاد تعجب الناس فاستدعى الزاهد امرأته وسألها عن حاله وأنه كيف كانت سيرته قالت كما عرف كان طول نهاره في الماخور مشغولا بشرب الخمر فقال انظري هل تعرفين منه شيئا من أعمال الخير قالت نعم ثلاثة أشياء كان كل يوم يفيق من سكره وقت الصبح يبدل ثيابه ويتوضأ ويصلي الصبح في جماعة ثم يعود إلى الماخور ويشتغل بالفسق والثاني أنه كان أبدا لا يخلو بيته من يتيم أو يتيمين وكان إحسانه إليهم أكثر من إحسانه إلى أولاده وكان شديد التفقد لهم
Oleh karena itu, diriwayatkan dari Umar bin Dzarr bahwa salah satu tetangganya meninggal dunia dan ia adalah seorang yang berbuat maksiat melampaui batas atas dirinya. Banyak orang menjauh dan enggan mengiringi jenazahnya, tetapi Umar bin Dzarr menghadirinya dan menshalatinya. Ketika mayit itu diturunkan ke dalam kuburnya, beliau berdiri di tepi kubur dan berkata: "Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Fulan, sungguh engkau telah menyertai umurmu dengan tauhid dan menempelkan wajahmu dengan sujud. Meskipun mereka mengatakan engkau seorang pendosa dan pemilik kesalahan, maka siapakah di antara kita yang tidak berdosa dan tidak memiliki kesalahan?" Dan diceritakan bahwa seorang laki-laki yang bergelimang dalam kemaksiatan meninggal dunia di salah satu pelosok Basrah. Istrinya tidak menemukan seorang pun yang membantunya untuk mengusung jenazahnya karena tidak ada seorang pun tetangganya yang peduli padanya akibat banyaknya kefasikan yang dilakukannya. Maka istrinya menyewa dua orang kuli angkut dan membawanya ke tempat shalat, namun tidak ada seorang pun yang menshalatinya. Lalu ia membawanya ke padang pasir untuk dikuburkan. Di atas gunung yang dekat dari tempat itu, ada seorang zahid (ahli zuhud) dari kalangan zahid besar. Sang istri melihat sang zahid seolah sedang menunggu jenazah tersebut, kemudian sang zahid bermaksud untuk menshalatinya. Berita itu pun tersebar di kota bahwa sang zahid turun untuk menshalati si Fulan. Maka penduduk kota berbondong-bondong keluar, lalu sang zahid menshalatinya dan mereka pun ikut menshalatinya. Orang-orang merasa heran atas shalat sang zahid kepadanya. Sang zahid berkata: "Dikatakan kepadaku dalam mimpi: 'Turunlah ke tempat Fulan, engkau akan melihat di sana jenazah yang tidak disertai seorang pun kecuali seorang wanita, maka shalatkanlah dia karena sesungguhnya ia telah diampuni.'" Maka keheranan orang-orang makin bertambah. Sang zahid memanggil istri lelaki itu dan menanyakan tentang keadaannya dan bagaimana rekam jejak hidupnya. Istrinya menjawab: "Seperti yang telah diketahui, sepanjang harinya ia berada di kedai khamar sibuk meminum khamar." Sang zahid berkata: "Cobalah ingat, apakah engkau mengetahui sesuatu dari amal kebaikannya?" Istrinya menjawab: "Ya, ada tiga hal: Setiap hari ia siuman dari mabuknya pada waktu subuh, ia mengganti pakaiannya, berwudhu, dan melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, kemudian ia kembali ke kedai tersebut dan sibuk dengan kefasikan. Yang kedua, rumahnya tidak pernah kosong dari satu atau dua anak yatim, dan kebaikannya kepada mereka lebih besar daripada kebaikannya kepada anak-anaknya sendiri, serta ia sangat perhatian terhadap keadaan mereka."
والثالث أنه كان يفيق في أثناء سكره في ظلام الليل فيبكي ويقول يا رب أي زاوية من زوايا جهنم تريد أن تملأها بهذا الخبيث يعني نفسه
Dan yang ketiga, bahwasanya dia tersadar di tengah-tengah kerinduan spiritualnya (sakarnya) di kegelapan malam, lalu menangis dan berkata: "Wahai Tuhan, sudut mana dari sudut-sudut Jahanam yang hendak Engkau penuhi dengan jiwa yang buruk ini?"—yang beliau maksud adalah dirinya sendiri.
فانصرف الزاهد وقد ارتفع إشكاله من أمره
Maka sang zahid itu pun pergi, dan telah sirnalah keraguan dari urusannya.
وعن صلة بن أشيم وقد دفن أخ له فقال على قبره
Diriwayatkan dari Shilah bin Asyim bahwa ketika beliau memakamkan saudaranya, beliau berkata di atas kuburnya:
فإن تنج منها تنج من ذي عظيمة … وإلا فإني لا أخالك ناجيا
"Jika engkau selamat darinya (azab kubur), engkau selamat dari perkara yang amat besar… Namun jika tidak, sungguh aku tidak mengira engkau akan selamat."
بيان حال القبر وأقاويلهم عند القبور
Penjelasan Mengenai Keadaan Kubur dan Ucapan-Ucapan Para Salaf di Sisi Pekuburan
قال الضحاك قال رجل يا رسول الله من أزهد الناس قال من لم ينس القبر والبلى وترك فضل زينة الدنيا وآثر ما يبقى على ما يفنى ولم يعد غدا من أيامه وعد نفسه من أهل القبور وقيل لعلي كرم الله وجهه ما شأنك جاورت المقبرة قال إني أجدهم خير جيران أجدهم جيران صدق يكفون الألسنة ويذكرون الآخرة
Adh-Dhahhak berkata: Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling zuhud?" Beliau menjawab, "Orang yang tidak melupakan kubur dan kebinasaan jasad, meninggalkan kelebihan perhiasan dunia, lebih mengutamakan apa yang kekal daripada apa yang fana, tidak menghitung hari esok sebagai bagian dari usianya, serta menganggap dirinya sudah termasuk penghuni kubur." Dan dikatakan kepada Ali karramallāhu wajhah, "Mengapa engkau bertetangga dengan pekuburan?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku mendapati mereka sebagai sebaik-baik tetangga; aku mendapati mereka tetangga yang jujur, mereka menahan lidah dari pergunjingan dan mengingatkan akan akhirat."
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ وقال عمر بن الخطاب ﵁ خرجنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إلى المقابر فجلس إلى قبر وكنت أدنى القوم منه
Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak pernah aku melihat suatu pemandangan melainkan kubur itu lebih mengerikan daripadanya." Dan Umar bin al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu berkata: Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju pekuburan, lalu beliau duduk di samping sebuah kubur, dan aku adalah orang yang paling dekat dengannya.
فبكى وبكيت وبكوا فقال ما يبكيكم قلنا بكينا لبكائك قال هذا قبر أمي آمنة بنت وهب استأذنت ربي في زيارتها فأذن لي فاستأذنته أن أستغفر لها فأبى علي فأدركني ما يدرك الولد من الرقة وكان عثمان بن عفان ﵁ إذا وقف على قبر بكى حتى يبل لحيته
Lalu beliau menangis, aku pun menangis, dan orang-orang ikut menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuat kalian menangis?" Kami menjawab, "Kami menangis karena tangisanmu." Beliau bersabda, "Ini adalah kubur ibuku, Aminah binti Wahab. Aku memohon izin kepada Tuhanku untuk menziarahinya, maka Dia mengizinkanku. Lalu aku memohon izin untuk memohonkan ampunan baginya, namun Dia tidak mengizinkanku, maka timbullah dalam diriku kelembutan kasih sayang sebagaimana yang dirasakan seorang anak." Dan Utsman bin Affan radhiyallāhu 'anhu apabila berdiri di sisi kubur, beliau menangis hingga membasahi janggutnya.
فسئل عن ذلك وقيل له تذكر الجنة والنار فلا تبكي وتبكى إذا وقفت على قبر فقال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه صاحبه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد وقيل أن عمرو بن العاص نظر إلى المقبرة فنزل وصلى ركعتين فقيل له هذا شيء لم تكن تصنعه فقال ذكرت أهل القبور وما حيل بينهم وبينه فأحببت أن أتقرب إلى الله بهما
Maka beliau ditanya mengenai hal itu dan dikatakan kepadanya, "Engkau mengingat surga dan neraka tetapi tidak menangis, namun engkau menangis ketika berdiri di atas kubur?" Beliau menjawab, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. Jika penghuninya selamat darinya, maka apa yang setelahnya akan lebih mudah baginya. Namun jika ia tidak selamat darinya, maka apa yang setelahnya akan lebih berat.'" Dan diceritakan bahwa Amr bin al-Ash melihat ke arah pekuburan, lalu ia turun dan melaksanakan shalat dua rakaat. Dikatakan kepadanya, "Ini adalah sesuatu yang tidak biasa engkau lakukan." Beliau menjawab, "Aku teringat penghuni kubur dan terhalangnya hubungan antara mereka dengan shalat (amal saleh), maka aku ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan dua rakaat ini."
وقال مجاهد أول ما يكلم ابن آدم حفرته فتقول أنا بيت الدود وبيت الوحدة وبيت الغربة وبيت الظلمة هذا ما أعددت لك فما أعددت لي وقال أبو ذر ألا أخبركم بيوم فقري يوم أوضع في قبري
Mujahid berkata, "Hal pertama yang mengajak bicara anak Adam adalah liang kuburnya, ia berkata: 'Aku adalah rumah cacing, rumah kesendirian, rumah pengasingan, dan rumah kegelapan. Inilah yang kusiapkan untukmu, maka apa yang telah engkau siapkan untukku?'" Abu Dzar berkata, "Maukah kalian kuberitahukan tentang hari kemiskinanku yang paling amat? Yaitu hari saat aku dibaringkan di dalam kuburku."
وكان أبو الدرداء يقعد إلى القبور فقيل له في ذلك فقال أجلس إلى قوم يذكروني معادي وإذا قمت لم يغتابوني
Abu ad-Darda' biasa duduk di dekat pekuburan. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, "Aku duduk bersama kaum yang mengingatkanku akan tempat kembalikupun jika aku bangkit pergi, mereka tidak akan menggunjingku."
وكان جعفر بن محمد يأتي القبور ليلا ويقول يا أهل القبور مالي إذا دعوتكم لا تجيبوني ثم يقول حيل والله بينهم وبين جوابي وكأن بي أكون مثلهم ثم يستقبل الصلاة إلى طلوع الفجر
Ja'far bin Muhammad biasa mendatangi pekuburan di malam hari dan berkata, "Wahai penghuni kubur, mengapa jika aku memanggil kalian, kalian tidak menjawabku?" Kemudian beliau berkata, "Demi Allah, telah dihalangi antara mereka dan jawabanku, dan seolah-olah aku pun kelak akan menjadi seperti mereka." Setelah itu beliau menghadap kiblat untuk shalat hingga terbit fajar.
وقال عمر بن عبد العزيز لبعض جلسائه يا فلان لقد أرقت الليلة أتفكر في القبر وساكنه وإنك لو رأيت الميت بعد ثلاثة في قبره لاستوحشت من قربه بعد طول الأنس منك به ولرأيت بيتا تجول فيه الهوام ويجري فيه الصديد وتخترقه الديدان مع تغير الريح وبلى الأكفان بعد حسن الهيئة وطيب الريح ونقاء الثوب قال ثم شهق شهقة خر مغشيا عليه
Umar bin Abdul Aziz berkata kepada sebagian teman duduknya, "Wahai Fulan, sungguh aku tidak bisa tidur malam ini karena memikirkan kubur dan penghuninya. Sungguh jika engkau melihat mayat setelah tiga hari berada di kuburnya, niscaya engkau akan merasa asing dan takut berada di dekatnya setelah sekian lama engkau merasa akrab dengannya. Engkau akan melihat sebuah rumah yang di dalamnya merayap serangga, mengalir padanya nanah, dan ditembus oleh cacing-cacing, disertai perubahan bau dan lapuknya kain kafan, setelah sebelumnya elok rupanya, harum baunya, dan bersih pakaiannya." Perawi berkata: Kemudian beliau menghela napas panjang hingga jatuh pingsan.
وكان يزيد الرقاشي يقول أيها المقبور في حفرته والمتخلي في القبر بوحدته المستأنس في بطن الأرض بأعماله ليت شعري بأي أعمالك استبشرت وبأي إخوانك اغتبطت ثم يبكي حتى يبل عمامته ثم يقول استبشر والله بأعماله الصالحة واغتبط والله بإخوانه المتعاونين على طاعة الله تعالى وكان إذا نظر إلى القبور خار كما يخور الثور
Yazid ar-Raqasyi biasa berkata, "Wahai orang yang dikubur di liangnya, yang menyendiri dalam kubur dengan kesendiriannya, yang merasa nyaman di perut bumi dengan amal-amalnya! Duhai sekiranya aku tahu, dengan amal manakah engkau bergembira, dan dengan saudara yang manakah engkau merasa bahagia?" Kemudian beliau menangis hingga membasahi sorbannya, lalu berkata, "Demi Allah, dia bergembira dengan amal-amal salehnya, dan demi Allah, dia merasa bahagia dengan saudara-saudaranya yang saling tolong-menolong dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala." Dan apabila beliau melihat pekuburan, beliau merintih keras sebagaimana lembu jantan merintih.
وقال حَاتِمٍ الْأَصَمِّ مَنْ مَرَّ بِالْمَقَابِرِ فَلَمْ يَتَفَكَّرْ لِنَفْسِهِ وَلَمْ يَدْعُ لَهُمْ فَقَدْ خَانَ نَفْسَهُ وخانهم
Hatim al-Asham berkata, "Barang siapa melewati pekuburan lalu tidak merenungkan keselamatan dirinya dan tidak mendoakan mereka, maka sungguh ia telah mengkhianati dirinya sendiri dan mengkhianati mereka."
وكان بكر العابد يقول يا أماه ليتك كنت بي عقيما إن لابنك في القبر حبسا طويلا ومن بعد ذلك منه رحيلا
Bakr al-'Abid biasa berkata, "Wahai Ibunda, andaikan dahulu engkau mandul tidak melahirkanku! Sesungguhnya anakmu akan mengalami penahanan yang panjang di dalam kubur, dan setelah itu harus pergi melangkah darinya."
وقال يحيى بن من معاذ يا ابن آدم دعاك ربك إلى دار السلام فانظر من أين تجيبه إن أجبته من دنياك واشتغلت بالرحلة إليه دخلتها وإن أجبته من قبرك منعتها
Yahya bin Mu'adz berkata, "Wahai anak Adam, Tuhanmu telah menyerumu menuju Darussalam (surga), maka perhatikanlah dari mana engkau menyambut-Nya. Jika engkau menyambut-Nya sewaktu di duniamu dan sibuk bersiap untuk perjalanan menuju-Nya, niscaya engkau akan memasukinya. Namun jika engkau baru menyambut-Nya dari kuburmu, niscaya engkau terhalang darinya."
وكان الحسن بن صالح إذا أشرف على المقابر يقول ما أحسن ظواهرك إنما الدواهي في بواطنك وكان عطاء السلمي إذا جن عليه الليل خرج إلى المقبرة ثم يقول يا أهل القبور متم فواموتاه وعاينتم أعمالكم فواعملاه ثم يقول غدا عطاء في القبور فلا يزال ذلك دأبه حتى يصبح وقال سفيان من أكثر من ذكر القبر وجده روضة من رياض الجنة ومن غفل عن ذكره وجده حفرة من حفر النار
Al-Hasan bin Shalih apabila memandang pekuburan biasa berkata, "Betapa indahnya bagian luarmu, padahal malapetaka sesungguhnya berada di dalam batinmu." Dan Atha' as-Sulami apabila malam telah gelap gulita, ia keluar menuju pekuburan lalu berkata, "Wahai penghuni kubur, kalian telah mati, alangkah dahsyatnya kematian itu! Dan kalian telah menyaksikan amal-amal kalian, alangkah pentingnya amal-amal itu!" Kemudian ia berkata, "Esok hari Atha' akan berada di dalam kubur." Demikianlah perbuatannya terus-menerus hingga subuh. Dan Sufyan berkata, "Barang siapa memperbanyak mengingat kubur, niscaya ia akan mendapatkannya sebagai taman dari taman-taman surga; dan barang siapa lalai dari mengingatnya, niscaya ia akan mendapatkannya sebagai lubang dari lubang-lubang neraka."
وكان الربيع بن خيثم قد حفر في داره قبرا فكان إذا وجد في قلبه قساوة دخل فيه فاضطجع ومكث ما شاء الله ثم يقول رب أرجعون لعلي أعمل صالحا فيما تركت يرددها ثم يرد على نفسه يا ربيع قد رجعتك فاعمل
Ar-Rabi' bin Khutsaim telah menggali sebuah kubur di dalam rumahnya. Apabila beliau merasakan kekerasan pada hatinya, beliau masuk ke dalamnya lalu berbaring dan berdiam diri sekian lama sesuai kehendak Allah. Kemudian beliau membaca: "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan," beliau mengulang-ulangnya. Lalu beliau berkata kepada dirinya sendiri: "Wahai Rabi', sungguh Allah telah mengembalikanmu, maka beramallah!"
وقال أحمد بن حرب تتعجب الأرض من رجل يمهد مضجعه ويسوى فراشه للنوم فتقول يا ابن آدم لم لا تذكر طول بلاك وما بيني وبينك شيء وَقَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ فَلَمَّا نَظَرَ إلى القبور بكى ثم أقبل على فقال يا ميمون هذه قبور آبائي بني أمية كَأَنَّهُمْ لَمْ يُشَارِكُوا أَهْلَ الدُّنْيَا فِي لَذَّاتِهِمْ وعيشهم أَمَا تَرَاهُمْ صَرْعَى قَدْ حَلَّتْ بِهِمُ الْمَثُلَاتُ واستحكم فيهم البلى وأصابت الهوام مقيلا في أَبْدَانِهِمْ ثُمَّ بَكَى وَقَالَ وَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ أَحَدًا أَنْعَمَ مِمَّنْ صَارَ إِلَى هَذِهِ الْقُبُورِ وقد أمن من عذاب الله
Ahmad bin Harb berkata, "Bumi merasa heran terhadap seorang laki-laki yang merapikan tempat tidur dan meratakan alas tidurnya untuk tidur, lalu bumi berkata: 'Wahai anak Adam, mengapa engkau tidak mengingat panjangnya masa kebinasaan jasadmu di dalam kubur? Padahal tidak ada penghalang antara aku dan engkau.'" Maimun bin Mihran berkata: Aku keluar bersama Umar bin Abdul Aziz menuju pekuburan. Ketika beliau memandang ke arah kubur-kubur itu, beliau menangis, lalu beliau menghadap kepadaku dan berkata, "Wahai Maimun, ini adalah kubur nenek moyangku dari Bani Umayyah, seolah-olah mereka dahulu tidak pernah merasakan kelezatan dan kehidupan dunia bersama penghuninya. Tidakkah engkau melihat mereka tergelapar, hukum-hukum pembalasan telah menimpa mereka, kebinasaan telah menguasai mereka, dan serangga-serangga telah menjadikan jasad mereka sebagai tempat peristirahatannya?" Kemudian beliau menangis dan berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih kenikmatan daripada orang yang telah berpindah ke kubur-kubur ini dalam keadaan telah aman dari azab Allah."
وقال ثابت البناني دخلت المقابر فلما قصدت الخروج منها فإذا بصوت قائل يقول يا ثابت لا يغرنك صموت أهلها فكم من نفس مغمومة فيها
Thabit al-Bunani berkata, "Aku memasuki pemakaman. Ketika aku hendak keluar darinya, tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata: 'Wahai Thabit, janganlah sekali-kali keheningan penghuninya memperdayaimu, sebab betapa banyak jiwa yang sedang dilanda kesedihan mendalam di dalamnya.'"
ويروى أن فاطمة بنت الحسين نظرت إلى جنازة زوجها الحسن بن الحسن فغطت وجهها وقالت
Diriwayatkan bahwa Fatimah binti al-Husain memandang jenazah suaminya, al-Hasan bin al-Hasan, lalu ia menutupi wajahnya dan bersyair:
وكانوا رجاء ثم أمسوا رزية … لقد عظمت تلك الرزايا وجلت
"Dahulu mereka adalah tumpuan harapan, lalu beroleh petaka di petang hari… Sungguh musibah-musibah itu amat besar dan agung."
وقيل إنها ضربت على قبره فسطاطا واعتكفت عليه سنة
Dikatakan bahwa ia mendirikan kemah di atas kuburnya dan beriktikaf di sana selama satu tahun.
فلما مضت السنة قلعوا الفسطاط ودخلت المدينة فسمعوا صوتا من جانب البقيع هل وجدوا ما فقدوا فسمعوا من الجانب الآخر بل يئسوا فانقلبوا
Ketika tahun itu telah berlalu, mereka membongkar kemah tersebut dan ia kembali ke Madinah. Tiba-tiba terdengar suara dari arah Baqi', "Apakah mereka telah menemukan apa yang hilang dari mereka?" Lalu terdengar jawaban suara dari arah lain, "Tidak, bahkan mereka telah berputus asa lalu kembali."
وقال أبو موسى التميمي توفيت امرأة الفرزدق فخرج في جنازتها وجوه البصرة وفيهم الحسن فقال له الحسن يا أبا فراس ماذا أعددت لهذا اليوم فقال شهادة أن لا إله إلا الله منذ ستين سنة فلما دفنت أقام الفرزدق على قبرها فقال
Abu Musa al-Tamimi berkata, "Istri al-Farazdaq meninggal dunia, maka tokoh-tokoh Basrah menghadiri jenazahnya, di antaranya al-Hasan al-Basri. Al-Hasan berkata kepadanya, 'Wahai Abu Firas, apa yang telah engkau persiapkan untuk hari ini?' Al-Farazdaq menjawab, 'Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah sejak enam puluh tahun yang lalu.' Ketika ia telah dimakamkan, al-Farazdaq berdiri di samping kuburnya seraya bersyair:
أخاف وراء القبر إن لم تعافني … أشد من القبر التهابا وأضيقا
"Aku takut akan alam setelah kubur jika Engkau tidak mengampuniku… Alam yang lebih membakar dan lebih sempit daripada kubur."
إذا جاءني يوم القيامة قائد … عنيف وسواق يسوق الفرزدقا
"Apabila pada hari kiamat kelak datang kepadaku penuntun… Yang keras lagi kasar, serta penghela yang menghela al-Farazdaq."
لقد خاب من أولاد آدم من مشى … إلى النار مغلول القلادة أزرقا
"Sungguh alangkah rugi keturunan Adam yang berjalan… Menuju neraka dalam keadaan terbelenggu rantai pada lehernya dan bermuka biru."
وقد أنشدوا في أهل القبور قف بالقبور وقل على ساحاتها … من منكم المغمور في ظلماتها ومن المكرم منكم في قعرها … قد ذاق برد الأمن من روعاتها
Dan telah disenandungkan bait-bait syair mengenai penghuni kubur: "Berhentilah di kuburan dan katakanlah di pelatarannya… 'Siapakah di antara kalian yang diliputi kegelapan-kegelapannya?' 'Dan siapakah di antara kalian yang dimuliakan di dasarnya… Yang telah mengecap kesejukan ketenteraman dari kepanikan-kepanikannya?'"
أما السكون لذي العيون فواحد … لا يستبين الفضل في درجاتها
"Adapun ketenangan bagi kasatmata tampak sama… Tidak terlihat keutamaan dalam tingkatan-tingkatannya."
لو جاوبوك لأخبروك بألسن … تصف الحقائق بعد من حالاتها
"Sekiranya mereka menjawabmu, niscaya mereka akan memberitahumu dengan lisan… Yang menggambarkan hakikat-hakikat setelah perihal keadaannya yang telah berlalu."
أما المطيع فنازل في روضة … يفضي إلى ما شاء من دوحاتها
"Adapun orang yang taat, ia tinggal di dalam taman surga… Berpindah ke pohon-pohon rindang yang ia kehendaki."
والمجرم الطاغي بها متقلب … في حفرة يأوى إلى حياتها وعقارب تسعى إليه فروحه … في شدة التعذيب من لدغاتها
"Sedangkan pelaku maksiat yang melampaui batas berbolak-balik di dalamnya… Di dalam lubang yang menjadi sarang ular-ularnya, Dan kalajengking-kalajengking merayap kepadanya, maka rohnya… Berada dalam siksaan yang amat pedih akibat patukan-patukannya."
ومر داود الطائي على امرأة تبكي على قبر وهي تقول
Daud al-Tha'i pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kubur seraya berkata:
عدمت الحياة ولا نلتها … إذا كنت في القبر قد ألحدوكا
"Semoga aku binasa dan tidak menikmati kehidupan… Jika engkau telah dibaringkan di dalam liang kubur."
فكيف وأين أذوق لطعم الكرى … وأنت بيمناك قد وسدوكا
"Bagaimana dan di mana aku dapat merasakan nikmatnya tidur… Sedangkan engkau telah berbantalkan tangan kananmu."
ثم قالت يا ابناه بأي خديك بدأ الدود فصعق داود مكانه وخر مغشيا عليه
Kemudian wanita itu berkata, "Wahai anakku, pipimu yang manakah yang mulai dimakan ulat?" Mendengar itu, Daud terkejut di tempatnya dan jatuh pingsan tak sadarkan diri.
وقال مالك بن دينار مررت بالمقبرة فأنشأت أقول
Malik bin Dinar berkata, "Aku pernah melewati pemakaman, lalu aku pun membacakan syair:
أتيت القبور فناديتها … فأين المعظم والمحتقر
"Aku mendatangi kuburan lalu memanggilnya… 'Manakah orang yang disanjung dan manakah orang yang dihinakan?'"
وأين المدل بسلطانه … وأين المزكى إذا ما أفتخر
Dan di manakah orang yang bangga dengan kekuasaannya… dan di manakah orang yang disanjung ketika ia berbangga diri?
قال فنوديت من بينها أسمع صوتا ولا أرى شخصا وهو يقول
Dia berkata: Lalu aku dipanggil dari tengah-tengah kubur itu, aku mendengar suara namun tidak melihat wujudnya, seraya ia berkata:
تفانوا جميعا فما مخبر … وماتوا جميعا ومات الخبر
Masing-masing mereka telah binasa, tiada lagi yang memberi kabar… mereka semua telah mati, dan musnah pulalah segala berita.
تروح وتغدو بنات الثرى … فتمحو محاسن تلك الصور
Ulat-ulat tanah bolak-balik menyantapnya… lalu menghapuskan keindahan rupa-rupa tersebut.
فيا سائلي عن أناس مضوا … أما لك فيما ترى معتبر
Wahai yang bertanya kepadaku tentang orang-orang yang telah berlalu… tidakkah ada bagimu pelajaran dari apa yang engkau lihat?
قال فرجعت وأنا باك أبيات وجدت مكتوبة على القبور
Dia berkata: Maka aku pun kembali dalam keadaan menangis. Bait-bait syair yang ditemukan tertulis di atas kuburan:
وجد مكتوبا على قبر
Ditemukan tertulis di atas sebuah kubur:
تناجيك أجداث وهن صموت … وسكانها تحت التراب خفوت
Kubur-kubur berbisik kepadamu padahal mereka membisu… dan para penghuninya di bawah tanah telah senyap terdiam.
أيا جامع الدنيا لغير بلاغة … لمن تجمع الدنيا وأنت تموت ووجد على قبر آخر مكتوبا
Wahai pengumpul dunia tanpa membawa bekal yang cukup… untuk siapa engkau mengumpulkan dunia padahal engkau akan mati? Dan ditemukan tertulis pada kubur yang lain:
أيا غانم أما ذراك فواسع … وقبرك معمور الجوانب محكم
Wahai orang yang beruntung, pelataranmu sungguh luas… dan kuburmu dibangun kokoh di sekelilingnya.
وما ينفع المقبور عمران قبره … إذا كان فيه جسمه يتهدم
Namun tidaklah berguna bagi penghuni kubur indahnya bangunan kuburnya… jika di dalamnya jasadnya hancur membusuk.
وقال ابن السماك مررت على المقابر فإذا على قبر مكتوب
Ibnu as-Sammak berkata: Aku pernah melewati pekuburan, lalu di atas sebuah kubur tertulis:
يمر أقاربي جنبات قبرى … كأن أقاربي لم يعرفوني
Kerabat-kerabatku berjalan di sisi kuburku… seolah-olah mereka tidak pernah mengenalku.
ذوو الميراث يقتسمون مالي … وما يألون أن جححدوا ديوني
Para ahli waris membagi-bagikan hartaku… dan mereka tidak segan-segan mengingkari utang-utangku.
وقد أخذوا سهامهم وعاشوا … فيالله أسرع ما نسوني
Mereka telah mengambil bagian warisannya dan hidup bersenang-senang… demi Allah, betapa cepatnya mereka melupakanku.
ووجد على قبر مكتوبا
Dan ditemukan tertulis pada suatu kubur:
إن الحبيب من الأحباب مختلس … لا يمنع الموت بواب ولا حرس
Sungguh, kekasih akan direnggut dari para kekasihnya… kematian tidak dapat dihalangi oleh penjaga pintu maupun pengawal.
فكيف تفرح بالدنيا ولذتها … يا من يعد عليه اللفظ والنفس
Maka bagaimana engkau dapat bergembira dengan dunia dan kelezatannya… wahai orang yang setiap ucapan dan helaan napasnya dihitung?
أصبحت يا غافلا في النقص منغمسا … وأنت دهرك في اللذات منغمس لا يرحم الموت ذا جهل لغرته … ولا الذي كان منه العلم يقتبس
Engkau berada di pagi hari, wahai orang yang lalai, tenggelam dalam kerugian… padahal sepanjang usiamu engkau tenggelam dalam kelezatan. Kematian tidak mengasihi orang bodoh karena kelalaiannya… tidak pula orang yang darinya ilmu ditimba.
كم أخرس الموت في قبر وقفت به … عن الجواب لسنا ما به خرس قد كان قصرك معمورا له شرف … فقبرك اليوم في الأجداث مندرس
Betapa banyak lidah yang tidak bisu dibuat kelu oleh kematian untuk menjawab… di dalam kubur yang engkau berdiri di sampingnya. Dahulu istanamu megah dan tinggi menjulang… namun kuburmu hari ini di antara pekuburan telah rata dan aus.
ووجد على قبر آخر مكتوبا
Dan ditemukan tulisan pada kubur yang lain:
وقفت على الأحبة حين صفت … قبورهم كأفراس الرهان
Aku berdiri di hadapan para kekasih saat kubur mereka berjejer … bagaikan kuda-kuda dalam perlombaan.
فلما أن بكيت وفاض دمعي … رأت عيناي بينهم مكاني
Maka ketika aku menangis dan air mataku mengalir deras … kedua mataku melihat tempatku di antara mereka.
ووجد على قبر طبيب مكتوبا
Dan ditemukan tulisan pada kubur seorang tabib (dokter):
قد قلت لما قال لي قائل … صار لقمان إلى رمسه
Sungguh aku berkata ketika ada yang berbisik padaku … "Luqman telah berpulang ke dalam pusaranya."
فأين ما يوصف من طبه … وحذقه في الماء مع جسه
Maka di manakah kehebatan pengobatan yang disematkan padanya … serta keahliannya meracik cairan dan meneliti urat nadinya?
هيهات لا يدفع عن غيره … من كان لا يدفع عن نفسه
Mustahil! Siapa yang tidak mampu menolak (kematian) dari dirinya sendiri … sungguh ia tidak akan mampu menolaknya dari orang lain.
ووجد على قبر آخر مكتوبا
Dan ditemukan tulisan pada kubur yang lain:
يا أيها الناس كان لي أمل … قصر بي عن بلوغه الأجل
Wahai manusia, dahulu aku memiliki cita-cita … namun ajal memutusku dari mencapainya.
فليتق الله ربه رجل … أمكنه في حياته العمل
Maka hendaklah bertakwa kepada Allah Tuhannya, seorang hamba … yang masih diberi kesempatan untuk beramal semasa hidupnya.
ما أنا وحدي نقلت حيث ترى … كل إلى مثقله سينتقل
Bukanlah aku seorang yang berpindah ke tempat yang engkau lihat ini … setiap orang pasti akan berpindah menuju tempat perhitungannya.
فهذه أبيات كتبت على قبور لتقصير سكانها عن الأعتبار قبل الموت
Inilah bait-bait syair yang tertulis di atas kubur-kubur karena kelalaian penghuninya dalam mengambil iktibar (pelajaran) sebelum kematian menjemput.
والبصير هو الذي ينظر إلى غيره فيرى مكانه بين أظهرهم فيستعد للحوق بهم ويعلم أنهم لا يبرحون من مكانهم ما لم يلحق بهم وليتحقق أنه لو عرض عليهم يوم من أيام عمره الذي هو مضيع له لكان ذلك أحب إليهم من الدنيا بحذافيرها لأنهم عرفوا قدر الأعمار وانكشفت لهم حقائق الأمور فإنما حسرتهم على يوم من العمر ليتدارك المقصر به تقصيره فيتخلص من العقاب وليستزيد الموفق به رتبته فيتضاعف له الثواب فإنهم إنما عرفوا قدر العمر بعد انقطاعه فحسرتهم على ساعة من الحياة وأنت
Orang yang memiliki mata hati (al-bashir) adalah orang yang memandang orang lain lalu melihat kedudukannya kelak di antara mereka, sehingga ia bersiap-siap untuk menyusul mereka. Ia menyadari bahwa mereka tidak akan berpindah dari tempatnya sebelum ia menyusul mereka. Hendaklah ia meyakini bahwa sekiranya ditawarkan kepada mereka satu hari saja dari umur manusia yang disia-siakannya, niscaya hari itu lebih mereka cintai daripada dunia beserta seluruh isinya. Hal itu karena mereka telah menyadari betapa berharganya umur dan telah tersingkap bagi mereka hakikat segala perkara. Penyesalan mereka hanyalah atas satu hari dari umur, agar orang yang lalai dapat memperbaiki kelalaiannya sehingga terbebas dari siksa, dan agar orang yang mendapat taufik dapat menambah derajatnya sehingga pahalanya berlipat ganda. Sesungguhnya mereka baru menyadari nilai umur setelah ia terputus, maka penyesalan mereka adalah atas satu saat dari kehidupan. Sedangkan engkau,
قادر على تلك الساعة ولعلك تقدر على أمثالها ثم أنت مضيع لها فوطن نفسك على التحسر على تضييعهما عند خروج الأمر من الاختيار إذا لم تأخذ نصيبك من ساعتك على سبيل الإبتدار فقد قال بعض الصالحين رأيت أخا لي في الله فيما يرى النائم فقلت يا فلان عشت الحمد لله رب العالمين قال لأن أقدر على أن أقولها يعني الحمد لله رب العالمين أحب إلى من الدنيا وما فيها ثم قال ألم تر حيث كانوا يدفنونني فإن فلانا قد قام فصلى ركعتين لأن أكون أقدر على أن أصليهما أحب إلي من الدنيا وما فيها
sanggup memanfaatkan saat itu dan mungkin masih sanggup memanfaatkan saat-saat seumpamanya, namun engkau menyia-nyiakannya. Maka siapkanlah dirimu untuk meratapi penyesalan atas tewasnya waktu tatkala perkara itu sudah berada di luar ikhtiar, jika engkau tidak mengambil bagianmu dari waktumu dengan bersegera. Sebagian orang saleh berkata: Aku bermimpi melihat seorang saudaraku fi lillah, lalu aku bertanya, "Wahai Fulan, engkau telah hidup, alhamdulillah rabbil 'alamin." Ia menjawab, "Sungguh sekiranya aku mampu mengucapkan—yakni alhamdulillah rabbil 'alamin—niscaya itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya." Kemudian ia berkata, "Tidakkah engkau melihat tatkala mereka menguburkanku, si Fulan berdiri lalu melaksanakan shalat dua rakaat? Sungguh sekiranya aku mampu melaksanakan dua rakaat itu, niscaya hal itu lebih aku cintai daripada dunia beserta isinya."
بيان أقاويلهم عِنْدَ مَوْتِ الْوَلَدِ
Penjelasan Ucapan-Ucapan Mereka ketika Meninggalnya Anak
حَقٌّ عَلَى مَنْ مَاتَ وَلَدُهُ أَوْ قَرِيبٌ مِنْ أَقَارِبِهِ أَنْ يُنْزِلَهُ فِي تَقَدُّمِهِ عَلَيْهِ فِي الْمَوْتِ مَنْزِلَةَ مَا لو كانا فِي سَفَرٍ فَسَبَقَهُ الْوَلَدُ إِلَى الْبَلَدِ الَّذِي هُوَ مُسْتَقَرُّهُ وَوَطَنُهُ فَإِنَّهُ لَا يَعْظُمُ عَلَيْهِ تَأَسُّفُهُ لِعِلْمِهِ أَنَّهُ لَاحِقٌ بِهِ عَلَى الْقُرْبِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا إِلَّا تَقَدُّمٌ وَتَأَخُّرٌ
Merupakan kewajiban (sikap yang sepatutnya) bagi orang yang anak atau kerabatnya meninggal dunia untuk memandang kepergian mereka yang mendahuluinya dalam kematian seperti keadaan dua orang yang sedang berada dalam perjalanan, lalu sang anak mendahuluinya sampai di negeri yang menjadi tempat tinggal dan tanah airnya. Maka kesedihannya tidak akan menjadi besar karena ia tahu bahwa ia akan segera menyusulnya, dan tidak ada di antara mereka berdua kecuali sekadar siapa yang mendahului dan siapa yang menyusul.
وَهَكَذَا الْمَوْتُ فَإِنَّ مَعْنَاهُ السَّبْقُ إِلَى الْوَطَنِ إِلَى أَنْ يَلْحَقَ الْمُتَأَخِّرُ وَإِذَا اعْتَقَدَ هَذَا قَلَّ جَزَعُهُ وَحُزْنُهُ لَا سِيَّمَا وَقَدْ وَرَدَ فِي مَوْتِ الْوَلَدِ مِنَ الثَّوَابِ مَا يُعَزَّى بِهِ كُلُّ مصاب قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لأن أقدم سقطا أحب إلي من أن أخلف مائة فارس كلهم يقاتل في سبيل الله وَإِنَّمَا ذَكَرَ السِّقْطَ تَنْبِيهًا بِالْأَدْنَى عَلَى الْأَعْلَى وَإِلَّا فَالثَّوَابُ عَلَى قَدْرِ مَحَلِّ الْوَلَدِ مِنَ القلب
Begitu pula kematian, maknanya adalah mendahului menuju tanah air abadi hingga orang yang menyusul belakangan tiba. Apabila seseorang meyakini hal ini, niscaya berkuranglah keluh kesah dan kesedihannya, terlebih lagi telah ada riwayat tentang pahala kematian anak yang dapat menghibur setiap orang yang tertimpa musibah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh, mendahulukan seorang bayi yang gugur (dalam kandungan) lebih aku sukai daripada meninggalkan seratus pasukan berkuda yang semuanya berperang di jalan Allah." Beliau menyebutkan anak gugur (siqt) sebagai peringatan dari yang paling kecil menuju yang lebih besar, sebab jika tidak demikian, tentu pahala itu sesuai dengan besarnya tempat anak tersebut di dalam hati.
وقال زيد بن أسلم توفي ابن لداود عليك السلام فحزن عليه حزنا شديدا فقيل له ما كان عدله عندك قال ملء الأرض ذهبا قيل له فإن لك من الأجر في الآخرة مثل ذلك وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَمُوتُ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَيَحْتَسِبُهُمْ إِلَّا كَانُوا لَهُ جُنَّةً مِنَ النار فقالت امرأة عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أو اثنان قَالَ أَوِ اثْنَانِ وَلِيُخْلِصِ الْوَالِدُ الدُّعَاءَ لِوَلَدِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ فَإِنَّهُ أَرْجَى دُعَاءٍ وَأَقْرَبُهُ إِلَى الإجابة
Zaid bin Aslam berkata: Putra Nabi Daud 'alaihissalam meninggal dunia, lalu beliau sangat berduka atasnya. Ditanyakan kepadanya, "Berapakah nilainya di sisimu?" Beliau menjawab, "Sepenuh bumi emas." Ditanyakan lagi kepadanya, "Maka sesungguhnya bagimu pahala di akhirat sebanyak itu pula." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga orang anaknya lalu ia mengikhlaskannya (mengharapkan pahala Allah), melainkan anak-anak itu akan menjadi benteng baginya dari api neraka." Seorang wanita di sisi Rasulullah ﷺ bertanya, "Atau dua orang anak?" Beliau menjawab, "Atau dua orang anak." Dan hendaklah orang tua memurnikan doa untuk anaknya saat kematian menyapa, karena doa tersebut adalah doa yang paling diharapkan dan paling dekat untuk dikabulkan.
وقف محمد بن سليمان على قبر ولده فقال اللهم إني أصبحت أرجوك له وأخافك عليه فحقق رجائي وآمن خوفي
Muhammad bin Sulaiman berdiri di atas kubur anaknya lalu berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku menyongsong pagi ini dengan berharap kepada-Mu baginya dan takut kepada-Mu atas dirinya, maka wujudkanlah harapanku dan amankanlah rasa takutku."
ووقف أبو سنان على قبر ولده فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ مَا وَجَبَ لِي عَلَيْهِ فَاغْفِرْ لَهُ مَا وَجَبَ لَكَ عَلَيْهِ فَإِنَّكَ أَجْوَدُ وَأَكْرَمُ
Abu Sinan berdiri di atas kubur anaknya lalu berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku telah memaafkan baginya apa yang menjadi hak kewajibanku atasnya, maka ampunilah ia atas apa yang menjadi hak kewajiban-Mu atasnya, karena sesungguhnya Engkau Mahapemurah lagi Mahamulia."
وَوَقَفَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَبْرِ ابْنِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ وَهَبْتُ لَهُ مَا قَصَّرَ فِيهِ مِنْ بِرِّي فَهَبْ لَهُ مَا قَصَّرَ فِيهِ مِنْ طَاعَتِكَ
Seorang Arab Badui pernah berdiri di atas kubur putranya seraya berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku telah memaafkan apa yang menjadi kelalaiannya dalam berbakti kepadaku, maka karuniakanlah ampunan baginya atas apa yang menjadi kelalaiannya dalam mentaati-Mu."
ولما مات ذر بن عمر بن ذر قام أبوه عمر بن ذر بعد وضعه في لحده فقال يا ذر لقد شغلنا الحزن لك عن الحزن عليك فليت شعري ماذا قلت وماذا قيل لك ثم قال اللهم إن هذا ذر متعتني به ما متعتني ووفيته أجله ورزقه ولم تظلمه اللهم وقد كنت ألزمته طاعتك وطاعتي اللهم ما وعدتني عليه من الأجر في مصيبتي فقد وهبت له ذلك فهب لي عذابه ولا تعذبه
Ketika Dzarr bin 'Umar bin Dzarr meninggal dunia, ayahnya, 'Umar bin Dzarr, berdiri setelah putranya diletakkan di liang lahatnya seraya berkata, "Wahai Dzarr, rasa duka kami memikirkan keadaanmu telah mengalihkan kami dari duka atas kehilanganmu. Duhai sekiranya aku tahu apa yang engkau katakan dan apa yang dikatakan kepadamu!" Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya ini adalah Dzarr; Engkau telah memberiku kesenangan bersamanya selama Engkau mengaruniakannya padaku, lalu Engkau penuhi ajal dan rezekinya tanpa sedikit pun menzaliminya. Ya Allah, Engkau telah mewajibkan kepadanya ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepadaku. Ya Allah, pahala yang telah Engkau janjikan kepadaku atas musibahku ini, sungguh telah kuhadiahkan kepadanya. Maka hadiahkanlah kepadaku pembebasan dari siksa-Mu baginya dan janganlah Engkau menyiksanya."
فأبكى الناس ثم قال عند انصرافه ما علينا بعدك من خصاصة يا ذر وما بنا إلى إنسان مع الله حاجة فلقد مضينا وتركناك ولو أقمنا ما نفعناك ونظر رجل إلى امرأة في البصرة فقال ما رأيت مثل هذه النضارة وما ذاك إلا من قلة الحزن فقالت يا عبد الله أني لفي حزن ما يشركني فيه أحد قال فكيف قالت أن زوجي ذبح شاة في يوم عيد الأضحى وكان لي صبيان مليحان يلعبان فقال أكبرهما للآخر أتريد أن أريك كيف ذبح أبي الشاة قال نعم فأخذه وذبحه وما شعرنا به إلا متشطحا في دمه فلما ارتفع الصراخ هرب الغلام فلجأ إلى جبل فرهقه ذئب فأكله فخرج أبوه يطلبه فمات عطشا من شدة الحر قالت فأرداني الدهر كما ترى
Perkataan itu membuat orang-orang menangis. Kemudian saat beranjak pergi, beliau berkata, "Tidak ada kekurangan bagi kami sepeninggalmu wahai Dzarr, dan tidak ada hajat kami kepada seorang manusia pun di samping Allah. Kami akan pergi dan meninggalkanamu, dan seandainya kami menetap pun kami tidak dapat memberimu manfaat." Seseorang pernah melihat seorang wanita di Bashrah lalu berkata, "Aku belum pernah melihat wajah secerah ini, hal itu tidak lain kecuali karena sedikitnya rasa sedih." Wanita itu menjawab, "Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku berada dalam kesedihan yang tidak ada seorang pun bersekutu denganku di dalamnya." Laki-laki itu bertanya, "Bagaimana bisa?" Wanita itu menceritakan, "Suamiku menyembelih seekor domba pada hari Iduladha, dan aku memiliki dua anak laki-laki yang lucu sedang bermain. Anak yang lebih besar berkata kepada yang lebih kecil, 'Maukah kutunjukkan bagaimana ayah menyembelih domba?' Ia menjawab, 'Ya.' Maka ia memegangnya lalu menyembelihnya. Kami tidak menyadarinya hingga anak itu telah berlumuran darahnya. Ketika jeritan terdengar, anak yang besar lari ketakutan menuju gunung, lalu diterkam dan dimakan serigala. Ayahnya keluar mencarinya, lalu mati kehausan karena sengatan panas yang terik." Wanita itu berkata, "Maka takdir telah menimpaku sebagaimana yang engkau lihat."
فأمثال هذه المصائب ينبغي أن تتذكر عند موت الأولاد لِيَتَسَلَّى بِهَا عَنْ شِدَّةِ الْجَزَعِ فَمَا مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا وَيَتَصَوَّرُ مَا هُوَ أَعْظَمُ مِنْهَا وَمَا يَدْفَعُهُ اللَّهُ فِي كُلِّ حَالٍ فَهُوَ الأكثر
Musibah-musibah seumpama inilah yang sepatutnya diingat ketika mengalami kematian anak-anak, agar jiwa terhibur dari hebatnya rasa keluh kesah. Sebab tidak ada suatu musibah melainkan dapat dibayangkan adanya musibah yang lebih besar daripadanya, dan apa yang dihindarkan Allah dalam setiap keadaan justru jauh lebih banyak.
بيان زيارة القبور والدعاء للميت وما يتعلق به
Penjelasan tentang Ziarah Kubur, Mendoakan Mayit, dan Hal-Hal yang Berkaitan Dengannya
زيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين لأجل التبرك مع الاعتبار وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ثُمَّ أَذِنَ في ذلك بعد روي عن علي ﵁ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال كنت نهيتكم عم زيارة القبور فزوروها فإنها تذكركم الآخرة غير أن لا تقولوا هجرا
Ziarah kubur disunnahkan secara umum untuk pengingat diri dan mengambil iktibar (pelajaran spiritual), serta ziarah ke kubur orang-orang saleh bertujuan untuk tabarruk (mengambil keberkahan) disertai iktibar. Rasulullah ﷺ dahulu pernah melarang ziarah kubur, kemudian memberi izin setelahnya. Diriwayatkan dari Ali ﵁ dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: "Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka berziarahlah sekarang, karena sesungguhnya ziarah kubur mengingatkan kalian akan akhirat; hanya saja janganlah kalian mengucapkan perkataan yang keji (hujr)."
وزار رسول الله ﷺ قبر أمه في ألف مقنع فلم ير باكيا أكثر من يومئذ وفي هذا اليوم قال أذن لي في الزيارة دون الاستغفار كما أوردنا من قبل
Rasulullah ﷺ pernah menziarahi kubur ibundanya di tengah seribu rombongan berkudung, dan tidak pernah terlihat orang yang paling banyak menangis daripada hari itu. Pada hari tersebut beliau bersabda: "Aku diizinkan untuk berziarah, namun tidak (diizinkan) untuk memohonkan ampunan," sebagaimana telah kami paparkan sebelumnya.
وقال ابن أبي مليكة أقبلت عائشة ﵂ يوما من المقابر فقلت يا أم المؤمنين من أين أقبلت قالت من قبر أخي عبد الرحمن فقلت أليس كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نهى عنها قالت نعم ثم أمر بها ولا ينبغي أن يتمسك بهذا فيؤذن للنساء في الخروج إلى المقابر فإنهن يكثرن الهجر على رءوس المقابر فلا يفي خير زيارتهن بشرها وَلَا يَخْلُونَ فِي الطَّرِيقِ عَنْ تَكَشُّفٍ وَتَبَرُّجٍ وَهَذِهِ عَظَائِمُ وَالزِّيَارَةُ سُنَّةٌ فَكَيْفَ يُحْتَمَلُ ذَلِكَ لِأَجْلِهَا
Ibnu Abi Mulaikah berkata: Pada suatu hari 'Aisyah ﵂ datang dari arah pemakaman, maka aku bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, dari manakah engkau datang?" Beliau menjawab, "Dari kubur saudaraku, Abdurrahman." Aku berkata, "Bukankah Rasulullah ﷺ telah melarangnya?" Beliau menjawab, "Benar, kemudian beliau memerintahkannya." Namun tidak sepatutnya riwayat ini dijadikan pegangan untuk mengizinkan para wanita keluar menuju pemakaman secara mutlak; sebab mereka kerap kali memperbanyak ratapan dan perkataan buruk di atas kuburan, sehingga kebaikan ziarah mereka tidak sebanding dengan keburukannya. Selain itu, perjalanan mereka di jalanan tidak luput dari membukanya aurat dan tabarruj (berhias mencolok), padahal ini semua merupakan dosa-dosa besar, sedangkan ziarah hukumnya sunnah; maka bagaimana mungkin kemaksiatan besar dibiarkan demi menjalankan suatu kesunnahan?
نَعَمْ لَا بَأْسَ بِخُرُوجِ الْمَرْأَةِ فِي ثِيَابٍ بِذْلَةٍ تَرُدُّ أَعْيُنَ الرِّجَالِ عَنْهَا وَذَلِكَ بِشَرْطِ الِاقْتِصَارِ عَلَى الدُّعَاءِ وَتَرْكِ الْحَدِيثِ عَلَى رأس القبر
Benar, tidak mengapa wanita keluar dengan mengenakan pakaian sederhana yang dapat memalingkan pandangan laki-laki darinya, dengan syarat hanya membatasi pada berdoa dan meninggalkan pembicaraan (omongan sia-sia atau meratap) di atas kubur.
وقال أبو ذر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زر القبور تذكر بها الآخرة واغسل الموتى فإن معالجة جسد خاو موعظة بليغة وصل على الجنائز لعل ذلك أن يحزنك فإن الحزين في ظل الله وقال ابن أبي مليكة قال رسول الله زروا موتاكم وسلموا عليهم فإن لكم فيهم عبرة وعن نافع أن ابن عمر كان لا يمر بقبر أحد إلا وقف عليه وسلم عليه وعن جعفر بن محمد عن أبيه أن فاطمة بنت النبي ﷺ كانت تزور قبر عمها حمزة في الأيام فتصلي وتبكي عنده وقال النبي ﷺ من زار قبر والديه أو أحدهما في كل جمعة غفر له وكتب برا وعن ابن سيرين قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الرجل ليموت والداه وهو عاق لهما فيدعو الله لهما من بعدهما فيكتبه الله من البارين وقال النبي ﷺ من زار قبري فقد
Abu Dharr berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ziarahilah kubur, niscaya dengannya engkau mengingati akhirat. Memandikanlah jenazah, karena sesungguhnya mengurusi jasad yang hampa adalah nasihat yang sangat mendalam. Dan shalatkanlah jenazah, mudah-mudahan hal itu membuatmu bersedih, karena sesungguhnya orang yang bersedih berada di bawah naungan Allah." Ibnu Abi Mulaikah menceritakan dari Rasulullah: "Ziarahilah orang-orang yang mati di antara kalian dan ucapkanlah salam kepada mereka, karena sesungguhnya pada diri mereka terdapat pelajaran bagi kalian." Dari Nafi', bahwasanya Ibnu Umar tidak pernah melewati kuburan seseorang melainkan beliau berhenti di sisinya dan mengucapkan salam kepadanya. Dari Ja'far bin Muhammad dari ayahnya, bahwasanya Fatimah putri Nabi ﷺ biasa menziarahi kubur pamannya, Hamzah, pada hari-hari tertentu, lalu beliau shalat dan menangis di sisinya. Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap hari Jumat, niscaya diampuni baginya dan dicatat sebagai anak yang berbakti." Dari Ibnu Sirin, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang kedua orang tuanya meninggal dunia dalam keadaan ia durhaka kepada keduanya, lalu ia berdoa kepada Allah bagi keduanya sepeninggal mereka, maka Allah mencatatnya termasuk orang-orang yang berbakti." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa menziarahi kuburku, maka…
وجبت له شفاعتي وقال ﷺ من زارني بالمدينة محتسبا كنت له شفيعاً وشهيداً يوم القيامة وقال كعب الأحبار ما من فجر يطلع إلا نزل سبعون ألفا من الملائكة حتى يحفوا بالقبر يضربون بأجنحتهم ويصلون على النبي ﷺ حتى إذا أمسوا عرجوا وهبط مثلهم فصنعوا مثل ذلك حتى إذا انشقت الأرض خرج في سبعين ألفا من الملائكة يوقرونه
…wajib baginya syafaatku." Beliau ﷺ juga bersabda: "Barang siapa menziarahiku di Madinah dengan mengharapkan keridaan Allah, maka aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya pada hari Kiamat." Ka'ab al-Ahbar berkata, "Tidaklah terbit fajar melainkan turun tujuh puluh ribu malaikat hingga mengelilingi kubur (Nabi), mereka mengepakkan sayap-sayap mereka dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Hingga apabila petang tiba, mereka naik dan turunlah malaikat yang serupa jumlahnya, lalu melakukan hal yang sama. Sampai ketika bumi terbelah, beliau keluar bersama tujuh puluh ribu malaikat yang memuliakannya."
وَالْمُسْتَحَبُّ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَنْ يَقِفَ مُسْتَدْبِرَ القبلة مستقبلا بوجهه الْمَيِّتِ وَأَنْ يُسَلِّمَ وَلَا يَمْسَحَ الْقَبْرَ وَلَا يَمَسَّهُ وَلَا يُقَبِّلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَادَةِ النَّصَارَى قَالَ نافع كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَأَيْتُهُ مِائَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ يَجِيءُ إِلَى الْقَبْرِ فَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ السَّلَامُ عَلَى أبي بكر السلام على أبي وينصرف وعن أبي أمامة قال رأيت أنس بن مالك أتى قبر النبي ﷺ فوقف فرفع يديه حتى ظننت أنه افتتح الصلاة فسلم على النبي ﷺ ثم انصرف وقالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم وقال سليمان بن سحيم رأيت رسول الله ﷺ في النوم فقلت يا رسول الله هؤلاء الذين يأتونك ويسلمون عليك أتفقه سلامهم قال نعم وأرد عليهم وقال أبو هريرة إذا مر الرجل بقبر لرجل يعرفه فسلم عليه رد ﵇ وعرفه وإذا مر بقبر لا يعرفه وسلم عليه رد ﵇ وقال رجل من آل عاصم الجحدري رأيت عاصما في منامي بعد موته بسنتين فقلت أليس قد مت قال بلى فقلت أين أنت قال أنا والله فى روضة من رياض الجنة أنا ونفر من أصحابي نجتمع كل ليلة جمعة وصبيحتها إلى أبى بكر ابن عبد الله المزني فنتلاقى أخباركم قلت أجسامكم أم أرواحكم قال هيهات بليت الأجسام وإنما تتلاقى الأرواح قال قلت فهل تعلمون بزيارتنا إياكم قال نعم تعلم بها عشية الجمعة ويوم الجمعة كله ويوم السبت إلى طلوع الشمس قلت وكيف ذاك دون الأيام كلها قال لفضل يوم الجمعة وعظمه وكان محمد بن واسع يزور يوم الجمعه فقيل له لو أخرت إلى يوم الأثنين قال بلغنى أن الموتى يعلمون بزوارهم يوم الجمعة ويوما قبله ويوما بعده وقال الضحاك من زار قبرا قبل طلوع الشمس يوم السبت علم الميت بزيارته قيل وكيف ذاك قال لمكان يوم الجمعة وقال بشر ابن منصور لما كان زمن الطاعون كان رجل يختلف إلى الجبانة فيشهد الصلاة على الجنائز فإذا أمسى وقف على باب المقابر فقال آنَسَ اللَّهُ وَحْشَتَكُمْ وَرَحِمَ غُرْبَتَكُمْ وَتَجَاوَزَ عَنْ سيئاتكم وقبل الله حسناتكم لا يزيد على هذه الكلمات قال الرجل فأمسيت ذات ليلة فانصرفت إلى أهلى ولم آت إلى المقابر فأدعو كما كنت أدعو فبينما أنا نائم إذا بخلق كثير قد جاءونى فقلت ما أنتم وما حاجتكم قالوا نحن أهل المقابر قلت ما جاء بكم قالوا إنك قد عودتنا منك هدية عند انصرافك إلى أهلك قلت وما هي قالوا الدعوات التي كنت تدعو لنا بها قلت فإني أعود لذلك فما تركتها بعد ذلك وقال بشار بن غالب النجراني رأيت رابعة العدوية العابدة فى منامي وكنت كثير الدعاء لها فقالت لي يا بشار بن غالب هداياك تأتينا على طبق من نور مخمرة بمناديل الحرير قلت وكيف ذاك قالت وهكذا دعاء المؤمنين الأحياء إذا دعوا للموتى فاستجيب لهم جعل ذلك الدعاء على أطباق من نور وخمر مناديل الحرير ثم أتى به الميت فقيل له هذه هدية فلان إليك قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما الميت فى قبره إلا كالغريق المتغوث ينتظر دعوة تلحقه
Disunnahkan dalam berziarah kubur untuk berdiri membelakangi kiblat dan menghadapkan wajah ke arah mayit, mengucapkan salam, serta tidak mengusap kubur, tidak menyentuhnya, dan tidak menciumnya; sebab hal tersebut termasuk tradisi kaum Nasrani. Nafi' berkata, "Aku melihat Ibnu Umar lebih dari seratus kali mendatangi kubur (Nabi) seraya mengucapkan: 'Assalāmu 'alan-Nabiy, assalāmu 'alā Abī Bakr, assalāmu 'alā Abī' (Salam atas Nabi, salam atas Abu Bakar, salam atas ayahku), lalu beliau berpaling." Dari Abu Umamah, ia berkata: Aku melihat Anas bin Malik mendatangi kubur Nabi ﷺ, ia berdiri dan mengangkat kedua tangannya hingga aku mengira ia membuka shalat, lalu ia mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ kemudian berpaling. 'Aisyah ﵂ berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya melainkan mayit itu merasa terhibur dengannya dan membalas salamnya hingga ia berdiri." Sulaiman bin Suhaim berkata: Aku bermimpi melihat Rasulullah ﷺ lalu aku bertanya, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang mendatangi engkau dan mengucapkan salam kepadamu, apakah engkau memahami salam mereka?" Beliau menjawab: "Ya, dan aku membalas salam mereka." Abu Hurairah berkata: Apabila seseorang melewati kubur orang yang dikenalnya lalu mengucapkan salam kepadanya, mayit itu membalas salamnya dan mengenalnya. Dan apabila ia melewati kubur yang tidak dikenalnya lalu mengucapkan salam, mayit itu pun membalas salamnya. Seorang laki-laki dari keluarga 'Ashim al-Jahdari berkata: Aku melihat 'Ashim dalam mimpiku dua tahun setelah kematiannya, lalu aku bertanya, "Bukankah engkau telah wafat?" Ia menjawab, "Benar." Aku bertanya, "Di manakah engkau berada?" Ia menjawab, "Demi Allah, aku berada di salah satu taman surga. Aku dan sekelompok sahabatku berkumpul pada setiap malam Jumat dan paginya mendatangi Abu Bakar bin Abdillah al-Muzani, lalu kami saling bertukar berita tentang kalian." Aku bertanya, "Apakah jasad kalian atau ruh-ruh kalian?" Ia menjawab, "Sungguh jauh! Jasad telah hancur binasa, hanyasanya ruh-ruh yang saling bertemu." Aku bertanya, "Apakah kalian mengetahui ziarah kami kepada kalian?" Ia menjawab, "Ya, kami mengetahuinya pada sore hari Jumat, sepanjang hari Jumat, dan hari Sabtu hingga terbit matahari." Aku bertanya, "Mengapa demikian tidak pada hari-hari lainnya?" Ia menjawab, "Karena keutamaan dan keagungan hari Jumat." Muhammad bin Wasi' biasa berziarah pada hari Jumat, lalu dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak mengakhirkannya hingga hari Senin?" Ia menjawab, "Telah sampai kepadaku bahwa orang mati mengetahui para peziarah mereka pada hari Jumat, sehari sebelumnya, dan sehari sesudahnya." Adh-Dhahhak berkata, "Barang siapa menziarahi kubur sebelum terbit matahari pada hari Sabtu, niscaya mayit mengetahui ziarahnya." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa demikian?" Ia menjawab, "Karena kedudukan hari Jumat." Bisyir bin al-Manshur menceritakan: Pada masa wabah pes, ada seorang laki-laki yang sering bolak-balik ke pemakaman untuk menghadiri shalat jenazah. Apabila petang tiba, ia berdiri di pintu pemakaman lalu berdoa: "Semoga Allah menghibur kesendirian kalian, menyayangi keasingan kalian, mengampuni keburukan-keburukan kalian, dan menerima kebaikan-kebaikan kalian." Ia tidak menambah lebih dari kalimat-kalimat ini. Laki-laki itu bercerita: Pada suatu malam aku kemalaman dan langsung pulang ke keluargaku tanpa mendatangi pemakaman untuk berdoa sebagaimana biasanya. Ketika aku tidur, tiba-tiba rombongan makhluk yang sangat banyak mendatangi mimpiku. Aku bertanya, "Siapakah kalian dan apa hajat kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah penghuni pemakaman." Aku bertanya, "Apa yang membuat kalian datang?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya engkau telah membiasakan kami mendapat hadiah saat engkau hendak pulang ke keluargamu." Aku bertanya, "Apakah itu?" Mereka menjawab, "Doa-doa yang biasa engkau panjatkan untuk kami." Aku berkata, "Sesungguhnya aku akan kembali melakukannya." Maka setelah itu aku tidak pernah meninggalkannya. Bisyar bin Ghalib an-Najrani berkata: Aku melihat Rabiah al-Adawiyah sang hamba ahli ibadah dalam mimpiku, dan aku memang sering mendoakannya. Ia berkata kepadaku, "Wahai Bisyar bin Ghalib, hadiah-hadiahmu sampai kepada kami di atas nampan dari cahaya yang tertutup saputangan sutera." Aku bertanya, "Bagaimana hal itu terjadi?" Ia menjawab, "Demikianlah doa kaum mukminin yang masih hidup; apabila mereka mendoakan yang telah mati lalu dikabulkan, doa itu dijadikan di atas nampan cahaya dan ditutupi saputangan sutera, kemudian dibawakan kepada mayit seraya dikatakan kepadanya: 'Ini adalah hadiah Si Fulan kepadamu.'" Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah mayit di dalam kuburnya melainkan seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan, menunggu doa yang menyusulnya…
من أبيه أو أخيه أو صديق له فإذا لحقته كان أحب إليه من الدنيا وما فيها وإن هدايا الأحياء للأموات الدعاء والاستغفار حديث سعيد بن عبد الله الأزدي قال شهدت أبا أمامة الباهلي وهو في النزع فقال يا سعيد إذا مت فاصنعوا بي كما أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فقال إذا مات أحدكم فسويتم عليه التراب فليقم أحدكم على رأس قبره ثم يقول يا فلان ابن فلانة الحديث في تلقين الميت في قبره أخرجه الطبراني //
…dari ayahnya, saudaranya, atau temannya. Apabila doa itu sampai kepadanya, hal itu lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya. Dan sesungguhnya hadiah orang-orang hidup untuk orang-orang mati adalah doa dan permohonan ampunan (istighfar). Hadis Sa'id bin Abdillah al-Azdi, ia berkata: Aku menyaksikan Abu Umamah al-Bahili saat sakaratulmaut, lalu beliau berkata, "Wahai Sa'id, jika aku mati, perakukanlah diriku sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah ﷺ kepada kita, beliau bersabda: 'Apabila salah seorang dari kalian meninggal lalu kalian meratakan tanah di atasnya, hendaklah salah seorang berdiri di atas kepala kuburnya lalu mengucapkan: Wahai Fulan bin Fulanah…'". Hadis tentang talqin mayit di dalam kuburnya ini diriwayatkan oleh at-Thabrani.
ولا بأس بقراءة القرآن على القبور روي عن علي بن موسى الحداد قال كنت مع أحمد بن حنبل في جنازة ومحمد بن قدامة الجوهرى معنا فلما دفن الميت جاء رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر بن إسماعيل الحلبي قال ثقه قال هل كتبت عنه شيئا قال نعم قال أخبرني مبشر بن إسماعيل عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك فقال له أحمد فارجع إلى الرجل فقل له يقرأ وقال محمد بن أحمد المروزى سمعت أحمد بن حنبل يقول إذا دخلتم المقابر فاقرءوا بفاتحة الكتاب والمعوذتين وقل هو الله أحد واجعلوا ثواب ذلك لأهل المقابر فإنه يصل إليهم وقال أبو قلابة أقبلت من الشام إلى البصرة فنزلت الخندق فتطهرت وصليت ركعتين بليل ثم وضعت رأسي على قبر فنمت ثم تنبهت فإذا صاحب القبر يشتكيني يقول لقد آذيتني منذ الليلة ثم قال إنكم لا تعلمون ونحن نعلم ولا نقدر على العمل ثم قال للركعتان اللتان ركعتهما خير من الدنيا وما فيها ثم قال جزى الله عنا أهل الدنيا خيرا أقرئهم السلام فإنه قد يدخل علينا من دعائهم نورا مثل الجبال فَالْمَقْصُودُ مِنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ لِلزَّائِرِ الِاعْتِبَارُ بِهَا وَلِلْمَزُورِ الِانْتِفَاعُ بِدُعَائِهِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَغْفُلَ الزَّائِرُ عَنِ الدُّعَاءِ لِنَفْسِهِ وَلِلْمَيِّتِ وَلَا عَنِ الاعتبار به وإنما يحصل له الاعتبار بأن يصور في قلبه الميت كيف تفرقت أجزاءه وَكَيْفَ يُبْعَثُ مِنْ قَبْرِهِ وَأَنَّهُ عَلَى الْقُرْبِ سيلحق به كما روى عن مطرف بن أبي بكر الهذلي قال كانت عجوز في عبد القيس متعبدة فكان إذا جاء الليل تحزمت ثم قامت إلى المحراب وإذا جاء النهار خرجت إلى القبور فبلغني أنها عوتبت في كثرة إتيانها المقابر فقالت إن القلب القاسي إذا جفا لم يلينه إلا رسوم البلى وإني لآتي القبور فكأني
Tidak mengapa membaca Al-Qur'an di atas kubur. Diriwayatkan dari Ali bin Musa al-Haddad, ia berkata: Aku pernah bersama Ahmad bin Hanbal menghadiri jenazah, dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari bersama kami. Ketika mayit selesai dikuburkan, seorang laki-laki tunanetra datang lalu membaca Al-Qur'an di sisi kubur. Ahmad berkata kepadanya, "Wahai Fulan, sesungguhnya membaca Al-Qur'an di sisi kubur adalah bid'ah." Ketika kami keluar dari pemakaman, Muhammad bin Qudamah berkata kepada Ahmad, "Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir bin Ismail al-Halabi?" Ahmad menjawab, "Ia orang yang tsiqah (terpercaya)." Ia bertanya, "Apakah engkau menulis sesuatu darinya?" Ahmad menjawab, "Ya." Ia berkata, "Mubasysyir bin Ismail mengabarkan kepadaku dari Abdurrahman bin al-'Ala' bin al-Lajlaj dari ayahnya, bahwasanya ia berwasiat jika dikuburkan agar dibacakan di sisi kepalanya awal surat Al-Baqarah dan penutupnya; dan ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian." Maka Ahmad berkata kepadanya, "Kembalilah kepada laki-laki tadi dan katakan padanya agar ia membaca." Muhammad bin Ahmad al-Marwazi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata, "Apabila kalian memasuki pemakaman, bacalah Al-Fatihah, Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), serta Qul Huwallāhu Aḥad, dan jadikanlah pahalanya untuk penghuni pemakaman, karena sesungguhnya pahala itu akan sampai kepada mereka." Abu Qilabah bercerita: Aku datang dari Syam menuju Bashrah, lalu aku singgah di sebuah parit, bersuci, dan shalat dua rakaat pada malam hari. Kemudian aku meletakkan kepalaku di atas sebuah kubur lalu tertidur. Tiba-tiba aku terbangun dan pemilik kubur mengeluhkan diriku seraya berkata, "Engkau telah menyakitiku sejak tadi malam." Kemudian ia berkata, "Sesungguhnya kalian (orang hidup) tidak mengetahui sedangkan kami mengetahui, namun kami tidak lagi mampu beramal." Lalu ia melanjutkan, "Sungguh dua rakaat yang engkau kerjakan itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Semoga Allah membalas kaum dunia dengan kebaikan dari kami; sampaikan salam kepada mereka, sebab terkadang masuk kepada kami cahaya seperti gunung-gunung dari doa-doa mereka." Maka maksud utama dari ziarah kubur bagi peziarah adalah mengambil iktibar darinya, sedangkan bagi yang diziarahi adalah memetik manfaat dari doa peziarah. Oleh karena itu, tidak sepantasnya peziarah lalai dari mendoakan dirinya sendiri dan mendoakan sang mayit, serta tidak lalai dari mengambil pelajaran. Hanyasanya iktibar itu diperoleh dengan cara mengambarkan di dalam hatinya bagaimana anggota tubuh mayit telah terurai, bagaimana ia kelak dibangkitkan dari kuburnya, dan bahwa dalam waktu dekat ia pun akan menyusulnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Mutharrif bin Abi Bakr al-Hudzali, ia berkata: Ada seorang wanita tua di suku Abdul Qais yang ahli ibadah. Apabila malam tiba, ia mengencangkan kainnya lalu berdiri di mihrab; dan apabila siang tiba, ia keluar menuju pemakaman. Telah sampai kepadaku bahwa ia ditegur atas banyaknya mendatangi pemakaman, maka wanita itu berkata, "Sesungguhnya hati yang keras apabila telah membatu, tidak ada yang dapat melembutkannya selain tanda-tanda kebinasaan. Dan sungguh aku mendatangi pemakaman seolah-olah aku…
انظر وقد خرجوا من بين أطباقها وكأني انظر إلى تلك الوجوه المتعفرة وإلى تلك الأجسام المتغيرة وإلى تلك الأجفان الدسمة فيا لها من نظرة لو أشربها العباد قلوبهم ما أنكل مرارتها للأنفس وأشد تلفها للأبدان بل ينبغي أن يحضر من صورة الميت ما ذكره عمر بن عبد العزيز حيث دخل عليه فقيه فتعجب من تغير صورته لكثرة الجهاد والعبادة فقال له يا فلان لو رأيتني بعد ثلاث وقد أدخلت قبريى وقد خرجت الحدقتان فسالتا على الخدين وتقلصت الشفتان عن الأسنان وخرج الصديد من الفم وانفتح الفم ونتأ البطن فعلا الصدر وخرج الصلب من الدبر وخرج الدود والصديد من المناخر لرأيت أعجب مما تراه الآن
…melihat mereka telah keluar dari liang-liang kubur, dan seolah-olah aku memandang wajah-wajah yang berlumur tanah itu, jasad-jasad yang telah berubah, serta kelopak-kelopak mata yang membusuk. Betapa dahsyatnya pemandangan itu seandainya diserap oleh hati para hamba; betapa pahit penderitaannya bagi jiwa dan betapa hebat kerusakannya bagi raga!" Bahkan sepatutnya seseorang menghadirkan gambaran mayit sebagaimana yang disebutkan oleh Umar bin Abdul Aziz, ketika seorang ahli fiqih menemuinya lalu merasa takjub akan perubahan fisiknya akibat besarnya kesungguhan (mujahadah) dan ibadah. Umar berkata kepadanya, "Wahai Fulan, seandainya engkau melihatku setelah tiga hari aku dimasukkan ke dalam kuburku, ketika kedua bola mata telah keluar dan meleleh di atas kedua pipi, kedua bibir telah mengerut dari gigi-gigi, nanah telah keluar dari mulut, mulut terbuka lebar, perut membusung hingga menaikkan dada, dan tulang punggung keluar dari dubur, serta ulat dan nanah keluar dari lubang hidung; niscaya engkau akan melihat hal yang jauh lebih mengherankan daripada apa yang engkau lihat sekarang."
ويستحب الثناء على الميت وألا يذكر إلا بالجميل قالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا مات صاحبكم فدعوه ولا تقعوا فيه وقال ﷺ لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فإنهم قد أمضوا إلى ما قدموا وقال ﷺ لا تذكروا موتاكم إلا بخير فإنهم إن يكونوا من أهل الجنة تأثموا وإن يكونوا من أهل النار فحسبهم ما هم فيه وقال أنس بن مالك مرت جنازة عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فأثنوا عليها شرا فقال ﵇ وجبت ومروا بأخرى فأثنوا عليها خيراً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وجبت فسأله عمر عن ذلك فقال إن هذا أثنيتم عليه خيرا فوجبت له الجنة وهذا أثنيتم عليه شرا فوجبت له النار وأنتم شهداء الله في الأرض وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن العبد ليموت فيثني عليه القوم الثناء يعلم الله منه غيره ليقول الله تعالى لملائكته أشهدكم أني قد قبلت شهادة عبيدي على عبدي وتجاوزت عن علمي في عبدي
Disunnahkan memuji mayit dan tidak menyebutnya melainkan dengan kebaikan. 'Aisyah ﵂ berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila sahabat kalian meninggal dunia, maka biarkanlah dia (jangan diungkit keburukannya) dan janganlah kalian mencelanya." Beliau ﷺ juga bersabda: "Janganlah kalian mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena sesungguhnya mereka telah sampai pada apa yang telah mereka perbuat." Beliau ﷺ bersabda: "Janganlah kalian menyebut orang-orang mati di antara kalian kecuali dengan kebaikan; karena jika mereka termasuk penghuni surga maka kalian berdosa (mencelanya), dan jika mereka termasuk penghuni neraka maka cukuplah bagi mereka penderitaan yang sedang mereka alami." Anas bin Malik menceritakan: Sebuah jenazah pernah diusung melewati Rasulullah ﷺ, lalu orang-orang menyebutkan keburukannya. Maka beliau ﷺ bersabda: "Wajib (pasti)." Lalu jenazah lain lewat dan orang-orang memuji kebaikannya, maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Wajib (pasti)." Umar bertanya kepada beliau tentang hal itu, lalu beliau menjawab: "Yang ini kalian puji dengan kebaikan maka wajib baginya surga, dan yang ini kalian sebut dengan keburukan maka wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi." Dan Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ada seorang hamba yang meninggal lalu orang-orang memujinya dengan pujian yang Allah ketahui ada hal lain darinya (dosa gizinya), maka Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya: 'Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah menerima kesaksian hamba-hamba-Ku atas hamba-Ku ini, dan Aku telah mengampuni apa yang Aku ketahui padanya.'"
الباب السابع في حقيقة الموت وما يلقاه الميت في القبر إلى نفخة
Bab Ketujuh: Tentang Hakikat Kematian dan Apa yang Ditemui Mayit di Dalam Kubur hingga Tiupan Sangkakala
الصور بيان حقيقة الموت
Penjelasan tentang Hakikat Kematian
أعلم أن للناس في حقيقة الموت ظنونا كاذبة قد اخطأوا فيها فظن بعضهم أن الموت هو العدم وأنه لا حشر ولا نشر ولا عاقبة للخير والشر وأن موت الإنسان كموت الحيوانات وجفاف النبات وهذا رأى الملحدين وكل من لا يؤمن بالله واليوم الآخر وظن قوم أنه ينعدم بالموت ولا يتأم بضار ولا يتنعم بثواب ما دام في القبر إلى أن يعاد في وقت الحشر وقال آخرون إن الروح باقية لا تنعدم بالموت وإنما المثاب والمعاقب هي الأرواح دون الأجساد وإن الأجساد لا تبعث ولا تحشر أصلا وكل هذه ظنون فاسدة ومائلة عن الحق بل الذي تشهد له طرق الاعتبار وتنطق به الآيات والأخبار أن الموت معناه تغير حال فقط وأن الروح باقية بعد مفارقة الجسد إما معذبة وإما منعمة ومعنى مفارقتها للجسد
Ketahuilah bahwa manusia memiliki persangkaan-persangkaan keliru tentang hakikat kematian yang mana mereka telah salah di dalamnya. Sebagian mereka menyangka bahwa kematian adalah ketiadaan mutlak (kemusnahan), dan bahwa tidak ada kebangkitan, tidak ada pengumpulan, serta tidak ada balasan bagi kebaikan maupun keburukan; dan bahwa kematian manusia sama seperti kematian hewan dan mengeringnya tumbuhan. Ini adalah pandangan kaum ateis (mulhid) dan setiap orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Sebagian kaum menyangka bahwa manusia menjadi tiada karena kematian dan tidak merasakan pedihnya siksa serta tidak menikmati pahala selama berada di kubur hingga dikembalikan pada saat pengumpulan (hasyar). Sebagian lainnya berkata bahwa ruh tetap ada dan tidak musnah oleh kematian, namun yang diberi pahala dan disiksa hanyalah ruh semata tanpa jasad, dan jasad tidak akan dibangkitkan maupun dikumpulkan sama sekali. Semua ini adalah dugaan-dugaan yang batil dan menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, apa yang disaksikan oleh jalan-jalan iktibar (perenungan mendalam) serta dinyatakan oleh ayat-ayat dan riwayat-riwayat adalah bahwa kematian maknanya hanyalah perubahan keadaan semata; dan bahwa ruh tetap ada setelah berpisah dari jasad, baik dalam keadaan disiksa maupun diberi kenikmatan. Dan makna berpisahnya ruh dari jasad adalah…
انقطاع تصرفها عن الجسد بخروج الجسد عن طاعتها فإن الأعضاء آلات الروح تستعملها حتى أنها لتبطش باليد وتسمع بالأذن وتبصر بالعين وتعلم حقيقة الأشياء بالقلب والقلب ههنا عبارة عن الروح والروح تعلم الأشياء بنفسها من غير آلة ولذلك قد يتألم بنفسه بأنواع الحزن والغم والكمد ويتنعم بأنواع الفرح والسرور وكل ذلك لا يتعلق بالأعضاء فكل ما هو وصف للروح بنفسها فيبقى معها بعد مفارقة الجسد وما هو لها بواسطة الأعضاء فيتعطل بموت الجسد إلى أن تعاد الروح إلى الجسد ولا يبعد أن تعاد الروح إلى الجسد في القبر ولا يبعد أن تؤخر إلى يوم البعث والله أعلم بما حكم به على كل عبد من عباده وإنما تعطل الجسد بالموت يضاهي تعطل أعضاء الزمن بفساد مزاج يقع فيه وبشدة تقع في الأعصاب تمنع نفوذ الروح فيها فتكون الروح العالمة العاقلة المدركة باقية مستعملة لبعض الأعضاء وقد استعصى عليها بعضها والموت عبارة عن استعصاء الأعضاء كلها وكل الأعضاء آلات والروح هي المستعملة لها وأعنى بالروح المعنى الذي يدرك من الإنسان العلوم وآلام الغموم ولذات الأفراح ومهما بطل تصرفها في الأعضاء لم تبطل منها العلوم والإدراكات ولا بطل منها الأفراح والغموم ولا بطل منها قبولها للآلآم واللذات والإنسان بالحقيقة هو المعنى المدرك للعلوم وللآلام واللذات وذلك لا يموت أي لا ينعدم ومعنى الموت انقطاع تصرفه عن البدن وخروج البدن عن أن يكون آلة له كما أن معنى الزمانة خروج اليد عن أن تكون آلة مستعملة فالموت زمانة مطلقة في الأعضاء كلها وحقيقة الإنسان نفسه وروحه وهي باقية نعم تغير حاله من جهتين إحداهما أنه سلب منه عينه وأذنه ولسانه ويده ورجله وجميع أعضائه وسلب منه أهله وولده وأقاربه وسائر معارفه وسلب منه خيله ودوابه وغلمانه ودوره وعقاره وسائر أملاكه ولا فرق بين أن تسلب هذه الأشياء من الإنسان وبين أن يسلب الإنسان من هذه الأشياء فإن المؤلم هو الفراق والفراق يحصل تارة بأن ينهب مال الرجل وتارة بأن يسبى الرجل عن الملك والمال والألم واحد في الحالتين وإنما معنى الموت سلب الإنسان عن أمواله بإزعاجه إلى عالم آخر لا يناسب هذا العالم فإن كان له في الدنيا شيء يأنس به ويستريح إليه ويعتد بوجوده فيعظم تحسره عليه بعد الموت ويصعب شقاؤه في مفارقته بل يلتفت قلبه إلى واحد واحد من ماله وجاهه وعقاره حتى إلى قميص كان يلبسه مثلا ويفرح به وإن لم يكن يفرح إلا بذكر الله ولم يأنس إلا به عظم نعيمه وتمت سعادته إذا خلى بينه وبين محبوبه وقطعت عنه العوائق والشواغل إذ جميع أسباب الدنيا شاغلة عن ذكر الله فهذا أحد وجهى المخالفة بين حال الموت وحال الحياة
…terputusnya kendali dan pengelolaannya atas jasad disebabkan jasad telah keluar dari ketaatannya. Sebab anggota-anggota tubuh merupakan instrumen (alat) bagi ruh yang digunakannya; ruh memukul dengan tangan, mendengar dengan telinga, melihat dengan mata, dan mengetahui hakikat segala sesuatu dengan Qalb (hati), di mana Qalb di sini merupakan ungkapan bagi Ruh itu sendiri. Ruh mengetahui segala sesuatu dengan sendirinya tanpa alat. Oleh karena itu, ruh dapat merasakan sakit dengan sendirinya berupa berbagai jenis duka, cemas, dan sedih, serta dapat menikmati berbagai bentuk sukacita dan kegembiraan, yang mana seluruhnya tidak bergantung pada anggota fisik. Maka segala sifat yang dimiliki ruh secara mandiri akan tetap bersamanya setelah berpisah dari jasad, sedangkan apa yang diperolehnya melalui perantara anggota tubuh akan terhenti akibat kematian jasad, hingga ruh dikembalikan lagi ke jasad. Dan tidaklah mustahil ruh dikembalikan ke jasad di dalam kubur, sebagaimana tidak mustahil ditangguhkan hingga hari kebangkitan; Allah Maha Mengetahui apa yang Dia tetapkan atas setiap hamba dari hamba-hamba-Nya. Malafungsi atau terhentinya jasad akibat kematian itu menyerupai terhentinya anggota tubuh orang yang lumpuh akibat rusaknya keseimbangan organ atau gangguan hebat pada saraf yang menghalangi masuknya ruh ke dalamnya; maka ruh yang mengetahui, berakal, dan menyadari itu tetap ada dengan menggunakan sebagian anggota tubuh sementara sebagian lainnya telah membangkang darinya. Dan kematian adalah ungkapan dari membangkangnya seluruh anggota tubuh secara total. Seluruh anggota tubuh adalah instrumen, sedangkan ruh adalah penggunanya. Yang aku maksud dengan ruh adalah entitas (hakikat) yang menyadari ilmu pengetahuan, rasa sakit duka cita, serta kelezatan kegembiraan pada diri manusia. Selama pengelolaannya atas anggota tubuh batal, maka tidaklah batal ilmu dan kesadarannya, tidak batal kegembiraan dan dukanya, serta tidak batal penerimaannya terhadap rasa sakit dan kelezatan. Manusia pada hakikatnya adalah entitas yang menyadari ilmu, rasa sakit, dan kelezatan tersebut, dan hal itu tidaklah mati—dalam arti tidak musnah. Makna kematian hanyalah terputusnya kendali ruh atas badan dan keluarnya badan dari fungsi sebagai alat baginya, sebagaimana makna kelumpuhan adalah keluarnya tangan dari fungsi sebagai alat yang digunakan. Maka kematian adalah kelumpuhan mutlak pada seluruh anggota tubuh, sedangkan hakikat manusia adalah diri dan ruhnya yang tetap abadi. Benar, keradaannya berubah dari dua sisi: Pertama, dicabut darinya matanya, telinganya, lidahnya, tangannya, kakinya, dan seluruh anggota tubuhnya; dicabut darinya keluarganya, anaknya, kerabatnya, dan seluruh kenalannya; serta dicabut darinya kuda, hewan ternaknya, pembantunya, rumahnya, tanahnya, dan seluruh kepemilikannya. Tidak ada bedanya antara dicabutnya hal-hal ini dari manusia atau dicabutnya manusia dari hal-hal ini, sebab yang menimbulkan rasa sakit adalah perpisahan (firaq), dan perpisahan terjadi kadangkala dengan dirampasnya harta seseorang dan kadangkala dengan ditawannya seseorang jauh dari kepemilikan dan hartanya, sedangkan rasa sakitnya adalah sama pada kedua keadaan tersebut. Hanyasanya makna kematian adalah mencabut manusia dari harta kekayaannya dengan memindahkannya secara paksa ke alam lain yang tidak sejenis dengan alam ini. Jika semasa di dunia ia memiliki sesuatu yang menjadikannya merasa tenang, merasa nyaman, dan menganggap penting keberadaannya, maka akan sangat besar penyesalannya setelah mati dan sangat berat kesengsaraannya karena berpisah dengannya; bahkan hatinya akan berpaling kepada setiap satu per satu dari harta, kedudukan, dan tanahnya, hingga pada selembar baju yang biasa dipakainya dan digembirakannya. Namun jika ia tidak merasa gembira kecuali dengan zikrullah (mengingat Allah) dan tidak merasa tenang kecuali kepada-Nya, maka akan agunglah kenikmatannya dan sempurna kebahagiaannya ketika ia dibebaskan bersama kekasihnya dan diputuskan darinya segala penghalang dan kesibukan; sebab seluruh sebab duniawi adalah pengalih dari zikrullah. Inilah salah satu dari dua bentuk perbedaan antara kondisi mati dan kondisi hidup.
والثاني أنه ينكشف له بالموت ما لم يكن مكشوفاً له في الحياة كما قد ينكشف للمتيقظ ما لم يكن مكشوفاً له في النوم والناس نيام فإذا ماتوا انتبهوا وأول ما ينكشف له ما يضره وينفعه من حسناته وسيئاته وقد كان ذلك مسطورا في كتاب مطوي في سر قلبه وكان يشغله عن الاطلاع عليه شواغل الدنيا فإذا انقطعت الشواغل انكشف له جميع أعماله فلا ينظر إلى سيئه إلا ويتحسر عليها تحسرا يؤثر أن يخوض غمرة النار للخلاص من تلك الحسرة وعبد ذلك يقال له ﴿كفى بنفسك اليوم عليك حسيبا﴾ وينكشف كل ذلك عند انقطاع النفس وقبل الدفن وتشتعل فيه نيران الفراق أعنى فراق ما كان يطمئن إليمن هذه الدنيا الفانية دون ما أراد منها لأجل الزاد والبلغة فإن من طلب الزاد للبلغة فإذا بلغ المقصد فرح بمفارقته بقية الزاد إذ لم يكن يريد الزاد لعينه وهذا حال من لم يأخذ من الدنيا إلا بقدر الضرورة وكان يود أن تنقطع ضرورته ليستغنى عنه فقد حصل ما كان يوده
Yang kedua, bahwa melalui kematian akan tersingkap baginya apa yang tidak tersingkap baginya selama hidup, sebagaimana tersingkap bagi orang yang terjaga apa yang tidak tersingkap baginya dalam tidur. "Manusia itu tidur, maka apabila mereka mati, barulah mereka terbangun." Hal pertama yang tersingkap baginya adalah apa yang memudaratkan dan membahagiakannya dari kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukannya. Padahal hal itu telah tertulis di dalam kitab yang tergulung di dalam rahasia hatinya, namun kesibukan-kesibukan duniawi telah melalaikannya dari menelitinya. Maka ketika kesibukan-kesibukan itu terputus, tersingkaplah baginya seluruh amalnya. Tidaklah ia memandang kepada keburukannya melainkan ia akan sangat menyesal dengan penyesalan yang membuatnya lebih memilih untuk melompati gelombang api neraka demi terbebas dari penyesalan tersebut. Pada saat itulah dikatakan kepadanya: "Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai pembuat perhitungan atas dirimu." (QS. Al-Isra': 14). Semua itu tersingkap saat nafas terputus dan sebelum pemakaman. Api perpisahan pun berkobar di dalam dirinya—yang aku maksud adalah perpisahan dengan apa yang ia merasa tenang padanya dari dunia yang fana ini, bukan dengan apa yang ia ambil sekadar untuk bekal dan kecukupan perjalanan. Sebab barangsiapa mencari bekal sekadar untuk sampai ke tujuan, maka ketika ia telah mencapai tujuan, ia akan bergembira berpisah dengan sisa bekal tersebut, karena ia tidak menginginkan bekal itu demi bekal itu sendiri. Dan inilah keadaan orang yang tidak mengambil dari dunia kecuali sekadar kadar darurat, dan ia selalu berharap agar keterpaksaannya (kebutuhan daruratnya) terputus sehingga ia tidak lagi membutuhkannya; maka sungguh ia telah mendapatkan apa yang diharapkannya
واستغنى عنه وهذه أنواع من العذاب والآلام عظيمة تهجم عليه قبل الدفن ثم عند الدفن قد ترد روحه إلى الجسد لنوع آخر من العذاب وقد يعفى عنه ويكون حال المتنعم بالدنيا المطمئن إليها كحال من تنعم عند غيبة ملك من الملوك في داره وملكه وحريمه اعتمادا على أن الملك يتساهل في أمره أو على أن الملك ليس يدري ما يتعاطاه من قبيح أفعاله فأخذه الملك بغتة وعرض عليه جريدة قد دونت فيها جميع فواحشه وجناياته ذرة ذرهوخطوة خطوة والملك قاهر متسلط وغيور على حرمه ومنتقم من الجناة على ملكه وغير ملتفت إلى من يتشفع إليه في العصاة عليه فانظر إلى هذا المأخوذ كيف يكون حاله قبل نزول عذاب الملك به من الخوف والخجلة والحياء والتحسر والندم فهذا حال الميت الفاجر المغتر بالدنيا المطمئن إليها قبل نزول عذاب القبر به بل عند موته نعوذ بالله منه فإن الخزى والافتضاح وهتك الستر أعظم من كل عذاب يحل بالجسد من الضرب والقطع وغيرهما فهذه إشارة إلى حال الميت عند الموت شاهدها أولو البصائر بمشاهدة باطنة أقوى من مشاهدة العين وشهد لذلك شواهد الكتاب والسنة
dan ia tidak lagi membutuhkannya. Ini adalah jenis-jenis azab dan kesakitan dahsyat yang menerpanya sebelum pemakaman. Kemudian pada saat pemakaman, rohnya terkadang dikembalikan ke jasad untuk jenis azab yang lain, atau terkadang ia dimaafkan. Keadaan orang yang bergelimang kenikmatan dunia dan merasa tenang dengannya adalah seperti keadaan orang yang bersenang-senang saat kepemimpinan seorang raja sedang tidak berada di istananya, kerajaannya, dan kehormatannya, karena mengandalkan anggapan bahwa raja itu akan bersikap lunak dalam urusannya, atau menganggap sang raja tidak mengetahui perbuatan buruk yang dilakukannya. Lalu raja tersebut menyergapnya secara tiba-tiba dan menyodorkan kepadanya lembaran catatannya yang di dalamnya telah dibukukan seluruh kekejian dan kejahatannya, zarrah demi zarrah dan langkah demi langkah. Padahal raja itu Mahaperkasa, Mahakuasa, cemburu terhadap kehormatannya, menuntut balas dari para pelaku kejahatan atas kerajaannya, serta tidak menoleh kepada orang yang memberi syafaat baginya atas para pendurhaka kepada-Nya. Maka perhatikanlah orang yang tertangkap ini, bagaimanakah keadaannya sebelum azab raja itu menimpanya—berupa rasa takut, malu, penyesalan yang mendalam, dan penyesalan! Demikianlah keadaan mayat yang durhaka, yang terperdaya oleh dunia dan merasa tenang dengannya sebelum azab kubur menimpanya, bahkan saat kematiannya. Kita berlindung kepada Allah darinya. Karena kehinaan, pembongkaran aib, dan pengoyakan tabir penutup itu lebih dahsyat daripada setiap azab yang menimpa jasad berupa pemukulan, pemotongan, dan selainnya. Ini adalah isyarat mengenai keadaan mayat saat kematian, yang disaksikan oleh orang-orang yang memiliki mata hati (ulul basha'ir) dengan penyaksian batin yang lebih kuat daripada penyaksian mata kepala, dan disaksikan pula oleh bukti-bukti dari Al-Kitab dan As-Sunnah.
نعم لا يمكن كشف الغطاء عن كنه حقيقة الموت إذ لا يعرف الموت من لا يعرف الحياة ومعرفة الحياة بمعرفة حقيقة الروح في نفسها وإدراك ماهية ذاتها ولم يؤذن لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِنَّ يتكلم فيها ولا أن يزيد على أن يقول ﴿الروح من أمر ربي﴾ فليس لأحد من علماء الدين أن يكشف عن سر الروح وإن اطلع عليه وإنما المأذون فيه ذكر حال الروح بعد الموت
Ya, tidaklah mungkin menyingkap tabir dari hakikat substansi kematian, sebab tidak akan mengenali kematian orang yang tidak mengenali kehidupan. Sedangkan mengenali kehidupan itu dengan cara mengenali hakikat roh pada dirinya sendiri serta memahami esensi zatnya. Dan Rasulullah ﷺ tidak diizinkan untuk membicarakannya dan tidak pula menambahkan melainkan hanya mengucapkan: "Roh itu termasuk urusan Tuhanku." (QS. Al-Isra': 85). Oleh karena itu, tidak ada hak bagi seorang pun dari kalangan ulama agama untuk menyingkap rahasia roh meskipun ia telah mengetahuinya. Yang diizinkan hanyalah menuturkan keadaan roh setelah kematian.
ويدل على أن الموت ليس عبارة عن انعدام الروح وانعدام إدراكها آيات وأخبار كثيرة أما الآيات فما ورد في الشهداء إذ قال تعالى ﴿ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتاً بل أحياء عند ربهم يرزقون فرحين﴾ ولما قتل صناديد قريش يوم بدر ناداهم رسول الله ﷺ فقال يا فلان يا فلان يا فلان قد وجدت ما وعدني ربي حقا فهل وجدتم ما وعدكم ربكم حقا فقيل يا رسول الله أتناديهم وهم أموات فقال ﷺ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنهم لأسمع لهذا الكلام منكم إلا أنهم لا يقدرون على الجواب فهذا نص في روح الشقي وبقاء إدراكها ومعرفتها والآية نص أرواح في الشهداء ولا يخلو الميت عن سعادة أو شقاوة وقال ﷺ القبر إما حفرة من حفر النار أو روضة من رياض الجنة وهذا نص صريح على أن الموت معناه تغير حال فقط وأن ما سيكون من شقاوة الميت وسعادته يتعجل عند الموت من غير تأخير وإنما يتأخر بعض أنواع العذاب والثواب دون أصله
Banyak ayat dan riwayat yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan roh dan ketiadaan persepsinya (penginderaannya). Adapun ayat-ayat, yaitu apa yang tertuang mengenai para syuhada ketika Allah Ta'ala berfirman: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan bergembira." (QS. Ali 'Imran: 169-170). Dan ketika pembesar-pembesar Quraisy terbunuh pada perang Badar, Rasulullah ﷺ menyeru mereka seraya bersabda: "Wahai Fulan, wahai Fulan, wahai Fulan! Sungguh aku telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku adalah benar, maka apakah kalian telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kalian itu benar?" Lalu dikatakan: "Wahai Rasulullah, apakah engkau menyeru mereka padahal mereka telah menjadi mayat?" Maka Beliau ﷺ bersabda: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mereka lebih mendengar perkataan ini daripada kalian, hanya saja mereka tidak sanggup menjawab." Ini merupakan dalil tegas mengenai roh orang yang celaka serta kelestarian penginderaan dan pengetahuannya, sedangkan ayat di atas merupakan dalil tegas mengenai roh para syuhada. Dan seorang mayat tidak akan lepas dari kebahagiaan atau kecelakaan. Beliau ﷺ juga bersabda: "Kubur itu adakalanya salah satu lubang dari lubang-lubang neraka, atau salah satu taman dari taman-taman surga." Ini adalah nash yang jelas bahwa kematian maknanya hanyalah perubahan keadaan semata, dan bahwa apa yang akan terjadi berupa kecelakaan atau kebahagiaan mayat akan disegerakan pada saat kematian tanpa penundaan, hanyasanya yang ditangguhkan adalah sebagian jenis azab dan pahala, bukan pokok dasarnya.
وروى أنس عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال الموت القيامة فمن مات فقد قامت قيامته وَقَالَ ﷺ إِذَا مَاتَ أحدكم عرض عليه مقعده غدوة وعشية إن كان من أهل الجنة فمن الجنة وإن كان من أهل النار فمن النار ويقال هذا مقعدك حتى تبعث إليه يوم القيامة وليس يخفى ما في مشاهدة المقعدين من عذاب ونعيم في الحال وعن أبي قيس قال كنا مع علقمة في جنازة فقال أما هذا فقد قامت قيامته وقال علي كرم الله وجهه
Anas meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda: "Kematian adalah kiamat, maka barangsiapa mati sungguh telah bangkit kiamatnya." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia, diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada waktu pagi dan petang; jika ia termasuk ahli surga maka dari surga, dan jika ia termasuk ahli neraka maka dari neraka. Dikatakan kepadanya: 'Inilah tempat dudukmu hingga engkau dibangkitkan kepadanya pada hari kiamat'." Dan tidaklah samar apa yang ada dalam penyaksian kedua tempat duduk tersebut berupa azab dan kenikmatan secara langsung pada saat itu. Dari Abu Qais ia berkata: Kami pernah bersama 'Alqamah pada suatu jenazah, lalu ia berkata: "Adapun orang ini, sungguh telah bangkit kiamatnya." Dan 'Ali karramallahu wajhah berkata:
حرام على نفس أن تخرج من الدنيا حتى تعلم من أهل الجنة هى أم من أهل النار وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من مات غريبا مات شهيدا ووقى فتانات القبر وغدى وريح عليه برزقه من الجنة وقال مسروق ما غبطت مؤمنا في اللحد قد استراح من نصب الدنيا وأمن عذاب الله تعالى وقال يعلى بن الوليد كنت أمشي يوما مع أبي الدرداء فقلت له ما تحب لمن تحب قال الموت قلت فإن لم يمت قال يقل ماله وولده وإنما أحب الموت لأنه لا يحبه إلا المؤمن والموت إطلاق المؤمن من السجن وإنما أحب قلة المال والولد لأنه فتنة وسبب للأنس بالدنيا والأنس بمن لا بد من فراقه غاية الشقاء فكل ما سوى الله وذكره والأنس به فلا بد من فراقه عند الموت لا محالة ولهذا قال عبد الله بن عمرو إنما مثل المؤمن حين تخرج نفسه أو روحه مثل رجل بات في سجن فأخرج منه فهو يتفسح في الأرض ويتقلب فيها وهذا الذي ذكره حال من تجافى عن الدنيا وتبرم بها ولم يكن له أنس إلا بذكر الله تعالى وكانت شواغل الدنيا تحبسه عن محبوبه ومقاساة الشهوات تؤذيه فكان في الموت خلاصه من جميع المؤذيات وانفراده بمحبوبه الذي كان به أنسه من غير عائق ولا دافع وما أجدر ذلك بأن يكون منتهى النعيم واللذات وأكل اللذات للشهداء الذين قتلوا في سبيل الله لأنهم ما أقدموا على القتال إلا قاطعين التفاتهم عن علائق الدنيا مشتاقين إلى لقاء الله راضين بالقتل في طلب مرضاته فإن نظر إلى الدنيا فقد باعها طوعا بالآخرة والبائع لا يلتفت قلبه إلى المبيع وإن نظر إلى الآخرة فقد اشتراها وتشوق إليها فما أعظم فرحه بما اشتراه إذا رآه وما أقل التفاته إلى ما باعه إذا فارقه وتجرد القلب لحب الله تعالى قد يتفق في بعض الأحوال ولكن لا يدركه الموت عليه فيتغير والقتال سبب للموت فكان سببا لإدراك الموت على مثل هذه الحالة فلهذا عظيم النعيم إذ معنى النعيم أن ينال الإنسان ما يريده قال الله تعالى ﴿ولهم ما يشتهون﴾ فكان هذا أجمع عبارة لمعاني لذات الجنة وأعظم العذاب أن يمنع الإنسان عن مراده كما قال الله تعالى ﴿وحيل بينهم وبين ما يشتهون﴾ فكان هذا أجمع عبارة لعقوبات أهل جهنم وهذا النعيم يدركه الشهيد كما انقطع نفسه من غير تأخير وهذا أمر انكشف لأرباب القلوب بنور اليقين وأن أردت عليه شهادة من جهة السمع فجميع أحاديث الشهداء تدل عليه وكل حديث يشتمل على التعبير عن منتهى نعيمهم بعبارة أخرى فقد روي عن عائشة ﵂ أنها قالت قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لجابر ألا أبشرك يا جابر وكان قد استشهد أبوه يوم أحد فقال بلى بشرك الله بالخير فقال إن الله ﷿ قد أحيا أباك وأقعده بين يديه وقال تمن علي يا عبدي ما شئت أعطيكه فقال يا رب ما عبدتك حق عبادتك أتمنى عليك أن تردني إلى الدنيا فأقاتل مع نبيك فأقتل فيك مرة أخرى قال له أنه قد سبق منى أنك إليها لا ترجع وقال كعب يوجد رجل في الجنة يبكي فيقال له لم تبكي وأنت في الجنة قال أبكي لأني لم أقتل في الله إلا قتلة واحدة فكنت أشتهى أن أرد فأقتل فيه قتلات
"Haram bagi suatu jiwa untuk keluar dari dunia hingga ia mengetahui apakah ia termasuk ahli surga atau ahli neraka." Dan Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mati dalam keadaan terasing (di perantauan), maka ia mati sebagai syahid, dipelihara dari ujian-ujian kubur, serta dikirimkan kepadanya rezekinya dari surga pagi dan petang." Masruq berkata: "Aku tidak pernah iri kepada seorang mukmin melebihi iriku kepadanya ketika ia berada di dalam liang lahad; sungguh ia telah beristirahat dari keletihan dunia dan merasa aman dari azab Allah Ta'ala." Ya'la bin Al-Walid berkata: Pada suatu hari aku berjalan bersama Abu ad-Darda', lalu aku bertanya kepadanya: "Apakah yang engkau sukai bagi orang yang engkau cintai?" Ia menjawab: "Kematian." Aku bertanya: "Jika ia tidak mati?" Ia menjawab: "Sedikit harta dan anaknya. Hanyasanya aku menyukai kematian karena tidak ada yang menyukainya melainkan seorang mukmin, dan kematian adalah pembebasan mukmin dari penjara. Dan aku menyukai sedikit harta serta anak karena keduanya adalah fitnah dan sebab timbulnya rasa keterikatan (uns) dengan dunia. Padahal merasa tenteram dengan sesuatu yang pasti akan dipisahkan darinya merupakan puncak kesengsaraan. Maka segala sesuatu selain Allah, zikir kepada-Nya, dan rasa tenteram bersama-Nya pasti akan dipisahkan saat kematian tanpa bisa dihindari." Oleh karena itu, 'Abdullah bin 'Amr berkata: "Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin ketika jiwanya atau rohnya keluar adalah seperti seorang laki-laki yang bermalam di dalam penjara lalu dikeluarkan darinya, maka ia pun berkelana dengan leluasa di bumi dan berbolak-balik di atasnya." Apa yang dituturkannya ini adalah keadaan orang yang menjauhkan diri dari dunia, merasa jemu dengannya, dan tidak memiliki rasa tenteram melainkan dengan zikir kepada Allah Ta'ala. Kesibukan duniawi menahannya dari Kekasihnya, dan penderitaan menahan syahwat menyakitinya; maka di dalam kematian terdapat kebebasannya dari segala hal yang menyakitkan, serta kesendiriannya bersama Kekasihnya yang menjadi sumber ketenteramannya tanpa ada penghalang maupun penghambat. Alangkah layak yang demikian itu menjadi puncak kenikmatan dan kelezatan! Dan kelezatan yang paling sempurna adalah bagi para syuhada yang gugur di jalan Allah, karena tidaklah mereka maju ke medan pertempuran melainkan dengan memutuskan perhatian mereka dari keterikatan duniawi, merindukan perjumpaan dengan Allah, serta ridha terbunuh demi mencari keridhaan-Nya. Jika ia memandang kepada dunia, ia telah menjualnya dengan sukarela demi akhirat, padahal penjual tidak akan menolehkan hatinya kepada barang yang telah dijual. Dan jika ia memandang kepada akhirat, ia telah membelinya dan merindukannya; maka betapa besarnya kegembiraannya atas apa yang dibelinya ketika ia melihatnya, dan betapa sedikitnya ia menoleh kepada apa yang telah dijualnya ketika ia berpisah darinya! Pembersihan hati secara total hanya untuk mencintai Allah Ta'ala terkadang terjadi dalam beberapa keadaan, namun kematian belum tentu menjemputnya dalam keadaan demikian sehingga keadaan itu bisa berubah. Sedangkan peperangan menjadi sebab kematian, sehingga menjadi sebab untuk mendapati kematian dalam keadaan seperti itu. Oleh sebab itulah nikmat itu menjadi sangat agung, karena makna kenikmatan adalah seseorang memperoleh apa yang diinginkannya. Allah Ta'ala berfirman: "Dan bagi mereka apa yang mereka inginkan." (QS. An-Nahl: 57 / QS. Yasin: 57). Maka ini adalah ungkapan yang paling merangkum makna kelezatan surga. Dan azab yang paling besar adalah seseorang dihalangi dari apa yang diinginkannya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan." (QS. Saba': 54). Maka ini adalah ungkapan yang paling merangkum hukum sengsara bagi ahli neraka. Kenikmatan ini didapatkan oleh syahid segera setelah nafasnya terputus tanpa ditunda. Ini adalah perkara yang tersingkap bagi para pemilik hati melalui cahaya keyakinan. Jika engkau menginginkan kesaksian atasnya dari jalur wahyu/pendengaran, maka seluruh hadis tentang para syuhada menunjukkannya, dan setiap hadis mencakup penuturan tentang puncak kenikmatan mereka dengan ungkapan lain. Sungguh telah diriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepada Jabir—padahal ayahnya telah gugur sebagai syahid pada perang Uhud—: "Maukah engkau aku beri kabar gembira, wahai Jabir?" Jabir menjawab: "Tentu, semoga Allah memberimu kabar gembira dengan kebaikan." Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menghidupkan ayahmu dan mendudukkannya di hadapan-Nya, lalu berfirman: 'Mintalah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, apa saja yang engkau kehendaki niscaya Aku berikan kepadamu.' Maka ia menjawab: 'Wahai Tuhanku, aku belum menyembah-Mu dengan sebenar-benar penyembahan. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikan aku ke dunia sehingga aku dapat berperang bersama Nabi-Mu lalu aku terbunuh di jalan-Mu sekali lagi.' Allah berfirman kepadanya: 'Sesungguhnya telah berlaku ketentuan dari-Ku bahwa mereka tidak akan dikembalikan lagi ke sana'." Ka'ab berkata: "Ada seorang laki-laki di surga yang menangis, lalu dikatakan kepadanya: 'Mengapa engkau menangis padahal engkau berada di surga?' Ia menjawab: 'Aku menangis karena aku hanya terbunuh di jalan Allah sebanyak satu kali pembunuhan, padahal aku berhasrat untuk dikembalikan lalu terbunuh di jalan-Nya berkali-kali'."
واعلم أن المؤمن ينكشف له عقيب الموت من سعة جلال الله ما تكون الدنيا بالإضافة إليه كالسجن والمضيق
Ketahuilah bahwa seorang mukmin, sesaat setelah kematiannya, akan tersingkap baginya keagungan Allah yang sedemikian luas, sehingga dunia jika dibandingkan dengannya hanyalah bagaikan penjara dan tempat yang sangat sempit.
ويكون مثاله كالمحبوس في بيت مظلم فتح له باب إلى بستان واسع الأكناف لا يبلغ طرفه أقصاه فيه أنواع الأشجار والأزهار والثمار والطيور فلا يشتهى العود إلى السجن المظلم وقد ضرب لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مثلا فقال لرجل مات أصبح هذا مرتحلا عن الدنيا وتركها لأهلها فإن كان قد رضي فلا يسره أن يرجع إلى الدنيا كما لا يسر أحدكم أن يرجع إلى بطن أمه فعرفك بهذا أن نسبة سبعة الآخرة إلى الدنيا كنسبة سعة الدنيا إلى ظلمة الرحم وقال ﷺ أن مثل المؤمن في الدنيا كمثل الجنين في بطن أمه إذا خرج من بطنها بكى على مخرجه حتى إذا رأى الضوء ووضع لم يحب أن يرجع إلى مكانه وكذلك المؤمن يجزع من الموت فإذا أفضى إلى ربه لم يحب أن يرجع إلى الدنيا كما لا يحب الجنين أن يرجع إلى بطن أمه وَقِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إن فلانا قد مات فقال مستريح أو مستراح منه أشار بالمستريح إلى المؤمن وبالمستراح منه إلى الفاجر إذ يستريح أهل الدنيا منه وقال أبو عمر صاحب السقيا مر بنا ابن عمر ونحن صبيان فنظر إلى قبر فإذا جمجمة بادية فأمر رجلا فواراها ثم قال إن هذه الأبدان ليس يضرها هذا الثرى شيئا وإنما الأرواح التي تعاقب وتثاب إلى يوم القيامة وعن عمرو بن دينار قال ما من ميت يموت إلا وهو يعلم ما يكون في أهله بعده وإنهم ليغسلونه ويكفنونه وإنه لينظر إليهم وقال مالك بن أنس بلغني أن أرواح المؤمنين مرسلة تذهب حيث شاءت وقال النعمان ابن بشير سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ على المنبر يقول ألا إنه لم يبق من الدنيا إلا مثل الذباب يمور في جوها فالله الله في إخوانكم من أهل القبور فإن أعمالكم تعرض عليهم وقال أبو هريرة قال النبي ﷺ لا تفضحوا موتاكم بسيئات أعمالكم فإنها تعرض على أوليائكم من أهل القبور ولذلك قال أبو الدرداء اللهم إني أعوذ بك أن أعمل عملا أخزى به عند عبد الله بن رواحة وكان قد مات وهو خاله وسئل عبد الله بن عمرو بن العاص عن أرواح المؤمنين إذا ماتوا أين هي قال في حواصل طير بيض في ظل العرش وأرواح الكافرين في الأرض السابعة وقال أبو سعيد الخدري سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول إن الميت يعرف من يغسله ومن يحمله ومن يدليه في قبره وقال صالح المري بلغني أن الأرواح تتلاقى عند الموت فتقول أرواح الموتى للروح التي تخرج إليهم كيف كان مأواك وفي أي الجسدين كنت في طيب أو خبيث وقال عبيد بن عمير أهل القبور يترقبون الأخبار فإذا أتاهم الميت قالوا ما فعل فلان فيقول ألم يأتكم أو
Permisalannya adalah seperti orang yang dikurung di dalam rumah yang gelap, lalu dibukakan baginya pintu menuju taman yang luas membentang, yang batas ujungnya tidak terjangkau oleh pandangan mata, di dalamnya terdapat beraneka ragam pohon, bunga, buah-buahan, dan burung-burung, sehingga ia sama sekali tidak berhasrat untuk kembali ke penjara yang gelap itu. Rasulullah ﷺ telah membuat perumpamaan baginya, seraya bersabda tentang seorang laki-laki yang meninggal: "Orang ini pada pagi hari telah berangkat meninggalkan dunia dan meninggalkannya untuk penghuninya. Jika ia diridhai, maka tidaklah menggembirakannya untuk kembali ke dunia sebagaimana tidak menggembirakan salah seorang dari kalian untuk kembali ke perut ibunya." Beliau memahamkanmu dengan ini bahwa perbandingan kelawasan akhirat dengan dunia adalah seperti perbandingan kelawasan dunia dengan kegelapan rahim. Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin di dunia adalah seperti janin di dalam perut ibunya; ketika ia keluar dari perutnya, ia menangis atas jalannya keluar, hingga apabila ia melihat cahaya dan diletakkan, ia tidak ingin lagi kembali ke tempatnya semula. Demikian pula seorang mukmin, ia merasa gelisah menghadapi kematian, namun ketika ia telah sampai kepada Tuhannya, ia tidak ingin kembali ke dunia sebagaimana janin tidak ingin kembali ke perut ibunya." Dikatakan kepada Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya Fulan telah meninggal dunia." Maka Beliau bersabda: "Ia beristirahat (mustarih) atau diistirahatkan darinya (mustarah minhu)." Beliau mengisyaratkan dengan 'mustarih' kepada orang mukmin, dan dengan 'mustarah minhu' kepada orang durhaka, sebab penduduk dunia beristirahat dari keburukannya. Abu 'Umar pemilik as-Suqya berkata: Ibn 'Umar pernah melewati kami ketika kami masih anak-anak, lalu beliau memandang ke arah sebuah kubur yang di sana tampak tengkorak yang menonjol. Beliau memerintahkan seseorang untuk menimbunnya, lalu berkata: "Sesungguhnya jasad-jasad ini tidaklah dimudaratkan oleh tanah ini sedikit pun, melainkan roh-rohlah yang diazab dan diberi pahala hingga hari kiamat." Dari 'Amr bin Dinar ia berkata: "Tidak ada seorang mayat pun yang meninggal melainkan ia mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya setelahnya. Sungguh mereka memandikannya dan mengkafaninya, sedangkan ia benar-benar memandang kepada mereka." Malik bin Anas berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa roh-roh orang mukmin dibebaskan lepas, pergi ke mana saja yang dikehendakinya." An-Nu'man bin Basyir berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ di atas mimbar bersabda: "Ingatlah, sesungguhnya tidak tersisa dari dunia ini melainkan seperti lalat yang melayang-layang di udaranya. Maka takutilah Allah, takutilah Allah berkenaan dengan saudara-saudara kalian dari penghuni kubur, karena sesungguhnya amal-amal kalian diperlihatkan kepada mereka." Abu Hurairah berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mempermalukan mayat-mayat kalian dengan keburukan amal-amal kalian, karena sesungguhnya amal-amal itu diperlihatkan kepada wali-wali kalian dari penghuni kubur." Oleh karena itulah Abu ad-Darda' berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari melakukan amal yang membuatku terhina di hadapan 'Abdullah bin Rawahah"—padahal ia telah meninggal dan merupakan paman dari pihak ibunya. 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash pernah ditanya tentang roh-roh orang mukmin apabila mereka meninggal, di manakah keberadaannya? Ia menjawab: "Di dalam tembolok burung-burung putih di bawah naungan 'Arsy, sedangkan roh-roh orang kafir berada di bumi ketujuh." Abu Sa'id al-Khudri berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya mayat mengetahui siapa yang memandikannya, siapa yang memikulnya, dan siapa yang meletakkannya ke dalam kuburnya." Shalih al-Murri berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa roh-roh saling bertemu pada saat kematian. Maka roh-roh orang mati berkata kepada roh yang keluar menuju mereka: 'Bagaimanakah tempat tinggalmu? Dan di dalam jasad manakah engkau berada, di dalam jasad yang baik atau yang buruk?'" 'Ubaid bin 'Umair berkata: "Penghuni kubur selalu menanti-nantikan berita. Apabila datang kepada mereka mayat baru, mereka bertanya: 'Apakah yang dilakukan oleh Fulan?' Maka ia menjawab: 'Bukankah ia telah datang kepada kalian, atau
ما قدم عليكم فيقولون ﴿إنا لله وإنا إليه راجعون﴾ سلك به غير سبيلنا وعن جعفر بن سعيد قال إذا مات الرجل استقبله ولده كما يستقبل الغائب وقال مجاهد إن الرجل ليبشر بصلاح ولده في قبره وروى أبو أيوب الأنصاري عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال إن نفس المؤمن إذا قبضت تلقاها أهل الرحمة من عند الله كما يتلقى البشير في الدنيا يقولون انظروا أخاكم حتى يستريح فإنه كان في كرب شديد فيسألونه ماذا فعل فلان وماذا فعلت فلانه وهل تزوجت فلانة فإذا سألوه عن رجل ميت قبله وقال مات قبلي قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون ذهب به إلى أمه الهاوية حديث يقول القبر للميت حين يوضع فيه ويحك يا ابن آدم ما غرك بي ألم تعلم أني بيت الفتنه الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في كتاب القبور والطبراني في مسند الشامين وأبو أحمد الحاكم في السكني من حديث أبي الحجاج التمالي بإسناد ضعيف // والفذاذ هو الذي يقدم رجلا ويؤخر أخرى هكذا فسره الراوي وقال عبيد بن عمير الليثي ليس من ميت يموت إلا نادته حفرته التي يدفن فيها أنا بيت الظلمة والوحدة والإنفراد فإن كنت في حياتك لله مطيعا كنت عليك اليوم رحمة وإن كنت عاصيا فأنا اليوم عليك نقمة أنا الذي من دخلني مطيعا خرج مسرورا ومن دخلني عاصيا خرج مثبورا وقال محمد بن صبيح بلغنا أن الرجل إذا وضع في قبره عذب أو أصابه بعض ما يكره ناداه جيرانه من الموتى أيها المتخلف في الدنيا بعد إخوانه وجيرانه أما كان لك فينا معتبر أما كان لك في متقدمنا إياك فكرة أما رأيت انقطاع أعمالنا عنا وأنت في المهلة فهلا استدركت ما فات إخوانك وتناديه بقاع الأرض أيها المغتر بظاهر الدنيا هلا اعتبرت بمن غيب من أهلك في بطن الأرض ممن غرته الدنيا قبلك ثم سبق به أجله إلى القبور وأنت تراه محمولا تهاداه أحبته إلى المنزل الذي لا بد له منه وقال يزيد الرقاشي بلغني أن الميت إذا وضع في قبره احتوشته أعماله ثم أنطقها الله فقالت أيها العبد المنفرد في حفرته انقطع عنك الأخلاء والأهلون فلا أنيس لك اليوم عندنا وقال كعب إذا وضع العبد الصالح في القبر احتوشته أعماله الصالحة الصلاة والصيام والحج والجهاد والصدقة قال فتجيء ملائكة العذاب من قبل رجليه فتقول الصلاة إليكم عنه فلا سبيل لكم عليه فقد أطال بي القيام لله عليهما فيأتونه من قبل رأسه فيقول الصيام لا سبيل لكم عليه فقد أطال ظمأه لله في الدار الدنيا فلا سبيل لكم عليه فيأتونه من قبل جسده فيقول الحج والجهاد إليكم عنه فقد أنصب نفسه وأتعب بدنه وحج وجاهد لله فلا سبيل لكم عليه قال فيأتونه من قبل يديه فتقول الصدقة كفوا عن صاحبي فكم من صدقه خرجت من هاتين اليدين حتى وقعت في يد الله تعالى ابتغاء وجهه فلا سبيل لكم عليه قال فيقال له هنيئا طبت حيا وطبت ميتا قال وتأتيه ملائكة الرحمة فتفرش له فراشا من الجنة ودثارا من الجنة ويفسح له في قبره مد بصره ويؤتى بقنديل من الجنة
telah mendahului kalian?' Maka mereka berkata: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ia telah dibawa melalui jalan selain jalan kami'." Dari Ja'far bin Sa'id ia berkata: "Apabila seseorang meninggal dunia, anak-anaknya menyambutnya sebagaimana menyambut orang yang lama gaib (pergi jauh)." Mujahid berkata: "Sesungguhnya seseorang diberi kabar gembira di dalam kuburnya tentang kesalehan anaknya." Abu Ayyub al-Ansari meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda: "Sesungguhnya jiwa seorang mukmin apabila dicabut, ia disambut oleh para penerima rahmat dari sisi Allah sebagaimana pembawa kabar gembira disambut di dunia. Mereka berkata: 'Tengoklah saudara kalian agar ia dapat beristirahat, karena sesungguhnya ia berada dalam kesulitan yang dahsyat.' Lalu mereka bertanya kepadanya: 'Apakah yang dilakukan oleh Fulan? Dan apakah yang dilakukan oleh Fulanah? Serta apakah Fulanah sudah menikah?' Maka apabila mereka bertanya kepadanya tentang seorang laki-laki yang telah meninggal sebelum dia, lalu ia berkata: 'Ia telah meninggal sebelumku,' mereka berkata: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ia telah dibawa pergi ke ibunya, yaitu neraka Hawiyah'." Hadis: Kubur berkata kepada mayat ketika diletakkan di dalamnya: "Celaka engkau wahai anak Adam, apakah yang memperdayaimu dariku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah rumah ujian?" (Hadis diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam Kitab al-Qubur, at-Thabrani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan Abu Ahmad al-Hakim dalam as-Sukna dari hadis Abu al-Hajjaj at-Timali dengan sanad dha'if. Dan alfadzadz adalah orang yang melangkahkan satu kaki ke depan dan menyurutkan kaki lainnya ke belakang, demikian dirawikan penjelasannya oleh perawi). 'Ubaid bin 'Umair al-Laitsi berkata: "Tidak ada seorang mayat pun yang meninggal melainkan lubang tempat ia dikuburkan memanggilnya: 'Aku adalah rumah kegelapan, kesendirian, dan kesendirian total. Jika semasa hidupmu engkau taat kepada Allah, maka hari ini aku menjadi rahmat bagimu. Namun jika engkau durhaka, maka hari ini aku menjadi siksaan bagimu. Akulah yang barangsiapa memasukiku dalam keadaan taat niscaya keluar dalam keadaan bersukacita, dan barangsiapa memasukiku dalam keadaan bermaksiat niscaya keluar dalam keadaan binasa'." Muhammad bin Shabih berkata: "Telah sampai kepada kami bahwa apabila seseorang diletakkan di dalam kuburnya lalu diazab atau ditimpa sebagian apa yang dibencinya, tetangga-tetangganya dari kalangan mayat memanggilnya: 'Wahai orang yang tertinggal di dunia setelah saudara-saudaramu dan tetangga-tetanggamu! Tidakkah ada pelajaran bagimu pada diri kami? Tidakkah ada pemikiran bagimu pada pendahuluan kami atasmu? Tidakkah engkau melihat terputusnya amal-amal kami dari kami padahal engkau dalam tenggang waktu? Mengapa engkau tidak menyusul apa yang luput dari saudara-saudaramu?' Dan hamparan bumi memanggilnya: 'Wahai orang yang terperdaya oleh lahiriah dunia, mengapa engkau tidak mengambil pelajaran dari keluargamu yang telah disembunyikan di perut bumi, yaitu orang-orang yang terperdaya oleh dunia sebelummu, kemudian ajalnya mendahuluinya ke kubur, sedangkan engkau melihatnya dipikul dan diusung oleh kekasih-kekasihnya menuju kediaman yang tidak boleh tidak harus memasukinya?'" Yazid ar-Raqasyi berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa apabila mayat diletakkan di dalam kuburnya, amal-amalnya mengerubunginya lalu Allah membuatnya berbicara. Amal itu berkata: 'Wahai hamba yang sendirian di lubang kuburnya, telah terputus darimu para kekasih dan keluarga, maka tidak ada orang yang menghiburmu hari ini di sisi kami'." Ka'ab berkata: "Apabila hamba yang saleh diletakkan di dalam kubur, amal-amal salehnya mengerubunginya: shalat, puasa, haji, jihad, dan sedekah. Maka datanglah malaikat azab dari arah kedua kakinya, lalu shalat berkata: 'Jauhilah dia, tidak ada jalan bagi kalian atasnya, sungguh ia telah memanjang-manjangkan berdiri untuk Allah di atas kedua kaki ini.' Lalu mereka datang dari arah kepalanya, maka puasa berkata: 'Tidak ada jalan bagi kalian atasnya, sungguh ia telah memanjang-manjangkan rasa dahaganya karena Allah di negeri dunia, maka tidak ada jalan bagi kalian atasnya.' Lalu mereka datang dari arah jasadnya, maka haji dan jihad berkata: 'Jauhilah dia, sungguh ia telah melelahkan dirinya, menepati badannya, serta berhaji dan berjihad karena Allah, maka tidak ada jalan bagi kalian atasnya.' Lalu mereka datang dari arah kedua tangannya, maka sedekah berkata: 'Tahanlah diri kalian dari sahabatku ini, betapa banyak sedekah yang keluar dari kedua tangan ini hingga jatuh ke tangan Allah Ta'ala demi mengharapkan keridhaan-Nya, maka tidak ada jalan bagi kalian atasnya.' Maka dikatakan kepadanya: 'Selamat untukmu, engkau telah baik sewaktu hidup dan baik sewaktu mati.' Kemudian datanglah malaikat rahmat kepadanya, lalu membentangkan baginya hamparan dari surga dan selimut dari surga, melapangkan kuburnya sejauh mata memandang, serta dibawakan pelita dari surga,
فيستضيء بنوره إلى يوم يبعثه الله من قبره وقال عبد الله بن عبيد بن عمير في جنازة بلغني أن رسول الله ﷺ قال إن الميت يقعد وهو يسمع خطو مشيعيه فلا يكلمه شيء إلا قبره ويقول ويحك ابن آدم أليس قد حذرتني وحذرت ضيقي ونتني وهولي ودودي فماذا أعددت لي
sehingga ia diterangi oleh cahayanya sampai hari Allah membangkitkannya dari kuburnya." 'Abdullah bin 'Ubaid bin 'Umair berkata dalam suatu jenazah: "Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya mayat itu didudukkan dalam keadaan ia mendengar langkah kaki orang-orang yang mengantarkannya, lalu tidak ada sesuatu pun yang mengabarkannya/mengajaknya bicara melainkan kuburnya, dan kubur itu berkata: Celaka engkau wahai anak Adam! Bukankah engkau telah diperingatkan tentang aku, diperingatkan tentang kesempitanku, kebusukanku, kehebatanku, dan ulat-ulatku? Maka apakah yang telah engkau persiapkan untukku?'"
بيان عذاب القبر وسؤال منكر ونكير
Penjelasan tentang Azab Kubur serta Pertanyaan Munkar dan Nakir
قال البراء بن عازب خرجنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في جنازة رجل من الأنصار فجلس رسول الله ﷺ على قبره منكسا رأسه ثم قال اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر ثلاثا ثم قال إن المؤمن إذا كان في قبل من الآخرة بعث الله ملائكة كأن وجوههم الشمس معهم حنوطه وكفنه فيجلسون مد بصره فإذا خرجت روحه صلى عليه كل ملك بين السماء والأرض وكل ملك في السماء وفتحت أبواب السماء فليس منها باب إلا يحب أن يدخل بروحه منه فإذا صعد بروحه قيل أي رب عبدك فلان فيقول ارجعوه فأروه ما أعددت له من الكرامة فإني وعدته منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى وإنه ليسمع خفق نعالهم إذا ولوا مدبرين حتى يقال يا هذا من ربك وما دينك وما نبيك فيقول ربي الله وديني الإسلام ونبي محمد ﷺ قال فينتهرأنه انتهارا شديدا وهي آخر فرصة تعرض على الميت فإذا قال ذلك نادى مناد أن قد صدقت وهي معنى قوله تعالى ﴿يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت﴾ ثم يأتيه آت حسن الوجه طيب الريح حسن الثياب فيقول أبشر برحمة ربك وجنات فيها نعيم مقيم فيقول وأنت فبشرك الله بخير من أنت فيقول أنا عملك الصالح والله ما علمت أن كنت لسريعا إلى طاعة الله بطيئا عن معصية الله فجزاك الله خيرا ﴿قال﴾ ثم يناد مناد أن افرشوا له من فرش الجنة وافتحوا له بابا إلى الجنة فيفرش له من فرش الجنة ويفتح له باب إلى الجنة فيقول اللهم عجل قيام الساعة حتى أرجع إلى أهلي ومالي ﴿قال﴾ وأما الكافر فإنه إذا كان في قبل من الآخرة وانقطاع من الدنيا نزلت إليه ملائكة غلاظ شداد معهم ثياب من نار وسرابيل من قطران فيحتوشونه فإذا خرجت نفسه لعنه كل ملك بين السماء والأرض وكل ملك في السماء وغلقت أبواب السماء فليس بها باب إلا يكره أن يدخل بروحه منه فإذا صعد بروحه نبذ وقيل أي ربعبدك فلان لم تقبله سماء ولا ارض فيقول الله ﷿ ارجعوه فأروه ما أعددت له من الشر إني وعدته ﴿منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى﴾ وأنه ليسمع خفق نعالهم إذا ولوا مدبرين حتى يقال له يا هذا من ربك ومن نبيك وما دينك فيقول لا أدرى فيقال لا دريت ثم يأتيه آت قبيح الوجه منتن الريح قبيح الثياب فيقول أبشر بسخط من الله وبعذاب أليم مقيم فيقول بشرك الله شرا من أنت فيقول أنا عملك الخبيث والله إن كنت لسريعا في معصية الله بطيئا عن طاعة الله فجزاك الله شرا فيقول وأنت فجزاك الله شرا ثم يقيض له أعمى أصم أبكم معه مرزبة من حديد لو اجتمع عليها الثقلان على أن يقلوها لم يستطيعوا لو ضرب بها جبل صار ترابا فيضربه بها ضربة فيصير ترابا ثم تعود فيه الروح فيضربه بها بين عينيه ضربة يسمعها من على الأرضين ليس الثقلين ﴿قال﴾ ثم ينادي مناد أن افرشوا له لوحين من النار وافتحوا له بابا إلى النار فيفرش له لوحان من نار ويفتح له باب إلى النار وقال محمد بن علي ما من ميت يموت إلا مثل له
Al-Bara' bin 'Azib berkata: Kami pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ mengiringi jenazah seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Maka Rasulullah ﷺ duduk di atas kuburnya seraya menundukkan kepalanya, lalu bersabda: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur," sebanyak tiga kali. Kemudian Beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang mukmin apabila berada di ambang menyongsong akhirat (dan terputus dari dunia), Allah mengutus malaikat-malaikat yang seakan-akan wajah mereka adalah matahari, dengan membawa minyak wangi pemulas mayat (hanuth) dan kafannya dari surga, lalu mereka duduk sejauh mata memandang. Maka apabila rohnya keluar, setiap malaikat di antara langit dan bumi serta setiap malaikat di langit bershalawat (mendoakan) atasnya, dan dibukakan pintu-pintu langit, sehingga tidak ada satu pintu pun melainkan ingin agar rohnya masuk melaluinya. Ketika rohnya diangkat naik, dikatakan: 'Wahai Tuhanku, hamba-Mu si Fulan.' Maka Allah berfirman: 'Kembalikanlah ia, perlihatkanlah kepadanya apa yang telah Ku-sediakan baginya berupa kemuliaan, karena sesungguhnya Aku telah berjanji kepadanya: "Dari buminilah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain."' (QS. Taha: 55). Dan sesungguhnya ia benar-benar mendengar gerak langkah sandal mereka ketika mereka berbalik pergi, hingga dikatakan kepadanya: 'Wahai orang ini, siapakah Tuhanmu? Apakah agamamu? Dan siapakah nabimu?' Maka ia menjawab: 'Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ﷺ.' Beliau bersabda: Lalu malaikat itu membentaknya dengan bentakan yang sangat keras—dan itulah kesempatan terakhir yang disodorkan kepada mayat. Maka apabila ia mengucapkan hal itu, berserulah penyeru: 'Engkau telah benar.' Dan itulah makna firman Allah Ta'ala: 'Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh.' (QS. Ibrahim: 27). Kemudian mendatanginya sosok yang berwajah tampan, berbau harum, dan berbaju indah, lalu berkata: 'Bergembiralah dengan rahmat dari Tuhanmu dan surga-surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang kekal.' Maka mayat berkata: 'Dan engkau, semoga Allah memberimu kabar gembira dengan kebaikan, siapakah engkau?' Sosok itu menjawab: 'Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, yang aku ketahui engkau sungguh amat bersegera menuju ketaatan kepada Allah dan amat lambat dari maksiat kepada Allah, maka semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.' Beliau bersabda: Kemudian berseru penyeru: 'Bentangkanlah baginya hamparan dari surga dan bukakanlah baginya pintu menuju surga.' Maka dibentangkanlah baginya hamparan dari surga dan dibukakan baginya pintu menuju surga, lalu ia berkata: 'Ya Allah, segerakanlah berdirinya hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.' Beliau bersabda: Adapun orang kafir, sesungguhnya apabila ia berada di ambang menyongsong akhirat dan terputus dari dunia, turunlah kepadanya malaikat-malaikat yang kasar dan keras dengan membawa pakaian dari neraka dan baju kurung dari ter (minyak hitam panas), lalu mereka mengerubunginya. Maka apabila jiwanya keluar, setiap malaikat di antara langit dan bumi serta setiap malaikat di langit melaknatinya, dan ditutuplah pintu-pintu langit, sehingga tidak ada satu pintu pun melainkan benci jika rohnya masuk melaluinya. Ketika rohnya diangkat naik, roh itu dilemparkan dan dikatakan: 'Wahai Tuhan, hamba-Mu si Fulan tidak diterima oleh langit maupun bumi.' Maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Kembalikanlah ia, perlihatkanlah kepadanya apa yang telah Ku-sediakan baginya berupa keburukan, karena sesungguhnya Aku telah berjanji kepadanya: "Dari buminilah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain."' Dan sesungguhnya ia benar-benar mendengar gerak langkah sandal mereka ketika mereka berbalik pergi, hingga dikatakan kepadanya: 'Wahai orang ini, siapakah Tuhanmu? Siapakah nabimu? Dan apakah agamamu?' Maka ia menjawab: 'Aku tidak tahu.' Lalu dikatakan: 'Engkau tidak tahu dan tidak mau belajar!' Kemudian mendatanginya sosok yang berwajah buruk, berbau busuk, dan berbaju jelek, lalu berkata: 'Kabar gembiralah dengan kemurkaan dari Allah dan azab yang pedih lagi kekal.' Maka mayat berkata: 'Semoga Allah memberimu kabar buruk, siapakah engkau?' Sosok itu menjawab: 'Aku adalah amalmu yang buruk. Demi Allah, yang aku ketahui engkau sungguh amat bersegera dalam maksiat kepada Allah dan amat lambat dari ketaatan kepada Allah, maka semoga Allah membalasmu dengan keburukan.' Mayat itu berkata: 'Dan engkau, semoga Allah membalasmu dengan keburukan.' Kemudian diserahkan kepadanya malaikat yang buta, tuli, dan bisu dengan membawa gada dari besi yang sekiranya seluruh jin dan manusia berkumpul untuk mengangkatnya niscaya mereka tidak akan sanggup; sekiranya gunung dipukul dengannya niscaya gunung itu akan hancur menjadi debu. Lalu malaikat itu memukulnya dengan gada tersebut satu kali pukulan hingga ia menjadi debu, kemudian roh dikembalikan padanya, lalu malaikat memukulnya di antara kedua matanya dengan satu pukulan yang didengar oleh seluruh makhluk di atas bumi selain jin dan manusia. Beliau bersabda: Kemudian berseru penyeru: 'Bentangkanlah baginya dua lempeng papan dari neraka dan bukakanlah baginya pintu menuju neraka.' Maka dibentangkanlah baginya dua lempeng papan dari neraka dan dibukakan baginya pintu menuju neraka." Dan Muhammad bin 'Ali berkata: "Tidak ada seorang mayat pun yang meninggal melainkan diperlihatkan kepadanya
عند الموت أعماله الحسنة وأعماله السيئة قال فيشخص إلى حسناته ويطرق عن سيئاته وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن المؤمن إذا احتضر أتته الملائكة بحريرة فيها مسك وضبائر الريحان فتسل روحه كما تسل الشعرة من العجين ويقال أيتها النفس المطمئنة اخرجي راضية ومرضيا عنك إلى روح الله وكرامته فإذا أخرجت روحه وضعت على ذلك المسك والريحان وطويت عليها الحريرة وبعث بها إلى عليين وإن الكافر إذا احتضر أتته الملائكة بمسح فيه جمرة فتنزع روحه انتزاعا شديدا ويقال أيتها النفس الخبيثة أخرجي ساخطة ومسخوط عليك إلى هوان الله وعذابه فإذا أخرجت روحه وضعت على تلك الجمرة وأن لها نشيشا ويطوى عليها المسح ويذهب بها إلى سجين وعن محمد بن كعب القرظي أنه كان يقرأ قوله تعالى حتى إذا جاء أحدهم الموت قال ربي أرجعون لعلي أعمل صالحاً فيما تركت قال أي شيء تريد في أي شيء ترغب أتريد أن ترجع لتجمع المال وتغرس الغراس وتبني البنيان وتشق الأنهار قال لا لعلي أعمل صالحاً فيما تركت قال فيقول الجبار ﴿كلا إنها كلمة هو قائلها﴾ أي ليقولنها عند الموت وقال أبو هريرة قال النبي ﷺ المؤمن في قبره في روضة خضراء ويرحب له في قبره سبعون ذراعا ويضىء حتى يكون كالقمر ليلة البدر هل تدرون فيماذا أنزلت فإن له معيشة ضنكاً قالوا الله ورسوله أعلم قال عذاب الكافر في قبره يسلط عليه تسعة وتسعون تنينا هل تدرون ما التنين تسعة وتسعون حية لكل حية تسعة رؤوس يخدشونه ويلحسونه وينفخون في جسمه إلى يوم يبعثون ولا ينبغي أن يتعجب من هذا العدد على الخصوص فإن أعداد هذه الحيات والعقارب بعدد الأخلاق المذمومة من الكبر والرياء والحسد والغل والحقد وسائر الصفات فإن لها أصولا معدودة ثم تتشعب منها فروع معدودة ثم تنقسم فروعها إلى أقسام وتلك الصفات بأعيانها هي المهلكات وهي بأعيانها تنقلب عقارب وحيات فالقوي منها يلدغ لدغ التنين والضعيف يلدغ لدغ العقرب وما بينهما يؤذي إيذاء الحية وأرباب القلوب والبصائر يشاهدون بنور البصيرة هذه المهلكات والشعاب فروعها إلا أن مقدار عددها لا يوقف عليه إلا بنور النبوة فأمثال هذه الأخبار لها ظواهر صحيحة وأسرار خفية ولكنها عند أرباب البصائر واضحة فمن لم تنكشف له حقائقها فلا ينبغي أن ينكر ظواهرها بل أقل درجات الإيمان التصديق والتسليم فإن قلت فنحن نشاهد الكافر في قبره مدة ونراقبه ولا نشاهد شيئا من ذلك فما وجه التصديق على خلاف المشاهدة فأعلم أن لك ثلاث مقامات في التصديق بأمثال هذا
saat kematian amal-amal kebaikannya dan amal-amal keburukannya." Ia berkata: "Maka ia membelalakkan mata melihat kebaikan-kebaikannya dan menundukkan pandangan dari keburukan-keburukannya." Dan Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang mukmin apabila menjelang ajal, malaikat mendatanginya dengan membawa kain sutra yang di dalamnya terdapat minyak kasturi dan sekumpulan bunga rayhan, lalu dicabutlah rohnya sebagaimana dicabutnya sehelai rambut dari adonan tepung, dan dikatakan: 'Wahai jiwa yang tenang, keluarlah dalam keadaan ridha dan diridhai menuju ketenangan dari Allah dan kemuliaan-Nya.' Maka apabila rohnya telah dikeluarkan, diletakkanlah ia di atas kasturi dan rayhan tersebut, dilipat atasnya kain sutra itu, dan dikirimkan menuju 'Illiyyin. Dan sesungguhnya orang kafir apabila menjelang ajal, malaikat mendatanginya dengan membawa kain kasar yang di dalamnya terdapat bara api, lalu dicabutlah rohnya dengan pencabutan yang sangat keras, dan dikatakan: 'Wahai jiwa yang buruk, keluarlah dalam keadaan murka dan dimurkai menuju kehinaan dari Allah dan siksa-Nya.' Maka apabila rohnya telah dikeluarkan, diletakkanlah ia di atas bara api tersebut sehingga terdengar suara mendesis padanya, dilipat atasnya kain kasar itu, dan dibawalah ia menuju Sijjin." Dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi bahwa beliau membaca firman Allah Ta'ala: "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan'." (QS. Al-Mu'minun: 99-100). Beliau berkata: Apakah yang engkau inginkan? Dalam hal apakah engkau berhasrat? Apakah engkau ingin kembali untuk mengumpulkan harta, menanam tanaman, membangun bangunan, dan mengalirkan sungai-sungai? Ia menjawab: "Tidak, agar aku dapat berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan." Beliau berkata: Maka Yang Mahaperkasa berfirman: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja," yakni ia benar-benar hanya akan mengucapkannya saja pada saat kematian. Dan Abu Hurairah berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Seorang mukmin di dalam kuburnya berada di taman yang hijau, dan dilapangkan baginya di dalam kuburnya seluas tujuh puluh hasta serta diterangi hingga seperti bulan pada malam purnama. Tahukah kalian berkenaan dengan apakah ayat ini diturunkan: 'Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit' (QS. Taha: 124)?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Yaitu azab orang kafir di dalam kuburnya; dikuasakan atasnya sembilan puluh sembilan tanin (naga/ular raksasa). Tahukah kalian apakah tanin itu? Yaitu sembilan puluh sembilan ular, yang setiap ular memiliki sembilan kepala yang mencakar, menjilat, dan mematuk tubuhnya hingga hari mereka dibangkitkan." Dan tidak sepatutnya merasa heran terhadap jumlah ini secara khusus, karena jumlah ular-ular dan kalajengking-kalajengking ini sesuai dengan jumlah akhlak tercela seperti kesombongan, riya, hasad, kedengkian, dendam, dan seluruh sifat lainnya. Sifat-sifat tersebut memiliki pokok-pokok terhitung, kemudian bercabang dengannya cabang-cabang yang terhitung pula, lalu cabang-cabangnya terbagi menjadi bagian-bagian. Dan sifat-sifat itu sendiri adalah hal-hal yang membinasakan (al-muhlikat), dan sifat-sifat itu sendiri yang menjelma menjadi kalajengking dan ular. Yang kuat darinya mematuk seperti patukan tanin, yang lemah mematuk seperti patukan kalajengking, dan yang berada di antara keduanya menyakiti seperti sakitan ular. Para pemilik hati dan mata batin (arbab al-qulub wa al-basha'ir) menyaksikan dengan cahaya batin sifat-sifat yang membinasakan ini beserta cabang-cabangnya, hanya saja kadar jumlahnya tidak dapat diketahui kecuali dengan cahaya kenabian. Maka hadis-hadis semisal ini memiliki makna lahiriah yang shahih dan rahasia-rahasia batin yang tersembunyi, namun di sisi para pemilik mata batin hal itu sangat jelas. Barangsiapa yang belum tersingkap baginya hakikat-hakikatnya, maka tidak sepatutnya ia mengingkari makna lahiriahnya, bahkan tingkatan iman yang paling rendah adalah membenarkan dan berserah diri (tashdiq wa taslim). Jika engkau bertanya: "Kita menyaksikan orang kafir di dalam kuburnya selama beberapa waktu dan mengawasinya, namun kita tidak menyaksikan sesuatu pun dari hal tersebut, lalu bagaimanakah bentuk pembenaran yang bertentangan dengan penyaksian ini?" Maka ketahuilah bahwa bagimu ada tiga tingkatan dalam membenarkan hal semisal ini:
إحداهما وهو الأظهر والأصح والأسلم أن تصدق بأنها موجودة وهي تلدغ الميت ولكنك لا تشاهد ذلك فإن هذه العين لا تصلح لمشاهدة الأمور الملكوتية وكل ما يتعلق بالآخرة فهو من علم الملكوت أما ترى الصحابة ﵃ كيف كانوا يؤمنون بنزول جبريل وما كانوا يشاهدونه ويؤمنون بأنه ﵇ يشاهده فإن كنت لا تؤمن بهذا فتصحيح أصل الإيمان بالملائكة والوحي أهم عليك وإن كنت آمنت به وجوزت أن يشاهد النبي مالا تشاهده الأمة فكيف لا تجوز هذا في الميت وكما أن الملك لا يشبه الآدميين والحيوانات فالحيات والعقارب التي تلدغ في القبر ليست من جنس حيات عالمنا بل هي جنس آخر وتدرك بحاسة أخرى
Tingkatan pertama—dan ini adalah yang paling jelas, paling sahih, serta paling selamat—adalah engkau membenarkan bahwa hal itu ada dan benar-benar mematuk mayat, akan tetapi engkau tidak menyaksikannya, karena mata (lahiriah) ini tidak layak untuk menyaksikan perkara-perkara alam malakut. Dan segala sesuatu yang berkaitan dengan akhirat adalah bagian dari alam malakut. Tidakkah engkau melihat para sahabat radhiyallahu 'anhum bagaimana mereka beriman kepada turunnya Malaikat Jibril padahal mereka tidak menyaksikannya, dan mereka beriman bahwa Beliau 'alaihissalam menyaksikannya? Maka jika engkau tidak beriman kepada hal ini, memperhitungkan pokok keimanan kepada malaikat dan wahyu adalah jauh lebih penting bagimu. Dan jika engkau telah beriman kepadanya serta membolehkan bahwa Nabi menyaksikan apa yang tidak disaksikan oleh umat, maka bagaimanakah engkau tidak membolehkan hal ini pada diri mayat? Dan sebagaimana malaikat tidak menyerupai manusia dan hewan, maka ular-ular dan kalajengking-kalajengking yang mematuk di dalam kubur itu bukanlah dari jenis ular-ular alam kita ini, melainkan jenis lain yang diindera dengan indera yang lain.
المقام الثاني أن تتذكر أمر النائم وأنه قد يرى في نومه حية تلدغه وهو يتألم بذلك حتى تراه يصبح في نومه ويعرق جبينه وقد ينزعج من مكانه كل ذلك يدركه من نفسه ويتأذى به كما يتأذى اليقظان وهو يشاهده وأنت ترى ظاهره ساكنا ولا ترى حواليه حية والحية موجودة في حقه والعذاب حاصل ولكنه في حقك غير مشاهد وإذا كان العذاب في ألم اللدغ فلا فرق بين حية تتخيل أو تشاهد
Tingkatan kedua: Engkau mengingat keadaan orang yang tidur, bahwa ia terkadang melihat dalam tidurnya seekor ular mematuknya dan ia merasa sakit karenanya, hingga engkau melihatnya berteriak dalam tidurnya, dahinya berkeringat, dan ia terkadang terperanjat dari tempatnya. Semua itu diindera oleh dirinya sendiri dan ia merasa tersakiti dengannya sebagaimana tersakitinya orang yang terjaga saat menyaksikannya. Padahal engkau melihat lahiriahnya tenang dan engkau tidak melihat ular di sekitarnya. Ular tersebut ada dalam hak dirinya dan azab itu terjadi, akan tetapi dalam hakmu hal itu tidak terlihat. Dan apabila azab itu terletak pada rasa sakit akibat patukan, maka tidak ada bedanya antara ular yang diimajinasikan (dirasakan secara batin) atau yang disaksikan secara lahiriah.
المقام الثالث أنك تعلم أن الحية بنفسها لا تؤلم بل الذي يلقاك منها وهو السم ثم السم ليس هو الألم بل عذابك في الأثر الذي يحصل فيك من السم فلو حصل مثل ذلك الأثر من غير سم لكان العذاب قد توفر وكان لا يمكن تعريف ذلك النوع من العذاب إلا بأن يضاف إلى السبب الذي يفضى إليه في العادة فإنه لو خلق في الإنسان لذة الوقاع مثلا من غير مباشرة صورة الوقاع لم يمكن تعريفها إلا بالإضافة إليه لتكون الإضافة للتعريف بالسبب وتكون ثمرة السبب حاصلة وإن لم تحصل صورة السبب السبب يراد لثمرته لا لذاته
Tingkatan ketiga: Engkau mengetahui bahwa ular itu sendiri tidak menyakiti, melainkan apa yang ditimbulkannya padamu yaitu racun (bisa). Kemudian racun itu sendiri bukanlah rasa sakit itu, melainkan azabmu terletak pada bekas/dampak yang terjadi pada dirimu akibat racun tersebut. Maka sekiranya dampak seperti itu terjadi tanpa adanya racun, niscaya azab itu telah terpenuhi secara sempurna. Dan tidaklah mungkin memperkenalkan jenis azab tersebut kecuali dengan disandarkan kepada sebab yang biasanya mengantarkan kepadanya. Karena sekiranya diciptakan pada diri manusia kelezatan bersetubuh (jima'), misalnya, tanpa melakukan bentuk bersetubuh itu sendiri, niscaya kelezatan itu tidak akan mungkin diperkenalkan kecuali dengan menyandarkannya kepada sebab tersebut, agar penyandaran itu bertujuan mengenalkan sebabnya, sementara buah dari sebab itu telah terwujud walaupun bentuk sebabnya tidak terjadi. Sebab itu diinginkan karena buahnya, bukan karena zatnya sendiri.
وهذه الصفات المهلكات تنقلب مؤذيات ومؤلمات في النفس عند الموت فتكون آلامها كآلام لدغ الحيات من غير وجود حيات وانقلاب الصفة مؤذية يضاهي انقلاب العشق مؤذيا عند موت المعشوق فإن كان لذيذا فطرأت حالة صار اللذيذ بنفسه مؤلما حتى يرد بالقلب وأنواع العذاب ما يتمنى معه إن لم يكن قد تنعم من العشق والوصال بل هذا بعينه أحد أنواع عذاب الميت فإنه قد سلط العشق في الدنيا على نفسه فصار يعشق ماله وعقاره وجاهه وولده وأقاربه ومعارفه ولو أخذ جميع ذلك في حياته من لا يرجو استرجاعه منه فماذا ترى يكون حاله أليس يعظم شقاؤه ويشتد عذابه ويتمنى ويقول ليته لم يكن لي مال قط ولا جاه قط فكنت لا أتاذى بفراقه فالموت عبارة عن مفارقة المحبوبات الدنيوية كلها دفعة واحدة ما حال من كان له واحد … غيب عنه ذلك الواحد فما حال من لا يفرح إلا بالدنيا فتؤخذ منه الدنيا وتسلم إلى أعدائه ثم ينضاف إلى هذا العذاب تحسره على ما فاته من نعيم الآخرة والحجاب عن الله ﷿ فإن حب غير الله يحجبه عن لقاء الله والتنعم به فيتوالى عليه ألم فراق جميع محبوباته وحسرته ما فاته من نعيم الآخرة أبد الآباد وذل الرد والحجاب عن الله تعالى وذلك هو العذاب الذي يعذب به إذ لا يتبع نار الفراق إلا نار جهنم كما قال تعالى ﴿كلا إنهم عن ربهم يومئذ لمحجوبون ثم إنهم لصالوا الجحيم﴾ وأما من لم يأنس بالدنيا ولم يحب إلا الله وكان مشتاقا إلى لقاء الله فقد تخلص من سجن الدنيا ومقاساة الشهوات فيها وقدم على محبوبه وانقطعت عنه العوائق والصوارف وتوفر عليه النعيم مع الأمن من الزوال أبد الآباد ولمثل ذلك فليعمل العاملون
Dan sifat-sifat yang membinasakan ini menjelma menjadi sesuatu yang menyakiti dan menimbulkan rasa sakit di dalam jiwa saat kematian, maka rasa sakitnya bagaikan rasa sakit patukan ular-ular tanpa adanya ular secara fisik. Berubahnya sifat menjadi menyakiti ini menyerupai berubahnya gelora cinta menjadi hal yang menyakitkan saat matinya sang kekasih. Dahulu cinta itu lezat, namun ketika timbul suatu keadaan, apa yang tadinya lezat itu sendiri menjadi hal yang menyakitkan, hingga menimpa hati berbagai jenis azab yang membuatnya berharap sekiranya ia tidak pernah bersenang-senang dengan cinta dan perjumpaan itu. Bahkan ini sendiri adalah salah satu jenis azab bagi mayat. Sebab semasa di dunia ia telah menguasakan cinta atas dirinya, sehingga ia mencintai hartanya, perhiasannya, kedudukannya, anak-anaknya, kerabatnya, dan kenalannya. Sekiranya seluruh hal itu diambil semasa hidupnya oleh seseorang yang tidak bisa diharapkan untuk mengembalikannya, bagaimanakah menurutmu keadaannya? Bukankah kesengsaraannya menjadi sangat besar, azabnya semakin dahsyat, dan ia berangan-angan seraya berkata: "Duhai, sekiranya aku tidak pernah memiliki harta dan kedudukan sama sekali, niscaya aku tidak akan tersakiti oleh perpisahan ini!" Maka kematian itu merupakan ungkapan dari perpisahan dengan seluruh hal yang dicintai di dunia secara sekaligus. Bagaimanakah keadaan orang yang hanya memiliki satu hal yang dicintai lalu hal yang satu itu dihilangkan darinya? Maka bagaimanakah keadaan orang yang tidak bergembira melainkan dengan dunia, lalu dunia itu dicabut darinya dan diserahkan kepada musuh-musuhnya? Kemudian ditambahkan pada azab ini penyesalannya atas apa yang luput darinya berupa kenikmatan akhirat dan terhalang dari Allah 'Azza wa Jalla. Sebab mencintai selain Allah menutupi dirinya dari perjumpaan dengan Allah dan bersenang-senang dengan-Nya. Maka berturut-turutlah menimpanya rasa sakit berpisah dengan seluruh kekasihnya, penyesalannya atas apa yang luput darinya berupa kenikmatan akhirat selama-lamanya, kehinaan penolakan, serta tabir penghalang dari Allah Ta'ala. Dan itulah azab yang ia diazab dengannya, sebab tidaklah mengikuti api perpisahan melainkan api neraka Jahannam, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka." (QS. Al-Muthaffifin: 15-16). Adapun orang yang tidak merasa tenteram dengan dunia, tidak mencintai melainkan hanya Allah, dan rindu untuk berjumpa dengan Allah, sungguh ia telah terbebas dari penjara dunia dan penderitaan menahan syahwat di dalamnya, lalu ia tiba di hadapan Kekasihnya. Terputuslah darinya segala rintangan dan penghalang, serta melimpahlah baginya kenikmatan beserta rasa aman dari kepunahan selama-lamanya. Dan untuk yang semisal inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal.
والمقصود أن الرجل قد يحب فرسه بحيث لو خير بين أن يؤخذ منه وبين أن تلدغه عقرب آثر الصبر على لدغ العقرب فإذن ألم فراق الفرس عنده أعظم من العقرب وحبه الفرس هو الذي يلدغه إذا أخذ منه فرسه فليستعد لهذه اللدغات فإن الموت يأخذ منه فرسه ومركبه وداره وعقاره وأهله وولده وأحبائه ومعارفه ويأخذ منه جاهه وقبوله بل يأخذ منه سمعه وبصره وأعضاءه وييأس من رجوع جميع ذلك إليه فإذا لم يحب سواه وقد أخذ جميع ذلك منه فذلك أعظم عليه من العقارب والحيات وكما لو أخذ ذلك منه وهو حي فيعظم عقابه فكذلك إذا مات لأنا قد بينا أن المعنى الذي هو المدرك للآلام واللذات لم يمت بل عذابه بعد الموت أشد لأنه في الحياة يتسلى بأسباب يشغل بها حواسه من مجالسة ومحادثة ويتسلى برجاء العود إليه ويتسلى برجاء العوض منه ولا سلوة
Maksudnya adalah bahwa seseorang terkadang sangat mencintai kudanya, sehingga sekiranya ia disuruh memilih antara kudanya diambil darinya atau dipatuk oleh kalajengking, niscaya ia lebih memilih bersabar atas patukan kalajengking. Jika demikian, rasa sakit berpisah dengan kuda baginya lebih besar daripada patukan kalajengking, dan cintanya kepada kuda itulah yang mematuknya ketika kuda itu diambil darinya. Maka hendaknya ia bersiap-siap menghadapi patukan-patukan ini, sebab kematian akan mengambil darinya kudanya, kendaraannya, rumahnya, perhiasannya, keluarganya, anaknya, para kekasihnya, dan kenalannya; kematian akan mengambil darinya kedudukannya dan penerimaan orang terhadapnya; bahkan kematian mengambil darinya pendengarannya, penglihatannya, serta anggota tubuhnya, sedang ia putus asa dari kembalinya seluruh hal itu kepadanya. Maka apabila ia tidak mencintai selain dunia padahal seluruh hal itu telah diambil darinya, hal itu lebih dahsyat baginya daripada kalajengking dan ular. Sebagaimana jika hal itu diambil darinya sewaktu ia masih hidup niscaya hukumannya menjadi besar, maka demikian pula apabila ia mati. Sebab kami telah menjelaskan bahwa makna (hakikat jiwa) yang menjadi pengindra rasa sakit dan kelezatan itu tidaklah mati, bahkan azabnya setelah kematian jauh lebih keras. Karena sewaktu hidup ia masih bisa terhibur dengan sebab-sebab yang menyibukkan inderanya berupa duduk bersama dan berbincang-bincang, terhibur dengan harapan kembalinya hal itu kepadanya, serta terhibur dengan harapan mendapat gantinya. Namun tidak ada hiburan
بعد الموت إذ قد انسد عليه طرق التسلي وحصل اليأس فإذن كل قميص له ومنديل قد أحبه بحيث كان يشق عليه لو أخذ منه فإنه يبقى متأسفا عليه ومعذبا به فإن كان مخفا في الدنيا سلم وهو المعني بقولهم نجا المخفون وإن كان مثقلا عظم عذابه وكما أن الحال من يسرق منه دينار أخف من حال من يسرق منه عشرة دنانير فكذلك حال صاحب الدرهم أخف من حال صاحب الدرهمين وهو المعنى بقوله ﷺ صاحب الدرهم أخف حسابا من صاحب الدرهمين وما من شيء من الدنيا يتخلف عنك عند الموت إلا وهو حسرة عليك بعد الموت فإن شئت فاستكثر وإن شئت فاستقلل فإن استكثرت فلست بمستكثر إلا من الحسرة وإن استقللت فلست تخفف إلا من ظهرك وإنما تكثر الحيات والعقارب في قبور الأغنياء الذين استحبوا الحياة الدنيا على الآخرة وفرحوا بها واطمأنوا إليها فهذه مقامات الإيمان في حيات القبر وعقاربه وفي سائر أنواع عذابه رأى أبو سعيد الخدري ابنا له قد مات في المنام فقال له يا بني عظني قال لا تخالف الله تعالى فيما يريد قال يا بني زدني قال يا أبت لا تطيق قال قل قال لا تجعل بينك وبين الله قميصا فما لبس قميصا ثلاثين سنة فإن قلت فما الصحيح من هذه المقامات الثلاث فأعلم أن في الناس من لم يثبت إلا الأول وأنكر ما بعده ومنهم من أنكر الأول وأثبت الثاني ومنهم من لم يثبت إلا الثالث وإنما الحق الذي انكشف لنا بطريق الاستبصار أن كل ذلك في حيز الإمكان وأن من ينكر بعض ذلك فهو لضيق حوصلته وجهله باتساع قدرة الله سبحانه وعجائب تدبيره فينكر من أفعال الله تعالى ما لم يأنس به ويألفه وذلك جهل وقصور بل هذه الطرق الثلاثة في التعذيب ممكنة والتصديق بها واجب ورب عبد يعاقب بنوع واحد من هذه الأنواع ورب عبد تجمع عليه هذه الأنواع الثلاثة نعوذ بالله من عذاب الله قليله وكثيره
setelah kematian, sebab telah tertutup baginya jalan-jalan hiburan dan telah timbul keputusasaan. Dengan demikian, setiap baju dan sapu tangan miliknya yang sangat ia cintai sekira terasa berat baginya jika diambil darinya, niscaya ia akan tetap merasa bersedih dengannya dan diazab karenanya. Jika ia adalah orang yang berbeban ringan di dunia maka ia selamat, dan itulah yang dimaksud dengan ucapan mereka: "Orang-orang yang berbeban ringan telah selamat." Namun jika ia berbeban berat, niscaya azabnya menjadi besar. Dan sebagaimana keadaan orang yang dicuri darinya satu dinar lebih ringan daripada keadaan orang yang dicuri darinya sepuluh dinar, maka demikian pula keadaan pemilik satu dirham lebih ringan daripada keadaan pemilik dua dirham. Dan itulah makna dari sabda Beliau ﷺ: "Pemilik satu dirham lebih ringan hisabnya daripada pemilik dua dirham." Tidak ada sesuatu pun dari dunia yang tertinggal darimu saat kematian melainkan menjadi penyesalan bagimu setelah kematian. Maka jika engkau mau, silakan perbanyak, dan jika engkau mau, silakan persedikit. Jika engkau memperbanyak, tidaklah engkau memperbanyak melainkan penyesalan; dan jika engkau mempersedikit, tidaklah engkau meringankan melainkan dari punggungmu sendiri. Dan hanyasanya ular-ular dan kalajengking-kalajengking itu menjadi banyak di kubur orang-orang kaya yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, bergembira dengannya, dan merasa tenteram padanya. Maka inilah tingkatan-tingkatan iman berkenaan dengan ular-ular kubur, kalajengking-kalajengkingnya, serta seluruh jenis azabnya. Abu Sa'id al-Khudri pernah melihat putranya yang telah meninggal dalam mimpi, lalu ia berkata kepadanya: "Wahai putraku, berilah aku nasihat!" Putranya menjawab: "Janganlah engkau menyelisihi Allah Ta'ala dalam apa yang Dia kehendaki." Ia berkata: "Wahai putraku, tambahkanlah untukku!" Putranya menjawab: "Wahai ayahku, engkau tidak akan sanggup." Ia berkata: "Katakanlah!" Putranya berkata: "Janganlah engkau menjadikan baju (penghalang) antara dirimu dan Allah." Maka Abu Sa'id tidak pernah lagi memakai baju (berlebihan) selama tiga puluh tahun. Jika engkau bertanya: "Apakah yang sahih dari ketiga tingkatan ini?" Maka ketahuilah bahwa di antara manusia ada yang hanya menetapkan yang pertama saja dan mengingkari apa yang setelahnya; ada yang mengingkari yang pertama dan menetapkan yang kedua; dan ada yang tidak menetapkan kecuali yang ketiga. Namun kebenaran yang tersingkap bagi kami melalui jalan mata batin (istibshar) adalah bahwa seluruhnya berada dalam ranah kemungkinan (imkan), dan bahwasanya barangsiapa mengingkari sebagian dari hal tersebut maka itu karena sempitnya kapasitas akalnya dan ketahuannya tentang luasnya kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala serta keajaiban pengurusan-Nya, sehingga ia mengingkari perbuatan-perbuatan Allah Ta'ala yang belum biasa dan familiar baginya, dan itu merupakan kebodohan dan keterbatasan. Bahkan ketiga cara pengazaban ini semuanya mungkin terjadi dan membenarkannya adalah wajib. Terkadang seorang hamba diazab dengan satu jenis dari jenis-jenis ini, dan terkadang seorang hamba dihimpun padanya ketiga jenis ini sekaligus. Kita berlindung kepada Allah dari azab Allah, baik yang sedikit maupun yang banyak.
هذا هو الحق فصدق به تقليدا فيعز على بسيط الأرض من يعرف ذلك تحقيقا والذي أوصيك به أن لا تكثر نظرك في تفصيل ذلك ولا تشتغل بمعرفته بل اشتغل بالتدبير في دفع العذاب كيفما كان فإن أهملت العمل والعبادة واشتغلت بالبحث عن ذلك كنت كمن أخذه سلطان وحبسه ليقطع يده ويجدع أنفه فأخذ طول الليل يتفكر في أنه هل يقطعه بسكين أو بسيف أو بموسى وأهمل طريق الحيلة في دفع أصل العذاب عن نفسه وهذا غاية الجهل فقد علم على القطع أن العبد لا يخلو بعد الموت من عذاب عظيم أو نعيم مقيم فينبغي أن يكون الاستعداد له فأما البحث عن تفصيل العقاب والثواب ففضول وتضييع زمان
Inilah yang haq, maka benarkanlah ia secara taklid, sebab amat langka di atas hamparan bumi ini orang yang mengetahui hal tersebut secara hakiki (tahqiq). Dan apa yang aku wasiatkan kepadamu adalah agar engkau tidak terlalu banyak mengamati rincian hal tersebut dan tidak disibukkan dengan mengetahuinya, melainkan sibuklah dengan merencanakan upaya menolak azab itu bagaimanapun bentuknya. Sebab jika engkau mengabaikan amal dan ibadah lalu sibuk menyelidiki hal tersebut, engkau seperti orang yang ditangkap oleh seorang raja lalu dipenjarakan untuk dipotong tangannya dan diiris hidungnya, kemudian sepanjang malam ia sibuk berpikir apakah raja itu akan memotongnya dengan pisau, pedang, atau pisau cukur, sedangkan ia mengabaikan cara dan kiat untuk menolak pokok azab itu dari dirinya. Dan ini adalah puncak kebodohan! Sungguh telah diketahui secara pasti bahwa seorang hamba tidak akan lepas setelah kematian dari azab yang dahsyat atau kenikmatan yang kekal, maka sepantasnya persiapan itu difokuskan untuk menghadapinya. Adapun menyelidiki rincian sisa azab dan pahala merupakan hal yang sia-sia dan membuang-buang waktu.
بيان سؤال منكر ونكير وصورتهما وضغطة القبر وبقية القول في عذاب
Penjelasan tentang pertanyaan Munkar dan Nakir, rupa keduanya, himpitan kubur, dan sisa pembahasan mengenai siksa
القبر قال أبو هريرة قَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا مات العبد أتاه ملكان أسودان أزرقان يقال لأحدهما منكر وللآخر نكير فيقولان ما كنت تقول في النبي فإن كان مؤمنا قال هو عبد الله ورسوله أشهد أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رسول الله فيقولان إن كنا لنعلم أنك تقول ذلك ثم يفسح له في قبره سبعون ذراعا في سبعين ذراعا وينور له في قبره ثم يقال له نم فيقول دعوني أرجع إلى أهلي فأخبرهم فيقال له نم فينام كنومة العروس الذي لا يوقظه إلا أحب أهله إليه حتى يبعثه الله من مضجعه ذلك وإن كان منافقا قال لا أدري
kubur. Abu Hurairah berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seorang hamba telah meninggal dunia, ia didatangi oleh dua malaikat yang hitam lagi biru mata keduanya; salah satunya dinamai Munkar dan yang lainnya Nakir. Kedua malaikat itu bertanya: 'Apa yang dahulu engkau katakan mengenai laki-laki ini (Nabi)?' Jika ia seorang mukmin, ia akan menjawab: 'Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.' Maka kedua malaikat itu berkata: 'Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau akan mengatakan hal itu.' Kemudian kuburnya dilapangkan seluas tujuh puluh hasta kali tujuh puluh hasta dan diberi penerangan di dalamnya. Lalu dikatakan kepadanya: 'Tidurlah!' Ia berkata: 'Biarkanlah aku kembali kepada keluargaku untuk memberi tahu mereka.' Maka dikatakan kepadanya: 'Tidurlah!' Lalu ia tidur sebagaimana tidurnya pengantin baru yang tidak dibangunkan kecuali oleh keluarga yang paling dicintainya, hingga Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut. Namun jika ia seorang munafik, ia akan menjawab: 'Aku tidak tahu,
كنت أسمع الناس يقولون شيئا وكنت أقوله فيقولان إن كنا لنعلم أنك تقول ذلك ثم يقال للأرض التئمي عليه فتلتئم عليه حتى تختلف فيها أضلاعه فلا يزال معذبا حتى يبعثه الله من مضجعه ذلك وعن عطاء بن يسار قال قال رسول الله لعمر بن الخطاب ﵁ يا عمر كيف بك إذا انت مت فانطلق بك قومك فقاسوا لك ثلاثة أذرع في ذراع وشبر ثم رجعوا إليك فغسلوك وكفنوك وحنطوك ثم احتملوك حتى يضعوك فيه ثم يهيلوا عليك التراب ويدفنوك فإذا انصرفوا عنك أتاك فتانا القبر منكر ونكير أصواتهما كالرعد القاصف وأبصارهما كالبرق الخاطف يجران أشعارهما ويبحثان القبر بأنيابهما فتلتلاك وترتراك كيف بك عند ذلك يا عمر فقال عمر ويكون معى مثل عقلي الآن قال ﴿نعم﴾ قال إذن أكفيكهما وهذا نص صريح في أن العقل لا يتغير بالموت إنما يتغير البدن والأعضاء فيكون الميت عاقلا مدركا عالما بالآلام واللذات كما كان لا يتغيرمن عقله شيء وليس العقل المدرك هذه الأعضاء بل هو شيء باطن ليس له طول ولا عرض بل الذي لا ينقسم في نفسه هو المدرك للأشياء ولو تناثرت أعضاء الإنسان كلها ولم يبق إلا الجزء المدرك الذى لا يتجزأ ولا ينقسم لكان الإنسان العاقل بكماله قائما باقيا وهو كذلك بعد الموت فإن ذلك الجزء لا يحله الموت ولا يطرأ عليه العدم وقال محمد بن المنكدر بلغنى أن الكافر يسلط عليه في قبره دابة عمياء صماء في يدها سوط من حديد في رأسه مثل غرب الجمل تضربه به إلى يوم القيامة لا تراه فتتقيه ولا تسمع صوته فترحمه وقال أبو هريرة إذا وضع الميت في قبره جاءت أعماله الصالحة فاحتوشته فإن أتاه من قبل رأسه جاء قراءته للقرآن وإن أتاه من قبل رجليه جاء قيامه وإن أتاه من قبل يده قالت اليدان والله لقد كان يبسطني للصدقة والدعاء لا سبيل لكم عليه وإن جاء من قيل فيه جاء ذكره وصيامه وكذلك تقف الصلاة والصبر ناحية فيقول أما إني لو رأيت خللا لكنت أنا صاحبه قال سفيان تجاحش عنه أعماله الصالحة كما يجاحش الرجل عن أخيه وأهله وولده ثم يقال له عند ذلك بارك الله لك في مضجعك فنعم الأخلاء أخلاؤك ونعم الأصحاب أصحابك وعن حذيفة قال كنا مع رسول ﷺ في جنازة فجلس على رأس القبر ثم جعل ينظر فيه ثم قال يضغط المؤمن في هذا ضغطة ترد منه حمائله وقالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن للقبر ضغطة ولو سلم أو نجا منها أحد لنجا سعد بن معاذ أحمد وعن أنس قال توفيت زينب بنت رسول الله ﷺ وكانت امرأة مسقامة فتبعها رسول الله ﷺ فساءنا حاله فلما انتهينا إلى القبر فدخله انتقع وجهه صفرة فلما خرج أسفر وجهه فقلنا يا رسول الله رأينا منك شأنا فمم ذلك قال ذكرت ضغطة ابنتي وشدة عذاب القبر فأتيت فأخبرت أن الله قد خفف عنها وقد ضغطت ضغطة سمع صوتها ما بين الخافقين
dahulu aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya.' Maka kedua malaikat itu berkata: 'Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau akan mengatakan demikian.' Kemudian dikatakan kepada bumi: 'Himpitlah dia!' Maka bumi pun menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya berselisih (bertautan). Lalu ia terus-menerus disiksa hingga Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut." Dan dari 'Atha' bin Yasar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar bin Al-Khaththab ﵁, "Wahai Umar, bagaimanakah keadaanmu jika engkau meninggal dunia, lalu kaummu pergi membawamu, lalu mereka mengukur untukmu tiga hasta kali satu hasta satu jengkal, kemudian mereka kembali kepadamu, memandikanmu, mengafanimu, memberi wewangian (hanuth) padamu, kemudian memikulmu hingga menempatkanmu di dalamnya, lalu menimbunkan tanah atasmu dan menguburkanmu. Apabila mereka telah berpaling darimu, datanglah kepadamu dua malaikat penguji kubur, Munkar dan Nakir, yang suara keduanya bagaikan petir yang menggelegar dan penglihatan keduanya bagaikan kilat yang menyambar, keduanya menyeret rambutnya dan menggali kubur dengan gigi taringnya, lalu mengguncang dan menggoncangkanmu; bagaimanakah keadaanmu saat itu wahai Umar?" Maka Umar bertanya, "Apakah akalku tetap bersamaku sebagaimana sekarang?" Beliau menjawab, "Ya." Umar berkata, "Jika demikian, aku cukup menghadapi keduanya." Dan ini adalah teks yang tegas bahwa akal tidak berubah dengan kematian; hanyasanya yang berubah adalah tubuh dan anggota-anggota badan, sehingga si mati tetap berakal, memiliki persepsi (mudrik), serta menyadari rasa sakit dan kenikmatan sebagaimana keadaannya semula, tiada sesuatu pun dari akalnya yang berubah. Dan akal yang mempersepsi itu bukanlah anggota-anggota tubuh ini, melainkan suatu hakikat batin yang tidak memiliki panjang maupun lebar, bahkan sesuatu yang tidak terbagi pada dirinya itulah yang mempersepsi segala sesuatu. Sekiranya seluruh anggota tubuh manusia bercerai-berai dan tidak tersisa melainkan bagian perseptif yang tidak terbagi dan tidak terpecah itu, niscaya manusia yang berakal itu secara sempurna tetap berdiri dan kekal; dan demikianlah keadaannya setelah kematian, karena bagian itu tidak dihinggapi oleh kematian dan tidak ditimpa oleh ketiadaan. Muhammad bin Al-Munkadir berkata: Telah sampai kepadaku bahwa orang kafir di dalam kuburnya dikuasakan atasnya seekor binatang (makhluk) yang buta lagi tuli, di tangannya terdapat cambuk besi yang kepalanya sebesar timba unta; ia memukulnya dengan cambuk itu hingga hari kiamat, ia tidak melihatnya sehingga bisa bertindak waspada darinya, dan tidak mendengar suaranya sehingga bisa merahmatinya. Abu Hurairah berkata: Apabila si mati diletakkan di dalam kuburnya, datanglah amal-amal salehnya mengepungnya. Jika siksa mendatangi dari arah kepalanya, datanglah bacaan Al-Qur'annya; jika mendatangi dari arah kedua kakinya, datanglah ibadah shalat malamnya (qiyam); jika mendatangi dari arah kedua tangannya, kedua tangan itu berkata: Demi Allah, sungguh ia dahulu mengulurkanku untuk bersedekah dan berdoa, tidak ada jalan bagi kalian atasnya; dan jika datang dari arah mulutnya, datanglah dzikir dan puasanya. Demikian pula shalat dan kesabaran berdiri di satu sisi seraya berkata: Adapun aku, sekiranya aku melihat ada celah, niscaya akulah yang menahannya. Sufyan berkata: Amal-amal salehnya membela dan mempertahankannya sebagaimana seorang laki-laki membela sanak saudara, keluarga, dan anaknya. Kemudian dikatakan kepadanya saat itu: Semoga Allah memberkahi tempat tidurmu, sebaik-baik sahabat adalah sahabat-sahabatmu dan sebaik-baik teman adalah teman-temanmu. Dari Hudzaifah, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ pada suatu jenazah, lalu beliau duduk di sisi kepala kubur, kemudian beliau mulai memandangnya seraya bersabda: Seorang mukmin akan dihimpit di dalam kubur ini dengan satu himpitan yang meremukkan persendiannya. Dan 'Aisyah ﵂ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan, sekiranya ada seseorang yang selamat atau terbebas darinya, niscaya Saad bin Mu'adz akan selamat darinya. Dan dari Anas, ia berkata: Zainab putri Rasulullah ﷺ meninggal dunia, dan ia adalah seorang wanita yang sering sakit-sakitan. Lalu Rasulullah ﷺ mengiringinya, dan keadaan beliau membuat kami bersedih. Ketika kami sampai di kubur dan beliau memasukinya, wajah beliau berubah menjadi pucat kekuning-kuningan. Ketika beliau keluar, wajah beliau kembali berseri-seri. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu dari engkau, mengapa demikian? Beliau bersabda: Aku teringat akan himpitan kubur putriku dan dahsyatnya siksa kubur, maka aku berdoa hingga diberitahukan kepadaku bahwa Allah telah meringankan darinya, padahal ia telah dihimpit dengan satu himpitan yang suaranya terdengar di antara timur dan barat.
الباب الثامن فيما عرف من أحوال الموتى بالمكاشفة في المنام
Bab Kedelapan: Tentang Keadaan Orang-Orang Mati yang Diketahui Melalui Mukasyafah dalam Mimpi
اعلم أن أنوار البصائر المستفادة من كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ ومن مناهج الاعتبار تعرفنا أحوال الموتى على الجملة وانقسامهم إلى سعداء وأشقياء ولكن حال زيد وعمرو بعينه فلا ينكشف أصلا فإنا إن عولنا على إيمان زيد وعمرو فلا ندري على ماذا مات وكيف ختم له وإن عولنا على صلاحه الظاهر فالتقوى محله القلب وهو غامض يخفي على صاحب التقوى فكيف على غيره فلا حكم لظاهر الصلاح دون التقوى الباطن قال الله تعالى إنما يتقبل الله من المتقين فلا يمكن معرفة حكم زيد وعمرو إلا بمشاهدته ومشاهدة ما يجري عليه وإذا مات فقد تحول من عالم الملك والشهادة إلى عالم الغيب والملكوت فلا يرى بالعين الظاهرة وإنما يرى بعين أخرى خلقت تلك العين في قلب كل إنسان ولكن جعل عليها غشاوة كثيفة من شهواته وأشغاله الدنيوية فصار لا يبصر بها ولا يتصور أن يبصر بها شيئا من عالم الملكوت ما لم تنقشع تلك الغشاوة عن عين قلبه
Ketahuilah bahwa cahaya basirah (mata hati) yang dipetik dari Kitab Allah Ta'ala, Sunnah Rasul-Nya ﷺ, serta metode-metode perenungan (i'tibar) memberitahukan kepada kita keadaan orang-orang mati secara umum dan pembagian mereka menjadi orang-orang yang berbahagia (sa'ada) dan orang-orang yang celaka (asyqiya'). Namun keadaan Zaid atau 'Amr secara personal tidak dapat tersingkap sama sekali. Sebab jika kita mengandalkan iman Zaid dan 'Amr, kita tidak tahu di atas keadaan apa ia meninggal dan bagaimana akhir hidupnya. Dan jika kita mengandalkan kesalehan lahiriahnya, maka ketakwaan itu tempatnya di dalam hati, yang merupakan sesuatu yang samar dan tersembunyi bahkan bagi orang yang bertakwa itu sendiri, apalagi bagi orang lain. Maka tidak ada hukum bagi kesalehan lahiriah tanpa adanya ketakwaan batin. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa." Karena itu, tidak mungkin mengetahui hukum/keadaan Zaid dan 'Amr secara pasti kecuali dengan menyaksikannya dan menyaksikan apa yang terjadi atas dirinya. Dan apabila ia meninggal, ia telah berpindah dari alam Mulk dan Syahadah (alam nyata) menuju alam Gaib dan Malakut, sehingga ia tidak dapat dilihat dengan mata lahiriah. Ia hanya dapat dilihat dengan mata lain, yang mana mata tersebut diciptakan di dalam hati setiap manusia, namun di atasnya diletakkan penutup (ghisyawah) yang tebal yang terdiri dari syahwat-syahwat dan kesibukan-kesibukan dunianya, sehingga ia tidak lagi dapat melihat dengannya dan tidak terbayangkan dapat melihat sesuatu dari alam Malakut selama penutup itu belum tersingkap dari mata hatinya.
ولما كانت الغشاوة منقشعة عن أعين الأنبياء ﵈ فلا جرم نظروا إلى الملكوت وشاهدوا عجائبه والموتى في عالم الملكوت فشاهدوهم وأخبروا ولذلك رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ضغطة القبر في حق سعد ابن معاذ وفي حق زينب ابنته وكذلك حال أبي جابر لما استشهد إذ أخبره أن الله أقعده بين يديه ليس بينهما ستر ومثل هذه المشاهدة لا مطمع فيها لغير الأنبياء والأولياء الذين تقرب درجتهم منهم
Dan ketika penutup tersebut tersingkap dari mata para nabi ﵈, tak pelak lagi mereka dapat memandang ke alam Malakut dan menyaksikan keajaiban-keajaibannya. Sementara orang-orang mati berada di alam Malakut, maka para nabi menyaksikan mereka dan memberitakannya. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ menyaksikan himpitan kubur pada diri Saad bin Mu'adz dan pada putri beliau Zainab. Demikian pula keadaan Abu Jabir ketika gugur sebagai syahid, saat beliau memberitahukan kepadanya bahwa Allah menempatkannya di hadapan-Nya tanpa ada dinding pembatas di antara keduanya. Dan penyaksian (musyahadah) seperti ini tidak dapat diharap oleh selain para nabi dan para wali yang derajatnya dekat dengan mereka.
إنما الممكن من أمثالنا مشاهدة أخرى ضعيفة إلا أنها أيضا مشاهدة نبوية وأعني بها المشاهدة في المنام وهي من أنوار النبوة قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءاً من النبوة وهو أيضا انكشاف لا يحصل إلا بانقشاع الغشاوة عن القلب فلذلك لا يوثق إلا برؤيا الرجل الصالح الصادق ومن كثر كذبه لم تصدق رؤياه ومن كثر فساده ومعاصيه أظلم قلبه فكان ما يراه أضغات أحلام ولذلك أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بالطهارة عند النوم لينام طاهرا وهو إشارة إلى طهارة الباطن أيضا فهو الأصل وطهارة الظاهر بمنزلة التتمة والتكملة لها ومهما صفا الباطن انكشف في حدقة القلب ما سيكون في المستقبل كما انكشف دخول مكة لرسول الله ﷺ في النوم حتى نزل قوله تعالى لقد صدق الله ورسوله الرؤيا بالحق وقلما يخلوا الإنسان عن منامات دلت على أمور فوجدها صحيحة والرؤيا ومعرفة الغيب في النوم من عجائب صنع الله تعالى وبدائع فطرة الآدمي وهو من أوضح الأدلة على عالم الملكوت والخلق غافلون عنه كغفلتهم عن سائر عجائب القلب وعجائب العالم والقول في حقيقة الرؤيا من دقائق علوم المكاشفة فلا يمكن ذكره علاوة على علم المعاملة ولكن القدر الذي يمكن ذكره ههنا مثال يفهمك المقصود وهو أن تعلم أن القلب مثاله مثال مرآة تتراءى فيها الصور وحقائق الأمور وأن كل ما قدره الله تعالى من ابتداء خلق العالم إلى آخره مسطور ومثبت في خلق خلقه الله تعالى يعبر عنه تارة باللوح وتارة بالكتاب المبين وتارة بإمام مبين كما ورد في القرآن فجميع
Hanyasanya yang memungkinkan bagi orang-orang seperti kita adalah penyaksian lain yang lemah, namun ia juga merupakan penyaksian kenabian, yang aku maksudkan dengannya adalah penyaksian di dalam tidur (mimpi), dan itu termasuk bagian dari cahaya kenabian. Rasulullah ﷺ bersabda: "Mimpi yang saleh adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian." Dan itu juga merupakan singkapan (inkisyaf) yang tidak akan diperoleh kecuali dengan tersingkapnya penutup dari hati. Oleh karena itu, tidak dapat dipercaya melainkan mimpi laki-laki yang saleh lagi jujur. Barang siapa yang banyak kedustaannya, maka mimpinya tidak akan benar. Dan barang siapa yang banyak kerusakan dan kemaksiatannya, maka hatinya menjadi gelap sehingga apa yang dilihatnya hanyalah mimpi-mimpi yang kacau (adhghatsu ahlam). Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk bersuci ketika hendak tidur agar seseorang tidur dalam keadaan suci, yang mana itu merupakan isyarat kepada kesucian batin pula, karena batin itulah yang pokok sedangkan kesucian lahir berada pada kedudukan penyempurna baginya. Manakala batin telah jernih, niscaya tersingkaplah pada pupil mata hati apa yang bakal terjadi di masa depan, sebagaimana tersingkapnya peristiwa masuknya kota Makkah bagi Rasulullah ﷺ dalam tidur beliau, hingga turun firman Allah Ta'ala: "Sungguh Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya." Dan jarang sekali manusia terlepas dari mimpi-mimpi yang menunjukkan perkara-perkara lalu ia mendapatinya benar. Mimpi dan pengenalan terhadap hal gaib di dalam tidur termasuk dari keajaiban ciptaan Allah Ta'ala dan keindahan fitrah manusia, serta merupakan salah satu dalil paling jelas tentang alam Malakut, sementara manusia lalai darinya sebagaimana kelalaian mereka terhadap seluruh keajaiban hati dan keajaiban alam. Pembahasan mengenai hakikat mimpi termasuk dari kelembutan ilmu Mukasyafah, sehingga tidak memungkinkan untuk disebutkan sebagai tambahan atas ilmu Mu'amalah. Akan tetapi, kadar yang dapat disebutkan di sini adalah sebuah perumpamaan yang akan memahamkanmu tentang maksud tersebut, yaitu hendaklah engkau mengetahui bahwa perumpamaan hati adalah seperti cermin tempat terpantulnya gambar-gambar dan hakikat-hakikat perkara; dan bahwa segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta'ala sejak awal penciptaan alam hingga akhirnya telah tertulis dan ditetapkan pada suatu ciptaan yang diciptakan Allah Ta'ala, yang kadang-kadang diistilahkan dengan Lauh, kadang-kadang dengan Kitab Mubin, dan kadang-kadang dengan Imam Mubin sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an. Maka seluruh
ما جرى في العالم وما سيجرى مكتوب فيه ومنقوش عليه نقشا لا يشاهد بهذه العين ولا تظنن أن ذلك اللوح من خشب أو حديد أو عظم وأن الكتاب من كاغد أو رق بل ينبغي أن تفهم قطعا أن لوح الله لا يشبه لوح الخلق وكتاب الله لا يشبه كتاب الخلق كما أن ذاته وصفاته لا تشبه ذات الخلق وصفاتهم بل إن كنت تطلب له مثالا يقربه إلى فهمك فأعلم أن ثبوت المقادير في اللوح يضاهي ثبوت كلمات القرآن وحروفه في دماغ حافظ القرآن وقلبه فإنه مسطور فيه حتى كأنه حين يقرؤه ينظر إليه ولو فتشت دماغه جزءا جزءا لم تشاهد من ذلك الخط حرفا وإن كان ليس هناك خط يشاهد ولا حرف ينظر فمن هذا النمط ينبغي أن تفهم كون اللوح منقوشا بجميع ما قدره الله تعالى وقضاه واللوح في المثال كمرآة ظهر فيها الصور فلو وضع في مقابلة المرآة مرآة أخرى لكانت صورة تلك المرآة تتراءى في هذه إلا أن يكون بينهما حجاب فالقلب مرآة تقبل رسوم العلم واللوح مرآة رسوم العلم كلها موجودة فيها واشتغال القلب بشهواته ومقتضى حواسه حجاب مرسل بينه وبين مطالعة اللوح اللوح الذي هو من عالم الملكوت فإن هبت ريح حركت هذا الحجاب ورفعته تلألأ في مرآة القلب شيء من عالم الملكوت كالبرق الخاطف وقد يثبت ويدوم وقد لا يدوم وهو الغالب وما دام متيقظا فهو مشغول بما تورده الحواس عليه من عالم الملك والشهادة وهو حجاب عن عالم الملكوت
apa yang telah terjadi di alam dan apa yang akan terjadi telah tertulis di dalamnya dan terukir padanya dengan ukiran yang tidak dapat disaksikan dengan mata lahiriah ini. Dan janganlah engkau mengira bahwa Lauh itu terbuat dari kayu, besi, atau tulang, dan bahwa Kitab itu dari kertas atau kulit. Melainkan hendaknya engkau memahami secara pasti bahwa Lauh Allah tidak menyerupai lauh ciptaan manusia dan Kitab Allah tidak menyerupai kitab ciptaan manusia, sebagaimana Zat dan Sifat-Nya tidak menyerupai zat dan sifat makhluk-Nya. Bahkan jika engkau mencari perumpamaan yang mendekatkannya ke pemahamanmu, ketahuilah bahwa menetapnya takdir-takdir di dalam Lauh menyerupai menetapnya kata-kata Al-Qur'an dan huruf-hurufnya di dalam otak dan hati seorang penghafal Al-Qur'an, karena ia tersurat di dalamnya hingga seolah-olah ketika ia membacanya, ia memandangnya. Sekiranya engkau memeriksa otaknya bagian demi bagian, niscaya engkau tidak melihat sepatah huruf pun dari tulisan itu, meskipun di sana tidak ada tulisan yang terlihat dan huruf yang terpandang. Dari bentuk inilah hendaknya engkau memahami keberadaan Lauh yang terukir dengan seluruh apa yang telah ditakdirkan dan ditetapkan oleh Allah Ta'ala. Lauh dalam perumpamaan ini bagaikan cermin yang padanya tampak gambar-gambar. Sekiranya di hadapan cermin itu diletakkan cermin lain, niscaya gambar cermin itu akan terpantul pada cermin ini, kecuali jika di antara keduanya terdapat penutup (hijab). Maka hati adalah cermin yang menerima lukisan-lukisan ilmu, sedangkan Lauh adalah cermin yang seluruh lukisan ilmu tersimpan di dalamnya. Kesibukan hati dengan syahwat-syahwatnya dan tuntutan indranya merupakan hijab yang terbentang antara dirinya dan penelaahan terhadap Lauh yang berasal dari alam Malakut itu. Apabila berembus angin yang menggerakkan hijab ini dan mengangkatnya, berbinarlah pada cermin hati sesuatu dari alam Malakut bagaikan kilat yang menyambar; kadang-kadang ia menetap dan bertahan, dan kadang-kadang tidak bertahan dan inilah yang umumnya terjadi. Selama manusia terjaga, ia disibukkan oleh apa yang disetorkan oleh indra-indranya kepadanya dari alam Mulk dan Syahadah, yang mana itu menjadi hijab dari alam Malakut.
ومعنى النوم أن توكد الحواس عليه فلا تورده على القلب فإذا تخلص منه ومن الخيال وكان صافيا في جوهره ارتفع الحجاب بينه وبين اللوح المحفوظ فوقع في قلبه شيء مما في اللوح كما تقع الصورة من مرآة في مرآة أخرى إذا ارتفع الحجاب بينهما إلا أن النوم مانع سائر الحواس عن العمل وليس مانعا للخيال عن عمله وعن تحركه فما ويقع في القلب يبتدره الخيال فيحاكيه بمثال يقاربه وتكون المتخيلات أثبت في الحفظ من غيرها فيبقى الخيال في الحفظ فإذا انتبه لم يتذكر إلا الخيال فيحتاج المعبر أن ينظر إلى هذا الخيال حكاية أي معنى من المعانى فيرجع إلى المعاني بالمناسبة التي بين المتخيل والمعاني وأمثلة ذلك ظاهرة عند من نظر في علم التعبير ويكفيك مثال واحد وهو أن رجلا قال لابن سيرين رأيت كأن بيدي خاتماً أختم به أفواه الرجال وفروج النساء فقال أنت مؤذن تؤذن قبل الصبح في رمضان قال صدقت فانظر أن روح الختم هو المنع ولأجله يراد الختم وإنما ينكشف للقلب حال الشخص من اللوح المحفوظ كما هو عليه وهو كونه مانعا للناس من الأكل والشرب ولكن الخيال ألف المنع عند الختم بالخاتم فثمتله بالصورة الخيالية التي تتضمن روح المعنى ولا يبقى في الحفظ إلا الصورة الخيالية
Makna tidur adalah bahwa indra-indra ditahan sehingga tidak menyetorkan kesan kepada hati. Apabila hati telah terbebas darinya dan dari khayal (imajinasi) serta jernih esensinya, terangkatlah hijab antara dirinya dan Lauh Mahfuzh, sehingga jatuhlah ke dalam hatinya sesuatu dari apa yang ada di dalam Lauh sebagaimana jatuhnya bayangan dari satu cermin ke cermin lain apabila hijab di antara keduanya terangkat. Hanya saja tidur menahan seluruh indra dari bekerja namun tidak menahan khayal dari kerjanya dan gerakannya. Maka apa yang jatuh ke dalam hati segera disambar oleh khayal, lalu disimbolkan dengan perumpamaan yang mendekatinya. Dan bentukan khayal (mutakhayyilat) itu lebih kuat tersimpan dalam ingatan dibanding yang lainnya, sehingga khayal itu tetap tinggal dalam ingatan. Ketika ia terbangun, ia tidak mengingat kecuali gambaran khayal itu, maka penakwil mimpi (mu'abbir) perlu melihat gambaran khayal ini sebagai simbolik dari makna yang mana, lalu ia mengembalikan ke makna aslinya berdasarkan persesuaian antara khayal dan makna tersebut. Perumpamaan hal itu sangat jelas bagi orang yang mendalami ilmu ta'wil mimpi, dan cukuplah bagimu satu contoh: yaitu ada seorang laki-laki berkata kepada Ibn Sirin, "Aku bermimpi seolah-olah di tanganku terdapat cincin yang kugunakan untuk memeterai mulut para laki-laki dan kemaluan para wanita." Maka Ibn Sirin menjawab, "Engkau adalah seorang muazin yang mengumandangkan azan sebelum subuh pada bulan Ramadan." Orang itu berkata, "Engkau benar." Maka perhatikanlah bahwa ruh/substansi dari memeterai adalah pencegahan, dan demi itulah pemeteraian dimaksudkan. Hanyasanya yang tersingkap bagi hati tentang keadaan orang tersebut dari Lauh Mahfuzh adalah sebagaimana adanya, yaitu keberadaannya sebagai pencegah manusia dari makan dan minum; namun khayal telah terbiasa memisalkan pencegahan dengan memeterai menggunakan cincin, maka khayal memvisualisasikannya dengan bentuk khayali yang mengandung ruh makna tersebut, dan tidak tersisa dalam ingatan melainkan gambaran khayali itu.
فهذه نبذة يسيرة من بحر علم الرؤيا الذي لا تنحصر عجائبه وكيف لا وهو أخو الميت وإنما الموت هو عجب من العجائب وهذا لأنه يشبهه من وجه ضعيف أثر في كشف الغطاء عن عالم الغيب حتى صار النائم يعرف ما سيكون في المستقبل فماذا نرى في الموت الذي يخرق الحجاب ويكشف الغطاء بالكلية حتى يرى الإنسان عند انقطاع النفس من غير تأخير نفسه إما محفوفة بالأنكال والمخازي والفضائح نعوذ بالله من ذلك وإما مكنوفا بنعيم مقيم وملك كبير لا آخر له وعند هذا يقال للأشقياء وقد انكشف الغطاء ﴿لقد كنت في غفلة من هذا فكشفنا عنك غطاءك فبصرك اليوم حديد﴾ ويقال أفسخر هذا أم أنتم لا تبصرون اصلوها فاصبروا أو لا تبصروا سواء عليكم إنما تجزون ما كنتم تعملون وإليهم الإشارة بقوله تعالى ﴿وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون﴾ فأعلم العلماء وأحكم الحكماء ينكشف له عقيب الموت من العجائب والآيات ما لم يخطر قط بباله ولا اختلج به ضميره فلو لم يكن للعاقل هم وغم إلا الفكرة في خطر تلك الحال أن الحجاب عماذا يرتفع وما الذي ينكشف عنه الغطاء من
Maka ini adalah sekelumit penjelasan ringkas dari lautan ilmu mimpi yang keajaibannya tidak terhitung. Dan bagaimana tidak, sedangkan mimpi itu adalah saudara dari kematian, sementara kematian itu sendiri merupakan salah satu keajaiban dari berbagai keajaiban. Hal itu karena mimpi menyerupainya dari satu sisi yang lemah yang berpengaruh dalam tersingkapnya penutup dari alam gaib, hingga orang yang tidur menjadi tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Lalu bagaimana pandangan kita mengenai kematian yang merobek hijab dan menyingkap penutup secara menyeluruh, hingga manusia pada saat terputusnya napas tanpa penundaan melihat dirinya: bisa jadi dikelilingi oleh belenggu-belenggu, kehinaan, dan keaiban—kita berlindung kepada Allah dari hal itu—atau dilindungi oleh kenikmatan yang kekal dan kerajaan besar yang tidak ada akhirnya. Pada saat itulah dikatakan kepada orang-orang yang celaka ketika penutup telah tersingkap: "Sungguh engkau dahulu lalai dari ini, maka Kami singkapkan darimu penutupmu, maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." Dan dikatakan: "Apakah ini sihir, ataukah kamu tidak melihat? Masuklah ke dalamnya, lalu bersabarlah kamu atau tidak bersabar, sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan." Dan kepada merekalah diisyaratkan dengan firman-Nya Ta'ala: "Dan jelaslah bagi mereka dari Allah apa yang dahulu tidak mereka sangka-sangka." Maka orang yang paling alim di antara para ulama dan paling bijaksana di antara para hukama akan tersingkap baginya setelah kematian berbagai keajaiban dan tanda-tanda yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya dan tidak pernah terbersit dalam hatinya. Sekiranya seorang yang berakal tidak memiliki kerisauan dan kesedihan melainkan pemikiran tentang besarnya bahaya keadaan tersebut—tentang apakah hijab itu akan terangkat dan apakah yang tersingkap penutupnya darinya: dari
شقاوة لازمة أم سعادة دائمة لكان ذلك كافياً في استغراق جميع العمر
kecelakaan yang menetap ataukah kebahagiaan yang abadi—niscaya hal itu sudah cukup untuk menghabiskan seluruh sisa usianya.
والعجب من غفلتنا وهذه العظائم بين أيدينا وأعجب من ذلك فرحنا بأموالنا وأهلينا وبأسبابنا وذريتنا بل بأعضائنا وسمعنا وبصرنا مع أنا نعلم مفارقة جميع ذلك يقينا ولكن أين من ينفث روح القدس في روعة فيقول ما قال لسيد النبيين أحبب من أحببت فإنك مفارقه وعش ما شئت فإنك ميت واعمل ما شئت فإنك مجزي به فلا جرم لما كان ذلك مكشوفا له بعين اليقين كان في الدنيا كعابر سبيل لم يضع لبنة على لبنة ولا قصبة على قصبة ولم يخلف دينارا ولا درهما ولم يتخذ حبيبا ولا خليلا نعم قال لو كنت متخذاً خليلاً لاتخذت أبا بكر خليلاً ولكن صاحبكم خليل الرحمن فبين أن خلة الرحمن تخللت باطن قلبه وأن حبه تمكن من حبة قلبه فلم يترك فيه متسعا لخليل ولا لحبيب وقد قال لأمته ﴿إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله﴾ فإنما أمته من اتبعه وما اتبعه إلا من أعرض عن الدنيا وأقبل على الآخرة فإنه ما دعا إلا إلى الله واليوم الآخر وما صرف إلا عن الدنيا والحظوظ العاجلة فبقدر ما أعرضت عن الدنيا وأقبلت على الآخرة فقد سلكت سبيله الذي سلكه وبقدر ما سلكت سبيله فقد أتبعته وبقدر ما اتبعته فقد صرت من أمته وبقدر ما أقبلت على الدنيا عدلت عن سبيله ورغبت عن متابعته والتحقت بالذين قال الله تعالى فيهم ﴿فأما من طغى وآثر الحياة الدنيا فإن الجحيم هي المأوى﴾ فلو خرجت من مكمن الغرور وأنصفت نفسك يا رجل وكلنا ذلك الرجل لعلمت أنك من حين تصبح إلى حين تمسي لا تسعى إلا في الحظوظ العاجلة ولا تتحرك ولا تسكن إلا لعاجل الدنيا ثم تطمع أن تكون غدا من أمته وأتباعه وما أبعد ظنك وما أبرد طمعك ﴿أفنجعل المسلمين كالمجرمين ما لكم كيف تحكمون﴾ ولنرجع إلى ما كنا فيه وبصدده فقد امتد عنان الكلام إلى غير مقصده ولنذكر الآن من المنامات الكاشفة لأحوال الموتى ما يعظم الانتفاع به إذ ذهبت النبوة وبقيت المبشرات وليس ذلك إلا المنامات
Alangkah anehnya kelalaian kita padahal perkara-perkara besar ini ada di hadapan kita. Dan yang lebih aneh dari itu adalah kegembiraan kita dengan harta benda, keluarga, sarana-sarana, serta keturunan kita, bahkan dengan anggota tubuh, pendengaran, dan penglihatan kita, padahal kita mengetahui secara yakin perpisahan dengan seluruh hal itu. Namun di manakah orang yang Ruhul Qudus membiuskan ke dalam jiwanya lalu ia mengucapkan apa yang diucapkan kepada penghulu para nabi: "Cintailah siapa yang engkau cintai karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, hiduplah sekehendakmu karena sesungguhnya engkau akan mati, dan beramallah sekehendakmu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan dengannya." Maka tak pelak lagi, manakala hal itu tersingkap bagi beliau dengan 'ainul yaqin, beliau hidup di dunia bagaikan seorang pengembara yang menyeberang jalan: tidak pernah meletakkan satu bata di atas bata lainnya, tidak meletakkan satu buluh di atas buluh lainnya, tidak meninggalkan dinar maupun dirham, serta tidak mengambil kekasih (habib) maupun teman dekat (khalil). Ya, beliau bersabda: "Sekiranya aku boleh mengambil seorang khalil, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil, akan tetapi sahabat kalian ini adalah khalil Ar-Rahman (kekasih Allah)." Beliau menjelaskan bahwa kecintaan mendalam (khullah) kepada Ar-Rahman telah menyatu dalam batin hatinya dan bahwa cinta-Nya telah bersemayam di lubuk hatinya, sehingga tidak menyisakan ruang bagi kekasih maupun teman dekat. Beliau pun telah bersabda kepada umatnya: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu." Maka sesungguhnya umat beliau hanyalah orang yang mengikuti beliau, dan tidak ada yang mengikuti beliau melainkan orang yang berpaling dari dunia dan menghadap ke akhirat. Sebab beliau tidak pernah menyeru melainkan kepada Allah dan hari akhirat, dan tidak pernah memalingkan melainkan dari dunia dan bagian-bagian yang menyegerakan. Maka sejauh mana engkau berpaling dari dunia dan menghadap ke akhirat, sejauh itulah engkau telah menempuh jalan yang ditempuh beliau; dan sejauh mana engkau menempuh jalan beliau, sejauh itulah engkau telah mengikuti beliau; serta sejauh mana engkau mengikuti beliau, sejauh itulah engkau termasuk dari umat beliau. Dan sejauh mana engkau menghadap ke dunia, sejauh itulah engkau berpaling dari jalan beliau, menyukai selain dari petunjuk beliau, dan bergabung dengan orang-orang yang Allah Ta'ala firmankan tentang mereka: "Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka Jahim-lah tempat tinggalnya." Sekiranya engkau keluar dari sarang tipu daya dan berlaku adil kepada dirimu sendiri wahai manusia—dan kita semua adalah orang tersebut—niscaya engkau mengetahui bahwa sejak pagi hingga sore hari engkau tidak berupaya melainkan untuk bagian-bagian sesaat dan tidak bergerak serta tidak berdiam melainkan untuk keduniaan yang menyegerakan, lalu engkau mendambakan besok menjadi bagian dari umat dan pengikut beliau! Alangkah jauhnya persangkaanmu dan alangkah hampa ketamakanmu! "Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimana kamu mengambil keputusan?" Dan marilah kita kembali kepada apa yang sedang kita bahas, sebab tali kendali pembicaraan telah memanjang ke luar dari maksud utama. Dan marilah sekarang kita sebutkan sebagian dari mimpi-mimpi yang menyingkap keadaan orang-orang mati yang sangat besar kemanfaatannya, karena kenabian telah berlalu dan yang tersisa hanyalah kabar-kabar gembira (mubasyirat), yang mana itu tiada lain adalah mimpi-mimpi.
بيان منامات تكشف عن أحوال الموتى والأعمال النافعة في الآخرة
Penjelasan tentang Mimpi-Mimpi yang Menyingkap Keadaan Orang-Orang Mati dan Amal-Amal yang Bermanfaat di Akhirat
فمن ذلك رؤيا رسول الله ﷺ وقد قال ﵇ من رآني في المنام فقد رآني حقا فإن الشيطان لا يتمثل بي وقال عمر بن الخطاب ﵁ رأيت رسول الله ﷺ في المنام فرأيته لا ينظر إلى فقلت يا رسول الله ما شأني فالتفت إلي وقال ألست المقبل وأنت صائم قال والذي نفسي بيده لا أقبل امرأة وأنا صائم أبدا وقال العباس ﵁ كنت ودا لعمر فاشتهيت أن أراه في المنام فما رأيته إلا عند رأس الحول فرأيته يمسح العرق عن جبينه وهو يقول هذا أوان فراغي إن كان عرشي ليهد لولا أني لقيته رءوفا رحيما وقال الحسن بن علي قال لي علي ﵁ أن رسول الله ﷺ سنح لي الليلة في منامي فقلت يا رسول الله ما لقيت من أمتك قال أدع عليهم فقلت اللهم أبدلني بهم من هو خير لي منهم وأبدلهم بي من هو شر لهم مني فخرج فضربه ابن ملجم وقال بعض الشيوخ رأيت رسول الله ﷺ فقلت يا رسول الله استغفر لي فأعرض عني فقلت يا رسول الله إن سفيان بن عيينة حدثنا عن محمد بن المنكدر
Di antaranya adalah mimpi melihat Rasulullah ﷺ, dan sungguh beliau ﵇ telah bersabda: "Barang siapa melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku secara nyata, karena setan tidak dapat menyerupai diriku." Umar bin Al-Khaththab ﵁ berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ dalam mimpi, lalu aku melihat beliau tidak memandang kepadaku. Maka aku berkata: "Wahai Rasulullah, ada apa denganku?" Beliau menoleh kepadaku seraya bersabda: "Bukankah engkau mencium (istrimu) sedangkan engkau dalam keadaan berpuasa?" Umar berkata: "Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku tidak akan mencium wanita sedangkan aku berpuasa selama-lamanya." Dan Al-Abbas ﵁ berkata: Aku adalah sahabat dekat bagi Umar, maka aku sangat berkeinginan untuk melihatnya dalam mimpi. Aku tidak melihatnya melainkan pada penghujung tahun, lalu aku melihatnya sedang mengusap keringat dari dahinya seraya berkata: "Inilah saat senggangku, hampir saja singgahsanaku runtuh sekiranya aku tidak menemui-Nya sebagai Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Dan Al-Hasan bin Ali berkata: Ali ﵁ berkata kepadaku: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ hadir kepadaku malam ini dalam mimpiku, lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, betapa banyak kesusahan yang kutemui dari umatmu! Beliau bersabda: Berdoalah keburukan atas mereka. Maka aku berdoa: Ya Allah, gantikanlah untukku orang yang lebih baik bagiku daripada mereka, dan gantikanlah untuk mereka orang yang lebih buruk bagi mereka daripada diriku." Lalu beliau keluar, kemudian Ibn Muljam memukulnya. Dan sebagian syekh berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ lalu aku berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan untukku." Namun beliau berpaling dariku. Maka aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Sufyan bin Uyainah telah menyampaikan hadis kepada kami dari Muhammad bin Al-Munkadir,
عن جابر بن عبد الله أنك لم تسأل شيئا قط فقلت لا فأقبل علي فقال غفر الله لك وروى عن العباس بن عبد المطلب قال كنت مواخيا لأبي لهب مصاحبا له فلما مات وأخبر الله عنه بما أخبر حزنت عليه وأهمني أمره فسألت الله تعالى حولا أن يريني إياه في المنام قال فرأيته يلتهب نارا فسألته عن حاله فقال صرت إلى النار في العذاب لا يخفف عني ولا يروح إلا ليلة الاثنين في كل الأيام والليالي قلت وكيف ذلك قال ولد في تلك الليلة محمد ﷺ فجاءتني أميمة فبشرتني بولادته آمنة إياه ففرحت به وأعتقت وليدة لي فرحا به فأثابني الله بذلك أن رفع عني العذاب في كل ليلة اثنين وقال عبد الواحد بن زيد خرجت حاجا فصحبني رجل كان لا يقوم ولا يقعد ولا يتحرك ولا يسكن إلا صلى على النبي ﷺ فسألته عن ذلك فقال أخبرك عن ذلك خرجت أول مرة إلى مكة ومعي أبي فلما انصرفنا نمت في بعض المنازل فبينما أنا نائم إذ أتاني آت فقال لي قم فقد أمات الله أباك وسود وجهه قال فقمت مذعورا فكشفت الثوب عن وجهه فإذا هو ميت أسود الوجه فداخلني من ذلك رعب فبينما أنا في ذلك الغم إذ غلبتني عيني فنمت فإذا على رأس أبي أربعة سودان معهم أعمدة حديد إذ أقبل رجل حسن الوجه بين ثوبين أخضرين فقال لهم تنحوا فمسح وجهه بيده ثم أتاني فقال قم فقد بيض الله وجه أبيك فقلت له من أنت بأبي أنت وأمي فقال أنا محمد قال فقمت فكشفت الثوب عن وجه أبي فإذا هو أبيض فما تركت الصلاة بعد ذلك عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعن عمر بن عبد العزيز قال رأيت رسول الله ﷺ وأبو بكر وعمر ﵄ جالسان عنده فسلمت وجلست فبينما أنا جالس إذ أتى بعلي ومعاوية فأدخلا بيتا وأجيف عليهما الباب وأنا أنظر فما كان بأسرع من أن خرج علي ﵁ وهو يقول قضى لي ورب الكعبة وما كان بأسرع من أن خرج معاوية على أثره وهو يقول غفر لي ورب الكعبة واستيقظ ابن عباس ﵄ مرة من نومه فاسترجع وقال قتل الحسين والله وكان ذلك قبل قتله فأنكره أصحابه فقال رأيت رسول الله ﷺ ومعه زجاجة من دم فقال ألا تعلم ما صنعت أمتي بعدي قتلوا بني الحسين وهذا دمه ودم أصحابه أرفعهما إلى الله تعالى فجاء الخبر بعد أربعة وعشرين يوما بقتله في اليوم الذي رآه ورؤى الصديق ﵁ فقيل له إنك كنت تقول أبدا في لسانك هذا أوردني الموارد فماذا فعل الله بك قال قلت به لا إله إلا الله فأوردني الجنة
dari Jabir bin Abdillah bahwa engkau tidak pernah dimintai sesuatu sama sekali lalu engkau menjawab 'tidak'." Maka beliau menghadap kepadaku seraya bersabda: "Semoga Allah mengampunimu." Dan diriwayatkan dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib, ia berkata: Aku dahulu bersaudara dan bersahabat dengan Abu Lahab. Ketika ia meninggal dan Allah memberitakan tentang dirinya apa yang telah diberitakan-Nya, aku bersedih atasnya dan merasa prihatin dengan urusannya. Lalu aku memohon kepada Allah Ta'ala selama setahun agar memperlihatkannya kepadaku dalam mimpi. Ia berkata: Maka aku melihatnya bernyala-nyala oleh api, lalu aku bertanya kepadanya tentang keadaannya. Ia menjawab: "Aku berada di neraka dalam siksaan, tidak diringankan dariku dan tidak diberi keringanan melainkan pada malam Senin di setiap hari dan malam." Aku bertanya: "Bagaimana bisa demikian?" Ia menjawab: "Pada malam itulah Muhammad ﷺ dilahirkan, lalu Tsuwaibah datang kepadaku memberitahukan kabar gembira atas kelahirannya dari Aminah, maka aku bergembira dengannya dan memerdekakan budak wanitaku karena gembira dengannya. Maka Allah memberi balasan kepadaku dengan diangkatnya siksa dariku pada setiap malam Senin." Dan Abdul Wahid bin Zaid berkata: Aku keluar menunaikan ibadah haji, lalu aku disertai oleh seorang laki-laki yang tidak berdiri, tidak duduk, tidak bergerak, dan tidak berdiam melainkan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal itu, lalu ia berkata: Aku akan memberitahukan hal itu kepadamu. Aku keluar pertama kali ke Makkah bersama ayahku. Ketika kami kembali, aku tidur di salah satu persinggahan. Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba seseorang mendatangiku dan berkata: "Bangunlah, sungguh Allah telah mematikan ayahmu dan menghitamkan wajahnya." Ia berkata: Maka aku bangun dengan terkejut, lalu kubuka kain dari wajahnya, ternyata ia telah meninggal dengan wajah yang hitam. Maka masuklah rasa takut ke dalam diriku dari peristiwa itu. Ketika aku berada dalam kedukaan tersebut, mataku tertidur, lalu aku melihat di atas kepala ayahku ada empat orang berkulit hitam membawa gada-gada besi. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang elok wajahnya mengenakan dua pakaian hijau, lalu berkata kepada mereka: "Menjauhlah!" Lalu ia mengusap wajah ayahku dengan tangannya, kemudian mendatangi aku seraya berkata: "Bangunlah, sungguh Allah telah memutihkan wajah ayahmu." Aku bertanya kepadanya: "Siapakah engkau, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu?" Beliau menjawab: "Aku adalah Muhammad." Ia berkata: Maka aku bangun lalu kubuka kain dari wajah ayahku, ternyata wajahnya menjadi putih berseri. Maka aku tidak pernah meninggalkan shalawat setelah itu kepada Rasulullah ﷺ. Dan dari Umar bin Abdul Aziz, ia berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ sedangkan Abu Bakar dan Umar ﵄ sedang duduk di sisi beliau. Maka aku mengucapkan salam dan duduk. Ketika aku sedang duduk, tiba-tiba Ali dan Mu'awiyah didatangkan, lalu keduanya dimasukkan ke dalam sebuah rumah dan pintu ditutup atas keduanya sedangkan aku memandangnya. Tidak berapa lama, Ali ﵁ keluar seraya berkata: "Telah diputuskan hukum untuk memenangku, demi Tuhan Pemilik Ka'bah." Dan tidak berapa lama setelahnya, Mu'awiyah keluar di belakangnya seraya berkata: "Telah diampuni untukku, demi Tuhan Pemilik Ka'bah." Dan Ibn Abbas ﵄ pernah terbangun dari tidurnya, lalu ia mengucapkan istirja' dan berkata: "Husain telah dibunuh, demi Allah." Hal itu terjadi sebelum pembunuhannya, maka sahabat-sahabatnya mengingkarinya. Lalu ia berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ membawa botol kaca berisi darah, seraya bersabda: "Tidakkah engkau tahu apa yang dilakukan umatku setelahku? Mereka telah membunuh putraku Husain, dan ini adalah darahnya serta darah sahabat-sahabatnya yang kuangkat kepada Allah Ta'ala." Maka beritanya datang setelah dua puluh empat hari tentang pembunuhannya pada hari yang dilihatnya itu. Dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ﵁ terlihat dalam mimpi, lalu dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya engkau dahulu selalu berkata tentang lidahmu ini: Lidah inilah yang memasukanku ke tempat-tempat binasa, maka apakah yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Aku telah mengucapkan padanya: La ilaha illallah, maka Dia memasukkanku ke dalam surga."
بيان منامات المشايخ رحمة الله عليهم أجمعين
Penjelasan tentang Mimpi-Mimpi Para Syekh (Guru Sufi), Semoga Rahmat Allah Tercurah atas Mereka Sekalian
قال بعض المشايخ رأيت متمما الدورقي في المنام فقلت يا سيدي ما فعل الله بك فقال دير بي في الجنان فقيل لي يا متمم هل استحسنت فيها شيئا قلت لا يا سيدي فقال لو استحسنت منها شيئا لوكلتك إليه ولم أوصلك إلى ورؤى يوسف بن الحسين في المنام فقيل له ما فعل الله بك قال غفر لي قيل بماذا قال ما خلطت جدا بهزل وعن منصور بن إسماعيل قال رأيت عبد الله بن البزار في النوم فقلت ما فعل الله بك قال أوقفني بين يديه فغفر لي كل ذنب أقررت به إلا ذنبا واحدا فإني استحييت أن أقر به فاوقفني في العرق حتى سقط لحم وجهي فقلت
Sebagian syekh berkata: Aku melihat Mutammim Ad-Dauraqi dalam mimpi, lalu aku berkata: "Wahai tuanku, apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Aku dikelilingkan di surga-surga, lalu dikatakan kepadaku: Wahai Mutammim, apakah engkau menganggap indah sesuatu di dalamnya? Aku menjawab: Tidak, wahai tuanku. Maka Dia berfirman: Sekiranya engkau menganggap indah sesuatu darinya, niscaya Aku pasrahkan engkau kepadanya dan tidak Ku-sampaikan engkau kepada-Ku." Dan Yusuf bin Al-Husain terlihat dalam mimpi, lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia mengampuniku." Dikatakan: "Dengan sebab apa?" Ia menjawab: "Aku tidak pernah mencampuradukkan kesungguhan dengan keseriusan yang main-main (senda gurau)." Dan dari Manshur bin Ismail, ia berkata: Aku melihat Abdullah bin Al-Bazzar dalam tidur, lalu aku berkata: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia mendudukkanku di hadapan-Nya lalu mengampuni bagiku setiap dosa yang aku akui, kecuali satu dosa, karena aku malu untuk mengakuinya. Maka Dia memberdirikanku dalam keringat hingga berjatuhanlah daging wajahku." Lalu aku bertanya:
ما كان ذلك لذنب قال نظرت إلى غلام جميل فاستحسنته فاستحييت من الله أن أذكره وقال أبو جعفر الصيدلاني رأيت رسول الله ﷺ في النوم وحوله جماعة من الفقراء فبينما نحن كذلك إذ انشقت السماء فنزل ملكان أحدهما بيده طشت وبيد الآخر إبريق فوضع الطشت بين يدي رسول الله ﷺ فغسل يده ثم أمر حتى غسلوا ثم وضع الطشت بين يدي فقال أحدهما للآخر لا تصب على يده فإنه ليس منهم فقلت يا رسول الله أليس قد روى عنك أنك قلت المرء مع من أحب قال بلى قلت يا رسول الله فإني أحبك وأحب هؤلاء الفقراء فقال ﷺ صب على يده فإنه منهم وقال الجنيد رأيت في المنام كأني أتكلم على الناس فوقف على ملك فقال أقرب ما تقرب به المتقربون إلى الله تعالى ماذا فقلت عمل خفي بميزان وفي قولي الملك وهو يقول كلام موفق والله ورؤى مجمع في النوم فقيل له كيف رأيت الأمر فقال رأيت الزاهدين في الدنيا ذهبوا بخير الدنيا والآخرة وقال رجل من أهل الشام للعلاء بن زياد رأيتك في النوم كأنك في الجنة فنزل عن مجلسه وأقبل عليه ثم قال لعل الشيطان أراد أمرا فعصمت منه فأشخص رجلا يقتلني وقال محمد بن واسع الرؤيا تسر المؤمن ولا تغره وقال صالح بن بشير رأيت عطاء السلمي في النوم فقلت له رحمك الله لقد كنت طويل الحزن في الدنيا قال أما والله لقد أعقبني ذلك راحة طويلة وفرحا دائما فقلت في أي الدرجات أنت فقال مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا وسئل زرارة بن أبي أوفى في المنام أي الأعمال أفضل عندكم فقال الرضا وقصر الأمل وقال يزيد بن مذعور رأيت الأوزاعي في المنام فقلت يا أبا عمرو دلني على عمل أتقرب به إلى الله تعالى قال ما رأيت هناك درجة أرفع من درجة العلماء ثم درجة المحزونين قال وكان يزيد شيخا كبيرا فلم يزل يبكي حتى أظلمت عيناه وقال ابن عيينة رأيت أخي في المنام فقلت يا أخي ما فعل الله بك فقال كل ذنب استغفرت منه غفر لي وما لم استغفر منه لم يغفر لي وقال على الطلحي رأيت في المنام امرأة لا تشبه نساء الدنيا فقلت من أنت فقالت حوراء فقلت زوجيني نفسك قالت اخطبني إلى سيدي وأمهرني قلت وما مهرك قالت حبس نفسك عن آفاتها وقال إبراهيم بن إسحق الحربي رأيت زبيدة في المنام فقلت ما فعل الله بك قالت غفر لي فقلت لها بما أنفقت في طريق مكة قالت أما النفقات التي أنفقتها رجعت أجورها إلى أربابها وغفر لي ببنتي ولما مات سفيان الثوري رؤى في المنام فقيل له ما فعل بك قال وضعت أول قدمي على الصراط والثاني في الجنة وقال أحمد بن أبي الحواري رأيت فيما يرى النائم جارية ما رأيت أحسن منها وكان يتلألأ وجهها نورا فقلت لها مماذا ضوء وجهك قالت تذكر تلك الليلة التي بكيت فيها قلت نعم قالت أخذت دمعك فمسحت به وجهي فمن ثم ضوء وجهي كما ترى وقال الكتاني رأيت الجنيد في المنام فقلت له ما فعل الله بك قال طاحت تلك الإشارات وذهبت تلك العبارات وما حصلنا إلا على ركعتين كنا نصليهما في الليل ورؤيت زبيدة في المنام فقيل لها ما فعل الله بك قالت غفر لي بهذه الكلمات الأربع لا إله إلا الله أفني بها عمري لا إله إلا الله أدخل بها قبري لا إله إلا الله أخلو بها وحدي لا إله إلا الله ألقى بها ربي ﷿ وقال يا بشر أما استحييب منى كنت تخافنى كل ذلك الخوف ورؤى أبو سليمان في النوم فقيل له ما فعل الله بك قال رحمنى ورؤى بشر في المنام فقيل له ما فعل الله بك قال رحمني وما كان شيء أضر على من إشارات القوم إلى وقال أبو بكر الكتاني رأيت في النوم شابا لم أر أحسن منه فقلت له من أنت قال التقوى قلت فأين تسكن قال كل قلب حزين ثم التفت فإذا امرأة سوداء فقلت من أنت قالت أنا السقم قلت فأين
"Dosa apakah itu?" Ia menjawab: "Aku pernah memandang seorang pemuda yang tampan lalu aku mengagumi keindahannya, maka aku malu kepada Allah untuk menyebutkannya." Dan Abu Ja'far Ash-Shaidalami berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ dalam tidur sedangkan di sekeliling beliau terdapat sekelompok fuqara. Ketika kami sedang demikian, tiba-tiba langit terbelah lalu turunlah dua malaikat: salah satunya memegang bejana dan yang lainnya memegang kendi. Lalu bejana diletakkan di hadapan Rasulullah ﷺ, maka beliau membasuh tangan beliau, kemudian beliau memerintahkan hingga mereka membasuh tangan. Lalu bejana diletakkan di hadapanku, maka salah satu dari kedua malaikat berkata kepada yang lainnya: "Jangan tuangkan air ke tangannya karena ia bukan dari golongan mereka." Maka aku berkata: "Wahai Rasulullah, bukankah telah diriwayatkan dari engkau bahwa engkau bersabda: Seseorang itu bersama orang yang dicintainya?" Beliau menjawab: "Benar." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintaimu dan mencintai fuqara ini." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Tuangkan air ke tangannya, karena sesungguhnya ia dari golongan mereka." Dan Al-Junaid berkata: Aku bermimpi seolah-olah aku sedang berbicara kepada manusia, lalu seorang malaikat berdiri di atasku seraya berkata: "Apakah hal paling dekat yang digunakan oleh orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala?" Maka aku menjawab: "Amal yang tersembunyi dengan pertimbangan yang cermat." Dan pada perkataanku itu, malaikat tersebut berkata: "Perkataan orang yang diberi taufik, demi Allah." Dan Majma' terlihat dalam tidur, lalu dikatakan kepadanya: "Bagaimana engkau melihat perkara di sana?" Ia menjawab: "Aku melihat orang-orang yang zuhud di dunia telah pergi membawa kebaikan dunia dan akhirat." Dan seorang laki-laki dari penduduk Syam berkata kepada Al-'Ala' bin Ziyad: "Aku melihatmu dalam tidur seolah-olah engkau berada di surga." Maka ia turun dari tempat duduknya dan menghadap kepadanya, lalu berkata: "Boleh jadi setan menginginkan sesuatu lalu aku dijaga darinya, maka ia mengutus seorang laki-laki untuk membunuhku." Dan Muhammad bin Wasi' berkata: "Mimpi itu menggembirakan orang mukmin namun tidak memperdayakannya." Dan Shalih bin Basyir berkata: Aku melihat 'Atha' As-Sulami dalam tidur, lalu aku berkata kepadanya: "Semoga Allah merahmatimu, sungguh engkau dahulu sangat lama bersedih di dunia." Ia menjawab: "Ketahuilah, demi Allah, hal itu telah membuahkan bagiku kenyamanan yang panjang dan kegembiraan yang abadi." Aku bertanya: "Di derajat manakah engkau berada?" Ia menjawab: "Bersama para nabi, orang-orang shiddiq, para syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." Dan Zurarah bin Abi Aufa ditanya dalam mimpi: "Amal apakah yang paling utama di sisi kalian?" Ia menjawab: "Keridaan (ridha) dan pendek cita-cita." Dan Yazid bin Madz'ur berkata: Aku melihat Al-Auza'i dalam mimpi, lalu aku berkata: "Wahai Abu 'Amr, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang dengannya aku mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala." Ia menjawab: "Aku tidak melihat di sana derajat yang lebih tinggi daripada derajat para ulama, kemudian derajat orang-orang yang bersedih." Ia berkata: Dan Yazid adalah seorang syekh yang sudah tua, ia tidak henti-hentinya menangis hingga matanya kabur. Dan Ibn Uyainah berkata: Aku melihat saudaraku dalam mimpi, lalu aku berkata: "Wahai saudaraku, apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Setiap dosa yang aku memohon ampunan darinya telah diampuni untukku, dan apa yang tidak aku mohonkan ampunan darinya tidak diampuni untukku." Dan Ali At-Thalhi berkata: Aku melihat dalam mimpi seorang wanita yang tidak menyerupai wanita-wanita dunia, lalu aku berkata: "Siapakah engkau?" Ia menjawab: "Bidadari." Aku berkata: "Nikahkanlah dirimu denganku." Ia menjawab: "Pinanglah aku kepada Tuanku dan berikanlah maharku." Aku bertanya: "Apakah maharmu?" Ia menjawab: "Menahan dirimu dari keburukannya." Dan Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi berkata: Aku melihat Zubaidah dalam mimpi, lalu aku berkata: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia mengampuniku." Aku bertanya kepadanya: "Apakah dengan sebab harta yang engkau infakkan di jalan Makkah?" Ia menjawab: "Adapun infak-infak yang aku infakkan, pahala-pahalnya telah kembali kepada pemilik-pemiliknya, namun aku diampuni karena putriku." Dan ketika Sufyan At-Tsauri meninggal dunia, ia terlihat dalam mimpi lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang diperbuat padamu?" Ia menjawab: "Aku meletakkan satu kakiku di atas Shiraath dan yang kedua di dalam surga." Dan Ahmad bin Abil Hawari berkata: Aku melihat dalam tidur seorang hamba wanita yang belum pernah aku melihat yang lebih cantik darinya, wajahnya berkilauan cahaya. Maka aku berkata kepadanya: "Dari manakah cahaya wajahmu ini?" Ia menjawab: "Apakah engkau ingat malam di mana engkau menangis?" Aku menjawab: "Ya." Ia berkata: "Engkau mengambil air matamu lalu engkau usapkan ke wajahku, maka dari sinilah cahaya wajahku sebagaimana yang engkau lihat." Dan Al-Kattani berkata: Aku melihat Al-Junaid dalam mimpi, lalu aku berkata kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Telah lenyap isyarat-isyarat itu dan telah hilang ungkapan-ungkapan itu, dan tidak ada yang kami hasilkan melainkan dua rakaat yang dahulu kami kerjakan di waktu malam." Dan Zubaidah terlihat dalam mimpi lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia mengampuniku dengan empat kalimat ini: Laa ilaaha illallaah aku habiskan dengannya umurku, Laa ilaaha illallaah aku masuk dengannya ke kuburku, Laa ilaaha illallaah aku menyendiri dengannya di kesendirianku, Laa ilaaha illallaah aku menemui dengannya Tuhanku ﷿." Dan Dia berfirman: "Wahai Bishr, apakah engkau tidak malu kepada-Ku? Engkau takut kepada-Ku dengan ketakutan yang begitu besar." Dan Abu Sulaiman terlihat dalam tidur lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia merahmatiku." Dan Bishr terlihat dalam mimpi lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia merahmatiku, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih berbahaya bagiku daripada isyarat-isyarat kaum (manusia) kepadaku." Dan Abu Bakar Al-Kattani berkata: Aku melihat dalam tidur seorang pemuda yang belum pernah aku melihat yang lebih tampan darinya, lalu aku berkata kepadanya: "Siapakah engkau?" Ia menjawab: "Aku adalah Takwa." Aku bertanya: "Di manakah engkau tinggal?" Ia menjawab: "Di setiap hati yang bersedih." Kemudian aku menoleh, tiba-tiba ada seorang wanita hitam, lalu aku berkata: "Siapakah engkau?" Ia menjawab: "Aku adalah Penyakit." Aku bertanya: "Di manakah engkau tinggal?"
تسكنين قالت كل قلب فرح مرح قال فانتبهت وتعاهدت أن لا أضحك إلا غلبة وقال أبو سعيد الخراز رأيت في المنام كأن إبليس وثب على فأخذت العصا لأضربه فلم يفزع منها فهتف بي هاتف إن هذا لا يخاف من هذه وإنما يخاف من نور يكون في القلب وقال المسوحى رأيت إبليس في النوم يمشى عريانا فقلت ألا تستحي من الناس فقال بالله هؤلاء ناس لو كانوا من الناس ما كنت ألعب بهم طرفي النهار كما يتلاعب الصبيان بالكرة بل الناس قوم غير هؤلاء قد أسقموا جسمي وأشار بيده إلى أصحابنا الصوفية وقال أبو سعيد الخراز كنت في دمشق فرأيت في المنام كان النبي ﷺ جاءني متكئا على أبي بكر وعمر ﵄ فجاء فوقف على وأنا أقول شيئا من الأصوات وأدق في صدري فقال شر هذا أكثر من ٢ خيره وعن ابن عيينة قال رأيت سفيان الثوري في النوم كأنه في الجنة يطير من شجرة إلى شجرة يقول لمثل هذا فليعمل العاملون فقلت له أوصني قال أقلل من معرفة الناس وروى أبو حاتم الرازي عن قبيصة بن عقبة قال رأيت سفيان الثوري فقلت ما فعل الله بك فقال نظرت إلى ربي كفاحا فقال لي … هنيئا رضائي عنك يا ابن سعيد فقد كنت قواما إذا أظلم الدجى … بعبرة مشتاق وقلب عميد فدونك فاختر أي قصر أردته … وزرني فإني منك غير بعيد
Ia menjawab: 'Di setiap hati yang bergembira lagi bersuka ria.' Ia berkata: Maka aku terbangun dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak tertawa kecuali jika tidak tertahankan. Dan Abu Said Al-Kharraz berkata: Aku melihat dalam mimpi seolah-olah Iblis menerpaku, lalu aku mengambil tongkat untuk memukulnya, namun ia tidak terkejut darinya. Lalu ada penyeru yang menyeruku: 'Sesungguhnya makhluk ini tidak takut pada tongkat ini, melainkan ia hanya takut pada cahaya yang ada di dalam hati.' Dan Al-Masuhi berkata: Aku melihat Iblis dalam tidur sedang berjalan bertelanjang, maka aku berkata: 'Apakah engkau tidak malu dari manusia?' Ia menjawab: 'Demi Allah, apakah mereka ini manusia? Sekiranya mereka itu manusia, niscaya aku tidak akan mempermainkan mereka sepanjang hari sebagaimana anak-anak mempermainkan bola. Melainkan manusia adalah kaum selain mereka, yang telah membuat tubuhku sakit.' Dan ia mengisyaratkan dengan tangannya kepada sahabat-sahabat kami para sufi. Dan Abu Said Al-Kharraz berkata: Aku berada di Damaskus, lalu aku melihat dalam mimpi seolah-olah Nabi ﷺ mendatangiku seraya bersandar pada Abu Bakar dan Umar ﵄. Lalu beliau datang dan berdiri di atasku sedangkan aku sedang menyanyikan sebagian suara dan memukul dadaku. Maka beliau bersabda: 'Keburukan hal ini lebih banyak daripada kebaikannya.' Dan dari Ibn Uyainah, ia berkata: Aku melihat Sufyan At-Tsauri dalam tidur seolah-olah ia berada di surga, terbang dari satu pohon ke pohon lainnya seraya mengucapkan: 'Untuk yang serupa inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal.' Maka aku berkata kepadanya: 'Berilah aku wasiat.' Ia berkata: 'Sedikitkanlah dari mengenali manusia.' Dan Abu Hatim Ar-Razi merawikan dari Qabishah bin Uqbah, ia berkata: Aku melihat Sufyan At-Tsauri, lalu aku berkata: 'Apa yang Allah perbuat padamu?' Ia menjawab: Aku memandang Rabbku secara berhadapan, lalu Dia berfirman kepadaku: 'Selamat atas keridaan-Ku atasmu wahai Ibn Said! Sungguh engkau dahulu rajin bangun ibadah di malam hari ketika kegelapan gulita… dengan tetesan air mata orang yang rindu dan hati yang terikat cinta… Maka ambillah dan pilih olehmu istana mana saja yang engkau inginkan… dan kunjungilah Aku, karena sesungguhnya Aku darimu tidaklah jauh.'
ورؤي الشبلي بعد موته بثلاثة أيام فقيل له ما فعل الله بك قال ناقشني حتى أيست فلما رأى يأسي تغمدني برحمته ورؤى بني عامر بعد موته في المنام فقيل له ما فعل الله بك قال غفر لي وجعلني حجة على المحبين ورؤى الثوري في المنام فقيل له ما فعل الله بك قال رحمني فقيل له ما حال عبد الله بن المبارك فقال هو ممن يلج على ربه في كل يوم مرتين ورؤى بعضهم فسئل عن حاله فقال حاسبونا فدققوا ثم منوا فأعتقوا ورؤى مالك بن أنس فقيل ما فعل الله بك قال غفر لي بكلمة كان يقولها عثمان بن عفان ﵁ عند رؤية الجنازة سبحان الحي الذي لا يموت ورؤى في الليلة التي مات فيها الحسن البصري كأن أبواب السماء مفتحة وكأن مناديا ينادي ألا إن الحسن البصري قدم على الله وهو عنه راض ورؤى الجاحظ فقيل له ما فعل الله بك فقال ولا تكتب بخطك غير شيء … يسرك في القيامة أن تراه
Dan Asy-Syibli terlihat tiga hari setelah kematiannya, lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia menghisabku secara teliti hingga aku berputus asa. Ketika Dia melihat keputusasaanku, Dia melingkupiku dengan rahmat-Nya." Dan Ibn Amir terlihat setelah kematiannya dalam mimpi, lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia mengampuniku dan menjadikanku hujah atas para pencinta." Dan At-Tsauri terlihat dalam mimpi, lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia merahmatiku." Dikatakan kepadanya: "Bagaimana keadaan Abdullah bin Al-Mubarak?" Ia menjawab: "Ia termasuk orang yang masuk menemui Rabbnya dalam sehari dua kali." Dan sebagian mereka terlihat lalu ditanya tentang keadaannya, maka ia menjawab: "Mereka menghisab kami lalu menelitinya dengan sangat detail, kemudian Mereka menganugerahkan karunia lalu memerdekakan." Dan Malik bin Anas terlihat, lalu dikatakan: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab: "Dia mengampuniku karena satu kalimat yang dahulu diucapkan oleh Utsman bin Affan ﵁ ketika melihat jenazah: Maha Suci Zat Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati." Dan pada malam meninggalnya Al-Hasan Al-Bashri, terlihat seolah-olah pintu-pintu langit terbuka dan seolah-olah ada penyeru yang menyeru: "Ketahuilah, sesungguhnya Al-Hasan Al-Bashri telah datang menghadap Allah dan Allah rida kepadanya." Dan Al-Jahiz terlihat, lalu dikatakan kepadanya: "Apa yang Allah perbuat padamu?" Maka ia menjawab: "Dan janganlah engkau menulis dengan tulisan tanganmu selain sesuatu… yang membahagiakanmu di hari kiamat kelak ketika engkau melihatnya."
ورأى الجنيد إبليس في المنام عريانا فقال ألا تستحي من الناس فقال وهؤلاء ناس الناس أقوام في مسجد الشونيزيه قد أضنوا جسدي وأحرقوا كبدي قال الجنيد فلما انتبهت غدوت إلى المسجد فرأيت جماعة قد وضعوا رءوسهم على ركبهم يتفكرون فلما رأوني قالوا لا يغرنك حديث الخبيث ورؤى النصر أباذي بمكة بعد وفاته في النوم فقيل له ما فعل الله بك قال عوتبت عتاب الأشراف ثم نوديت يا أبا القاسم بعد الاتصال انفصال فقلت لا يا ذا الجلال فما وضعت في اللحد حتى لحقت بربي ورأى عتبة الغلام حوراء في المنام على صورة حسنة فقالت يا عتبة أنا لك عاشقة فانظر لا تعمل من الأعمال شيئا فيحال بيني وبينك فقال عتبة طلقت الدنيا ثلاثا لا رجعة لي عليها حتى ألقاك وقيل رأى أيوب السختياني جنازة عاص فدخل الدهليز كيلا يصلي عليها فرأى الميت بعضهم في المنام فقيل له ما فعل الله بك قال غفر لي وقال قل لأيوب قل لو أنتم تملكون خزائن رحمة ربي إذا لأمسكتم خشية الإنفاق وقال بعضهم رأيت في الليلة التي مات فيها
Al-Junaid melihat Iblis dalam mimpi telanjang, lalu beliau bertanya, "Apakah engkau tidak malu kepada manusia?" Iblis menjawab, "Apakah mereka itu manusia? Manusia sesungguhnya adalah kaum di Masjid Asy-Syuniziyyah yang telah menyiksaku dan membakar hatiku." Al-Junaid berkata, "Ketika aku terbangun, aku pergi pagi-pagi ke masjid itu, lalu aku melihat sekelompok orang yang meletakkan kepala mereka di atas lutut mereka seraya bertafakur. Ketika mereka melihatku, mereka berkata, 'Janganlah perkataan si jahat (Iblis) itu memperdayamu.'" Dan An-Nashrabadzi terlihat dalam mimpi di Makkah setelah wafatnya, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang telah Allah perbuat padamu?" Ia menjawab, "Aku ditegur dengan teguran orang-orang mulia, kemudian aku dipanggil: 'Wahai Abu Al-Qasim, setelah tersambung (itishal) apakah ada perpisahan (infishal)?' Maka aku menjawab, 'Tidak, wahai Dzul Jalal (Pemilik Keagungan).' Maka tidaklah aku diletakkan di dalam liang lahad hingga aku menyusul Tuhanku." Dan 'Utbah Al-Ghulam melihat seorang bidadari dalam mimpi dengan rupa yang sangat indah, lalu bidadari itu berkata, "Wahai 'Utbah, aku jatuh cinta kepadamu, maka perhatikanlah jangan sampai engkau melakukan suatu amalan yang dapat menghalangi antara aku dan engkau." 'Utbah berkata, "Aku telah menalak dunia tiga kali tanpa ada rujuk bagiku hingga aku menemuimu." Dan dikatakan bahwa Ayyub As-Sikhtiyani melihat jenazah seorang pelaku maksiat, lalu beliau masuk ke lorong rumah agar tidak menyalatkannya. Kemudian sebagian orang melihat si mayit dalam mimpi, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang telah Allah perbuat padamu?" Ia menjawab, "Dia telah mengampuniku, dan Dia berfirman: 'Katakanlah kepada Ayyub: Katakanlah, "Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya kamu tahan karena takut membelanjakannya."'" Dan sebagian mereka berkata: "Aku melihat pada malam meninggalnya…"
داود الطائي نورا وملائكة نزولا وملائكة صعودا فقلت أي ليلة هذه فقالوا ليلة مات فيها داود الطائي وقد زخرفت الجنة لقدوم روحه
Dawood Ath-Tha'i ada cahaya, malaikat-malaikat yang turun dan malaikat-malaikat yang naik. Maka aku bertanya, "Malam apakah ini?" Mereka menjawab, "Malam di mana Dawood Ath-Tha'i meninggal, dan surga telah dihiasi untuk menyambut kedatangan ruhnya."
وقال أبو سعيد الشحام رأيت سهلا الصعلوكي في المنام فقلت أيها الشيخ قال دع التشييخ قلت تلك الأحوال التي شاهدتها فقال لم تغن عنا فقلت ما فعل الله بك قال غفر لي بمسائل كان يسأل عنها العجز
Abu Sa'id Asy-Syahham berkata, "Aku melihat Sahl Ash-Shu'luki dalam mimpi, lalu aku berkata, 'Wahai Syaikh!' Ia berkata, 'Tinggalkanlah sebutan kesyaikhan itu!' Aku bertanya, 'Bagaimana dengan keadaan-keadaan (ahwal) spiritual yang pernah engkau saksikan?' Ia menjawab, 'Semua itu tidak memberi manfaat bagi kami.' Aku bertanya, 'Apa yang telah Allah perbuat padamu?' Ia menjawab, 'Dia telah mengampuniku karena masalah-masalah keilmuan yang ditanyakan oleh para wanita tua kepadaku.'
وقال أبو بكر الرشيدي رأيت محمدا الطوسي المعلم في النوم فقال لي قل لأبي سعيد الصفار المؤدب
Abu Bakr Ar-Rasyidi berkata, "Aku melihat Muhammad Ath-Thusi sang guru dalam mimpi, lalu ia berkata kepadaku, 'Katakanlah kepada Abu Sa'id Ash-Saffar sang pendidik:'"
وكنا على أن لا نحول عن الهوى … فقد وحياة الحب حلتم وما حلنا
"Dahulu kita berjanji untuk tidak berpaling dari cinta… demi kehidupan cinta, kalian telah berpaling sedangkan kami tidak pernah berpaling."
قال فانتبهت فذكرت ذلك له فقال كنت أزور قبره كل جمعة فلم أزره هذه الجمعة
Ia berkata, "Maka aku terbangun lalu menuturkan hal itu kepadanya. Abu Sa'id berkata, 'Dahulu aku selalu menziarahi kuburnya setiap hari Jumat, tetapi aku tidak menziarahinya pada hari Jumat ini.'"
وقال ابن راشد رأيت ابن المبارك في النوم بعد موته فقلت أليس قد مت قال بلى قلت فما صنع الله بك قال غفر لي مغفرة أحاطت بكل ذنب قلت فسفيان الثوري قال بخ بخ ذاك من الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين الآية وقال الربيع بن سليمان رأيت الشافعي رحمة الله عليه بعد وفاته في المنام فقلت يا أبا عبد الله ما صنع الله بك قال أجلسني على كرسي من ذهب ونثر على اللؤلؤ الرطب
Ibnu Rasyid berkata, "Aku melihat Ibnul Mubarak dalam mimpi setelah wafatnya, lalu aku berkata, 'Bukankah engkau telah wafat?' Ia menjawab, 'Benar.' Aku bertanya, 'Lalu apa yang Allah perbuat padamu?' Ia menjawab, 'Dia telah mengampuniku dengan pengampunan yang meliputi setiap dosa.' Aku bertanya, 'Bagaimana dengan Sufyan Ats-Tsauri?' Ia menjawab, 'Wah, wah! Dia termasuk orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi dan shiddiqin (hingga akhir ayat).' Dan Ar-Rabi' bin Sulaiman berkata, 'Aku melihat Asy-Syafi'i rahmatullah 'alaihi setelah wafatnya dalam mimpi, lalu aku berkata, "Wahai Abu Abdillah, apa yang Allah perbuat padamu?" Ia menjawab, "Dia mendudukkanku di atas kursi dari emas dan menaburkan padaku mutiara yang indah."'"
ورأى رجل من أصحاب الحسن البصري ليلة مات الحسن كأن مناديا ينادي إن الله اصطفى آدم ونوحا وآل إبراهيم وآل عمران على العالمين واصطفى الحسن البصري على أهل زمانه
Seseorang dari sahabat Al-Hasan Al-Bashri melihat pada malam wafatnya Al-Hasan seolah-olah ada pemanggil yang menyeru: "Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga 'Imran melebihi seluruh alam, dan Dia telah memilih Al-Hasan Al-Bashri melebihi penduduk pada zamannya."
وقال أبو يعقوب القاري الدقيقي رأيت في منامي رجلا آدم طوالا والناس يتبعونه فقلت من هذا قالوا أويس القرني فأتيته فقلت أوصني رحمك الله فكلح في وجهي فقلت مسترشدا فأرشدني أرشدك الله فأقبل على وقال اتبع رحمة ربك عند محبته واحذر نقمته عند معصيته ولا تقطع رجاءك منه في خلال ذلك ثم ولى وتركني
Abu Ya'qub Al-Qari Ad-Daqiqi berkata, "Aku melihat dalam mimpiku seorang laki-laki berkulit cokelat dan tinggi, sedang orang-orang mengikutinya. Aku bertanya, 'Siapakah ini?' Mereka menjawab, 'Uwais Al-Qarani.' Maka aku mendatanginya dan berkata, 'Berilah aku wasiat, semoga Allah merahmatimu.' Lalu ia bermuka masam kepadaku. Aku berkata, 'Aku meminta petunjuk, maka berilah aku petunjuk, semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.' Lalu ia menghadap kepadaku dan berkata, 'Ikutilah rahmat Tuhanmu ketika engkau mencintai-Nya, takutlah akan siksa-Nya ketika engkau bermaksiat kepada-Nya, dan janganlah engkau memutus harapanmu dari-Nya di antara hal tersebut.' Kemudian ia berbalik dan meninggalkanku."
وقال أبو بكر بن أبي مريم رأيت ورقاء بن بشر الحضرمي فقلت ما فعلت يا ورقاء قال البكاء من خشية الله
Abu Bakr bin Abi Maryam berkata, "Aku melihat Warqa' bin Bisyr Al-Hadhrami, lalu aku bertanya, 'Apa yang telah engkau lakukan, wahai Warqa'?' Ia menjawab, '(Yang paling bermanfaat adalah) menangis karena takut kepada Allah.'"
وقال يزيد بن نعامة هلكت جارية في الطاعون الجارف فرآها أبوها في المنام فقال لها يا بنية أخبريني عن الآخرة قالت يا أبت قدمنا على أمر عظيم نعلم ولا نعمل وتعملون ولا تعلمون والله لتسبيحه أو تسبيحتان أو ركعة أو ركعتان في فسحة عمل أحب إلى من الدنيا وما فيها وقال بعض أصحاب عتبة الغلام رأيت عتبة في المنام فقلت ما صنع الله بك قال دخلت الجنة بتلك الدعوة المكتوبة في بيتك قال فلما أصبحت جئت إلى بيتي فإذا خط عتبة الغلام في حائط البيت يا هادي المضلين ويا راحم المذنبين ويا مقيل عثرات العاثرين ارحم عبدك ذا الخطر العظيم والمسلمين كلهم أجمعين واجعلنا مع الأحياء المرزوقين الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين آمين يا رب العالمين وقال موسى بن حماد رأيت سفيان الثوري في الجنة يطير من نخلة إلى نخلة ومن شجرة إلى شجرة فقلت يا أبا عبد الله بم نلت هذا فقال بالورع قلت فما بال على بن عاصم قال ذاك لا يكاد يرى إلا كما يرى الكوكب
Yazid bin Na'amah berkata, "Seorang anak perempuan meninggal dalam wabah thun yang dahsyat. Lalu ayahnya melihatnya dalam mimpi dan berkata kepadanya, 'Wahai putriku, kabarkanlah kepadaku tentang akhirat.' Ia menjawab, 'Wahai ayahku, kami telah mendatangi perkara yang sangat besar; kami mengetahui namun tidak lagi dapat beramal, sedangkan kalian beramal tetapi tidak mengetahui. Demi Allah, sungguh satu atau dua tasbih, atau satu atau dua rakaat dalam kelapangan masa beramal (di dunia) lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.' Sebagian sahabat 'Utbah Al-Ghulam berkata, 'Aku melihat 'Utbah dalam mimpi, lalu aku bertanya, "Apa yang telah Allah perbuat padamu?" Ia menjawab, "Aku masuk surga disebabkan oleh doa yang tertulis di rumahmu itu."' Ia berkata, 'Maka ketika pagi hari, aku datang ke rumahku, ternyata ada tulisan tangan 'Utbah Al-Ghulam di dinding rumah: "Wahai Penunjuk jalan bagi orang-orang yang tersesat, wahai Pengasih bagi orang-orang yang berdosa, wahai Pengampun ketergelinciran orang-orang yang tergelincir, kasihanilah hamba-Mu yang berada dalam bahaya besar ini beserta seluruh kaum muslimin semuanya, dan jadikanlah kami bersama orang-orang hidup yang diberi rezeki dari kalangan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Aamiin wahai Tuhan semesta alam." Musa bin Hammad berkata, 'Aku melihat Sufyan Ats-Tsauri di surga terbang dari satu pohon kurma ke pohon kurma yang lain dan dari satu pohon ke pohon lainnya, maka aku bertanya, "Wahai Abu Abdillah, dengan apa engkau memperoleh derajat ini?" Ia menjawab, "Dengan sifat wara'." Aku bertanya, "Lalu bagaimana dengan Ali bin 'Ashim?" Ia menjawab, "Dia hampir tidak terlihat melainkan seperti bintang yang terlihat jauh di langit."'"
ورأى رجل من التابعين النبي ﷺ في المنام فقال يا رسول الله عظني قال نعم من لم يتفقد النقصان فهو في نقصان ومن كان في نقصان فالموت خير له
Seorang laki-laki dari kalangan Tabi'in melihat Nabi ﷺ dalam mimpi lalu berkata, "Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat." Beliau bersabda, "Ya, barang siapa yang tidak memeriksa kekurangan dirinya, maka ia berada dalam kemunduran. Dan barang siapa yang berada dalam kemunduran, maka kematian itu lebih baik baginya."
وقال الشافعي رحمة الله عليه دهمني في هذه الأيام أمر أمضني وآلمني ولم يطلع عليه غير الله ﷿ فلما كان البارحة أتاني آت في منامي فقال لي يا محمد بن إدريس قل اللهم إني لا أملك لنفسي نفعاً ولا ضراً ولا موتاً ولا حياة ولا نشورا ولا أستطيع أن آخذ إلا ما أعطيتني ولا أتقي إلا ما وقيتني اللهم فوفقني لما تحب وترضى من القول والعمل في عافية فلما أصبحت أعدت ذلك فلما ترحل النهار أعطاني الله ﷿ طلبتي وسهل لي الخلاص مما كنت فيه فعليكم بهذه الدعوات لا تغفلوا عنها
Imam Asy-Syafi'i rahmatullah 'alaihi berkata, "Pada hari-hari ini aku ditimpa oleh suatu urusan yang sangat menyusahkan dan menyakitkanku, yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Azza wa Jalla. Ketika semalam tiba, datanglah seseorang kepadaku dalam mimpiku lalu berkata, 'Wahai Muhammad bin Idris, ucapkanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki bagi diriku sendiri manfaat, mudarat, kematian, kehidupan, maupun kebangkitan; dan aku tidak mampu mengambil kecuali apa yang Engkau berikan kepadaku, dan aku tidak mampu menjaga diri kecuali dari apa yang Engkau pelihara padaku. Ya Allah, berilah aku taufik kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai berupa perkataan dan perbuatan dalam keadaan sehat afiat."' Maka ketika pagi hari aku mengulang-ulang doa tersebut, dan ketika siang beranjak pergi, Allah Azza wa Jalla memberikan apa yang aku minta dan memudahkan bagiku jalan keluar dari apa yang sedang aku alami. Maka hendaknya kalian berpegang pada doa-doa ini dan janganlah melalaikannya."
فهذه جملة من المكاشفات تدل على أحوال الموتى وعلى الأعمال المقربة إلى
Maka inilah sekumpulan mukasyafah (penyingkapan batin) yang menunjukkan keadaan-keadaan orang mati dan amal-amal yang mendekatkan diri kepada…
الله زلفى فلنذكر بعدها ما بين يدى الموتى من ابتداء نفخة الصور إلى آخر القرار إما فى الجنة أو فى النار والحمد لله حمد الشاكرين الشطر الثانى
…Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka marilah kita sebutkan setelah ini apa yang ada di hadapan orang-orang mati, mulai dari tiupan sangkakala yang pertama hingga tempat tinggal terakhir, baik di surga maupun di neraka. Dan segala puji bagi Allah dengan pujian orang-orang yang bersyukur. Bagian Kedua
من كتاب ذكر الموت فى أحوال الميت من وقت نفخة الصور إلى آخر الاستقرار فى الجنة أو فى النار وتفصيل ما بين يديه من الأهوال والأخطار
dari Kitab Mengingat Kematian tentang keadaan-keadaan mayit dari sejak waktu tiupan sangkakala hingga tempat tinggal terakhir di surga atau di neraka, serta rincian huru-hara dan bahaya besar yang ada di hadapannya.
وفيه بيان نفخة الصور
Di dalamnya memuat penjelasan tentang tiupan sangkakala,
وصفة أرض المحشر وأهله
serta sifat bumi Mahsyar dan penghuninya,
وصفة طول يوم القيامة
serta sifat lamanya hari kiamat,
وصفة يوم القيامة ودواهيها وأساميها
serta sifat hari kiamat, malapetaka-malapetakanya, dan nama-namanya.
وصفة المساءلة عن الذنوب
Gambaran Pertanggungjawaban (Hisab) atas Dosa-dosa
وصفة الميزان وصفة الخصماء ورد المظالم
Gambaran Timbangan (Mizan), Pihak-pihak yang Berselisih (Khushama'), dan Pengembalian Kezaliman-kezaliman (Radd al-Mazhalim)
وصفة الصراط
Gambaran Jembatan (Shirat)
وصفة الشفاعة
Gambaran Syafaat
وصفة الحوض
Gambaran Telaga (Al-Haudh)
وصفة جهنم وأهوالها وأنكالها وحياتها وعقاربها
Gambaran Neraka Jahanam beserta Kengeriannya, Belenggu-belenggunya, Ular-ularnya, dan Kalajengking-kalajengkingnya
وصفة الجنة وأصناف نعيمها وعدد الجنان وأبوابها وغرفها وحيطانها وأنهارها وأشجارها ولباس أهلها وفرشهم وسررهم وصفة طعامهم وصفة الحور العين والولدان
Gambaran Surga, Berbagai Macam Kenikmatannya, Jumlah Tingkatan Surga, Pintu-pintunya, Kamar-kamarnya, Dinding-dindingnya, Sungai-sungainya, Pohon-pohonnya, Pakaian Penghuninya, Hamparan dan Dipan-dipan Mereka, Gambaran Makanan Mereka, serta Gambaran Bidadari dan Anak-anak Muda (Wilduan)
وصفة النظر إلى وجه الله تعالى
Gambaran Melihat ke Wajah Allah Ta'ala
وباب في سعة رحمة الله تعالى وبه ختم الكتاب إن شاء الله تعالى صفة نفخة الصور
Bab tentang Luasnya Rahmat Allah Ta'ala dan Dengannya Kitab Ini Diakhiri Insya Allah Ta'ala Gambaran Tiupan Sangkakala
قد عرفت فيما سبق أحوال الميت فى سكرات الموت وخطره فى خوف العاقبة ثم مقاساته لظلمة الْقَبْرِ وَدِيدَانِهِ ثُمَّ لِمُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ وَسُؤَالِهِمَا ثُمَّ لِعَذَابِ الْقَبْرِ وَخَطَرِهِ إِنْ كَانَ مَغْضُوبًا عَلَيْهِ
Engkau telah mengetahui pada pembahasan sebelumnya tentang keadaan orang mati saat menghadapi sakaratul maut dan risikonya dalam mengkhawatirkan kesudahan hidup (khauf al-'aqibah), kemudian penderitaannya menghadapi kegelapan kubur dan cacing-cacingnya, lalu kedatangan Munkar dan Nakir serta pertanyaan keduanya, kemudian tentang azab kubur dan bahayanya jika ia termasuk orang yang dimurkai Allah.
وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ الْأَخْطَارُ الَّتِي بَيْنَ يديه من نفخ الصور وبعث يَوْمَ النُّشُورِ وَالْعَرْضِ عَلَى الْجَبَّارِ وَالسُّؤَالِ عَنِ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ وَنَصْبِ الْمِيزَانِ لِمَعْرِفَةِ الْمَقَادِيرِ ثُمَّ جواز الصراط مع دقته وحدته ثُمَّ انْتِظَارِ النِّدَاءِ عِنْدَ فَصْلِ الْقَضَاءِ إِمَّا بِالْإِسْعَادِ وَإِمَّا بِالْإِشْقَاءِ فَهَذِهِ أَحْوَالٌ وَأَهْوَالٌ لَا بُدَّ لَكَ مِنْ مَعْرِفَتِهَا ثُمَّ الْإِيمَانِ بِهَا عَلَى سَبِيلِ الْجَزْمِ وَالتَّصْدِيقِ ثُمَّ تَطْوِيلِ الْفِكْرِ فِي ذَلِكَ لِيَنْبَعِثَ مِنْ قَلْبِكَ دَوَاعِي الِاسْتِعْدَادِ لَهَا وَأَكْثَرُ النَّاسِ لَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ صَمِيمَ قُلُوبِهِمْ وَلَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ سُوَيْدَاءِ أَفْئِدَتِهِمْ وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ شِدَّةُ تَشَمُّرِهِمْ وَاسْتِعْدَادِهِمْ لِحَرِّ الصَّيْفِ وَبَرْدِ الشِّتَاءِ وَتَهَاوُنِهِمْ بِحَرِّ جَهَنَّمَ وَزَمْهَرِيرِهَا مَعَ مَا تَكْتَنِفُهُ مِنَ الْمَصَاعِبِ وَالْأَهْوَالِ بَلْ إِذَا سُئِلُوا عَنِ الْيَوْمِ الْآخِرِ نَطَقَتْ بِهِ أَلْسِنَتُهُمْ ثُمَّ غَفَلَتْ عَنْهُ قُلُوبُهُمْ وَمَنْ أُخْبِرَ بِأَنَّ مَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الطَّعَامِ مسموم فقال لصاحبه الذى أبصر صدقت ثم مد يديه لِتَنَاوُلِهِ كَانَ مُصَدِّقًا بِلِسَانِهِ وَمُكَذِّبًا بِعَمَلِهِ وَتَكْذِيبُ العمل أبلغ من تكذيب اللسان
Dan yang lebih besar dari semua itu adalah bahaya-bahaya yang ada di hadapannya, yaitu ditiupnya sangkakala, kebangkitan pada Hari Kebangkitan (Yaumun-Nusyur), dihadapkan di hadapan Yang Mahaperkasa (Al-Jabbar), dihisab atas perkara yang sedikit maupun banyak, ditegakkannya Timbangan (Mizan) untuk mengukur bobot amalan, kemudian melintasi Shirat padahal ia sangat tipis dan tajam, lalu menantikan panggilan saat keputusan ditetapkan, apakah berupa kebahagiaan atau kecelakaan. Ini semua adalah keadaan-keadaan dan kengerian-kengerian yang pasti harus engkau ketahui, kemudian engkau imani secara mantap dan pasti, lalu engkau renungkan secara mendalam agar terbit dari hatimu dorongan-dorongan untuk bersiap menghadapinya. Namun kebanyakan manusia, iman kepada Hari Akhir belum merasuk ke dalam lubuk hati mereka dan belum menetap di dasar sanubari mereka. Yang menunjukkan hal itu adalah betapa gigihnya kesiapan mereka menghadapi panasnya musim kemarau dan dinginnya musim hujan, sementara mereka meremehkan panasnya Neraka Jahanam dan dinginnya zamharir, padahal Neraka itu diliputi oleh berbagai kesulitan dan kengerian. Bahkan jika mereka ditanya tentang Hari Akhir, lisan mereka mengucapkannya namun hati mereka lalai darinya. Barang siapa diberi tahu bahwa makanan di hadapannya beracun, lalu ia berkata kepada temannya yang memberi tahu, 'Engkau benar,' namun kemudian ia mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ia adalah orang yang membenarkan dengan lisannya tetapi mendustakan dengan perbuatannya. Pendustaan melalui perbuatan itu lebih kuat dampaknya daripada pendustaan melalui lisan.
وقد قال النَّبِيِّ ﷺ قَالَ اللَّهُ تعالى شتمنى ابن آدم وما ينبغى له أن يشتمنى وكذبنى وما ينبغى له أن يكذبنى أما شتمه إياى فيقول إن لى ولدا وأما تكذيبه فقوله لن يعيدنى كما بدأنى وإنما فتور البواطن عن قوة اليقين والتصديق بالبعث والنشور لقلة الفهم فى هذا العالم لأمثال تلك الأمور ولو لم يشاهد الانسان توالد الحيوانات وقيل له إن صانعا يصنع من النطفة القدرة مثل هذا الآدمى المصور العاقل المتكلم المتصرف لاشتد نفور باطنه عن التصديق به ولذلك قال الله تعالى ﴿أو لم يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هو خصيم مبين﴾ وقال تعالى ﴿أيحسب الإنسان أن يترك سدى أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى ثُمَّ كان علقة فخلق فسوى فجعل منه الزوجين الذكر والأنثى﴾ ففى خلق الآدمى مع كثرة عجائبه واختلاف تركيب أعضائه أعاجيب تزيد على الأعاجيب فى بعثه وإعادته فكيف ينكر ذلك من قدرة الله تعالى وحكمته من يشاهد
Rasulullah ﷺ telah bersabda: Allah Ta'ala berfirman: 'Anak Adam telah mencaci-Ku padahal tidak sepatutnya ia mencaci-Ku, dan ia telah mendustakan-Ku padahal tidak sepatutnya ia mendustakan-Ku. Adapun caciannya kepada-Ku adalah ucapannya bahwa Aku memiliki anak. Sedangkan pendustaan terhadap-Ku adalah ucapannya bahwa Aku tidak akan mengembalikannya (menghidupkannya kembali) sebagaimana Aku telah memulainya.' Ketahuilah bahwa kelesuan batin (lemahnya dorongan kebaikan) itu bersumber dari lemahnya keyakinan dan pembenaran terhadap kebangkitan dan pengumpulan kembali, karena minimnya pemahaman manusia di dunia ini terhadap hal-hal semacam itu. Seandainya manusia tidak pernah menyaksikan kelahiran hewan-hewan, lalu dikatakan kepadanya bahwa seorang pencipta membuat dari setetes mani yang hina sesosok manusia seperti ini yang berupa, berakal, berbicara, dan bertindak, niscaya batinnya akan sangat enggan untuk membenarkannya. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: {Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, lalu tiba-tiba ia menjadi musuh yang nyata?} Dan Allah Ta'ala berfirman: {Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah ia dahulu setetes mani dari sperma yang ditumpahkan, kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan?} Maka dalam penciptaan manusia—bersama dengan banyaknya keajaiban dan perbedaan susunan anggota tubuhnya—terdapat keajaiban-keajaiban yang melebihi keajaiban dalam kebangkitannya dan pengembaliannya kelak. Maka bagaimana mungkin seseorang yang menyaksikan hal itu pada ciptaan dan kekuasaan-Nya dapat mengingkari kekuasaan dan hikmah Allah Ta'ala?
ذلك فى صنعته وقدرته فإن كان فى إيمانك ضعف فقو الإيمان بالنظر فى النشأة الأولى فإن الثانية مثلها وأسهل منها وإن كنت قوى الإيمان بها فأشعر قلبك تلك المخاوف والأخطار وأكثر فيها التفكر والاعتبار لتسلب عن قلبك الراحة والقرار فتشتغل بالتشمر للعرض على الجبار وتفكر أولا فيما يقرع سمع سكان القبور من شدة نفخ الصور فإنها صيحة واحدة تنفرج بها القبور عن رءوس الموتى فيثورون دفعة واحدة
Jika dalam imanmu terdapat kelemahan, maka kuatkanlah iman itu dengan memperhatikan penciptaan yang pertama, karena penciptaan yang kedua itu serupa dengannya dan bahkan lebih mudah darinya. Dan jika engkau memiliki iman yang kuat terhadapnya, maka rasakanlah dalam hatimu ketakutan-ketakutan dan bahaya-bahaya tersebut, serta perbanyaklah perenungan (tafakur) dan mengambil pelajaran dengannya, agar rasa tenang dan settled tercabut dari hatimu, sehingga engkau sibuk mempersiapkan diri untuk dihadapkan kepada Yang Mahaperkasa. Dan renungkanlah pertama-tama apa yang memekakkan pendengaran para penghuni kubur dari dahsyatnya tiupan sangkakala, karena sesungguhnya itu adalah satu teriakan yang dengannya kubur-kubur terbelah dari atas kepala mayat-mayat, lalu mereka bangkit berhamburan secara serentak.
فتوهم نفسك وقد وثبت متغيرا وجهك مغبرا بدنك من فرقك إلى قدمك من تراب قَبْرِكَ مَبْهُوتًا مِنْ شِدَّةِ الصَّعْقَةِ شَاخِصَ الْعَيْنِ نَحْوَ النِّدَاءِ وَقَدْ ثَارَ الْخَلْقُ ثَوْرَةً وَاحِدَةً من القبور التى طال فيها بلاؤهم وقد أزعجهم الفزع والرعب مُضَافًا إِلَى مَا كَانَ عِنْدَهُمْ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَشِدَّةِ الِانْتِظَارِ لِعَاقِبَةِ الْأَمْرِ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السموات وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ ينظرون وقال تعالى ﴿فإذا نقر في الناقور فذلك يومئذ يوم عسير على الكافرين غير يسير﴾ وقال تعالى ﴿ويقولون متى هذا الوعد إن كنتم صادقين ما ينظرون إلا صيحة واحدة تأخذهم وهم يخصمون فلا يستطيعون توصية ولا إلى أهلهم يرجعون ونفخ في الصور فإذا هم من الأجداث إلى ربهم ينسلون قالوا يا ويلنا من بعثنا من مرقدنا هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون﴾ فلو لم يكن بين يدي الموتى إلا هول تلك النفخة لكان ذلك جديرا بأن يتقى فإنها نفخة وصيحة يصعق بها من في السموات والأرض يعنى يموتون بها إلا من شاء الله وهو بعض الملائكة
Maka bayangkanlah dirimu saat engkau melompat bangun dengan wajah yang berubah, badanmu berdebu dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh tanah kuburmu, terperangah karena dahsyatnya jeritan, matamu terbelalak menatap ke arah panggilan, sementara seluruh makhluk telah bangkit serentak dari kubur-kubur yang telah lama menjadi tempat penderitaan mereka. Ketakutan dan kepanikan hebat telah menggoncang mereka, ditambah lagi dengan himpitan kesedihan, kegelisahan, serta kecemasan yang mendalam menanti kesudahan urusan mereka, sebagaimana firman Allah Ta'ala: {Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu.} Dan Allah Ta'ala berfirman: {Maka apabila sangkakala ditiup, maka hari itu adalah hari yang sulit, bagi orang-orang kafir tidak mudah.} Dan Allah Ta'ala berfirman: {Dan mereka berkata, 'Manakah ancaman ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Maka mereka tidak mampu membuat suatu wasiat pun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya. Dan ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya menuju kepada Tuhan mereka dengan cepat. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)? Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul-(Nya).'} Seandainya di hadapan orang-orang mati itu tidak ada selain kengerian tiupan tersebut, niscaya itu sudah sangat patut untuk ditakuti. Karena sesungguhnya itu adalah tiupan dan teriakan yang membuat pingsan/mati siapa pun yang ada di langit dan di bumi—yakni mereka mati karenanya—kecuali siapa yang dikehendaki Allah, yaitu sebagian malaikat.
وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كيف أنعم وصاحب الصور قد التقم القرن وحنى الجبهة وأصغى بالأذن متى يؤمر فينفخ
Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bagaimana aku bisa bersenang-senang, sedangkan malaikat pemegang Sangkakala telah menempelkan terompetnya di mulutnya, telah membungkukkan dahi, dan memiringkan telinganya, menanti kapan ia diperintahkan untuk meniupnya?'
قال مقاتل الصور هو القرن وذلك أن إسرافيل ﵇ واضع فاه على القرن كهيئة البوق ودائرة رأس القرن كعرض السموات والأرض وهو شاخص بصره نحو العرش ينتظر متى يؤمر فينفخ النفخة الأولى فإذا نفخ صعق من في السموات والأرض أى مات كل حيوان من شدة الفزع إلا من شاء الله وهو جبريل وميكائيل وإسرافيل وملك الموت
Muqatil berkata: Al-Shur adalah sangkakala berbentuk terompet. Hal itu karena Malaikat Israfil 'alaihis salam meletakkan mulutnya pada sangkakala seperti bentuk terompet, dan lingkaran kepala sangkakala itu seluas langit dan bumi, sedangkan pandangan matanya tertuju ke Arasy menanti kapan ia diperintahkan untuk meniupkan tiupan yang pertama. Maka ketika ia meniupnya, pingsan/matilah seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi, yakni mati setiap hewan (makhluk bernyawa) karena dahsyatnya rasa takut, kecuali siapa yang dikehendaki Allah, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Malaikat Maut.
ثم يأمر ملك الموت أن يقبض روح جبريل ثم روح ميكائيل ثم روح إسرافيل ثم يأمر ملك الموت فيموت
Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Maut untuk mencabut ruh Jibril, kemudian ruh Mikail, kemudian ruh Israfil, lalu Allah memerintahkan Malaikat Maut hingga ia pun mati.
ثم يلبث الخلق بعد النفخة الأولى فى البرزخ أربعين سنة ثم يحيى الله تعالى إسرافيل فيأمره أن ينفخ الثانية فذلك قوله تعالى ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ ينظرون على أرجلهم ينظرون إلى البعث وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حين بعث إلى بعث إلى صاحب الصور فأهوى به إلى فيه وقدم رجلا وأخر أخرى ينتظر متى يؤمر بالنفخ ألا فاتقوا النفخة فتفكر فى الخلائق وذلهم وانكسارهم واستكانتهم عند الانبعاث خوفا من هذه الصعقة وانتظارا لِمَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ مِنْ سَعَادَةٍ أَوْ شَقَاوَةٍ وَأَنْتَ فِيمَا بَيْنَهُمْ مُنْكَسِرٌ كَانْكِسَارِهِمْ مُتَحَيِّرٌ كَتَحَيُّرِهِمْ
Kemudian seluruh makhluk berdiam setelah tiupan pertama di alam Barzakh selama empat puluh tahun. Lalu Allah Ta'ala menghidupkan Israfil dan memerintahkannya untuk meniup tiupan yang kedua. Itulah firman Allah Ta'ala: {Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu} di atas kaki-kaki mereka seraya melihat ke arah kebangkitan. Dan Rasulullah ﷺ bersabda ketika beliau diutus: 'Aku diutus kepada pemegang Sangkakala, lalu ia mendekatkan terompet ke mulutnya, memajukan satu kaki dan memundurkan kaki lainnya, menanti kapan ia diperintahkan untuk meniup. Ingatlah, maka takutlah kalian terhadap tiupan itu!' Maka renungkanlah tentang keadaan seluruh makhluk, kehinaan mereka, kehancuran mereka, dan ketundukan mereka ketika dibangkitkan karena takut akan jeritan ini serta menantikan keputusan yang akan ditetapkan bagi mereka, apakah berupa kebahagiaan atau kecelakaan; sedangkan engkau berada di antara mereka dalam keadaan hancur sebagaimana kehancuran mereka, dan bingung sebagaimana kebingungan mereka.
بل إن كنت فى الدنيا من المترفهين والأغنياء المتنعمين فملوك الأرض فى ذلك اليوم أذل أهل أرض الجمع وأصغرهم وأحقرهم يوطئون بالأقدام مثل الذرة وعند ذلك تقبل الوحوش من البرارى والجبال منكسة رءوسها مختلطة بالخلائق بعد توحشها ذليلة ليوم
Bahkan jika engkau di dunia termasuk orang-orang yang bersenang-senang dan kaya raya yang bergelimang kenikmatan, sesungguhnya raja-raja bumi pada hari itu adalah makhluk yang paling hina di padang mahsyar, paling kecil, dan paling rendah, yang dipijak-pijak oleh kaki-kaki manusia seperti semut kecil. Pada saat itulah binatang-binatang buas berdatangan dari padang sahara dan pegunungan dengan menundukkan kepala mereka, bercampur dengan para makhluk setelah sebelumnya liar, tunduk terhina menghadapi hari
النشور من غير خطيئة تدنست بها ولكن حشرتهم شدة الصعقة وهول النفخة وشغلهم ذلك عن الهرب من الخلق والتوحش منهم وذلك قوله تعالى ﴿وإذا الوحوش حشرت﴾ ثم أقبلت الشياطين المردة بعد تمردها وعتوها وأذعنت خاشعة من هيبة العرض على الله تعالى تصديقا لقوله تعالى ﴿فوربك لنحشرنهم والشياطين ثم لنحضرنهم حول جهنم جثيا﴾ فتفكر فى حالك وحال قلبك هنالك صفة أرض المحشر وأهله
kebangkitan, tanpa memiliki dosa yang mengotorinya. Akan tetapi dahsyatnya kejutan (sha'qah) dan kengerian tiupan sangkakala menghimpun mereka, serta hal itu menyibukkan mereka dari melarikan diri dari manusia dan dari sifat liar mereka. Itulah firman Allah Ta'ala: {Dan apabila binatang-binatang buas dikumpulkan.} Kemudian berdatangan pula setan-setan yang pembangkang setelah pembangkangan dan kesombongan mereka, mereka tunduk berserah diri dengan khusyuk karena kehebatan saat dihadapkan kepada Allah Ta'ala, membenarkan firman Allah Ta'ala: {Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami kumpulkan mereka bersama setan-setan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut.} Maka renungkanlah keadaan dirimu dan keadaan hatimu di sana. Gambaran Bumi Mahsyar dan Penghuninya
ثم انظر كيف يساقون بعد البعث والنشور حفاة عراة غرلا إلى أرض المحشر أرض بيضاء قاع صفصف لا ترى فيها عوجا ولا أمتا ولا ترى عليها ربوة يختفى الإنسان وراءها ولا وهدة ينخفض عن الأعين فيها بل هو صعيد واحد بسيط لا تفاوت فيه يساقون إليه زمرا فسبحان من جمع الخلائق على اختلاف أصنافهم من أقطار الأرض إذ ساقهم بالراجفة تتبعها الرادفة والراجفة هى النفخة الأولى والرادفة هى النفخة الثانية وحقيق لتلك القلوب أن تكون يومئذ واجفة ولتلك الأبصار أن تكون خاشعة قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يحشر الناس يوم القيامة على أرض بيضاء عفراء كقرص النقي ليس فيها معلم لأحد
Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka digiring setelah kebangkitan dan penghidupan kembali (al-ba'th wa an-nusyur) dalam keadaan bertelanjang kaki, bertelanjang badan, dan belum berkhitan ke tanah Mahsyar, yaitu tanah yang putih bersih, rata lagi licin; engkau tidak melihat di sana tempat yang rendah maupun yang tinggi, tidak pula melihat bukit yang membuat manusia dapat bersembunyi di belakangnya, dan tidak ada ceruk yang membuat seseorang tersembunyi dari pandangan mata padanya. Melainkan, ia adalah satu permukaan bumi yang rata dan polos, tanpa perbedaan padanya. Mereka digiring ke sana berbondong-bondong. Maka Mahasuci Dzat yang menghimpun seluruh makhluk dengan bermacam-macam jenis mereka dari segala penjuru bumi, tatkala Dia menggiring mereka dengan tiupan pertama (ar-rajifah) yang diiringi tiupan kedua (ar-radifah). Ar-Rajifah adalah tiupan pertama dan Ar-Radifah adalah tiupan kedua. Sungguh patut bagi hati-hati tersebut pada hari itu menjadi berdebar-debar karena takut (wajifah), dan bagi pandangan-pandangan mata tersebut tunduk terpejam (khasyi'ah). Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia akan dihimpunkan pada hari Kiamat di atas tanah putih yang kemerah-merahan seperti roti yang bersih dari campuran, tidak ada padanya tanda penanda bagi seorang pun."
قال الراوى والعفرة بياض ليس بالناصع والنقى هو النقى عن القشر والنخالة ومعلم أى لا بناء يستر ولا تفاوت يرد البصر
Perawi berkata: "Al-Ufrah adalah warna putih yang tidak terlalu murni/cemerlang. An-Naqiyy adalah yang bersih dari kulit arasi dan dedak. Sedangkan ma'lam berarti tidak ada bangunan yang menutupi dan tidak ada perbedaan kerataan tanah yang menghalangi pandangan mata."
ولا تظنن أن تلك الأرض مثل أرض الدنيا بل لا تساويها إلا فى الاسم قال تعالى يوم تبدل الأرض غير الأرض والسموات
Janganlah engkau mengira bahwa tanah tersebut sama seperti tanah di dunia. Bahkan, keduanya tidak memiliki kesamaan kecuali hanya pada namanya semata. Allah Ta'ala berfirman: "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit." (QS. Ibrahim: 48).
قال ابن عباس يزداد فيها وينقص وتذهب أشجارها وجبالها وأوديتها وما فيها وتمد مد الأديم العكاظى أرض بيضاء مثل الفضة لم يسفك عليها دم ولم يعمل عليها خطيئة والسموات تذهب شمسها وقمرها ونجومها فانظر يا مسكين في هول ذلك اليوم وشدته فإنه إذا اجتمع الخلائق على هذا الصعيد تناثرت من فوقهم نجوم السماء وطمس الشمس والقمر وأظلمت الأرض لخمود سراجها فبينا هم كذلك إذ دارت السماء من فوق رءوسهم وانشقت مع غلظها وشدتها خمسمائة عام والملائكة قيام على حافاتها وأرجائها فيا هول صوت انشقاقها فى سمعك ويا هيبة ليوم تنشق فيه السماء مع صلابتها وشدتها ثم تنهار وتسيل كالفضة المذابة تخالطها صفرة فصارت وردة كالدهان وصارت السماء كالمهل وصارت الجبال كالعهن واشتبك الناس كالفراش المبثوث وهم حفاة عراة مشاة قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يبعث الناس حفاة عراة غرلا قد ألجمهم العرق وبلغ شحوم الآذان قالت سودة زوج النبي ﷺ راوية الحديث قلت يا رسول الله واسوأتاه ينظر بعضنا إلى بعض فقال شغل الناس عن ذلك بهم لكل امرىء يومئذ شأن يغنيه فأعظم بيوم تنكشف فيه العورات ويؤمن فيه مع ذلك النظر والالتفات كيف وبعضهم يمشون على بطونهم ووجوههم فلا قدرة لهم على الالتفات إلى غيرهم قال أبو هريرة ﵁ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يحشر الناس يوم القيامة ثلاثة أصناف ركبانا ومشاة وعلى وجوههم فقال رجل يا رسول الله وكيف يمشون على
Ibnu Abbas berkata: "Bumi itu bertambah dan berkurang; pohon-pohon, gunung-gunung, lembah-lembah, serta apa yang ada di dalamnya lenyap. Bumi itu dibentangkan seperti dibentangkannya kulit dari Ukaz; bumi yang putih bagaikan perak, belum pernah tertumpah darah di atasnya dan belum pernah diperbuat suatu kemaksiatan pun di atasnya. Adapun langit, matahari, bulan, dan bintang-bintangnya hilang." Maka perhatikanlah, wahai orang miskin (yang fakir akan kebaikan), pada kedahsyatan hari itu dan perihnya! Karena apabila makhluk telah berkumpul di permukaan ini, bintang-bintang langit berjatuhan di atas mereka, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, dan bumi menjadi gelap gulita karena padamnya pelitanya. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba langit berputar di atas kepala mereka dan terbelah—padahal tebal dan kukuhnya sebanding perjalanan lima ratus tahun—sementara para malaikat berdiri di tepi-tepi dan penjurunya. Alangkah dahsyatnya suara terbelahnya langit di pendengaranmu! Dan alangkah hebatnya hari di mana langit terbelah padahal ia begitu keras dan kuat, kemudian ia hancur dan meleleh seperti perak cair yang bercampur warna kekuningan, maka jadilah ia merah mawar seperti minyak, langit menjadi seperti lelehan logam, gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan, dan manusia berdesakan seperti laron yang berterbangan, dalam keadaan bertelanjang kaki, bertelanjang badan, dan berjalan kaki. Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan bertelanjang kaki, bertelanjang badan, dan belum berkhitan. Keringat benar-benar telah mengekang (tenggelam hingga mulut) mereka dan mencapai cuping telinga." Saudah, istri Nabi ﷺ yang meriwayatkan hadis ini, berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, sungguh memalu-malukan! Apakah sebagian kita melihat kepada sebagian yang lain?" Maka beliau bersabda: "Manusia disibukkan dari hal itu oleh urusan mereka sendiri; setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya." Betapa dahsyatnya hari di mana aurat-aurat terbuka, namun beserta itu orang-orang merasa aman dari pandangan dan penolakan! Bagaimana tidak, sedangkan sebagian dari mereka berjalan di atas perut dan wajah mereka, sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk menoleh kepada orang lain? Abu Hurairah ﵁ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia akan dihimpunkan pada hari Kiamat dalam tiga kelompok: kelompok yang berkendaraan, kelompok yang berjalan kaki, dan kelompok yang berjalan di atas wajah-wajah mereka." Maka seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana mereka berjalan di atas…
وجوههم قال الذى أمشاهم على أقدامهم قادر على أن يمشيهم على وجوههم فى طبع الآدمى إنكار كل ما لم يأنس به ولو لم يشاهد الإنسان الحية وهى تمشى على بطنها كالبرق الخاطف لأنكر تصور المشى على غير رجل والمشى بالرجل أيضا مستبعد عند من لم يشاهد ذلك فإياك أن تنكر شيئا من عجائب يوم القيامة لمخالفته قياس ما فى الدنيا فإنك لو لم تكن قد شاهدت عجائب الدنيا ثم عرضت عليك قبل المشاهدة لكنت أشد إنكارا لها فأحضر فى قلبك صورتك وأنت واقف عاريا مكشوفا ذليلا مدحورا متحيرا مبهوتا منتظرا لما يجرى عليك من القضاء بالسعادة أو بالشقاوة وأعظم هذه الحال فإنها عظيمة صفة العرق
…wajah-wajah mereka?" Beliau menjawab: "Dzat yang menjalankan mereka di atas kaki-kaki mereka Mahakuasa untuk menjalankan mereka di atas wajah-wajah mereka." Sudah menjadi tabiat manusia untuk mengingkari segala sesuatu yang belum biasa baginya. Seandainya manusia tidak pernah menyaksikan ular berjalan di atas perutnya seperti kilat yang menyambar, niscaya ia akan mengingkari gambaran berjalan tanpa kaki. Berjalan dengan kaki pun terasa mustahil bagi orang yang belum pernah menyaksikannya. Maka berhati-hatilah jangan sampai engkau mengingkari sesuatu dari keajaiban-keajaiban hari Kiamat hanya karena menyelahi ukuran (analogi) apa yang ada di dunia. Sebab, jika engkau belum pernah menyaksikan keajaiban-keajaiban dunia lalu dipaparkan kepadamu sebelum menyaksikan, niscaya engkau akan lebih keras mengingkarinya. Maka hadirkanlah di dalam hatimu gambaran dirimu saat engkau berdiri dalam keadaan bertelanjang, terbuka, hina, terusir, bingung, tercengang, seraya menunggu apa yang berlaku atas dirimu dari ketetapan takdir, apakah berupa kebahagiaan atau kesengsaraan. Dan agungkanlah keadaan ini, karena sesungguhnya keadaan ini sangatlah dahsyat. (Gambaran tentang Keringat)
ثم تفكر فى ازدحام الخلائق واجتماعهم حتى ازدحم على الموقف أهل السموات السبع والأرضين السبع من ملك وجن وإنس وشيطان ووحش وسبع وطير فأشرقت عليهم الشمس وقد تضاعف حرها وتبدلت عما كانت عليه من خفة أمرها ثم أدنيت من رءوس العالمين كقاب قوسين فلم يبق على الأرض ظل إلا ظل رب العالمين
Kemudian renungkanlah tentang berdesak-desakannya para makhluk dan berkumpulnya mereka, hingga penghuni tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi—dari kalangan malaikat, jin, manusia, setan, binatang liar, binatang buas, dan burung—berdesakan di padang Mahsyar. Lalu matahari bersinar terang di atas mereka dengan panas yang berlipat ganda dan berubah dari keadaannya semula yang ringan. Kemudian matahari didekatkan ke kepala sekalian alam sedekat dua jarak busur panah, sehingga tidak ada lagi naungan di bumi kecuali naungan Rabb semesta alam.
ولم يمكن من الاستظلال به إلا المقربون فمن بين مستظل بالعرش وبين مضح لحر الشمس قد صهرته بحرها واشتد كربه وغمه من وهجها ثم تدافعت الخلائق ودفع بعضهم بعضا لشدة الزحام واختلاف الأقدام وانضاف إليه شدة الخجلة والحياء من الافتضاح والاختزاء عند العرض على جبار السماء فاجتمع وهج الشمس وحر الأنفاس واحتراق القلوب بنار الحياء والخوف ففاض العرق من أصل كل شعرة حتى سال على صعيد القيامة ثم ارتفع على أبدانهم على قدر منازلهم عند الله فبعضهم بلغ العرق ركبتيه وبعضهم حقوية وبعضهم إلى شحمة أذنيه وبعضهم كاد يغيب فيه قال ابن عمر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يوم يقوم الناس لرب العالمين حتى يغيب أحدهم فى رشحه إلى أنصاف أذنيه وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يعرق الناس يوم القيامة حتى يذهب عرقهم فى الأرض سبعين باعا ويلجمهم ويبلغ أذقنهم كذا رواه البخاري ومسلم في الصحيح وفى حديث آخر قياما شاخصة أبصارهم أربعين سنة إلى السماء فيلجمهم العرق من شدة الكرب وقال عقبة بن عامر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ تدنو الشمس من الأرض يوم القيامة فيعرق الناس فمن الناس من يبلغ عرقه عقبه ومنهم من يبلغ نصف ساقه ومنهم من يبلغ ركبته ومنهم من يبلغ فخذه ومنهم من يبلغ خاصرته ومنهم من يبلغ فاه وأشار بيده فألجمها فاه ومنهم من يغطيه العرق وضرب بيده على رأسه هكذا فتأمل يا مسكين فى عرق أهل المحشر وشدة كربهم وفيهم من ينادى فيقول رب أرحنى من هذا الكرب والانتظار ولو إلى النار وكل ذلك ولم يلقوا بعد حسابا ولا عقابا فإنك واحد منهم ولا تدرى إلى أين يبلغ بك العرق
Dan tidak memungkinkan untuk bernaung dengannya kecuali orang-orang yang didekatkan (al-Muqarrabun). Maka di antara mereka ada yang bernaung di bawah Arasy, dan ada pula yang terpanggang oleh panasnya matahari yang melahapnya dengan teriknya, serta semakin beratlah kesulitan dan kesedihannya akibat terik tersebut. Kemudian para makhluk saling terdorong dan sebagian dorong-mendorong sebagian yang lain karena sengitnya perdesakan dan simpang siurnya langkah kaki. Ditambah lagi dengan besarnya rasa malu dan segan dari terbukanya aib serta kehinaan saat dihadapkan kepada Yang Mahaperkasa di langit. Maka berkumpullah terik matahari, panasnya hembusan napas, serta terbakarnya hati oleh api rasa malu dan takut; sehingga peluh bercucuran dari pangkal setiap helai rambut hingga mengalir di permukaan tanah kiamat, kemudian membumbung naik pada tubuh mereka sesuai dengan kedudukan mereka di sisi Allah. Sebagian mereka, keringatnya mencapai kedua lututnya; sebagian mencapai kedua pinggangnya; sebagian mencapai kedua cuping telinganya; dan sebagian lagi hampir tenggelam di dalamnya. Ibnu Umar berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam, hingga salah seorang di antara mereka tenggelam dalam keringatnya sampai ke pertengahan kedua telinganya." Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia akan berkeringat pada hari Kiamat hingga keringat mereka meresap ke dalam bumi sejauh tujuh puluh hasta, dan mengikat (tenggelam hingga) dagu mereka." Demikian diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih. Dalam hadis lain disebutkan: "Mereka berdiri dengan pandangan terbelalak selama empat puluh tahun ke arah langit, lalu keringat mengikat (menenggelamkan) mereka karena sengitnya kesulitan." Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Matahari didekatkan ke bumi pada hari Kiamat, lalu manusia berkeringat. Di antara manusia ada yang keringatnya mencapai tumitnya, ada yang mencapai pertengahan betisnya, ada yang mencapai lututnya, ada yang mencapai pahanya, ada yang mencapai pinggangnya, ada yang mencapai mulutnya—dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya mengekang mulutnya—dan ada pula yang ditenggelamkan oleh keringatnya," dan beliau menepukkan tangannya ke atas kepalanya seperti ini. Maka renungkanlah, wahai orang miskin, tentang keringat ahli Mahsyar dan dahsyatnya penderitaan mereka! Di antara mereka ada yang menyeru seraya berkata: "Wahai Rabb-ku, istirahatkanlah aku dari penderitaan dan penantian ini, meskipun harus ke neraka!" Padahal semua itu terjadi sebelum mereka menghadapi hisab (perhitungan) dan siksaan. Sungguh engkau adalah salah seorang dari mereka, dan engkau tidak tahu sampai ke mana keringat itu akan mencapai dirimu.
واعلم أن كل عرق لم يخرجه التعب فى سبيل الله من حج وجهاد وصيام وقيام وتردد فى قضاء حاجة مسلم وتحمل مشقة فى أمر بمعروف ونهي عن منكر فسيخرجه الحياء والخوف فى صعيد القيامة ويطول فيه الكرب ولو سلم ابن آدم من الجهل والغرور لعلم أن تعب العرق فى تحمل مصاعب الطاعات أهون أمرا وأقصر زمانا من عرق الكرب والانتظار فى القيامة فإنه يوم عظيمة شدته طويلة مدته صفة طول يوم القيامة
Ketahuilah bahwa setiap keringat yang tidak dikeluarkan oleh keletihan di jalan Allah—berupa haji, jihad, puasa, qiyamul lail, bolak-balik dalam menunaikan hajat seorang muslim, serta menanggung kesulitan dalam amar ma'ruf nahi munkar—niscaya akan dikeluarkan oleh rasa malu dan takut di padang Kiamat, serta akan panjanglah penderitaan padanya. Seandainya anak Adam selamat dari kebodohan dan ketiadaan mawas diri (ghurur), niscaya ia mengetahui bahwa keletihan berkeringat dalam menanggung kesulitan ketaatan itu jauh lebih ringan urusannya dan lebih singkat waktunya daripada keringat penderitaan dan penantian pada hari Kiamat; karena sesungguhnya itu adalah hari yang dahsyat penderitaannya dan panjang durasinya. (Gambaran Panjangnya Hari Kiamat)
يوم تقف فيه الخلائق شاخصة أبصارهم منفطرة قلوبهم لا يكلمون ولا ينظر فى أمورهم يقفون ثلمائة عام لا يأكلون فيه أكله ولا يشربون فيه شربة ولا يجدون فيه روح نسيم قال كعب وقتادة يوم يقوم الناس لرب العلمين قال يقومون مقدار ثلثمائة عام بل قال عبد الله بن عمرو تلا رسول الله ﷺ هذه الآية ثم قال كيف بكم إنه جمعكم الله كما تجمع النبل فى الكنانة خمسين ألف سنة ولا ينظر إليكم وقال الحسن ما ظنك بيوم قاموا فيه على أقدامهم مقدار خمسين ألف سنة لا يأكلون فيها أكلة ولا يشربون فيها شربة حتى إذا انقطعت أعناقهم عطشا واحترقت أجوافهم جوعا انصرف بهم إلى النار فسقوا من عين آنية قد آن حرها واشتد لفحها فلما بلغ المجهود منهم ما لا طاقة لهم به كلم بعضهم بعضا فى طلب من يكرم على مولاه ليشفع فى حقهم فلم يتعلقوا بنبي إلا دفعهم وقال دعونى نفسى نفسى شغلنى أمرى عن أمر غيرى واعتذر كل واحد بشدة غضب الله تعالى وقال قد غضب اليوم ربنا غضباً لم يغضب قبله مثله ولا يغضب بعده مثله حتى يشفع نبينا ﷺ لمن يؤذن له فيه لا يملكون الشفاعة إلا من أذن له الرحمن ورضى له قولا فتأمل فِي طُولِ هَذَا الْيَوْمِ وَشِدَّةِ الِانْتِظَارِ فِيهِ حتى يخف عليك انتظار الصبر عن المعاصى فى عمرك المختصر
Hari di mana para makhluk berdiri dengan pandangan mata terbelalak dan hati yang terpecah/hancur, tidak disapa dan tidak diperhatikan urusan mereka. Mereka berdiri selama tiga ratus tahun tanpa memakan satu suap pun makanan, tidak meminum satu teguk pun minuman, dan tidak mendapati sepoi angin yang menyegarkan. Ka'ab dan Qatadah berkata tentang ayat "(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam": Mereka berkata, "Mereka berdiri selama tiga ratus tahun." Bahkan Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah ﷺ membaca ayat ini lalu bersabda: "Bagaimanakah keadaan kalian tatkala Allah mengumpulkan kalian sebagaimana anak panah dikumpulkan di dalam wadahnya selama lima puluh ribu tahun tanpa memandang kepada kalian?" Al-Hasan berkata: "Bagaimana sangkaanmu tentang suatu hari di mana mereka berdiri di atas kaki-kaki mereka selama lima puluh ribu tahun, tidak memakan satu suap pun makanan dan tidak meminum satu teguk pun minuman, hingga tatkala leher-leher mereka putus karena dahaga dan rongga tubuh mereka terbakar karena kelaparan, mereka dipalingkan ke neraka lalu diberi minum dari mata air yang sangat panas, yang telah memuncak panasnya dan dahsyat gejolaknya." Maka tatkala keletihan yang amat sangat mencapai batas yang tidak sanggup lagi mereka pikul, sebagian mereka berbicara kepada sebagian yang lain untuk mencari orang yang mulia di sisi Pelindungnya agar memberi syafaat bagi mereka. Namun tidaklah mereka bergantung kepada seorang nabi pun melainkan nabi tersebut menolak mereka seraya berkata: "Biarkanlah aku, diriku! Diriku! Urusanku telah menyibukkanku dari urusan orang lain." Masing-masing meminta uzur karena dahsyatnya murka Allah Ta'ala seraya berkata: "Sungguh Rabb kita pada hari ini murka dengan kemurkaan yang belum pernah Murka seperti itu sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu sesudahnya." Sampai akhirnya Nabi kita ﷺ memberi syafaat bagi siapa yang diizinkan baginya. Mereka tidak memiliki kekuasaan syafaat kecuali orang yang diberi izin oleh Ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih) dan diredai perkataannya. Maka renungkanlah panjangnya hari ini dan sengitnya penantian di dalamnya, agar menjadi ringan bagimu menanti kesabaran dari kemaksiatan dalam umurmu yang singkat.
واعلم أن من طال انتظاره فى الدنيا للموت لشدة مقاساته للصبر عن الشهوات فإنه يقصر انتظاره فى ذلك اليوم خاصة قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لما سئل عن طول ذلك اليوم فقال والذي نفسي بيده إنه ليخفف على المؤمن حتى يكون أهون عليه من الصلاة المكتوبة يصليها فى الدنيا فاجتهد أن تكون من أولئك المؤمنين فما دام يبقى لك نفس من عمرك فالأمر إليك والاستعداد بيديك فاعمل فى أيام قصار لأيام طوال تربح ربحا لا منتهى لسروره واستحقر عمرك بل عمر الدنيا وهو سبعة الآف سنة فإنك لو صبرت سبعة الآف سنة مثلا لتخلص من يوم مقداره خمسون ألفا لكان ربحك كثيرا وتعبك يسيرا صفة يوم القيامة ودواهيه وأساميه
Ketahuilah bahwa barang siapa yang panjang penantiannya di dunia akan kematian karena beratnya menanggung kesabaran dari menuruti syahwat, maka sungguh akan singkat penantiannya pada hari itu secara khusus. Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang panjangnya hari itu, beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hari itu benar-benar diringankan bagi orang mukmin hingga menjadi lebih ringan baginya daripada shalat fardhu yang dikerjakannya di dunia." Maka bersungguh-sungguhlah agar engkau termasuk dari kalangan orang-orang mukmin tersebut. Selama masih tersisa desah napas dari umurmu, maka urusan masih ada padamu dan persiapan ada di tanganmu. Beramallah di hari-hari yang singkat untuk hari-hari yang panjang, niscaya engkau beruntung dengan keuntungan yang tidak ada batas akhir bagi kegembiraannya. Dan anggaplah kecil umurmu, bahkan umur dunia seluruhnya yang berjumlah tujuh ribu tahun. Sebab seandainya engkau bersabar selama tujuh ribu tahun umpamanya demi terbebas dari suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, tentulah keuntunganmu sangat banyak dan keletihanmu sangat sedikit. (Gambaran Hari Kiamat, Malapetaka-Malapetakanya, dan Nama-Namanya)
فاستعد يا مسكين لهذا اليوم العظيم شأنه المديد زمانه القاهر سلطانه القريب أوانه يَوْمَ تَرَى السَّمَاءَ فِيهِ قَدِ انْفَطَرَتْ وَالْكَوَاكِبَ من هوله قد انتثرت وَالنُّجُومَ الزَّوَاهِرَ قَدِ انْكَدَرَتْ وَالشَّمْسَ قَدْ كُوِّرَتْ والجبال قد
Maka bersiap-siaplah, wahai orang miskin, untuk hari yang agung kedudukannya ini, yang panjang zamannya, yang memaksa kekuasaannya, lagi dekat waktunya. Hari di mana engkau melihat langit padanya telah terbelah, bintang-bintang karena kedahsyatannya telah berjatuhan berserakan, bintang-bintang yang gemerlap telah pudar/buram, matahari telah digulung, dan gunung-gunung telah…
سُيِّرَتْ وَالْعِشَارَ قَدْ عُطِّلَتْ وَالْوُحُوشَ قَدْ حُشِرَتْ وَالْبِحَارَ قَدْ سُجِّرَتْ وَالنُّفُوسَ إِلَى الْأَبْدَانِ قَدْ زُوِّجَتْ وَالْجَحِيمَ قَدْ سُعِّرَتْ وَالْجَنَّةَ قَدْ أُزْلِفَتْ والجبال قد نسفت والأرض قد مدت يوم ترى الأرض قد زلزلت فيه زالزالها وأخرجت الأرض أثقالها يومئذ يصدر الناس أشتاتاً ليروا أعمالهم يوم تحمل الأرض والجبال فدكتا دكة واحدة فيومئذ وقعت الواقعة وانشقت السماء فهى يومئذ واهية والملك على أرجائها ويحمل عرش ربك فوقهم يومئذ ثمانية يومئذ تعرضون لا تخفى منكم خافية يوم تسير الجبال وترى الأرض بارزة يوم ترج الأرض فيه رجا وتبس الجبال بسا فكانت هباء منبثا يوم يكون الناس كالفراش المبثوث وتكون الجبال كالعهن المنفوش يَوْمَ تَذْهَلُ فِيهِ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شديد يوم تبدل الأرض غير الأرض والسموات وبرزوا لله الواحد القهار يوم تنسف فيه الجبال نسفا فتترك قاعا صفصفا لا ترى فيها عوجا ولا أمتا يوم ترى الجبال تحسبها جامدة وهي تمر مر السحاب يوم تنشق فيه السماء فتكون وردة كالدهان فيومئذ لا يسئل عن ذنبه إنس ولا جان يوم يمنع فيه العاصى من الكلام ولا يسئل فيه عن الأجرام بل يؤخذ بالنواصى والأقدام يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لو أن بينها وبينه أمداً بعيداً يوم تعلم فيه كل نفس ما أحضرت وتشهد ما قدمت وأخرت يوم تخرس فيه الألسن وتنطق الجوارح يوم شيب ذكره سيد المرسلين إذ قال له الصديق ﵁ أراك قد شبت يا رسول الله قال شيبتنى هود وأخواتها وهى الواقعة والمرسلات وعم يتساءلون وإذا الشمس كورت فيا أيها القارىء العاجز إنما حظك من قراءتك أن تمجمج القرآن وتحرك به اللسان ولو كنت متفكرا فيما تقرؤه لكنت جديرا بأن تنشق مرارتك مما شاب منه شعر سيد المرسلين وإذا قنعت بحركة اللسان فقد حرمت ثمرة القرآن فالقيامة أحد ما ذكر فيه وقد وصف الله بعض دواهيها وأكثر من أساميها لنقف بكثرة أساميها على كثرة معانيها فَلَيْسَ الْمَقْصُودُ بِكَثْرَةِ الْأَسَامِي تَكْرِيرَ الْأَسَامِي وَالْأَلْقَابِ بَلِ الْغَرَضُ تَنْبِيهُ أُولِي الْأَلْبَابِ فَتَحْتَ كُلِّ اسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ الْقِيَامَةِ سِرٌّ وَفِي كُلِّ نَعْتٍ مِنْ نُعُوتِهَا مَعْنًى فَاحْرِصْ عَلَى مَعْرِفَةِ معانيها
…dijalankan, unta-unta yang hamil tua telah ditinggalkan, binatang-binatang liar telah dikumpulkan, lautan-lautan telah dinyalakan/dipanaskan, jiwa-jiwa telah dipasangkan dengan badan-badannya, neraka Jahim telah dinyalakan, surga telah didekatkan, gunung-gunung telah dihancurkan serenta-merta, dan bumi telah dibentangkan. Hari di mana engkau melihat bumi diguncangkan dengan guncangannya yang dahsyat dan bumi mengeluarkan beban-beban beratnya; pada hari itu manusia keluar bertebaran agar diperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka. Hari ketika bumi dan gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan dengan sekali benturan, maka pada hari itu terjadilah Kiamat, dan langit pun terbelah, maka ia pada hari itu menjadi rapuh. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit, dan menggepit Arasy Rabbmu di atas mereka pada hari itu delapan malaikat. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi. Hari di mana gunung-gunung dijalankan dan engkau melihat bumi tampak rata. Hari di mana bumi digoncangkan seganjil-ganjilnya dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang berterbangan. Hari di mana manusia seperti laron yang berterbangan dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Hari di mana setiap wanita yang menyusui lalai dari anak yang disusuinya, dan setiap wanita yang hamil menggugurkan kandungannya, dan engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras. Hari di mana bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka berkumpul menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Hari di mana gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya, lalu ditinggalkan menjadi tanah yang datar lagi licin, engkau tidak melihat padanya tempat yang rendah maupun yang tinggi. Hari di mana engkau melihat gunung-gunung engkau sangka tetap di tempatnya padahal ia berjalan seperti jalannya awan. Hari di mana langit terbelah lalu menjadi merah mawar seperti minyak. Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. Hari di mana orang yang bermaksiat dilarang untuk berbicara dan tidak ditanya tentang dosa-dosanya, melainkan dipegang ubun-ubun dan kaki-kaki mereka. Hari di mana setiap jiwa mendapati apa yang telah dikerjakannya dari kebaikan dihadirkan, dan apa yang telah dikerjakannya dari kejahatan; ia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dirinya dengan kejahatan itu. Hari di mana setiap jiwa mengetahui apa yang telah dihadirkannya serta menyaksikan apa yang telah didahulukannya dan yang diakhirkannya. Hari di mana lidah-lidah dipertuturkan bisu dan anggota-anggota tubuh berbicara. Hari yang penyebutannya telah menguban-putihkan junjungan para rasul, tatkala As-Siddiq (Abu Bakar) ﵁ berkata kepada beliau: "Aku melihat engkau telah beruban, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Surah Hud dan saudara-saudaranya telah mengubankanku, yaitu Al-Waqi'ah, Al-Mursalat, 'Amma Yatasa'alun, dan Idzasy-Syamsu Kuwwirat." Maka wahai pembaca yang lemah, bagianmu dari bacaanmu hanyalah mengunyah-ngunyah Al-Qur'an dan menggerakkan lidah padanya! Seandainya engkau merenungkan apa yang engkau baca, niscaya patutlah kantung empedumu pecah karena apa yang membuat rambut junjungan para rasul beruban dengannya. Dan apabila engkau merasa cukup dengan gerakan lidah, sungguh engkau telah dihalangi dari buah Al-Qur'an. Maka Kiamat adalah salah satu yang disebutkan di dalamnya. Sungguh Allah telah menyifati sebagian malapetakanya dan memperbanyak nama-namanya agar dengan banyaknya nama-nama tersebut kita mengetahui banyaknya makna padanya. Maka bukanlah maksud dari banyaknya nama itu sekadar mengulang-ulang nama dan julukan, melainkan tujuannya adalah memeringatkan orang-orang yang berakal (ulul albab). Sebab di balik setiap nama dari nama-nama Kiamat terdapat rahasia, dan pada setiap sifat dari sifat-sifatnya terdapat makna. Maka bersemangatlah untuk mengetahui makna-maknanya!
ونحن الآن نجمع لك أساميها وهى يوم القيامة ويوم الحسرة ويوم الندامة ويوم المحاسبة ويوم المساءلة ويوم المسابقة ويوم المناقشة ويوم المنافسة ويوم الزلزلة ويوم الدمدمة ويوم الصاعقة ويوم الواقعة ويوم القارعة ويوم الراجفة ويوم الرادفة ويوم الغاشية ويوم الداهية ويوم الآزفة ويوم الحاقة ويوم الطامة ويوم الصاخة ويوم التلاق ويوم الفراق ويوم المساق ويوم القصاص ويوم التناد ويوم الحساب ويوم المآب ويوم العذاب ويوم الفرار ويوم القرار ويوم اللقاء ويوم البقاء ويوم القضاء ويوم الجزاء ويوم البلاء ويوم البكاء ويوم الحشر ويوم الوعيد ويوم العرض ويوم الوزن ويوم الحق ويوم الحكم ويوم الفصل ويوم الجمع ويوم البعث ويوم الفتح ويوم الخزى ويوم عظيم ويوم عقيم ويوم عسير ويوم الدين ويوم اليقين ويوم النشور ويوم المصير ويوم النفخة ويوم الصيحة ويوم الرجفة ويوم الرجة ويوم الزجرة ويوم السكرة ويوم الفزع ويوم المنتهى ويوم الجزع ويوم المأوى ويوم الميقات ويوم الميعاذ ويوم المرصاد ويوم القلق ويوم العرق ويوم الافتقار ويوم الانكار ويوم الانتشار ويوم الانشقاق ويوم الوقوف ويوم الخروج ويوم الخلود ويوم التغابن ويوم عبوس ويوم معلوم ويوم الساعة ويوم مشهود ويوم لا ريب فيه ويوم تبلى فيه السرائر وَيَوْمٌ لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا ويوم تشخص فيه الأبصار ويوم
Dan sekarang kami himpunkan untukmu nama-namanya, yaitu: Hari Kiamat (Bangkit), Hari Penyesalan yang Teramat Sangat (al-Hasrah), Hari Penyesalan (an-Nadamah), Hari Perhitungan (al-Muhasabah), Hari Pertanyaan (al-Musa'alah), Hari Berlomba (al-Musabaqah), Hari Pemeriksaan Mendalam (al-Munaqasyah), Hari Persaingan (al-Munafasah), Hari Guncangan (az-Zalzalah), Hari Kehancuran (ad-Damdamah), Hari Petir Dhalil (as-Sa'iqah), Hari Kejadian (al-Waqi'ah), Hari Kiamat yang Menggelegar (al-Qari'ah), Hari Guncangan Pertama (ar-Rajifah), Hari Guncangan Kedua (ar-Radifah), Hari Kiamat yang Menutupi (al-Ghasyiyah), Hari Malapetaka (ad-Dahiyah), Hari yang Dekat (al-Azifah), Hari Kebenaran/Kiamat (al-Haqqah), Hari Bencana Agung (at-Tammah), Hari Teriakan yang Memekakkan (as-Sakhkhah), Hari Pertemuan (at-Talaq), Hari Perpisahan (al-Firaq), Hari Pengiringan (al-Masaq), Hari Balasan Setimpal (al-Qisas), Hari Panggil-Memanggil (at-Tanad), Hari Perhitungan (al-Hisab), Hari Tempat Kembali (al-Ma'ab), Hari Siksaan (al-'Adzab), Hari Lari/Melarikan Diri (al-Firar), Hari Ketetapan/Kekekalan (al-Qarar), Hari Pertemuan (al-Liqa'), Hari Kekekalan (al-Baqa'), Hari Keputusan (al-Qada'), Hari Balasan (al-Jaza'), Hari Ujian Berat (al-Bala'), Hari Tangisan (al-Buka'), Hari Penghimpunan (al-Haysr), Hari Ancaman (al-Wa'id), Hari Penampakan/Pemeriksaan (al-'Ard), Hari Penimbangan (al-Wazn), Hari Kebenaran (al-Haqq), Hari Hukum (al-Hukm), Hari Pemisah (al-Fasl), Hari Pengumpulan (al-Jam'), Hari Kebangkitan (al-Ba'th), Hari Kemenangan/Keputusan (al-Fath), Hari Kehinaan (al-Khizyu), Hari yang Agung (Yaum 'Azhim), Hari yang Tidak Ada Harapan (Yaum 'Aqim), Hari yang Sulit (Yaum 'Asir), Hari Pembalasan (Yaum ad-Din), Hari Keyakinan (Yaum al-Yaqin), Hari Kebangkitan Kembali (Yaum an-Nusyur), Hari Tempat Kembali (Yaum al-Masir), Hari Tiupan (Yaum an-Nafkhah), Hari Teriakan Dahsyat (Yaum as-Sayhah), Hari Guncangan (Yaum ar-Rajfah), Hari Guncangan Keras (Yaum ar-Rajjah), Hari Bentakan (Yaum az-Zajrah), Hari Mabuk/Pingsan (Yaum as-Sakrah), Hari Ketakutan (Yaum al-Faza'), Hari Puncak/Kesudahan (Yaum al-Muntaha), Hari Keluh Kesah (Yaum al-Jaza'), Hari Tempat Tinggal (Yaum al-Ma'wa), Hari Waktu yang Ditentukan (Yaum al-Miqat), Hari Janji (Yaum al-Mi'ad), Hari Pengintaian (Yaum al-Mirsad), Hari Kecemasan (Yaum al-Qalaq), Hari Keringat (Yaum al-'Araq), Hari Kebutuhan (Yaum al-Iftiqar), Hari Pengingkaran (Yaum al-Inkar), Hari Penyebaran (Yaum al-Intisyar), Hari Terbelah (Yaum al-Insyiqaq), Hari Berdiri (Yaum al-Wuquf), Hari Keluar (Yaum al-Khuruj), Hari Kekekalan (Yaum al-Khulud), Hari Ditampakkannya Kerugian (Yaum at-Taghabun), Hari yang Wajah Bermuram Durja (Yaum 'Abus), Hari yang Dimaklumi (Yaum Ma'lum), Hari Kiamat (Yaum as-Sa'ah), Hari yang Disaksikan (Yaum Masyhud), Hari yang Tidak Ada Keraguan Padanya (Yaum La Rayba Fih), Hari Ditampakkannya Rahasia-Rahasia (Yaum Tubla as-Sarair), Hari di mana Suatu Jiwa Tidak Dapat Membela Jiwa Lain Sedikit Pun (Yaum La Tajzi Nafsun 'an Nafsin Syai'a), Hari di mana Pandangan-Pandangan Terbelalak (Yaum Tasykhasu Fih al-Absar), dan Hari…
لا يغنى مولى عن مولى شيئا ويوم لا تملك نفس لنفس شيئا ويوم يدعون إلى نار جهنم دعا ويوم يسحبون فى النار على وجوههم ويوم تقلب وجوههم فى النار ويوم لا يجزى والد عن ولده ويوم يفر المرء من أخيه وأمه وأبيه ويوم لا ينطقون ولا يؤذن لهم فيعتذرون يوم لا مرد له من الله يوم هم بارزون ويوم هم على النار يفتنون يوم لا ينفع مال ولا بنون يوم لا ينفع الظالمين معذرتهم ولهم اللعنة ولهم سوء الدار
…di mana seorang pelindung tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada yang dilindunginya, Hari di mana suatu jiwa tidak memiliki kekuasaan apa pun atas jiwa yang lain, Hari di mana mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya, Hari di mana mereka diseret di dalam neraka di atas wajah-wajah mereka, Hari di mana wajah-wajah mereka dibolak-balik di dalam neraka, Hari di mana seorang ayah tidak dapat membela anaknya, Hari di mana seseorang lari dari saudaranya, ibunya, dan ayahnya, Hari di mana mereka tidak dapat berbicara dan tidak diizinkan bagi mereka untuk mengemukakan uzur, Hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya dari Allah, Hari di mana mereka tampak jelas, Hari di mana mereka diuji/disiksa di atas neraka, Hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, Hari di mana permohonan maaf orang-orang zalim tidak memberi manfaat bagi mereka, sedang bagi merekalah laknat dan tempat tinggal yang buruk.
يوم ترد فيه المعاذير وتبلى السرائر وتظهر الضمائر وتكشف الأستار
Hari di mana alih-alih diterima, uzur-uzur justru ditolak, rahasia-rahasia diuji (ditampakkan), isi hati diperlihatkan, dan tirai-tirai penutup disingkapkan.
يوم تخشع فيه الأبصار وتسكن الأصوات ويقل فيه الالتفات وتبرز الخفيات وتظهر الخطيئات يوم يساق العباد ومعهم الأشهاد ويشيب الصغير ويسكر الكبير فيومئذ وضعت الموازين ونشرت الدواوين وبرزت الجحيم وأغلى الحميم وزفرت النار ويئس الكفار وسعرت النيران وتغيرت الألوان وخرس اللسان ونطقت جوارح الإنسان
Hari di mana pandangan-pandangan tunduk terpejam, suara-suara menjadi senyap, perhatian berpaling menjadi sedikit, hal-hal yang tersembunyi ditampakkan, dan dosa-dosa diperlihatkan. Hari di mana para hamba digiring bersama para saksi, anak kecil menjadi beruban, dan orang dewasa menjadi mabuk (kebingungan). Maka pada hari itu timbangan-timbangan diletakkan, lembaran-lembaran catatan amal dibuka, neraka Jahim ditampakkan, air yang sangat panas dididihkan, api neraka merintih/berguruh, orang-orang kafir berputus asa, api-api disulut, warna-warna kulit berubah, lidah menjadi kelu bisu, dan anggota tubuh manusia berbicara.
فيا أيها الإنسان ما غرك بربك الكريم حيث أغلقت الأبواب وأرخيت الستور واستترت عن الخلائق فقارفت الفجور فماذا تفعل وقد شهدت عليك جوارحك فالويل كل الويل لنا معشر الغافلين يُرْسِلُ اللَّهُ لَنَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ وَيُنَزِّلُ عَلَيْهِ الْكِتَابَ الْمُبِينَ وَيُخْبِرُنَا بِهَذِهِ الصِّفَاتِ مَنْ نُعُوتِ يَوْمِ الدِّينِ ثُمَّ يُعَرِّفُنَا غَفْلَتَنَا وَيَقُولُ اقْتَرَبَ الناس حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وهم يلعبون لاهية قلوبهم ثُمَّ يُعَرِّفُنَا قُرْبَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وانشق القمر إنهم يرونه بعيدا ونراه قريبا وما يدريك لعل الساعة تكون قريبا ثُمَّ يَكُونُ أَحْسَنُ أَحْوَالِنَا أَنَّ نَتَّخِذَ دِرَاسَةَ هَذَا الْقُرْآنِ عَمَلًا فَلَا نَتَدَبَّرَ مَعَانِيَهُ وَلَا نَنْظُرَ فِي كَثْرَةِ أَوْصَافِ هَذَا الْيَوْمِ وَأَسَامِيهِ وَلَا نَسْتَعِدَّ لِلتَّخَلُّصِ مِنْ دَوَاهِيهِ
Maka wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia, ketika engkau mengunci pintu-pintu, menurunkan tirai-tirai, dan bersembunyi dari para makhluk lalu engkau melakukan kejahatan? Apakah yang akan engkau perbuat padahal anggota-anggota tubuhmu bersaksi menentangmu? Maka celakalah, sungguh celakalah bagi kita wahai kaum yang lalai! Allah telah mengutus kepada kita junjungan para rasul, menurunkan kepadanya Kitab yang jelas, dan memberitahukan kepada kita sifat-sifat dari sifat Hari Pembalasan ini. Kemudian Dia memberitahukan kepada kita tentang kelalaian kita seraya berfirman: "Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling. Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main, sedang hati mereka dalam keadaan lalai." (QS. Al-Anbiya': 1-3). Kemudian Dia memberitahukan kepada kita tentang dekatnya Kiamat seraya berfirman: "Telah dekat datangnya Kiamat dan telah terbelah bulan." (QS. Al-Qamar: 1), "Sesungguhnya mereka memandangnya jauh, sedangkan Kami memandangnya dekat." (QS. Al-Ma'arij: 6-7), dan "Dan tahukah engkau, boleh jadi Kiamat itu sudah dekat?" (QS. Asy-Syura: 17). Kemudian keadaan kita yang paling baik adalah bahwa kita menjadikan pengajaran Al-Qur'an ini sekadar formalitas amalan, tanpa kita mentadabburi makna-maknanya, tidak melihat pada banyaknya sifat dan nama-nama hari ini, serta tidak bersiap-siap untuk menyelamatkan diri dari malapetaka-malapetakanya.
فَنَعُوذُ بِاللَّهِ من هذه الغفلة إن لم يداركنا الله بواسع رحمته صفة المساءلة
Maka kita berlindung kepada Allah dari kelalaian ini, jika Allah tidak menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya yang luas. (Gambaran tentang Pertanyaan/Pemeriksaan)
ثُمَّ تَفَكَّرْ يَا مِسْكِينُ بَعْدَ هَذِهِ الْأَحْوَالِ فِيمَا يَتَوَجَّهُ عَلَيْكَ مِنَ السُّؤَالِ شِفَاهًا مِنْ غير ترجمان فتسئل عَنِ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ وَالنَّقِيرِ وَالْقِطْمِيرِ فَبَيْنَا أَنْتَ فِي كُرَبِ الْقِيَامَةِ وَعَرَقِهَا وَشَدَّةِ عَظَائِمِهَا إِذْ نزلت ملائكة من رجاء السماء بأجسام عظام وأشخاص ضخام غلاظ شداد أمروا أن يأخذوا بنواصى المجرمين إلى موقف العرض على الجبار قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن لله ﷿ ملكاً ما بين شفرى عينيه مسيرة مائة عام فما ظنك بنفسك إذا شاهدت مثلا هؤلاء الملائكة أرسلوا إليك ليأخذوك إلى مقام العرض وتراهم على عظم أشخاصهم منكسرين لشدة اليوم مستشعرين مما بدا من غضب الجبار على عباده وعند نزولهم لا يبقى نبى ولا صديق ولا صالح إلا ويخرون لأذقانهم خوفا من أن يكونوا هم المأخوذين فهذا حال المقربين فما ظنك بالعصاة المجرمين وعند ذلك يبادر اقوام من شدة الفزع فيقولون للملائكة أفيكم ربنا وذلك لعظم موكبهم وشدة هيبتهم فتفزع الملائكة من سؤالهم إجلالا لخالقهم عن أن يكون فيهم فنادوا بأصواتهم منزهين لمليكهم عما توهمه أهل الأرض وقالوا سبحان ربنا ما هو فينا ولكنه آت من بعد وعند ذلك تقوم الملائكة صفا محدقين بالخلائق من الجوانب وعلى جميعهم شعار الذل والخضوع وهيئة الخوف والمهابة لشدة اليوم
Kemudian renungkanlah, wahai orang miskin, setelah keadaan-keadaan ini, tentang pertanyaan yang ditujukan kepadamu secara lisan tanpa perantara penerjemah; lalu engkau ditanya tentang perkara yang sedikit maupun yang banyak, yang sekecil bintik pada biji kurma (an-naqir) maupun kulit ari biji kurma (al-qitmir). Ketika engkau berada dalam kesulitan Kiamat, keringatnya, dan dahsyatnya urusan-urusannya yang besar, tiba-tiba turunlah malaikat dari penjuru langit dengan tubuh-tubuh yang agung dan sosok-sosok yang amat besar, kasar lagi keras, yang diperintahkan untuk memegang ubun-ubun orang-orang yang berbuat dosa menuju tempat penghadapan kepada Dzat Yang Mahaperkasa. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah ﷿ memiliki seorang malaikat yang jarak antara kedua kelopak matanya adalah perjalanan seratus tahun." Maka bagaimana sangkaanmu tentang dirimu apabila engkau menyaksikan malaikat-malaikat seperti mereka diutus kepadamu untuk membawamu ke tempat penghadapan, dan engkau melihat mereka—bersamaan dengan besarnya sosok mereka—tampak tertunduk lemas karena sengitnya hari itu, merasakan ketakutan dari apa yang tampak berupa murka Dzat Yang Mahaperkasa atas hamba-hamba-Nya? Dan ketika mereka turun, tidak tersisa seorang nabi, orang shiddiq, maupun orang saleh melainkan mereka tersungkur di atas dagu-dagu mereka karena takut kalau-kalau merekalah yang akan ditangkap! Ini adalah keadaan orang-orang yang mendekatkan diri (al-Muqarrabun), maka bagaimana sangkaanmu terhadap orang-orang maksiat lagi berbuat dosa? Ketika itu pulalah, sebagian kaum bergegas karena dahsyatnya ketakutan lalu berkata kepada para malaikat: "Apakah di antara kalian ada Rabb kami?" Hal itu karena agungnya rombongan mereka dan sengitnya kewibawaan mereka. Maka para malaikat merasa terperanjat atas pertanyaan mereka demi mengagungkan Pencipta mereka dari keberadaan-Nya di antara mereka, lalu para malaikat berseru dengan suara mereka seraya menyucikan Raja mereka dari apa yang disangkakan oleh penduduk bumi, dan berkata: "Mahasuci Rabb kami, Dia tidak ada di antara kami, melainkan Dia akan datang sesudah ini." Dan pada saat itulah para malaikat berdiri berbaris melingkari para makhluk dari segenap penjuru, dan pada mereka semua tampak syiar kehinaan dan ketundukan, serta rupa ketakutan dan kewibawaan karena sengitnya hari tersebut.
وعند ذلك يصدق الله تعالى قوله ﴿فلنسألن الذين أرسل إليهم ولنسألن المرسلين فلنقصن عليهم بعلم وما كنا غائبين﴾ وقوله ﴿فوربك لنسألنهم أجمعين عما كانوا يعملون﴾ فَيَبْدَأُ سُبْحَانَهُ بِالْأَنْبِيَاءِ ﴿يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فيقول﴾
Dan pada saat itulah Allah Ta'ala membuktikan firman-Nya: "Maka pasti Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan pasti Kami akan menanyai pula rasul-rasul (itu). Maka pasti akan Kami beritahukan kepada mereka dengan ilmu (Kami), dan Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka)." (QS. Al-A'raf: 6-7), dan firman-Nya: "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Hijr: 92-93). Maka Dia yang Mahasuci memulai dengan para nabi: "(Yaitu) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul lalu berfirman…"
﴿مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أنت علام الغيوب﴾ فَيَا لَشِدَّةِ يَوْمٍ تَذْهَلُ فِيهِ عُقُولُ الْأَنْبِيَاءِ وتنمحى علومهم من شدة الهيبة إذ يقال لهم ما أجبتم وقد أرسلتم إلى الخلائق وكانوا قد علموا فتدهش عقولهم فلا يدرون بماذا يجيبون فيقولون من شدة الهيبة لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
"Apa jawaban yang diberikan kepadamu?" Mereka menjawab, "Tidak ada pengetahuan bagi kami; sungguh Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib." Alangkah dahsyatnya hari di mana akal para nabi terperanjat bingung dan ilmu pengetahuan mereka sirna karena besarnya haibah (kewibawaan yang menggentarkan) Allah, ketika dikatakan kepada mereka, "Apa jawaban yang kalian terima?" padahal mereka telah diutus kepada seluruh makhluk dan sebelumnya mereka mengetahui. Akal mereka terkesima sehingga mereka tidak tahu harus menjawab apa. Maka karena besarnya haibah itu mereka berkata, "Tidak ada pengetahuan bagi kami; sungguh Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib."
وهم فى ذلك الوقت صادقون إذ طارت منهم العقول وانمحت العلوم إلى أن يقويهم الله تعالى فيدعى نوح ﵇ فيقال له هل بلغت فيقول نعم فيقال لأمته هل بلغكم فيقولون ما أتانا من نذير
Dan pada saat itu mereka benar-benar jujur berkata demikian, sebab akal mereka melayang dan ilmu mereka sirna, sampai Allah Ta'ala menguatkan mereka. Lalu Nabi Nuh 'alaihissalam dipanggil dan ditanyakan kepadanya, "Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?" Beliau menjawab, "Ya." Lalu dikatakan kepada umatnya, "Apakah telah sampai kepada kalian?" Mereka menjawab, "Tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang datang kepada kami."
ويؤتى بعيسى ﵇ فيقول الله تعالى له ﴿أأنت قلت للناس اتخذوني وأمي إلهين من دون الله﴾ فيبقى متشحطا تحت هيبة هذا السؤال سنين فيالعظم يوم تقام فيه السياسة على الأنبياء بمثل هذا السؤال ثم تقبل الملائكة فينادون واحدا واحدا يا فلان بن فلانة هلم إلى موقف العرض وعند ذَلِكَ تَرْتَعِدُ الْفَرَائِصُ وَتَضْطَرِبُ الْجَوَارِحُ وَتُبْهَتُ الْعُقُولُ وَيَتَمَنَّى أَقْوَامٌ أَنْ يُذْهَبَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَلَا تُعْرَضَ قَبَائِحُ أَعْمَالِهِمْ عَلَى الْجَبَّارِ وَلَا يَكْشِفَ سَتْرَهُمْ عَلَى مَلَأِ الْخَلَائِقِ
Dan Nabi Isa 'alaihissalam dihadapkan, lalu Allah Ta'ala berfirman kepadanya, "Apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?" Maka beliau terpaku gemetar di bawah keagungan pertanyaan ini selama bertahun-tahun. Betapa dahsyatnya hari di mana pertanggungjawaban hukum ditegakkan atas para nabi dengan pertanyaan semisal ini! Kemudian para malaikat datang seraya memanggil satu per satu, "Wahai Fulan bin Fulanah, kemarilah menuju tempat penghadapan (al-'Ardh)!" Pada saat itulah urat-urat leher berguncang, anggota badan gemetar, akal terperangah bingung, dan kelompok-kelompok manusia berharap agar mereka langsung dicampakkan ke dalam neraka saja daripada keburukan amal perbuatan mereka diperlihatkan di hadapan Al-Jabbar (Allah Yang Mahaperkasa) dan cela mereka disingkap di hadapan khalayak makhluk.
وَقَبْلَ الِابْتِدَاءِ بِالسُّؤَالِ يَظْهَرُ نُورُ الْعَرْشِ ﴿وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ ربها﴾ وايقن كل عبد بإقبال الجبار لمساءلة العباد وظن كُلُّ وَاحِدٍ أَنَّهُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ سِوَاهُ وأنه المأخوذ بالأخذ والسؤال دون من عداه فيقول الجبار ﷾ عند ذلك يا جبريل ائتى بالنار فيجىء لها جبريل ويقول يا جهنم أجيبي خالقك ومليكك فيصادفها جبريل على غيظها وغضبها فلم يلبث بعد ندائها أن ثارت وفارت وزفرت إلى الخلائق وشهقت وسمع الخلائق تغيظها وزفيرها وانتهضت خزنتها متوثبة إلى الخلائق غضبا على من عصى الله تعالى وخالف أمره فأخطر ببالك وأحضر فى قلبك حالة قلوب العباد وقد امتلأت فزعا ورعبا فتساقطوا جثيا على الركب وولوا مدبرين يوم ترى كل أمة جاثية وسقط بعضهم على الوجوه منكبين وينادى العصاة والظالمون بالويل والثبور وينادى الصديقون نفسى نفسى فبينما هم كذلك إذ زفرت الناس زفرتها الثانية فتضاعف خوفهم وتخاذلت قواهم وظنوا أنهم مأخوذون ثم زفرت الثالثة فتساقط الخلائق على وجوههم وشخصوا بأبصارهم ينظرون من طرف خفى خاشع وانهضمت عند ذلك قلوب الظالمين فبلغت الحناجر كاظمين وذهلت العقول من السعداء والأشقياء أجمعين
Dan sebelum penghisaban dimulai, muncullah cahaya 'Arsy, "Dan bumi pun menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhannya." Setiap hamba yakin akan hadirnya Al-Jabbar untuk menghisab para hamba. Masing-masing merasa seolah tidak ada orang lain yang dilihat oleh-Nya selain dirinya, dan bahwasanya dialah yang sedang ditindak dan dihisab, bukan orang lain. Maka Al-Jabbar 'Azza wa Jalla berfirman saat itu, "Wahai Jibril, bawa kemari neraka itu!" Maka Jibril mendatangi neraka dan berkata, "Wahai Jahannam, penuhilah panggilan Penciptamu dan Rajamu!" Jibril mendapatinya dalam keadaan penuh kemurkaan dan kemarahan. Tidak lama setelah dipanggil, neraka itu bergejolak, mendidih, merintih menggelegar kepada para makhluk, serta menghela napas dahsyat. Para makhluk mendengar gemuruh kemurkaan dan rintihan jolokannya. Para malaikat penjaganya pun bangkit menyergap ke arah para makhluk karena murka kepada siapa saja yang mendurhakai Allah Ta'ala dan menyelisihi perintah-Nya. Maka terbayanglah dalam pikiranmu dan hadirkanlah dalam hatimu keadaan hati para hamba saat itu yang dipenuhi rasa takut dan teror yang amat sangat. Mereka berjatuhan berlutut di atas lutut-lutut mereka dan berpaling melarikan diri, pada hari di mana engkau melihat setiap umat berlutut (berkerumun). Sebagian dari mereka tersungkur jatuh atas wajah-wajah mereka. Orang-orang yang bermaksiat dan berbuat zalim berteriak memanggil kebinasaan dan kehancuran, sedangkan orang-orang shiddiq berseru, "Diriku, diriku!" Ketika mereka dalam keadaan demikian, neraka menghembuskan rintihan jolokannya yang kedua, maka berlipat ganda ketakutan mereka, lunglai kekuatan mereka, dan mereka yakin bahwa mereka akan disergap. Kemudian neraka menghembuskan rintihan jolokannya yang ketiga, maka berjatuhanlah seluruh makhluk atas wajah-wajah mereka, mata mereka terbelalak menatap dengan pandangan yang lesu dan tunduk terhina. Pada saat itu hancur luluhlah hati orang-orang zalim hingga menyesak sampai ke kerongkongan seraya menahan kesedihan, dan akal pikiran orang-orang yang bahagia (sa'ada) maupun yang celaka (asyqiya') seluruhnya menjadi terperanjat bingung.
وبعد ذلك اقبل الله تعالى على الرسل وقال ماذا أجبتم فإذا رأوا ما قد أقيم من السياسة على الأنبياء اشتد الفزع على العصاة ففر الوالد من ولده والأخ من أخيه والزوج من زوجته وبقى كل واحد منتظرا لأمره ثُمَّ يُؤْخَذُ وَاحِدٌ وَاحِدٌ فَيَسْأَلُهُ اللَّهُ تَعَالَى شفاها عن قليل عمله وكثيره وعن سره وعلانيته وعن جميع جوارحه وأعضائه قال أبو هريرة قالوا يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة فقال هل تضارون فى رؤية الشمس فى الظهيرة ليس دونها سحاب قالوا لا قال فهل تضارون فى رؤية القمر ليلة البدر ليس دونه سحاب قالوا لا قال فوالذي نفسي بيده لا تضارون فى رؤية ربكم فيلقى العبد فيقول له ألم أكرمك وأسودك وأزوجك وأسخر لك الخيل والإبل وأذرك ترأس وتربع فيقول العبد بلى فيقول أظننت أنك ملاقى فيقول لا فيقول فأنا أنساك كما نسيتنى فتوهم نفسك يا مسكين وقد أخذت الملائكة بعضديك وأنت واقف بين يدي الله تعالى يسألك شفاها فيقول لك ألم أنعم عليك بالشباب ففيماذا أبليته ألم أمهل لك فى العمر ففيماذا أفنيته الم أرزقك المال فمن أين اكتسبته وفيماذا أنفقته ألم أكرمك بالعلم فماذا عملت فيما علمت فَكَيْفَ تَرَى حَيَاءَكَ وَخَجْلَتَكَ وَهُوَ يَعُدُّ عَلَيْكَ إِنْعَامَهُ وَمَعَاصِيَكَ وَأَيَادِيَهُ وَمُسَاوِيَكَ فَإِنْ أَنْكَرْتَ شَهِدَتْ عليك جوارحك قال أنس ﵁ كنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Setelah itu Allah Ta'ala berpaling menghadap para rasul dan berfirman, "Apa jawaban yang diberikan kepadamu?" Ketika orang-orang yang bermaksiat melihat penegakan pertanggungjawaban yang diterapkan atas para nabi, makin dahsyatlah ketakutan mereka. Maka sepasang orang tua lari dari anaknya, saudara lari dari saudaranya, dan suami lari dari istrinya; setiap orang tinggal menunggu urusan dirinya sendiri. Kemudian diambillah satu demi satu, lalu Allah Ta'ala menanyainya secara langsung tentang amalnya yang sedikit maupun yang banyak, rahasianya maupun yang terangnya, serta tentang seluruh anggota badan dan fisiknya. Abu Hurairah bercerita bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?" Beliau menjawab, "Apakah kalian merasa kesusahan melihat matahari di siang bolong yang tidak tertutup awan?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bertanya, "Apakah kalian merasa kesusahan melihat bulan pada malam purnama yang tidak tertutup awan?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan merasa kesusahan dalam melihat Tuhan kalian. Lalu seorang hamba ditemui dan Dia berfirman kepadanya, 'Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanimpinan, memadukanmu dalam pernikahan, menundukkan kuda dan unta untukmu, serta membiarkanmu memimpin dan menikmati hasil kepemimpinanmu?' Hamba itu menjawab, 'Benar.' Allah berfirman, 'Apakah engkau mengira bahwa engkau akan menemui-Ku?' Ia menjawab, 'Tidak.' Maka Allah berfirman, 'Hari ini Aku membiarkanmu sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.' Maka bayangkanlah dirimu, wahai insan yang miskin, ketika para malaikat memegang kedua lenganmu sementara engkau berdiri di hadapan Allah Ta'ala dan Dia menanyaimu secara langsung. Dia berfirman kepadamu, 'Bukankah Aku telah mengaruniakan kepadamu masa muda, lalu dalam hal apa engkau habiskan? Bukankah Aku telah memberi tangguh umur bagimu, lalu dalam hal apa engkau menghabiskannya? Bukankah Aku telah melimpahkan harta kepadamu, lalu dari mana engkau memperolehnya dan untuk apa engkau menafkahkannya? Bukankah Aku telah memuliakanmu dengan ilmu, lalu apa yang telah engkau amalkan dari apa yang engkau ketahui?' Betapa hebatnya rasa malu dan kehinaanmu tatkala Dia menghitung kenikmatan-Nya atasmu dan kemaksiatanmu, kebaikan-kebaikan-Nya dan keburukan-keburukanmu! Jika engkau mengingkarinya, maka anggota badanmu sendiri yang akan menjadi saksi atasmu. Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam…
فضحك ثم قال أتدرون مم أضحك قلنا الله ورسوله أعلم قال من مخاطبة العبد ربه يقول يا رب الم تجرنى من الظلم قال يقول بلى قال فيقول فإنى لا أجيز على نفسى إلا شاهدا منى فيقول كفى بنفسك اليوم عليك حسيبا وبالكرام الكاتبين شهودا قال فيختم على فيه ويقال لأركانه انطقى قال فتنطق بأعماله ثم يخلى بينه وبين الكلام فيقول لأعضائه بعدا لكن وسحقا فعنكن كنت أناضل فنعوذ بالله من الافتضاح على ملأ الخلق بشهادة الأعضاء إلا أن الله تعالى وعد المؤمن بأن يستر عليه ولا يطلع عليه غيره
Maka beliau tertawa, lalu bersabda, "Tahukah kalian mengapa aku tertawa?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "(Aku tertawa) karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya. Hamba itu berkata, 'Wahai Tuhanku, bukankah Engkau melindungiku dari kezaliman?' Allah berfirman, 'Benar.' Hamba itu berkata, 'Sungguh aku tidak mengizinkan kesaksian atas diriku kecuali saksi dari diriku sendiri.' Allah berfirman, 'Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu, dan para malaikat pencatat yang mulia sebagai saksi-saksi.' Lalu mulutnya dikunci, dan dikatakan kepada anggota badannya, 'Bicaralah!' Maka anggota badannya menceritakan perbuatannya. Setelah itu ia diberi kesempatan berbicara kembali, lalu ia berkata kepada anggota badannya, 'Celaka dan hancurlah kalian! Padahal demi membela kalianlah aku dahulu berjuang.' Maka kita berlindung kepada Allah dari terbongkarnya aib di hadapan khalayak makhluk melalui kesaksian anggota badan sendiri, kecuali bahwa Allah Ta'ala telah berjanji kepada orang mukmin untuk menutupi aibnya dan tidak memperlihatkannya kepada orang lain.
سأل ابن عمر رجل فقال له كيف سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول فى النجوى فقال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يدنو أحدكم من ربه حتى يضع كنفه عليه فيقول عملت كذا وكذا فيقول نعم فيقول عملت كذا وكذا فيقول نعم ثم يقول إنى سترتها عليك فى الدنيا وإنى أغفرها لك اليوم وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من ستر على مؤمن عورته ستر الله عورته يوم القيامة فهذا إنما يرجى لعبد مؤمن ستر على الناس عيوبهم واحتمل فى حق نفسه تقصيرهم ولم يحرك لسانه بذكر مساويهم ولم يذكرهم فى غيبتهم بما يكرهون لو سمعوه فهذا جدير بأن يجازى بمثله فى القيامة وهب أنه قد ستره عن غيرك أليس قد قرع سمعك النداء إلى العرض فيكفيك تلك الروعة جزاء عن ذنوبك إذ يؤخذ بناصيتك فتقاد وفؤادك مضطرب ولبك طائر وفرائصك مرتعدة وجوارحك مضطربة ولونك متغير والعالم عليك من شدة الهول مظلم فقدر نفسك وأنت بهذه الصفة تتخطى الرقاب وتخرق الصفوف وتقاد كما تقاد الفرس المجنوب وقد رفع الخلائق إليك أبصارهم فتوهم نفسك أنك فى أيدى الموكلين بك على هذه الصفة حتى انتهى بك إلى عرش الرحمن فرموك من أيديهم وناداك الله ﷾ بعظيم كلامه يا ابن آدم ادن منى فدنوت منه بقلب خافق محزون وجل وطرف خاشع ذليل وفؤاد منكسر وَأُعْطِيتَ كِتَابَكَ الَّذِي لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةَ إِلَّا أَحْصَاهَا فَكَمْ مِنْ فَاحِشَةٍ نَسِيتَهَا فتذكرتها وَكَمْ مِنْ طَاعَةٍ غَفَلْتَ عَنْ آفَاتِهَا فَانْكَشَفَ لك عن مساويها فكم لك من خجل وجبن وكم لك من حصر وعجز فَلَيْتَ شِعْرِي بِأَيِّ قَدَمٍ تَقِفُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَبِأَيِّ لِسَانٍ تُجِيبُ وَبِأَيِّ قَلْبٍ تَعْقِلُ مَا تقول ثم تفكر فى عظم حياتك إذا ذكرك ذنوبك شفاها إذ يقول يا عبدى أما استحييت منى فبارزتنى بالقبيح واستحييت من خلقى فأظهرت لهم الجميل أكنت أهون عليك من سائر عبادي استخففت بنظرى إليك فلم تكترت واستعظمت نظر غيرى ألم أنعم عليك فماذا غرك بى اظننت أنى لا أراك وأنك لا تلقانى
Seseorang bertanya kepada Ibnu Umar, "Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang An-Najwa (pembicaraan rahasia Allah dengan hamba-Nya)?" Beliau menjawab: Rasulullah ﷺ bersabda, "Salah seorang dari kalian mendekat kepada Tuhannya hingga Dia meletakkan naungan-Nya padanya, lalu Dia berfirman, 'Apakah engkau telah melakukan ini dan itu?' Ia menjawab, 'Ya.' Dia berfirman lagi, 'Apakah engkau telah melakukan ini dan itu?' Ia menjawab, 'Ya.' Kemudian Dia berfirman, 'Sungguh Aku telah menutupi dosa itu untukmu di dunia, dan sungguh Aku mengampuninya bagimu pada hari ini.'" Dan Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Barang siapa menutupi aurat (aib) seorang mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat." Maka hal ini hanyalah diharap bagi hamba mukmin yang menutupi aib sesama manusia, menanggung kekurangan mereka terhadap dirinya, tidak menggerakkan lidahnya untuk menyebut keburukan mereka, dan tidak membicarakan mereka di belakang dengan apa yang tidak mereka sukai jika mendengarnya. Orang seperti inilah yang layak dibalas dengan balasan serupa pada hari kiamat. Dan andaikan Allah telah menutupi dosa itu dari orang lain selain dirimu, bukankah panggilan menuju penghadapan amal telah menyengat pendengaranmu? Maka cukuplah keguncangan itu sebagai hukuman atas dosa-dosamu, tatkala ubun-ubunmu dipegang lalu engkau diseret dalam keadaan hatimu bergetar hebat, akalmu melayang, urat-urat lehermu gemetar, anggota badanmu guncang, warnamu berubah pucat, dan alam semesta di sekitarmu terasa gelap gulita akibat dahsyatnya kehuru-hataan. Maka gambarkanlah dirimu ketika berada dalam sifat ini, melangkahi leher-leher manusia, membelah barisan, dan diseret sebagaimana ditariknya kuda yang dituntun, sementara seluruh makhluk mendongakkan pandangan mata mereka kepadamu. Bayangkanlah dirimu berada di tangan para malaikat yang ditugaskan mengawalmu dalam keadaan seperti ini, hingga mereka membawamu sampai ke 'Arsy Ar-Rahman, lalu mereka melepaskanmu dari tangan mereka dan Allah 'Azza wa Jalla memanggilmu dengan firman-Nya yang agung, "Wahai anak Adam, mendekatlah kepada-Ku!" Maka engkau pun mendekat kepada-Nya dengan hati yang berdebar ketakutan, berduka, cemas, pandangan yang tunduk hina, dan jiwa yang remuk redam. Engkau pun diserahi kitabmu yang tidak meninggalkan perkara kecil maupun besar melainkan menghitungnya seluruhnya. Betapa banyak perbuatan keji yang telah engkau lupakan namun kini engkau ingat kembali! Betapa banyak ketaatan yang engkau lalaikan dari cacat-cacatnya, namun kini tersingkap bagimu keburukan-keburukannya! Betapa besar rasa malu dan kecut hatimu, betapa besarnya kebingungan dan kelemahanmu! Duhai, dengan kaki yang manakah engkau akan berdiri di hadapan-Nya, dengan lidah yang manakah engkau akan menjawab, dan dengan hati yang manakah engkau akan mencerna apa yang engkau katakan? Kemudian renungkanlah betapa besarnya rasa malumu ketika Dia mengingatkan dosa-dosamu secara langsung, saat Dia berfirman, "Wahai hamba-Ku, apakah engkau tidak malu kepada-Ku sehingga engkau terang-terangan melakukan keburukan di hadapan-Ku, sementara engkau merasa malu kepada makhluk-Ku sehingga engkau memperlihatkan kebaikan kepada mereka? Apakah Aku ini lebih hina bagimu daripada seluruh hamba-Ku yang lain? Apakah engkau meremehkan pandangan-Ku kepadamu sehingga engkau tidak peduli, sementara engkau menganggap besar pandangan orang lain? Bukankah Aku telah melimpahkan nikmat kepadamu, lalu apa yang memperdayaimu terhadap-Ku? Apakah engkau mengira bahwa Aku tidak melihatmu dan engkau tidak akan menemui-Ku?"
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما منكم من أحد إلا ويسأله الله رب العالمين ليس بينه وبينه حجاب ولا ترجمان وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ليقفن أحدكم بين يدي الله ﷿ ليس بينه وبينه حجاب فيقول له ألم أنعم عليك ألم أوتك ما لا فيقول بلى فيقول ألم أرسل إليك رسولا فيقول بلى ثم ينظر عن يمينه فلا يرى إلا النار ثم ينظر عن شماله فلا يرى إلا النار فليتق أحدكم النار ولو بشق تمرة فإن لم يجد فبكلمة طيبة وقاله ابن مسعود ما منكم من أحد إلا سيخلو الله ﷿ به كما يخلو أحدكم بالقمر ليلة البدر ثم يقول يا ابن آدم ما غرك بى يا ابن آدم ما عملت فيما علمت يا ابن آدم ماذا أجبت المرسلين يا ابن آدم ألم أكن رقيبا على عينك وأنت تنظر بها إلى ما لا يحل
Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Allah, Tuhan semesta alam, akan menanyakannya secara langsung, tanpa ada penghalang dan tanpa penterjemah di antara Dia dan hamba tersebut." Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, salah seorang dari kalian pasti akan berdiri di hadapan Allah 'Azza wa Jalla tanpa ada penghalang di antara Dia dan dirinya, lalu Dia berfirman kepadanya, 'Bukankah Aku telah memberikan nikmat kepadamu? Bukankah Aku telah memberimu harta?' Hamba itu menjawab, 'Benar.' Allah berfirman, 'Bukankah Aku telah mengutus seorang rasul kepadamu?' Ia menjawab, 'Benar.' Kemudian ia melihat ke sebelah kanannya, maka tidak ada yang ia lihat kecuali neraka; lalu ia melihat ke sebelah kirinya, maka tidak ada yang ia lihat kecuali neraka. Maka hendaklah salah seorang dari kalian menjaga dirinya dari neraka walaupun dengan menyedekahkan sebutir kurma, dan jika tidak mendapatinya maka dengan perkataan yang baik." Dan Ibnu Mas'ud berkata, "Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan Allah 'Azza wa Jalla akan menyendiri bersamanya sebagaimana salah seorang dari kalian berduaan melihat bulan pada malam purnama. Kemudian Dia berfirman, 'Wahai anak Adam, apakah yang memperdayaimu terhadap-Ku? Wahai anak Adam, apa yang telah engkau amalkan dari apa yang telah engkau ketahui? Wahai anak Adam, apakah jawabanmu kepada para rasul? Wahai anak Adam, bukankah Aku Pengawas atas matamu ketika engkau menggunakannya untuk melihat apa yang tidak halal bagimu?
لك ألم أكن رقيبا على أذنيك وهكذا حتى عد سائر أعضائه وقال مجاهد لا تزول قدما عبد يوم القيامة من بين يدي الله ﷿ حتى يسأله عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وعن علمه ما عمل فيه وعن جسده فِيمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وفيماذا أنفقه فأعظم يا مسكين بحيائك عند ذلك بخطرك فإنك بين أن يقال لك سترتها عليك فى الدنيا وأنا أغفرها لك اليوم فعند ذلك يعظم سرورك وفرحك ويغبطك الأولون والآخرون وإما أن يقال للملائكة خذوا هذا العبد السوء فغلوه ثم الجحيم صلوه وعند ذلك لو بكت السموات والأرض عليك لكان ذلك جديرا بعظم مصيبتك وشدة حسرتك على ما فرطت فيه من طاعة الله وعلى ما بعت آخرتك من دنيا دنيئة لم تبق معك صفة الميزان
bagimu? Bukankah Aku Pengawas atas kedua telingamu?' Demikianlah hingga Dia menyebutkan seluruh anggota badannya. Mujahid berkata, "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat di hadapan Allah 'Azza wa Jalla hingga ia ditanyai tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia amalkan darinya, tentang tubuhnya untuk apa ia letihkan, dan tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia nafkahkan." Maka betapa besarnya rasa malumu saat itu wahai insan yang miskin, dan betapa gawatnya kedudukanmu! Karena engkau berada di antara dua kemungkinan: apakah dikatakan kepadamu, "Aku telah menutupinya untukmu di dunia dan Aku mengampuninya bagimu pada hari ini," maka saat itulah kebahagiaan dan kegembiraanmu menjadi sangat agung serta orang-orang terdahulu maupun belakangan merasa iri kepadamu; ataukah dikatakan kepada para malaikat, "Peganglah hamba yang buruk ini lalu belenggulah dia, kemudian masukkanlah dia ke dalam neraka Jahim!" Pada saat itu, seandainya langit dan bumi menangisimu, niscaya itu sangat layak dengan besarnya musibahmu dan dahsyatnya penyesalanmu atas kelalaian yang engkau lakukan dalam menaati Allah, serta atas tindakanmu menjual akhiratmu demi dunia yang hina yang tidak akan kekal bersamamu.
ثُمَّ لَا تَغْفُلْ عَنِ الْفِكْرِ فِي الْمِيزَانِ وتطاير الكتب إلى الأيمان والشمائل فإن الناس بعد السؤال ثلاث فرق ﴿فرقة﴾ ليس لهم حسنة فيخرج من النار عنق أسود فيلقطهم لقط الطير الحب وينطوى عليهم ويلقيهم فى النار فتبتلعهم النار وينادى عليهم شقاوة لا سعادة بعدها وقسم آخر لا سيئة لهم فينادى مناد ليقم الحمادون لله على كل حال فيقومون ويسرحون إلى الجنة ثم يفعل ذلك بأهل قيام الليل ثم بمن لم تشغله تجارة الدنيا ولا بيعها عن ذكر الله تعالى
Kemudian janganlah engkau lalai dari merenungkan Mizan (Timbangan Amal) dan terbang bertebarannya kitab-kitab catatan menuju tangan kanan dan tangan kiri. Sebab manusia setelah penghisaban terbagi menjadi tiga golongan: Golongan pertama: Orang-orang yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Maka keluarlah dari neraka leher berwarna hitam yang mematuk mereka bagaikan burung mematuk biji-bijian, lalu melilit mereka dan mencampakkan mereka ke dalam neraka, sehingga neraka menelan mereka dan diserukan atas mereka kebinasaan yang tidak ada kebahagiaan setelahnya. Golongan kedua: Orang-orang yang tidak memiliki keburukan. Lalu penyeru memanggil, "Hendaklah bangkit orang-orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan!" Maka mereka pun bangkit dan berangkat menuju surga. Kemudian dilakukan hal serupa kepada ahli shalat malam, lalu kepada orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan maupun jual beli duniawi dari mengingat Allah Ta'ala.
وينادى عليهم سعادة لا شقاوة بعدها ويبقى قسم ثالث وهم الأكثرون خلطوا عملاً صالحاً وآخر سيئاً وقد يخفى عليهم ولا يخفى على الله تعالى أن الغالب حسناتهم أو سيئاتهم ولكن يأبى الله إلا أن يعرفهم ذلك ليبين فضله عند العفو وعدله عند العقاب فتتطاير الصحف والكتب منطوية على الحسنات والسيئات وينصب الميزان وتشخص الأبصار إلى الكتب أتقع فى اليمين أو فى الشمال ثم إلى لسان الميزان أيميل إلى جانب السيئات أو إلى جانب الحسنات وهذه حالة هائلة تطيش فيها عقول الخلائق وروى الحسن أن رسول الله ﷺ كان رأسه فى حجر عائشة ﵂ فنعس فذكرت الآخرة فبكت حتى سال دمعها فنقط على خد رسول الله ﷺ فانتبه فقال ما يبكيك يا عائشة قالت ذكرت الآخرة هل تذكرون أهليكم يوم القيامة قال والذي نفسي بيده فى ثلاث مواطن فإن أحدا لا يذكر إلا نفسه إذا وضعت الموازين ووزنت الأعمال حتى ينظر ابن آدم أيخف ميزانه أم يثقل
Dan diserukan atas mereka kebahagiaan yang tidak ada kecelakaan setelahnya. Dan tersisalah golongan ketiga, yaitu mayoritas manusia, yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk. Boleh jadi tersembunyi bagi mereka—namun tidak tersembunyi bagi Allah Ta'ala—apakah yang lebih dominan itu kebaikan mereka ataukah keburukan mereka. Akan tetapi Allah menghendaki untuk memberitahukan hal itu kepada mereka guna menjelaskan karunia-Nya saat memberi ampunan dan keadilan-Nya saat memberi hukuman. Maka berterbanganlah lembaran-lembaran dan kitab-kitab catatan yang memuat kebaikan dan keburukan. Timbangan (Mizan) pun ditegakkan, dan pandangan-pandangan mata terbelalak menatap kitab-kitab tersebut: apakah akan jatuh ke tangan kanan ataukah ke tangan kiri, kemudian menatap jarum timbangan: apakah akan condong ke sisi keburukan ataukah ke sisi kebaikan. Ini adalah keadaan yang sangat mengerikan yang membuat akal pikiran makhluk melayang bingung. Al-Hasan meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyandarkan kepala beliau di pangkuan 'Aisyah radhiyallahu 'anha lalu beliau tertidur ayam. 'Aisyah teringat akan akhirat sehingga ia menangis hingga air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah ﷺ. Beliau terbangun lalu bersabda, "Apa yang membuatmu menangis, wahai 'Aisyah?" Ia menjawab, "Aku teringat akan akhirat. Apakah kalian akan mengingat keluarga kalian pada hari kiamat?" Beliau bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, pada tiga tempat seseorang tidak akan mengingat siapapun kecuali dirinya sendiri: ketika timbangan-timbangan diletakkan dan amal-amal ditimbang sampai anak Adam melihat apakah timbangannya ringan ataukah berat;
وعند الصحف حتى ينظر أبيمينه يأخذ كتابه أو شماله وعند الصراط وعن أنس يؤتى بابن آدم يوم القيامة حتى يوقف بين كفتى الميزان ويوكل به ملك فإن ثقل ميزانه نادى الملك بصوت يسمع الخلائق سعد فلان سعادة لا يشقى بعدها أبدا وإن خف ميزانه نادى بصوت يسمع الخلائق شقى فلان شقاوة لا يسعد بعدها أبدا
dan ketika lembaran-lembaran catatan amal dibagikan sampai ia melihat apakah ia menerima kitabnya dengan tangan kanannya ataukah tangan kirinya; serta di sisi Shirath (jembatan)." Dari Anas meriwayatkan: Anak Adam didatangkan pada hari kiamat hingga diberdirikan di antara dua daun timbangan dan ditugaskanlah seorang malaikat padanya. Jika timbangannya berat, malaikat itu berseru dengan suara yang didengar oleh seluruh makhluk, "Si Fulan telah bahagia dengan kebahagiaan yang ia tidak akan celaka setelahnya selama-lamanya!" Dan jika timbangannya ringan, malaikat itu berseru dengan suara yang didengar oleh seluruh makhluk, "Si Fulan telah celaka dengan kecelakaan yang ia tidak akan bahagia setelahnya selama-lamanya!"
وعند خفه كفة الحسنات تقبل الزبانية وبأيديهم مقامع من حديد عليهم ثياب من نار فيأخذون نصيب النار إلى النار قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ في يوم القيامة إنه يوم ينادى الله تعالى فيه آدم ﵇ فيقول له قم يا آدم فابعث بعث النار فيقول وكم بعث النار فيقول من كل ألف تسعمائة وتسعة وتسعون فلما سمع الصحابة ذلك أبلسوا حتى ما أوضحوا بضاحكة فلما رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما عند أصحابه قال اعملوا وأبشروا فوالذى نفس محمد بيده إن معكم لخليقتين ما كانتا مع أحد قط إلا كثرتاه مع من هلك من بنى آدم وبنى إبليس قالوا وما هما يا رسول الله قال يأجوج ومأجوج قال فسرى عن القوم فقال اعملوا وأبشروا فوالذى نفس
Dan ketika daun timbangan kebaikan itu ringan, datanglah malaikat Zabaniyah dengan memegang gada-gada dari besi dan mengenakan pakaian dari api, lalu mereka menyeret bagian penghuni neraka menuju neraka. Rasulullah ﷺ bersabda tentang hari kiamat, "Sesungguhnya itu adalah hari di mana Allah Ta'ala memanggil Adam 'alaihissalam lalu berfirman kepadanya, 'Bangkitlah wahai Adam, lalu keluarkanlah utusan penghuni neraka!' Adam bertanya, 'Berapakah utusan penghuni neraka itu?' Allah berfirman, 'Dari setiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.' Ketika para sahabat mendengar hal itu, mereka terdiam putus asa hingga tidak ada seorang pun yang tersenyum sedikit pun. Ketika Rasulullah ﷺ melihat apa yang terjadi pada para sahabatnya, beliau bersabda, 'Beramallah kalian dan bergembiralah! Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bersama kalian ada dua golongan makhluk yang tidaklah keduanya berada pada sesuatu melainkan akan memperbanyak jumlahnya bersama siapa saja yang binasa dari keturunan Adam dan keturunan Iblis.' Mereka bertanya, 'Apakah dua golongan itu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Ya'juj dan Ma'juj.' Maka lenyaplah kesedihan dari kaum sahabat tersebut, lalu beliau bersabda, 'Beramallah kalian dan bergembiralah! Demi Tuhan yang jiwa…
محمد بيده ما أنتم فى الناس يوم القيامة إلا كالشامة فى جنب البعير أو كالرقمة فى ذراع الدابة صفة الخصماء ورد المظالم
Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah keberadaan kalian di tengah-tengah manusia pada hari kiamat melainkan bagaikan tahi lalat pada lambung unta atau seperti belang kecil pada kaki depan binatang ternak."
قد عرفت هول الميزان وخطره وأن الأعين شاخصة إلى لسان الميزان فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وما أدراك ماهيه نار حامية واعلم أَنَّهُ لَا يَنْجُو مِنْ خَطَرِ الْمِيزَانِ إِلَّا مَنْ حَاسَبَ فِي الدُّنْيَا نَفْسَهُ وَوَزَنَ فِيهَا بميزان الشرع أعماله وأقواله وخطراته ولحظاته كما قال عمر ﵁ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أن تحاسبوا وزنوها قبل أن توزنوا وَإِنَّمَا حِسَابُهُ لِنَفْسِهِ أَنْ يَتُوبَ عَنْ كُلِّ معصية قبل الموت تَوْبَةً نَصُوحًا وَيَتَدَارَكَ مَا فَرَطَ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي فَرَائِضِ اللَّهِ تَعَالَى وَيَرُدَّ الْمَظَالِمَ حَبَّةً بعد حبة ويستحل كل من تعرض له بلسانه ويده وسوء ظنه بقلبه وبطيب قلوبهم حَتَّى يَمُوتَ وَلَمْ يَبْقَ عَلَيْهِ مَظْلَمَةٌ وَلَا فَرِيضَةٌ
Engkau telah mengetahui kedahsyatan Mizan dan bahayanya, serta bahwa mata-mata terbelalak menatap jarum timbangan. "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalikannya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." Dan ketahuilah bahwasanya tidak akan selamat dari bahaya Mizan kecuali orang yang bermuhasabah (mengoreksi) dirinya di dunia dan menimbang perbuatan, perkataan, terlintasnya pikiran, serta kerlingan matanya dengan timbangan syariat, sebagaimana dikatakan oleh Umar radhiyallahu 'anhu, "Hitunglah (introspeksi) diri kalian sebelum kalian dihitung (dihisab), dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang." Adapun cara muhasabah seseorang terhadap dirinya adalah dengan bertobat dari setiap kemaksiatan sebelum datangnya kematian dengan tobat nasuha (tobat yang murni), menyusuli kelalaian atas keterlanjuran dalam kewajiban-kewajiban kepada Allah Ta'ala, mengembalikan kezaliman biji demi biji, meminta kerelaan dari setiap orang yang pernah ia sakiti dengan lidahnya, tangannya, atau prasangka buruk hatinya, serta dengan kerelaan hati mereka sampai ia meninggal dalam keadaan tidak lagi menanggung satu kezaliman pun dan tidak pula kewajiban syariat yang terbengkalai.
فَهَذَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَإِنْ مَاتَ قَبْلَ رَدِّ الْمَظَالِمِ أَحَاطَ بِهِ خُصَمَاؤُهُ فَهَذَا يَأْخُذُ بِيَدِهِ وَهَذَا يَقْبِضُ عَلَى نَاصِيَتِهِ وهذا يتعلق بلببه هذا يَقُولُ ظَلَمْتَنِي وَهَذَا يَقُولُ شَتَمْتَنِي وَهَذَا يَقُولُ استهزأت بى وهذا يقول ذكرتنى فى الغيبة بما يسوءنى وَهَذَا يَقُولُ جَاوَرْتَنِي فَأَسَأْتَ جِوَارِي وَهَذَا يَقُولُ عاملتنى فغششتنى وهذا يقول بايعتنى فغبنتنى وأخفيت عنى عيب سلعتك وهذا يقول كذبت فى سعر متاعك وهذا يقول رأيتنى محتاجا وكنت غنيا فما أطعمتنى وَهَذَا يَقُولُ وَجَدْتَنِي مَظْلُومًا وَكُنْتَ قَادِرًا عَلَى دفع الظلم عنى فداهنت الظالم وما راعيتنى فبينا أنت كذلك وقد انشب الخصماء فيك مخالبهم وأحكموا فى تلابيبك أيديهم وأنت مبهوت متحير من كثرتهم حتى لم يبق فى عمرك أحد عاملته على درهم أو جالسته فى مجلس إلا وقد استحق عليك مظلمة بغيبة أو خيانة أو نظر بعين استحقار وقد ضعفت عن مقاومتهم ومددت عنق الرجاء إلى سيدك ومولاك لعله يخلصك من أيديهم إِذْ قَرَعَ سَمْعَكَ نِدَاءُ الْجَبَّارِ ﷻ الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظلم اليوم فعند ذلك ينخلع قلبك من الهيبة وتوقن نفسك بالبوار وتتذكر ما أنذرك الله تعالى عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ حَيْثُ قَالَ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لا يرتد إليهم طرفهم وأفئدتهم هواء وأنذر الناس الآية
Maka orang yang demikian akan masuk surga tanpa hisab. Namun jika ia meninggal sebelum mengembalikan kezaliman-kezaliman tersebut, para penuntutnya (orang yang dizalimi) akan mengelilinginya. Orang yang ini memegang tangannya, orang yang itu memegang ubun-ubunnya, yang ini mencengkeram kerah bajunya; orang ini berkata, "Engkau telah menzalimiku," yang ini berkata, "Engkau telah mencaciku," yang ini berkata, "Engkau telah memperolokku," yang ini berkata, "Engkau telah membicarakanku dalam ghibah dengan hal yang menyakitkanku," yang ini berkata, "Engkau bertetangga denganku lalu engkau berbuat buruk dalam bertetangga," yang ini berkata, "Engkau bertransaksi denganku lalu engkau menipuku," yang ini berkata, "Engkau berjual beli denganku lalu engkau merugikanku dan menyembunyikan cacat barang daganganmu dariku," yang ini berkata, "Engkau berbohong mengenai harga barangmu," yang ini berkata, "Engkau melihatku membutuhkan bantuan sedangkan engkau kaya namun engkau tidak memberiku makan," dan yang ini berkata, "Engkau mendapatinya terzalimi padahal engkau mampu menolak kezaliman dariku namun engkau bermuka dua kepada orang zalim itu dan tidak memedulikanku." Di saat engkau dalam keadaan demikian, sementara para penuntut telah menancapkan cakar-cakar mereka padamu dan menguatkan pegangan tangan mereka pada kerah bajumu, sedang engkau terperangah bingung karena banyaknya mereka hingga tidak ada seorang pun dalam hidupmu yang pernah engkau ajak bertransaksi sebesar satu dirham atau engkau duduki bersama dalam suatu majelis melainkan ia berhak menuntut kezaliman atasmu baik berupa ghibah, pengkhianatan, atau pandangan menghina, dan engkau telah lemah untuk melawan mereka serta mengulurkan leher harapan kepada Tuan dan Pelindungmu agar Dia menyelamatkanmu dari tangan mereka; tiba-tiba pendengaranmu disengat oleh seruan Al-Jabbar Jalla Jalaluh, "Pada hari ini setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini." Maka pada saat itu hatimu terhenyak lunglai karena dahsyatnya kewibawaan-Nya, jiwamu meyakini kebinasaan, dan engkau teringat akan peringatan Allah Ta'ala kepadamu melalui lisan Rasul-Nya ketika berfirman, "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada hari itu mata-mata terbelalak, mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang pandangan mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. Dan berilah peringatan kepada manusia…" hingga akhir ayat.
فما أشد فرحك اليوم بتمضمضك باعراض الناس ويناولك أَمْوَالَهُمْ وَمَا أَشَدَّ حَسَرَاتِكَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ إذا وقف ربك على بساط العدل وشوفهت بخطاب السياسة وأنت مفلس فقير عاجز مهين لا تقدر على أن ترد حقا أو تظهر عذرا فعند ذلك تؤخذ حسناتك التى تعبت فيها عمرك وتنقل إلى خصمائك عوضا عن حقوقهم
Maka betapa besarnya kegembiraanmu hari ini tatkala engkau sibuk mengunyah-ngunyah kehormatan manusia dan mengambil harta mereka, namun betapa besarnya penyesalanmu pada hari itu tatkala Tuhanmu berdiri di atas hamparan keadilan dan engkau disapa secara berhadapan dengan khitab penegakan hukum, sedangkan engkau dalam keadaan bangkrut, fakir, lemah, lagi terhina, tidak mampu mengembalikan hak dan tidak pula mampu menyampaikan alasan! Maka pada saat itulah amal-amal kebaikanmu yang telah engkau payahkan sepanjang umurmu diambil dan dipindahkan kepada musuh-musuh penuntutmu sebagai ganti atas hak-hak mereka.
قال أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هل تدرون من المفلس قلنا المفلس فينا يا رسول الله من لا درهم له ولا دينار ولا متاع قال المفلس من أمتى من يأتى يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتى وقد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح فى النار فانظر إلى مصيبتك فى مثل هذا اليوم إذ ليس يسلم لك حسنة من آفات الرياء ومكايد الشيطان فإن سلمت حسنة واحدة فى كل مدة طويلة ابتدرها خصماؤك وأخذوها ولعلك لو حاسبت نفسك وأنت مواظب على صيام النهار وقيام الليل لعلمت أنه لا ينقضى عنك يوم إلا ويجرى
Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (muflis) itu?" Kami menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami, wahai Rasulullah, adalah orang yang tidak memiliki dirham, dinar, dan harta benda." Beliau bersabda, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia datang dalam keadaan dahulu pernah mencaci orang ini, menuduh (berzina) orang ini, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka diberikanlah kepada orang ini dari kebaikan-kebaikannya dan kepada orang itu dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum terbayar seluruh tanggungannya, maka diambil dari dosa-dosa mereka lalu dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka." Maka renungkanlah musibahmu pada hari semisal ini, tatkala tidak ada satu kebaikan pun bagimu yang selamat dari bencana riya dan tipu daya setan. Jika pun ada satu kebaikan yang selamat setelah jangka waktu yang sangat lama, para penuntutmu akan bersegera mengambilnya. Boleh jadi jika engkau mengoreksi dirimu padahal engkau tekun berpuasa di siang hari dan shalat malam di malam hari, niscaya engkau tahu bahwa tidak berlalu satu hari pun darimu melainkan mengalir…
على لسانك من غيبة المسلمين ما يستوفى جميع حسناتك فكيف ببقية السيئات من أكل الحرام والشبهات والتقصير فى الطاعات وكيف ترجو الخلاص من المظالم في يوم يقتص فيه للجماء من القرناء فقد روى أبو ذر أن رسول الله ﷺ رأى شاتين ينتطحان فقال يا أبا ذر أتدرى فيم ينتطحان قلت لا قال ولكن الله يدرى وسيقضى بينهما يوم القيامة
…melalui lidahmu berupa ghibah (menggunjing) sesama muslim yang menghabiskan seluruh kebaikanmu. Lalu bagaimana dengan dosa-dosa lainnya berupa memakan barang haram dan syubhat, serta kelalaian dalam ketaatan? Dan bagaimana engkau berharap keselamatan dari kezaliman-kezaliman pada hari di mana diambil pembalasan qishash bagi domba yang tidak bertanduk dari domba yang bertanduk? Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melihat dua ekor domba sedang saling menyundul, lalu beliau bersabda, "Wahai Abu Dzar, tahukah engkau karena apa keduanya saling menyundul?" Aku menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Akan tetapi Allah mengetahui dan Dia akan memutuskan perkara di antara keduanya pada hari kiamat."
وقال أبو هريرة في قوله ﷿ ﴿وما من دابة في الأرض ولا طائر يطير بجناحيه إلا أمم أمثالكم﴾ أنه يحشر الخلق كلهم يوم القيامة البهائم والدواب والطير وكل شىء فيبلغ من عدل الله تعالى أن يأخذ للجماء من القرناء ثم يقول كونى ترابا فذلك حين يقول الكافر يا ليتني كنت تراباً فكنت أنت يا مسكين فى يوم ترى صحيفتك خالية عن حسنات طال فيها تعبك فتقول أين حسناتى فيقال نقلت إلى صحيفة خصمائك وترى صحيفتك مشحونة بسيئات طال فى الصبر عنها نصبك واشتد بسبب الكف عنها عناؤك فتقول يا رب هذه سيئات ما قارفتها قط فيقال هذه سيئات القوم الذين اغتبتهم وشتمتهم وقصدتهم بالسوء وظلمتهم فى المبايعة والمجاورة والمخاطبة والمناظرة والمذاكرة والمدارسة وسائر أصناف المعاملة
Dan Abu Hurairah berkata tentang firman Allah 'Azza wa Jalla, "Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu," bahwa seluruh makhluk dikumpulkan pada hari kiamat: binatang ternak, binatang melata, burung, dan segala sesuatu. Maka sedemikian agungnya keadilan Allah Ta'ala sehingga Dia membalaskan hak bagi domba yang tidak bertanduk dari domba yang bertanduk, kemudian Allah berfirman, "Jadilah kalian tanah!" Pada saat itulah orang kafir berkata, "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu menjadi tanah." Maka bagaimana keadaanmu wahai insan yang miskin, pada hari ketika engkau melihat lembaran catatanmu kosong dari kebaikan-kebaikan yang dahulu engkau telah bersusah payah mendapatkannya, lalu engkau bertanya, "Di manakah kebaikan-kebaikanku?" Maka dikatakan kepadamu, "Dipindahkan ke lembaran catatan musuh-musuh penuntutmu." Dan engkau melihat lembaran catatanmu dipenuhi dengan dosa-dosa yang dahulu engkau telah sangat lelah bersabar menahannya dan amat berat perjuanganmu untuk mencegah diri darinya, lalu engkau berkata, "Wahai Tuhanku, ini adalah keburukan-keburukan yang tidak pernah aku lakukan sama sekali!" Maka dikatakan kepadamu, "Ini adalah keburukan-keburukan dari kaum yang pernah engkau gunjingkan, engkau caci, engkau tuju dengan keburukan, dan engkau zalimi dalam jual beli, bertetangga, bertukar kata, berdebat, berdiskusi, belajar mengajar, serta seluruh jenis muamalah."
قال ابن مسعود قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الشيطان قد يئس أن تعبد الأصنام بأرض العرب ولكن سيرضى منكم بما هو دون ذلك بالمحقرات وهى الموبقات فاتقوا الظلم ما استطعتم فإن العبد ليجىء يوم القيامة بأمثال الجبال من الطاعات فيرى أنهن سينجينه فما يزال عبد يجىء فيقول رب إن فلانا ظلمنى بمظلمة فيقول امح من حسناته فما يزال كذلك حتى لا يبقى من حسناته شىء وإن مثل ذلك مثل سفر نزلوا بفلاة من الأرض ليس معهم حطب فتفرق القوم فحطبوا فلم يلبثوا أن أعظموا نارهم وصنعوا ما أرادوا وكذلك الذنوب ولما نزل قوله تعالى ﴿إنك ميت وإنهم ميتون ثم إنكم يوم القيامة عند ربكم تختصمون﴾ قال الزبير يا رسول الله أيكرر علينا ما كان بيننا فى الدنيا مع خواص الذنوب قال نعم ليكررن عليكم حتى تؤدوا إلى كل ذي حق حقه قال الزبير والله إن الأمر لشديد فأعظم بشدة يوم لا يسامح فيه بخطوة ولا يتجاوز فيه عن لطمة ولا عن كلمة حتى ينتقم للمظلوم من الظالم قال أنس سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول يحشر الله العباد عراة غبرا بهما قال قلنا ما بهما قال ليس معهم شىء ثم يناديهم ربهم تعالى بصوت يسمعه من بعد كما يسمعه من قرب أنا الملك أنا الديان لا ينبغى لأحد من أهل الجنة أن يدخل الجنة ولأحد من أهل النار عليه مظلمة حتى أقتصه منه ولا لأحد من أهل النار إن يدخل النار ولأحد من أهل الجنة عنده مظلمة حتى أقتصه منه حتى اللطمة قلنا وكيف وإنما نأتي الله ﷿ عراة غبرا بهما فقال بالحسنات والسيئات فاتقوا الله عباد الله ومظالم العباد بأخذ أموالهم
Ibnu Mas'ud berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah berupa berhala-berhala di tanah Arab, akan tetapi ia akan ridha dengan apa yang di bawah itu dari kalian, yaitu dosa-dosa kecil yang dianggap remeh, padahal itu adalah dosa-dosa yang membinasakan. Maka takutilah perbuatan zalim semampu kalian. Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan datang pada hari Kiamat dengan membawa ketaatan-ketaatan sebesar gunung-gunung, lalu ia memandang bahwa ketaatan-ketaatan itu akan menyelamatkannya. Namun hamba demi hamba senantiasa datang seraya berkata: 'Wahai Tuhan, sesungguhnya si fulan telah menzalimiku dengan suatu kezaliman.' Maka Allah berfirman: 'Hapuslah dari kebaikan-kebaikannya.' Ia terus-menerus demikian hingga tidak tersisa sedikit pun dari kebaikan-kebaikannya. Perumpamaan hal itu bagaikan sekelompok musafir yang singgah di sebuah padang sahara tanpa membawa kayu bakar. Lalu orang-orang bertebaran mengumpulkan kayu bakar, maka tak berapa lama mereka menyalakan api yang besar dan memasak apa yang mereka kehendaki. Demikian pulalah dosa-dosa." Dan ketika turun firman Allah Ta'ala: ﴿Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat di hadapan Tuhanmu akan berbantah-bantahan﴾ [QS. Az-Zumar: 30-31], Az-Zubair bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah akan diulangi kembali kepada kita apa yang terjadi di antara kita di dunia beserta dosa-dosa yang khusus?" Beliau menjawab: "Ya, sungguh benar-benar akan diulangi kepada kalian hingga dipenuhi hak setiap pemilik hak." Az-Zubair berkata: "Demi Allah, sungguh perkara ini sangat berat." Betapa dahsyatnya kekejaman hari di mana tidak ada toleransi untuk satu langkah pun, tidak diampuni satu tamparan pun dan tidak pula satu kalimat pun, hingga dituntut balasan bagi orang yang dizalimi dari orang yang menzalimi. Anas berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah akan menghimpun para hamba dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat, berdebu, dan buhman." Kami bertanya: "Apakah buhman itu?" Beliau menjawab: "Tidak membawa sesuatu pun bersama mereka. Kemudian Tuhan mereka Ta'ala menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat: 'Akulah Sang Raja, Akulah Sang Maha Membalas (Ad-Dayyan). Tidak layak bagi seorang pun dari penghuni surga untuk masuk surga sementara ada seorang penghuni neraka yang menuntut kezaliman darinya hingga Aku membalaskannya untuknya; dan tidak pula bagi seorang dari penghuni neraka untuk masuk neraka sementara ada seorang dari penghuni surga yang mempunyai hak kezaliman padanya hingga Aku membalaskannya untuknya, bahkan hingga urusan satu tamparan'." Kami bertanya: "Bagaimana bisa, padahal kami mendatangi Allah Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat, berdebu, dan tidak membawa apa-apa?" Beliau bersabda: "Dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dan jauhilah kezaliman-kezaliman terhadap sesama hamba dengan mengambil harta mereka…
والتعرض لأعراضهم وتضييق قلوبهم وإساءة الخلق فى معاشرتهم فإن ما بين العبد وبين الله خاصة فالمغفرة إليه أسرع ومن اجتمعت عليه مظالم وقد تاب عنها وعسر عليه استحلال أرباب المظالم فليكثر من حسناته ليوم القصاص ويسر ببعض الحسنات بينه وبين الله بكمال الإخلاص بحيث لا يطلع عليه إلا الله فعساه يقربه ذلك إلى الله تعالى فينال به لطفه الذى ادخره لأحبابه المؤمنين فى دفع مظالم العباد عنهم كما روى عن أنس عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال بينما رسول الله ﷺ جالس إذ رأيناه يضحك حتى بدت ثناياه فقال عمرا ما يضحكك يا رسول الله بأبي أنت وأمى قال رجلان من أمتي جثيا بين يدي رب العزة فقال أحدهما يا رب خذلى مظلمتى من أخى فقال الله تعالى أعط أخاك مظلمته قال يا رب لم يبق من حسناته شيء فقال الله تعالى للطالب كيف تصنع ولم يبق من حسناته شىء قال يا رب يتحمل عنى من أوزارى قال وفاضت عينا رسول الله ﷺ بالبكاء ثم قال إن ذلك ليوم عظيم يوم يحتاج الناس إلى أن يحمل عنهم من أوزارهم قال فقال الله للطالب ارفع رأسك فانظر فى الجنان فرفع رأسه فقال يا رب أرى مدائن من فضة مرتفعة وقصوراً من ذهب مكللة باللؤلؤ لأي نبي هذا أو لأى صديق هذا أو لأى شهيد هذا قال لمن أعطانى الثمن قال يا رب ومن يملك ثمنه قال أنت تملكه قال وما هو قال عفوك عن أخيك قال يا رب إنى قد عفوت عنه قال الله تعالى خذ بيد أخيك فأدخله الجنة ثم قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عند ذلك اتقوا الله وأصلحوا ذات بينكم فإن الله يصلح بين المؤمنين وهذا تنبيه على أن ذلك إنما ينال بالتخلق بأخلاق الله وهو إصلاح ذات البين وسائر الأخلاق
…dan merusak kehormatan mereka, menyempitkan hati mereka, serta berakhlak buruk dalam bermuamalah dengan mereka. Karena sesungguhnya apa yang ada di antara seorang hamba dan Allah itu bersifat khusus, maka ampunan Allah kepadanya lebih cepat. Dan barangsiapa menanggung banyak kezaliman padahal ia telah bertobat darinya, namun sulit baginya untuk meminta kehalalan dari para pemilik hak tersebut, hendaknya ia memperbanyak kebaikan-kebaikannya untuk hari pembalasan (qishash), dan menyembunyikan sebagian kebaikan antara dirinya dengan Allah dengan kesempurnaan ikhlas sekira tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Semoga hal itu mendekatkannya kepada Allah Ta'ala sehingga ia memperoleh kelembutan-Nya (luthf) yang disimpan-Nya untuk para kekasih-Nya dari kalangan orang-orang beriman dalam menghapuskan kezaliman terhadap sesama hamba dari mereka. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas dari Rasulullah ﷺ bahwasanya beliau bersabda: "Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, tiba-tiba kami melihat beliau tersenyum hingga terlihat gigi serinya. Lalu 'Umar bertanya: 'Apakah yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu?' Beliau bersabda: 'Dua orang laki-laki dari umatku berlutut di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Salah satunya berkata: Wahai Tuhanku, ambilkanlah hak kezalimanku dari saudaraku. Maka Allah Ta'ala berfirman: Berikanlah kepada saudaramu hak kezalimannya. Ia menjawab: Wahai Tuhanku, tidak tersisa lagi dari kebaikan-kebaikannya sedikit pun. Maka Allah Ta'ala berfirman kepada yang menuntut: Apa yang akan engkau perbuat padahal tidak tersisa lagi kebaikannya sedikit pun? Ia berkata: Wahai Tuhanku, hendaknya ia menanggung sebagian dari dosa-dosaku.' Beliau melanjutkan: Lalu kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata seraya menangis, kemudian beliau bersabda: 'Sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat dahsyat, hari di mana manusia membutuhkan orang lain untuk menanggung dosa-dosa mereka.' Beliau bersabda: Lalu Allah berfirman kepada penuntut: 'Angkatlah kepalamu dan lihatlah ke dalam surga-surga!' Maka ia mengangkat kepalanya seraya berkata: 'Wahai Tuhanku, aku melihat kota-kota dari perak yang tinggi dan istana-istana dari emas yang berhiaskan mutiara. Untuk nabi siapakah ini, atau untuk shiddiq siapakah ini, atau untuk syahid siapakah ini?' Allah berfirman: 'Bagi siapa yang membayar harganya kepada-Ku.' Ia bertanya: 'Wahai Tuhanku, siapakah yang memiliki harganya?' Allah berfirman: 'Engkau memilikinya.' Ia bertanya: 'Apakah itu?' Allah berfirman: 'Maafmu untuk saudaramu.' Ia berkata: 'Wahai Tuhanku, sungguh aku telah memaafkannya.' Allah Ta'ala berfirman: 'Peganglah tangan saudaramu lalu masukkanlah ia ke dalam surga!' Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda saat itu: 'Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian, karena sesungguhnya Allah mendamaikan di antara orang-orang yang beriman.'" Dan ini merupakan peringatan bahwa hal tersebut hanya dapat dicapai dengan berakhlak dengan akhlak Allah, yaitu mendamaikan hubungan antarsesama (ishlah dzat al-bain) dan seluruh akhlak mulia lainnya.
فتفكر الآن فى نفسك إن خلت صحيفتك عن المظالم أو تلطف لك حتى عفا عنك وأيقنت بسعادة الأبد كيف يكون سرورك فى منصرفك من مفصل الفضاء وقد خلع عليك خلعة الرضا وعدت بسعادة ليس بعدها شقاء وبنعيم لا يدور بحواشيه الفناء وعند ذلك طار قلبك سرورا وفرحا وابيض وجهك واستنار وأشرق كما يشرق القمر ليلة البدر فتوهم تبخترك بين الخلائق رافعا رأسك خاليا عن الأوزار ظهرك ونضرة نسيم النعيم وبرد الرضا يتلألأ من جبينك وخلق الأولين والآخرين ينظرون إليك وإلى حالك ويغبطونك فى حسنك وجمالك والملائكة يمشون بين يديك ومن خلفك وينادون على رءوس الأشهاد هذا فلان بن فلان رضى الله عنه وأرضاه وقد سعد سعادة لا يشقى بعدها أبدا أفترى أن هذا المنصب ليس بأعظم من المكانة التى تنالها فى قلوب الخلق فى الدنيا بريائك ومداهنتك وتصنعك وتزينك فإن كنت تعلم أنه خير منه بل لانسبة له إليه فتوسل إلى إدراك هذه الرتبة بالإخلاص الصافى والنية الصادقة فى معاملتك مع الله فلن تدرك ذلك إلا به
Maka renungkanlah sekarang tentang dirimu, jika lembaran catatan amalmu bersih dari perbuatan zalim, atau Allah bersikap lembut padamu hingga memaafkanmu, dan engkau telah meyakini kebahagiaan yang abadi; betapa besarnya kegembiraanmu ketika kembali dari tempat keputusan pengadilan (mafshal al-qadha'), dalam keadaan telah dipakaikan padamu jubah keridhaan (khil'at ar-ridha), dan engkau kembali membawa kebahagiaan yang tidak ada kesengsaraan setelahnya, serta kenikmatan yang tidak tersentuh oleh kebinasaan. Pada saat itu, hatimu terbang karena riang dan gembira, wajahmu menjadi putih berseri, bercahaya dan terang benderang bagaikan indahnya bulan di malam purnama. Bayangkanlah langkahmu yang anggun di antara sekalian makhluk seraya mengangkat kepala, punggungmu bersih dari beban dosa, keanggunan embun kenikmatan serta kesejukan keridhaan memancar dari dahimu, sementara seluruh makhluk dari generasi awal hingga akhir memandangmu dan memuji keadaanmu, merindukan kedudukanmu dalam keindahan dan ketampananmu. Para malaikat berjalan di depan dan di belakangmu, lalu menyerukan di hadapan khalayak ramai: "Inilah Fulan bin Fulan, Allah telah ridha kepadanya dan menjadikannya ridha, dan ia telah berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah sengsara setelahnya selama-lamanya." Apakah engkau memandang kedudukan ini tidak lebih agung daripada kedudukan yang engkau peroleh di hati manusia di dunia melalui sifat riya', bermuka dua (mudahanah), berpura-pura (tashannu'), dan memperindah diri (tazayyun)? Jika engkau tahu bahwa ini jauh lebih baik, bahkan tidak ada perbandingannya sama sekali, maka bertawasullah untuk mencapai derajat ini dengan ikhlas yang murni dan niat yang jujur dalam muamalahmu kepada Allah, karena engkau sekali-kali tidak akan mencapainya kecuali dengannya.
وإن تكن الأخرى والعياذ بالله بأن خرج من صحيفتك جريمة كنت تحسبها هينة وهى عند الله عظيمة فمقتك لأجلها فقال عليك لعنتى يا عبد السوء لا أتقبل منك عبادتك فلا تسمع هذا النداء إلا ويسود وجهك ثم تغضب الملائكة لغضب الله تعالى فيقولون وعليك لعنتنا ولعنة الخلائق أجمعين وعند ذلك تنثال إليك الزبانية وقد غضبت لغضب خالقها فأقدمت عليك بفظاظتها وزعارتها وصورها المنكرة فأخذوا بناصيتك يسحبونك على وجهك على ملأ الخلق وهم ينظرون إلى اسوداد وجهك وإلى ظهور خزيك وأنت تنادى بالويل والثبور وهم يقولون لك لا تدع اليوم ثبورا واحدا وادع ثبورا كثيرا وتنادى الملائكة ويقولون هذا فلان بن فلان
Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya —kita berlindung kepada Allah— yakni keluar dari lembaran catatan amalmu suatu kejahatan yang dahulu engkau anggap remeh padahal di sisi Allah sangat besar, lalu Allah murka padamu karenanya seraya berfirman: "Atasmu laknat-Ku wahai hamba yang buruk, Aku tidak menerima ibadahmu darimu." Maka tidaklah engkau mendengar seruan ini melainkan wajahmu menjadi hitam legam. Kemudian para malaikat pun murka karena kemurkaan Allah Ta'ala, lalu mereka berkata: "Dan atasmu laknat kami serta laknat seluruh makhluk." Pada saat itu, malaikat Zabaniyah datang berebut menyergapmu dalam keadaan murka mengikuti kemurkaan Penciptanya. Mereka mendatangi dengan kekasaran, kebengisan, dan rupa mereka yang menakutkan, lalu memegang ubun-ubunmu seraya menyeretmu atas wajahmu di hadapan khalayak ramai. Mereka menyaksikan kehitaman wajahmu dan kebinasaan kehinaanmu, sedangkan engkau berteriak menjerit-jerit meminta kebinasaan dan kehancuran, lalu para malaikat berkata kepadamu: "Janganlah kamu memohon pada hari ini satu kebinasaan saja, melainkan mohonlah kebinasaan yang banyak." Dan malaikat menyeru seraya berkata: "Inilah Fulan bin Fulan…
كشف الله عن فضائحه ومخازيه ولعنه بقبائح مساويه فشقى شقاوة لا يسعد بعدها أبدا وربما يكون ذلك بذنب أذنبته خفية من عباد الله أو طلبا للمكانة فى قلوبهم أو خوفا من الافتضاح عندهم فما أعظم جهلك إذ تحترز عن الافتضاح عند طائفة يسيرة من عباد الله في الدنيا المنقرضة ثم لا تخشى من الافتضاح العظيم فى ذلك الملأ العظيم مع التعرض لسخط الله وعقابه الأليم والسياق بأيدى الزبانية إلى سواء الجحيم فهذه أحوالك وأنت لم تشعر بالخطر الأعظم وهو خطر الصراط
…Allah telah membongkar keaiban-keaiban dan keburukan-keburukannya, serta melaknatnya karena kejahatan-kejahatan amalnya yang buruk, sehingga ia celaka dengan kecelakaan yang tidak akan pernah bahagia setelahnya selama-lamanya." Dan boleh jadi hal itu disebabkan oleh satu dosa yang engkau lakukan tersembunyi dari para hamba Allah, atau karena mencari kedudukan di hati mereka, atau karena takut terbongkar keaiban di hadapan mereka. Alangkah besarnya kebodohanmu ketika engkau menjaga diri dari terbongkarnya keaiban di hadapan sekelompok kecil hamba Allah di dunia yang fana ini, lalu engkau tidak takut akan pembongkaran keaiban yang amat besar di tengah khalayak yang sangat agung itu, beserta keterpaparan terhadap kemurkaan Allah dan siksa-Nya yang pedih, serta diseret oleh tangan-tangan malaikat Zabaniyah menuju tengah-tengah neraka Jahim! Maka inilah keadaan-keadaanmu, padahal engkau belum merasakan bahaya yang paling besar, yaitu bahaya melintasi Shirath.