(أنواع الحروف)

٢- أحرف الجواب

٢- أحرف الجواب

وهيَ "نَعَمْ وبَلى وإي وأَجلْ وجَيرِ وإنَّ ولا وكلاَّ". ويُؤتى بها للدلالةِ على جملة الجواب المحذوفة، قائمةً مَقامها. فإن قيلَ لكَ "أَتذهبُ؟ "، فقلتَ "نَعَمْ"، فالمعنى نَعَمْ أذهبُ. فنَعَمْ سادَّةٌ مَسَدَّ الجواب، وهو "أَذهبُ". و"أَجلْ" بمعنى "نعَمْ" وهي مثلُها تكونُ تصديقاً للمُخبر في أخبارهِ كأن يقولَ قائلٌ حضرَ الاستاذُ، فتقولُ نعَمْ، تُصدِّقُ كلامهُ. وتكونُ لإعلامِ المُستخبر، كأن يُقالَ هلْ حضرَ الأستاذُ؟ فتقولُ نَعَم. وتكونُ لِوَعدِ الطالبِ بما يَطلُبُ، كأن يقولَ لكَ الأستاذُ "اجتهِدْ في دروسكَ" فتقول "نَعَم"، تَعِدُهُ بما طلبَ منك. و"أي" لا تُستعمَلُ إلا قبل القسمِ، كقوله تعالى ﴿قُلْ إي ورَبي إنَّهُ لَحَقٌّ﴾ . "أي" توكيد للقسم، والمعنى نعم وربي. وبينَ "بَلى ونَعمْ وأَجل" فرقٌ. فَبلى. تختصُّ بوقوعها بعدَ النّفي فتجعلُهُ إثباتاً، كقوله تعالى ﴿زَعَمَ الذينَ كفروا أَنْ لن يُبعَثوا، قُل بَلى ورَبي لَتُبعَثُنَّ﴾ ، وقولهِ ﴿أَلستُ بِرَبّكُم، قالوا "بَلى"﴾ ، أي بَلى أنتَ ربُّنا. بخلاف "نَعَمْ وأجلْ" فإنَّ الجوابَ بهما يَتبعُ ما قبلَهما في إثباتهِ ونفيهِ، فإن قلتَ لرجلٍ "أَليسَ لي عليكَ الفُ دِرهَمٍ؟ " فإن قالَ "بَلَى" لزِمَهُ ذلكَ، لأنَّ المعنى "بَلى لَكَ عليَّ ذلكَ" وإن قال "نَعَمْ" أَو "أَجلْ" لم يَلزمهُ، لأنَّ المعنى "نَعَم ليس لكَ عليَّ ذلك". و"جَيْرِ" حرفُ جوابٍ، بمعنى "نَعَمْ". وهو مبنيٌّ على الكسر. وقد يُبنى على الفتح. والأكثرُ أن يقعَ قبلَ القَسم، نحو "جيرِ لأفعلنَّ"، أي

Yaitu: نَعَمْ (ya), بَلَى (tentu/bahkan), إِي (ya), أَجَلْ (ya), جَيْرِ (tentu), إِنَّ (sesungguhnya/ya), لَا (tidak), dan كَلَّا (sekali-kali tidak). Huruf-huruf ini didatangkan untuk menunjukkan kalimat jawaban (*jumlah al-jawab*) yang dibuang, dengan menempati posisinya. Jika dikatakan kepada Anda: 'Apakah kamu akan pergi?' lalu Anda menjawab: 'نَعَمْ', maka maknanya adalah: 'Ya, aku akan pergi.' Maka kata نَعَمْ menempati posisi jawaban yang dibuang, yaitu 'aku akan pergi'. Dan kata أَجَلْ memiliki makna yang sama dengan نَعَمْ. Ia berfungsi seperti halnya نَعَمْ untuk membenarkan pembicara dalam beritanya, seperti ketika seseorang berkata: 'Guru telah hadir,' lalu Anda menjawab: 'نَعَمْ' untuk membenarkan ucapannya. Ia juga berfungsi untuk menginformasikan kepada penanya, seperti ketika ditanyakan: 'Apakah guru telah hadir?' lalu Anda menjawab: 'نَعَمْ'. Ia juga berfungsi untuk menjanjikan kepada peminta atas apa yang ia minta, seperti ketika guru berkata kepada Anda: 'Bersungguh-sungguhlah dalam pelajaranmu!' lalu Anda menjawab: 'نَعَمْ' untuk menjanjikan kepadanya apa yang ia minta dari Anda. Dan kata إِي tidak digunakan kecuali sebelum kalimat sumpah (*qasam*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ﴾ (Katakanlah: 'Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar'). Kata إِي di sini berfungsi sebagai penguat sumpah, dan maknanya adalah: 'Ya, demi Tuhanku.' Dan terdapat perbedaan antara بَلَى, نَعَمْ, dan أَجَلْ. Kata بَلَى khusus terletak setelah kalimat negatif (*nafi*), lalu ia mengubahnya menjadi kalimat positif (*itsbat*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ﴾ (Orang-orang kafir mengklaim bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: 'Tentu, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan') [QS. At-Taghabun: 7], dan firman-Nya: ﴿أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى﴾ (Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: 'Betul [Engkau Tuhan kami]') [QS. Al-A'raf: 172], yang berarti: 'Betul, Engkau adalah Tuhan kami.' Berbeda halnya dengan نَعَمْ dan أَجَلْ, karena jawaban dengan keduanya mengikuti kalimat sebelumnya baik dalam hal positif maupun negatifnya. Jika Anda berkata kepada seseorang: 'Bukankah aku memiliki piutang seribu dirham atasmu?' Jika ia menjawab: 'بَلَى', maka ia wajib membayarnya, karena maknanya adalah: 'Betul, engkau memiliki piutang itu atasku.' Namun jika ia menjawab: 'نَعَمْ' atau 'أَجَلْ', maka ia tidak wajib membayarnya, karena maknanya adalah: 'Ya, engkau tidak memiliki piutang itu atasku.' Dan kata جَيْرِ adalah *huruf jawab* yang bermakna نَعَمْ. Ia dimabnikan atas kasrah, dan terkadang dimabnikan atas fathah. Yang paling sering terjadi adalah ia terletak sebelum kalimat sumpah, seperti: جَيْرِ لَأَفْعَلَنَّ (Tentu, aku benar-benar akan melakukannya), yang berarti…

"نَعَم واللهِ لأفعلنَّ". ومنهم من يجعله اسماً، بمعنى "حقاً" قال الجوهريُّ في صَحاحه "قولهم جيرِ لآتينَّك، بكسر الراءِ يمينٌ للعرب" بمعنى "حقاً". و"إنَّ" حرفُ جوابٍ، بمعنى "نَعَمْ"، يقال لك "هل جاءَ زُهَيرٌ؟ " فتقولُ "إنَّهُ"، قال الشاعر [من مجزوء الكامل] بَكَرَ العَواذلُ، في الصَّبُو … حِ، يَلُمْنَني وَأَلومُهُنَّهْ وَيَقُلْنَ شَيْبٌ قَدْ عَلاَ … كَ، وَقَدْ كَبِرْتَ، فَقُلْتُ إِنَّهُ والهاءُ، التي تلحقه، هي هاءُ السَّكت، التي تُزادُ في الوقف، لا هاءُ الضمير ولو كانت هاءَ الضمير لثبتت في الوصل، كما تثبتُ في الوقف. وليس الأمرُ كذلك، لأنك تحذفها إن وصلتَ، يقال لك "هل رجعَ أُسامةُ؟ " فتقولُ "إنّ" يا هذا، أي نعم، يا هذا قد رجع. وأيضاً قد يكون الكلام على الخطاب أو التكلم، والهاءُ هذه على حالها، نحو "هل رجعتم؟ "، فتقولُ "إنَّهُ"، وتقولُ "هل نمشي؟ " فتقول "إنَّهْ". ولو كانت هذه الهاءُ هاءَ الضمير، وهي للغيبة، لكان الكلامُ فاسداً. و"إنَّ"، الجوابيّةُ هذه، منقولةٌ عن "إنَّ" المؤكدة، التي تنصبُ الاسمَ وترفع الخبر، لأن الجوابَ تصديقٌ وتحقيق، وهما والتأكيد من باب واحد. و"لا وكَلاَّ" تكونانِ لنفي الجواب. وتُفيدُ "كَلاَّ"، مع النفي، رَدعَ المُخاطبِ وزجرَهُ. تقولُ لِمنْ يُزَيَّنُ لك السوء ويُغريكَ بإتيانهِ "كَلاَّ"، أي لا أُجيبُكَ إلى ذلك، فارتدعْ عن طلبك.

*"Na'am wallāhi la-af'alanna"* (Ya, demi Allah sungguh aku akan melakukannya). Di antara mereka ada yang menjadikannya sebagai *isim* bermakna *haqqan* (sungguh/benarlah). Al-Jauhari berkata dalam kitab *Ash-Shihāh*-nya: "Ucapan mereka *jayri la-ātiyannaka*, dengan memba-kasrah huruf *rā'*, merupakan bentuk sumpah orang Arab" dengan arti *haqqan*. Dan kata *inna* merupakan *huruf jawāb* bermakna *na'am* (ya). Apabila dikatakan kepadamu: *"Hal jā'a Zuhairun?"* (Apakah Zuhair telah datang?), maka engkau menjawab: *"Innah"*. Penyair berkata [bahr *Majzū' Al-Kāmil*]: *Bakara al-'awādzilu fī ash-shabū … hi yalumnanī wa alūmuhunnah* *Wa yaqulna syaibun qad 'alā … ka wa qad kabirta faqultu innah* Huruf *hā'* yang bersambung dengannya adalah *hā' as-sakt*, yaitu *hā'* tambahan ketika *waqaf* (berhenti), bukan *hā' dhamīr* (kata ganti). Seandainya ia berupa *hā' dhamīr*, niscaya ia akan tetap ada ketika *washal* (bersambung) sebagaimana tetapnya ketika *waqaf*. Namun kenyataannya tidak demikian, karena engkau menghapusnya jika di-*washal*-kan; dikatakan kepadamu: *"Hal raja'a Usāmah?"*, lalu engkau menjawab: *"In ya hādzā"*, yakni *na'am yā hādzā qad raja'a* (Ya wahai saudara, ia telah kembali). Selain itu, kadang-kadang percakapan ditujukan untuk lawan bicara (*khithāb*) atau pembicara (*takallum*), sedangkan huruf *hā'* ini tetap pada keadaannya, contohnya: *"Hal raja'tum?"*, engkau menjawab: *"Innah"*, dan engkau katakan: *"Hal namsyī?"*, engkau menjawab: *"Innah"*. Seandainya *hā'* ini adalah *hā' dhamīr* yang berfungsi untuk kata ketiga (*ghaibah*), niscaya tuturan tersebut menjadi rusak. Dan kata *inna* sebagai jawaban ini dialihkan dari *inna at-taukīdiyyah* (penguat) yang me-*nashab*-kan *isim* dan me-*rafa'*-kan *khabar*, karena jawaban berfungsi membenarkan dan menetapkan, sedangkan keduanya serta penegasan (*at-taukīd*) berada dalam satu muara. Adapun kata *lā* dan *kallā* berfungsi untuk menafikan jawaban. Kata *kallā*, di samping penafian, juga memberikan faedah *rad'u al-mukhāthab* (mencegah lawan bicara) dan menegurnya. Engkau katakan kepada orang yang membujukmu kepada keburukan dan merayu untuk melakukannya: *"Kallā"* (Sekali-kali tidak!), yakni aku tidak menuruti ajakanmu itu, maka berhentilah dari tuntutanmu.

وقد تكونُ "كَلاَّ" بمعنى "حَقاً"، كقولهِ تعالى "كلاَّ، إنَّ الإنسانَ لَيَطغى أنْ رآه استغنى".

Terkadang kata *كَلاَّ* (*kallaa*) bermakna *حَقاً* (*haqqan* – sungguh/sebenarnya), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿كلاَّ، إنَّ الإنسانَ لَيَطغى أنْ رآه استغنى﴾ (Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup).