٤- أحرف الشرط
وهي "إنْ وإذْ ما" الجازمتانِ، و"لَوْ ولولا ولوما وأمّا ولمَّا". و"لَوْ" على نوعين ١- أن تكونَ حرفَ شرطٍ لِمَا مضى، فتُفيدُ امتناعَ شيءٍ لامتناعِ غيرهِ وتُسمّى حرفَ امتناع لامتناع، أو حرفاً لِما كانَ سيقعُ لوقوعِ غيره. فإن قلتَ "لو جئتَ لأكرمتُكَ"، فالمعنى قد امتنعَ إكرامي إياكَ لامتناع مجيئك، لأنَّ الإكرامَ مشروطٌ بالمجيءِ ومُعلَّقٌ عليه. ولا يَليها إلا الفعلُ الماضي صيغةً وزماناً، كقوله تعالى ﴿ولو شاءَ رَبُّكَ لجعلَ الناس أُمةً واحدةً﴾ .
Yaitu kata *in* (إِنْ) dan *idz mâ* (إِذْ مَا) yang men-jazam-kan, serta *lau* (لَوْ), *laulâ* (لَوْلَا), *laumâ* (لَوْمَا), *ammâ* (أَمَّا), dan *lammâ* (لَمَّا). Dan kata *lau* terbagi menjadi dua jenis: 1. Berstatus sebagai *huruf syarth* (huruf syarat) untuk masa lampau, sehingga memberikan faedah tidak terjadinya sesuatu karena tidak terjadinya hal yang lain. Ia disebut *huruf imtinâ' li-imtinâ'* (huruf ketidakjadian karena ketidakjadian), atau huruf bagi sesuatu yang hampir terjadi karena terjadinya hal yang lain. Jika Anda mengucapkan: *lau ji'ta la-akramtuka* (sekiranya kamu datang, niscaya aku akan memuliakanmu), maka maknanya adalah "sungguh telah terhalang pemuliaanku kepadamu karena terhalangnya kedatanganmu", karena pemuliaan tersebut disyaratkan dan digantungkan pada kedatangan. Kata ini tidak diikuti kecuali oleh *fi'il madhi* baik secara bentuk (*shighah*) maupun waktu (*zamân*), seperti firman Allah Ta'ala: "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu" (*wa-lau syâ'a rabbuka la-ja'ala an-nâsa ummatan wâhidatan*).
٢- أن تكونَ حرفَ شرطٍ للمستقبل، بمعنى "إنْ". وهي حينئذٍ لا تُفيدُ الامتناع، وإنما تكون لمجرَّد ربطِ الجوابِ بالشرط، كإنْ، إلاّ أنها غيرُ جازمةٍ مثلَها، فلا عملَ لها، والأكثرُ أن يَليها فعلٌ مُستقبلٌ معنًى لا صيغةً، كقوله تعالى ﴿وليَخشَ الذينَ لو تركوا من خلفهم ذُرِّيَّةً ضعافاً خافوا عليهم﴾ ، أي "إنْ يَتركوا" وقد يَليها فعلٌ مستقبلٌ معنًى وصيغةً "لو تزورُنا لسُرِرنا بِلقائكَ"، أي "إن تَزُرْنا". وتحتاجُ "لو" بنوعيها إلى جواب، كجميع أجواتِ الشرطِ. ويجوزُ في جوابها أن يقترنَ باللام، كقوله تعالى ﴿لو كانَ فيهما آلهةٌ إلا اللهُ لفَسدَتا﴾ ، وأن يتجرَّدَ منها، كقوله تعالى ﴿ولو نشاءُ جعلناهُ أُجاجاً﴾ ، وقولهِ "ولو شاءَ رَبُّكَ ما فعَلوهُ". إلا أن يكون مضارعاً منفيّاً، فلا يجوزَ اقترانهُ بها، نحو "لو اجتهدتَ لم تَندَم". و"لولا ولوما"، حرفا شرطٍ بَدلانِ على امتناعِ شيءٍ لوُجودِ غيرهِ. فإن قلتَ "لولا رحمةُ اللهِ لَهلَكَ الناسُ" و"لَوما الكتابةُ لَضاعَ أكثرُ العلمِ"، فالمعنى أنهُ امتنعَ هَلاكُ الناسِ لوجودِ رحمةِ اللهِ تعالى، وامتنعَ ضياعُ أكثرِ العلم لوجود الكتابةِ. وهما تَلزَمانِ الدخولَ على المبتدأ والخبر، كما رأيتَ. غيرَ أَنَّ الخبرَ بعدهما يُحذَفُ وجوباً في أكثرِ التراكيبِ. والتقديرُ "لولا رحمةُ اللهِ حاصلةٌ أو موجودةٌ" و"لولا الكتابة حاصلة أو موجودة". وتحتاجانِ إلى جوابٍ، كما تحتاجُ إليه "لو". وحكمُ جوابهما كحكم جوابها، فيقترنُ باللام، كما رأيتَ، أو يُجرَّدُ منها، نحو "لولا كرمُ أخلاقِكَ ما عَلَوَتَ"، ويمتنعُ من اللام في نحو
2- Ia berkedudukan sebagai *huruf syarat* (partikel kondisional) untuk masa depan, dengan makna "إِنْ" (jika). Pada saat itu, ia tidak menunjukkan makna kemustahilan (*al-imtina'*), melainkan semata-mata untuk menghubungkan jawab dengan syarat seperti halnya *in*, hanya saja ia tidak men-*jazm*-kan seperti *in*, sehingga ia tidak beramal. Dan yang paling sering adalah ia diikuti oleh *fi'il* yang bermakna masa depan secara makna bukan secara bentuk (*shighah*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُوا عَلَيْهِمْ﴾ (Dan hendaklah takut [kepada Allah] orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraan mereka), yaitu "إِنْ يَتْرُكُوا" (jika mereka meninggalkan). Dan terkadang ia diikuti oleh *fi'il* yang bermakna masa depan baik secara makna maupun bentuk, seperti: لَوْ تَزُورُنَا لَسُرِرْنَا بِلِقَائِكَ (Sekiranya kamu mengunjungi kami, niscaya kami akan senang dengan pertemuanmu), yaitu "إِنْ تَزُرْنَا" (jika kamu mengunjungi kami). Dan "لَوْ" dengan kedua jenisnya membutuhkan *jawab* (kalimat balasan), sebagaimana seluruh peranti syarat. Dan boleh pada *jawab*-nya untuk disertai dengan huruf *lam*, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا﴾ (Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak). Dan boleh juga sunyi darinya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَلَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجاً﴾ (Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin), dan firman-Nya: ﴿وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ﴾ (Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya). Kecuali jika berupa *fi'il mudhari'* yang dinafikan, maka tidak boleh disertai dengannya, seperti: لَوْ اجْتَهَدْتَ لَمْ تَنْدَمْ (Sekiranya kamu bersungguh-sungguh, kamu tidak akan menyesal). Dan "لَوْلَا" serta "لَوْمَا" adalah dua *huruf syarat* yang menunjukkan kemustahilan terjadinya sesuatu karena adanya hal lain (*imtina' li-wujud*). Jika Anda mengucapkan: لَوْلَا رَحْمَةُ اللَّهِ لَهَلَكَ النَّاسُ (Sekiranya bukan karena rahmat Allah, niscaya manusia telah binasa) dan لَوْمَا الْكِتَابَةُ لَضَاعَ أَكْثَرُ الْعِلْمِ (Sekiranya bukan karena tulisan, niscaya sebagian besar ilmu telah hilang), maka maknanya adalah telah terhalang kebinasaan manusia karena adanya rahmat Allah Ta'ala, dan telah terhalang hilangnya sebagian besar ilmu karena adanya tulisan. Dan keduanya wajib masuk pada *mubtada'* dan *khabar*, sebagaimana yang telah Anda lihat. Hanya saja *khabar* setelah keduanya wajib dibuang pada kebanyakan susunan kalimat. Takdirannya (perkiraannya) adalah: "لَوْلَا رَحْمَةُ اللَّهِ حَاصِلَةٌ أَوْ مَوْجُودَةٌ" (Sekiranya rahmat Allah itu ada) dan "لَوْلَا الْكِتَابَةُ حَاصِلَةٌ أَوْ مَوْجُودَةٌ" (Sekiranya tulisan itu ada). Dan keduanya membutuhkan *jawab*, sebagaimana "لَوْ" membutuhkannya. Dan hukum *jawab* keduanya adalah seperti hukum *jawab*-nya "لَوْ", yaitu boleh disertai dengan *lam* sebagaimana yang telah Anda lihat, atau sunyi darinya, seperti: لَوْلَا كَرَمُ أَخْلَاقِكَ مَا عَلَوْتَ (Sekiranya bukan karena kemuliaan akhlakmu, kamu tidak akan menjadi tinggi), dan terlarang menggunakan *lam* pada contoh seperti…
"لولا حُبُّ العلمِ لم أغتربْ" لأنهُ مضارع منفيٌّ. و"أمّا" بالفتح والتشديدَ، حرفُ شرطٍ يكونُ للتّفصيل أو التوكيد. وهي قائمةٌ مَقامَ أَداةِ الشرط وفعلِ الشرط. والمذكورُ بعدَها جوابُ الشرط، فلذلك تَلزَمُه فاءُ الجواب للرَّبط. فإن قلتَ "أمّا أنا فلا أقولُ غيرَ الحقِّ" فالمعنى "مهما يكنْ من شيءٍ فلا أقولُ غيرَ الحقِّ". أمّا كونُها للتفصيلِ فهو الأصلُ فيها، كقوله تعالى ﴿فأمّا اليتيم فلا تقهَرْ، وأمّا السائل فَلا تَنهَرْ، وأمّا بنعمةِ رَبِّكَ فحدِّثْ﴾ . وأمّا كونُها للتأكيد، فنحوُ أن تقولَ "خالدٌ شجاعٌ"، فإن أردتَ توكيدّ ذلكَ، وأنهُ لا محالةَ واقعٌ، قلتَ "أمّا خالدٌ فشجاعٌ". والأصلُ "مهما يكن من شيءٍ فخالدٌ شجاع". و"لمّا" حرفُ شرطٍ، موضوعٌ للدلالةِ على وجودِ شيءٍ لوجودِ غيرهِ. ولذلك تُسمّى حرفَ وُجودٍ لوجودٍ. وهي تختصُّ بالدخول على الفعل الماضي. وتقتضي جُملتينِ، وُجِدَتْ أُخراهما عند وجود أولاهما. والأولى هي الشرطُ، والأخرى هي الجوابُ، نحو "لمَّا جاءَ أكرمتُهُ". وتحتاج إلى جوابٍ، لأنها في معنى أدواتِ الشرط. ويكونُ جوابها فعلاً ماضياً، كما رأيتَ، أو جملةً اسميّةً مقرونةً بإذ الفجائيّة، كقوله تعالى ﴿فلمّا نجّاهم إلى البَرِّ إذا هم يشركونَ﴾ ، أو بالفاءِ، كقوله تعالى ﴿فلمّا نجاهم إلى البرِّ فمنهم مُقتصدٌ﴾ . ومن العلماءِ من يجعلها ظرفاً للزمان بمعنى "حين"، ويضيفها إلى جُملةِ الشرطِ وهو المشهورُ بينَ المُغرِبينَ، والمحقِّقُونَ على أنها حرفٌ للرَّبط.
"… *Laula hubbu al-'ilmi lam aghtarib*" (Jikalau bukan karena kecintaan pada ilmu, niscaya aku tidak akan merantau), karena ia berupa *fi'il mudhari'* yang di-negasi-kan (*manfi*). Adapun "*Amma*" (dengan *fathah* dan *tasydid*) adalah *huruf syarth* (kata bersyarat) yang berfungsi untuk *tafshil* (rincian) atau *taukid* (penegasan). Ia menempati posisi *adat asy-syarth* (instrumen syarat) sekaligus *fi'il asy-syarth*. Kata yang disebutkan setelahnya adalah *jawab asy-syarth*, oleh karena itu diwajibkan menyertakan *fa' al-jawab* sebagai pengikat (*rabith*). Jika Anda katakan: "*Amma ana fala aqulu ghaira al-haqqi*" (Adapun aku, maka aku tidak mengatakan selain kebenaran), maka maknanya adalah "*Mahma yakun min syai'in fala aqulu ghaira al-haqqi*" (Apapun yang terjadi, aku tidak akan mengatakan selain kebenaran). Adapun keberadaannya untuk *tafshil* (rincian), itu adalah fungsi dasarnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿فأمّا اليتيم فلا تقهَرْ، وأمّا السائل فَلا تَنهَرْ، وأمّا بنعمةِ رَبِّكَ فحدِّثْ﴾ (Adapun terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah engkau menghardik, dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah engkau nyatakan). Adapun keberadaannya untuk *taukid* (penegasan), contohnya jika Anda katakan: "*Khalidun syuja'un*" (Khalid seorang yang pemberani); jika Anda hendak menegaskan hal tersebut dan bahwasanya hal itu pasti terjadi, Anda katakan: "*Amma Khalidun fa-syuja'un*". Bentuk dasarnya adalah "*Mahma yakun min syai'in fa-Khalidun syuja'un*". Sedangkan "*Lamma*" adalah *huruf syarth* yang difungsikan untuk menunjukkan keberadaan sesuatu karena keberadaan sesuatu yang lain (*wujud li wujud*). Oleh karena itu ia disebut *huruf wujud li wujud*. Kata ini khusus masuk pada *fi'il madhi* dan menuntut dua *jumlah* (kalimat), di mana *jumlah* kedua ada saat *jumlah* pertama ada. *Jumlah* pertama adalah *syarth*, sedangkan *jumlah* kedua adalah *jawab*, seperti: "*Lamma ja'a akramtuhu*" (Ketika ia datang, aku memuliakannya). Ia memerlukan *jawab* karena berada dalam makna instrumen *syarth*. *Jawab*-nya bisa berupa *fi'il madhi*, sebagaimana telah engkau lihat, atau *jumlah ismiyyah* yang dirangkaikan dengan *idzh al-fuja'iyyah* (idzh kejutan), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فلمّا نجّاهم إلى البرِّ إذا هم يشركونَ﴾ (Maka ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka mempersekutukan Allah), atau dirangkaikan dengan *fa'*, seperti firman-Nya: ﴿فلمّا نجاهم إلى البرِّ فمنهم مُقتصدٌ﴾ (Maka ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, lalu sebagian dari mereka mengambil jalan tengah). Sebagian ulama menjadikan "*lamma*" sebagai *dzarf az-zaman* (keterangan waktu) bermakna "*hiina*" (ketika/pada saat) dan meng-i-*dhafah*-kannya kepada *jumlah syarth*. Ini merupakan pendapat terkenal di kalangan ulama Maghribi (Barat), namun ulama *muhaqqiqun* (peneliti) menegaskan bahwa ia adalah *huruf rabth* (kata hubung pengikat).