(أنواع الحروف)

١٠- أحرف التوكيد

١٠- أحرف التوكيد

وهي "إنَّ، وأَنَّ، ولامُ الابتداءِ، ونونا التوكيدِ، واللامُ التي تقع في جواب القسَم، وقد".

Yaitu "*inna*, *anna*, *lam al-ibtida'* (lam permulaan), dua *nun taukid* (nun penegas), *lam* yang terletak pada jawab sumpah (*jawab al-qasam*), dan *qad*".

و"نونا التوكيد" إحداهما ثقيلةٌ والأخرى خفيفةٌ. وقد اجتمعتا في قوله تعالى ﴿ليُسجَننْ وَليَكُوناً من الصّاغرين﴾ . ولا يُوكّدُ بهما إلا فعلُ الأمر، نحو "تَعلّمَنَّ"، والمضارعُ المُستقبلُ الواقعُ بعدَ أداةٍ من أَدواتِ الطلبِ، ونحو "لِنجتهدَنَّ ولا نكسلَنَّ"، والمضارعُ الواقعُ شرطاً بعدَ "إن" المؤكّدةِ بما الزائدة، كقوله تعالى ﴿فإمَّا يَنزَغَنَّكَ من الشيطانِ نزغٌ فاستعِذْ باللهِ﴾ ، والمضارعُ المنفيُّ بلا. كقوله ﴿واتّقُوا فِتنةً لا تُصيبنَّ الذينَ ظَلموا منكم خاصّةً﴾ ، والمُضارعُ المُثبتُ المستقبلُ الواقعُ جواباً لقسمٍ" كقوله ﴿تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامكم﴾ . وتأكيدُهُ في هذهِ الحالِ واجبٌ، وفي غيرها، ممّا تقدَّمَ، جائزٌ. و"لامُ القسم" هي التي تقعُ في جواب القسمِ تأكيداً له، كقوله تعالى ﴿تاللهِ لقد آثرَك اللهُ علينا﴾ . والجملةُ بعدَها جوابُ القسم وقد يكونُ القسمُ مُقدَّراً، كقوله سبحانه ﴿لقد كان لكم في رسولِ الله أُسوةٌ حَسنةٌ﴾ . وتختصُّ "قد" بالفعل الماضي والمضارع المتصرِّفينِ المُثبَتينِ ويشترَطُ في المضارع أن يَتجرَّدَ من النواصب والجوازم والسينِ وسوف. ويُخطىءُ من يقولُ "قد لا يذهب، وقد لن يذهب".

Dua *nun taukid* (nun penguat) terdiri dari *nun taukid tsaqilah* (ber-tasydid) dan *nun taukid khafifah* (ber-sukun). Keduanya berkumpul dalam firman Allah Ta'ala: ﴿ليُسجَننْ وَليَكُوناً من الصّاغرين﴾ (Niscaya dia akan dipenjarakan dan niscaya dia termasuk orang-orang yang hina). Tidak boleh menguatkan dengan kedua *nun* tersebut kecuali pada *fi'il amr* (kata kerja perintah), seperti "تَعلّمَنَّ" (sungguh belajarlah!), dan *fi'il mudhari'* (kata kerja masa kini/nanti) yang menunjukkan masa depan (*mustaqbal*) yang terletak setelah salah satu *adawat ath-thalab* (peranti tuntutan/permohonan), seperti "لِنجتهدَنَّ ولا نكسلَنَّ" (sungguh mari kita bersungguh-sungguh dan janganlah kita malas), dan *fi'il mudhari'* yang berkedudukan sebagai *syarat* setelah "إنْ" yang dikuatkan dengan "ما" *zaidah* (tambahan), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فإمَّا يَنزَغَنَّكَ من الشيطانِ نزغٌ فاستعِذْ باللهِ﴾ (Maka jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah), dan *fi'il mudhari'* yang dinegasikan dengan "لا", seperti firman-Nya: ﴿واتّقُوا فِتنةً لا تُصيبنَّ الذينَ ظَلموا منكم خاصّةً﴾ (Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu), serta *fi'il mudhari'* positif (*mutsbat*) yang menunjukkan masa depan yang berkedudukan sebagai jawab dari *qasam* (sumpah), seperti firman-Nya: ﴿تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامكم﴾ (Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu). Penegasan (*taukid*) dalam keadaan terakhir ini hukumnya wajib, sedangkan dalam keadaan-keadaan sebelumnya yang telah disebutkan hukumnya boleh (*ja'iz*). Dan *lam al-qasam* (lam sumpah) adalah *lam* yang terletak pada jawab *qasam* sebagai penguat baginya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿تاللهِ لقد آثرَك اللهُ علينا﴾ (Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami). Kalimat setelahnya berkedudukan sebagai jawab *qasam*. Terkadang *qasam*-nya diperkirakan (*muqaddar*), seperti firman-Nya yang Mahasuci: ﴿لقد كان لكم في رسولِ الله أُسوةٌ حَسنةٌ﴾ (Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu). *Huruf* "قد" dikhususkan untuk masuk pada *fi'il madhi* (kata kerja masa lampau) dan *fi'il mudhari'* yang *mutasharrif* (dapat ditashrif/diubah bentuknya) lagi *mutsbat* (positif). Disyaratkan pada *fi'il mudhari'* agar terbebas dari *nawasib* (peranti penashab), *jawazim* (peranti penjazam), *sin*, dan *saufa*. Dan salah bagi orang yang mengatakan "قد لا يذهب" (terkadang dia tidak pergi) dan "قد لن يذهب" (terkadang dia tidak akan pergi).

(وقد شاع على ألسنة كثير من أدباء هذا العصر وعلمائه وأقلامهم دخول "قد" على "لا". ولم يسلم من ذلك بعض قدماء الكتاب وعلمائهم. وإنَّ "ربما" تقوم مقام "لا" في مثل هذا المقام، فبدل أن يقال "قد لا يكون" مثلاً، يقال "ربما لا يكون") . ولا يجوزُ أن يُفصَلَ بينَها وبينَ الفعل بفاصلٍ غيرِ القسم، لأنها كالجُزءِ منه، أَمَّا بالقسم فجائزٌ، نحو "قد واللهِ فعلتُ". وهي، إن دخلت على الماضي أفادت تحقيقَ معناهُ. وإن دخلت على المضارع أَفادت تقليل وقوعه، نحو "قد يَصدُقُ الكذوبُ. وقد يجودُ البخيل". وقد تُفيدُ التحقيقَ مع المضارع، إن دلَّ عليه دليلٌ، كقوله تعالى ﴿قد يَعلم اللهُ ما أَنتم عليه﴾ . ومن معانيها التّوقُّعُ، أَي تَوَقُّعُ حصولِ ما بعدها، أَي انتظارُ حصولهِ، تقولُ "قد جاءَ الأستاذُ"، إِذا كان مجيئُهُ مُنتظراً وقريباً، وإن لم يجىء فعلاً، وتقولُ "قد يقدُمُ الغائبُ". إذا كنتَ تَترَقّبُ قُدومَهُ وتَتوَقعُهُ قريباً. ومن ذلك "قد قامت الصلاةُ"، لأنَّ الجماعة يَتوَقعونَ قيامَها قريباً. ومنها التقريبُ، أَي تقريبُ الماضي من الحالِ، تقولُ "قد قُمتُ بالأمر"، لِتدُل على أنَّ قيامك بهِ ليسَ ببعيدٍ من الزمانِ الذي أنتَ فيه. ومنها الكثيرُ، نحو ﴿قد نَرى تَقلُّبَ وَجهِك في السماءِ﴾ . وتُسمَّى "قد" حرفَ تحقيقٍ، أو تقليلٍ، أو تَوقعٍ، أو تقريبٍ، أو تكثير، حَسَبَ معناها في الجملة التي هي فيها.

(Telah populer di kalangan banyak sastrawan dan ilmuwan zaman ini penggunaan *قد* (*qad*) yang masuk pada *لا* (*laa*). Bahkan sebagian penulis dan ulama klasik pun tidak luput darinya. Padahal kata *ربما* (*rubbamaa*) sebenarnya menggantikan posisi *لا* (*laa*) dalam konteks seperti ini. Maka alih-alih diucapkan *قد لا يكون* (*qad laa yakuunu*) misalnya, semestinya diucapkan *ربما لا يكون* (*rubbamaa laa yakuunu*)). Tidak boleh ada pemisah antara *قد* (*qad*) dan *fi'il* selain *qasam* (sumpah), karena *قد* (*qad*) sudah seperti bagian dari *fi'il* tersebut. Adapun memisahkan dengan *qasam* hukumnya boleh, seperti: *قد واللهِ فعلتُ* (*qad wallaahi fa'altu* – Demi Allah, sungguh aku telah melakukannya). Apabila *قد* (*qad*) masuk pada *fi'il madhi* (kata kerja bentuk lampau), ia berfungsi memberikan makna *tahqiq* (penegasan/kepastian terwujudnya perbuatan). Dan jika masuk pada *fi'il mudhari'* (kata kerja bentuk sedang/akan datang), ia berfungsi memberikan makna *taqlil* (menunjukkan sedikit/jarangnya kejadian), seperti: *قد يَصدُقُ الكذوبُ* (*qad yasduqu al-kadzubu* – Kadang-kadang pendusta itu berkata benar) dan *قد يجودُ البخيل* (*qad yajudu al-bakhilu* – Kadang-kadang orang bakhil itu dermawan). Namun, *قد* (*qad*) terkadang juga memberikan makna *tahqiq* saat masuk pada *fi'il mudhari'*, apabila terdapat dalil yang menunjukkannya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿قد يَعلم اللهُ ما أَنتم عليه﴾ (Sungguh Allah mengetahui keadaan kamu). Di antara maknanya yang lain adalah *tawaqqu'* (harapan/ekspektasi), yaitu menanti terjadinya perbuatan setelahnya. Anda mengatakan: *قد جاءَ الأستاذُ* (*qad jaa'a al-ustadz*) apabila kedatangan guru tersebut memang ditunggu dan sudah dekat, meskipun ia belum benar-benar tiba. Dan Anda mengatakan: *قد يقدُمُ الغائبُ* (*qad yaqdumu al-ghaa'ibu*) jika Anda menantikan kedatangan orang yang gaib (tidak hadir) itu dalam waktu dekat. Di antaranya pula ucapan: *قد قامت الصلاةُ* (*qad qaamati as-shalaatu* – Shalat akan segera didirikan), karena jamaah menantikan berdirinya shalat dalam waktu dekat. Makna lainnya adalah *taqrib* (mendekatkan), yaitu mendekatkan masa lalu (*madhi*) ke masa sekarang (*haal*). Anda mengatakan: *قد قُمتُ بالأمر* (*qad qumtu bil-amri* – Aku baru saja melaksanakan tugas itu) untuk menunjukkan bahwa tindakan Anda melaksanakan tugas tersebut tidak jauh dari waktu Anda berada saat ini. Makna lainnya lagi adalah *taksir* (menunjukkan banyaknya kejadian), seperti firman-Nya: ﴿قد نَرى تَقلُّبَ وَجهِك في السماءِ﴾ (Sungguh Kami sering melihat wajahmu mendongak ke langit). Oleh karena itu, *قد* (*qad*) dinamakan *harf tahqiq*, *harf taqlil*, *harf tawaqqu'*, *harf taqrib*, atau *harf taksir*, sesuai dengan maknanya di dalam kalimat tempat ia berada.