الشطر الأول من الكتاب في الفقر

بيان آداب الفقير في فقره

بيان آداب الفقير في فقره

بيان آدَابُ الْفَقِيرِ فِي فَقْرِهِ

Penjelasan Adab-Adab Orang Fakir dalam Kemiskinannya

اعْلَمْ أَنَّ لِلْفَقِيرِ آدَابًا فِي بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ وَمُخَالَطَتِهِ وَأَفْعَالِهِ يَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِيَهَا

Ketahuilah bahwa orang fakir memiliki adab-adab pada batinnya, lahiriahnya, pergaulannya, dan perbuatannya yang hendaknya selalu dijaganya.

فَأَمَّا أَدَبُ بَاطِنِهِ فَأَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ كَرَاهِيَةٌ لِمَا ابْتَلَاهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ مِنَ الْفَقْرِ أَعْنِي أَنَّهُ لَا يَكُونُ كَارِهًا فِعْلَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ فعله وإن كان كارهاً للفقر كالمحجوم يكون كارها للحجامة لتألمه بها ولا يكون كارهاً فعل الحجام ولا كارهاً للحجام بل ربما يتقلد منه منة فهذا أقل درجاته وهو واجب ونقيضه حرام ومحبط ثواب الفقر وهو معنى قوله ﷺ يا معشر الفقراء أعطوا الله الرضا من قلوبكم تظفروا بثواب فقركم وإلا فلا وأرفع من هذا أن لا يكون كارهاً للفقر بل يكون راضياً به وأرفع منه أن يكون طالباً له وفرحاً به لعلمه بغوائل الغنى ويكون متوكلاً في باطنه على الله تعالى واثقاً به في قدر ضرورته أنه يأتيه لا محالة ويكون كارهاً للزيادة على الكفاف وقد قال علي كرم الله وجهه إن لله تعالى عقوبات بالفقر ومثوبات بالفقر من علامات الفقر إذا كان مثوبة أن يحسن عليه خلقه ويطيع به ربه ولا يشكو حاله ويشكر الله تعالى على فقره ومن علاماته إذا كان عقوبة أن يسوء عليه خلقه ويعصي ربه بترك طاعته ويكثر الشكاية ويتسخط القضاء وهذا يدل أن كل فقير فليس بمحمود بل المحمود الذي لا يتسخط ويرضى أو يفرح بالفقر ويرضى لعلمه بثمرته إذ قيل ما أعطى عبد شيئاً من الدنيا إلا قيل له خذه على ثلاثة أثلاث شغل وهم وطول حساب

Adapun adab batinnya adalah hendaklah di dalam dirinya tidak ada rasa benci terhadap apa yang diujikan Allah Ta'ala kepadanya berupa kemiskinan. Maksudnya, ia tidak membenci perbuatan Allah Ta'ala dari sudut pandang bahwa itu adalah perbuatan-Nya, meskipun ia membenci kemiskinan itu sendiri. Perumpamaannya seperti orang yang dibekam, ia membenci pembekaman karena rasa sakit yang ditimbulkannya, namun ia tidak membenci perbuatan juru bekam dan tidak membenci juru bekam itu sendiri, bahkan kerap kali merasa berutang budi kepadanya. Ini adalah tingkatan paling rendah dan hukumnya wajib, sedangkan kebalikannya adalah haram dan menggugurkan pahala kemiskinan. Inilah makna dari sabda Nabi ﷺ, "Wahai sekalian orang fakir, berikanlah kerelaan kepada Allah dari hati kalian, niscaya kalian akan meraih pahala kemiskinan kalian; jika tidak, maka tidak." Tingkatan yang lebih tinggi dari ini adalah tidak membenci kemiskinan melainkan meridhainya. Dan tingkatan yang lebih tinggi lagi adalah mengharapkannya dan merasa gembira dengannya karena mengetahui bahaya-bahaya kekayaan, serta batinnya bertawakal kepada Allah Ta'ala dan yakin akan kecukupan dalam kadar kebutuhannya bahwa hal itu pasti datang kepadanya, serta ia benci terhadap kelebihan dari sekadar kecukupan. Ali karramallahu wajhah pernah berkata, "Sesungguhnya bagi Allah Ta'ala ada hukuman-hukuman melalui kemiskinan dan ada pahala-pahala melalui kemiskinan. Di antara tanda kemiskinan itu menjadi pahala adalah membaiknya akhlak seseorang dengannya, ia menggunakannya untuk menaati Tuhannya, tidak mengeluhkan kondisinya, serta bersyukur kepada Allah Ta'ala atas kemiskinannya. Dan di antara tanda kemiskinan itu menjadi hukuman adalah memburuknya akhlak seseorang dengannya, ia bermaksiat kepada Tuhannya dengan meninggalkan ketaatan kepada-Nya, banyak mengeluh, dan murka terhadap takdir." Ini menunjukkan bahwa tidak setiap orang fakir itu terpuji, melainkan yang terpuji adalah yang tidak murka dan ridha, atau merasa gembira dengan kemiskinan dan ridha karena mengetahui buahnya. Sebab pernah dikatakan, "Tidaklah seorang hamba diberi sesuatu dari dunia melainkan dikatakan kepadanya: Ambillah itu atas dasar tiga pertigaan: kesibukan, kecemasan, dan panjangnya hisab."

وَأَمَّا أَدَبُ ظَاهِرِهِ فَأَنْ يُظْهِرَ التَّعَفُّفَ وَالتَّجَمُّلَ وَلَا يُظْهِرَ الشَّكْوَى وَالْفَقْرَ بَلْ يَسْتُرَ فَقْرَهُ ويستر أنه يستره فَفِي الْحَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الْفَقِيرَ الْمُتَعَفِّفَ أَبَا الْعِيَالِ وَقَالَ تَعَالَى يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أغنياء من التعفف وقال سفيان أفضل الأعمال التجمل عند المحنة وقال بعضهم ستر الفقر من كنوز البر

Adapun adab lahiriahnya adalah hendaklah ia menampakkan sifat 'iffah (menjaga kehormatan diri) dan tajammul (menjaga penampilan yang baik), serta tidak menampakkan keluhan dan kemiskinan; melainkan ia menyembunyikan kemiskinannya dan menyembunyikan pula kenyataan bahwa ia menyembunyikannya. Dalam hadis disebutkan, "Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai orang fakir yang menjaga kehormatan diri (ta'affuf) dan menanggung beban keluarga." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta." (QS. Al-Baqarah: 273). Sufyan berkata, "Amal yang paling utama adalah berpura-pura baik (menjaga kesabaran dan penampilan) saat tertimpa cobaan." Dan sebagian ulama berkata, "Menyembunyikan kemiskinan termasuk simpanan kebajikan."

وأما في الأعمال فَأَدَبُهُ أَنْ لَا يَتَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِأَجْلِ غِنَاهُ بل يتكبر عليه قَالَ علي كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ مَا أَحْسَنَ تَوَاضُعَ الْغَنِيِّ لِلْفَقِيرِ رَغْبَةً فِي ثَوَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَحْسَنُ مِنْهُ تِيهُ الْفَقِيرِ عَلَى الْغَنِيِّ ثِقَةً بِاللَّهِ ﷿ فَهَذِهِ رُتْبَةٌ وَأَقَلُّ مِنْهَا أَنْ لَا يُخَالِطَ الْأَغْنِيَاءَ وَلَا يَرْغَبَ في مجالستهم لأن ذلك من مبادىء الطمع

Adapun dalam perbuatan, adabnya adalah hendaklah ia tidak merendahkan diri (bertawadhu') kepada orang kaya karena kekayaannya, melainkan ia menunjukkan harga diri (bersikap tinggi/berwibawa) di hadapannya. Ali karramallahu wajhah berkata, "Betapa indahnya tawadhu' orang kaya kepada orang fakir karena mengharapkan pahala Allah Ta'ala, dan yang lebih indah dari itu adalah keteguhan harga diri (tih) orang fakir terhadap orang kaya karena percaya kepada Allah Azza wa Jalla." Ini adalah suatu tingkatan, dan yang di bawahnya adalah tidak bergaul dengan orang-orang kaya dan tidak berambisi untuk duduk bersama mereka, karena hal itu termasuk benih-benih ketamakan.

قال الثوري ﵀ إذا خالط الفقير الأغنياء فاعلم أنه مراء وإذا خالط السلطان فاعلم أنه لص

Ats-Tsauri rahimahullah berkata, "Jika orang fakir bergaul dengan orang-orang kaya, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang yang riya' (pamer); dan jika ia bergaul dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang pencuri."

وقال بعض العارفين إذا خالط الفقير الأغنياء انحلت عروته فإذا طمع فيهم انقطعت عصمته فإذا سكن إليهم ضل

Sebagian arifin (ahli ma'rifat) berkata, "Jika orang fakir bergaul dengan orang-orang kaya, terlepaslah ikatan agamanya; jika ia tamak kepada mereka, terputuslah perlindungan dirinya; dan jika ia merasa tenang bersandar kepada mereka, sesatlah ia."

وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَسْكُتَ عَنْ ذِكْرِ الْحَقِّ مدامنة لِلْأَغْنِيَاءِ وَطَمَعًا فِي الْعَطَاءِ

Hendaknya ia tidak berdiam diri dari menyuarakan kebenaran karena hendak mengambil hati orang-orang kaya dan karena tamak terhadap pemberian mereka.

وَأَمَّا أَدَبُهُ فِي أفعاله لَا يَفْتُرَ بِسَبَبِ الْفَقْرِ عَنْ عِبَادَةٍ وَلَا يَمْنَعَ بَذْلَ قَلِيلِ مَا يَفْضُلُ عَنْهُ فَإِنَّ ذَلِكَ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَفَضْلُهُ أَكْثَرُ مِنْ أَمْوَالٍ كثيرة تبذل عن ظهر غني روى زيد بن أسلم قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ درهم من الصدقة أفضل عند الله من مائة ألف درهم قيل وكيف ذلك يا رسول الله قال أخرج رجل من عرض ماله مائة ألف درهم فتصدق بها وأخرج رجل درهماً من درهمين لا يملك غيرهما طيبة به نفسه فصار صاحب الدرهم أفضل من صاحب المائة ألف وينبغي أن لا يدخر مالاً بل يأخذ قدر الحاجة ويخرج الباقي وفي الادخار ثلاث درجات إحداها أن لا يدخر إلا ليومه وليلته وهي درجة الصديقين والثانية أن يدخر لأربعين يوماً فإن ما زاد عليه داخل في طول الأمل وقد فهم العلماء ذلك من ميعاد الله تعالى لموسى ﵇

Adapun adabnya dalam perbuatan-perbuatannya adalah hendaknya ia tidak menjadi lemah karena kemiskinan dalam menjalankan ibadah, dan tidak menahan diri dari memberikan sedikit kelebihan harta yang ada padanya. Sebab yang demikian itu merupakan kesungguhan orang yang sedikit hartanya (juhdul muqill), dan keutamaannya lebih banyak daripada harta berlimpah yang disedekahkan oleh orang kaya dari sisa kekayaannya. Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Satu dirham dari sedekah adalah lebih utama di sisi Allah daripada seratus ribu dirham." Ditanyakan, "Bagaimana bisa demikian, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Seseorang mengeluarkan seratus ribu dirham dari bagian kekayaannya lalu bersedekah dengannya, sedangkan seseorang mengeluarkan satu dirham dari dua dirham yang ia miliki dan tidak punya selainnya dengan kerelaan jiwanya; maka pemilik satu dirham itu menjadi lebih utama daripada pemilik seratus ribu dirham." Dan hendaknya ia tidak menimbun harta, melainkan mengambil sekadar kebutuhan dan mengeluarkan sisanya. Dalam menimbun harta terdapat tiga tingkatan: Pertama: Tidak menimbun kecuali untuk kebutuhan sehari semalamnya, dan ini adalah tingkatan shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur imannya). Kedua: Menimbun untuk kebutuhan empat puluh hari, sebab apa yang melebihi dari itu masuk ke dalam kategori panjang angan-angan (thulul amal). Para ulama memahami hal tersebut dari janji Allah Ta'ala kepada Musa alaihissalam.

ففهم منه الرخصة في أمل الحياة أربعين يوماً

Dari hal tersebut dipahami adanya kemurahan (rukhsah) dalam menggantungkan harapan hidup selama empat puluh hari.

وهذه درجة المتقين والثالثة أن يدخر لسنته وهي أقصى المراتب وهي رتبة الصالحين ومن زاد في الادخار على هذا فهو واقع في غمار العموم خارج عن حيز الخصوص بالكلية فغنى الصالح الضعيف في طمأنينة قلبه في قوت سنته وغنى الخصوص في أربعين يوماً وغنى خصوص الخصوص في يوم وليلة وقد قسم النبي ﷺ نساءه على مثل هذه الأقسام فبعضهن كان يعطيها قوت سنة عند حصول ما يحصل وبعضهن قوت أربعين يوماً وليلة وهو قسم عائشة وحفصة

Dan ini adalah derajat orang-orang yang bertakwa (al-muttaqin). Tingkatan ketiga adalah menyimpan perbekalan untuk jangka waktu satu tahun, yang merupakan batas paling akhir dan merupakan tingkatan orang-orang saleh (al-shalihin). Barang siapa menimbun simpanan melebihi batas ini, maka ia telah jatuh ke dalam kerumunan awam dan keluar dari lingkup kelompok khusus (al-khushush) secara keseluruhan. Maka kecukupan (ghina) bagi orang saleh yang lemah terletak pada ketenangan hatinya atas makanan pokok untuk satu tahun; kecukupan kelompok khusus terletak pada perbekalan empat puluh hari; sedangkan kecukupan kelompok khushushul khushush (khusus dari yang khusus) terletak pada perbekalan satu hari satu malam. Nabi ﷺ pun membagi istri-istri beliau ke dalam tingkatan-tingkatan seperti ini: sebagian dari mereka ada yang beliau berikan makanan pokok untuk satu tahun ketika rezeki diperoleh, dan sebagian lagi mendapat perbekalan untuk empat puluh hari empat puluh malam, yaitu bagian 'Aisyah dan Hafshah.