الشطر الأول من الكتاب في الفقر

بيان حقيقة الفقر واختلاف أحوال الفقير وأساميه

بيان حقيقة الفقر واختلاف أحوال الفقير وأساميه

بيان حقيقة الفقر واختلاف أحوال الفقير وأساميه

Penjelasan Hakikat Fakir serta Perbedaan Keadaan dan Penamaan Orang Fakir

اعلم أن الفقر عبارة عن فقد ما هو محتاج إليه أما فقد ما لا حاجة إليه فلا يسمى فقراً

Ketahuilah bahwa fakir adalah ungkapan tentang ketiadaan sesuatu yang dibutuhkan. Adapun ketiadaan sesuatu yang tidak dibutuhkan, maka hal itu tidak dinamakan kefakiran.

وإن كان المحتاج إليه موجوداً مقدوراً عليه لم يكن المحتاج فقيراً وإذا فهمت هذا لم تشك في أن كل موجود سوى الله تعالى فهو فقير لأنه محتاج إلى دوام الوجود في ثاني الحال ودوام وجود مستفاد من فضل الله تعالى وجوده فإن كان في الوجود موجود ليس وجوده مستفاد له من غير فهو الغني المطلق ولا يتصور أن يكون مثل هذا الموجود إلا واحداً فليس في الوجود إلا غني واحد وكل من عداه فإنهم محتاجون إليه ليمدوا وجودهم بالدوام وإلى هذا الحصر الإشارة بقوله تعالى ﴿والله الغني وأنتم الفقراء﴾ هذا معنى الفقر مطلقا ولكنا لسنا نقصد بيان الفقر المطلق بل الفقر من المال على الخصوص وإلا ففقر العبد بالإضافة إلى أصناف حاجاته لا ينحصر لأن حاجاته لا حصر لها

Jika sesuatu yang dibutuhkan itu ada dan berada dalam jangkauan kemampuannya, maka orang yang membutuhkan tersebut tidaklah dinamakan fakir. Apabila engkau telah memahami hal ini, engkau tidak akan ragu bahwa setiap wujud selain Allah Ta'ala adalah fakir, karena ia membutuhkan kesinambungan wujud pada waktu berikutnya, dan kesinambungan wujud itu diperoleh dari karunia dan kemurahan Allah Ta'ala. Maka jika dalam wujud ini ada wujud yang wujudnya tidak diperoleh dari selain-Nya, dialah Yang Maha Kaya secara Mutlak (al-Ghaniyy al-Muṭlaq). Dan tidak tergambarkan adanya wujud seperti ini kecuali hanya Satu. Maka tidak ada di alam wujud ini kecuali Satu Yang Maha Kaya, dan siapa pun selain-Nya pasti membutuhkan-Nya untuk menopang wujud mereka dengan kesinambungan. Pada pembatasan inilah diisyaratkan oleh firman-Nya Ta'ala: "Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (fakir)" (QS. Muhammad: 38). Ini adalah makna kefakiran secara mutlak. Namun kami tidak bermaksud menjelaskan kefakiran mutlak, melainkan kefakiran dari harta secara khusus. Sebab jika tidak demikian, kefakiran hamba disandarkan pada beraneka ragam kebutuhannya sungguh tidak terbatas, karena kebutuhan-kebutuhannya memang tidak ada batasnya.

ومن جملة حاجاته ما يتوصل إليه بالمال وهو الذي نريد الآن بيانه فقط فنقول كل فاقد للمال فإنا نسميه فقيراً بالإضافة إلى المال الذي فقده إذا كان ذلك المفقود محتاجاً إليه في حقه ثم يتصور أن يكون له خمسة أحوال عن الفقر ونحن نميزها ونخصص كل حال باسم لنتوصل بالتمييز إلى ذكر أحكامها

Di antara sekian kebutuhan hamba adalah apa yang dapat dicapai melalui harta, dan itulah yang ingin kami jelaskan saat ini saja. Maka kami katakan: Setiap orang yang tidak memiliki harta, kami menyebutnya sebagai orang fakir dengan disandarkan pada harta yang tidak ia miliki tersebut, apabila sesuatu yang tidak ada itu memang dibutuhkan olehnya. Kemudian, dapat digambarkan bahwa ia memiliki lima keadaan berkenaan dengan kefakiran ini. Kami akan membedakannya dan mengkhususkan setiap keadaan dengan sebuah penamaan agar melalui pembedaan ini kami dapat menyampaikan hukum-hukumnya.

الحالة الأولى وهي العليا أن يكون بحيث لو أتاه المال لكرهه وتأذى به وهرب من أخذه مبغضاً له ومحترزاً من شره وشغله وهو الزهد واسم صاحبه الزاهد

Keadaan pertama, yaitu yang tertinggi: Hendaknya ia berada dalam kondisi di mana seandainya harta mendatangi dirinya, niscaya ia membencinya, merasa terganggu dengannya, dan lari dari mengambilnya karena benci padanya serta menjaga diri dari keburukan dan kesibukan yang ditimbulkannya. Ini adalah tingkatan Zuhud, dan pelakunya dinamakan az-Zāhid (orang yang zuhud).

الثانية أن يكون بحيث لا يرغب فيه رغبة يفرح لحصوله ولا يكرهه كراهة يتأذى بها ويزهد فيه لو أتاه وصاحب هذه الحالة يسمى راضياً

Keadaan kedua: Hendaknya ia berada dalam kondisi tidak menyukainya dengan keinginan yang menjadikannya gembira atas perolehannya, dan tidak pula membencinya dengan kebencian yang membuatnya terganggu dengannya, serta ia akan berzuhud padanya jika harta itu mendatanginya. Pelaku keadaan ini dinamakan ar-Rāḍī (orang yang ridha).

الثالثة أن يكون وجود المال أحب إليه من عدمه لرغبة له فيه ولكن لم يبلغ من رغبته أن ينهض لطلبه بل إن أتاه صفواً عفواً أخذه وفرح به وإن افتقر إلى تعب في طلبه لم يشتغل به وصاحب هذه الحالة نسميه قانعاً إذ قنع نفسه بالموجود حتى ترك الطلب مع ما فيه من الرغبة الضعيفة

Keadaan ketiga: Hendaknya keberadaan harta lebih ia sukai daripada ketiadaannya karena adanya keinginan padanya, namun keinginannya belum mencapai tingkat yang membuatnya bertekad bangkit mencarinya. Melainkan jika harta itu datang kepadanya secara murni tanpa kesulitan, ia mengambilnya dan bergembira dengannya. Namun jika memerlukan keletihan dalam mencarinya, ia tidak menyibukkan diri dengannya. Pelaku keadaan ini kami namakan al-Qāni' (orang yang merasa cukup), sebab ia mencukupkan dirinya dengan apa yang ada hingga ia meninggalkan usaha pencarian meskipun dalam dirinya masih ada sedikit keinginan yang lemah.

الرابعة أن يكون تركه الطلب لعجزه وإلا فهو راغب فيه رغبة لو وجد سبيلاً إلى طلبه ولو بالتعب لطلبه أو هو مشغول بالطلب وصاحب هذه الحالة نسميه بالحريص

Keadaan keempat: Ditinggalkannya usaha pencarian harta adalah karena ketidakmampuannya; sebab jika tidak demikian, ia sangat menginginkannya dengan keinginan yang seandainya ia menemukan jalan untuk mencarinya meskipun dengan keletihan, niscaya ia akan mencarinya, atau ia memang sedang sibuk mencarinya. Pelaku keadaan ini kami namakan al-Ḥarīṣ (orang yang loba/serakah).

الخامسة أن يكون ما فقده من المال مضطراً إليه كالجائع الفاقد للخبز والعاري الفاقد للثوب ويسمى صاحب هذه الحالة مضطراً كيفما كانت رغبته في الطلب إما ضعيفة وإما قوية وقلما تنفك هذه الحالة عن الرغبة فهذه خمسة أحوال أعلاها الزهد والاضطرار إن انضم إليه الزهد وتصور ذلك فهو أقصى درجات الزهد كما سيأتي بيانه ووراء هذه الأحوال الخمسة حالة هي أعلى من الزهد وهي أن يستوي عنده وجود المال وفقده فإن وجده لم يفرح به ولم يتأذ وإن فقده فكذلك بل حاله كما كان حال عائشة رضي الله تعالى عنها إذا أتاها مائة ألف درهم من العطاء فأخذتها وفرقتها من يومها فقالت خادمتها ما استطعت فيما فرقت اليوم أن تشتري لنا بدرهم لحماً نفطر عليه فقالت لو ذكرتيني لفعلت فمن هذا حاله لو كانت الدنيا بحذافيرها في يده وخزائنه لم تضره إذ هو يرى الأموال في خزانة الله تعالى لا في يد نفسه فلا يفرق بين أن تكون في يده أو في يده غيره وينبغي أن يسمى صاحب هذه الحالة المستغني لأنه غني عن فقد المال ووجوده جميعاً وليفهم من هذا الاسم معنى يفارق اسم الغني المطلق على الله تعالى وعلى كل من كثر ماله من العباد فإن من كثر ماله من العباد وهو يفرح به فهو فقير إلى بقاء المال في يده وإنما هو هو غني عن دخول المال في يده لا عن بقائه فهو إذن فقير من وجه وأما هذا الشخص فهو غني عن دخول المال في يده وعن بقائه في يده وعن خروجه من يده أيضاً فإنه ليس يتأذن به ليحتاج إلى إخراجه وليس يفرح به ليحتاج إلى بقائه

Keadaan kelima: Bahwa apa yang tidak ia miliki dari harta adalah hal yang ia sangat terdesak (butuh sekali) kepadanya, seperti orang lapar yang tidak memiliki roti dan orang telanjang yang tidak memiliki pakaian. Pelaku keadaan ini dinamakan al-Muḍṭarr (orang yang terdesak), bagaimanapun tingkat keinginannya dalam mencari, baik lemah maupun kuat; dan jarang sekali keadaan ini terbebas dari keinginan. Maka inilah lima keadaan, yang tertinggi adalah zuhud. Dan kondisi terdesak (al-iḍṭirār), jika disertai dengan zuhud—dan hal itu dapat digambarkan—maka ia merupakan puncak derajat zuhud sebagaimana akan datang penjelasannya. Di luar lima keadaan ini, terdapat satu keadaan yang lebih tinggi daripada zuhud, yaitu sama saja baginya antara keberadaan harta dan ketiadaannya. Apabila ia mendapatkannya, ia tidak bergembira dengannya dan tidak merasa terganggu, dan apabila ia tidak memilikinya, ia pun demikian. Bahkan keadaannya seperti keadaan Aisyah radhiyallahu 'anha ketika datang kepadanya pemberian berupa seratus ribu dirham, lalu ia mengambilnya dan membagikannya pada hari itu juga. Maka pembantunya berkata, 'Apakah engkau tidak bisa menggunakan bagian dari apa yang engkau bagikan hari ini untuk membeli daging seharga satu dirham bagi kita untuk berbuka puasa?' Aisyah menjawab, 'Seandainya engkau mengingatkanku, niscaya aku lakukan.' Barang siapa yang keadaannya demikian, seandainya dunia beserta seluruh isinya ada di tangannya dan dalam perbendaharaannya, tidak akan membahayakannya; sebab ia melihat harta benda itu berada dalam perbendahaaraan Allah Ta'ala, bukan di tangan dirinya sendiri. Maka ia tidak membedakan antara harta itu ada di tangannya atau di tangan orang lain. Pelaku keadaan ini selayaknya dinamakan al-Mustaghnī (orang yang tidak membutuhkan lagi), karena ia tidak membutuhkan ketiadaan harta maupun keberadaannya sekaligus. Dan hendaklah dipahami dari nama ini suatu makna yang berbeda dari nama al-Ghaniyy (Yang Maha Kaya) secara mutlak bagi Allah Ta'ala, serta berbeda dari setiap hamba yang banyak hartanya. Sebab hamba yang banyak hartanya dan ia bergembira dengannya, ia tetap butuh (fakir) kepada kelanggengan harta itu di tangannya; ia hanya tidak membutuhkan masuknya harta ke tangannya, bukan tidak membutuhkan kelanggengannya, maka ia tetap fakir dari satu sisi. Adapun orang ini, ia tidak membutuhkan masuknya harta ke tangannya, tidak membutuhkan kelanggengannya di tangannya, dan tidak pula membutuhkan keluarnya harta dari tangannya. Sebab ia tidak merasa terganggu dengannya hingga perlu mengeluarkannya, dan tidak bergembira dengannya hingga perlu mengekalkannya.

وليس فاقد له ليحتاج إلى الدخول في يديه فغناه إلى العموم أميل فهو إلى الغنى الذي هو وصف الله تعالى أقرب وإنما قرب العبد من الله تعالى بقرب الصفات لا بقرب المكان ولكنا لا نسمي صاحب هذه الحالة غنياً بل مستغنياً ليبقى الغني اسماً لمن له الغنى المطلق عن كل شيء

Dan ia tidak merasa kehilangan harta hingga perlu harta itu masuk ke tangannya. Maka ketidakbutuhannya (ghinā-nya) lebih cenderung kepada keumuman, sehingga ia lebih dekat kepada sifat Kaya yang merupakan sifat Allah Ta'ala. Dan sesungguhnya dekatnya hamba dengan Allah Ta'ala adalah dengan kedekatan sifat-sifat, bukan dengan kedekatan tempat. Namun kita tidak menamai pelaku keadaan ini sebagai 'Ghaniy' (orang kaya), melainkan 'Mustaghni' (orang yang merasa serba cukup/tidak butuh), agar nama al-Ghaniy tetap menjadi nama bagi Zat yang memiliki Kekayaan Mutlak dari segala sesuatu.

وأما هذا العبد فإن استغنى عن المال وجوداً أو عدماً فلم يستغن عن أشياء أخر سواء ولم يستغن عن مدد توفيق الله له ليبقى استغناؤه والذي زين الله به قلبه فإن القلب المقيد بحب المال رقيق والمستغني عنه حر والله تعالى هو الذي من هذا الرق فهو محتاج إلى داوم هذا العتق والقلوب متعلقة بين الرق والحربة في أوقات متقاربة لأنها بين إصبعين من أصابع الرحمن فلذلك لم يكن اسم الغني مطلقاً عليه مع هذا الكمال إلا مجازاً

Adapun hamba ini, sekalipun ia tidak membutuhkan harta baik secara keberadaan maupun ketiadaannya, ia tetap tidak bisa terlepas dari hal-hal lainnya secara sama; dan ia tidak pernah bisa lepas dari bantuan taufik Allah baginya agar ketidakbutuhannya (kemerdekaan jiwanya) dan hiasan yang dipasang Allah di hatinya tetap bertahan. Sebab hati yang terikat oleh kecintaan pada harta adalah budak (hamba sahaya), sedangkan hati yang tidak membutuhkannya adalah merdeka. Dan Allah Ta'ala dialah yang membebaskan dari perbudakan ini, maka ia tetap membutuhkan kelanggengan kemerdekaan ini. Dan hati manusia senantiasa bergantung antara perbudakan dan kemerdekaan dalam waktu-waktu yang berdekatan, karena hati berada di antara dua jemari dari jemari ar-Rahman. Oleh karena itulah, penamaan 'Ghaniy' secara mutlak baginya—meskipun ia mencapai kesempurnaan ini—tidak lain hanyalah kiasan (majāz).

واعلم أن الزهد درجة هي كمال الأبرار وصاحب هذه الحالة من المقربين فلا جرم صار الزهد في حقه نقصاناً إذ حسنات الأبرار سيئات المقربين وهذا لأن الكاره للدنيا مشغول بالدنيا كما أن الراغب فيها مشغول بها والشغل بما سوى الله تعالى حجاب عن الله تعالى إذ لا بعد بينك وبين الله تعالى حتى يكون البعد حجاباً فإنه أقرب إليك من حبل الوريد وليس هو في مكان حتى تكون السماوات والأرض حجاباً بينك وبينه فلا حجاب بينك وبينه إلا شغلك بغيره وشغلك نفسك وشهواتك شغل بغيره وأنت لا تزال مشغولاً بنفسك وبشهوات نفسك فكذلك لا تزال محجوباً عنه فالمشغول بحب نفسه مشغول عن الله تعالى والمشغول ببغض نفسه أيضاً مشغول عن الله تعالى بكل ما سوى الله مثاله مثال الرقيب الحاضر في مجلس يجمع العاشق والمعشوق فإن التفت قلب العاشق إلى الرقيب وإلى بغضه واستثقاله وكراهة حضوره فهو في حال اشتغال قلبه ببغضه مصروف عن التلذذ بمشاهدة معشوقه ولو استغرقه العشق لغفل عن غير المعشوق ولم يلتفت إليه فكما أن النظر إلى غير المعشوق لحبه عند حضور المعشوق شرك في العشق ونقص فيه فكذا النظر إلى غير المحبوب لبغضه شرك فيه ونقص ولكن أحدهما أخف من الآخر بل الكمال في أن لا يلتفت القلب إلى غير المحبوب بغضاً وحباً فإنه كما لا يجتمع في القلب حبان

Ketahuilah bahwa zuhud adalah suatu derajat yang merupakan kesempurnaan al-abrar (orang-orang yang berbuat kebajikan), sedangkan pemilik kondisi (hal) ini termasuk kaum al-muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah). Maka tidak diragukan lagi bahwa zuhud bagi haknya merupakan suatu kekurangan, sebab "kebaikan al-abrar adalah keburukan al-muqarrabun". Hal ini karena orang yang membenci dunia pada hakikatnya sibuk dengan dunia, sebagaimana orang yang menyukai dunia juga sibuk dengannya. Kesibukan dengan selain Allah Ta'ala adalah hijab (penghalang) dari Allah Ta'ala, sebab tidak ada jarak antara engkau dan Allah Ta'ala sehingga jarak itu menjadi hijab, karena Dia lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri. Dan Dia tidak berada di suatu tempat sehingga langit dan bumi menjadi hijab antara engkau dan Dia. Maka tidak ada hijab antara engkau dan Dia melainkan kesibukanmu dengan selain-Nya. Kesibukanmu dengan dirimu dan syahwatmu adalah kesibukan dengan selain-Nya. Selama engkau senantiasa sibuk dengan dirimu dan syahwat dirimu, maka engkau senantiasa terhijab dari-Nya. Orang yang sibuk dengan mencintai dirinya berpaling dari Allah Ta'ala, dan orang yang sibuk dengan membenci dirinya juga berpaling dari Allah Ta melebarkan kesibukannya kepada segala sesuatu selain Allah. Perumpamaannya seperti pengawas (raqib) yang hadir di suatu majelis yang menghimpun pencinta ('asyiq) dan yang dicintai (ma'syuq). Jika hati sang pencinta berpaling kepada pengawas itu, kepada kebenciannya, rasa berat, dan ketidaksukaan atas kehadirannya, maka ketika hatinya sibuk dengan kebencian tersebut, ia akan teralih dari kenikmatan menyaksikan yang dicintainya (ma'syuq). Seandainya cinta itu telah meliputinya secara penuh, tentulah ia akan lalai dari selain yang dicintainya dan tidak berpaling kepadanya. Maka sebagaimana memandang kepada selain yang dicintai karena menyukainya saat hadirnya yang dicintai merupakan kemusyrikan (penyarikan) dalam cinta dan suatu kekurangan padanya, demikian pula memandang kepada selain yang dicintai karena membencinya adalah kemusyrikan dan kekurangan dalam cinta. Namun, salah satunya lebih ringan daripada yang lain. Bahkan kesempurnaan itu terletak pada tidak berpalingnya hati kepada selain yang dicintai, baik karena benci maupun cinta, sebab sebagaimana tidak akan menyatu dalam satu hati dua cinta…

كرم الله وجهه الله جل ذكره في حالة واحدة فلا يجتمع أيضاً بغض وحب في حالة واحدة فالمشغول ببغض الدنيا غافل عن الله كالمشغول بحبها إلا أن المشغول بحبها غافل وهو في غفلته سالك في طريق البعد والمشغول ببغضها غافل وهو في غفلته سالك في طريق القرب إذ يرجى له أن ينتهي حاله إلى أن تزول هذه الغفلة وتتبدل بالشهود فالكمال مرتقب لأن بغض الدنيا مطية توصل إلى الله فالمحب والمبغض كرجلين في طريق الحج مشغولين بركوب الناقة علفها وتسييرها ولكن أحدهما مستقبل الكعبة والآخر مستدبر لها فهما سيان بالإضافة إلى الحال في أن كل واحد منهما محجوب عن الكعبة ومشغول عنها ولكن حال المستقبل محمود بالإضافة إلى المستدبر إذ يرجى له الوصول إليها وليس محموداً بالإضافة إلى المعتكف في الكعبة الملازم لها الذي لا يخرج منها حتى يفتقر إلى الاشتغال بالدابة في الوصول إليها فلا ينبغي أن تظن أن بغض الدنيا مقصود في عينه بل الدنيا عائق عن الله تعالى ولا وصول إليه إلا بدفع العائق ولذلك قال أبو سليمان الداراني ﵀ من زهد في الدنيا واقتصر عليه فقد استعجل الراحة بل ينبغي أن يشتغل بالآخرة فبين أن سلوك طريق الآخرة وراء الزهد كما أن سلوك طريق الحج وراء دفع الغريم العائق عن الحج فإذن قد ظهر أن الزهد في الدنيا إن أريد به عدم الرغبة في وجودها وعدمها فهو غاية الكمال وإن أريد به الرغبة في عدمها فهو كمال بالإضافة إلى درجة الراضي والقانع والحريص ونقصان بالإضافة إلى درجة المستغني بل الكمال في حق المال أن يستوي عندك المال والماء وكثرة الماء في جوارك لا تؤذيك بأن تكون على شاطئ البحر ولا قلته تؤذيك إلا في قدر الضرورة مع أن المال محتاج إليه كما أن الماء محتاج إليه فلا يكون قلبك مشغولاً بالفرار عن جوار الماء الكثير ولا ببغض الماء الكثير بل تقول أشرب منه بقدر الحاجة وأسقي منه عباد الله بقدر الحاجة ولا أبخل به على أحد فهكذا ينبغي أن يكون المال لأن الخبز والماء واحد في الحاجة وإنما الفرق بينهما في قلة أحدهما وكثرة الآخر وإذا عرفت الله تعالى ووثقت بتدبيره الذي دبر به العالم علمت أن قدر حاجتك من الخبز يأتيك لا محالة ما دمت حياً كما يأتيك قدر حاجتك من الماء على ما سيأتي بيانه في كتاب التوكل إن شاء الله تعالى

…semoga Allah memuliakan wajahnya—kepada Allah Agung sebutan-Nya dalam satu keadaan, maka tidak akan menyatu pula kebencian dan kecintaan dalam satu keadaan. Orang yang sibuk dengan membenci dunia adalah orang yang lalai dari Allah sebagaimana orang yang sibuk dengan menyukainya. Hanya saja, orang yang sibuk menyukainya adalah orang yang lalai dan dalam kelalaiannya ia menempuh jalan kejauhan, sedangkan orang yang sibuk membencinya adalah orang yang lalai tetapi dalam kelalaiannya ia menempuh jalan kedekatan, sebab diharapkan baginya kondisi tersebut akan berakhir hingga sirna kelalaian ini dan berganti dengan kesaksian (syuhud). Maka kesempurnaan masih dinantikan, karena membenci dunia adalah tunggangan yang menyampaikan kepada Allah. Orang yang mencintai dan orang yang membenci itu seperti dua orang di jalan haji yang sibuk dengan menunggangi unta, memberinya makan, dan menjalankannya, tetapi yang seorang menghadap Ka'bah dan yang lain membelakanginya. Keduanya sama jika ditinjau dari kondisinya saat itu, yaitu masing-masing terhalang dari Ka'bah dan sibuk meninggalkannya. Namun, kondisi orang yang menghadap itu terpuji jika dibandingkan dengan orang yang membelakangi, sebab diharapkan baginya untuk sampai ke sana. Dan ia tidak terpuji jika dibandingkan dengan orang yang beriktikaf di Ka'bah, menetap di sana, dan tidak keluar darinya sehingga tidak membutuhkan kesibukan dengan hewan tunggangan untuk sampai ke sana. Maka tidak sepatutnya engkau mengira bahwa membenci dunia adalah tujuan pada zatnya, melainkan dunia itu adalah penghalang dari Allah Ta'ala, dan tidak ada jalan sampai kepada-Nya kecuali dengan menyingkirkan penghalang tersebut. Oleh karena itu, Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, "Barang siapa berzuhud di dunia dan hanya mencukupkan diri pada zuhud itu, maka ia telah terburu-buru menginginkan istirahat; melainkan ia harus disibukkan dengan akhirat." Beliau menjelaskan bahwa menempuh jalan akhirat berada di balik zuhud, sebagaimana menempuh jalan haji berada di balik penyingkiran beban yang menghalangi dari haji. Dengan demikian, telah jelas bahwa zuhud di dunia, jika yang dimaksudkan adalah tiadanya keinginan terhadap keberadaan maupun ketiadaannya, maka itu adalah puncak kesempurnaan. Namun jika yang dimaksudkan adalah keinginan akan ketiadaannya, maka itu adalah kesempurnaan jika dibandingkan dengan derajat orang yang ridha, qana'ah, dan rakus, namun merupakan kekurangan jika dibandingkan dengan derajat orang yang al-mustaghni (orang yang tidak membutuhkan lagi). Bahkan kesempurnaan dalam hal harta adalah apabila harta dan air sama saja di matamu; banyaknya air di sekitarmu tidak mengganggumu ketika engkau berada di tepi laut, dan sedikitnya air juga tidak mengganggumu kecuali sebatas kadar keperluan. Padahal harta itu dibutuhkan sebagaimana air juga dibutuhkan, sehingga hatimu tidak sibuk berlari dari keberadaan air yang banyak dan tidak pula sibuk membenci air yang banyak. Melainkan engkau berkata, "Aku minum darinya sebatas kebutuhan, aku memberi minum darinya kepada hamba-hamba Allah sebatas kebutuhan, dan aku tidak bakhil dengannya kepada seorang pun." Demikian pulalah hendaknya menyikapi harta, karena roti dan air itu sama dalam hal kebutuhan, dan perbedaan di antara keduanya hanyalah pada sedikitnya salah satu dan banyaknya yang lain. Jika engkau telah mengenali Allah Ta'ala dan percaya akan pengaturan-Nya yang mengatur alam semesta, engkau akan tahu bahwa kadar kebutuhanmu akan roti pasti akan datang kepadamu selama engkau masih hidup, sebagaimana datang kepadamu kadar kebutuhanmu akan air, berdasarkan apa yang akan datang penjelasannya dalam Kitab Tawakal, insya Allah Ta'ala.

قال أحمد بن أبي الحواري قلت لأبي سليمان الداراني قال مالك بن دينار للمغيرة اذهب إلى البيت فخذ الركوة التي أهديتها لي فإن العدو يوسوس لي أن اللص قد أخذها قال أبو سليمان هذا من ضعف قلوب الصوفية قد زاده في الدنيا ما غلبه من أخذها فبين أن كراهية كون الركوة في بيته التفات إليها سببه الضعف والنقصان

Ahmad bin Abil Hawari berkata: Aku berkata kepada Abu Sulaiman ad-Darani, "Malik bin Dinar berkata kepada Al-Mughirah, 'Pergilah ke rumah dan ambillah tempat air (rakwah) yang dihadiahkan kepadaku, karena musuh (setan) membisikkan kepadaku bahwa pencuri telah mengambilnya.'" Abu Sulaiman berkata, "Ini termasuk dari kelemahan hati para sufi; keberadaan rakwah itu telah menambah keterikatannya pada dunia sehingga rasa cemas kecurian menguasai dirinya." Beliau menjelaskan bahwa ketidaksukaan akan keberadaan rakwah di rumahnya merupakan suatu kecenderungan (perpalingan hati) kepadanya, yang disebabkan oleh kelemahan dan kekurangan.

فإن قلت فما بال الأنبياء والأولياء هربوا من المال ونفروا منه كل النفار فأقول كما هربوا من الماء على معنى أنهم ما شربوا أكثر من حاجتهم ففروا عما وراءه ولم يجمعوه في القرب والروايا يدبرونه مع أنفسهم بل تركوه في الأنهار والآبار والبراري للمحتاجين إليه لا أنهم كانت قلوبهم مشغولة بحبه أبو بغضه وقد حملت خزائن الأرض إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وإلى أبي بكر وعمر ﵄ فأخذوها ووضعوها في مواضعاً وما هربوا منها

Jika engkau bertanya: "Mengapa para nabi dan wali lari dari harta dan menjauh darinya dengan sejauh-jauhnya?" Maka aku katakan: Sebagaimana mereka lari dari air, dalam arti bahwa mereka tidak minum lebih dari kebutuhan mereka. Mereka lari dari apa yang ada di balik itu dan tidak mengumpulkannya dalam wadah-wadah serta kantong-kantong air untuk disimpan sendiri, melainkan meninggalkannya di sungai-sungai, sumur-sumur, dan padang Sahara bagi orang-orang yang membutuhkannya, bukan karena hati mereka sibuk dengan mencintainya atau membencinya. Perbendaharaan bumi telah diangkut dan diserahkan kepada Rasulullah ﷺ, serta kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, lalu mereka mengambilnya dan menempatkannya pada tempatnya yang berhak tanpa lari darinya.

إذ كان يستوي عندهم المال والماء والذهب والحجر وما نقل عنهم من امتناع فإما أن ينقل عمن خاف

Sebab, harta, air, emas, dan batu adalah sama saja bagi mereka. Adapun apa yang diriwayatkan dari mereka berupa penolakan, maka boleh jadi diriwayatkan dari orang yang khawatir…

أن لو أخذه أن يخدعه المال ويقيد قلبه فيدعوه إلى الشهوات وهذا حال الضعفاء فلا جرم البغض للمال والهرب منه في حقهم كمال وهذا حكم جميع الخلق لأن كلهم ضعفاء إلا الأنبياء والأولياء وإما أن ينقل عن قوي بلغ الكمال ولكن أظهر الفرار والنفارنزولا إلى درجة الضعفاء ليقتدوا به في الترك إذ لو اقتدوا به في الأخذ لهلكوا كما يفر الرجل المعزم بين يدي أولاده من الحية لا لضعفه عن أخذها ولكن لعلمه أنه لو أخذها أخذها أولاده إذا رأوها فيهلكون والسير بسير الضعفاء ضرورة الأنبياء والأولياء والعلماء فقد عرفت إذن أن المراتب ست وأعلاها رتبة المستغني ثم الزاهد ثم الراضي ثم القانع ثم الحريص وأما المضطر فيتصور في حقه أيضاً الزهد والرضا والقناعة ودرجة تختلف بحسب اختلاف هذه الأحوال واسم الفقير يطلق على هذه الخمسة أما تسمية المستغني فقيراً فلا وجه لها بهذا المعنى بل إن سمي فقيراً فبمعنى آخر وهو معرفته بكونه محتاجاً إلى الله تعالى في جميع أموره عامة وفي بقاء استغنائه عن المال خاصة فيكون اسم الفقير له كاسم العبد لمن عرف نفسه بالعبودية وأقر بها فإنه أحق باسم العبد من الغافلين وإن كان اسم العبد عاماً للخلق فكذلك اسم الفقير عام ومن عرف نفسه بالفقر إلى الله تعالى فهو أحق باسم الفقير فاسم الفقير مشترك بين هذين المعنيين وإذا عرفت هذا الاشتراك فهمت أن قول رسول الله ﷺ أعوذ بك من الفقر وقوله ﵇ كاد الفقر أن يكون كفراً لا يناقض قوله أحيني مسكيناً وأمتني مسكيناً إذ فقر المضطر هو الذي استعاذ منه والفقر الذي هو الاعتراف بالمسكنة والذلة والافتقار إلى الله تعالى هو الذي سأله في دعائه ﷺ وعلى كل عبد مصطفى من أهل الأرض والسماء

…bahwa jika ia mengambilnya, harta itu akan memperdayanya dan mengikat hatinya sehingga mengajaknya kepada syahwat. Ini adalah keadaan orang-orang yang lemah. Maka tidak diragukan lagi bahwa kebencian terhadap harta dan lari darinya bagi hak mereka merupakan suatu kesempurnaan, dan ini adalah hukum bagi seluruh makhluk karena mereka semua lemah kecuali para nabi dan para wali. Atau, boleh jadi penolakan itu diriwayatkan dari orang kuat yang telah mencapai kesempurnaan, namun ia menampakkan sikap lari dan menjauh sebagai bentuk penyesuaian diri ke tingkat orang-orang lemah agar mereka meneladaninya dalam hal meninggalkan harta. Sebab, jika mereka meneladaninya dalam mengambil harta, tentulah mereka akan binasa, sebagaimana seorang laki-laki yang berani lari dari ular di hadapan anak-anaknya, bukan karena kelemahannya untuk menangkap ular itu, melainkan karena ia tahu bahwa jika ia mengambilnya, anak-anaknya akan ikut mengambilnya ketika melihatnya sehingga mereka binasa. Dan berjalan menurut ukuran perjalanan orang-orang lemah merupakan keniscayaan bagi para nabi, wali, dan ulama. Dengan demikian, engkau telah mengetahui bahwa tingkatan (dalam hal harta) ada enam, dan tingkatan yang paling tinggi adalah tingkatan al-mustaghni (orang yang tidak membutuhkan), kemudian al-zahid (orang yang zuhud), kemudian al-radhi (orang yang ridha), kemudian al-qani' (orang yang merasa cukup), kemudian al-harish (orang yang rakus). Adapun al-mudhtarr (orang yang terdesak kebutuhan), maka dalam haknya juga dapat digambarkan sikap zuhud, ridha, dan qana'ah, serta derajatnya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan-keadaan ini. Nama al-faqir (orang fakir) disematkan pada lima tingkatan ini. Adapun penamaan al-mustaghni sebagai orang fakir, tidak ada landasannya dalam makna ini; melainkan jika ia dinamai fakir, itu berdasarkan makna lain, yaitu kesadarannya bahwa ia senantiasa membutuhkan Allah Ta'ala dalam seluruh urusannya secara umum, dan dalam kelangsungan ketidakbutuhannya akan harta secara khusus. Maka nama al-faqir baginya seperti nama al-'abd (hamba) bagi orang yang menyadari dirinya sebagai hamba dan mengakunya; sebab ia lebih berhak atas nama hamba daripada orang-orang yang lalai, meskipun nama hamba itu mencakup seluruh makhluk. Demikian pula nama al-faqir bersifat umum; barang siapa mengenali dirinya fakir (sangat butuh) kepada Allah Ta'ala, maka ia lebih berhak atas nama al-faqir. Jadi, nama al-faqir itu terbagi antara dua makna ini. Jika engkau telah memahami persekutuan makna ini, engkau akan mengerti bahwa sabda Rasulullah ﷺ: "Aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran," dan sabda beliau 'Alaihissalam: "Hampir saja kefakiran itu menjadi kekufuran," tidaklah bertentangan dengan sabda beliau: "Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin." Sebab, kefakiran orang yang terdesak (al-mudhtarr) itulah yang beliau mintakan perlindungan darinya, sedangkan kefakiran yang berupa pengakuan akan kemiskinan, kerendahan hati, dan kehinaan membutuhkan Allah Ta'ala itulah yang beliau minta dalam doanya ﷺ dan atas setiap hamba pilihan dari kalangan penghuni bumi dan langit.