الشطر الأول من الكتاب في الفقر

بيان مقدار الغنى المحرم للسؤال

بيان مقدار الغنى المحرم للسؤال

بيان مقدار الغنى المحرم للسؤال

Penjelasan Mengenai Batas Kecukupan (Kekayaan) yang Mengharamkan Meminta-minta

اعلم أن قَوْلُهُ ﷺ مَنْ سَأَلَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ منه أو ليستكثر صريح في التحريم ولكن حد الغنى مشكل وتقديره عسير وليس إلينا وضع المقادير بل يستدرك ذلك بالتوقيف وقد ورد في الحديث استغنوا بغنى الله تعالى عن غيره قالوا وما هو قال غداء يوم وعشاء ليلة وفي حديث آخر من سأل وله خمسون درهماً أو عدلها من الذهب فقد سأل إلحافاً وورد في لفظ آخر أربعون درهماً ومهما اختلفت التقديرات وصحت الأخبار فينبغي أن يقطع بورودها على أحوال مختلفة فإن الحق في نفسه لا يكون إلا واحداً والتقدير ممتنع وغاية الممكن فيه تقريب ولا يتم ذلك إلا بتقسيم محيط بأحوال المحتاجين فنقول قال رسول ﷺ لا حق لابن آدم إلا في ثلاث طعام يقيم صلبه وثوب يواري به عورته وبيت يكنه فما زاد فهو حساب فلنجعل هذه الثلاث أصلاً في الحاجات لبيان أجناسها والنظر في الأجناس والمقادير والأوقات فأما الأجناس فهي هذه الثلاث ويلحق بها ما في معناها حتى يلحق بها الكراء للمسافر إذا كان لا يقدر على المشي وكذلك ما يجري مجراه من المهمات ويلحق بنفسه عياله وولده وكل من تحت كفالته كالدابة أيضاً

Ketahuilah bahwa sabda Rasulullah ﷺ: "Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki kecukupan (kekayaan), sesungguhnya ia hanyalah meminta bara api, maka hendaklah ia memedikitkannya atau memperbanyaknya," adalah tegas dalam mengharamkannya. Namun, batasan kecukupan itu rumit dan penentuannya sulit. Menetapkan kadarnya bukanlah wewenang kita, melainkan harus dipahami melalui petunjuk syariat (tauqif). Sungguh telah disebutkan dalam sebuah hadis: "Cukupkanlah diri kalian dengan kecukupan dari Allah Ta'ala dari selain-Nya." Para sahabat bertanya, "Apakah kecukupan itu?" Beliau bersabda: "Makanan untuk makan siang dan makan malam." Dalam hadis lain disebutkan: "Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki lima puluh dirham atau senilai itu dalam emas, maka sungguh ia telah meminta-minta secara mendesak (ilhaf)." Dalam redaksi lain disebutkan "empat puluh dirham". Berapa pun perbedaan penentuan kadar tersebut selama riwayatnya shahih, hendaknya diyakini bahwa penentuan itu berlaku sesuai dengan kondisi yang berbeda-beda. Sebab, kebenaran pada hakikatnya hanya satu, sedangkan pembatasan mutlak itu tidak mungkin, dan batas maksimal yang memungkinkan hanyalah pendekatan (tariqat at-taqrib). Hal itu tidak dapat sempurna kecuali dengan pembagian yang mencakup seluruh kondisi orang-orang yang membutuhkan. Maka kami katakan, Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada hak bagi anak Adam melainkan pada tiga hal: makanan yang menegakkan tulang punggungnya, pakaian yang menutup auratnya, dan rumah yang melindunginya; adapun selebihnya adalah perhitungan (hisab)." Maka marilah kita jadikan ketiga hal ini sebagai pokok dalam kebutuhan untuk menjelaskan jenis-jenisnya, serta meninjau jenis, kadar, dan waktunya. Adapun mengenai jenis, maka ketiga hal inilah pokoknya, dan dihubungkan padanya apa yang semakna dengannya, hingga mencakup ongkos sewa bagi musafir jika ia tidak mampu berjalan kaki, serta hal-hal penting lain yang setara dengannya. Dihubungkan pula dengan dirinya sendiri adalah keluarga, anak-anaknya, dan siapa saja yang berada di bawah tanggungannya, seperti hewan tunggangan.

وأما المقادير فالثوب يراعى فيه ما يليق بذوي الدين وهو ثوب واحد وقميص ومنديل وسراويل ومداس وأما الثاني من كل جنس فهو مستغن عنه وليقس على هذا أثاث البيت جميعاً ولا ينبغي أن يطلب رقة الثياب وكون الأواني من النحاس والصفر فيما يكفي فيه الخزف فإن ذلك مستغنى عنه فيقتصر من العدد على واحد ومن النوع على أخس أجناسه ما لم يكن في غاية البعد عن العادة

Adapun mengenai kadar, maka untuk pakaian diperhatikan apa yang pantas bagi orang-orang yang taat beragama, yaitu satu helai baju kurung, gamis, kain/saputangan, celana, dan alas kaki. Adapun barang kedua dari setiap jenis tersebut adalah hal yang sudah tidak lagi ia butuhkan (kemewahan/kelebihan). Dan hendaklah diqiaskan pada hal ini seluruh perabot rumah tangga. Tidak seyogianya ia menuntut kelembutan kain atau bejana dari tembaga dan kuningan dalam hal yang sudah cukup dengan tanah liat (tembikar), sebab yang demikian itu sudah tergolong barang yang tidak mendesak. Oleh karena itu, hendaknya ia membatasi jumlah pada satu buah saja, dan dari segi jenis pada tingkatan paling sederhana (rendah), selama tidak terlalu jauh dari kebiasaan umum.

وأما الطعام فقدره في اليوم مد وهو ما قدره الشرع ونوعه ما يقتات ولو كان من الشعير

Adapun mengenai makanan, kadarnya dalam sehari adalah satu mud, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syariat. Sedangkan jenisnya adalah makanan pokok, meskipun hanya berupa gandum kasar (sya'ir).

والأدم على الدوام فضلة وقطعة بالكلية إضرار ففي طلبه في بعض الأحوال رخصة

Adapun lauk-pauk jika dikonsumsi terus-menerus adalah suatu kelebihan, sedangkan meninggalkannya secara total dapat membahayakan fisik. Oleh karena itu, memintanya dalam sebagian kondisi mendapatkan keringanan (rukhsah).

وأما المسكن فأقله ما يجزئ من حيث المقدار وذلك من غير زينة فأما السؤال للزينة والتوسع فهو سؤال عن ظهر غنى وأما بالإضافة إلى الأوقات فما يحتاج إليه في الحال من طعام يوم وليلة وثوب يلبسه ومأوى يكنه فلا شك فيه

Adapun mengenai tempat tinggal, maka kadar minimalnya adalah apa yang sudah memadai tanpa perhiasan/kemewahan. Adapun meminta-minta untuk hiasan dan kelapangan hidup, maka itu tergolong meminta-minta atas dasar kecukupan (kemewahan). Adapun ditinjau dari segi waktu, apa yang dibutuhkannya pada saat itu—berupa makanan untuk sehari semalam, pakaian yang ia kenakan, dan tempat bernaung yang melindunginya—maka tidak ada keraguan padanya (kebolehannya).

فأما سؤاله للمستقبل فهذا له ثلاث درجات إحداها ما يحتاج إليه في غد والثانية ما يحتاج إليه في أربعين يوماً أو خمسين يوماً والثالثة ما يحتاج إليه في السنة ولنقطع بأن من معه ما يكفيه له ولعياله إن كان له عيال

Adapun memintanya untuk masa depan, hal ini memiliki tiga tingkatan: Pertama, apa yang dibutuhkannya untuk esok hari. Kedua, apa yang dibutuhkannya untuk empat puluh atau lima puluh hari. Ketiga, apa yang dibutuhkannya untuk satu tahun. Dan hendaklah kita yakini secara pasti bahwa barangsiapa memiliki apa yang mencukupinya dan mencukupi keluarganya—jika ia memiliki keluarga—

لسنة فسؤاله حرام فإن ذلك غاية الغنى وعليه ينزل التقدير بخمسين درهماً في الحديث فإن خمسة دنانير تكفي المنفرد في السنة إذا اقتصد أما المعيل فربما لا يكفيه ذلك وإن كان يحتاج إليه قبل السنة فإن كان قادراً على السؤال ولا تفوته فرصته فلا يحل له السؤال لأنه مستغن في الحال وربما لا يعيش إلى الغد فيكون قد سأل مالا يحتاج فيكفيه غداء يوم وعشاء ليلة وعليه ينزل الخبر الذي ورد في التقدير بهذا القدر

selama satu tahun, maka permintaannya (meminta-minta) adalah haram. Sebab, hal itu merupakan puncak kecukupan (kekayaan). Ke atas sinilah diterapkannya penentuan lima puluh dirham dalam hadis, karena lima dinar cukuplah bagi seorang lajang selama satu tahun jika ia berhemat. Adapun orang yang menanggung keluarga, terkadang jumlah itu tidak mencukupinya. Dan jika ia membutuhkannya sebelum genap satu tahun: apabila ia mampu meminta kelak dan kesempatan memintanya tidak hilang, maka tidak halal baginya meminta-minta saat ini, karena ia sedang berada dalam kondisi berkecukupan pada saat ini, dan boleh jadi ia tidak hidup sampai esok hari sehingga ia menjadi orang yang meminta apa yang tidak dibutuhkannya. Maka cukuplah baginya makan siang dan makan malam untuk sehari; dan ke atas sinilah diterapkannya riwayat yang menentukan batasan kadar ini.

وإن كان يفوته فرصة السؤال ولا يجد من يعطيه لو أخر فيباح له السؤال لأن أمل البقاء سنة غير بعيد فهو بتأخير السؤال خائف أن يبقى مضطراً عاجزاً عما يعينه فإن كان خوف العجز عن السؤال في المستقبل ضعيفاً وكان ما لأجله السؤال خارجاً عن محل الضرورة لم يخل سؤاله عن كراهية وتكون كراهته بحسب درجات ضعف الاضطرار وخوف الفوت وتراخي المدة التي فيها يحتاج إلى السؤال وكل ذلك لا يقبل الضبط وهو مَنُوطٌ بِاجْتِهَادِ الْعَبْدِ وَنَظَرِهِ لِنَفْسِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى فَيَسْتَفْتِي فِيهِ قَلْبَهُ وَيَعْمَلُ بِهِ إن سالكاً طريق الآخرة وكل من كان يقينه أقوى وثقته بمجيء الرزق في المستقبل أتم وقناعته بقوت الوقت أظهر فدرجته عند الله تعالى أعلى فلا يكون خوف الاستقبال وقد آتاك الله قوت يومك لك ولعيالك إلا من ضعف اليقين والإصغاء إلى تخويف الشيطان وقد قال تعالى فلا تخافوهم وخافونِ إن كنتم مؤمنين وقال ﷿ الشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفحشاء والله يعدكم مغفرة منه وفضلاً والسؤال من الفحشاء التي أبيحت بالضرورة وحال من يسأل لحاجة متراخية عن يومه وإن كان مما يحتاج إليه في السنة أشد من حال من ملك مالاً موروثاً وادخره لحاجة وراء السنة وكلاهما مباحان في الفتوى الظاهرة ولكنهما صادران عن حب الدنيا وطول الأمل وعدم الثقة بفضل الله وهذه الخصلة من أمهات المهلكات نسأل الله حسن التوفيق بلطفه وكرمه

Namun, jika kesempatan meminta itu akan hilang dan ia tidak menemukan orang yang mau memberinya jika ditunda, maka diperbolehkan baginya meminta-minta, karena harapan untuk tetap hidup selama satu tahun bukanlah hal yang mustahil. Dengan menunda permintaan tersebut, ia khawatir akan tetap berada dalam kondisi terdesak dan tidak mampu memperoleh apa yang dapat membantunya. Akan tetapi, jika kekhawatiran akan ketidakmampuan meminta di masa depan itu lemah, dan hal yang menjadi alasan meminta-minta berada di luar batas darurat, maka permintaannya tidak terlepas dari hukum makruh. Tingkat kemakruhannya sesuai dengan derajat lemahnya kondisi darurat, kekhawatiran hilangnya kesempatan, dan panjangnya rentang waktu kebutuhan tersebut. Semua itu tidak dapat dibatasi secara kaku, melainkan bergantung pada ijtihad hamba dan penimbangannya terhadap dirinya sendiri antara dirinya dan Allah Ta'ala. Maka hendaklah ia meminta fatwa kepada hatinya dan mengamalkannya jika ia seorang penempuh jalan akhirat. Semakin kuat keyakinan seseorang, semakin sempurna kepercayaannya akan datangnya rezeki di masa depan, dan semakin nyata sifat qana'ah-nya terhadap makanan pokok pada saat itu, maka derajatnya di sisi Allah Ta'ala akan semakin tinggi. Tidaklah timbul kekhawatiran akan masa depan—padahal Allah telah memberimu makanan pokok untuk harimu bagi dirimu dan keluargamu—melainkan dari lemahnya keyakinan dan mendengarkan bisikan menakut-nakuti dari setan. Allah Ta'ala berfirman: "Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 175). Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia." (QS. Al-Baqarah: 268). Dan meminta-minta tergolong perbuatan keji yang dibolehkan hanya karena darurat. Kondisi orang yang meminta-minta untuk kebutuhan yang masih jauh di luar harinya—meskipun termasuk hal yang dibutuhkannya dalam setahun—adalah lebih berat (buruk secara spiritual) daripada kondisi orang yang memiliki harta warisan lalu menyimpannya untuk kebutuhan di luar setahun. Kedua hal ini memang dibolehkan dalam fatwa zahir (fiqih), namun keduanya bersumber dari kecintaan pada dunia, panjang angan-angan, dan kurangnya kepercayaan pada karunia Allah. Sifat ini termasuk induk dari hal-hal yang membinasakan (al-muhlikat). Kita memohon kepada Allah taufik yang baik dengan kelembutan dan kemurahan-Nya.