الشطر الأول من الكتاب في الفقر

بيان تحريم السؤال من غير ضرورة وآداب الفقير المضطر فيه

بيان تحريم السؤال من غير ضرورة وآداب الفقير المضطر فيه

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب الفقر والزهد الشطر الأول من الكتاب في الفقر بيان تحريم السؤال من غير ضرورة وآداب الفقير المضطر فيه

بيان تحريم السؤال من غير ضرورة وآداب الفقير المضطر فيه

Penjelasan tentang Haramnya Meminta-Minta Tanpa Adanya Darurat dan Adab Fakir yang Terdesak (Mudhtarr) di Dalamnya

اعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ مَنَاهٍ كَثِيرَةٌ فِي السؤال وتشديدات وورد فيه أيضاً ما يدل على الرخصة إذ قال ﷺ للسائل حق ولو جاء على فرس وفي الحديث ردوا السائل ولو بظلف محرق ولو كان السؤال حراماً مطلقاً لما جاز إعانة المتعدي على عدوانه والإعطاء إعانة فالكاشف للغطاء فيه أن السؤال حرام في الأصل وإنما يباح بِضَرُورَةٍ أَوْ حَاجَةٍ مُهِمَّةٍ قَرِيبَةٍ مِنَ الضَّرُورَةِ فإن كان عنها فهو حرام وإنما قلنا إن الأصل فيه التحريم لأنه لا ينفك عن ثلاثة أمور محرمة

Ketahuilah bahwa sungguh telah datang banyak larangan dan ancaman keras mengenai meminta-minta, tetapi datang pula dalil yang menunjukkan adanya keringanan (rukhsah); di mana Nabi ﷺ bersabda: "Orang yang meminta memiliki hak, meskipun ia datang di atas kuda." Dan dalam hadis lain: "Berilah peminta-minta walaupun hanya dengan kuku binatang yang terbakar." Seandainya meminta-minta itu haram secara mutlak, tentu tidak boleh menolong orang yang melanggar hukum atas pelanggarannya, sedangkan memberi itu adalah sebuah bentuk pertolongan. Maka penyingkap tirai (penjelasan jernih) dalam masalah ini adalah bahwa meminta-minta itu hukum asalnya adalah haram, dan hanyalah dibolehkan karena kondisi darurat atau kebutuhan penting yang mendekati darurat. Jika tidak ada hal tersebut, maka hukumnya haram. Kami katakan bahwa hukum asalnya adalah haram karena ia tidak terlepas dari tiga perkara yang diharamkan:

الأول إظهار الشكوى من الله تعالى إذ السؤال إظهار للفقر وذكر لقصور نعمة الله تعالى عنه وهو عين الشكوى وكما أن العبد المملوك لو سأل لكان سؤاله تشنيعاً على سيده فكذلك سؤال العباد تشنيع على الله تعالى وهذا ينبغي أن يحرم ولا يحل إلا لضرورة كما تحل الميتة

Pertama, menampakkan pengaduan (keluhan) terhadap Allah Ta'ala, sebab meminta-minta adalah menampakkan kefakiran dan menyebutkan kekurangcukupan nikmat Allah Ta'ala atas dirinya, yang mana hal itu merupakan hakikat dari mengeluh. Sebagaimana seorang budak sahaya jika ia meminta-minta, niscaya minta-mintanya itu menjadi kecaman (pencemaran nama baik) terhadap tuannya, maka demikian pula meminta-mintanya para hamba merupakan kecaman terhadap Allah Ta'ala. Dan hal ini seyogianya diharamkan serta tidak dihalalkan kecuali karena darurat, sebagaimana dihalalkannya bangkai.

الثاني أن فيه إذلال السائل نفسه لغير الله تعالى وليس للمؤمن أن يذل نفسه لغير الله بل عليه أن يذل نفسه لمولاه فإن فيه عزه فأما سائر الخلق فإنهم عباد أمثاله فلا ينبغي أن يذل لهم إلا لضرورة وفي السؤال ذل للسائل بالإضافة إلى المسئول

Kedua, bahwasanya di dalamnya terdapat perbuatan merendahkan diri oleh si peminta kepada selain Allah Ta'ala. Padahal tidak sepantasnya bagi seorang mukmin merendahkan dirinya kepada selain Allah, melainkan wajib baginya merendahkan diri kepada Pelindungnya (Allah), karena di situlah kemuliaannya. Adapun makhluk lainnya, mereka adalah hamba-hamba yang serupa dengannya, maka tidak seyogianya ia merendahkan diri kepada mereka kecuali karena darurat. Dan dalam meminta-minta terdapat kerendahan bagi si peminta di hadapan orang yang dimintai.

الثالث أنه لا ينفك عن إيذاء المسئول غالباً لأنه ربما لا تسمح نفسه بالبذل عن طيب قلب منه فإن بذل حياء من السائل أو رياء فهو حرام على الآخذ وإن منع ربما استحيا وتأذى في نفسه بالمنع إذ يرى نفسه في صورة البخلاء ففي البذل نقصان ماله وفي المنع نقصان جاهه وكلاهما مؤذيان والسائل هو السبب في الإيذاء والإيذاء حرام إلا بضرورة

Ketiga, bahwasanya meminta-minta itu umumnya tidak terlepas dari menyakiti perasaan orang yang dimintai, sebab boleh jadi jiwanya tidak merelakan pemberian itu dari kerelaan hati yang tulus. Jika ia memberi karena malu kepada si peminta atau karena riya, maka pemberian itu haram bagi si penerima. Dan jika ia menolak, boleh jadi ia merasa malu dan tersakiti hatinya dengan penolakan itu karena ia memandang dirinya dalam citra orang yang bakhil. Maka dalam memberi terdapat pengurangan hartanya, dan dalam menolak terdapat pengurangan kedudukannya (harga dirinya), yang mana keduanya sama-sama menyakiti. Dan si peminta adalah penyebab timbulnya rasa sakit tersebut, padahal menyakiti itu hukumnya haram kecuali karena darurat.

ومهما فهمت هذه المحذورات الثلاث فقد فهمت قوله ﷺ مسألة الناس من الفواحش ما أحل من الفواحش غيرها فانظر كيف سماها فاحشة ولا يخفى أن الفاحشة إنما تباح

Apabila engkau telah memahami ketiga perkara yang dilarang ini, maka sungguh engkau telah memahami sabda Nabi ﷺ: "Meminta-minta kepada manusia adalah termasuk perbuatan keji (kekejian), dan tidak dihalalkan dari kekejian selain daripadanya." Maka perhatikanlah bagaimana Beliau menamainya sebagai kekejian (fahisyah), dan tidak tersembunyi lagi bahwa kekejian itu hanyalah dibolehkan…

لضرورة كما يباح شرب الخمر لمن غص بلقمة وهو لا يجد غيره

karena darurat, sebagaimana dibolehkannya meminum khamar bagi orang yang tersedak oleh sesuap makanan sedangkan ia tidak menemukan selainnya.

وقال ﷺ مَنْ سَأَلَ عَنْ غِنًى فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ وَمَنْ سَأَلَ وَلَهُ مَا يُغْنِيهِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ عَظْمٌ يَتَقَعْقَعُ وَلَيْسَ عَلَيْهِ لَحْمٌ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ كَانَتْ مَسْأَلَتُهُ خُدُوشًا وَكُدُوحًا فِي وَجْهِهِ وَهَذِهِ الْأَلْفَاظُ صَرِيحَةٌ فِي التَّحْرِيمِ وَالتَّشْدِيدِ

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa meminta-minta padahal ia berkecukupan, maka sesungguhnya ia hanyalah memperbanyak bara api neraka Jahannam." Dan: "Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, niscaya ia akan datang pada hari kiamat kelak dalam keadaan wajahnya berupa tulang yang gemeretak tanpa melapisi daging sedikit pun." Dalam redaksi lain disebutkan: "Meminta-mintanya itu akan menjadi garukan dan luka pada wajahnya." Redaksi-redaksi ini tegas menunjukkan keharaman dan penegasan yang keras.

وبايع رسول الله ﷺ قوماً على الإسلام فاشترط عليهم السمع والطاعة ثم قال لهم كلمة خفية ولا تسألوا الناس شيئاً وَكَانَ ﷺ يَأْمُرُ كَثِيرًا بالتعفف عن السؤال ويقول من سألنا أعطيناه ومن استغنى أغناه الله ومن لم يسألنا فهو أحب إلينا وقال ﷺ استغنوا عن الناس وما قل من السؤال فهو خير قالوا ومنك يا رسول الله قال ومني وَسَمِعَ عمر ﵁ سَائِلًا يَسْأَلُ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فَقَالَ لِوَاحِدٍ مَنْ قَوْمِهِ عَشِّ الرَّجُلَ فَعَشَّاهُ ثُمَّ سَمِعَهُ ثَانِيًا يَسْأَلُ فَقَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ عَشِّ الرَّجُلَ قَالَ قَدْ عَشَّيْتُهُ فَنَظَرَ عمر فَإِذَا تَحْتَ يَدِهِ مِخْلَاةٌ مَمْلُوءَةٌ خُبْزًا فَقَالَ لَسْتَ سَائِلًا وَلَكِنَّكَ تَاجِرٌ ثُمَّ أَخَذَ الْمِخْلَاةَ وَنَثَرَهَا بَيْنَ يَدَيْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ وَضَرَبَهُ بِالدِّرَّةِ وَقَالَ لَا تَعُدْ

Rasulullah ﷺ pernah membaiat suatu kaum atas Islam, lalu beliau mensyaratkan kepada mereka untuk mendengar dan taat, kemudian beliau membisikkan satu kalimat pelan kepada mereka: "Dan janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada manusia." Beliau ﷺ juga sering memerintahkan untuk menjaga kehormatan diri ('iffah) dari meminta-minta dan bersabda: "Barangsiapa meminta kepada kami, niscaya kami beri. Barangsiapa merasa cukup, niscaya Allah cukupkan. Dan barangsiapa yang tidak meminta kepada kami, maka ia lebih kami cintai." Beliau ﷺ juga bersabda: "Merasalah cukup dari manusia, dan sekecil apa pun bentuk permintaan itu, maka (meninggalkannya) adalah lebih baik." Para sahabat bertanya: "Apakah termasuk dari engkau wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Termasuk dariku." Umar ﵁ pernah mendengar seorang peminta-minta meminta setelah Maghrib, lalu beliau berkata kepada salah seorang warganya: "Beri makan malam orang ini." Maka ia pun memberinya makan malam. Kemudian Umar mendengarnya meminta untuk kedua kalinya, lalu Umar berkata: "Bukankah aku sudah katakan padamu untuk memberi orang ini makan malam?" Orang itu menjawab: "Aku sudah memberinya makan malam." Umar pun melihatnya, ternyata di bawah tangannya ada kantong perbekalan yang penuh berisi roti. Maka Umar berkata: "Engkau bukan peminta-minta, melainkan pedagang!" Kemudian Umar mengambil kantong itu dan menebarkannya di hadapan unta-unta sedekah, lalu memukulnya dengan cambuk seraya berkata: "Jangan ulangi lagi!"

وَلَوْلَا أن سُؤَالُهُ كَانَ حَرَامًا لَمَا ضَرَبَهُ وَلَا أَخَذَ مخلاته ولعل الفقيه الضعيف المنة الضيق الحوصلة يستبعد هذا من فعل عمر ويقول أما ضربه فهو تأديب وقد ورد الشرع بالتعزير وأما أخذه ماله فهو مصادرة والشرع لم يرد بالعقوبة بأخذ المال فكيف استجازه وهو استبعاد مصدره القصور في الفقه فأين يظهر فقه الفقهاء كلهم في حوصلة عمر بن الخطاب ﵁ وإطلاعه على أسرار دين الله ومصالح عباده أفترى أنه لم يعلم أن المصادرة بالمال غير جائزة أو علم ذلك ولكن أقدم عليه غضباً في معصية الله وحاشاه أو أراد الزجر بالمصلحة بغير طريق شرعها نبي الله وهيهات فإن ذلك أيضاً معصية بل الفقه الذي لَاحَ لَهُ فِيهِ أَنَّهُ رَآهُ مُسْتَغْنِيًا عَنِ السُّؤَالِ وَعَلِمَ أَنَّ مَنْ أَعْطَاهُ شَيْئًا فَإِنَّمَا أَعْطَاهُ عَلَى اعْتِقَادِ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ وَقَدْ كَانَ كاذباً فلم يدخل في ملكه بأخذه مع التَّلْبِيسِ وَعَسُرَ تَمْيِيزُ ذَلِكَ وَرَدُّهُ إِلَى أَصْحَابِهِ إِذْ لَا يُعْرَفُ أَصْحَابُهُ بِأَعْيَانِهِمْ فَبَقِيَ مَالًا لَا مَالِكَ لَهُ فَوَجَبَ صَرْفُهُ إِلَى الْمَصَالِحِ وإبل الصدقة وعلفها من المصالح ويتنزل أخذ السائل مع إظهار الحاجة كاذباً كأخذ العلوي بقوله إني علوي وهو كاذب

Seandainya perbuatannya meminta-minta itu tidak haram, tentu Umar tidak akan memukulnya dan tidak pula mengambil kantong perbekalannya. Boleh jadi seorang ahli fiqih yang lemah pemahamannya dan sempit wawasannya menganggap aneh tindakan Umar ini dan berkata: "Adapun pemukulan itu adalah bentuk pengajaran (ta'dib) dan syariat memang membenarkan ta'zir. Namun adapun pengambil alihan hartanya, itu adalah penyitaan (mushadarah), sedangkan syariat tidak pernah memberlakukan hukuman dengan menyita harta, lalu bagaimana Umar mengizinkannya?" Ini adalah kekeliruan yang bersumber dari keterbatasan pemahaman fiqih. Di manakah letak kedalaman fiqih seluruh ahli fiqih jika dibandingkan dengan keluasan ilmu Umar bin al-Khatthab ﵁ serta pemahamannya terhadap rahasia-rahasia agama Allah dan kemaslahatan hamba-hamba-Nya? Adakah engkau mengira bahwa beliau tidak tahu bahwa menyita harta itu tidak boleh? Atau beliau mengetahuinya tetapi nekat melakukannya karena marah atas maksiat kepada Allah—maha suci beliau dari hal itu—atau beliau menginginkan efek jera atas dasar kemaslahatan melalui cara yang tidak disyariatkan oleh Nabi Allah? Sungguh jauh dari itu, sebab hal itu pun merupakan maksiat. Justru kejelian fiqih yang tampak bagi Umar adalah beliau melihat orang tersebut sebenarnya tidak membutuhkan lagi untuk meminta-minta, dan beliau mengetahui bahwa orang yang memberinya sesuatu hanyalah memberi atas dasar prasangka bahwa ia membutuhkan, padahal ia berdusta. Maka harta tersebut tidak masuk ke dalam kepemilikannya sebab diambil dengan penipuan (talbis). Dan karena sulit untuk memilah serta mengembalikan harta itu kepada para pemiliknya disebabkan tidak diketahuinya pemilik-pemiliknya secara pasti, maka harta itu menjadi harta tanpa pemilik, sehingga wajib dialokasikan untuk kemaslahatan umum, sedangkan unta sedekah dan pakannya termasuk kemaslahatan. Pengambilan oleh peminta-minta dengan pura-pura butuh padahal berdusta, posisinya sama seperti pengambilan oleh seseorang yang mengaku keturunan Nabi (Alawi) dengan kata-katanya "aku seorang Alawi" padahal ia berdusta,

فإنه لا يملك ما يأخذه كأخذ الصوفي الصالح الذي يعطي لصلاحه وهو في الباطن مقارف لمعصية لو عرفها المعطي لما أعطاه وقد ذكرنا في مواضع أن ما أخذوه على هذا الوجه لا يملكونه وهو حرام عليهم ويجب عليهم الرد إلى مالكه فاستدل بفعل عمر ﵁ على صحة هذا المعنى الذي يغفل عنه كثير من الفقهاء وقد قررناه في مواضع ولا تستدل بغفلتك عن هذا الفقه على بطلان فعل عمر

karena sesungguhnya ia tidak memiliki apa yang diambilnya itu, sebagaimana pengambilan oleh seorang sufi yang dianggap saleh yang diberi karena kesalehannya, padahal secara batin ia melakukan maksiat yang seandainya diketahui oleh si pemberi niscaya ia tidak akan memberinya. Kami telah sebutkan di beberapa tempat bahwa apa yang mereka ambil dengan cara seperti ini tidak menjadi hak milik mereka, hukumnya haram bagi mereka, dan wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Maka jadikanlah tindakan Umar ﵁ sebagai dalil atas kebenaran makna ini yang kerap dilalaikan oleh banyak ahli fiqih, dan sungguh telah kami tetapkan di berbagai tempat. Dan janganlah engkau menjadikan kelalaianmu terhadap fiqih ini sebagai dalil untuk membatalkan tindakan Umar.

فإذا عرفت أن السؤال يباح لضرورة فاعلم أن الشيء إما أن يكون مضطراً إليه أو محتاجاً إليه حاجة

Apabila engkau telah mengetahui bahwa meminta-minta diperbolehkan karena darurat, maka ketahuilah bahwa sesuatu itu adakalanya sangat terdesak (darurat) atau dibutuhkan dengan kebutuhan

مهمة أو حاجة خفيفة أو مستغنى عنه فهذه أربعة أحوال

yang penting, atau kebutuhan yang ringan, atau tidak dibutuhkan sama sekali. Maka inilah empat tingkatan keadaan.

أما المضطر إليه فهو سؤال الْجَائِعِ عِنْدَ خَوْفِهِ عَلَى نَفْسِهِ مَوْتًا أَوْ مَرَضًا وَسُؤَالُ الْعَارِي وَبَدَنُهُ مَكْشُوفٌ لَيْسَ مَعَهُ ما يواريه وهو مباح مهما وجدت بقية الشروط في المسئول بكونه مباحا والمسئول منه بكونه راضياً في الباطن وفي السائل بكونه عَاجِزًا عَنِ الْكَسْبِ فَإِنَّ الْقَادِرَ عَلَى الْكَسْبِ وهو بطال لَهُ السُّؤَالُ إِلَّا إِذَا اسْتَغْرَقَ طَلَبُ الْعِلْمِ أوقاته وكل من له خط فهو قادر على الكسب بالوراقة

Adapun keadaan terdesak (darurat) ialah permohonan orang yang kelaparan ketika ia mengkhawatirkan kematian atau penyakit atas dirinya, serta permintaan orang yang bertelanjang dada di mana tubuhnya terbuka dan ia tidak memiliki penutup. Permintaan ini diperbolehkan selama syarat-syarat lainnya terpenuhi: yaitu pada sesuatu yang diminta hukumnya mubah, orang yang dimintai merelakannya secara batin, dan orang yang meminta dalam keadaan tidak mampu bekerja. Sebab orang yang mampu bekerja namun pengangguran/bermalas-malasan, tidak boleh baginya meminta-minta, kecuali jika aktivitas menuntut ilmu telah menyita seluruh waktunya. Dan setiap orang yang memiliki keahlian menulis berarti ia mampu bekerja dengan menjadi juru tulis (waraqah).

وأما المستغني فهو الذي يطلب شيئاً وعنده مثله وأمثاله فسؤاله حرام قطعاً وهذان طرفان واضحان

Adapun orang yang tidak membutuhkan, yaitu orang yang meminta sesuatu padahal ia telah memiliki yang serupa dengannya atau yang semisalnya, maka permintaannya haram secara pasti. Dua keadaan ini merupakan dua ujung batas yang jelas.

وَأَمَّا الْمُحْتَاجُ حَاجَةً مُهِمَّةً فَكَالْمَرِيضِ الَّذِي يَحْتَاجُ إلى دواء ليس يظهر خوفه لو لم يستعمله ولكن لا يخلو عن خوف وَكَمَنَ لَهُ جُبَّةٌ لَا قَمِيصَ تَحْتَهَا فِي الشتاء وهو يتأذى بالبرد تأذياً لا ينتهي إلى حد الضرورة وكذلك من يسأل لأجل الكراء وهو قادر على المشي بمشقة فهذا أيضاً ينبغي أن تسترسل عليه الإباحة لأنها أيضاً حاجة محققة ولكن الصبر عنه أولى وهو بالسؤال تارك للأولى ولا يسمى سؤاله مكروهاً مهما صدق في السؤال وقال ليس تحت جبتي قميص والبرد يؤذيني أذىً أطيقه ولكن يشق علي فإذا صدق فصدقه يكون كفارة لسؤاله إن شاء الله تعالى

Adapun orang yang membutuhkan untuk kebutuhan penting, seperti orang sakit yang membutuhkan obat yang kekhawatirannya tidak begitu nyata jika tidak menggunakannya namun tetap tidak terlepas dari kekhawatiran; atau seperti orang yang memiliki jubah tetapi tidak memiliki kemeja di dalamnya pada musim dingin, lalu ia terganggu oleh dingin dengan gangguan yang tidak sampai pada batas darurat; demikian pula orang yang meminta-minta untuk sewa kendaraan padahal ia mampu berjalan walau dengan kesukaran. Maka keadaan seperti ini hendaknya hukum kebolehan berlaku baginya karena itu juga merupakan kebutuhan yang nyata, tetapi bersabar darinya adalah lebih utama. Dengan meminta-minta, ia telah meninggalkan yang lebih utama (tarkul aula), dan permintaannya tidak dinamakan makruh selama ia jujur dalam permintaannya dengan berkata: "Di balik jubahku tidak ada kemeja, dan hawa dingin ini menggangguku dengan gangguan yang sanggup kubendung namun memberatkanku." Maka apabila ia jujur, kejujurannya itu menjadi pelebur (kaffarah) bagi permintaannya, insya Allah Ta'ala.

وأما الحاجة الخفيفة فمثل سؤال قميصاً ليلبسه فوق ثيابه عند خروجه ليستر الخروق من ثيابه عن أعين الناس وكمن يسأل لأجل الأدم وهو واجد للخبز وكمن يسأل الكراء لفرس في الطريق وهو واجد كراء الحمار أو يسأل كراء المحمل وهو قادر على الراحلة فهذا ونحوه إن كان فيه تلبيس حال بإظهار حاجة غير هذه فهو حرام وإن لم يكن وكان فيه شيء من المحذورات الثلاثة من الشكوى والذل وإيذاء المسؤل فهو حرام لأن مثل هذه الحاجة لا تصلح لأن تباح بها هذه المحذورات وإن لم يكن فيها شيء من ذلك فهو مباح مع الكراهة

Adapun kebutuhan yang ringan, seperti meminta kemeja untuk dikenakan di atas pakaiannya ketika keluar guna menutupi robekan-robekan bajunya dari pandangan orang-orang; atau seperti orang yang meminta untuk lauk pauk padahal ia sudah memiliki roti; atau seperti orang yang meminta biaya sewa kuda di perjalanan padahal ia memiliki biaya sewa keledai; atau meminta sewa sekoci/tandu (mahmal) padahal ia mampu mengendarai hewan tunggangan biasa. Maka hal ini dan yang semisalnya, jika di dalamnya terdapat penipuan keadaan dengan menampakkan kebutuhan yang bukan sebenarnya, maka hukumnya haram. Dan jika tidak ada penipuan namun di dalamnya terdapat salah satu dari tiga hal yang dilarang—yaitu mengeluh, merendahkan diri, dan menyakiti orang yang dimintai—maka hukumnya haram, karena kebutuhan semacam ini tidak layak untuk membolehkan hal-hal yang dilarang tersebut. Namun jika di dalamnya tidak ada sesuatu pun dari hal-hal itu, maka hukumnya mubah disertai makruh.

فإن قلت فكيف يمكن إخلاء السؤال عن هذه المحذورات فاعلم أن الشكوى تندفع بأن يظهر الشكر لله والاستغناء عن الخلق ولا يسأل سؤال محتاج ولكن يقول أنا مستغن بما أملكه ولكن تطالبني رعونة النفس بثوب فوق ثيابي وهو فضلة عن الحاجة وفضول من النفس فيخرج به عن حد الشكوى وأما الذل فبأن يسأل أباه أو قريبه أو صديقه الذي يعلم أنه لا ينقصه ذلك في عينه ولا يزدريه بسبب سؤاله أو الرجل السخي الذي قد أعد ماله لمثل هذه المكارم فيفرح بوجود مثله ويتقلد منه منة بقبوله فيسقط عنه الذل بذلك فإن الذل لازم للمنة لا محالة

Jika engkau bertanya: "Lantas bagaimana mungkin membebaskan permohonan dari hal-hal yang dilarang ini?" Maka ketahuilah bahwa pengeluhan dapat ditepis dengan cara menampakkan rasa syukur kepada Allah dan tidak bergantung pada makhluk, serta tidak meminta seperti permintaannya orang yang sangat butuh, melainkan ia berkata: "Aku sudah merasa cukup dengan apa yang kumiliki, namun kebodohan/keinginan nafsuku menuntut baju tambahan di atas bajuku, dan itu adalah kelebihan dari kebutuhan serta keinginan nafsu semata." Dengan demikian ia keluar dari batas mengeluh. Adapun kehinaan (kerendahan diri), maka dengan cara meminta kepada ayahnya, kerabatnya, atau sahabatnya yang ia ketahui bahwa hal itu tidak akan merendahkan kedudukannya di mata orang tersebut dan tidak membuatnya dihina karena permintaannya; atau kepada orang yang dermawan yang telah menyiapkan hartanya untuk kemuliaan-kemuliaan seperti itu, sehingga ia merasa gembira dengan ditemukannya orang seperti dia dan merasa berutang budi atas penerimaannya. Dengan demikian gugurlah kehinaan itu darinya, sebab kehinaan pastilah menyertai rasa berutang budi (minnah).

وأما الإيذاء فسبيل الخلاص عنه أن لا يعين شخصاً بالسؤال بعينه بل يلقي الكلام عرضاً بحيث لا يقدم على البذل إلا متبرع بصدق الرغبة وإن كان في القوم شخص مرموق لو لم يبذل لكان يلام فهذا إيذاء فإنه ربما يبذل كرها خوفاً من الملامة ويكون الأحب إليه في الباطن الخلاص لو قدر عليه من غير الملامة

Adapun penyakitan (terhadap orang yang dimintai), maka cara terbebas darinya adalah dengan tidak menentukan seseorang secara khusus dalam meminta, melainkan menyampaikan perkataan secara umum sekiranya tidak ada yang memberi kecuali orang yang menyumbang dengan keikhlasan niat. Namun jika di tengah kerumunan itu terdapat orang terpandang yang seandainya ia tidak memberi niscaya ia akan dicela, maka hal itu termasuk penyakitan, sebab boleh jadi ia memberi secara terpaksa karena takut dicela, padahal yang paling ia sukai secara batin adalah terbebas darinya seandainya ia mampu tanpa harus dicela.

وأما إذا كان يسأل شخصاً معيناً فينبغي أن لا يصرح بل يعرض تعريضاً يبقى له سبيلاً إلى التغافل إن أراد فإذا لم يتغافل مع القدرة عليه فذلك لرغبته وأنه غير متأذٍ به وينبغي أن يسأل من لا يستحيا منه لو رده أو تغافل عنه فإن الحياء من السائل يؤذي كما أن الرياء مع غير السائل يؤذي

Adapun jika ia meminta kepada seseorang secara khusus, hendaknya ia tidak berterang-terangan (sharih) melainkan menyindir (ta'ridh) sekiranya masih menyisakan jalan bagi orang tersebut untuk pura-pura tidak tahu jika ia mau. Apabila orang itu tidak pura-pura lupa padahal mampu melakukannya, maka itu menunjukkan kerelaannya dan bahwa ia tidak merasa terganggu dengannya. Dan hendaknya ia meminta kepada orang yang tidak merasa malu seandainya menolaknya atau pura-pura tidak tahu, sebab rasa malu terhadap peminta-minta itu menyakiti, sebagaimana riya kepada selain peminta-minta itu menyakiti.

فإن قلت فإذا أخذ مع العلم بأن باعث المعطي هو الحياء منه أو من الحاضرين ولولاه لما ابتدأه به فهل هو حلال أو شبهة فأقول ذلك حرام محض لا خلاف فيه بين الأمة وحكمه حكم أخذ مال الغير بالضرب والمصادرة إذ لا فرق بين أن يضرب ظاهر جلده بسياط الخشب أو يضرب باطن قلبه بسوط الحياء وخوف الملام وضرب الباطن أشد نكاية في قلوب العقلاء ولا يجوز أن يقال هو في الظاهر قد رضي به وقد قال صلى الله عليه وسلم

Jika engkau bertanya: "Apabila seseorang mengambil pemberian padahal ia tahu bahwa pendorong si pemberi adalah rasa malu kepadanya atau kepada orang-orang yang hadir, dan seandainya bukan karena itu niscaya ia tidak akan mulai memberinya, apakah hal itu murni halal ataukah syubhat?" Maka aku katakan: Hal itu adalah haram murni tanpa ada perselisihan pendapat di antara umat ini, dan hukumnya sama dengan hukum mengambil harta orang lain melalui pemukulan dan penyitaan. Sebab tidak ada bedanya antara memukul bagian luar kulitnya dengan cambuk kayu atau memukul bagian dalam hatinya dengan cambuk rasa malu dan takut celaan. Pemukulan batin itu justru lebih menyakitkan bagi hati orang-orang yang berakal. Dan tidak boleh dikatakan bahwa secara lahiriah ia telah merelakannya, padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إنما أحكم بالظاهر والله يتولى السرائر فإن هذه ضرورة القضاء في فصل الخصومات إذ لا يمكن ردهم إلى البواطن وقرائن الأحوال فاضطروا إلى الحكم بظاهر القول باللسان مع أنه ترجمان كثير الكذب ولكن الضرورة دعت إليه وهذا سؤال عما بين العبد وبين الله تعالى والحاكم فيه أحكم الحاكمين والقلوب عنده كالألسنة عند سائر الحكام فلا تنظر في مثل هذا إلا إلى قلبك وإن أفتوك وأفتوك فإن المفتي معلم للقاضي والسلطان ليحكموا في عالم الشهادة ومفتي القلوب هم علماء الآخرة وبفتواهم النجاة من سلطان الآخرة كما أن بفتوى الفقيه النجاة من سطوة سلطان الدنيا فإذا ما أخذه مع الكراهة لا يملكه بينه وبين الله تعالى ويجب عليه رده إلى صاحبه فإن كان يستحيي من أن يسترده ولم يسترده فعليه أن يثيبه على ذلك بما يساوي قيمته في معرض الهدية والمقابلة ليتفصى عن عهدته فإن لم يقبل هديته فعليه أن يرد ذلك إلى ورثته فإن تلف في يده فهو مضمون عليه بينه وبين الله تعالى وهو عاص بالتصرف فيه وبالسؤال الذي حصل به الأذى

"Aku hanyalah memutuskan berdasarkan apa yang tampak, dan Allah-lah yang mengurusi hal-hal yang tersembunyi." Sebab hal tersebut merupakan kelonggaran darurat dalam peradilan untuk memutuskan perselisihan, karena tidak mungkin mengembalikan mereka pada niat batin dan indikasi-indikasi keadaan (qara'in al-ahwal), sehingga terpaksa memutuskan berdasarkan lahiriah perkataan lisan, padahal lisan merupakan penerjemah yang banyak dustanya, namun darurat menuntut hal itu. Sedangkan ini adalah pertanyaan mengenai hubungan antara hamba dengan Allah Ta'ala, dan Hakim di dalamnya adalah Sebaik-baik Hakim (Ahkamul Hakimin), di mana hati bagi-Nya sama seperti lisan bagi hakim-hakim lainnya. Maka dalam perkara seperti ini, janganlah engkau melihat kecuali pada hatimu, meskipun orang-orang memberimu fatwa dan terus memberimu fatwa. Sebab juru fatwa (mufti) adalah pengajar bagi hakim dan penguasa agar mereka memutuskan di alam nyata (syahadah), sedangkan mufti bagi hati adalah para ulama akhirat, dan dengan fatwa merekalah terdapat keselamatan dari kekuasaan akhirat, sebagaimana dengan fatwa ahli fiqih terdapat keselamatan dari cengkeraman kekuasaan dunia. Oleh karena itu, apa yang diambil seseorang disertai ketidaksukaan si pemberi tidaklah menjadi miliknya dalam hubungan antara dirinya dengan Allah Ta'ala, dan wajib baginya mengembalikannya kepada pemiliknya. Jika ia merasa malu untuk memintanya kembali dan si pemilik tidak memintanya kembali, maka ia wajib memberinya imbalan yang senilai dengannya dalam bentuk hadiah dan balasan agar ia terbebas dari tanggungannya. Jika si pemilik tidak menerima hadiahnya, maka ia wajib mengembalikannya kepada ahli warisnya. Jika barang itu rusak di tangannya, maka barang tersebut menjadi tanggungannya antara dia dan Allah Ta'ala, dan ia terhitung bermaksiat dengan bertindak atas barang itu serta dengan tindakan meminta-minta yang menimbulkan rasa sakit hati tersebut.

فإن قلت فهذا أمر باطن يعسر الإطلاع عليه فكيف السبيل إلى الخلاص منها فربما يظن السائل أنه راض ولا يكون هو في الباطن راضياً فأقول لهذا ترك المتقون السؤال رأساً فما كانوا يأخذون من أحد شيئاً أصلاً فكان بشر لا يأخذ من أحد أصلاً إلا من السري رحمة الله عليهما وقال لأني علمت أنه يفرح بخروج المال من يده فأنا أعينه على ما يحب وإنما عظم النكير في السؤال وتأكد الأمر بالتعفف لهذا لأن الأذى إنما يحل بضرورة وهو أن يكون السائل مشرفاً على الهلاك ولم يبق له سبيل إلى الخلاص ولم يجد من يعطيه من غير كراهة وأذى فيباح له ذلك كما يباح له أكل لحم الخنزير وأكل لحم الميتة فكان الامتناع طريق الورعين ومن أرباب القلوب من كان واثقاً ببصيرته في الإطلاع على قرائن الأحوال فكانوا يأخذون من بعض الناس دون البعض ومنهم من كان لا يأخذ إلا من أصدقائه ومنهم من كان يأخذ مما يعطي بعضاً ويرد بعضاً كَمَا فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ في الكبش والسمن والأقط وكان هذا يأتيهم من غير سؤال فإن ذلك لا يكون إلا عن رغبة ولكن قد تكون رغبته طمعاً في جاه أو طلباً للرياء والسمعة فكانوا يحترزون من ذلك فأما السؤال فقد امتنعوا عنه رأساً إلا في موضعين أحدهما الضرورة فقد سأل ثلاثة من الأنبياء في موضع الضرورة سليمان وموسى والخضر ﵈

Jika engkau berkata: "Ini adalah perkara batin yang sulit diketahui, lantas bagaimana jalan untuk terbebas darinya? Karena boleh jadi peminta-minta mengira si pemberi ridha, padahal secara batin ia tidak ridha." Maka aku katakan: Oleh karena inilah orang-orang yang bertakwa meninggalkan meminta-minta secara total, sehingga mereka sama sekali tidak mengambil sesuatu pun dari siapa pun. Adalah Bisyri tidak pernah mengambil dari siapa pun sama sekali kecuali dari As-Sari—semoga Allah merahmati keduanya—dan ia berkata: "Karena aku tahu ia gembira dengan keluarnya harta itu dari tangannya, maka aku membantunya atas apa yang ia sukai." Sesungguhnya besarnya kecaman terhadap meminta-minta dan kuatnya perintah untuk menjaga 'iffah (kesucian diri) adalah karena alasan ini; sebab tindakan yang menimbulkan rasa sakit hati ini hanya menjadi halal karena darurat, yaitu apabila peminta-minta berada di ambang kebinasaan dan tidak ada lagi jalan baginya untuk selamat serta tidak menemukan orang yang memberinya tanpa ada rasa terpaksa dan terganggu, maka hal itu dibolehkan baginya sebagaimana dibolehkannya memakan daging babi dan memakan bangkai. Maka menahan diri adalah jalan orang-orang yang wara'. Di antara pemilik mata hati (arbab al-qulub) ada yang yakin dengan mata batinnya dalam mengenali indikasi-indikasi keadaan, sehingga mereka mengambil dari sebagian orang dan tidak mengambil dari yang lain; di antara mereka ada yang tidak mengambil kecuali dari sahabat-sahabatnya; dan di antara mereka ada yang mengambil sebagian dari yang diberikan dan mengembalikan sebagian lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ pada domba jantan, minyak samin, dan keju olahan (aqith). Pemberian ini datang kepada mereka tanpa meminta-minta, sebab hal itu tidak terjadi melainkan karena kerelaan, akan tetapi boleh jadi kerelaan itu karena mengharapkan kedudukan atau mencari riya dan sum'ah, maka mereka pun berhati-hati darinya. Adapun meminta-minta, sungguh mereka menahannya sama sekali kecuali dalam dua keadaan: Salah satunya adalah keadaan darurat, sebab tiga orang nabi pernah meminta dalam keadaan darurat, yaitu Sulaiman, Musa, dan Al-Khidhr ﵈.

ولا شك في أنهم ما سألوا إلا من علموا أنه يرغب في إعطائهم

Dan tidak diragukan lagi bahwa mereka tidaklah meminta melainkan kepada orang yang mereka ketahui senang untuk memberi mereka.

والثاني السؤال من الأصدقاء والإخوان فقد كانوا يأخذون مالهم بغير سؤال واستئذان لأن أرباب القلوب علموا أن المطلوب رضا القلب لا نطق اللسان وقد كانوا وثقوا بإخوانهم أنهم كانوا يفرحون بمباسطتهم فإذا كانوا يسألون الإخوان عند شكهم في اقتدار إخوانهم على ما يريدونه وإلا فكانوا يستغنون عن السؤال وحد إباحة السؤال أن تعلم أن المسئول بصفة لو علم ما بك من الحاجة لا لابتدأك دون السؤال فلا يكون لسؤالك تأثير إلا بتعريف حاجتك فأما في تحريكه بالحياء وإثارة داعيته بالحيل فلا ويتصدى للسائل حالة لا يشك فيها في الرضا بالباطن وحالة لا يشك في الكراهة ويعلم ذلك بقرينة الأحوال فالأخذ في الحالة الأولى حلال طلق وفي الثانية سحت ويتردد بين الحالتين أحوال يشك فيها فليستفت قلبه فيها وَلْيَتْرُكْ حَزَازَ الْقَلْبِ فَإِنَّهُ الْإِثْمُ وَلْيَدَعْ مَا يَرِيبُهُ إِلَى مَا لَا يَرِيبُهُ وَإِدْرَاكُ ذَلِكَ بِقَرَائِنِ الْأَحْوَالِ سَهْلٌ عَلَى مَنْ قَوِيَتْ فِطْنَتُهُ وَضَعُفَ حِرْصُهُ وَشَهْوَتُهُ فَإِنْ قَوِيَ الْحِرْصُ وَضَعُفَتِ الْفَطِنَةُ تَرَاءَى لَهُ مَا يُوَافِقُ غَرَضَهُ فَلَا يَتَفَطَّنُ لِلْقَرَائِنِ الدَّالَّةِ عَلَى الْكَرَاهَةِ وَبِهَذِهِ الدَّقَائِقِ يطلع على سر قوله

Yang kedua adalah meminta kepada sahabat-sahabat dan saudara-saudara, sebab dahulu mereka biasa mengambil harta saudara mereka tanpa meminta dan tanpa meminta izin, karena pemilik mata hati mengetahui bahwa yang dicari adalah kerelaan hati, bukan ucapan lisan. Dan mereka percaya kepada saudara-saudara mereka bahwa mereka merasa gembira dengan keakraban (mubasathah) mereka. Apabila mereka meminta kepada saudara-saudara mereka, hal itu terjadi ketika mereka ragu akan kemampuan saudara mereka terhadap apa yang mereka inginkan, jika tidak demikian maka mereka tidak memerlukan permintaan. Dan batas kebolehan meminta-minta adalah engkau mengetahui bahwa orang yang dimintai memiliki sifat sekiranya ia mengetahui kebutuhan yang ada padamu niscaya ia akan memulainya tanpa engkau minta, sehingga permintaanmu tidak memiliki pengaruh selain memberi tahu kebutuhanmu saja, adapun mempengaruhi dirinya dengan rasa malu dan memicu keinginannya dengan tipu daya, maka itu tidak boleh. Dan bagi peminta-minta akan dihadapkan pada suatu kondisi yang ia tidak ragu lagi akan adanya kerelaan batin, serta kondisi yang ia tidak ragu lagi akan adanya ketidaksukaan; dan hal itu diketahui melalui indikasi-indikasi keadaan. Maka mengambil pada kondisi pertama adalah murni halal, dan pada kondisi kedua adalah haram (suht). Di antara kedua kondisi ini terdapat kondisi-kondisi yang diragukan, maka hendaknya ia meminta fatwa kepada hatinya dalam hal tersebut, dan hendaknya ia meninggalkan keraguan hati karena itu adalah dosa, serta meninggalkan apa yang meragukannya menuju apa yang tidak meragukannya. Memahami hal tersebut melalui indikasi-indikasi keadaan adalah mudah bagi orang yang kuat kecerdasannya serta lemah keserakahan dan hawa nafsunya. Namun jika keserakannya kuat dan kecerdasannya lemah, maka akan tampak baginya apa yang sesuai dengan tujuannya saja, sehingga ia tidak menyadari indikasi-indikasi yang menunjukkan ketidaksukaan. Dan dengan kelembutan-kelembutan makna inilah seseorang dapat tersingkap atas rahasia sabda beliau:

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَطْيَبَ مَا أكل الرجل من كسبه وقد أوتي جوامع الكلم لأن من لا كسب له ولا مال ورثه من كسب أبيه أو أحد قرابته فليأكل من أيدي الناس وإن أعطى بغير سؤال فإنما يعطي بدينه ومتى يكون باطنه بحيث لو انكشف لا يعطي بدينه فيكون ما يأخذه حراماً وإن أعطي بسؤال فأين من يطيب قلبه بالعطاء إذا سئل وأين من يقتصر في السؤال على حد الضرورة فإذا فتشت أحوال من يأكل من أيدي الناس علمت أن جميع ما يأكله أو أكثره سحت وأن الطيب هو الكسب الذي اكتسبته بحلالك أنت أو مورثك فإذن بعيد أن يجتمع الورع مع الأكل من أيدي الناس فنسأل الله تعالى أن يقطع طمعنا عن غيره وأن يغنينا بحلاله عن حرامه وبفضله عمن سواه بمنه وسعة جوده فإنه على ما يشاء قدير

ﷺ: "Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri," padahal beliau telah dikaruniai jawami'al-kalim (perkataan ringkas namun padat makna). Karena barangsiapa yang tidak memiliki usaha dan tidak pula harta yang diwariskan dari usaha ayahnya atau salah seorang kerabatnya, lalu ia makan dari pemberian tangan orang-orang; walaupun ia diberi tanpa meminta-minta, sesungguhnya ia hanyalah diberi karena agamanya. Dan betapa sering batinnya dalam keadaan yang seandainya tersingkap niscaya ia tidak akan diberi karena agamanya, sehingga apa yang diambilnya menjadi haram. Dan jika ia diberi karena meminta-minta, maka di manakah orang yang rela hatinya dengan memberi ketika dimintai? Dan di manakah orang yang membatasi diri dalam meminta hanya pada batas darurat? Maka apabila engkau menyelidiki keadaan orang yang makan dari pemberian tangan manusia, niscaya engkau mengetahui bahwa seluruh apa yang dimakannya atau sebagian besarnya adalah haram (suht), dan bahwa yang baik (thayyib) itu adalah hasil usaha yang engkau usahakan sendiri secara halal olehmu atau oleh pewarismu. Oleh karena itu, sungguh jauh untuk bisa menyatukan antara sifat wara' dengan makan dari pemberian tangan manusia. Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala agar memutuskan ketamakan kita dari selain-Nya, serta mencukupkan kita dengan yang halal dari-Nya dari yang haram, dan dengan karunia-Nya dari selain-Nya, dengan anugerah dan keluasan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki.