بيان آداب الفقير في قبول العطاء إذا جاءه بغير سؤال
بيان آدَابُ الْفَقِيرِ فِي قَبُولِ الْعَطَاءِ إِذَا جَاءَهُ بِغَيْرِ سُؤَالٍ
Penjelasan tentang Etika Orang Fakir dalam Menerima Pemberian Apabila Datang Tanpa Meminta
يَنْبَغِي أَنْ يُلَاحِظَ الْفَقِيرُ فِيمَا جَاءَهُ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ نَفْسُ الْمَالِ
Seyogianya bagi seorang fakir untuk memperhatikan tiga hal terkait pemberian yang datang kepadanya: hakikat harta itu sendiri,
وَغَرَضُ الْمُعْطِي وَغَرَضُهُ فِي الْأَخْذِ
tujuan orang yang memberi, dan tujuannya sendiri dalam mengambilnya.
أَمَّا نَفْسُ الْمَالِ فَيَنْبَغِي أن يكون حلالاً خالياً عن الشبهات كلها فَإِنْ كَانَ فِيهِ شُبْهَةٌ فَلْيَحْتَرِزْ مِنْ أَخْذِهِ وقد ذكرنا في كتاب الحلال والحرام درجات الشبهة وما يجب اجتنابه وما يستحب
Adapun mengenai harta itu sendiri, seyogianya harta tersebut halal dan terbebas dari segala bentuk syubhat. Jika di dalamnya terdapat unsur syubhat, maka ia harus berhati-hati dan menahan diri dari mengambilnya. Kami telah menyebutkan dalam Kitab al-Halal wa al-Haram mengenai tingkatan-tingkatan syubhat serta apa yang wajib dijauhi dan apa yang disunnahkan.
وَأَمَّا غَرَضُ الْمُعْطِي فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ غَرَضُهُ تَطْيِيبَ قَلْبِهِ وَطَلَبَ مَحَبَّتِهِ وَهُوَ الهدية أو الثواب وهو الصدقة والزكاة والذكر والرياء والسمعة إما على التجرد وإما ممزوجاً ببقية الأغراض
Adapun tujuan orang yang memberi, tidak terlepas dari: apakah tujuannya untuk menyenangkan hatinya dan mengharapkan kasih sayangnya—yang dinamakan hadiah; atau untuk meraih pahala—yaitu sedekah dan zakat; atau untuk sebutan, riya, dan popularitas (sum'ah), baik secara murni maupun bercampur dengan tujuan-tujuan lainnya.
أَمَّا الْأَوَّلُ وَهُوَ الْهَدِيَّةُ فَلَا بَأْسَ بِقَبُولِهَا فَإِنَّ قَبُولَهَا سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ لَا يَكُونَ فِيهَا مِنَّةٌ فَإِنْ كَانَ فِيهَا مِنَّةٌ فَالْأَوْلَى تَرْكُهَا فَإِنْ عَلِمَ أَنَّ بَعْضَهَا مِمَّا تَعْظُمُ فيه المنة فليرد البعض دون البعض فقد أهدي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ سمن وأقط وكبش فقبل السمن والأقط ورد الكبش وكان ﷺ يقبل من بعض الناس ويرد على بعض
Adapun jenis yang pertama, yaitu hadiah, maka tidak mengapa menerimanya karena menerima hadiah merupakan sunnah Rasulullah ﷺ. Namun, hendaknya di dalamnya tidak terdapat unsur beban utang budi (minnah). Jika mengandung minnah, maka yang lebih utama adalah meninggalkannya. Apabila ia mengetahui bahwa sebagian dari pemberian itu berpotensi menimbulkan minnah yang besar, hendaknya ia menolak sebagian dan tidak menolak sisanya. Sungguh pernah dihadiahkan kepada Rasulullah ﷺ minyak samin, keju kering (aqith), dan seekor domba jantan, lalu beliau menerima minyak samin dan keju kering tersebut serta mengembalikan domba jantan itu. Dan Rasulullah ﷺ pernah menerima pemberian dari sebagian orang dan menolaknya dari sebagian yang lain.
وقال لقد هممت أن لا أتهب إلا من قرشي أو ثقفي أو أنصاري أو دوسي وفعل هذا جماعة من التابعين
Seraya beliau ﷺ bersabda, "Sungguh aku telah bermaksud untuk tidak menerima hadiah kecuali dari orang Quraisy, Tsaqafi, Anshar, atau Dausi." Langkah ini juga diikuti oleh sekelompok dari kalangan Tabi'in.
وجاءت إلى فتح الموصلي صرة فيها خمسين درهماً فقال حدثنا عطاء عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال من أتاه رزق من غير مسألة فرده فأنما يرده على الله ثم فتح الصرة فأخذ منها درهماً ورد سائرها
Pernah dibawakan kepada Fath al-Maushili sebuah kantong berisi lima puluh dirham, lalu beliau berkata, "Atha' telah menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: 'Barang siapa yang mendatangi rezeki tanpa ia minta lalu ia menolaknya, maka sesungguhnya ia menolaknya dari Allah.'" Kemudian Fath membuka kantong tersebut, mengambil satu dirham darinya, dan mengembalikan sisanya.
وكان الحسن يروي هذا الحديث أيضاً ولكن حمل إليه رجل كيساً ورزمة من رقيق ثياب خراسان فرد ذلك وقال من جلس مجلسي هذا وقبل من الناس مثل هذا لقي الله ﷿ يوم القيامة وليس له خلاق
Al-Hasan (al-Bashri) juga meriwayatkan hadis ini, tetapi ketika seorang laki-laki membawakan kepadanya sebuah kantong berisi uang dan segulung kain sutra halus dari Khurasan, beliau menolaknya dan berkata, "Barang siapa duduk di majelisku ini lalu menerima pemberian seperti ini dari manusia, niscaya ia akan bertemu Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat tanpa mendapatkan bagian pahala sedikit pun."
وهذا يدل على أن أمر العالم والواعظ أشد في قبول العطاء وقد كان الحسن يقبل من أصحابه
Hal ini menunjukkan bahwa perkara seorang alim dan pemberi nasihat jauh lebih berat dalam hal menerima pemberian. Dan al-Hasan sendiri sesekali menerima pemberian dari para sahabat dekatnya.
وكان إبراهيم التيمي يسأل من أصحابه الدرهم والدرهمين ونحوه ويعرض عليه غيرهم المئين فلا يأخذها وكان بعضهم إذا أعطاه صديقه شيئاً يقول اتركه عندك وانظر إن كنت بعد قبوله في قلبك أفضل مني قبل القبول فأخبرنى
Dahulu Ibrahim at-Taimi meminta satu atau dua dirham dan sejenisnya dari para sahabatnya, namun ketika orang lain menawarkan ratusan dirham kepadanya, beliau tidak mau mengambilnya. Dan sebagian ulama, jika sahabatnya memberikan sesuatu kepadanya, berkata, "Biarkanlah itu di sisimu dan lihatlah, jika setelah aku mengambinya kedudukanku di dalam hatimu lebih utama daripada sebelum aku mengambinya, maka beritahukanlah kepadaku
حتى آخذه وإلا فلا وأمارة هذا أن يشق عليه الرد لو رده ويفرح بالقبول ويرى المنة على نفسه في قبول صديقه هديته فإن علم أنه يمازجه منة فأخذه مباح ولكنه مكروه عند الفقراء الصادقين
sehingga aku dapat mengambilnya; jika tidak, maka tidak." Tanda dari hal tersebut adalah terasa berat bagi sahabatnya untuk menolaknya seandainya ia mengembalikannya, sahabatnya merasa gembira dengan penerimaan tersebut, dan menganggap penerimaan sahabatnya atas hadiahnya sebagai suatu karunia atas dirinya sendiri. Jika ia mengetahui bahwa pemberian itu tercampur dengan minnah (beban utang budi), maka mengambilnya adalah mubah (boleh), tetapi hukumnya makruh menurut orang-orang fakir yang jujur (al-fuqara' al-shadiqin).
وقال بشر ما سألت أحداً قط شيئاً إلا سرياً السقطي لأنه قد صح عندي زهده في الدنيا فهو يفرح بخروج الشيء من يده ويتبرم ببقائه عنده فأكون عوناً له على ما يحب
Bishr berkata, "Aku tidak pernah meminta sesuatu pun kepada siapa pun kecuali kepada Sari as-Saqathi, karena telah terbukti bagiku kezuhudannya terhadap dunia; ia merasa gembira bila sesuatu keluar dari tangannya dan merasa terbeban jika sesuatu itu tetap ada di sisinya. Maka aku membantu memenuhi apa yang disukainya."
وجاء خراساني إلى الجنيد ﵀ بمال وسأله أن يأكله فقال أفرقه على الفقراء فقال ما أريد هذا قال ومتى أعيش حتى آكل هذا قال ما أريد أن تنفقه في الخل والبقل بل في الحلاوات والطيبات فقبل ذلك منه فقال الخراساني ما أجد في بغداد أمن علي منك فقال الجنيد ولا ينبغي أن يقبل إلا من مثلك
Seseorang yang berasal dari Khurasan datang kepada Al-Junaid rahimahullah membawa sejumlah harta dan memohon agar beliau memakannya (memanfaatkannya). Al-Junaid berkata, "Bagi-bagikanlah harta ini kepada orang-orang fakir." Orang itu menjawab, "Bukan ini yang aku inginkan." Al-Junaid berkata, "Sampai kapan aku hidup hingga dapat menghabiskan ini?" Orang itu berkata, "Aku tidak ingin engkau membelanjakannya untuk cuka dan sayuran, melainkan untuk makanan-makanan manis dan yang enak-enak." Maka Al-Junaid pun menerimanya dari orang itu. Laki-laki Khurasan itu lalu berkata, "Aku tidak menemukan di Baghdad seorang pun yang lebih besar jasa kebaikannya padaku daripada engkau." Maka Al-Junaid menjawab, "Dan tidak sepantasnya pemberian itu diterima melainkan dari orang seperti dirimu."
الثَّانِي أَنْ يَكُونَ لِلثَّوَابِ الْمُجَرَّدِ وَذَلِكَ صَدَقَةٌ أَوْ زَكَاةٌ فَعَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ فِي صِفَاتِ نَفْسِهِ هَلْ هُوَ مُسْتَحِقٌّ لِلزَّكَاةِ فَإِنِ اشْتَبَهَ عليه فهو محل شبهة وقد ذكرنا تفصيل ذلك في كتاب أسرار الزكاة
Kategori kedua adalah pemberian yang murni bertujuan mencari pahala, yaitu berupa sedekah atau zakat. Maka ia wajib memeriksa sifat-sifat dirinya sendiri, apakah ia termasuk orang yang berhak menerima zakat (mustahiq). Jika hal itu membingungkan baginya, maka itu menjadi tempat timbulnya syubhat, dan kami telah menyebutkan rinciannya dalam Kitab Asrar al-Zakah (Rahasia-Rahasia Zakat).
وَإِنْ كَانَتْ صَدَقَةً وَكَانَ يُعْطِيهِ لِدِينِهِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى بَاطِنِهِ فَإِنْ كَانَ مُقَارِفًا لِمَعْصِيَةٍ فِي السر يعلم أن المعطي لو علم ذلك لَنَفَرَ طَبْعُهُ وَلَمَا تَقَرَّبَ إِلَى اللَّهِ بِالتَّصَدُّقِ عَلَيْهِ فَهَذَا حَرَامٌ أَخْذُهُ كَمَا لَوْ أَعْطَاهُ لِظَنِّهِ أَنَّهُ عَالِمٌ أَوْ عَلَوِيٌّ وَلَمْ يَكُنْ فَإِنَّ أَخْذَهُ حَرَامٌ مَحْضٌ لَا شُبْهَةَ فِيهِ
Jika pemberian itu berupa sedekah sunnah dan pemberi menyerahkannya karena faktor keagamannya, maka ia harus memperhatikan batinnya. Apabila ia melakukan maksiat secara tersembunyi yang ia ketahui bahwa seandainya si pemberi mengetahuinya niscaya wataknya akan menjauh dan tidak akan mendekatkan diri kepada Allah dengan bersedekah kepadanya, maka haram baginya mengambil harta tersebut. Hal itu sama seperti jika seseorang memberinya karena menganggapnya seorang alim atau seorang keturunan Rasulullah (Alawi) padahal sebenarnya tidak demikian, maka mengambilnya adalah haram murni tanpa keraguan (syubhat) sedikit pun di dalamnya.
الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ غَرَضُهُ السُّمْعَةَ وَالرِّيَاءَ وَالشُّهْرَةَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهِ قَصْدَهُ الْفَاسِدَ وَلَا يقبله إذ يكون معيناً له على غرضه الفاسد
Kategori ketiga adalah jika tujuan si pemberi adalah sum'ah (mencari popularitas), riya, dan ketenaran. Maka seyogianya ia menolak maksud yang rusak tersebut dan tidak menerimanya, karena jika menerima, berarti ia membantu orang itu dalam mencapai tujuannya yang rusak.
وكان سفيان الثوري يرد ما يعطي ويقول لو علمت أنهم لا يذكرون ذلك افتخاراً به لأخذت وعوتب بعضهم في رد ما كان يأتيه من صلة فقال إنما أرد صلتهم إشفاقاً عليهم ونصحاً لهم لأنهم يذكرون ذلك ويحبون أن يعلم به فتذهب أموالهم وتحبط أجورهم
Sufyan ats-Tsauri selalu menolak apa yang diberikan kepadanya seraya berkata, "Seandainya aku tahu mereka tidak menyebut-nyebut pemberian itu untuk membanggakan diri, niscaya aku akan mengambilnya." Sebagian ulama ditegur berkenaan dengan penolakannya atas pemberian sambungan kebaikan yang datang kepadanya, maka ia menjawab, "Sesungguhnya aku menolak pemberian mereka justru karena merasa kasihan kepada mereka dan sebagai bentuk nasihat bagi mereka, sebab mereka suka menyebut-nyebut pemberian itu serta suka jika hal itu diketahui orang lain, sehingga harta mereka lenyap dan pahala mereka gugur."
وَأَمَّا غَرَضُهُ فِي الْأَخْذِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَنْظُرَ أهو محتاج إليه فيما لا بد منه أو هو مُسْتَغْنٍ عَنْهُ فَإِنْ كَانَ مُحْتَاجًا إِلَيْهِ وَقَدْ سَلِمَ مِنَ الشُّبْهَةِ وَالْآفَاتِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي المعطي فالأفضل له الأخذ قال النبي ﷺ ما المعطي من سعة بأعظم أجراً من الآخذ إذا كان محتاجاً وقال ﷺ مَنْ أَتَاهُ شَيْءٌ مِنْ هَذَا الْمَالِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلَا اسْتِشْرَافٍ فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وفي لفظ آخر فلا يرده
Adapun tujuannya dalam mengambil (pemberian), hendaknya ia memperhatikan apakah ia memang membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan pokok yang mendesak, ataukah ia tidak membutuhkannya (sudah merasa cukup). Jika ia membutuhkannya dan pemberian tersebut selamat dari syubhat serta cela (keburukan) yang telah kami sebutkan pada pihak pemberi, maka yang lebih utama baginya adalah mengambinya. Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah orang yang memberi dari kelapangannya lebih besar pahalanya daripada orang yang menerima apabila ia memang membutuhkannya." Beliau ﷺ juga bersabda: "Barang siapa yang mendapatkan sesuatu dari harta ini tanpa meminta-minta dan tanpa mengharapkannya (mengharap-harapkan pemberian), maka sesungguhnya itu adalah rezeki yang dialirkan Allah kepadanya." Dan dalam lafal lain: "Maka janganlah ia menolaknya."
وقال بعض العلماء من أعطي ولم يأخذ سأل ولم يعطَ
Sebagian ulama berkata: "Barang siapa yang diberi lalu tidak mau menerima, niscaya (suatu saat) ia meminta namun tidak diberi."
وقد كان سري السقطي يوصل إلى أحمد بن حنبل رحمة الله عليهما شيئاً فرده مرة فقال له السري يا أحمد احذر آفة الرد فإنها أشد من آفة الأخذ فقال له أحمد أعد علي ما قلت فأعاده فقال أحمد ما رددت عليك إلا لأن عندي قوت شهر فاحسبه لي عندك فإذا كان بعد شهر فأنفذه إلي وقد قال بعض العلماء يخاف في الرد مع الحاجة عقوبة من ابتلاء بطمع أو دخول في شبهة أو غيره فَأَمَّا إِذَا كَانَ مَا أَتَاهُ زَائِدًا عَلَى حَاجَتِهِ فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ حَالُهُ الِاشْتِغَالَ بِنَفْسِهِ أَوِ التَّكَفُّلَ بِأُمُورِ الْفُقَرَاءِ وَالْإِنْفَاقِ عَلَيْهِمْ لِمَا فِي طَبْعِهِ مِنَ الرِّفْقِ وَالسَّخَاءِ فَإِنْ كَانَ مَشْغُولًا بِنَفْسِهِ فَلَا وَجْهَ لِأَخْذِهِ وإمساكه إن كان طالباً طريق الآخرة فإن ذلك محض إتباع الهوى وكل عمل ليس لله فهو سبيل الشيطان أو داعٍ إليه ومن حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه ثم له مقامان أحدهما أن يأخذ في العلانية ويرد في السر أو يأخذ في العلانية ويفرق في السر وهذا مقام الصديقين وهو شاق على النفس لا يطيقه إلا من اطمأنت نفسه بالرياضة والثاني أن يترك ولا يأخذ ليصرفه صاحبه إلى من هو أحوج منه أو يأخذ ويوصل إلى من هو أحوج منه فيفعل كليهما في السر أو كليهما في العلانية وقد ذكرنا هل الأفضل إظهار
Sari as-Saqati pernah mengirimkan sesuatu kepada Ahmad bin Hanbal (semoga rahmat Allah tercurah atas keduanya), lalu Ahmad menolaknya sekali. Maka Sari berkata kepadanya, "Wahai Ahmad, waspadailah bahaya penolakan, karena sesungguhnya bahaya menolak itu lebih berat daripada bahaya mengambil." Ahmad berkata kepadanya, "Ulangi apa yang engkau katakan padaku." Sari pun mengulanginya. Lalu Ahmad berkata, "Tidaklah aku menolaknya darimu melainkan karena aku masih memiliki makanan pokok untuk satu bulan. Maka anggaplah pemberian itu tersimpan bagiku di sisimu; apabila telah lewat satu bulan, maka kirimkanlah kepadaku." Sebagian ulama telah berkata bahwa dalam menolak (pemberian) padahal sangat membutuhkan, dikhawatirkan akan memicu hukuman berupa ujian keserakahan, terjerumus dalam syubhat, atau cela lainnya. Adapun jika apa yang datang kepadanya melebihi kebutuhannya, maka kondisinya tidak lepas dari dua hal: apakah ia sibuk dengan penyucian dirinya sendiri, ataukah ia menanggung urusan para fakir miskin dan menafkahi mereka karena watak kelembutan serta kedermawanannya. Jika ia sibuk dengan dirinya sendiri, maka tidak ada alasan baginya untuk mengambil dan menahannya jika ia penuntut jalan akhirat; sebab hal itu murni perturutan hawa nafsu, dan setiap perbuatan yang bukan karena Allah adalah jalan setan atau pemicu kepadanya. Dan barang siapa yang menggembala di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan akan terperosok ke dalamnya. Kemudian baginya ada dua tingkatan (maqam): pertama, mengambilnya secara terang-terangan dan mengembalikannya secara sembunyi-sembunyi, atau mengambilnya secara terang-terangan dan membagikannya secara sembunyi-sembunyi, dan ini adalah maqam para Shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur imannya), yang mana hal ini amat berat bagi nafsu dan tidak sanggup melakukannya kecuali orang yang jiwanya telah tenteram dengan olah jiwa (riyadhah). Kedua, meninggalkannya dan tidak mengambilnya agar pemiliknya mengalihkannya kepada orang yang lebih membutuhkan daripadanya, atau mengambilnya lalu menyampaikannya kepada orang yang lebih membutuhkan daripadanya, sehingga ia melakukan keduanya secara sembunyi-sembunyi atau keduanya secara terang-terangan. Dan sungguh telah kami sebutkan apakah yang lebih utama itu menampakkan…
الأخذ أو إخفاؤه في كتاب أسرار الزكاة مع جملة من أحكام الفقر فليطلب من موضعه
…pengambilan atau menyembunyikannya di dalam Kitab Rahasia-Rahasia Zakat bersama dengan sekumpulan hukum-hukum kefakiran, maka hendaknya dicari dari tempatnya.
وأما امتناع أحمد بن حنبل عن قبول عطاء سري السقطي رحمهما الله فإنما كان لاستغنائه عنه إذ كان عنده قوت شهر ولم يرض لنفسه أن يشتغل بأخذه وصرفه إلى غيره فإن في ذلك آفات وأخطارا والزرع يكون حذراً من مظان الآفات إذ لم يأمن مكيدهالشيطان على نفسه
Adapun penolakan Ahmad bin Hanbal untuk menerima pemberian Sari as-Saqati (semoga Allah meratai keduanya dengan rahmat), hal itu hanyalah karena ia merasa sudah cukup, sebab ia masih memiliki makanan pokok untuk sebulan. Ia tidak meredai dirinya sibuk dengan mengambilnya lalu menyalurkannya kepada orang lain, karena pada hal itu terdapat bahaya dan risiko yang besar. Seorang penanam (penuntut akhirat) hendaknya senantiasa waspada terhadap tempat-tempat timbulnya bahaya, sebab ia tidak merasa aman dari tipu daya setan atas jiwanya.
وقال بعض المجاورين بمكة كانت عندي دراهم أعددتها للإنفاق في سبيل الله فسمعت فقيراً قد فرغ من طوافه وهو يقول بصوت خفي أنا جائع كما ترى عريان كما ترى فما ترى فيما ترى يا من يرى ولا يُرى فنظرت فإذا عليه خلقان لا تكاد تواريه فقلت في نفسي لا أجد لدراهمي موضعاً أحسن من هذا فحملتها إليه فنظر إليها ثم أخذ منها خمسة دراهم وقال أربعة ثمن مئزرين ودرهم أنفقه ثلاثة فلا حاجة بي إلى الباقي فرده قال فرأيته الليلة الثانية وعليه مئزران جديدان فهجس في نفسي منه شيء فالتفت إلي فأخذ بيدي فأطافني معه أسبوعاً كل شوط منها على جوهر من معادن الأرض يتخشخش تحت أقدامنا إلى الكعبين منها ذهب وفضة وياقوت ولؤلؤ وجوهر ولم يظهر ذلك للناس فقال هذا كله قد أعطانيه فرهدت فيه وآخذ من أيدي الخلق لأن هذه أثقال وفتنة وذلك للعباد فيه رحمة ونعمة والمقصود من هذا أن الزيادة عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ إِنَّمَا تَأْتِيكَ ابْتِلَاءً وَفِتْنَةً لِيَنْظُرَ اللَّهُ إِلَيْكَ مَاذَا تَعْمَلُ فِيهِ وَقَدْرُ الْحَاجَةِ يَأْتِيكَ رِفْقًا بِكَ فَلَا تَغْفُلْ عَنِ الْفَرْقِ بَيْنَ الرِّفْقِ وَالِابْتِلَاءِ
Salah seorang mujawir (orang yang beritikaf/tinggal) di Makkah bercerita: "Aku memiliki beberapa dirham yang telah aku persiapkan untuk diinfakkan di jalan Allah. Lalu aku mendengar seorang fakir yang baru saja selesai dari tawafnya berkata dengan suara pelan: 'Aku lapar sebagaimana Engkau lihat, aku bertelanjang (berpakaian lusuh) sebagaimana Engkau lihat, maka apakah yang Engkau kehendaki pada apa yang Engkau lihat, wahai Zat Yang Maha Melihat namun tidak terlihat?' Aku melihatnya, ternyata ia mengenakan pakaian lusuh yang hampir tidak menutupi auratnya. Aku berkata dalam hati: 'Aku tidak menemukan tempat yang lebih baik untuk dirhamku daripada orang ini.' Maka aku membawanya kepadanya. Ia melihatnya, lalu mengambil lima dirham darinya dan berkata: 'Empat dirham untuk harga dua kain penutup tubuh dan satu dirham aku infakkan selama tiga hari, maka aku tidak butuh sisanya.' Lalu ia mengembalikan sisanya." Ia melanjutkan: "Maka aku melihatnya pada malam kedua dan ia mengenakan dua kain baru. Terlintaslah sesuatu dalam hatiku tentangnya (keraguan). Ia lalu menoleh kepadaku, memegang tanganku, dan mengajakku bertawaf bersamanya tujuh putaran, yang setiap putarannya di atas permata dari tambang-tambang bumi yang gemerincing di bawah telapak kaki kami hingga dua mata kaki; berupa emas, perak, yakut, mutiara, dan permata. Dan hal itu tidak tampak bagi orang banyak. Lalu ia berkata: 'Semua ini telah diberikan Allah kepadaku, namun aku membuangnya (zuhud padanya), dan aku mengambil dari tangan makhluk karena hal ini (perhiasan dunia) adalah beban dan fitnah (ujian), sedangkan bagi para hamba pada pemberian tersebut terdapat rahmat dan nikmat.' Maksud dari kisah ini adalah bahwa kelebihan di atas kadar kebutuhan sesungguhnya mendatangimu sebagai ujian dan fitnah, agar Allah melihat apa yang engkau perbuat dengannya. Sedangkan kadar kebutuhan mendatangimu sebagai bentuk kelembutan (kasih sayang) Allah kepadamu. Maka janganlah engkau lalai dari perbedaan antara kelembutan dan ujian.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لنبلوهم أيهم أحسن عملاً وَقَدْ قَالَ ﷺ لَا حق لابن آدم إلا في ثلاث طعام يقيم صلبه وثوب يواري عورته وبيت يكنه فما زاد فهو حساب فإذن أنت في أخذ قدر الحاجة من هذه الثلاث مثاب وفيما زاد عليه إن لم تعص الله متعرض للحساب وإن عصيت الله فأنت متعرض للعقاب
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (QS. Al-Kahf: 7). Dan sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Tidak ada hak bagi anak Adam melainkan pada tiga hal: makanan yang menegakkan tulang punggungnya, pakaian yang menutupi auratnya, dan rumah yang melindunginya. Adapun sisanya maka itu adalah perhitungan (hisab)." Maka dengan demikian, engkau dalam mengambil kadar kebutuhan dari ketiga hal ini mendapat pahala, dan pada apa yang melebihinya—jika engkau tidak bermaksiat kepada Allah—engkau dihadapkan pada hisab (perhitungan), dan jika engkau bermaksiat kepada Allah, maka engkau dihadapkan pada siksa.
ومن الاختبار أيضاً أن تعزم على ترك لذة من اللذات تقرباً إلى الله تعالى وكسراً لصلة النفس فتأتيك عفواً صفواً لتمتحن بها قوة عقلك فالأولى الامتناع عنها فإن النفس إذا رخص لها في نقض العزم ألفت نقض العهد وعادت لعادتها ولا يمكن قهرها فرد ذلك مهم وهو الزهد فإن أخذته وصرفته إلى محتاج فهو غاية الزهد ولا يقدر عليه إلا الصديقون وأما إذا كانت حالك السخاء والبذل والتكفل بحقوق الفقراء وتعهد جماعة من الصلحاء فخذ ما زاد على حاجتك فإنه غير زائد على حاجة الفقراء وبادر به إلى الصرف إليهم ولا تدخره فإن إمساكه ولو ليلة واحدة فيه فتنة واختبار فربما يحلو في قلبك فتمسكه فيكون فتنة عليك وقد تصدى لخدمة الفقراء جماعة اتخذوها وسيلة إلى التوسع في المال والتنعم في المطعم والمشرب وذلك هو الهلاك ومن كان غرضه الرفق وطلب الثواب به فله أن يستقرض على حسن الظن بالله لا على اعتماد السلاطين الظلمة فإن رزقه الله من حلال قضاه وإن مات قبل القضاء قضاه الله تعالى عنه وأرضى غرماءه وذلك بشرط أن يكون مكشوف الحال عند من يقرضه فلا يغر المقرض ولا يخدعه بالمواعيد بل يكشف حاله عنده ليقدم على إقراضه على بصيرة ودين مثل هذا الرجل واجب أن يقضى من مال بيت المال ومن الزكاة وقد قال تعالى ومن قدر عليه رزقه فلينفق مما آتاه الله قيل معناه ليبع أحد ثوبيه
Termasuk ujian pula adalah ketika engkau bertekad untuk meninggalkan suatu kelezatan dari berbagai kelezatan demi mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta'ala dan untuk mematahkan kebiasaan dorongan nafsu, lalu kelezatan itu datang kepadamu secara spontan dan jernih untuk menguji kekuatan akalmu. Maka yang lebih utama adalah menahannya (menolaknya), sebab jika nafsu diberi kelonggaran untuk membatalkan tekad, ia akan terbiasa membatalkan janji dan kembali pada tabiat buruknya serta tidak memungkinkan untuk ditundukkan. Maka menolak hal itu adalah penting, dan itulah zuhud. Namun jika engkau mengambilnya lalu menyalurkannya kepada orang yang membutuhkan, maka itu adalah puncak dari zuhud, dan tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali para Shiddiqin. Adapun jika kondisimu adalah dermawan, suka memberi, menanggung hak-hak para fakir miskin, dan mengurus sekumpulan orang-orang saleh, maka ambillah apa yang melebihi kebutuhanmu; karena hal itu sebenarnya tidak melebihi kebutuhan para fakir miskin. Dan bersegeralah menyalurkannya kepada mereka dan jangan menahannya (menimbunnya), sebab menahannya walau hanya satu malam mengandung fitnah dan ujian, yang boleh jadi terasa manis dalam hatimu sehingga engkau menahannya dan itu menjadi fitnah bagimu. Sungguh telah ada sekelompok orang yang tampak melayani para fakir miskin namun menjadikannya sebagai sarana untuk memperbanyak harta dan bersenang-senang dalam makanan dan minuman; dan yang demikian itu adalah kebinasaan. Barang siapa yang tujuannya adalah bersikap lembut (membantu) dan mencari pahala darinya, maka ia boleh berutang berdasarkan prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, bukan dengan bersandar kepada penguasa yang zalim. Apabila Allah memberinya rezeki dari yang halal, ia melunasinya; dan jika ia meninggal sebelum melunasinya, maka Allah Ta'ala yang akan melunasinya untuknya serta meredakan para penagih utangnya. Hal itu dengan syarat bahwa kondisinya terbuka (jujur) di hadapan orang yang meminjamkannya, sehingga ia tidak memperdaya orang yang meminjami dan tidak menipunya dengan janji-janji, melainkan menjelaskan keadaannya agar orang tersebut meminjamkan atas dasar kejelasan. Utang orang seperti ini wajib dilunasi dari harta Bayt al-Mal dan dari harta zakat. Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya." (QS. At-Talaq: 7). Dikatakan maknanya adalah: hendaklah ia menjual salah satu dari dua pakaiannya.
وقيل معناه فليستقرض بجاهه فذلك مما آتاه الله
Dan dikatakan maknanya adalah: hendaklah ia meminjam dengan memanfaatkan kedudukannya (kehormatannya), karena hal itu termasuk dari apa yang diberikan Allah kepadanya.
وقال بعضهم إن لله تعالى عباداً ينفقون على قدر بضائعهم ولله عباد ينفقون على قدر حسن الظن بالله تعالى
Sebagian dari mereka berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki hamba-hamba yang menginfakkan harta sesuai dengan kadar modal (kemampuan) mereka, dan Allah memiliki hamba-hamba yang menginfakkan harta sesuai dengan kadar prasangka baik (husnuzhan) mereka kepada Allah Ta'ala."
ومات بعضهم فأوصى بماله لثلاث طوائف الأقوياء والأسخياء والأغنياء فقيل من هؤلاء فقال أما الأقوياء فهم أهل
Sebagian dari mereka meninggal dunia lalu mewasiatkan hartanya untuk tiga golongan: orang-orang yang kuat, orang-orang yang dermawan, dan orang-orang yang kaya. Maka ditanyakan, "Siapakah mereka itu?" Ia menjawab, "Adapun orang-orang yang kuat, mereka adalah ahli…
التوكل على الله تعالى وأما الأسخياء فهم أهل حسن الظن بالله تعالى وأما الأغنياء فهم أهل الانقطاع إلى الله تعالى فإذن مهما وجدت هذه الشروط فيه وفي المال وفي المعطي فليأخذه وينبغي أن يرى ما يأخذه من الله لا من المعطي لأن المعطي واسطة قد سخر للعطاء وهو مضطر إليه بما سلط عليه من الدواعي والإوادات والاعتقادات وقد حكي أن بعض الناس دعا شقيقاً في خمسين من أصحابه فوضع الرجل مائدة حسنة فلما قعد قال لأصحابه إن هذا الرجل يقول من لم يرن صنعت هذا الطعام وقدمته فطعامي عليه حرام فقاموا كلهم وخرجوا إلا شاباً منهم كان دونهم في الدرجة فقال صاحب المنزل لشقيق ما قصدت بهذا قال أردت أن أختبر توحيد أصحابي كلهم
…tawakal kepada Allah Ta'ala. Adapun orang-orang yang dermawan, mereka adalah ahli prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Ta'ala. Dan adapun orang-orang yang kaya, mereka adalah ahli inqitha' (memutuskan keterikatan selain kepada Allah) kepada Allah Ta'ala." Maka dengan demikian, bilamana syarat-syarat ini terpenuhi pada dirinya, pada harta tersebut, dan pada si pemberi, hendaknya ia mengambilnya. Dan seyogianya ia memandang bahwa apa yang ia ambil itu adalah dari Allah, bukan dari si pemberi, karena pemberi itu hanyalah perantara yang telah ditundukkan untuk memberi, dan ia didorong padanya oleh dorongan-dorongan, kehendak, serta keyakinan yang dikuasakan kepadanya. Sungguh diriwayatkan bahwa sebagian orang mengundang Syaqiq bersama lima puluh orang sahabatnya. Orang itu pun menyajikan hidangan yang baik. Ketika mereka duduk, Syaqiq berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Sesungguhnya orang ini berkata: Barang siapa yang tidak memandang bahwa akulah yang membuat makanan ini dan menyajikannya, maka makananku haram baginya." Maka mereka semua berdiri dan keluar, kecuali seorang pemuda di antara mereka yang derajatnya di bawah mereka. Pemilik rumah berkata kepada Syaqiq, "Apa maksudmu dengan ini?" Ia menjawab, "Aku ingin menguji ketauhidan semua sahabatku."
وقال موسى ﵇ يا رب جعلت رزقي هكذا على أيدي بني إسرائيل يغديني هذا يوماً ويعشيني هذا ليلة فأوحى الله تعالى إليه هكذا أصنع بأوليائي أجري أرزاقهم على أيدي البطالين من عبادي ليؤجروا فيهم
Dan Musa ʿalaihis-salām berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau jadikan rezekiku seperti ini di tangan Bani Israil; yang ini memberiku makan siang suatu hari dan yang itu memberiku makan malam suatu malam." Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, "Demikianlah Aku berbuat kepada kekasih-kekasih-Ku; Aku alirkan rezeki mereka melalui tangan hamba-hamba-Ku yang penganggur (orang biasa) agar mereka mendapatkan pahala karena membantunya."
فلا ينبغي أن يرى المعطي إلا من حيث أنه مسخر مأجور من الله تعالى نسأل الله حسن التوفيق لما يرضاه
Maka tidak seyogianya ia melihat si pemberi melainkan dari sudut pandang bahwa ia adalah orang yang ditundukkan dan diberi pahala oleh Allah Ta'ala. Kami memohon kepada Allah kebaikan taufik menuju apa yang diredai-Nya.