باب النكاح

فرع في فسخ النكاح

فرع في فسخ النكاح

فرع في فسخ النكاح

Cabang Masalah: Tentang Membatalkan (Fasakh) Pernikahan

لزوجة مكلفة فسخ نكاح من أعسر بأقل نفقة أو كسوة أو بمسكن أو بمهر قبل وطء,

Bagi seorang istri yang mukalaf berhak memfasakh pernikahan orang (suami) yang tidak mampu memberi nafkah paling minimal, atau pakaian, atau tempat tinggal, atau mahar sebelum persetubuhan,

فرع في فسخ النكاح:

Cabang Masalah: Tentang Membatalkan (Fasakh) Pernikahan:

وشرع دفعا لضرر المرأة.

Dan fasakh ini disyariatkan untuk menolak bahaya (kemudaratan) dari diri wanita.

يجوز لزوجة مكلفة أي بالغة عاقلة لا لولي غير المكلفة.

Boleh bagi seorang istri yang mukalaf (yaitu yang baligh lagi berakal), bukan bagi wali dari wanita yang belum mukalaf,

فسخ نكاح من أي زوج أعسر مالا وكسبا لائقا به حلالا بأقل نفقة تجب وهو مد أو أقل كسوة تجب كقميص وخمار وجبة شتاء بخلاف نحو سراويل ونعل وفرش ومخدة والأواني لعدم بقاء النفس بدونهما.

memfasakh pernikahan dari suami mana pun yang mengalami kesusahan (tidak mampu) secara harta maupun penghasilan halal yang layak baginya, berupa nafkah paling minimal yang wajib—yaitu satu mud—atau pakaian paling minimal yang wajib seperti gamis, kerudung, dan jubah musim dingin; berbeda halnya dengan seperti celana, sandal, kasur, bantal, dan perabot rumah tangga, karena kelangsungan hidup tidak bergantung pada hal-hal tersebut.

فلا فسخ بالإعسار بالأدم وإن لم يسغ القوت ولا بنفقة الخادم ولا بالعجز عن النفقة الماضية كنفقة الأمس وما قبله لتنزيلها منزلة دين آخر.

Maka tidak ada fasakh karena ketidakmampuan menyediakan lauk-pauk meskipun makanan pokok tidak terasa nikmat tanpanya, tidak pula karena nafkah pelayan, dan tidak pula karena ketidakmampuan membayar nafkah masa lalu seperti nafkah kemarin dan sebelumnya, karena nafkah tersebut kedudukannya disamakan dengan utang lainnya.

أو أعسر بمسكن وإن لم يعتادوه أو أعسر بمهر واجب حال لم تقبض منه شيئا حال كون الإعسار به قبل وطئ طائعة فلها الفسخ

Atau suami tidak mampu menyediakan tempat tinggal meskipun mereka tidak biasa dengannya, atau suami tidak mampu membayar mahar wajib yang seketika (tunai) yang belum dia (istri) terima sedikit pun, di mana ketidakmampuan membayar mahar tersebut terjadi sebelum persetubuhan yang dilakukan atas kerelaannya, maka dia berhak memfasakh.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

للعجز عن تسليم العوض مع بقاء المعوض بحاله وخيارها حينئذ عقب الرفع إلى القاضي فوري فيسقط الفسخ بتأخيره بلا عذر كجهل ولا فسخ بعد الوطء لتلف المعوض به وصيرورة العوض دينا في الذمة فلو وطئها مكرهة فلها الفسخ بعده أيضا.

Karena ketidakmampuan menyerahkan imbalan ('iwadh) padahal objek pengganti (mu'awwadh) masih utuh pada kondisinya. Hak pilihnya (hak fasakh) ketika itu, setelah pengajuan perkara kepada hakim, bersifat serta-merta (fawri), sehingga hak fasakh gugur jika ditunda tanpa uzur seperti ketidaktahuan. Dan tidak ada fasakh setelah persetubuhan karena objek imbalan telah binasa (terpenuhi/terpakai) dan imbalan (mahar) telah menjadi utang dalam tanggungan. Maka jika suami menggaulinya dalam keadaan terpaksa (dipaksa), istri tetap berhak memfasakh setelahnya juga.

قال بعضهم: إلا إن سلمها الولي له وهي صغيرة بغير مصلحة فتحبس نفسها بمجرد بلوغها فلها الفسخ حينئذ إن عجز عنه ولو بعد الوطء لان وجوده هنا كعدمه.

Sebagian ulama berkata: "Kecuali jika wali menyerahkannya kepada suami ketika dia masih kecil tanpa adanya maslahat, lalu dia menahan dirinya segera setelah baligh, maka dia berhak memfasakh ketika itu jika suami tidak mampu, walaupun setelah persetubuhan, karena keberadaan persetubuhan di sini seperti tidak ada."

أما إذا قبضت بعضه فلا فسخ لها على ما أفتى به ابن الصلاح واعتمده الأسنوي والزركشي وشيخنا وقال البارزي كالجوهري١ لها الفسخ أيضا واعتمده الأذرعي.

Adapun jika istri telah menerima sebagian mahar, maka dia tidak berhak memfasakh menurut fatwa Ibn ash-Salah dan diandalkan oleh al-Asnawi, az-Zarkashi, serta guru kami. Namun al-Barizi berkata sebagaimana al-Jauhari: dia berhak memfasakh juga, dan pendapat ini diandalkan oleh al-Adhra'i.

تنبيه: يتحقق العجز عما مر بغيبة ماله لمسافة القصر فلا يلزمها الصبر إلا إن قال أحضر مدة الإمهال أو

Peringatan: Ketidakmampuan atas apa yang telah disebutkan di atas terbukti dengan ketiadaan hartanya yang berada sejarak jarak qashar, maka istri tidak wajib bersabar kecuali jika suami berkata: "Saya akan menghadirkannya dalam masa penangguhan", atau

بتأجيل دينه بقدر مدة إحضار ماله الغائب بمسافة القصر أو بحلوله مع إعسار المدين ولو الزوجة لأنها في حالة الإعسار لا تصل لحقها والعسر منظر وبعدم وجدان المكتسب من يستعمله إن غلب ذلك أو بعروض ما يمنعه عن الكسب.

dengan penundaan utangnya sejauh durasi waktu menghadirkan hartanya yang berada sejarak jarak qashar, atau dengan jatuhnya tempo utangnya bersamaan dengan ketidakmampuan (kesusahan) si berutang meskipun si berutang itu adalah sang istri sendiri; karena dalam kondisi kesulitan keuangan dia tidak dapat meraih haknya dan orang yang kesulitan harus diberi penangguhan, serta dengan tidak ditemukannya orang yang mempekerjakan pencari nafkah tersebut jika keadaan itu dominan, atau dengan timbulnya penghalang yang menghalanginya dari bekerja.

فلا فسخ بامتناع غيره إن لم ينقطع خبره,

Maka tidak ada fasakh karena penolakan orang lain jika kabarnya tidak terputus,

فائدة [في بيان حكم ما إذا كان عند زوجة الغائب بعض ماله وكان معسرا بما مر] إذا كان للمرأة على زوجها الغائب دين حال من صداق أو غيره وكان عندها بعض ماله وديعة فهل لها أن تستقل بأخذه لدينها بلا رفع إلى القاضي ثم تفسخ به أو لا؟

Faedah [Penjelasan hukum apabila pada istri dari suami yang gaib terdapat sebagian harta suami dan suami dalam keadaan tidak mampu atas hal yang telah lalu]: Jika seorang wanita memiliki utang yang sudah jatuh tempo atas suaminya yang gaib, baik berupa mahar atau lainnya, dan di tangannya terdapat sebagian harta suaminya sebagai titipan, apakah dia boleh mengambil sendiri harta tersebut secara mandiri untuk membayar utangnya tanpa mengadukannya kepada hakim kemudian memfasakh karenanya, atau tidak?

فأجاب بعض أصحابنا ليس للمرأة المذكورة الاستقلال بأخذ حقها بل ترفع الأمر إلى القاضي لان النظر في مال الغائبين للقاضي نعم إن علمت أنه لا يأذن لها إلا بشيء يأخذه منها جاز لها الاستقلال بالأخذ وإذا فرغ المال وأرادت الفسخ بإعسار الغائب فإن لم يعلم المال أحد ادعت إعساره وأنه لا مال له حاضر ولا ترك نفقة وأثبتت الإعسار وحلفت على الأخيرين ناوية بعدم ترك النفقة عدم وجودها الآن وفسخت بشروطه وإن علم المال فلا بد من بينة بفراغه أيضا انتهى.

Maka sebagian ulama madzhab kita (Syafi'iyah) menjawab bahwa wanita tersebut tidak boleh mengambil haknya secara mandiri, melainkan harus mengajukan perkara tersebut kepada hakim, karena pengurusan harta orang-orang yang gaib adalah wewenang hakim. Ya, jika wanita itu mengetahui bahwa hakim tidak akan memberi izin kepadanya melainkan dengan syarat mengambil sesuatu darinya, maka ia boleh mengambilnya secara mandiri. Apabila harta tersebut telah habis dan ia ingin melakukan fasakh (pembatalan nikah) karena ketidakmampuan (keesaran) suami yang gaib itu, maka jika tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan hartanya, wanita itu mendakwahkan keesaran suaminya, bahwa suaminya tidak memiliki harta yang hadir di tempat dan tidak meninggalkan nafkah, lalu ia membuktikan ketidakmampuan suaminya tersebut serta bersumpah atas dua hal terakhir (tidak ada harta hadir dan tidak meninggalkan nafkah) dengan berniat bahwa tidak ditinggalkannya nafkah berarti tidak adanya nafkah tersebut saat ini, kemudian ia melakukan fasakh sesuai syarat-syaratnya. Namun jika hartanya diketahui, maka harus ada bukti (bayyinah) mengenai habisnya harta tersebut juga. Selesai.

فلا فسخ على المعتمد بامتناع غيره موسرا أو متوسطا من الإنفاق حضر أو غاب إن لم ينقطع خبره فإن انقطع خبره ولا مال له حاضر جاز لها الفسخ لان تعذر واجبها بانقطاع خبره كتعذر بالإعسار كما جزم به الشيخ زكريا وخالفه تلميذه شيخنا.

Maka tidak ada fasakh menurut pendapat yang mu'tamad disebabkan enggan berinfaknya selain orang yang kesulitan (yaitu suami yang mampu atau sedang berkecukupan), baik ia hadir maupun gaib selama beritanya tidak terputus. Namun jika beritanya terputus dan ia tidak memiliki harta di tempat, maka wanita tersebut boleh melakukan fasakh, karena terhalangnya haknya akibat terputusnya berita tentang suami sama halnya dengan terhalang akibat ketidakmampuan (keesaran) suami, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Zakariyya dan diselisihi oleh murid beliau, guru kami.

واختار جمع كثيرون من محققي المتأخرين في غائب تعذر تحصيل النفقة منه الفسخ وقواه ابن الصلاح وقال في فتاويه: إذا تعذرت

Banyak ulama muhaqqiq dari kalangan muta'akhirin memilih kebolehan fasakh pada kasus suami yang gaib di mana nafkah darinya sulit diperoleh. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibn ash-Salah dan ia berkata dalam Fatawa-nya: "Apabila terhalang…

لا قبل ثبوت إعساره

bukan sebelum terbuktinya ketidakmampuan (keesaran) suami

النفقة لعدم مال حاضر مع عدم إمكان أخذها منه حيث هو بكتاب حكمي وغيره لكونه لم يعرف موضعه أو عرف ولكن تعذرت مطالبته عرف حاله في اليسار والإعسار أو لم يعرف فلها الفسخ بالحاكم والإفتاء بالفسخ هو الصحيح انتهى.

…nafkah karena tidak adanya harta di tempat serta tidak memungkinkannya mengambil nafkah darinya di tempat keberadaannya—baik dengan surat keputusan hukum (kitab hukmi) maupun lainnya—disebabkan keberadaannya tidak diketahui atau diketahui namun sulit ditagih, baik kondisinya dalam keadaan berkecukupan atau kesulitan itu diketahui maupun tidak diketahui, maka wanita tersebut berhak melakukan fasakh melalui hakim. Dan berfatwa dengan kebolehan fasakh ini adalah yang sahih. Selesai."

ونقل شيخنا كلامه في الشرح الكبير وقال في آخره وأفتى بما قاله جمع من متأخري اليمن.

Guru kami mengutip perkataan Ibn ash-Salah ini dalam Asy-Syarh Al-Kabir dan berkata di akhirnya: "Dan sekelompok ulama muta'akhirin Yaman memberi fatwa sesuai dengan apa yang beliau katakan."

وقال العلامة المحقق الطنبداوي في فتاويه والذي نختاره تبعا للائمة المحققين أنه إذا لم يكن له مال كما سبق لها الفسخ وإن كان ظاهر المذهب خلافه لقوله تعالى: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ﴾ [٢٢ سورة الحج الآية: ٧٨] ولقوله ﷺ: "بعثت بالحنيفية السمحة" [مسند أحمد رقم: ٢١٧٨٨] ولان مدار الفسخ على الإضرار ولا شك أن الضرر موجود فيها إذا لم يمكن الوصول إلى النفقة منه وإن كان موسرا.

Al-Allamah Al-Muhaqqiq Ath-Thanbadawi berkata dalam Fatawa-nya: "Yang kami pilih sebagai bentuk iktiba' (mengikuti) para imam muhaqqiq adalah bahwa jika suami tidak memiliki harta sebagaimana telah berlalu penjelasannya, maka isteri berhak melakukan fasakh, meskipun zahir mazhab menyelisihinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: 'Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama' (QS. Al-Hajj: 78), dan sabda Nabi ﷺ: 'Aku diutus dengan membawa agama yang lurus lagi toleran' (Musnad Ahmad no. 21788), serta karena tumpuan fasakh adalah adanya kemudaratan. Dan tidak diragukan lagi bahwa bahaya atau kemudaratan itu ada pada wanita tersebut apabila nafkah dari suaminya tidak mungkin diperoleh, meskipun suaminya adalah orang yang berkecukupan.

إذ سر الفسخ هو تضرر المرأة وهو موجود لاسيما مع إعسارها فيكون تعذر وصولها إلى النفقة حكمه حكم الإعسار انتهى.

Sebab rahasia utama fasakh adalah terjadinya kemudaratan pada diri wanita, dan hal itu nyata ada, terlebih lagi saat wanita tersebut dalam keadaan tidak mampu (miskin), maka terhalangnya ia mendapatkan nafkah hukumnya disamakan dengan hukum keesaran (kesulitan ekonomi suami). Selesai."

وقال تلميذه شيخنا خاتمة المحققين ابن زياد في فتاويه: وبالجملة فالمذهب الذي جرى عليه الرافعي والنووي عدم جواز الفسخ كما سبق والمختار الجواز.

Murid beliau, guru kami penutup para muhaqqiq, Ibn Ziyad berkata dalam Fatawa-nya: "Kesimpulannya, mazhab yang berjalan padanya Ar-Rafi'i dan An-Nawawi adalah tidak bolehnya fasakh sebagaimana telah berlalu, namun pendapat yang terpilih adalah boleh."

وجزم في فتيا له أخرى بالجواز.

Dan beliau menegaskan kebolehannya dalam fatwanya yang lain.

ولا فسخ بإعسار بنفقة ونحوها أو بمهر قبل ثبوت إعساره

Tidak ada fasakh disebabkan ketidakmampuan (keesaran) memberi nafkah dan sejenisnya, atau mahar, sebelum terbuktinya ketidakmampuan (keesaran) suami

عند قاض,

di hadapan hakim,

أي الزوج بإقراره أو بينة تذكر إعساره الآن.

yaitu suami, baik dengan pengakuannya (iqrar) maupun dengan bukti (bayyinah) yang menyebutkan ketidakmampuannya (keesarannya) saat ini.

ولا تكفي بينة ذكرت أنه غاب معسرا.

Dan tidak cukup bukti (bayyinah) yang hanya menyebutkan bahwa ia pergi (gaib) dalam keadaan tidak mampu.

ويجوز للبينة اعتماد في الشهادة على استصحاب حالته التي غاب عليها من إعسار أو يسار ولا تسأل من أين لك أنه معسر الآن فلو صرح بمستنده بطلت الشهادة عند قاض أو محكم فلا بد من الرفع إليه فلا ينفذ ظاهرا ولا باطنا قبل ذلك ولا يحسب عدتها إلا من الفسخ.

Boleh bagi saksi (bayyinah) mendasarkan kesaksiannya pada istishhab (melanjutkan keberlakuan) kondisinya saat ia pergi, baik berupa ketidakmampuan maupun kecukupan, dan saksi tersebut tidak perlu ditanya: 'Dari mana kamu tahu bahwa dia tidak mampu sekarang?' Jika saksi secara terang-terangan menyebutkan dasar kesaksiannya (yang hanya istishhab), maka kesaksiannya batal di hadapan hakim atau muhakkam (juri penengah). Oleh karena itu, perkara tersebut harus diajukan kepadanya (hakim/muhakkam), sehingga fasakh tidak berlaku sah secara lahir maupun batin sebelum hal itu dilakukan, dan iddah wanita tersebut tidak dihitung melainkan sejak dilakukannya fasakh.

قال شيخنا: فإن فقد قاض ومحكم بمحلها أو عجزت عن الرفع إلى القاضي كأن قال لا أفسخ حتى تعطيني مالا استقلت بالفسخ للضرورة وينفذ ظاهرا وكذا باطنا كما هو ظاهر خلافا لمن قيد بالأول لان الفسخ مبني على أصل صحيح وهو مستلزم للنفوذ باطنا ثم رأيت غير واحد جزموا بذلك انتهى.

Guru kami berkata: "Jika hakim dan muhakkam tidak ada di tempat wanita tersebut atau ia tidak mampu mengajukannya kepada hakim, seperti hakim berkata: 'Aku tidak akan memfasakh sampai kamu memberiku uang,' maka wanita itu boleh melakukan fasakh secara mandiri karena darurat, dan fasakh tersebut berlaku sah secara lahir maupun batin sebagaimana yang jelas, berbeda dengan ulama yang membatasi sahnya hanya secara lahir saja. Sebab fasakh ini didasarkan pada pokok yang sahih, dan hal itu meniscayakan keberlakuan secara batin pula. Kemudian saya melihat lebih dari satu ulama menegaskan hal itu. Selesai."

وفي فتاوى شيخنا ابن زياد: لو عجزت المرأة عن بينة الإعسار جاز لها الاستقلال بالفسخ انتهى.

Dalam Fatawa guru kami Ibn Ziyad disebutkan: "Jika wanita tersebut tidak mampu menghadirkan bukti (bayyinah) atas ketidakmampuan (keesaran) suami, maka ia boleh melakukan fasakh secara mandiri. Selesai."

وقال الشيخ عطية المكي في فتاويه: إذا تعذر القاضي أو تعذر الإثبات عنده لفقد الشهود أو غيبتهم فلها أن تشهد بالفسخ وتفسخ بنفسها كما قالوا في المرتهن إذا غاب الراهن وتعذر إثبات الرهن عند القاضي أن له بيع الرهن دون مراجعة قاض بل هذا أهم وأهم وقوعا انتهى.

Syaikh Atiyyah Al-Makki berkata dalam Fatawa-nya: "Apabila hakim tidak ada atau sulit dijangkau, atau pembuktian di hadapannya terhalang karena tidak adanya saksi atau kegaiban mereka, maka wanita tersebut berhak memanggil saksi atas fasakh dan melakukan fasakh sendiri, sebagaimana para ulama katakan mengenai pemegang gadai (murtahin) ketika penggadai (rahin) gaib dan pembuktian gadai di hadapan hakim terhalang, bahwa ia berhak menjual barang gadai tanpa mendatangi hakim, bahkan perkara (fasakh nikah) ini jauh lebih penting dan lebih sering terjadi. Selesai."

فيمهل ثلاثة ثم يفسخ هو أو هي بإذنه.

Maka diberi penangguhan waktu selama tiga hari, kemudian beliau (qadhi/hakim) membatalkan pernikahan (fasakh) atau istri yang membatalkannya dengan izinnya.

فـ: إذا توفرت شروط الفسخ من ملازمتها المسكن الذي غاب عنها وهي فيه وعدم صدور نشوز منها وحلفت عليهما وعلى أن لا مال له حاضر ولا ترك نفقة وأثبتت الإعسار بنحو النفقة على المعتمد أو تعذر تحصيلها على المختار يمهل القاضي أو المحكم وجوبا ثلاثة من الأيام وإن لم يستمهله الزوج ولم يرج حصول شيء في المستقبل ليتحقق إعساره في فسخ لغير إعساره بمهر فإنه على الفور.

Maka: apabila syarat-syarat fasakh telah terpenuhi, yaitu istri tetap menempati tempat tinggal yang ditinggalkan suami dan tidak melakukan nusyuz, serta istri bersumpah atas kedua hal tersebut dan bersumpah bahwa suami tidak memiliki harta yang hadir (ada) dan tidak meninggalkan nafkah, serta ia berhasil membuktikan ketidakmampuan suami memberi nafkah menurut pendapat yang mu'tamad, atau sulitnya memperoleh nafkah tersebut menurut pendapat yang terpilih, maka qadhi (hakim) atau muhakkam (penengah) wajib memberikan penangguhan waktu selama tiga hari, meskipun suami tidak meminta penangguhan dan tidak ada harapan mendapatkan sesuatu di masa depan, agar ketidakmampuannya menjadi jelas. Adapun fasakh yang bukan disebabkan oleh ketidakmampuan memberi mahar, maka itu dilakukan seketika (ala al-faur).

وأفتى شيخنا أنه لا إمهال في فسخ نكاح الغائب.

Guru kami (Syaikhina) berfatwa bahwa tidak ada penangguhan waktu dalam fasakh pernikahan orang yang gaib (tidak berada di tempat).

ثم بعد إمهال الثلاث بلياليها يفسخ هو أي القاضي أو المحكم أثناء الرابع لخبر الدارقطني [السنن الكبرى ٧/٤٦٩, ٤٧٠] والبيهقي [سنن الدارقطني رقم: ١٩٣, ٣/٢٩٧] في الرجل لا يجد شيئا ينفق على امرأته يفرق بينهما وقضى به عمر وعلي وأبو هريرة ﵃ قال الشافعي ﵁: ولا أعلم أحدا من الصحابة خالفهم.

Kemudian setelah penangguhan tiga hari beserta malam-malamnya, beliau—yaitu hakim atau muhakkam—memfasakh nikah pada hari keempat, berdasarkan hadis Ad-Daraquthni [As-Sunan Al-Kubra 7/469, 470] dan Al-Baihaqi [Sunan Ad-Daraquthni no. 193, 3/297] mengenai seorang pria yang tidak memiliki sesuatu untuk dinafkahkan kepada istrinya bahwa dipisahkan di antara keduanya. Keputusan ini juga diputuskan oleh Umar, Ali, dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum. Asy-Syafii radhiyallahu 'anhu berkata: "Dan aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan sahabat yang menyelisihi mereka."

ولو فسخت بالحاكم على غائب فعاد وادعى أن له مالا بالبلد لم يبطل كما أفتى به الغزالي إلا إن ثبت أنها تعلمه ويسهل عليها أخذ النفقة منه بخلاف نحو عقار وعرض لا يتيسر بيعه فإنه كالعدم.

Seandainya istri memfasakh nikah melalui hakim terhadap suami yang gaib, lalu suami kembali dan mengklaim bahwa ia memiliki harta di negeri tersebut, maka fasakh itu tidak batal sebagaimana difatwakan oleh Al-Ghazali, kecuali jika terbukti bahwa istri mengetahuinya dan mudah baginya untuk mengambil nafkah darinya. Berbeda halnya dengan seperti properti (tanah/bangunan) dan barang dagangan yang tidak mudah dijual, maka itu dianggap seperti tidak ada.

أو تفسخ هي بإذنه أي القاضي بلفظ فسخت النكاح فلو سلم نفقة الرابع فلا تفسخ بما مضى لأنه صار دينا ولو أعسر بعد أن سلم نفقة الرابع بنفقة الخامس بنت على المدة ولم تستأنفها وظاهر قولهم أنهم لو أعسر بنفقة السادس استأنفتها وهو محتمل ويحتمل أنه

Atau istri yang memfasakhnya dengan izin hakim, yaitu dengan lafaz "Aku memfasakh pernikahan ini". Jika suami menyerahkan nafkah hari keempat, maka istri tidak boleh memfasakh karena nafkah hari-hari sebelumnya yang lalu, sebab nafkah yang lalu itu telah menjadi utang. Seandainya suami menjadi tidak mampu kembali membayar nafkah hari kelima setelah ia menyerahkan nafkah hari keempat, maka istri melanjutkan hitungan jangka waktu yang lalu dan tidak mengulangnya dari awal. Lahiriah dari perkataan para ulama adalah bahwa jika suami tidak mampu membayar nafkah hari keenam, istri mengulang hitungan jangka waktu dari awal. Hal ini memungkinkan (muhtamal), namun dimungkinkan juga bahwa

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

إن تخللت ثلاثة وجب الاستئناف أو أقل فلا كما قاله شيخنا.

jika terselang tiga hari (di mana suami mampu memberi nafkah), maka wajib mengulang hitungan dari awal, tetapi jika kurang dari tiga hari maka tidak perlu mengulang, sebagaimana dikatakan oleh guru kami (Syaikhina).

ولو تبرع رجل بنفقتها لم يلزمها القبول بل لها الفسخ.

Seandainya ada seorang laki-laki yang mendermakan (memberikan) nafkah untuk istri tersebut, maka istri tidak wajib menerimanya, melainkan ia tetap berhak melakukan fasakh.

فرع: لها في مدة الإمهال والرضا بإعساره الخروج نهارا قهرا عليه لسؤال نفقة أو اكتسابها وإن كان لها

Cabang Masalah: Selama masa penangguhan waktu dan masa kerelaan istri atas ketidakmampuan suami, istri berhak keluar rumah pada siang hari secara paksa (tanpa izin suami) untuk meminta atau bekerja mencari nafkah, meskipun istri memiliki

مال وأمكن كسبها في بيتها وليس له منعها لان حبسه لها إنما هو في مقابلة إنفاقه عليها وعليها رجوع إلى مسكنها ليلا لأنه وقت الإيواء دون العمل ولها منعه من التمتع بها نهارا وكذلك ليلا لكن تسقط نفقتها عن ذمته مدة المنع في الليل.

harta dan memungkinkan baginya bekerja di rumahnya, dan suami tidak berhak melarangnya, karena penahanan suami terhadap istri hanyalah sebagai imbalan atas nafkah yang ia berikan kepadanya. Dan istri wajib kembali ke rumahnya pada malam hari karena malam adalah waktu untuk beristirahat/bernaung, bukan untuk bekerja. Istri juga berhak menolak suami untuk bersenang-senang (istimta') dengannya di siang hari, begitu pula di malam hari, namun gugur kewajiban nafkah suami dari tanggungannya selama masa penolakan di malam hari tersebut.

قال شيخنا: وقياسه أنه لا نفقة لها زمن خروجها للكسب انتهى.

Guru kami berkata: "Dan kiasnya adalah bahwa istri tidak berhak mendapat nafkah selama waktu keluar rumahnya untuk bekerja (mencari nafkah)." Selesai.

فرع: لا فسخ في غير مهر لسيد أمة وليس له منعها من الفسخ بغيره ولا الفسخ به عند رضاها بإعساره أو

Cabang Masalah: Tidak ada hak fasakh dalam selain mahar bagi tuan dari seorang budak wanita, dan tuan tidak berhak melarangnya untuk melakukan fasakh selain karena mahar, dan tuan juga tidak berhak melakukan fasakh karena mahar ketika budak wanita tersebut rela dengan ketidakmampuan suaminya atau

عدم تكليفها لان النفقة في الأصل لها بل له إلجاؤها إليه بأن لا ينفق عليها ويقول لها إفسخي أو جوعي دفعا للضرر عنه.

ketika budak wanita tersebut belum mukalaf, karena nafkah pada dasarnya adalah hak budak wanita tersebut. Bahkan tuan berhak memaksanya untuk memfasakh dengan cara tidak memberinya nafkah dan berkata kepadanya: "Fasakh-lah atau kamu lapar", demi menghindarkan kerugian (dharar) dari diri sang tuan.

ولو زوج أمته بعبده واستخدمه فلا فسخ لها ولا له إذ مؤنتها عليه.

Seandainya seorang tuan menikahkan budak wanitanya dengan budak prianya, lalu tuan itu memperkerjakan budak pria tersebut, maka tidak ada hak fasakh bagi budak wanita itu dan tidak pula bagi tuannya, karena nafkah budak wanita tersebut menjadi tanggungan tuannya.

ولو أعسر سيد المستولدة عن نفقتها قال أبو زيد: أجبر على عتقها أو تزويجها.

Seandainya tuan dari ummul walad tidak mampu memberikan nafkah kepadanya, Abu Zaid berkata: "Tuan itu dipaksa untuk memerdekakannya atau menikahkannya."

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

فائدة: لو فقد الزوج قبل التمكين فظاهر كلامهم أنه لا فسخ ومذهب مالك رحمه الله تعالى لا فرق بين

Catatan: Jika suami hilang sebelum tamkin (penyerahan diri istri), maka menurut lahiriah perkataan para ulama bahwa tidak ada fasakh (pembatalan nikah). Sedangkan mazhab Malik rahimahullah Ta'ala tidak membedakan antara

الممكنة وغيرها إذا تعذرت النفقة وضربت المدة وهي عنده شهر للتفحص عنه ثم يجوز الفسخ.

istri yang telah tamkin maupun lainnya apabila nafkah tidak memungkinkan dan telah ditentukan batas waktunya—yaitu satu bulan di sisinya untuk mencarinya—kemudian fasakh diperbolehkan.

تتمة [في بيان حكم مؤن الأقارب الأصول والفروع] يجب على موسر ذكر أو أنثى ولو بكسب يليق به بما فضل عن قوته وقوت ممونة يومه وليلته وإن لم يفضل عن دينه كفاية نفقة وكسوة مع أدم ودواء لأصل وإن علا ذكر أو أنثى وفرع وإن نزل كذلك إذا لم يملكاها وإن اختلفا دينا لا إن كان أحدهما حربيا أو مرتدا.

Pelengkap [Penjelasan Hukum Nafkah Kerabat Asal dan Cabang]: Wajib bagi orang yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, meskipun melalui pekerjaan yang layak baginya, dari kelebihan makanan pokok dirinya dan makanan orang yang menjadi tanggungannya untuk sehari semalam—meskipun tidak berlebih dari utangnya—untuk mencukupi nafkah, pakaian beserta lauk-pauk dan obat-obatan bagi kerabat asal (orang tua ke atas, baik laki-laki maupun perempuan) dan cabang (anak keturunan ke bawah, demikian pula), apabila keduanya tidak memilikinya, meskipun berbeda agama; kecuali jika salah satu dari keduanya adalah kafir harbi atau murtad.

قال شيخنا في شرح الإرشاد: ولا إن كان زانيا محصنا أو تاركا للصلاة خلافا لما قاله في شرح المنهاج.

Syaikh kami berkata dalam Syarh al-Irsyad: "Tidak wajib pula jika ia adalah pezina muhshan atau orang yang meninggalkan shalat, berbeda dengan apa yang beliau katakan dalam Syarh al-Minhaj."

ولا إن بلغ فرع وترك كسبا لائقا.

Dan tidak (wajib nafkah) jika cabang (anak) telah baligh dan meninggalkan pekerjaan yang layak.

ولا أثر لقدرة أم أو بنت على النكاح لكن تسقط نفقتها بالعقد وفيه نظر لان نفقتها على الزوج إنما تجب بالتمكين كما مر وإن كان الزوج معسرا ما لم تفسخ ولا تصير مؤن القريب بفوتها دينا عليه إلا باقتراض قاض لغيبة منفق أو منع صدر منه لا بإذن منه ولو منع الزوج أو القريب الإنفاق أخذها المستحق ولو بغير إذن قاض.

Kemampuan seorang ibu atau anak perempuan untuk menikah tidak berpengaruh (pada kewajiban nafkahnya), tetapi nafkahnya gugur dengan dilaksanakannya akad nikah. Namun hal ini perlu ditinjau kembali, karena nafkahnya atas suami sebenarnya baru wajib dengan adanya tamkin sebagaimana telah lalu, meskipun suami dalam keadaan kesulitan ekonomi selama belum difasakh. Nafkah kerabat yang terlewat tidak menjadi utang atasnya kecuali dengan pinjaman dari hakim karena ketiadaan penafkah atau penolakan darinya, bukan dengan izin darinya. Apabila suami atau kerabat enggan memberikan nafkah, orang yang berhak boleh mengambilnya meskipun tanpa izin hakim.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

فرع: من له أب وأم فنفقته على أب وقيل هي عليهما لبالغ.

Cabang masalah: Barang siapa memiliki ayah dan ibu, maka nafkahnya wajib atas ayah. Pendapat lain mengatakan bahwa nafkah tersebut wajib atas keduanya bagi anak yang sudah baligh.

ومن له أصل وفرع فعلى الفرع وإن نزل أو له محتاجون من أصول وفروع ولم يقدر على كفايتهم قدم نفسه ثم زوجته وإن تعددت ثم الأقرب فالأقرب نعم لو كان له أب وأم وابن قدم الابن الصغير ثم الأم ثم الأب ثم الولد الكبير.

Barang siapa memiliki kerabat asal dan cabang, maka nafkahnya wajib atas cabang meskipun terus ke bawah. Atau jika ia memiliki kerabat yang membutuhkan dari kalangan asal dan cabang sementara ia tidak mampu mencukupi semuanya, maka ia mendahulukan dirinya sendiri, kemudian istrinya meskipun banyak, lalu kerabat yang paling dekat hubungannya. Benar, jika ia memiliki ayah, ibu, dan anak laki-laki, maka ia mendahulukan anak laki-laki yang masih kecil, kemudian ibu, kemudian ayah, lalu anak laki-laki yang sudah besar.

ويجب على أم إرضاع ولدها اللبأ وهو اللبن أول الولادة ومدته يسيرة وقيل يقدر بثلاثة أيام وقيل سبعة.

Wajib bagi seorang ibu menyusui anaknya dengan kolostrum (laba'), yaitu ASI pada awal kelahiran dan durasinya singkat; ada yang berpendapat kadar waktunya tiga hari, dan ada yang berpendapat tujuh hari.

ثم بعده إن لم توجد إلا هي أو أجنبية وجب إرضاعه على من وجدت ولها طلب الأجرة ممن تلزمه مؤنته وإن وجدتا لم تجبر الأم خلية كانت أو في نكاح أبيه فإن رغبت في إرضاعه فليس لأبيه منعها إلا إن طلبت فوق أجرة المثل وعلى أب أجرة مثل لام لإرضاع ولدها حيث لا متبرع بالرضاع وكمتبرع راض بما رضيت١.

Kemudian setelah itu, jika tidak ada (wanita yang menyusui) kecuali dirinya atau wanita lain, maka wajib menyusukannya bagi siapa yang ada, dan ia berhak menuntut upah dari orang yang wajib menanggung nafkahnya. Jika keduanya ada, maka sang ibu tidak dipaksa, baik ia wanita yang tidak bersuami maupun masih dalam ikatan nikah dengan ayahnya. Jika sang ibu berkeinginan untuk menyusuinya, maka ayahnya tidak boleh melarangnya kecuali jika sang ibu meminta di atas upah standar (ujratul mitsl). Dan wajib atas ayah membayar upah standar kepada ibu untuk penyusuan anaknya sekiranya tidak ada orang yang bersukarela menyusui, dan orang yang disamakan dengan sukarelawan adalah orang yang ridha dengan upah yang diridhai sang ibu.