فصل في الطلاق
فصل في الطلاق
Fasal tentang Talak
فصل في الطلاق
Fasal tentang Talak
وهو لغة: حل القيد وشرعا حل عقد النكاح باللفظ الآتي وهو إما واجب: كطلاق مول لم يرد الوطء.
Secara bahasa, talak berarti melepaskan ikatan. Menurut syariat, talak adalah melepaskan akad nikah dengan lafal yang akan dijelaskan nanti. Hukum talak bisa berupa: Wajib, seperti talak yang dijatuhkan oleh suami yang melakukan ila' (bersumpah tidak menggauli istrinya) yang tidak mau melakukan dukhul (persetubuhan kembali).
أو مندوب: كأن يعجز عن القيام بحقوقها ولو لعدم الميل إليها أو تكون غير عفيفة ما لم يخش الفجور بها أو سيئة الخلق: أي بحيث لا يصبر على عشرتها عادة فيما استظهره شيخنا وإلا فمتى توجد
Atau sunnah: Seperti ketika suami tidak mampu memenuhi hak-hak istri, meskipun karena tidak ada kecenderungan kepadanya, atau si istri tidak menjaga kehormatan dirinya selama tidak dikhawatirkan terjadinya perzinaan dengannya, atau berakhlak buruk, yaitu sekira suami tidak mampu bersabar dalam berinteraksi dengannya secara adat sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh kita; jika tidak demikian, maka kapan bisa ditemukan…
يقع لغير بائن طلاق مكلف ومتعد بسكر
Talak dari orang mukalaf dan orang yang sengaja mabuk itu jatuh terhadap istri yang belum tertalak bain.
امرأة غير سيئة الخلق١ وفي الحديث: "المرأة الصالحة في النساء كالغراب الأعصم" [مجمع الزوائد رقم: ٧٤٤٠] كناية عن ندرة وجودها: إذ الأعصم هو أبيض الجناحين أو يأمره به أحد والديه: أي من غير تعنت.
…seorang wanita yang tidak berakhlak buruk. Dalam hadis disebutkan: "Wanita yang salihah di antara para wanita itu bagaikan burung gagak yang memiliki kaki/sayap putih." Ini adalah kiasan tentang langkanya keberadaan wanita salihah, karena al-a'sam adalah burung gagak yang kedua sayapnya berwarna putih. Atau (sunnah menalak) jika salah satu dari kedua orang tuanya menyuruhnya untuk menalaknya, yaitu tanpa maksud menyusahkan (ta'annut).
أو حرام كالبدعي وهو طلاق مدخول بها في نحو حيض بلا عوض منها أو في طهر جامعها فيه وكطلاق من لم يستوف دورها من القسم وكطلاق المريض بقصد الحرمان من الإرث ولا يحرم جمع ثلاث طلقات بل يسن الاقتصار على واحدة.
Atau haram: Seperti talak bid'i, yaitu talak terhadap istri yang sudah digauli pada saat haid (atau sejenisnya) tanpa adanya imbalan darinya, atau pada masa suci yang telah ia gauli di dalamnya; sebagaimana talak terhadap istri yang belum disempurnakan giliran pembagian waktunya; dan talak yang dijatuhkan oleh orang sakit dengan maksud menghalanginya mendapat warisan. Tidak diharamkan mengumpulkan tiga talak sekaligus, tetapi disunnahkan membatasi pada satu talak saja.
أو مكروه بأن سلم الحال من ذلك كله للخبر الصحيح [أبو داود رقم: ٢١٧٨, ابن ماجه رقم: ٢٠١٨] : أبغض الحلال إلى الله الطلاق وإثبات بغضه تعالى له المقصود منه زيادة التنفير عنه لا حقيقته لمنافاتها لحله.
Atau makruh: Jika keadaannya terbebas dari semua hal di atas, berdasarkan hadis shahih: "Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak." Penetapan kebencian Allah Ta'ala terhadapnya bertujuan untuk semakin menjauhkan darinya, bukan secara hakiki (harfiah), karena akan bertentangan dengan kehalalannya.
إنما يقع لغير بائن ولو رجعية لم تنقض عدتها فلا يقع لمختلعة ورجعية انقضت عدتها.
Penjatuhan talak hanya dapat terjadi pada wanita yang bukan ter-bain (belum terpisah total), meskipun wanita yang sedang di-raj'i (bisa dirujuk) yang belum habis masa idahnya. Maka talak tidak dapat jatuh pada wanita yang di-khulu' (mukhtali'ah) dan wanita raj'iyyah yang telah habis masa idahnya.
طلاق مختار مكلف أي بالغ عاقل فلا يقع طلاق صبي ومجنون.
Talak dari orang yang sukarela (mukhtar) dan mukalaf, yaitu yang baligh dan berakal. Maka tidak jatuh talak dari anak kecil dan orang gila.
ومتعد بسكر أي بشرب خمر وأكل بنج أو حشيش لعصيانه بإزالة عقل.
Serta orang yang sengaja mabuk (melakukan pelanggaran), yaitu dengan meminum khamar dan memakan kecubung atau ganja, karena pembangkangannya (maksiatnya) dengan menghilangkan akal.
لا مكره بمحذور,
Bukan orang yang dipaksa dengan ancaman sesuatu yang dikhawatirkan,
بخلاف سكران لم يتعد بتناول مسكر كأن أكره عليه أو لم يعلم أنه مسكر فلا يقع طلاقه إذا صار بحيث لا يميز لعدم تعديه وصدق مدعي إكراه في تناوله بيمينه إن وجدت قرينة عليه كحبس وإلا فلا بد من البينة. ويقع طلاق الهازل به بأن قصد لفظه دون معناه أو لعب به بأن لم يقصد شيئا ولا أثر لحكاية طلاق الغير وتصوير الفقيه وللتلفظ به بحيث لا يسمع نفسه واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب.
Berbeda dengan orang mabuk yang tidak sengaja melakukan pelanggaran dalam mengonsumsi zat memabukkan, seperti dipaksa mengonsumsinya atau tidak mengetahui bahwa itu memabukkan. Maka talaknya tidak jatuh jika ia sampai pada kondisi tidak dapat membedakan (tidak sadar) karena tidak adanya unsur sengaja melanggar. Pengakuan orang yang mengaku dipaksa dalam mengonsumsinya dapat dibenarkan dengan sumpah jika terdapat indikasi yang mendukungnya seperti pemenjaraan; jika tidak ada, maka harus ada bukti (bayyinah). Dan tetap jatuh talak dari orang yang main-main (hazil) dengannya, yaitu dengan sengaja mengucapkan lafaznya tanpa menghendaki maknanya, atau memainkannya dengan tidak menghendaki apa pun. Tidak ada pengaruhnya (tidak jatuh talak) pengutipan talak orang lain, penggambaran (contoh) oleh seorang ahli fikih, serta pelafazannya sekiranya ia tidak dapat mendengar ucapannya sendiri. Para ulama sepakat atas jatuhnya talak orang yang marah, meskipun ia mengaku hilang kesadaran akibat kemarahannya.
لا طلاق مكره بغير حق بمحذور مناسب كحبس طويل وكذا قليل لذي مروءة وصفعة له في الملا وكإتلاف مال يضيق عليه بخلاف نحو خمسة دراهم في حق موسر.
Tidak jatuh talak orang yang dipaksa secara tidak hak (tanpa dasar yang benar) dengan ancaman bahaya yang sepadan, seperti pemenjaraan yang lama, demikian pula penjara singkat bagi orang yang memiliki harga diri (muru'ah), tamparan kepadanya di depan umum, atau perusakan harta yang menyulitkannya; berbeda dengan perusakan sekitar lima dirham bagi orang yang kaya.
وشرط الإكراه قدرة المكره على تحقيق ما هدد به عاجلا بولاية أو تغلب وعجز المكره عن دفعه بفرار أو استغاثة وظنه أنه إن امتنع فعل ما خوفه به ناجزا.
Syarat paksaan adalah kemampuan orang yang memaksa untuk mewujudkan apa yang diancamkannya secara langsung dengan kekuasaan atau dominasi, ketidakmampuan orang yang dipaksa untuk menolaknya dengan melarikan diri atau meminta pertolongan, serta persangkaan kuat orang yang dipaksa bahwa jika ia menolak, orang tersebut akan langsung melakukan apa yang ditakut-takutkan kepadanya.
فلا يتحقق العجز بدون اجتماع ذلك كله.
Maka ketidakmampuan (orang yang dipaksa) tidak terwujud tanpa terkumpulnya seluruh syarat tersebut.
ولا يشترط التورية بأن ينوي غير زوجته أو يقول سرا عقبه إن شاء الله فإذا قصد المكره الإيقاع للطلاق وقع كما إذا أكره بحق: كأن قال مستحق القود طلق زوجتك وإلا قتلتك بقتلك أبي أو قال رجل لآخر طلقها أو لأقتلنك غدا فطلق فيقع فيهما.
Dan tidak disyaratkan melakukan tauriyah (penyamaran niat), yaitu dengan berniat selain istrinya atau mengucapkan secara pelan setelahnya 'insya Allah'. Maka jika orang yang dipaksa tersebut berniat menjatuhkan talak, talak tersebut tetap jatuh, sebagaimana jika ia dipaksa secara hak: seperti orang yang berhak menuntut qishash berkata, 'Talaklah istrimu, jika tidak aku akan membunuhmu sebagai balasan atas pembunuhanmu terhadap ayahku', atau seorang laki-laki berkata kepada laki-laki lain, 'Talaklah dia, atau aku akan membunuhmu besok', lalu ia menalaknya, maka talak tetap jatuh pada kedua contoh ini.
بمشتق طلاق وفراق وسراح وترجمته وأعطيت طلاقك وأوقعت عليك الطلاق,
Dengan kata bentukan (turunan) dari kata thalaq (talak), firaq (pisah), dan sarah (lepas), serta terjemahannya, dan kalimat 'aku berikan talakmu' dan 'aku jatuhkan talak padamu',
بصريح وهو ما لا يحتمل ظاهره غير الطلاق ك مشتق طلاق ولو من عجمي عرف أنه موضوع لحل عصمة النكاح أو بعده عنها وإن لم يعرف معناه الأصلي كما أفتى به شيخنا.
Dengan lafaz sharih (jelas), yaitu lafaz yang secara lahiriah tidak mengandung arti selain talak, seperti kata bentukan dari thalaq (talak), meskipun berasal dari bahasa non-Arab ('ajami) yang telah diketahui secara tradisi penggunaan ('urf) bahwa kata itu dibuat untuk melepaskan ikatan pernikahan atau menjauhkan wanita darinya, meskipun ia tidak mengetahui arti aslinya sebagaimana yang difatwakan oleh guru kami.
وفراق وسراح لتكررها في القرآن كطلقتك وفارقتك وسرحتك أو زوجتي وكأنت طالق أو مطلقة بتشديد اللام المفتوحة ومفارقة ومسرحة أما مصادرها فكناية كأنت طلاق أو فراق أو سراح.
Dan kata firaq serta sarah, karena seringnya kedua kata ini berulang dalam Al-Qur'an, seperti 'aku menalakmu', 'aku memisahimu' (faraqtuki), dan 'aku melepaskanmu' (sarrahtuki), atau 'istriku', serta kata 'engkau wanita yang ditalak' (thaliq) atau 'yang dijatuhi talak' (muthallaqah) dengan tasydid pada huruf lam yang berharakat fathah, 'yang dipisahkan' (mufariqah), dan 'yang dilepaskan' (musarrahah). Adapun bentuk masdar (kata benda abstrak) dari kata-kata tersebut adalah kinayah (sindiran), seperti 'engkau adalah talak' (thalaq), 'perpisahan' (firaq), atau 'pelepasan' (sarah).
تنبيه: ويشترط ذكر مفعول مع نحو طلقت ومبتدأ مع نحو طالق فلو نوى أحدهما لم يؤثر كما لو قال: طالق ونوى أنت أو امرأتي ونوى لفظ طالق إلا إن سبق ذكرها في سؤال في نحو طلق امرأتك فقال: طلقت بلا مفعول أو فوض إليها بطلقي نفسك فقالت: طلقت ولم تقل: نفسي فيقع فيهما.
Peringatan: Disyaratkan menyebutkan objek (maf'ul) bersama kata sejenis 'thalaktu' (aku menalak) dan subjek (mubtada') bersama kata sejenis 'thaliq' (tertalak). Jika ia hanya berniat salah satunya, maka tidak berpengaruh (tidak jatuh talak), sebagaimana jika ia berkata: 'thaliq' (tertalak) dan berniat 'engkau' atau 'istriku', dan berniat lafaz 'thaliq'. Kecuali jika penyebebutan istri telah mendahului dalam pertanyaan seperti dalam ucapan: 'Talaklah istrimu!', lalu ia menjawab: 'Thalaktu' (Aku telah menalak) tanpa menyebutkan objek, atau sang suami menyerahkan hak talak kepadanya dengan berkata: 'Talaklah dirimu!', lalu wanita itu menjawab: 'Thalaktu' (Aku telah menalak) dan tidak mengucapkan 'nafsii' (diriku), maka talak tetap jatuh pada kedua kondisi ini.
وترجمته أي مشتق ما ذكر بالعجمية فترجمة الطلاق صريح على المذهب وترجمة صاحبيه صريح أيضا على المعتمد.
Dan terjemahannya, yaitu terjemahan dari kata turunan yang disebutkan di atas dalam bahasa non-Arab ('ajamiyah). Terjemahan kata thalaq adalah sharih menurut mazhab, dan terjemahan dua kata pendampingnya (firaq dan sarah) juga tergolong sharih menurut pendapat yang diandalkan (mu'tamad).
ونقل الأذرعي عن جمع الجزم به.
Al-Adzra'i mengutip dari sekelompok ulama tentang kepastian pendapat tersebut.
ومنه أعطيت أو قلت طلاقك وأوقعت أو ألقيت أو وضعت عليك الطلاق أو طلاقي ويا طالق ويا مطلقة بتشديد اللام,
Dan di antaranya adalah ucapan: 'Aku berikan' atau 'Aku katakan talakmu', dan 'Aku telah menjatuhkan' atau 'Aku lemparkan' atau 'Aku letakkan talak padamu' atau 'talakku', dan 'Wahai wanita yang tertalak' (ya thaliq) serta 'Wahai wanita yang dijatuhi talak' (ya muthallaqah) dengan tasydid pada huruf lam,
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………..
لا أنت طلاق ولك الطلاق بل هما كنايتان: كإن فعلت كذا ففيه طلاقك أو فهو طلاقك فيما استظهر شيخنا لان المصدر لا يستعمل في العين إلا توسعا ولا يضر الخطأ في الصيغة إذا لم يخل بالمعنى كالخطأ في الإعراب.
Bukan termasuk sharih ucapan "Engkau adalah talak" (أنت طلاق) dan "Engkau memiliki talak" (لك الطلاق), melainkan keduanya adalah kinayah (sindiran). Seperti ungkapan: "Jika engkau melakukan ini, maka di dalamnya terdapat talakmu" atau "maka itu adalah talakmu", menurut pendapat yang dianggap kuat oleh guru kami, karena masdar tidak digunakan untuk menunjuk zat kecuali secara majaz (perluasan makna). Dan tidak membahayakan (tetap sah) kesalahan dalam shighah jika tidak merusak makna, seperti kesalahan dalam i'rab.
فروع: لو قالت له طلقني فقال: هي مطلقة فلا يقبل إرادة غيرها لان تقدم سؤالها يصرف اللفظ إليها ومن
Cabang masalah: Jika seorang istri berkata kepadanya, "Talaklah aku!", lalu sang suami menjawab, "Dia tertalak", maka tidak diterima pengakuan suami yang berniat menalak wanita lain selain dirinya, karena permintaan istri yang didahului tersebut memalingkan lafaz kepadanya.
ثم لو لم يتقدم لها ذكر رجع لنيته في نحو أنت طالق وهي غائبة أو هي طالق وهي حاضرة.
Kemudian, jika tidak didahului oleh penyebutan dirinya, maka dikembalikan kepada niatnya dalam contoh seperti "Engkau tertalak" padahal istrinya tidak di tempat (gaib), atau "Dia tertalak" padahal istrinya ada di tempat (hadir).
قال البغوي: ولو قال ما كدت أن أطلقك كان إقرارا بالطلاق انتهى.
Al-Baghawi berkata: Seandainya seseorang berkata, "Hampir saja aku tidak menalakmu," maka ucapan tersebut merupakan pengakuan (iqrar) atas talak. Selesai.
ولو قال لوليها زوجها فمقر بالطلاق.
Seandainya dia berkata kepada wali istrinya, "Nikahkanlah dia," maka dia dianggap mengakui telah menalaknya.
قال المزجد: لو قال: هذه زوجة فلان حكم بارتفاع نكاحه.
Al-Muzajjad berkata: Seandainya seseorang berkata, "Wanita ini adalah istri si Fulan," maka dihukumi putusnya ikatan pernikahan orang tersebut dengannya.
وأفتى ابن الصلاح فيما لو قال رجل: إن غبت عنها سنة فما أنا لها بزوج بأنه إقرار في الظاهر بزوال الزوجية بعد غيبته السنة فلها بعدها ثم بعد انقضاء عدتها تزوج لغيره.
Ibn As-Salah berfatwa mengenai seseorang yang berkata, "Jika aku meninggalkannya selama satu tahun, maka aku bukanlah suaminya lagi," bahwa ucapan tersebut secara lahiriah merupakan pengakuan akan hilangnya ikatan pernikahan setelah kepergiannya selama satu tahun. Maka bagi istri setelah itu, dan setelah berlalunya masa iddahnya, diperbolehkan menikah dengan laki-laki lain.
فوائد [تتعلق بالطلاق] : ولو قال لآخر: أطلقت زوجتك ملتمسا الإنشاء؟ فقال: نعم أو إي وقع وكان صريحا فإذا قال:
Faidah-faidah [terkait talak]: Seandainya seseorang berkata kepada orang lain, "Apakah engkau menalak istrimu?" dengan maksud meminta pembuatannya (insya'), lalu dia menjawab, "Ya" (نعم atau إي), maka jatuhlah talak dan berstatus sharih (tegas). Namun jika dia berkata:
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………..
طلقت فقط كان كناية لان نعم متعينة للجواب وطلقت مستقلة فاحتملت الجواب والابتداء.
…"Aku telah menalak" saja, maka ucapan itu menjadi kinayah (sindiran), karena kata "Ya" (نعم) sudah tertentu sebagai jawaban, sedangkan kata "Aku telah menalak" berdiri sendiri sehingga mengandung kemungkinan sebagai jawaban atau permulaan ucapan baru.
أما إذا قال له ذلك مستخبرا فأجاب بنعم فإقرار بالطلاق ويقع عليه ظاهرا إن كذب ويدين وكذا لو جهل حال السؤال فإن قال أردت طلاقا ماضيا وراجعت صدق بيمينه لاحتماله ولو قيل: لمطلق أطلقت زوجتك ثلاثا؟ فقال طلقت وأراد واحدة صدق بيمينه لان طلقت محتمل للجواب والابتداء ومن ثم لو قالت: طلقني ثلاثا فقال طلقتك ولم ينو عددا فواحدة.
Adapun jika seseorang menanyakan hal itu kepadanya untuk meminta informasi (bukan insya'), lalu dia menjawab "Ya", maka itu adalah pengakuan (iqrar) atas talak dan jatuh talak padanya secara lahiriah jika dia berdusta, namun secara agama (batin) dikembalikan pada niatnya. Demikian pula jika keadaan penanya tidak diketahui. Jika dia berkata, "Aku bermaksud talak di masa lalu dan aku telah merujuknya," maka dia dibenarkan beserta sumpahnya karena adanya kemungkinan tersebut. Dan seandainya dikatakan kepada seorang penalak, "Apakah engkau menalak istrimu tiga kali?" Lalu dia menjawab, "Aku telah menalak," dan berniat satu kali talak, maka dia dibenarkan beserta sumpahnya karena ucapan "Aku telah menalak" mengandung kemungkinan sebagai jawaban atau permulaan baru. Oleh karena itu, jika seorang istri berkata, "Talaklah aku tiga kali!" Lalu suami menjawab, "Aku telah menalakmu," dan tidak berniat jumlah tertentu, maka jatuh satu talak.
ولو قال لام زوجته: ابنتك طالق وقال: أردت بنتها الأخرى صدق بيمنه كما لو قال لزوجته: وأجنبية إحداكما طالق وقال: قصدت الأجنبية لتردد اللفظ بينهما فصحت إرادتها بخلاف ما لو قال: زينب
Seandainya seorang suami berkata kepada ibu istrinya, "Anak perempuanmu tertalak," lalu dia berkata, "Aku bermaksud anak perempuannya yang lain," maka dia dibenarkan beserta sumpahnya, sebagaimana jika dia berkata kepada istrinya dan seorang wanita lain, "Salah satu dari kalian berdua tertalak," lalu dia berkata, "Aku bermaksud wanita lain tersebut," karena lafaz tersebut ambigu di antara keduanya sehingga sah maksudnya. Berbeda halnya jika dia berkata: "Zainab…
طالق واسم زوجته زينب وقصد أجنبية اسمها زينب فلا يقبل قوله ظاهرا بل يدين.
…tertalak," sedangkan nama istrinya adalah Zainab dan dia mengaku bermaksud wanita lain yang juga bernama Zainab, maka pengakuannya tidak diterima secara lahiriah, melainkan hanya diterima secara agama (batin).
مهمة: [في بيان ما لو أبدل حرفا من لفظ الطلاق بآخر] ولو قال عامي أعطيت تلاق فلانة بالتاء أو طلاقها بالكاف أو دلاقها بالدال وقع به الطلاق وكان صريحا في حقه إن لم يطاوعه لسانه إلا على هذا اللفظ المبدل أو كان ممن لغته كذلك كما صرح به الجلال البلقيني واعتمده جمع متأخرون وأفتى به جمع من مشايخنا وإلا فهو كناية لان ذلك الإبدال له أصل في اللغة.
Catatan Penting: [Mengenai penjelasan jika seseorang mengganti satu huruf dari lafaz talak dengan huruf lain]. Seandainya seorang awam berkata, "Aku berikan talaq si Fulanah" dengan huruf Ta' (تلاق), atau "talaqnya" dengan huruf Kaf (طلاقها menjadi طلاقك), atau "dalaqnya" dengan huruf Dal (دلاقها), maka jatuhlah talaknya dan berstatus sharih (tegas) baginya jika lidahnya tidak mampu mengucapkan kecuali lafaz pengganti tersebut atau ia termasuk orang yang dialek bahasanya memang demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Jalal Al-Bulqini, diandalkan oleh sekelompok ulama muta'akhirin, dan difatwakan oleh sekelompok guru kami. Jika tidak demikian, maka itu adalah kinayah (sindiran), karena penggantian huruf tersebut memiliki dasar dalam bahasa Arab.
وبكناية مع نية مقترنة بأولها كـ: أنت علي حرام وخلية وبائن وحرة وكأمي ويا بنتي وأعتقتك وتركتك وأزلتك وأحللتك وتزوجي,
Dan [talak jatuh] dengan kinayah (sindiran) disertai niat yang bersamaan dengan permulaannya, seperti: "Engkau bagiku haram", "terpisah" (khaliyyah), "terputus" (ba'in), "wanita merdeka", "seperti ibuku", "wahai anak perempuanku", "aku telah memerdekakanmu", "aku telah meninggalkanmu", "aku telah menghilangkanmu", "aku telah menghalalkanmu", dan "menikahlah!"
ويقع بكناية وهي ما يحتمل الطلاق وغيره.
Dan talak jatuh dengan lafaz kinayah (sindiran), yaitu ucapan yang mengandung kemungkinan makna talak dan selainnya.
إن كانت مع نية لإيقاع الطلاق مقترنة بأولها أي الكناية وتعبيري بمقترنة بأولها هو ما رجحه كثيرون واعتمده الأسنوي والشيخ زكريا تبعا لجمع محققين ورجح في أصل الروضة الاكتفاء بالمقارنة لبعض اللفظ ولو لآخره وهي كأنت علي حرام أو حرمتك أو حلال الله علي حرام ولو تعارفوه طلاقا خلافا للرافعي. ولو نوى تحريم عينها أو نحو فرجها أو وطئها لم تحرم وعليه مثل كفارة يمين وإن لم يطأ.
Jika lafaz itu disertai niat untuk menjatuhkan talak yang bersamaan dengan permulaannya, yakni permulaan lafaz kinayah tersebut. Ungkapan saya "bersamaan dengan permulaannya" adalah pendapat yang diunggulkan oleh banyak ulama dan diandalkan oleh Al-Isnavi serta Syekh Zakariyya mengikut sekelompok ulama muhaqqiqin. Namun dalam kitab asal ar-Raudhah diunggulkan kecukupan bersamaannya niat dengan sebagian lafaz meskipun pada akhirnya. Contoh kinayah adalah seperti "Engkau bagiku haram", "Aku mengharamkanmu", atau "Halal Allah bagiku haram", meskipun masyarakat secara umum memahaminya sebagai talak, berbeda dengan pendapat Ar-Rafi'i. Jika suami berniat mengharamkan zat istrinya, kemaluannya, atau persetubuhan dengannya, maka istri tidak menjadi haram dan suami wajib membayar kaffarat sumpah meskipun ia tidak menyetubuhinya.
ولو قال: هذا الثوب أو الطعام حرام علي فلغو لا شيء فيه.
Dan seandainya seseorang berkata, "Pakaian ini atau makanan ini haram bagiku," maka ucapan itu sia-sia (laghwun) dan tidak berkonsekuensi hukum apa pun.
وأنت خلية أي من الزوج فعيلة بمعنى فاعلة أو بريئة منه وبائن أي مفارقة وكأنت حرة ومطلقة بتخفيف اللام أو أطلقتك وأنت كأمي أو بنتي أو أختي وك بنتي لممكنة كونها بنته باحتمال السن وإن كانت معلومة النسب وك أعتقتك وتركتك وقطعت نكاحك وأزلتك وأحللتك أي للأزواج وأشركتك مع فلانة وقد طلقت منه أو من غيره وك تزوجي أي لأني طلقتك وأنت حلال لغيري بخلاف قوله للولي: زوجها فإنه
Dan (ungkapan kinayah seperti:) "Engkau bebas" maksudnya dari suami (bentuk fa'ilah bermakna fa'ilah), atau "bebas darinya", dan "terpisah" maksudnya berpisah; dan seperti "engkau wanita merdeka", dan "yang dilepas" (dengan meringankan huruf lam: muthlaqah) atau "aku telah melepasmu"; dan "engkau seperti ibuku, atau anak perempuanku, atau saudara perempuanku"; dan seperti "anak perempuanku" kepada wanita yang memungkinkan untuk menjadi anak perempuannya berdasarkan kemungkinan usia meskipun nasabnya sudah diketahui; dan seperti "aku telah memerdekakanmu", "aku telah meninggalkanmu", "aku telah memutuskan nikahmu", "aku telah menghilangkanmu", "aku telah menghalalkanmu" maksudnya untuk laki-laki lain (suami-suami lain), dan "aku telah menyukutukanmu bersama Fulanah" yang mana Fulanah itu telah ditalak olehnya atau oleh orang lain; dan seperti "menikahlah!" maksudnya karena aku telah mentalakmu dan engkau halal bagi orang lain. Berbeda dengan ucapannya kepada wali: "Nikahkanlah dia!", karena ucapan ini…
واعتدي وخذي طلاقك ولا حاجة لي فيك وذهب طلاقك أو سقط طلاقك وطلاقك واحد لا كطلاقك عيب ولا قلت كلمتك أو حكمك.
…dan (ungkapan:) "Jalanilah idah!", "ambillah talakmu!", "aku tidak butuh padamu!", "talakmu telah pergi" atau "talakmu telah gugur", dan "talakmu satu". Tidak seperti (ungkapan:) "talakmu adalah aib", dan tidak pula "aku telah katakan perkataanmu/putusanmu".
صريح واعتدي أي لأني طلقتك وودعيني من الوداع: أي لأني طلقتك وك خذي طلاقك ولا حاجة لي فيك أي لأني طلقتك ولست زوجتي إن لم يقع في جواب دعوى وإلا فإقرار وك ذهب طلاقك أو سقط طلاقك إن فعلت كذا وك طلاقك واحد وثنتان فإن قصد به الإيقاع وقع وإلا فلا وكلك الطلاق أو طلقة وكذا سلام عليك على ما قاله ابن صلاح ونقله شيخنا في شرح المنهاج.
…adalah sharih (sharih kepada wali). Dan (ungkapan kinayah) "Jalanilah idah!" maksudnya "karena aku telah mentalakmu"; "berpamitanlah denganku" (dari kata al-wada' / perpisahan) maksudnya "karena aku telah mentalakmu"; dan seperti "ambillah talakmu!", "aku tidak butuh padamu" maksudnya "karena aku telah mentalakmu"; dan "engkau bukan istriku" jika tidak diucapkan dalam jawaban atas suatu pengakuan/gugatan (di pengadilan), jika terjadi dalam jawaban gugatan maka itu adalah pengakuan (bukan kinayah talak); dan seperti "talakmu telah pergi" atau "talakmu telah gugur jika engkau melakukan demikian"; dan seperti "talakmu satu", atau "dua", jika ia bermaksud menjatuhkan talak dengannya maka jatuhlah talak, jika tidak maka tidak jatuh; dan "bagimu talak" atau "satu talak", demikian pula "keselamatan bagimu" menurut apa yang dikatakan oleh Ibn al-Shalah dan dikutip oleh guru kami dalam Syarh al-Minhaj.
لا منها كطلاقك عيب أو نقص ولا قلت أو أعطيت كلمتك أو حكمك فلا يقع به الطلاق وإن نوى بها المتلفظ الطلاق لأنها ليست من الكنايات التي تحتمل الطلاق بلا تعسف ولا أثر لاشتهارها في الطلاق في بعض القطر كما أفتى به جمع من محققي مشايخ عصرنا.
Tidak termasuk kinayah ungkapan seperti "talakmu adalah aib" atau "kekurangan", dan tidak pula "aku telah katakan" atau "aku berikan perkataanmu" atau "putusanmu", maka talak tidak jatuh dengannya meskipun orang yang mengucapkannya berniat talak, karena ungkapan tersebut bukan termasuk kinayah yang mengandung kemungkinan makna talak tanpa pemaksaan. Dan tidak ada pengaruhnya kepopuleran ungkapan tersebut dalam makna talak di sebagian daerah, sebagaimana yang difatwakan oleh sekelompok ulama peneliti dari guru-guru zaman kami.
ولو نطق بلفظ من هذه الألفاظ الملغاة عند إرادة الفراق فقال له الآخر: مستخبرا أطلقت زوجتك؟ فقال: نعم ظانا وقوع الطلاق باللفظ الأول لم يقع كما أفتى به شيخنا.
Dan seandainya ia mengucapkan salah satu dari lafal-lafal yang tidak teranggap ini ketika menginginkan perpisahan, lalu orang lain bertanya kepadanya untuk meminta informasi: "Apakah engkau telah mentalak istrimu?", lalu ia menjawab: "Ya", karena menyangka bahwa talak telah jatuh dengan lafal pertama, maka talak tidak jatuh sebagaimana yang difatwakan oleh guru kami.
وسئل البلقيني عما لو قال لها: أنت علي حرام وظن أنها طلقت به ثلاثا فقال لها: أنت طالق ثلاثا ظانا وقوع الثلاث بالعبارة
Al-Bulqini pernah ditanya tentang seseorang yang berkata kepada istrinya: "Engkau haram bagiku", dan ia menyangka bahwa istrinya telah tertalak tiga dengannya, lalu ia berkata kepadanya: "Engkau tertalak tiga" karena menyangka telah jatuhnya talak tiga dengan ungkapan…
وصدق منكر نية بيمينه.
Dan dibenarkan orang yang mengingkari niat (talak) beserta sumpahnya.
الأولى فأجاب بأنه لا يقع عليه طلاق بما أخبر به ثانيا على الظن المذكور انتهى.
…yang pertama. Maka beliau menjawab bahwa tidak jatuh talak atasnya dengan apa yang diucapkannya kedua kali berdasarkan dugaan tersebut. Selesai.
ويجوز لمن ظن صدقه أن لا يشهد عليه.
Boleh bagi orang yang menganggapnya jujur untuk tidak bersaksi melawannya.
فرع [في بيان أن الكتابة كناية فإن نوى بها الطلاق وقع] لو كتب صريح طلاق أو كنايته ولم ينو إيقاع الطلاق فلغو ما لم يتلفظ حال الكتابة أو بعدها بصريح ما كتبه نعم: يقبل قوله أردت قراءة المكتوب لا الطلاق لاحتماله ولا يلحق الكناية بالصريح طلب المرأة الطلاق ولا قرينة غضب ولا اشتهار بعض ألفاظ الكنايات فيه.
Cabang masalah: [Penjelasan bahwa tulisan adalah kinayah, jika diniatkan talak maka jatuhlah talak]. Seandainya seseorang menulis lafal talak sharih atau kinayah dan ia tidak berniat menjatuhkan talak, maka tulisan itu sia-sia (tidak bernilai), selama ia tidak menuturkan saat menulis atau setelahnya lafal sharih dari apa yang ditulisnya. Ya, diterima perkataannya (pengakuannya): "Aku bermaksud membaca tulisan tersebut, bukan menjatuhkan talak" karena adanya kemungkinan makna itu. Dan kinayah tidak disamakan dengan sharih hanya karena adanya permintaan talak dari si wanita, tidak pula karena adanya indikasi kemarahan, dan tidak pula karena populernya sebagian lafal kinayah untuk makna talak.
وصدق منكر نية في الكناية بيمينه في أنه ما نوى بها طلاقا فالقول في النية: إثباتا ونفيا قول: الناوي إذ لا تعرف إلا منه فإن لم تمكن مراجعة نيته بموت أو فقد لم يحكم بوقوع الطلاق لان الأصل بقاء العصمة.
Dan dibenarkan orang yang mengingkari niat dalam lafal kinayah beserta sumpahnya, bahwa ia tidak berniat talak dengannya. Maka perkataan mengenai niat—baik menetapkan maupun meniadakan—adalah perkataan orang yang berniat tersebut, karena niat tidak dapat diketahui kecuali darinya. Jika tidak memungkinkan mengonfirmasi niatnya karena ia meninggal dunia atau hilang (mafqud), maka tidak dihukumi jatuhnya talak, karena hukum asalnya adalah tetap berlanjutnya ikatan pernikahan.
فروع قال في العباب: من اسم زوجته فاطمة مثلا فقال: ابتداء أو جوابا لطلبها الطلاق فاطمة طالق وأراد غيرها لم يقبل ومن قال لامرأته: يا زينب أنت طالق واسمها عمرة طلقت للإشارة ولو أشار إلى أجنبية وقال: يا عمرة أنت طالق واسم
Cabang-cabang masalah: Pengarang kitab Al-'Ubab berkata: Barang siapa yang nama istrinya Fatimah misalnya, lalu ia berkata—baik secara spontan maupun sebagai jawaban atas permintaan talak darinya—: "Fatimah tertalak", sedang ia bermaksud Fatimah wanita lain, maka tidak diterima pengakuannya. Barang siapa berkata kepada istrinya: "Wahai Zainab, engkau tertalak!", padahal namanya Umrah, maka istrinya tertalak karena adanya isyarat (kepadanya). Seandainya ia mengisyaratkan kepada wanita lain (bukan istrinya) dan berkata: "Wahai Umrah, engkau tertalak!", padahal nama…
ولو قال طلقتك ونوى عددا وقع منوي,
Dan seandainya ia berkata: "Aku telah mentalakmu" dan ia berniat jumlah (talak tertentu), maka jatuhlah jumlah yang diniatkan,
زوجته عمرة لم تطلق ومن قال: امرأتي طالق مشيرا لإحدى امرأتيه وأراد الأخرى قبل بيمينه ومن له زوجتان اسم كل واحدة منهما فاطمة بنت محمد وعرف أحدهما بزيد فقال: فاطمة بنت محمد طالق ونوى بنت زيد قبل انتهى.
…istrinya adalah Umrah, maka istrinya tidak tertalak. Barang siapa berkata: "Istriku tertalak" seraya mengisyaratkan kepada salah satu dari kedua istrinya namun ia bermaksud istri yang satunya lagi, maka pengakuannya diterima beserta sumpahnya. Dan barang siapa memiliki dua istri yang masing-masing bernama Fatimah binti Muhammad, dan salah satu dari keduanya dikenal (dengan nasab) binti Zaid, lalu ia berkata: "Fatimah binti Muhammad tertalak" dan ia berniat Fatimah binti Zaid, maka pengakuannya diterima. Selesai.
قال شيخنا: لم يقبل في المسألة الأولى أي ظاهرا بل يدين نعم: يتجه قبول إرادته لمطلقة له اسمها فاطمة انتهى.
Guru kami berkata: Tidak diterima (pengakuannya) pada masalah pertama secara lahiriah (di pengadilan), melainkan diserahkan pada urusan agamanya (diyanatan). Ya, secara rasional dapat diterima jika ia bermaksud mantan istrinya yang telah ditalak yang bernama Fatimah. Selesai.
ولو قال: زوجتي عائشة بنت محمد طالق وزوجته خديجة بنت محمد طلقت لأنه لا يضر الخطأ في الاسم. ولو قال لابنه المكلف قل لامك: أنت طالق ولم يرد التوكيل يحتمل التوكيل فإذا قاله لها: طلقت كما تطلق به لو أراد التوكيل ويحتمل أنها تطلق وكون الابن مخبرا لها بالحال.
Seandainya seseorang berkata: "Istriku Aisyah binti Muhammad tertalak", padahal istrinya bernama Khadijah binti Muhammad, maka istrinya tertalak, karena kesalahan menyebut nama tidak berpengaruh. Dan seandainya seseorang berkata kepada anaknya yang sudah mukalaf: "Katakan kepada ibumu: Engkau tertalak!", tanpa bermaksud mewakilkan (taukil), ada kemungkinan mengandung makna taukil, sehingga jika anak itu mengatakannya kepada ibunya, jatuhlah talak sebagaimana jatuhnya talak seandainya ia berniat mewakilkan; dan ada kemungkinan jatuh talak dengan anak tersebut bertindak sebagai penyampai kabar berita.
قال الأسنوي: ومدرك التردد أن الأمر بالأمر بالشيء إن جعلناه كصدور الأمر من الأول كان الأمر بالإخبار بمنزلة الإخبار من الأب فيقع وإلا فلا انتهى.
Al-Asnawi berkata: Landasan keraguan (perbedaan pendapat) ini adalah bahwa perintah untuk memerintahkan sesuatu, jika kita menganggapnya seperti keluarnya perintah dari orang pertama, maka perintah untuk memberitahukan berkedudukan seperti pemberitahuan dari sang ayah sehingga talak jatuh; jika tidak demikian, maka talak tidak jatuh. Selesai.
قال الشيخ زكريا: وبالجملة فينبغي أن يستفسر فإن تعذر استفساره عمل بالاحتمال الأول حتى لا يقع الطلاق بقوله: بل بقول الابن لامه: لان الطلاق لا يقع بالشك.
Syaikh Zakariya berkata: "Kesimpulannya, hendaknya dimintai penjelasan (istifsyar). Jika tidak memungkinkan untuk meminta penjelasan, maka dioperasikan menurut kemungkinan yang pertama agar talak tidak jatuh dengan perkataannya, melainkan dengan perkataan anak kepada ibunya, karena talak tidak jatuh karena keraguan."
ولو قال: طلقتك ونوى عددا اثنتين أو واحدة وقع منوي ولو في
Dan seandainya ia berkata: "Aku menalakmu," dan ia berniat jumlah dua atau satu, maka jatuhlah apa yang diniatkan, meskipun pada (istri yang…
ويقع طلاق الوكيل بـ: طلقت ولو قال لآخر أعطيت طلاق زوجتي فهو توكيل,
Dan jatuhlah talak dari seorang wakil dengan ucapan: "Aku menalak." Dan seandainya ia berkata kepada orang lain: "Aku menyerahkan talak istriku," maka itu adalah perwakilan (taukil).
غير موطوءة فإن لم ينوه وقع طلقة واحدة ولو شك في العدد الملفوظ أو المنوي فيأخذ بالأقل ولا يخفى الورع.
…belum disetubuhi). Namun jika ia tidak berniat (jumlah tertentu), maka jatuh satu talak. Dan jika ia ragu tentang jumlah yang diucapkan atau diniatkan, ia mengambil yang paling sedikit, dan sikap wara' tidaklah tersembunyi (yaitu mengambil jumlah terbanyak demi kehati-hatian).
فرع لو قال: طلقتك واحدة وثنتين فيقع به الثلاث كما هو ظاهر وبه أفتى بعض محققي علماء عصرنا.
Cabang masalah: Seandainya ia berkata: "Aku menalakmu satu dan dua," maka jatuhlah tiga talak dengannya sebagaimana yang tampak jelas, dan hal ini telah difatwakan oleh sebagian ulama peneliti di zaman kita.
ولو قال للمدخول بها: أنت طالق طلقة بل طلقتين فيقع ثلاث كما صرح به الشيخ زكريا في شرح الروض.
Dan seandainya ia berkata kepada istri yang sudah dicampuri: "Engkau tertalak satu talak, bahkan dua talak," maka jatuh tiga talak sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Zakariya dalam Sharh ar-Raudh.
ويقع طلاق الوكيل في الطلاق بطلقت فلانة ونحوه وإن لم ينو عند الطلاق أنه مطلق لموكله.
Dan jatuhlah talak dari wakil dalam urusan talak dengan ucapannya: "Aku telah menalak si Fulanah" dan sejenisnya, meskipun ia tidak berniat saat menalak bahwa ia menalak atas nama pemberi kuasanya (muwakkil).
ولو قال لآخر: أعطيت أو جعلت بيدك طلاق زوجتي أو قال له: رح بطلاقها وأعظها فهو توكيل يقع الطلاق بتطليق الوكيل لا بقول الزوج هذا اللفظ بل تحصل الفرقة من حين قول الوكيل: متى شاء طلقت فلانة لا بإعلامها الخبر بأن فلانا أرسل بيدي طلاقك ولا بإعلامها أن زوجك طلق.
Dan seandainya seseorang berkata kepada orang lain: "Aku serahkan atau kujadikan talak istriku di tanganmu," atau berkata kepadanya: "Pergilah membawa talaknya dan nasihatilah ia," maka itu adalah perwakilan (taukil). Talak jatuh dengan jatuhnya penalakan oleh sang wakil, bukan dengan ucapan lafal tersebut dari suami. Bahkan perpisahan (furqah) terjadi sejak ucapan wakil—kapan saja ia mau—: "Aku telah menalak si Fulanah," bukan dengan pemberitahuannya bahwa si Fulan mengirimkan talakmu lewat tanganku, dan bukan pula dengan memberitahukan bahwa suamimu telah menalak.
وإذا قال له: لا تعطه إلا في يوم كذا فيطلق في اليوم الذي عينه أو بعده لا قبله.
Dan apabila ia berkata kepada wakil: "Jangan engkau berikan talak itu kecuali pada hari anu," maka ia menalak pada hari yang ditentukannya atau setelahnya, tidak sebelumnya.
ولو قال لها: طلقي نفسك إن شئت فهو تمليك فيشترط تطليقها فورا بطلقت.
Dan seandainya ia berkata kepada istrinya: "Talaklah dirimu jika engkau mau," maka itu adalah penyerahan hak (tamlik), sehingga disyaratkan ia menalak dirinya seketika itu juga (fauran) dengan perkataan: "Aku menalak (diriku)."
ثم إن قصد التقييد بيوم طلق فيه لا بعده.
Kemudian jika ia bermaksud membatasi pada hari tertentu, maka wakil menalak pada hari itu, tidak setelahnya.
ولو قال لها أي الزوجة المكلفة منجزا طلقي نفسك إن شئت فهو تمليك للطلاق لا توكيل بذلك وبحث أن منه قوله: طلقيني فقالت: أنت طالق ثلاثا لكنه كناية فإن نوى التفويض إليها طلقت وإلا فلا.
Dan seandainya ia berkata kepadanya—yaitu istri yang mukalaf—secara langsung (munjazan): "Talaklah dirimu jika engkau mau," maka itu adalah penyerahan hak (tamlik) atas talak, bukan perwakilan (taukil) untuk hal itu. Dan dibahas bahwa termasuk di dalamnya adalah ucapannya: "Talaklah aku," lalu sang istri menjawab: "Engkau tertalak tiga kali," tetapi ucapan ini adalah kinayah (sindiran), maka jika suami berniat melimpahkan hak (tafwidh) kepadanya, terjadilah talak, dan jika tidak, maka tidak jatuh.
وخرج بتقييدي بالمكلفة غيرها لفساد عبارتها وبمنجز المعلق فلو قال: إذا جاء رمضان فطلقي نفسك لغا. وإذا قلنا أنه تمليك فيشترط لوقوع الطلاق المفوض إليها تطليقها ولو بكناية فورا بأن لا يتخلل فاصل بين تفويضه وإيقاعها نعم لو قال: طلقي نفسك فقالت: كيف يكون تطليق نفسي؟ ثم قالت: طلقت وقع لأنه فصل يسير.
Dan mengecualikan dengan batasan "mukalaf" yaitu selainnya, karena tidak sahnya ucapannya; dan dengan "munjaz" (langsung), yaitu yang bergantung pada syarat (mu'allaq), sehingga seandainya ia berkata: "Jika bulan Ramadan tiba, talaklah dirimu," maka itu sia-sia (laghw). Dan ketika kita katakan bahwa itu adalah tamlik, maka disyaratkan untuk jatuhnya talak yang dilimpahkan kepadanya agar ia menalak—meskipun dengan ucapan kinayah—secara seketika (fauran), yaitu tidak ada jeda pemisah antara pelimpahan hak dengannya menjatuhkan talak. Ya, jika suami berkata: "Talaklah dirimu," lalu istri bertanya: "Bagaimana cara menalak diriku?" kemudian ia berkata: "Aku telah menalak," maka talak tetap jatuh karena jeda tersebut tergolong singkat.
بطلقت نفسي أو طلقت فقط لا بقبلت.
Yaitu dengan ucapan "Aku telah menalak diriku" atau "Aku telah menalak" saja, bukan dengan "Aku menerima."
وقال بعضهم: كمختصري الروضة لا يشترط الفور في متى شئت فتطلق متى شاءت وجزم به
Dan sebagian ulama—seperti penyusun ringkasan ar-Raudhah—berkata: Tidak disyaratkan seketika (faur) dalam lafal "kapan saja engkau mau", sehingga ia boleh menalak kapan saja ia mau. Dan hal ini ditegaskan oleh…
صاحبا التنبيه والكفاية لكن المعتمد كما قال شيخنا: أنه يشترط الفورية وإن أتى بنحو متى.
…penulis at-Tanbih dan al-Kifayah. Namun pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) sebagaimana dikatakan oleh Syaikh kita adalah: bahwasanya disyaratkan keseketikaan (fauriyah) meskipun ia menggunakan kata sejenis "kapan saja" (mata).
ويجوز له الرجوع قبل تطليقها كسائر العقود.
Dan boleh bagi suami untuk menarik kembali penyerahan tersebut sebelum istri menalak dirinya, sebagaimana akad-akad lainnya.
وصدق مدعي إكراه أو إغماء أو سبق لسان بيمينه إن كان ثم قرينه وإلا فلا.
Dan orang yang mengaku dipaksa (ikrah), pingsan, atau tersasul/keterlanjuran lidah (sabaq lisan) dibenarkan dengan sumpahnya jika terdapat indikasi (qarinah), dan jika tidak ada indikasi maka tidak dibenarkan.
فائدة [في بيان جواز تعليق الطلاق] : يجوز تعليق الطلاق كالعتق بالشروط ولا يجوز الرجوع فيه قبل وجود الصفة ولا يقع قبل وجود الشرط ولو علقه بفعله شيئا ففعله ناسيا للتعلق أو جاهلا بأنه المعلق عليه لم تطلق.
Faedah [Penjelasan Kebolehan Taklik Talak]: Boleh menaklikkan (menggantungkan) talak sebagaimana memerdekakan budak dengan syarat-syarat, dan tidak boleh menarik kembali taklik tersebut sebelum terjadinya sifat (syarat) yang ditentukan, serta talak tidak jatuh sebelum terpenuhinya syarat. Apabila ia menggantungkan talak dengan perbuatannya melakukan sesuatu, lalu ia melakukannya dalam keadaan lupa akan taklik tersebut atau tidak tahu bahwa perbuatan itu yang dijadikan syarat taklik, maka istrinya tidak tertalak.
ولو علق الطلاق على ضرب زوجته بغير ذنب فشتمته فضربها لم يحنث إن ثبت ذلك وإلا صدقت فتحلف.
Jika ia menggantungkan talak pada tindakan memukul istrinya tanpa adanya dosa (kesalahan), lalu istrinya memaki-makinya sehingga ia memukulnya, maka ia tidak melanggar sumpah (tidak jatuh talak) jika hal tersebut terbukti. Jika tidak terbukti, maka ucapan istri yang dibenarkan dengan bersumpah.
مهمة [في بيان حكم الاستثناء] يجوز الاستثناء بنحو إلا بشرط أن يسمع نفسه وأن يتصل بالعدد الملفوظ: كطلقتك ثلاثا إلا اثنتين فيقع طلقه أو إلا واحدة فطلقتان.
Masalah Penting [Penjelasan Hukum Istisna' (Pengecualian)]: Boleh melakukan pengecualian (istisna') dengan lafal seperti 'kecuali' (إلا), dengan syarat ia mendengarkan ucapan itu untuk dirinya sendiri dan tersambung dengan jumlah yang diucapkan, seperti: 'Aku menalakmu tiga kali kecuali dua kali', maka jatuh talak satu kali; atau 'kecuali satu kali', maka jatuh talak dua kali.
ولو قال: أنت طالق إن شاء الله لم تطلق١.
Jika ia berkata: 'Engkau tertalak jika Allah menghendaki', maka talak tidak jatuh.
وصدق مدعي إكراه على طلاق أو إغماء حالته أو سبق لسان إلى لفظ الطلاق بيمينه إن كان ثم قرينة كحبس وغيره في دعوى كونه مكرها وكمرض واعتياد صرع في دعوى كونه مغشيا عليه وككون اسمها طالعا أو طالبا في دعوى سبق اللسان وإلا تكن هناك قرينة فلا يصدق إلا بيمينه.
Dibenarkan orang yang mengaku dipaksa melakukan talak, atau dalam keadaan pingsan, atau tersasul lidahnya ke lafal talak disertai sumpahnya apabila terdapat indikasi (qarinah), seperti dipenjara atau lainnya dalam pengakuan dipaksa; seperti sakit atau terbiasa epilepsi (ayan) dalam pengakuan pingsan; dan seperti nama istrinya adalah Thali'ah atau Thalibah dalam pengakuan tersasul lidah. Jika tidak ada indikasi, maka ia tidak dibenarkan kecuali dengan sumpahnya.
تتمة من قال لزوجته: يا كافرة مريدا حقيقة الكفر جرى فيها ما تقرر في الردة أو الشتم فلا طلاق وكذا إن لم يرد شيئا لأصل بقاء العصمة وجريان ذلك الشتم كثيرا مرادا به كفر النعمة
Pelengkap: Barang siapa berkata kepada istrinya: 'Wahai wanita kafir!', dengan bermaksud hakikat kekufuran, maka berlaku hukum yang telah ditetapkan dalam masalah murtad. Namun jika bermaksud mencaci, maka tidak jatuh talak. Demikian pula jika ia tidak memaksudkan apa-apa, karena hukum asalnya ikatan pernikahan tetap ada, dan ucapan caci maki seperti itu sering kali digunakan dengan maksud kufur nikmat.