فصل في بيان أحكام الظهار
فصل [في بيان أحكام الظهار]
Fasal [PENJELASAN HUKUM-HUKUM ZHIHAR]
إنما يصح الظهار ممن يصح طلاقه وهو أن يقول لزوجته أنت كظهر أمي ولو بدون علي وقوله أنت كأمي كناية وكالأم محرم لم يطرأ تحريمها.
Zihar hanya sah dilakukan oleh orang yang sah talaknya, yaitu dengan ia berkata kepada istrinya: "Engkau bagiku seperti punggung ibuku" meskipun tanpa kata "bagiku" (عَلَيَّ). Ucapan "Engkau seperti ibuku" adalah kinayah (sindiran). Dan yang disamakan dengan ibu adalah setiap mahram yang keharamannya tidak baru datang.
وتلزمه كفارة ظهار بالعود وهو أن يمسكها زمنا يمكن فراقها فيه.
Dan ia wajib membayar kaffarat zihar sebab al-'aud (kembali/menarik ucapan), yaitu ia menahannya (mempertahankan pernikahan) selama waktu yang memungkinkan baginya untuk menceraikannya.
وطئ وإن تيقن براءة رحم ولوطء شبهة بثلاثة قروء على حرة تحيض,
(Sebab) persetubuhan meskipun diyakini kebersihan rahimnya, dan sebab persetubuhan syubhat, (wajib iddah) selama tiga quru' bagi wanita merdeka yang mengalami haid,
وطئ في قبل أو دبر بخلاف ما إذا لم يكن وطئ وإن وجدت خلوة.
Yaitu persetubuhan pada kubul atau dubur, berbeda halnya jika tidak terjadi persetubuhan meskipun telah terjadi khalwah (berduaan).
وإن تيقن براءة رحم كما في صغيرة وصغير.
Meskipun diyakini kebersihan rahimnya, sebagaimana pada kasus istri yang masih kecil atau suami yang masih kecil.
ولوطئ حصل مع شبهة في حله كما في نكاح فاسد وهو كل ما لم يوجب حدا على الواطئ.
Dan karena persetubuhan yang terjadi dengan adanya syubhat mengenai kehalalannya, seperti dalam nikah yang fasad, yaitu setiap persetubuhan yang tidak mewajibkan hukuman had atas orang yang bersetubuh.
فرع: لا يستمتع بموطوءة بشبهة مطلقا ما دامت في عدة شبهة حملا كانت أو غيره حتى تنقضي بوضع أو غيره لاختلال النكاح بتعلق حق الغير.
Cabang masalah: Seorang wanita yang disetubuhi secara syubhat tidak boleh dinikmati bersenang-senang dengannya secara mutlak selama ia masih berada dalam iddah syubhat, baik dalam keadaan hamil maupun tidak, sampai iddahnya selesai dengan melahirkan atau selainnya, karena terganggunya pernikahan sebab terikatnya hak orang lain.
قال شيخنا: ومنه يؤخذ أنه يحرم عليه نظرها ولو بلا شهوة والخلوة بها.
Guru kami berkata: Dari hal tersebut dapat dipahami bahwa diharamkan bagi suami memandangnya meskipun tanpa syahwat dan berdua-duaan dengannya.
وإنما يجب لما ذكر عدة بثلاثة قروء والقرء هنا طهريين دمي حيضتين أو حيض ونفاس فلو طلق من لم تحض
Hanya saja iddah karena hal yang telah disebutkan itu wajib sebanyak tiga quru'. Quru' di sini adalah dua masa suci di antara dua darah haid, atau antara haid dan nifas. Maka jika seseorang menceraikan wanita yang belum pernah haid
أولا ثم حاضت لم يحسب الزمن الذي طلق فيه قرءا: إذ لم يكن بين دمين بل لا بد من ثلاثة أطهار بعد الحيضة المتصلة بالطلاق ويحسب بقية الطهر طهرا في غيرها.
pada awalnya lalu kemudian wanita itu haid, maka waktu saat ia ditalak tidak dihitung sebagai satu quru', karena tidak berada di antara dua darah. Melainkan harus tiga masa suci setelah haid yang menyatu dengan talak tersebut. Dan sisa masa suci dihitung sebagai satu masa suci pada selain kasus ini.
وتجب العدة بثلاثة أقراء على حرة تحيض لقوله تعالى:
Dan wajib iddah tiga quru' bagi wanita merdeka yang haid berdasarkan firman Allah Ta'ala:
وبثلاثة أشهر إن لم تحض أو يئست ومن انقطع حيضها بلا علة لم تتزوج حتى تحيض أو تيأس,
Dan tiga bulan jika ia tidak haid atau telah menopause. Dan wanita yang terputus haidnya tanpa sebab tidak boleh menikah sampai ia haid kembali atau menopause,
﴿والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء﴾ [٢ سورة البقرة الآية: ٢٢٨] .
“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru'.” [QS. Al-Baqarah: 228].
فمن طلقت طاهرا وقد بقي من الطهر لحظة انقضت عدتها بالطعن في الحيضة الثالثة لإطلاق القرء على أقل لحظة من الطهر وإن وطئ فيه أو حائضا وإن لم يبق من زمن الحيض إلا لحظة فتنقضي عدتها بالطعن في الحيضة الرابعة.
Maka barangsiapa yang ditalak dalam keadaan suci dan masih tersisa dari masa suci itu walau sekejap, maka iddahnya berakhir saat mulai masuknya haid yang ketiga, karena sebutan quru' berlaku pada masa suci meskipun hanya sekejap walaupun disetubuhi di dalamnya. Dan jika ditalak dalam keadaan haid meskipun masa haidnya tidak tersisa kecuali sekejap, maka iddahnya berakhir saat mulai masuknya haid yang keempat.
وزمن الطعن في الحيضة ليس من العدة بل يتبين به انقضاؤها.
Waktu mulai masuknya haid tersebut bukan bagian dari masa iddah, melainkan dengannya menjadi jelas berakhirnya iddah.
وتجب عدة بثلاثة أشهر هلالية ما لم تطلق أثناء شهر وإلا تمم المنكسر ثلاثين إن لم تحض أي الحرة أصلا أو حاضت أولا ثم انقطع ويئست من الحيض ببلوغها إلى سن تيأس فيه النساء من الحيض غالبا وهو اثنتان وستون سنة وقيل خمسون.
Dan wajib iddah tiga bulan hijriyah selama ia tidak ditalak di pertengahan bulan; jika ditalak di pertengahan bulan, maka bulan yang terpecah itu disempurnakan menjadi tiga puluh hari, apabila ia—yaitu wanita merdeka—tidak pernah haid sama sekali, atau ia sempat haid di awalnya kemudian terputus dan ia berputus asa dari haid (menopause) dengan mencapai usia di mana umumnya wanita menopause dari haid, yaitu enam puluh dua tahun, dan ada yang berpendapat lima puluh tahun.
ولو حاضت من لم تحض قط في أثناء العدة بالأشهر اعتدت بالأطهار أو بعدها أو تستأنف العدة بالأطهار بخلاف الآيسة.
Jika wanita yang belum pernah haid sama sekali mendapati haid di tengah-tengah masa iddah hitungan bulan, maka ia menjalani iddah dengan masa-masa suci (quru'), atau jika haid datang setelahnya, maka ia wajib memulai kembali iddah dengan masa-masa suci, berbeda halnya dengan wanita yang sudah menopause.
ومن انقطع حيضها بعد أن كانت تحيض بلا علة تعرف لم تتزوج حتى تحيض أو تيأس ثم تعتد بالأقراء أو الأشهر.
Dan wanita yang terputus haidnya—setelah sebelumnya ia biasa haid—tanpa sebab yang diketahui, tidak boleh menikah sampai ia haid kembali atau mengalami menopause, kemudian ia beriddah dengan quru' atau hitungan bulan.
وفي القديم وهو مذهب مالك وأحمد أنها تتربص تسعة أشهر ثم تعتد بثلاثة أشهر ليعرف فراغ الدم: إذ هي غالب مدة الحمل.
Dalam qaul qadim (pendapat lama Imam al-Syafi'i)—yang juga merupakan mazhab Malik dan Ahmad—bahwa wanita tersebut menunggu selama sembilan bulan, kemudian ber'iddah selama tiga bulan agar diketahui kekosongan rahim dari darah (kehamilan), sebab sembilan bulan adalah durasi kehamilan pada umumnya.
وانتصر له الشافعي بأن عمر ﵁ قضى به بين المهاجرين والأنصار ولم ينكر عليه ومن ثم أفتى به سلطان العلماء عز الدين ابن
Imam al-Syafi'i mendukung pendapat ini dengan alasan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu pernah memutuskan hukum demikian di antara kaum Muhajirin dan Anshar tanpa ada yang menentangnya. Oleh karena itu, Sultan al-Ulama Izzuddin bin…
ولوفاة على رجعية وغير موطوءة بأربعة أشهر وعشرة أيام مع إحداد.
…dan karena kematian suami ('iddah wajib) bagi wanita yang ditalak raj'i dan wanita yang belum digauli, yaitu selama empat bulan sepuluh hari beserta ihdad (berkabung).
عبد السلام والبارزي والريمي وإسماعيل الحضرمي واختاره البلقيني وشيخنا ابن زياد رحمهم الله تعالى.
…Abdussalam, al-Barizi, al-Raimi, dan Ismail al-Hadhrami, serta dipilih oleh al-Bulqini dan guru kami Ibn Ziyad rahimahumullah ta'ala.
أما من انقطع حيضها بعلة تعرف كرضاع ومرض فلا تتزوج اتفاقا حتى تحيض أو تيأس وإن طالت المدة.
Adapun wanita yang haidnya terputus karena sebab yang diketahui seperti menyusui atau sakit, maka ia tidak boleh menikah menurut kesepakatan ulama hingga ia berhaid kembali atau mencapai usia menopause, meskipun waktunya lama.
وتجب العدة لوفاة زوج حتى على حرة رجعية وغير موطوءة لصغر أو غيره وإن كانت ذات أقراء بأربعة أشهر وعشرة أيام ولياليها للكتاب والسنة.
Dan wajib ber'iddah karena kematian suami, bahkan bagi wanita merdeka yang ditalak raj'i dan wanita yang belum digauli karena masih kecil atau lainnya, meskipun ia biasanya berhaid (mempunyai quru'), yaitu selama empat bulan sepuluh hari beserta malam-malamnya berdasarkan al-Qur'an dan al-Sunnah.
وتجب على المتوفى عنها زوجها العدة بما ذكر مع إحداد يعني يجب الإحداد عليها أيضا بأي صفة كانت للخبر المتفق عليه: لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تحد على ميت فوق ثلاث إلا على زوج أربعة أشهر وعشرا أي فإنه يحل لها الإحداد عليه هذه المدة: أي يجب لان ما جاز بعد امتناعه واجب وللإجماع على إرادته إلا ما حكي عن الحسن البصري وذكر الإيمان للغالب أو لأنه أبعث على الامتثال وإلا فمن لها أمان يلزمها ذلك أيضا ويلزم الولي أمر موليته به.
Dan wajib bagi wanita yang ditinggal mati suaminya melakukan 'iddah dengan ketentuan tersebut disertai ihdad (berkabung). Artinya, berkabung juga wajib baginya dalam kondisi apa pun berdasarkan hadis yang disepakati kesahihannya (muttafaq 'alaih): "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas mayat lebih dari tiga hari, kecuali atas suaminya yaitu selama empat bulan sepuluh hari." Maksudnya, dihalalkan baginya berkabung atas suaminya selama masa ini, yakni diwajibkan, karena apa yang diizinkan setelah sebelumnya dilarang adalah wajib, dan berdasarkan ijmak atas kewajibannya kecuali apa yang diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri. Disebutkannya "iman" adalah menurut kebiasaan umum (ghalib) atau karena hal itu lebih mendorong kepada kepatuhan; jika tidak, maka wanita kafir dzimmi (yang mendapat jaminan keamanan) juga diwajibkan hal tersebut dan wali wajib memerintahkan wanita di bawah perwaliannya untuk melakukannya.
تنبيه [في بيان معنى الإحداد اصطلاحا] الإحداد الواجب على المتوفى عنها زوجها ولو صغيرة ترك لبس مصبوع لزينة وإن خشن.
Peringatan [Dalam menjelaskan makna ihdad secara istilah]: Ihdad yang wajib bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, meskipun masih kecil, adalah meninggalkan pemakaian pakaian yang diwarnai untuk perhiasan, meskipun bahannya kasar.
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………..
ويباح إبريسم لم يصبغ وترك التطيب ولو ليلا والتحلي نهارا بحلي ذهب أو فضة.
Dan diperbolehkan memakai sutra polos (yang tidak diwarnai), serta (wajib) meninggalkan wewangian meskipun di malam hari, dan (wajib) meninggalkan perhiasan di siang hari berupa perhiasan emas atau perak.
ولو نحو خاتم أو قرط أو تحت الثياب للنهي عنه.
Meskipun sejenis cincin, anting-anting, atau dipakai di balik pakaian, karena adanya larangan atas hal tersebut.
ومنه مموه بأحدهما ولؤلؤ ونحوه من الجواهر التي تتحلى بها.
Termasuk di antaranya yang disepuh dengan salah satu dari keduanya (emas/perak), mutiara, dan sejenisnya dari permata yang biasa dijadikan perhiasan.
ومنها العقيق وكذا نحو نحاس وعاج إن كانت من قوم يتحلون بهما.
Termasuk pula batu akik, demikian juga sejenis tembaga dan gading jika ia berasal dari kaum yang biasa berhias dengannya.
وترك الاكتحال بإثمد إلا لحاجة وإن كانت سوداء ودهن شعر رأسها لا سائر البدن.
Dan (wajib) meninggalkan celak ismid kecuali karena hajat (kebutuhan medis) meskipun ia berkulit hitam, serta (meninggalkan) minyak rambut pada kepala, bukan seluruh tubuh.
وحل تنظف بغسل وإزالة وسخ وأكل تنبل.
Dan dihalalkan membersihkan diri dengan mandi, menghilangkan kotoran, serta memakan sirih.
وندب إحداد البائن بخلع أو فسخ أو طلاق ثلاث لئلا يفضي تزيينها لفسادها وكذا الرجعية إن لم ترج عودة بالتزين فيندب.
Disunnahkan berkabung bagi wanita yang ditalak bain dengan khuluk, fasak, atau talak tiga agar berhiasnya tidak menyebabkan kerusakan moralnya. Demikian pula bagi wanita yang ditalak raj'i jika tidak diharapkan rujuknya dengan berhias, maka disunnahkan berkabung.
وتجب على المعتدة بالوفاة وبطلاق بائن أو فسخ ملازمة مسكن كانت فيه عند الموت أو الفرقة إلى انقضاء عدة ولها الخروج نهارا لشراء نحو طعام وبيع غزل ولنحو احتطاب لا ليلا ولو أوله خلافا لبعضهم لكن لها خروج ليلا إلى دار جاره الملاصق لغزل وحديث ونحوهما لكن بشرط أن يكون ذلك بقدر العادة وأن لا يكون عندها من يحدثها ويؤنسها على الأوجه وأن ترجع وتبيت في بيتها.
Wajib bagi wanita yang ber'iddah karena kematian suami, talak bain, atau fasak untuk tetap tinggal di tempat tinggal yang ia tempati saat kematian atau perceraian terjadi hingga 'iddah berakhir. Dan ia boleh keluar pada siang hari untuk membeli makanan, menjual hasil pintalan, atau mencari kayu bakar, tetapi tidak boleh pada malam hari meskipun di awal malam—berbeda dengan pendapat sebagian ulama. Namun ia boleh keluar di malam hari ke rumah tetangga yang menempel untuk memintal benang, berbincang-bincang, dan sejenisnya, dengan syarat hal tersebut dilakukan sebatas kebiasaan, dan tidak ada di rumahnya orang yang menemaninya berbincang dan menghiburnya menurut pendapat yang mu'tamad (al-awjah), serta ia harus kembali dan menginap di rumahnya sendiri.
أما الرجعية فلا تخرج إلا بإذنه أو لضرورة لان عليه القيام بجميع مؤنها كالزوجة ومثلها بائن حامل.
Adapun wanita yang ditalak raj'i, maka ia tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suaminya atau karena darurat, sebab suami wajib menanggung seluruh nafkahnya sebagaimana istri biasa; dan begitu pula wanita yang ditalak bain yang sedang hamil.
وتنتقل من المسكن لخوف على نفسها أو ولدها أو على المال ولو
Dan wanita yang menjalani masa iddah boleh berpindah dari tempat tinggalnya karena takut terhadap keselamatan dirinya, anaknya, atau hartanya, meskipun…
وتعتد غيرها بنصف وكمل الطهر الثاني وتعتدان بوضع حمل وتصدق في انقضاء عدة أمكن,
Dan selain wanita merdeka menjalani iddah setengah (dari iddah merdeka) dan disempurnakan suci yang kedua. Keduanya (merdeka dan budak) menjalani iddah dengan melahirkan kandungan, dan dibenarkan (perkataan wanita) mengenai habisnya masa iddah jika memungkinkan,
لغيرها كوديعة وإن قل وخوف هدم أو حرق أو سارق أو تأذت بالجيران أذى شديدا.
milik orang lain seperti barang titipan, meskipun sedikit, atau karena takut akan robohnya rumah, kebakaran, pencuri, atau terganggu oleh tetangga dengan gangguan yang berat.
وعلى الزوج سكنى المفارقة ولو بأجرة ما لم تكن ناشزة وليس له مساكنتها ولا دخول محل هي فيه مع انتفاء نحو المحرم فيحرم عليه ذلك ولو أعمى وإن كان الطلاق رجعيا لان ذلك يجر إلى الخلوة المحرمة بها ومن ثم لزمها منعه إن قدرت عليه.
Wajib bagi suami menyediakan tempat tinggal bagi wanita yang diceraikannya, meskipun dengan menyewa, selama wanita itu tidak nasyizah (durhaka). Suami tidak boleh tinggal bersamanya dan tidak boleh memasuki tempat wanita itu berada jika tidak ada mahram (atau sejenisnya). Maka diharamkan hal itu baginya meskipun ia buta dan meskipun talaknya adalah talak raj'i, karena hal itu memicu terjadinya khalwat (berduaan) yang diharamkan bersamanya. Oleh karena itu, wajib bagi si wanita untuk mencegahnya jika ia mampu.
وكما تعتد حرة بما ذكر تعتد غيرها أي غير الحرة بنصف من عدة الحرة لأنها على النصف في كثير من الأحكام وكمل الطهر الثاني إذ لا يظهر نصفه إلا بظهور كله فلا بد من الانتظار إلى أن يعود الدم.
Sebagaimana wanita merdeka menjalani iddah sebagaimana yang telah disebutkan, wanita selain merdeka (yaitu budak wanita) menjalani iddah setengah dari masa iddah wanita merdeka, karena hukum baginya adalah separuh dalam banyak ketentuan hukum. Masa suci yang kedua disempurnakan, sebab separuh dari suci tidak tampak kecuali dengan tampaknya keseluruhan masa suci tersebut, sehingga harus menunggu sampai darah (haid) datang kembali.
وتعتدان أي الحرة والأمة لوفاة أو غيرها وإن كانتا تحيضان بوضع حمل حملتا لصاحب العدة ولو مضغة تتصور لو بقيت لا بوضع علقة.
Keduanya—yaitu wanita merdeka dan budak wanita—baik karena kematian (suami) maupun selainnya, sekalipun keduanya biasanya mengalami haid, masa iddahnya selesai dengan melahirkan kandungan yang dikandungnya dari pemilik iddah tersebut, meskipun berupa segumpal daging (mudhghah) yang sekiranya tetap ada akan terbentuk menjadi manusia, bukan dengan melahirkan segumpal darah ('alaqah).
فرع: يلحق ذا العدة الولد إلى أربع سنين موقت طلاقه لا إن أتت به بعد نكاح لغير ذي العدة وإمكان
Cabang masalah: Anak dinasabkan kepada pemilik iddah sampai batas waktu empat tahun dari waktu talaknya; bukan jika wanita itu melahirkannya setelah menikah dengan orang lain selain pemilik iddah dan dimungkinkannya…
لان يكون منه بأن أتت به لستة أشهر بعد نكاحه.
anak itu berasal darinya, yaitu wanita itu melahirkannya setelah enam bulan dari pernikahannya.
وتصدق المرأة في دعوى انقضاء عدة بغير أشهر إن أمكن
Dibenarkan pengakuan wanita mengenai habisnya masa iddah (yang dihitung) bukan dengan bulan, jika memungkinkan…
ولا يقبل دعواها عدم انقضائها بعد تزوج,
Dan tidak diterima pengakuannya bahwa iddahnya belum habis setelah ia menikah (dengan laki-laki lain),
انقضاؤها وإن خالفت عدتها أو كذبها الزوج إذ يعسر عليها إقامة البينة بذلك ولأنها مؤتمنة على ما في رحمها وإمكان الانقضاء بالولادة ستة أشهر ولحظتان وبالأقراء لحرة طلقت في طهر اثنان وثلاثون يوما ولحظتان وفي حيض سبعة وأربعون يوما ولحظة.
habisnya iddah tersebut, meskipun ia menyalahi kebiasaan iddahnya atau didustakan oleh suaminya, karena sulit baginya untuk mengajukan bukti (bayyinah) atas hal tersebut, dan karena ia dipercaya atas apa yang ada di dalam rahimnya. Kemungkinan habisnya iddah dengan melahirkan adalah enam bulan ditambah dua kejap mata, dan dengan quru' (masa suci/haid) bagi wanita merdeka yang ditalak pada masa suci adalah 32 hari ditambah dua kejap mata, dan pada masa haid adalah 47 hari ditambah satu kejap mata.
فائدة: ينبغي تحليف المرأة على انقضاء العدة.
Catatan: Sepatutnya wanita diambil sumpahnya atas habisnya masa iddah.
ولا يقبل دعواها أي المرأة.
Dan tidak diterima pengakuannya, yaitu pengakuan si wanita,
عدم انقضائها أي العدة.
mengenai belum habisnya, yaitu masa iddahnya,
بعد تزوج الآخر لان رضاها بالنكاح يتضمن الاعتراف بانقضاء العدة فلو ادعت بعد الطلاق الدخول فأنكر
setelah menikah dengan orang lain, karena kerelaannya untuk menikah mengandung pengakuan akan habisnya masa iddah. Maka jika ia mengklaim setelah ditalak bahwa telah terjadi jima' (dukhul) lalu suami menolaknya,
صدق بيمينه لان الأصل عدمه وعليها العدة مؤاخذة لها بإقرارها وإن رجعت وكذبت نفسها في دعوى الدخول لان الإنكار بعد الإقرار غير مقبول.
suami dibenarkan dengan sumpahnya karena hukum asalnya adalah belum terjadi jima', dan wanita tersebut wajib menjalani iddah sebagai penindakan atas pengakuannya sendiri, meskipun ia meralat dan mendustakan dirinya sendiri mengenai klaim persetubuhan tersebut, karena pengingkaran setelah pengakuan tidaklah diterima.
فرع: لو انقضت عدة الرجعية ثم نكحت آخر فادعى مطلقها عليها أو على الزوج الثاني الرجعية قبل انقضاء العدة فأثبت ذلك ببينة أو لم يثبت لكن أقرا: أي الزوجة والثاني له به أخذها لأنه قد ثبت بالبينة أو الإقرار ما يستلزم فساد النكاح ولها عليه بالوطء مهر المثل.
Cabang masalah: Apabila masa iddah wanita yang ditalak raj'i telah habis kemudian ia menikah dengan laki-laki lain, lalu mantan suaminya mengklaim kepadanya atau kepada suami kedua bahwa ia telah merujuknya sebelum habis masa iddah, lalu mantan suami tersebut membuktikannya dengan saksi (bayyinah) atau tidak membuktikannya tetapi keduanya—yaitu istri dan suami kedua—mengakuinya, maka mantan suami berhak mengambilnya kembali, karena telah tetap dengan saksi atau pengakuan hal yang meniscayakan batalnya pernikahan tersebut, dan bagi wanita tersebut berhak mendapatkan mahar mitsil dari suami kedua atas persetubuhan yang telah terjadi.
وتنقطع عدة بمخالطة رجعية فيها,
Masa iddah terputus dengan pergagulan (mukhalathah) terhadap wanita yang ditalak raj'i di dalamnya,
فلو أنكر الثاني الرجعة صدق بيمينه في إنكارها لان النكاح وقع صحيحا والأصل عدم الرجعة.
Jika suami kedua mengingkari adanya rujuk (yang dilakukan suami pertama), maka pernyataan suami kedua dibenarkan dengan sumpahnya dalam pengingkaran tersebut, karena pernikahan (kedua) terjadi secara sah dan hukum asalnya adalah tidak adanya rujuk.
أو أقرت هي دون الثاني فلا يأخذها لتعلق حق الثاني حتى تبين من الثاني إذ لا يقبل إقرارها عليه بالرجعة ما دامت في عصمته لتعلق حقه بها.
Atau jika wanita itu mengakui adanya rujuk tanpa diakui suami kedua, maka suami pertama tidak boleh mengambilnya kembali karena terikatnya hak suami kedua sampai wanita itu berpisah (bain) dari suami kedua, sebab pengakuannya mengenai rujuk tidak dapat diterima atas suami kedua selama wanita itu berada dalam ikatan perikahannya karena terikatnya hak suami kedua padanya.
أما إذا بانت منه فتسلم للأول بلا عقد وأعطت وجوبا الأول قبل بينونتها مهر المثل للحيلولة الصادرة منها بينه وبين حقه بالنكاح الثاني حتى لو زال أخذت المهر لارتفاع الحيلولة.
Adapun jika ia telah berpisah (bain) dari suami kedua, maka ia diserahkan kepada suami pertama tanpa akad baru, dan sebelum perpisahannya itu wanita tersebut wajib memberikan mahar mithil kepada suami pertama sebagai ganti atas penghalangan yang dilakukannya antara suami pertama dan haknya akibat pernikahan kedua; hingga jika penghalangan itu hilang, wanita tersebut mengambil kembali mahar tersebut karena telah hilangnya penghalangan.
ولو تزوجت امرأة كانت في حيالة زوج بأن ثبت ذلك ولو بإقرارها به قبل نكاح الثاني فادعى عليها الأول بقاء نكاحه وأنه لم يطلقها وهي تدعي أنه طلقها وانقضت عدتها منه قبل أن تنكح الثاني ولا بينة بالطلاق فحلف أنه لم يطلقها أخذها من الثاني لأنها أقرت له بالزوجية وهو إقرار صحيح إذ لم يتفقا على الطلاق. وتنقطع عدة بغير حمل بمخالطة مفارق لمفارقة رجعية فيها لا بائن ولو بخلع كمخالطة الزوج زوجته بأن كان يختلي بها ويتمكن عليها ولو في الزمن اليسير سواء أحصل وطئ أم لا فلا تنقضي العدة.
Sekiranya seorang wanita yang berada dalam kekuasaan (ikatan) seorang suami menikah—yang mana hal itu terbukti meskipun dengan pengakuannya sendiri sebelum pernikahan kedua—lalu suami pertama mengklaim bahwa pernikahannya masih berlangsung dan ia belum menceraikannya, sementara wanita itu mengklaim bahwa suami pertama telah menceraikannya dan masa idahnya telah habis darinya sebelum ia menikah dengan suami kedua, padahal tidak ada bukti (bayyinah) atas talak tersebut, kemudian suami pertama bersumpah bahwa ia tidak menceraikannya, maka suami pertama berhak mengambilnya dari suami kedua karena wanita itu telah mengakui hubungan suami-istri kepadanya, dan itu adalah pengakuan yang sah sebab keduanya tidak sepakat mengenai talak. Dan terputuslah masa idah (bukan karena hamil) akibat pergaulan dari suami yang memisahkan wanita tersebut dalam ikatan talak raj'i, bukan talak bain meskipun dengan khuluk, sebagaimana pergaulan suami terhadap istrinya, yaitu dengan berduaan (khalwat) bersamanya dan memiliki kesempatan atas dirinya meskipun dalam waktu yang sebentar, baik terjadi persetubuhan (wathi) maupun tidak, maka masa idah tersebut tidak berakhir.
لكن إذا زالت المعاشرة بأن نوى أنه لا يعود إليها كملت على ما مضى وذلك لشبهة الفراش كما لو نكحها حائلا في العدة فلا
Akan tetapi, jika pergaulan tersebut telah berakhir, yaitu dengan berniat bahwa ia tidak akan kembali kepadanya, maka wanita itu menyempurnakan sisa masa idah yang lalu. Hal itu dikarenakan adanya syubhat hubungan (firasj), sebagaimana jika ia menikahinya dalam keadaan haid/penghalang di masa idah, maka tidak…
ولا رجعة بعدها.
Dan tidak ada rujuk setelahnya.
يحسب زمن استفراشه عنها بل تنقطع من حين الخلوة ولا يبطل بها ما مضى فتبني عليه إذا زالت ولا يحسب الأوقات المتخللة بين الخلوات.
…dihitung masa ia menggaulinya darinya, melainkan terputus sejak terjadinya khalwat, namun hal itu tidak membatalkan masa idah yang telah berlalu sebelumnya, sehingga ia melanjutkannya jika pergaulan itu hilang, dan waktu-waktu di antara khalwat tidak dihitung.
ولكن لا رجعة له عليها بعدها أي بعد العدة بالأقراء أو الأشهر على المعتمد وإن لم تنقض عدتها لكن يلحقها الطلاق إلى انقضائها والذي رجحه البلقيني أنه لا مؤنة لها بعدها وجزم به غيره فقال: لا توارث بينهما ولا يحد بوطئها.
Akan tetapi suami tidak berhak merujuknya setelah itu, yaitu setelah berlalunya masa idah dengan hitungan suci (aqra') atau bulan menurut pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan), walaupun masa idahnya belum benar-benar selesai. Namun talak masih bisa jatuh kepadanya sampai berakhirnya masa idah tersebut. Pendapat yang dirajihkan oleh Al-Bulqini adalah bahwa ia tidak berhak mendapat nafkah setelahnya, dan ditegaskan oleh ulama lain yang menyatakan: Tidak ada saling mewarisi di antara keduanya dan suami tidak dijatuhi hukuman had jika menggaulinya.
تتمة [في بيان تداخل العدتين] : لو اجتمع عدتا شخص على امرأة بأن وطئ مطلقته الرجعية مطلقا أو البائن بشبهة تكفي عدة أخيرة منهما فتعتد هي من فراغ الوطء وتندرج فيها بقية الأولى فإن كرر الوطء استأنفت أيضا لكن لا رجعة حيث لم يبق من الأولى بقية.
Tatimmah (Pelengkap) [tentang penjelasan saling tumpang tindihnya dua idah]: Jika berkumpul dua masa idah dari satu orang laki-laki terhadap seorang wanita, yaitu dengan menggauli wanita yang dicerai raj'i secara mutlak atau dicerai bain secara syubhat, maka cukup satu masa idah yang terakhir dari keduanya. Wanita tersebut menjalani masa idah dari selesainya persetubuhan (wathi) dan sisa masa idah yang pertama masuk di dalamnya. Jika laki-laki tersebut mengulangi persetubuhan, wanita tersebut memulai lagi idah baru, akan tetapi tidak ada rujuk apabila dari idah yang pertama sudah tidak tersisa lagi.
فرع: في حكم الاستبراء.
Cabang Masalah: Mengenai Hukum Istibra'.
وهو شرعا تربص بمن فيها رق عند وجود سبب مما يأتي للعلم ببراءة رحمها أو للتعبد.
Istibra' secara syariat adalah masa menanti bagi wanita yang memiliki status perbudakan ketika terdapat sebab dari sebab-sebab yang akan disebutkan mendatang, untuk mengetahui kebersihan rahimnya atau sebagai bentuk ibadah (ta'abbudi).
يجب استبراء لحل بملك أمة وإن تيقن براءة رحم وبزوال فراش عن أمة موطوءة أو مستولدة بعتقها ولا يصح تزويج موطوءته قبل استبراء,
Wajib melakukan istibra' demi kehalalan dengan kepemilikan seorang budak wanita meskipun diyakini kebersihan rahimnya, dan dengan hilangnya ikatan perhambaan/pernikahan dari budak wanita yang pernah digauli atau ummul walad dengan sebab kemerdekaannya. Dan tidak sah menikahkan budak wanita yang pernah digaulinya sebelum dilakukan istibra'.
يجب استبراء لحل تمتع أو تزويج بملك أمة ولو معتدة بشراء أو إرث أو وصية أو هبة مع قبض أو
Wajib melakukan istibra' demi kehalalan bersenang-senang (tamattu') atau menikahkan dengan sebab kepemilikan budak wanita, meskipun budak tersebut sedang dalam masa idah, baik melalui pembelian, warisan, wasiat, atau hibah beserta serah terima (qabd), atau…
سبي بشرطه من القسمة أو اختيار تملك.
…pampasan perang (sabi) dengan syaratnya, yaitu pembagian atau pilihan kepemilikan.
وإن تيقن براءة رحم كصغيرة وبكر وسواء أملكها من صبي أم امرأة أم من بائع استبرأها قبل البيع فيجب فيما ذكر بالنسبة لحل التمتع.
Meskipun diyakini kebersihan rahimnya seperti anak kecil dan perawan, dan baik ia memilikinya dari anak kecil, wanita, maupun dari penjual yang telah meng-istibra'-kannya sebelum penjualan. Maka wajib pada hal-hal yang telah disebutkan itu berkenaan dengan kehalalan bersenang-senang.
وبزوال فراش له عن أمة موطوءة غير مستولدة أو مستولدة بعتقها: أي بإعتاق السيد كل واحدة منهما أو موته لا إن استبرأ قبيل إعتاق غير مستولدة ممن زال عنها الفراش فلا يجب بل تتزوج حالا إذ لا تشبه هذه منكوحة بخلاف المستولدة.
Dan (wajib istibra') dengan hilangnya ikatan pergaulan baginya dari budak wanita yang pernah digauli yang bukan ummul walad, atau ummul walad dengan kemerdekaannya: yaitu dengan pemerdekaan yang diberikan tuannya kepada masing-masing dari keduanya atau karena kematian tuannya. Tidak wajib jika ia telah di-istibra' sebelum pemerdekaan budak yang bukan ummul walad dari mereka yang telah hilang ikatannya, maka tidak wajib bahkan boleh langsung menikah saat itu juga, sebab ia tidak menyerupai wanita yang dinikahi, berbeda halnya dengan ummul walad.
ويحرم بل لا يصح تزويج موطوءته أي المالك قبل مضي إستبراء حذر من اختلاط الماءين أما غير موطوءته فإن كانت غير موطوءة لأحد فله تزويجها مطلقا أو موطوءة غيره فله تزويجها ممن الماء منه وكذا من غيره إن كان الماء غير محترم أو مضت مدة الاستبراء منه.
Dan haram bahkan tidak sah menikahkan budak wanita yang digaulinya—yaitu oleh pemiliknya—sebelum berlalu masa istibra' demi menjaga tercampurnya dua mani (sperma). Adapun budak wanita yang tidak digaulinya: jika tidak pernah digauli oleh siapa pun maka ia boleh menikahkannya secara mutlak; atau jika digauli oleh orang lain maka ia boleh menikahkannya dengan orang yang pemilik sperma tersebut, demikian pula dengan selainnya jika sperma tersebut tidak dihormati (bukan dari pernikahan sah/syubhat) atau jika masa istibra' darinya telah berlalu.
ولو أعتق موطوءته فله نكاحها بلا استبراء.
Seandainya seseorang memerdekakan budak wanita yang telah digaulinya, maka ia boleh menikahinya tanpa perlu melakukan istibra' (penyucian rahim).
وهو لذات أقراء حيضة ولذات أشهر شهر ولحامل لا تعتد بالوضع وضعه.
Istibra' bagi wanita yang mempunyai haid adalah satu kali haid, bagi wanita yang menggunakan hitungan bulan adalah satu bulan, dan bagi wanita hamil yang idahnya tidak menggunakan persalinan adalah dengan melahirkan kandungannya.
وتصدق في قولها حضت,
Dan ia (budak wanita) dibenarkan dalam ucapannya, "Aku telah haid,"
وهو أي الاستبراء لذات أقراء حيضة كاملة فلا تكفي بقيتها الموجودة حالة وجوب الاستبراء ولو وطئها في الحيض فحبلت منه فإن كان قبل مضي أقل الحيض انقطع الاستبراء وبقي التحريم إلى الوضع كما حبلت من وطئه وهي طاهرة.
Yaitu —maksudnya istibra'— bagi wanita yang memiliki haid adalah satu kali haid sempurna, sehingga sisa haid yang ada pada saat wajibnya istibra' tidaklah mencukupi. Dan seandainya ia menggaulinya saat haid lalu wanita itu hamil darinya, jika hal itu terjadi sebelum berlalu batas minimal haid, maka istibra' tersebut terputus dan keharaman (bersetubuh) tetap berlangsung hingga melahirkan, sebagaimana jika ia hamil dari jima'nya dalam keadaan suci.
وإن حبلت بعد مضي أقله كفى في الاستبراء لمضي حيض كامل لها قبل الحمل.
Namun jika ia hamil setelah berlalu batas minimal haid, maka itu sudah mencukupi dalam istibra' karena telah berlalu satu haid sempurna baginya sebelum kehamilan.
ولذات أشهر من صغيرة أو آيسة شهر ولحامل لا تعتد بالوضع أي بوضع الحمل وهي التي حملها من الزنا أو المسبية الحامل أو التي هي حامل من السيد وزال عنها فراشه بعتق سواء الحامل المستولدة وغيرها وضعه أي الحمل.
Dan bagi wanita yang menggunakan hitungan bulan —baik anak kecil maupun wanita menopause— adalah satu bulan. Dan bagi wanita hamil yang tidak menjalani idah dengan melahirkan —yaitu wanita yang hamilnya dari perzinaan, atau wanita tawanan perang (masbiyyah) yang sedang hamil, atau wanita yang hamil dari tuannya lalu hubungan perkawinannya terputus sebab kemerdekaan, baik wanita hamil tersebut adalah ummul walad maupun selainnya— adalah melahirkan kandungannya, yaitu janin tersebut.
فرع: لو اشترى نحو وثنية أو مرتدة فحاضت ثم بعد فراغ الحيض أو في أثنائه ومثله الشهر في ذات الأشهر أسلمت لم يكف حيضها أو نحوه في الاستبراء لأنه لا يستعقب حل التمتع الذي هو القصد في الاستبراء. وتصدق المملوكة بلا يمين في قولها حضت لأنه لا يعلم إلا
Cabang masalah: Seandainya seseorang membeli semisal wanita penyembah berhala atau wanita murtad, lalu ia mengalami haid, kemudian setelah selesai haid atau di tengah-tengahnya —begitu pula hitungan bulan bagi wanita yang menggunakan hitungan bulan— wanita itu masuk Islam, maka haidnya atau sejenisnya itu tidak mencukupi untuk istibra', karena tidak berakibat pada kehalalan bersenang-senang yang merupakan tujuan utama dari istibra'. Dan budak wanita dibenarkan tanpa sumpah dalam ucapannya bahwa ia telah haid, karena hal itu tidak dapat diketahui kecuali
وحرم في غير مسبية تمتع قبل استبراء.
Dan diharamkan pada selain wanita tawanan perang (masbiyyah) melakukan bersenang-senang sebelum istibra'.
منها وحرم في غير مسبية تمتع ولو بنحو نظر بشهوة ومس قبل تمام استبراء لأدائه إلى الوطء المحرم ولاحتمال أنها حامل بحر فلا يصح نحو بيعها نعم تحل له الخلوة بها.
darinya. Dan diharamkan pada selain wanita tawanan perang melakukan bersenang-senang —meskipun dengan sekadar memandang dengan syahwat dan menyentuh— sebelum sempurnanya istibra', karena dapat mengarah pada persetubuhan yang diharamkan, dan karena adanya kemungkinan bahwa ia sedang mengandung anak dari orang merdeka sehingga tidak sah semisal menjualnya; namun demikian, ia boleh berdua-duaan (khalwat) dengannya.
أما في المسبية فيحرم الوطء لا الاستمتاع بغيره من تقبيل ومس لأنه ص لم يحرم منها غيره مع غلبة امتداد الأعين والأيدي إلى مس الإماء سيما الحسان ولان ابن عمر ﵁ قبل أمة وقعت في سهمه من سبايا أوطاس.
Adapun pada wanita tawanan perang (masbiyyah), maka diharamkan melakukan persetubuhan, tetapi tidak diharamkan bersenang-senang selain persetubuhan seperti mencium dan menyentuh, karena Nabi ﷺ tidak mengharamkan selain persetubuhan darinya, padahal secara umum pandangan dan tangan cenderung untuk menyentuh para budak wanita, terutama yang cantik. Serta karena Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah mencium seorang budak wanita yang menjadi bagiannya dari para tawanan perang Authas.
وألحق الماوردي وغيره بالمسبية في حل الاستمتاع بغير الوطء كل من لا يمكن حملها كصبية وآيسة وحامل من زنا.
Al-Mawardi dan ulama lainnya menyamakan hukum wanita tawanan perang dalam hal kehalalan bersenang-senang selain persetubuhan kepada setiap wanita yang tidak memungkinkan untuk hamil, seperti anak kecil, wanita menopause, dan wanita yang hamil dari perzinaan.
فرع: لا تصير أمة فراشا لسيدها إلا بوطء منه في قبلها ويعلم ذلك بإقراره به أو ببينة فإذا ولدت للإمكان
Cabang masalah: Seorang budak wanita tidak menjadi hamparan (firasy) bagi tuannya melainkan dengan persetubuhan darinya pada kemaluannya, dan hal itu diketahui melalui pengakuannya atau bukti persaksian (bayyinah). Maka apabila ia melahirkan anak pada waktu yang memungkinkan
من وطئه ولدا لحقه وإن لم يعترف به.
dari persetubuhannya, maka anak tersebut dinisbatkan kepadanya meskipun ia tidak mengakuinya.