فصل في النفقة
فصل في النفقة
Pasal tentang Nafkah
فصل في النفقة
Pasal tentang Nafkah
من الإنفاق وهو الإخراج.
Berasal dari kata al-infaq yang berarti mengeluarkan harta.
يجب لزوجة مكنت ولو رجعية
Wajib bagi seorang istri yang telah menyerahkan diri (tamkin), meskipun wanita yang berada dalam talak raj'i,
يجب المد الآتي وما عطف عليه لزوجة أو أمة ومريضة مكنت من الاستمتاع بها ومن نقلها إلى حيث شاء عند أمن الطريق والمقصد ولو بركوب بحر غلبت فيه السلامة فلا تجب بالعقد خلافا للقديم وإنما تجب بالتمكين يوما فيوما ويصدق هو بيمينه في عدم التمكين وهي في عدم النشوز والإنفاق عليها.
Wajib kadar mud yang akan disebutkan berikut beserta apa yang di'athafkan kepadanya untuk seorang istri, budak perempuan, atau wanita sakit yang telah menyerahkan diri untuk digauli dan untuk dipindahkan ke mana pun suami kehendaki ketika jalan dan tujuan aman, meskipun dengan mengarungi lautan yang umumnya aman. Maka nafkah tidak menjadi wajib hanya dengan akad nikah, berbeda dengan pendapat qadim (Imam Syafi'i). Nafkah itu hanya wajib sebab tamkin (penyerahan diri) hari demi hari. Suami dibenarkan beserta sumpahnya mengenai tidak adanya tamkin, sedangkan istri dibenarkan (dengan sumpah) mengenai tidak adanya nusyuz dan dalam hal pemberian nafkah kepadanya.
وإذا مكنت من يمكن التمتع بها ولو من بعض الوجوه وجبت مؤنها١ ولو كان الزوج طفلا لا يمكن جماعه: إذ لا منع من جهتها وإن عجزت عن وطئ بسبب غير الصغر كرتق أو مرض أو جنون لا إن عجزت بالصغر بأن كانت طفلة لا تحتمل الوطء فلا نفقة لها وإن سلمها الولي إلى الزوج إذ لا يمكن التمتع بها كالناشزة بخلاف من تحتمله ويثبت ذلك بإقراره وبشهادة البينة به أو بأنها في غيبته باذلة للطاعة ملازمة للمسكن ونحو ذلك ولها مطالبته بها إن أراد سفرا طويلا.
Jika seorang wanita yang memungkinkan untuk digauli—meskipun hanya dari sebagian segi—telah menyerahkan dirinya, maka wajib dinafkahinya, meskipun suaminya masih anak-anak yang belum memungkinkan bersetubuh, karena tidak ada penghalang dari pihak wanita tersebut. Demikian juga jika si wanita tidak mampu disetubuhi karena sebab selain usia kecil, seperti rataq (vagina tersumbat), sakit, atau gila. Berbeda jika ia tidak mampu bersetubuh karena masih kecil, yaitu berupa anak kecil yang belum kuat disetubuhi, maka tidak ada nafkah baginya meskipun walinya menyerahkannya kepada suami, karena ia tidak memungkinkan untuk digauli, sebagaimana halnya wanita yang nusyuz; berbeda dengan anak kecil yang sudah kuat disetubuhi. Hal tersebut terbukti dengan pengakuan suami, dengan kesaksian para saksi atas hal itu, atau bahwa selama ketidakhadiran suami, wanita tersebut tetap bersedia taat, menetap di rumah, dan sejenisnya. Bagi istri berhak menuntut nafkah tersebut jika suami hendak melakukan perjalanan jauh.
ولو رجعية وإن كانت حائلا أي يجب لها ما ذكر ما عدا آلة التنظيف لبقاء حبسه لها وقدرته على التمتع بها بالرجعة ولامتناعه عنها لم يجب لها آلة التنظيف.
Meskipun wanita yang ditalak raj'i, sekalipun ia tidak hamil, maksudnya tetap wajib baginya apa yang telah disebutkan selain alat-alat pembersih diri, karena tetapnya penahanan suami atas dirinya dan kemampuannya untuk menggaulinya kembali melalui rujuk. Namun karena suami menahan diri darinya, maka tidak wajib memberikan alat pembersih baginya.
ويسقط مؤنتها ما يسقط مؤنة الزوجة كالنشوز.
Nafkahnya gugur oleh hal-hal yang menggugurkan nafkah istri, seperti nusyuz.
مد طعام على معسر ولو مكتسبا ورقيق ومدان على موسر ومد ونصف على متوسط,
Satu mud makanan bagi orang miskin (tidak mampu), meskipun bekerja, atau seorang budak; dua mud bagi orang kaya; dan satu setengah mud bagi orang yang berpenghasilan menengah,
وتصدق في قدر أقرائها بيمين إن كذبها وإلا فلا يمين.
Dan wanita tersebut dibenarkan mengenai kadar masa suci/haidnya beserta sumpah jika suami mendustakannya, jika tidak mendustakannya maka tidak perlu sumpah.
وتجب النفقة أيضا لمطلقة حامل بائن بالطلاق الثلاث أو الخلع أو الفسخ بغير مقارن وإن مات الزوج قبل الوضع ما لم تنشز.
Nafkah juga wajib bagi wanita hamil yang ditalak ba'in dengan talak tiga, khulu', atau fasakh tanpa perbandingan, meskipun suami meninggal dunia sebelum wanita itu melahirkan, selama ia tidak nusyuz.
ولو أنفق بظنه فبان عدمه رجع عليها أما إذا بانت الحامل بموته فلا نفقة وكذا لا نفقة لزوجة تلبست بعدة شبهة بأن وطئت بشبهة وإن لم تحبل لانتفاء التمكين إذ يحال بينه وبينها إلى انقضاء العدة.
Jika suami memberi nafkah karena menduga istrinya hamil lalu ternyata tidak hamil, maka suami dapat meminta kembali nafkah tersebut darinya. Adapun jika wanita hamil tersebut terpisah sebab kematian suami, maka tidak ada nafkah baginya. Demikian pula tidak ada nafkah bagi istri yang sedang menjalani idah syubhat karena disetubuhi secara syubhat meskipun tidak hamil, disebabkan ketiadaan tamkin (penyerahan diri), sebab hubungan antara suami dan istri terhalang hingga berakhirnya masa idah.
ثم الواجب لنحو زوجة ممن مر مد طعام١ من غالب قوت محل إقامتها لا إقامته ويكفي دفعه من غير إيجاب وقبول كالدين في الذمة.
Kemudian kewajiban bagi sejenis istri dari orang-orang yang telah disebutkan adalah satu mud makanan dari makanan pokok yang berlaku umum di tempat tinggal si istri, bukan tempat tinggal suami. Cukup dengan menyerahkannya tanpa perlu ijab dan kabul, sebagaimana pelunasan utang dalam tanggungan.
قال شيخنا: ومنه يؤخذ أن الواجب هنا عدم الصارف لا قصد الأداء خلافا لابن المقري ومن تبعه.
Guru kami berkata: Dari hal tersebut dapat dipahami bahwa yang diwajibkan di sini adalah tidak adanya niat yang memalingkan, bukan niat menunaikan (qashad al-ada'), berbeda dengan pendapat Ibn Al-Muqri dan orang-orang yang mengikutinya.
على معسر ولو بقوله ما لم يتحقق له مال وهو من لا يملك ما يخرجه عن المسكنة ولو مكتسبا وإن قدر على كسب واسع.
Kewajiban tersebut ditanggung oleh orang miskin (mu'sir) meskipun hanya berdasarkan pengakuannya selama belum dipastikan ia memiliki harta. Orang yang mu'sir adalah orang yang tidak memiliki harta yang membebaskannya dari kriteria kemiskinan, meskipun ia memiliki pekerjaan dan mampu mendapatkan penghasilan yang lapang.
وعلى رقيق ولو مكاتبا وإن كثر ماله.
Dan wajib atas hamba sahaya (yang menjadi suami), meskipun hamba mukatab dan meskipun hartanya banyak (yaitu kewajiban satu mud).
ومدان على موسر وهو من لا يرجع بتكليفه مدين معسرا.
Dan wajib dua mud atas suami yang berkecukupan (mushir), yaitu orang yang tidak menjadi miskin dengan pembebanan dua mud tersebut.
ومد ونصف على متوسط وهو من يرجع بذلك معسرا.
Dan wajib satu setengah mud atas suami yang berpenghasilan sedang (mutawassith), yaitu orang yang akan menjadi miskin jika dibebani (dua mud).
إن لم تؤاكله بأدم
Jika istri tidak makan bersamanya dengan lauk-pauk
وإنما تجب النفقة وقت طلوع فجر كل يوم فيوم إن لم تؤاكله على العادة برضاها وهي رشيدة فلو أكلت معه دون الكفاية وجب لها تمام الكفاية على الأوجه.
Sesungguhnya nafkah itu wajib pada saat terbit fajar setiap harinya jika istri tidak makan bersama suami sebagaimana kebiasaan atas kerelaannya sedangkan ia sudah dewasa (rasyidah). Apabila ia makan bersama suami kurang dari batas kecukupan, maka wajib bagi suami menyempurnakan batas kecukupannya menurut pendapat yang kuat (al-awjah).
وتصدق هي في قدر ما أكلته.
Dan pengakuan istri dibenarkan mengenai kadar makanan yang telah dimakannya.
ولو كلفها مؤاكلته من غير رضاها أو واكلته غير رشيدة بلا إذن ولي فلا تسقط نفقتها به وحينئذ هو متطوع فلا رجوع له بما أكلته خلافا للبلقيني ومن تبعه.
Apabila suami membebankan istri untuk makan bersamanya tanpa kerelaannya, atau istri makan bersamanya dalam keadaan tidak rasyidah (belum dewasa/cakap) tanpa izin walinya, maka nafkah istri tidak gugur dengannya. Dalam kondisi demikian, suami dianggap berderma (mutathawwi') sehingga ia tidak dapat meminta kembali apa yang telah dimakan istri, berbeda dengan pendapat Al-Bulqini dan pengikutnya.
ولو زعمت أنه متطوع وزعم أنه مؤد عن النفقة صدق بيمينه على الأوجه.
Apabila istri mengklaim bahwa suami berderma (sukarela) sedangkan suami mengklaim bahwa ia memberikan makanan itu sebagai pemenuhan nafkah, maka pengakuan suami dibenarkan beserta sumpahnya menurut pendapat yang kuat (al-awjah).
وفي شرح المنهاج: لو أضافها رجل إكراما له سقطت نفقتها ويكلف من أراد سفرا طويلا طلاقها وتوكيل من ينفق عليها من مال حاضر.
Dalam Syarh al-Minhaj disebutkan: Jika seseorang menjamu istri tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada suaminya, maka gugurlah nafkahnya. Dan barang siapa yang hendak melakukan perjalanan jauh (safar thawil), ia diwajibkan untuk menjatuhkan talak atau mewakilkan seseorang yang akan memberi nafkah kepada istrinya dari harta yang ada.
ويجب ما ذكر بأدم أي مع أدم اعتيد وإن لم تأكله كسمن وزيت وتمر ولو تنازعا فيه أو في اللحم الآتي قدره قاض باجتهاده مفاوتا في قدر ذلك بين الموسر وغيره وتقدير الحاوي كالنص بأوقية١ زيت أو سمن تقريب. ويجب أيضا لحم اعتيد قدرا ووقتا بحسب يساره وإعساره وإن لم تأكله أيضا فإن اعتيد مر في الأسبوع فالأولى كونه يوم الجمعة أو
Dan wajib apa yang telah disebutkan itu disertai dengan 'udm (lauk-pauk) yang lazim, meskipun istri tidak memakannya, seperti minyak samin, minyak zaitun, dan kurma. Apabila keduanya berselisih paham tentang lauk-pauk tersebut atau tentang kadar daging yang akan dijelaskan nanti, maka hakim menetapkan kadarnya berdasarkan ijtihadnya dengan membedakan kadar tersebut antara suami yang mampu dan lainnya. Penetapan dalam kitab al-Hawi seperti nash adalah satu uqiyah minyak zaitun atau minyak samin secara perkiraan. Wajib pula memberikan daging yang biasa dikonsumsi secara kadar dan waktu sesuai dengan kemudahan dan kesulitannya (kondisi finansial suami), meskipun istri tidak memakannya juga. Jika kebiasaannya seminggu sekali, maka yang lebih utama adalah pada hari Jumat atau…
وملح وماء شرب ومؤنة وآلة وقميص وإزار وخمار ومكعب
Dan garam, air minum, biaya pengolahan, peralatan, baju kurung (qamish), sarung (izar), kerudung (khimar), serta alas kaki (muka'ab).
مرتين فالجمعة والثلاثاء والنص أيضا رطل١ لحم في الأسبوع على المعسر ورطلان على الموسر محمول على قلة اللحم في أيامه بمصر فيزاد بقدر الحاجة بحسب عادة المحل.
…dua kali seminggu, yaitu hari Jumat dan Selasa. Teks nash juga menyebutkan satu rathal daging per minggu bagi suami yang miskin dan dua rathal bagi yang kaya, ini dipahami atas sedikitnya persediaan daging pada zaman beliau di Mesir, sehingga ditambahkan sesuai kadar kebutuhan mengikut kebiasaan tempat tersebut.
والأوجه أنه لا أدم يوم اللحم إن كفاها غذاء وعشاء وإلا وجب ومع ملح وحطب وماء شرب لتوقف الحياة عليه.
Pendapat yang kuat (al-awjah) adalah bahwa tidak ada lauk-pauk (tambahan) pada hari pembagian daging jika daging tersebut mencukupinya untuk makan siang dan makan malam; jika tidak cukup, maka lauk-pauk tetap wajib. Beserta garam, kayu bakar, dan air minum karena kelangsungan hidup bergantung padanya.
ومع مؤنة كأجرة طحن وعجن وخبز وطبخ ما لم تكن من قوم اعتادوا ذلك بأنفسهم كما جزم به ابن الرفعة والأذرعي وجزم غيرهما بأنه لا فرق.
Dan beserta biaya pengolahan seperti upah menggiling, mengadoni, membuat roti, dan memasak, selama istri bukan berasal dari kaum yang terbiasa melakukan hal itu sendiri, sebagaimana ditegaskan oleh Ibn al-Rif'ah dan Al-Adzra'i, sedangkan ulama lainnya menegaskan bahwa tidak ada perbedaan (tetap wajib biaya pengolahan).
ومع آلة لطبخ وأكل وشرب كقصعة وكوز وجرة وقدر ومغرفة وإبريق من خشب أو خزف أو حجر.
Dan beserta peralatan untuk memasak, makan, dan minum seperti mangkuk besar (qash'ah), cangkir (kuz), tempayan/kendi (jarrah), periuk (qidr), centong (mighrafah), dan teko (ibriq) dari kayu, tembikar, atau batu.
ولا يجب من نحاس وصيني وإن كانت شريفة.
Dan tidak wajib menyediakan peralatan dari tembaga atau keramik porselen, meskipun istri adalah wanita dari kalangan bangsawan/mulia.
ويجب لها على الزوج ولو معسرا أول كل ستة أشهر كسوة تكفيها طولا وضخامة.
Dan wajib bagi suami untuk istrinya, meskipun suami dalam keadaan miskin, pada setiap awal enam bulan sekali berupa pakaian yang mencukupi ukurannya baik panjang maupun besarnya.
فالواجب قميص ما لم تكن ممن اعتدن الإزار والرداء فيجبان دونه على الأوجه.
Maka yang wajib diberikan adalah baju kurung (qamish), selama ia bukan termasuk wanita yang terbiasa memakai sarung (izar) dan selendang (rida'), maka keduanya wajib diberikan sebagai ganti baju kurung menurut pendapat yang kuat (al-awjah).
وإزار وسراويل وخمار أي مقنعة ولو لأمة ومكعب أي:
Serta sarung (kain bagian bawah), celana panjang, khimar (kerudung penutup kepala) meskipun bagi seorang hamba sahaya wanita, dan muk'ab (alas kaki/sepatu tumit/kaus kaki tebal), yaitu:
مع لحاف لشتاء وعليه آلة تنظيف كمشط ودهن
Bersama selimut untuk musim dingin, dan suami wajib menyediakan alat pembersih seperti sisir dan minyak rambut.
ما يلبس في رجلها ويعتبر في نوعه عرف بلدها نعم قال الماوردي إن كانت ممن يعتدن أن لا يلبسن في أرجلهن شيئا في البيوت لا يجب لأرجلها شيء.
(Muk'ab adalah) apa yang dikenakan di kakinya, dan jenisnya dipertimbangkan berdasarkan adat kebiasaan negerinya. Ya, Al-Mawardi berkata: Jika ia termasuk wanita yang terbiasa tidak mengenakan apa pun di kaki mereka saat berada di dalam rumah, maka tidak wajib menyediakan sesuatu untuk kakinya.
ويجب ذلك لها مع لحاف للشتاء يعني وقت البرد ولو في غير الشتاء ويزيد في الشتاء جبة محشوة.
Dan hal itu wajib diberikan kepadanya bersama selimut untuk musim dingin, yaitu pada saat cuaca dingin meskipun bukan pada musim dingin. Dan di musim dingin ditambahkan jubah tebal berlapis kapuk.
أما في غير وقت البرد ولو في وقت الشتاء في البلاد الحارة فيجب لها رداء أو نحوه إن كانوا ممن يعتادون فيه غطاء غير لباسهم أو ينامون عرايا كما هو السنة.
Adapun selain waktu dingin, meskipun pada waktu musim dingin di negeri-negeri yang panas, maka wajib baginya kain selendang (rida') atau sejenisnya jika mereka termasuk orang-orang yang terbiasa memakai penutup/selimut tidur selain pakaian mereka, atau mereka tidur tanpa pakaian sebagaimana sunnah.
فإن لم يعتادوا لنومهم غطاء لم يجب ذلك ولو اعتادوا ثوبا للنوم وجب كما جزم به بعضهم.
Jika mereka tidak terbiasa memakai penutup/selimut untuk tidur, maka tidak wajib. Namun jika mereka terbiasa memakai pakaian khusus tidur, maka wajib sebagaimana ditegaskan oleh sebagian ulama.
ويختلف جودة الكسوة وضدها بيساره وضده.
Kualitas pakaian (bagus atau sebaliknya) berbeda-beda sesuai dengan kelapangan (kemampuan finansial) suami dan kebalikannya (kesulitannya).
ويجب عليه توابع ذلك من نحو تكة سراويل وزر نحو قميص وخيط وأجرة خياط وعليه فراش لنومها ومخدة ولو اعتادوا على السرير وجب.
Dan wajib bagi suami menyediakan kelengkapan pakaian tersebut, seperti tali celana, kancing baju (gamis), benang, dan upah penjahit. Suami juga wajib menyediakan kasur tempat tidurnya dan bantal. Jika mereka terbiasa tidur di atas ranjang, maka wajib menyediakannya.
فرع: يجب تجديد الكسوة التي لا تدوم سنة بأن تعطاها كل ستة أشهر من كل سنة ولو تلفت أثناء الفصل ولو بلا تقصير لم يجب تجديدها ويجب كونها جديدة.
Cabang masalah: Wajib memperbarui pakaian yang tidak bertahan selama satu tahun dengan cara meberikannya setiap enam bulan dalam setahun. Apabila pakaian itu rusak di tengah-tengah periode (musim) meskipun tanpa kecerobohan darinya, maka tidak wajib memperbaruinya, dan pakaian tersebut wajib dalam keadaan baru (saat diserahkan).
ولها عليه آلة تنظف لبدنها وثوبها وإن غاب عنها لاحتياجها إليه كالأدم فمنها سدر ونحوه كمشط وسواك وخلال وعليه دهن
Dan istri berhak mendapatkan alat pembersih untuk tubuh dan pakaiannya dari suami, meskipun suami gaib (pergi) darinya, karena kebutuhan istri padanya seperti halnya lauk-pauk. Di antaranya adalah daun bidara (sidr) dan sejenisnya, seperti sisir, siwak, dan pembersih selipan gigi (tusuk gigi). Suami juga wajib menyediakan minyak,
لا طيب ودواء وعليه مسكن يليق بها
bukan minyak wangi dan obat-obatan. Suami wajib menyediakan tempat tinggal yang layak baginya.
لرأسها وكذا لبدنها إن اعتيد من شيرج أو سمن فيجب الدهن كل أسبوع مرة فأكثر بحسب العادة وكذا دهن لسراجها وليس لحامل بائن ومن زوجها غائب إلا ما يزيل الشعث والوسخ على المذهب.
(Minyak) untuk kepalanya, begitu pula untuk tubuhnya jika sudah menjadi kebiasaan, berupa minyak wijen atau minyak samin. Maka wajib menyediakan minyak seminggu sekali atau lebih sesuai kebiasaan. Begitu pula minyak untuk lampu penerangnya. Namun bagi wanita hamil yang ditalak ba'in dan wanita yang suaminya gaib (pergi), tidak ada kewajiban kecuali sekadar apa yang menghilangkan kekusutan rambut dan kotoran, menurut pendapat yang kuat (al-madzhab).
ويجب عليه الماء للغسل الواجب بسببه كغسل جماع ونفاس لا حيض واحتلام وغسل نجس ولا ماء وضوء إلا إذا نقضه بلمسه.
Dan wajib bagi suami menyediakan air untuk mandi wajib yang disebabkan olehnya, seperti mandi junub karena jima' dan nifas, bukan mandi karena haid, mimpi basah, atau menyucikan najis. Dan tidak wajib menyediakan air wudu kecuali jika suami membatalkan wudunya dengan menyentuhnya.
لا عليه طيب إلا لقطع ريح كريه ولا كحل ودواء لمرضها وأجرة طبيب ولها طعام أيام المرض وأدمها وكسوتها وآلة تنظفها وتصرفه للدواء وغيره.
Tidak wajib atas suami menyediakan minyak wangi kecuali untuk menghilangkan bau tidak sedap. Tidak wajib pula menyediakan celak, obat untuk sakitnya, dan upah dokter. Namun istri tetap berhak mendapatkan makanan, lauk-pauk, pakaian, dan alat pembersih selama hari-hari sakitnya, dan ia boleh mengalokasikan (makanan/harta tersebut) untuk obat dan lainnya.
تنبيه: يجب لها في جميع ما ذكر من الطعام والأدم وآلة ذلك والكسوة والفرش وآلة التنظيف أن يكون تمليكا بالدفع دون إيجاب وقبول وتملكه هي بالقبض فلا يجوز أخذه منها إلا برضاها.
Peringatan: Wajib bagi istri dalam semua yang telah disebutkan berupa makanan, lauk-pauk, perlengkapannya, pakaian, kasur/tempat tidur, dan alat pembersih, untuk menjadi hak milik (tamlik) dengan penyerahan tanpa perlu ijab dan kabul. Istri memilikinya dengan menerimanya (qabdh), sehingga tidak boleh mengambilnya kembali dari istri kecuali dengan kerelaannya.
أما المسكن فيكون إمتاعا حتى يسقط بمضي الزمان لأنه لمجرد الانتفاع كالخادم وما جعل تمليكا يصير دينا بمضي الزمان ويعتاض عنه ولا يسقط بموت أثناء الفصل.
Adapun tempat tinggal, sifatnya adalah pemberian hak guna (imta'), sehingga gugur (kewajiban menyediakannya untuk masa lalu) dengan berlalunya waktu, karena tempat tinggal hanya untuk diambil manfaatnya sebagaimana pembantu. Sedangkan apa yang dijadikan hak milik (seperti makanan dan pakaian) menjadi utang dengan berlalunya waktu, dapat diganti dengan nilainya, dan tidak gugur dengan kematian di tengah-tengah periode.
ولها عليه مسكن تأمن فيه لو خرج عنها على نفسها ومالها وإن قل للحاجة بل للضرورة إليه.
Istri berhak mendapatkan tempat tinggal dari suami yang aman baginya—jika suami meninggalkannya—terhadap diri dan hartanya meskipun sedikit, karena adanya kebutuhan, bahkan darurat terhadap hal itu.
يليق بها عادة وإن كانت ممن لا يعتادون السكنى.
Yang layak baginya menurut kebiasaan, meskipun ia termasuk orang yang tidak terbiasa tinggal di rumah menetap.
ولو معارا وإخدام حرة تخدم,
Meskipun berupa barang pinjaman, dan kewajiban menyediakan pembantu bagi wanita merdeka yang biasa dilayani,
ولو معارا ومكترى ولو سكن معها في منزلها بإذنها أو لامتناعها من النقلة معه أو في منزل منحو أبيها بإذنها لم يلزمه أجرة لان الإذن العرى عن ذكر العوض ينزل على الإعارة والإباحة.
Meskipun berupa barang pinjaman atau barang sewaan. Jika suami tinggal bersamanya di rumah istrinya atas izinnya, atau karena penolakan istrinya untuk pindah bersamanya, atau di rumah seperti milik ayah istrinya atas izinnya, maka suami tidak wajib membayar sewa, karena izin yang tidak menyebutkan imbalan dianggap sebagai pinjaman ('ariyah) dan kebolehan (ibahah).
وعليه ولو معسرا خلافا لجمع أو قنا إخدام حرة بواحدة لا أكثر لأنه من المعاشرة بالمعروف بخلاف الأمة وإن كان جميلة.
Dan suami wajib—meskipun dalam keadaan miskin, berbeda dengan pendapat sekelompok ulama, atau status istrinya adalah budak—memberikan pelayanan (pembantu) kepada istri merdeka berupa satu orang pembantu, tidak lebih, karena hal itu termasuk pergaulan yang baik (mu'asyarah bil ma'ruf), berbeda halnya dengan budak wanita meskipun ia cantik.
تخدم أي يخدم مثلها عادة عند أهلها فلا عبرة بترفهها في بيت زوجها وإنما يجب عليه الإخدام ولو بحرة صحبتها أو مستأجرة أو بمحرم أو مملوك لها ولو عبدا أو بصبي غير مراهق فالواجب للخادم الذي عينه الزوج مد وثلث على موسر ومد على معسر ومتوسط مع كسوة أمثال الخادم من قيمص وإزار ومقنعة ويراد للخادمة خف وملحفة إذا كانت تخرج وإن كانت قنة اعتادت كشف الرأس وإنما لم يجب الخف والملحفة للمخدومة على المعتمد لان له منعها من الخروج والاحتياج إليه لنحو الحمام نادر.
Maksud 'takhdumu' (yang biasa dilayani) adalah wanita yang sepertinya secara adat biasa dilayani di lingkungan keluarganya, sehingga kemanjaan/kemewahannya di rumah suami tidak dianggap. Kewajiban memberikan pembantu baginya tetap berlaku, meskipun berupa wanita merdeka yang mendampinginya atau yang disewa, atau mahramnya, atau budak miliknya sendiri meskipun laki-laki, atau anak laki-laki yang belum murahiq (mendekati baligh). Hak yang wajib diberikan untuk pembantu yang telah ditentukan oleh suami adalah 1 1/3 mud bagi suami yang berkecukupan (mushir), dan 1 mud bagi yang tidak mampu (mu'sir) serta yang sedang (mutawassit), disertai pakaian yang setara dengan pembantu seperti baju kurung (qamis), kain sarung (izar), dan kerudung (miqna'ah). Bagi pembantu wanita ditambah sepatu (khuff) dan selimut luar (milhafah) jika ia biasa keluar rumah, meskipun ia budak wanita yang biasa membuka kepala. Alasan tidak wajibnya khuff dan milhafah bagi istri yang dilayani menurut pendapat yang mu'tamad adalah karena suami berhak melarangnya keluar rumah, sedangkan kebutuhan keluar untuk seperti ke pemandian umum adalah hal yang jarang.
تنبيه: ليس على خادمها إلا ما يخصها وتحتاج إليه كحمل الماء للمستحم والشرب وصبه على بدنها
Peringatan: Tidak ada kewajiban bagi pembantunya kecuali pekerjaan yang khusus berhubungan dengan istri dan dibutuhkannya, seperti mengambilkan air untuk mandi dan minum serta mengucurkannya ke tubuhnya,
وغسل خرق الحيض والطبخ لأكلها أما ما لا يخصها كالطبخ لأكله وغسل ثيابه فلا يجب على واحد منهما بل هو على الزوج فيوفيه بنفسه أو بغيره.
serta mencuci kain pembalut haid dan memasak untuk makanan si istri. Adapun pekerjaan yang tidak khusus untuk istri, seperti memasak untuk makanan suami dan mencuci pakaian suami, maka tidak wajib bagi salah satu dari keduanya (istri maupun pembantu), melainkan menjadi kewajiban suami, sehingga ia memenuhinya sendiri atau melalui orang lain.
وتسقط بنشوز
Dan nafkah gugur karena nushuz (durhaka),
مهمات: من شرح المنهاج لشيخنا: لو اشترى حليا أو ديباجا لزوجته وزينها به لا يصير ملكا لها بذلك ولو اختلفت هي والزوج في الإهداء والعارية صدق ومثله وارثه.
Hal-hal penting: Dari Syarah al-Minhaj karya guru kami: Jika suami membeli perhiasan atau kain sutra (daibaj) untuk istrinya lalu menghiasinya dengannya, maka barang tersebut tidak menjadi miliknya hanya dengan hal itu. Apabila istri dan suami berselisih pendapat apakah itu pemberian (hadiah) atau pinjaman ('ariyah), maka perkataan suamilah yang dibenarkan, begitu pula ahli warisnya.
ولو جهز بنته بجهاز لم تملكه إلا بإيجاب وقبول والقول قوله في أنه لم يملكها.
Jika seseorang menyiapkan perlengkapan rumah (peralatan pengantin) untuk anak perempuannya, maka anak tersebut tidak memilikinya kecuali dengan ijab dan kabul, dan perkataan yang dimenangkan adalah perkataan sang ayah bahwa ia tidak memilikankannya.
ويؤخذ مما تقرر أن ما يعطيه الزوج صلحة أو صباحية كما اعتيد ببعض البلاد لا تملكه إلا بلفظ أو قصد إهداء خلافا لما مر عن فتاوى الحناطي١ وإفتاء غير واحد بأنه لو أعطاها مصروفا للعرس ودفعا وصباحية فنشزت استرد الجميع غير صحيح إذ التقييد بالنشوز لا يتأتى في الصباحية لما قررته فيها [في الصفحة: ٣٩٢] أنها كالصلحة لأنه إن تلفط بإهداء أو قصده ملكته من غير جهة الزوجية وإلا فهو ملكه وأما مصروف العرس فليس بواجب فإذا صرفته بإذنه ضاع عليه.
Dapat dipahami dari ketentuan yang telah ditetapkan bahwa apa yang diberikan suami sebagai 'sulhah' (hadiah perdamaian) atau 'sabahiyyah' (hadiah pagi hari pernikahan) sebagaimana mentradisi di sebagian negeri, tidak menjadi milik istri kecuali dengan lafal atau niat pemberian hadiah, berbeda dengan apa yang telah berlalu dari Fatwa al-Hanathi dan fatwa beberapa ulama bahwa jika suami memberikannya uang belanja pesta pernikahan, uang hantaran (dafa'), dan hadiah sabahiyyah, lalu istri melakukan nushuz, maka suami boleh menarik kembali semuanya; fatwa ini tidak benar, karena pengaitan dengan nushuz tidak berlaku pada hadiah sabahiyyah sebagaimana telah saya tetapkan padanya [pada halaman 392] bahwa itu seperti sulhah, sebab jika suami melafalkan hadiah atau berniat demikian, maka istri memilikinya bukan dari jalur kewajiban suami-istri, dan jika tidak, maka itu tetap milik suami. Adapun uang belanja pesta pernikahan bukanlah hal yang wajib, sehingga jika istri menghabiskannya atas izin suami, maka hal itu menjadi kerugian bagi suami.
وأما الدفع أي المهر فإن كان قبل الدخول استرده وإلا فلا لتقرره به فلا يسترد بالنشوز.
Adapun 'dafa'' yaitu mahar, jika penyerahannya sebelum dukhul (persetubuhan), suami dapat memintanya kembali (jika terjadi perceraian sebelum dukhul), tetapi jika setelah dukhul maka tidak bisa, karena mahar telah menjadi hak tetap dengan adanya dukhul, sehingga tidak dapat diambil kembali karena nushuz.
وتسقط المؤن كلها بنشوز منها إجماعا: أي بخروج عن طاعة
Dan seluruh nafkah/biaya hidup gugur dengan adanya nushuz (kedurhakaan) dari pihak istri berdasarkan ijma', yaitu dengan keluarnya istri dari ketaatan
ولو ساعة بمنع من تمتع لا لعذر,
walaupun hanya sesaat, dengan menolak penikmatan (hubungan suami istri) tanpa adanya uzur,
الزوج وإن لم تأثم كصغيرة ومجنونة ومكرهة ولو ساعة أو ولو لحظة فتسقط نفقة ذلك اليوم وكسوة ذلك الفصل ولا توزع على زماني الطاعة والنشوز.
terhadap suami, meskipun ia tidak berdosa seperti anak kecil, wanita gila, dan wanita yang dipaksa, walaupun penolakan itu sekejap saja atau walau sekejap mata, maka gugurlah nafkah hari tersebut dan pakaian musim tersebut, dan tidak dibagi berdasarkan rentang waktu ketaatan dan nushuz.
ولو جهل سقوطها بالنشوز فأنفق رجع عليها إن كان ممن يخفى عليه ذلك وإنما لم يرجع من أنفق في نكاح أو شراء فاسد وإن جهل ذلك لأنه شرع في عقدهما على أن يضمن المؤن بوضع اليد ولا كذلك ههنا وكذا من وقع عليه طلاق باطنا ولم يعلم به فأنفق مدة ثم علم فلا يرجع بما أنفقه على الأوجه.
Jika suami tidak tahu gugurnya nafkah akibat nushuz lalu ia tetap memberi nafkah, ia boleh meminta kembali (mengganti rugi) dari istri jika ia termasuk orang yang wajar tidak mengetahui hal itu. Adapun orang yang memberi nafkah dalam pernikahan atau pembelian yang fasad (batal) tidak boleh meminta kembali meskipun ia tidak mengetahuinya, karena ia memulai akad keduanya atas dasar menanggung biaya hidup dengan penguasaan barang/istri, sedangkan dalam masalah ini tidak demikian. Demikian pula orang yang jatuh padanya talak secara batin namun ia tidak mengetahuinya lalu memberi nafkah selama beberapa waktu kemudian baru mengetahui, maka menurut pendapat yang terkuat ia tidak boleh meminta kembali apa yang telah dinafkahkannya.
ويحصل النشوز بمنع الزوجة الزوج من تمتع ولو بنحو لمس أو بموضع عينه لا إن منعته عنه لعذر ككبر آلته بحيث لا تحتمله ومرض بها يضر معه الوطء وقرح في فرجها وكنحو حيض.
Nushuz terjadi ketika istri menghalangi suami dari penikmatan (tamattu') meskipun berupa sentuhan atau di tempat yang ditentukan suami. Namun tidak dianggap nushuz jika istri menghalanginya karena uzur, seperti besarnya kemaluan suami sekiranya istri tidak mampu menanggungnya, atau penyakit pada istri yang membuat persetubuhan berbahaya baginya, luka pada kemaluannya, dan seperti keadaan haid.
ويثبت كبر آلته بإقراره أو برجلين من رجال الختان ويحتالان لانتشار ذكره بأي حيلة غير إيلاج ذكره في فرج محرم أو دبر أو بأربع نسوة فإن لم يمكن معرفته إلا بنظرهن إليهما مكشوفي الفرجين حال انتشار عضوه جاز ليشهدن.
Besarnya kemaluan suami dapat dibuktikan dengan pengakuan suami sendiri, atau dengan kesaksian dua orang tukang khitan laki-laki—dan keduanya mengupayakan dengan cara apa pun agar zakarnya ereksi, selain memasukkan zakar ke dalam kemaluan yang haram atau dubur—atau dengan empat orang wanita. Jika hal itu tidak mungkin diketahui kecuali dengan melihat kepada keduanya dalam keadaan terbuka kemaluannya saat anggota suaminya ereksi, maka hal itu diperbolehkan agar mereka dapat bersaksi.
فرع: لها منع التمتع لقبض الصداق الحال أصالة قبل الوطء بالغة مختارة إذ لها الامتناع حينئذ فلا يحصل النشوز.
Cabang masalah: Istri (yang balig dan atas kemauannya sendiri) berhak menolak bersenang-senang (bersanggama) untuk menerima mahar tunai sebelum terjadi persetubuhan, karena ia berhak menolak pada saat itu sehingga tidak dianggap nusyuz.
ولا تسقط النفقة بذلك فإن منعت لقبض الصداق المؤجل أو
Nafkah pun tidak gugur karena penolakan tersebut. Namun, jika ia menolak untuk menerima mahar yang ditangguhkan (diutang) atau…
وخروج من مسكن بلا إذن,
…dan keluar dari tempat tinggal tanpa izin,
بعد الوطء طائعة فتسقط.
…setelah persetubuhan yang dilakukan atas kerelaannya, maka hak nafkahnya gugur.
فلو منعته لذلك بعد وطئها مكرهة أو صغيرة ولو بتسليم الولي فلا.
Jika ia menolaknya untuk hal tersebut setelah disetubuhi dalam keadaan terpaksa, atau ketika masih kecil meskipun diserahkan oleh walinya, maka nafkahnya tidak gugur.
ولو ادعى وطأها بتمكينها وطلب تسليمها إليه فأنكرته وامتنعت من التسليم صدقت.
Jika suami mengklaim telah menyetubuhinya atas kerelaannya dan menuntut penyerahan dirinya, lalu istri mengingkari klaim tersebut dan menolak menyerahkan diri, maka ucapan istri yang dibenarkan.
وخروج من مسكن أي المحل الذي رضي بإقامتها فيه ولو بيتها أو بيت أبيها ولو لعيادة وإن كان الزوج غائبا بتفصيله الآتي.
(Dan keluar dari tempat tinggal) yaitu tempat yang diridoi suami untuk ditinggali istri, meskipun itu rumah istri sendiri atau rumah ayahnya, meskipun untuk menjenguk orang sakit, dan meskipun suami sedang tidak berada di tempat (gaib), dengan rincian yang akan datang.
بلا إذن منه ولا ظن لرضاه فخروجها بغير رضاه ولو لزيارة صالح أو عيادة غير محرم أو إلى مجلس ذكر عصيان ونشوز.
(Tanpa izin) darinya dan tanpa ada dugaan kuat atas keridaannya. Maka keluarnya istri tanpa keridaannya, meskipun untuk mengunjungi orang saleh, menjenguk selain mahram, atau menghadiri majelis zikir, merupakan kemaksiatan dan nusyuz.
وأخذ الأذرعي وغيره من كلام الإمام أن لها اعتماد العرف الدال على رضا أمثاله بمثل الخروج الذي تريده. قال شيخنا: وهو محتمل ما لم تعلم منه غيره تقطعه عن أمثاله في ذلك.
Al-Adzra'i dan ulama lainnya menyimpulkan dari perkataan Al-Imam (Al-Ghazali) bahwa istri boleh berpatokan pada adat kebiasaan ('urf) yang menunjukkan rida orang-orang sepertinya atas keluar rumah seperti yang ia inginkan. Guru kami (Ibn Hajar) berkata: Hal ini masuk akal selama istri tidak mengetahui hal berbeda dari suaminya yang membedakannya dari orang-orang sepertinya dalam hal tersebut.
تنبيه: يجوز لها الخروج في مواضع منها إذا أشرف البيت على الانهدام وهل يكفي قولها خشيت انهدامه أو لا بد من قرينة تدل عليه عادة؟ قال شيخنا: كل محتمل والأقرب الثاني.
Peringatan: Boleh bagi istri keluar rumah dalam beberapa keadaan. Di antaranya: jika rumah terancam roboh. Apakah cukup pernyataannya 'saya takut rumah roboh', ataukah harus ada petunjuk yang biasanya menunjukkan hal itu? Guru kami berkata: Masing-masing kemungkinan ada, dan yang lebih mendekati kebenaran adalah kemungkinan kedua.
وبسفرها بلا إذن أو لغرضها
Dan dengan bersafarnya istri tanpa izin atau untuk keperluannya sendiri,
ومنها إذا خافت على نفسها أو مالها من فاسق أو سارق.
Di antaranya lagi: jika ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya atau hartanya dari orang fasik atau pencuri.
ومنها إذا خرجت إلى القاضي لطلب حقها منه.
Di antaranya lagi: jika ia keluar menemui hakim untuk menuntut haknya.
ومنها خروجها لتعلم العلوم العينية أو للاستفتاء حيث لم يغنها الزوج الثقة أو نحو محرمها فيما استظهره شيخنا.
Di antaranya lagi: keluarnya istri untuk mempelajari ilmu-ilmu fardu 'ain atau meminta fatwa, sekiranya suami yang terpercaya atau mahramnya tidak dapat mencukupi kebutuhan ilmunya itu, menurut pendapat yang dikuatkan oleh guru kami.
ومنها إذا خرجت لاكتساب نفقة بتجارة أو سؤال أو كسب إذا أعسر الزوج.
Di antaranya lagi: jika ia keluar untuk mencari nafkah dengan berdagang, meminta-minta, atau bekerja apabila suami sedang dalam kesulitan keuangan.
ومنها إذا خرجت على غير وجه النشوز في غيبة الزوج عن البلد بلا إذنه لزيارة أو عيادة قريب لا أجنبي أو أجنبية على الأوجه لان الخروج لذلك لا يعد نشوزا عرفا.
Di antaranya lagi: jika ia keluar tanpa niat nusyuz saat suami sedang tidak berada di daerahnya tanpa izinnya, untuk mengunjungi atau menjenguk kerabat, bukan laki-laki asing maupun perempuan asing menurut pendapat yang lebih kuat, karena keluar untuk tujuan tersebut secara adat tidak dianggap nusyuz.
قال شيخنا: وظاهر أن محل ذلك إن لم يمنعها من الخروج أو يرسل إليها بالمنع.
Guru kami berkata: Tampaknya letak kebolehan hal tersebut adalah jika suami tidak melarangnya keluar atau tidak mengirimkan pesan larangan kepadanya.
وبسفرها أي بخروجها وحدها إلى محل يجوز القصر منه للمسافر ولو لزيارة أبويها أو للحج.
(Dan dengan bersafarnya) yaitu dengan keluarnya istri seorang diri ke tempat yang membolehkan qashar bagi musafir, meskipun untuk mengunjungi kedua orang tuanya atau untuk menunaikan ibadah haji.
بلا إذن منه ولو لغرضه ما لم تضطر كأن جلا جميع أهل البلد وبقي من لا تأمن معه.
Tanpa izin darinya (suami), meskipun untuk kepentingannya (suami), selama ia (istri) tidak dalam keadaan terpaksa, seperti seluruh penduduk negeri mengungsi dan yang tersisa hanyalah orang yang ia tidak merasa aman bersamanya.
أو بإذنه ولكن لغرضها أو لغرض أجنبي فتسقط المؤن على الأظهر لعدم التمكين.
Atau dengan izinnya, tetapi untuk kepentingan si istri sendiri atau kepentingan orang lain, maka gugurlah nafkah menurut pendapat yang al-azhhar karena tidak adanya tamkin (penyerahan diri/kesediaan melayani).
لا معه.
Bukan jika ia bepergian bersamanya.
ولو سافرت بإذنه لغرضهما معا فمقتضى المرجح في الإيمان فيما إذا قال لزوجته إن خرجت لغير
Jika ia bepergian dengan izin suami untuk kepentingan keduanya bersama-sama, maka konsekuensi dari pendapat yang diunggulkan dalam bab sumpah (al-aiman)—yaitu ketika seorang suami berkata kepada istrinya: "Jika engkau keluar untuk selain…
الحمام فأنت طالق فخرجت لها ولغيرها أنها لا تطلق عدم السقوط هنا لكن نص الأم والمختصر يقتضي السقوط.
…kamar mandi, maka engkau tertalak," lalu istri keluar untuk pergi ke kamar mandi dan untuk tujuan lainnya, bahwa ia tidak tertalak—menunjukkan tidak gugurnya nafkah di sini. Akan tetapi, teks (nass) dalam kitab al-Umm dan al-Mukhtashar menuntut gugurnya nafkah.
لا بسفرها معه أي الزوج بإذنه ولو في حاجتها ولا بسفرها بإذنه لحاجته ولو مع حاجة غيره فلا تسقط المؤن لأنها ممكنة وهو المفوت لحقه في الثانية.
(Nafkah) tidak gugur dengan bepergiannya istri bersama suami atas izinnya meskipun untuk keperluannya (istri), dan tidak pula dengan bepergiannya atas izin suami untuk keperluan suami meskipun disertai keperluan orang lain, maka nafkah tidak gugur karena ia tetap melakukan tamkin, dan suamilah yang menggugurkan haknya sendiri pada kasus yang kedua.
وفي الجواهر وغيرها عن الماوردي وغيره لو امتنعت من النقلة معه لم تجب النفقة إلا إن كان يتمتع بها في زمن الامتناع فتجب ويصير تمتعه بها عفوا عن النقلة حينئذ انتهى.
Dalam al-Jawahir dan lainnya dari al-Mawardi dan selainnya: Seandainya istri menolak untuk pindah tempat bersama suami, maka nafkah tidak wajib, kecuali jika suami tetap bersenang-senang (bermesraan) dengannya pada masa penolakan tersebut, maka nafkah menjadi wajib dan bersenang-senangnya suami dengannya saat itu menjadi pemaafan atas penolakan pindah tersebut. Selesai.
قال شيخنا: وقضيته جريان ذلك في سائر صور النشوز وهو محتمل.
Syaikh kita (Ibn Hajar) berkata: Konsekuensinya adalah berlakunya hal tersebut pada seluruh bentuk nusyuz, dan hal ini memungkinkan (bisa diterima).
وتسقط المؤن أيضا بإغلاقها الباب في وجهه وبدعواها طلاقا بائنا كذبا.
Nafkah juga gugur sebab istri mengunci pintu di hadapan suami, dan sebab pengakuannya secara bohong bahwa ia telah ditalak ba'in.
وليس من النشوز شتمه وإيذاؤه باللسان وإن استحقت التأديب.
Mencaci suami dan menyakitinya dengan lisan tidak termasuk nusyuz, meskipun ia berhak mendapat pengajaran (ta'dib).
مهمة: لو تزوجت زوجة المفقود غيره قبل الحكم بموته سقطت نفقتها ولا تعود إلا بعلمه عودها إلى طاعته بعد التفريق بينهما.
Catatan penting: Seandainya istri dari suami yang hilang (al-mafqud) menikah dengan laki-laki lain sebelum ada keputusan hakim mengenai kematiannya, maka nafkahnya gugur dan tidak kembali kecuali jika suami pertama mengetahui kembalinya ia pada ketaatan setelah keduanya dipisahkan.
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
فائدة: يجوز للزوج منعها من الخروج من المنزل ولو لموت أحد أبويها أو شهود جنازته ومن أن تمكن من دخول غير خادمة واحدة لمنزله ولو أبويها أو ابنها من غيره لكن يكره منع أبويها حيث لا عذر فإن كان المسكن ملكها لم يمنع شيئا من ذلك إلا عند الريبة.
Faidah: Suami boleh melarang istri keluar dari rumah meskipun karena kematian salah satu kedua orang tuanya atau menghadiri jenazahnya, dan boleh melarangnya membiarkan selain seorang pelayan wanita masuk ke rumahnya meskipun kedua orang tua istri atau anak laki-lakinya dari suami lain. Namun dimakruhkan melarang kedua orang tuanya apabila tidak ada udzur. Jika tempat tinggal itu milik istri, suami tidak boleh melarang sesuatu pun dari hal tersebut kecuali jika ada kecurigaan.
تتمة [في بيان بعض أحكام تتعلق بالنشوز الجلي والنشوز الخفي] لو نشزت بالخروج من المنزل فغاب وأطاعت في غيبته بنحو عودها للمنزل لم تجب مؤنها ما دام غائبا في الأصح لخروجها عن قبضته فلا بد من تجديد تسليم وتسلم ولا يحصلان مع الغيبة فالطريق في عود الاستحقاق أن يكتب الحاكم إلى قاضي بلده ليثبت عودها للطاعة عنده فإذا علم وعاد أو أرسل من يتسلمها له أو ترك ذلك لغير عذر عاد الاستحقاق. وقضية قول الشافعي في القديم أن النفقة تعود عند عودها للطاعة لان الموجب في القديم العقد لا التمكين.
Pelengkap [tentang penjelasan sebagian hukum terkait nusyuz nyata dan nusyuz tersembunyi]: Jika istri berbuat nusyuz dengan keluar dari rumah lalu suami pergi (ke luar daerah), kemudian istri kembali taat pada masa kepergiannya dengan cara kembali ke rumah, maka nafkahnya tidak wajib selama suami pergi menurut pendapat yang lebih shahih, karena istri telah keluar dari kekuasaannya sehingga harus ada penyerahan dan penerimaan kembali secara baru, dan hal itu tidak terjadi di masa kepergiannya. Maka jalan untuk mengembalikan hak nafkah adalah hakim berkirim surat kepada qadhi di negeri tempat suami berada agar terbukti kembalinya istri pada ketaatan di hadapannya. Apabila suami telah mengetahui dan ia kembali, atau mengirim orang yang menerima penyerahan istri untuknya, atau suami meninggalkan hal itu tanpa udzur, maka hak nafkah kembali. Dan konsekuensi dari perkataan Imam Asy-Syafi'i dalam qaul qadim adalah bahwa nafkah kembali saat ia kembali pada ketaatan, karena yang mewajibkan nafkah dalam qaul qadim adalah akad, bukan tamkin.
وبه قال مالك.
Dan demikian pula yang dikatakan oleh Malik.
وصرحوا أن نشوزها بالردة يزول بإسلامها مطلقا لزوال المسقط.
Para ulama menegaskan bahwa nusyuznya istri karena murtad hilang dengan masuk Islamnya ia secara mutlak karena hilangnya faktor penggugur nafkah.
وأخذ منه الأذرعي أنها لو نشزت في المنزل ولم تخرج منه كأن منعته نفسها فغاب عنها ثم عادت للطاعة عادت نفقتها من غير قاض وهو كذلك على الأصح.
Al-Adzra'i menyimpulkan dari hal tersebut bahwa jika istri nusyuz di dalam rumah dan tidak keluar darinya, seperti menolak melayani suami lalu suami pergi meninggalkannya, kemudian ia kembali taat, maka nafkahnya kembali tanpa perlu ketetapan qadhi; dan demikianlah hukumnya menurut pendapat yang lebih shahih.
ولو التمست زوجة غائب من القاضي أن يفرض لها فرضا عليه
Seandainya istri dari suami yang pergi memohon kepada hakim agar menetapkan kewajiban nafkah untuknya atas beban suaminya…
اشترط ثبوت النكاح وإقامتها في مسكنه وحلفها على استحقاق النفقة وأنها لم تقبض منه نفقة مدة مستقبلة فحينئذ يفرض لها عليه نفقة المعسر إلا إن ثبت يساره.
Disyaratkan penetapan keabsahan pernikahan, dia (istri) tinggal di tempat tinggalnya (suami), dan sumpah istri atas haknya mendapatkan nafkah serta bahwa dia belum menerima darinya nafkah untuk masa mendatang. Pada saat itulah ditetapkan baginya atas suami nafkah orang miskin (mu'sir), kecuali jika terbukti kelapangannya (yasar-nya).