كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا

بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا

بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا

بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا

Penjelasan Sebab Kelebihan Kelezatan Memandang (Allah) di Akhirat Dibandingkan Ma'rifat di Dunia

اعلم أن المدركات تنقسم إلى ما يدخل في الخيال كالصور المتخيلة والأجسام المتلونة والمتشكلة من أشخاص الحيوان والنبات وإلى مالا يدخل في الخيال كذات الله تعالى وكل ما ليس بجسم كالعلم والقدرة والإرادة وغيرها

Ketahuilah bahwasanya hal-hal yang dapat dijangkau (al-mudrakât) terbagi menjadi: apa yang dapat masuk ke dalam imajinasi (al-khayâl), seperti bentuk-bentuk yang diimajinasikan, benda-benda yang berwarna dan berbentuk dari individu hewan serta tumbuhan; dan apa yang tidak dapat masuk ke dalam imajinasi, seperti Dzat Allah Ta'ala dan segala sesuatu yang bukan berupa materi (jism), seperti ilmu, kekuasaan (qudrah), kehendak (irâdah), dan selainnya.

ومن رأى إنساناً ثم غض بصره وجد صورته حاضرة في خياله كأنه ينظر إليها ولكن إذا فتح العين وأبصر أدرك تفرقة بينهما ولا ترجع التفرقة إلى اختلاف بين الصورتين لأن الصورة المرئية تكون موافقة للمتخيلة وإنما الافتراق بمزيد الوضوح والكشف فإن صورة المرئي صارت بالرؤية أتم انكشافاً ووضوحاً وهو كشخص يرى في وقت الإسفار قبل انتشار ضوء النهار ثم رؤى عند تمام الضوء فإنه لا تفارق إحدى الحالتين الأخرى إلا في مزيد الانكشاف

Barang siapa melihat seseorang lalu ia memejamkan matanya, ia menemukan bentuk orang tersebut hadir dalam imajinasinya seolah-olah ia sedang memandangnya. Namun apabila ia membuka mata dan melihatnya langsung, ia merasakan perbedaan di antara keduanya. Perbedaan itu bukan kembali pada perbedaan antara kedua bentuk tersebut, karena bentuk yang dilihat secara langsung sesuai dengan bentuk yang diimajinasikan. Perbedaannya hanyalah pada bertambahnya kejelasan dan penyingkapan (kasyaf). Sebab, bentuk objek penglihatan menjadi lebih sempurna penyingkapan dan kejelasannya melalui penglihatan langsung (ru'yah). Hal itu seperti seseorang yang terlihat pada waktu fajar sebelum tersebarnya cahaya siang, kemudian terlihat kembali ketika cahaya telah terang sempurna; maka salah satu dari kedua keadaan itu tidak berbeda dari yang lain kecuali dalam hal bertambahnya kejelasan.

فإذن الخيال أول الإدراك والرؤية هو الاستكمال لإدراك الخيال وهو غاية الكشف وسمي ذلك رؤية لأنه غاية الكشف لا لأنه في العين بل لو خلق الله هذا الإدراك الكامل المكشوف في الجبهة أو الصدر مثلاً استحق أن يسمى رؤية وإذا فهمت هذا في المتخيلات فاعلم أن المعلومات التي لا تتشكل أيضاً في الخيال لمعرفتها وإدراكها درجتان إحداهما ﴿أولى﴾ والثانية استكمال لها

Maka imajinasi adalah awal pencerapan, sedangkan penglihatan langsung (ru'yah) adalah penyempurnaan bagi pencerapan imajinatif tersebut dan merupakan puncak penyingkapan (ghâyat al-kasyf). Hal itu dinamakan ru'yah (penglihatan) karena ia merupakan puncak penyingkapan, bukan semata-mata karena berada di mata fisik. Bahkan seandainya Allah menciptakan pencerapan yang sempurna dan terbuka terang ini pada dahi atau dada misalnya, niscaya ia tetap berhak dinamakan ru'yah. Dan apabila engkau telah memahami hal ini dalam perkara-perkara yang terimajinasikan, maka ketahuilah bahwa hal-hal yang diketahui (al-ma'lûmât) yang tidak berbentuk dalam imajinasi pun memiliki dua tingkatan dalam ma'rifat dan penjangkauannya: tingkatan pertama adalah tingkatan awal, dan tingkatan kedua adalah penyempurnaan baginya.

وبين الأولى والثانية من التفاوت في مزيد الكشف والإيضاح ما بين المتخيل والمرئي فيسمى الثاني أيضاً بالإضافة إلى الأول مشاهدة ولقاء ورؤية وهذه التسمية حق لأن الرؤية سميت رؤية لأنها غاية الكشف وكما أن سنة الله تعالى جارية بأن تطبيق الأجفان يمنع من تمام الكشف بالرؤية ويكون حجاباً بين البصر والمرئي ولا بد من ارتفاع الحجب لحصول الرؤية وما لم ترتفع كان الإدراك الحاصل مجرد التخيل فكذلك مقتضى سنة الله تعالى أن النفس ما دامت محجوبة بعوارض البدن ومقتضى الشهوات وما غلب عليها من الصفات البشرية فإنها لا تنتهي إلى المشاهدة واللقاء في المعلومات الخارجة عن الخيال بل هذه الحياة حجاب عنها بالضرورة كحجاب الأجفان عن روية الأبصار

Dan antara tingkatan pertama dan kedua terdapat perbedaan dalam bertambahnya penyingkapan dan kejelasan sebagaimana perbedaan antara apa yang diimajinasikan dan apa yang dilihat secara kasatmata. Maka tingkatan kedua dinamakan pula—jika dibandingkan dengan yang pertama—sebagai penyaksian (musyâhadah), pertemuan (liqâ'), dan penglihatan (ru'yah). Penamaan ini adalah benar, karena ru'yah dinamakan demikian sebab ia adalah puncak penyingkapan. Dan sebagaimana ketetapan (sunnatullah) Ta'ala berlaku bahwa terpejamnya kelopak mata menghalangi sempurnanya penyingkapan dengan penglihatan dan menjadi penghalang (hijab) antara mata dan objek yang dilihat, serta harus tersingkapnya penghalang itu demi terwujudnya penglihatan—yang mana selama belum tersingkap, pencerapan yang terjadi hanyalah sebatas imajinasi—maka demikian pula tuntutan sunnatullah bahwa jiwa, selama masih terhalang oleh hal-hal baru yang berkaitan dengan tubuh, tuntutan syahwat, dan sifat-sifat kemanusiaan (basyariyyah) yang menguasainya, ia tidak akan sampai pada tingkat musyahadah dan liqa' mengenai hal-hal yang tidak terjangkau imajinasi. Bahkan kehidupan dunia ini secara pasti merupakan hijab darinya, sebagaimana terpejamnya kelopak mata menjadi hijab dari penglihatan mata.

والقول في سبب كونها حجاباً يطول ولا يليق بهذا العلم

Pembahasan mengenai sebab kehidupan ini menjadi hijab sangatlah panjang dan tidak sesuai dengan kadar tingkatan disiplin ilmu ini.

ولذلك قال تعالى لموسى ﵇ لن تراني وقال تعالى لا تدركه الأبصار أي في الدنيا والصحيح أن رسول الله ﷺ ما رأى الله تعالى ليلة المعراج فإذا ارتفع الحجاب بالموت بقيت النفس ملوثة بكدورات الدنيا غير منفكة عنها بالكلية وإن كانت متفاوتة فمنها ما تراكم عليه الخبث والصدأ فصار كالمرآة التي فسد بطول تراكم الخبث جوهرها فلا تقبل الإصلاح والتصقيل وهؤلاء هم المحجوبون عن ربهم أبد الآباد نعوذ بالله من ذلك ومنها ما لم ينته إلى حد الرين والطبع ولم يخرج عن قبول التزكية والتصقيل فيعرض على النار عرضاً يقمع منه الخبث الذي هو متدنس به ويكون العرض على النار بقدر الحاجة إلى التزكية وأقلها لحظة خفيفة وأقصاها في حق المؤمنين كما وردت به الأخبار سبعة آلاف سنة ولن ترتحل نفس عن

Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman kepada Musa 'alaihissalâm: "Engkau tidak akan (dapat) melihat-Ku," dan berfirman: "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," yakni di dunia. Dan pendapat yang sahih bahwasanya Rasulullah ﷺ tidak melihat Allah Ta'ala pada malam Isra Mi'raj. Apabila hijab itu terangkat dengan kematian, jiwa tetap dalam keadaan terkontaminasi oleh kekotoran duniawi dan tidak terlepas darinya secara menyeluruh, meskipun tingkatannya berbeda-beda. Di antaranya ada jiwa yang kotoran dan karatnya telah menumpuk sehingga menjadi seperti cermin yang substansinya telah rusak akibat lamanya penumpukan kotoran, sehingga tidak lagi menerima perbaikan dan pengilapan. Mereka itulah orang-orang yang terhalang (terhijab) dari Tuhan mereka selama-lamanya, kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Dan di antaranya ada jiwa yang belum mencapai batas tertutup rapat (rayn dan thaba') serta tidak keluar dari menerima penyucian (tazkiyah) dan pengilapan, maka ia dihadapkan pada neraka untuk menghancurkan kotoran yang menempel padanya. Penghadapan pada neraka itu sesuai dengan kadar kebutuhan penyucian: yang paling singkat adalah sekejap mata yang ringan, dan yang paling lama bagi orang-orang mukmin—sebagaimana terdapat dalam riwayat-riwayat—adalah tujuh ribu tahun. Dan tidak akan berpindah suatu jiwa pun dari…

هذا العالم إلا ويصحبها غبرة وكدورة ما وإن قلت ولذلك قال الله تعالى وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظالمين فيها جثياً فكل نفس مستيقنة للورود على النار وغير مستيقنة للصدور عنها فإذا أكمل الله تطهيرها وتزكيتها وبلغ الكتاب أجله ووقع الفراغ عن جملة ما وعد به الشرع من الحساب والعرض وغيره ووافى استحقاق الجنة وذلك وقت مبهم لم يطلع الله عليه أحداً من خلقه فإنه واقع بعد القيامة ووقت القيامة مجهول فعند ذلك يشتغل بصفائه ونقائه عن الكدورات حيث لا يرهق وجهه غبرة ولا قترة لأن فيه يتجلى الحق ﷾ فيتجلى له تجلياً يكون انكشاف تجليه بالإضافة إلى ما علمه كانكشاف تجلي المرآة بالإضافة إلى ما تخيله

…dunia ini melainkan diiringi oleh debu dan kekotoran tertentu meskipun sedikit. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." Maka setiap jiwa meyakini akan mendatangi neraka, namun tidak meyakini akan keluar darinya. Apabila Allah telah menyempurnakan pembersihan dan penyuciannya, serta ketetapan hukum telah sampai pada ajalnya dan selesai dari seluruh apa yang dijanjikan oleh Syariat berupa hisab, pemeriksaan (al-'ardh), dan lainnya, serta telah datang hak masuk surga—dan itu adalah waktu samar yang tidak diberitahukan oleh Allah kepada seorang pun dari makhluk-Nya, karena hal itu terjadi setelah hari Kiamat, sedangkan waktu Kiamat adalah gaib/tidak diketahui—maka pada saat itulah jiwa disibukkan dengan kesucian dan kebersihannya dari segala kekotoran, di mana wajahnya tidak lagi ditutupi oleh debu maupun kegelapan. Sebab pada saat itulah Al-Haqq (Allah) 'Azza wa Jalla bertajalli (menampakkan keagungan-Nya), maka Dia bertajalli kepadanya dengan penampakan yang mana penyingkapan tajalli-Nya dibandingkan dengan apa yang diketahuinya (di dunia) adalah seperti penyingkapan bayangan pada cermin dibandingkan dengan apa yang diimajinasikannya.

وهذه المشاهدة والتجلي هي التي تسمى رؤية فإذن الرؤية حق بشرط أن لا يفهم من الرؤية استكمال الخيال في متخيل متصور مخصوص بجهة ومكان فإن ذلك مما يتعالى عنه رب الأرباب علواً كبيراً بل كما عرفته في الدنيا معرفة حقيقية تامة من غير تخيل وتصور وتقدير شكل وصورة فتراه في الآخرة كذلك

Penyaksian (musyâhadah) dan tajalli inilah yang dinamakan ru'yah (penglihatan). Maka ru'yah adalah benar/nyata, dengan syarat tidak dipahami dari ru'yah tersebut sebagai penyempurnaan imajinasi terhadap sesuatu yang diimajinasikan dan digambarkan, yang dikhususkan pada arah dan tempat tertentu. Sebab hal itu termasuk perkara yang Maha Suci Tuhan segala tuhan darinya dengan kesucian yang sedemikian agungnya. Bahkan, sebagaimana engkau mengenal-Nya di dunia dengan ma'rifat yang hakiki dan sempurna tanpa imajinasi, penggambaran, atau pengira-ngiraan bentuk dan rupa, maka engkau memandang-Nya di akhirat pun demikian pula.

بل أقول المعرفة الحاصلة في الدنيا بعينها هي التي تستكمل فتبلغ كمال الكشف والوضوح وتنقلب مشاهدة ولا يكون بين المشاهدة في الآخرة والمعلوم في الدنيا اختلاف إلا من حيث زيادة الكشف والوضوح كما ضربناه من المثال في استكمال الخيال بالرؤية

Bahkan aku katakan: Ma'rifat yang diraih di dunia itu sendirilah yang disempurnakan hingga mencapai kesempurnaan penyingkapan (kasyf) dan kejelasan, lalu berubah menjadi musyahadah (penyaksian langsung). Tidak ada perbedaan antara musyahadah di akhirat dan apa yang diketahui di dunia kecuali dari segi bertambahnya penyingkapan dan kejelasan, sebagaimana contoh yang telah kami buat tentang penyempurnaan imajinasi melalui penglihatan langsung (ru'yah).

فإذا لم يكن في معرفة الله تعالى إثبات صورة وجهه فلا يكون في استكمال تلك المعرفة بعينها وترقيها في الوضوح إلى غاية الكشف أيضاً جهة وصورة لأنها هي بعينها لا تفترق منها إلا في زيادة الكشف كما أن الصورة المرئية هي المتخيلة بعينها إلا في زيادة الكشف وإليه الإشارة بقوله تعالى يسعى نورهم بين أيديهم وبأيمانهم يقولون ربنا أتمم لنا نورنا إذ تمام النور لا يؤثر إلا في زيادة الكشف ولهذا لا يفوز بدرجة النطر والرؤية إلا العارفون في الدنيا لأن المعرفة هي البذر الذي ينقلب في الآخرة مشاهدة كما تنقلب النواة شجرة والحب زرعاً ومن لا نواة في أرضه كيف يحصل له نخل ومن لم يزرع الحب فكيف يحصد الزرع فكذلك من لم يعرف الله تعالى في الدنيا فكيف يراه في الآخرة ولما كانت المعرفة على درجات متفاوتة كان التجلي أيضاً على درجات متفاوتة فاختلاف التجلي بالإضافة إلى اختلاف المعارف كاختلاف النبات بالإضافة إلى اختلاف البذر إذ تختلف لا محالة بكثرتها وقلتها وحسنها وقوتها وضعفها ولذلك قال النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ اللَّهَ يتجلى للناس عامة ولأبي بكر خاصة فلا ينبغي أن يظن أن غير أبي بكر ممن هو دونه يجد من لذة النظر والمشاهدة ما يجده أبو بكر بل لا يجد إلا عشر عشيره إن كانت معرفته في الدنيا عشر عشيره ولما فضل من الناس بسر وقر في صدره فضل لا محالة بتدل انفرد به وكما أنك ترى في الدنيا من يؤثر لذة الرياسة على المطعوم والمنكوح وترى من يؤثر لذة العلم وانكشاف مشكلات ملكوت السموات والأرض وسائر الأمور الإلهية على الرياسة وعلى المنكوح والمطعوم والمشروب جميعاً فكذلك يكون في الآخرة قوم يؤثرون لذة النظر إلى وجه الله تعالى على نعيم الجنة إذ يرجع نعيمها إلى المطعوم والمنكوح وهؤلاء بعينهم هم الذين حالهم في الدنيا ما وصفنا من إيثار لذة العلم والمعرفة والإطلاع على أسرار الربوبية على لذة المنكوح والمطعوم والمشروب وسائر الخلق مشغولون به

Maka apabila dalam ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala) tidak ada penetapan bentuk rupa-Nya, maka dalam penyempurnaan ma'rifat itu sendiri dan peningkatannya dalam kejelasan hingga puncak penyingkapan pun tidak ada arah dan bentuk rupa. Karena ma'rifat itu adalah hal itu sendiri, tidak berbeda darinya kecuali pada bertambahnya penyingkapan; sebagaimana bentuk yang dilihat adalah bentuk yang diimajinasikan itu sendiri kecuali pada bertambahnya penyingkapan. Kepada hal inilah isyarat firman Allah Ta'ala: "Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, seraya mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami'", sebab sempurnanya cahaya tidak memberikan pengaruh kecuali pada bertambahnya penyingkapan (kasyf). Oleh karena itulah, tidak akan beruntung meraih derajat memandang dan melihat (Allah) kecuali para ahli ma'rifat (al-'ârifûn) di dunia. Sebab ma'rifat adalah benih yang di akhirat akan berubah menjadi musyahadah (penyaksian), sebagaimana biji kurma berubah menjadi pohon dan benih tanaman berubah menjadi tuaian. Barang siapa yang di tanahnya tidak ada biji kurma, bagaimana mungkin ia mendapatkan pohon kurma? Dan barang siapa tidak menanam benih, bagaimana mungkin ia memanen tanaman? Demikian pula barang siapa tidak mengenal Allah Ta'ala di dunia, bagaimana mungkin ia melihat-Nya di akhirat? Dan karena ma'rifat itu berada pada derajat yang berbeda-beda, maka tajalli pun berada pada derajat yang berbeda-beda pula. Perbedaan tajalli jika dibandingkan dengan perbedaan ma'rifat adalah seperti perbedaan tanaman jika dibandingkan dengan perbedaan benihnya, yang mana ia pasti berbeda dalam hal banyak dan sedikitnya, keindahan, kekuatan, serta kelemahannya. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah bertajalli kepada manusia secara umum dan kepada Abu Bakar secara khusus." Maka tidak seyogianya dikira bahwa selain Abu Bakar dari orang-orang yang berada di bawah derajatnya akan merasakan kelezatan memandang dan musyahadah sebagaimana yang dirasakan oleh Abu Bakar; bahkan ia tidak akan merasakannya melainkan sepersepuluh dari sepersepuluhnya (seperseratusnya), jika memang ma'rifatnya di dunia adalah seperseratus dari ma'rifat Abu Bakar. Dan karena beliau melebihi manusia lainnya dengan rahasia yang terpatri dalam dadanya, maka beliau niscaya melebihi mereka dengan tajalli yang khusus baginya. Dan sebagaimana engkau melihat di dunia ada orang yang mendahulukan kelezatan kepemimpinan di atas makanan dan pernikahan, dan engkau melihat ada orang yang mendahulukan kelezatan ilmu serta terbukanya kekeruhan kerumitan alam malakut langit dan bumi serta seluruh perkara keilahian di atas kepemimpinan, pernikahan, makanan, dan minuman sekaligus; maka demikian pula di akhirat akan ada suatu kaum yang mendahulukan kelezatan memandang wajah Allah Ta'ala di atas nikmat surga, karena kenikmatan surga kembali pada makanan dan pernikahan. Dan mereka itulah orang-orang yang keadaannya di dunia adalah sebagaimana yang telah kami sifatkan, yaitu mendahulukan kelezatan ilmu, ma'rifat, dan menyingkap rahasia-rahasia ketuhanan (rubûbiyyah) di atas kelezatan pernikahan, makanan, minuman, sedangkan seluruh makhluk lainnya disibukkan oleh kenikmatan fisik tersebut.

ولذلك لما قيل لرابعة ما تقولين في الجنة فقال الجار ثم الدار

Oleh karena itu, ketika dikatakan kepada Rabiah, "Apa pendapatmu tentang surga?" Maka beliau menjawab, "Tetangga (Pemilik rumah) terlebih dahulu, baru kemudian rumahnya (surga)."

فبينت أنه ليس في قلبها التفات إلى الجنة بل إلى رب الجنة

Maka beliau menjelaskan bahwa di dalam hatinya tidak ada keterikatan kepada surga, melainkan kepada Tuhan Pemilik Surga.

وكل من لم يعرف الله في الدنيا فلا يراه

Dan barang siapa yang tidak mengenal (ma'rifat kepada) Allah di dunia, maka dia tidak akan melihat-Nya

في الآخرة وكل من لم يجد لذة المعرفة في الدنيا فلا يجد لذة النظر في الآخرة إذ ليس يستأنف لأحد في الآخرة ما لم يصحبه من الدنيا ولا يحصد أحد إلا ما زرع ولا يحشر المرء إلا على ما مات عليه ولا يموت إلا على ما عاش عليه فما صحبه من المعرفة هو الذي يتنعم به بعينه فقط إلا أنه ينقلب مشاهدة بكشف الغطاء فتتضاعف اللذة به كما تتضاعف لذة العاشق إذا استبدل بخيال صورة المعشوق رؤية صورته فإن ذلك منتهى لذته وإنما طيبة الجنة أن لكل أحد فيها ما يشتهي فمن لا يشتهي إلا لقاء الله تعالى فلا لذة له في غيره بل ربما يتأذى به

di akhirat. Dan barang siapa yang tidak merasakan kenikmatan ma'rifat di dunia, maka dia tidak akan merasakan kenikmatan memandang (Rukyatullah) di akhirat. Sebab, tidak akan ada permulaan baru bagi seseorang di akhirat atas apa yang tidak dibawanya dari dunia. Dan tidaklah seseorang menuai melainkan apa yang telah ditanamnya, tidaklah seseorang dibangkitkan melainkan atas apa yang menjadi keadaannya saat mati, dan tidaklah seseorang mati melainkan atas apa yang menjadi kebiasaan hidupnya. Maka ma'rifat yang menyertainya itulah yang secara langsung menjadi sumber kenikmatannya, hanya saja ia berubah menjadi penyaksian langsung (musyahadah) dengan tersingkapnya tabir (kasyf), sehingga kenikmatannya berlipat ganda sebagaimana berlipat gandanya kenikmatan seorang pecinta apabila khayalan rupa sang kekasih berganti dengan melihat wujud rupanya secara langsung; karena hal itu merupakan puncak kenikmatannya. Kenikmatan surga itu sesungguhnya adalah karena setiap orang di dalamnya mendapatkan apa yang dihasratkannya. Maka barang siapa yang tidak berhasrat melainkan untuk bertemu dengan Allah Ta'ala, niscaya tidak ada kenikmatan baginya pada selain-Nya, bahkan boleh jadi dia merasa terganggu dengannya.

فإذن نعيم الجنة بقدر حب الله تعالى وحب الله تعالى بقدر معرفته فأصل السعادات هي المعرفة التي عبر الشرع عنها بالإيمان

Dengan demikian, kenikmatan surga itu sesuai dengan kadar mahabbah (cinta) kepada Allah Ta'ala, dan mahabbah kepada Allah Ta'ala itu sesuai dengan kadar ma'rifat kepada-Nya. Maka muara dari segala kebahagiaan adalah ma'rifat, yang diungkapkan oleh Syariat dengan istilah iman.

فإن قلت فلذة الرؤية إن كان لها نسبة إلى لذة المعرفة فهي قليلة وإن كان أضعافها لأن لذة المعرفة في الدنيا ضعيفة فتضاعفها إلى حد قريب لا ينتهي في القوة إلى أن يستحقر سائر لذات الجنة فيها فاعلم أن هذا الاستحقار للذة المعرفة صدر من الخلو عن المعرفة فمن خلا عن المعرفة كيف يدرك لذتها وإن انطوى على معرفة ضفيفة وقلبه مشحون بعلائق الدنيا فكيف يدرك لذتها فللعارفين في معرفتهم وفكرتهم ومناجاتهم لله تعالى لذات لو عرضت عليهم الجنة في الدنيا بدلاً عنها لم يستبدلوا بها لذة الجنة ثم هذه اللذة مع كمالها لا نسبة لها أصلاً إلى لذة اللقاء والمشاهدة كما لا نسبة للذة خيال المعشوق إلى رؤيته ولا لذة استنشاق روائح الأطعمة الشهية إلى ذوقها ولا للذة اللمس باليد إلى لذة الوقاع

Jika engkau bertanya: "Jika kenikmatan melihat (rukyah) itu dibandingkan dengan kenikmatan ma'rifat tentulah sedikit, sekalipun berlipat ganda, karena kenikmatan ma'rifat di dunia itu lemah, sehingga pelipatgandaannya ke batas yang dekat tidak akan mencapai kekuatan sampai membuat seluruh kenikmatan surga lainnya terasa kerdil?" Maka ketahuilah, bahwa anggapan kerdil terhadap kenikmatan ma'rifat ini bersumber dari kekosongan jiwa dari ma'rifat itu sendiri. Barang siapa yang jiwanya kosong dari ma'rifat, bagaimana mungkin ia dapat merasakan nikmatnya? Dan jika ia memiliki ma'rifat yang lemah sementara hatinya dipenuhi oleh keterikatan dengan dunia, bagaimana mungkin ia merasakan nikmatnya? Padahal bagi para 'arifin (orang-orang yang memiliki ma'rifat), dalam ma'rifat, tafakur, dan munajat mereka kepada Allah Ta'ala terdapat kenikmatan-kenikmatan yang seandainya surga ditawarkan kepada mereka di dunia sebagai gantinya, niscaya mereka tidak akan menukarnya dengan nikmat surga tersebut. Kemudian kenikmatan ini, meskipun sempurna, sama sekali tidak ada bandingannya dengan kenikmatan pertemuan (liqa') dan penyaksian (musyahadah), sebagaimana tidak ada bandingannya kenikmatan membayangkan kekasih dengan melihatnya secara langsung, atau kenikmatan mencium aroma makanan lezat dengan mencicipinya, atau kenikmatan sentuhan tangan dengan kenikmatan bersetubuh.

وإظهار عظم التفاوت بينهما لا يمكن إلا بضرب مثال فنقول لذة النظر إلى وجه المعشوق في الدنيا تتفاوت بأسباب أحدهما كمال جمال المعشوق ونقصانه فإن اللذة في النظر إلى الأجمل أكمل لا محالة

Untuk menjelaskan besarnya perbedaan antara keduanya tidaklah mungkin melainkan dengan membuat perumpamaan. Maka kita katakan: kenikmatan memandang wajah sang kekasih di dunia bervariasi karena beberapa faktor. Pertama, kesempurnaan dan kekurangan keindahan sang kekasih, karena kenikmatan memandang sosok yang lebih indah pasti lebih sempurna secara niscaya.

والثاني كمال قوة الحب والشهوة والعشق فليس التذاذ من اشتد عشقه كالتذاذ ضعفت شهوته وحبه

Kedua, kesempurnaan kekuatan cinta (hubb), hasrat (syahwat), dan kerinduan ('isyq). Maka kenikmatan orang yang sangat kuat kerinduannya tidaklah sama dengan kenikmatan orang yang lemah hasrat dan cintanya.

والثالث كمال الإدراك فليس التذاذ برؤية المعشوق في ظلمة أو من وراء ستر رقيق أو من بعده كالتذاذه بإدراكه على قرب من غير ستر وعند كمال الضوء ولا إدراك لذة المضاجعة مع ثوب حائل كإدراكها مع التجرد

Ketiga, kesempurnaan penginderaan/persepsi (idrak). Kenikmatan melihat sang kekasih dalam kegelapan, atau dari balik tirai yang tipis, atau dari kejauhan tidaklah sama dengan kenikmatan melihatnya dari jarak dekat tanpa penghalang dan di bawah cahaya yang terang benderang. Tidak pula kenikmatan bersanggama dengan memakai pakaian penghalang sama dengan menjalankannya tanpa busana.

والرابع اندفاع العوائق المشوشة والآلام الشاغلة للقلب فليس التذاذ الصحيح الفارغ المتجرد للنظر إلى المعشوق كالتذاذ الخائف المذعور أو المريض المتألم أو المشغول قلبه بمهم من المهمات

Keempat, tersingkirnya rintangan-rintangan yang mengganggu dan rasa sakit yang menyibukkan hati. Kenikmatan orang yang sehat, bebas dari kesibukan, dan fokus memandang kekasihnya tidaklah sama dengan kenikmatan orang yang ketakutan, sakit yang menderita, atau orang yang hatinya disibukkan oleh suatu urusan penting.

فقدر عاشقاً ضعيف العشق ينظر إلى وجه معشوقه من وراء ستر رقيق على بعد بحيث يمنع انكشاف كنه صورته في حالة اجتمع عليه عقارب وزنابير تؤذيه وتلدغه وتشغل قلبه فهو في هذه الحالة لا يخلو عن لذة ما من مشاهدة معشوقه فلو طرأت على الفجأة حالة انهتك بها الستر وأشرق بها الضوء واندفع عنه المؤذيات وبقي سليماً فارغاً وهجمت عليه الشهوة القوية والعشق المفرط حتى بلغ أقصى الغايات فانظر كيف تتضاعف اللذة حتى لا يبقى للأولى إليها نسبة يعتد بها فكذلك فافهم نسبة لذة النظر إلى لذة المعرفة

Maka bayangkanlah seorang pecinta yang lemah kerinduannya, memandang wajah kekasihnya dari balik tirai tipis dari jarak jauh, sedemikian rupa sehingga menghalangi terungkapnya hakikat rupanya, dalam keadaan ia dikerumuni kalajengking dan lebah yang menyakiti, menyengat, dan menyibukkan hatinya. Dalam keadaan demikian, ia tidak lepas dari kenikmatan tertentu dari menyaksikan kekasihnya. Namun, jika secara tiba-tiba datang keadaan di mana tirai itu tersingkap, cahaya memancar terang, gangguan-gangguan itu tersingkir darinya hingga ia menjadi selamat dan bebas, serta menyergapnya hasrat yang kuat dan kerinduan yang sangat hebat hingga mencapai batas maksimal; maka lihatlah bagaimana kenikmatan itu berlipat ganda hingga kenikmatan yang pertama tidak memiliki perbandingan yang berarti dengannya. Seperti itulah hendaknya engkau pahami perbandingan antara nikmatnya memandang (Rukyatullah) dengan nikmatnya ma'rifat.

فالستر الرقيق مثال البدن والاشتغال به والعقارب والزنابير مثال الشهوات المتسلطة على الإنسان من الجوع والعطش والغضب والغم والحزن وضعف الشهوة والحب مثال لقصور النفس في الدنيا ونقصانها عن الشوق إلى الملأ الأعلى والتفاتها إلى أسفل السافلين وهو مثل قصور الصبي عن ملاحظة لذة الرياسة والتفاته إلى اللعب بالعصفور والعارف وإن قويت في الدنيا معرفته فلا يخلو عن هذه المشوشات ولا يتصور أن يخلو عنها البتة

Tirai yang tipis adalah perumpamaan bagi jasad/tubuh dan kesibukan dengannya. Kalajengking dan lebah adalah perumpamaan bagi syahwat yang menguasai manusia seperti lapar, dahaga, amarah, kecemasan, dan kesedihan. Lemahnya kerinduan dan cinta adalah perumpamaan bagi keterbatasan jiwa di dunia dan kekurangannya untuk merindukan alam malakut (al-mala' al-a'la) serta kecenderungannya pada tempat yang serendah-rendahnya (asfala safilin), yang serupa dengan keterbatasan anak kecil dari menyadari nikmatnya kekuasaan/kepemimpinan dan berpalingnya ia kepada permainan burung kecil. Dan seorang 'arif (orang yang ma'rifat), betapapun kuat ma'rifatnya di dunia, tidak akan terbebas dari pengganggu-pengganggu ini dan sama sekali tidak terbayangkan bisa terbebas darinya secara total.

نعم قد تضعف هذه العوائق في بعض الأحوال ولا تدوم فلا جرم يلوح من جمال المعرفة ما يبهت العقل وتعظم لذته بحيث يكاد القلب يتفطر لعظمته ولكن يكون ذلك

Benar, rintangan-rintangan ini terkadang melemah dalam beberapa keadaan dan tidak bertahan terus-menerus. Oleh karena itu, tampaklah sebagian dari keindahan ma'rifat yang membingungkan akal dan mengagungkan kenikmatannya, hingga hati hampir pecah karena keagungannya. Akan tetapi hal itu terjadi

كالبرق الخاطف وقلما يدوم بل يعرض من الشواغل والأفكار والخواطر ما يشوشه وينغصه وهذه ضرورة دائمة في هذه الحياة الفانية فلا تزال هذه اللذة منغصة إلى الموت وإنما الحياة الطيبة بعد الموت وإنما العيش عيش الآخرة وإن الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون وكل من انتهى إلى هذه الرتبة فإنه يحب لقاء الله تعالى فيحب الموت ولا يكره إلا من حيث ينتظر زيادة استكمال في المعرفة فإن المعرفة كالبذر وبحر المعرفة لا ساحل له فالإحاطة بكنه جلال الله محال فكلما كثرت المعرفة بالله وبصفاته وأفعاله وبأسرار مملكته وقويت كثر النعيم في الآخرة وعظم كما أنه كلما كثر البذر وحسن كثر الزرع وحسن ولا يمكن تحصيل هذا البذر إلا في الدنيا ولا يزرع إلا في صعيد القلب ولا حصاد إلا في الآخرة

seperti kilat yang menyambar dan jarang sekali bertahan lama, bahkan muncul kesibukan, pikiran, dan lintasan hati yang mengganggu dan memperkeruhnya. Ini adalah keniscayaan yang terus-menerus dalam kehidupan yang fana ini. Maka kenikmatan ini senantiasa terkeruhkan hingga kematian tiba. Dan sesungguhnya kehidupan yang baik (al-hayat at-tayyibah) itu adalah setelah kematian, dan sesungguhnya kehidupan yang sejati adalah kehidupan akhirat; 'Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui' (QS. Al-Ankabut: 64). Dan setiap orang yang sampai pada tingkatan ini, dia menyukai pertemuan dengan Allah Ta'ala sehingga mencintai kematian, dan tidak membencinya melainkan dari sudut pandang menantikan tambahan kesempurnaan dalam ma'rifat. Sebab ma'rifat itu ibarat benih, sedangkan lautan ma'rifat tidak bertepi. Maka meliputi hakikat keagungan Allah adalah mustahil. Kapan saja ma'rifat kepada Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, serta rahasia-rahasia kerajaan-Nya semakin bertambah banyak dan kuat, niscaya bertambah banyak dan agung pulalah kenikmatan di akhirat; sebagaimana halnya semakin banyak dan baik benihnya, makin banyak dan baik pula tanamannya. Dan tidaklah mungkin memperoleh benih ini melainkan di dunia, tidak ditanam melainkan di hamparan hati, dan tidak ada panen melainkan di akhirat.

ولهذا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أفضل السعادات طول العمر في طاعة الله لأن المعرفة إنما تكمل وتكثر وتتسع في العمر الطويل بمداومة الفكر والمواظبة على المجاهدة والانقطاع عن علائق الدنيا والتجرد للطلب ويستدعي ذلك زماناً لا محالة فمن أحب الموت أحبه لأنه رأى نفسه واقفاً في المعرفة بالغاً إلى منتهى ما يسر له ومن كره الموت كرهه لأنه كان يؤمل مزيد معرفة تحصل له بطول العمر ورأى نفسه مقصراً عما تحتمله قوته لو عمر فهذا سبب كراهة الموت وحبه عند أهل المعرفة

Oleh karena inilah Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kebahagiaan adalah umur yang panjang dalam ketaatan kepada Allah." Sebab ma'rifat itu hanyalah akan sempurna, bertambah banyak, dan meluas sepanjang umur yang panjang melalui keterusan berpikir (tafakur), ketekunan dalam mujahadah, memutus keterikatan dari dunia, serta mengkhususkan diri untuk mencari-Nya; dan hal itu secara pasti memerlukan waktu. Maka barang siapa yang mencintai kematian, ia mencintainya karena melihat dirinya telah berada pada puncak ma'rifat, mencapai batas akhir dari apa yang dimudahkan baginya. Dan barang siapa yang membenci kematian, ia membencinya karena ia mengharapkan tambahan ma'rifat yang bisa diraihnya dengan panjang umur, dan ia melihat dirinya masih kurang dari potensi yang sanggup dicapainya seandainya diberi umur panjang. Inilah sebab kebencian dan kecintaan terhadap kematian di kalangan ahli ma'rifat.

وأما سائر الخلق فنظرهم مقصور على شهوات الدنيا إن اتسعت أحبوا البقاء وإن ضاقت تمنوا الموت

Adapun seluruh makhluk (manusia awam) lainnya, pandangan mereka terbatas pada syahwat duniawi; jika melapang mereka menyukai kelangsungan hidup, dan jika menyempit mereka mengangankan kematian.

وكل ذلك حرمان وخسران مصدره الجهل والغفلة

Dan semua itu adalah keharaman dari kebaikan dan kerugian yang bersumber dari kebodohan dan kelalaian.

فالجهل والغفلة مغرس كل شقاوة

Sebab kebodohan dan kelalaian adalah persemaian bagi setiap kesengsaraan,

والعلم والمعرفة أساس كل سعادة فقد عرفت بما ذكرناه معنى المحبة ومعنى العشق فإنه المحبة المفرطة القوية ومعنى لذة المعرفة ومعنى الرؤية ومعنى لذة الرؤية ومعنى كونها ألذ من سائر اللذات عند ذوي العقول والكمال وإن لم تكن كذلك عند ذوي النقصان كما لم تكن الرياسة ألذ من المطعومات عند الصبيان

sedangkan ilmu dan ma'rifat adalah fondasi dari setiap kebahagiaan. Maka engkau telah mengetahui melalui apa yang kami sebutkan tentang makna mahabbah (cinta), makna 'isyq—yaitu cinta yang sangat kuat dan berlebihan—makna nikmatnya ma'rifat, makna rukyah (melihat Allah), makna nikmatnya rukyah, serta makna mengapa ia lebih nikmat dari segala kenikmatan lain di sisi orang-orang berakal dan memiliki kesempurnaan jiwa, meskipun tidak demikian di sisi orang-orang yang memiliki kekurangan jiwa; sebagaimana kedudukan/kepemimpinan tidaklah lebih nikmat daripada makanan bagi anak-anak kecil.

فإن قلت فهذه الرؤيا محلها القلب أو العين في الآخرة فاعلم أن الناس قد اختلفوا في ذلك وأرباب البصائر لا يلتفتون إلى هذا الخلاف ولا ينظرون فيه بل العاقل يأكل البقل ولا يسأل عن المبقلة ومن يشتهي رؤية معشوقه يشغله عشقه عن أن يلتفت إلى أن رؤيته تخلق في عينه أو جبهته بل يقصد الرؤيا ولذتها سواء كان ذلك بالعين أو غيرها فإن العين محل وظرف لا نظر إليه ولا حكم له والحق فيه أن القدرة الأزلية واسعة فلا يجوز أن نحكم عليها بالقصور عن أحد الأمرين هذا في حكم الجواز فأما الواقع في الآخرة من الجائزين فلا يدرك إلا بالسمع والحق ما ظهر لأهل السنة والجماعة من شواهد الشرع أن ذلك يخلق في العين ليكون لفظ الرؤية والنظر وسائر الألفاظ الواردة في الشرع مجري على ظاهره إذ لا يجوز إزالة الظواهر إلا لضرورة والله تعالى أعلم

Jika engkau bertanya: "Apakah tempat terjadinya rukyah (melihat Allah) ini di akhirat kelak berada di hati atau di mata?" Ketahuilah bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hal itu. Namun para pemilik mata hati (arbab al-basa'ir) tidak memedulikan perselisihan ini dan tidak memandangnya. Bahkan orang yang berakal itu memakan sayuran tanpa mempertanyakan kebun tempat tumbuhnya. Dan barang siapa yang sangat berhasrat melihat kekasihnya, kerinduannya menyibukkannya dari memperhatikan apakah penglihatannya itu diciptakan di matanya atau di dahinya, melainkan ia memang bertujuan pada rukyah dan kenikmatannya, baik itu melalui mata atau selainnya. Sebab mata hanyalah tempat dan wadah yang tidak berpengaruh dan tidak menentukan hukum. Adapun kebenaran padanya adalah bahwa kekuasaan azali Allah itu maha luas, sehingga tidak boleh kita menghukuminya terbatas dari salah satu dari dua kemungkinan tersebut. Ini berada dalam hukum kebolehan (ja'iz). Adapun apa yang kenyataannya terjadi di akhirat dari dua hal yang boleh tersebut, tidaklah dapat diketahui melainkan melalui dalil pendengaran (syariat). Dan kebenaran yang tampak bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari bukti-bukti syariat adalah bahwa hal itu diciptakan pada mata, agar lafaz rukyah, memandang (an-nadhar), dan seluruh lafaz yang terdapat dalam syariat diberlakukan sesuai dengan makna zahirnya, sebab tidak boleh mengabaikan makna zahir kecuali karena adanya darurat/keniscayaan. Wallahu Ta'ala A'lam.

Daftar Isi Kitab

Lihat Semua
بيان شواهد الشرع في حب العبد لله تعالى
بيان حقيقة المحبة وأسبابها وتحقيق معنى محبة العبد لله تعالى
بيان أن المستحق للمحبة هو الله وحده
بيان أن أجل اللذات وأعلاها معرفة الله تعالى والنظر إلى وجهه الكريم وأنه لا يتصور أن لا يؤثر عليها لذة أخرى إلا من حرم هذه اللذة
بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا
بيان الأسباب المقوية لحب الله تعالى
بيان السبب في تفاوت الناس في الحب
بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه
بيان معنى الشوق إلى الله تعالى
بيان محبة الله للعبد ومعناها
القول في علامات محبة العبد لله تعالى
بيان معنى الأنس بالله تعالى
بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس
القول في معنى الرضا بقضاء الله تعالى وحقيقته وما ورد في فضيلته
بيان فضيلة الرضا
بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى
بيان أن الدعاء غير مناقض للرضا
بيان أن الفرار من البلاد التي هي مظان المعاصي ومذمتها لا يقدح في الرضا
بيان جملة من حكايات المحبين وأقوالهم ومكاشفاتهم
خاتمة الكتاب بكلمات متفرقة تتعلق بالمحبة ينتفع بها