بيان أن المستحق للمحبة هو الله وحده
بيان أن المستحق للمحبة هو الله وحده
Penjelasan bahwa Yang Berhak Menerima Cinta Hanya Allah Semata
وأن من أحب غير الله لا من حيث نسبته إلى الله فذلك لجهله وقصوره في معرفة الله تعالى وحب الرسول
Dan bahwa barang siapa yang mencintai selain Allah bukan dari sudut nisbahnya (hubungannya) kepada Allah, maka hal itu disebabkan oleh kebodohannya dan keterbatasannya dalam mengenali (ma'rifat) Allah Ta'ala. Sedangkan mencintai Rasulullah…
صلى الله عليه وسلم محمود لأنه عين حب الله تعالى وكذلك حب العلماء والأتقياء لأن محبوب المحبوب محبوب ورسول المحبوب محبوب ومحب المحبوب محبوب وكل ذلك يرجع إلى حب الأصل فلا يتجاوزه إلى غيره فلا محبوب بالحقيقة عند ذوي البصائر إلا الله تعالى ولا مستحق للمحبة سواه وإيضاحه بأن نرجع إلى الأسباب الخمسة التي ذكرناها ونبين أنها مجتمعة في حق الله تعالى بحملتها ولا يوجد في غيره إلا آحادها وأنها حقيقة في حق الله تعالى ووجودها في حق غيره وهم وتخيل وهو مجاز محض لا حقيقة له ومهما ثبت ذلك انكشف لكل ذي بصيرة ضد ما تخيله ضعفاء العقول والقلوب من استحالة حب الله تعالى تحقيقاً وبان أن التحقيق يقتضي أن لا نحب أحداً غير الله تعالى
shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hal yang terpuji, karena hal itu merupakan inti dari mencintai Allah Ta'ala. Demikian pula mencintai para ulama dan orang-orang yang bertakwa, karena yang dicintai oleh yang dicintai itu adalah dicintai, utusan dari yang dicintai itu adalah dicintai, dan pencinta dari yang dicintai itu juga dicintai. Seluruhnya itu kembali kepada cinta kepada Sang Asal (Allah), sehingga tidak melampaui-Nya kepada yang lain. Maka tidak ada yang dicintai secara hakikat di sisi pemilik bashirah (mata hati) melainkan Allah Ta'ala, dan tidak ada yang berhak menerima cinta selain diri-Nya. Penjelasannya adalah dengan kita merujuk kembali kepada lima sebab yang telah kami sebutkan, lalu kami jelaskan bahwa seluruh sebab tersebut terhimpun secara utuh pada hak Allah Ta'ala, sementara pada selain-Nya hanya ditemukan sebagian saja. Bahwa sebab-sebab tersebut adalah hakikat pada hak Allah Ta'ala, sedangkan keberadaannya pada hak selain-Nya hanyalah prasangka dan khayalan belaka yang bersifat kiasan murni (majaz mahdh) tanpa ada hakikatnya. Apabila hal itu telah tetap, maka tersingkaplah bagi setiap pemilik bashirah hal yang berlawanan dengan apa yang dikhayalkan oleh orang-orang yang lemah akal dan hatinya mengenai mustahilnya mencintai Allah Ta'ala secara hakiki, dan tampaklah jelas bahwa penelitian secara mendalam menuntut agar kita tidak mencintai seorang pun selain Allah Ta'ala.
فأما السبب الأول وهو حب الإنسان نفسه وبقاءه وكماله ودوام وجوده وبغضه لهلاكه وعدمه ونقصانه وقواطع كماله فهذه جبلة كل حي ولا يتصور أن ينفك عنها وهذا يقتضي غاية المحبة لله تعالى فإن من عرف نفسه وعرف ربه عرف قطعاً أنه لا وجود له من ذاته وإنما وجود ذاته ودوام وجوده وكمال وجوده من الله وإلى الله وبالله فهو المخترع الموجد له وهو المبقي له وهو المكمل لوجوده بخلق صفات الكمال وخلق الأسباب الموصلة إليه ذو خلق الهداية إلى استعمال الأسباب وإلا فالعبد من حيث ذاته لا وجود له من ذاته بل هو محو محض وعدم صرف لولا فضل الله تعالى عليه بالإيجاد وهو هالك عقيب وجوده لولا فضل الله عليه بالإبقاء وهو ناقص بعد الوجود لولا فضل الله عليه بالتكميل لخلقته وبالجملة فليس في الوجود شيء له بنفسه قوام إلا القيوم الحي الذي هو قائم لوجوده والمديم له إن عرفه خالقاً موجداً ومخترعاً مبقياً وقيوماً بنفسه ومقوماً لغيره فإن كان لا يحبه فهو لجهله بنفسه وبربه والمحبة ثمرة المعرفة فتنعدم بانعدامها وتضعف بضعفها وتقوى بقوتها ولذلك قال الحسن البصري رحمه الله تعالى من عرف ربه أحبه ومن عرف الدنيا زهد فيها وكيف يتصور أن يحب الإنسان نفسه ولا يحب ربه الذي به قوام نفسه ومعلوم أن المبتلى بحر الشمس لما كان يحب الظل فيحب بالضرورة الأشجار التي بها قوام الظل وكل ما في الوجود بالإضافة إلى قدرة الله تعالى فهو كالظل بالإضافة إلى الشجر والنور بالإضافة إلى الشمس فإن الكل من آثار قدرته ووجود الكل تابع لوجوده كما أن وجود النور تابع للشمس ووجود الظل تابع للشجر بل هذا المثال صحيح بالإضافة إلى أوهام العوام إذ تخيلوا أن النور أثر الشمس وفائض منها وموجود بها وهو خطأ محض إذا انكشف لأرباب القلوب انكشافاً أظهر من مشاهدة الأبصار أن النور حاصل من قدرة الله تعالى اختراعاً عند وقوع المقابلة بين الشمس والأجسام الكثيفة كما أن نور الشمس وعينها وشكلها وصورتها أيضاً حاصل من قدرة الله تعالى ولكن الغرض من الأمثلة التفهيم فلا يطلب فيها الحقائق فإذن إن كان حب الإنسان نفسه ضرورياً فحبه لمن به قوامه أولاً ودوامه ثانياً في أصله وصفاته وظاهره وباطنه وجواهره وأعراضه أيضاً ضروري إن عرف ذلك كذلك ومن خلا عن الحب هذا فلأنه اشتغل بنفسه وشهواته وذهل عن ربه وخالقه فلم يعرفه حق معرفته وقصر نظره على شهواته ومحسوساته وهو عالم الشهادة الذي يشاركه البهائم في التنعم به والاتساع فيه دون عالم الملكوت الذي لا يطأ أرضه إلا من يقرب إلى شبه من الملائكة فينظر فيه بقدر قربه في الصفات من الملائكة ويقصر عنه بقدر انحطاطه إلى حضيض عالم البهائم
Adapun sebab pertama, yaitu kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri, kelangsungan hidupnya, kesempurnaannya, dan kelanggengan keberadaannya, serta kebenciannya terhadap kehancurannya, ketiadaannya, kekurangannya, dan hal-hal yang menghalangi kesempurnaannya; maka ini merupakan tabiat bawaan (jibillat) setiap yang hidup dan tidak terpikirkan untuk berpisah darinya. Hal ini menuntut puncak kecintaan kepada Allah Ta'ala. Sebab barang siapa mengenali dirinya dan mengenali Tuhannya, ia pasti mengetahui secara pasti bahwa tidak ada keberadaan bagi dirinya dari zatnya sendiri; melainkan keberadaan zatnya, kelanggengan keberadaannya, dan kesempurnaan keberadaannya adalah dari Allah, kepada Allah, dan dengan (pertolongan) Allah. Dialah Yang Maha Menciptakan dan Mengadakan dirinya, Dialah Yang Maha Mengekalkan dirinya, dan Dialah Yang Maha Menyempurnakan keberadaannya dengan menciptakan sifat-sifat kesempurnaan serta menciptakan sebab-sebab yang menyampaikan kepadanya, serta menciptakan petunjuk untuk menggunakan sebab-sebab tersebut. Jika tidak demikian, maka hamba ditinjau dari zatnya sendiri tidaklah memiliki keberadaan dari dirinya sendiri, melainkan ia adalah ketiadaan murni (mahw mahdh) dan kelenyapan belaka sekiranya bukan karena karunia Allah Ta'ala kepadanya dengan mengadaikannya. Ia akan binasa sesaat setelah ada sekiranya bukan karena karunia Allah kepadanya dengan mengekalkannya, dan ia kurang setelah ada sekiranya bukan karena karunia Allah kepadanya dengan menyempurnakan penciptaannya. Kesimpulannya, tidak ada satu pun dalam keberadaan ini yang memiliki penopang bagi dirinya sendiri melainkan Sang Mahatampak/Maha Berdiri Sendiri (al-Qayyum) Yang Mahahidup, yang menegakkan keberadaannya dan mengekalkannya. Apabila seseorang mengenali-Nya sebagai Pencipta, Pengada, Pengubah, Mengekalkan, Berdiri Sendiri, dan Penegak bagi selain-Nya, lalu ia tidak mencintai-Nya, maka itu disebabkan oleh kebodohannya terhadap dirinya sendiri dan terhadap Tuhannya. Padahal cinta adalah buah dari ma'rifat (pengetahuan spiritual), sehingga cinta akan sirna dengan sirnanya ma'rifat, melemah dengan melemahnya ma'rifat, dan menguat dengan menguatnya ma'rifat. Oleh karena itulah Al-Hasan Al-Bashri rahmatullah 'alaih berkata: 'Barang siapa mengenali Tuhannya, niscaya ia mencintai-Nya; dan barang siapa mengenali dunia, niscaya ia berzuhud dengannya.' Lantas bagaimana dapat dibayangkan seorang manusia mencintai dirinya sendiri namun tidak mencintai Tuhannya yang menjadi penopang bagi keberadaan dirinya? Telah dimaklumi bahwa orang yang tertimpa sengatan panas matahari, tatkala ia mencintai naungan (bayangan), maka secara otomatis ia pasti mencintai pepohonan yang menjadi penopang keberadaan naungan tersebut. Dan segala sesuatu yang ada di alam wujud ini jika dihubungkan dengan kekuasaan Allah Ta'ala adalah seperti bayangan jika dihubungkan dengan pohon, dan seperti cahaya jika dihubungkan dengan matahari. Sebab semuanya merupakan bekas (atsar) dari kekuasaan-Nya, dan keberadaan semuanya mengikuti keberadaan-Nya sebagaimana keberadaan cahaya mengikuti matahari dan keberadaan bayangan mengikuti pohon. Bahkan perumpamaan ini pun tepat jika ditinjau dari sangkaan orang awam tatkala mereka mengkhayalkan bahwa cahaya adalah dampak dari matahari, bersumber darinya, dan ada dengannya. Padahal itu adalah kekeliruan murni ketika tersingkap bagi para pemilik hati dengan tersingkap yang lebih terang daripada penglihatan mata lahir, bahwa cahaya itu terwujud dari kekuasaan Allah Ta'ala secara penciptaan baru (ikhtira') ketika terjadi kelurusan sejajar antara matahari dan benda-benda padat; sebagaimana cahaya matahari, zatnya, bentuknya, dan rupanya juga terwujud dari kekuasaan Allah Ta'ala. Namun tujuan dari perumpamaan adalah untuk pemahaman, sehingga tidak dituntut hakikat mendalam darinya. Maka dengan demikian, jika cinta manusia kepada dirinya sendiri adalah bersifat keniscayaan (dharuri), maka cintanya kepada Zat yang menjadi penopang keberadaannya pertama kali, dan kelanggengannya kedua kali—pada zatnya, sifat-sifatnya, lahirnya, batinnya, substansi (jawahir), serta aksidennya (a'radh)—juga merupakan keniscayaan jika ia mengenali hal itu sebagaimana mestinya. Dan barang siapa yang hampa dari rasa cinta ini, maka hal itu karena ia disibukkan oleh dirinya sendiri dan hawa nafsunya serta lalai dari Tuhannya dan Penciptanya, sehingga ia tidak mengenali-Nya dengan pengenalan yang sebenar-benarnya (haqqa ma'rifatih). Pandangannya terbatas pada hawa nafsu dan hal-hal terindera miliknya, yaitu alam syahadah (alam nyata) yang diikuti pula oleh hewan-hewan dalam bersenang-senang dan bersuka ria di dalamnya, bukan alam malakut yang tanahnya tidak akan dipijak melainkan oleh orang yang mendekati keserupaan dengan para malaikat; sehingga ia dapat memandang ke dalamnya sesuai dengan kadar kedekatan sifat-sifatnya dengan para malaikat, dan ia akan terhalang darinya sesuai dengan kadar kejatuhannya ke dasar alam binatang.
وأما السبب الثاني وهو حبه من أحسن عليه فواساه بماله ولاطفه بكلامه وأمده بمعونته وانتدب لنصرته
Adapun sebab kedua, yaitu cintanya kepada orang yang berbuat baik kepadanya, seperti melapangkannya dengan hartanya, bersikap lembut kepadanya dengan tutur katanya, menyokongnya dengan bantuannya, bersiap sedia untuk menolongnya,
وقمع أعداءه وقام بدفع شر الأشرار عنه وانتهض وسيلة إلى جميع حظوظه وأغراضه في نفسه وأولاده وأقاربه فإنه محبوب لا محالة عنده وهذا بعينه يقتضي أن لا يحب إلا الله تعالى فإنه لو عرف حق المعرفة لعلم أن المحسن إليه هو الله تعالى فقط فأما أنواع إحسانه إلى كل عبيده فلست أعدها إذ ليس يحيط بها حصر حاصر كما قال تعالى وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها وقد أشرنا إلى طرف منه في كتاب الشكر ولكنا نقتصر الآن على بيان أن الإحسان من الناس غير متصور إلا بالمجاز وإنما المحسن هو الله تعالى ولنفرض ذلك فيمن أنعم عليك بجميع خزائنه ومكنك منها لتتصرف فيها كيف تشاء فإنك تظن أن هذا الإحسان منه وهو غلط فإنه إنما تم إحسانه به وبماله وبقدرته على المال وبداعيته الباعثة له على صرف المال إليك فمن الذي أنعم بخلقه وخلق ماله وخلق قدرته وخلق إرادته وداعيته ومن الذي حببك إليه وصرف وجهه إليك وألقى في نفسه أن صلاح دينه أو دنياه في الإحسان إليك ولولا كل ذلك لما أعطاك حبة من ماله ومهما سلط الله عليه الدواعي وقرر في نفسه أن صلاح دينه أو دنياه في أن يسلم إليك ماله كان مقهوراً مضطراً في التسليم لا يستطيع مخالفته فالمحسن هو الذي اضطره لك وسخره وسلط عليه الدواعي الباعثة المرهقة إلى الفعل وأما يده فواسطة يصل بها إحسان الله إليك وصاحب اليد مضطر في ذلك اضطراراً مجرى الماء في جريان الماء فيه فإن اعتقدته محسناً أو شكرته من حيث هو بنفسه محسن لا من حيث هو واسطة كنت جاهلاً بحقيقة الأمر فإنه لا يتصور الإحسان من الإنسان إلا إلى نفسه أما الإحسان إلى غيره فمحال من المخلوقين لأنه لا يبذل ماله إلا لغرض له البذل إما آجل وهو الثواب وإما عاجل وهو المنة والاستسخار أو الثناء والصيت والاشتهار بالسخاء والكرم أو جذب قلوب الخلق إلى الطاعة والمحبة وكما أن الإنسان لا يلقي ماله في البحر إذ لا غرض له فيه فلا يلقيه في يد إنسان إلا لغرض له فيه وذلك الغرض هو مطلوبه ومقصده وأما أنت فلست مقصوداً بل يدك آلة له في القبض حتى يحصل غرضه من الذكر والثناء أو الشكر أو الثواب بسبب قبضك المال فقد استسخرك في القبض للتوصل إلى غرض نفسه فهو إذن محسن إلى نفسه ومعتاض عما بذله من ماله عوضاً هو أرجح عنده من ماله ولولا رجحان ذلك الحظ عنده لما نزل عن ماله لأجلك أصلاً البتة فإذن هو غير مستحق للشكر والحب من وجهين
menumpas musuh-musuhnya, bertindak menolak kejahatan orang-orang jahat darinya, serta bangkit menjadi sarana bagi tercapainya seluruh keinginan dan maksudnya pada dirinya, anak-anaknya, dan kerabatnya; maka orang tersebut tidak diragukan lagi pasti dicintai di sisinya. Hal ini sendiri menuntut agar ia tidak mencintai melainkan hanya Allah Ta'ala. Sebab sekiranya ia mengenali dengan sebenar-benarnya pengenalan, niscaya ia mengetahui bahwa yang berbuat baik kepadanya hanyalah Allah Ta'ala semata. Adapun jenis-jenis kebaikan-Nya kepada seluruh hamba-Nya, aku tidak akan menghitungnya karena tidak mungkin dapat dicakup oleh batasan penghitung, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya' (QS. An-Nahl: 18). Dan kami telah mengisyaratkan sebagian darinya dalam Kitab al-Syukr (Kitab Syukur). Namun sekarang kami membatasi diri pada penjelasan bahwa kebaikan dari manusia itu tidak dapat dibayangkan melainkan secara majas (kiasan), sedangkan yang berbuat baik sesungguhnya hanyalah Allah Ta'ala. Mari kita andaikan hal itu pada seseorang yang memberikan nikmat kepadamu dengan seluruh perbendaharaan hartanya dan memberimu kuasa atasnya agar engkau dapat mempergunakannya sesukamu. Sungguh engkau menyangka bahwa kebaikan ini berasal darinya, padahal itu adalah suatu kekeliruan. Sebab kebaikannya itu baru terlaksana sempurna dengan wujud dirinya, hartanya, kemampuannya atas harta tersebut, serta dorongan jiwanya yang membangkitkannya untuk mencurahkan harta itu kepadamu. Maka siapakah yang telah memberi nikmat dengan menciptakan orang itu, menciptakan hartanya, menciptakan kemampuannya, serta menciptakan kehendak dan dorongan jiwanya? Dan siapakah yang telah menjadikan engkau dicintai olehnya, memalingkan wajahnya kepadamu, dan menanamkan dalam jiwanya bahwa kebaikan agamanya atau dunianya terletak pada berbuat baik kepadamu? Sekiranya bukan karena seluruh hal itu, niscaya ia tidak akan memberimu sebiji zarah pun dari hartanya. Dan manakala Allah menguasakan dorongan-dorongan tersebut atas dirinya serta menetapkan dalam jiwanya bahwa kebaikan agama atau dunianya adalah dengan menyerahkan hartanya kepadamu, maka ia menjadi terpaksa dan terdorong dalam penyerahan tersebut tanpa sanggup menentangnya. Maka Yang Maha Berbuat Baik sesungguhnya adalah Zat yang memaksa orang itu untukmu, menundukkannya, dan menguasakan atasnya dorongan-dorongan yang membangkitkan dan mendesak kepada perbuatan tersebut. Adapun tangannya hanyalah perantara yang menyampaikan kebaikan Allah kepadamu, sedangkan pemilik tangan itu terpaksa dalam hal tersebut sebagaimana terpasrahnya alur air dalam mengalirkan air di dalamnya. Jika engkau meyakininya sebagai orang yang berbuat baik atau engkau berterima kasih kepadanya ditinjau dari dirinya sendiri sebagai pelaku kebaikan—bukan ditinjau dari kedudukannya sebagai perantara—maka engkau telah bodoh terhadap hakikat perkara ini. Sebab tidak dapat dibayangkan adanya kebaikan dari manusia melainkan kepada dirinya sendiri; adapun berbuat baik kepada orang lain adalah mustahil bagi makhluk. Sebab ia tidak menafkahkan hartanya melainkan demi suatu tujuan milik dirinya dalam penafkahan tersebut: baik tujuan jangka panjang yaitu pahala, maupun tujuan jangka pendek yaitu merasa berjasa, menundukkan, pujian, ketenaran, dikenal dermawan dan pemurah, atau menarik hati makhluk menuju ketaatan dan kecintaan kepadanya. Sebagaimana manusia tidak membuang hartanya ke laut karena tidak memiliki tujuan di dalamnya, ia pun tidak memasukkannya ke tangan seseorang melainkan karena suatu tujuan yang dimilikinya. Tujuan itulah yang dicari dan dimaksudkannya. Adapun engkau, engkau bukanlah yang dimaksudkan; melainkan tanganmu hanyalah alat baginya untuk menerima harta hingga tercapai tujuannya berupa sebutan baik, pujian, ucapan terima kasih, atau pahala disebabkan diterimanya harta tersebut olehmu. Jadi, ia telah memanfaatkanmu dalam penerimaan itu untuk mencapai tujuan dirinya sendiri. Dengan demikian, ia sesungguhnya berbuat baik kepada dirinya sendiri dan mengambil ganti atas apa yang dicurahkannya dari hartanya dengan ganti yang menurutnya lebih berharga daripada hartanya itu. Sekiranya tidak ada keunggulan keuntungan tersebut menurut pandangannya, niscaya ia tidak akan melepaskan hartanya demi dirimu sama sekali. Maka dari itu, ia tidak berhak menerima ucapan terima kasih dan cinta dari dua sisi:
أحدهما أنه مضطر بتسليط الله الدواعي عليه فلا قدرة له على المخالفة فهو جار مجرى خازن الأمير فإنه لا يرى محسناً بتسليم خلعة الأمير إلى من خلع عليه لأنه من جهة الأمير مضطر إلى الطاعة والامتثال لما يرسمه ولا يقدر على مخالفته ولو خلاه الأمير ونفسه لما سلم ذلك فكذلك كل محسن لو خلاه الله ونفسه لم يبذل حبة من ماله حتى سلط الله الدواعي عليه وألقى في نفسه أن حظه ديناً ودنيا في بذله فبذله لذلك والثاني أنه معتاض عما بذله حظاً هو أوفى عنده وأحب مما بذله فكما لا يعد البائع محسناً لأنه بذل بعوض هو أحب عنده مما بذله فكذلك الواهب اعتاض الثواب أو الحمد والثناء أو عوضاً آخر وليس من شرط العوض أن يكون عيناً متمولاً بل الحظوظ كلها أعواض تستحقر الأموال والأعيان بالإضافة إليها فالإحسان في الجود والجود هو بذل المال من غير عوض وحظ يرجع إلى الباذل وذلك محال من غير الله سبحانه فهو الذي أنعم على العالمين إحساناً إليهم ولأجلهم لا لحظ وغرض يرجع إليه فإنه يتعالى عن الأغراض فلفظ الجود والإحسان في حق غيره كذب أو مجاز ومعناه في حق غيره محال وممتنع امتناع الجمع بين السواد والبياض فهو المنفرد بالجود والإحسان والطول والامتنان فإن كان في الطبع حب المحسن فينبغي أن لا يحب العارف إلا الله تعالى إذ الإحسان
Salah satunya adalah bahwa ia terpaksa dengan dikuasakannya dorongan-dorongan oleh Allah atas dirinya sehingga ia tidak memiliki kemampuan untuk menentang. Ia berkedudukan seperti bendahara seorang raja; ia tidak dipandang sebagai orang yang berbuat baik dengan menyerahkan jubah kehormatan raja kepada orang yang diberi jubah tersebut, sebab dari pihak raja ia terpaksa untuk taat dan mematuhi apa yang diperintahkan serta tidak mampu menentangnya. Sekiranya raja membiarkannya bersama dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan menyerahkannya. Demikian pula setiap orang yang berbuat baik, sekiranya Allah membiarkannya bersama dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan mencurahkan sebiji zarah pun dari hartanya hingga Allah menguasakan dorongan-dorongan atas dirinya dan menanamkan dalam jiwanya bahwa bagian keuntungannya secara agama dan dunia ada pada pencurahannya, lalu ia mencurahkannya karena hal itu. Dan yang kedua adalah bahwa ia mengambil ganti dari apa yang dicurahkannya berupa bagian keuntungan yang lebih sempurna dan lebih dicintainya daripada apa yang dicurahkannya. Sebagaimana seorang penjual tidak dianggap sebagai orang yang berbuat baik (dermawan) karena ia mencurahkan barang dengan ganti yang lebih dicintainya daripada barang tersebut, demikian pula orang yang memberi hibah; ia mengambil ganti berupa pahala, pujian, atau ganti lainnya. Dan bukanlah syarat dari ganti itu harus berupa barang berwujud harta, melainkan seluruh bagian keuntungan adalah imbalan yang menjadikan harta dan benda-benda berwujud menjadi kerdil jika dibandingkan dengannya. Maka kebaikan hakiki ada pada kedermawanan (al-jud), sedangkan al-jud adalah mencurahkan harta tanpa imbalan dan tanpa bagian keuntungan yang kembali kepada si pencurah. Hal itu adalah mustahil terjadi selain dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dialah yang memberi nikmat kepada seluruh alam sebagai bentuk kebaikan kepada mereka dan demi mereka, bukan karena suatu keuntungan dan tujuan yang kembali kepada-Nya, sebab Dia Mahatinggi dari segala tujuan. Maka lafal al-jud (kedermawanan) dan al-ihsan (kebaikan) pada hak selain-Nya adalah kedustaan atau kiasan (majas), dan maknanya pada hak selain-Nya adalah mustahil sebagaimana mustahilnya menghimpun antara hitam dan putih. Dialah yang Maha Sendiri dalam kedermawanan, kebaikan, karunia, dan anugerah. Maka jika dalam tabiat manusia terdapat kecintaan kepada yang berbuat baik, seyogianya seorang 'arif (yang mengenal Allah) tidak mencintai melainkan hanya Allah Ta'ala, sebab kebaikan…
من غيره محال فهو المستحق لهذه المحبة وحده وأما غيره فيستحق المحبة على الإنسان بشرط الجهل بمعنى الإحسان وحقيقته
dari selain-Nya adalah mustahil. Maka Dialah yang berhak atas kecintaan ini secara tunggal. Adapun selain-Nya, ia hanya berhak dicintai oleh manusia dengan syarat kebodohan manusia tersebut terhadap makna kebaikan dan hakikatnya.
وأما السبب الثالث وهو حبك المحسن في نفسه وإلى لم يصل إليك إحسانه وهذا أيضاً موجود في الطباع
Adapun sebab ketiga, yaitu cintamu kepada orang yang berbuat baik pada dirinya sendiri meskipun kebaikannya tidak sampai kepadamu; dan hal ini juga ada dalam tabiat manusia.
فإنه إذا بلغك خبر ملك عابد عادل عالم رفيق بالناس متلطف بهم متواضع لهم وهو في قطر من أقطار الأرض بعيد عنك وبلغك خبر ملك آخر ظالم متكبر فاسق متهتك شرير وهو أيضاً بعيد عنك فإنك تجد في قلبك تفرقة بينهما إذ تجد في القلب ميلاً إلى الأول وهو الحب ونفرة عن الثاني وهو البغض مع أنك آيس من خير الأول وآمن من شر الثاني لانقطاع طمعك عن التوغل إلى بلادهما فهذا حب المحسن من حيث إنه محسن فقط لا من حيث إنه محسن إليك وهذا أيضاً يقتضي حب الله تعالى بل يقتضي أن لا يحب غيره أصلاً إلا من حيث يتعلق منه بسبب فإن الله هو المحسن إلى الكافة والمتفضل على جميع أصناف الخلائق أولاً بإيجادهم وثانياً بتكميلهم بالأعضاء والأسباب التي هي من ضروراتهم وثالثاً بترفيههم وتنعيمهم بخلق الأسباب التي هي في مظان حاجاتهم وإن لم تكن في مظان الضرورة ورابعاً بتجميلهم بالمزايا والزوائد التي هي في مظنة زينتهم وهي خارجة عن ضروراتهم وحاجاتهم
Sebab jika sampai kepadamu berita tentang seorang raja yang ahli ibadah, adil, berilmu, bersikap lembut kepada manusia, ramah serta tawaduk kepada mereka, sementara ia berada di suatu belahan bumi yang jauh darimu; dan sampai pula kepadamu berita tentang raja lain yang zalim (kejam), sombong, fasik, tidak bermoral, dan jahat, yang ia juga jauh darimu; niscaya engkau mendapati dalam hatimu perbedaan di antara keduanya. Engkau mendapati dalam hati ada kecenderungan kepada raja yang pertama yang berupa kecintaan, dan rasa benci (ketidaksukaan) terhadap raja yang kedua yang berupa kebencian; padahal engkau tidak berharap mendapatkan kebaikan raja pertama dan merasa aman dari kejahatan raja kedua karena terputusnya harapanmu untuk sampai ke negeri mereka berdua. Maka ini adalah cinta kepada pelaku kebaikan ditinjau dari kedudukannya sebagai orang yang berbuat baik semata, bukan ditinjau dari kedudukannya sebagai orang yang berbuat baik kepadamu. Dan hal ini juga menuntut kecintaan kepada Allah Ta'ala, bahkan menuntut untuk tidak mencintai selain-Nya sama sekali melainkan dari sudut keterkaitannya dengan-Nya melalui suatu sebab. Sebab Allah adalah Zat yang berbuat baik kepada seluruh makhluk dan mencurahkan karunia kepada semua jenis ciptaan: pertama dengan mengada-kan mereka, kedua dengan menyempurnakan mereka melalui anggota tubuh dan sebab-sebab yang merupakan kebutuhan dharuri (pokok) mereka, ketiga dengan memberi kemudahan dan kenikmatan kepada mereka melalui penciptaan sebab-sebab yang menjadi tempat persangkaan kebutuhan (hajat) mereka meskipun bukan dalam tingkatan dharuri, dan keempat dengan memperindah mereka melalui keutamaan-keutamaan dan kelebihan-kelebihan yang menjadi tempat persangkaan perhiasan mereka yang berada di luar batas kebutuhan pokok dan sekunder mereka.
ومثال الضروري من الأعضاء الرأس والقلب والكبد ومثال المحتاج إليه العين واليد والرجل ومثال الزينة استقواس الحاجبين وحمرة الشفتين وتلون العينين إلى غير ذلك مما لو فات لم تنخرم به حاجة ولا ضرورة
Contoh kebutuhan dharuri (pokok) pada anggota tubuh adalah kepala, hati, dan hati (liver). Contoh kebutuhan hajat (sekunder) adalah mata, tangan, dan kaki. Sedangkan contoh perhiasan (pelengkap) adalah lengkungan kedua alis, kemerahan bibir, serta warna pada kedua mata, dan hal-hal lainnya yang jika tidak ada, tidak akan merusak kebutuhan sekunder maupun dharuri.
ومثال الضروري من النعم الخارجة عن بدن الإنسان الماء والغذاء ومثال الحاجة الدواء واللحم والفواكه ومثال المزايا والزوائد خضرة الأشجار وحسن أشكال الأنوار والأزهار ولذائذ الفواكه والأطعمة التي لا تنخرم بعدمها حاجة ولا ضرورة
Contoh nikmat dharuri (pokok) di luar tubuh manusia adalah air dan makanan pokok. Contoh kebutuhan hajat (sekunder) adalah obat-obatan, daging, dan buah-buahan. Sedangkan contoh keutamaan dan kelebihan (perhiasan) adalah hijau indahnya pepohonan, indahnya bentuk pepohonan yang berbunga dan bunga-bunga, serta kelezatan buah-buahan dan makanan yang ketiadaannya tidak akan merusak kebutuhan sekunder maupun dharuri.
وهذه الأقسام الثلاثة موجودة لكل حيوان بل لكل نبات بل لكل صنف من أصناف الخلق من ذروة العرش إلى منتهى الفرش فإذن هو المحسن فكيف يكون غيره محسناً وذلك المحسن حسنة من حسنات قدرته فإنه خالق الحسن وخالق المحسن وخالق الإحسان وخالق أسباب الإحسان فالحب بهذه العلة لغيره أيضاً جهل محض ومن عرف ذلك لم يحب بهذه العلة إلا الله تعالى
Ketiga pembagian ini ada pada setiap hewan, bahkan pada setiap tumbuhan, bahkan pada setiap jenis ciptaan dari puncak Arasy hingga dasar bumi (al-Farsy). Dengan demikian, Dialah Sang Maha Berbuat Baik; maka bagaimana mungkin selain-Nya menjadi pelaku kebaikan, sedangkan orang yang berbuat baik itu sendiri merupakan satu kebaikan di antara kebaikan-kebaikan kekuasaan-Nya? Sebab Dialah Pencipta kebaikan, Pencipta orang yang berbuat baik, Pencipta perbuatan baik, dan Pencipta sebab-sebab kebaikan. Maka mencintai selain-Nya atas dasar alasan ini juga merupakan kebodohan murni; dan barang siapa yang menyadari hal itu, niscaya ia tidak akan mencintai atas dasar alasan ini melainkan hanya kepada Allah Ta'ala.
وأما السبب الرابع وهو حب كل جميل لذات الجمال لا لحظ ينال من وراء إدراك الجمال فقد بينا أن ذلك مجبول في الطباع وأن الجمال ينقسم إلى جمال الصورة الظاهرة المدركة بعين الرأس وإلى جمال الصورة الباطنة المدركة بعين القلب ونور البصيرة والأول يدركه الصبيان والبهائم والثاني يختص بدركه أرباب القلوب ولا يشاركهم فيه من لا يعلم إلا ظاهراً من الحياة الدنيا وكل جمال فهو محبوب عند مدرك الجمال فإن كان مدركاً بالقلب فهو محبوب القلب ومثال هذا في المشاهدة حب الأنبياء والعلماء وذوي المكارم السنية والأخلاق المرضية فإن ذلك منضور مع تشوش صورة الوجه وسائر الأعضاء وهو المراد بحسن الصورة الباطنة والحس لا يدرك نعم يدرك بحسن آثاره الصادرة منه الدالة عليه حتى إذا دل القلب عليه مال القلب إليه فأحبه فمن يحب رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْ الصديق رضي الله تعالى عنه أو الشافعي رحمة الله عليه فلا يحبهم إلا لحسن ما ظهر له منهم وليس ذلك لحسن صورهم ولا لحسن أفعالهم بل دل حسن أفعالهم على حسن الصفات التي هي مصدر الأفعال إذ الأفعال آثار صادرة عنها ودالة عليها فمن رأى حسن تصنيف المصنف وحسن شعر الشاعر بل
Adapun sebab keempat, yaitu kecintaan terhadap segala sesuatu yang indah demi keindahan itu sendiri, bukan karena keuntungan yang diperoleh di balik penjangkauan keindahan tersebut; sungguh telah kami jelaskan bahwa hal itu tertanam dalam fitrah tabiat manusia. Dan bahwa keindahan itu terbagi menjadi keindahan rupa lahiriah yang dijangkau oleh mata kepala, dan keindahan rupa batiniah yang dijangkau oleh mata hati dan cahaya bashirah. Yang pertama dapat dijangkau oleh anak-anak dan hewan, sedangkan yang kedua khusus dijangkau oleh para pemilik hati (arbab al-qulub) dan tidak diikuti oleh orang yang hanya mengetahui segi lahiriah dari kehidupan dunia. Setiap keindahan itu dicintai di sisi penjangkau keindahan tersebut. Jika ia dijangkau oleh hati, maka ia menjadi tambatan cinta bagi hati. Contoh hal ini dalam kenyataan adalah kecintaan kepada para nabi, ulama, pemilik kemuliaan yang agung, dan akhlak yang dirindai; sebab hal itu tampak berseri-seri meskipun rupa wajah dan seluruh anggota tubuh lainnya kurang teratur/elok. Itulah yang dimaksud dengan indahnya rupa batiniah, dan pancaindra tidak dapat menjangkaunya. Ya, ia dijangkau melalui indahnya bekas-bekas (karya/perilaku) yang lahir darinya yang menunjukkan kepadanya, sehingga apabila hati telah ditunjukkan kepadanya, hati pun cenderung kepadanya dan mencintainya. Barang siapa yang mencintai Rasulullah ﷺ, al-Shiddiq (Abu Bakar) radhiyallahu 'anh, atau al-Syafi'i rahmatullah 'alaih, maka ia tidak mencintai mereka melainkan karena indahnya apa yang tampak baginya dari diri mereka. Dan hal itu bukan karena indahnya rupa fisik mereka, bukan pula semata-mata karena indahnya perbuatan mereka, melainkan indahnya perbuatan mereka menunjukkan indahnya sifat-sifat yang menjadi sumber perbuatan tersebut, sebab perbuatan adalah bekas yang lahir darinya dan membuktikannya. Maka barang siapa melihat indahnya karangan seorang pengarang, indahnya bait syair seorang penyair, bahkan…
حسن نقش النقاش وبناء البناء انكشف له من هذه الأفعال صفاتها الجميلة الباطنة التي يرجع حاصلها عند البحث إلى العلم والقدرة ثم كلما كان المعلوم أشرف وأتم جمالا وعظمة كان العلم أشرف وأجمل وكذا المقدور كلما كان أعظم رتبة وأجل منزلة كانت القدرة عليه أجل رتبة وأشرف قدراً وأجل المعلومات هو الله تعالى فلا جرم أحسن العلوم وأشرفها معرفة الله تعالى وكذلك ما يقاربه ويختص به فشرفه على قدر تعلقه به
…indahnya lukisan seorang pelukis dan bangunan seorang pembangun, niscaya tersingkap baginya dari perbuatan-perbuatan ini sifat-sifat batiniahnya yang indah, yang hasil akhirnya ketika diteliti kembali kepada ilmu dan kekuasaan (kemampuan). Kemudian, setiap kali hal yang diketahui (al-ma'lum) itu lebih mulia, lebih sempurna keindahan dan keagungannya, maka ilmunya pun lebih mulia dan lebih indah. Demikian pula hal yang dikuasai (al-maqdur), setiap kali ia lebih agung kedudukannya dan lebih mulia martabatnya, maka kekuasaan atasnya pun lebih mulia martabatnya dan lebih tinggi nilainya. Dan hal yang paling agung di antara segala yang diketahui adalah Allah Ta'ala. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ilmu yang paling indah dan paling mulia adalah ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala), demikian pula hal-hal yang mendekati-Nya dan khusus bagi-Nya, maka kemuliaannya adalah sesuai dengan kadar keterkaitannya dengan-Nya.
فإذن جمال صفات الصديقين الذين تحبهم القلوب طبعاً ترجع إلى ثلاثة أمور أحدها علمهم بالله وملائكته وكتبه ورسله وشرائع أنبيائه والثاني قدرتهم على إصلاح أنفسهم وإصلاح عباد الله بالإرشاد والسياسة والثالث تنزههم عن الرذائل والخبائث والشهوات الغالبة الصارفة عن سنن الخير الجاذبة إلى طريق الشر وبمثل هذا يحب الأنبياء والعلماء والخلفاء والملوك الذين هم أهل العدل والكرم فأنسب هذه الصفات إلى صفات الله تعالى
Maka dengan demikian, keindahan sifat para shiddiqin (orang-orang yang jujur dalam keimanan) yang dicintai oleh hati secara tabiat kembali kepada tiga perkara: Pertama, ilmu mereka tentang Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan syariat para nabi-Nya. Kedua, kemampuan (kekuasaan) mereka untuk memperbaiki diri mereka sendiri serta memperbaiki hamba-hamba Allah dengan bimbingan spiritual (irsyad) dan kepemimpinan (siyasah). Ketiga, kesucian mereka dari keburukan-keburukan, kejahatan-kejahatan, dan hawa nafsu yang menguasai yang memalingkan dari jalan kebaikan serta menarik menuju jalan keburukan. Dengan hal seumpama inilah dicintai para nabi, ulama, khalifah, dan para raja yang merupakan ahli keadilan dan kedermawanan. Maka nisbahkanlah (bandingkanlah) sifat-sifat ini dengan sifat-sifat Allah Ta'ala!
أما العلم فأين علم الأولين والآخرين من علم الله تعالى الذي يحيط بالكل إحاطة خارجة عن النهاية حتى لا يعزب عنه مثقال ذرة في السموات ولا في الأرض وقد خاطب الخلق كلهم فقال ﷿ وما أوتيتم من العلم إلا قليلاً بل لو اجتمع أهل الأرض والسماء على أن يحيطوا بعلمه وحكمته في تفصيل خلق نملة أو بعوضة لم يطلعوا على عشر عشير ذلك ولا يحيطون بشيء من علمه إلا بما شاء والقدر اليسير الذي علمه الخلائق كلهم فبتعليمه علموه كما قال تعالى خلق الإنسان علمه البيان فإن كان جمال العلم وشرفه أمراً محبوباً وكان هو في نفسه زينة وكمالا للموصوف به فلا ينبغي أن يحب بهذا السبب إلا الله تعالى
Adapun ilmu, maka di manakah gerangan ilmu orang-orang terdahulu dan yang kemudian jika dibandingkan dengan ilmu Allah Ta'ala yang meliputi segala sesuatu dengan peliputan di luar batas akhir, hingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun di langit maupun di bumi? Dan sungguh Dia telah menyeru seluruh makhluk seraya berfirman Azza wa Jalla: 'Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit' (QS. Al-Isra': 85). Bahkan sekiranya penduduk bumi dan langit berkumpul untuk meliputi ilmu-Nya dan hikmah-Nya dalam perincian penciptaan seekor semut atau nyamuk, niscaya mereka tidak akan sanggup mengetahui sepersepuluh dari sepersepuluhnya sekalipun. Dan mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan kadar yang sangat sedikit yang diketahui oleh seluruh makhluk, maka berkat pengajaran-Nya jua mereka mengetahuinya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara' (QS. Ar-Rahman: 3-4). Maka jika keindahan dan kemuliaan ilmu merupakan perkara yang dicintai, serta ilmu itu sendiri merupakan perhiasan dan kesempurnaan bagi pemiliknya, maka tidak seyogianya mencintai atas dasar sebab ini melainkan hanya kepada Allah Ta'ala.
فعلوم العلماء جهل بالإضافة إلى علمه بل من عرف أعلم أهل زمانه وأجهل أهل زمانه استحال أن يحب بسبب العلم الأجهل ويترك الأعلم وإن كان الأجهل لا يخلو عن علم ما تتقاضاه معيشته والتفاوت بين علم الله وبين علم الخلائق أكثر من التفاوت بين علم أعلم الخلائق وأجهلهم لأن الأعلم لا يفضل الأجهل إلا بعلوم معدودة متناهية يتصور في الإمكان أن ينالها الأجهل بالكسب والاجتهاد وفضل علم الله تعالى على علوم الخلائق كلهم خارج عن النهاية إذ معلوماته لا نهاية لها ومعلومات الخلق متناهية
Maka ilmu para ulama adalah kebodohan jika dibandingkan dengan ilmu-Nya. Bahkan barang siapa yang mengenali orang yang paling berilmu di zamannya dan orang yang paling bodoh di zamannya, niscaya mustahil ia mencintai orang yang paling bodoh karena alasan ilmu dan meninggalkan orang yang paling berilmu, meskipun orang yang paling bodoh itu tidak sunyi dari ilmu yang dituntut oleh kelangsungan hidupnya. Perbedaan antara ilmu Allah dan ilmu para makhluk adalah jauh lebih besar daripada perbedaan antara ilmu makhluk yang paling berilmu dengan makhluk yang paling bodoh. Sebab orang yang paling berilmu tidaklah melebihi orang yang paling bodoh melainkan dengan ilmu-ilmu yang terhitung dan terbatas, yang secara rasional mungkin diperoleh oleh orang yang paling bodoh melalui usaha dan kesungguhan. Sementara keunggulan ilmu Allah Ta'ala atas ilmu seluruh makhluk adalah di luar batas akhir, sebab hal-hal yang diketahui-Nya (ma'lumat-Nya) tidak ada akhirnya, sedangkan hal-hal yang diketahui oleh makhluk adalah terbatas.
وأما صفة القدرة فهي أيضاً كمال والعجز نقص فكل كمال وبهاء وعظمة واستيلاء فإنه محبوب وإدراكه لذيذ حتى إن الإنسان ليسمع في الحكاية شجاعة علي وخالد ﵄ وغيرهما من الشجعان وقدرتهما واستيلاؤهما على الأقران فيضاف في قلبه اهتزازاً وفرحاً وارتياحا ضروريا بمجرد لنة السماع فضلاً عن المشاهدة ويورث ذلك حباً في القلب ضرورياً للمتصف به فإنه نوع كمال فانسب الآن قدرة الخلق كلهم إلى قدرة الله تعالى فأعظم الأشخاص قوة وأوسعهم ملكاً وأقواهم بطشاً وأقهرهم للشهوات وأقمعهم لخبائث النفس وأجمعهم للقدرة على سياسة نفسه وسياسة غيره ما منتهى قدرته وإنما غايته أن يقدر على بعض صفات نفسه وعلى بعض أشخاص الإنس في بعض الأمور وهو مع ذلك لا يملك لنفسه موتاً ولا حياة ولا نشوراً ولا ضراً ولا نفعاً بل لا يقدر على حفظ عينه من العمى ولسانه من الخرس وأذنه من الصمم وبدنه من المرض ولا يحتاج إلى عد ما يعجز عنه في نفسه وغيره مما هو على الجملة متعلق قدرته فضلاً عما لا تتعلق به قدرته من ملكوت السموات وأفلاكها وكواكبها والأرض وجبالها وبحارها ورياحها وصواعقها ومعادنها ونباتها وحيواناتها وجميع أجزائها فلا قدرة له على ذرة منها وما هو قادر عليه من نفسه وغيره فليست قدرته من نفسه وبنفسه بل الله خالقه وخالق قدرته وخالق أسبابه والممكن له من ذلك ولو سلط بعوضاً على أعظم ملك وأقوى شخص من الحيوانات لأهلكه فليس للعبد
Adapun sifat kekuasaan (qudrah), ia juga merupakan suatu kesempurnaan, sedangkan kelemahan ('ajz) adalah suatu kekurangan. Setiap kesempurnaan, keindahan, keagungan, dan keunggulan tentulah dicintai, dan mempersepsikannya terasa lezat. Sampai-sampai seorang manusia yang mendengar kisah keberanian 'Ali dan Khalid—semoga Allah meredai keduanya—serta pahlawan lainnya, tentang kekuasaan dan kemenangan mereka atas musuh-musuhnya, niscaya di dalam hatinya timbul getaran, kegembiraan, dan kelapangan dada yang tak terelakkan hanya sekadar karena lezatnya mendengar kisah tersebut, terlebih lagi jika menyaksikannya langsung. Hal itu mewariskan rasa cinta yang pasti di dalam hati kepada sosok yang bersifat demikian, karena itu merupakan sejenis kesempurnaan. Maka sekarang, bandingkanlah kekuasaan seluruh makhluk dengan kekuasaan Allah Ta'ala. Sosok yang paling agung kekuatannya, paling luas kerajaannya, paling keras siksaannya, paling sanggup menundukkan hawa nafsu, paling ampuh menumpas kejahatan jiwa, serta paling lengkap kemampuannya dalam mengendalikan diri dan orang lain, seberapa jauhkah puncak kekuasaannya? Sungguh, batas maksimal kekuasaannya hanyalah sanggup menguasai sebagian sifat jiwanya sendiri dan sebagian individu manusia dalam beberapa urusan saja. Bersamaan dengan itu, ia tidak memiliki kuasa atas kematian, kehidupan, kebangkitan, kemudaratan, maupun kemanfaatan bagi dirinya sendiri. Bahkan, ia tidak mampu menjaga matanya dari kebutaan, lidahnya dari kebisuan, telinganya dari ketulian, dan badannya dari penyakit. Tidak perlu lagi membeberkan betapa banyaknya kelemahan dirinya dan selainnya yang secara umum masuk dalam lingkup kekuasaannya, terlebih lagi apa yang tidak terjangkau oleh kekuasaannya, seperti kerajaan langit beserta garis edar dan bintang-bintangnya, bumi beserta gunung-gunung, laut-laut, angin, petir, barang tambang, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, dan seluruh bagiannya. Ia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas sezarah pun dari semuanya itu. Adapun apa yang sanggup ia kuasai dari dirinya maupun selainnya, kekuasaan itu bukanlah dari dirinya sendiri dan bukan karena dirinya sendiri, melainkan Allah-lah Yang Menciptakannya, Menciptakan kekuasaannya, Menciptakan sebab-sebabnya, serta Yang Memungkinkannya melakukan hal tersebut. Seandainya Allah menugaskan seekor nyamuk untuk menyerang raja terbesar dan sosok hewan terkuat sekalipun, niscaya nyamuk itu akan membinasakannya. Maka seorang hamba sama sekali tidak memiliki…
قدرة إلا بتمكين مولاه كما قال في أعظم ملوك الأرض ذي القرنين إذ قال إنا مكنا له في الأرض فلم يكن جميع ملكه وسلطنته إلا بتمكين الله تعالى إياه في جزء من الأرض والأرض كلها مدرة بالإضافة إلى أجسام العالم وجميع الولايات التي يحظى بها الناس من الأرض غبرة من تلك المدرة ثم تلك الغبرة أيضاً من فضل الله تعالى وتمكينه فيستحيل أن يحب عبداً من عباد الله تعالى لقدرته وسياسته وتمكينه واستيلائه وكمال قوته ولا يحب الله تعالى لذلك ولا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ فهو الجبار القاهر والعليم القادر السموات مطويات بيمينه والأرض وملكها وما عليها في قبضته وناصية جميع المخلوقات في قبضة قدرته إن أهلكهم من عند آخرهم لم ينقص من سلطانه وملكه ذرة وإن خلق أمثالهم ألف مرة لم يعي بخلقها ولا يمسه لغوب ولا فتور في اختراعها فلا قدرة ولا قادر إلا وهو أثر من آثار قدرته فله الجمال والبهاء والعظمة والكبرياء والقهر والاستيلاء فإن كان يتصور أن يحب قادر لكمال قدرته فلا يستحق الحب بكمال القدرة سواه أصلاً
…kekuasaan melainkan dengan pemberian kuasa dari Pelindungnya (Mawla), sebagaimana firman-Nya mengenai raja bumi terbesar, Dzulkarnain: 'Sungguh, Kami telah memberi kedudukan (kekuasaan) kepadanya di bumi' (QS. Al-Kahfi: 84). Maka seluruh kerajaan dan kekuasaannya hanyalah karena pemberian kuasa dari Allah Ta'ala pada sebagian kecil dari bumi. Padahal seluruh bumi ini hanyalah laksana segumpal tanah liat jika dibandingkan dengan benda-benda alam semesta, dan seluruh wilayah kekuasaan yang diperoleh manusia di bumi ini hanyalah sebutir debu dari gumpalan tanah liat tersebut. Kemudian, sebutir debu itu pun berasal dari karunia Allah Ta'ala dan pemberian kuasa-Nya. Maka mustahil seseorang mencintai seorang hamba dari hamba-hamba Allah Ta'ala karena kekuasaan, kepemimpinan, kemampuannya, dominasinya, dan kesempurnaan kekuatannya, namun ia tidak mencintai Allah Ta'ala karena hal itu. Dan tiada daya serta upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Dialah Yang Maha Memaksa (Al-Jabbar), Maha Menundukkan (Al-Qahhar), Maha Mengetahui (Al-'Alim), lagi Maha Kuasa (Al-Qadir). Langit dipikul dalam genggaman kanan-Nya, sedangkan bumi, kerajaannya, dan apa yang ada di atasnya berada dalam genggaman-Nya, serta ubun-ubun seluruh makhluk berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Jika Dia membinasakan mereka hingga yang paling terakhir, tidak akan berkurang kerajaan dan kekuasaan-Nya walau sezarah pun; dan jika Dia menciptakan yang serupa dengan mereka sebanyak seribu kali lipat, Dia tidak akan merasa payah dalam menciptakan mereka, serta tidak ditimpa kelelahan maupun kelemahan dalam mewujudkannya. Maka tidak ada kekuasaan dan tidak ada yang berkuasa melainkan ia merupakan bekas (atsar) dari bekas-bekas kekuasaan-Nya. Bagi-Nya segala keindahan (jamal), kemegahan (baha'), keagungan ('azhamah), kebanggaan (kibriya'), penundukan (qahr), dan dominasi (istila'). Jika disyaratkan bahwa sosok yang berkuasa dicintai karena kesempurnaan kekuasaannya, maka tidak ada yang berhak dicintai karena kesempurnaan kekuasaan secara hakiki selain Diri-Nya sama sekali.
وأما صفة التنزه عن العيوب والنقائص والتقدس عن الرذائل والخبائث فهو أحد موجبات الحب ومقتضيات الحسن والجمال في الصور الباطنة والأنبياء والصديقون وإن كانوا منزهين عن العيوب والخبائث فلا يتصور كمال التقدس والتنزه إلا للواحد الحق الملك والقدوس ذي الجلال والإكرام
Adapun sifat penyucian diri dari cacat dan kekurangan (tanzih), serta kesucian dari cela dan keburukan (taqaddus), ia merupakan salah satu pendorong cinta dan tuntutan keelokan serta keindahan pada rupa-rupa batin. Para nabi dan para siddiqin, meskipun mereka terbebas dari cela dan keburukan, namun kesempurnaan kesucian (taqaddus) dan penyucian (tanzih) yang mutlak tidak dapat dibayangkan melainkan hanya bagi Yang Maha Esa, Yang Mahabenar, Raja Yang Maha Suci (Al-Quddus), Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.
وأما كل مخلوق فلا يخلو عن نقص وعن نقائص بل كونه عاجزاً مخلوقاً مسخراً مضطراً هو عين العيب والنقص فالكمال لله وحده وليس لغيره كمال إلا بقدر ما أعطاه الله وليس في المقدور أن ينعم بمنتهى الكمال على غيره فإن منتهى الكمال أقل درجاته أن لا يكون عبداً مسخراً لغيره قائماً بغيره وذلك محال في حق غيره فهو المنفرد بالكمال المنزه عن النقص المقدس عن العيوب وشرح وجوه التقدس والتنزه في حقه عن النقائص يطول وهو من أسرار علوم المكاشفات فلا نطول بذكره فهذا الوصف أيضاً إن كان كمالاً وجمالاً محبوباً فلا تتم حقيقته إلا له وكمال غيره وتنزهه لا يكون مطلقاً بل بالإضافة إلى ما هو أشد منه نقصاناً كما أن للفرس كمالا بالإضافة إلى الحمار وللإنسان كمالاً بالإضافة إلى الفرس وأصل النقص شامل للكل وإنما يتفاوتون في درجات النقصان
Adapun setiap makhluk, ia tidak terlepas dari kekurangan dan cela. Bahkan keberadaannya sebagai makhluk yang lemah, diciptakan, dikendalikan, dan terpaksa (mudhtarr) adalah hakikat dari cela dan kekurangan itu sendiri. Maka kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, dan tidak ada kesempurnaan bagi selain-Nya kecuali sebatas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tidak ada dalam kadar kemampuan-Nya untuk menganugerahkan puncak kesempurnaan mutlak kepada selain Diri-Nya, sebab tingkat terendah dari puncak kesempurnaan adalah tidak menjadi hamba yang dikendalikan oleh pihak lain dan tidak bergantung pada selain dirinya; sedangkan hal itu mustahil terjadi pada selain-Nya. Dialah yang Maha Tunggal dalam kesempurnaan, Maha Suci dari kekurangan, dan Maha Terpelihara dari cela. Penjelasan mengenai aspek-aspek kesucian dan penyucian diri-Nya dari segala kekurangan sangatlah panjang dan termasuk bagian dari rahasia-rahasia ilmu mukasyafah, sehingga kami tidak akan memperpanjang sebutannya di sini. Sifat ini pun, jika merupakan suatu kesempurnaan dan keindahan yang dicintai, maka hakikatnya tidak akan sempurna kecuali hanya bagi-Nya. Kesempurnaan dan kesucian selain-Nya tidaklah bersifat mutlak, melainkan hanya relatif jika dibandingkan dengan apa yang lebih besar kekurangannya; sebagaimana kuda memiliki kesempurnaan jika dibandingkan dengan keledai, dan manusia memiliki kesempurnaan jika dibandingkan dengan kuda. Pokok kekurangan itu merata pada semua makhluk, dan mereka hanya berbeda dalam tingkat kekurangannya saja.
فإذن الجميل محبوب والجميل المطلق هو الواحد الذي لا ند له الفرد الذي لا ضد له الصمد الذي لا منازع له الغني الذي لا حاجة له القادر الذي يفعل ما يشاء ويحكم ما يريد لا راد لحكمه ولا معقب لقضائه العالم الذي لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السموات والأرض القاهر الذي لا يخرج عن قبضة قدرته أعناق الجبابرة ولا ينفلت من سطوته وبطشه رقاب القياصرة الأزلي الذي لا أول لوجوده الأبدي الذي لا آخر لبقائه الضروري الوجود الذي لا يحوم إمكان العدم حول حضرته القيوم الذي يقوم بنفسه ويقوم كل موجود به جبار السموات والأرض خالق الجماد والحيوان والنبات المنفرد بالعزة والجبروت والمتوحد بالملك والملكوت ذو الفضل والجلال والبهاء والجمال والقدرة والكمال الذي تتحير في معرفة جلاله العقول وتخرس في وصفه الألسنة الذي كمال معرفة العارفين الاعتراف بالعجز عن معرفته ومنتهى نبوة الأنبياء الإقرار بالقصور عن وصفه كما قال سيد الأنبياء صلوات الله عليه وعليهم أجمعين لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك وقال سيد الصديقين رضي الله تعالى عنه العجز عن درك الإدراك إدراك سبحان من لم يجعل للخلق طريقاً إلى معرفته إلا بالعجز عن معرفته فليت شعري من ينكر إمكان حب الله تعالى تحقيقاً ويجعله مجازاً أينكر أن هذه الأوصاف من أوصاف الجمال
Oleh karena itu, yang indah itu dicintai, dan Yang Maha Indah secara Mutlak adalah Yang Maha Esa yang tidak memiliki tandingan, Yang Maha Tunggal yang tidak memiliki sekutu, Maha Pelindung tempat bergantung (As-Samad) yang tidak memiliki penentang, Maha Kaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan sesuatu pun, Maha Kuasa (Al-Qadir) yang melakukan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan, tidak ada yang menolak hukum-Nya dan tidak ada yang dapat mengubah ketetapan-Nya, Maha Mengetahui (Al-'Alim) yang tidak ada seberat zarah pun di langit dan di bumi yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, Maha Menundukkan (Al-Qahhar) yang leher para penguasa zalim tidak akan terlepas dari genggaman kekuasaan-Nya dan leher para kaisar tidak akan luput dari siksaan dan cengkeraman-Nya, Maha Dahulu (Al-Azali) yang tidak ada permulaan bagi keberadaan-Nya, Maha Kekal (Al-Abadi) yang tidak ada akhir bagi kelangsungan-Nya, Yang Wajib Wujud-Nya (Daruri al-Wujud) yang kemungkinan ketiadaan tidak pernah menghampiri haribaan-Nya, Maha Berdiri Sendiri (Al-Qayyum) yang berdiri dengan Diri-Nya sendiri dan menegakkan setiap yang ada, Maha Memaksa (Penguasa) langit dan bumi, Pencipta benda mati, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, Yang Maha Tunggal dalam kemuliaan dan keperkasaan, Yang Maha Esa dalam kerajaan bumi dan langit (al-mulk wal-malakut), Pemilik Karunia, Keagungan, Kemegahan, Keindahan, Kekuasaan, dan Kesempurnaan; yang akal pikiran menjadi bingung dalam mengenali keagungan-Nya, dan lidah-lidah menjadi kelu dalam menggambarkan sifat-Nya; yang puncak maqam ma'rifat para arifin adalah pengakuan atas kelemahan untuk mengenali-Nya, dan batas akhir kenabian para nabi adalah pengakuan atas keterbatasan dalam menggambarkan sifat-Nya, sebagaimana bersabda Junjungan para Nabi—semoga salawat Allah tercurah kepadanya dan kepada mereka semua—: 'Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu; Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu sendiri.' Dan berkata Junjungan para Siddiqin (Abu Bakr r.a.): 'Kelemahan untuk mencapai persepsi (pencapaian ma'rifat) itulah pencapaian ma'rifat itu sendiri. Mahasuci Zat yang tidak menjadikan bagi makhluk jalan menuju ma'rifat kepada-Nya melainkan melalui kelemahan dalam mengenali-Nya.' Duhai, betapa ingin aku tahu, siapakah orang yang mengingkari kemungkinan mencintai Allah Ta'ala secara hakiki dan menjadikannya sebatas majas (kiasan)? Apakah ia mengingkari bahwa sifat-sifat ini merupakan sifat keindahan, pujian, kesempurnaan, dan keelokan? Atau ia mengingkari bahwa Allah Ta'ala bersifat dengannya? Atau ia mengingkari bahwa kesempurnaan, keindahan, kemegahan, dan keagungan itu dicintai secara watak dasar (tabiat) bagi orang yang mempersepsikannya?
والمحامد ونعوت الكمال والمحاسن أن ينكر كون الله تعالى موصوفاً بها أو ينكر كون الكمال والجمال والبهاء والعظمة محبوباً بالطبع عند من أدركه فسبحان من احتجب عن بصائر العميان غيرة على جماله وجلاله أن يطلع عليه إلا من سبقت له منه الحسنى الذين هم عن نار الحجاب مبعدون وترك الخاسرين في ظلمات العمى يتيهون وفي مسارح المحسوسات وشهوات البهائم يترددون يعلمون ظاهراً من الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون الحمد لله بل أكثرهم لا يعلمون
Maka Mahasuci Zat yang menutupi Diri-Nya dari mata hati orang-orang yang buta karena cemburu atas keindahan dan keagungan-Nya, agar tidak ada yang sanggup menatap-Nya kecuali orang-orang yang telah memperoleh ketetapan kebaikan dari-Nya sejak semula, yaitu orang-orang yang dijauhkan dari api hijab. Dan Dia membiarkan orang-orang yang rugi tersesat dalam kegelapan kebutaan, berbolak-balik di padang gembalaan hal-hal yang terindra dan hawa nafsu kehewanan. 'Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai' (QS. Ar-Rum: 7). Segala puji bagi Allah, 'bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui' (QS. An-Nahl: 75).
فالحب بهذا السبب أقوى من الحب بالإحسان لأن الإحسان يزيد وينقص ولذلك أوحى الله تعالى إلى داود ﵇ إن أود الأوداء إلى من عبدني بغير نوال لكن ليعطي الربوبية حقها وفي الزبور من أظلم ممن عبدنى لجنة أونار لو لم أخلق جنة ولا ناراً ألم أكن أهلاً أن أطاع ومر عيسى ﵇ على طائفة من العباد قد نحلوا فقالوا نخاف النار ونرجو الجنة فقال لهم مخلوقاً خفتم ومخلوقاً رجوتم ومر بقوم آخرين كذلك فقالوا نعبده حباً له وتعظيماً لجلاله فقال أنتم أولياء الله حقاً معكم أمرت أن أقيم وقال أبو حازم إني لأستحي أن أعبده للثواب والعقاب فأكون كالعبد السوء إن لم يخف لم يعمل وكالأجير السوء إن لم يعط لم يعمل
Cinta dengan sebab ini (keindahan intrinsic Diri-Nya) lebih kuat daripada cinta karena kebaikan/kedermawanan (ihsan), sebab kebaikan itu bisa bertambah dan berkurang. Oleh karena itu, Allah Ta'ala mewahyukan kepada Daud a.s.: 'Sesungguhnya hamba yang paling Aku cintai adalah orang yang menyembah-Ku bukan karena menuntut pemberian, melainkan demi menunaikan hak Ketuhanan (Rububiyyah) yang semestinya.' Dan di dalam kitab Zabur tertulis: 'Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembah-Ku karena takut akan neraka-Ku atau menginginkan surga-Ku? Seandainya Aku tidak menciptakan surga dan neraka, apakah Aku tidak layak untuk ditaati?' Dan Isa a.s. pernah melewati sekelompok ahli ibadah yang tubuhnya amat kurus, lalu beliau bertanya, maka mereka menjawab: 'Kami takut neraka dan mengharapkan surga.' Lalu Isa berkata kepada mereka: 'Kalian takut kepada makhluk dan berharap kepada makhluk.' Kemudian beliau melewati sekelompok orang lainnya yang melakukan hal serupa, lalu mereka menjawab: 'Kami menyembah-Nya karena cinta kepada-Nya dan karena mengagungkan keagungan-Nya.' Maka beliau berkata: 'Kalianlah kekasih-kekasih Allah (awliya'ullah) yang sejati, bersama kalianlah aku diperintahkan untuk tinggal.' Dan Abu Hazim berkata: 'Sungguh aku malu menyembah-Nya hanya karena pahala dan siksa, sehingga aku menjadi seperti hamba sahaya yang buruk; jika tidak takut, ia tidak bekerja; dan seperti buruh yang buruk, jika tidak diberi upah, ia tidak mau bekerja.'
وفي الخبر لا يكونن أحدكم كالأجير السوء إن لم يعط أجراً لم يعمل ولا كالعبد السوء إن لم يخف لم يعمل
Dan terdapat dalam riwayat (khabar): 'Janganlah salah seorang dari kalian menjadi seperti buruh yang buruk; jika tidak diberi upah, ia tidak bekerja. Dan jangan pula seperti hamba sahaya yang buruk; jika tidak takut, ia tidak bekerja.'
وأما السبب الخامس للحب فهو المناسبة والمشاكلة لأن شبه الشيء منجذب إليه والشكل إلى الشكل أميل
Adapun sebab kelima bagi timbulnya rasa cinta adalah keserasian (munasabah) dan keserupaan (musyakalah), karena hal yang serupa dari sesuatu akan tertarik kepadanya, dan bentuk yang sama akan lebih condong kepada bentuk yang setara.
ولذلك ترى الصبي يألف الصبي والكبير يألف الكبير ويألف الطير نوعه وينفر من غير نوعه وأنس العالم بالعالم أكثر منه بالمحترف وأنس النجار بالنجار أكثر من أنسه بالفلاح وهذا أمر تشهد به التجربة وتشهد له الأخبار والآثار كما استقصيناه في باب الأخوة في الله من كتاب آداب الصحبة فليطلب منه
Oleh karena itu, engkau melihat anak kecil merasa akrab dengan anak kecil lainnya, orang dewasa merasa akrab dengan sesama orang dewasa, burung merasa akrab dengan jenisnya dan lari dari yang bukan jenisnya. Keakraban seorang alim dengan sesama alim lebih besar daripada dengan seorang pengrajin, dan keakraban tukang kayu dengan sesama tukang kayu lebih besar daripada keakrabannya dengan petani. Ini adalah perkara yang disaksikan oleh pengalaman serta disaksikan oleh riwayat-riwayat dan atsar, sebagaimana telah kami ulas secara mendalam dalam bab 'Persaudaraan karena Allah' dari Kitab Adab As-Suhbah (Etika Pergaulan), maka hendaklah dicari di sana.
وإذا كانت المناسبة سبب المحبة فالمناسبة قد تكون في معنى ظاهر كمناسبة الصبي الصبى في معنى الصبا وقد يكون خفياً حتى لا يطلع عليه كما ترى من الاتحاد الذي يتفق بين شخصين من غير ملاحظة جمال أو طمع في مال أو غيره كما أشار إليه النبي ﷺ إذ قال الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف فالتعارف هو التناسب والتناكر هو التباين وهذا السبب أيضاً يقتضي حب الله تعالى لمناسبة باطنة لا ترجع إلى المشابهة في الصور والأشكال بل إلى معان باطنة يجوز أن يذكر بعضها في الكتب وبعضها لا يجوز أن يسطر بل يترك تحت غطاء الغبرة حتى يعثر عليه السالكون للطريق إذا استكملوا شرط السلوك
Apabila keserasian menjadi sebab kecintaan, maka keserasian itu terkadang berada pada makna yang lahir (tampak), seperti keserasian anak kecil dengan anak kecil dalam makna masa kanak-kanak; dan terkadang berada pada makna yang samar (khafi), hingga tidak dapat diketahui secara kasatmata, sebagaimana engkau lihat persatuan yang terjadi antara dua orang tanpa memperhatikan keindahan rupa, ketamakan akan harta, atau hal lainnya. Sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi ﷺ ketika bersabda: 'Ruh-ruh itu laksana pasukan yang terhimpun; yang saling mengenal di antaranya akan saling menyatu, dan yang saling tidak mengenali akan saling berselisih.' Maka pengenalan (ta'aruf) adalah keserasian (tanasub), sedangkan penolakan (tanakur) adalah ketidaksesuaian. Sebab ini juga menuntut cinta kepada Allah Ta'ala karena adanya keserasian batin (munasabah batinah) yang tidak merujuk pada keserupaan rupa dan bentuk fisik, melainkan merujuk pada makna-makna batin. Sebagian makna tersebut boleh disebutkan di dalam buku-buku, dan sebagian lainnya tidak boleh dituliskan melainkan harus dibiarkan di bawah selubung rahasia hingga ditemukan sendiri oleh para penempuh jalan spiritual (salikun) apabila telah menyempurnakan syarat-syarat suluk.
فالذي يذكر هو قرب العبد من ربه ﷿ في الصفات التي أمر فيها بالاقتداء والتخلق بأخلاق الربوبية حتى قيل تخلقوا بأخلاق الله وذلك في اكتساب محامد الصفات التي هي من صفات الإلهية من العلم والبر والإحسان واللطف وإفاضة الخير والرحمة على الخلق والنصيحة لهم وإرشادهم إلى الحق ومنعهم من الباطل إلى غير ذلك من مكارم الشريعة فكل ذلك يقرب إلى الله ﷾ لا بمعنى طلب القرب بالمكان بل بالصفات
Adapun hal yang boleh disebutkan adalah kedekatan hamba dengan Tuhannya Azza wa Jalla dalam sifat-sifat yang ia diperintahkan untuk meneladaninya dan berakhlak dengan akhlak Ketuhanan (Rububiyyah), sampai dikatakan: 'Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah.' Hal itu berupa mengusahakan sifat-sifat terpuji yang merupakan bagian dari sifat-sifat Keilahian, seperti ilmu, kebajikan, ihsan, kelembutan, curahan kebaikan dan rahmat kepada makhluk, nasihat bagi mereka, pembimbingan mereka menuju kebenaran, serta pencegahan mereka dari kebatilan, dan kemuliaan syariat lainnya. Setiap hal itu dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, bukan dalam arti menuntut kedekatan tempat, melainkan kedekatan sifat.
وأما ما لا يجوز أن يسطر في الكتب من المناسبة الخاصة التي اختص بها الآدمي فهى التى يومىء إليها قوله تعالى ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي إذ بين أنه أمر رباني خارج عن حد عقول الخلق وأوضح من ذلك قوله تعالى فإذا سويته ونفخت فيه من روحي ولذلك أسجد له ملائكته ويشير إليه قوله تعالى إنا جعلناك خليفة في الأرض إذ لم يستحق آدم خلافة الله تعالى إلا بتلك المناسبة وإليه يرمز قوله ﷺ
Adapun apa yang tidak boleh dituliskan di dalam buku-buku mengenai keserasian khusus yang dianugerahkan secara istimewa kepada manusia, itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: 'Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku' (QS. Al-Isra': 85), karena Dia menjelaskan bahwa ruh adalah urusan Rabbani yang berada di luar batas akal pikiran makhluk. Yang lebih jelas dari itu adalah firman Allah Ta'ala: 'Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku…' (QS. Al-Hijr: 29), oleh karena itulah para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya. Dan diisyaratkan pula oleh firman-Nya: 'Sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah di bumi' (QS. Shad: 26), sebab Adam tidak berhak menerima kekhalifahan Allah Ta'ala melainkan karena adanya keserasian tersebut. Dan kepadanya pulalah mengisyarat sabda Nabi ﷺ:
إن الله خلق آدم على صورته حتى ظن القاصرون أن لا صورة إلا الصورة الظاهرة المدركة بالحواس فشبهوا وجسموا وصوروا تعالى الله رب العالمين عما يقول الجاهلون علواً كبيراً وإليه الإشارة بقوله تعالى لموسى ﵇ مرضت فلم تعدني فقال يا رب وكيف ذلك قال مرض عبدي فلان فلم تعده ولو عدته وجدتني عنده وهذه المناسبة لاتظهر إلا بالمواظبة على النوافل بعد إحكام الفرائض كما قال الله تعالى لا يزال يتقرب العبد إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ولسانه الذي ينطق به وهذا موضع يجب قبض عنان القلم فيه فقد تحزب الناس فيه إلى قاصرين مالوا إلى التشبيه الظاهر وإلى غالين مسرفين جاوزوا حد المناسبة إلى الاتحاد وقالوا بالحلول حتى قال بعضهم أنا الحق وضل النصارى في عيسى ﵇ فقالوا هو الإله وقال آخرون منهم تذرع الناسوت باللاهوت وقال آخرون اتحد به وأما الذين انكشف لهم استحالة التشبيه والتمثيل واستحالة الانحاد والحلول واتضح لهم مع ذلك حقيقة السر فهم الأقلون ولعل أبا الحسن النوري عن هذا المقام كان ينظر إذا غلبه الوجد في قول القائل
…'Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya (suratihi)', hingga orang-orang yang picik mengira bahwa tidak ada rupa melainkan rupa lahiriah yang terindra oleh panca-indra, sehingga mereka jatuh dalam penyerupaan (tasybih), pembedaan jasad (tajsim), dan pembentukan wujud (taswir). Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam, dari apa yang diucapkan oleh orang-orang jahil dengan keluhuran yang Mahaagung. Dan kepadanya pula isyarat firman Allah Ta'ala kepada Musa a.s. dalam hadis qudsi: 'Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.' Musa bertanya: 'Wahai Tuhan, bagaimana bisa demikian?' Allah berfirman: 'Hamba-Ku si Fulan sakit tetapi engkau tidak menjenguknya. Seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya.' Keserasian ini tidak akan tampak melainkan dengan melanggengkan ibadah-ibadah sunnah (nawafil) setelah mengukuhkan ibadah-ibadah fardu (fara'id), sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan lidahnya yang ia gunakan untuk berbicara.' Dan ini adalah maqam yang wajib menahan laju pena padanya. Sungguh manusia telah terpecah padanya menjadi kelompok yang picik yang condong kepada penyerupaan lahiriah (tasybih), dan kelompok yang berlebihan (ekstrem) yang melampaui batas keserasian menuju penyatuan (ittihad) serta berpendapat dengan penitisan (hulul), hingga sebagian dari mereka berkata: 'Akulah Al-Haqq (Allah)', dan kaum Nasrani pun tersesat pada diri Isa a.s. hingga mereka berkata: 'Dia adalah Tuhan', dan sebagian lainnya berkata: 'Kemanusiaan (nasut) telah bersatu dengan Ketuhanan (lahut)', serta yang lain berkata: 'Tuhan telah menyatu dengannya.' Adapun orang-orang yang telah tersingkap bagi mereka kemustahilan tasybih dan tamtsil (penyerupaan), serta kemustahilan ittihad dan hulul (penyatuan/penitisan), dan bersamaan dengan itu menjadi jelas bagi mereka hakikat rahasia tersebut, maka mereka adalah kelompok yang amat sedikit. Boleh jadi Abu al-Hasan an-Nuri sedang menatap ke maqam ini ketika rasa kecintaan mendalam (wajd) menguasainya saat mendengar bait syair:
لازلت أنزل من ودادك منزلاً … تتحير الألباب عند نزوله
'Aku senantiasa menuruni tingkatan dari cinta-Mu… tingkatan yang membuat akal pikiran menjadi bingung ketika memasukinya.'
فلم يزل يعدو في وجده على أجمة قد قطع قصبها وبقي أصوله حتى تشققت قدماه وتورمتا مات من ذلك وهذا هوأعظم أسباب الحب وأقواها وهو أعزها وأبعدها وأقلها وجوداً فهذه هي المعلومة من أسباب الحب وجملة ذلك متظاهرة في حق الله تعالى تحقيقا لا مجانا وفي أعلى الدرجات لا في أدناها فكان المعقول المقبول عند ذوي البصائر حب الله تعالى فقط كما أن المعقول الممكن عند العميان حب غير الله تعالى فقط ثم كل من يحب من الخلق بسبب من هذه الأسباب يتصور أن يحب غير لمشاركته إياه في السبب والشركة نقصان في الحب وغض من كماله ولا ينفرد أحد بوصف محبوب إلا وقد يوجد له شريك فيه فإن لم يوجد فيمكن أن يوجد إلا الله تعالى فإنه موصوف بهذه الصفات التي هي نهاية الجلال والكمال ولا شريك له في ذلك وجوداً ولا يتصور أن يكون ذلك إمكاناً فلا جرم لا يكون في حبه شركة فلا يتطرق النقصان إلى حبه كما لا تتطرق الشركة إلى صفاته فهو المستحق إذاً لأصل المحبة ولكمال المحبة استحقاقاً لا يساهم فيه أصلاً
Maka ia terus berlari dalam gejolak wajd-nya di atas rumpun bambu yang telah terpotong batangnya dan tersisa pangkal-pangkalnya yang tajam, hingga kedua kakinya terbelah dan membengkak, lalu ia meninggal dunia karena hal itu. Ini merupakan sebab cinta yang paling agung dan paling kuat, sekaligus paling langka, paling jauh, dan paling sedikit keberadaannya. Inilah sebab-sebab cinta yang diketahui, dan keseluruhan sebab tersebut terhimpun pada hakikat Allah Ta'ala secara nyata dan hakiki, bukan secara kiasan, serta berada pada tingkatan yang paling tinggi, bukan yang paling rendah. Maka hal yang masuk akal lagi diterima di sisi orang-orang yang memiliki mata hati (basa'ir) hanyalah mencintai Allah Ta'ala semata. Sebagaimana hal yang dianggap masuk akal dan mungkin di sisi orang-orang buta batinnya hanyalah mencintai selain Allah semata. Kemudian, setiap makhluk yang dicintai karena salah satu dari sebab-sebab ini, sangat mungkin ada makhluk lain yang turut dicintai karena memiliki persekutuan (kesamaan) dalam sebab tersebut; padahal persekutuan itu merupakan pengurangan terhadap cinta dan merusak kesempurnaannya. Tidak ada seorang pun yang menyendiri dalam suatu sifat yang dicintai melainkan dapat ditemukan sekutu baginya, dan jika belum ditemukan, maka secara rasional mungkin ditemukan, kecuali Allah Ta'ala. Sebab Dia bersifat dengan sifat-sifat yang merupakan puncak keagungan dan kesempurnaan, tanpa ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu secara wujud nyata, dan tidak dapat dibayangkan adanya sekutu secara kemungkian rasional. Maka tidak diragukan lagi, tidak ada persekutuan dalam mencintai-Nya, sehingga kekurangan tidak akan pernah menyusup ke dalam cinta kepada-Nya, sebagaimana persekutuan tidak akan pernah menyusup ke dalam sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, Dialah yang berhak atas pokok kecintaan dan kesempurnaan kecintaan, dengan hak yang tidak dapat disaingi oleh siapa pun sama sekali.