كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا

بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس

بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس

بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس

Penjelasan Makna al-Inbisat (Kebebasan Berperilaku) dan al-Idlal (Keberanian Berasal dari Keakraban) yang Dihasilkan oleh Dominasi al-Uns (Keintiman Spiritual)

اعلم أن الأنس إذا دام وغلب واستحكم ولم يشوشه قلق الشوق ولم ينغصه خوف التغير والحجاب فإنه يثمر نوعاً من الانبساط في الأقوال والأفعال والمناجاة مع الله تعالى وقد يكون منكر الصورة لما فيه من الجراءة وقلة الهيبة ولكنه محتمل ممن أقيم في مقام الأنس ومن لم يقم في ذلك المقام ويتشبه بهم في الفعل والكلام هلك به وأشرف على الكفر

Ketahuilah bahwa al-uns (keintiman spiritual), apabila berlangsung terus-menerus, mendominasi, serta menguat, dan tidak diguncang oleh kecemasan rasa rindu (syauq) maupun dikeruhkan oleh rasa takut akan perubahan dan penghalang (hijab), maka ia akan membuahkan sejenis kebebasan berperilaku (al-inbisat) dalam perkataan, perbuatan, dan munajat kepada Allah Ta'ala. Terkadang bentuknya tampak mengingkari norma lahiriah karena mengandung keberanian dan berkurangnya rasa wibawa (keagungan Allah), namun hal demikian dapat dimaklumi dari seseorang yang didudukkan pada maqam al-uns. Barangsiapa yang belum ditempatkan pada maqam tersebut lalu meniru-niru mereka dalam perbuatan dan perkataan, niscaya ia akan binasa karenanya dan berada di ambang kekufuran.

ومثاله مناجاة برخ الأسود الذي أمر الله تعالى كليمه موسى ﵇ أن يسأله ليستسقي لبني إسرائيل

Contohnya adalah munajat Barkh al-Aswad (Barkh si Hitam), yang mana Allah Ta'ala memerintahkan Kalimullah Nabi Musa 'alaihissalam untuk memintanya agar memohon doa minta hujan (istisqa') bagi Bani Israil.

بعد أن قحطوا سبع سنين وخرج موسى ﵇ ليستسقي لهم في سبعين ألفاً فأوحى الله ﷿ إليه كيف أستجيب لهم وقد أظلمت عليهم ذنوبهم سرائرهم خبيثة يدعونني على غير يقين ويأمنون مكري ارجع إلى عبد من عبادي يقال له برخ فقل له يخرج حتى أستجيب له فسأل عنه موسى ﵇ فلم يعرف فبينما موسى ذات يوم يمشي في طريق إذا بعبد أسود قد استقبله بين عينيه تراب من أثر السجود في شملة قد عقدها على عنقه فعرفه موسى ﵇ بنور الله ﷿ فسلم عليه وقال له ما اسمك فقال اسمي برخ قال فأنت طلبتنا منذ حين أخرج فاستسق لنا

Setelah mereka mengalami kemarau panjang selama tujuh tahun, Nabi Musa 'alaihissalam keluar bersama tujuh puluh ribu orang untuk memohon hujan bagi mereka. Lalu Allah 'Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, "Bagaimana Aku akan mengabulkan doa mereka sementara dosa-dosa mereka telah menggelapkan mereka, batin mereka buruk, mereka berdoa kepada-Ku tanpa keyakinan, dan mereka merasa aman dari makar-Ku? Kembalilah kepada salah seorang hamba-Ku yang bernama Barkh, lalu katakan padanya agar keluar memohon hujan hingga Aku mengabulkannya." Maka Nabi Musa 'alaihissalam menanyakan tentangnya, tetapi tidak ada yang mengenalnya. Suatu hari ketika Nabi Musa sedang berjalan di sebuah jalan, tiba-tiba seorang hamba sahaya berkulit hitam berjalan menemuinya, di antara kedua matanya (dahinya) terdapat bekas tanah dari sujud, mengenakan kain sarung kasar yang diikatkan di lehernya. Nabi Musa 'alaihissalam mengenalnya melalui cahaya Allah 'Azza wa Jalla, lalu beliau mengucapkan salam kepadanya dan bertanya, "Siapa namamu?" Ia menjawab, "Namaku Barkh." Beliau berkata, "Engkaulah yang kami cari sejak tadi, keluarlah dan mohonlah hujan untuk kami."

فخرج فقال في كلامه ما هذا من فعالك ولا هذا من حلمك وما الذى بدالك أنقصت عليك عيونك أم عاندت الرياح عن طاعتك أم نفد ما عندك أم اشتد غضبك على المذنبين ألست كنت غفاراً قبل خلق الخطائين خلقت الرحمة وأمرت بالعطف أم ترينا أنك ممتنع أم تخشى الفوت فتجعل بالعقوبة قال فما برح حتى اخضلت بنو إسرائيل بالقطر وأنبت الله تعالى العشب في نصف يوم حتى بلغ الركب قال فرجع برخ فاستقبله موسى ﵇ فقال كيف رأيت حين خاصمت ربى كيف أنصفني فهم موسى ﵇ به فأوحى الله تعالى إليه إن برخاً يضحكني كل يوم ثلاث مرات

Maka Barkh pun keluar dan berkata dalam munajatnya, "Bukanlah ini tindakan-Mu yang biasa, bukan pula ini sifat penyantun-Mu. Apakah yang telah tampak bagi-Mu? Apakah mata-mata air-Mu telah menyusut? Atau angin-angin membangkang dari ketaatan kepada-Mu? Atau apa yang ada di sisi-Mu telah habis? Atau murka-Mu telah demikian memuncak kepada para pendosa? Bukankah Engkau Maha Pengampun sebelum diciptakannya orang-orang yang berbuat salah? Engkau menciptakan rahmat dan memerintahkan kasih sayang. Ataukah Engkau hendak memperlihatkan kepada kami bahwa Engkau enggan memberi, atau Engkau takut kehilangan kesempatan sehingga Engkau menyegerakan hukuman?" Perawi berkata: Belum sempat ia beranjak, Bani Israil telah terbasahi oleh curahan hujan, dan Allah Ta'ala menumbuhkan rumput-rumputan hanya dalam setengah hari hingga mencapai lutut unta. Perawi berkata: Lalu Barkh kembali dan disambut oleh Nabi Musa 'alaihissalam, maka Barkh berkata, "Bagaimana pendapatmu ketika aku berargumen dengan Tuhanku, bagaimana Dia menyikapiku secara adil?" Maka Nabi Musa 'alaihissalam berniat menegurnya keras, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, "Sesungguhnya Barkh membuat-Ku tersenyum tiga kali setiap hari."

وعن الحسن قال احترقت أخصاص بالبصرة فبقي في وسطها خص لم يحترق وأبو موسى يومئذ أمير البصرة فأخبر بذلك فبعث إلى صاحب الخص قال فأتي بشيخ فقال يا شيخ ما بال خصك لم يحترق قال إني أقسمت على ربي ﷿ أن لا يحرقه فقال أبو موسى ﵁ إني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول يكون في أمتي قوم شعثة رءوسهم دنسة ثيابهم لو أقسموا على الله لأبرهم قال ووقع حريق بالبصرة فجاء أبو عبيدة الخواص فجعل يتخطى النار فقال له أمير البصرة انظر لا تحترق بالنار فقال إني أقسمت على ربي ﷿ أن لا يحرقني بالنار قال فاعزم على النار أن تطفأ قال فعزم عليها فطفئت

Diriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata: Gubuk-gubuk di Basrah terbakar, namun tersisa satu gubuk di tengahnya yang tidak terbakar. Saat itu Abu Musa adalah gubernur Basrah. Beliau diberitahu tentang hal itu, lalu mengutus utusan untuk memanggil pemilik gubuk tersebut. Perawi berkata: Maka dibawalah seorang syekh tua. Abu Musa berkata, "Wahai Syekh, mengapa gubukmu tidak terbakar?" Ia menjawab, "Aku telah bersumpah atas nama Tuhanku 'Azza wa Jalla agar Dia tidak membakarnya." Abu Musa radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan ada pada umatku suatu kaum yang kusut rambutnya, kotor pakaiannya, sekiranya mereka bersumpah atas nama Allah niscaya Dia akan memenuhinya.'" Perawi berkata: Dan pernah terjadi kebakaran lagi di Basrah, lalu datanglah Abu Ubaidah Al-Khawwash dan mulai melangkahi kobaran api. Gubernur Basrah berkata kepadanya, "Hati-hatilah jangan sampai engkau terbakar oleh api!" Ia menjawab, "Aku telah bersumpah atas nama Tuhanku 'Azza wa Jalla bahwa Dia tidak akan membakarku dengan api." Gubernur berkata, "Kalau begitu bersumpahlah pada api itu agar padam!" Maka ia bersumpah atasnya, lalu api itu pun padam.

وكان أبو حفص يمشي ذات يوم فاستقبله رستاقي مدهوش فقال له أبو حفص ما أصابك فقال ضل حماري ولا أملك غيره قال فوقف أبو حفص وقال وعزتك لا أخطو خطوة ما لم ترد عليه حماره قال فظهر حماره في الوقت ومر أبو حفص ﵀

Suatu hari Abu Hafs sedang berjalan, lalu ditemui oleh seorang penduduk desa yang tampak bingung. Abu Hafs bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi padamu?" Ia menjawab, "Keledaiku hilang, padahal aku tidak memiliki yang lain." Maka Abu Hafs berhenti dan berdoa, "Demi Keagungan-Mu, aku tidak akan melangkah satu langkah pun sebelum Engkau mengembalikan keledai ini kepadanya." Perawi berkata: Maka keledai itu seketika muncul saat itu juga, dan Abu Hafs rahimahullah berlalu pergi.

فهذا وأمثاله يجري لذوي الأنس وليس لغيرهم أن يتشبه بهم

Hal ini dan yang seumpamanya hanya berlaku bagi pemilik maqam al-uns (keintiman spiritual), dan tidak diperkenankan bagi selain mereka untuk menyerupai mereka.

قال الجنيد ﵀ أهل الأنس يقولون في كلامهم ومناجاتهم في خلواتهم أشياء هي كفر عند العامة

Al-Junaid rahimahullah berkata: "Para pemilik maqam al-uns mengucapkan dalam perkataan dan munajat mereka saat berkhalwat hal-hal yang dianggap sebagai kekufuran oleh kalangan awam."

وقال مرة لو سمعها العموم لكفروهم وهم يجدون المزيد في أحوالهم بذلك

Beliau juga pernah berkata: "Sekiranya orang-orang awam mendengarnya, niscaya mereka akan mengafirkan mereka, padahal mereka (para pemilik al-uns) justru mendapati peningkatan dalam kondisi spiritual (ahwal) mereka melalui hal tersebut."

وذلك يحتمل منهم ويليق بهم وإليه أشار القائل

Hal itu dapat dimaklumi dari mereka dan memang layak bagi mereka. Kepada makna inilah penyair memberi isyarat:

قوم تخالجهم زهو بسيدهم … والعبد يزهو على مقدار مولاه

"Suatu kaum yang diliputi rasa bangga akan Tuan mereka … Dan seorang hamba itu berbangga sesuai dengan kadar keagungan tuannya."

تاهوا برؤيته عما سواه له … يا حسن رؤيتهم في عز ما تاهوا

"Mereka terpesona karena memandang-Nya dari segala selain-Nya … Betapa indahnya penglihatan mereka dalam kemuliaan pesona yang mereka alami."

ولا تستبعدون رضاه عن العبد بما يغضب به على غيره مهما اختلف مقامهما ففي القرآن تنبيهات على هذه المعاني لو فطنت وفهمت فجميع قصص القرآن تنبيهات لأولي البصائر والأبصار حتى ينظروا إليها بعين الاعتبار فإنما هي عند ذوي الاعتبار من الأسماء

Janganlah kalian menganggap mustahil keridaan Allah terhadap seorang hamba atas sesuatu yang membuat-Nya murka kepada hamba yang lain, selama kedudukan (maqam) keduanya berbeda. Di dalam Al-Qur'an terdapat peringatan-peringatan atas makna-makna ini sekiranya dihayati dan dipahami. Sebab semua kisah dalam Al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang-orang yang memiliki mata hati dan pandangan agar mereka melihatnya dengan pandangan iktibar (pelajaran spiritual); karena kisah-kisah itu bagi orang yang mengambil pelajaran sejatinya adalah penanda-penanda.

فأول القصص قصة آدم ﵇ وإبليس أما تراهما كيف اشتركا في اسم المعصية والمخالفة ثم تباينا في الاجتباء والعصمة

Kisah yang pertama adalah kisah Nabi Adam 'alaihissalam dan Iblis. Tidakkah engkau melihat bagaimana keduanya bersekutu dalam nama kemaksiatan dan pelanggaran, namun kemudian keduanya berbeda jauh dalam hal keterpilihan (al-ijtiba') dan perlindungan (al-'ismah)?

أما إبليس فأبلس عن رحمته وقيل إنه من المبعدين

Adapun Iblis, ia putus asa dari rahmat-Nya dan dikatakan bahwa ia termasuk orang-orang yang dijauhkan.

وأما آدم ﵇ فقيل فيه وعصى آدم ربه فغوى ثم اجتباه ربه فتاب عليه وهدى

Adapun Nabi Adam 'alaihissalam, maka difirmankan tentangnya: "Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk."

وقد عاتب الله نبيه ﷺ في الإعراض عن عبد والإقبال على عبد وهما في العبودية سيان ولكن في الحال مختلفان فقال وأما من جاءك يسعى وهو يخشى فأنت عنه تلهى وقال فى الآخرة أما من استغنى فأنت له تصدى وكذلك أمره بالقعود مع طائفة فقال ﷿ وإذا جاءك الذين يؤمنون بآياتنا فقل سلام عليكم وأمره بالإعراض عن غيرهم فقال وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرض عنهم حتى قال فلا تقعد بعد الذكرى مع القوم الظالمبن وقال تَعَالَى وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بالغداة والعشي

Sungguh Allah telah menegur Nabi-Nya ﷺ ketika berpaling dari seorang hamba dan berfokus kepada hamba yang lain, padahal keduanya setara dalam hal status sebagai hamba, namun berbeda dalam kondisi spiritual (hal). Allah berfirman: "Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut (kepada Allah), maka engkau mengabaikannya." Dan Allah berfirman tentang yang lain: "Adapun orang yang merasa dirinya cukup, maka engkau melayaninya." Demikian pula Allah memerintahkannya untuk duduk bersama sekelompok orang, firman-Nya 'Azza wa Jalla: "Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, maka katakanlah: Salamun 'alaikum (keselamatan atas kamu)." Dan Allah memerintahkannya berpaling dari selain mereka, firman-Nya: "Dan apabila engkau melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka…" hingga firman-Nya: "…maka janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim itu setelah teringat." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan bersabarlah engkau bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari."

فكذلك الانبساط والإدلال يحتمل من بعض العباد دون بعض فمن انبساط الأنس قول موسى ﵇ إن هي إلا فتنتك تضل بها من تشاء وتهدي من تشاء وقوله في التعليل والاعتذار لما قيل له اذهب إلى فرعون ﴿فقال﴾ ولهم على ذنب وقوله إني أخاف أن يكذبون ويضيق صدري ولا ينطلق لساني وقوله إننا نخاف أن يفرط علينا أو أن يطغى وهذا من غير موسى ﵇ من سوء الأدب لأن الذي أقيم مقام الأنس يلاطف ويحتمل ولم يحتمل ليونس ﵇ ما دون هذا لما أقيم مقام القبض والهيبة فعوقب بالسجن في بطن الحوت في ظلمات ثلاث ونودي عليه إلى يوم القيامة لولا أن تداركه نعمة من ربه لنبذ بالعراء وهو مذموم قال الحسن العراء هو القيامة ونهى نبينا ﷺ أن يقتدى به

Demikian pula halnya dengan al-inbisat (kebebasan berperilaku) dan al-idlal (keberanian berasal dari keakraban), hal itu dimaklumi dari sebagian hamba dan tidak dari hamba yang lain. Termasuk kebebasan berperilaku (inbisat) dari maqam al-uns adalah perkataan Nabi Musa 'alaihissalam: "Ujian itu tiada lain hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau menyesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki." Dan perkataannya dalam mengajukan alasan dan permohonan uzur ketika diperintahkan kepadanya, "Pergilah kepada Firaun," lalu beliau berkata: "Dan mereka mempunyai tuntutan dosa terhadapku," serta perkataannya: "Sungguh aku takut mereka akan mendustakanku, dan dadaku terasa sempit serta lidahku tidak lancar," juga perkataannya bersama Harun: "Sungguh kami khawatir dia akan menyiksa kami dengan cepat atau bertindak melampaui batas." Hal seperti ini sekiranya keluar dari selain Nabi Musa 'alaihissalam niscaya dianggap sebagai kurang beradab (su'ul adab). Sebab orang yang ditempatkan pada maqam al-uns diperlakukan dengan kelembutan dan dimaklumi. Sementara itu, bagi Nabi Yunus 'alaihissalam, hal yang kurang dari ini saja tidak ditoleransi ketika beliau ditempatkan pada maqam al-qabdh (penyempitan batin) dan al-haibah (kewibawaan/kegentaran), sehingga beliau dihukum dengan dipenjara dalam perut ikan paus di tengah tiga kegelapan, dan diserukan tentang dirinya hingga hari kiamat: "Sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, tentulah ia dilemparkan ke tanah yang tandus dalam keadaan tercela." Al-Hasan berkata: "Al-'Ara' (tanah tandus) adalah hari kiamat." Dan Nabi kita ﷺ dilarang meniru beliau.

وقيل له فاصبر لحكم ربك ولا تكن كصاحب الحوت إذ نادى وهو مكظوم

Dan difirmankan kepadanya: "Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (Yunus) ketika ia berdoa dalam keadaan menahan kesedihan."

وهذه الاختلافات بعضها لاختلاف الأحوال والمقامات وبعضها لما سبق في الأزل من التفاضل والتفاوت في القسمة بين العباد وقد قال تعالى ولقد فضلنا بعض النبين على بعض وقد قال منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات فكان عيسى ﵇ من المفضلين ولإدلاله سلم على نفسه فقال والسلام علي يوم ولدت ويوم أموت ويوم أبعث حياً وهذا انبساط منه لما شاهد من اللطف في مقام الأنس

Perbedaan-perbedaan ini sebagian dikarenakan perbedaan ahwal (keadaan spiritual) dan maqamat (kedudukan spiritual), dan sebagian lagi karena apa yang telah terdahulu dalam azali berupa keutamaan dan perbedaan pembagian di antara para hamba. Allah Ta'ala telah berfirman, 'Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain.' Dan Dia juga berfirman, 'Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya dan sebagiannya Allah tinggikan beberapa derajat.' Maka Nabi Isa a.s. termasuk orang-orang yang diberi keutamaan, dan karena kelonggaran keakrabannya (idlal), beliau mengucapkan salam atas dirinya sendiri seraya berkata, 'Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.' Ini merupakan bentuk kelapangan (inbisat) dari beliau atas apa yang beliau saksikan berupa kelembutan (lutf) dalam maqam uns (keakraban spiritual).

وأما يحيى بن زكريا ﵇ فإنه أقيم مقام الهيبة والحياء فلم ينطق حتى أثنى عليه خالقه فقال وسلام عليه

Adapun Nabi Yahya bin Zakariya a.s., beliau ditempatkan dalam maqam haibah (rasa gentar yang agung) dan haya' (rasa malu), sehingga beliau tidak berucap hingga Penciptanya memujinya seraya berfirman, 'Dan kesejahteraan baginya…'

وانظر كيف احتمل لأخوة يوسف ما فعلوه بيوسف وقد قال بعض العلماء قد عددت من أول قوله تعالى إذ قالوا ليوسف وأخوه أحب إلى أبينا منا إلى رأس العشرين من إخباره تعالى عن زهدهم فيه نيفاً وأربعين خطيئة بعضها أكبر من بعض وقد يجتمع في الكلمة الواحدة الثلاث والأربع فغفر لهم وعفا عنهم ولم يحتمل العزير في مسألة واحدة سأل عنها في القدر حتى قيل مُحِيَ من ديوان النبوة وكذلك كان بلعام بن باعوراء من أكابر العلماء فأكل الدنيا بالدين فلم يحتمل له ذلك

Lihatlah bagaimana Dia menoleransi saudara-saudara Yusuf atas apa yang telah mereka perbuat terhadap Yusuf. Sebagian ulama telah berkata: 'Aku telah menghitung mulai dari awal firman-Nya Ta'ala, "(Ingatlah) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita," sampai kepala ayat ke-20 dari pemberitahuan Allah Ta'ala tentang ketidakpedulian (zuhd) mereka terhadap Yusuf, ada empat puluh lebih kesalahan, sebagian lebih besar dari yang lain, bahkan dalam satu kalimat bisa terkumpul tiga sampai empat kesalahan. Namun Allah mengampuni mereka dan memaafkan mereka. Sementara Nabi Uzair tidak ditoleransi dalam satu masalah saja yang ia tanyakan mengenai takdir, hingga dikatakan bahwa ia dihapus dari catatan kenabian. Demikian pula Bal'am bin Ba'ura yang termasuk ulama besar, namun ia memakan dunia dengan agama, maka hal itu tidak ditoleransi baginya.'

وكان آصف من المسرفين وكانت معصيته في الجوارح فعفا عنه

Dan Ashif termasuk orang yang berbuat melampaui batas, tetapi maksiatnya terjadi pada anggota badan (jawarih), maka Allah pun memaafkannya.

فقد روي أن الله تعالى أوحى إلى سليمان ﵇ يا رأس العابدين ويا ابن محجة الزاهدين إلى كم يعصيني ابن خالتك آصف وأنا أحلم عليه مرة بعد مرة فوعزتى وجلالي لئن أخذته عصفة من عصفاتي عليه لأتركنه مثلة لمن معه ونكالاً لمن بعده فلما دخل آصف على سليمان ﵇ أخبره بما أوحى الله تعالى إليه فخرج حتى علا كثيباً من رمل ثم رفع رأسه ويديه نحو السماء وقال إلهي وسيدي أنت أنت وأنا وأنا فكيف أتوب إن لم تتب علي وكيف أستعصم إن لم تعصمني لأعودن فأوحى الله تعالى إليه صدقت يا آصف أنت أنت وأنا وأنا أستقبل التوبة وقد تبت عليك وأنا التواب الرحيم وهذا كلام مدل به عليه وهارب منه إليه وناظر به إليه

Telah diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Sulaiman a.s.: 'Wahai pemimpin para ahli ibadah dan wahai putra jalan terang para ahli zuhud, sampai kapan putra bibimu, Ashif, bermaksiat kepada-Ku padahal Aku bersikap santun (halim) kepadanya berkali-kali? Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika Aku menimpakan satu tiupan murka-Ku kepadanya, niscaya Aku akan menjadikannya ikhtibar (pembelajaran) bagi orang yang bersamanya dan hukuman bagi orang setelahnya.' Ketika Ashif masuk menemui Sulaiman a.s., Sulaiman memberitahukan apa yang diwahyukan Allah kepadanya. Maka Ashif keluar hingga naik ke bukit pasir, lalu menengadahkan kepala dan kedua tangannya ke langit seraya berkata: 'Tuhanku dan Junjunganku, Engkau adalah Engkau dan aku adalah aku. Maka bagaimana aku dapat bertobat jika Engkau tidak menerima tobatku, dan bagaimana aku dapat menjaga diri jika Engkau tidak memeliharaku? Sungguh aku pasti akan kembali bermaksiat.' Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: 'Engkau benar wahai Ashif, engkau adalah engkau dan Aku adalah Aku. Aku menerima tobat, dan sungguh Aku telah menerima tobatmu, dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.' Ini adalah ucapan orang yang merasa akrab (mudill) kepada-Nya, lari dari-Nya menuju kepada-Nya, dan memandang kepada-Nya melalui diri-Nya.

وفي الخبر إن الله تعالى أوحى إلى عبد تداركه بعد أن كان أشفى على الهلكة كم من ذنب واجهتني به غفرته لك قد أهلكت في دونه أمة من الأمم

Dan dalam riwayat disebutkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada seorang hamba yang diselamatkan-Nya setelah ia berada di jurang kebinasaan: 'Berapa banyak dosa yang engkau lakukan terang-terangan di hadapan-Ku lalu Aku mengampuninya bagimu, padahal Aku telah membinasakan satu umat dari umat-umat terdahulu karena dosa yang lebih ringan dari itu.'

فهذه سنة الله تعالى في عباده بالتفضيل والتقديم والتأخير على ما سبقت به المشيئة الأزلية

Maka inilah sunnatullah (ketetapan Allah Ta'ala) pada hamba-hamba-Nya dalam hal pengutamaan, mendahulukan, dan mengakhirkan, sesuai dengan apa yang telah mendahului dalam kehendak (masyi'ah) azali.

وهذه القصص وردت في القرآن لتعرف بها سنة الله في عباده الذين خلوا من قبل فما في القرآن شيء إلا وهو هدى ونور وتعرف من الله تعالى إلى خلقه فتارة يتعرف إليهم بالتقديس فيقول قل هو الله أحد الله الصمد لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كفواً أحد وتارة يتعرف إليهم بصفات جلاله فيقول الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ المتكبر وتارة يتعرف إليهم في أفعاله المخوفة والمرجوة فيتلو عليهم سنته في أعدائه وفي أنبيائه فيقول ألم تر كيف فعل ربك بعاد إرم ذات العماد ألم تر كيف فعل ربك بأصحاب الفيل

Kisah-kisah ini tercantum dalam Al-Qur'an agar dengan kisah tersebut diketahui sunnatullah pada hamba-hamba-Nya yang telah berlalu sebelumnya. Tidak ada sesuatu pun dalam Al-Qur'an melainkan ia merupakan petunjuk, cahaya, dan pengenalan (ta'arruf) dari Allah Ta'ala kepada makhluk-Nya. Terkadang Dia memperkenalkan diri-Nya kepada mereka dengan penyucian (taqdis), maka Dia berfirman, 'Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.' Terkadang Dia memperkenalkan diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan-Nya (jalal), maka Dia berfirman, 'Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan.' Dan terkadang Dia memperkenalkan diri-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang menakutkan dan yang mengharap rahmat, lalu Dia membacakan kepada mereka ketetapan-Nya (sunnah-Nya) terhadap musuh-musuh-Nya dan para nabi-Nya, maka Dia berfirman, 'Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,' dan 'Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?'

ولايعدو القرآن هذه الأقسام الثلاثة وهي الإرشاد إلى معرفة ذات الله وتقديسه أو معرفة صفاته وأسمائه أو معرفة أفعاله وسنته مع عباده

Al-Qur'an tidak keluar dari tiga bagian ini, yaitu: petunjuk untuk mengenali Zat Allah dan penyucian-Nya (taqdis), mengenali sifat-sifat dan nama-nama-Nya, atau mengenali perbuatan-perbuatan dan ketetapan-Nya (sunnah-Nya) terhadap hamba-hamba-Nya.

ولما اشتملت سورة الإخلاص على أحد هذه الأقسام الثلاثة وهو التقديس وازنها رسول الله ﷺ بثلث القرآن فقال من قرأ سورة الإخلاص فقد قرأ ثلث القرآن حديث دعائه لابن عباس اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل متفق عليه دون قوله وعلمه التأويل ورواه أحمد بهذه الزيادة وتقدم في العلم

Ketika surah Al-Ikhlas mencakup salah satu dari tiga bagian ini, yaitu penyucian (taqdis), Rasulullah ﷺ menyamakannya dengan sepertiga Al-Qur'an, lalu beliau bersabda: 'Barang siapa membaca surah Al-Ikhlas, maka sungguh ia telah membaca sepertiga Al-Qur'an.' Adapun hadis doa beliau untuk Ibnu Abbas: 'Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (penafsiran),' adalah muttafaq 'alaih tanpa bagian 'dan ajarkanlah kepadanya takwil', sedangkan Ahmad meriwayatkannya dengan tambahan ini, dan telah disebutkan sebelumnya pada Bab Ilmu.

Daftar Isi Kitab

Lihat Semua
بيان شواهد الشرع في حب العبد لله تعالى
بيان حقيقة المحبة وأسبابها وتحقيق معنى محبة العبد لله تعالى
بيان أن المستحق للمحبة هو الله وحده
بيان أن أجل اللذات وأعلاها معرفة الله تعالى والنظر إلى وجهه الكريم وأنه لا يتصور أن لا يؤثر عليها لذة أخرى إلا من حرم هذه اللذة
بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا
بيان الأسباب المقوية لحب الله تعالى
بيان السبب في تفاوت الناس في الحب
بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه
بيان معنى الشوق إلى الله تعالى
بيان محبة الله للعبد ومعناها
القول في علامات محبة العبد لله تعالى
بيان معنى الأنس بالله تعالى
بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس
القول في معنى الرضا بقضاء الله تعالى وحقيقته وما ورد في فضيلته
بيان فضيلة الرضا
بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى
بيان أن الدعاء غير مناقض للرضا
بيان أن الفرار من البلاد التي هي مظان المعاصي ومذمتها لا يقدح في الرضا
بيان جملة من حكايات المحبين وأقوالهم ومكاشفاتهم
خاتمة الكتاب بكلمات متفرقة تتعلق بالمحبة ينتفع بها