كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا

بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه

بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه

بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه

Penjelasan tentang Penyebab Keterbatasan Pemahaman Makhluk dalam Ma'rifatullah (Mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala)

اعلم أن أظهر الموجودات وأجلاها هو الله تعالى وكان هذا يقتضي أن تكون معرفته أول المعارف وأسبقها إلى الأفهام وأسهلها على العقول وترى الأمر بالضد من ذلك فلا بد من بيان السبب فيه

Ketahuilah bahwa wujud yang paling tampak dan paling terang adalah Allah Ta'ala. Konsekuensinya, ma'rifat kepada-Nya seharusnya menjadi pengetahuan yang paling utama, paling mendahului dalam pemahaman, dan paling mudah bagi akal. Namun engkau melihat kenyataannya justru sebaliknya. Maka tidak boleh tidak, harus dijelaskan penyebabnya.

وإنما قلنا إنه أظهر الموجودات وأجلاها لمعنى لا تفهمه إلا بمثال وهو أنا إذا رأينا إنساناً يكتب أو يخيط مثلاً كان كونه حياً عندنا من أظهر الموجودات فحياته وعلمه وقدرته وإرادته للخياطة أجلى عندنا من سائر صفاته الظاهرة والباطنة إذصفاته الباطنة كشهوته وغضبه وخلقه وصحته ومرضه وكل ذلك لا نعرفه وصفاته الظاهرة لا نعرف بعضها وبعضها نشك فيه كمقدار طوله واختلاف لون بشرته وغير ذلك من صفاته

Kami katakan bahwa Dia adalah wujud yang paling tampak dan paling terang karena sebuah makna yang tidak dapat engkau pahami melainkan dengan perumpamaan. Yaitu, jika kita melihat seorang manusia sedang menulis atau menjahit misalnya, keberadaannya sebagai makhluk hidup adalah hal yang paling jelas bagi kita. Kehidupan, ilmu, kekuasaan (kemampuan), dan kehendaknya untuk menjahit adalah lebih jelas bagi kita daripada seluruh sifat-sifatnya yang lahir maupun yang batin. Sebab, sifat-sifat batinnya seperti syahwat, amarah, akhlak, kesehatan, dan sakitnya, semua itu tidak kita ketahui. Sifat-sifat lahirnya pun ada yang tidak kita ketahui dan ada yang kita ragukan, seperti ukuran tingginya, perbedaan warna kulitnya, dan sifat-sifat lainnya.

أما حياته وقدرته وإرادته وعلمه وكونه حيواناً فإنه جلي عندنا من غير أن يتعلق حس البصر بحياته وقدرته وإرادته فإن هذه الصفات

Adapun kehidupannya, kekuasaannya, kehendaknya, ilmunya, dan keberadaannya sebagai makhluk hidup, hal itu sangat jelas bagi kita tanpa perlu indra penglihatan menyentuh kehidupan, kekuasaan, dan kehendaknya secara langsung, sebab sifat-sifat ini…

لا تحس بشيء من الحواس الخمس ثم لا يمكن أن نعرف حياته وقدرته وإرادته إلا بخياطته وحركته فلو نظرنا إلى كل ما في العالم سواه لم نعرف به صفته فما عليه إلا دليل واحد وهو مع ذلك جلي واضح ووجود الله تعالى وقدرته وعلمه وسائر صفاته يشهد له بالضرورة كل ما نشاهده وندركه بالحواس الظاهرة والباطنة من حجر ومدر ونبات وشجر وحيوان وسماء وأرض وكوكب وبحر ونار وهواء وجوهر وعرض بل أول شاهد عليه أنفسنا وأجسامنا وأوصافنا وتقلب أحوالنا وتغير قلوبنا وجميع أطوارنا في حركاتنا وسكناتنا وأظهر الأشياء في علمنا أنفسنا ثم محسوساتنا بالحواس الخمس ثم مدركاتنا بالعقل والبصيرة وكل واحد من هذه المدركات له مدرك واحد وشاهد واحد ودليل واحد وجميع ما في العالم شواهد ناطقة وأدلة شاهدة بوجود خالقها ومدبرها ومصرفها ومحركها ودالة على علمه وقدرته ولطفه وحكمته

…tidak dapat diindra oleh apa pun dari indra yang lima. Kemudian, tidak mungkin kita mengetahui kehidupannya, kekuasaannya, dan kehendaknya melainkan melalui jahitannya dan gerakannya. Seandainya kita melihat seluruh alam selain dirinya, kita tidak akan mengetahui sifatnya itu. Maka baginya hanya ada satu dalil, padahal dalil itu sangat jelas dan terang. Sementara itu, wujud Allah Ta'ala, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan seluruh sifat-Nya disaksikan secara dharuri (pasti) oleh segala sesuatu yang kita saksikan dan kita jangkau dengan indra lahiriah maupun batiniah: mulai dari batu, tanah, tumbuhan, pepohonan, hewan, langit, bumi, bintang, laut, api, udara, substansi (jauhar), maupun aksiden ('aradh). Bahkan saksi pertama atas-Nya adalah diri kita sendiri, tubuh kita, sifat-sifat kita, perbolak-balikan keadaan kita, perubahan hati kita, serta seluruh fase pergerakan dan diamnya kita. Hal yang paling tampak dalam pengetahuan kita adalah diri kita sendiri, kemudian hal-hal yang terindra oleh indra yang lima, lalu hal-hal yang terjangkau oleh akal dan bashirah (mata hati). Masing-masing dari hal-hal yang terjangkau ini hanya memiliki satu objek yang dijangkau, satu saksi, dan satu dalil. Padahal seluruh apa yang ada di alam ini adalah saksi-saksi yang berbicara dan dalil-dalil yang bersaksi akan wujud Penciptanya, Pengaturnya, Pengelolanya, serta Penggeraknya, dan menunjukkan atas ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kelembutan-Nya, dan hikmah-Nya.

والموجودات المدركة لا حصر لها فإن كانت حياة الكاتب ظاهرة عندنا وليس لها يشهد إلا شاهد واحد وهو ما أحسسنا به من حركة يده فكيف لا يظهر عندنا ما لا يتصور في الوجود شيء داخل نفوسنا وخارجها إلا وهو شاهد عليه وعلى عظمته وجلاله إذ كل ذرة فإنها تنادي بلسان حالها أنه ليس وجودها بنفسها ولا حركتها بذاتها وأنها تحتاج إلى موجد ومحرك لها يشهد بذلك أولاً تركيب أعضائنا وائتلاف عظامنا ولحومنا وأعصابنا ومنابت شعورنا وتشكل أطرافنا وسائر أجزائنا الظاهرة والباطنة فإنه نعلم أنها لم تأتلف بأنفسها كما نعلم أن يد الكاتب لم تتحرك بنفسها ولكن لما لم يبق في الوجود شيء مدرك ومحسوس ومعقول وحاضر وغائب إلا وهو شاهد ومعرف عظم ظهوره فانبهرت العقول ودهشت عن إدراكه

Dan wujud-wujud yang terjangkau itu tidak ada batasnya. Jika kehidupan seorang penulis saja sangat tampak bagi kita padahal tidak ada saksi baginya melainkan satu saksi—yaitu apa yang kita indra berupa gerakan tangannya—maka bagaimana mungkin tidak tampak bagi kita Dzat yang tidak tergambarkan ada sesuatu pun di alam wujud ini, baik di dalam diri kita maupun di luar diri kita, melainkan menjadi saksi atas-Nya, keagungan-Nya, dan kejayaan-Nya? Sebab setiap dzarah (partikel terkecil) menyeru dengan lisan kepasrahannya (lisanul hal) bahwa wujudnya bukanlah dari dirinya sendiri dan gerakannya bukanlah dari zatnya sendiri, melainkan ia membutuhkan Pencipta dan Penggeraknya. Hal itu disaksikan pertama kali oleh susunan anggota tubuh kita, penyatuan tulang, daging, saraf, tempat tumbuhnya rambut, pembentukan jemari, serta seluruh bagian lahir dan batin kita. Kita mengetahui bahwa semuanya itu tidak menyatu dengan sendirinya sebagaimana kita mengetahui bahwa tangan penulis tidak bergerak dengan sendirinya. Namun, ketika tidak ada lagi sesuatu pun di alam wujud yang terjangkau, terindra, terakal, yang tampak maupun yang gaib, melainkan menjadi saksi dan pengenal, maka teramat sangatlah ketampakan-Nya (kejelasan-Nya), sehingga akal menjadi bingung dan terperanjat hingga tak sanggup menggapai-Nya.

فإن ما تقصر عن فهمه عقولنا فله سببان أحدهما خفاؤه في نفسه وغموضه وذلك لا يخفى مثاله والآخر ما يتناهى وضوحه وهذا كما أن الخفاش يبصر بالليل ولا يبصر بالنهار لا لخفاء النهار واستتاره ولكن لشدة ظهوره فإن بصر الخفاش ضعيف يبهره نور الشمس إذا أشرقت فتكون قوة ظهوره مع ضعف بصره سبباً لامتناع إبصاره فلا يرى شيئاً إلا إذا امتزج الضوء بالظلام وضعف ظهوره

Sungguh, apa yang tidak sanggup dipahami oleh akal kita itu memiliki dua penyebab: salah satunya adalah karena tersembunyi pada dirinya sendiri dan rumit—dan contoh hal ini tidaklah samar—sedangkan penyebab lainnya adalah karena terlalu terangnya kejelasannya. Hal ini seperti kelelawar yang dapat melihat di malam hari tetapi tidak dapat melihat di siang hari; bukan karena siang itu samar dan tersembunyi, melainkan karena sangat terangnya siang. Penglihatan kelelawar itu lemah sehingga disilaukan oleh cahaya matahari ketika terbit. Maka kekuatan terangnya matahari yang disertai kelemahan penglihatannya menjadi sebab terhalangnya penglihatannya, sehingga ia tidak dapat melihat sesuatu melainkan jika cahaya bercampur dengan kegelapan dan terangnya melemah.

فكذلك عقولنا ضعيفة وجمال الحضرة الإلهية في نهاية الإشراق والاستنارة وفي غاية الاستغراق والشمول حتى لم يشذ عن ظهوره ذرة من ملكوت السموات والأرض فصار ظهوره سبب خفائه فسبحان من احتجب بإشراق نوره واختفى عن البصائر والأبصار بظهوره ولا يتعجب من اختفاء ذلك بسبب الظهور فإن الأشياء تستبان بأضدادها وماعم وجوده حتى أنه لا ضد له عسر إدراكه فلو اختلفت الأشياء فدل بعضها دون بعض أدركت التفرقة على قرب ولما اشتركت في الدلالة على نسق واحد أشكل الأمر

Demikian pula akal kita, ia begitu lemah. Sementara keindahan Kehadiran Ilahi (Al-Hadhrah Al-Ilahiyyah) berada pada puncak kecemerlangan dan pencahayaan, serta puncak liputan dan kesemestaan, hingga tidak ada satu zarrah pun di alam kerajaan (malakut) langit dan bumi yang luput dari ketampakan-Nya. Maka ketampakan-Nya itulah yang menjadi sebab tersembunyi-Nya. Mahasuci Dzat yang berhijab dengan kecemerlangan cahaya-Nya dan tersembunyi dari pandangan mata hati (bashirah) serta penglihatan mata (bashar) justru karena ketampakan-Nya! Janganlah heran atas tersembunyinya sesuatu karena ketampakannya, sebab segala sesuatu itu terlihat jelas melalui lawannya. Sesuatu yang wujudnya merata hingga tidak memiliki lawan sama sekali, niscaya sulit untuk dijangkau. Seandainya hal-hal itu berbeda-beda, lalu sebagian menunjukkan dan sebagian tidak menunjukkan, niscaya perbedaan itu akan cepat terjangkau. Namun karena semuanya bersekutu dalam menunjukkan dengan satu pola yang sama, maka perkara tersebut menjadi samar.

ومثاله نور الشمس المشرق على الأرض فإنا نعلم أنه عرض من الأعراض يحدث في الأرض ويزول عند غيبة الشمس فلو كانت الشمس دائمة الإشراق لا غروب لها لكنا نظن أنه لا هيئة في الأجسام إلا ألوانها وهي السواد والبياض وغيرهما فإنا لا نشاهد في الأسود إلا السواد وفي الأبيض إلا البياض فأما الضوء فلا ندركه وحده ولكن لما غابت الشمس وأظلمت المواضع أدركنا تفرقة بين الحالين فعلمنا أن الأجسام كانت قد استضاءت بضوء واتصفت بصفة فارقتها عند الغروب فعرفنا وجود النور بعدمه وما كنا نطلع عليه لولا عدمه إلا بعسر شديد وذلك لمشاهدتنا الأجسام متشابهة غير مختلفة في الظلام والنور هذا مع أن النور أظهر المحسوسات إذ به تدرك سائر المحسوسات فما هو ظاهر في نفسه وهو مظهر لغيره انظر كيف تصور استبهام أمره بسبب ظهوره لولا طريان ضده فالله تعالى هو أظهر الأمور وبه ظهرت الأشياء كلها ولو كان له عدم أو غيبة أو تغير لانهدت السموات والأرض وبطل الملك

Contohnya adalah cahaya matahari yang menyinari bumi. Kita mengetahui bahwa cahaya itu adalah salah satu aksiden ('aradh) yang terjadi di bumi dan sirna saat matahari terbenam. Seandainya matahari bersinar terus-menerus tanpa pernah terbenam, niscaya kita menduga bahwa tidak ada keadaan pada benda-benda melainkan warnanya saja, yaitu hitam, putih, dan selainnya. Sebab pada benda hitam kita tidak menyaksikan melainkan kehitaman, dan pada benda putih melainkan keputihan. Adapun cahaya, kita tidak menjangkaunya secara tersendiri. Namun ketika matahari terbenam dan tempat-tempat menjadi gelap, kita mendapati perbedaan di antara kedua keadaan tersebut. Maka kita mengetahui bahwa benda-benda tersebut sebelumnya disinari oleh suatu cahaya dan disifati oleh suatu sifat yang berpisah darinya saat terbenam. Maka kita mengenal keberadaan cahaya melalui ketidakadaannya. Dan sekiranya tidak ada ketidakadaan itu, niscaya kita tidak akan menyadarinya melainkan dengan amat sulit. Hal itu karena kita melihat benda-benda berada dalam keadaan serupa tanpa perbedaan dalam kegelapan dan terang. Padahal cahaya adalah hal yang paling tampak dari segala yang terindra, karena dengannyalah seluruh hal yang terindra dapat dijangkau. Maka sesuatu yang tampak pada dirinya sendiri dan menampakkan yang lain, lihatlah bagaimana perkaranya bisa terbayang samar hanya karena kejelasannya seandainya tidak ada datangnya lawan! Maka Allah Ta'ala adalah perkara yang paling tampak dan dengan-Nya lah segala sesuatu menjadi tampak. Seandainya Dia mengalami ketidakadaan, kegaiban, atau perubahan, niscaya hancurlah langit dan bumi serta batallah kerajaan…

والملكوت ولأدرك بذلك التفرقة بين الحالين ولو كان بعض الأشياء موجوداً به وبعضها موجوداً بغيره لأدركت التفرقة بين الشيئين في الدلالة ولكن دلالته عامة في الأشياء على نسق واحد ووجوده دائم في الأحوال يستحيل خلافه فلا جرم أورثت شدة الظهور خفاء فهذا هو السبب في قصور الأفهام

…dan alam malakut, dan dengan demikian perbedaan antara dua keadaan akan dapat dijangkau. Seandainya sebagian sesuatu wujud karena-Nya dan sebagian lainnya wujud bukan karena-Nya, niscaya perbedaan antara kedua hal itu dalam hal petunjuk akan dapat dijangkau. Namun petunjuk-Nya bersifat umum pada seluruh benda dalam satu pola yang sama, dan wujud-Nya bersifat abadi dalam segala keadaan yang mustahil sebaliknya. Maka tidak diragukan lagi, keperasaan ketampakan (kesangatan terangnya ketampakan) telah melahirkan kesamaran. Inilah penyebab keterbatasan pemahaman.

وأما من قويت بصيرته ولم تضعف منته فإنه في حال اعتدال أمره لا يرى إلا الله تعالى ولا يعرف غيره يعلم أنه ليس في الوجود إلا الله وأفعاله أثر من الآثار قدرته فهي تابعة له فلا وجود لها بالحقيقة دونه وإنما الوجود للواحد الحق الذي به وجود الأفعال كلها ومن هذه حاله فلا ينظر في شيء من الأفعال إلا ويرى فيه الفاعل ويذهل عن الفعل من حيث إنه سماء وأرض وحيوان وشجر بل ينظر فيه من حيث أنه صنع الواحد الحق فلا يكون نظره مجاوزاً له إلى غيره كمن نظر في شعر إنسان أو خطه أو تصنيفه ورأى فيها الشاعر والمصنف ورأى آثاره من حيث أثره لا من حيث إنه حبر وعفص وزاج مرقوم على بياض فلا يكون قد نظر إلى غير المصنف

Adapun orang yang mata hatinya (bashirah) kuat dan cita-citanya tidak melemah, maka dalam keadaan perkaranya yang seimbang ia tidak melihat melainkan Allah Ta'ala dan tidak mengenal selain-Nya. Ia mengetahui bahwa tidak ada di dalam wujud ini melainkan Allah, dan perbuatan-perbuatan-Nya merupakan bekas dari bekas-bekas kekuasaan-Nya yang tunduk kepada-Nya, sehingga perbuatan itu tidak memiliki wujud yang hakiki tanpa-Nya. Wujud yang sejati hanyalah milik Yang Maha Esa lagi Mahabenar (Al-Wahid Al-Haqq), yang menjadi sebab wujudnya seluruh perbuatan. Barang siapa yang kondisinya demikian, maka tidaklah ia memandang sesuatu dari perbuatan-perbuatan melainkan melihat Sang Pelaku di dalamnya, dan ia alpa dari perbuatan itu sendiri ditinjau dari segi bahwa itu adalah langit, bumi, hewan, atau pohon; melainkan ia memandangnya dari segi bahwa itu adalah buatan Yang Maha Esa lagi Mahabenar. Maka pandangannya tidak melampaui-Nya kepada yang lain, sebagaimana orang yang melihat syair seseorang, tulisannya, atau karangannya, lalu ia melihat di dalamnya sang penyair atau sang pengarang, serta melihat karya-karyanya dari segi bahwa itu adalah karyanya, bukan dari segi bahwa itu adalah tinta, bahan pewarna, dan zat pengikat yang digoreskan di atas kertas putih, sehingga tidaklah ia memandang melainkan kepada sang pengarang.

وكل العالم تصنيف الله تعالى فمن نظر إليه من حيث إنه فعل الله وعرفه من حيث إنه فعل الله وأحبه من حيث إنه فعل الله لم يكن ناظراً إلا في الله ولا عارفاً إلا بالله ولا محباً إلا له وكان هو الموحد الحق الذي لا يرى إلا الله بل لا ينظر إلى نفسه من حيث نفسه بل من حيث إنه عبدا لله فهذا الذي يقال فيه إنه فني في التوحيد وإنه فني عن نفسه وإليه الإشارة بقول من قال كنا بنا ففنينا عنا فبقينا بلا نحن فهذه أمور معلومة عند ذوي البصائر أشكلت لضعف الأفهام عن دركها وقصور قدرة العلماء بها عن إيضاحها وبيانها بعبارة مفهمة موصلة للغرض إلى الأفهام أو باشتغالهم بأنفسهم واعتقادهم أن بيان ذلك لغيرهم مما لا يعنيهم

Dan seluruh alam adalah "karangan" (ciptaan) Allah Ta'ala. Barang siapa yang memandangnya dari segi bahwa ia adalah perbuatan Allah, mengenalnya dari segi bahwa ia adalah perbuatan Allah, dan mencintainya dari segi bahwa ia adalah perbuatan Allah, maka ia tidaklah memandang melainkan kepada Allah, tidak mengenal melainkan Allah, dan tidak mencintai melainkan untuk-Nya. Dialah orang yang bertauhid secara hakiki (al-muwahhid al-haqq), yang tidak melihat melainkan Allah, bahkan tidak memandang dirinya sendiri dari segi dirinya sendiri, melainkan dari segi bahwa ia adalah hamba Allah. Orang inilah yang dikatakan tentangnya bahwa ia telah fana dalam tauhid dan fana dari dirinya sendiri. Ke arah inilah isyarat dari ucapan orang yang berkata: "Dahulu kita ada dengan diri kita, lalu kita fana dari diri kita, maka kita tetap ada tanpa kata 'kita'." Ini semua adalah perkara yang diketahui di sisi orang-orang yang memiliki bashirah, namun menjadi samar karena lemahnya pemahaman untuk menggapainya dan terbatasnya kemampuan para ulama dalam menjalaskannya serta menerangkannya dengan ungkapan yang memahamkan dan menyampaikan maksud ke dalam pemahaman, atau karena kesibukan para ulama dengan diri mereka sendiri dan anggapan mereka bahwa menjelaskan hal itu kepada orang lain termasuk hal yang tidak penting bagi mereka.

فهذا هو السبب في قصور الأفهام عن معرفة الله تعالى وانضم إليه أن المدركات كلها التي هي شاهدة على الله إنما يدركها الإنسان في الصبا عند فقد العقل ثم تبدو فيه غريزة العقل قليلاً قليلاً وهو مستغرق الهم بشهواته وقد أنس بمدركاته ومحسوساته وألفها فسقط وقعها عن قلبه بطول الأنس ولذلك إذا رأى على سبيل الفجأة حيواناً غريباً أو نباتاً غريباً أو فعلاً من أفعال الله تعالى خارقاً للعادة عجيباً انطلق لسانه بالمعرفة طبعاً فقال سبحان الله وهو يرى طول النهار نفسه وأعضاءه وسائر الحيوانات المألوفة وكلها شواهد قاطعة لا يحس بشهادتها لطول الأنس بها ولو فرض أكمه بلغ عاقلاً ثم انقشعت غشاوة عينه فامتد بصره إلى السماء والأرض والأشجار والنبات والحيوان دفعة واحدة على سبيل الفجأة لخيف على عقله أن ينبهر لعظم تعجبه من شهادة العجائب لخالقها

Maka inilah sebab keterbatasan pemahaman dalam ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala). Ditambah lagi bahwa seluruh hal yang terjangkau yang menjadi saksi atas Allah itu hanya dijangkau oleh manusia pada masa kecil ketika akalnya belum ada. Kemudian mulailah muncul padanya insting akal sedikit demi sedikit dalam keadaan ia tenggelam dalam keinginan syahwatnya, serta telah terbiasa dengan objek-objek jangkauannya dan inderanya serta merasa akrab dengannya, sehingga gugurlah kesan mendalam dari hatinya karena lamanya kebiasaan tersebut. Oleh karena itu, apabila secara tiba-tiba ia melihat hewan yang asing, tumbuhan yang aneh, atau suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatan Allah Ta'ala yang luar biasa dan menakjubkan, secara alami lisannya akan meluncurkan ma'rifat seraya berkata: "Subhanallah" (Mahasuci Allah). Padahal sepanjang hari ia melihat dirinya sendiri, anggota tubuhnya, dan seluruh hewan yang sudah terbiasa dilihatnya—yang semuanya merupakan saksi-saksi yang pasti—namun ia tidak merasakan kesaksiannya karena telah terbiasa terlalu lama dengannya. Seandainya diandaikan ada seorang buta sejak lahir yang telah dewasa dan berakal, kemudian selaput matanya tersingkap sehingga penglihatannya langsung tertuju ke langit, bumi, pepohonan, tumbuhan, dan hewan secara sekaligus dan mendadak, niscaya dikhawatirkan akalnya akan terguncang (terperanjat) karena betapa besarnya ketakjubannya atas kesaksian keajaiban-keajaiban itu bagi Penciptanya.

فهذا وأمثاله من الأسباب مع الانهماك في الشهوات هو الذي سد على الخلق سبيل الاستضاءة بأنوار المعرفة والسباحة في بحارها الواسعة فالناس في طلبهم معرفة الله كالمدهوش الذي يضرب به المثل إذا كان راكباً لحماره وهو يطلب حماره والجليات إذا صارت مطلوبة صارت معتاصة

Maka hal ini dan seumpamanya dari berbagai sebab, bersamaan dengan tenggelamnya diri dalam syahwat, itulah yang menutup jalan bagi para makhluk untuk mengambil cahaya dari sinar-sinar ma'rifat dan berenang di samudranya yang luas. Maka manusia dalam pencarian mereka akan ma'rifatullah adalah seperti orang bingung yang dijadikan perumpamaan: ia sedang menunggangi keledainya padahal ia sibuk mencari keledainya tersebut. Sesuatu yang sangat jelas itu, apabila dijadikan sebagai objek pencarian, justru menjadi sangat sulit ditemukan.

فهذا سر هذا الأمر فليحقق ولذلك قيل

Maka inilah rahasia dari perkara ini, hendaknya dipahami secara mendalam. Oleh karena itu dikatakan:

فقد ظهرت فما تخفى على أحد … إلا على أكمه لا يعرف القمرا

Sungguh Engkau telah tampak jelas hingga tidak tersembunyi bagi siapa pun… kecuali bagi orang buta sejak lahir yang tidak mengenal rembulan.

لكن بطنت بما أظهرت محتجباً … فكيف يعرف من بالعرف قد سترا

Namun Engkau tersembunyi di balik apa yang Engkau tampakkan secara berhijab… maka bagaimanakah dapat dikenali Zat yang tersembunyi justru karena kejelasan ke Nyataan-Nya?

Daftar Isi Kitab

Lihat Semua
بيان شواهد الشرع في حب العبد لله تعالى
بيان حقيقة المحبة وأسبابها وتحقيق معنى محبة العبد لله تعالى
بيان أن المستحق للمحبة هو الله وحده
بيان أن أجل اللذات وأعلاها معرفة الله تعالى والنظر إلى وجهه الكريم وأنه لا يتصور أن لا يؤثر عليها لذة أخرى إلا من حرم هذه اللذة
بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا
بيان الأسباب المقوية لحب الله تعالى
بيان السبب في تفاوت الناس في الحب
بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه
بيان معنى الشوق إلى الله تعالى
بيان محبة الله للعبد ومعناها
القول في علامات محبة العبد لله تعالى
بيان معنى الأنس بالله تعالى
بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس
القول في معنى الرضا بقضاء الله تعالى وحقيقته وما ورد في فضيلته
بيان فضيلة الرضا
بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى
بيان أن الدعاء غير مناقض للرضا
بيان أن الفرار من البلاد التي هي مظان المعاصي ومذمتها لا يقدح في الرضا
بيان جملة من حكايات المحبين وأقوالهم ومكاشفاتهم
خاتمة الكتاب بكلمات متفرقة تتعلق بالمحبة ينتفع بها