كتاب المحبة والشوق والأنس والرضا

بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى

بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى

بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى

Penjelasan tentang Hakikat Rida dan Gambaran Konseptualnya dalam Hal-hal yang Menyelahi Keinginan Hawa Nafsu

اعلم أن من قال ليس فيما يخالف الهوى وأنواع البلاء إلا الصبر فأما الرضا فلا يتصور فإنما أتى من ناحية إنكار المحبة فأما إذا ثبت تصور الحب لله تعالى واستغراق الهم به فلا يخفى أن الحب يورث الرضا بأفعال الحبيب ويكون ذلك من وجهين

Ketahuilah bahwa orang yang beranggapan bahwa pada hal-hal yang menyelahi keinginan hawa nafsu dan beraneka ragam ujian tidak ada tempat kecuali bagi kesabaran, sedangkan rida itu tidak dapat dibayangkan (tidak mungkin terjadi), sesungguhnya pemahaman itu muncul dari pengingkarannya terhadap hakikat mahabbah (cinta). Adapun apabila telah terbukti bahwa cinta kepada Allah Ta'ala itu dapat diwujudkan dan perhatian jiwa dapat tenggelam sepenuhnya dalam cinta-Nya, maka tidak diragukan lagi bahwa cinta itu melahirkan keridaan terhadap seluruh perbuatan Sang Kekasih. Hal itu dapat terjadi melalui dua jalan:

﴿أحدهما﴾ أن يبطل الإحساس بالألم حتى يجري عليه المؤلم ولا يحس وتصيبه جراحة ولا يدرك ألمها

(Pertama) Gugurnya rasa sakit hingga ketika hal yang menyakitkan menimpanya, ia tidak merasakannya; ia terkena luka tetapi tidak menyadari pedihnya.

ومثاله الرجل المحارب فإنه في حال غضبه أو في حال خوفه قد تصيبه جراحة وهو لا يحس بألم ذلك لشغل قلبه

Contohnya adalah seorang prajurit di medan perang; pada saat marah atau takut, ia mungkin terkena sabetan luka namun ia tidak merasakan pedihnya karena hatinya tersibukkan oleh perang.

بل الذي يحجم أو يحلق رأسه بحديدة كآلة يتألم به فإن كان مشغول القلب بمهم من مهماته فرغ المزين والحجام وهو لا يشعر به

Bahkan orang yang berbekam atau dicukur rambutnya dengan pisau tajam yang menyakitkan, jika hatinya sedang disibukkan oleh urusan penting yang menyita perhatiannya, tukang cukur atau juru bekam selesai tanpa ia menyadarinya.

وكل ذلك لأن القلب إذا صار مستغرقاً بأمر من الأمور مستوفى به لم يدرك ما عداه فكذلك العاشق المستغرق الهم بمشاهدة معشوقه أو بحبه قد يصيبه ما كان يتألم به أو يغتم له لولا عشقه ثم لا يدرك غمه وألمه لفرط استيلاء الحب على قلبه

Semua itu terjadi karena apabila hati telah tenggelam dan terpenuhi oleh suatu perkara, ia tidak akan menyadari apa yang selainnya. Demikian pula seorang pecinta yang perhatiannya tenggelam dalam menyaksikan kekasihnya atau dalam memadu kasih kepadanya; ia bisa saja tertimpa hal yang seandainya bukan karena cintanya niscaya membuat ia merasa sakit atau duka, tetapi ia tidak merasakan duka dan pedihnya karena begitu dominannya rasa cinta yang menguasai hatinya.

هذا إذا أصابه من غير حبيبه فكيف إذا أصابه من حبيبه وشغل القلب بالحب والعشق من أعظم الشواغل وإذا تصور هذا في ألم يسير بسبب حب خفيف تصور في الألم العظيم بالحب العظيم فإن الحب أيضاً يتصور تضاعفه في القوة كما يتصور تضاعف الألم وكما يقوى حب الصور الجميلة المدركة بحاسة البصر فكذا يقوى حب الصور الجميلة الباطنة المدركة بنور البصيرة وجمال حضرة الربوبية وجلالها لا يقاس به جمال ولا جلال فمن ينكشف له شيء منه فقد يبهره بحث يدهش ويغشى عليه فلا يحس مما يجري عليه

Hal ini berlaku jika penderitaan itu datang dari selain kekasihnya, lalu bagaimana jika penderitaan itu justru datang dari sang kekasih sendiri? Terpautnya hati oleh kerinduan dan cinta merupakan kesibukan jiwa yang paling agung. Apabila keadaan ini dapat dibayangkan pada rasa sakit yang ringan karena cinta yang tipis, maka ia tentu dapat dibayangkan pula pada rasa sakit yang dahsyat dengan cinta yang agung. Sebab, cinta itu pun dapat berlipat ganda kekuatannya sebagaimana rasa sakit dapat melipat ganda. Sebagaimana kuatnya cinta terhadap keindahan bentuk lahiriah yang tertangkap oleh indra penglihatan, begitu pula kuatnya cinta terhadap keindahan bentuk batiniah yang tertangkap oleh cahaya mata hati (bashirah). Padahal keindahan dan keagungan hadirat Ketuhanan tidak dapat dibandingkan dengan keindahan dan keagungan mana pun. Maka barangsiapa yang tersingkap baginya sedikit saja darinya, hal itu dapat memukau jiwanya hingga ia tercengang dan pingsan, sehingga ia tidak merasakan apa yang sedang terjadi pada dirinya.

فقد روي أن امرأة فتح الموصلي عثرت فانقطع ظفرها فضحكت فقيل لها أما تجدين الوجع فقالت إن لذة ثوابه أزالت عن قلبي مرارة وجعه

Diriwayatkan bahwa istri dari Fath al-Maushili pernah tersandung hingga kuku jarinya terlepas, namun ia justru tertawa. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah engkau tidak merasakan sakit?" Ia menjawab, "Sesungguhnya kelezatan pahalanya telah menghilangkan rasa pahit sakitnya dari hatiku."

وكان سهل رحمه الله تعالى به علة يعالج غيره منها ولا يعالج نفسه فقيل له في ذلك فقال يا دوست ضرب الحبيب لا يوجع

Dahulu Sahl rahimahullāhu ta'ālā menderita suatu penyakit yang ia obati pada orang lain namun tidak ia obati pada dirinya sendiri. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, "Wahai sahabat, pukulan Sang Kekasih itu tidak menyakitkan."

وأما الوجه الثاني فهو أن يحس به ويدرك ألمه ولكن يكون راضياً به بل راغباً فيه مريداً له أعني بعقله وإن كان كارهاً بطبعه كالذي يلتمس من الفصاد الفصد والحجامة فإنه يدرك ألم ذلك إلا انه راض به وراغب فيه ومتقلد من الفصاد به منة بفعله فهذا حال الراضي بما يجري عليه من الألم

Adapun segi yang kedua adalah ia tetap merasakan dan menyadari pedihnya rasa sakit itu, tetapi ia rida kepadanya, bahkan menyukai dan menghendakinya—yakni dengan pertimbangan akalnya meskipun tabiat fisiknya membencinya—seperti orang yang meminta juru bekam atau juru potong pembuluh darah (fashd) untuk membekam atau memotong pembuluh darahnya. Ia menyadari pedihnya tindakan itu, tetapi ia rida dan menginginkannya, serta merasa berutang budi kepada juru bekam atas tindakannya tersebut. Demikianlah keadaan orang yang rida terhadap rasa sakit yang menimpa dirinya.

وكذلك كل من يسافر في طلب الربح يدرك مشقة السفر ولكن حبه لثمرة سفره طيب عنده مشقة السفر وجعله راضياً بها

Begitu pula setiap orang yang bepergian untuk mencari keuntungan, ia menyadari beratnya perjalanan, namun cintanya kepada buah hasil perjalanannya membuat beratnya perjalanan terasa manis baginya dan menjadikannya rida menghadapinya.

ومهما أصابه بلية من الله تعالى وكان له يقين بأن ثوابه الذي ادخر له فوق ما فاته رضي به ورغب فيه وأحبه وشكر الله عليه هذا إن كان

Dan kapan pun suatu ujian dari Allah Ta'ala menimpanya sementara ia memiliki keyakinan bahwa pahala yang disimpan untuknya melebihi apa yang luput darinya, maka ia akan rida kepadanya, menyukainya, mencintainya, dan bersyukur kepada Allah atas ujian tersebut. Ini jika…

يلاحظ الثواب والإحسان الذي يجازى به عليه ويجوز أن يغلب الحب بحيث يكون حظ المحب في مراد محبوبه ورضاء لا لمعنى آخر وراءه فيكون مراد حبيبه ورضاه محبوباً عنده ومطلوباً وكل ذلك موجود في المشاهدات في حب الخلق وقد تواصفها المتواصفون في نظمهم ونثرهم ولا معنى له إلا ملاحظة جمال الصورة الظاهرة بالبصر فإن نظر إلى الجمال فما هو إلا جلد ولحم ودم مشحون بالأقذار والأخباث بدايته من نطفة مذرة ونهايته جيفة قذرة وهو فيما بين ذلك يحمل العذرة

…memperhatikan pahala dan kebaikan yang menjadi balasan baginya. Dan bisa jadi rasa cinta itu begitu mendominasi, sehingga kebahagiaan sang pencinta terletak pada kehendak dan keridaan kekasihnya, bukan karena alasan lain di baliknya. Dengan demikian, kehendak kekasihnya dan keridaannya menjadi sesuatu yang dicintai dan dicari olehnya. Semua hal ini nyata terlihat dalam pengalaman cinta antar makhluk, yang telah banyak digambarkan oleh orang-orang dalam puisi dan prosa mereka. Padahal, cinta makhluk itu tidak lain hanyalah pengamatan terhadap keindahan bentuk lahiriah yang tertangkap oleh mata kasar. Jika keindahan itu diamati secara mendalam, ia tidak lain hanyalah kulit, daging, dan darah yang dipenuhi kotoran dan najis; berawal dari setetes mani yang hina dan berakhir menjadi bangkai yang busuk, serta di antara kedua masa itu ia senantiasa membawa kotoran di dalam tubuhnya.

وإن نظر إلى المدرك للجمال فهي العين الخسيسة التي تغلط فيما ترى كبيراً فترى الصغير كبيراً والكبير صغيراً والبعيد قريباً والقبيح جميلاً فإذا تصور استيلاء هذا الحب فمن أين يستحيل ذلك في حب الجمال الأزلي الأبدي الذي لا منتهى لكماله المدرك بعين البصيرة التي لا يعتريها الغلط ولا يدور بها الموت بل تبقى بعد الموت حية عند الله فرحة برزق الله تعالى مستفيدة بالموت مزيد تنبيه واستكشاف فهذا أمر واضح من حيث النظر بعين الاعتبار ويشهد لذلك الوجود وحكايات أحوال المحبين وأقوالهم

Dan jika dipandang dari sudut indra pengenal keindahan itu, ia hanyalah mata fisik yang hina, yang sering keliru dalam penglihatannya; ia melihat yang kecil tampak besar, yang besar tampak kecil, yang jauh tampak dekat, dan yang buruk tampak indah. Jika dominasi cinta semacam ini dapat dibayangkan pada makhluk, bagaimana mungkin hal itu mustahil terjadi dalam mencintai Keindahan Azali dan Abadi yang tiada batas bagi kesempurnaan-Nya? Keindahan yang dijangkau dengan mata hati (basirah) yang tidak dihinggapi kekeliruan dan tidak tersentuh oleh kematian, bahkan ia tetap hidup setelah kematian di sisi Allah, bersukacita dengan rezeki dari Allah Ta'ala, serta memperoleh dari kematian itu tambahan kesadaran dan kejelasan penyingkapan (kasyf). Maka hal ini merupakan perkara yang sangat jelas jika dipandang dengan mata iktibar (perenungan), dan disaksikan oleh kenyataan keberadaan serta kisah-kisah keadaan dan ucapan para pencinta (al-muhibbin).

فقد قال شقيق البلخي من يرى ثواب الشدة لا يشتهي المخرج منها وقال الجنيد سألت سرياً السقطي هل يجد المحب ألم البلاء قال لا قلت وإن ضرب بالسيف قال نعم وإن ضرب بالسيف سبعين ضربة ضربة على ضربة

Syaqiq al-Balkhi berkata, "Barang siapa melihat pahala dari penderitaan, niscaya ia tidak menghendaki jalan keluar darinya." Al-Junaid berkata: Aku pernah bertanya kepada Sirri as-Saqathi, "Apakah seorang pencinta merasakan pedihnya ujian (balā')?" Beliau menjawab, "Tidak." Aku bertanya lagi, "Meskipun ia ditebas dengan pedang?" Beliau menjawab, "Ya, meskipun ia ditebas dengan pedang sebanyak tujuh puluh tebasan yang berturut-turut."

وقال بعضهم أحببت كل شيء يحبه حتى لو أحب النار أحببت دخول النار وقال بشر بن الحارث مررت برجل وقد ضرب ألف سوط في شرقية بغداد ولم يتكلم ثم حمل إلى الحبس فتبعته فقلت له لم ضربت فقال لأني عاشق فقلت له ولم سكت قال لأن معشوقي كان بحذائي ينظر إلي فقلت فلو نظرت إلى المعشوق الأكبر قال فزعق زعقة خر ميتا

Sebagian dari mereka berkata, "Aku menyukai segala sesuatu yang dicintai-Nya, bahkan jika Dia menyukai neraka, niscaya aku menyukai masuk ke dalam neraka." Bisyr bin al-Harits berkata: Aku pernah melewati seorang pria yang dicambuk seribu kali di kawasan timur Baghdad tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian ia dibawa ke penjara, maka aku mengikutinya lalu bertanya padanya, "Mengapa engkau dicambuk?" Ia menjawab, "Karena aku seorang pencinta." Aku bertanya, "Mengapa engkau diam saja?" Ia menjawab, "Karena kekasihku berada di hadapanku sedang menatapku." Aku berkata, "Bagaimana jika engkau memandang kepada Kekasih Yang Maha Besar (Allah)?" Bisyr berkata: Maka pria itu menjerit dengan satu jeritan lalu jatuh tersungkur dan meninggal dunia.

وقال يحي بن معاذ الرازي رحمه الله تعالى إذا نظر أهل الجنة إلى الله تعالى ذهبت عيونهم في قلوبهم من لذة النظر إلى الله تعالى ثمانمائة سنة لا ترجع إليهم فما ظنك بقلوب وقعت بين جماله وجلاله إذا لاحظت جلاله هابت وإذا لاحظت جماله تاهت وقال بشر قصدت عبادان في بدايتي فإذا برجل أعمى مجذوم مجنون قد صرع والنمل يأكل لحمه فرفعت رأسه فوضعته في حجري وأنا أردد الكلام فلما أفاق قال من هذا الفضولي الذي يدخل بيني وبين ربي لو قطعني إرباً إرباً ما ازددت له إلا حباً قال بشر فما رأيت بعد ذلك نقمة بين عبد وبين ربه فأنكرتها

Yahya bin Mu'adz ar-Razi rahimahullāhu ta'ālā berkata, "Apabila penghuni surga memandang Allah Ta'ala, mata mereka akan terbenam ke dalam hati mereka karena kenikmatan memandang Allah Ta'ala selama delapan ratus tahun tanpa kembali kepada mereka. Maka bagaimana prasangkamu terhadap hati yang berada di antara Keindahan (Jamāl) dan Keagungan-Nya (Jalāl)? Apabila hati itu memandang Keagungan-Nya, ia menjadi gemetar penuh rasa takut (hābat), dan apabila memandang Keindahan-Nya, ia menjadi terpesona linglung (tāhat)." Bisyr berkata: Pada awal perjalananku, aku menuju Abadan, lalu tiba-tiba aku mendapati seorang pria buta, kusta, gila, tergeletak pingsan, dan semut-semut memakan dagingnya. Maka aku mengangkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuanku seraya mengulang-ulang perkataan. Ketika ia sadar, ia berkata, "Siapakah orang yang ikut campur ini, yang menyela antara aku dan Tuhanku? Seandainya Dia memotong-motong tubuhku menjadi berkeping-keping, tidaklah bertambah bagiku melainkan rasa cinta kepada-Nya." Bisyr berkata: "Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat suatu kemalangan antara seorang hamba dan Tuhannya yang aku ingkari."

وقال أبو عمرو محمد بن الأشعث إن أهل مصر مكثوا أربعة أشهر لم يكن لهم غذاء إلا النظر إلى وجه يوسف الصديق ﵇ كانوا إذا جاعوا نظروا إلى وجهه فشغلهم جماله عن الإحساس بألم الجوع بل في القرآن ما هو أبلغ من ذلك وهو قطع النسوة أيديهن لاستهتارهن بملاحظة جماله حتى ما أحسسن بذلك

Abu 'Amr Muhammad bin al-Asy'ats berkata, "Penduduk Mesir pernah bertahan selama empat bulan tanpa makanan apa pun selain memandang wajah Yusuf as-Siddiq 'alaihis-salām. Apabila mereka merasa lapar, mereka memandang wajah beliau, sehingga keindahan wajahnya memalingkan mereka dari merasakan perihnya rasa lapar. Bahkan di dalam Al-Qur'an terdapat kisah yang lebih menakjubkan dari itu, yaitu perbuatan wanita-wanita yang memotong tangan mereka sendiri karena terpesona oleh pengamatan terhadap keindahannya, hingga mereka tidak merasakan rasa sakit sama sekali."

وقال سعيد بن يحيى رأيت بالبصرة في خان عطاء بن مسلم شاباً وفي يده مدية وهو ينادي بأعلى صوته والناس حوله وهو يقول

Sa'id bin Yahya berkata, "Aku melihat di Basrah, di penginapan (khān) 'Atha' bin Muslim, seorang pemuda yang memegang pisau di tangannya sambil berteriak dengan suara keras sementara orang-orang mengelilinginya, seraya ia melantunkan:

يوم الفراق من القيامة أطول … والموت من ألم التفرق أجمل

"Hari perpisahan terasa lebih panjang daripada hari kiamat … Dan kematian lebih indah daripada pedihnya perpisahan."

قالوا الرحيل فقلت لست براحل … لكن مهجتي التي تترحل

"Mereka berkata, 'Keberangkatannya telah tiba,' aku katakan, 'Bukan aku yang pergi … Melainkan jiwakulah yang melayang pergi.'"

ثم بقر بالمدية بطنه وخر ميتاً فسألت عنه وعن أمره فقيل لي إنه كان يهوى فتى لبعض الملوك حجب عنه يوماً واحداً

Kemudian ia membelah perutnya dengan pisau tersebut lalu jatuh terjerembap meninggal dunia. Lalu aku bertanya tentang dirinya dan perkaranya, maka dikatakan kepadaku bahwa ia merindukan seorang pemuda pelayan salah seorang raja, yang dihalangi darinya selama satu hari saja.

ويروى أن يونس ﵇ قال لجبريل دلني على أعبد أهل الأرض فدله على رجل قد قطع الجذام يديه ورجليه وذهب ببصره فسمعه وهو يقول إلهي متعتني بهما ما شئت أنت وسلبتني ما شئت أنت وأبقيت لي فيك الأمل يا بر يا وصول

Diriwayatkan bahwa Nabi Yunus 'alaihis-salām berkata kepada Jibril, "Tunjukkanlah kepadaku hamba yang paling taat beribadah di muka bumi." Maka Jibril menunjukkannya kepada seorang pria yang kedua tangan dan kakinya telah terputus akibat penyakit kusta dan penglihatannya telah lenyap. Nabi Yunus mendengarnya sedang berdoa, "Wahai Tuhanku, Engkau telah memberiku kenikmatan dengan anggota tubuh itu selama yang Engkau kehendaki, dan Engkau telah mencabutnya dariku sesuai yang Engkau kehendaki, namun Engkau menyisakan bagiku harapan kepada-Mu, wahai Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Menyambung Kasih Sayang."

ويروى عن عبد الله بن عمر رضي الله تعالى عنهما أنه اشتكى له ابن فاشتد

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallāhu 'anhumā bahwasanya putra beliau jatuh sakit, maka sangat beratlah…

وجده عليه حتى قال بعض القوم لقد خشينا على هذا الشيخ إن حدث بهذا الغلام حدث فمات الغلام فخرج ابن عمر في جنازته وما رجل أشد سروراً أبداً منه فقيل له في ذلك فقال ابن عمر إنما كان حزني رحمة له فلما وقع أمر الله رضينا به

…rasa duka beliau atas putranya itu, hingga sebagian orang berkata, "Kami benar-benar mengkhawatirkan keselamatan orang tua ini jika terjadi sesuatu yang buruk pada anak ini." Kemudian anak itu meninggal dunia, lalu Ibn Umar keluar mengiringi jenazahnya dan tidak ada seorang pun yang tampak lebih gembira dari beliau. Ketika ditanyakan kepada beliau mengenai hal itu, Ibn Umar menjawab, "Sesungguhnya kesedihanku tadinya adalah bentuk kasih sayang kepadanya. Namun tatkala takdir Allah telah terjadi, maka kami rida terhadapnya."

وقال مسروق كان رجل بالبادية له كلب وحمار وديك فالديك يوقظهم للصلاة والحمار ينقلون عليه الماء ويحمل لهم خباءهم والكلب يحرسهم قال فجاء الثعلب فأخذ الديك فحزنوا له وكان الرجل صالحاً فقال عسى أن يكون خيراً ثم جاء ذئب فخرق بطن الحمار فقتله فحزنوا عليه فقال الرجل عسى أن يكون خيراً ثم أصيب الكلب بعد ذلك فقال عسى أن يكون خيراً ثم أصبحوا ذات يوم فنظروا فإذا قد سبي من حولهم وبقوا هم قال وإنما أخذوا أولئك لما كان عندهم من أصوات الكلاب والحمير والديكة فكانت الخيرة لهؤلاء في هلاك هذه الحيوانات كما قدره الله تعالى

Masruq berkata: Dahulu ada seorang laki-laki di pedalaman (bādiyah) yang memiliki seekor anjing, keledai, dan ayam jantan. Ayam jantan itu membangunkan mereka untuk shalat, keledai digunakan untuk mengangkut air dan membawa kemah mereka, sedangkan anjing menjaga mereka. Suatu hari serigala/rubah datang lalu menerkam ayam jantan itu, maka mereka merasa bersedih dengannya. Laki-laki itu adalah seorang yang saleh, lalu ia berkata, "Semoga ini menjadi kebaikan." Kemudian datanglah serigala lalu merobek perut keledai dan membunuhnya, mereka pun bersedih atasnya, namun laki-laki itu berkata, "Semoga ini menjadi kebaikan." Kemudian anjing itu pun terbunuh setelahnya, lalu ia berkata, "Semoga ini menjadi kebaikan." Hingga suatu pagi mereka bangun dan melihat orang-orang di sekeliling mereka telah ditawan (oleh musuh), sedangkan mereka selamat. Masruq berkata: Sesungguhnya orang-orang di sekeliling mereka ditawan karena musuh menemukan mereka melalui suara-suara anjing, keledai, dan ayam jantan. Maka kebaikan bagi keluarga ini justru terletak pada binasanya hewan-hewan tersebut sebagaimana yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta'ala.

فإذن من عرف خفي لطف الله تعالى رضي بفعله على كل حال

Maka dengan demikian, barang siapa yang mengenali kelembutan kehendak (luthf) Allah Ta'ala yang tersembunyi, niscaya ia akan rida terhadap ketetapan perbuatan-Nya dalam segala keadaan.

ويروى أن عيسى ﵇ مر برجل أعمى أبرص مقعد مضروب الجنبين بفالج وقد تناثر لحمه من الجذام وهو يقول الحمد لله الذي عافاني مما ابتلي به كثيراً من خلقه فقال له عيسى يا هذا أي شيء من البلاء أراه مصروفاً عنك فقال يا روح الله أنا خير ممن لم يجعل الله في قلبه ما جعل في قلبي من معرفته فقال له صدقت هات يدك فناوله يده فإذا هو أحسن الناس وجهاً وأفضلهم هيئة وقد أذهب الله عنه ما كان به فصحب عيسى ﵇ وتعبد معه

Diriwayatkan bahwasanya Nabi Isa 'alaihis-salām pernah melewati seorang laki-laki yang buta, kusta, lumpuh, kedua sisinya terserang stroke (fālij), dan dagingnya telah gugur karena kusta, sementara pria itu mengucap, "Segala puji bagi Allah yang telah membebaskanku dari cobaan yang Dia timpakan kepada banyak makhluk-Nya." Nabi Isa berkata kepadanya, "Wahai fulan, bentuk musibah apa yang menurutmu disingkirkan darimu?" Pria itu menjawab, "Wahai Ruhullah, keadaan diriku lebih baik daripada orang yang tidak dikaruniai Allah dalam hatinya ma'rifat (pengenalan) kepada-Nya sebagaimana yang telah Dia karuniakan di dalam hatiku." Maka Nabi Isa berkata kepadanya, "Engkau benar, ulurkanlah tanganmu." Lalu pria itu mengulurkan tangannya, dan seketika ia berubah menjadi manusia yang paling tampan parasnya dan paling elok rupa fisiknya, serta Allah telah menghilangkan penyakit yang menggerogotinya. Setelah itu ia menyertai Nabi Isa 'alaihis-salām dan beribadah bersama beliau.

وقطع عروة بن الزبير رجله من ركبته من أكلة خرجت بها ثم قال الحمد لله الذي أخذ مني واحدة وليت لئن كنت أخذت لقد أبقيت ولئن كنت ابتليت لقد عافيت ثم لم يدع ورده تلك الليلة

Kaki 'Urwah bin az-Zubair dipotong mulai dari lututnya karena penyakit pembusukan (akilah) yang menggerogotinya. Kemudian beliau berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mengambil satu dariku dan meninggalkan sisanya untukku. Seandainya Engkau telah mengambil, sungguh Engkau telah menyisakan; dan seandainya Engkau memberikan ujian, sungguh Engkau telah memberikan keselamatan." Kemudian beliau tidak pernah meninggalkan wiridnya pada malam tersebut.

وكان ابن مسعود يقول الفقر والغنى مطيبتان ما أبالي أيتهما ركبت إن كان الفقر فإن فيه الصبر وإن كان الغنى فإن فيه البذل

Ibnu Mas'ud radhiyallāhu 'anhu pernah berkata, "Kemiskinan dan kekayaan adalah dua kendaraan; aku tidak peduli mana di antara keduanya yang aku kendarai. Jika itu kemiskinan, maka di dalamnya terdapat kesabaran; dan jika itu kekayaan, maka di dalamnya terdapat pengorbanan harta (badzl)."

وقال أبو سليمان الداراني قلت قد نلت من كل مقام حالاً إلا الرضا فمالى منه إلا مشام الريح وعلى ذلك لو أدخل الخلائق كلهم الجنة وأدخلني النار كنت بذلك راضياً

Abu Sulaiman ad-Darani berkata: Aku telah mencicipi satu keadaan (hāl) dari setiap maqam (kedudukan spiritual), kecuali keridaan (ridhā); aku tidak mendapatkan darinya melainkan hanya sehembusan baunya saja. Namun demikian, seandainya Dia memasukkan seluruh makhluk ke dalam surga dan memasukkanku ke dalam neraka, niscaya aku tetap rida dengan hal itu.

وقيل لعارف آخر هل نلت غاية الرضا عنه فقال أما الغاية فلا ولكن مقام الرضا قد نلته لو جعلني جسراً على جهنم يعبر الخلائق علي إلى الجنة ثم ملأ بي جهنم تحلة لقسمه وبدلاً من خليقته لأحببت ذلك من حكمه ورضيت به من قسمه

Ditanyakan kepada seorang 'arif (ahli ma'rifat) yang lain, "Apakah engkau telah mencapai puncak keridaan kepada-Nya?" Ia menjawab, "Adapun puncaknya, maka belum. Namun maqam rida telah aku capai. Seandainya Dia menjadikanku sebagai jembatan di atas neraka Jahanam yang dilalui oleh segenap makhluk menuju surga, lalu Dia memenuhi Jahanam denganku sebagai pemenuhan sumpah-Nya dan sebagai ganti bagi makhluk-Nya, niscaya aku menyukai hal itu sebagai hukum-Nya dan rida atas pembagian-Nya tersebut."

وهذا كلام من علم أن الحب قد استغرق همه حتى منعه الإحساس بألم النار فإن بقي إحساس فيغمره ما يحصل من لذته في استشعاره حصول رضا محبوبه بإلقائه إياه في النار

Ini adalah ucapan orang yang mengetahui bahwa rasa cinta telah menguasai seluruh hasratnya hingga menghalanginya dari merasakan pedihnya siksa neraka. Jika pun rasa sakit itu masih tersisa, maka rasa sakit tersebut dilebur oleh kelezatan yang diperolehnya dari merasakan tercapainya keridaan Kekasihnya saat melemparkannya ke dalam neraka.

واستيلاء هذه الحالة غير محال في نفسه وإن كان بعيداً من أحوالنا الضعيفة ولكن لا ينبغي أن يستنكر الضعيف المحروم أحوال الأقوياء ويظن أن ما هو عاجز عنه يعجز عنه الأولياء

Dominasi keadaan (hal) seperti ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang mustahil, meskipun jauh dari kondisi kita yang lemah. Namun, hendaknya orang yang lemah dan terhalang ini tidak mengingkari keadaan orang-orang yang kuat, serta tidak menyangka bahwa apa yang ia tidak mampu melakukannya juga tidak mampu dilakukan oleh para wali.

وقال الروذباري قلت لأبي عبد الله بن الجلاء الدمشقي قول فلان وددت أن جسدي قرض بالمقاريض وأن هذا الخلق أطاعوه ما معناه فقال يا هذا إن كان هذا من طريق التعظيم والإجلال فلا أعرف وإن كان هذا من طريق الإشفاق والنصح للخلق فأعرف قال ثم غشي عليه

Al-Rudzabari berkata: "Aku bertanya kepada Abu Abdillah bin al-Jalla' ad-Dimasyqi tentang ucapan seseorang: 'Aku berharap tubuhku digunting dengan gunting-gunting dan makhluk ini mentaati-Nya', apa maknanya?" Maka ia menjawab, "Wahai Fulan, jika ucapan ini keluar dari jalan pengagungan dan penghormatan kepada Allah, maka aku tidak mengetahuinya. Namun jika ini keluar dari rasa iba dan nasihat kasih sayang kepada makhluk, maka aku mengetahuinya." Kemudian ia pun pingsan.

وقد كان عمران بن الحصين قد استسقى بطنه فبقي ملقى على ظهره ثلاثين سنة لا يقوم ولا يقعد قد نقب له في سرير من جريد كان عليه موضع لقضاء حاجته فدخل عليه مطرف وأخوه العلاء فجعل يبكي لما يراه من حاله فقال لم تبكي قال لأني أراك على هذه الحالة العظيمة قال لا تبك فإن أحبه إلى الله تعالى أحبه إلي ثم قال أحدثك شيئاً لعل الله أن ينفعك به واكتم علي حتى أموت إن الملائكة تزورني فآنس بها وتسلم علي فأسمع تسليمها فأعلم بذلك أن هذا البلاء ليس بعقوبة إذ هو سبب هذه النعمة الجسيمة فمن يشاهد هذا في بلائه كيف لا يكون راضياً به قال ودخلنا على سوبد بن متعبه نعوده فرأيناه ثوباً ملقى فما ظننا أن تحته شيئاً حتى كشف فقالت له امرأته أهلي

Dahulu Imran bin al-Hushain menderita penyakit busung lapar (istisqa') sehingga ia terbaring di atas punggungnya selama tiga puluh tahun, tidak bisa berdiri dan duduk. Di ranjangnya yang terbuat dari pelepah kurma dibuatkan lubang untuk tempat buang hajat. Lalu Mutarrif dan saudaranya, al-Ala', menjenguknya. Mutarrif pun menangis melihat kondisinya. Imran bertanya, "Mengapa engkau menangis?" Mutarrif menjawab, "Karena aku melihatmu dalam kondisi yang sangat berat ini." Imran berkata, "Janganlah menangis, karena apa yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah apa yang paling aku cintai." Kemudian ia berkata, "Aku akan menceritakan sesuatu kepadamu, semoga Allah memberimu manfaat dengannya, namun rahasiakanlah dariku hingga aku meninggal: Sesungguhnya para malaikat mengunjungiku sehingga aku merasa tenteram bersama mereka, dan mereka mengucapkan salam kepadaku lalu aku mendengar salam mereka. Dari situ aku tahu bahwa ujian ini bukanlah suatu siksaan, melainkan menjadi sebab bagi kenikmatan yang agung ini. Maka barang siapa yang menyaksikan hal ini dalam ujiannya, bagaimana mungkin ia tidak rida kepadanya?" Ia melanjutkan: "Kami pernah menjenguk Suwaid bin Mut'abah, lalu kami melihatnya seperti kain yang terhampar, hingga kami tidak menyangka ada sesuatu di bawahnya sampai kain itu dibuka. Lalu istrinya berkata kepadanya, 'Keluargaku…

فداؤك ما نطعمك

…sebagai tebusanmu, makanan apa yang bisa kami berikan kepadamu…

ما نسقيك فقال طالت الضجعة ودبرت الحراقيف وأصبحت نضواً لا أطعم طعاماً ولا أسيغ شراباً منذ كذا فذكر أياماً وما يسرني أني نقصت من هذا قلامة ظفر ولما قدم سعد بن أبي وقاص إلى مكة وقد كان كف بصره جاءه الناس يهرعون إليه كل واحد يسأله أن يدعو له فيدعو لهذا ولهذا وكان مجاب الدعوة قاله عبد الله بن السائب فأتيته وأنا غلام فتعرفت إليه فعرفني وقال أنت قارئ أهل مكة قلت نعم فذكر قصة قال في آخرها فقلت له يا عم أنت تدعو للناس فلو دعوت لنفسك فرد الله عليك بصرك فتبسم وقال يا بني قضاء الله سبحانه عندي أحسن من بصري وضاع لبعض الصوفية ولد صغير ثلاثة أيام لم يعرف له خبر فقيل له لو سألت الله تعالى أن يرده عليك فقال اعتراضي عليه فيما قضي أشد علي من ذهاب ولدي

…dan minuman apa yang bisa kami berikan?' Maka ia menjawab, 'Aku telah lama berbaring, pangkal pahaku telah luka lecet, dan tubuhku menjadi kurus kering; aku tidak memakan makanan dan tidak sanggup menelan minuman sejak sekian hari' —lalu ia menyebutkan beberapa hari— 'Namun tidaklah membuatku bahagia jika aku mengurangi dari penderitaan ini walau sepotong kuku.' Dan ketika Sa'ad bin Abi Waqqash tiba di Mekkah saat penglihatannya telah buta, orang-orang berbondong-bondong datang kepadanya. Setiap orang memohon kepadanya agar berdoa untuknya, maka ia pun berdoa untuk orang ini dan itu, dan doa beliau senantiasa dikabulkan. Abdullah bin as-Sa'ib menceritakan: 'Aku mendatanginya saat aku masih muda, lalu aku memperkenalkan diri kepadanya dan ia pun mengenalku, seraya berkata: Engkau adalah ahli qiraat warga Mekkah? Aku menjawab: Ya.' Kemudian ia menyebutkan kisah tersebut, dan di akhir cerita ia berkata: 'Maka aku berkata kepadanya: Wahai Paman, engkau sering berdoa untuk orang lain, sekiranya engkau berdoa untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu. Maka ia tersenyum dan berkata: Wahai anakku, ketetapan (qadha) Allah Subhanahu wa Ta'ala bagiku lebih indah daripada penglihatanku.' Dan seorang sufi pernah kehilangan putranya yang masih kecil selama tiga hari tanpa kabar berita, lalu dikatakan kepadanya, 'Sekiranya engkau memohon kepada Allah Ta'ala agar mengembalikannya kepadamu?' Maka ia menjawab, 'Penolakanku terhadap apa yang telah Dia tetapkan jauh lebih berat bagiku daripada hilangnya anakku.'

وعن بعض العباد أنه قال إني أذنبت ذنباً عظيماً فأنا أبكي عليه منذ ستين سنة وكان قد اجتهد في العبادة لأجل التوبة من الذنب فقيل له وما هو قال قلت مرة لشيء كان ليته لم يكن

Diriwayatkan dari sebagian ahli ibadah bahwa ia berkata, "Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa yang besar, maka aku menangisinya sejak enam puluh tahun." Padahal ia telah bersungguh-sungguh dalam beribadah demi bertobat dari dosa tersebut. Lalu ditanyakan kepadanya, "Dosa apakah itu?" Ia menjawab, "Aku pernah berkata satu kali tentang sesuatu yang telah terjadi: 'Seandainya saja hal itu tidak terjadi.'"

وقال بعض السلف لو قرض جسمي بالمقاريض لكان أحب إلي من أن أقول لشيءقضاه الله تعالى سبحانه ليته لم يقضه

Sebagian Ulama Salaf berkata, "Sekiranya tubuhku digunting dengan gunting-gunting, sungguh itu lebih aku sukai daripada aku mengatakan terhadap sesuatu yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala: 'Seandainya saja Dia tidak menetapkannya.'"

وقيل لعبد الواحد بن زيد ههنا رجل قد تعبد خمسين سنة فقصده فقال له يا حبيبي أخبرني عنك هل قنعت به قال لا قال أنست به قال لا قال فهل رضيت عنه قال لا قال فإنما مزيدك منه الصوم والصلاة قال نعم قال لولا أني أستحيي منك لأخبرتك بأن معاملتك خمسين سنة مدخولة ومعناه أنك لم يفتح لك باب القلب فتترقى إلى درجات القرب بأعمال القلب وإنما أنت تعد في طبقات أصحاب اليمين لأن مزيدك منه في أعمال الجوارح التى هى مزيد أهل العموم

Dikatakan kepada Abdul Wahid bin Zaid, "Di sini ada seorang laki-laki yang telah beribadah selama lima puluh tahun." Maka beliau mendatangi orang tersebut dan berkata kepadanya, "Wahai kekasihku, beritahukanlah kepadaku tentang dirimu: Apakah engkau merasa cukup (qana'ah) dengan-Nya?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau bertanya, "Apakah engkau merasa tenteram (uns) bersama-Nya?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau bertanya, "Apakah engkau rida kepada-Nya?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau berkata, "Jadi, tambahanmu dari-Nya hanyalah puasa dan shalat?" Ia menjawab, "Ya." Beliau berkata, "Sekiranya aku tidak malu kepadamu, niscaya aku akan beritahukan bahwa amalanmu selama lima puluh tahun itu bercacat." Maknanya adalah bahwa belum dibukakan bagimu pintu hati sehingga engkau dapat naik ke derajat-derajat kedekatan (qurb) dengan amalan-amalan hati, melainkan engkau hanya terhitung di dalam tingkatan Ashabul Yamin (golongan kanan), karena tambahan pahala yang engkau harapkan dari-Nya hanyalah melalui amalan-amalan anggota badan yang merupakan tambahan bagi kalangan awam.

ودخل جماعة من الناس على الشبلي رحمه الله تعالى في مارستان قد حبس فيه وقد جمع بين يديه حجارة فقال من أنتم فقالوا محبوك فأقبل عليهم يرميهم بالحجارة فتهاربوا فقال ما بالكم ادعيتم محبتي إن صدقتم فاصبروا على بلائي

Sekelompok orang mendatangi Asy-Syibli rahimahullah di sebuah rumah sakit jiwa tempat beliau dikurung, sementara di hadapannya telah terkumpul batu-batu. Beliau bertanya, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Orang-orang yang mencintaimu." Maka beliau mulai melempari mereka dengan batu-batu tersebut hingga mereka berhamburan lari. Beliau pun berkata, "Mengapa dengan kalian? Kalian mengklaim mencintaiku, jika kalian jujur, bersabarlah menghadapi ujianku."

وللشبلي رحمه الله تعالى

Dan termasuk bait syair karya Asy-Syibli rahimahullah:

إن المحبة للرحمن أسكرني … وهل رأيت محباً غير سكران

"Sesungguhnya rasa cinta kepada Sang Maha Pengasih telah memabukkanku… dan pernahkah engkau melihat seorang pencinta yang tidak mabuk?"

وقال بعض عباد أهل الشام كلكم يلقى الله ﷿ مصدقاً ولعله قد كذبه وذلك أن أحدكم لو كان له إصبع من ذهب ظل يشير بها ولو كان بها شلل ظل يواريها يعني بذلك أن الذهب مذموم عند الله والناس يتفاخرون به والبلاء زينة أهل الآخرة وهم يستنكفون منه

Sebagian ahli ibadah dari penduduk Syam berkata, "Kalian semua kelak menemui Allah Azza wa Jalla menganggap diri membenarkan-Nya, padahal boleh jadi ia telah mendustakan-Nya. Hal itu karena jika salah seorang dari kalian memiliki satu jari dari emas, niscaya ia terus mengacungkannya, namun jika jari itu lumpuh, ia akan terus menyembunyikannya." Maksud dari hal itu adalah bahwa emas itu tercela di sisi Allah namun manusia membangga-banggakannya, sedangkan ujian adalah perhiasan ahli akhirat namun mereka justru enggan dan menghindar darinya.

وقيل إنه وقع الحريق في السوق فقيل للسري احترق السوق وما احترق دكانك فقال الحمد لله ثم قال كيف قلت الحمد لله على سلامتي دون المسلمين فتاب من التجارة وترك الحانوت بقية عمره توبة واستغفاراً من قوله الحمد لله

Diceritakan bahwa pernah terjadi kebakaran di pasar, lalu dikatakan kepada As-Sari, "Pasar telah terbakar, namun toko milikmu tidak terbakar." Maka ia mengucapkan, "Alhamdulillah." Kemudian ia berucap menyesali, "Bagaimana bisa aku mengucapkan Alhamdulillah atas keselamatanku sendiri tanpa memikirkan kaum muslimin yang lain?" Maka ia bertobat dari berniaga dan meninggalkan tokonya di sisa umurnya sebagai bentuk tobat dan istigfar dari ucapannya "Alhamdulillah" tersebut.

فإذا تأملت هذه الحكايات عرفت قطعاً أن الرضا بما يخالف الهوى ليس مستحيلاً بل هو مقام عظيم من مقامات أهل الدين

Maka apabila engkau merenungkan kisah-kisah ini, engkau akan mengetahui secara pasti bahwa rida terhadap hal-hal yang bertentangan dengan hawa nafsu bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan ia merupakan maqam yang agung dari maqam-maqam para peniti jalan agama.

ومهما كان ذلك ممكناً في حب الخلق وحظوظهم كان ممكناً في حق حب الله تعالى وحظوظ الآخرة قطعاً

Dan selama hal itu memungkinkan dalam cinta kepada makhluk beserta bagian-bagian duniawi mereka, maka hal itu secara pasti juga sangat mungkin dalam hak cinta kepada Allah Ta'ala dan bagian-bagian akhirat.

وإمكانه من وجهين ﴿أحدهما﴾ الرضا بالألم لما يتوقع من الثواب الموجود كالرضا بالفصد والحجامة وشرب الدواء انتظاراً للشفاء

Dan kemungkinannya itu dari dua segi: Pertama, rida terhadap rasa sakit karena pahala yang diharapkan ada, sebagaimana ridanya seseorang terhadap pembekaman (fashd), bekam (hijamah), dan meminum obat karena menantikan kesembuhan.

والثاني الرضا به لا لحظ وراءه بل لكونه مراد المحبوب ورضا له فقد يغلب الحب بحيث ينغمر مراد المحب في مراد المحبوب فيكون ألذ الأشياء عنده سرور قلب محبوبه ورضاه ونفوذ إرادته ولو في هلاك روحه كما قيل

Kedua, rida terhadap rasa sakit bukan demi suatu keuntungan di baliknya, melainkan karena rasa sakit itu merupakan kehendak Sang Kekasih dan keridaan bagi-Nya. Sebab, terkadang rasa cinta begitu mendominasi sehingga kehendak pencinta lebur di dalam kehendak Kekasihnya, maka hal yang paling lezat baginya adalah kegembiraan hati Kekasihnya, keridaan-Nya, dan terlaksananya kehendak-Nya, meskipun dalam kebinasaan jiwanya sendiri, sebagaimana dikatakan dalam syair:

فما لجرح إذا أرضاكم ألم …

"Maka tiada rasa sakit bagi luka, apabila luka itu membuat kalian rida…"

وهذا ممكن مع الإحساس بالألم وقد يستولي الحب بحيث يدهش عن إدراك الألم فالقياس والتجربة والمشاهدة

Hal ini tetap memungkinkan terjadi beserta adanya rasa sakit. Dan terkadang cinta menguasai sedemikian rupa sehingga membuat seseorang terpesona hingga tak menyadari timbulnya rasa sakit. Hal ini dibuktikan melalui qiyas (analogi), pengalaman (eksperimen), dan pengamatan langsung.

دالة على وجوده فلا ينبغي أن ينكره من فقده من نفسه لأنه إنما فقده لفقد سببه وهو فرط حبه ومن لم يذق طعم الحب لم يعرف عجائبه فللمحبين عجائب أعظم مما وصفناه

…menunjukkan atas keberadaannya. Maka tidak sepantasnya bagi orang yang tidak merasakannya dalam dirinya untuk mengingkarinya, karena ia tidak merasakannya semata-mata karena ketiadaan sebabnya, yaitu besarnya rasa cintanya. Barang siapa yang belum pernah mengecap rasa cinta, niscaya ia tidak akan mengenal keajaiban-keajaibannya. Maka bagi para pecinta terdapat keajaiban-keajaiban yang lebih agung dari apa yang telah kami sifatkan.

وقد روى عن عمرو بن الحارث الرافعي قال كنت في مجلس بالرقة عند صديق لي وكان معنا فتى يتعشق جارية مغنية وكانت معنا في المجلس فضربت بالقضيب وغنت

Sungguh telah diriwayatkan dari 'Amr bin al-Harits al-Rafi'i yang berkata: Aku pernah berada dalam suatu majelis di Raqqah di rumah seorang sahabatku. Bersama kami ada seorang pemuda yang sangat mencintai seorang budak perempuan penyanyi yang juga ada bersama kami di majelis itu. Budak perempuan itu lalu memetik alat musik dan menyanyikan bait:

علامة ذل الهوى … على العاشقين البكا

Tanda kehinaan hawa nafsu (cinta)… adalah tangisan bagi para pecinta.

ولا سيما عاشق … إذا لم يجد مشتكى

Terlebih lagi seorang pecinta… ketika ia tidak menemukan tempat mengadu.

فقال لها الفتى أحسنت والله يا سيدتي أفتأذنين لي أن أموت فقالت مت راشداً قال فوضع رأسه على الوسادة وأطبق فمه وغمض عينيه فحركناه فإذا هو ميت

Maka pemuda itu berkata kepadanya, 'Demi Allah, engkau sungguh luar biasa wahai puan. Apakah engkau mengizinkanku untuk mati?' Perempuan itu menjawab, 'Matilah dengan petunjuk (selamat)!' Dia berkata: Pemuda itu lalu meletakkan kepalanya di atas bantal, mengatupkan mulutnya, dan memejamkan kedua matanya. Ketika kami menggerak-gerakkannya, ternyata dia telah meninggal dunia.

وقال الجنيد رأيت رجلاً متعلقاً بكم صبي وهو يتضرع إليه ويظهر له المحبة فالتفت إليه الصبي وقال له إلى متى ذا النفاق الذي تظهر لي فقال قد علم الله أني صادق فيما أورده حتى لو قلت لي مت لمت فقال إن كنت صادقاً فمت قال فتنحى الرجل وغمض عينيه فوجد ميتاً وقال سمنون المحب كان في جيراننا رجل وله جارية يحبها غاية الحب فاعتلت الجارية فجلس الرجل ليصلح لها حيسا فبينا هو يحرك القدر إذ قالت الجارية آه قال فدهش الرجل وسقطت الملعقة من يده وجعل يحرك ما في القدر بيده حتى سقطت أصابعه فقالت الجارية ما هذا قال هذا مكان قولك آه

Al-Junaid berkata: Aku melihat seorang laki-laki berpegangan pada lengan baju seorang anak muda seraya memohon kepadanya dan menampakkan rasa cintanya. Anak muda itu menoleh kepadanya dan berkata, 'Sampai kapan kemunafikan ini engkau tampakkan kepadaku?' Laki-laki itu menjawab, 'Allah Maha Mengetahui bahwa aku jujur dalam apa yang aku katakan, bahkan jika engkau menyuruhku mati, pasti aku akan mati.' Anak muda itu berkata, 'Jika engkau jujur, matilah!' Dia berkata: Laki-laki itu lalu menyisih, memejamkan mata, dan ternyata ditemukan telah meninggal. Samnun al-Muhib berkata: Di antara tetangga kami ada seorang laki-laki yang memiliki seorang budak wanita yang sangat dicintainya. Suatu ketika budak itu sakit, maka laki-laki itu duduk memasak adonan kue (hais) untuknya. Saat dia sedang mengaduk kuali, tiba-tiba budak itu mengeluh 'Aah'. Laki-laki itu terkejut hingga sendok jatuh dari tangannya, lalu ia mengaduk isi kuali dengan tangannya sendiri sampai jari-jemarinya terlepas. Budak wanita itu bertanya, 'Apakah ini?' Dia menjawab, 'Ini adalah balasan atas ucapanmu Aah'.

وحكى عن محمد ابن عبد الله البغدادي قال رأيت بالبصرة شاباً على سطح مرتفع وقد أشرف على الناس وهو يقول

Dan diriwayatkan dari Muhammad bin 'Abdillah al-Baghdadi yang berkata: Aku melihat di Bashrah seorang pemuda berada di atas atap yang tinggi dan menatap ke arah orang-orang seraya berkata:

من مات عشقاً فليمت هكذا … لا خير في عشق بلا موت

Barang siapa mati karena mabuk cinta, hendaklah ia mati seperti ini… Tiada kebaikan dalam cinta tanpa kematian.

ثم رمى بنفسه إلى الأرض فحملوه ميتاً

Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke tanah, lalu orang-orang mengangkutnya dalam keadaan sudah meninggal.

فهذا وأمثاله قد يصدق به في حب المخلوق والتصديق به في حب الخالق أولى لأن البصيرة الباطنة أصدق من البصر الظاهر وجمال الحضرة الربانية أو في من كل جمال بل كل جمال في العالم فهو حسنة من حسنات ذلك الجمال

Kisah ini dan yang seumpamanya dapat dibenarkan terjadi dalam cinta kepada makhluk. Maka membenarkannya dalam cinta kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq) adalah lebih utama, karena mata hati (bashirah batiniyyah) lebih jujur daripada penglihatan lahiriah, dan keindahan Kehadiran Ketuhanan (Al-Hadrah al-Rabbaniyyah) jauh lebih sempurna dari segala keindahan; bahkan setiap keindahan di alam semesta ini hanyalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikan Keindahan-Nya.

نعم الذي فقد البصر ينكر جمال الصور والذي فقد السمع ينكر لذة الألحان والنغمات الموزونة فالذي فقد القلب لا بد وأن ينكر أيضاً هذه اللذات التي لامظنة لها سوى القلب

Ya, orang yang kehilangan penglihatan akan mengingkari keindahan rupa, dan orang yang kehilangan pendengaran akan mengingkari kenikmatan alunan lagu dan irama yang bernada. Maka orang yang mati hatinya pasti akan mengingkari pula kelezatan-kelezatan ini, yang tidak ada tempat persangkaannya (muara rasanya) selain hati.

Daftar Isi Kitab

Lihat Semua
بيان شواهد الشرع في حب العبد لله تعالى
بيان حقيقة المحبة وأسبابها وتحقيق معنى محبة العبد لله تعالى
بيان أن المستحق للمحبة هو الله وحده
بيان أن أجل اللذات وأعلاها معرفة الله تعالى والنظر إلى وجهه الكريم وأنه لا يتصور أن لا يؤثر عليها لذة أخرى إلا من حرم هذه اللذة
بيان السبب في زيادة النظر في لذة الآخرة على المعرفة في الدنيا
بيان الأسباب المقوية لحب الله تعالى
بيان السبب في تفاوت الناس في الحب
بيان السبب في قصور أفهام الخلق عن معرفة الله سبحانه
بيان معنى الشوق إلى الله تعالى
بيان محبة الله للعبد ومعناها
القول في علامات محبة العبد لله تعالى
بيان معنى الأنس بالله تعالى
بيان معنى الانبساط والإدلال الذي تثمره غلبة الأنس
القول في معنى الرضا بقضاء الله تعالى وحقيقته وما ورد في فضيلته
بيان فضيلة الرضا
بيان حقيقة الرضا وتصوره فيما يخالف الهوى
بيان أن الدعاء غير مناقض للرضا
بيان أن الفرار من البلاد التي هي مظان المعاصي ومذمتها لا يقدح في الرضا
بيان جملة من حكايات المحبين وأقوالهم ومكاشفاتهم
خاتمة الكتاب بكلمات متفرقة تتعلق بالمحبة ينتفع بها