بيان أن الدعاء غير مناقض للرضا
بيان أن الدعاء غير مناقض للرضا
Penjelasan Bahwa Doa Tidak Bertentangan dengan Keridaan (Ridha)
ولا يخرج صاحبه عن مقام الرضا وكذلك كراهة المعاصي ومقت أهلها ومقت أسبابها والسعي في إزالتها بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لا يناقضه أيضاً
Dan tidak mengeluarkan pelakunya dari makam rida (maqam ar-ridha). Demikian pula kebencian terhadap kemaksiatan, pembencian terhadap pelakunya serta sebab-sebabnya, dan upaya untuk menghilangkannya melalui amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), hal itu juga tidak bertentangan dengan rida.
وقد غلط في ذلك بعض البطالين المغترين وزعم أن المعاصي والفجور والكفر من قضاء الله وقدره ﷿ فيجب الرضا به وهذا جهل بالتأويل وغفلة عن أسرار الشرع فأما الدعاء فقد تعبدنا به وكثرة دعوات رسول الله ﷺ وسائر الأنبياء ﵈ على ما نقلناه في كتاب الدعوات تدل عليه ولقد كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ في أعلى المقامات من الرضا
Sungguh telah keliru dalam hal ini sebagian orang yang penganggur dan tertipu, yang menganggap bahwa kemaksiatan, kefasikan, dan kekufuran merupakan bagian dari qadha dan qadar Allah Azza wa Jalla sehingga wajib diridai. Ini adalah kejahilan dalam penakwilan dan kelalaian terhadap rahasia-rahasia syariat. Adapun doa, kita memang diperintahkan untuk beribadah dengannya, dan banyaknya doa Rasulullah ﷺ serta para nabi lainnya 'alaihimus salam—sebagaimana telah kami kutip dalam Kitab Doa—menunjukkan hal tersebut. Padahal Rasulullah ﷺ berada pada makam rida yang paling tinggi.
وقد أثنى الله تعالى على بعض عباده بقوله ﴿ويدعوننا رغبا ورهبا﴾ وأما إنكار المعاصي وكراهتها وعدم الرضا بها فقد تعبد الله به عباده وذمهم على الرضا به فقال ﴿ورضوا بالحياة الدنيا واطمأنوا بها﴾ وقال تعالى ﴿رضوا بأن يكونوا مع الخوالف وطبع على قلوبهم﴾ وفي الخبر المشهور من شهد منكراً فرضي به فكأنه قد فعله وفي الحديث الدال على الشر كفاعله وعن ابن مسعود إن العبد ليغيب عن المنكر ويكون عليه مثل وزر صاحبه وقيل وكيف ذلك قال يبلغه فيرضى به وفي الخبر لو أن عبداً قتل بالمشرق ورضي بقتله آخر بالمغرب كان
Dan Allah Ta'ala telah memuji sebagian hamba-Nya melalui firman-Nya: 'Dan mereka berdoa kepada Kami dengan rasa harap dan cemas' (QS. Al-Anbiya': 90). Adapun mengingkari kemaksiatan, membencinya, dan tidak meridainya, sungguh Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah dengannya dan mencela mereka atas keridaan terhadapnya. Allah berfirman: 'Dan mereka rida dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya' (QS. Yunus: 7), dan Allah Ta'ala berfirman: 'Mereka rida berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang, dan hati mereka telah dikunci mati' (QS. At-Tawbah: 87). Dalam riwayat yang masyhur disebutkan: 'Barang siapa menyaksikan kemungkaran lalu ia rida kepadanya, maka ia seolah-olah telah melakukannya.' Dalam hadis lain disebutkan: 'Orang yang menunjukkan kepada kejahatan sama seperti pelakunya.' Dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu: 'Sesungguhnya seorang hamba terkadang tidak hadir saat terjadi kemungkaran, namun ia menanggung dosa seperti dosa pelakunya.' Ditanyakan: 'Bagaimana itu bisa terjadi?' Ia menjawab: 'Kabar tentang kemungkaran itu sampai kepadanya, lalu ia meridainya.' Dan dalam riwayat disebutkan: 'Seandainya seorang hamba dibunuh di timur, lalu ada orang lain di barat yang rida atas pembunuhan tersebut, niscaya ia…'
شريكاً في قتله وقد أمر الله تعالى بالحسد والمنافسة في الخيرات وتوقي الشرور فقال تعالى ﴿وفي ذلك فليتنافس المتنافسون﴾ وقال النبي ﷺ لَا حَسَدَ إِلَّا في اثنتين رجل آتاه الله حكمة فهو يبثها في الناس ويعلمها ورجل أَتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحق وفي لفظ آخر ورجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل والنهار فيقول الرجل لو آتاني الله مثل ما آتى هذا لفعلت مثل ما يفعل
…menjadi sekutu dalam pembunuhannya.' Sungguh Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk merasa iri yang diperbolehkan (ghibthah) dan berlomba-lomba dalam kebaikan serta menjauhi kejahatan. Allah Ta'ala berfirman: 'Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang saling berlomba' (QS. Al-Muthaffifin: 26). Nabi ﷺ bersabda: 'Tidak boleh ada dengki yang dibolehkan (ghibthah) kecuali dalam dua perkara: seseorang yang dianugerahi hikmah oleh Allah lalu ia menyebarkannya kepada manusia dan mengajarkannya, serta seseorang yang dianugerahi harta oleh Allah lalu ia menguasakannya untuk dibelanjakan di jalan yang benar.' Dalam redaksi lain: 'Dan seseorang yang dianugerahi Al-Qur'an oleh Allah lalu ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang, sehingga seseorang berkata: Seandainya Allah memberiku seperti apa yang diberikan kepada orang ini, tentu aku akan berbuat seperti apa yang ia perbuat.'
وأما بغض الكفار والفجار والإنكار عليهم ومقتهم فما ورد فيه من شواهد القرآن والأخبار لا يحصى مثل قوله تعالى لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين وقال تعالى يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء وقال تعالى وكذلك نولي بعض الظالمين بعضاً وفي الخبر إن الله تعالى أخذ الميثاق على كل مؤمن أن يبغض كل منافق وعلى كل منافق أن يبغض كل مؤمن وقال ﵇ المرء مع من أحب وقال من أحب قوماً ووالاهم حشر معهم يوم القيامة وقال ﵇ أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله وشواهد هذا قد ذكرناها في بيان الحب والبغض في الله تعالى من كتاب آداب الصحبة وفي كتاب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فلا نعيده
Adapun membenci orang-orang kafir dan orang-orang fasik, mengingkari perbuatan mereka, serta memurkai mereka, maka dalil-dalil dari Al-Qur'an dan riwayat-riwayat tentang hal itu tak terhitung banyaknya, seperti firman Allah Ta'ala: 'Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang beriman' (QS. Ali 'Imran: 28), dan firman-Nya: 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali' (QS. Al-Ma'idah: 51), serta firman-Nya: 'Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu memimpin sebagian yang lain' (QS. Al-An'am: 129). Dalam riwayat disebutkan: 'Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengambil janji atas setiap mukmin untuk membenci setiap munafik, dan atas setiap munafik untuk membenci setiap mukmin.' Beliau 'alaihis shalatu was salam juga bersabda: 'Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.' Beliau juga bersabda: 'Barang siapa mencintai suatu kaum dan setia kepada mereka, niscaya ia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.' Beliau 'alaihis shalatu was salam bersabda pula: 'Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.' Dalil-dalil mengenai hal ini telah kami sebutkan dalam penjelasan tentang cinta dan benci karena Allah Ta'ala pada Kitab Adab Berdampingan (Adab as-Suhbah) dan dalam Kitab Amar Ma'ruf Nahi Munkar, maka kami tidak mengulangnya.
فإن قلت فقد وردت الآيات والأخبار بالرضا بقضاء الله تعالى فإن كانت المعاصي بغير قضاء الله تعالى فهو محال وهو قادح في التوحيد وإن كانت بقضاء الله تعالى فكراهتها ومقتها كراهة لقضاء الله تعالى وكيف السبيل إلى الجمع وهو متناقض على هذا الوجه وكيف يمكن الجمع بين الرضا والكراهة في شيء واحد فاعلم أن هذا مما يلتبس على الضعفاء القاصرين عن الوقوف على أسرار العلوم وقد التبس على قوم حتى رأوا السكوت عن المنكر مقاماً من مقامات الرضا وسموه حسن الخلق وهو جهل محض بل نقول الرضا والكراهة يتضادان إذا تواردا على شيء واحد من جهة واحدة على وجه واحد فليس من التضاد في شيء واحد أن يكرهه من وجه ويرضى به من وجه إذ قد يموت عدوك الذي هو أيضاً عدو بعض أعدائك وساع في إهلاكه فتكره موته من حيث إنه مات عدو عدوك وترضاه من حيث إنه مات عدوك
Jika engkau bertanya: Sungguh telah ada ayat-ayat dan riwayat-riwayat tentang kewajiban rida terhadap qadha Allah Ta'ala. Apabila kemaksiatan terjadi tanpa qadha Allah Ta'ala, maka itu mustahil dan mencederai tauhid; namun apabila kemaksiatan terjadi dengan qadha Allah Ta'ala, maka membenci dan memurkainya berarti membenci qadha Allah Ta'ala. Lalu bagaimanakah jalan untuk mengompromikannya padahal hal itu tampak bertentangan secara lahiriah ini? Dan bagaimana mungkin mengumpulkan antara rida dan kebencian terhadap satu hal yang sama? Ketahuilah bahwa hal ini termasuk perkara yang samar bagi orang-orang yang lemah dan terbatas pemahamannya dari menyingkap rahasia-rahasia ilmu. Bahkan hal itu telah membingungkan suatu kaum hingga mereka menganggap bahwa berdiam diri dari kemungkaran merupakan salah satu makam dari makam-makam rida dan menamainya sebagai 'akhlaq yang baik', padahal itu adalah kejahilan murni. Sebaliknya kami katakan: Rida dan kebencian hanya saling bertolak belakang apabila keduanya tertuju pada satu objek yang sama dari satu sudut pandang yang sama dengan cara yang sama. Namun tidaklah bertentangan pada satu objek jika seseorang membencinya dari satu sudut pandang dan meridainya dari sudut pandang lain. Sebab, terkadang musuhmu yang juga merupakan musuh dari sebagian musuhmu lainnya—yang berusaha membinasakannya—meninggal dunia, maka engkau membenci kematiannya dari sudut pandang bahwa telah mati musuh dari musuhmu, namun engkau meridai kematiannya dari sudut pandang bahwa yang mati adalah musuhmu sendiri.
وكذلك المعصية لها وجهان وجه إلى الله تعالى من حيث إنه فعله واختياره وإرادته فيرضى به من هذا الوجه تسليما للملك إلى مالك الملك ورضا بما يفعله فيه ووجه إلى العبد من حيث إنه كسبه ووصفه وعلامة كونه ممقوتاً عند الله وبغيضاً عنده حيث سلط عليه أسباب البعد والمقت فهو من هذا الوجه منكر ومذموم
Demikian pula halnya kemaksiatan, ia memiliki dua sudut pandang: Sudut pandang yang menghadap kepada Allah Ta'ala, yaitu sejauh kemaksiatan itu merupakan perbuatan, pilihan, dan kehendak-Nya, maka kemaksiatan diridai dari sudut pandang ini sebagai bentuk kepasrahan terhadap kekuasaan kepada Pemilik Kerajaan (Malik al-Mulk) dan rida terhadap apa yang diperbuat-Nya pada kekuasaan-Nya. Dan sudut pandang yang menghadap kepada hamba, yaitu sejauh kemaksiatan itu merupakan usahanya (kasb), sifatnya, dan tanda bahwa ia dimurkai di sisi Allah serta dibenci oleh-Nya karena Allah telah menguasakan kepadanya sebab-sebab kejauhan dan kemurkaan. Oleh karena itu, dari sudut pandang ini kemaksiatan tersebut merupakan sesuatu yang mungkar dan tercela.
ولا ينكشف هذا لك إلا بمثال
Dan hal ini tidak akan tersingkap dengan jelas bagimu melainkan dengan sebuah perumpamaan.
فلنفرض محبوباً من الخلق قال بين يدي محبيه
Mari kita andaikan seorang yang dicintai dari kalangan makhluk berkata di hadapan para kekasihnya:
إني أريد أن أميز بين من يحبني ويبغضني وأنصب فيه معيارا صادقا وميزانا ناطقاً وهو أني أقصد إلى فلان فأوذيه وأضربه ضرباً يضطره ذلك إلى الشتم لي
"Sesungguhnya aku ingin membedakan antara orang yang mencintaiku dan orang yang membenciku, serta memancangkan tolok ukur yang jujur dan timbangan yang jelas untuk itu, yaitu aku hendak mendatangi si Fulan lalu menyakitinya dan memukulnya dengan pukulan yang memaksanya untuk mencaciku,
حتى إذا شتمني أبغضته واتخذته عدواً لي فكل من أحبه أعلم أيضاً أنه عدوي وكل من أبغضه أعلم أنه صديقي ومحبي
sehingga apabila ia mencaciku, aku membencinya dan menjadikannya musuh bagiku. Maka setiap orang yang ia cintai, aku tahu juga bahwa ia adalah musuhku; dan setiap orang yang ia benci, aku tahu bahwa ia adalah sahabatku dan pecinta diriku."
ثم فعل ذلك وحصل مراده من الشتم الذي هو سبب البغض وحصل البغض الذي هو سبب العداوة
Kemudian ia melakukan hal itu, dan terwujudlah kehendaknya berupa cacian yang menjadi sebab kebencian, serta terwujud pulalah kebencian yang menjadi sebab permusuhan.
فحق على كل من هو صادق في محبته وعالم بشروط المحبة أن يقول أما تدبيرك في إيذاء هذا الشخص وضربه وإبعاده وتعريضك إياه للبغض والعداوة فأنا محب له وراض به فإنه رأيك وتدبيرك وفعلك وإرادتك وأما شتمه إياك فإنه عدوان من جهته إذ كان حقه أن يصبر ولا يشتم ولكنه كان مرادك منه فإنك قصدت بضربه استنطاقه بالشتم الموجب للمقت فهو من حيث إنه حصل على وفق مرادك وتدبيرك الذي دبرته فأنا راض به ولو لم يحصل لكان ذلك نقصاناً في تدبيرك وتعويقاً في مرادك وأنا كاره لفوات مرادك ولكنه من حيث إنه وصف لهذا الشخص وكسب له وعدوان وتهجم منه عليك على خلاف ما يقتضيه جمالك إذ كان ذلك يقتضي أن يحتمل منك الضرب ولا يقابل بالشتم فأنا كاره له من حيث نسبته إليه ومن حيث هو وصف له لا من حيث هو مرادك ومقتضى تدبيرك وأما بغضك له بسبب شتمك فأنا راض به ومحب له لأنه مرادك وأنا على موافقتك أيضاً مبغض له لأن شرط المحب أن يكون لحبيب المحبوب حبيباً ولعدوه عدواً
Maka sudah sepatutnya bagi setiap orang yang jujur dalam kecintaannya dan memahami syarat-syarat mahabbah (cinta) untuk berkata: 'Adapun ketetapanmu dalam menyakiti orang ini, memukulnya, menjauhkannya, serta membuatnya terancam kebencian dan permusuhan, maka aku menyukainya dan ridha dengannya, karena hal itu adalah pandanganmu, ketetapanmu, perbuatanmu, dan kehendakmu. Sedangkan cacian orang itu kepadamu, itu adalah permusuhan dari pihaknya, karena seharusnya ia bersabar dan tidak mencaci; namun hal itu memang kehendakmu darinya, sebab engkau bermaksud dengan memukulnya untuk memancingnya mengucapkan cacian yang mendatangkan murka. Maka, ditinjau dari kenyataan bahwa hal itu terjadi sesuai dengan kehendak dan ketetapan yang telah engkau tetapkan, aku ridha dengannya; dan seandainya tidak terjadi, niscaya itu merupakan kekurangan dalam ketetapanmu dan hambatan bagi kehendakmu, sedangkan aku benci akan luputnya kehendakmu. Namun, ditinjau dari kenyataan bahwa ia adalah sifat bagi orang tersebut, usahanya, permusuhannya, dan kelancangannya terhadapmu yang menyalahi apa yang dituntut oleh keindahan (jamal)-mu—sebab hal itu menuntutnya untuk menanggung pukulan darimu dan tidak membalas dengan cacian—maka aku membencinya ditinjau dari penyandarannya kepadanya dan sebagai sifat baginya, bukan ditinjau dari kenyataan bahwa ia adalah kehendakmu dan konsekuensi dari ketetapanmu. Adapun kebencianmu kepadanya disebabkan caciannya kepadamu, maka aku ridha dengannya dan menyukainya karena itu adalah kehendakmu, dan aku juga sejalan denganmu dalam membencinya, karena syarat seorang pencinta adalah menjadi sahabat bagi kekasih dari yang dicintainya dan menjadi musuh bagi musuhnya.'
وأما بغضه لك فإني أرضاه من حيث إنك أردت أن يبغضك إذ أبعدته عن نفسك وسلطت عليه دواعي البغض ولكني أبغضه من حيث إنه وصف ذلك المبغض وكسبه وفعله وأمقته لذلك فهو ممقوت عندي لمقته إياك وبغضه ومقته لك أيضاً عندي مكروه من حيث أنه وصفه وكل ذلك من حيث إنه مرادك فهو مرضي
Adapun kebenciannya kepadamu, maka aku meridhainya dari sisi bahwa engkau menghendaki ia membencimu ketika engkau menjauhkannya dari dirimu dan menguasakan atasnya pendorong-pendorong kebencian. Namun aku membencinya dari sisi bahwa hal itu merupakan sifat dari orang yang membenci tersebut, usahanya, dan perbuatannya, serta aku murka kepadanya karena hal itu. Maka ia dimurkai di sisiku karena kemurkaannya kepadamu, dan kebencian serta kemurkaannya kepadamu juga dibenci di sisiku dari sisi bahwa itu adalah sifatnya; namun semua itu dari sisi bahwa ia merupakan kehendakmu, maka ia diridhai.
وإنما التناقض أن يقول هو من حيث إنه مرادك مرضي ومن حيث إنه مرادك مكروه وأما إذا كان مكروهاً لا من حيث إنه فعله ومراده بل من حيث إنه وصف غيره وكسبه فهذا لا تناقض فيه ويشهد لذلك كل ما يكره من وجه ويرضى به من وجه ونظائر ذلك لا تحصى
Kontradiksi itu baru terjadi jika seseorang berkata: 'Sesuatu itu dari sisi ia sebagai kehendakmu diridhai, dan dari sisi ia sebagai kehendakmu dibenci.' Adapun apabila sesuatu itu dibenci bukan dari sisi bahwa itu adalah perbuatan dan kehendak-Nya, melainkan dari sisi bahwa itu adalah sifat selain-Nya dan usahanya, maka dalam hal ini tidak ada kontradiksi sama sekali. Hal ini disaksikan oleh segala sesuatu yang dibenci dari satu sisi namun diridhai dari sisi yang lain, dan padanan hal semacam ini tak terhitung jumlahnya.
فإذن تسليط الله دواعي الشهوة والمعصية عليه حتى يجره ذلك إلى حب المعصية ويجره الحب إلى فعل المعصية يضاهي ضرب المحبوب للشخص الذي ضربناه مثلاً ليجره الضرب إلى الغضب والغضب إلى الشتم
Dengan demikian, penguasaan pendorong-pendorong syahwat dan kemaksiatan oleh Allah atas seseorang hingga hal itu menyeretnya kepada kecintaan terhadap maksiat, dan kecintaan itu menyeretnya kepada melakukan kemaksiatan, adalah serupa dengan pukulan sang kekasih kepada orang yang kami jadikan perumpamaan, agar pukulan itu menyeretnya kepada kemarahan, dan kemarahan itu menyeretnya kepada cacian.
ومقت الله تعالى لمن عصاه وإن كانت معصيته بتدبيره يشبه بغض المشتوم لمن شتمه وإن كان شتمه إنما يحصل بتدبيره واختياره لأسبابه وفعل الله تعالى ذلك بكل عبد من عبيده أعني تسليط دواعي المعصية عليه يدل على أنه سبقت مشيئته بإبعاده ومقته
Dan kemurkaan Allah Ta'ala terhadap orang yang memaksiati-Nya—meskipun maksiatnya terjadi dengan ketetapan-Nya—serupa dengan kebencian orang yang dicaci terhadap orang yang mencacinya, meskipun caciannya itu hanya terjadi dengan ketetapan dan pilihannya terhadap sebab-sebabnya. Perbuatan Allah Ta'ala yang demikian terhadap setiap hamba dari hamba-hamba-Nya—yakni menguasakan pendorong-pendorong kemaksiatan atasnya—menunjukkan bahwa kehendak-Nya telah mendahului untuk menjauhkannya dan murka kepadanya.
فواجب على كل عبد محب لله أن يبغض من أبغضه الله ويمقت من مقته الله ويعادي من أبعده الله عن حضرته وإن اضطره بقهره وقدرته إلى معاداته ومخالفته فإنه بعيد مطرود ملعون عن الحضرة وإن كان بعيداً بإبعاده قهراً ومطروداً بطرده واضطراره
Maka wajib bagi setiap hamba yang mencintai Allah untuk membenci orang yang dibenci Allah, memurkai orang yang dimurkai Allah, dan memusuhi orang yang dijauhkan Allah dari hadirat-Nya, meskipun Allah memaksanya dengan kemahaperkasaan dan kekuasaan-Nya untuk memusuhi dan menyalahi-Nya. Sebab ia adalah orang yang jauh, tertolak, dan dilaknat dari hadirat-Nya, meskipun ia jauh karena dijauhkan secara paksa dan tertolak karena ditolak dan dipaksa oleh-Nya.
والمبعد عن درجات القرب ينبغي أن يكون مقيتاً بغيضاً إلى جميع المحبين موافقة للمحبوب بإظهار الغضب على من أظهر المحبوب الغضب عليه بإبعاده
Dan orang yang dijauhkan dari derajat kedekatan (qurb) hendaknya menjadi orang yang dimurkai dan dibenci oleh seluruh pecinta, demi keselarasan dengan Sang Kekasih, dengan menampakkan kemarahan kepada orang yang ditampakkan kemarahan oleh Sang Kekasih kepadanya melalui tindakan menjauhkannya.
بهذا يتقرر جميع ما وردت به الأخبار من البغض في الله والحب في الله والتشديد على الكفار والتغليظ عليهم والمبالغة في مقتهم مع الرضا بقضاء الله تعالى من حيث إنه قضاء الله ﷿
Dengan inilah menjadi jelas penetapan seluruh apa yang diriwayatkan dalam riwayat-riwayat tentang membenci karena Allah (al-bughdu fillah) dan mencintai karena Allah (al-hubbu fillah), bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, serta bersungguh-sungguh dalam memurkai mereka, bersamaan dengan tetap ridha terhadap qadha Allah Ta'ala ditinjau dari kenyataan bahwa itu adalah qadha Allah 'Azza wa Jalla.
وهذا كله يستمد من سر القدر الذي لا رخصه فى إفشائه وهو أن الشر والخير كلاهما داخلان في المشيئة والإرادة ولكن الشر مراد مكروه والخير مراد مرضي به
Semua ini bersumber dari rahasia takdir (sirrul qadar) yang tidak ada keringanan untuk menyebarkannya, yaitu bahwa keburukan dan kebaikan keduanya masuk dalam masyi'ah (kehendak) dan iradah (kemauan), akan tetapi keburukan adalah sesuatu yang dikehendaki namun dibenci, sedangkan kebaikan adalah sesuatu yang dikehendaki dan diridhai.
قمن قال ليس الشر من الله فهو جاهل وكذا من قال إنهما جميعاً منه من غير افتراق في الرضا والكراهة فهو أيضاً مقصر
Maka barangsiapa yang mengatakan bahwa keburukan bukan berasal dari Allah, ia adalah orang yang jahil (bodoh). Demikian pula barangsiapa yang mengatakan bahwa keduanya sama-sama dari-Nya tanpa ada perbedaan antara ridha dan kebencian (karahah), maka ia juga orang yang lalai/kurang pemahamannya.
وكشف الغطاء عنه غير مأذون فيه فالأولى السكوت والتأدب بأدب
Dan menyingkap tabir darinya tidaklah diizinkan, maka yang paling utama adalah diam dan beradab dengan adab
الشرع فقد قال ﷺ القدر سر الله فلا تفشوه وذلك يتعلق بعلم المكاشفة
syariat. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Takdir itu adalah rahasia Allah, maka janganlah kalian menyebarkannya.' Dan hal itu berkaitan dengan ilmu mukasyafah.
وغرضنا الآن بيان الإمكان فيما تعبد به الخلق من الجمع بين الرضا بقضاء الله تعالى ومقت المعاصي مع أنها من قضاء الله تعالى وقد ظهر الغرض من غير حاجة إلى كشف السر فيه
Adapun tujuan kita saat ini adalah menjelaskan kemungkinan/keterjelasan mengenai apa yang dibebankan kepada makhluk berupa ibadah untuk menggabungkan antara ridha terhadap qadha Allah Ta'ala dan membenci maksiat, padahal maksiat itu berasal dari qadha Allah Ta'ala. Dan tujuan ini telah tampak jelas tanpa perlu menyingkap rahasia di dalamnya.
وبهذا يعرف أيضاً أن الدعاء بالمغفرة والعصمة من المعاصي وسائر الأسباب المعينة على الدين غير مناقض للرضا بقضاء الله تعالى فإن الله تعبد العباد بالدعاء ليستخرج الدعاء منهم صفاء الذكر وخشوع القلب ورقة التضرع ويكون ذلك جلاء للقلب ومفتاحاً للكشف وسبباً لتواتر مزايا اللطف
Dengan ini diketahui pula bahwa berdoa memohon ampunan, pemeliharaan ('ishmah) dari maksiat, dan seluruh sebab yang membantu urusan agama tidaklah bertentangan dengan ridha terhadap qadha Allah Ta'ala. Sebab Allah memperhambakan para hamba dengan doa agar doa itu mengeluarkan dari mereka kemurnian dzikir, kekhusyukan hati, dan kelembutan permohonan (tadharrayu'), sehingga hal itu menjadi pembersih bagi hati, kunci bagi mukasyafah, dan sebab berturut-turutnya keutamaan kelembutan-Nya (luthf).
كما أن حمل الكوز وشرب الماء ليس مناقضاً للرضا بقضاء الله تعالى في العطش وشرب الماء طلباً لإزالة العطش مباشرة سبب رتبه مسبب الأسباب فكذلك الدعاء سبب رتبه الله تعالى وأمر به
Sebagaimana membawa kendi dan meminum air bukanlah hal yang bertentangan dengan ridha terhadap qadha Allah Ta'ala tentang rasa haus; dan meminum air untuk menghilangkan rasa haus merupakan pelaksanaan sebab yang telah diatur oleh Sang Penentu Sebab (Musabbibul Asbab), maka demikian pula doa adalah sebab yang telah diatur oleh Allah Ta'ala dan diperintahkan oleh-Nya.
وقد ذكرنا أن التمسك بالأسباب جرياً على سنة الله تعالى لا يناقض التوكل واستقصيناه في كتاب التوكل فهو أيضاً لا يناقض الرضا لأن الرضا مقام ملاصق للتوكل ويتصل به نعم إظهار البلاء في معرض الشكوى وإنكاره بالقلب على الله تعالى مناقض للرضا وإظهار البلاء على سبيل الشكر والكشف عن قدرة الله تعالى لايناقض
Dan sungguh telah kami sebutkan bahwa berpegang teguh pada sebab-sebab sesuai dengan sunnatullah tidaklah bertentangan dengan tawakal, dan telah kami uraikan secara mendalam dalam Kitab Tawakal. Maka hal itu juga tidak bertentangan dengan ridha, karena ridha adalah maqam yang berdampingan erat dengan tawakal dan bersambung dengannya. Ya, menampakkan cobaan dalam konteks mengeluh dan penolakan hati terhadap Allah Ta'ala adalah bertentangan dengan ridha, sedangkan menampakkan cobaan atas dasar bersyukur dan mengungkapkan kekuasaan Allah Ta'ala tidaklah bertentangan.
وقد قال بعض السلف من حسن الرضا بقضاء الله تعالى أن لا يقول هذا يوم حار أي في معرض الشكاية وذلك في الصيف فأما الشتاء فهو شكر والشكوى تناقض الرضا بكل حال وذم الأطعمة وعيبها يناقض الرضا بقضاء الله تعالى لأن مذمة الصنعة مذمة للصانع والكل من صنع الله تعالى
Sebagian ulama Salaf berkata, "Di antara kebaikan ridha terhadap ketetapan (qadha') Allah Ta'ala adalah tidak mengucapkan: 'Ini adalah hari yang panas'—yakni dalam konteks mengeluh, dan itu terjadi pada musim panas. Adapun pada musim dingin, maka perkataan tersebut adalah wujud rasa syukur. Sedangkan keluhan mencederai ridha dalam segala keadaan. Mencela dan memburuk-burukkan makanan juga bertentangan dengan ridha terhadap ketetapan Allah Ta'ala, karena mencela buatan berarti mencela penciptanya, padahal segala sesuatu adalah ciptaan Allah Ta'ala."
وقول القائل الفقر بلاء ومحنة والعيال هم وتعب والاحتراف كد ومشقة كل ذلك قادح في الرضا بل ينبغي أن يسلم التدبير لمدبره والمملكة لمالكها ويقول ما قاله عمر ﵁ لا أبالي أصبحت غنياً أو فقيراً فإني لا أدري أيهما خير لي
Ucapan seseorang: "Kefakiran adalah ujian dan cobaan, menafkahi keluarga adalah beban dan kelelahan, serta bekerja adalah jerih payah dan kesulitan," semua itu mencederai ridha. Sebaliknya, ia hendaknya menyerahkan segala pengaturan (tadbir) kepada Sang Pengatur (Mudabbir) dan kerajaan kepada Pemiliknya, serta mengucapkan apa yang dikatakan oleh 'Umar radhiyallahu 'anhu: "Aku tidak peduli apakah aku memasuki pagi hari sebagai orang kaya atau orang fakir, karena aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih baik bagiku."
بيان أن الفرار من البلاد التي هي مظان المعاصي ومذمتها لا يقدح في
Penjelasan bahwa melarikan diri dari negeri-negeri yang menjadi tempat persangkaan kuat (madhannah) timbulnya kemaksiatan serta mencelanya tidaklah mencederai
الرضا
keridhaan (ridha).
اعلم أن الضعيف قد يظن أن نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عن الخروج من بلد ظهر به الطاعون يدل على النهي عن الخروج من بلد ظهرت فيه المعاصي لأن كل واحد منهما فرار من قضاء الله تعالى وذلك محال بل العلة في النهي عن مفارقة البلد بعد ظهور الطاعون أنه لو فتح هذا الباب لارتحل عنه الأصحاء وبقي فيه المرضى مهملين لا متعهد لهم فيهلكون هزالاً وضراً ولذلك شبهه رسول الله ﷺ في بعض الأخبار بالفرار من الزحف ولو كان ذلك للفرار من القضاء لما أذن لمن قارب البلدة في الانصراف وقد ذكرنا حكم ذلك في كتاب التوكل وإذا عرف المعنى ظهر أن الفرار من البلاد التي هي مظان المعاصي ليس فراراً من القضاء بل من القضاء الفرار مما لا بد من الفرار منه
Ketahuilah bahwa orang yang lemah jiwanya terkadang menduga bahwa larangan Rasulullah ﷺ untuk keluar dari negeri yang dijangkiti wabah penyakit (tha'un) menunjukkan larangan keluar dari negeri yang marak dengan kemaksiatan, karena masing-masing merupakan bentuk lari dari ketetapan (qadha') Allah Ta'ala. Dugaan itu adalah mustahil. Bahkan, 'illat (alasan syariat) dari larangan meninggalkan negeri setelah munculnya wabah adalah bahwa jika pintu ini dibuka, orang-orang sehat akan berpindah darinya dan orang-orang sakit akan tertinggal dalam keadaan terabaikan tanpa ada yang mengurus, sehingga mereka binasa karena kurus kering dan kesengsaraan. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menyamakannya dalam sebagian riwayat dengan lari dari medan perang (al-firar min az-zahf). Seandainya hal itu disebabkan karena lari dari ketetapan (qadha'), niscaya beliau tidak akan mengizinkan orang yang mendekati negeri tersebut untuk berputar balik. Kami telah menyebutkan hukum masalah ini dalam Kitab Tawakal. Apabila maknanya telah diketahui, maka tampak jelas bahwa melarikan diri dari negeri-negeri yang menjadi tempat persangkaan kuat timbulnya kemaksiatan bukanlah bentuk lari dari ketetapan (qadha'), melainkan bagian dari ketetapan (qadha') itu sendiri adalah melarikan diri dari apa yang memang harus dihindari.
وكذلك مذمة المواضع التي تدعو إلى المعاصي والأسباب التي تدعو إليها لأجل التنفير عن المعصية ليست مذمومة
Demikian pula mencela tempat-tempat yang mendorong pada kemaksiatan dan sebab-sebab yang mengajak kepadanya demi memberikan peringatan agar menjauhi maksiat, bukanlah tindakan yang tercela.
فما زال السلف الصالح يعتادون ذلك حتى اتفق جماعة على ذم بغداد وإظهارهم ذلك وطلب الفرار منها فقال ابن المبارك قد طفت الشرق والغرب فما رأيت بلداً شراً من بغداد قيل وكيف قال هو بلد تزدري فيه نعمة الله وتستصغر فيه معصية الله
Para ulama Salaf ash-Shalih senantiasa melakukan hal tersebut, hingga sekelompok ulama sepakat untuk mencela kota Baghdad, menampakkan hal itu, dan mengimbau untuk melarikan diri darinya. Ibnul Mubarak berkata: "Aku telah menjelajahi Timur dan Barat, dan aku tidak melihat negeri yang lebih buruk daripada Baghdad." Lalu ditanyakan kepada beliau: "Mengapa demikian?" Beliau menjawab: "Ia adalah negeri di mana nikmat Allah diremehkan dan kemaksiatan kepada Allah dianggap kecil."
ولما قدم خراسان قيل له كيف رأيت بغداد قال ما رأيت بها إلا شرطياً غضبان أو تاجراً لهفان أو قارئاً حيران ولا ينبغي أن تظن أن ذلك
Ketika beliau tiba di Khurasan, ditanyakan kepada beliau: "Bagaimana engkau melihat Baghdad?" Beliau menjawab: "Aku tidak melihat di sana melainkan polisi yang marah, pedagang yang resah, atau pembaca Al-Qur'an yang bingung." Dan tidak sepatutnya engkau menduga bahwa hal itu
من الغيبة لأنه لم يتعرض لشخص بعينه حتى يستضر ذلك الشخص به وإنما قصد بذلك تحذير الناس وكان يخرج إلى مكة وقد كان مقامه ببغداد يرقب استعداد القافلة ستة عشر يوماً فكان يتصدق بستة عشر دينار لكل يوم دينار كفارة لمقامه
termasuk pengumpatan (ghibah), karena beliau tidak menujukan celaan itu kepada perorangan tertentu yang dapat merugikan orang tersebut. Beliau hanya bermaksud memberi peringatan kepada orang banyak. Apabila beliau hendak pergi ke Mekkah sementara beliau berada di Baghdad menunggu kesiapan rombongan kafilah selama enam belas hari, beliau bersedekah sebanyak enam belas dinar—setiap hari satu dinar—sebagai penebus (kaffarah) atas tinggalnya di sana.
وقد ذم العراق جماعة كعمر بن عبد العزيز وكعب الأحبار
Sekelompok ulama juga telah mencela Irak, seperti 'Umar bin 'Abdul 'Aziz dan Ka'ab al-Ahbar.
وقال ابن عمر ﵄ لمولى له أين تسكن فقال العراق قال فما تصنع به بلغني أن ما من أحد يسكن العراق إلا قيض الله قريناً من البلاء
Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata kepada seorang mantan budaknya (mawla): "Di mana engkau tinggal?" Ia menjawab: "Di Irak." Ibnu 'Umar berkata: "Apa yang engkau lakukan di sana? Telah sampai kepadaku bahwa tidak seorang pun yang tinggal di Irak melainkan Allah menetapkan baginya pendamping berupa ujian/bencana."
وذكر كعب الأحبار يوماً العراق فقال فيه تسعة أعشار الشر وفيه الداء العضال
Pada suatu hari Ka'ab al-Ahbar menyebutkan tentang Irak, lalu berkata: "Di dalamnya terdapat sembilan persepuluh keburukan dan di dalamnya terdapat penyakit yang kronis."
وقد قيل قسم الخير عشرة أجزاء فتسعة أعشاره بالشام وعشره بالعراق وقسم الشر عشرة أجزاء على العكس من ذلك
Dan telah dikatakan: Kebaikan dibagi menjadi sepuluh bagian; sembilan persepuluhnya di Syam dan satu persepuluhnya di Irak. Sedangkan keburukan dibagi menjadi sepuluh bagian dengan pembagian sebaliknya.
وقال بعض أصحاب الحديث كنا يوماً عند الفضيل بن عياض فجاءه صوفي متدرع بعباءة فأجلسه إلى جانبه وأقبل عليه ثم قال أين تسكن فقال بغداد فأعرض عنه وقال يأتينا أحدهم في زي الرهبان فإذا سألناه أين تسكن قال في عش الظلمة وكان بشر بن الحارث يقول مثال المتعبد ببغداد مثال المتعبد في الحش
Sebagian ahli hadis bercerita: Pada suatu hari kami berada di sisi Fudhayl bin 'Iyadh, lalu datang seorang sufi yang mengenakan jubah wol (aba-ah). Fudhayl mendudukkannya di sampingnya dan menyambutnya, kemudian bertanya: "Di mana engkau tinggal?" Ia menjawab: "Di Baghdad." Maka Fudhayl berpaling darinya dan berkata: "Salah seorang dari mereka mendatangi kami dengan pakaian para rahib, namun ketika kami bertanya di mana ia tinggal, ia menjawab: 'Di sarang kegelapan'." Dan Bisyr bin al-Harits pernah berkata: "Perumpamaan orang yang beribadah di Baghdad seperti perumpamaan orang yang beribadah di tempat buang hajat (hush)."
وكان يقول لا تقتدوا بي في المقام بها من أراد أن يخرج فليخرج
Ia juga biasa berkata: "Janganlah kalian meneladaniku dalam hal menetap di kota ini. Barang siapa hendak keluar (pindah), maka hendaklah ia keluar."
وكان أحمد بن حنبل يقول لولا تعلق هؤلاء الصبيان بنا كان الخروج من هذا البلد آثر في نفسي قيل وأين تختار السكنى قال بالثغور
Ahmad bin Hanbal juga pernah berkata: "Seandainya bukan karena keterikatan anak-anak ini kepada kami, niscaya keluar dari negeri ini lebih aku sukai." Ditanyakan kepada beliau: "Lalu di manakah engkau memilih untuk tinggal?" Beliau menjawab: "Di daerah-daerah perbatasan perang (ats-tsughur)."
وقال بعضهم وقد سئل عن أهل بغداد زاهدهم زاهد وشريرهم شرير
Sebagian ulama berkata ketika ditanya tentang penduduk Baghdad: "Orang zuhud di antara mereka adalah sangat zuhud, dan orang jahat di antara mereka adalah sangat jahat."
فهذا يدل على أن من بلي ببلدة تكثر فيها المعاصي ويقل فيها الخير فلا عذر له في المقام بها بل ينبغي أن يهاجر قال الله تعالى ألم تكن أرض الله واسعة فتهاجروا فيها فإن منعه عن ذلك عيال أو علاقة فلا ينبغي أن يكون راضياً بحاله مطمئن النفس إليه بل ينبغي أن يكون منزعج القلب منها قائلاً على الدوام ربنا أخرجنا من هذه القرية الظالم أهلها وذلك لأن الظلم إذا عم نزل البلاء ودمر الجميع وشمل المطيعين قال الله تعالى واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة فإذن ليس في شيء من أسباب نقص الدين البتة رضاً مطلق إلا من حيث إضافتها إلى فعل الله تعالى فأما هي في نفسها فلا وجه للرضا بها بحال
Hal ini menunjukkan bahwa barang siapa yang diuji di suatu negeri yang marak kemaksiatan dan sedikit kebaikan padanya, maka tidak ada alasan baginya untuk terus menetap di sana, melainkan ia harus berhijrah. Allah Ta'ala berfirman: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" (QS. An-Nisa': 97). Jika ia terhalang oleh keluarga atau keterikatan (harta/urusan duniawi), maka tidak sepatutnya ia merasa ridha dengan keadaannya dan merasa tenang dengannya. Sebaliknya, hatinya harus merasa gelisah terhadap keadaan itu dan senantiasa berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya" (QS. An-Nisa': 75). Hal itu karena kezaliman apabila telah merata, maka bencana akan turun dan menghancurkan semuanya, serta mencakup pula orang-orang yang taat. Allah Ta'ala berfirman: "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu" (QS. Al-Anfal: 25). Dengan demikian, pada segala sebab yang mengurangi kualitas agama tidak ada keridhaan mutlak sama sekali, kecuali dari sudut pandang penyandarannya kepada perbuatan Allah Ta'ala. Adapun pada zatnya sendiri, tidak ada alasan untuk ridha kepadanya dalam keadaan bagaimanapun.
وقد اختلف العلماء في الأفضل من أهل المقامات الثلاث رجل يحب الموت شوقاً إلى لقاء الله تعالى ورجل يحب البقاء لخدمة المولى ورجل قال لا أختار شيئاً بل أرضى بما اختاره الله تعالى ورفعت هذه المسألة إلى بعض العارفين فقال صاحب الرضا أفضلهم لأنه أقلهم فضولاً
Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang paling utama di antara pemilik tiga maqam (kedudukan spiritual): seseorang yang menyukai kematian karena rindu bertemu Allah Ta'ala; seseorang yang menyukai tetap hidup untuk berkhidmat kepada Pelindungnya (al-Maula); dan seseorang yang berkata, "Aku tidak memilih sesuatu pun, melainkan aku ridha dengan apa yang dipilihkan oleh Allah Ta'ala." Masalah ini disampaikan kepada salah seorang 'arif billah (orang yang bermakrifat), lalu ia berkata: "Orang yang memiliki sikap ridha adalah yang paling utama di antara mereka, karena ia paling sedikit berbuat sesuatu yang sia-sia (fadhul)."
واجتمع ذات يوم وهيب بن الورد وسفيان الثوري ويوسف بن أسباط فقال الثوري كنت أكره موت الفجأة قبل اليوم واليوم وددت أني مت فقال له يوسف لم قال لما أتخوف من الفتنة فقال يوسف لكني لا أكره طول البقاء فقال سفيان لم قال لعلي أصادف يوماً أتوب فيه وأعمل صالحاً فقيل لوهيب إيش تقول أنت فقال أنا لا أختار شيئاً أحب ذلك إلي أحبه إلى الله ﷾ فقبله الثوري بين عينيه وقال روحانية ورب الكعبة
Pada suatu hari, Wuhaib bin al-Ward, Sufyan ats-Tsauri, dan Yusuf bin Asbath berkumpul. Ats-Tsauri berkata: "Dahulu sebelum hari ini aku membenci kematian yang mendadak, namun hari ini aku berharap sekiranya aku mati." Yusuf bertanya kepadanya: "Mengapa demikian?" Beliau menjawab: "Karena apa yang aku takuti dari fitnah (ujian agama)." Yusuf berkata: "Namun aku tidak membenci umur yang panjang." Sufyan bertanya: "Mengapa?" Beliau menjawab: "Semoga aku mendapati suatu hari di mana aku bertobat dan beramal saleh." Lalu ditanyakan kepada Wuhaib: "Bagaimana dengan pendapatmu?" Beliau menjawab: "Aku tidak memilih sesuatu pun. Apa yang paling dicintai dari hal itu bagiku adalah apa yang paling dicintai oleh Allah 'Azza wa Jalla." Maka ats-Tsauri mencium kening di antara kedua matanya seraya berkata: "Ketenangan jiwa yang murni (ruhaniyyah), demi Tuhan Pemilik Ka'bah!"