بيان محبة الله للعبد ومعناها
بيان محبة الله للعبد ومعناها
Penjelasan tentang Mahabbah (Cinta) Allah kepada Hamba dan Maknanya
اعلم أن شواهد القرآن متظاهرة على أن الله تعالى يحب عبده فلا بد من معرفة مع معنى ذلك ولنقدم الشواهد على محبته فقد قال الله تعالى ﴿يحبهم ويحبونه﴾ وقال تعالى ﴿إن الله يحب الذين يقاتلون في سبيله صفاً﴾ وقال تَعَالَى ﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ﴾ ولذلك رد سبحانه على من ادعى أنه حبيب الله فقال ﴿قل فلم يعذبكم بذنوبكم﴾ وقد روى أنس عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال إذا أحب الله تعالى عبداً لم يضره ذنب والتائب من الذنب كمن لا ذنب له ثم تلا إن الله يحب التوابين ومعناه أنه إذا أحبه تاب عليه قبل الموت فلم تضره الذنوب الماضية وإن كثرت كما لا يضر الكفر الماضي بعد الإسلام وقد اشترط الله تعالى للمحبة غفران الذنب فقال ﴿قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم﴾ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الله تعالى يعطي الدنيا من يحب ومن لا يحب ولا يعطي الإيمان إلا من يحب وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وضعه اللَّهُ وَمَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ اللَّهِ أَحَبَّهُ اللَّهُ وقال ﵇ قال الله تعالى لا يزال العبد يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به الحديث وقال زيد بن أسلم إن الله ليحب العبد حتى يبلغ من حبه له أن يقول اعمل ما شئت فقد غفرت لك وما ورد من ألفاظ المحبة خارج عن الحصر
Ketahuilah bahwa dalil-dalil Al-Qur'an saling menguatkan bahwa Allah Ta'ala mencintai hamba-Nya. Oleh karena itu, harus ada pemahaman mengenai makna hal tersebut. Mari kita kemukakan terlebih dahulu dalil-dalil atas mahabbah-Nya. Allah Ta'ala berfirman: 'Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya' (QS. Al-Ma'idah: 54). Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur' (QS. Ash-Saff: 4). Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri' (QS. Al-Baqarah: 222). Oleh sebab itulah, Dia Mahasuci menolak klaim orang yang mengaku sebagai kekasih Allah dengan berfirman: 'Katakanlah: Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?' (QS. Al-Ma'idah: 18). Diriwayatkan dari Anas dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: 'Jika Allah Ta'ala telah mencintai seorang hamba, maka dosa tidak akan memudaratkannya, dan orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa.' Kemudian beliau membaca: 'Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat.' Maknanya adalah bahwa jika Allah mencintainya, Dia memberi petunjuk taubat kepadanya sebelum meninggal, sehingga dosa-dosa masa lalu tidak memudaratkannya meskipun banyak, sebagaimana kekufuran masa lalu tidak memudaratkan setelah masuk Islam. Allah Ta'ala juga mensyaratkan ampunan dosa bagi mahabbah, firman-Nya: 'Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu' (QS. Ali 'Imran: 31). Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak Dia cintai, namun Dia tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai.' Rasulullah ﷺ juga bersabda: 'Barangsiapa bertawadhu' karena Allah, niscaya Allah mengangkatnya; dan barangsiapa sombong, niscaya Allah merendahkannya; serta barangsiapa memperbanyak dzikir kepada Allah, niscaya Allah mencintainya.' Beliau ﷺ juga bersabda: Allah Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar dan penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat…' al-hadits. Zaid bin Aslam berkata: 'Sesungguhnya Allah benar-benar mencintai seorang hamba hingga kecintaan-Nya kepada hamba itu sampai pada taraf Dia berfirman: Perbuatlah sesukamu, sungguh Aku telah mengampunimu.' Dan lafaz-lafaz mengenai mahabbah yang diriwayatkan terhitung tidak terbatas.
وقد ذكرنا أن محبة العبد لله تعالى حقيقة وليست بمجاز إذ المحبة في وضع اللسان عبارة عن ميل النفس إلى الشيء الموافق والعشق عبارة عن الميل الغالب المفرط وقد بينا أن الإحسان موافق للنفس والجمال موافق أيضاً وأن الجمال والإحسان تارة يدرك بالبصر وتارة يدرك بالبصيرة والحب يتبع كل واحد منهما فلا يختص بالبصر
Kami telah menyebutkan bahwa mahabbah (cinta) hamba kepada Allah Ta'ala adalah secara hakikat (sebenarnya) dan bukan majaz (kiasan). Sebab, mahabbah menurut konvensi bahasa adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang selaras, sedangkan 'isyq (kasih kasmaran) adalah kecenderungan yang dominan lagi berlebihan. Kami pun telah menjelaskan bahwa kebaikan (ihsan) itu sesuai dengan jiwa, begitu pula keindahan (jamal) juga sesuai dengannya. Keindahan dan kebaikan itu terkadang ditangkap oleh pandangan mata (basar) dan terkadang ditangkap oleh mata hati (bashirah). Cinta senantiasa mengikuti masing-masing dari keduanya, sehingga tidak hanya terbatas pada pandangan mata.
فأما حب الله للعبد فلا يمكن أن يكون بهذا المعنى أصلاً بل الأسامي كلها إذا أطلقت على الله تعالى وعلى غير الله لم تنطلق عليهما بمعنى واحد أصلاً حتى إن اسم الوجود الذي هو أعم الأسماء اشتراكاً لا يشمل الخالق والخلق على وجه واحد بل كل ما سوى الله تعالى فوجوده مستفاد من وجود الله تعالى فالوجود التابع لا يكون مساوياً للوجود المتبوع
Adapun cinta Allah kepada hamba, maka tidak mungkin sama sekali bermakna seperti ini. Bahkan seluruh nama (sifat) apabila dimutlakkan bagi Allah Ta'ala dan bagi selain Allah, tidaklah diterapkan pada keduanya dengan makna yang sama persis sama sekali. Sampai-sampai nama 'keberadaan' (al-wujud)—yang merupakan nama yang paling umum persekutuannya—tidaklah mencakup Sang Pencipta (Khaliq) dan ciptaan (makhluq) dengan cara yang sama. Melainkan segala sesuatu selain Allah Ta'ala, keberadaannya diperoleh dari keberadaan Allah Ta'ala; maka keberadaan yang mengikut (ketergantungan) tidaklah sama dengan keberadaan yang diikuti (pemberi keberadaan).
وإنما الاستواء في إطلاق الاسم نظيره اشتراك الفرس والشجر في اسم الجسم إذ معنى الجسمية وحقيقتها متشابهة فيهما من غير استحقاق أحدهما لأن يكون فيه أصلاً فليست الجسمية لأحدهما مستفادة من الآخر وليس كذلك اسم الوجود لله ولا لخلقه وهذا التباعد في سائر الأسامي أظهر كالعلم والإرادة
Kesamaan dalam penyebutan nama itu hanyalah serupa dengan persekutuan antara kuda dan pohon dalam nama 'jasad' (tubuh/materi). Sebab makna kejasadan dan hakikatnya serupa pada keduanya tanpa salah satunya memiliki hak asal atas kejasadan itu, sehingga kejasadan pada salah satunya tidaklah diambil dari yang lain. Namun tidak demikian halnya dengan nama 'keberadaan' (al-wujud) bagi Allah maupun bagi ciptaan-Nya. Perbedaan jarak ini pada nama-nama lainnya justru lebih jelas, seperti ilmu (pengetahuan) dan iradah (kehendak),
والقدرة وغيرها فكل ذلك لا يشبه فيه الخالق الخلق وواضع اللغة إنما وضع هذه الأسامى أولا للخلق فإن الخلق أسبق إلى العقول والأفهام من الخالق فكان استعمالها في حق الخالق بطريق الاستعارة والتجوز والنقل والمحبة في وضع اللسان عبارة عن ميل النفس إلى موافق ملائم وهذا إنما يتصور في نفس ناقصة فاتها ما يوافقها فتستفيد بنيله كمالاً فتلتذ بنيله وهذا محال على الله تعالى فإن كل كمال وجمال وبهاء وجلال ممكن في حق الإلهية فهو حاضر وحاصل وواجب الحصول أبداً وأزلاً ولا يتصور تجدده ولا زواله فلا يكون له إلى غيره نظر من حيث إنه غيره بل نظره إلى ذاته وأفعاله فقط وليس في الوجود إلا ذاته وأفعاله ولذلك قال الشيخ أبو سعيد الميهني رحمه الله تعالى لما قرىء عليه قوله تعالى يحبهم ويحبونه فقال بحق يحبهم فإنه ليس يحب إلا نفسه على معنى أنه الكل وأن ليس في الوجود غيره فمن لا يحب إلا نفسه وأفعال نفسه وتصانيف نفسه فلا يجاوز حبه ذاته وتوابع ذاته من حيث هي متعلقة بذاته فهو إذن لا يحب إلا نفسه وما ورد من الألفاظ في حبه لعباده فهو مؤول ويرجع معناه إلى كشف الحجاب عن قلبه حتى يراه بقلبه وإلى تمكينه إياه من القرب منه وإلى إرادته ذلك به في الأزل فحبه لمن أحبه أزلي مهما أضيف إلى الإرادة الأزلية التي اقتضت تمكين هذا العبد من سلوك طرق هذا القرب وإذا أضيف إلى فعله الذي يكشف الحجاب عن قلب عبده فهو حادث يحدث بحدوث السبب المقتضي له كما قال تعالى لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فيكون تقربه بالنوافل سبباً لصفاء باطنه وارتفاع الحجاب عن قلبه وحصوله في درجة القرب من ربه فكل ذلك فعل الله تعالى ولطفه به فهو معنى حبه
qudrah (kuasa), dan selainnya. Dalam semua hal tersebut, Sang Pencipta tidaklah menyerupai ciptaan. Pembuat bahasa pada mulanya menetapkan nama-nama ini untuk ciptaan, karena ciptaan lebih dahulu ditangkap oleh akal dan pemahaman daripada Sang Pencipta. Maka penggunaan nama-nama tersebut bagi Sang Pencipta adalah dengan cara isti'arah (pinjaman), majaz (kiasan), dan naql (pengalihan makna). Mahabbah (cinta) menurut konvensi bahasa adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang sesuai dan cocok. Hal ini hanya bisa dibayangkan pada jiwa yang kurang, yang kehilangan apa yang sesuai dengannya sehingga ia memperoleh kesempurnaan dengan meraihnya dan merasa lezat dengannya. Hal ini mustahil bagi Allah Ta'ala, sebab setiap kesempurnaan, keindahan, keagungan, dan kemuliaan yang mungkin bagi hak Ketuhanan sudah hadir, terwujud, dan wajib terwujud selamanya dan sejak azali; tidak dapat dibayangkan adanya pembaharuan maupun kelenyapannya. Maka Dia tidak memandang kepada selain-Nya dari sudut pandang bahwa itu adalah 'selain-Nya', melainkan pandangan-Nya hanya kepada Dzat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya saja. Tiada sesuatu pun dalam wujud ini melainkan Dzat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh karena itulah Syaikh Abu Sa'id al-Maihani r.a. berkata ketika dibacakan firman Allah Ta'ala: 'Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya', beliau berkata: 'Benar-benar Dia mencintai mereka, karena Dia tidak mencintai melainkan Dzat-Nya sendiri,' dalam artian bahwa Dia adalah Segalanya dan tiada dalam wujud ini selain diri-Nya. Maka barangsiapa yang tidak mencintai melainkan dirinya sendiri, perbuatan-perbuatannya sendiri, dan ciptaan-ciptaannya sendiri, maka cintanya tidak melampaui dzatnya serta hal-hal yang mengikuti dzatnya selama hal itu berkaitan dengan dzatnya; jadi dia pada hakikatnya tidak mencintai melainkan dirinya sendiri. Lafaz-lafaz yang datang mengenai cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya harus ditakwilkan, dan maknanya kembali kepada peminggiran (penyingkapan) hijab dari hati sang hamba hingga ia dapat melihat-Nya dengan hatinya, serta pemberian kemampuan kepadanya untuk mendekat kepada-Nya, dan kepada kehendak-Nya (iradah) atas hal itu bagi sang hamba sejak azali. Maka cinta-Nya kepada siapa yang dicintai-Nya bersifat azali apabila dinisbatkan kepada Iradah Azaliyyah yang menuntut diterimanya hamba ini untuk menempuh jalan-jalan kedekatan ini. Namun apabila dinisbatkan kepada perbuatan-Nya yang menyingkap hijab dari hati hamba-Nya, maka hal itu bersifat hadits (baru) yang terjadi seiring terjadinya sebab yang menuntutnya, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.' Maka pendekatannya melalui amalan sunnah menjadi sebab bagi kesucian batinnya, terangkatnya hijab dari hatinya, serta tercapainya derajat kedekatan dari Rabbnya. Maka seluruhnya itu adalah perbuatan Allah Ta'ala dan kelembutan-Nya kepadanya; itulah makna cinta-Nya.
ولا يفهم هذا إلا بمثال وهو أن الملك قد يقرب عبده من نفسه ويأذن له في كل وقت في حضور بساطه لميل الملك إليه إما لينصره بقوته أو ليستريح بمشاهدته أو ليستشيره في رأيه أو ليهيىء أسباب طعامه وشرابه فيقال إن الملك يحبه ويكون معناه ميله إليه لما فيه من المعنى الموافق الملائم له
Hal ini tidak dapat dipahami melainkan dengan sebuah perumpamaan, yaitu bahwa seorang raja terkadang mendekatkan hamba (bawahan)-nya ke sisinya dan mengizinkannya setiap saat untuk hadir di hadapannya karena kecenderungan sang raja kepadanya; baik untuk membantunya dengan kekuatannya, untuk merasa nyaman dengan memandangnya, untuk meminta pendapat darinya, atau untuk menyiapkan sarana makanan dan minumannya. Maka dikatakan bahwa sang raja mencintainya, dan maknanya adalah kecenderungannya kepadanya karena adanya hal yang sesuai dan cocok padanya.
وقد يقرب عبداً ولا يمنعه من الدخول عليه لا للانتفاع به ولا للاستنجاد به ولكن لكون العبد في نفسه موصوفاً من الأخلاق المرضية والخصال الحميدة بما يليق به أن يكون قريباً من حضرة الملك وافر الحظ من قربه مع أن الملك لا غرض له فيه أصلاً فإذا رفع الملك الحجاب بينه وبينه يقال قد أحبه وإذا اكتسب من الخصال الحميدة ما اقتضى رفع الحجاب يقال قد توصل وحبب نفسه إلى الملك
Terkadang raja mendekatkan seorang hamba dan tidak melarangnya masuk menemuinya bukan untuk mengambil manfaat darinya atau meminta pertolongan darinya, melainkan karena hamba tersebut pada dirinya dihiasi oleh akhlak yang diridhai dan sifat-sifat terpuji yang menjadikannya layak berada dekat dari hadirat sang raja serta mendapat bagian yang melimpah dari kedekatannya, padahal sang raja tidak memiliki kepentingan sama sekali padanya. Apabila raja mengangkat tirai antara dirinya dan hamba tersebut, dikatakan bahwa raja telah mencintainya. Dan apabila hamba tersebut mengusahakan sifat-sifat terpuji yang menuntut diangkatnya tirai, dikatakan bahwa ia telah berusaha mendekatkan diri dan menjadikan dirinya dicintai oleh raja.
فحب الله للعبد إنما يكون بالمعنى الثاني لا بالمعنى الأول
Maka kecintaan (mahabbah) Allah kepada hamba hanyalah berada dalam makna kedua ini, bukan dalam makna pertama.
وإنما يصح تمثيله بالمعنى الثاني بشرط أن لا يسبق إلى فهمك دخول تغير عليه عند تجدد القرب فإن الحبيب هو القريب من الله تعالى والقرب من الله في البعد من صفات البهائم والسباع والشياطين والتخلق بمكارم الأخلاق التي هي الأخلاق الإلهية فهو قرب بالصفة لا بالمكان ومن لم يكن قريباً فصار قريباً فقد تغير فربما يظن بهذا أن القرب لما تجدد فقد تغير وصف العبد والرب جميعاً إذ صار قريباً بعد أن لم يكن وهو محال في حق الله تعالى إذ التغير عليه محال بل لا يزال في نعوت الكمال والجلال على ما كان عليه في أزل الآزال
Perumpamaan dengan makna kedua ini hanya sah dengan syarat tidak terlintas dalam pemahamanmu adanya perubahan yang menimpa Allah ketika kedekatan itu baru terjadi. Sebab sang kekasih (habib) adalah orang yang dekat dengan Allah Ta'ala. Kedekatan dengan Allah terletak pada pembebasan dari sifat-sifat binatang ternak, binatang buas, dan setan, serta berakhlak dengan kemuliaan akhlak yang merupakan akhlak ilahiyyah; jadi ia merupakan kedekatan secara sifat, bukan secara tempat atau ruang. Barangsiapa yang tadinya tidak dekat kemudian menjadi dekat, berarti ia telah berubah. Maka bisa jadi timbul persangkaan bahwa ketika kedekatan itu baru terjadi, sifat hamba dan Rabb kedua-duanya telah berubah karena ia menjadi dekat setelah sebelumnya tidak. Namun hal ini mustahil bagi hak Allah Ta'ala, sebab perubahan adalah mustahil atas-Nya; bahkan Dia senantiasa berada dalam sifat-sifat Kesempurnaan dan Keagungan sebagaimana keberadaan-Nya sejak azali tanpa awal.
ولا ينكشف هذا إلا بمثال في القرب بين الأشخاص فإن الشخصين قد يتقاربان بتحركهما جميعاً وقد يكون أحدهما ثابتاً فيتحرك الآخر فيحصل القرب بتغير في أحدهما من غير تغير في الآخر بل القرب في الصفات أيضاً كذلك فإن التلميذ يطلب القرب من درجة أستاذه في كمال العلم وجماله والأستاذ واقف في كمال علمه غير متحرك بالنزول إلى درجة تلميذه والتلميذ متحرك مترق من حضيض الجهل إلى ارتفاع العلم فلا يزال دائباً
Hal ini tidak akan tersingkap melainkan dengan perumpamaan tentang kedekatan antar individu. Sesungguhnya dua orang terkadang saling mendekat dengan pergerakan keduanya secara bersamaan, dan terkadang salah satunya tetap di tempatnya lalu yang lain bergerak mendekat, sehingga kedekatan itu terjadi karena adanya perubahan pada salah satunya tanpa ada perubahan pada yang lain. Bahkan kedekatan dalam sifat-sifat pun demikian halnya; seorang murid menuntut kedekatan dari derajat gurunya dalam kesempurnaan ilmu dan keindahannya, sementara sang guru tetap berada pada kesempurnaan ilmunya tanpa bergerak turun ke derajat muridnya. Adapun sang murid bergerak dan menaik dari jurang kebodohan menuju ketinggian ilmu, lalu ia senantiasa bersungguh-sungguh
في التغير والترقي إلى أن يقرب من أستاذه والأستاذ ثابت غير متغير فكذلك ينبغي أن يفهم ترقي العبد في درجات القرب فكلما صار أكمل صفة وأتم علماً وإحاطة بحقائق الأمور وأثبت قوة في قهر الشيطان وقمع الشهوات وأظهر نزاهة عن الرذائل صار أقرب من درجة الكمال ومنتهى الكمال لله وقرب كل واحد من الله تعالى بقدر كماله
dalam perubahan dan peningkatan hingga ia mendekati derajat gurunya, sedangkan sang guru tetap tidak berubah. Begitu pulalah seharusnya dipahami peningkatan (taraqqi) hamba dalam derajat-derajat kedekatan (qurb). Maka setiap kali sifatnya menjadi lebih sempurna, ilmunya lebih utuh serta pemahamannya melingkupi hakikat-hakikat perkara, kekuatannya lebih kokoh dalam menundukkan setan dan menumpas syahwat, serta kesuciannya dari cela lebih nyata, niscaya ia menjadi lebih dekat dari derajat kesempurnaan. Puncak kesempurnaan adalah milik Allah, dan kedekatan setiap orang dari Allah Ta'ala adalah sesuai dengan kadar kesempurnaannya.
نعم قد يقدر التلميذ على القرب من الأستاذ وعلى مساواته وعلى مجاوزته وذلك في حق الله محال فإنه لا نهاية لكماله وسلوك العبد في درجات الكمال متناه ولا ينتهي إلا إلى حد محدود فلا مطمع له في المساواة ثم درجات القرب تتفاوت تفاوتاً لا نهاية له أيضاً لأجل انتفاء النهاية عن ذلك الكمال
Memang benar, seorang murid mungkin dapat mendekati gurunya, menyamainya, atau bahkan melebihinya. Namun, hal itu mustahil terjadi dalam hak Allah. Sebab, tidak ada batas bagi kesempurnaan-Nya, sedangkan perjalanan seorang hamba dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan itu terbatas dan hanya sampai pada batas tertentu. Maka, tidak ada harapan baginya untuk menyamai-Nya. Kemudian, tingkatan-tingkatan kedekatan itu pun berbeda-beda tanpa batas, karena ketiadaan batas bagi kesempurnaan Allah tersebut.
فإذن محبة الله للعبد تقريبه من نفسه بدفع الشواغل والمعاصي عنه وتطهير باطنه عن كدورات الدنيا ورفع الحجاب عن قلبه حتى يشاهده كأنه يراه بقلبه
Dengan demikian, kecintaan Allah kepada seorang hamba berarti mendekatkannya kepada diri-Nya dengan menjauhkan rintangan-rintangan dan kemaksiatan darinya, menyucikan batinnya dari keruhan dunia, serta mengangkat hijab dari hatinya hingga ia dapat menyaksikan-Nya seolah-olah ia melihat-Nya dengan hatinya.
وأما محبة العبد لله فهو ميله إلى درك هذا الكمال الذي هو مفلس عنه فاقد له فلا جرم يشتاق إلى ما فاته وإذا أدرك منه شيئاً يلتذ به والشوق والمحبة بهذا المعنى محال على الله تعالى
Adapun kecintaan hamba kepada Allah adalah kecenderungannya untuk menggapai kesempurnaan ini—kesempurnaan yang tidak ia miliki dan tidak ia punyai. Maka tidak diragukan lagi, ia merindukan apa yang belum ia capai, dan apabila ia berhasil menggapai sebagian darinya, ia merasa lezat karenanya. Kerinduan dan kecintaan dalam pengertian ini adalah mustahil bagi Allah Ta'ala.
فإن قلت محبة الله للعبد أمر ملتبس فبم يعرف العبد أنه حبيب الله فأقول يستدل عليه بعلاماته
Jika engkau bertanya, "Kecintaan Allah kepada hamba adalah perkara yang samar, maka bagaimana seorang hamba dapat mengetahui bahwa dirinya adalah kekasih Allah?" Maka aku katakan: Hal itu dapat ditunjukkan melalui tanda-tandanya.
وقد قال ﷺ إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عبداً ابتلاه فإذا أحبه الحب البالغ اقتناه قيل وما اقتناه قال لم يترك له أهلاً ولا مالا فعلامة محبة الله للعبد أن يوحشه من غيره ويحول بينه وبين غيره قيل لعيسى ﵇ لم لا تشتري حماراً فتركبه فقال أنا أعز على الله تعالى من أن يشغلني عن نفسه بحمار
Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya. Jika Dia mencintainya dengan kecintaan yang sangat mendalam, Dia akan memilih-Nya (iqtanahu)." Ditanyakan, "Apakah iqtanahu itu?" Beliau menjawab, "Dia tidak meninggalkan baginya keluarga maupun harta." Maka tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah Dia menjadikannya merasa asing dari selain-Nya dan menghalangi antara dirinya dengan selain-Nya. Pernah dikatakan kepada Nabi Isa a.s., "Mengapa engkau tidak membeli keledai untuk engkau kendarai?" Beliau menjawab, "Aku terlalu mulia di sisi Allah Ta'ala untuk disibukkan dari diri-Nya oleh seekor keledai."
وفي الخبر إذاأحب الله تعالى عبداً ابتلاه فإن صبر اجتباه فإن رضي اصطفاه وقال بعض العلماء إذا رأيتك تحبه ورأيته يبتليك فاعلم أنه يريد أن يصافيك وقال بعض المريدين لأستاذه قد طولعت بشيء من المحبة فقال يا بني هل ابتلاك بمحبوب سواء فآثرت عليه إياه قال لا قال فلا تطمع في المحبة فإنه لا يعطيها عبداً حتى يبلوه
Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Apabila Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya. Jika ia bersabar, Dia akan memilihnya (ijtabahu). Dan jika ia ridha, Dia akan menyucikan pilihannya (ishthafahu)." Sebagian ulama berkata, "Jika engkau melihat dirimu mencintai-Nya dan engkau melihat-Nya mengujimu, maka ketahuilah bahwa Dia ingin memurnikan cintamu." Seorang murid pernah berkata kepada gurunya, "Aku telah dikaruniai sedikit rasa cinta." Gurunya berkata, "Wahai anakku, apakah Dia telah mengujimu dengan sesuatu yang engkau cintai selain-Nya lalu engkau lebih mengutamakan-Nya daripada yang lain itu?" Ia menjawab, "Tidak." Gurunya berkata, "Maka janganlah engkau berharap banyak pada kecintaan itu, sebab Dia tidak akan menganugerahkannya kepada seorang hamba sampai Dia mengujinya."
وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا أحب الله تعالى عبداً جعل له واعظاً من نفسه وزاجراً من قلبه يأمره وينهاه // حديث إذا أحب الله عبداً جعل له واعظاً من نفسه الحديث أخرجه أبو منصور الديلمى في مسند الفردوس من حديث أم سلمة بإسناد حسن بلفظ إذا أراد الله تعالى بعبد خيراً بصره بعيوب نفسه حديث إذا أراد الله بعبد خيراً بصره بعيوب نفسه أخرجه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث أنس بزيادة فيه بإسناد ضعيف فأخص علاماته حبه لله تعالى
Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Apabila Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, Dia menjadikan baginya penasihat dari dalam dirinya sendiri dan penegur dari dalam hatinya yang menyuruh serta melarangnya." // Hadis "Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia menjadikan baginya penasihat dari dalam dirinya…" diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dari hadis Ummu Salamah dengan sanad hasan, dengan lafaz: "Apabila Allah Ta'ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia memperlihatkan keaiban-keaiban dirinya." Hadis "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia memperlihatkan keaiban-keaiban dirinya" diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dari hadis Anas dengan tambahan di dalamnya melalui sanad yang lemah (dhaif). Maka tanda kecintaan-Nya yang paling khusus adalah cintanya hamba itu kepada Allah Ta'ala.
وأما الفعل الدال على كونه محبوباً فهو أن يتولى الله تعالى أمره ظاهره وباطنه سره وجهره فيكون هو المشير عليه والمدبر لأمره والمزين لأخلاقه والمستعمل لجوارحه والمسدد لظاهره وباطنه والجاعل همومه هماً واحد واحداً والمبغض للدنيا في قلبه والموحش له من غيره والمؤنس له بلذة المناجاة في خلواته والكاشف له عن الحجب بينه وبين معرفته
Adapun perbuatan yang menunjukkan bahwa hamba itu dicintai (oleh Allah) adalah bahwa Allah Ta'ala mengurus segala urusannya, lahir maupun batinnya, rahasia maupun terangnya. Maka Allah-lah yang memberi petunjuk kepadanya, mengatur urusannya, memperindah akhlaknya, menggerakkan anggota tubuhnya, meluruskan lahir dan batinnya, menjadikan cita-citanya menjadi satu cita-cita saja, menanamkan rasa benci terhadap dunia di dalam hatinya, menjadikannya merasa asing dari selain-Nya, memberikan rasa manis keintiman melalui kelezatan bermunajat dalam kesunyiannya, serta menyibak hijab antara dirinya dengan ma'rifat kepada-Nya.
فهذا وأمثاله هو علامة حب الله للعبد
Hal ini dan yang seumpamanya adalah tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba.
فلنذكر الآن علامة محبة العبد لله تعالى فإنها أيضاً من علامات حب الله تعالى للعبد
Maka marilah kita sebutkan sekarang tanda-tanda kecintaan hamba kepada Allah Ta'ala, karena hal itu juga termasuk tanda-tanda kecintaan Allah Ta'ala kepada hamba tersebut.