بيان معنى الأنس بالله تعالى
بيان معنى الأنس بالله تعالى
Penjelasan Makna Uns (Rasa Mesra) kepada Allah Ta'ala
قد ذكرنا أن الأنس والخوف والشوق من آثار المحبة إلا أن هذه آثار تختلف على المحب بحسب نظره وما يغلب عليه في وقته فإذا غلب عليه التطلع من وراء حجب الغيب إلا منتهى الجمال واستشعر قصوره عن الإطلاع على كنه الجلال انبعث القلب إلى الطلب وانزعج له وهاج إليه وتسمى هذه الحالة في الانزعاج شوقاً وهو بالإضافة إلى أمر غائب وإذا غلب عليه الفرح بالقرب ومشاهدة الحضور بما هو حاصل من الكشف وكان نظره مقصوراً على مطالعة الجمال الحاضر المكشوف غير ملتفت إلى ما لم يدركه بعد استبشر القلب بما يلاحظه فيسمى استبشاره أنساً وإن كان نظره إلى صفات العز والاستغناء وعدم المبالاة وخطر إمكان الزوال والبعد تألم القلب بهذا الاستشعار فيسمى تألمه خوفاً
Telah kami sebutkan bahwa uns (rasa mesra), khauf (rasa takut), dan syauq (kerinduan) merupakan buah dari mahabbah (cinta). Namun, dampak-dampak ini berbeda pada diri pencinta sesuai dengan pandangan dan hal yang mendominasi dirinya pada saat itu. Jika yang mendominasi dirinya adalah kerinduan untuk menyingkap dari balik tirai gaib menuju puncak keindahan, dan ia merasakan kekurangannya dalam menyingkap hakikat keagungan, maka hatinya tergerak untuk mencari, tergoncang, dan bergolak menuju-Nya. Keadaan bergolak ini dinamakan syauq (rindu), yang berkaitan dengan sesuatu yang gaib (belum terlihat). Namun jika yang mendominasi dirinya adalah kegembiraan karena kedekatan dan menyaksikan kehadiran dari apa yang telah tersingkap (kasyf), serta pandangannya terbatas pada menyaksikan keindahan yang hadir dan tersingkap tanpa menengok pada apa yang belum ia capai, maka hati menjadi gembira atas apa yang disaksikannya, dan kegembiraan ini dinamakan uns. Adapun jika pandangannya tertuju pada sifat-sifat Keperkasaan ('Izzah), Ketidakbutuhan (Istighna'), Ketidakpedulian Allah, serta bahaya kemungkinan hilangnya kenikmatan dan timbulnya kejauhan, maka hati merasa sakit karena perasaan ini, dan kesakitannya itu dinamakan khauf (takut).
وهذه الأحوال تابعة لهذه الملاحظات والملاحظات تابعة لأسباب تقتضيها لا يمكن حصرها فالأنس معناه استبشار القلب فرحه بمطالعة الجمال حتى إنه إذا غلب وتجرد عن ملاحظة ما غاب عنه وما يتطرق إليه من خطر الزوال عظم نعيمه ولذته ومن هنا نظر بعضهم حيث قيل له أنت مشتاق فقال لا إنما الشوق إلى غائب فإذا كان الغائب حاضراً فإلى من يشتاق وهذا كلام مستغرق بالفرح بما ناله غير ملتفت إلى ما بقي في الإمكان من مزايا الألطاف
Keadaan-keadaan (ahwal) ini mengikuti pengamatan-pengamatan tersebut, dan pengamatan-pengamatan ini mengikuti sebab-sebab yang menuntutnya yang tidak mungkin dibatasi. Maka uns maknanya adalah kegembiraan hati dan kebahagiaannya ketika menyaksikan keindahan, hingga apabila hal itu mendominasi dan terbebas dari pengamatan terhadap apa yang gaib darinya serta bahaya kelenyapan yang mengancamnya, maka kenikmatan dan kelezatannya menjadi sangat agung. Dari sinilah sebagian dari mereka memandang, ketika dikatakan kepadanya, 'Apakah engkau merindu?' Maka ia menjawab, 'Tidak, kerinduan itu hanyalah kepada yang gaib. Jika yang gaib itu telah hadir, maka kepada siapa lagi ia harus rindu?' Ini adalah perkataan seseorang yang larut dalam kegembiraan atas apa yang telah dicapainya, tanpa menoleh lagi kepada keutamaan-keutamaan kelembutan yang masih mungkin diperoleh.
ومن غلب عليه حال الأنس لم تكن شهوته إلا في الانفراد والخلوة كما حكي أن إبراهيم بن أدهم نزل من الجبل فقيل له من أين أقبلت فقال من الأنس بالله وذلك لأن الأنس بالله يلازمه التوحش من غير الله بل كل
Barangsiapa yang didominasi oleh keadaan uns, maka keinginannya hanyalah menyendiri dan berkhalwat. Sebagaimana dikisahkan bahwa Ibrahim bin Adham turun dari gunung, lalu ditanyakan kepadanya, 'Dari manakah engkau datang?' Ia menjawab, 'Dari rasa mesra (uns) bersama Allah.' Hal itu karena uns kepada Allah meniscayakan rasa asing (tawahhusy) terhadap selain Allah. Bahkan setiap…
ما يعوق عن الخلوة فيكون من أثقل الأشياء على القلب كما روي أن موسى ﵇ لما كلمه ربه مكث دهراً لا يسمع كلام أحد من الناس إلا أخذه الغثيان لأن الحب يوجب عذوبة كلام المحبوب وعذوبة ذكره فيخرج من القلب عذوبة ما سواه
…hal yang menghalangi dari khalwat akan menjadi sesuatu yang paling berat bagi hati. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi Musa 'alaihissalam ketika diseru oleh Rabbnya, ia bermukim selama kurun waktu tertentu tanpa bisa mendengar perkataan seorang pun dari manusia melainkan ia merasa mual. Hal itu karena cinta meniscayakan manisnya firman Sang Kekasih dan manisnya mengingat-Nya, sehingga mencabut kelezatan dari selain-Nya dari dalam hati.
ولذلك قال بعض الحكماء في دعائه يا من آنسني بذكره وأوحشني من خلقه وقال الله ﷿ لداود ﵇ كن لي مشتاقاً وبي متأنساً ومن سواي مستوحشاً وقيل لرابعة بم نلت هذه المنزلة قالت بتركي ما لا يعنيني وأنسي بمن لم يزل
Oleh karena itu, sebagian hukama (orang bijak) berdoa dalam doanya: 'Wahai Dzat yang membuatku merasa mesra dengan mengingat-Mu dan membuatku merasa asing dari makhluk-Mu.' Dan Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Daud 'alaihissalam: 'Jadilah engkau merindu kepada-Ku, merasa mesra dengan-Ku, dan merasa asing dari selain-Ku.' Dan ditanyakan kepada Rabi'ah: 'Dengan apa engkau mencapai kedudukan ini?' Ia menjawab: 'Dengan meninggalkan apa yang tidak berguna bagiku, dan merasa mesra dengan Dzat Yang Mahasentiasa Ada.'
وقال عبد الواحد بن زيد مررت براهب فقلت له يا راهب لقد أعجبتك الوحدة فقال يا هذا لو ذقت حلاوة الوحدة لاستوحشت إليها من نفسك الوحدة رأس العبادة فقلت يا راهب ما أقل ما تجده في الوحدة قال الراحة من مداراة الناس والسلامة من شرهم قلت يا راهب متى يذوق العبد حلاوة الأنس بالله تعالى قال إذا صفا الود وخلصت المعاملة قلت ومتى يصفو الود قال إذا اجتمع الهم فصار هما واحد في الطاعة وقال بعض الحكماء عجباً للخلائق كيف أرادوا بك بدلاً عجباً للقلوب كيف استأنست بسواك عنك
Abdul Wahid bin Zaid berkata: Aku melewati seorang rahib, lalu aku berkata kepadanya, 'Wahai rahib, sungguh engkau sangat menyukai kesendirian!' Rahib itu menjawab, 'Wahai kawan, seandainya engkau merasakan manisnya kesendirian, niscaya engkau akan merasa asing terhadap dirimu sendiri demi menuju kesendirian itu. Kesendirian adalah puncak ibadah.' Aku bertanya, 'Wahai rahib, apakah hal terkecil yang engkau dapatkan dalam kesendirian?' Ia menjawab, 'Ketenangan dari beramah-tamah dengan manusia dan keselamatan dari keburukan mereka.' Aku bertanya, 'Wahai rahib, bilakah seorang hamba merasakan manisnya uns kepada Allah Ta'ala?' Ia menjawab, 'Apabila ketulusan cinta telah murni dan kebersamaan amalan telah bersih.' Aku bertanya, 'Bilakah ketulusan cinta itu murni?' Ia menjawab, 'Apabila seluruh hasrat menyatu menjadi satu hasrat saja dalam ketaatan.' Sebagian hukama berkata: 'Sungguh mengherankan bagi para makhluk, bagaimana mereka menginginkan pengganti dari-Mu! Sungguh mengherankan bagi hati, bagaimana ia bisa merasa mesra dengan selain-Mu ketimbang dengan-Mu!'
فإن قلت فما علامة الأنس فاعلم أن علامته الخاصة ضيق الصدر من معاشرة الخلق والتبرم بهم واستهتاره بعذوبة الذكر فإن خالط فهو كمنفرد في جماعة ومجتمع في خلوة وغريب في حضر وحاضر في سفر وشاهد في غيبة وغائب في حضور مخالط بالبدن منفرد بالقلب مستغرق بعذوبة الذكر كما قال علي كرم الله وجهه في وصفهم هم قوم هجم بهم العلم على حقيقة الأمر فباشروا روح اليقين واستلانوا ما استوعر المترفون وأنسوا بما استوحش منه الجاهلون صحبوا الدنيا بأبدان أرواحها معلقة بالمحل الأعلى أولئك خلفاء الله في أرضه والدعاة إلى دينه
Jika engkau bertanya: Apakah tanda dari uns? Maka ketahuilah bahwa tandanya yang khusus adalah sempitnya dada saat bergaul dengan makhluk dan merasa jenuh dengan mereka, serta kegandrungan pada manisnya dzikir. Jika ia bergaul, maka ia bagaikan orang yang menyendiri di tengah keramaian, orang yang berkumpul di dalam kesunyian, asing saat berada di tanah air, hadir saat berada dalam perjalanan, menyaksikan saat berada dalam kegaiban, dan gaib saat berada di tengah kehadiran; jasadnya bergaul namun hatinya menyendiri dan tenggelam dalam manisnya dzikir. Sebagaimana Ali karramallahu wajhah katakan dalam menggambarkan sifat mereka: 'Mereka adalah kaum yang ilmu membawa mereka secara tiba-tiba pada hakikat perkara, sehingga mereka menyentuh ketenangan (rauh) keyakinan, menganggap lembut apa yang dianggap kasar oleh orang-orang yang bermewah-mewahan, dan merasa mesra dengan apa yang ditakuti oleh orang-orang bodoh. Mereka menyertai dunia dengan jasad yang ruhnya terikat pada tempat yang Mahatinggi. Mereka itulah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan para penyeru kepada agama-Nya.'
فهذا معنى الأنس بالله وهذه علامته وهذه شواهده
Maka inilah makna uns kepada Allah, inilah tanda-tandanya, dan inilah bukti-buktinya.
وقد ذهب بعض المتكلمين إلى إنكار الأنس والشوق والحب لظنه أن ذلك يدل على التشبيه وجهله بأن جمال المدركات بالبصائر أكمل من جمال المبصرات ولذة معرفتها أغلب على ذوي القلوب ومنهم أحمد بن غالب يعرف بغلام الخليل أنكر على الجنيد وعلى أبي الحسن النوري والجماعة حديث الحب والشوق والعشق حتى أنكر بعضهم مقام الرضا وقال ليس إلا الصبر فأما الرضا فغير متصور
Sebagian ahli kalam (mutakallimin) telah berpendapat mengingkari adanya uns, syauq (rindu), dan hubb (cinta), karena sangkaan mereka bahwa hal itu mengarah pada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), serta ketidaktahuan mereka bahwa keindahan objek yang ditangkap oleh mata hati (bashirah) itu lebih sempurna daripada keindahan objek yang ditangkap oleh mata kepala, dan kelezatan makrifatnya lebih mendominasi bagi pemilik hati. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ghalib yang dikenal sebagai Ghulam al-Khalil, ia mengingkari Al-Junaid, Abu al-Hasan an-Nuri, dan kelompok sufi mengenai pembicaraan tentang cinta, kerinduan, dan 'isyq (kasih kasmaran). Bahkan sebagian mereka mengingkari maqam ridha dan berkata: 'Tidak ada kecuali sabar, adapun ridha itu tidak tergambarkan.'
وهذا كله كلام ناقص قاصر لم يطلع من مقامات الدين إلا على القشور فظن أنه لا وجود إلا للقشر فإن المحسوسات وكل ما يدخل في الخيال من طريق الدين قشر مجرد ووراءه اللب المطلوب فمن لم يصل من الجوز إلا إلى قشره يظن أن الجوز خشب كله ويستحيل عنده خروج الدهن منه لا محالة وهو معذور ولكن عذره غير مقبول وقد قيل
Semua ini adalah perkataan yang kurang dan dangkal, yang tidak melihat dari maqam-maqam agama melainkan hanya kulit luarnya saja, sehingga ia menyangka bahwa tidak ada keberadaan kecuali hanya kulit itu. Sebab hal-hal yang terindera dan semua yang masuk ke dalam khayalan dari jalan agama adalah kulit belaka, sedangkan di baliknya terdapat isi (lubb) yang dicari. Barangsiapa yang tidak sampai dari buah kenari kecuali pada kulitnya, ia akan menyangka bahwa buah kenari itu seluruhnya adalah kayu, dan mustahil baginya keluarnya minyak dari kenari tersebut secara pasti. Ia dimaklumi, namun pemaklumannya tidak dapat diterima. Dan telah dikatakan:
الأنس بالله لا يحويه بطال … وليس يدركه بالحول محتال
Uns (rasa mesra) kepada Allah tidak akan dapat dicapai oleh orang yang bermalas-malasan… dan tidak akan didapatkan dengan reka daya oleh orang yang penuh tipu daya.
والآنسون رجال كلهم نجب … وكلهم صفوة لله عمال
Dan orang-orang yang merasakan uns adalah para lelaki mulia… mereka semua adalah insan pilihan yang sungguh-sungguh beramal karena Allah.