القول في معنى الرضا بقضاء الله تعالى وحقيقته وما ورد في فضيلته
القول في معنى الرضا بقضاء الله تعالى وحقيقته وما ورد في فضيلته
Penjelasan tentang Makna Rida terhadap Ketetapan (Qadha') Allah Ta'ala, Hakikatnya, dan Keutamaan yang Diriwayatkan Mengenainya
اعلم أن الرضا ثمرة من ثمار المحبة وهو من أعلى مقامات المقربين وحقيقته غامضة على الأكثرين وما يدخل عليه من التشابه والإبهام غير منكشف إلا لمن علمه الله تعالى التأويل وفهمه وفقهه في الدين فقد أنكر منكرون تصور الرضا بما يخالف الهوى ثم قالوا إن أمكن الرضا بكل شيء لأنه فعل الله فينبغى أن يرضى بالكفر والمعاصى وانخدع بذلك قوم فرأوا الرضا بالفجور والفسوق وترك الاعتراض والإنكار من باب التسليم لقضاء الله تعالى
Ketahuilah bahwa rida adalah salah satu buah dari cinta (mahabbah), dan ia termasuk salah satu maqam tertinggi dari orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun). Hakikatnya samar bagi mayoritas orang, dan keserupaan serta kesamarannya tidak akan tersingkap kecuali bagi orang yang diajarkan oleh Allah Ta'ala ilmu takwil, serta diberi pemahaman dan kefahaman dalam agama. Sungguh, ada orang-orang yang mengingkari kemungkinan wujudnya rida terhadap hal-hal yang menyelisih hawa nafsu, lalu mereka berkata: 'Jika memungkinkan rida terhadap segala sesuatu karena ia adalah perbuatan Allah, maka hendaknya rida pula terhadap kekufuran dan kemaksiatan.' Kelompok lain pun tertipu oleh hal itu, sehingga mereka memandang rida terhadap kejahatan (fujur), kefasikan, serta meninggalkan penentangan dan pengingkaran sebagai bagian dari kepasrahan (taslim) terhadap qadha' Allah Ta'ala.
ولو انكشفت هذه الأسرار لمن اقتصر على سماع ظواهر الشرع لما دعا رسول الله ﷺ لابن عباس حيث قال اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل
Seandainya rahasia-rahasia ini terungkap bagi orang yang hanya mencukupkan diri dengan mendengar teks lahiriah syariat, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan mendoakan Ibnu Abbas saat beliau bersabda: 'Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.'
فلنبدأ ببيان فضيلة الرضا ثم بحكايات أحوال الراضين
Maka hendaklah kita mulai dengan penjelasan keutamaan rida, kemudian dilanjutkan dengan kisah-kisah tentang keadaan orang-orang yang rida.
ثم نذكر حقيقة الرضا وكيفية تصوره فيما يخالف الهوى ثم نذكر ما يظن أنه من تمام الرضا وليس منه كترك الدعاء والسكوت على المعاصي
Kemudian kita akan menyebutkan hakikat rida dan gambaran penerapannya pada hal-hal yang menyelisih hawa nafsu, lalu menyebutkan hal-hal yang dikira sebagai bagian dari kesempurnaan rida padahal bukan darinya, seperti meninggalkan doa dan berdiam diri terhadap kemaksiatan.