بيان فضيلة الرضا
بيان فضيلة الرضا
Penjelasan tentang Keutamaan Rida
أما من الآيات فقوله تعالى ﴿رضي الله عنهم ورضوا عنه﴾ وقد قال تعالى ﴿هل جزاء الإحسان إلا الإحسان﴾ ومنتهى الإحسان رضا الله عن عبده وهو ثواب رضا العبد عن الله تعالى
Adapun dari ayat-ayat Al-Qur'an, yaitu firman Allah Ta'ala: 'Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.' Dan Allah Ta'ala telah berfirman: 'Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).' Puncak kebaikan adalah keridaan Allah terhadap hamba-Nya, dan itu merupakan pahala atas keridaan hamba kepada Allah Ta'ala.
وقال تعالى ﴿ومساكن طيبة في جنات عدن ورضوان من الله أكبر﴾ فقد رفع الله الرضا فوق جنات عدن كما رفع ذكره فوق الصلاة حيث قال ﴿إن الصلاة تنهي عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر﴾ فكما أن مشاهدة المذكور في الصلاة أكبر من الصلاة فرضوان رب الجنة أعلى من الجنة بل هو غاية مطلب سكان الجنان
Dan Allah Ta'ala berfirman: '…dan tempat-tempat tinggal yang baik di dalam Surga Adn. Dan keridaan dari Allah adalah lebih besar.' Maka Allah mengangkat kedudukan keridaan di atas Surga Adn sebagaimana Dia mengangkat penyebutan nama-Nya (dzikr) di atas shalat, di mana Dia berfirman: 'Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan sungguh mengingat Allah (dzikrullah) itu lebih besar.' Maka sebagaimana menyaksikan Yang Diingat (al-Madzkur) dalam shalat adalah lebih besar daripada shalat itu sendiri, maka keridaan Tuhan pemilik surga adalah lebih tinggi daripada surga itu sendiri, bahkan ia merupakan puncak cita-cita penghuni surga.
وفي الحديث إن الله تعالى يتجلى للمؤمنين فيقول سلوني فيقولون رضاك فسؤالهم الرضا بعد النظر نهاية التفضيل
Dan dalam hadis disebutkan bahwa Allah Ta'ala menampakkan diri (tajalli) kepada orang-orang beriman seraya berfirman: 'Memintalah kepada-Ku!' Maka mereka berkata: 'Keridaan-Mu.' Permintaan mereka akan keridaan setelah memandang (melihat Allah) merupakan puncak pengutamaan.
وأما رضا العبد فسنذكر حقيقته وأما رضوان الله تعالى عن العبد فهو بمعنى آخر يقرب مما ذكرناه في حب الله للعبد ولا يجوز أن يكشف عن حقيقته إذ تقصر أفهام الخلق عن دركه ومن يقوى عليه فيستقل بإدراكه من نفسه
Adapun rida hamba, kelak akan kami sebutkan hakikatnya. Adapun keridaan Allah Ta'ala terhadap hamba, ia memiliki makna lain yang mendekati apa yang telah kami sebutkan dalam pembahasan cinta Allah kepada hamba. Dan tidak diperbolehkan untuk menyingkap hakikatnya karena pemahaman makhluk terlalu lemah untuk menggapainya, sedangkan barang siapa yang memiliki kemampuan untuk itu, niscaya ia akan dapat mencapainya secara mandiri dari dalam dirinya.
وعلى الجملة فلا رتبة فوق النظر إليه فإنما سألوه الرضا لأنه سبب دوام النظر فكأنهم رأوه غاية الغايات وأقصى الأماني لما ظفروا بنعيم النظر فلما أمروا بالسؤال لم يسألوا إلا دوامه وعلموا أن الرضا هو سبب دوام رفع الحجاب
Kesimpulannya, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada memandang (Dzat)-Nya. Mereka memohon keridaan-Nya semata-mata karena keridaan itu merupakan sebab kelestarian memandang-Nya. Seolah-olah mereka memandangnya sebagai puncak dari segala tujuan dan cita-cita tertinggi ketika mereka meraih kenikmatan memandang (Dzat-Nya). Maka ketika mereka diperintahkan untuk memohon, mereka tidak memohon melainkan kelestarian kenikmatan tersebut, dan mereka mengetahui bahwa keridaan adalah sebab terangkatnya hijab secara terus-menerus.
وقال الله تعالى ﴿ولدينا مزيد﴾ قال بعض المفسرين يأتي أهل الجنة في وقت المزيد ثلاث تحف من عند رب العالمين أحداها هدية من عند الله تعالى ليس عندهم في الجنان مثلها فذلك قَوْلِهِ تَعَالَى فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لهم من قرة عين والثانية السلام عليهم من ربهم فيزيد ذلك على الهدية فضلاً وهو قوله تعالى ﴿سلام قولاً من رب رحيم﴾ والثالثة يقول الله تعالى إني عنكم راض فيكون ذلك أفضل من الهدية والتسليم فذلك قوله تعالى ﴿ورضوان من الله أكبر﴾ أي من النعيم الذي هم فيه فهذا فضل رضا الله تعالى وهو ثمرة رضا العبد
Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan pada sisi Kami ada tambahannya." (QS. Qaf: 35). Sebagian mufasir berkata: Ahli surga pada saat 'tambahan' (al-mazid) akan mendapatkan tiga karunia dari Tuhan semesta alam. Salah satunya adalah hadiah dari Allah Ta'ala yang tidak pernah ada bandingannya bagi mereka di surga-surga, itulah firman-Nya Ta'ala, "Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati." (QS. As-Sajdah: 17). Yang kedua adalah ucapan salam atas mereka dari Tuhan mereka, sehingga hal itu menambah keutamaan melebihi hadiah tadi, yaitu firman-Nya Ta'ala, "(Kepada mereka dikatakan): 'Salam', sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS. Yasin: 58). Dan yang ketiga, Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Aku rida kepada kalian," maka hal ini menjadi lebih utama daripada hadiah dan ucapan salam tersebut. Itulah firman-Nya Ta'ala, "Dan keridaan Allah itu lebih besar," (QS. At-Tawbah: 72), yaitu lebih besar dari kenikmatan yang sedang mereka rasakan. Inilah keutamaan keridaan Allah Ta'ala, dan ia merupakan buah dari keridaan seorang hamba.
وأما من الأخبار فقد رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سأل طائفة من أصحابه ما أنتم فقالوا مؤمنون فقال ما علامة إيمانكم فقالوا نصبر على البلاء ونشكر عند الرخاء ونرضى بمواقع القضاء فقال مؤمنون ورب الكعبة وفي خبر آخر أنه قال حكماء علماء كادوا من فقههم أن يكونوا أنبياء وفي الخبر طوبى لمن هدي للإسلام وكان رزقه كفافاً ورضي بِهِ وَقَالَ ﷺ مَنْ رضي من الله تعالى بالقليل من الرزق رضي الله تعالى منه بالقليل من العمل وقال أيضاً إذا أحب الله تعالى عبداً ابتلاه فإن صبر اجتباه فإن رضي اصطفاه وقال أيضاً إذا كان يوم القيامة أنبت الله تعالى لطائفة من أمتي أجنحة فيطيرون من قبورهم إلى
Adapun dari riwayat-riwayat hadis, telah diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepada sekelompok sahabatnya, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang beriman." Beliau bertanya, "Apakah tanda keimanan kalian?" Mereka menjawab, "Kami bersabar atas cobaan, bersyukur saat lapang, dan rida dengan ketetapan takdir." Beliau bersabda, "(Kalian benar-benar) orang beriman, demi Tuhan Pemilik Ka'bah." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, "(Kalian adalah orang-orang yang) bijaksana dan berilmu, yang hampir saja karena mendalamnya kefahaman (spiritual) mereka, mereka menjadi para nabi." Dalam riwayat lain: "Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, rezekinya cukup, dan ia rida dengannya." Dan Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa yang rida kepada Allah Ta'ala dengan rezeki yang sedikit, maka Allah Ta'ala rida kepadanya dengan amal yang sedikit." Beliau juga bersabda, "Apabila Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya. Jika ia bersabar, Dia memilihnya. Dan jika ia rida, Dia menyucikannya." Beliau juga bersabda, "Apabila hari kiamat tiba, Allah Ta'ala menumbuhkan sayap bagi sekelompok dari umatku, lalu mereka terbang dari kubur mereka menuju…
الجنان يسرحون فيها ويتنعمون فيها كيف شاءوا فتقول لهم الملائكة هل رأيتم الحساب فيقولون ما رأينا حساباً فتقول لهم هل جزتم الصراط فيقولون ما رأينا صراطاً فتقول لهم هل رأيتم جهنم فيقولون ما رأينا شيئاً فتقول الملائكة من أمة من أنتم فيقولون من أمة محمد ﷺ فتقول ناشدناكم الله حدثونا ما كانت أعمالكم في الدنيا فيقولون خصلتان كانتا فينا فبلغنا هذه المنزلة بفضل رحمة الله فيقولون وماهما فيقولون كنا إذا خلونا نستحي أن نعصيه ونرضى باليسير مما قسم لنا فتقول الملائكة يحق لكم هذا وَقَالَ ﷺ يَا مَعْشَرَ الفقراء أعطوا الله الرضا من قلوبكم تظفروا بثواب فقركم وإلا فلا
…surga-surga, mereka bersenang-senang di dalamnya dan menikmati kenikmatan sekehendak mereka. Maka para malaikat bertanya kepada mereka, 'Apakah kalian telah melihat hisab?' Mereka menjawab, 'Kami tidak melihat hisab.' Para malaikat bertanya, 'Apakah kalian telah melintasi shirath?' Mereka menjawab, 'Kami tidak melihat shirath.' Para malaikat bertanya, 'Apakah kalian telah melihat Jahannam?' Mereka menjawab, 'Kami tidak melihat apa pun.' Para malaikat bertanya, 'Dari umat siapakah kalian?' Mereka menjawab, 'Dari umat Muhammad ﷺ.' Para malaikat berkata, 'Demi Allah kami memohon kepada kalian, ceritakanlah kepada kami apa amal-amal kalian di dunia?' Mereka menjawab, 'Ada dua perkara yang ada pada kami sehingga kami mencapai derajat ini dengan karunia rahmat Allah.' Para malaikat bertanya, 'Apakah dua perkara itu?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu apabila bersendirian merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya, dan kami rida dengan rezeki yang sedikit yang dibagikan untuk kami.' Para malaikat berkata, 'Sudah sepantasnya kalian mendapatkan ini.' Dan Nabi ﷺ bersabda, 'Wahai sekalian orang-orang fakir, berikanlah keridaan dari hati kalian kepada Allah, niscaya kalian akan memperoleh pahala kefakiran kalian; jika tidak, maka tidak.'
وفي أخبار موسى ﵇ إن بني إسرائيل قالوا له سل لنا ربك أمراً إذا نحن فعلناه يرضى به عنا فقال موسى ﵇
Dan dalam riwayat-riwayat tentang Nabi Musa 'Alaihissalam, sesungguhnya Bani Israil berkata kepadanya, "Pohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu suatu perkara yang apabila kami mengerjakannya, Dia akan rida kepada kami." Maka Musa 'Alaihissalam berkata:
إلهي قد سمعت ما قالوا فقال يا موسى قل لهم يرضون عنى حتى أرضى عنهم
"Wahai Tuhanku, Engkau telah mendengar apa yang mereka katakan." Maka Allah berfirman, "Wahai Musa, katakanlah kepada mereka: Hendaklah mereka rida kepada-Ku hingga Aku pun rida kepada mereka."
ويشهد لهذا ما روي عن نبينا ﷺ أنه قال من أحب أن يعلم ماله عند الله ﷿ فلينظر ما لله ﷿ عنده فإن الله ﵎ ينزل العبد منه حيث أنزله العبد من نفسه حديث قال الله أنا الله لا إله إلا أنا من لم يصبر على بلائي الحديث أخرجه الطبرانى في الكبير وابن حبان في الضعفاء من حديث أبى هند الدارى مقتصرا على قوله من لم يرض بقضائى ويصبر على بلائى فليلتمس ربا سواى وإسناده ضعيف وفي الخبر المشهور يقول الله تعالى خلقت الخير والشر فطوبى لمن خلقته للخير وأجريت الخير على يديه وويل لمن خلقته للشر وأجريت الشر على يديه وويل ثم ويل لمن قال لم وكيف
Hal ini didukung oleh apa yang diriwayatkan dari Nabi kita ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla, hendaklah ia melihat bagaimana kedudukan Allah Azza wa Jalla dalam dirinya. Sebab, Allah Ta'ala menempatkan seorang hamba di sisi-Nya sebagaimana hamba itu menempatkan Allah dalam dirinya." Mengenai hadis: Allah berfirman, "Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, barang siapa tidak bersabar atas cobaan-Ku…"; Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dan Ibn Hibban dalam Al-Dhu'afa' dari hadis Abu Hind Al-Dari secara ringkas pada sabda-Nya: "Barang siapa tidak rida dengan takdir-Ku dan tidak bersabar atas ujian-Ku, hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku," dan sanadnya dhaif. Dan dalam hadis yang masyhur Allah Ta'ala berfirman: "Aku menciptakan kebaikan dan kejahatan. Maka beruntunglah bagi orang yang Aku ciptakan untuk kebaikan dan Aku jalankan kebaikan melalui kedua tangannya. Dan celakalah bagi orang yang Aku ciptakan untuk kejahatan dan Aku jalankan kejahatan melalui kedua tangannya, serta celaka dan sungguh celakalah bagi orang yang bertanya: 'Mengapa dan bagaimana?'"
وفي الأخبار السالفة أن نبياً من الأنبياء شكا إلى الله ﷿ الجوع والفقر والقمل عشر سنين فما أجيب إلى ما أراد ثم أوحى الله تعالى إليه كم تشكو هكذا كان بدؤك عندي في أم الكتاب قبل أن أخلق السموات
Dalam riwayat-riwayat terdahulu disebutkan bahwa salah seorang nabi pernah mengadukan kelaparan, kefakiran, dan gangguan kutu kepada Allah Azza wa Jalla selama sepuluh tahun, namun keinginannya belum dikabulkan. Kemudian Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, "Sampai kapan engkau mengeluh? Demikianlah permulaan ketetapanmu di sisi-Ku dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Aku menciptakan langit…
والأرض وهكذا سبق لك مني وهكذا قضيت عليك قبل أن أخلق الدنيا أفتريد أن أعيد خلق الدنيا من أجلك أم تريد أن أبدل ما قدرته عليك فيكون ما تحب فوق ما أحب ويكون ما تريد فوق ما أريد وعزتي وجلالي لئن تلجلج هذا في صدرك مرة أخرى لأمحونك من ديوان النبوة
…dan bumi, dan demikianlah ketetapan terdahulu dari-Ku untukmu, serta demikianlah yang telah Aku takdirkan atasmu sebelum Aku menciptakan dunia. Apakah engkau ingin Aku menciptakan kembali dunia demi dirimu, atau engkau ingin Aku mengubah apa yang telah Aku takdirkan untukmu, sehingga apa yang engkau sukai berada di atas apa yang Aku sukai, dan apa yang engkau kehendaki berada di atas apa yang Aku kehendaki? Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, jika hal ini terbersit di dalam dadamu sekali lagi, niscaya Aku akan menghapusmu dari daftar kenabian!"
وروي أن آدم ﵇ كان بعض أولاده الصغار يصعدون على بدنه وينزلون يجعل أحدهم رجله على أضلاعه كهيئة الدرج فيصعد إلى رأسه من ينزل على أضلاعه كذلك وهو مطرق إلى الأرض لا ينطق ولا يرفع رأسه فقال له بعض ولده يا أبت أما ترى ما يصنع هذا بك لو نهيته عن هذا فقال يا بني إني رأيت ما لم تروا وعلمت ما لم تعلموا إني تحركت حركة واحدة فأهبطت من دار الكرامة إلى دار الهوان ومن دار النعيم إلى دار الشقاء
Diriwayatkan bahwa Nabi Adam 'Alaihissalam pernah dinaiki dan dituruni oleh sebagian anak-anak kecilnya di tubuhnya. Salah seorang dari mereka meletakkan kakinya di atas tulang rusuknya seperti tangga, lalu memanjat sampai ke kepalanya, sementara yang lain turun melewati rusuknya seperti itu pula. Namun Adam hanya menunduk ke tanah, tidak berbicara dan tidak mengangkat kepalanya. Sebagian anaknya berkata kepadanya, "Wahai ayahku, apakah engkau tidak melihat apa yang dilakukan anak ini kepadamu? Betapa baiknya jika engkau melarangnya!" Adam menjawab, "Wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat apa yang belum kalian lihat, dan aku mengetahui apa yang belum kalian ketahui. Sesungguhnya aku dahulu bergerak dengan satu gerakan saja, lalu aku diturunkan dari kediaman kemuliaan menuju kediaman kehinaan, dan dari kediaman kenikmatan menuju kediaman kesengsaraan.
فأخاف أن أتحرك أخرى فيصيبنى مالا أعلم
Maka aku takut jika aku bergerak sekali lagi, akan menimpaku apa yang tidak aku ketahui."
وقال أنس بن مالك ﵁ خدمت رسول الله ﷺ عشر سنين فما قال لي لشيء فعلته لم فعلته ولا لشيء لم أفعله لم لا فعلته ولا قال في شيء كان ليته لم يكن ولا في شيء لم يكن ليته كان وكان إذا خاصمني مخاصم من أهله يقول دعوه لو قضي شيء لكان
Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata, "Aku telah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah berkata kepadaku tentang sesuatu yang telah aku lakukan, 'Mengapa engkau melakukannya?' Tidak pula tentang sesuatu yang belum aku lakukan, 'Mengapa engkau tidak melakukannya?' Beliau juga tidak pernah berkata tentang sesuatu yang telah terjadi, 'Seandainya itu tidak terjadi,' ataupun tentang sesuatu yang tidak terjadi, 'Seandainya itu terjadi.' Dan apabila ada salah seorang keluarga beliau yang menegurku, beliau bersabda, 'Biarkanlah dia, karena jika sesuatu telah ditakdirkan, niscaya ia pasti terjadi.'"
ويروى أن الله تعالى أوحى إلى داود ﵇ يا داود إنك تريد وأريد وإنما يكون ما أريد فإن سلمت لما أريد كفيتك ما تريد وإن لم تسلم لما أريد أتعبتك فيما تريد ثم لا يكون إلا ما أريد
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Dawud 'Alaihissalam: "Wahai Dawud, engkau berkehendak dan Aku pun berkehendak, namun yang akan terjadi hanyalah apa yang Aku kehendaki. Jika engkau berserah diri terhadap apa yang Aku kehendaki, niscaya Aku mencukupkan bagimu apa yang engkau kehendaki. Namun jika engkau tidak berserah diri terhadap apa yang Aku kehendaki, niscaya Aku akan membuatmu letih dalam mengejar apa yang engkau kehendaki, lalu tidak akan terjadi melainkan apa yang Aku kehendaki."
وأما الآثار فقد قال ابن عباس ﵄
Adapun atsar (riwayat para sahabat dan tabi'in), Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma berkata:
أول من يدعى إلى الجنة يوم القيامة الذين يحمدون الله تعالى على كل حال
"Orang pertama yang dipanggil menuju surga pada hari kiamat adalah orang-orang yang senantiasa memuji Allah Ta'ala dalam segala keadaan."
وقال عمر بن عبد العزيز ما بقي لي سرور إلا في مواقع القدر وقيل له ما تشتهي فقال ما يقضي الله
Umar bin Abdul Aziz berkata, "Tidak ada lagi kegembiraan bagiku melainkan pada tempat-tempat jatuhnya takdir (apa yang ditetapkan Allah)." Dan ketika ditanyakan kepadanya, "Apakah yang engkau inginkan?" Beliau menjawab, "Apa yang ditetapkan oleh Allah."
وقال ميمون بن مهران من لم يرض بالقضاء فليس لحمقه دواء
Maymun bin Mihran berkata, "Barang siapa yang tidak rida terhadap takdir, maka tidak ada obat bagi kebodohannya."
وقال الفضيل إن لم تصبر على تقدير الله لم تصبر على تقدير نفسك وقال عبد العزيز بن أبي رواد ليس الشأن في أكل خبز الشعير والخل ولا في لبس الصوف والشعر ولكن الشأن في الرضا عن الله ﷿ وقال عبد الله بن مسعود لأن الحس جمرة أحرقت ما أحرقت وأبقت ما أبقت أحب إلي من أن أقول لشئ كان ليته لم يكن أو لشيء لم يكن ليته كان
Al-Fudhail berkata, "Jika engkau tidak bersabar atas ketetapan Allah, engkau pun tidak akan bersabar atas takdir dirimu sendiri." Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata, "Perkaranya bukanlah sekadar memakan roti gandum kasar dan cuka, bukan pula mengenakan kain wol dan bulu, melainkan perkaranya adalah rida kepada Allah Azza wa Jalla." Dan Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sungguh memegang bara api yang membakar apa yang dibakarnya dan menyisakan apa yang disisakannya, lebih aku sukai daripada aku mengatakan terhadap sesuatu yang telah terjadi: 'Seandainya itu tidak terjadi,' atau terhadap sesuatu yang belum terjadi: 'Seandainya itu terjadi.'"
ونظر رجل إلى قرحة في رجل محمد بن واسع فقال إني لأرحمك من هذه القرحة فقال إني لأشكرها منذ خرجت إذ لم تخرج في عيني
Seseorang melihat luka bernanah di kaki Muhammad bin Wasi', lalu berkata, "Sungguh aku merasa kasihan kepadamu karena luka ini." Maka Muhammad bin Wasi' menjawab, "Sesungguhnya aku telah bersyukur atasnya sejak luka ini muncul, karena ia tidak muncul di mataku."
وروي في الإسرائيليات أن عابداً عبد الله دهراً طويلاً فأري في المنام فلانة الراعية رفيقتك في الجنة فسأل عنها إلى أن وجدها فاستضافها ثلاثاً لينظر إلى عملها فكان يبيت قائماً وتبيت نائمة ويظل صائما وتظل مفطرة
Diriwayatkan dalam kisah-kisah Israiliyat bahwa seorang ahli ibadah telah beribadah kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat lama. Kemudian ia diperlihatkan dalam mimpi: "Fulanah sang penggembala adalah pendampingmu di surga." Maka ia pun mencari informasi tentangnya hingga berhasil menemukannya. Ia lalu bertamu kepadanya selama tiga hari untuk melihat amal ibadahnya. Ahli ibadah itu menghabiskan malam dengan shalat (berdiri) sedangkan perempuan itu tidur; dan ia menjalankan puasa di siang hari sedangkan perempuan itu tidak berpuasa.
فقال أما لك عمل غير ما رأيت فقالت ماهو والله إلا ما رأيت لا أعرف غيره فلم يزل يقول تذكري حتى قالت خصيلة واحدة هي في إن كنت في شدة لم أتمن أن أكون في رخاء وإن كنت في مرض لم أتمن أن أكون في صحة وإن كنت في الشمس لم أتمن أن أكون في الظل فوضع العابد يده على رأسه وقال أهذه خصيلة هذه والله خصلة عظيمة يعجز عنها العباد
Maka ia (si ahli ibadah) berkata, "Apakah engkau tidak memiliki amal lain selain yang aku lihat ini?" Perempuan itu menjawab, "Demi Allah, tidak ada selain apa yang telah engkau lihat, aku tidak mengetahui yang lain." Ahli ibadah itu terus berkata, "Ingat-ingatlah!" Hingga akhirnya perempuan itu berkata, "Ada satu pekerti pada diriku: jika aku berada dalam kesusahan, aku tidak berharap berada dalam kelapangan; jika aku sedang sakit, aku tidak berharap berada dalam kesehatan; dan jika aku berada di bawah terik matahari, aku tidak berharap berada di tempat yang teduh." Ahli ibadah itu lalu meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya berkata, "Apakah ini sekadar pekerti biasa? Demi Allah, ini adalah pekerti yang amat agung yang membuat para ahli ibadah merasa lemah untuk mencapainya."
وعن بعض السلف أن الله تعالى إذا قضى في السماء قضاء أحب من أهل الأرض أن يرضوا بقضائه
Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa apabila Allah Ta'ala menetapkan suatu takdir di langit, Dia menyukai agar penduduk bumi rida terhadap ketetapan-Nya.
وقال أبو الدرداء ذروة الإيمان الصبر للحكم والرضا بالقدر وقال عمر ﵁
Abu ad-Darda' berkata, "Puncak keimanan adalah bersabar menghadapi hukum (ketetapan Allah) dan rida terhadap takdir." Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata:
ما أبالي على أي حال أصبحت وأمسيت من شدة أو رخاء
"Aku tidak peduli dalam keadaan bagaimana aku memasuki pagi dan petang, apakah dalam kesusahan atau kelapangan."
وقال الثوري يوماً عند رابعة اللهم ارض عني فقالت أما تستحي من الله أن تسأله الرضا وأنت عنه غير راض فقال أستغفر الله فقال جعفر بن سليمان الضبعي فمتى يكون العبد راضياً عن الله
Pada suatu hari, Sufyan ats-Tsauri berkata di hadapan Rabi'ah (al-Adawiyah), "Ya Allah, ridailah aku." Maka Rabi'ah berkata, "Tidakkah engkau malu kepada Allah meminta keridaan-Nya padahal engkau sendiri belum rida kepada-Nya?" Ats-Tsauri pun berkata, "Aku memohon ampunan Allah." Lalu Ja'far bin Sulaiman adh-Dhuba'i bertanya, "Kapan seorang hamba dikatakan telah rida kepada Allah Ta'ala?"
تعالى قالت إذا كان سروره بالمصيبة مثل سروره بالنعمة
Rabi'ah menjawab, "Apabila kegembiraannya saat tertimpa musibah sama seperti kegembiraannya saat menerima nikmat."
وكان الفضيل يقول إذا استوى عنده المنع والعطاء فقد رضي عن الله تعالى وقال أحمد بن أبي الحواري قال أبو سليمان الداراني إن الله ﷿ من كرمه قد رضي من عبيده بما رضي العبيد من مواليهم قلت وكيف ذاك قال أليس مراد العبد من الخلق أن يرضى عنه مولاه قلت نعم قال فإن محبة الله من عبيده أن يرضوا عنه
Fudhail bin 'Iyadh biasa berkata, "Apabila penahanan pemberian dan pemberian telah bernilai sama baginya, maka ia sungguh telah rida kepada Allah Ta'ala." Ahmad bin Abil Hawari bercerita: Abu Sulaiman ad-Darani berkata, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla, karena kemuliaan-Nya, telah rida terhadap hamba-hamba-Nya sebagaimana hamba rida kepada tuannya." Aku bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Beliau menjawab, "Bukankah kehendak seorang hamba terhadap sesama makhluk adalah agar tuannya rida kepadanya?" Aku menjawab, "Ya." Beliau berkata, "Maka kecintaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya adalah agar mereka rida kepada-Nya."
وقال سهل حظ العبيد من اليقين على قدر حظهم من الرضا وحظهم من الرضا على قدر عيشهم مع الله ﷿ وقد قال النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ اللَّهَ ﷿ بحكمته وجلاله جعل الروح والفرح في الرضا واليقين وجعل الغم والحزن في الشك والسخط
Sahl berkata, "Bagian hamba terhadap keyakinan (yaqin) adalah sesuai dengan bagian mereka dalam sikap rida, dan bagian mereka dalam sikap rida sesuai dengan kedekatan hidup mereka bersama Allah 'Azza wa Jalla." Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla dengan hikmah dan keagungan-Nya menjadikan ketenteraman dan kegembiraan berada dalam sikap rida dan keyakinan, serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan berada dalam keraguan dan kejengkelan terhadap takdir."