مدخل
مدخل
Pengantar
…
…
باب البيع
Bab Jual Beli
باب البيع
Bab Jual Beli
هو لغة: مقابلة شيء بشيء. وشرعا: مقابلة مال بمال على وجه مخصوص.
Jual beli secara bahasa adalah: menukar sesuatu dengan sesuatu. Secara syariat adalah: menukar harta dengan harta dengan cara yang khusus.
والأصل فيه قبل الإجماع آيات كقوله تعالى: ﴿وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ﴾
Dasar hukum jual beli sebelum adanya ijmak (konsensus ulama) adalah ayat-ayat Al-Qur'an, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ﴾ ("Dan Allah telah menghalalkan jual beli").
يصح بإيجاب كبعتك وملكتك ذا بكذا وقبول كاشتريت وقبلت هذا بكذا,
Jual beli sah dengan ijab, seperti ucapan penjual: "Aku jual barang ini kepadamu dengan harga sekian" dan "Aku milikkan barang ini kepadamu dengan harga sekian", serta qabul, seperti ucapan pembeli: "Aku beli" dan "Aku terima barang ini dengan harga sekian".
[٢ سورة البقرة الآية: ٢٧٥] وأخبار كخبر: سئل النبي ﷺ: "أي الكسب أطيب؟ فقال: "عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور" [مسند أحمد رقم: ١٦٨١٤] أي لا غش فيه ولا خيانة.
[QS. Al-Baqarah: 275], serta hadis-hadis seperti riwayat bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya: "Pekerjaan manakah yang paling baik?" Beliau menjawab: "Usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur" [Musnad Ahmad no. 16814], yaitu jual beli yang tidak ada kecurangan dan pengkhianatan di dalamnya.
يصح البيع بإيجاب من البائع ولو هزلا وهو ما دل على التمليك دلالة ظاهرة: كبعتك ذا بكذا أو هو لك بكذا وملكتك أو وهبتك ذا بكذا وكذا جعلته لك بكذا إن نوى به البيع.
Jual beli sah dengan ijab dari pihak penjual meskipun secara bergurau (main-main), yaitu ucapan yang menunjukkan pemindahan kepemilikan secara jelas: seperti "Aku jual barang ini kepadamu dengan harga sekian", "Barang ini untukmu dengan harga sekian", "Aku milikkan barang ini kepadamu dengan harga sekian", "Aku hibahkan barang ini kepadamu dengan harga sekian", atau "Aku jadikan barang ini untukmu dengan harga sekian" jika ia berniat jual beli dengan ucapan tersebut.
وقبول من المشتري ولو هزلا وهو ما دل على التملك كذلك: كاشتريت هذا بكذا وقبلت أو رضيت أو أخذت أو تملكت هذا بكذا.
Dan dengan qabul dari pihak pembeli meskipun secara bergurau, yaitu ucapan yang menunjukkan penerimaan kepemilikan seperti itu juga: seperti "Aku beli barang ini dengan harga sekian", "Aku terima", "Aku rida", "Aku ambil", atau "Aku miliki barang ini dengan harga sekian".
وذلك لتتم الصيغة الدال على اشتراطها قوله ﷺ: "إنما البيع عن تراض" [ابن ماجه رقم: ٢١٨٥] .
Hal itu agar akad (shighah) sempurna, yang mana syarat adanya shighah tersebut didasarkan pada sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya jual beli itu harus didasari atas kerelaan (suka sama suka)" [Sunan Ibn Majah no. 2185].
والرضا خفي فاعتبر ما يدل عليه من اللفظ فلا ينعقد بالمعاطاة لكن اختير الانعقاد بكل ما يتعارف البيع بها فيه: كالخبز واللحم دون نحو الدواب والأراضي.
Kerelaan adalah hal yang tersembunyi, maka diperhitungkanlah ucapan yang menunjukkannya. Oleh karena itu, jual beli tidak sah dengan mu'athah (serah terima tanpa lafal), tetapi pendapat yang dipilih (mukhtar) adalah sahnya jual beli dengan segala cara yang berlaku umum ('urf) sebagai jual beli: seperti pada roti dan daging, bukan pada barang berharga seperti hewan ternak dan tanah.
فعلى الأول: المقبوض بها كالمقبوض بالبيع الفاسد أي في أحكام الدنيا أما في الآخرة فلا مطالبة بها.
Maka menurut pendapat pertama: barang yang diterima melalui mu'athah berstatus seperti barang yang diterima dalam jual beli yang fasad (rusak/tidak sah), yaitu dalam hukum-hukum duniawi. Adapun di akhirat, tidak ada tuntutan atas barang tersebut.
ويجري خلافها في سائر العقود وصورتها: أن يتفقا على ثمن ومثمن وإن لم يوجد لفظ من واحد ولو قال متوسط للبائع: بعت؟
Perbedaan pendapat mengenai mu'athah ini juga berlaku pada seluruh akad lainnya. Gambaran mu'athah yaitu: kedua belah pihak sepakat mengenai harga dan barang meskipun tidak ada lafal ucapan dari salah satunya. Dan jikalau seorang perantara berkata kepada penjual: "Apakah engkau menjualnya?"
بلا فصل وتخلل لفظ أجنبي وتعليق وتأقيت وشرط في عاقد تكليف وإسلام لتملك مسلم
tanpa jeda, tanpa diselingi lafal asing, tanpa digantungkan (ta'liq), tanpa pembatasan waktu (ta'qit); serta disyaratkan pada pihak yang berakad: taklif (berakal dan balig) serta Islam untuk memiliki hamba sahaya muslim
فقال: نعم أو إي وقال للمشتري اشتريت؟ فقال: نعم صح.
Lalu penjual menjawab: "Ya", dan perantara berkata kepada pembeli: "Apakah engkau membelinya?" Lalu pembeli menjawab: "Ya", maka akad tersebut sah.
ويصح أيضا بنعم منهما لجواب قول المشتري بعت والبائع اشتريت.
Jual beli juga sah dengan jawaban "ya" dari keduanya sebagai jawaban atas pertanyaan pembeli: "Apakah engkau menjualnya?" dan pertanyaan penjual: "Apakah engkau membelinya?"
ولو قرن بالإيجاب أو القبول حرف استقبال كأبيعك لم يصح.
Jika ijab atau qabul disertai huruf istiqbal (yang menunjukkan masa depan), seperti "Aku akan menjualnya kepadamu", maka jual beli tidak sah.
قال شيخنا: ويظهر أنه يغتفر من العامي نحو فتح تاء المتكلم.
Guru kami berkata: Tampak jelas bahwa kesalahan dari orang awam dimaafkan, seperti membaca fathah pada huruf ta' mutakallim (pembicara).
وشرط صحة الإيجاب والقبول كونهما بلا فصل بسكوت طويل يقع بينهما بخلاف اليسير.
Syarat sahnya ijab dan qabul adalah keduanya tanpa jeda berupa diam yang lama di antara keduanya, berbeda dengan diam yang sebentar.
ولا تخلل لفظ وإن قل.
Dan tidak ada selingan lafal, meskipun sedikit,
أجنبي عن العقد بأن لم يكن من مقتضاه ولا من مصالحه.
yang asing dari akad, sekira lafal tersebut bukan merupakan konsekuensi akad dan bukan pula dari kemaslahatannya.
ويشترط أيضا أن يتوافقا معنى لا لفظا فلو قال بعتك بألف فزاد أو نقص أو بألف حالة فأجل أو عكسه أو مؤجلة بشهر فزاد لم يصح للمخالفة.
Disyaratkan pula keduanya (ijab dan qabul) saling bersesuaian secara makna, bukan secara lafal. Jika penjual berkata: "Aku menjualnya kepadamu dengan harga seribu", lalu pembeli menambahi atau menguranginya, atau "dengan harga seribu tunai" lalu pembeli menundanya (kredit) atau sebaliknya, atau "ditangguhkan selama sebulan" lalu pembeli menambahi jangka waktunya, maka akad tidak sah karena adanya ketidaksesuaian.
وبلا تعليق فلا يصح معه كإن مات أبي فقد بعتك هذا ولا تأقيت كبعتك هذا شهرا.
Dan tanpa digantungkan (pada suatu syarat), maka tidak sah akad yang disertai penggantungan (ta'liq), seperti: "Jika ayahku meninggal, maka sungguh aku telah menjual ini kepadamu", dan tidak pula (boleh) ada pembatasan waktu (ta'qit), seperti: "Aku menjual ini kepadamu selama satu bulan."
وشرط في عاقد بائعا كان أن مشتريا تكليف فلا يصح عقد صبي ومجنون وكذا من مكره بغير حق لعدم رضاه.
Disyaratkan pada orang yang melakukan akad (aqid), baik sebagai penjual maupun pembeli, yaitu mukallaf (berakal dan baligh), maka tidak sah akad anak kecil dan orang gila, demikian pula akad orang yang dipaksa secara tidak hak karena tidak adanya kerelaan darinya.
وإسلام لتملك رقيق مسلم لا يعتق عليه.
Dan (disyaratkan pula) beragama Islam untuk memiliki budak muslim yang tidak akan bebas secara otomatis dengannya.
ومصحف وفي معقود ملك له عليه
Dan (beragama Islam untuk memiliki) mushaf. Dan pada barang yang diakadkan (disyaratkan) adanya kepemilikan baginya atas barang tersebut.
وكذا يشترط أيضا: إسلام لتملك مرتد على المعتمد لكن الذي في الروضة وأصلها: صحة بيع المرتد للكافر.
Demikian pula disyaratkan: beragama Islam untuk memiliki (budak) seorang murtad menurut pendapat yang dapat dijadikan pegangan (mu'tamad), namun apa yang ada dalam kitab ar-Raudhah dan asalnya (al-Aziz) adalah sahnya penjualan (budak) murtad kepada orang kafir.
ولتملك شيء من مصحف يعني ما كتب فيه قرآن ولو آية وإن أثبت لغير الدراسة كما قاله شيخنا.
Dan untuk memiliki sesuatu dari mushaf, yaitu apa yang tertulis di dalamnya Al-Qur'an meskipun hanya satu ayat, dan meskipun ditulis bukan untuk dipelajari sebagaimana yang dikatakan oleh guru kami.
ويشترط أيضا عدم حرابة من يشتري آلة حرب كسيف ورمح ونشاب وترس ودرع وخيل بخلاف غير آلة الحرب ولو مما تتأتى منه كالحديد إذ لا يتعين جعله عدة حرب ويصح بيعها للذمي أي في دارنا.
Dan disyaratkan pula bahwa orang yang membeli alat perang tidak sedang memerangi (bukan kafir harbi/musuh), seperti pedang, tombak, panah, perisai, baju besi, dan kuda; berbeda dengan benda yang bukan alat perang meskipun berupa bahan yang dapat dijadikan alat perang seperti besi, sebab penggunaannya tidak dipastikan sebagai perlengkapan perang. Dan sah menjualnya (besi tersebut) kepada kafir zimmi, yakni di wilayah kita (Darul Islam).
وشرط في معقود عليه مثمنا كان أو ثمنا ملك له أي للعاقد عليه.
Dan disyaratkan pada barang yang diakadkan (ma'qud 'alaih), baik sebagai barang jualan (matsman) maupun harga (tsaman), yaitu kepemilikan baginya, artinya bagi orang yang melakukan akad atas barang tersebut.
فلا يصح بيع فضولي ويصح بيع مال غيره ظاهرا إن بان بعد البيع أنه له كأن باع مال مورثه ظانا حياته فبان ميتا حينئذ لتبين أنه ملكه ولا أثر لظن خطأ بأن صحته لان الاعتبار في العقود بما في نفس الأمر لا بما في ظن المكلف.
Maka tidak sah jual beli fudhuli (orang yang menjual milik orang lain tanpa izin). Namun sah menjual harta orang lain secara lahiriah jika setelah jual beli terbukti bahwa harta itu adalah miliknya, seperti seseorang menjual harta ahli warisnya dalam dugaan bahwa ia masih hidup, lalu ternyata ia telah meninggal saat itu, karena terbukti bahwa harta itu adalah miliknya. Dan dugaan yang salah itu tidak berdampak pada keabsahannya, karena patokan dalam akad-akad adalah apa yang sesungguhnya terjadi pada kenyataannya, bukan pada apa yang ada dalam dugaan mukallaf.
فائدة لو أخذ من غيره بطريق جائز ما ظن حله وهو حرام باطنا فإن كان ظاهر المأخوذ منه الخير لم يطالب في الآخرة وإلا طولب قاله البغوي.
Faedah: Jika seseorang mengambil dari orang lain melalui cara yang diperbolehkan sesuatu yang ia duga halal padahal secara batin (hakikatnya) haram; jika orang yang diambil hartanya tersebut secara lahiriah tampak baik, maka ia tidak dituntut di akhirat, tetapi jika tidak (tampak baik), maka ia dituntut. Hal ini dikatakan oleh al-Baghawi.
ولو اشترى طعامه في الذمة وقضى من حرام فإن أقبضه له البائع
Dan jikalau seseorang membeli makanannya dalam tanggungan (hutang), lalu ia membayarnya dari harta yang haram; maka jika penjual telah menyerahkannya kepadanya…
وطهره ورؤيته.
Dan sucinya (barang tersebut) serta terlihatnya.
برضاه قبل توفية الثمن حل له أكله أو بعدها مع علمه أنه حرام حل أيضا وإلا حرم إلى أن يبرئه أو يوفيه من حل قاله شيخنا.
…dengan kerelaannya sebelum pelunasan harga, maka halal baginya untuk memakannya; atau sesudah pelunasan beserta pengetahuannya bahwa harga itu haram, maka halal pula baginya; jika tidak demikian (tidak tahu atau tidak rela), maka haram sampai penjual membebaskannya atau ia melunasinya dari harta yang halal, demikian disampaikan oleh guru kami.
وطهره أو إمكان طهره بغسل فلا يصح بيع نجس كخمر وجلد ميتة وإن أمكن طهرها بتخلل أو دباغ ولا متنجس لا يمكن طهره ولو دهنا تنجس بل يصح هبته.
Dan (disyaratkan pula) sucinya (barang) atau kemungkinannya untuk disucikan dengan pencucian. Maka tidak sah menjual barang najis seperti khamar dan kulit bangkai meskipun memungkinkan disucikan dengan proses menjadi cuka atau penyamakan, tidak sah pula menjual barang terkena najis (mutanajjis) yang tidak mungkin disucikan meskipun berupa minyak yang terkena najis, tetapi sah untuk dihibahkan.
ورؤيته أي المعقود عليه إن كان معينا فلا يصح بيع معين لم يره العاقدان أو أحدهما: كرهنه وإجارته للغرر المنهي عنه وإن بالغ في وصفه.
Dan (disyaratkan) terlihatnya barang yang diakadkan jika berupa barang tertentu (mu'ayyan). Maka tidak sah jual beli barang tertentu yang belum dilihat oleh kedua pihak yang berakad atau salah satunya, sebagaimana (tidak sah) penjaminan (gadai)-nya dan penyewaannya karena adanya gharar (ketidakpastian) yang dilarang, meskipun telah dijelaskan sifat-sifatnya secara terperinci.
وتكفي الرؤية قبل العقد فيما لا يغلب تغيره إلى وقت العقد وتكفي رؤية بعض المبيع إن دل على باقيه
Dan cukuplah melihat sebelum akad pada barang yang umumnya tidak berubah hingga saat akad. Dan cukuplah melihat sebagian barang yang dijual jika sebagian itu mencerminkan sisanya…
كظاهر صبرة نحو بر وأعلى المائع ومثل أنموج متساوي الأجزاء كالحبوب أو لم يدل على باقيه بل كان صوانا للباقي لبقائه كقشر رمان وبيض وقشرة سفلى لنحو جوز فيكفي رؤيته لان صلاح باطنه في إبقائه وإن لم يدل هو عليه.
…seperti bagian luar tumpukan gandum, bagian atas cairan, dan seperti contoh/sampel (anmudzaj) dari barang yang sama bagian-bagiannya seperti biji-bijian; atau jika tidak mencerminkan sisanya tetapi menjadi pelindung bagi sisanya demi kelestariannya seperti kulit delima, telur, dan kulit bagian dalam dari sejenis kacang (jauz), maka cukuplah melihat kulitnya tersebut karena kebaikan bagian dalamnya terletak pada membiarkannya (tetap terlindung), meskipun kulit itu tidak menunjukkan keadaan bagian dalamnya.
ولا يكفي رؤية القشرة العليا إذا انعقدت السفلى.
Dan tidak cukuplah melihat kulit bagian luar jika kulit bagian dalam sudah terbentuk.
ويشترط أيضا قدرة تسليمه فلا يصح بيع آبق وضال ومغصوب لغير قادر على انتزاعه وكذا سمك بركة شق تحصيله.
Disyaratkan pula kemampuan menyerahkannya, maka tidak sah menjual budak yang kabur, hewan yang hilang, dan barang ghasab (yang dirampas) kepada orang yang tidak mampu merebutnya kembali. Demikian pula ikan di dalam kolam yang sulit ditangkap.
وشرط في بيع مطعوم ونقد بجنسه حلول وتقابض قبل تفرق
Dan disyaratkan dalam jual beli makanan serta uang tunai (emas/perak) dengan jenisnya sendiri: tunai (seketika) dan saling menyerahkan sebelum berpisah,
مهمة [في بيان حكم من تصرف في مال غيره ظاهرا ثم تبين أنه له] : من تصرف في مال غير ببيع أو غيره ظانا تعديه فبان أن له عليه ولاية كأن كان مال مورثه فبان موته أو مال أجنبي فبان إذنه له أو ظانا فقد شرط فبان مستوفيا للشروط صح تصرفه لان العبرة في العقود بما في نفس الأمر وفي العبادات بذلك وبما في ظن المكلف ومن ثم لو توضأ ولم يظن أنه مطلق: بطل طهوره وإن بان مطلقا لان المدار فيها على ظن المكلف.
Penting [Penjelasan hukum orang yang bertindak atas harta orang lain secara lahiriah lalu ternyata harta itu miliknya]: Barang siapa bertindak atas harta orang lain dengan menjual atau lainnya dalam keadaan menduga dirinya melanggar hak, lalu ternyata ia memiliki hak perwalian atasnya—seperti harta itu milik orang yang diwarisinya lalu ternyata orang tersebut telah meninggal, atau harta orang lain lalu ternyata orang tersebut telah mengizinkannya, atau ia menduga hilangnya suatu syarat lalu ternyata syarat tersebut terpenuhi—maka tindakannya sah. Karena yang menjadi tolok ukur dalam akad adalah apa yang sesuai dengan kenyataan sebenarnya (fi nafsi al-amr). Sedangkan dalam ibadah, yang menjadi tolok ukur adalah hal itu sekaligus persangkaan mukalaf. Oleh karena itu, seandainya seseorang berwudu tanpa meyakini/menduga bahwa air tersebut mutlak, maka bersucinya batal meskipun ternyata air itu mutlak, karena patokan dalam ibadah bergantung pada persangkaan mukalaf.
وشمل قولنا ببيع أو غيره: التزويج والإبراء وغيرهما فلو أبرأ من حق ظانا أنه لا حق له فبان له حق صح على المعتمد.
Cakupan perkataan kami 'dengan menjualnya atau selainnya' meliputi: pernikahan, pembebasan utang (ibra'), dan selain keduanya. Maka jika seseorang membebaskan suatu hak karena mengira ia tidak memiliki hak tersebut, lalu ternyata ia memilikinya, pembebasan itu sah menurut pendapat yang diandalkan (al-mu'tamad).
ولو تصرف في إنكاح فإن كان مع الشك في ولاية نفسه فبان وليا لها حينئذ: صح اعتبارا بما في نفس الأمر.
Jika ia bertindak dalam hal pernikahan, apabila hal itu dilakukan dalam keadaan ragu akan perwalian dirinya sendiri, lalu ternyata saat itu ia memang walinya, maka pernikahannya sah berdasarkan apa yang terjadi pada kenyataan sebenarnya.
وشرط في بيع ربوي وهو محصور في شيئين:
Dan disyaratkan dalam jual beli barang ribawi—dan barang ribawi itu terbatas pada dua hal:
مطعوم كالبر والشعير والتمر والزبيب والملح والأرز والذرة والفول.
Makanan, seperti gandum halus (burr), gandum kasar (sya'ir), kurma, kismis, garam, beras, jagung, dan kacang faba.
ونقد أي ذهب وفضة ولو غير مضروبين كحلي وتبر.
Dan naqd (alat pembayaran), yaitu emas dan perak, meskipun tidak dicetak (menjadi koin), seperti perhiasan dan bijih murni.
بجنسه كبر ببر وذهب بذهب.
(Jual beli barang ribawi) dengan jenisnya sendiri, seperti gandum halus dengan gandum halus dan emas dengan emas,
حلول للعوضين وتقابض قبل تفرق ولو تقابضا البعض: صح فيه فقط.
adanya sifat tunai untuk kedua barang penukar dan saling menyerahkan sebelum berpisah. Jika keduanya hanya saling menyerahkan sebagian barang, maka jual beli itu sah pada bagian tersebut saja.
ومماثلة وبغير جنسه حلول وتقابض وفي بيع موصوف في ذمة
serta kesamaan (timbangan/takaran). Dan (jual beli barang ribawi) dengan selain jenisnya (disyaratkan): tunai dan saling menyerahkan. Dan dalam jual beli barang yang disifati dalam tanggungan (salam),
ومماثلة بين العوضين يقينا: بكيل في مكيل ووزن في موزون وذلك لقوله ﷺ: "لا تبيعوا الذهب بالذهب ولا الورق بالورق ولا البر بالبر ولا الشعير بالشعير ولا التمر بالتمر ولا الملح بالملح إلا سواء بسواء عينا بعين يدا بيد فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد" [مسلم رقم: ١٥٨٧, الترمذي رقم: ١٢٤٠, النسائي رقم: ٤٥٦٠- ٤٥٦٦, أبو داود رقم: ٣٣٤٩, ابن ماجه رقم: ٢٢٥٤, مسند أحمد رقم: ٢٢١٧٥, ٢٢٢١٧, ٢٢٢٢٠, الدارمي رقم: ٢٥٧٩] أي: مقابضة.
serta kesamaan antara dua barang penukar secara pasti: dengan takaran pada barang yang ditakar dan dengan timbangan pada barang yang ditimbang. Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Janganlah kalian menjual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum halus dengan gandum halus, gandum kasar dengan gandum kasar, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, melainkan harus sebanding/sama, senilai/secara langsung, dan dari tangan ke tangan (kontan). Apabila jenis-jenis ini berbeda, maka juallah sesuka kalian apabila dilakukan secara tunai (dari tangan ke tangan)." [Muslim no. 1587, at-Tirmidzi no. 1240, an-Nasa'i no. 4560-4566, Abu Dawud no. 3349, Ibn Majah no. 2254, Musnad Ahmad no. 22175, 22217, 22220, ad-Darimi no. 2579], yakni secara langsung (muqabadhah).
قال الرافعي: ومن لازمه الحلول أي غالبا فيبطل بيع الربوي بجنسه جزافا أو مع ظن مماثلة وإن خرجتا سواء.
Ar-Rafi'i berkata: "Dan di antara konsekuensinya adalah tunai (hulul) secara umum." Maka batal jual beli barang ribawi dengan jenisnya sendiri yang dilakukan secara perkiraan (juzan) atau disertai dugaannya akan kesamaan, meskipun hasilnya kemudian ternyata sama.
وشرط في بيع أحدهما بغير جنسه واتحدا في علة الربا كبر بشعير وذهب بفضة حلول وتقابض قبل تفرق لا مماثلة فيبطل بيع الربوي بغير جنسه إن لم يقبضا في المجلس بل يحرم البيع في الصورتين إن اختل شرط من الشروط.
Dan disyaratkan dalam jual beli salah satunya dengan selain jenisnya tetapi keduanya sama dalam 'illat riba (seperti gandum halus dengan gandum kasar, atau emas dengan perak): tunai (seketika) dan saling menyerahkan sebelum berpisah, tidak disyaratkan kesamaan. Maka batal jual beli barang ribawi dengan selain jenisnya jika keduanya tidak saling menerima di majelis (akad). Bahkan haram hukumnya jual beli pada kedua bentuk tersebut jika salah satu syarat tidak terpenuhi.
واتفقوا على أنه من الكبائر لورود اللعن لآكل الربا وموكله وكاتبه.
Para ulama sepakat bahwa riba termasuk dosa besar karena adanya ancaman laknat bagi pemakan riba, orang yang memberinya, dan pencatatnya.
وعلم بما تقرر أنه لو بيع طعام بغيره كنقد أو ثوب أو غير طعام بطعام: لم يشترط شيء من الثلاثة.
Dari apa yang telah ditetapkan dapat diketahui bahwa jika makanan dijual dengan selainnya—seperti dengan uang tunai atau pakaian—atau barang selain makanan dijual dengan makanan, maka tidak disyaratkan satu pun dari ketiga syarat tersebut.
وشرط في بيع موصوف في ذمة١ ويقال له السلم مع الشروط
Dan disyaratkan dalam jual beli barang yang disifati dalam tanggungan—yang disebut juga jual beli salam—beserta syarat-syarat (jual beli umum):
قبض رأس مال قبل تفرق وكون مسلم فيه دينا ومقدورا في محله ومعلوم قدر.
penyerahan modal (salam) sebelum berpisah, barang pesanan (muslam fih) berbentuk tanggungan (utang), mampu diserahkan pada waktunya, serta diketahui ukurannya.
المذكورة للبيع غير الرؤية.
yang disebutkan untuk jual beli selain rukyah (melihat barang).
قبض رأس مال معين أو في الذمة في مجلس خيار وهو قبل تفرق من مجلس العقد ولو كان رأس المال منفعة.
Serah terima modal salam (ra's ul-mal) yang ditentukan wujudnya (mu'ayyan) atau berada dalam tanggungan (fi adz-dzimmah) di majelis khiyar, yaitu sebelum berpisah dari majelis akad, meskipun modal tersebut berupa manfaat.
وإنما يتصور تسليم المنفعة بتسليم العين كدار وحيوان ولمسلم إليه قبضه ورده لمسلم ولو عن دينه.
Dan penyerahan manfaat hanya dapat digambarkan dengan penyerahan barangnya seperti rumah dan hewan. Pihak muslam ilaih (penerima salam) berhak menerimanya dan mengembalikannya kepada muslam (pemesan) meskipun sebagai pembayaran utangnya.
وكون مسلم فيه دينا في الذمة: حالا كان أو مؤجلا لأنه الذي وضع له لفظ السلم فأسلمت إليك ألفا في
Dan hendaknya muslam fih (barang yang dipesan) berupa utang dalam tanggungan, baik secara kontan maupun ditangguhkan (mu'ajjal), karena itulah yang ditetapkan untuk lafal salam. Maka (ucapan): 'Saya menyerahkan salam kepadamu seribu (dirham) untuk…
هذا العين أو هذا في هذا: ليس سلما لانتفاء الشرط ولا بيعا لاختلال لفظه.
…barang ini', atau 'ini untuk ini', bukanlah akad salam karena tidak terpenuhinya syarat, dan bukan pula akad jual beli biasa karena ketidaksesuaian lafalnya.
ولو قال اشتريت منك ثوبا صفته كذا بهذه الدراهم فقال بعتك كان بيعا عند الشيخين نظرا للفظ.
Jika seseorang berkata: 'Aku membeli darimu sehelai baju yang sifatnya demikian dengan dirham ini', lalu yang lain menjawab: 'Aku menjualnya kepadamu', maka itu adalah akad jual beli menurut Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i) dengan mempertimbangkan lafalnya.
وقيل سلم نظرا للمعنى واختاره جمع محققون.
Dan ada yang berpendapat itu adalah salam dengan mempertimbangkan maknanya, dan pendapat ini dipilih oleh sekelompok ulama peneliti (muhaqqiqun).
وكون المسلم فيه مقدورا على تسليمه في محله بكسر الحاء: أي وقت حلوله فلا يصح السلم في منقطع عند المحل: كالرطب في الشتاء وكونه معلوم قدر بكيل في مكيل أو وزن في موزون أو ذرع في مزروع أو عد في معدود.
Dan hendaknya barang pesanan (muslam fih) mampu diserahkan pada saat waktunya tiba (mahallihi – dengan kasrah pada huruf ha'), yaitu saat jatuh tempo. Maka tidak sah melakukan salam pada barang yang tidak ada saat jatuh tempo, seperti kurma basah di musim dingin. Dan hendaknya ukurannya diketahui dengan takaran pada barang yang ditakar, timbangan pada barang yang ditimbang, hasta (panjang) pada barang yang diukur panjangnya, atau hitungan pada barang yang dihitung.
وصح في نحو جوز ولوز بوزن وموزون بكيل يعد فيه ضابطا ومكيل بوزن ولا يجوز فيه بيضة ونحوها لأنه يحتاج إلى ذكر جرمها
Dan sah (salam) pada semisal kemiri dan almon dengan timbangan, atau barang yang biasa ditimbang dengan takaran yang dianggap konsisten padanya, dan barang yang biasa ditakar dengan timbangan. Dan tidak boleh (salam) pada telur dan sejenisnya karena membutuhkan penyebutan ukurannya (volumenya)…
وحرم ربا
Dan diharamkan riba
مع وزنها فيورث عزة الوجود.
…bersamaan dengan timbangannya, sehingga menyebabkannya sangat langka (sulit ditemukan).
ويشترط أيضا بيان محل تسليم للمسلم فيه إن أسلم بمحل لا يصلح للتسليم أو لحمله إليه مؤنة.
Disyaratkan pula penjelasan tempat penyerahan barang pesanan (muslam fih), jika akad salam dilakukan di tempat yang tidak layak untuk penyerahan barang atau membutuhkan biaya pengangkutan ke tempat tersebut.
ولو ظفر المسلم بالمسلم إليه بعد المحل في غير محل التسليم ولنقله إلى محل الظفر مؤنة لم يلزمه أداء ولا يطالبه بقيمته.
Jika pemesan (muslam) mendapati penerima pesanan (muslam ilaih) setelah jatuh tempo di selain tempat penyerahan yang disepakati, dan pemindahan barang ke tempat ditemuinya tersebut memerlukan biaya, maka penerima pesanan tidak wajib menyerahkannya saat itu dan pemesan tidak boleh menuntut nilainya.
ويصح السلم حالا ومؤجلا بأجل معلوم لا مجهول ومطلقه حال ومطلق المسلم فيه جيد.
Sah melakukan akad salam secara tunai (hal) maupun ditangguhkan (mu'ajjal) dengan jangka waktu yang jelas, bukan samar. Pernyataan salam yang mutlak dianggap tunai, dan kualitas barang pesanan yang mutlak dianggap berkualitas baik (jayyid).
وحرم ربا مر بيانه قريبا وهو أنواع:
Dan diharamkan riba, yang penjelasannya telah berlalu belum lama ini, dan riba terdiri dari beberapa jenis:
ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين.
Riba fadhl, yaitu dengan adanya kelebihan pada salah satu dari dua barang penukar.
ومنه ربا القرض: بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض.
Dan di antaranya adalah riba qardh (utang piutang): yaitu dengan mensyaratkan hal yang memberi keuntungan bagi pemberi pinjaman.
وربا يد: بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض.
Dan riba yad: yaitu salah satu pihak berpisah dari majelis akad sebelum saling serah terima barang.
وربا نساء: بأن يشترط أجل في أحد العوضين.
Dan riba nasiah: yaitu dengan dipersyaratkannya penundaan (jangka waktu) pada salah satu dari dua barang pertukaran.
وكلها مجمع عليها.
Semua jenis riba ini disepakati keharamannya (ijma').
ثم العوضان أن اتفقا جنسا: اشترط ثلاثة شروط تقدمت أو علة: وهي الطعم والنقدية اشترط شرطان تقدما.
Kemudian, jika kedua barang pertukaran tersebut sama jenisnya, disyaratkan tiga syarat yang telah disebutkan sebelumnya. Atau jika (berbeda jenis tetapi) sama 'illat-nya—yaitu sebagai makanan (tha'm) atau mata uang (naqdiyyah)—disyaratkan dua syarat yang telah disebutkan sebelumnya.
قال شيخنا ابن زياد: لا يندفع إثم إعطاء الربا عند الاقتراض للضرورة بحيث أنه إن لم يعط الربا لا يحصل له القرض إذ له طريق إلى إعطاء الزائد بطريق النذر أو التمليك لاسيما إذا قلنا النذر لا يحتاج
Syaikh kami, Ibn Ziyad, berkata: Dosa memberikan riba ketika meminjam utang karena darurat—sekira jika tidak memberikan riba ia tidak akan mendapatkan pinjaman—tidaklah gugur, karena ia memiliki cara lain untuk memberikan kelebihan tersebut melalui jalan nazar atau pemberian hak milik (tamlik), terlebih lagi jika kita berpendapat bahwa nazar tidak membutuhkan
وتفريق بين أمة وفرع لم يميز بنحو بيع وبطل فيهما,
Dan (diharamkan) memisahkan antara hamba sahaya perempuan (ibu) dan anaknya yang belum tamyiz dengan semisal jual beli, dan akadnya batal pada keduanya,
إلى قبول لفظا على المعتمد.
penerimaan (qabul) secara lafal menurut pendapat yang mu'tamad.
وقال شيخنا: يندفع الإثم للضرورة.
Dan Guru kami berkata: Dosa tersebut gugur karena keadaan darurat.
فائدة: وطريق الخلاص من عقد الربا لمن يبيع ذهبا بذهب أو فضة بفضة أو برا ببر أو أرزا بأرز متفاضلا بأن يهب كل من البائعين حقه للآخر أو يقرض كل صاحبه ثم يبرئه ويتخلص منه بالقرض في بيع الفضة بالذهب أو الأرز بالبر بلا قبض قبل تفرق.
Faedah: Cara terbebas dari akad riba bagi seseorang yang menjual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, atau beras dengan beras secara berbeda takaran/kadar (mutafadhilan), adalah dengan cara masing-masing dari kedua penjual menghibahkan haknya kepada yang lain, atau masing-masing meminjamkan kepada rekannya kemudian membebaskannya dari utang. Dan terbebas dari riba melalui cara utang-piutang (qardh) pada penjualan perak dengan emas, atau beras dengan gandum tanpa serah terima sebelum berpisah.
وحرم تفريق بين أمة وإن رضيت أو كانت كافرة.
Dan diharamkan memisahkan antara seorang hamba sahaya perempuan—meskipun ia meridhainya atau meskipun ia seorang kafir—
وفرع لم يميز ولو من زنا المملوكين لواحد.
dan anaknya yang belum tamyiz, meskipun hasil dari perzinahan, yang keduanya dimiliki oleh satu orang pemilik,
بنحو بيع كهبة وقسمة وهدية.
dengan cara semisal jual beli, seperti hibah, pembagian (warisan/harta), dan hadiah,
لغير من يعتق عليه لخبر: "من فرق بين الوالدة وولدها: فرق الله بينه وبين أحبته يوم القيامة" [الترمذي رقم: ١٢٨٣, مسند أحمد رقم: ٢٢٩٨٨, ٢٣٠٠٢, الدارمي رقم: ٢٤٦٩] .
kepada selain orang yang anak/ibu tersebut bisa langsung merdeka darinya, berdasarkan hadis: "Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat." [Tirmidzi no: 1283, Musnad Ahmad no: 22988, 23002, Ad-Darimi no: 2469].
وبطل العقد فيهما أي الربا والتفريق بين الأمة والولد.
Dan batal akadnya pada keduanya, yaitu transaksi riba dan pemisahan antara hamba sahaya perempuan dan anaknya.
وألحق الغزالي في فتاويه وأقره غيره التفريق بالسفر بالتفريق بنحو البيع وطرده في التفريق بين الزوجة وولدها وإن كانت حرة بخلاف المطلقة.
Al-Ghazali dalam fatwa-fatwanya—dan disetujui oleh yang lainnya—menyejajarkan pemisahan karena perjalanan (safar) dengan pemisahan melalui jual beli dan sejenisnya, dan memberlakukannya pula pada pemisahan antara istri dan anaknya meskipun sang istri adalah wanita merdeka, berbeda halnya dengan wanita yang ditalak.
وبيع نحو عنب ممن ظن أنه يتخذه مسكرا,
Dan (diharamkan) menjual semisal anggur kepada orang yang diduga kuat akan menjadikannya minuman memabukkan,
والأب وإن علا والجدة وإن علت ولو من الأب كالأم إذا عدمت.
Dan ayah dan seterusnya ke atas, serta nenek dan seterusnya ke atas walaupun dari jalur ayah, kedudukannya sama seperti ibu apabila ibu tidak ada.
أما بعد التمييز فلا يحرم لاستغناء المميز عن الحضانة: كالتفريق بوصية وعتق ورهن.
Adapun setelah anak tersebut tamyiz, maka pemisahan tidak diharamkan karena anak yang sudah tamyiz tidak lagi membutuhkan pengasuhan (hadhanah), sebagaimana pemisahan melalui wasiat, pemerdekaan, dan penjaminan (rahn).
ويجوز تفريق ولد البهيمة إن استغنى عن أمه بلبن أو غيره لكن يكره في الرضيع: كتفريق الآدمي المميز قبل البلوغ عن الأم فإن لم يستغن عن اللبن حرم وبطل إلا إن كان لغرض الذبح لكن بحث السبكي حرمة ذبح أمه مع بقائه.
Dan boleh memisahkan anak hewan ternak jika ia sudah tidak lagi membutuhkan induknya, baik untuk susu maupun selainnya, namun makruh hukumnya jika masih menyusu: seperti halnya memisahkan anak manusia yang sudah tamyiz sebelum balig dari ibunya. Jika ia belum bisa lepas dari susu induknya, maka hukumnya haram dan batal, kecuali jika pemisahan itu untuk tujuan disembelih. Namun As-Subki membahas tentang keharaman menyembelih induknya selama anak tersebut masih ada.
وحرم أيضا: بيع نحو عنب ممن علم أو ظن أنه يتخذه مسكرا للشرب والأمرد ممن عرف بالفجور به والديك للمهارشة والكبش للمناطحة والحرير لرجل يلبسه وكذا بيع نحو المسك لكافر يشتري١ لتطييب الصنم والحيوان لكافر علم أنه يأكله بلا ذبح لان الأصح أن الكفار مخاطبون بفروع الشريعة كالمسلمين عندنا خلافا لأبي حنيفة رضي الله تعالى عنه فلا يجوز الإعانة عليهما ونحو ذلك من كل تصرف يفضي إلى معصية يقينا أو ظنا ومع ذلك يصح البيع.
Diharamkan juga: menjual sejenis anggur kepada orang yang diketahui atau diduga kuat akan menjadikannya minuman keras untuk diminum; menjual pemuda tampan (amrad) kepada orang yang dikenal suka berbuat kemaksiatan dengannya; menjual ayam jantan untuk diadu; menjual domba jantan untuk diadu; menjual sutra kepada laki-laki yang akan memakainya; demikian pula menjual sejenis minyak kasturi kepada orang kafir yang membelinya untuk mengolesi patung/berhala; dan menjual hewan kepada orang kafir yang diketahui akan memakannya tanpa disembelih, karena pendapat yang lebih sahih menurut kami (mazhab Syafi'i) adalah bahwa orang-orang kafir juga terkena beban taklif cabang-cabang syariat seperti halnya kaum muslimin, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah semoga Allah Ta'ala meridhainya; maka tidak boleh menolong atas kedua hal tersebut dan tindakan sejenisnya dari setiap transaksi yang dipastikan atau diduga kuat mengarah pada kemaksiatan, namun meskipun demikian, jual belinya tetap sah.
ويكره بيع ما ذكر ممن توهم منه ذلك وبيع السلاح لنحو بغاة
Dan dimakruhkan menjual hal-hal yang telah disebutkan tersebut kepada orang yang sekadar diragukan/diandaikan hal itu terjadi darinya, serta menjual senjata kepada sekelompok pemberontak (bughat),
واحتكار قوت وسوم على سوم بعد تقرر ثمن ونجش.
menimbun makanan pokok, menawar di atas penawaran orang lain setelah disepakatinya harga, dan melakukan najasy (menaikkan tawaran harga semata-mata untuk membohongi pembeli lain).
وقطاع طريق ومعاملة من بيده حلال وحرام وإن غلب الحرام الحلال نعم: إن علم تحريم ما عقد به: حرم وبطل.
dan perampok jalanan; serta bertransaksi dengan orang yang di tangannya terdapat harta halal dan haram, meskipun harta yang haram lebih dominan daripada yang halal. Ya, jika diketahui keharaman barang yang dijadikan akad, maka hukumnya haram dan akadnya batal.
وحرم احتكار قوت كتمر وزبيب وكل مجزئ في الفطرة وهو إمساك ما اشتراه في وقت الغلاء لا الرخص ليبيعه بأكثر عند اشتداد حاجة أهل محله أو غيرهم إليه وإن لم يشتره بقصد ذلك لا ليمسكه لنفسه أو عياله أو ليبيعه بثمن مثله ولا إمساك غلة أرضه.
Dan haram menimbun makanan pokok seperti kurma, kismis, dan setiap makanan yang mencukupi untuk zakat fitrah. Penimbunan (ihtikar) yaitu menahan barang yang dibelinya pada saat harga mahal—bukan saat murah—agar dapat menjualnya dengan harga yang lebih mahal ketika kebutuhan penduduk daerahnya atau selain mereka semakin mendesak terhadap barang tersebut, meskipun ia tidak membelinya dengan niat demikian; bukan menahannya untuk konsumsi dirinya sendiri atau keluarganya, atau untuk menjualnya dengan harga yang setara (harga pasar), dan bukan pula menahan hasil panen tanahnya sendiri.
وألحق الغزالي بالقوت: كل ما يعين عليه كاللحم وصرح القاضي بالكراهة في الثوب.
Al-Ghazali menyamakan dengan makanan pokok: segala sesuatu yang membantu makanan pokok tersebut seperti daging; dan Al-Qadhi menegaskan makruhnya penimbunan pada pakaian.
وسوم علي سوم أي سوم غيره بعد تقرر ثمن بالتراضي به وإن فحش نقص الثمن عن القيمة للنهي عنه وهو أن يزيد على آخر في ثمن ما يريد شراءه أو يخرج له أرخص منه أو يرغب المالك في استرداده ليشتريه بأغلى وتحريمه بعد البيع وقبل لزومه لبقاء الخيار أشد.
Dan menawar di atas penawaran orang lain, yaitu penawaran orang lain setelah disepakatinya harga dengan saling ridha meskipun penurunan harga dari nilai sebenarnya sangat besar, karena adanya larangan atas hal tersebut. Bentuknya adalah seseorang menambah tawaran atas orang lain pada harga barang yang ingin dibeli orang tersebut, atau menawarkan kepadanya barang yang lebih murah dari itu, atau memprovokasi pemilik barang agar menarik kembali barangnya supaya ia bisa membelinya dengan harga lebih mahal. Dan keharamannya setelah jual beli dan sebelum akad menjadi mengikat (lazim)—karena masih adanya hak khiyar—adalah lebih berat.
ونجش للنهي عنه وللإيذاء: وهو أن يزيد في الثمن لا لرغبته بل ليخدع غيره وإن كانت الزيادة في مال محجور عليه ولو عند نقص القيمة على الأوجه.
Dan najasy (praktek menaikkan harga tiruan) haram karena adanya larangan atasnya dan karena menyakiti orang lain; yaitu menaikkan tawaran harga bukan karena berminat membelinya melainkan untuk menipu orang lain, meskipun kenaikan itu pada harta orang yang di bawah pengampuan (mahjur 'alaih) dan meskipun terjadi saat nilai barang berkurang menurut pendapat yang lebih kuat.
ولا خيار للمشتري إن غبن فيه وإن واطئ البائع الناجش لتفريط المشتري حيث لم يتأمل ويسأل.
Dan tidak ada hak khiyar bagi pembeli jika ia tertipu dalam hal itu, meskipun penjual bersekongkol dengan pembuat najasy, disebabkan kecerobohan pembeli itu sendiri karena tidak mencermati dan tidak bertanya.
ومدح السلعة ليرغب فيها بالكذب كالنجش.
Dan memuji barang dagangan agar orang berminat kepadanya dengan kedustaan hukumnya seperti najasy.
وشرط التحريم في الكل: علم النهي حتى في النجش ويصح البيع مع التحريم في هذه المواضع.
Syarat keharaman dalam semua hal tersebut adalah mengetahui adanya larangan, bahkan dalam kasus najasy sekalipun. Namun demikian, jual beli tetap sah beserta keharamannya dalam tempat-tempat ini.
فصل [في خيار المجلس والشرط وخيار العيب]
Pasal [Fasal Tentang Khiyar Majelis, Khiyar Syarat, dan Khiyar Aib]
يثبت خيار مجلس في كل بيع وسقط خيار من اختار لزومه,
Berlaku khiyar majelis dalam setiap jual beli, dan gugur hak khiyar bagi orang yang memilih untuk menjadikannya mengikat (lazim),
فصل في خياري المجلس والشرط وخيار العيب.
Fasal tentang dua jenis khiyar (khiyar majelis dan khiyar syarat) serta khiyar aib.
يثبت خيار مجلس في كل بيع حتى في الربوي والسلم وكذا في هبة ذات ثواب على المعتمد.
Berlaku khiyar majelis dalam setiap jual beli, bahkan dalam barang ribawi dan salam (jual beli pesanan), begitu pula dalam hibah berimbalan (hibah dzatu tsawab) menurut pendapat yang dapat diandalkan.
وخرج بفيء: كل بيع غير البيع: كالإبراء والهبة بلا ثواب وشركة وقراض ورهن وحوالة وكتابة وإجارة ولو في الذمة أو مقدرة بمدة فلا خيار في جميع ذلك لأنها لا تسمى بيعا.
Dan dikecualikan dengan ungkapan "dalam jual beli": setiap transaksi yang bukan jual beli, seperti pembebasan utang (ibra'), hibah tanpa imbalan, syirkah (kemitraan), qiradh (bagi hasil), gadai, hawalah (pengalihan utang), mukatabah (akad kemerdekaan budak), dan ijarah (sewa-menyewa) meskipun dalam tanggungan atau yang ditentukan oleh jangka waktu; maka tidak ada khiyar dalam semua transaksi tersebut karena tidak dinamakan jual beli.
وسقط خيار من اختار لزومه أي البيع من بائع ومشتر: كأن يقولا اخترنا لزومه أو أجزناه فيسقط خيارهما أو من أحدهما: كأن يقول اخترت لزومه: فيسقط خياره ويبقى خيار الآخر ولو مشتريا.
Dan gugurlah khiyar bagi pihak yang memilih kelaziman (mengikatnya) jual beli tersebut, baik dari pihak penjual maupun pembeli: seperti keduanya berkata "Kami memilih kelazimannya" atau "Kami meloloskannya", maka gugurlah khiyar keduanya; atau dari salah satu pihak saja: seperti ia berkata "Aku memilih kelazimannya", maka gugurlah khiyarnya dan tetap berlaku hak khiyar bagi pihak lain, meskipun ia seorang pembeli.
ويحصل فسخ بنحو فسخت وإجازة بنحو أجزت ولمشتر جاهل خيار بعيب قديم كاستحاضة وسرقة وإباق وزنا وبول بفراش
Dan pembatalan (fasakh) terjadi dengan seumpama perkataan "Aku batalkan", sedangkan pengesahan (ijazah) terjadi dengan seumpama perkataan "Aku sahkan". Bagi pembeli yang tidak mengetahui cacat barang, berlaku hak khiyar karena adanya aib/cacat lama, seperti istihadhah, kecenderungan mencuri, melarikan diri (ibaq), perzinahan, dan kencing di tempat tidur.
والملك في المبيع مع توابعه في مدة الخيار لمن انفرد بخيار من بائع ومشتر ثم إن كان لهما: فموقوف فإن تم البيع: بان أنه لمشتر من حين العقد وإلا فلبائع.
Kepemilikan atas barang dagangan (mabi') beserta ikutan-ikutannya selama masa khiyar adalah milik pihak yang memiliki khiyar secara mandiri, baik penjual maupun pembeli. Kemudian jika khiyar tersebut milik keduanya, maka status kepemilikannya ditangguhkan (mauquf). Jika jual beli diteruskan, maka terbukti bahwa barang tersebut milik pembeli sejak saat akad; jika tidak, maka milik penjual.
ويحصل فسخ للعقد في مدة الخيار بنحو فسخت البيع كاسترجعت المبيع وإجازة فيها بنحو: أجزت البيع كأمضيته والتصرف في مدة الخيار بوطء وإعتاق وبيع وإجارة وتزويج من بائع: فسخ ومن مشتر: إجازة للشراء.
Pembatalan (fasakh) akad dalam masa khiyar terjadi dengan ucapan seperti "Saya membatalkan jual beli" atau "Saya mengambil kembali barang dagangan". Sedangkan pengesahan (ijazah) di dalamnya terjadi dengan ucapan seperti "Saya mengesahkan jual beli" atau "Saya melanjutkannya". Adapun tindakan pada masa khiyar berupa persetubuhan, pemerdekaan, penjualan, penyewaan, dan pernikahan, jika dilakukan oleh penjual maka dianggap pembatalan (fasakh), dan jika dilakukan oleh pembeli maka dianggap pengesahan (ijazah) atas pembelian.
ويثبت لمشتر جاهل بما يأتي خيار في رد المبيع ب ظهور عيب قديم منقص قيمة في المبيع وكذا للبائع بظهور عيب قديم في الثمن وآثروا الأول: لان الغالب في الثمن الانضباط فقيل: فيه ظهور العيب.
Hak khiyar untuk mengembalikan barang dagangan tetap berlaku bagi pembeli yang tidak mengetahui cacat yang ada, disebabkan munculnya cacat lama yang mengurangi nilai barang dagangan tersebut. Demikian pula bagi penjual dengan munculnya cacat lama pada alat pembayaran (tsaman). Para ulama mengutamakan yang pertama (cacat barang), karena secara umum alat pembayaran bersifat terukur/terstandarisasi, sehingga dikatakan padanya: "munculnya cacat".
والقديم ما قارن العقد أو حدث قبل القبض وقد بقي إلى الفسخ ولو حدث بعض القبض فلا خيار للمشتري وهو كاستحاضة ونكاح لأمة وسرقة وإباق وزنا من رقيق أي بكل منها وإن لم يتكرر وتاب ذكرا كان أو أنثى.
Cacat lama adalah apa yang menyertai akad atau terjadi sebelum serah terima (qabdh) dan tetap ada hingga pembatalan (fasakh). Jika cacat tersebut terjadi setelah serah terima, maka tidak ada khiyar bagi pembeli. Cacat tersebut seperti istihadhah, pernikahan bagi budak wanita, pencurian, kabur (ibaq), dan perzinahan oleh budak, yakni dengan salah satu dari hal-hal tersebut meskipun tidak berulang dan budak tersebut telah bertobat, baik budak laki-laki maupun perempuan.
وبول بفراش إن اعتاده وبلغ سبع سنين وبخر وصنان مستحكمين.
Demikian juga kencing di tempat tidur jika sudah menjadi kebiasaannya dan budak tersebut telah mencapai usia tujuh tahun, serta bau mulut (bakhar) dan bau ketiak/badan (shunan) yang parah.
ومن عيوب الرقيق: كونه نماما أو شتاما أو كذابا أو آكلا
Di antara cacat budak adalah: keadaannya sebagai pemfitnah/adu domba, pencaci, pembohong, atau pemakan…
وجماح وعض وكتصرية لا بغبن فاحش كظن زجاجة جوهرة والخيار فوري.
…tanah, peminum khamar, pembangkang/liar (pada hewan), menggigit, dan seperti tasriyah; bukan karena kerugian yang sangat besar (ghabn fahisy) seperti mengira kaca sebagai permata; dan hak khiyar ini bersifat seketika (fauri).
لطين أو شاربا لنحو خمر أو تاركا للصلاة ما لم يتب عنها أو أصم أو أبله أو مصطك الركبتين أو رتقاء أو حاملا في آدمية لا بهيمة أو لا تحيض من بلغت عشرين سنة أو أحد ثدييها أكبر من الآخر.
…tanah, peminum sejenis khamar, atau orang yang meninggalkan shalat selama ia belum bertobat darinya, atau tuli, dungu, bersentuhan kedua lututnya (mastak ar-rukbatain), ratqa' (tersumbat jalan bersetubuh pada wanita), atau hamil pada manusia (bukan pada hewan ternak), atau tidak haid bagi wanita yang telah mencapai usia dua puluh tahun, atau salah satu payudaranya lebih besar dari yang lain.
وجماح لحيوان وعض ورمح وكون الدار منزل الجند أو كون الجن مسلطين على ساكنها بالرجم أو القردة مثلا يرعون زرع الأرض.
Sifat liar pada hewan, suka menggigit, suka menendang, keberadaan rumah sebagai markas/tempat tinggal tentara, atau jin menguasai penghuninya dengan melempari batu, atau misalnya kera merusak/menggembala tanaman di lahan tersebut.
ويثبت بتغرير فعلي وهو حرام للتدليس والضرر كتصرية له: وهي أن يترك حلبه مدة قبل بيعه ليوهم المشتري كثرة اللبن وتجعيد شعر الجارية لا خيار بغبن فاحش: كظن مشتر نحو زجاجة: جوهرة لتقصيره بعمله بقضية وهمه من غير بحث.
Hak khiyar ditetapkan sebab penipuan perbuatan (taghrir fi'li)—yang hukumnya haram karena adanya unsur penipuan (tadlis) dan bahaya (dharar)—seperti tasriyah padanya, yaitu membiarkan hewan tidak diperah susunya selama beberapa waktu sebelum dijual agar pembeli mengira susunya banyak, dan mengeritingkan rambut budak wanita. Dan tidak ada khiyar karena kerugian yang sangat besar (ghabn fahisy), seperti perkiraan pembeli terhadap kaca yang dikiranya permata, karena keteledorannya yang bertindak atas prasangkanya tanpa meneliti.
والخيار بالعيب ولو بتصرية فوري فيبطل بالتأخير بلا عذر ويعتبر الفور عادة فلا يضر صلاة وأكل دخل وقتهما وقضاء حاجة ولا سلامة على البائع بخلاف محادثته ولو عليه ليلا: فله التأخير حتى يصبح
Hak khiyar karena cacat, meskipun karena tasriyah, bersifat seketika (fauri), sehingga batal jika ditunda tanpa uzur. Yang dianggap seketika adalah menurut kebiasaan ('urf), maka tidak membatalkan jika melakukan shalat dan makan yang telah masuk waktunya, buang hajat, serta mengucap salam kepada penjual, berbeda halnya dengan mengobrol dengannya. Apabila cacat diketahui pada malam hari, maka pembeli boleh menundanya hingga pagi hari.
ويعذر في تأخيره بجهله جواز الرد بالعيب إن قرب عهده بالإسلام أو نشأ بعيدا عن العلماء وبجهل فوريته إن خفي عليه.
Pembeli dimaafkan dalam penundaan tersebut karena ketidaktahuannya akan kebolehan mengembalikan barang akibat cacat, apabila ia baru masuk Islam atau tumbuh di tempat yang jauh dari ulama, dan juga karena ketidaktahuannya bahwa khiyar tersebut bersifat seketika jika hal itu samar baginya.
ثم إن كان البائع في البلد: رده المشتري بنفسه أو وكليه على البائع أو وكيله ولو كان البائع غائبا عن البلد ولا وكيل له بها: رفع الأمر إلى الحاكم وجوبا ولا يؤخر لحضوره فإذا عجز عن الإنهاء لنحو مرض
Kemudian, jika penjual berada di kota tersebut, pembeli mengembalikan barang itu sendiri atau melalui wakilnya kepada penjual atau wakilnya. Jika penjual tidak ada di kota tersebut dan tidak memiliki wakil di sana, maka perkara wajib diangkat ke hakim (qadhi) dan tidak boleh ditunda hingga kedatangannya. Apabila ia tidak mampu melaporkannya karena sakit…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
…
أشهد على الفسخ فإن عجز عن الإشهاد: لم يلزمه تلفظ وعلى المشتري ترك استعمال فلو استخدم رقيقا ولو بقوله اسقني أو ناولني الثوب أو أغلق الباب فلا رد قهرا وإن يفعل الرقيق ما أمر به فإن فعل شيئا من ذلك بلا طلب: لم يضر.
…ia hendaknya mengambil saksi atas pembatalan (fasakh) tersebut. Jika ia tidak mampu mengambil saksi, maka ia tidak diwajibkan mengucapkan lafal. Pembeli juga wajib meninggalkan penggunaan barang tersebut; jika ia mempekerjakan budak tersebut meskipun hanya dengan ucapannya "Beri aku minum", "Ambilkan aku pakaian", atau "Tutuplah pintu", maka tidak ada pengembalian secara paksa (ia kehilangan hak pengembalian paksa) meskipun budak itu melaksanakan apa yang diperintahkan. Namun jika budak itu melakukan sesuatu dari hal tersebut tanpa diminta, maka hal itu tidak membatalkan hak khiyar.
فرع لو باع حيوانا أو غيره بشرط براءته من العيوب في المبيع أو أن لا يرد بها: صح العقد وبرئ من عيب باطن بالحيوان موجود حال العقد لم يعلمه البائع لا عن عيب باطن في غير الحيوان ولا ظاهر فيه.
Cabang Masalah: Jika seseorang menjual hewan atau barang lainnya dengan syarat lepas diri dari cacat yang ada pada barang tersebut atau syarat agar barang tidak dikembalikan karena cacat tersebut, maka akadnya sah. Penjual bebas dari tanggung jawab atas cacat tersembunyi (batin) pada hewan yang sudah ada saat akad dan tidak diketahui penjual, bukan dari cacat tersembunyi pada selain hewan dan bukan pula cacat yang nampak padanya.
ولو اختلفا في قدم العيب واحتمل صدق كل: صدق البائع بيمينه في دعواه حدوثه لان الأصل: لزوم العقد.
Jika keduanya berselisih tentang apakah cacat itu terjadi sejak awal (lama) atau baru, dan pembenaran masing-masing pihak memungkinkan, maka perkataan penjual dibenarkan beserta sumpahnya atas klaimnya bahwa cacat itu baru terjadi, karena hukum asalnya adalah kepastian/kelangsungan akad (luzum al-'aqd).
وقيل لان الأصل عدم العيب في يده.
Dan dikatakan: karena hukum asalnya adalah tidak adanya cacat saat berada di tangannya.
ولو حدث عيب لا يعرف القديم بدونه ككسر بيض وجوز وتقوير بطيخ مدود رد ولا أرش عليه للحادث. ويتبع في الرد بالعيب: الزيادة المتصلة كالسمن وتعلم الصنعة ولو بأجرة وحمل قارن بيعا لا المنفصلة: كالولد والثمر وكذا الحمل الحادث في ملك المشتري فلا تتبع في الرد بل هي للمشتري.
Dan jika terjadi cacat baru yang mana cacat lama tidak dapat diketahui tanpanya, seperti memecah telur dan buah pala, serta melubangi semangka yang berulat, maka barang tersebut dikembalikan dan pembeli tidak dikenakan ganti rugi (arsy) atas cacat baru tersebut. Dan dalam pengembalian barang karena cacat, pertambahan yang menyatu (ziyadah muttashilah) ikut dikembalikan, seperti gemuk, belajar keterampilan meskipun dengan biaya, dan kehamilan yang menyertai jual beli; bukan pertambahan yang terpisah (ziyadah munfashilah), seperti anak dan buah, demikian pula kehamilan yang terjadi dalam kepemilikan pembeli, maka tidak ikut dalam pengembalian melainkan menjadi milik pembeli.