باب البيع

باب في الإقرار

باب في الإقرار

باب في الإقرار

Bab tentang Ikrar (Pengakuan)

يؤاخذ بإقرار مكلف مختار,

Seseorang dituntut atas pengakuan yang dibuat oleh seorang mukalaf yang atas kehendaknya sendiri,

باب في الإقرار

Bab tentang Ikrar (Pengakuan)

هو لغة الإثبات وشرعا إخبار الشخص بحق عليه ويسمى اعترافا.

Pengakuan (ikrar) secara bahasa berarti menetapkan, dan secara syariat adalah pemberitahuan seseorang mengenai hak atas dirinya, dan disebut juga i'tiraf.

يؤاخذ بإقرار مكلف مختار فلا يؤاخذ بإقرار صبي ومجنون ومكره

Seseorang dituntut atas pengakuan seorang mukalaf yang atas kehendaknya sendiri; maka tidak dianggap sah pengakuan anak kecil, orang gila, dan orang yang dipaksa.

وشرط فيه لفظ كعلي أو عندي كذا ونعم وأبرأتني وقضيته لجواب أليس لي؟ أو لي عليك كذا,

Dan disyaratkan dalam ikrar itu adanya lafal seperti: 'Aku wajib…', 'Di sisiku ada sekian…', 'Ya', 'Engkau telah membebaskanku', dan 'Engkau telah melunaskanku' sebagai jawaban atas pertanyaan: 'Bukankah aku punya hak atasmu?' atau 'Aku punya hak sekian atasmu'.

بغير حق على الإقرار بأن ضرب ليقر إما مكره على الصدق: كأن ضرب ليصدق في قضية اتهم فيها فيصح حال الضرب وبعده على إشكال قوي فيه سيما إن علم أنهم لا يرفعون الضرب إلا بأخذت مثلا ولو ادعى صبا أمكن أو نحو جنون عهد أو إكراها وثم أمارة كحبس أو ترسيم وثبت ببينة أو بإقرار المقر له أو بيمين مردودة: صدق بيمينه ما لم تقم بينة بخلافه.

…tanpa hak untuk berikrar (pengakuan), seperti dipukul agar mau berikrar. Baik berupa paksaan untuk jujur: seperti dipukul agar jujur dalam suatu perkara yang dituduhkan kepadanya, maka ikrarnya sah pada saat dipukul dan sesudahnya—meskipun terdapat isykal (keraguan hukum) yang kuat padanya, terlebih jika diketahui bahwa mereka tidak akan menghentikan pukulan kecuali dengan perkataan (seperti) 'saya mengambilnya' misalnya. Apabila ia mengklaim usia belum baligh yang memungkinkan, atau semacam gila yang pernah dialaminya, atau mengklaim adanya paksaan dan terdapat tanda/petunjuk seperti pemenjaraan atau pengawasan ketat, serta terbukti dengan bukti (bayyinah), atau pengakuan dari orang yang diberi ikrar (muqarr lahu), atau dengan sumpah yang dikembalikan (yamin mardudah): maka ia dibenarkan beserta sumpahnya selama tidak ada bukti yang menunjukkan sebaliknya.

وأما إذا ادعى الصبي بلوغا بإمناء ممكن فيصدق في ذلك ولا يحلف عليه أو بسن: كلف ببينة عليه وإن كان غريبا لا يعرف وهي رجلان نعم: إن شهد أربع نسوة بولادته يوم كذا: قبلن ويثبت بهن السن تبعا كما قاله شيخنا.

Adapun jika seorang anak kecil mengklaim telah baligh dengan ikhtilam (mimpi basah) yang memungkinkan, maka ia dibenarkan dalam hal itu dan tidak perlu disumpah atasnya. Atau (mengklaim baligh) berdasarkan usia: maka ia dibebani untuk mengajukan bukti (bayyinah) atasnya, meskipun ia seorang asing yang tidak dikenal, yaitu (bukti berupa) dua orang laki-laki. Ya, jika empat orang wanita bersaksi tentang kelahirannya pada hari tertentu: kesaksian mereka diterima dan ketetapan usia mengikutinya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami (Syaikhina).

وشرط فيه أي الإقرار لفظ يشعر بالتزام بحق كعلي أو عندي كذا لزيد ولو زاد: فيما أظن أو أحسب: لغا.

Dan disyaratkan padanya, yaitu dalam ikrar, adanya lafaz yang mengindikasikan komitmen/kewajiban atas suatu hak, seperti 'wajib atas saya' ('alayya) atau 'ada pada saya' ('indi) sekian untuk Zaid. Apabila ia menambahkan: 'sepanjang dugaan saya' atau 'menurut prasangka saya', maka ucapan tambahan tersebut sia-sia (batal/tidak mengugurkan ikrar).

ثم إن كان المقر به معينا: كلزيد هذا الثوب أو خذ به أو غيره كله ثوب أو ألف: اشترط أن يضم إليه شيء مما يأتي: كعندي أو علي وقوله علي أو في ذمتي للدين ومعي أو عندي للعين ويحمل العين على أدنى المراتب وهو الوديعة فيقبل قوله بيمينه في الرد والتلف وك نعم وبلى وصدقت وأبرأتني منه أو أبرئني منه.

Kemudian jika barang yang diikrarkan (al-muqar bihi) itu berupa benda tertentu (mu'ayyan): seperti 'untuk Zaid baju ini' atau 'ambillah ini darinya' atau selainnya seperti 'ia memiliki pakaian' atau 'seribu', maka disyaratkan untuk menggabungkan kepadanya sesuatu dari hal-hal berikut: seperti 'ada pada saya' atau 'wajib atas saya'. Ucapan ' 'alayya' (wajib atas saya) atau 'fi dzimmati' (dalam tanggungan saya) digunakan untuk utang (dain), sedangkan 'ma'i' (bersamaku) atau ' 'indi' (padaku) untuk barang konkret ('ain). Benda konkret tersebut dibawa pada tingkatan paling rendah, yaitu barang titipan (wadi'ah), sehingga ucapannya dibenarkan disertai sumpahnya dalam hal pengembalian dan kerusakan. Begitu pula (lafaz ikrar berupa ucapan) 'Ya' (na'am), 'Tentu' (bala), 'Engkau benar' (shadaqta), 'Engkau telah membebaskanku darinya' (abra'tani minhu), atau 'Bebaskanlah aku darinya' (abri'ni minhu).

وقضيته لجواب أليس لي عليك كذا؟ أو قال له لي عليك كذا من غير استفهام لان المفهوم

Dan konsekuensi hukum darinya sebagai jawaban atas 'Bukankah aku punya hak sekian atasmu?' atau jika ia berkata kepadanya 'Aku punya hak sekian atasmu' tanpa kalimat tanya, karena yang dipahami…

وفي مقربه أن لا يكون لمقر,

Dan syarat pada barang yang diikrarkan (al-muqar bihi) adalah bukan milik orang yang berikrar (al-muqirr),

من ذلك: الإقرار ولو قال اقض الألف الذي لي عليك أو أخبرت أن لي عليك ألفا فقال نعم أو أمهلني أو لا أنكر ما تدعيه أو حتى أفتح الكيس أو أجد المفتاح أو الدراهم مثلا: فإقرار حيث لا استهزاء.

…dari hal itu adalah ikrar (pengakuan). Apabila seseorang berkata: 'Bayarlah seribu yang menjadi hakku atasmu' atau 'Aku dikabari bahwa aku punya hak seribu atasmu', lalu ia menjawab 'Ya', atau 'Berilah aku penangguhan', atau 'Aku tidak mengingkari apa yang engkau klaim', atau 'Tunggulah sampai aku membuka kantong ini' atau 'sampai aku menemukan kuncinya' atau 'uangnya' misalnya, maka itu merupakan ikrar selama tidak ada unsur olok-olok/olok-olokan.

فإن اقترن بواحد مما ذكر قرينة استهزاء: كإيراد كلامه بنحو ضحك وهز رأسه مما يدل على التعجب والإنكار: أي وثبت ذلك كما هو ظاهر لم يكن به مقرا على المعتمد.

Jika salah satu dari hal yang disebutkan tadi disertai petunjuk (qarinah) berupa olok-olok: seperti menyampaikan perkataannya dengan tertawa dan menggelengkan kepala yang menunjukkan keheranan dan pengingkaran—artinya dan hal itu terbukti sebagaimana yang jelas—maka menurut pendapat yang diandalkan (al-mu'tamad), ia tidak dianggap berikrar.

وطلب البيع إقرار بالملك والعارية والإجارة بملك المنفعة لكن تعينها إلى المقر.

Permintaan untuk membeli merupakan pengakuan atas kepemilikan (orang lain atas barang tersebut), sedangkan permintaan pinjaman ('ariyah) dan sewa (ijarah) merupakan pengakuan atas kepemilikan manfaat, namun penetapan manfaat tersebut diserahkan kepada orang yang berikrar.

وأما قوله ليس لك علي أكثر من ألف جوابا لقوله لي عليك ألف أو نتحاسب أو اكتبوا لزيد علي ألف درهم أو اشهدوا علي بكذا أو بما في هذا الكتاب فليس بإقرار بخلاف أشهدكم مضافا لنفسه.

Adapun perkataannya 'Engkau tidak memiliki hak atas saya lebih dari seribu' sebagai jawaban atas ucapan 'Aku memiliki hak seribu atasmu', atau 'Mari kita berhitung', atau 'Tuliskanlah untuk Zaid bahwa saya menanggung seribu dirham', atau 'Saksikanlah atas saya dengan ini' atau 'dengan apa yang ada dalam tulisan ini', maka itu bukan merupakan ikrar, berbeda jika ia mengucapkan 'Aku persaksikan kalian' (ushhidukum) dengan menyandarkan kata tersebut pada dirinya sendiri.

وقوله لمن شهد عليه هو عدل فيما شهد به إقرار: كإذا شهد علي فلان بمائة أو قال ذلك فهو صادق فإنه إقرار وإن لم يشهد.

Dan ucapannya kepada orang yang bersaksi menentangnya: 'Dia adil dalam apa yang dipersaksikannya' merupakan suatu ikrar. Seperti jika ia berkata: 'Apabila si Fulan bersaksi menentangku dengan seratus' atau ia berkata 'Maka dia benar', maka itu merupakan ikrar meskipun orang tersebut belum bersaksi.

وشرط في مقر به أن لا يكون ملكا لمقر حين يقر لان الإقرار ليس إزالة عن الملك وإنما هو إخبار عن كونه ملكا للمقر له إذا لم يكذبه.

Dan disyaratkan pada barang yang diikrarkan (al-muqar bihi) agar tidak menjadi milik orang yang berikrar (al-muqirr) ketika ia berikrar, karena ikrar bukanlah pemindahan/penghilangan kepemilikan, melainkan sekadar pemberitahuan bahwa barang tersebut milik orang yang diberi ikrar (al-muqarr lahu) apabila ia tidak mendustakannya.

فقوله داري أو ثوبي أو داري التي اشتريتها لنفسي لزيد أو ديني الذي على زيد لعمرو: لغو لأن الإضافة إليه تقتضي الملك له

Maka ucapannya: 'Rumahku' atau 'Bajuku' atau 'Rumahku yang aku beli untuk diriku sendiri adalah milik Zaid', atau 'Utangku yang ada pada Zaid adalah milik 'Amr' adalah sia-sia (tidak sah sebagai ikrar), karena penyandaran (idhafah) kepada dirinya menuntut adanya kepemilikan baginya.

وصح إقرار من مريض ولو لوارث,

Dan sah ikrar dari orang yang sakit, meskipun kepada ahli waris,

فتنافى الإقرار به لغيره: إذ هو إقرار بحق سابق.

Sehingga bertentangan dengan ikrar atasnya untuk orang lain, karena ikrar tersebut merupakan pengakuan atas hak terdahulu.

ولو قال مسكني أو ملبوسي لزيد فهو إقرار لأنه قد يسكن ويلبس ملك غيره ولو قال: الدين الذي كتبته أو باسمي على زيد لعمرو: صح أو الدين الذي لي على زيد لعمرو: لم يصح إلا إن قال: واسمي في الكتاب عارية.

Apabila ia berkata: 'Tempat tinggalku' atau 'Pakaian yang aku kenakan adalah milik Zaid', maka itu merupakan ikrar, karena seseorang terkadang tinggal di rumah atau mengenakan pakaian milik orang lain. Dan jika ia berkata: 'Utang yang aku tulis' atau 'utang atas nama saya pada Zaid adalah milik 'Amr', maka sah. Atau jika ia berkata: 'Utang milikku yang ada pada Zaid adalah milik 'Amr', maka tidak sah, kecuali jika ia berkata: 'Dan namaku di dalam surat piutang itu hanya pinjaman (pinjam nama)'.

ولو أقر بحرية عبد معين في يد غيره أو شهد بها ثم اشتراه لنفسه أو ملكه بوجه آخر: حكم بحريته.

Apabila seseorang mengikrarkan kemerdekaan budak tertentu yang berada di tangan orang lain atau ia bersaksi atas kemerdekaannya, kemudian ia membeli budak tersebut untuk dirinya sendiri atau memilikinya dengan cara lain, maka diputuskan kemerdekaan budak tersebut.

ولو أشهد أنه سيقر بما ليس عليه فأقر أن عليه لفلان كذا: لزمه ولم ينفعه ذلك الإشهاد.

Jika seseorang mempersaksikan bahwa dia akan berikrar mengenai sesuatu yang bukan kewajibannya, lalu dia berikrar bahwa dia menanggung bagi si Fulan begini: maka ikrar tersebut mengikat dirinya dan persaksian (sebelumnya) itu tidak bermanfaat baginya.

وصح إقرار من مريض مرض موت ولو لوارث بدين أو عين فيخرج من رأس المال وإن كذبه بقية الورثة لأنه انتهى إلى حالة يصدق فيها الكاذب ويتوب الفاجر فالظاهر صدقه لكن للوارث تحليف المقر له على الاستحقاق فيما استظهره شيخنا خلافا للقفال.

Sah ikrar dari orang yang sakit yang membawa kematian (marad al-maut), meskipun kepada ahli waris, baik berupa utang maupun barang benda ('ain), sehingga dikeluarkan dari harta pokok (ra's al-mal), meskipun didustakan oleh sisa ahli waris yang lain. Sebab, dia telah sampai pada kondisi di mana pembohong pun berkata jujur dan orang jahat pun bertobat, sehingga yang tampak secara lahiriah adalah kejujurannya. Akan tetapi, bagi ahli waris berhak menuntut sumpah dari orang yang diberi ikrar (al-muqar lahu) atas hak kepemilikannya menurut pendapat yang dikuatkan oleh guru kami (Syaikhuna), berbeda dengan pendapat al-Qaffal.

ولو أقر بنحو هبة مع قبض في الصحة قبل.

Jika dia mengakui transaksi sejenis hibah beserta serah-terima (qabdh) pada masa sehat, maka ikrarnya diterima.

وإن أطلق أو قال في عين عرف أنها ملكه هذه ملك لوراثي نزل على حالة المرض قاله القاضي فيتوقف على إجازة بقية الورثة: كما لو قال وهبته في مرضي.

Namun jika dia mengatakannya secara mutlak (tanpa menyebut masa sehat) atau berkata mengenai barang konkret yang diketahui sebagai miliknya: 'Barang ini milik ahli warisku', maka itu diarahkan pada kondisi sakit, sebagaimana dikatakan oleh al-Qadhi. Dengan demikian, statusnya bergantung pada persetujuan (ijazah) sisa ahli waris lainnya, sebagaimana jika dia berkata: 'Aku menghibahkannya saat aku sakit'.

واختار جمع عدم قبوله إن اتهم لفساد الزمان بل قد تقطع القرائن بكذبه فلا ينبغي لمن يخشى الله أن يقضي أو يفتي بالصحة ولا شك

Sebagian ulama memilih bahwa ikrar tersebut tidak diterima jika dia tertuduh (ada prasangka buruk) karena rusaknya zaman, bahkan indikasi-indikasi (qarain) terkadang memastikan kebohongannya. Oleh karena itu, tidak sewajarnya bagi orang yang takut kepada Allah untuk memutus hukum atau memberi fatwa akan keabsahannya, dan tidak ada keraguan

وبمجهول وبنسب ألحقه بنفسه بشرط إمكان وتصديق مستلحق ولو أقر ببيع أو هبة وقبض وإقباض فادعى فساده لم يقبل.

Dan (sah pula ikrar) terhadap hal yang samar/belum jelas (majhul), serta terhadap nasab yang dihubungkan kepada dirinya sendiri dengan syarat memungkinkan dan ada pembenaran dari orang yang dihubungkan nasabnya (mustalhaq). Jika seseorang mengakui adanya jual beli atau hibah beserta serah-terima (qabdh) dan penyerahan (iqbadh), lalu dia mengklaim kebenarannya cacat/rusak (fasad), maka klaimnya tidak diterima.

فيه إذا علم أن قصده الحرمان وقد صرح جمع بالحرمة حينئذ وأنه لا يحل للمقر له أخذه ولا يقدم إقرار صحة على إقرار مرض.

dalam hal itu jika diketahui bahwa maksudnya adalah menghalangi (ahli waris lain). Sejumlah ulama telah menegaskan keharamannya pada saat itu, dan bahwa tidak halal bagi orang yang diberi ikrar untuk mengambilnya. Dan ikrar pada masa sehat tidak didahulukan atas ikrar pada masa sakit.

وصح إقرار بمجهول كشيء أو كذا فيطلب من المقر تفسيره فلو قال له علي شيء أو كذا قبل تفسيره بغير عيادة المريض ورد سلام ونجس لا يقتنى كخنزير ولو قال له علي مال قبل تفسيره بمتمول وإن قال لا بنجس.

Sah ikrar terhadap hal yang samar (majhul) seperti perkataan 'sesuatu' atau 'sebegini', lalu orang yang berikrar diminta penjelasannya. Jika dia berkata: 'Dia mempunyai hak dariku berupa sesuatu' atau 'sebegini', maka penjelasannya diterima selain dari menjenguk orang sakit, menjawab salam, dan benda najis yang tidak boleh dipelihara seperti babi. Jika dia berkata: 'Dia mempunyai hak dariku berupa harta (mal)', maka penjelasannya diterima jika berupa sesuatu yang bernilai harta (mutamawwal), meskipun dia berkata: 'bukan benda najis'.

ولو قال هذه الدار وما فيها لفلان صح واستحق جميع ما فيها وقت الإقرار فإن اختلفا في شيء أهو بها وقته صدق المقر وعلى المقر له البينة.

Jika dia berkata: 'Rumah ini dan apa yang ada di dalamnya adalah milik si Fulan', maka ikrar itu sah dan orang tersebut berhak atas semua yang ada di dalamnya pada saat ikrar. Jika keduanya berselisih tentang sesuatu, apakah sesuatu itu berada di dalam rumah tersebut pada saat ikrar, maka ucapan orang yang berikrar (al-muqirr) dibenarkan, dan orang yang diberi ikrar (al-muqar lahu) wajib mengajukan bukti (bayyinah).

وصح إقرار بنسب ألحقه بنفسه: كأن قال هذا ابني بشرط إمكان فيه بأن لا يكذبه الشرع والحس بأن يكون دونه في السن بزمن يمكن فيه كونه ابنه وبأن لا يكون معروف النسب بغيره.

Dan sah ikrar nasab yang dihubungkan kepada dirinya sendiri, seperti berkata: 'Ini adalah anakku', dengan syarat hal itu memungkinkan, yaitu tidak didustakan oleh syariat dan indra (seperti usianya harus lebih muda dari dirinya dengan jarak umur yang memungkinkan dia sebagai anaknya) serta nasab anak tersebut tidak dikenal terhubung kepada orang lain.

ومع تصديق مستلحق أهل له فإن لم يصدقه أو سكت: لم يثبت نسبه إلا ببينة.

Serta dengan syarat adanya pembenaran dari orang yang dihubungkan nasabnya (mustalhaq) jika dia termasuk orang yang cakap untuk membenarkan. Jika dia tidak membenarkannya atau diam, maka nasabnya tidak menetap kecuali dengan bukti (bayyinah).

ولو أقر ببيع أو هبة وقبض وإقباض بعدها فادعى فساده لم يقبل في دعواه فساده وإن قال أقررت لظني الصحة لأن الاسم عند الإطلاق يحمل على الصحيح نعم: إن قطع ظاهر الحال بصدقه

Jika seseorang mengakui jual beli atau hibah beserta serah dan terima setelahnya, lalu dia mengklaim bahwa akad itu cacat/rusak, maka klaim kerusakannya tidak diterima meskipun dia berkata: 'Aku berikrar karena menduga akadnya sah', sebab istilah ketika diucapkan secara mutlak diarahkan pada makna yang sah. Ya, kecuali jika indikasi nyata (zhahir al-hal) memastikan kejujurannya

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

كبدوي جلف فينبغي قبول قوله كما قاله شيخنا.

seperti orang Arab Badui yang awam/kasar, maka sepantasnya perkataannya diterima sebagaimana dikatakan oleh guru kami (Syaikhuna).

وخرج بـ إقباض: ما لو اقتصر على الهبة فلا يكون مقرا بإقباض فإن قال ملكها ملكا لازما وهو يعرف معنى ذلك: كان مقرا بالإقباض وله تحليف المقر له أنه ليس فاسدا لإمكان ما يدعيه ولا تقبل ببيته لأنه كذبها بإقراره فإن نكل حلف المقر أنه كان فاسدا وبطل البيع أو الهبة لان اليمين المردودة كالإقرار.

Dikecualikan dari kata 'penyerahan' (iqbadh): jika dia hanya membatasi pada perkataan hibah, maka dia tidak dianggap berikrar telah menyerahkan. Jika dia berkata: 'Dia memilikinya dengan kepemilikan yang mengikat (milkan laziman)' sedangkan dia memahami makna kalimat itu, maka dia dianggap telah berikrar menyerahkan. Dan dia berhak meminta sumpah orang yang diberi ikrar (al-muqar lahu) bahwa akad itu tidak cacat/rusak karena memungkinkan apa yang diklaimnya. Bukti saksi (bayyinah)-nya tidak diterima karena dia telah mendustakannya dengan ikrarnya sendiri. Jika orang yang diberi ikrar enggan bersumpah (nakala), maka orang yang berikrar bersumpah bahwa akad itu cacat/rusak, sehingga jual beli atau hibah tersebut batal, karena sumpah yang dikembalikan (al-yamin al-mardudah) itu kedudukannya seperti ikrar.

ولو قال هذا لزيد بل لعمرو أو غصبت من زيد بل من عمرو: سلم لزيد سواء قال ذلك متصلا بما قبله أم منفصلا عنه وإن طال الزمن لامتناع الرجوع عن الإقرار بحق آدمي وغرم بدله لعمرو.

Jika dia berkata: 'Barang ini milik Zaid, melainkan milik 'Amr', atau 'Aku merampasnya dari Zaid, melainkan dari 'Amr', maka barang itu diserahkan kepada Zaid, baik dia mengucapkan hal itu langsung tersambung maupun terpisah darinya meskipun jeda waktunya lama, karena tidak boleh menarik kembali ikrar yang berkaitan dengan hak manusia, dan dia wajib mengganti nilainya (badal) kepada 'Amr.

ولو أقر بشيء ثم أقر ببعضه دخل الأقل في الأكثر.

Jika seseorang mengakui sesuatu kemudian mengakui sebagian darinya, maka jumlah yang lebih sedikit masuk ke dalam jumlah yang lebih banyak.

ولو أقر بدين لآخر ثم ادعى أداءه إليه وأنه نسي ذلك حالة الإقرار: سمعت دعواه للتحليف فقط.

Jika dia mengakui adanya utang kepada orang lain kemudian dia mengklaim telah melunasinya kepadanya dan bahwa dia lupa hal tersebut ketika berikrar, maka klaimnya itu didengar hanya untuk penuntutan sumpah (tahlif) saja.

فإن أقام بينة بالأداء: قبلت على ما أفتى به بعضهم لاحتمال ما قاله كما لو قال لا بينة لي ثم أتى ببينة تسمع.

Jika ia mengajukan bukti (bayyinah) pelunasan, maka bukti tersebut diterima menurut fatwa sebagian ulama, karena adanya kemungkinan dari apa yang ia katakan, sebagaimana jika seseorang berkata, 'Aku tidak memiliki bukti,' lalu kemudian ia datang membawa bukti, maka buktinya tetap didengar (diterima).

ولو قال لا حق لي على فلان ففيه خلاف والراجح منه أنه إن قال فيما أظن أو فيما أعلم ثم أقام بينة بأن له عليه حقا قبلت وإن لم يقل ذلك لم تقبل ببينته إلا إن اعتذر بنحو نسيان أو غلط ظاهر.

Jika ia berkata, 'Aku tidak punya hak (piutang) atas si Fulan,' maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Pendapat yang rajih adalah jika ia berkata, 'Setahuku' atau 'sepengetahuanku', kemudian ia mengajukan bukti bahwa ia memiliki hak atasnya, maka bukti itu diterima. Namun jika ia tidak mengatakan demikian, buktinya tidak diterima, kecuali jika ia memberikan uzur/alasan seperti lupa atau kekeliruan yang nyata.