فصل في الحوالة
فصل في الحوالة
Pasal tentang Hawalah (Pengalihan Utang)
تصح حوالة بصيغة
Sah hawalah dengan shighah
فصل في الحوالة
Pasal tentang Hawalah (Pengalihan Utang)
تصح حوالة بصيغة وهي إيجاب من المحيل: كأحلتك على فلان بالدين الذي لك علي أو نقلت حقك إلى فلان أو جعلت مالي
Sah hawalah dengan shighah, yaitu ijab dari muhil (orang yang mengalihkan utang), seperti: "Aku alihkan engkau kepada si Fulan untuk menagih utang yang ada padaku," atau "Aku pindahkan hakmu kepada si Fulan," atau "Aku jadikan hartaku
وبرضا محيل ومحتال ويلزم بها دين محتال محالا عليه فإن تعذر أخذه منه بفلس أو جحد لم يرجع على محيل,
dan dengan kerelaan muhil serta muhtal (orang yang menerima pengalihan). Dan dengan akad tersebut utang muhtal menjadi tanggungan muhal 'alaih (orang yang dialihi utang). Apabila sulit mengambilnya darinya karena bangkrut atau pengingkaran, muhtal tidak boleh kembali menagih kepada muhil,
عليه لك وقبول من المحتال بلا تعليق ويصح بأحلني وبرضا محيل ومحتال ولا يشترط رضا المحال عليه.
yang ada padanya menjadi milikmu," serta qabul (penerimaan) dari muhtal tanpa digantungkan pada syarat tertentu. Dan sah pula dengan ucapan "Alihkanlah utangku," serta dengan kerelaan muhil dan muhtal, dan tidak disyaratkan kerelaan muhal 'alaih.
ويلزم بها أي الحوالة دين محتال محالا عليه فيبرأ المحيل بالحوالة عن دين المحتال والمحال عليه عن دين المحيل ويتحول حق المحتال إلى ذمة المحال عليه إجماعا.
Dan dengan hiwalah (pemindahan utang) tersebut, utang muhtal (kreditur) menjadi mengikat atas muhal 'alaih (penerima pengalihan utang), sehingga muhil (debitur yang mengalihkan) menjadi bebas dari utang muhtal, dan muhal 'alaih bebas dari utang muhil, serta hak muhtal berpindah ke tanggungan muhal 'alaih berdasarkan konsensus (ijmak).
فإن تعذر أخذه منه بفلس حصل للمحال عليه وإن قارن الفلس الحوالة.
Jika tidak memungkinkan baginya untuk mengambil utang tersebut darinya disebabkan kebangkrutan yang dialami muhal 'alaih, meskipun kebangkrutan tersebut bersamaan dengan akad hiwalah,
أو جحد أي إنكار منه للحوالة أو دين المحيل وحلف عليه أو بغير ذلك: كتعزز المحال عليه وموت شهود الحوالة:
atau karena adanya pengingkaran (juhud) dari muhal 'alaih terhadap hiwalah atau utang muhil lalu ia bersumpah atas hal itu, atau karena sebab lainnya seperti muhal 'alaih yang menolak/mengabaikan secara paksa atau meninggalnya para saksi hiwalah,
لم يرجع المحتال على محيل بشيء وإن جهل ذلك ولا يتخير لو بان المحال عليه معسرا وإن شرط يساره.
maka muhtal tidak boleh menagih kembali kepada muhil sedikit pun meskipun ia tidak mengetahui hal itu. Ia juga tidak memiliki hak pilih (khiyar) apabila muhal 'alaih ternyata dalam keadaan kesulitan keuangan (sulit membayar), meskipun ketentuannya disyaratkan ia dalam keadaan berkecukupan/mampu.
ولو طلب المحتال المحال عليه فقال أبرأني المحيل قبل الحوالة وأقام بذلك بينة: سمعت وإن كان المحيل في البلد.
Apabila muhtal menagih kepada muhal 'alaih, lalu muhal 'alaih berkata: "Muhil telah membebaskanku dari utang sebelum hiwalah ini," dan ia mengajukan bukti (bayyinah) atas hal itu, maka buktinya diterima meskipun muhil berada di kota tersebut.
ثم المتجه أن للمتحال: الرجوع بدينه على المحيل إلا إذا استمر على تكذيب المحال عليه.
Kemudian pendapat yang kuat adalah bahwa muhtal berhak menagih utangnya kembali kepada muhil, kecuali jika muhtal terus mendustakan klaim muhal 'alaih tersebut.
ولو باع عبدا وأحال بثمنه ثم اتفق المتبايعان على حريته وقت البيع أو ثبتت حريته حينئذ ببينة شهدت حسبة أو أقامها العبد: لم
Dan seandainya seseorang menjual seorang hamba sahaya lalu mengalihkan (hiwalah) utang bayarannya (harganya), kemudian kedua pihak yang bertransaksi sepakat akan kemerdekaan hamba tersebut pada saat akad jual beli, atau kemerdekaannya pada saat itu terbukti melalui bukti yang bersaksi demi Allah (hisbah) atau yang diajukan oleh hamba itu sendiri, maka…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
تصح الحوالة وإن كذبهما المحتال في الحرية ولا بينة فلكل منهما تحليفه على نفي العلم بها وبقيت الحوالة.
akad hiwalah tersebut tidak sah. Namun jika muhtal mendustakan keduanya mengenai status merdeka tersebut dan tidak ada bukti, maka bagi masing-masing dari keduanya berhak meminta sumpah muhtal atas ketiadaan pengetahuannya tentang kemerdekaan itu, dan akad hiwalah tetap berlaku.
ولو اختلفا أي الدائن والمدين في أنه هل وكل أو أحال؟ بأن قال المدين: وكلتك لتقبض لي فقال الدائن: بل أحلتني وقال المدين: أحلتك فقال الدائن: بل وكلتني صدق منكر حوالة بيمينه فيصدق المدين في الأولى والدائن في الأخيرة لأن الأصل بقاء الحق في ذمة المستحق عليه.
Dan seandainya keduanya (yaitu kreditur dan debitur) berselisih mengenai apakah ia mewakilkan atau mengalihkan utang (hiwalah)? Dengan gambaran debitur berkata: "Aku mewakilkanmu untuk memungut piutang untukku," sedangkan kreditur berkata: "Tidak, melainkan engkau mengalihkan utang kepadaku," atau debitur berkata: "Aku mengalihkan utang kepadamu," lalu kreditur berkata: "Tidak, melainkan engkau mewakilkanku," maka yang dibenarkan adalah pihak yang mengingkari adanya hiwalah beserta sumpahnya. Sehingga debitur dibenarkan pada kasus pertama, dan kreditur dibenarkan pada kasus terakhir, karena hukum asal adalah tetapnya hak berada pada tanggungan orang yang berkewajiban (debitur).
تتمة [في بيان أحكام الضمان وأحكام الصلح] يصح من مكلف رشيد: ضمان بدين واجب سواء استقر في ذمة المضمون له١: كنفقة اليوم وما قبله للزوجة أو لم يستقر كثمن مبيع لم يقبض وصداق قبل وطئ لا بما سيجب كدين قرض ونفقة غد للزوجة ولا بنفقة القريب مطلقا ولا يشترط رضا الدائن والمدين.
Pelengkap [Penjelasan Hukum Dhaman dan Sulh]: Sah penjaminan (dhaman) yang dilakukan oleh seorang mukalaf yang rasyid (dewasa dan pandai mengelola harta) atas utang yang wajib ditanggung, baik yang sudah menetap dalam tanggungan pihak yang dijamin (seperti nafkah hari ini dan sebelumnya bagi istri) maupun yang belum menetap (seperti harga barang dagangan yang belum diterima dan mas kawin sebelum digauli). Tidak sah penjaminan atas sesuatu yang baru akan wajib di masa depan (seperti utang pinjaman dan nafkah besok bagi istri), tidak sah pula penjaminan atas nafkah kerabat secara mutlak. Serta tidak disyaratkan keridaan kreditur maupun debitur.
وصح ضمان الرقيق بإذن سيده وتصح منه كفالة بعين مضمونة كمغصوبة ومستعارة وببدن من يستحق حضوره مجلس حكم بإذنه.
Sah penjaminan (dhaman) oleh seorang hamba sahaya dengan izin tuannya. Sah pula penjaminan diri/fisik (kafalah) dari hamba sahaya atas barang yang terjamin/ditanggung (seperti barang ghasab dan barang pinjaman) serta atas kehadiran fisik orang yang berhak dihadirkan di majelis hukum dengan izin tuannya.
ويبرأ الكفيل بإحضار مكفول شخصا كان أو عينا إلى المكفول له وإن لم يطالبه وبحضوره عن جهة الكفيل بلا حائل: كمتغلب بالمكان
Kafil (penjamin) menjadi bebas (dari tanggung jawab) dengan menyerahkan/menghadirkan pihak/barang yang dijamin, baik berupa orang atau barang, kepada makful lahu (pemilik hak), meskipun ia tidak menuntutnya; atau dengan hadirnya orang tersebut dari pihak penjamin tanpa ada penghalang, seperti adanya penguasa yang sewenang-wenang di tempat…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
…………………………..
الذي شرط في الكفالة الإحضار إليه وإلا فحيث وقعت الكفالة فيه فإن غاب لزمه إحضاره إن عرف محله وأمن الطريق وإلا فلا ولا يطالب كفيل بمال وإن فات التسليم بموت أو غيره فلو شرط أنه يغرم المال ولو مع قوله إن فات التسليم للمكفول لم تصح.
yang disyaratkan dalam kafalah untuk menghadirkan ke tempat tersebut; jika tidak disyaratkan, maka di tempat terjadinya kafalah. Apabila orang yang dijamin gaib (tidak berada di tempat), maka kafil wajib menghadirhkannya jika diketahui keberadaannya dan jalannya aman; jika tidak, maka tidak wajib. Kafil tidak dituntut dengan ganti harta meskipun penyerahan tidak terwujud disebabkan kematian atau lainnya. Maka jika disyaratkan bahwa kafil mengganti rugi harta, walaupun disertai perkataannya "jika penyerahan orang yang dijamin tidak terwujud", maka kafalah tersebut tidak sah.
وصيغة الالتزام فيهما: كضمنت دينك على فلان أو تحملته أو تكفلت ببدنه أو أنا بالمال أو بإحضار الشخص ضامن أو كفيل ولو قال أؤدي المال أو أحضر الشخص فهو وعد بالتزام كما هو صريح الصيغة نعم: إن حفت به قرينة تصرفه إلى الإنشاء: انعقد به كما بحثه ابن الرفعة واعتمده السبكي ولا يصحان بشرط براءة أصيل ولا بتعلق وتوقيت وللمستحق مطالبة الضامن والأصيل ولو برئ: برئ الضامن.
Lafal/sigat komitmen dalam keduanya adalah seperti: "Aku menjamin utangmu atas si Fulan", "Aku menanggungnya", "Aku menjamin fisiknya", atau "Aku adalah penjamin/penanggung untuk harta atau pengahiran orang tersebut." Seandainya ia berkata: "Aku akan membayar harta tersebut" atau "Aku akan menghadirkan orang tersebut", maka itu adalah janji untuk menanggung sebagaimana kejelasan lafalnya. Ya, jika disertai qarinah (indikasi) yang memalingkannya pada arti insha' (membuat akad baru), maka akad tersebut sah darinya sebagaimana dibahas oleh Ibn al-Rif'ah dan diandalkan oleh al-Subki. Kedua akad tersebut (dhaman dan kafalah) tidak sah jika disyaratkan pembebasan debitur asli, serta tidak sah jika digantungkan (syarat) dan dibatasi waktu. Pemilik hak berhak menagih kepada penjamin (dhamin) maupun debitur asli (ashil). Jika debitur asli dibebaskan, maka penjamin pun ikut bebas.
ولا عكس في الإبراء دون الأداء.
Dan tidak berlaku sebaliknya dalam hal pembebasan (pembebasan dhamin tidak membebaskan ashil), berbeda dengan pemenuhan/pembayaran utang.
ولو مات أحدهما والدين مؤجل: حل عليه.
Dan seandainya salah satu dari keduanya meninggal dunia sedangkan utangnya berjangka waktu (belum jatuh tempo), maka utang itu menjadi jatuh tempo atasnya (yang meninggal).
ولضامن رجوع على أصيل إن غرم ولو صالح عن الدين بما دونه: لم يرجع إلا بما غرم ولو أدى دين غيره بإذن: رجع وإن لم يشرط له الرجوع لا إن أداه بقصد التبرع.
Penjamin (ḍāmin) berhak menagih kembali (rujū') kepada orang yang dijamin (aṣīl) jika ia telah membayar (ganti rugi). Jika ia berdamai (ṣulḥ) atas utang tersebut dengan nominal yang lebih rendah darinya, ia tidak boleh menagih kembali kecuali sebesar jumlah yang ia bayarkan. Dan jika ia melunasi utang orang lain atas izinnya, maka ia berhak menagih kembali meskipun tidak dipersyaratkan baginya hak menagih kembali; berbeda halnya jika ia melunasinya dengan maksud menyumbang (tabarru').
فرع أفتى جمع محققون بأنه لو قال رجلان لآخر: ضمنا مالك على فلان: طالب كلا بجميع الدين.
Cabang Masalah: Sekelompok ulama muhaqqiqin berfatwa bahwa jika dua orang berkata kepada orang lain: "Kami menjamin harta milikmu yang ditanggung oleh si Fulan," maka pemilik harta boleh menuntut masing-masing dari keduanya dengan seluruh jumlah utang.
وقال جمع متقدمون: طالب كلا بنصف الدين ومال إليه الأذرعي.
Sekelompok ulama terdahulu (mutaqaddimūn) berkata: "Pemilik harta menuntut masing-masing setengah dari utang," dan pendapat ini dicenderungi oleh al-Adzra'i.
قال شيخنا: إنما تقسط الضمان في: متاعك في البحر وأنا
Guru kami (Syaikhuna) berkata: "Jaminan hanya dibagi (proporsional) dalam ucapan: 'Barangmu di laut dan saya…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
وركاب السفينة ضامنون لأنه ليس ضمانا حقيقة بل استدعاء إتلاف مال لمصلحة فاقتضت التوزيع لئلا ينفر الناس عنها.
… dan para penumpang kapal adalah penjamin.' Karena hal tersebut bukanlah jaminan secara hakiki, melainkan permintaan untuk merusakkan harta demi suatu kemaslahatan, sehingga menuntut pembagian beban agar orang-orang tidak lari darinya.
واعلم أن الصلح جائز مع الإقرار وهو على شيء غير المدعي معاوضة كما لو قال: صالحتك عما
Ketahuilah bahwa perdamaian (ṣulḥ) itu sah dilakukan beserta adanya pengakuan (iqrār). Perdamaian atas sesuatu yang bukan barang yang diklaim berstatus jual beli (mu'āwaḍah), seperti jika ia berkata: "Aku berdamai denganmu atas apa yang…
تدعيه على هذا الثوب فله حكم البيع وعلى بعض المدعى إبراء إن كان دينا فلو لم يقل المدعي أبرأت ذمتك: لم يضر ويلغى الصلح حيث لا حجة للمدعي مع الإنكار أو السكوت من المدعى عليه فلا يصح
… engkau klaim atas baju ini," maka baginya berlaku hukum jual beli. Dan perdamaian atas sebagian barang yang diklaim berstatus pembebasan (ibrā') jika berupa utang. Maka jika penggugat tidak mengatakan "Aku telah membebaskan tanggunganmu", hal itu tidak memudaratkan. Dan perdamaian menjadi batal apabila tidak ada bukti bagi penggugat disertai adanya pengingkaran atau sikap diam dari tergugat, maka tidak sah…
الصلح على الإنكار وإن فرض صدق المدعي خلافا للائمة الثلاثة نعم يجوز للمدعي المحق أن يأخذ ما بذل له في الصلح على الإنكار ثم إن وقع بغير مدعى به كان ظافرا وسيأتي حكم الظفر.
… perdamaian atas dasar pengingkaran (ṣulḥ 'alal inkār) meskipun diandaikan penggugat itu benar, berbeda dengan pendapat Tiga Imam. Ya, boleh bagi penggugat yang benar untuk mengambil apa yang diberikan kepadanya dalam perdamaian atas pengingkaran tersebut, kemudian jika itu terjadi dengan selain barang yang diklaim maka ia berstatus sebagai orang yang mengambil haknya secara sepihak (ẓāfir), dan hukum ẓafar akan dijelaskan kemudian.
فرع [في بيان الحقوق المشتركة ومنع التزاحم عليها] يحرم على كل أحد غرس شجر في شارع ولو لعموم النفع للمسلمين كبناء دكة وإن لم يضر فيه ولو لذلك أيضا وإن انتفى الضرر حالا أو كانت الدكة بفناء داره ويحل الغرس بالمسجد للمسلمين أو ليصرف ريعه بل يكره.
Cabang Masalah [TENTANG HAK-HAK BERSAMA DAN PENCEGAHAN BEREBUTAN ATASNYA]: Diharamkan bagi siapapun menanam pohon di jalan umum, meskipun untuk kemaslahatan umum umat Islam, seperti halnya membangun bangku tempat duduk (dakkatun), walaupun tidak membahayakan jalan tersebut dan meskipun untuk tujuan kemaslahatan umum tersebut, serta walaupun tidak ada bahaya saat ini atau bangku tersebut berada di pekarangan rumahnya. Dan dihalalkan menanam tanaman di masjid untuk umat Islam atau agar hasilnya disedekahkan, bahkan hal itu makruh (jika tanpa kebutuhan).