باب في الوكالة والقراض
باب في الوكالة والقراض
BAB TENTANG WAKALAH (PERWAKILAN) DAN QIRADH (BAGI HASIL)
تصح وكالة في كل عقد وفسخ عليه ولاية لموكل لا إقرار
Sah perwakilan (wakalah) dalam setiap akad dan pembatalan (fasakh) yang di dalamnya terdapat kekuasaan (wilayah) bagi orang yang mewakilkan, bukan dalam pengakuan (iqrar).
باب في الوكالة والقراض
Bab tentang Wakalah (Perwakilan) dan Qiradh (Bagi Hasil)
تصح وكالة شخص متمكن لنفسه كعبد وفاسق في قبول نكاح ولو بلا إذن سيد لا في إيجابه
Sah perwakilan seseorang yang memiliki kewenangan bertindak untuk dirinya sendiri, seperti hamba sahaya dan orang fasik, dalam menerima (qabul) pernikahan meskipun tanpa izin tuannya, tidak dalam mengijabkan (menikahkan).
وهي تفويض شخص أمره إلى آخر فيما يقبل النيابة ليفعله في حياته فتصح في كل عقد: كبيع ونكاح وهبة ورهن وطلاق منجز وفي كل فسخ كإقالة ورد بعيب وفي قبض وإقباض للدين أو العين وفي استيفاء عقوبة آدمي والدعوى والجواب وإن كره الخصم.
Wakalah adalah penyerahan urusan seseorang kepada orang lain dalam hal yang menerima perwakilan agar dilakukan semasa hidupnya. Maka wakalah sah dalam setiap akad: seperti jual beli, nikah, hibah, gadai, dan talak yang ditanfizkan (seketika); dalam setiap fasakh: seperti iqālah (pembatalan jual beli atas kesepakatan) dan pengembalian barang karena cacat; dalam hal menerima dan menyerahkan utang atau barang; dalam penuntutan hak hukuman (ḥaqq ādamī); serta dalam mengajukan gugatan dan jawaban meskipun tidak disukai lawan.
وإنما تصح الوكالة فيما ذكر إن كان عليه ولاية لموكل بملكه التصرف فيه حين التوكيل فلا يصح في بيع ما سيملكه وطلاق من سينكحها لأنه لا ولاية له عليه حينئذ وكذا لو وكل من يزوج موليته إذا طلقت أو انقضت عدتها على ما قاله الشيخان هنا لكن رجح في الروضة في النكاح الصحة وكذا لو قالت له وهي في نكاح أو عدة أذنت لك في تزويجي إذا حللت ولو علق ذلك على الانقضاء أو الطلاق فسدت الوكالة ونفذ التزويج للإذن.
Wakalah hanya sah pada hal-hal yang disebutkan tersebut jika orang yang mewakilkan memiliki kewenangan padanya dengan memiliki hak bertindak atasnya pada saat mewakilkan. Maka tidak sah mewakilkan dalam penjualan barang yang baru akan dimilikinya, dan talak terhadap wanita yang baru akan dinikahinya, karena ia belum memiliki kewenangan atasnya pada saat itu. Demikian pula jika ia mewakilkan seseorang untuk menikahkan wanita yang ada di bawah perwaliannya jika wanita itu diceraikan atau habis masa idahnya, menurut apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikhani (Ar-Rafi'i dan An-Nawawi) di sini, tetapi An-Nawawi merajihkan keabsahannya dalam kitab Ar-Raudhah pada bab Nikah. Demikian pula jika seorang wanita yang masih dalam ikatan pernikahan atau idah berkata kepadanya: "Aku izinkan engkau menikahkanku jika aku telah halal." Dan sekiranya ia menggantungkan hal itu pada selesainya idah atau terjadinya talak, maka wakalah tersebut rusak (batal), tetapi pernikahan tersebut tetap terlaksana karena adanya izin.
لا في إقرار أي لا يصح التوكيل فيه بأن يقول لغيره: وكلتك لتقر عني لفلان بكذا فيقول الوكيل أقررت عنه بكذا لانه إخبار عن حق فلا يقبل التوكيل لكن يكون الموكل مقرا بالتوكيل,
(Tidak sah) dalam pengakuan (iqrār), maksudnya tidak sah mewakilkan pengakuan dengan cara seseorang berkata kepada orang lain: "Aku mewakilkanmu untuk mengakui atas namaku kepada si Fulan sebesar sekian," lalu wakil tersebut berkata: "Aku mengakui atas namanya sebesar sekian," karena iqrār adalah pemberitahuan mengenai suatu hak sehingga tidak menerima perwakilan. Akan tetapi orang yang mewakilkan tersebut dianggap telah berikrar dengan tindakan perwakilannya itu.
ويمين وعبادة بإيجاب كوكلتك أو بع
Dan (tidak sah pula perwakilan dalam) sumpah dan ibadah; (wakalah disyaratkan harus) dengan ijab seperti ucapan "Aku mewakilkanmu" atau "Juallah…"
ولا في يمين لأن القصد بها تعظيم الله تعالى فأشبهت العبادة ومثلها: النذر وتعليق العتق والطلاق بصفة ولا في الشهادة إلحاقا لها بالعبادة.
Juga tidak sah wakalah dalam sumpah, karena tujuannya adalah mengagungkan Allah Ta'ala sehingga diserupakan dengan ibadah. Dan yang sepadan dengannya adalah: nazar, serta menggantungkan pembebasan budak dan talak pada suatu syarat/sifat. Juga tidak sah dalam persaksian (kesaksian), karena dianalogikan dengan ibadah.
والشهادة على الشهادة ليست توكيلا بل الحاجة جعلت الشاهد المتحمل عنه كحاكم أدى عنه عند حاكم آخر.
Kesaksian atas kesaksian (syahadah 'ala syahadah) bukanlah pelimpahan wewenang (mewakilkan), melainkan kebutuhan yang menjadikan saksi yang menanggung kesaksian tersebut seperti seorang hakim yang menyampaikan atas namanya di hadapan hakim lain.
ولا في عبادة إلا في حج وعمرة وذبح نحو أضحية.
Juga tidak sah dalam ibadah, kecuali dalam haji, umrah, dan penyembelihan seperti udhiyah (kurban).
ولا تصح الوكالة إلا بإيجاب وهو ما يشعر برضا الموكل الذي يصح مباشرته الموكل فيه في التصرف: كوكلتك في كذا أو فوضت إليك أو أنبتك أو أقمتك مقامي فيه أو بع كذا أو زوج فلانة أو طلقها أو أعطيت بيدك طلاقها وأعتق فلانا.
Wakalah tidak sah kecuali dengan ijab, yaitu ucapan yang menunjukkan kerelaan orang yang mewakilkan (al-muwakkil) yang mana ia sah melakukan sendiri tindakan pada perkara yang diwakilkan tersebut: seperti 'Aku mewakilkanmu dalam hal ini', 'Aku menyerahkan kepadamu', 'Aku menggantikanmu denganku', 'Aku mendudukkanmu di posisiku dalam hal ini', 'Juallah ini', 'Nikahkanlah si Fulanah', 'Talaklah dia', 'Aku serahkan ke tanganmu talaknya', atau 'Bebaskanlah si Fulan'.
قال السبكي: يؤخذ من كلامهم صحة قول من لا ولي لها: أذنت لكل عاقد في البلد أن يزوجني.
As-Subki berkata: Diambil dari perkataan para ulama tentang sahnya ucapan wanita yang tidak memiliki wali: 'Aku mengizinkan setiap orang yang berakad di negeri ini untuk menikahkanku'.
قال الأذرعي: وهذا إذا صح محله إن عينت الزوج ولم تفوض إلا صيغة فقط.
Al-Adzra'i berkata: Ini jika sah tempatnya, apabila wanita tersebut telah menentukan calon suaminya dan hanya menyerahkan bagian shighat saja.
وبنحو ذلك أفتى ابن الصلاح.
Dan Ibnu ash-Shalah memberi fatwa yang senada dengan hal tersebut.
ولا يشترط في الوكالة: القبول لفظا لكن يشترط عدم الرد فقط.
Dalam wakalah tidak disyaratkan adanya kabul secara lisan, melainkan hanya disyaratkan tidak adanya penolakan.
ولو تصرف غير عالم بالوكالة: صح إن تبين وكالته حين التصرف كمن باع مال أبيه ظانا حياته فبان ميتا.
Jika seseorang bertindak tanpa mengetahui bahwa ia telah diwakilkan, maka tindakannya sah apabila terbukti ia memang menjadi wakil pada saat bertindak tersebut, seperti orang yang menjual harta ayahnya dengan mengira ayahnya masih hidup, padahal ternyata ayahnya telah meninggal.
ولا يصح تعليق الوكالة بشرط: كإذا جاء رمضان فقد وكلتك في
Dan tidak sah menggantungkan (ta'liq) wakalah pada suatu syarat, seperti: 'Jika bulan Ramadan telah tiba, maka aku mewakilkanmu dalam…'
وباع وكيل بثمن مثل حالا
Dan seorang wakil menjual barang dengan harga standar (tsaman al-misl) secara tunai…
كذا فلو تصرف بعد وجود الشرط المعلق كأن وكله بطلاق زوجة سينكحها أو ببيع عبد سيملكه أو بتزويج بنته إذا طلقت واعتدت: فطلق بعد أن نكح أو باع بعد أن ملك أو زوج بعد العدة نفذ عملا بعموم الإذن وإن قلنا بفساد الوكالة بالنسبة إلى سقوط الجعل المسمى إن كان ووجوب أجرة المثل.
…hal ini. Maka jika ia bertindak setelah terwujudnya syarat yang digantungkan tersebut, seperti seseorang mewakilkan padanya untuk menalak istri yang akan dinikahinya, atau menjual budak yang akan dimilikinya, atau menikahkan putrinya jika telah ditalak dan menyelesaikan masa idahnya, lalu ia menalak setelah menikahinya, atau menjual setelah memilikinya, atau menikahkan setelah masa idah, maka tindakan itu berlaku (nafadz) karena mengamalkan keumuman izin, meskipun kita berpendapat bahwa akad wakalahnya fasad (rusak) terkait gugurnya imbalan (ju'l) yang ditentukan jika ada, dan wajibnya bayaran yang sepadan (ujrah al-misl).
وصح تعليق التصرف فقط كبعه لكن بعد شهر وتأقيتها: كوكلتك إلى شهر رمضان.
Namun sah menggantungkan pelaksanaan tindakannya saja, seperti 'Juallah barang ini, tetapi setelah satu bulan', dan sah pula membatasi waktunya (ta'qit), seperti 'Aku mewakilkanmu hingga bulan Ramadan'.
ويشترط في الوكالة أن يكون الموكل فيه معلوما للوكيل ولو بوجه كوكلتك في بيع جميع أموالي وعتق أرقائي وإن لم تكن أمواله وأرقاؤه معلومة لقلة الغرر فيه بخلاف بع هذا أو ذاك وفارق إحدى عبيدي بأن الأحد صادق على كل وبخلاف بع بعض مالي نعم: يصح بع أو هب منه ما شئت وتبطل في المجهول كوكلتك في كل قليل وكثير أو في كل أموري أو تصرف في أموري كيف شئت لكثرة الغرور فيه.
Disyaratkan dalam wakalah agar perkara yang diwakilkan tersebut diketahui oleh wakil, meskipun dari satu sisi, seperti 'Aku mewakilkanmu untuk menjual seluruh hartaku dan membebaskan para budakku', walaupun harta dan para budaknya belum diketahui secara terperinci, karena sedikitnya ketidakpastian (gharar) padanya. Berbeda dengan 'Juallah ini atau itu', dan berbeda dengan 'salah satu dari budak-budakku' karena kata 'salah satu' berlaku untuk tiap-tiap budak, dan berbeda pula dengan 'Juallah sebagian hartaku'. Ya, sah ucapan 'Juallah atau hibahkan darinya apa yang engkau kehendaki'. Dan batal wakalah pada hal yang tidak jelas (samar/majhul), seperti 'Aku mewakilkanmu dalam setiap hal yang sedikit maupun banyak', atau 'dalam seluruh urusanku', atau 'bertindaklah dalam urusanku sesukamu', karena banyaknya ketidakpastian (gharar) di dalamnya.
وباع كالشريك وكيل صح مباشرته التصرف لنفسه بثمن مثل فأكثر حالا فلا يبيع نسيئة ولا بغير نقد البلد ولا بغبن فاحش بأن لا يحتمل غالبا فبيع ما يساوي عشرة بتسعة: محتمل وبثمانية: غير محتمل.
Dan wakil—seperti halnya sekutu (syarik)—yang sah melakukan sendiri tindakan tersebut untuk dirinya, hendaklah menjual dengan harga standar (tsaman al-misl) atau lebih tinggi secara tunai. Maka ia tidak boleh menjual secara kredit, tidak pula dengan selain mata uang negeri setempat, dan tidak pula dengan kerugian yang menyolok (ghabn fahisy) sekiranya umumnya tidak dapat ditoleransi; di mana penjualan barang seharga sepuluh dengan harga sembilan masih dapat ditoleransi, sedangkan dengan harga delapan tidak dapat ditoleransi.
ومتى خالف شيئا مما ذكر فسد تصرفه وضمن قيمته يوم التسليم
Dan kapan pun ia menyelisih sesuatu dari apa yang telah disebutkan, maka bertindak/transaksinya menjadi batal (fasad) dan ia menanggung ganti rugi (dhamin) sebesar nilainya pada hari penyerahan,
إذا أطلق الموكل ولا يبيع لنفسه
apabila orang yang mewakilkan mutlak menyebutkannya. Dan wakil tidak boleh menjual untuk dirinya sendiri,
ولو مثليا إن أقبض المشتري فإن بقي: استرده وله حينئذ بيعه بالإذن السابق وقبض الثمن ولا يضمنه.
Meskipun berupa barang mitsli (yang ada padanannya), jika ia telah menyerahkannya kepada pembeli. Apabila barang tersebut masih ada, maka ia (wakil) menariknya kembali, dan saat itu ia berhak menjualnya berdasarkan izin yang sebelumnya serta menerima harganya, dan ia tidak menanggung ganti rugi atasnya.
وإن تلف غرم الموكل بدله الوكيل أو المشتري والقرار عليه.
Jika barang tersebut rusak/rusak, maka orang yang mewakilkan (muwakkil) menagih ganti ruginya kepada wakil atau pembeli, dan penanggungan akhir ada pada pembeli.
وهذا كله إذا أطلق الموكل الوكالة في البيع بأن لم يقيد بثمن ولا حلول ولا تأجيل ولا نقد وإن قيد بشيء اتبع.
Ini semua berlaku jika muwakkil memutlakkan akad perwakilan dalam penjualan, yaitu dengan tidak membatasinya pada harga tertentu, pembayaran tunai, penangguhan (kredit), atau mata uang tertentu. Namun jika ia membatasinya dengan sesuatu, maka hal itu wajib diikuti.
فرع: لو قال لوكيله بعه بكم شئت فله بيعه بغبن فاحش لا بنسيئة ولا بغير نقد البلد أو بما شئت أو بما تراه فله بيعه بغير نقد البلد لا بغبن ولا بنسيئة أو بكيف شئت فله بيعة بنسيئة لا بغبن ولا بغير نقد البلد أو بما عز وهان فله بيعه بعرض وغبن لا بنسيئة.
Cabang masalah: Jika muwakkil berkata kepada wakilnya, "Jual-lah dengan harga berapa pun yang engkau kehendaki," maka wakil boleh menjualnya dengan kerugian yang sangat besar (ghabn fahisy), namun tidak boleh secara kredit (nasi'ah) dan tidak boleh dengan selain mata uang negara setempat. Jika ia berkata, "Dengan apa saja yang engkau kehendaki," atau "Dengan apa yang menurutmu baik," maka wakil boleh menjualnya dengan selain mata uang negara setempat, tetapi tidak boleh dengan ghabn dan tidak boleh secara kredit. Jika ia berkata, "Bagaimana pun yang engkau kehendaki," maka wakil boleh menjualnya secara kredit, tetapi tidak boleh dengan ghabn dan tidak boleh dengan selain mata uang negara setempat. Jika ia berkata, "Dengan harga berapa saja, baik mahal maupun murah," maka wakil boleh menjualnya dengan pembayaran barang ('ardh) dan kerugian (ghabn), namun tidak boleh secara kredit.
ولا يبيع الوكيل لنفسه وموليه وإن أذن له في ذلك وقدر له بالثمن خلافا لابن الرفعة لامتناع اتحاد الموجب والقابل وإن انتفت التهمة بخلاف أبيه وولده الرشيد.
Wakil tidak boleh menjual barang tersebut untuk dirinya sendiri maupun orang yang berada di bawah perwaliannya, meskipun muwakkil memberi izin untuk itu dan telah menentukan harganya—berbeda dengan pendapat Ibn Ar-Rif'ah—karena tidak boleh menyatunya pihak yang melakukan ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan), meskipun tidak ada kecurigaan (tuhmah); berbeda halnya jika ia menjualnya kepada ayahnya atau anaknya yang sudah rasyid (dewasa dan bijak).
ولا يصح البيع بثمن المثل مع وجود راغب بزيادة لا يتغابن بمثلها إن وثق به.
Tidak sah menjual barang dengan harga standar (tsaman al-misl) apabila terdapat orang yang berminat membeli dengan harga lebih tinggi yang selisih harganya tidak biasa ditoleransi, selama orang tersebut dapat dipercaya.
قال الأذرعي: ولم يكن مماطلا ولا ماله أو كسبه حراما أي كله١ أو أكثره فإن وجد راغب بالزيادة في زمن خيار المجلس أو
Al-Adzra'i berkata: "Serta orang tersebut tidak suka menunda-nunda pembayaran dan harta atau pencahariannya tidak haram, yaitu seluruhnya atau sebagian besarnya." Maka apabila ditemukan pembeli yang berminat dengan harga lebih tinggi di masa khiyar majelis atau…
وليس له شراء معيب ووقع له إن علم
Dan wakil tidak berhak membeli barang yang cacat, dan pembelian itu jatuh/berlaku untuk dirinya sendiri jika ia mengetahui…
الشرط ولو للمشتري وحده ولم يرض بالزيادة فسخ الوكيل العقد وجوبا بالبيع للراغب بالزيادة وإلا انفسخ بنفسه ولا يسلم الوكيل بالبيع بحال المبيع حتى يقبض الثمن الحال وإلا ضمن للموكل قيمة البيع ولو مثليا. وليس له أي للوكيل بالشراء شراء معيب لاقتضاء الإطلاق عرفا السليم.
khiyar syarat, meskipun khiyar tersebut hanya untuk pembeli saja, dan pembeli pertama tidak bersedia menambah harga, maka wakil wajib membatalkan akad demi menjualnya kepada orang yang berminat dengan harga lebih tinggi; jika tidak, maka akad batal dengan sendirinya. Wakil penjualan tidak boleh menyerahkan barang yang dijual dalam keadaan apa pun sampai ia menerima harganya yang tunai, jika tidak maka ia menanggung ganti rugi (dhaman) kepada muwakkil sebesar nilai barang yang dijual meskipun berupa barang mitsli. Wakil pembelian tidak berhak membeli barang yang cacat, karena kemutlakan perintah secara urf menuntut barang yang selamat dari cacat.
ووقع الشراء له أي للوكيل إن علم العيب واشتراه بثمن في الذمة وإن ساوى المبيع الثمن إلا إذا عينه الموكل وعلم بعيبه فيقع له كما إذا اشتراه بثمن في الذمة أو بعين ماله جاهلا بعيبه وإن لم يساو المبيع الثمن.
Pembelian tersebut berlaku untuk dirinya sendiri (yaitu wakil) jika ia mengetahui adanya cacat dan membelinya dengan harga dalam tanggungan (dzimmah), meskipun nilai barang sebanding dengan harganya, kecuali jika muwakkil telah menentukan barangnya dan ia mengetahui cacatnya, maka pembelian berlaku untuk muwakkil. Sebagaimana pula berlaku untuk muwakkil jika wakil membelinya dengan harga dalam tanggungan atau dengan barang/uang muwakkil sendiri dalam keadaan tidak mengetahui cacatnya, meskipun nilai barang tidak sebanding dengan harganya.
وعلم مما مر أنه حيث لم يقع للموكل فإن كان الثمن عين ماله بطل الشراء وإلا وقع للوكيل.
Dari penjelasan yang lalu dapat diketahui bahwa sekiranya akad tidak berlaku untuk muwakkil, maka jika harganya menggunakan barang/uang milik muwakkil sendiri, pembelian tersebut batal; jika tidak (yaitu menggunakan tanggungan), maka pembelian berlaku untuk wakil.
ويجوز لعامل القراض شراؤه لان القصد ثم الربح وقضيته أنه لو كان القصد هنا الربح جاز وهو كذلك. ولكل من الموكل والوكيل في صورة الجهل رد بعيب لا لوكيل إن رضي به موكل.
Boleh bagi pekerja qiradh (mudharabah) membeli barang yang cacat, karena tujuan dalam qiradh adalah mencari keuntungan. Konsekuensinya, jika tujuan dalam wakalah di sini adalah mencari keuntungan, maka hukumnya boleh, dan memang demikian halnya. Masing-masing dari muwakkil dan wakil dalam kondisi tidak mengetahui cacat berhak mengembalikan barang karena cacat tersebut, namun wakil tidak berhak mengembalikannya jika muwakkil telah meridhainya.
ولو دفع موكله إليه مالا للشراء وأمره بتسليمه في الثمن فسلم من عنده فمتبرع حتى لو تعذر١ مال الموكل لنحو غيبة مفتاح إذ
Jika muwakkil menyerahkan harta kepada wakil untuk pembelian dan memerintahkannya untuk menyerahkannya sebagai harga, lalu wakil menyerahkan pembayaran dari hartanya sendiri, maka ia dianggap menyumbang (mutabarri'), bahkan sekalipun harta muwakkil sulit diakses karena hilangnya kunci misalnya, sebab…
ولا توكيل بلا إذن فيما يتأتى منه,
Dan tidak boleh mewakilkan lagi tanpa izin dalam hal yang mampu dilakukan sendiri,
يمكنه الإشهاد على أنه أدى عنه ليرجع أو إخبار الحاكم بذلك فإن لم يدفع له شيئا أو لم يأمره بالتسليم فيه رجع للقرينة الدالة على إذنه له في التسليم عنه.
ia memungkinkan untuk mengambil saksi bahwa ia membayar atas namanya agar ia bisa menagihnya kembali, atau memberitahukan hal itu kepada hakim. Namun jika muwakkil tidak menyerahkan harta apa pun kepadanya atau tidak memerintahkannya untuk membayar dengannya, maka wakil boleh menagih kembali karena adanya indikasi (qarinah) yang menunjukkan izin dari muwakkil untuk membayarkan atas namanya.
ولا له توكيل بلا إذن من الموكل فيما يتأتى منه لأنه لم يرض بغيره نعم لو وكله في قبض دين فقبضه
Wakil juga tidak berhak mewakilkan kepada orang lain tanpa izin dari muwakkil dalam urusan yang mampu ia lakukan sendiri, karena muwakkil tidak meridhai orang lain. Ya, jika muwakkil mewakilkannya untuk menerima piutang lalu ia menerimanya…
وأرسله مع أحد من عياله لم يضمن كما قاله الجوري.
dan ia mengirimkannya bersama salah seorang dari anggota keluarganya, maka ia tidak menanggung ganti rugi (tidak dhaman), sebagaimana dikatakan oleh Al-Juri.
قال شيخنا: والذي يظهر أن المراد بهم أولاده ومماليكه وزوجاته بخلاف غيرهم.
Guru kami berkata: Yang tampak jelas adalah bahwa yang dimaksud dengan anggota keluarga di sini adalah anak-anaknya, hamba sahayanya, dan istri-istrinya, berbeda dengan selain mereka.
ومثله إرسال نحو ما اشتراه له مع أحدهم.
Dan yang serupa dengannya adalah mengirimkan barang seperti yang telah dibelikan untuknya bersama seseorang dari mereka.
وخرج بقولي فيما يتأتى منه: ما لم يتأت منه لكونه يتعسر عليه الإتيان به لكثرته أو لكونه لا يحسنه أو لا يليق به فله التوكيل عن موكله لا عن نفسه وقضية التعليل المذكور امتناع التوكيل عند جهل الموكل بحاله.
Dan dikecualikan dengan perkataan saya 'dalam hal yang dapat dilakukannya': apa yang tidak dapat dilakukannya karena sulit baginya untuk melaksanakannya disebabkan jumlahnya yang banyak, atau karena dia tidak ahli melaksanakannya, atau tidak pantas baginya, maka ia boleh mewakilkan atas nama pemberi kuasanya, bukan atas nama dirinya sendiri. Konsekuensi dari alasan yang disebutkan adalah terlarangnya mewakilkan apabila pemberi kuasa tidak mengetahui keadaannya.
ولو طرأ له العجز لطرو نحو مرض أو سفر لم يجز له أن يوكل وإذا وكل الوكيل بإذن الموكل فالثاني وكيل الموكل فلا يعزله الوكيل فإن قال الموكل وكل عنك ففعل فالثاني وكيل الوكيل لأنه مقتضي الإذن فينعزل بعزله.
Seandainya ketidakmampuan itu baru timbul padanya karena datangnya hal seperti sakit atau bepergian, ia tidak boleh mewakilkan. Dan apabila wakil mewakilkan dengan izin pemberi kuasa, maka wakil kedua adalah wakil dari pemberi kuasa, sehingga wakil pertama tidak dapat memberhentikannya. Namun jika pemberi kuasa berkata, 'Wakilkanlah atas nama dirimu,' lalu ia melaksanakannya, maka wakil kedua adalah wakil dari wakil pertama karena itulah yang menjadi konsekuensi izin tersebut, sehingga ia dapat diberhentikan dengan pencopotan oleh wakil pertama.
ويلزم الوكيل أن لا يوكل إلا أمينا ما لم يعين له غيره مع علم الموكل بحاله أو لم يقل له وكل من شئت على الأوجه كما لو قالت لوليها: زوجني ممن شئت فله تزويجها من غير الكف أيضا.
Wajib bagi wakil untuk tidak mewakilkan kecuali kepada orang yang terpercaya (amin), selama pemberi kuasa tidak menentukan orang lain untuknya padahal pemberi kuasa mengetahui keadaannya, atau pemberi kuasa tidak berkata kepadanya: 'Wakilkanlah kepada siapa pun yang engkau kehendaki' menurut pendapat yang kuat (al-awjah), sebagaimana jika seorang wanita berkata kepada walinya: 'Nikahkanlah aku dengan siapa saja yang engkau kehendaki,' maka wali boleh menikahkannya bahkan dengan lelaki yang tidak sekufu.
وهو أمين
Dan dia adalah orang yang terpercaya (amin)
وقوله لوكيله في شيء افعل فيه ما شئت أو كل ما تفعله جائز ليس إذنا في التوكيل.
Dan ucapan pemberi kuasa kepada wakilnya mengenai sesuatu: 'Lakukanlah padanya apa yang engkau kehendaki' atau 'Segala apa yang engkau lakukan adalah boleh', bukanlah izin untuk mewakilkan.
فرع [في بيان ما يجب على الوكيل في الوكالة المقيدة] لو قال بع لشخص معين كزيد لم بيع من غيره ولو وكيل زيد أو بشيء معين من المال كالدينار لم يبع بالدراهم على المعتمد أو في مكان معين تعين أو في زمان معين كشهر كذا أو يوم كذا تعين ذلك فلا يجوز قبله ولا بعده ولو في الطلاق وإن لم يتعلق به غرض عملا بالإذن وفارق إذا جاء رأس الشهر فأمر زوجتي بيدك ولم يرد التقييد برأسه فله إيقاعه بعده بخلاف طلقها يوم الجمعة فإنه يقتضي حصر الفعل فيه دون غيره وليلة اليوم مثله إن استوى الراغبون فيهما.
Cabang masalah [Penjelasan tentang apa yang wajib bagi wakil dalam perwakilan yang dibatasi (muqayyadah)]: Seandainya ia berkata: 'Juallah kepada orang tertentu seperti Zaid,' maka ia tidak boleh menjual kepada selainnya meskipun kepada wakil Zaid. Atau 'dengan jenis harta tertentu seperti dinar,' maka ia tidak boleh menjual dengan dirham menurut pendapat yang mu'tamad. Atau 'di tempat tertentu,' maka tempat itu menjadi tertentu. Atau 'pada waktu tertentu seperti bulan anu atau hari anu,' maka waktu itu menjadi tertentu, sehingga tidak boleh dilakukan sebelum atau sesudahnya meskipun dalam hal talak dan meskipun tidak berkaitan dengan tujuan tertentu, demi mengamalkan perizinan. Dan berbeda halnya dengan ucapan 'Jika telah datang awal bulan, maka urusan istriku ada di tanganmu' jika tidak bermaksud membatasi pada awal bulannya saja, maka ia boleh menjatuhkannya setelah itu; berbeda dengan 'Talaklah dia pada hari Jumat,' karena ucapan itu menuntut pembatasan perbuatan pada hari tersebut bukan selainnya. Dan malam hari dari hari tersebut sama hukumnya jika orang-orang yang berminat sama antara keduanya.
ولو قال يوم الجمعة أو العيد مثلا تعين أول جمعة أو عيد يلقاه.
Dan seandainya ia berkata: 'pada hari Jumat' atau 'hari Raya' misalnya, maka tertentukan pada hari Jumat atau hari Raya pertama yang ditemuinya.
وإنما يتعين المكان إذا لم يقدر الثمن أو نهاه عن غيره وإلا جاز البيع في غيره.
Tempat tersebut hanya menjadi tertentu jika ia tidak menentukan harganya atau melarangnya dari tempat selainnya. Jika tidak demikian, maka boleh menjual di tempat lain.
وهو أي الوكيل ولو بجعل أمين فلا يضمن ما تلف في يده بلا تعد ويصدق بيمينه في دعوى التلف والرد على الموكل لأنه ائتمنه بخلاف الرد على غير الموكل كرسوله فيصدق الرسول بيمينه,
Dan dia, yaitu wakil meskipun dengan upah, adalah orang yang terpercaya (amin), sehingga ia tidak ganti rugi atas apa yang rusak di tangannya tanpa adanya pelanggaran. Ia dibenarkan dengan sumpahnya dalam pengakuan kerusakan barang dan pengembaliannya kepada pemberi kuasa karena pemberi kuasa telah mempercayainya. Berbeda halnya dengan pengembalian kepada selain pemberi kuasa seperti utusannya, maka utusan itulah yang dibenarkan dengan sumpahnya,
فإن تعدى صمن
Maka jika ia melanggar (ceroboh), ia wajib ganti rugi.
وينعزل بعزل أحدهما
Dan perwakilan menjadi batal (tercopot) dengan pencopotan oleh salah satu dari keduanya.
ولوكله بقضاء دين فقال قضيته وأنكر المستحق دفعه إليه صدق المستحق بيمينه لأن الأصل عدم القضاء فيحلف ويطالب الموكل فقط.
Seandainya ia mewakilkan kepadanya untuk membayar utang, lalu wakil berkata: 'Aku telah membayarnya,' sedangkan orang yang berhak menerima mengingkari penyerahan kepadanya, maka orang yang berhak menerima dibenarkan dengan sumpahnya karena hukum asalnya adalah belum terjadi pembayaran. Maka ia bersumpah dan menuntut pemberi kuasa saja.
فإن تعدى كأن ركب الدابة ولبس الثوب تعديا: ضمن كسائر الأمناء.
Jika ia melanggar, seperti menunggangi hewan atau memakai pakaian secara melanggar, ia wajib ganti rugi sebagaimana seluruh pemegang amanah lainnya.
ومن التعدي أن يضيع منه المال ولا يدري كيف ضاع أو وضعه بمحل ثم نسيه.
Dan di antara bentuk pelanggaran adalah hilangnya harta darinya sementara ia tidak tahu bagaimana bisa hilang, atau ia meletakkannya di suatu tempat lalu melupakannya.
ولا ينعزل بتعديه بغير إتلاف الموكل فيه ولو أرسل إلى بزاز ليأخذ منه ثوبا سوما فتلف في الطريق: ضمنه المرسل لا الرسول.
Dan ia tidak tercopot dari status wakil hanya karena pelanggarannya pada hal selain perusakan objek akad perwakilan. Seandainya seseorang mengutus orang lain kepada penjual kain untuk mengambil pakaian dengan niat menawar (saum), lalu pakaian itu rusak di jalan, maka pengutuslah yang wajib ganti rugi, bukan utusan.
فرع: لو اختلفا١ في أصل الوكالة بعد التصرف كوكلتني في كذا فقال ما وكلتك أو في صفتها بأن قال وكلتني بالبيع نسيئة أو بالشراء بعشرين فقال: بل نقدا أو بعشرة صدق الموكل بيمينه في الكل لأن الأصل
Cabang masalah: Seandainya keduanya berselisih tentang asal perwakilan setelah terjadinya transaksi, seperti wakil berkata: 'Engkau telah mewakilkanku dalam hal ini,' lalu pemberi kuasa berkata: 'Aku tidak mewakilkanmu,' atau tentang sifat perwakilan, seperti wakil berkata: 'Engkau mewakilkanku untuk menjual secara tempo' atau 'membeli dengan harga dua puluh,' lalu pemberi kuasa berkata: 'Bahkan secara tunai' atau 'dengan harga sepuluh,' maka pemberi kuasa dibenarkan dengan sumpahnya dalam seluruh kasus tersebut, karena hukum asal…
معه.
…bersamanya.
وينعزل الوكيل بعزل أحدهما أي بأن يعزل الوكيل نفسه أو
Wakil menjadi terlepas (terazal) dari perwakilannya dengan pembatalan (pengazalan) oleh salah satu dari keduanya, yaitu dengan wakil membatalkan dirinya sendiri atau
وبموت أو جنون وزوال ملك موكل ولا يصدق بعد تصرف إلا ببينة.
dan dengan kematian, gila, atau hilangnya kepemilikan orang yang mewakilkan. Dan orang yang mewakilkan tidak dipercaya (pengakuannya) setelah terjadinya tindakan hukum (wakil) kecuali dengan bukti (bayyinah).
يعزله الموكل سواء كان بلفظ العزل أم لا كفسخت الوكالة أو أبطلتها أو أزلتها وإن لم يعلم المعزول.
orang yang mewakilkan membatalkannya (mengazalnya), baik dengan lafal pengazalan maupun tidak, seperti "Aku membatalkan perwakilan ini", "Aku membatalkannya", atau "Aku menghapuskannya", meskipun orang yang di-azal (wakil) tersebut tidak mengetahuinya.
وينعزل أيضا بخروج أحدهما عن أهلية التصرف بموت أو جنون حصلا لأحدهما وإن لم يعلم الآخر به ولو قصرت مدة الجنون وزوال ملك الموكل عما وكل فيه أو منفعته كأن باع أو وقف أو آجر أو رهن أو زوج أمة.
Wakil juga terlepas (terazal) dengan keluarnya salah satu dari keduanya dari kelayakan bertindak hukum (ahliyyatut tasharruf), yakni dengan kematian atau gila yang terjadi pada salah satu dari keduanya, meskipun yang lain tidak mengetahuinya, dan walaupun durasi gilanya sebentar; serta dengan hilangnya kepemilikan orang yang mewakilkan atas barang yang diwakilkan atau manfaatnya, seperti ia menjualnya, mewakafkannya, menyewakannya, menggadaikannya, atau menikahkan budak perempuannya.
ولا يصدق الموكل بعد تصرف أي تصرف الوكيل في قوله كنت عزلته إلا ببينة يقيمها على العزل.
Dan orang yang mewakilkan tidak dibenarkan (pengakuannya) setelah terjadinya tindakan hukum, yakni tindakan hukum wakil, dalam ucapannya: "Aku telah membatalkan perwakilannya," kecuali dengan adanya bukti (bayyinah) yang ia ajukan atas pembatalan (pengazalan) tersebut.
قال الأسنوي: وصورته إذا أنكر الوكيل العزل فإن وافقه على العزل لكن ادعى أنه بعد التصرف فهو كدعوى الزوج تقدم الرجعة على انقضاء العدة وفيه تفصيل معروف انتهى.
Al-Asnawi berkata: "Bentuk masalahnya adalah apabila wakil mengingkari adanya pengazalan. Jika wakil menyetujui terjadinya pengazalan namun ia mengklaim bahwa hal itu terjadi setelah tindakan hukumnya, maka masalah ini seperti klaim suami mengenai mendahuluinya rujuk atas berakhirnya masa iddah, dan di dalamnya terdapat rincian hukum yang sudah dimaklumi." Selesai.
ولو تصرف وكيل أو عامل بعد انعزاله جاهلا في عين مال موكله بطل وضمنها إن سلمها أو في ذمته انعقد له.
Seandainya seorang wakil atau pengelola (amil) melakukan tindakan hukum setelah dirinya terlepas (terazal) dalam keadaan tidak tahu, pada barang milik muwakkil-nya, maka tindakan tersebut batal dan ia wajib menanggung ganti rugi (dhaman) jika ia menyerahkannya; sedangkan jika ia bertindak hukum atas tanggungannya (fi dzimmatihi), maka akad tersebut berlaku untuk dirinya sendiri.
فروع: لو قال لمدينه اشتر لي عبدا بما في ذمتك ففعل صح للموكل وبرئ المدين وإن تلف على الأوجه.
Cabang masalah: Seandainya seseorang berkata kepada orang yang berutang kepadanya, "Belikanlah untukku seorang budak dengan utang yang ada dalam tanggunganmu," lalu ia melakukannya, maka pembelian itu sah untuk muwakkil dan orang yang berutang tersebut bebas dari utangnya, meskipun budak tersebut rusak atau mati menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah).
ولو قال لمدينه: أنفق على اليتيم الفلاني كل يوم درهما من ديني الذي عليك ففعل صح وبرئ على ما قاله بعضهم: يوافقه قول
Seandainya seseorang berkata kepada orang yang berutang kepadanya: "Nafkahilah anak yatim si Fulan setiap hari satu dirham dari utangku yang ada padamu," lalu ia melakukannya, maka hal itu sah dan ia bebas dari utangnya berdasarkan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, yang mana disetujui oleh pendapat
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
………………………
القاضي لو أمر مدينه أن يشتري له بدينه طعاما ففعل ودفع الثمن وقبض الطعام فتلف في يده: برئ من الدين.
Al-Qadhi: Seandainya seseorang memerintahkan orang yang berutang kepadanya untuk membelikan makanan untuknya dengan utangnya, lalu ia melakukannya dan menyerahkan harganya serta menerima makanan tersebut kemudian makanan itu rusak di tangannya, maka ia bebas dari utang.
ولو قال لوكيله: بع هذه ببلد كذا واشتر لي بثمنها قنا جاز له إيداعها في الطريق أو المقصد عند أمين من حاكم فعيره إذ العمل غير لازم له ولا تغرير منه بل المالك هو المخاطر بماله ومن ثم لو باعها لم يلزمه شراء القن ولو اشتراه لم يلزمه رده بل له إيداعه عند من ذكر وليس له رد الثمن حيث لا قرينة قوية تدل على رده كما استظهره شيخنا لان المالك لم يأذن فيه فإن فعل فهو في ضمانه حتى يصل لمالكه.
Seandainya seseorang berkata kepada wakilnya: "Jual-lah (barang) ini di negeri anu dan belikanlah aku seorang budak dengan harganya," maka boleh bagi wakil untuk menitipkannya di perjalanan atau di tempat tujuan pada orang yang terpercaya, baik hakim atau yang sepadan darinya, karena pekerjaan itu tidak wajib baginya dan tidak ada unsur penipuan dari wakil, melainkan pemilik hartalah yang menanggung risiko atas hartanya. Oleh karena itu, seandainya ia menjual barang tersebut, ia tidak wajib membeli budak; dan jika ia telah membelinya, ia tidak wajib membawanya pulang, melainkan ia boleh menitipkannya pada pihak yang telah disebutkan. Dan ia tidak berhak mengembalikan uang harganya jika tidak ada indikasi kuat yang menunjukkan pengembaliannya sebagaimana diperjelas oleh guru kami (Syaikhuna), karena pemilik tidak mengizinkan hal itu; jika ia tetap melakukannya, maka uang itu menjadi tanggung jawabnya (garansi/dhaman) sampai tiba pada pemiliknya.
ومن ادعى أنه وكيل لقبض ما على زيد من عين أو دين لم يلزمه الدفع إليه إلا ببينة بوكالته ولكن يجوز الدفع له إن صدقه في دعواه أو ادعى أنه محتال به وصدقه وجب الدفع له لاعترافه بانتقال المال إليه وإذا دفع إلى مدعي الوكالة فأنكر المستحق وحلف أنه لم يوكل فإن كان المدفوع هينا استردها إن بقيت وإلا غرم من شاء منهما ولا رجوع للغارم على الآخر لأنه مظلوم بزعمه أو دينا طالب الدافع فقط أو إلى مدعي الحوالة فأنكر الدائن الحوالة وحلف أخذ دينه ممن كان عليه ولا يرجع المؤدي على من دفع إليه لأنه اعترف بالملك له.
Barang siapa mengklaim bahwa dirinya adalah wakil untuk menerima harta benda atau utang yang ada pada Zaid, maka Zaid tidak wajib menyerahkan kepadanya kecuali dengan bukti (bayyinah) atas perwakilannya. Namun boleh menyerahkannya jika Zaid membenarkan klaimnya. Atau jika ia mengklaim bahwa ia adalah orang yang mendapat pengalihan utang (muhtal) dan Zaid membenarkannya, maka wajib menyerahkan kepadanya karena pengakuannya atas berpindahnya harta kepadanya. Dan jika Zaid menyerahkan kepada orang yang mengaku wakil, lalu pemilik hak mengingkari dan bersumpah bahwa ia tidak mewakilkan, maka jika yang diserahkan berupa barang ('ain), pemilik dapat mengambilnya kembali jika barang itu masih ada; jika tidak, ia boleh menuntut ganti rugi kepada siapa saja dari keduanya yang ia kehendaki, dan orang yang mengganti tidak boleh menuntut balik pihak lain karena ia (merasa) dizalimi menurut prasangkanya. Jika yang diserahkan berupa utang, pemilik hak hanya menuntut orang yang membayar (Zaid). Atau jika diserahkan kepada orang yang mengaku penerima hawalah, lalu pemberi piutang mengingkari hawalah tersebut dan bersumpah, maka ia mengambil utangnya dari orang yang berutang kepadanya, dan orang yang membayar tidak boleh meminta kembali kepada orang yang ia bayarkan karena ia telah mengakui kepemilikan harta tersebut untuknya.
قال الكمال الدميري لو قال أنا وكيل في بيع أو نكاح وصدقه من يعامله صح العقد فلو قال بعد العقد لم يكن وكيلا: لم يلتفت إليه.
Al-Kamal Ad-Damiri berkata: Seandainya seseorang berkata, "Aku adalah wakil dalam penjualan atau pernikahan," dan orang yang bertransaksi dengannya membenarkannya, maka akadnya sah. Jika setelah akad ia berkata, "Dulu aku bukan wakil," maka pernyataannya tidak dihiraukan.
ويصح قراض في نقد خالص مضروب بصيغة مع شرط ربح لهما,
Dan sah akad qiradh (bagi hasil/mudharabah) pada uang tunai yang murni dan dicetak, dengan ijab kabul (sighah) disertai syarat keuntungan untuk keduanya,
ويصح قراض: وهو أن يعقد على مال يدفعه لغيره ليتجر فيه على أن يكون الربح مشتركا بينهما.
Dan sah akad qiradh: yaitu akad atas suatu harta yang diserahkan kepada orang lain agar diperdagangkan dengan ketentuan bahwa keuntungannya terbagi di antara keduanya.
في نقد خالص مضروب لأنه عقد غرر لعدم انضباط العمل والوثوق بالربح وإنما جوز: للحاجة فاختص بما يروج غالبا وهو النقد المضروب ويجوز عليه وإن أبطله السلطان.
pada uang tunai murni yang dicetak (dinar/dirham), karena qiradh adalah akad spekulatif (gharar) disebabkan tidak terukurnya pekerjaan dan tidak adanya kepastian keuntungan. Qiradh diperbolehkan hanya karena kebutuhan (hajah), sehingga dikhususkan pada alat pembayaran yang berlaku secara umum, yaitu uang tunai yang dicetak. Dan sah akad qiradh atas mata uang tersebut meskipun penguasa telah mencabut keberlakuannya.
وخرج بالنقد العرض ولو فلوسا وبالخالص المغشوش وإن علم قدر غشه أو استهلك وجاز التعامل به.
Dan dikecualikan dengan mata uang (an-naqd) yaitu barang perdagangan ('aradh) meskipun berupa fulus (uang tembaga), dan dikecualikan dengan yang murni yaitu emas/perak bercampur (maghsyus), meskipun diketahui kadar campurannya atau campurannya telah melebur dan boleh bertransaksi dengannya.
وبالمضروب التبر وهو ذهب أو فضة لم يضرب والحلي فلا يصح في شيء منها وقيل يجوز على المغشوش إن استهلك غشه وجزم به الجرجاني وقيل إن راج واختاره السبكي وغيره وفي وجه ثالث في زوائد الروضة أنه يجوز على كل مثلي.
Dan dikecualikan dengan yang dicetak (al-madhrub) yaitu emas/perak mentah (at-tibr) yang belum dicetak dan perhiasan, maka akad tidak sah pada sesuatu pun darinya. Dan dikatakan: Boleh akad qiradh atas uang bercampur jika campurannya telah melebur, dan diyakini oleh Al-Jurjani. Dikatakan pula: Boleh jika uang bercampur itu berlaku umum, dan pendapat ini dipilih oleh As-Subki dan selainnya. Dan dalam pendapat ketiga dalam Zawa'id ar-Raudhah bahwasanya boleh atas setiap harta mitsli (yang memiliki padanan).
وإنما يصح القراض بصيغة من إيجاب من جهة رب المال: كقارضتك أو عاملتك في كذا أو خذ هذه الدراهم واتجر فيها أو بع أو اشتر على أن الربح بيننا.
Dan qiradh hanyalah sah dengan shighah berupa ijab dari pihak pemilik modal (rabbal-mal), seperti: "Aku berqiradh padamu" atau "Aku mempekerjakanmu dalam hal ini" atau "Ambillah dirham-dirham ini dan berdaganglah dengannya" atau "Juallah atau belilah atas dasar bahwa keuntungan di antara kita".
وقبول فورا من جهة العامل لفظا وقيل يكفي في صيغة الأمر كخذ هذه واتجر فيها القبول بالفعل كما في الوكالة.
Dan kabul secara langsung dari pihak pengelola (amil) secara lisan. Dan dikatakan: Cukup dalam shighah perintah seperti "Ambillah ini dan berdaganglah dengannya" dengan kabul berupa perbuatan (praktik), sebagaimana dalam akad wakalah.
وشرط المالك والعامل كالموكل والوكيل صحة مباشرتهما التصرف.
Dan syarat bagi pemilik modal serta pengelola adalah seperti wakil dan orang yang mewakilkan (muwakkil), yaitu sahnya tindakan hukum (tasarruf) mereka berdua secara langsung.
مع شرط ربح لهما أي للمالك والعامل فلا يصح على أن
Beserta syarat adanya bagian keuntungan bagi keduanya, yaitu bagi pemilik modal dan pengelola. Maka tidak sah akad atas dasar bahwasanya…
ويشترط كونه معلوما بالجزئية ولعامل في فاسد أجرة مثل
Dan disyaratkan keuntungan tersebut diketahui secara porsi (nisbah/persentase), dan bagi pengelola dalam akad yang fasad (rusak/batal) berhak mendapatkan upah standar (ujrah al-mitsl)…
لأحدهما الربح.
…keuntungan hanya untuk salah satu dari keduanya.
ويشترط كونه أي الربح معلوما بالجزئية كنصف وثلث ولو قال قارضتك على أن الربح بيننا صح مناصفة أو على أن لك ربع سدس العشر صح وإن لم يعلماه عند العقد لسهولة معرفته وهو جزء من مائتين وأربعين جزءا ولو شرط لأحدهما عشرة أو ربح صنف كالرقيق فسد القراض.
Dan disyaratkan keberadaannya, yaitu keuntungan, diketahui secara porsi (nisbah) seperti setengah dan sepertiga. Jika ia berkata, "Aku berqiradh padamu dengan ketentuan keuntungan di antara kita," maka akad sah dengan pembagian separuh-separuh. Atau "bahwa bagimu seperempat dari seperenam dari seperpuluh," maka sah meskipun keduanya tidak mengetahuinya saat akad karena mudahnya mengetahui hal itu, yaitu satu bagian dari dua ratus empat puluh bagian. Namun jika disyaratkan bagi salah satunya sepuluh (jumlah nominal pasti) atau keuntungan dari satu jenis barang tertentu saja seperti budak, maka qiradh tersebut menjadi fasad.
ولعامل في عقد قراض فاسد: أجرة مثل وإن لم يكن ربح لأنه عمل طامعا في المسمى.
Dan bagi pengelola dalam akad qiradh yang fasad berhak mendapatkan upah standar (ujrah al-mitsl) meskipun tidak ada keuntungan, karena ia bekerja dengan berharap mendapatkan bagian yang disebutkan.
ومن القراض الفاسد على ما أفتي به شيخنا ابن زياد رحمه الله تعالى ما اعتاده بعض الناس من دفع مال إلى آخر بشرط أن يرد له لكل عشرة اثني عشر إن ربح أو خسر فلا يستحق العامل إلا أجرة المثل وجميع الربح أو الخسران على المالك ويده على المال يد أمانة فإن قصر بأن جاوز المكان الذي أذن له فيه ضمن المال.
Dan di antara bentuk qiradh yang fasad menurut fatwa guru kami Ibnu Ziyad rahimahullahu ta'ala adalah kebiasaan sebagian orang menyerahkan harta kepada orang lain dengan syarat bahwa ia mengembalikan baginya dua belas untuk setiap sepuluh baik untung maupun rugi. Maka pengelola tidak berhak mendapatkan kecuali upah standar (ujrah al-mitsl), sedangkan seluruh keuntungan atau kerugian menimpa pemilik modal, dan status penguasaan pengelola atas harta tersebut adalah amanah. Jika ia lalai, misalnya melampaui batas tempat yang diizinkan baginya, maka ia menanggung (ganti rugi atas) harta tersebut.
انتهى.
Selesai.
ولا أجرة للعامل في الفاسد إن شرط الربح كله للمالك لأنه لم يطمع في شيء ويتجه أنه لا يستحق شيئا
Dan tidak ada upah bagi pengelola dalam qiradh yang fasad jika disyaratkan seluruh keuntungan untuk pemilik modal, karena ia tidak berharap mendapatkan sesuatu. Dan pendapat yang kuat bahwa ia juga tidak berhak mendapatkan apa pun…
أيضا إذا علم الفساد وأنه لا أجرة له.
…apabila ia mengetahui kefasadan (kebatalan) akad tersebut dan mengetahui bahwa ia tidak berhak mendapat upah.
ويصح تصرف العامل مع فساد القراض لكي لا يحل له الإقدام عليه بعد علمه بالفساد ويتصرف العامل ولو بعرض لمصلحة لا بغبن فاحش ولا بنسيئة بلا إذن فيهما ولا يسافر بالمال بلا إذن وإن قرب
Dan sah tindakan pengelola beserta fasadnya qiradh, akan tetapi tidak halal baginya melakukannya setelah ia mengetahui fasadnya akad. Pengelola bertindak (mengelola harta) meskipun dengan barang dagangan demi kemaslahatan, bukan dengan kerugian yang parah (ghabn fahisy) dan tidak pula secara kredit (nasi'ah) tanpa izin dalam kedua hal tersebut, serta tidak boleh bepergian (safar) membawa harta tanpa izin meskipun dekat…
ولا يمون وصدق في تلف وعدم ربح وقدره وخسر ورد.
…dan ia tidak berhak mendapat nafkah, serta ia dibenarkan dalam pengakuannya tentang kerusakan harta, ketiadaan keuntungan, kadar keuntungan, kerugian, dan pengembalian modal.
السفر وانتفى الخوف والمؤنة فيضمن به ويأثم ومع ذلك القراض باق على حاله أما بالإذن فيجوز لكن لا يجوز ركوب في البحر إلا بنص عليه.
…jarak perjalanannya dan tidak ada kekhawatiran serta biaya, maka ia bertanggung jawab atasnya dan berdosa, tetapi dengan demikian akad qiradh tetap berlaku sebagaimana mestinya. Adapun jika dengan izin maka boleh, tetapi tidak boleh menumpang kapal laut kecuali dengan penegasan khusus.
ولا يمون أي لا ينفق منه على نفسه حضرا ولا سفرا لان له نصيبا من الربح فلا يستحق شيئا آخر فلو شرط المؤنة في العقد فسد.
"Dan ia tidak berhak mendapat nafkah," artinya ia tidak boleh menafkahi dirinya dari harta itu baik saat tidak bepergian (hadhar) maupun saat bepergian (safar), karena ia sudah memiliki bagian dari keuntungan sehingga tidak berhak mendapat sesuatu yang lain. Maka jika disyaratkan adanya nafkah di dalam akad, qiradh tersebut menjadi fasad.
وصدق عامل بيمينه في دعوى تلف في كل المال أو بعضه لأنه مأمون نعم نص في البويطي واعتمده جمع متقدمون أنه لو أخذ ما لا يمكنه القيام به فتلف بعضه ضمنه لأنه فرط بأخذه.
Dan pengelola (amil) dibenarkan dengan sumpahnya dalam pengakuan kerugian/kerusakan pada seluruh harta atau sebagiannya karena ia adalah orang yang dipercaya. Ya, ada teks (nash) dalam Al-Buwaiti dan diakui oleh sekelompok ulama terdahulu bahwa jika ia mengambil apa yang tidak sanggup ia kelola lalu sebagiannya rusak, maka ia menanggung ganti rugi (dhaman) karena ia telah lalai dengan mengambinya.
ويطرد ذلك في الوكيل والوديع والوصي.
Hal itu juga berlaku secara konsisten pada wakil, penerima titipan (wadi'), dan pengampu (washi).
ولو ادعى المالك بعد التلف أنه قرض والعامل أنه قراض حلف العامل كما أفتى به ابن الصلاح كالبغوي لأن الأصل عدم الضمان خلافا لما رجحه الزركشي وغيره من تصديق المالك فإن أقاما بينة قدمت بينة المالك على الأوجه لان معها زيادة علم.
Jika pemilik modal mengklaim setelah terjadinya kerusakan bahwa harta itu adalah pinjaman (qardh) sedangkan pengelola mengklaim bahwa itu adalah qiradh (mudharabah), maka pengelola bersumpah sebagaimana difatwakan oleh Ibnus Shalah seperti Al-Baghawi, karena hukum asalnya adalah tidak adanya kewajiban ganti rugi (dhaman), berbeda dengan pendapat yang diunggulkan oleh Az-Zarkashi dan lainnya yang membenarkan pemilik modal. Namun jika keduanya masing-masing mengajukan bukti (bayyinah), maka bukti pemilik modal didahulukan menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah) karena padanya terdapat tambahan pengetahuan.
وفي عدم ربح أصلا وفي قدره عملا بالأصل فيهما وفي خسر ممكن لأنه أمين.
Dan (pengelola juga dibenarkan dengan sumpahnya) dalam hal tidak adanya keuntungan sama sekali dan mengenai jumlah keuntungan, berdasarkan hukum asal pada keduanya, serta dalam hal kerugian yang masuk akal, karena ia adalah orang yang dipercaya (amin).
ولو قال ربحت كذا ثم قال غلطت في الحساب أو كذبت لم يقبل لأنه أقر بحق لغيره فلم يقبل رجوعه عنه ويقبل قوله بعد خسرت إن احتمل كأن عرض كساد.
Jika ia berkata, "Aku telah mendapat keuntungan sekian," kemudian ia berkata, "Aku keliru dalam perhitungan" atau "Aku telah berbohong," maka pengakuannya yang kedua tidak diterima karena ia telah mengakui hak bagi orang lain sehingga penarikannya tidak diterima. Namun perkataannya diterima setelah itu jika ia mengatakan, "Aku mengalami kerugian," apabila hal itu memungkinkan, seperti terjadinya kelesuan pasar (kasad).
وفي رد للمال على المالك لأنه ائتمنه كالمودع.
Dan (pengelola juga dibenarkan) dalam pengakuan pengembalian harta kepada pemilik modal, karena pemilik modal telah mempercayainya sebagaimana penerima titipan (al-muda').
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………..
ويصدق العامل أيضا في قدر رأس المال لان الأصل عدم الزائد وفي قوله اشتريت هذا لي أو للقراض والعقد في الذمة لأنه أعلم بقصده.
Pengelola juga dibenarkan dalam hal besarnya modal (rasul mal) karena hukum asalnya adalah tidak adanya tambahan, dan dalam perkataannya "Aku membeli ini untuk diriku sendiri" atau "untuk qiradh" ketika akad dilakukan dalam tanggungan (fi adz-dzimmah), karena ia lebih mengetahui niatnya.
أما لو كان الشراء بعين مال القراض فإنه يقع للقراض وإن نوى نفسه كما قاله الإمام وجزم به في المطلب.
Adapun jika pembelian dilakukan dengan wujud uang modal qiradh itu sendiri, maka barang itu menjadi milik akad qiradh meskipun ia berniat untuk dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam (Al-Juwaini) dan ditegaskan dalam Al-Mathlab.
وعليه فتسمع بينة المالك أنه اشتراه بمال القراض وفي قوله لم تنهني عن شراء كذا لأن الأصل عدم النهي.
Berdasarkan hal tersebut, didengarlah bukti (bayyinah) dari pemilik modal bahwa ia membelinya dengan modal qiradh. Dan (pengelola juga dibenarkan) dalam perkataannya "Engkau tidak melarangku membeli barang ini," karena hukum asalnya adalah tidak adanya larangan.
ولو اختلفا في القدر المشروط له أهو النصف أو الثلث مثلا؟ تحالف وللعامل بعد الفسخ أجرة المثل والربح جميعه للمالك أو في أنه وكيل أو مقارض صدق المالك بيمينه ولا أجرة عليه للعامل.
Jika keduanya berselisih mengenai kadar bagian yang disyaratkan untuknya, apakah separuh atau sepertiga misalnya, maka keduanya saling bersumpah (tahaluf). Setelah pembatalan (faskh), pengelola berhak mendapatkan upah standar (ujrah al-mitsl) dan seluruh keuntungan adalah milik pemilik modal. Atau (jika keduanya berselisih) mengenai apakah ia sebagai wakil atau sebagai pengelola qiradh (muqaridh), maka pemilik modal dibenarkan dengan sumpahnya dan tidak ada kewajiban upah baginya untuk pengelola.
تتمة [في بيان أحكام الشركة] الشركة نوعان:
Tatimmah [penjelasan hukum-hukum syirkah/perseroan]: Syirkah ada dua jenis:
أحدهما فيما ملك اثنان مشتركا بإرث أو شراء.
Salah satunya adalah pada barang yang dimiliki oleh dua orang secara berserikat melalui warisan atau pembelian.
والثاني أربعة أقسام:
Dan jenis yang kedua ada empat bagian:
منها قسم صحيح وهو أن يشترط اثنان في مال لهما ليتجرا فيه.
Di antaranya satu bagian yang sah, yaitu dua orang berserikat pada harta milik mereka berdua untuk diperdagangkan.
وسائر الأقسام باطلة كأن يشترك اثنان ليكون كسبهما بينهما بتساو أو تفاوت أو ليكون بينهما ربح ما يشتريانه في ذمتهما بمؤجل أو حال أو ليكون بينهما كسبهما وربحهما ببدنهما أو مالهما وعليهما ما يعرض من غرم.
Sedangkan sisa bagian lainnya adalah batil (tidak sah), seperti dua orang berserikat agar hasil usaha mereka dibagi di antara mereka secara sama atau berbeda, atau agar keuntungan dari apa yang mereka beli dalam tanggungan mereka (secara kredit) baik bertempo maupun tunai dibagi di antara mereka, atau agar hasil usaha dan keuntungan mereka melalui tubuh (tenaga) mereka atau harta mereka dibagi di antara mereka dan kerugian yang timbul ditanggung bersama oleh mereka.
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………..
وشرط فيها لفظ يدل على الإذن في التصرف بالبيع والشراء فلو اقتصر على اشتراكنا: لم يكف عن الإذن فيه ويتسلط كل واحد منهما على التصرف بلا ضرر أصلا بأن يكون فيه مصلحة فلا يبيع بثمن مثل وثم راغب بأزيد ولا يسافر به حيث لم يضطر إليه لنحو قحط وخوف ولا يبضعه بغير إذنه فإن سافر به ضمن وصح تصرفه أو أبضعه بدفعه لمن يعمل لهما فيه ولو تبرعا بلا إذن ضمن أيضا والربح والخسران بقدر المالين فإن شرطا خلافه فسد العقد فلكل على الآخر أجرة عمله له ونقد التصرف منهما مع ذلك للإذن.
Disyaratkan dalam syirkah adanya lafaz yang menunjukkan izin untuk bertindak (tasharruf) dalam jual beli. Maka jika hanya membatasi pada perkataan "kita berserikat", hal itu tidak cukup menggantikan izin tindakan tersebut. Dan masing-masing dari keduanya berhak melakukan tindakan tanpa menimbulkan bahaya (dharar) sama sekali, yaitu tindakan tersebut harus mengandung maslahat. Maka ia tidak boleh menjual dengan harga standar padahal ada peminat yang mau membeli lebih mahal, tidak boleh bepergian membawanya sekiranya tidak terpaksa karena kemarau atau ketakutan, dan tidak boleh menyerahkannya kepada orang lain untuk diperdagangkan (ibdha') tanpa izinnya. Jika ia bepergian membawanya, maka ia menanggung ganti rugi (dhaman) dan tindakannya tetap sah. Atau jika ia meng-ibdha'-kannya dengan menyerahkannya kepada orang yang menjalankannya untuk mereka berdua meskipun secara sukarela tanpa izin, maka ia juga menanggung ganti rugi. Keuntungan dan kerugian disesuaikan dengan kadar kedua modal. Jika keduanya mensyaratkan hal sebaliknya, maka akadnya menjadi rusak (fasad); sehingga masing-masing berhak menuntut dari yang lain upah atas pekerjaannya untuknya, dan tindakan hukum yang telah dilakukan oleh keduanya tetap berlaku sah karena adanya izin tersebut.
وتنفسخ بموت أحدهما وجنونه.
Dan akad syirkah menjadi batal dengan meninggalnya salah satu dari kedua belah pihak atau mengalami gangguan jiwa.
ويصدق في دعوى الرد إلى شريكه في الخسران والتلف في قوله اشتريته لي أو للشركة لا في قوله اقتسمنا وصار ما بيدي لي مع قول الآخر: لا بل هو مشترك فالمصدق المنكر لأن الأصل عدم القسمة ولو قبض وارث حصته من دين مورثه شاركه الآخر.
Ucapan sekutu dibenarkan (dengan sumpah) dalam pengakuan mengembalikan harta kepada sekutunya, dalam hal kerugian, dan kerusakan, serta dalam perkatannya: "Aku membelinya untuk diriku sendiri" atau "untuk perserikatan". Namun ucapannya tidak dibenarkan dalam perkataannya: "Kita telah membaginya dan barang yang ada di tanganku ini menjadi milikku", sementara sekutu yang lain berkata: "Tidak, melainkan barang itu adalah milik bersama." Maka yang dibenarkan adalah pihak yang mengingkari pembagian karena hukum asalnya adalah belum adanya pembagian. Dan apabila seorang ahli waris menerima bagiannya dari piutang peninggalan pewarisnya, maka ahli waris yang lain ikut berserikat dengannya.
ولو باع شريكان عبدهما صفقة وقبض أحدهما حصته لم يشاركه الآخر.
Jika dua orang sekutu menjual hamba sahaya milik mereka secara sekaligus (satu transaksi) lalu salah seorang dari keduanya menerima bagiannya, maka sekutu yang lain tidak ikut berserikat dalam apa yang telah diterima tersebut.
فائدة: أفتى النووي كابن الصلاح فيمن غصب نحو نقد أو بر وخلطه بماله ولم يتميز بأن له إفراز قدر المغصوب ويحل له التصرف في الباقي.
Faedah: An-Nawawi berfatwa sebagaimana Ibn as-Salah mengenai orang yang merampas (gashab) semisal uang atau gandum lalu mencampurnya dengan hartanya sendiri sehingga tidak dapat dibedakan, bahwasanya ia boleh menyisihkan/memisahkan kadar sejumlah harta yang dirampas tersebut dan halal baginya bertindak (bertasaruf) atas sisanya.
فصل [في بيان بعض أحكام الشفعة] : إنما تثبت الشفعة لشريك لا جار في بيع أرض مع تابعها كبناء وشجر وثمر غير مؤبر فلا شفعة في شجر أفرد بالبيع أو بيع مع مغرسه فقط ولا في بئر ولا يملك الشفيع لا بلفظ كأخذت بالشفعة مع بذل الثمن للمشتري.
Pasal [menjelaskan sebagian hukum syuf'ah]: Hak syuf'ah hanya berlaku bagi sekutu (pemilik bersama), bukan tetangga, dalam penjualan tanah beserta pengikutnya seperti bangunan, pohon, dan buah yang belum dikawinkan. Maka tidak ada hak syuf'ah pada pohon yang dijual secara terpisah atau dijual bersama tempat menancapnya saja, tidak pula pada sumur. Dan orang yang berhak atas syuf'ah tidak dapat memiliki melainkan dengan lafaz seperti "Aku mengambilnya dengan hak syuf'ah" disertai penyerahan harga barang kepada pembeli.