باب البيع

فصل في القرض والرهن

فصل في القرض والرهن

فصل [في القرض والرهن]

Pasal [tentang Utang-Piutang (Qardh) dan Gadai (Rahn)]

فصل في القرض والرهن.

Pasal tentang utang-piutang (qardh) dan gadai (rahn).

الإقراض سنة بإيجاب كأقرضتك,

Memberikan pinjaman (iqradh) hukumnya sunnah dengan ijab seperti ucapan: "Aku menghutangkan kepadamu",

الإقراض وهو تمليك شيء على أن يرد مثله.

Memberikan pinjaman (iqradh), yaitu memberikan kepemilikan atas sesuatu agar dikembalikan yang sepadan darinya.

سنة لأن فيه إعانة على كشف كربة فهو من السنن الأكيدة للأحاديث الشهيرة كخبر مسلم [رقم: ٢٦٩٩] : من نفس على أخيه كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة.

Hukumnya sunnah karena di dalamnya terdapat bantuan untuk meringankan kesusahan, sehingga ia termasuk sunnah yang sangat dianjurkan berdasarkan hadis-hadis yang terkenal, seperti riwayat Muslim [No. 2699]: "Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan saudaranya dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat."

والله في عون العبد ما دام العبد في عون أخيه وصح خبر "من أقرض الله مرتين: كان له مثل أجر أحدهما لو تصدق به" [كنز العمال رقم: ١٥٣٨٦] .

"Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya." Dan sahih hadis: "Barang siapa memberi pinjaman karena Allah sebanyak dua kali, maka baginya pahala seperti pahala salah satunya jika ia mensedekahkannya" [Kanzul 'Ummal No. 15386].

والصدقة أفضل منه خلافا لبعضهم ومحل ندبه: إن لم يكن المقترض مضطرا وإلا وجب ويحرم الاقتراض على غير مضطر لم يرج الوفاء من جهة ظاهرة فورا في الحال وعند الحلول في المؤجل كالإقراض عند العلم أو الظن من آخذه أنه ينفقه في معصية.

Dan sedekah itu lebih utama daripada memberi pinjaman (qard), berbeda dengan pendapat sebagian ulama. Keanjuran memberi pinjaman ini berlaku jika peminjam tidak dalam kondisi terdesak; jika ia terdesak, maka hukumnya menjadi wajib. Dan diharamkan berutang bagi orang yang tidak terdesak yang tidak berharap dapat melunasinya dari sumber yang jelas, baik secara langsung (seketika) untuk utang tunai, maupun saat jatuh tempo untuk utang bertempo, sebagaimana diharamkan memberi pinjaman apabila ia mengetahui atau menduga kuat bahwa peminjam akan menggunakannya untuk maksiat.

ويحصل بإيجاب: كأقرضتك هذا أو ملكتكه على أن ترد مثله أو خذه ورد بدله أو اصرفه في حوائجك ورد بدله.

Dan akad utang-piutang terjadi dengan ijab, seperti: "Aku pinjamkan barang ini kepadamu", "Aku serahkan kepemilikan barang ini padamu dengan syarat engkau mengembalikan yang sepadan", "Ambillah barang ini dan kembalikan gantinya", atau "Gunakanlah barang ini untuk keperluanmu dan kembalikan gantinya".

فإن حذف ورد بدله: فكناية وخذه فقط: لغو إلا إن سبقه أقرضني هذا فيكون قرضا أو أعطني فيكون هبة.

Jika ucapan "dan kembalikan gantinya" dihapus, maka hukumnya menjadi kinayah (sindiran). Adapun ucapan "Ambillah ini" saja adalah sia-sia (tidak sah), kecuali jika didahului permintaan peminjam: "Utangilah aku barang ini", maka statusnya menjadi utang (qard), atau "Berikanlah kepadaku", maka statusnya menjadi hibah (pemberian).

ولو اقتصر على ملكتكه ولم ينو البدل: فهبة وإلا فكناية.

Jika pemberi hanya mengucapkan "Aku serahkan kepemilikan barang ini padamu" dan tidak berniat meminta pengganti, maka statusnya adalah hibah; jika berniat meminta pengganti, maka statusnya adalah kinayah.

ولو اختلفا في نية البدل: صدق الدافع لأنه أعرف بقصده أو في ذكر البدل: صدق الآخذ في عدم الذكر لأنه الأصل والصيغة ظاهرة فيما ادعاه.

Jika keduanya berselisih paham mengenai niat meminta pengganti, maka yang dibenarkan adalah pernyataan pemberi karena ia lebih mengetahui maksudnya. Namun jika mereka berselisih mengenai ada tidaknya penyebutan pengganti dalam akad, maka yang dibenarkan adalah pernyataan penerima bahwa tidak ada penyebutan tersebut, karena hukum asalnya adalah tidak ada penyebutan dan lafal lahiriah mendukung klaimnya.

وقبول

Dan kabul

ولو قال لمضطر أطعمتك بعوض فأنكر صدق المطعم حملا للناس على هذه المكرمة.

Jika seseorang berkata kepada orang yang terdesak (kelaparan), "Aku memberimu makan dengan imbalan (harus diganti)," lalu si terdesak mengingkarinya, maka yang dibenarkan adalah pernyataan pemberi makan demi mendorong masyarakat melakukan kebaikan ini.

ولو قال وهبتك بعوض فقال مجانا: صدق المتهب.

Jika seseorang berkata, "Aku menghibahkan ini kepadamu dengan imbalan," lalu penerima berkata, "Secara cuma-cuma," maka yang dibenarkan adalah pernyataan penerima hibah.

ولو قال اشتر لي بدرهمك خبز فاشتري له: كان الدرهم قرضا لا هبة على المعتمد.

Jika seseorang berkata, "Belikanlah roti untukku dengan dirhammu," lalu ia membelikannya, maka dirham tersebut berstatus sebagai utang (qard), bukan hibah, menurut pendapat yang mu'tamad.

وقبول متصل به: كأقرضته وقبلت قرضه نعم: القرض الحكمي كالإنفاق على اللقيط المحتاج وإطعام الجائع وكسوة العاري لا يفتقر إلى إيجاب وقبول.

dan kabul yang tersambung dengannya (ijab), seperti: "Aku berikan utang padamu" dan "Aku menerima utang darimu". Tentu saja, utang secara hukum (qard hukmi)—seperti memberi nafkah kepada anak temuan (laqith) yang membutuhkan, memberi makan orang yang kelaparan, dan memberi pakaian orang yang bertelanjang—tidak membutuhkan ijab dan kabul.

ومنه أمر غيره بإعطاء ماله غرض فيه: كإعطاء شاعر أو ظالم أو إطعام فقير أو فداء أسير وعمر داري.

Termasuk di antaranya adalah perintah seseorang kepada orang lain untuk memberikan hartanya demi kepentingan orang yang memerintah, seperti memberikan harta kepada penyair atau orang zalim (agar terhindar dari kejahatannya), memberi makan orang fakir, menebus tawanan, atau merawat rumahku.

وقال جمع: لا يشترط في القرض: الإيجاب والقبول واختاره الأذرعي وقال قياس جواز المعاطاة في البيع: جوازها هنا وإنما يجوز القرض من أهل تبرع: فيما يسلم فيه من حيوان وغيره ولو نقدا مغشوشا.

Sejumlah ulama berpendapat bahwa tidak disyaratkan ijab dan kabul dalam qard (utang-piutang), dan pendapat ini dipilih oleh Al-Adzra'i. Beliau menyatakan bahwa diqiyaskan dengan kebolehan mu'athah (serah terima tanpa ucapan) dalam jual beli, maka mu'athah juga boleh dalam qard. Akad qard ini hanya sah dilakukan oleh orang yang sah melakukan tindakan derma (ahli tabarru') pada barang yang dapat ditransaksikan secara salam (dijelaskan kriteria dan sifatnya), baik berupa hewan maupun lainnya, meskipun berupa mata uang campuran.

نعم يجوز قرض الخبز والعجين والخمير الحامض لا الروية على الأوجه وهي خميرة لبن حامض تلقى على اللبن ليروب لاختلاف حموضتها المقصودة.

Ya, boleh meminjamkan roti, adonan, dan biang ragi asam. Namun tidak boleh meminjamkan ruwiyyah menurut pendapat yang lebih kuat, yaitu biang susu asam yang dicampurkan pada susu agar mengental, karena adanya perbedaan tingkat keasaman yang menjadi tujuan utama.

ولو قال أقرضني عشرة فقال خذها من فلان فإن كانت له تحت يده: جاز وإلا فهو وكيل في قبضها فلا بد من تجديد قرضها.

Jika seseorang berkata, "Utangi aku sepuluh dirham," lalu ia menjawab, "Ambillah dari si Fulan," maka jika uang itu adalah milik pemberi utang yang berada di bawah kekuasaan si Fulan, hal itu boleh. Namun jika tidak, maka orang tersebut hanyalah wakil dalam menerimanya, sehingga harus memperbarui akad utang.

ويمتنع على ولي قرض مال موليه بلا ضرورة نعم: يجوز للقاضي

Dilarang bagi seorang wali meminjamkan harta anak/orang yang berada di bawah pengampuannya tanpa kondisi darurat. Namun, boleh bagi hakim

وملك مقترض بقبض ولمقرض استرداد

Dan peminjam memiliki barang utangan melalui penerimaan barang (qabdh), dan bagi pemberi pinjaman berhak meminta kembali

إقراض مال المحجور عليه بلا ضرورة لكثرة أشغاله إن كان المقترض أمينا موسرا.

meminjamkan harta orang yang diampu (mahjur 'alaih) tanpa adanya darurat karena banyaknya kesibukan hakim, apabila peminjam adalah orang yang terpercaya dan berkecukupan (mampu).

وملك مقترض بقبض بإذن مقرض وإن لم يتصرف فيه كالموهوب.

Dan peminjam resmi memiliki barang utangan dengan memegangnya/menerimanya atas izin pemberi pinjaman, meskipun ia belum melakukan tindakan pengelolaan atas barang tersebut, sebagaimana barang hibah.

قال شيخنا: والأوجه في النقوط المعتاد في الأفراح أنه هبة لا قرض وإن اعتيد رد مثله.

Syaikh kami berkata: Pendapat yang lebih kuat (al-aujah) mengenai 'nuquth' (uang sumbangan/saweran) yang biasa diberikan pada acara pesta adalah bahwa itu merupakan hibah (pemberian), bukan utang-piutang (qardh), meskipun telah menjadi kebiasaan untuk membalas dengan yang setara.

ولو أنفق على أخيه الرشيد وعياله سنين وهو ساكت: لا يرجع به على الأوجه.

Jika seseorang menafkahi saudaranya yang sudah dewasa (rasyid) beserta keluarganya selama bertahun-tahun dalam keadaan diam (tanpa kesepakatan), menurut pendapat yang lebih kuat (al-aujah), ia tidak boleh menuntut pengembaliannya.

وجاز لمقرض استرداد حيث بقي ذلك المقترض وإن زال عن ملكه ثم عاد على الأوجه بخلاف ما لو تعلق به حق لازم كرهن وكتابة فلا يرجع فيه حينئذ نعم: لو آجره رجع فيه.

Boleh bagi orang yang meminjamkan (muqridh) untuk meminta kembali barang yang dipinjamkan (al-muqtaradh) selama barang itu masih ada, meskipun sempat lepas dari kepemilikannya lalu kembali lagi menurut pendapat yang lebih kuat (al-aujah). Berbeda halnya jika telah berkaitan dengan hak yang mengikat seperti gadai (rahn) dan akad kitabah, maka ia tidak boleh memintanya kembali saat itu. Ya, jika ia menyewakannya, ia boleh memintanya kembali.

ويجب على المقترض رد المثل في المثلى وهو النقد والحبوب ولو نقدا أبطله السلطان لأنه أقرب إلى حقه.

Wajib bagi peminjam (muqtaradh) mengembalikan barang yang sepadan (mitsil) pada barang yang memiliki padanan (mitsli), yaitu uang tunai dan biji-bijian, meskipun uang tunai tersebut telah ditarik/dibatalkan oleh penguasa, karena itu lebih mendekati haknya.

ورد المثل صورة في المتقوم وهو الحيوان والثياب والجواهر.

Dan pengembalian barang yang sepadan secara rupa (gambarannya) pada barang yang tidak memiliki padanan pasti (mutaqawwam), seperti hewan, pakaian, dan permata.

ولا يجب قبول الرديء عن الجيد ولا قبول المثل في غير محل الإقراض إن كان له غرض صحيح كأن كان لنقله مؤنة ولم يتحملها المقترض أو كان الموضع مخوفا.

Tidak wajib menerima barang yang buruk sebagai pengganti barang yang bagus, dan tidak wajib menerima barang sepadan di luar tempat memberi pinjaman jika ia memiliki tujuan yang sah, seperti jika pengangkutannya memerlukan biaya yang tidak ditanggung oleh peminjam, atau tempat tersebut menakutkan/berbahaya.

ولا يلزم المقترض الدفع في غير محل الإقراض إلا إذا لم يكن لحملة مؤنة أو له مؤنة وتحملها المقرض لكن له مطالبة في غير محل

Dan peminjam tidak wajib membayar di luar tempat memberi pinjaman, kecuali jika pengangkutannya tidak memerlukan biaya, atau memerlukan biaya namun ditanggung oleh pemberi pinjaman. Akan tetapi, pemberi pinjaman berhak menuntut di luar tempat…

ونفع بلا شرط

Dan manfaat tanpa syarat.

الإقراض بقيمة بمحل الإقراض وقت المطالبة فيما لنقله مؤنة ولم يتحملها المقرض لجوزا الاعتياض عنه.

…pemberian pinjaman sesuai dengan nilainya di tempat pemberian pinjaman pada saat penuntutan, untuk barang yang pengangkutannya memerlukan biaya dan tidak ditanggung oleh pemberi pinjaman, karena diperbolehkannya mengambil pengganti darinya.

وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء بلا شرط في العقد بل يسن ذلك لمقترض لقوله ﷺ: "إن خياركم: أحسنكم قضاء" [البخاري رقم: ٢٣٠٥, مسلم رقم: ١٦٠١] , ولا يكره للمقرض أخذه كقبول هديته ولو في الربوي.

Boleh bagi pemberi pinjaman menerima manfaat yang sampai kepadanya dari peminjam, seperti mengembalikan jumlah yang lebih banyak secara kadar atau sifat, atau mengembalikan barang yang lebih baik dari barang yang kurang baik, tanpa adanya syarat dalam akad. Bahkan hal itu disunnahkan bagi peminjam berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang." [HR. Bukhari no. 2305, Muslim no. 1601]. Dan tidak dimakruhkan bagi pemberi pinjaman untuk mengambilnya, sebagaimana menerima hadiahnya meskipun dalam barang ribawi.

والأوجه أن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية وأن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا أنه الذي عليه: حلف ورجع فيه.

Pendapat yang lebih kuat (al-aujah) menyatakan bahwa pemberi pinjaman memiliki kelebihan tersebut tanpa memerlukan ucapan (serah terima), karena hal itu terjadi secara mengikut (taba'an) dan juga menyerupai hadiah. Serta jika peminjam membayar lebih dari kewajibannya lalu mengklaim bahwa ia membayarnya karena mengira itulah kewajibannya, maka ia bersumpah dan boleh meminta kembali kelebihannya.

وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر: "كل قرض جر منفعة فهو ربا" [رواه الحارث ابن أبي أسامة في مسنده عن علي كرم الله وجهه الجامع الصغير رقم: ٦٣٣٦] وجبر ضعفه: مجيء معناه عن جمع من الصحابة.

Adapun utang-piutang dengan syarat mendatangkan manfaat bagi pemberi pinjaman, maka hukumnya fasad (batal) berdasarkan hadis: "Setiap utang yang mendatangkan manfaat adalah riba." [Diriwayatkan oleh Al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnadnya dari Ali karramallahu wajhah, Al-Jami' Ash-Shaghir no. 6336], dan kelemahan hadis ini tertutupi oleh adanya makna serupa dari sejumlah sahabat.

ومنه القرض لمن يستأجر ملكه أي مثلا بأكثر من قيمته لأجل القرض إن وقع ذلك شرطا إذ هو حينئذ حرام إجماعا وإلا كره عندنا وحرام عند كثير من العلماء قاله السبكي.

Termasuk di antaranya adalah memberi pinjaman kepada orang yang menyewa propertinya, misalnya, dengan harga lebih mahal dari nilainya demi mendapatkan pinjaman tersebut; jika hal itu dijadikan syarat, maka hukumnya haram secara ijmak. Jika tidak dijadikan syarat, hukumnya makruh menurut madzhab kita dan haram menurut kebanyakan ulama, sebagaimana dikatakan oleh As-Subki.

ويجوز الإقراض بشرط الرهن أو الكفيل.

Dan boleh memberi pinjaman dengan syarat adanya jaminan (rahn) atau penjamin (kafil).

ولو قال أقرض هذا مائة وأنا لها ضامن فأقرضه المائة أو بعضها

Dan jika seseorang berkata, "Pinjamkanlah orang ini seratus dan saya yang menjaminnya," lalu ia meminjamkannya seratus atau sebagian darinya,

ويصح رهن بإيجاب وقبول من أهل تبرع ولو عارية,

Dan sah akad gadai (rahn) dengan ijab dan kabul dari orang yang sah melakukan tabarru' (derma), meskipun barang pinjaman ('ariyah),

كان ضامنا على الأوجه للحاجة: كألق متاعك في البحر وعلي ضمانه.

…maka ia sah menjadi penjamin menurut pendapat yang lebih kuat (al-aujah) karena adanya kebutuhan, sebagaimana perkataan: "Lemparkanlah barangmu ke laut dan saya yang menjaminnya."

وقال البغوي: لو ادعى المالك القرض والآخذ الوديعة: صدق الآخذ لأن الأصل: عدم الضمان خلافا للأنوار.

Al-Baghawi berkata: Jika pemilik barang mengklaim akadnya adalah pinjaman (qardh) sedangkan penerima mengklaim barang titipan (wadi'ah), maka yang dibenarkan adalah penerima, karena hukum asalnya adalah tidak ada kewajiban menanggung/menjamin (dhaman), berbeda dengan pendapat dalam al-Anwar.

ويصح رهن وهو جعل عين يجوز بيعها وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر وفائه فلا يصح رهن وقف

Sah gadai (rahn), yaitu menjadikan suatu benda yang boleh dijual sebagai jaminan atas utang yang dapat dilunasi dari benda tersebut ketika terjadi kesulitan pelunasannya. Maka tidak sah menggadaikan barang wakaf

وأم ولد.

dan ummul walad (budak wanita yang melahirkan anak tuannya).

بإيجاب وقبول كرهنت وأرتهنت ويشترط ما مر في البيع من اتصال اللفظين وتوافقهما معنى ويأتي هنا خلاف المعاطاة من أهل تبرع فلا يرهن ولي أبا كان أو جدا أو وصيا أو حاكما مال صبي ومجنون كما لا يرتهن لهما إلا لضرورة أو غبطة ظاهرة فيجوز له الرهن والارتهان كأن يرهن على ما يقترض لحاجة المؤنة ليوفي مما ينتظر من الغلة أو حلول الدين وكأن يرتهن على ما يقرضه أو يبيعه مؤجلا لضرورة نهب أو نحوه للزوم الارتهان حينئذ.

dengan ijab dan kabul, seperti ucapan "Aku menggadaikan" dan "Aku menerima gadai". Disyaratkan apa yang telah dijelaskan dalam bab jual beli, yaitu persambungan antara dua lafaz dan kesesuaian keduanya secara makna. Di sini juga berlaku perselisihan pendapat mengenai mu'athah (transaksi tanpa lafaz) dari orang yang ahli tabarru' (layak berderma). Maka seorang wali—baik ayah, kakek, washi (penerima wasiat), maupun hakim—tidak boleh menggadaikan harta anak kecil dan orang gila, sebagaimana ia tidak boleh menerima gadai untuk keduanya, kecuali karena darurat atau adanya keuntungan yang jelas (ghibthah zhahirah). Maka ia boleh menggadaikan dan menerima gadai, seperti menggadaikan atas pinjaman untuk keperluan nafkah agar dilunasi dari hasil panen yang ditunggu atau dari pelunasan utang yang jatuh tempo, dan seperti menerima gadai atas apa yang ia pinjamkan atau ia jual secara tempo karena darurat terjadinya penjarahan atau sejenisnya, karena wajibnya menerima gadai saat itu.

ولو كان العين المرهونة جزءا مشاعا أو عارية وإن لم يصرح بلفظها كأن قال له مالكها: ارهنها بدينك لحصول التوثق بها.

Dan sekalipun barang yang digadaikan berupa bagian yang belum dibagi (musya') atau barang pinjaman ('ariyah), meskipun tidak dinyatakan dengan lafaz pinjam secara jelas, seperti pemiliknya berkata kepadanya: "Gadaikanlah barang ini untuk utangmu" demi tercapainya jaminan dengannya.

ويصح إعارة النقد لذلك على الأوجه وإن منعنا إعارته لغير ذلك فيصح رهن معار بإذن مالك بشرط معرفته المرتهن وجنس الدين وقدره نعم في الجواهر لو قال له ارهن عبدي بما شئت: صح أن يرهنه بأكثر من قيمته.

Dan sah meminjamkan uang tunai (nuqud) untuk hal itu menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah), meskipun kita melarang meminjamkannya untuk selain itu. Maka sah menggadaikan barang pinjaman dengan izin pemiliknya, dengan syarat pemilik mengetahui penerima gadai (murtahin), jenis utang, dan jumlahnya. Ya, dalam kitab al-Jawahir: Jika pemilik berkata kepadanya, "Gadaikanlah budakku dengan berapa saja yang kamu kehendaki," maka sah ia menggadaikannya dengan jumlah yang lebih besar dari nilainya.

انتهى.

Selesai.

لا بشرط ما يضر كأن لا يباع عند المحل وكشرط منفعته كأن يشرطا أن الزوائد مرهونة. ولا يلزم إلا بقبض بإذن,

Gadai tidak sah dengan syarat yang merugikan, seperti syarat bahwa barang tidak boleh dijual saat jatuh tempo, atau seperti syarat mengambil manfaatnya, misalnya keduanya mensyaratkan bahwa hasil tambahnya ikut digadaikan. Dan gadai tidak menjadi mengikat (lazim) kecuali dengan serah terima (qabdh) atas izin (penggadai),

ولو عين قدرا فرهن بدونه: جاز.

Jika pemilik menentukan jumlah tertentu, lalu ia menggadaikannya dengan jumlah yang kurang dari itu, maka boleh.

ولا رجوع للمالك بعد قبض المرتهن العارية فلو تلف في يد الراهن ضمن لأنه مستعير الآن اتفاقا أو في يد المرتهن: فلا ضمان عليهما إذ المرتهن أمين ولم يسقط الحق عن ذمة الراهن نعم: إن رهن فاسدا: ضمن بالتسليم على ما قاله غير واحد.

Pemilik tidak boleh menarik kembali izinnya setelah penerima gadai (murtahin) menerima barang pinjaman tersebut. Jika barang itu rusak di tangan penggadai (rahin), ia menanggung ganti rugi (dhaman) karena ia berstatus sebagai peminjam saat itu secara konsensus (ittifaq). Namun jika rusak di tangan murtahin, tidak ada ganti rugi atas keduanya karena murtahin adalah pemegang amanah, dan hak utang tidak gugur dari tanggungan rahin. Ya, jika ia menggadaikan secara rusak (tidak sah), maka ia menanggung ganti rugi dengan penyerahan barang, sebagaimana yang dikatakan oleh banyak ulama.

ويباع المعار بمراجعة مالكه عند حلول الدين ثم يرجع المالك على الراهن بثمنه الذي بيع به.

Barang yang dipinjamkan dijual dengan berkoordinasi kepada pemiliknya saat utang jatuh tempo, kemudian pemilik menagih kembali kepada rahin sebesar harga penjualannya.

لا يصح بشرط ما يضر الراهن أو المرتهن: كأن لا يباع أي المرهون عند المحل أي وقت حلول الدين أو إلا بأكثر من ثمن المثل وكشرط منفعته أي المرهون لمرتهن كأن يشرطا١ أن الزوائد الحادثة كثمر الشجر مرهونة فيبطل الرهن في الصور الثلاثة.

Gadai tidak sah dengan syarat yang merugikan rahin atau murtahin: seperti syarat bahwa barang gadai tidak boleh dijual saat mahal, yaitu waktu jatuh tempo utang, atau tidak boleh dijual kecuali dengan harga yang lebih mahal dari harga standar (tsaman al-mitsl), atau seperti syarat manfaat barang gadai diperuntukkan bagi murtahin, misalnya keduanya mensyaratkan bahwa hasil tambah yang baru timbul—seperti buah pepohonan—ikut digadaikan, maka batallah gadai dalam tiga gambaran ini.

ولا يلزم الرهن كالهبة إلا بقبض بما مر في قبض المبيع بإذن من راهن يصح تبرعه.

Dan akad gadai tidak menjadi mengikat (lazim)—sebagaimana hibah—kecuali dengan serah terima (qabdh) sesuai penjelasan yang telah lalu pada serah terima barang dagangan, dengan izin dari rahin yang sah melakukan tabarru' (derma).

ويحصل الرجوع عن الرهن قبل قبضه بتصرف يزيل الملك كالهبة والرهن لآخر ولا بوطء وتزويج وموت عاقد وهرب مرهون.

Pembatalan/penarikan kembali akad gadai sebelum serah terima terjadi melalui tindakan kepemilikan yang menghilangkan kepemilikan (al-milk), seperti hibah dan menggadaikannya kepada orang lain. Namun tidak dianggap membatalkan dengan persetubuhan, pernikahan, meninggalnya salah satu pihak yang berakad, dan kaburnya barang gadai.

واليد لمرتهن وهي أمانة وصدق في تلف لا رد.

Penguasaan fisik berada di tangan murtahin, dan status penguasaan itu adalah amanah. Pengakuan murtahin dibenarkan dalam hal terjadinya kerusakan barang, bukan dalam hal pengembalian barang.

واليد في المرهون لمرتهن بعد لزوم الرهن غالبا وهي على الرهن أمانة أي يد أمانة ولو بعد البراءة من الدين فلا يضمنه المرتهن إلا بالتعدي: كأن امتنع من الرد بعد سقوط الدين.

Penguasaan atas barang gadai berada di tangan murtahin setelah gadai menjadi mengikat (lazim) pada umumnya. Penguasaan atas barang gadai tersebut berstatus amanah, yaitu tangan amanah (yad amanah), meskipun setelah terbebas dari utang. Maka murtahin tidak menanggung ganti rugi kecuali karena tindakan melanggar/kelalaian (ta'addi), seperti menolak mengembalikan barang setelah utang gugur/lunas.

وصدق أي المرتهن كالمستأجر في دعوى تلف بيمينه لا في رد لأنهما قبضا لغرض أنفسهما فكانا كالمستعير بخلاف الوديع والوكيل.

Dan dibenarkan pengakuan murtahin—sebagaimana penyewa—dalam klaim kerusakan barang dengan disertai sumpahnya, namun tidak dibenarkan dalam pengakuan telah mengembalikan barang, karena keduanya menerima barang untuk kepentingan diri mereka sendiri sehingga keduanya seperti peminjam (musta'ir), berbeda halnya dengan penerima titipan (wadi') dan wakil.

ولا يسقط بتلفه شيء من الدين ولو غفل عن نحو كتاب فأكلته الأرضة أو جعله في محل هو مظنتها ضمنه لتفريطه.

Kerusakan barang gadai tidak menggugurkan sedikit pun dari utang. Jika murtahin lalai terhadap sesuatu seperti buku lalu dimakan rayap, atau ia menyimpannya di tempat yang diperkirakan ada rayap, maka ia menanggung ganti rugi karena kecerobohannya (tafrith).

قاعدة [في بيان أن فاسد العقود كصحيحها] : وحكم فساد العقود إذا صدر من رشيد حكم صحيحها في الضمان وعدمه لان صحيح العقد إذا اقتضى الضمان بعد القبض كالبيع والقرض ففاسدة أولى أو عدمه كالمرهون والمستأجر والموهوب ففاسدة كذلك.

Kaidah [dalam menjelaskan bahwa akad yang rusak sama seperti akad yang sah]: Hukum kerusakan (ketidaksahan) akad-akad jika dilakukan oleh orang yang rasyid (dewasa dan berakal sehat) adalah sama dengan hukum akad yang sah dalam hal ada atau tidak adanya ganti rugi (dhaman). Sebab, jika akad yang sah menuntut ganti rugi setelah serah terima seperti jual beli dan utang-piutang, maka akad yang rusak lebih utama lagi menuntut ganti rugi. Atau jika akad yang sah tidak menuntut ganti rugi seperti barang gadai, barang sewaan, dan barang hibah, maka akad yang rusak juga demikian.

فرع لو رهن شيئا وجعله مبيعا من المرتهن بعد شهر أو عارية له بعده بأن شرطا في عقد الرهن ثم قبضه المرتهن: لم يضمنه قبل مضي الشهر وإن علم فساده على المعتمد وضمنه بعده لأنه يصير بيعا أو عارية فاسدين لتعليقهما بانقضاء الشهر فإن قال رهنتك فإن لم أقض عند الحلول فهو مبيع منك: فسد البيع لا الرهن على

Cabang masalah: Jika seseorang menggadaikan sesuatu dan menjadikannya barang yang terjual kepada penerima gadai setelah satu bulan, atau sebagai pinjaman baginya setelah satu bulan—dengan syarat yang diajukan dalam akad gadai—lalu penerima gadai memegang barang tersebut: maka ia tidak menanggung ganti rugi (dhaman) sebelum berlalu satu bulan tersebut, meskipun ia mengetahui fasad-nya (kerusakan) akad menurut pendapat yang mu'tamad, dan ia menanggung ganti rugi setelahnya karena akad tersebut menjadi jual beli atau pinjaman yang fasad disebabkan penangguhannya pada berlalunya bulan tersebut. Maka jika ia berkata, "Aku menggadaikan barang ini padamu, jika aku tidak melunasinya saat jatuh tempo, maka barang ini terjual padamu," akad jual belinya batal (fasad), namun akad gadainya tidak batal menurut

وله طلب بيعه إن حل دين ويجبر راهن فإن أصر باعه قاض وعلى مالكه مؤنة,

pendapat yang paling kuat. Dan penerima gadai berhak menuntut penjualannya jika hutang telah jatuh tempo, dan pemberi gadai dipaksa (untuk melunasi/menjualnya). Jika ia tetap enggan, hakim yang akan menjualnya, dan biaya perawatannya ditanggung oleh pemiliknya,

الأوجه لأنه لم يشترط فيه شيئا.

pendapat yang paling kuat (al-awjah), karena ia tidak mensyaratkan sesuatu apapun di dalam akad gadai tersebut.

وله أي للمرتهن طلب بيعه أي المرهون أو طلب قضاء دينه إن لم يبع.

Dan ia, yaitu penerima gadai, berhak "menuntut penjualannya", yaitu barang yang digadaikan, atau menuntut pelunasan hutangnya jika barang tersebut tidak dijual.

ولا يلزم الراهن البيع بخصوصه بل إنما يطلب المرتهن أحد الأمرين إن حل دين وإنما يبيع الراهن بإذن المرتهن عند الحاجة لان له فيه حقا ويقدم المرتهن بثمنه على سائر الغرماء فإن أبى المرتهن الإذن قال له الحاكم ائذن في بيعه أو أبرئه من الدين.

Dan tidak wajib bagi pemberi gadai untuk menjual barang itu secara khusus, melainkan penerima gadai hanya berhak menuntut salah satu dari dua hal tersebut jika hutang sudah jatuh tempo. Pemberi gadai hanya boleh menjualnya dengan izin penerima gadai ketika dibutuhkan karena penerima gadai memiliki hak padanya, dan penerima gadai didahulukan atas hasil penjualannya dibanding kreditur lainnya. Jika penerima gadai enggan memberi izin, hakim berkata kepadanya: "Berikan izin untuk penjualannya atau bebaskan ia dari hutang."

ويجبر راهن أي يجبره الحاكم على أحد الأمرين إذا امتنع بالحبس وغيره فإن أصر على الامتناع أو كان غائبا وليس له ما يوفى منه غير الرهن باعه عليه قاض بعد ثبوت الدين وملك الراهن والرهن وكونه بمحل ولايته وقضى الدين من ثمنه دفعا لضرر المرتهن.

"Dan pemberi gadai dipaksa", yaitu hakim memaksanya memilih salah satu dari dua hal tersebut jika ia enggan, dengan pemenjaraan dan selainnya. Jika ia tetap enggan atau ia tidak berada di tempat (gaib) dan tidak memiliki harta lain untuk melunasi selain barang gadai, hakim menjual barang tersebut atas namanya setelah terbuktinya hutang, kepemilikan pemberi gadai atas barang tersebut, serta keberadaannya di wilayah kekuasaannya, lalu hakim melunasi hutang dari uang hasil penjualannya demi menghindarkan bahaya dari penerima gadai.

ويجوز للمرتهن بيعه في دين حال بإذن الراهن وحضرته بخلافه في غيبته نعم إن قدر له الثمن: صح مطلقا لانتفاء التهمة ولو شرطا أن يبيعه ثالث عند المحل: جاز بيعه بثمن مثل حال.

Dan boleh bagi penerima gadai menjualnya untuk pelunasan hutang yang sudah jatuh tempo dengan izin pemberi gadai dan di hadapannya, berbeda halnya jika di saat ketidakhadirannya. Ya, jika pemberi gadai telah menentukan harganya, maka sah secara mutlak karena ketiadaan unsur kecurigaan. Dan jika keduanya mensyaratkan agar pihak ketiga menjualnya saat jatuh tempo, maka boleh menjualnya dengan harga standar (tsaman al-mitsl) secara tunai.

ولا يشترط مراجعة الراهن في البيع لأن الأصل بقاء إذنه بل المرتهن لأنه قد يمهل أو يبرئ.

Dan tidak disyaratkan meminta izin kembali kepada pemberi gadai saat penjualan, karena hukum asalnya adalah berlanjutnya izin tersebut; melainkan harus merujuk kepada penerima gadai karena ia mungkin saja memberi penangguhan atau membebaskan hutangnya.

وعلى مالكه من راهن أو معير له: مؤنة للمرهون كنفقة رقيق وكسوته

Dan menjadi kewajiban pemiliknya, baik pemberi gadai maupun pemberi pinjaman barang kepadanya: nafkah/biaya perawatan untuk barang yang digadaikan, seperti nafkah hamba sahaya dan pakaiannya,

وليس له رهن لآخر ووطء وتزويج لا منه.

dan ia tidak berhak menggadaikannya kepada orang lain, menyetubuhinya, dan menikahkannya tanpa izin dari penerima gadai.

وعلف دابة وأجرة رد آبق ومكان حفظ وإعادة ما يهدم إجماعا خلافا لما شذ به الحسن فإن غاب أو أعسر.

serta pakan hewan ternak, upah mengembalikan budak yang melarikan diri, biaya tempat penyimpanan, dan membangun kembali bagian yang roboh secara ijmak, berbeda dengan pendapat menyimpang dari Al-Hasan. Maka jika pemiliknya tidak ada (gaib) atau berkesulitan keuangan,

راجع المرتهن الحاكم وله الإنفاق بإذنه ليكون رهنا بالنفقة أيضا فإن تعذر استئذانه وأشهد بالإنفاق ليرجع رجع وإلا فلا.

penerima gadai melapor kepada hakim, dan ia boleh menafkahinya atas izin hakim agar nafkah tersebut juga dihitung sebagai beban yang dijaminkan pada barang gadai tersebut. Jika tidak memungkinkan meminta izin hakim dan ia mencatat/mempersaksikan penafkahan tersebut dengan niat menuntut ganti rugi (ruju'), maka ia berhak menuntut ganti; jika tidak demikian, maka tidak.

وليس له أي للمالك بعد لزوم الرهن: بيع ووقف ورهن لآخر لئلا يزاحم المرتهن.

Dan tidak boleh baginya, yaitu bagi pemilik, setelah akad gadai mengikat (lazim): menjual, mewakafkan, dan menggadaikan kepada orang lain agar tidak merugikan/menyaingi penerima gadai.

ووطء للمرهونة بلا إذنه وإن لم تحبل حسما للباب بخلاف سائر التمتعات فتحل إن أمن الوطء.

Dan (tidak boleh) menyetubuhi budak perempuan yang digadaikan tanpa izin penerima gadai meskipun tidak sampai hamil, demi menutup pintu perselisihan; berbeda dengan bentuk pemanfaatan (istimta') lainnya, maka hal itu halal jika aman dari persetubuhan.

وتزويج الأمة مرهونة لنقصه القيمة لا إن كان التزويج منه: أي المرتهن أو بإذنه فلا يمتنع على الراهن.

Dan (tidak boleh) menikahkan budak perempuan yang sedang digadaikan karena hal itu mengurangi nilainya, kecuali jika pernikahan tersebut dari penerima gadai atau atas izinnya, maka tidak terlarang bagi pemberi gadai.

وكذا لا تجوز الإجارة لغير المرتهن بلا إذن إن جاوزت مدتها المحل.

Demikian pula tidak boleh menyewakannya kepada selain penerima gadai tanpa izin jika jangka waktu sewanya melampaui masa jatuh tempo hutang.

ويجوز له الانتفاع بالركوب والسكنى لا بالبناء والغرس نعم لو كان الدين مؤجلا وقال: أنا أقلع عند الأجل فله ذلك.

Dan boleh baginya memanfaatkan barang gadai dengan menunggangi dan menempatinya, bukan dengan membangun atau menanam tanaman. Namun jika hutangnya bertempo dan ia berkata: "Aku akan mencabut tanaman/bangunan itu saat jatuh tempo," maka ia berhak melakukan hal tersebut.

وأما وطء المرتهن الجارية المرهونة ولو بإذن المالك فزنا حيث علم التحريم فعليه الحد ويلزمه المهر ما لم تطاوعه عالمة بالتحريم وما نسب إلى عطاء من تجويزه الوطء بإذن المالك ضعيف جدا بل قيل إنه مكذوب عليه.

Adapun persetubuhan penerima gadai terhadap budak perempuan yang digadaikan, meskipun atas izin pemiliknya, adalah perbuatan zina jika ia mengetahui keharamannya, sehingga ia dikenai hukuman hadd dan wajib membayar mahar selama budak perempuan tersebut tidak menurutinya secara sukarela dalam keadaan mengetahui keharamannya. Dan apa yang dinisbatkan kepada 'Atha' tentang kebolehan menyetubuhi dengan izin pemilik adalah pendapat yang sangat lemah, bahkan dikatakan bahwa itu adalah kedustaan atas namanya.

وسئل القاضي الطيب الناشري عن الحكم فيما اعتاده النساء من

Hakim Ath-Thayyib An-Nasyiri pernah ditanya mengenai hukum kebiasaan para wanita berupa

ولو اختلفا في رهن أو قدره صدق راهن.

Jika keduanya (rahin dan murtahin) berselisih mengenai pokok gadai atau kadarnya, maka yang dibenarkan adalah rahin (pemberi gadai).

ارتهان الحلي مع الإذن في لبسها فأجاب لا ضمان على المرتهنة مع اللبس لان ذلك في حكم إجارة فاسدة معللا ذلك: بأن المقرضة لا تقرض مالها إلا لأجل الارتهان واللبس فجعل ذلك عوضا فاسدا في مقابلة اللبس.

menjadikan perhiasan sebagai jaminan gadai disertai izin untuk memakainya. Maka beliau menjawab: Tidak ada ganti rugi (dhaman) bagi wanita murtahin (penerima gadai) disertai pemakaiannya, karena hal itu berhukum sewa-menyewa yang rusak (ijarah fasidah). Beliau mengalasannya: bahwasanya wanita yang memberi pinjaman tidak meminjamkan hartanya kecuali karena alasan penerimaan gadai dan pemakaiannya, sehingga hal itu dijadikan kompensasi yang rusak sebagai imbalan dari pemakaian tersebut.

ولو اختلفا أي الراهن والمرتهن في أصل رهن كأن قال رهنتني كذا فأنكر الآخر أو في قدره: أي المرهون كرهنتني الأرض مع شجرها فقال: بل وحدها أو قدر المرهون به: كبألفين فقال بل بألف: صدق راهن بيمينه وإن كان المرهون بيد المرتهن لأن الأصل عدم ما يدعيه المرتهن ولو ادعى مرتهن هو بيده أنه قبضه بالإذن وأنكره الراهن وقال بل غصبته أو أعرتكه أو آجرتكه: صدق في جحده بيمينه.

Dan jika keduanya—yaitu rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai)—berselisih mengenai pokok gadai, seperti murtahin berkata: 'Engkau menggadaikan ini padaku,' lalu pihak lain mengingkarinya; atau mengenai kadar barang yang digadaikan (marhun), seperti ucapan: 'Engkau menggadaikan tanah ini beserta pohon-pohonnya padaku,' lalu pihak lain berkata: 'Bahkan tanahnya saja'; atau kadar hutang penjaminnya (marhun bih), seperti ucapan: 'Dengan dua ribu,' lalu pihak lain berkata: 'Bahkan dengan seribu'; maka yang dibenarkan adalah rahin beserta sumpahnya meskipun barang jaminan berada di tangan murtahin, karena hukum asalnya adalah tidak adanya apa yang diklaim oleh murtahin. Dan sekiranya murtahin mengklaim barang yang berada di tangannya bahwa ia memegangnya dengan izin rahin, lalu rahin mengingkarinya dan berkata: 'Bahkan engkau merampasnya (ghasab), atau aku meminjamkannya kepadamu, atau aku menyewakannya kepadamu', maka rahin dibenarkan dalam pengingkarannya disertai sumpahnya.

فرع من عليه ألفان بأحدهما رهن أو كفيل فأدي ألفا وقال أديته عن ألف الرهن: صدق بيمينه لان المؤدي أعرف بقصده وكيفيته ومن ثم لو أدى لدائنه شيئا وقصد أنه عن دينه وقع عنه وإن ظنه الدائن هدية

Cabang masalah: Barang siapa yang menanggung hutang dua ribu, yang mana pada salah satu dari dua ribu tersebut ada jaminan (gadai) atau penjamin (kafil), lalu ia membayar seribu dan berkata: 'Aku membayarnya untuk seribu hutang gadai,' maka ia dibenarkan beserta sumpahnya, karena orang yang membayar lebih tahu tentang maksud dan tata caranya. Oleh karena itu, jika seseorang membayar sesuatu kepada krediturnya dan berniat bahwa pembayaran itu untuk hutangnya, maka pembayaran itu jatuh untuk hutangnya meskipun kreditur mengelirukannya sebagai hadiah

كذا قالوه ثم إن لم ينو الدافع شيئا حالة الدفع: جعله عما شاء منهما لان التعيين إليه.

demikian yang dikatakan para ulama. Kemudian jika pihak pembayar tidak berniat sesuatu apa pun saat pembayaran, maka ia menjadikannya untuk hutang mana saja yang ia kehendaki dari keduanya, karena penentuan alokasi itu kembali kepadanya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

تتمة [في بيان حكم المفلس] المفلس من عليه دين لآدمي حال زائد على ماله: يحجر عليه بطلبه الحجر على نفسه أو طلب غرمائه.

Pelengkap [Dalam menjelaskan hukum orang yang muflis/bangkrut]. Muflis adalah orang yang menanggung hutang kepada sesama manusia yang sudah jatuh tempo dan melebihi jumlah hartanya; ia dikenai pembekuan harta (hajr) atas permintaannya sendiri agar dibekukan atau atas permintaan para krediturnya.

وبالحجر: يتعلق حق الغرماء بماله فلا يصح تصرفه فيه بما يضرهم كوقف وهبة ولا بيعه ولو لغرمائه بدينهم بغير إذن القاضي ويصح إقراره بعين أو دين أسند وجوبه لما قبل الحجر.

Dengan adanya pembekuan harta (hajr), hak para kreditur berkaitan erat dengan hartanya, sehingga tidak sah tindakan hukumnya (tasharruf) pada harta tersebut yang merugikan mereka seperti wakaf dan hibah, dan tidak sah pula menjualnya—meskipun kepada para krediturnya sebesar hutang mereka—tanpa izin hakim. Namun sah pengakuannya (iqrar) atas suatu barang tertentu atau hutang yang dikaitkan kewajibannya sebelum terjadinya hajr.

ويبادر قاض يبيع ماله ولو مسكنه وخادمه بحضرته مع غرمائه وقسم ثمنه بين غرمائه كبيع مال ممتنع عن أداء حق وجب عليه أداوه.

Hakim hendaknya bersegera menjual hartanya, meskipun berupa tempat tinggal dan pelayannya, dengan dihadiri oleh si muflis beserta para krediturnya, lalu membagikan uang hasil penjualannya di antara para krediturnya, sebagaimana menjual harta orang yang enggan membayar hak yang wajib ia tunaikan.

ولقاض إكراه ممتنع من الأداء بالحبس وغيره من أنواع التعزير ويحبس مدين مكلف عهد له المال لا أصل وإن علا من جهة أب أو أم بدين فرعه خلافا للحاوي كالغزالي.

Hakim berhak memaksa orang yang enggan membayar hutang dengan hukuman penjara dan jenis hukuman takzir lainnya. Orang yang berhutang yang mukalaf dan diketahui memiliki harta dapat dipenjara, tetapi tidak dipenjara leluhur (orang tua/kakek) ke atas baik dari jalur ayah atau ibu karena hutang kepada keturunannya, berbeda dengan pendapat kitab al-Hawi sebagaimana Imam al-Ghazali.

وإذا ثبت إعسار مدين: لم يجز حبسه ولا ملازمته بل يمهل حتى يوسر.

Jika telah terbukti kebangkrutan/kesulitan (i'sar) orang yang berhutang, maka tidak boleh memenjarakannya dan tidak boleh menempelnya (terus mengikutinya), melainkan diberi penangguhan waktu sampai ia berkelapangan.

وللدائن ملازمة من لم يثبت إعساره ما لم يختر المدين الحبس فيجاب إليه وأجرة الحبس وكذا الملازم على المدين وللحاكم منع المحبوس: الاستئناس بالمحادثة وحضور الجمعة وعمل الصنعة إن رأى المصلحة فيه.

Kreditur berhak menempel (mengawasi terus) orang yang belum terbukti kebangkrutannya selama si berhutang tidak memilih untuk dipenjara; jika ia memilih dipenjara maka permintaannya dipenuhi. Biaya penjara dan demikian pula biaya orang yang menempel ditanggung oleh pihak berhutang. Hakim berhak melarang orang yang dipenjara dari: bersenang-senang dengan mengobrol, menghadiri shalat Jumat, dan melakukan pekerjaan profesi jika hakim melihat ada kemaslahatan di dalamnya.

ولا يجوز للدائن تجويع المدين بمنع الطعام كما أفتى به شيخنا الزمزمي رحمه الله تعالى.

Dan kreditur tidak boleh membiarkan lapar si berhutang dengan menghalangi makanan sebagaimana difatwakan oleh guru kami Al-Zamzami rahimahullah.

ويجوز لغريم المفلس المحجور عليه أو الميت: الرجوع فورا إلى

Dan boleh bagi kreditur dari orang bangkrut yang dibekukan hartanya atau dari orang yang meninggal dunia: untuk mengambil kembali seketika barang

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

متاعه إن وجد في ملكه ولم يتعلق به حق لازم والعوض حال وإن تفرخ البيض المبيع ونبث البذر واشتد حب الزرع لأنها حدثت من عين ماله ويحصل الرجوع من البائع ولو بلا قاض بنحو فسخت ورجعت في المبيع لا بنحو بيع وعتق فيه.

miliknya jika barang itu masih ditemukan dalam kepemilikannya dan belum berkaitan dengan hak yang mengikat serta pembayaran penggantinya bersifat kontan, meskipun telur yang dijual telah menetas, benih telah tumbuh, dan bulir tanaman telah mengeras; karena hal-hal itu tumbuh dari substansi barangnya sendiri. Penarikan kembali (fasakh) tersebut sah dilakukan oleh pihak penjual walaupun tanpa melalui keputusan hakim, yaitu dengan ucapan seperti 'Aku membatalkan' dan 'Aku menarik kembali barang yang dijual', bukan dengan tindakan seperti menjualnya kembali atau memerdekakannya.