باب في الإجارة
باب في الإجارة
Bab tentang Ijarah (Sewa-menyewa dan Upah-mengupah)
تصح إجارة بإيجاب كأجرتك بكذا وقبول كاستأجرت بأجر معلوم.
Akad ijarah adalah sah dengan ijab seperti "Aku menyewakan ini kepadamu sekian" dan kabul seperti "Aku menyewanya dengan sewa/upah yang jelas."
باب في الإجارة.
Bab tentang Ijarah.
هي لغة: اسم للأجرة وشرعا تمليك منفعة بعوض بشروط آتية.
Ijarah secara bahasa adalah nama bagi imbalan (upah/sewa), dan secara syariat adalah pemilikan manfaat dengan imbalan berdasarkan syarat-syarat yang akan datang.
تصح إجارة بإيجاب كأجرتك هذا أو أكريتك أو ملكتك منافعه سنة: بكذا.
Akad ijarah adalah sah dengan ijab, seperti: "Aku menyewakan ini kepadamu," atau "Aku menyewakan rumah ini kepadamu," atau "Aku menyerahkan kepemilikan manfaatnya kepadamu selama setahun dengan sewa sekian."
وقبول كاستأجرت واكتريت وقبلت.
Dan dengan kabul, seperti: "Aku menyewa," "Aku telah menyewa," dan "Aku menerima."
قال النووي في شرح المهذب إن خلاف المعاطاة يجري في الإجارة والرهن والهبة.
An-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab bahwa perbedaan pendapat mengenai akad mu'athah (serah terima tanpa lafaz) juga berlaku dalam ijarah, gadai (rahn), dan hibah.
وإنما تصح الإجارة بأجر صح كونه ثمنا.
Hanya saja akad ijarah sah dengan sewa/upah yang sah dijadikan sebagai harga (dalam jual beli).
معلوم للعاقدين قدرا وجنسا وصفة إن كان في الذمة وإلا كفت معاينته في إجارة العين أو الذمة فلا يصح إجارة دار ودابة بعمارة لها.
yang diketahui oleh kedua belah pihak akad dalam hal kadar, jenis, dan sifatnya jika berupa tanggungan (dzimmah). Jika tidak (bukan tanggungan), maka cukup dengan melihat barangnya baik dalam ijarah benda ('ain) maupun tanggungan. Oleh karena itu, tidak sah menyewakan rumah atau hewan tunggangan dengan imbalan pemeliharaan/perbaikannya,
في منفعة متقومة معلومة واقعة للمكتري غير متضمن لاستيفاء عين قصدا,
pada manfaat yang bernilai, diketahui, diperuntukkan bagi penyewa, serta tidak mencakup pengambilan benda fisik secara sengaja,
وعلف ولا استئجار لسلخ شاة بجلد ولطحن نحو بر ببعض دقيق في منفعة متقومة أي لها قيمة معلومة عينا وقدرا وصفة واقعة للمكتري غير متضمن لاستيفاء عين قصدا بأن لا يتضمنه العقد.
dan pakan ternak. Tidak sah pula menyewa orang untuk menguliti kambing dengan upah kulitnya, atau untuk menumbuk/menggiling semisal gandum dengan upah sebagian tepungnya. [Ijarah sah] pada manfaat yang bernilai, yaitu yang memiliki nilai ekonomi, yang diketahui wujud, kadar, dan sifatnya, yang diperuntukkan bagi penyewa, serta tidak mencakup pengambilan benda fisik secara sengaja dalam artian akad tidak memuat hal tersebut secara mendasar.
وخرج بمتقومة ما ليس لها قيمة فلا يصح اكتراء بياع للتلفظ بمحض كلمة أو كلمات يسيرة على الأوجه ولو إيجابا وقبولا وإن روجت السلعة إذ لا قيمة لها ومن ثم اختص هذا بمبيع مستقر القيمة في البلد كالخبز بخلاف نحو عبد وثوب مما يختلف ثمنه باختلاف متعاطيه فيختص بيعه من البياع بمزيد نفع فيصح استئجاره عليه وحيث لم يصح فإن تعب بكثرة تردد أو كلام فله أجرة المثل وإلا فلا.
Pengecualian dari "bernilai" adalah manfaat yang tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga menurut pendapat yang kuat tidak sah menyewa seorang penjual hanya untuk mengucapkan murni satu kata atau beberapa kata singkat meskipun berupa ijab dan kabul dan walaupun hal itu dapat melariskan barang dagangan, karena perkataan itu tidak memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu, hal ini khusus berlaku pada barang dagangan yang harganya stabil di negeri tersebut seperti roti, berbeda dengan semisal hamba sahaya dan pakaian yang harganya bervariasi tergantung siapa yang menanganinya, sehingga penanganannya oleh penjual tersebut memiliki nilai manfaat lebih, maka sah menyewanya untuk hal itu. Dan sekiranya akad tidak sah, apabila ia telah lelah karena banyaknya bolak-balik atau pembicaraan maka ia berhak menerima upah yang sepadan (ajr al-mitsl), tetapi jika tidak lelah maka tidak mendapat upah.
وأفتى شيخنا المحقق ابن زياد بحرمة أخذ القاضي الأجرة على مجرد تلقين الإيجاب إذ لا كلفة في ذلك.
Dan guru kami yang terkemuka, Ibn Ziyad, memberi fatwa tentang haramnya seorang hakim (qadhi) mengambil upah hanya semata-mata karena mendiktekan ijab, sebab tidak ada beban atau kesulitan dalam hal itu.
وسبقه العلامة عمر الفتى بالإفتاء بالجواز إن لم يكن ولي المرأة فقال إذا لقن الولي والزوج صيغة النكاح فله أن يأخذ ما اتفقا عليه بالرضا وإن كثر وإن لم يكن لها ولي غيره فليس له أخذ شيء على إيجاب النكاح لوجوبه عليه حينئذ انتهى.
Dan Al-Allamah Umar Al-Fata telah mendahuluinya dengan memberi fatwa tentang kebolehannya jika ia bukan wali perempuan tersebut. Beliau berkata: 'Jika ia mendiktekan lafal nikah kepada wali dan calon suami, maka ia boleh mengambil apa yang telah mereka sepakati atas dasar kerelaan meskipun banyak. Namun jika tidak ada wali bagi wanita tersebut selain dirinya, maka ia tidak boleh mengambil sesuatu pun atas ijab nikah, karena hal itu menjadi wajib baginya saat itu.' Selesai.
وفيه نظر لما تقرر آنفا.
Pendapat ini perlu ditinjau kembali berdasarkan apa yang telah ditetapkan sebelumnya.
ولا استئجار دراهم ودنانير غير المعراة للتزين لأن منفعة نحو
Dan tidak sah menyewa dirham dan dinar yang tidak dilubangi (tidak dirangkai) untuk perhiasan, karena manfaat sejenis…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
التزيين بها لا تقابل بمال وأما المعراة: فيصح استئجارها على ما بحثه الأذرعي لأنها حينئذ حلى واستئجار الحلي صحيح قطعا.
…berhias dengannya tidak sebanding dengan harta. Adapun dinar/dirham yang dilubangi/dirangkai: maka sah menyewanya menurut pembahasan Al-Adhra'i, karena pada saat itu ia berstatus sebagai perhiasan, dan menyewa perhiasan adalah sah secara pasti.
وبمعلومة استئجار المجهول فأجرتك إحدى الدارين باطل.
Dan (disyaratkan barang sewaan) harus diketahui, maka menyewa sesuatu yang tidak diketahui seperti 'Aku menyewakan kepadamu salah satu dari dua rumah ini' adalah batal.
وبواقعة للمكتري ما يقع نفعها للأجير فلا يصح الاستئجار لعبادة تجب فيها نية غير نسك كالصلاة لان المنعة في ذلك للأجير لا المستأجر والإمامة ولو نقل كالتراويح لان الإمام مصل لنفسه فمن أراد اقتدي به وإن لم ينو الإمامة أما ما لا يحتاج إلى نية كالأذان والإقامة فيصح الاستئجار عليه والأجرة مقابلة لجميعه مع نحو رعاية الوقت وتجهيز الميت وتعليم القرآن كله أو بعضه وإن تعين على المعلم للخبر الصحيح [البخاري رقم: ٥٧٣٧] : "إن أحق ما أخذتم عليه أجرا: كتاب الله".
Dan (disyaratkan manfaat tersebut) jatuh/terjadi untuk penyewa, bukan manfaat yang jatuh untuk pekerja. Maka tidak sah menyewa untuk ibadah yang diwajibkan padanya niat selain ibadah haji/umrah, seperti shalat, karena manfaatnya adalah untuk pekerja itu sendiri bukan penyewa; begitu pula imamah (menjadi imam) meskipun shalat sunnah seperti Tarawih, karena imam itu shalat untuk dirinya sendiri, barangsiapa yang ingin maka ia mengikutinya meskipun imam tidak berniat menjadi imam. Adapun amalan yang tidak membutuhkan niat seperti azan dan ikamah, maka sah menyewa atasnya, dan upahnya adalah imbalan untuk semuanya beserta hal-hal seperti menjaga waktu, pengurusan jenazah, serta pengajaran Al-Qur'an seluruhnya atau sebagiannya meskipun telah menjadi kewajiban individual (fardhu 'ain) bagi sang pengajar, berdasarkan hadits shahih [Al-Bukhari No: 5737]: 'Sesungguhnya hal yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah Kitabullah'.
قال شيخنا في شرح المنهاج: يصح الاستئجار لقراءة القرآن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أو لا ونية الثواب له غير دعاء لغو خلافا لجمع وإن اختار السبكي ما قالوه وكذا أهديت قراءتي أو ثوابها له خلافا لجمع أيضا أو بحضرة المستأجر أي أو نحو ولده فيما يظهر ومع ذكره في القلب حالتها كما ذكره بعضهم وذلك لان موضعها موضع بركة وتنزل رحمة والدعاء بعدها أقرب إجابة وإحضار المستأجر في القلب سبب لشمول الرحمة له إذا نزلت على قلب
Guru kami berkata dalam Syarah Al-Minhaj: Sah menyewa untuk pembacaan Al-Qur'an di sisi kubur atau disertai doa memohon pahala seumpama apa yang ia dapatkan untuk jenazah atau orang lain setelahnya, baik ditentukan waktunya atau tempatnya maupun tidak. Dan niat pahala baginya tanpa berdoa adalah sia-sia (tidak sah), berbeda dari pendapat sekelompok ulama meskipun Al-Subki memilih apa yang mereka katakan. Begitu pula lafal 'Aku hadiahkan bacaanku atau pahalanya kepadanya', berbeda juga dari pendapat sekelompok ulama. Atau (sah juga menyewa pembacaan Al-Qur'an) di hadapan penyewa, yaitu atau di hadapan seumpama anaknya menurut pendapat yang jelas, disertai dengan mengingatnya di dalam hati saat membacanya sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama. Hal itu karena tempat pembacaan Al-Qur'an adalah tempat keberkahan dan turunnya rahmat, serta doa setelahnya lebih dekat untuk dikabulkan; dan menghadirkan penyewa di dalam hati menjadi sebab tercakupnya rahmat baginya ketika rahmat tersebut turun ke dalam hati…
وعلى مكر تسليم مفتاح دار
Dan wajib bagi pemilik barang (mu'jir) menyerahkan kunci rumah.
القارئ وألحق بها الاستئجار لمحض الذكر والدعاء عقبه وأفتى بعضهم بأنه لو ترك من القراءة المستأجر عليها آيات لزمه قراءة ما تركه ولا يلزمه استئناف ما بعده وبأن من استؤجر لقراءة على قبر لا يلزمه عند الشروع أن ينوي أن ذلك عما استؤجر عنه أي بل الشرط عدم الصارف فإن قلت: صرحوا في النذر بأنه لا بد أن ينوي أنها عنه قلت: هنا قرينة صارفة لوقوعها عما استؤجر له ولا كذلك ثم ومن ثم لو استؤجر هنا لمطلق القراءة وصححناه: احتاج للنية فيما يظهر أولا لمطلقها كالقراءة بحضرته لم يحتج لها فذكر القبر مثال انتهى ملخصا.
…pembaca. Dan dianalogikan dengannya yaitu menyewa untuk murni zikir dan doa setelahnya. Sebagian ulama berfatwa bahwa jika orang yang disewa untuk membaca Al-Qur'an meninggalkan beberapa ayat, wajib baginya membaca ayat yang ia tinggalkan dan tidak wajib mengulang ayat-ayat setelahnya. Dan bahwa orang yang disewa untuk membaca Al-Qur'an di atas kuburan tidak wajib ketika memulai untuk berniat bahwa bacaan itu adalah untuk apa yang disewakan kepadanya, artinya yang menjadi syarat adalah tidak adanya pemaling niat. Jika engkau bertanya: Mereka menegaskan dalam masalah nazar bahwa harus berniat bahwa bacaan itu untuk nazarnya; aku jawab: Di sini terdapat karinah (petunjuk) yang memalingkan agar terjadi untuk apa yang disewakan, sedangkan di sana tidak demikian. Oleh karena itu, jika di sini ia disewa untuk mutlak pembacaan Al-Qur'an dan kami menyatakannya sah, maka ia membutuhkan niat menurut pendapat yang jelas; tetapi jika tidak untuk mutlak pembacaan seperti membaca di hadapannya, maka ia tidak membutuhkan niat. Maka penyebutan kubur di sini hanyalah sebuah contoh. Selesai secara ringkas.
وبغير متضمن لاستيفاء عين ما تضمن استيفاءها فلا يصح اكتراء بستان لثمرته لأن الأعيان لا تملك بعقد الإجارة قصدا.
Dan (disyaratkan manfaat tersebut) bukan berupa pengambilan benda konkret (bukan memuat pengambilan 'ain). Maka tidak sah menyewa kebun untuk diambil buahnya, karena benda-benda konkret tidak dapat dimiliki melalui akad sewa secara maksud utama.
ونقل التاج السبكي في توشيحه اختيار والده التقي السبكي في آخر عمره صحة إجارة الأشجار لثمرها وصرحوا بصحة استئجار قناة أو بئر للانتفاع بمائها للحاجة.
Tajuddin Al-Subki dalam kitab Al-Tausyih mengutip pilihan pendapat ayahnya, Taqiyuddin Al-Subki, di akhir usianya tentang sahnya menyewakan pohon untuk diambil buahnya. Dan para ulama menegaskan sahnya menyewa saluran air atau sumur untuk dimanfaatkan airnya karena adanya kebutuhan.
قال في العباب: لا يجوز إجارة الأرض لدفن الميت لحرمة نبشه قبل بلائه وجهالة وقت البلى.
Pengarang kitab Al-Ubab berkata: Tidak boleh menyewakan tanah untuk penguburan mayat karena keharaman membongkarnya sebelum jasadnya hancur dan ketidakjelasan waktu hancurnya jasad.
ويجب على مكر تسليم مفتاح دار لمكتر ولو ضاع من المكتري وجب على المكري تجديده والمراد بالمفتاح مفتاح الغلق المثبت أما غيره فلا يجب تسليمه بل ولا قفله كسائر المنقولات.
Wajib bagi pemilik barang (mu'jir) menyerahkan kunci rumah kepada penyewa (musta'jir). Jika kunci tersebut hilang dari penyewa, maka wajib bagi pemilik barang untuk menggantinya. Yang dimaksud dengan kunci adalah kunci gembok/kunci yang terpasang tetap (pada pintu). Adapun selain itu, tidak wajib menyerahkannya, bahkan tidak wajib pula gemboknya sebagaimana barang pindahan lainnya.
وعمارتها فإن بادر وإلا فللمكتري خيار وعلى مكتر تنظيف عرصتها من كناسة وهو أمين مدة الإجارة وكذا بعدها,
Dan (wajib bagi pemilik barang) memakmurkan (memperbaiki) rumah tersebut; jika ia segera melakukannya (maka itu yang diharapkan), dan jika tidak, maka penyewa memiliki hak pilih (khiyar). Dan wajib bagi penyewa membersihkan pelatarannya dari sampah, dan ia adalah pemegang amanah selama masa sewa dan begitu pula setelahnya.
وعمارتها كبناء وتطيين سطح ووضع باب وإصلاح منكسر وليس المراد بكون ما ذكر واجبا على المكري أنه يأثم بتركه أو أنه يجبر عليه بل إنه إن تركه ثبت للمكتري الخيار كما بينته بقولي:
Dan memakmurkan rumah tersebut seperti pembangunan, mengolesi atap dengan tanah liat, memasang pintu, dan memperbaiki bagian yang rusak. Makna kewajiban hal tersebut bagi pemilik barang bukanlah berarti ia berdosa jika meninggalkannya atau dipaksa untuk melakukannya, melainkan jika ia meninggalkannya maka tetaplah hak khiyar (pilih) bagi penyewa sebagaimana yang saya jelaskan dengan perkataan saya:
فإن بادر وفعل ما عليه فذاك وإلا فللمكتري خيار إن نقصته المنفعة.
'Maka jika ia segera dan melakukan kewajibannya, maka itulah yang diharapkan; jika tidak, maka penyewa memiliki hak khiyar jika manfaatnya berkurang'.
وعلى مكتر تنظيف عرصتها أي الدار من كناسة وثلج والعرصة: كل بقعة بين الدور واسعة ليس فيها شيء من بناء وجمعها: عرصات.
Penyewa wajib membersihkan pekarangannya, yaitu rumah, dari sampah dan salju. Al-‘Arsah (pekarangan) adalah setiap tempat yang luas di antara rumah-rumah yang tidak ada bangunan di atasnya, dan bentuk jamaknya adalah 'arasat.
وهو أي المكتري أمين على العين المكتراة مدة الإجارة إن قدرت بزمن أو مدة إمكان الاستيفاء إن قدرت بمحل عمل وكذا بعدها ما لم يستعملها استصحابا لما كان ولأنه لا يلزمه الرد ولا مؤنته بل لو شرط أحدهما عليه فسد العقد وإنما الذي عليه التخلية كالوديع ورجح السبكي أنه كالأمانة الشرعية فيلزمه إعلام مالكها بها أو الرد فورا وإلا ضمن والمعتمد خلافه وإذا قلنا بالأصح أنه ليس عليه إلا التخلية فقضيته أنه لا يلزم إعلام المؤجر بتفريغ العين بل الشرط أن لا يستعملها ولا يحبسها لو طلبها وحينئذ يلزم من ذلك أنه لا فرق بين أن يقفل باب نحو الحانوت بعد تفريغه أو لا لكن قال البغوي: لو استأجر حانوتا شهرا فأغلق بابه وغاب شهرين لزمه
Dan dia, yaitu penyewa, adalah orang yang dipercaya (amin) atas barang yang disewa selama masa sewa jika dibatasi dengan waktu, atau selama masa yang memungkinkan untuk memanfaatkannya jika dibatasi dengan tempat pekerjaan. Begitu pula setelah masa sewa berakhir selama dia tidak menggunakannya, berdasarkan hukum asal (istishhab) dan karena dia tidak wajib mengembalikan barang tersebut maupun menanggung biaya pengembaliannya. Bahkan, jika salah satu dari hal itu disyaratkan atasnya, maka akadnya batal. Kewajibannya hanyalah pengosongan (takheliyah) sebagaimana penerima titipan (wadi'). As-Subki menguatkan pendapat bahwa kedudukannya seperti amanah syar'iyyah, sehingga dia wajib memberitahu pemiliknya atau mengembalikannya seketika, jika tidak maka dia bertanggung jawab (dhaman). Namun pendapat yang diandalkan (mu'tamad) menyelisahi hal itu. Dan apabila kita katakan menurut pendapat yang paling sahih bahwa kewajibannya hanyalah pengosongan, maka konsekuensinya adalah tidak wajib memberitahukan kepada pemberi sewa tentang pengosongan barang tersebut, melainkan syaratnya adalah dia tidak menggunakannya dan tidak menahannya jika diminta. Jika demikian, konsekuensinya adalah tidak ada perbedaan antara mengunci pintu semisal toko setelah mengosongkannya atau tidak. Namun Al-Baghawi berkata: "Jika seseorang menyewa toko selama sebulan lalu mengunci pintunya dan pergi selama dua bulan, maka dia wajib…"
كأجير فلا ضمان إلا بتقصير
seperti pekerja/buruh, maka tidak ada ganti rugi (dhaman) kecuali karena keteledoran (taqshir).
المسمى للشهر الأول وأجرة المثل للشهر الثاني.
membayar sewa yang ditentukan (al-musamma) untuk bulan pertama dan sewa yang sepadan (ujrah al-mitsl) untuk bulan kedua.
قال شيخنا في شرح المنهاج: وما ذكره البغوي في مسألة الغيبة متجه ولو استعمل العين بعد المدة لزمه أجرة المثل.
Guru kami berkata dalam Sharh al-Minhaj: Apa yang disebutkan oleh Al-Baghawi dalam masalah kepergian itu masuk akal (muttajah). Dan jika ia menggunakan barang tersebut setelah masa sewa habis, ia wajib membayar sewa yang sepadan (ujrah al-mitsl).
كأجير فإنه أمين ولو بعد المدة أيضا فلا ضمان على واحد منهما فلو اكترى دابة ولم ينتفع بها فتلفت أو اكتراه لخياطة ثوب أو صبغه فتلف فلا يضمن سواء انفرد الأجير باليد أم لا كأن قعد المكتري معه حتى يعمل أو أحضره منزله ليعمل.
Seperti halnya pekerja/buruh, sesungguhnya ia adalah pemegang amanah meskipun setelah habisnya masa sewa. Oleh karena itu, tidak ada ganti rugi (dhaman) atas salah satu dari keduanya. Maka jika seseorang menyewa hewan dan tidak memanfaatkannya lalu hewan itu binasa, atau menyewa pekerja untuk menjahit pakaian atau mencelup warnanya lalu pakaian itu rusak, maka ia tidak mengganti rugi, baik pekerja itu memegang barang itu sendirian maupun tidak, seperti penyewa duduk bersamanya hingga pekerjaannya selesai atau membawanya ke rumahnya untuk bekerja.
إلا بتقصير كأن ترك المكتري الانتفاع بالدابة فتلفت بسبب كانهدام سقف اصطبلها عليها في وقت لو انتفع بها فيه عادة سلمت وكأن ضربها أو أركبها أثقل منه.
Kecuali karena keteledoran (taqshir), seperti penyewa tidak menggunakan hewan tersebut lalu hewan itu binasa karena suatu sebab, seperti runtuhnya atap kandang menimpanya pada waktu yang mana jika ia memanfaatkannya secara kebiasaan tentu hewan itu akan selamat, atau seperti ia memukulnya atau menungganginya dengan beban yang lebih berat darinya.
ولا يضمن أجير لحفظ دكان مثلا إذا أخذ غيره ما فيها.
Dan pekerja yang disewa untuk menjaga toko misalnya tidak menanggung ganti rugi jika orang lain mengambil barang-barang di dalamnya.
قال الزركشي: إنه لا ضمان أيضا على الخفير.
Al-Zarkashi berkata: Bahwa tidak ada ganti rugi pula atas penjaga malam (khafir).
وكأن استأجره ليرعى دابته فأعطاها آخر يرعاها فيضمنها كل منهما والقرار على من تلفت بيده.
Dan seperti jika ia menyewanya untuk menggembalakan hewannya, lalu pekerja itu menyerahkannya kepada orang lain untuk menggembalakannya, maka masing-masing dari keduanya menanggung ganti rugi, dan ketetapan ganti rugi akhir (al-qarar) ditanggung oleh orang yang di tangannya hewan itu binasa.
وكأن أسرف خباز في الوقود أو مات المتعلم من ضرب المعلم فإنه يضمن.
Dan seperti jika seorang pembuat roti berlebihan dalam menggunakan bahan bakar, atau seorang murid meninggal akibat pukulan guru, maka ia wajib menanggung ganti rugi.
ويصدق الأجير في أنه لم يقصر ما لم يشهد خبيران بخلافه.
Dan ucapan pekerja dibenarkan (dengan sumpah) bahwa ia tidak teledor, selama tidak ada dua orang ahli yang bersaksi sebaliknya.
ولو اكترى دابة ليركبها اليوم ويرجع غدا فأقام بها ورجع في الثالث ضمنها فيه فقط لأنه استعملها فيه تعديا.
Dan jika seseorang menyewa hewan untuk ditunggangi hari ini dan kembali besok, lalu ia menetap di sana dan baru kembali pada hari ketiga, maka ia menanggung ganti rugi (dhaman) pada hari ketiga itu saja, karena ia menggunakannya pada hari tersebut secara melanggar batas (ta'addi).
ولا أجرة بلا شرط وتقررت عليه بمضي مدة
Dan tidak ada upah tanpa adanya syarat (perjanjian), dan upah menjadi tetap atasnya dengan berlalu masa…
ولو اكترى عبدا لعمل معلوم ولم يبين موضعه فذهب به من بلد العقد إلى آخر فأبق: ضمنه مع الأجرة.
Dan jika seseorang menyewa seorang budak untuk pekerjaan tertentu dan tidak menjelaskan lokasinya, lalu ia membawanya dari negeri akad ke negeri lain kemudian budak itu kabur, maka ia menanggung ganti rugi atas budak itu beserta upahnya.
فرع: يجوز لنحو القصار حبس الثوب كرهنه بأجرته حتى يستوفيها.
Cabang masalah: Boleh bagi tukang penatu (qashshar) dan sejenisnya untuk menahan pakaian seperti menahannya sebagai gadai atas upahnya sampai ia menerima pembayaran upahnya secara penuh.
ولا أجرة لعمل: كحلق رأس وخياطة ثوب وقصارته وصبغه بصبغ مالكه بلا شرط الأجرة.
Dan tidak ada upah untuk suatu pekerjaan: seperti mencukur kepala, menjahit pakaian, mencuci pakaian (penatu), dan mencelupnya dengan bahan pewarna milik pemiliknya tanpa adanya syarat (perjanjian) upah.
فلو دفع ثوبه إلى خياط ليخيط أو قصار ليقصره أو صباغ ليصبغه ففعل ولم يذكر أحدهما أجرة ولا ما يفهمها فلا أجرة له لأنه متبرع.
Maka jika seseorang menyerahkan pakaiannya kepada penjahit untuk dijahit, atau tukang penatu untuk dicuci, atau tukang celup untuk dicelup warna, lalu ia melakukannya dan salah satu dari keduanya tidak menyebutkan upah serta tidak ada ucapan yang memahamkan hal itu, maka tidak ada upah baginya karena ia dianggap berbuat sukarela.
قال في البحر: ولأنه لو قال اسكني دارك شهرا فأسكنه لا يستحق عليه أجرة إجماعا وإن عرف بذلك العمل بها لعدم التزامها.
Penulis kitab Al-Bahr berkata: Dan karena jika seseorang berkata, 'Tinggallah di rumahmu selama sebulan,' lalu ia menempatinya, maka ia tidak berhak mendapatkan upah darinya berdasarkan konsensus (ijma'), meskipun pekerjaan itu sudah umum di sana, karena ia tidak berkewajiban menanggungnya.
ولا يستثنى وجوبها على داخل حمام أو راكب سفينة مثلا بلا إذن لاستيفائه المنفعة من غير أن يصرفها صاحبها إليه بخلافه بإذنه أما إذا ذكر أجرة فيستحقها قطعا إن صح العقد وإلا فأجرة المثل.
Dan tidak dikecualikan kewajiban membayar upah bagi orang yang masuk pemandian umum (hammam) atau naik kapal, misalnya, tanpa izin, karena ia telah mengambil manfaat tanpa diberikan secara langsung oleh pemiliknya, berbeda halnya jika dengan izinnya. Adapun jika disebutkan upah, maka pemiliknya pasti berhak mendapatkannya jika akadnya sah; jika tidak sah, maka berhak atas upah standar (ujratul mitsl).
وأما إذا عرض بها كأرضيك أو لا أخيبك أو ترى ما يسرك فيجب أجرة المثل.
Adapun jika ia menyatakannya secara kiasan (sindiran), seperti 'Aku akan membuatmu ridha', atau 'Aku tidak akan mengecewakanmu', atau 'Kamu akan melihat apa yang menyenangkanmu', maka wajib membayar upah standar (ujratul mitsl).
وتقررت أي الأجرة التي سميت في العقد عليه أي المكتري بمضي مدة في الإجارة المقدرة بوقت أو مضي مدة إمكان
Dan menjadi tetap/pasti, yaitu upah yang disebutkan dalam akad, atasnya, yaitu penyewa, dengan berlalunya jangka waktu dalam sewa-menyewa yang dibatasi oleh waktu, atau berlalunya jangka waktu yang memungkinkan…
وإن لم يستوف وتنفسخ بتلف مستوفى منه معين في مستقبل,
…meskipun ia tidak mengambil manfaatnya. Dan akad sewa batal dengan rusaknya/musnahnya objek pemanfaatan yang ditentukan pada masa yang akan datang,
الاستيفاء في المقدرة بعمل وإن لم يستوف المستأجر المنفعة لان المنافع تلفت تحت يده وإن ترك لنحو مريض أو خوف طريق إذ ليس على المكري إلا التمكين من الاستيفاء وليس له بسبب ذلك فسخ ولا رد إلى تيسير العمل.
…pengambilan manfaat dalam sewa yang dibatasi dengan pekerjaan, meskipun penyewa tidak mengambil manfaat tersebut, karena manfaat tersebut telah hangus di bawah kekuasaannya, sekalipun ditinggalkan karena sakit atau rasa takut di jalan. Sebab kewajiban pemberi sewa hanyalah memberikan kesempatan untuk memanfaatkan, dan penyewa tidak berhak membatalkan akad atau menundanya hingga pekerjaan menjadi mudah karena alasan tersebut.
وتنفسخ الإجارة بتلف مستوفى منه معين في العقد كموت نحو دابة وأجير معينين وانهدام دار ولو بفعل المستأجر في زمان مستقبل لفوات محل المنفعة فيه لا في ماض بعد القبض إذا كان لمثله أجرة لاستقراره.
Dan sewa-menyewa batal dengan rusaknya objek pemanfaatan yang ditentukan dalam akad, seperti matinya hewan tunggangan dan pekerja yang ditentukan, atau runtuhnya rumah meskipun akibat perbuatan penyewa, untuk masa yang akan datang, karena hilangnya tempat pemanfaatan pada masa tersebut; bukan untuk masa lalu setelah serah terima jika masa lalu itu bernilai upah, karena upahnya telah menjadi tetap.
بالقبض فيستقر قسطه من المسمى باعتبار أجرة المثل.
Sebab dengan serah terima, bagian upah yang disebutkan dalam akad menjadi tetap berdasarkan perhitungan upah standar (ujratul mitsl).
وخرج بالمستوفى منه غيره مما يأتي وبالمعين في العقد المعين عما في الذمة فإن تلفهما: لا يوجب انفساخا يل يبدلان ويثبت الخيار على التراخي على المعتمد بعيب نحو الدابة المقارن إذا جهله والحادث لتضرره وهو ما أثر في المنفعة تأثيرا يظهر به تفاوت أجرتها.
Dan dikecualikan dari 'objek pemanfaatan' yaitu hal lainnya yang akan dijelaskan nanti, dan dengan 'ditentukan dalam akad' yaitu objek yang ditentukan dalam tanggungan (dzimmah). Maka rusaknya kedua hal tersebut tidak menyebabkan pembatalan akad, melainkan harus diganti. Dan hak pilih (khiyar) tetap berlaku secara fleksibel (ala at-tarakhi) menurut pendapat yang dapat diandalkan (al-mu'tamad) karena adanya cacat pada objek seperti hewan tunggangan yang sudah ada sejak awal jika ia tidak mengetahuinya, maupun cacat yang baru timbul karena ia dirugikan, yaitu cacat yang memengaruhi pemanfaatan secara nyata sehingga membedakan nilai upahnya.
ولا خيار في إجارة الذمة بعيب الدابة بل يلزمه الإبدال.
Dan tidak ada hak khiyar dalam akad sewa tanggungan (ijarah dzimmah) disebabkan cacat pada hewan tunggangan, melainkan pemberi sewa wajib menggantinya.
ويجوز في إجارة عين وذمة استبدال المستوفي كالراكب والساكن والمستوفى به كالمحمول والمستوفى فيه كالطريق بمثلها أو بدون مثلها ما لم يشترط عدم الإبدال في الآخرين.
Boleh dalam sewa barang tertentu (ijarah 'ain) maupun tanggungan (ijarah dzimmah) mengganti pihak yang memanfaatkan seperti penumpang dan penghuni, barang yang diangkut, dan tempat yang dilalui seperti jalan, dengan yang sepadan atau yang lebih ringan dari itu, selama tidak disyaratkan larangan mengganti pada dua hal terakhir.
فرع: لو استأجر ثوبا للبس المطلق لا يلبسه وقت النوم ليلا وإن اطردت عادتهم بذلك.
Cabang masalah: Jika seseorang menyewa pakaian untuk dipakai secara mutlak, ia tidak boleh memakainya pada saat tidur di malam hari, meskipun sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat di sana.
ولو اختلفا في أجرة أو مدة تحالفا وفسخت.
Jika kedua belah pihak berselisih mengenai besarnya upah atau jangka waktu sewa, mereka saling bersumpah (tahaluf) dan akadnya dibatalkan.
ويجوز لمستأجر الدابة مثلا منع المؤجر من حمل شيء عليها.
Dan penyewa hewan tunggangan, misalnya, boleh melarang pemberi sewa untuk memuatkan sesuatu di atas hewan tersebut.
فائدة: قال شيخنا: إن الطبيب الماهر أي بأن كان خطوه نادرا لو شرطت له أجرة وأعطي ثمن
Faedah: Guru kami berkata: Sesungguhnya dokter yang mahir —yaitu yang kesalahannya jarang terjadi— jika disyaratkan upah baginya dan diberikan biaya…
الأدوية فعالجه بها فلم يبرأ استحق المسمى إن صحت الإجارة وإلا فأجرة المثل. وليس للعليل الرجوع
…obat-obatan, lalu ia mengobatinya dengan obat tersebut namun pasien tidak sembuh, maka dokter tersebut tetap berhak atas upah yang ditentukan (al-musamma) jika sewa-menyewanya sah, jika tidak sah maka berhak atas upah standar (ujratul mitsl). Pasien yang sakit tidak berhak menuntut…
عليه بشيء لان المستأجر عليه المعالجة لا الشفاء بل إن شرط بطلت الإجارة لأنه بيد الله تعالى لا غير.
…pengembalian apa pun darinya, karena akad sewa adalah untuk pengobatan, bukan kesembuhan. Bahkan jika kesembuhan disyaratkan, maka sewa-menyewa tersebut batal, karena kesembuhan berada di tangan Allah Ta'ala semata.
أما غير الماهر فلا يستحق أجرة ويرجع عليه بثمن الأدوية لتقصيره بمباشرته بما ليس له بأهل.
Adapun dokter yang tidak mahir, maka ia tidak berhak mendapatkan upah dan dituntut untuk mengembalikan harga obat-obatan, karena kelalaiannya dalam menangani hal yang bukan keahliannya.
ولو اختلفا: أي المكري والمكتري في أجرة أو مدة أو قدر منفعة هل هي عشرة فراسخ أو خمسة؟ أو في قدر المستأجر: هل هو كل الدار أو بيت منها؟ تحالفا وفسخت أي الإجارة ووجب على المكتري أجرة المثل لما استوفاه.
Dan jika keduanya berselisih—yaitu orang yang menyewakan (mukri) dan penyewa (muktari)—mengenai besarnya uang sewa, jangka waktu, atau kadar manfaat, apakah sepuluh farsakh atau lima? Atau mengenai kadar barang yang disewa: apakah seluruh rumah atau satu kamar saja? Maka keduanya saling bersumpah (tahaluf) dan akad sewa (ijarah) tersebut difasakh (dibatalkan), serta penyewa wajib membayar ujrah al-misl (sewa wajar) atas manfaat yang telah ia terima.
فرع: لو وجد المحمول على الدابة مثلا ناقصا نقصا يؤثر وقد كاله المؤجر حط قسطه من الأجرة إن
Cabang masalah: Jika beban yang diangkut di atas hewan tunggangan—misalnya—ditemukan berkurang dengan pengurangan yang berpengaruh, padahal pemberi sewa telah menakarnya, maka dikurangi porsinya dari uang sewa jika
كانت الإجارة في الذمة وإلا لم يحط شيء من الأجرة.
akad sewanya berada dalam tanggungan (ijarah fi adz-dzimmah). Jika tidak (ijarah 'ain), maka uang sewa tidak dikurangi sedikit pun.
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
…
ولو استأجر سفينة فدخلها سمك فهل هو له أو للمؤجر؟ وجهان.
Dan jika seseorang menyewa kapal lalu ada ikan yang masuk ke dalamnya, apakah ikan itu menjadi miliknya (penyewa) atau milik pemberi sewa? Ada dua pendapat (wajhan).
تتمة: [في بيان أحكام المساقاة والمزارعة والمخابرة] : تجوز المساقاة وهي أن يعامل المالك غيره على نخل أو شجر عنب مغروس معين في العقد مرئي لهما عنده ليتعهده بالسقي والتربية على أن الثمرة الحادثة أو الموجودة لهما.
Pelengkap: [Penjelasan Hukum-hukum Musaqaah, Muzara'ah, dan Mukhabarah]: Boleh melakukan musaqaah, yaitu pemilik tanah atau pohon berakad dengan orang lain untuk mengelola pohon kurma atau pohon anggur yang telah tertanam tertentu dalam akad yang terlihat oleh keduanya saat itu, agar pengelola merawatnya dengan penyiraman dan pemeliharaan, dengan ketentuan bahwa buah yang muncul atau yang ada menjadi milik bersama bagi keduanya.
وإلا تجوز في غير نخل وعنب لا تبعا لهما وجوزها القديم في سائر الأشجار وبه قال مالك وأحمد واختاره جمع من أصحابنا ولو ساقاه على ودي غير مغروس ليغرسه ويكون الشجر أو ثمرته إذا أثمر لهما لم تجز لكن قضية كلام جمع من السلف جوازها والشجر لمالكه وعليه لذي الأرض أجرة مثلها.
Musaqaah tidak boleh dilakukan pada selain kurma dan anggur secara independen (bukan sebagai pengikut keduanya). Namun, qaul qadim (pendapat lama Imam Asy-Syafi'i) membolehkannya pada seluruh jenis pepohonan, dan inilah pendapat Malik dan Ahmad, serta dipilih oleh sekelompok ash-hab kami (ulama Syafi'iyah). Dan jika seseorang melakukan musaqaah atas tunas tanaman yang belum tertanam agar pengelola menanamnya dan pohon tersebut atau buahnya ketika berbuah menjadi milik bersama, maka hukumnya tidak boleh. Namun, konsekuensi perkataan sekelompok ulama Salaf adalah membolehkannya, di mana pohon tetap milik pemiliknya dan ia wajib membayar sewa standar (ujrah al-misl) tanah tersebut kepada pemilik tanah.
والمزارعة: هي أن يعامل المالك غيره على أرض ليزرعها بجزء معلوم مما يخرج منها والبذر من المالك فإن كان البذر من العامل فهي مخابرة وهما باطلان للنهي عنهما.
Muzara'ah adalah pemilik lahan bekerja sama dengan orang lain atas suatu lahan untuk ditanami dengan imbalan bagian tertentu yang jelas dari hasil panennya, sedangkan benih berasal dari pemilik lahan. Jika benih berasal dari pengelola (petani), maka dinamakan mukhabarah. Kedua akad ini batal karena adanya larangan terhadap keduanya.
واختار السبكي كجمع آخرين جوازهما واستدلوا بعمل عمر ﵁ وأهل المدية.
As-Subki beserta sekelompok ulama lainnya memilih kebolehan kedua akad tersebut (muzara'ah dan mukhabarah), dan mereka berdalil dengan amalan Umar radhiyallahu 'anhu serta penduduk Madinah.
وعلى المرجح فلو أفردت الأرض بالمزارعة فالمغل للمالك وعليه للعامل أجرة عمله ودوابه وآلاته وإن أفردت الأرض بالمخابرة فالمغل للعامل وعليه لمالك الأرض أجرة مثلها وطريق جعل الغلة
Menurut pendapat yang dirajihkan (diunggulkan), jika tanah dikelola secara mandiri dengan muzara'ah, maka hasil panen seluruhnya milik pemilik tanah, dan ia wajib membayar kepada pengelola sewa standar (ujrah al-misl) atas pekerjaannya, hewan ternaknya, dan alat-alatnya. Jika tanah dikelola secara mandiri dengan mukhabarah, maka hasil panen seluruhnya milik pengelola, dan ia wajib membayar kepada pemilik tanah sewa standar tanah tersebut. Dan cara menjadikan hasil panen
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
…
لهما ولا أجرة أن يكتري العامل نصف الأرض بنصف البذر ونصف عمله ونصف منافع آلاته أو بنصف البذر ويتبرع بالعمل والمنافع إن كان البذر منه فإن كان من المالك استأجره بنصف البذر ليزرع له النصف الآخر من البذر في نصف الأرض ويعيره نصفها.
menjadi milik keduanya secara sah tanpa adanya kewajiban sewa adalah: pengelola menyewa separuh tanah dengan imbalan separuh benih, separuh pekerjaannya, dan separuh manfaat alat-alatnya, atau dengan imbalan separuh benih saja sementara ia menyumbangkan pekerjaannya dan manfaat alatnya jika benih tersebut darinya. Jika benih berasal dari pemilik tanah, maka pemilik tanah menyewanya (mengupahnya) dengan separuh benih agar pengelola menanamkan separuh benih lainnya di separuh tanah milik pemilik tanah, dan pemilik tanah meminjamkan separuh tanahnya lagi kepadanya.