باب البيع

باب في الوقف

باب في الوقف

باب في الوقف

Bab Tentang Wakaf

باب في الوقف

Bab Tentang Wakaf

هو لغة: الحبس وشرعا: حبس مال يمكن الانتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته على مصرف مباح وجهة والأصل فيه: خبر مسلم: [رقم: ١٦٣١] : "إذا مات المسلم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح أي مسلم يدعو له".

Secara bahasa, wakaf berarti menahan (al-habs). Sedangkan secara syariat adalah menahan harta yang memungkinkan untuk dimanfaatkan beserta tetap utuhnya wujud barang tersebut, dengan memutuskan tindakan kepemilikan atas pokoknya (zatnya), untuk disalurkan pada kebaikan yang diperbolehkan dan suatu tujuan. Landasan hukum dasarnya adalah hadis riwayat Muslim [No. 1631]: "Apabila seorang muslim meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh—yaitu seorang muslim—yang mendoakannya."

وحمل العلماء: الصدقة الجارية على الوقف دون نحو الوصية بالمنافع المباحة ووقف عمر ﵁ أرضا أصابها بخيبر بأمره ﷺ وشرط

Para ulama mengartikan "sedekah jariyah" sebagai wakaf, bukan seperti wasiat manfaat yang diperbolehkan. Umar radhiyallahu 'anhu telah mewakafkan tanah yang diperolehnya di Khaibar atas perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau mensyaratkan

صح وقف عين مملوكة تفيد وهي باقية بوقفت وسبلت كذا على كذا,

(Sah mewakafkan benda yang dimiliki yang memberikan manfaat dan bendanya tetap utuh) dengan ucapan: "Aku mewakafkan dan memperuntukkan barang ini untuk ini/itu",

فيها شروط: منها أنه لا يباع أصلها ولا يورث ولا يوهب وأن من وليها يأكل منها بالمعروف ويطعم صديقا غير متمول رواه الشيخان [البخاري رقم: ٣٧٣٧, مسلم رقم: ١٦٣٣] وهو أول من وقف في الإسلام.

di dalamnya beberapa syarat, di antaranya: bahwa pokoknya (tanah itu) tidak boleh dijual, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dihibahkan; dan bahwa orang yang mengurusnya boleh memakan darinya secara patut (ma'ruf) serta memberi makan kepada teman tanpa menimbun harta darinya. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari No. 3737, Muslim No. 1633), dan beliau (Umar) adalah orang pertama yang mewakafkan dalam Islam.

وعن أبي يوسف أنه لما سمع خبر عمر أنه لا يباع أصلها رجع عن قول أبي حنيفة ببيع الوقف وقال لو سمعه لقال به.

Diriwayatkan dari Abu Yusuf bahwa ketika ia mendengar hadis Umar bahwa pokok wakaf tidak boleh dijual, ia ruju' (meralat pandangannya) dari pendapat Abu Hanifah tentang kebolehan menjual barang wakaf, dan Abu Yusuf berkata: "Seandainya Abu Hanifah mendengarnya, niscaya ia pun akan berpendapat demikian."

صح وقف عين معينة مملوكة ملكا يقبل النقل تفيد فائدة حالا أو مآلا كثمرة أو منفعة يستأجر لها غالبا وهي باقية لأنه شرع ليكون صدقة جارية وذلك كوقف شجر لريعه وحلى للبس ونحو مسك لشم وريحان مزروع بخلاف عود البخور لأنه لا ينتفع به إلا باستهلاكه والمطعوم لأن نفعه في إهلاكه.

Sah mewakafkan benda tertentu yang dimiliki dengan kepemilikan yang dapat dipindahtangankan, yang memberikan manfaat secara langsung maupun di masa mendatang, seperti buah atau manfaat yang umumnya dapat disewakan, sementara wujud bendanya tetap utuh, karena wakaf disyariatkan agar menjadi sedekah jariyah. Hal itu seperti mewakafkan pohon untuk diambil hasilnya, perhiasan untuk dipakai, dan sejenis minyak kasturi untuk dicium baunya, serta tanaman rehan yang tertanam; berbeda dengan kayu gaharu (dupa) karena tidak dapat dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, begitu pula makanan karena manfaatnya terletak pada mengonsumsi (menghabiskannya).

وزعم ابن الصلاح: صحة وقف الماء اختيار له.

Ibnu ash-Shalah berpendapat sahnya wakaf air sebagai bentuk pilihan pendapatnya.

ويصح وقف المغصوب وإن عجز عن تخليصه ووقف العلو دون السفل مسجدا.

Dan sah mewakafkan barang yang dirampas (al-maghshub) meskipun tidak mampu mengambilnya kembali, serta sah mewakafkan bangunan lantai atas tanpa lantai bawah sebagai masjid.

والأوجه صحة وقف المشاع وإن قل مسجدا.

Pendapat yang lebih kuat (al-awjah) adalah sahnya mewakafkan bagian kepemilikan bersama (al-musha') sebagai masjid meskipun jumlahnya sedikit.

ويحرم المكث فيه على الجنب تغليبا للمنع ويمنع إعتكاف وصلاة به من غير إذن ما لك المنفعة.

Diharamkan berdiam diri di dalamnya bagi orang yang junub dengan mengedepankan larangan (karena status masjidnya), serta dilarang beriktikaf dan shalat di dalamnya tanpa izin dari pemilik manfaat.

بوقفت وسبلت وحبست كذا على كذا أو أرضي موقوفة أو وقف عليه ولو قال تصدقت بكذا على كذا صدقة محرمة أو مؤبدة أو

(Sahnya wakaf itu terjadi) dengan lafaz: "Aku mewakafkan, memperuntukkan, dan menahan barang ini untuk ini/itu", atau "Tanahku ini diwakafkan" atau "Telah diwakafkan untuknya". Dan seandainya ia berkata: "Aku bersedekah dengan barang ini untuk ini/itu sebagai sedekah yang diharamkan (dilarang dijual/dipindahtangankan) atau diabadikan", atau

وجعلت هذا مسجدا

"dan aku menjadikan ini sebagai masjid"

صدقة لاتباع أو لا توهب أو لا تورث: فصريح في الأصح.

Lafal "Sedekah yang tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, atau tidak boleh diwariskan" adalah sharih (lafal yang jelas/tegas) menurut pendapat yang lebih shahih.

ومن الصرائح قوله: جعلت هذا المكان مسجدا فيصير به مسجدا وإن لم يقل لله ولا أتى بشيء مما مر: لان المسجد لا يكون إلا وقفا ووقفته للصلاة: صريح في الوقفية وكناية في خصوص المسجدية فلا بد من نيتها في غير الموات.

Termasuk lafal sharih adalah ucapannya: "Aku menjadikan tempat ini sebagai masjid," maka tempat itu menjadi masjid dengan ucapan tersebut meskipun ia tidak mengatakan "karena Allah" dan tidak mengucapkan sesuatu dari lafal-lafal yang telah dijelaskan sebelumnya; karena masjid tidaklah ada kecuali sebagai wakaf. Ucapan "Aku mewakafkannya untuk shalat" adalah lafal sharih dalam hal kewakafan dan lafal kinayah (sindiran/tersirat) dalam hal kekhususan status masjid, maka wajib ada niat menjadikannya masjid pada selain tanah mati (mawāt).

ونقل القمولي عن الروياني وأقره من أنه لو عمر مسجدا خرابا ولم يقف آلاته: كانت عارية له يرجع فيها متى شاء انتهى.

Al-Qamuli menukil dari Al-Ruyani dan menyetujuinya, bahwa apabila seseorang merenovasi masjid yang rusak namun tidak mewakafkan bahan-bahan/peralatannya, maka bahan-bahan tersebut berstatus pinjaman (ʿāriyah) baginya yang boleh ia ambil kembali kapan saja ia mau. Selesai.

ولا يثبت حكم المسجد من صحة الاعتكاف وحرمة المكث للجنب لما أضيف من الأرض الموقوفة حوله إذا احتيج إلى توسعته على ما أفتى به شيخنا ابن زياد وغيره.

Hukum masjid—seperti sahnya iktikaf dan keharaman berdiam diri bagi orang yang junub—tidak berlaku pada tanah wakaf yang ditambahkan di sekelilingnya apabila diperlukan perluasan masjid, berdasarkan fatwa guru kami Ibn Ziyad dan ulama lainnya.

وعلم مما مر أن الوقف لا يصح إلا بلفظ ولا يأتي فيه خلاف المعاطاة فلو بنى بناء علي هيئة مسجد وأذن في إقامة الصلاة فيه: لم يخرج بذلك عن ملكه كما إذا جعل مكانا على هيئة المقبرة وأذن في الدفن بخلاف ما لو أذن في الاعتكاف فيه فإنه يصير بذلك مسجدا.

Diketahui dari penjelasan sebelumnya bahwa wakaf tidak sah kecuali dengan lafal, dan tidak berlaku padanya perbedaan pendapat mengenai transaksi mu'athah (serah terima tanpa lafal). Maka jika seseorang membangun bangunan berbentuk masjid dan mengizinkan pelaksanaan shalat di dalamnya, bangunan itu tidak keluar dari kepemilikannya dengan tindakan tersebut, sebagaimana jika ia menjadikan suatu tempat berbentuk pemakaman dan mengizinkan pemakaman di sana. Berbeda halnya jika ia mengizinkan iktikaf di dalamnya, maka tempat itu menjadi masjid dengan izin tersebut.

قال البغوي في فتاويه لو قال لقيم المسجد اضرب اللبن من أرضي للمسجد فضربه وبنى به المسجد صار له حكم المسجد وليس له نقضه وله استرداده قبل أن يبنى به انتهى.

Al-Baghawi berkata dalam Fatawa-nya: Jika seseorang berkata kepada pengurus masjid, "Cetaklah batu bata dari tanahku untuk masjid," lalu pengurus mencetaknya dan membangun masjid dengannya, maka batu bata itu memiliki hukum masjid dan pemiliknya tidak berhak membongkarnya, namun ia berhak mengambilnya kembali sebelum digunakan untuk pembangunan. Selesai.

وألحق البلقيني بالمسجد في ذلك: البئر المحفورة للسبيل والأسنوي: المدارس والربط.

Al-Bulqini menyamakan sumur yang digali untuk umum (sabil) dengan masjid dalam hal tersebut, sedangkan Al-Isnavi menyamakan sekolah-sekolah dan ribath (pondok/asrama).

وشرط له تأبيد وتنجيز وإمكان تمليك,

Dan disyaratkan baginya keberlanjutan selamanya (ta'bid), berlaku langsung (tanjiz), dan kemungkinan kepemilikan,

وقال الشيخ أبو محمد: وكذا لو أخذ من الناس ليبنى به زاوية أو رباطا فيصير كذلك بمجرد بنائه.

Syaikh Abu Muhammad berkata: Demikian pula jika ia mengumpulkan (sumbangan) dari masyarakat untuk membangun zawiyah atau ribath, maka tempat itu menjadi wakaf hanya dengan selesainya pembangunan.

وضعفه بعضهم.

Namun sebagian ulama menganggap lemah pendapat ini.

ويصح وقف بقرة على رباط ليشرب لبنها من نزله أو ليباع نسلها لمصالحه.

Sah mewakafkan seekor sapi betina untuk ribath agar susunya dapat diminum oleh penghuninya atau agar keturunannya dapat dijual untuk kemaslahatan ribath tersebut.

وشرط له أي للوقف تأبيد فلا يصح تأقيته كوقفته على زيد سنة.

Dan disyaratkan baginya, yaitu bagi wakaf, adanya ta'bid (keabadian), maka tidak sah membatasi waktunya (ta'qit), seperti ucapan: "Aku mewakafkannya kepada Zaid selama satu tahun."

وتنجيز فلا يصح تعليقه: كوقفته على زيد إذا جاء رأس الشهر نعم: يصح تعليقه بالموت: كوقفت داري بعد موتي على الفقراء.

Dan (disyaratkan pula) tanjiz (berlaku langsung), maka tidak sah menggantungkannya (ta'liq), seperti: "Aku mewakafkannya kepada Zaid jika telah datang awal bulan." Ya, sah menggantungkannya dengan kematian, seperti: "Aku mewakafkan rumahku setelah kematianku untuk orang-orang fakir."

قال الشيخان: وكأنه وصية لقول القفال إنه عرضها للبيع كان رجوعا.

Dua Syaikh (Al-Nawawi dan Al-Rafi'i) berkata: Hal itu seakan-akan merupakan wasiat, berdasarkan perkataan Al-Qaffal bahwa jika ia menawarkan rumah itu untuk dijual, maka tindakan tersebut dianggap sebagai penarikan kembali (ruju').

وإمكان تمليك للموقوف عليه العين الموقوفة إن وقف على معين واحد أو جمع: بأن يوجد خارجا متأهلا للملك فلا يصح الوقف على معدوم: كعلى مسجد سيبني أو على ولده ولا ولد له أو على من سيولد لي ثم الفقراء لانقطاع أوله أو على فقراء أولاده ولا فقير فيهم أو على أن يطعم المساكين ريعه على رأس قبره بخلاف قبر أبيه الميت.

Dan (disyaratkan pula) kemungkinan kepemilikan barang wakaf bagi penerima wakaf (mowquf 'alaih) jika diwakafkan kepada pihak tertentu (mu'ayyan), baik individu maupun kelompok, yaitu dengan keberadaannya secara nyata dan memenuhi syarat memiliki. Maka tidak sah wakaf kepada penerima yang belum ada (ma'dum), seperti kepada masjid yang akan dibangun, kepada anaknya padahal ia belum memiliki anak, atau kepada orang yang akan lahir darinya kemudian kepada orang-orang fakir—karena terputusnya bagian awal (penerima wakaf)—atau kepada anak-anaknya yang fakir padahal tidak ada yang fakir di antara mereka, atau agar hasil (keuntungan) barang wakaf itu digunakan untuk memberi makan orang-orang miskin di atas makam dirinya sendiri, berbeda jika di atas makam ayahnya yang telah meninggal.

وأفتى ابن الصلاح بأنه لو وقف على من يقرأ على قبره بعد موته فمات ولم يعرف له قبر: بطل انتهى.

Ibn al-Salah berfatwa bahwa jika seseorang berniat mewakafkan harta bagi orang yang membaca Al-Qur'an di atas makamnya setelah ia meninggal, lalu ia meninggal dan tidak diketahui keberadaan makamnya, maka wakaf tersebut batal. Selesai.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

ويصح على المعدوم تبعا للموجود: كوقفته على ولدي ثم على ولد ولدي ولا على أحد هذين ولا على عمارة مسجد إن لم يبينه ولا على نفسه: لتعذر تمليك الإنسان ملكه أو منافع ملكه لنفسه.

Sah melakukan wakaf kepada penerima yang belum ada (ma'dum) jika mengikut kepada penerima yang sudah ada (mawjud), seperti ucapan: "Aku mewakafkannya kepada anakku, kemudian kepada cucuku." Dan tidak sah wakaf kepada salah satu dari dua orang ini (yang tidak ditentukan), tidak sah pula untuk pembangunan masjid jika ia tidak mejelaskan masjidnya, dan tidak sah mewakafkan kepada dirinya sendiri karena mustahil seseorang memiliki hak milik atau manfaat dari hak miliknya untuk dirinya sendiri.

ومنه أن يشرط١ نحو قضاء دينه مما وقفه أو انتفاعه به لا شرط نحو شربه أو مطالعته من بئر وكتاب وقفهما على نحو الفقراء كذا قاله بعض شراح المنهاج.

Termasuk di antaranya (wakaf yang tidak sah untuk diri sendiri) adalah apabila ia mensyaratkan seperti pelunasan utangnya dari barang yang ia wakafkan atau pemanfaatannya untuk dirinya. Berbeda dengan syarat seperti ia minum dari sumur atau membaca buku yang diwakafkannya untuk orang-orang fakir. Demikianlah yang dikatakan oleh sebagian syarih (pensyarah) al-Minhaj.

ولو وقف على الفقراء مثلا ثم صار فقيرا: جاز له الأخذ منه وكذا لو كان فقيرا حال الوقف.

Sekiranya ia berwakaf kepada orang-orang fakir misalnya, kemudian ia menjadi fakir, maka boleh baginya mengambil manfaat darinya. Demikian pula jika ia sudah fakir pada saat berwakaf.

ويصح شرط النظر لنفسه ولو بمقابل إن كان بقدر أجرة مثل فأقل.

Sah mensyaratkan hak pengelolaan (nazhir) untuk dirinya sendiri, meskipun dengan imbalan, jika imbalan tersebut seukuran upah standar (ujratul mitsli) atau kurang dari itu.

ومن حيل صحة الوقف على نفسه: أن يقف على أولاد أبيه ويذكر صفات نفسه فيصح كما قاله جمع متأخرون واعتمده ابن الرفعة وعمل به في حق نفسه فوقف على الأفقه من بني الرفعة وكان يتناوله.

Di antara siasat (jalan keluar) agar sah berwakaf untuk diri sendiri adalah: ia berwakaf kepada anak-anak bapaknya dengan menyebutkan sifat-sifat dirinya, maka hal itu sah sebagaimana dikatakan oleh sekelompok ulama muta'akhirin, diandalkan oleh Ibnul Rifa'ah, dan beliau mengamalkannya untuk dirinya sendiri; beliau berwakaf kepada orang yang paling paham fiqih (afqah) dari keturunan Ar-Rifa'i, dan beliaulah yang berhak menerima manfaatnya.

ويبطل الوقف في جهة معصية: كعمارة الكنائس وكوقف سلاح على قطاع طريق ووقف على عمارة قبور غير الأنبياء والعلماء والصالحين.

Batal wakaf yang ditujukan untuk kemaksiatan, seperti pemeliharaan gereja-gereja, wakaf senjata kepada penyamun, dan wakaf untuk pemeliharaan makam-makam selain para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.

فرع يقع لكثيرين أنهم يقفون أموالهم في صحتهم على ذكور أولادهم قاصدين بذلك حرمان إناثهم وقد تكرر من غير واحد إفتاء

Cabang masalah: Banyak orang berwakaf atas harta mereka di saat sehat kepada anak-anak laki-laki mereka dengan maksud menghalangi anak-anak perempuan mereka dari mendapatkan warisan. Berulang kali telah ada fatwa dari banyak ulama…

لا قبول ولو من معين ولو انقرض في منقطع آخر فمصرفه الأقرب

tidak disyaratkan penerimaan (qabul) meskipun dari pihak tertentu. Dan jika terputus pada akhir, maka penyalurannya adalah kepada kerabat terdekat…

ببطلان الوقف حينئذ.

…tentang batalnya wakaf pada kondisi tersebut.

قال شيخنا كالطنبداوي فيه نظر ظاهر بل الوجه الصحة.

Guru kami (Ibn Hajar al-Haitami) serta At-Thambadawi berkata: Pendapat tersebut mengandung kejanggalan yang jelas, bahkan pendapat yang kuat adalah sah.

لا قبول فلا يشترط ولو من معين نظرا إلى أنه قربة بل الشرط عدم الرد وما ذكرته في المعين هو المنقول عن الأكثرين واختاره في الروضة ونقله في شرح الوسيط عن نص الشافعي وقيل يشترط من المعين القبول نظرا إلى أنه تمليك وهو ما رجحه في المنهاج كأصله فإذا رد المعين: بطل حقه سواء شرطنا قبوله أم لا نعم: لو وقف على وارثه الحائز شيئا يخرج من الثلث: لزم وإن رده.

Tidak disyaratkan penerimaan (qabul), maka hal itu tidak menjadi syarat meskipun dari pihak tertentu (mu'ayyan), karena memandang bahwa wakaf adalah ibadah (qurbah). Syarat yang sebenarnya adalah tidak adanya penolakan (radd). Apa yang aku sebutkan mengenai pihak tertentu adalah yang diriwayatkan dari mayoritas ulama dan dipilih dalam al-Raudhah serta dinukil dalam Syarh al-Wasith dari nash Imam al-Syafi'i. Ada pula yang berpendapat disyaratkan penerimaan dari pihak tertentu karena memandang wakaf sebagai pemilikan (tamlik), dan inilah yang dirajihkan dalam al-Minhaj beserta kitab asalnya. Maka jika pihak tertentu menolaknya, batal haknya baik kita mensyaratkan penerimaannya atau tidak. Ya, sekiranya seseorang berwakaf kepada ahli warisnya yang menguasai seluruh harta dengan sesuatu yang keluar dari sepertiga harta, maka wakaf itu menjadi mengikat meskipun ahli waris tersebut menolaknya.

وخرج بالمعين: الجهة العامة وجهة التحرير كالمسجد فلا قبول فيه جزما: ولو وقف على اثنين معينين ثم الفقراء فمات أحدهما فنصيبه يصرف للآخر لأنه شرط في الانتقال إلى الفقراء انقراضهما جميعا ولم يوجد. ولو انقرض أي الموقوف عليه المعين في منقطع آخر كأن قال وقفت على أولادي ولم يذكر أحدا بعد أو على زيد ثم نسله ونحوهما مما لا يدوم:

Dikecualikan dari pihak tertentu (mu'ayyan) yaitu: pihak umum dan pihak pembebasan seperti masjid, maka pasti tidak disyaratkan penerimaan (qabul) di dalamnya. Sekiranya seseorang berwakaf kepada dua orang tertentu lalu kepada orang-orang fakir, kemudian salah satunya meninggal, maka bagiannya disalurkan kepada yang lain, karena perpindahan kepada orang-orang fakir disyaratkan habisnya (meninggalnya) kedua orang tersebut, sedangkan hal itu belum terjadi. Dan jika penerima wakaf tertentu itu habis (meninggal seluruhnya), yaitu pada wakaf yang terputus di akhir (munqathi'ul akhir), seperti ucapan: 'Saya mewakafkan ini kepada anak-anakku' tanpa menyebutkan seorang pun setelahnya, atau 'kepada Zaid kemudian keturunannya' dan sesamanya dari hal-hal yang tidak kekal:

فمصرفه الفقير الأقرب رحما لا إرثا.

maka penyalurannya adalah kepada kerabat fakir yang paling dekat hubungan rahimnya, bukan berdasarkan hak waris,

إلى الواقف ولو شرط شيئا

kepada pewakaf. Dan jika ia mensyaratkan sesuatu…

إلى الواقف يوم انقراضهم: كابن البنت وإن كان هناك ابن أخ مثلا لان الصدقة على الأقارب أفضل وأفضل منه الصدقة على أقربهم فأفقرهم ومن ثم يجب أن يخص به فقراءهم فإن لم يعرف أرباب الوقف أو عرف ولم يكن له أقارب فقراء بل كانوا أغنياء وهم من حرمت عليه الزكاة صرفه الإمام في مصالح المسلمين.

kepada pewakaf pada hari habisnya (meninggalnya) mereka, seperti cucu laki-laki dari anak perempuan meskipun di sana ada anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan) misalnya, karena sedekah kepada kerabat lebih utama, dan yang lebih utama darinya adalah sedekah kepada kerabat yang paling dekat lalu yang paling fakir. Oleh karena itu, wajib dikhususkan untuk orang-orang fakir dari kerabat tersebut. Jika pemilik/penerima wakaf tidak diketahui, atau diketahui namun pewakaf tidak memiliki kerabat yang fakir melainkan mereka kaya dan termasuk orang yang haram menerima zakat, maka imam (pemerintah) menyalurkannya untuk kemaslahatan umat Islam.

وقال جمع يصرف إلى الفقراء والمساكين: أي ببلد الموقوف.

Sekelompok ulama berpendapat disalurkan kepada orang-orang fakir dan miskin, yaitu di negeri tempat barang yang diwakafkan berada.

ولا يبطل الوقف على كل حال بل يكون مستمرا عليه إلا فيما لم يذكر المصرف كوقفت هذا وإن قال لله لان الوقف يقتضي تمليك المنافع فإذا لم يعين متملكا بطل وإنما صح أوصيت بثلثي وصرف للمساكين لان غالب الوصايا لهم فحمل الإطلاق عليهم وإلا في منقطع الأول: كوقفته على من يقرأ على قبري بعد موتي أو على قبر أبي وهو حي: فيبطل بخلاف وقفته الآن أو بعد موتي على من يقرأ على قبري بعد موتي فإنه وصية فإن خرج من الثلث أو أجيز وعرف قبره: صحت وإلا فلا وحيث صحت وإلا فلا وحيث صححنا الوقف أو الوصية: كفي قراءة شيء من القرآن بلا تعيين بسورة يس وإن كان غالب قصد الواقف ذلك كما أفتى به شيخنا الزمزمي وقال بعض أصحابنا: هذا إذا لم يطرد عرف في البلد بقراءة قدر معلوم أو سورة معينة وعلمه الواقف وإلا فلا بد منه: إذ عرف البلد المطرد في زمنه بمنزلة شرطه.

Dan wakaf tidak batal dalam segala keadaan, melainkan terus berlanjut padanya, kecuali dalam perkara yang tidak disebutkan pihak penyalurannya, seperti ucapan 'Saya mewakafkan ini' meskipun ia menambah 'karena Allah', sebab wakaf menuntut pemilikan manfaat; jika tidak menentukan penerima hak milik, maka batal. Namun sah ucapan 'Saya berwasiat dengan dua pertiga hartaku' dan disalurkan kepada orang-orang miskin, karena mayoritas wasiat diperuntukkan bagi mereka, sehingga ungkapan mutlak diberlakukan untuk mereka. Dan kecuali pada wakaf yang terputus di awal (munqathi'ul awwal), seperti 'Saya mewakafkannya kepada orang yang membaca Al-Qur'an di atas kuburku setelah matiku' atau 'di atas kubur ayahku' padahal ayahnya masih hidup, maka hal itu batal. Berbeda dengan ucapan 'Saya mewakafkannya sekarang atau setelah matiku kepada orang yang membaca di atas kuburku setelah matiku', maka hal itu berstatus wasiat; jika keluar dari sepertiga harta atau disetujui (oleh ahli waris) dan kuburnya diketahui, maka sah, jika tidak maka tidak sah. Dan di mana saja kita menyahkan wakaf atau wasiat tersebut, cukuplah membaca sebagian dari Al-Qur'an tanpa menentukan surah Ya Sin, meskipun secara umum itulah maksud pewakaf, sebagaimana difatwakan oleh guru kami Al-Zamzami. Sebagian ashhab kami berkata: Ini berlaku jika tidak berlaku 'urf (kebiasaan) yang konsisten di negeri tersebut dengan membaca kadar tertentu atau surah tertentu dan diketahui oleh pewakaf; jika ada, maka wajib memenuhi hal itu, karena 'urf negeri yang konsisten pada masanya berkedudukan seperti syaratnya.

ولو شرط أي الواقف شيئا يقصد كشرط أن لا يؤجر

Dan jika pewakaf mensyaratkan sesuatu yang memiliki tujuan sah, seperti syarat agar tidak disewakan…

اتبع,

…maka syarat tersebut wajib diikuti.

مطلقا أو إلا كذا: كسنة أو أن يفضل بعض الموقوف عليهم على بعض أو أنثى على ذكر أو يسوى بينهم أو اختصاص نحو مسجد كمدرسة ومقبرة بطائفة كشافعية:

Secara mutlak atau kecuali begini: seperti satu tahun, atau mengutamakan sebagian penerima wakaf atas sebagian yang lain, atau perempuan atas laki-laki, atau menyamakan di antara mereka, atau pengkhususan sesuatu seperti masjid, madrasah, dan pemakaman untuk kelompok tertentu seperti kalangan Syafi'iyyah:

اتبع شرطه في غير حالة الضرورة كسائر شروطه التي لم تخالف الشرع وذلك لما فيه من وجوه المصلحة:

Maka syaratnya harus diikuti selain dalam keadaan darurat, sebagaimana syarat-syarat lainnya yang tidak menyelisahi syariat, karena hal itu mengandung berbagai bentuk kemaslahatan:

أما ما خالف الشرع: كشرط العزوبة في سكان المدرسة أي مثلا فلا يصح كما أفتى به البلقيني.

Adapun syarat yang menyelisahi syariat: seperti syarat membujang bagi penghuni madrasah —misalnya— maka syarat tersebut tidak sah sebagaimana difatwakan oleh Al-Bulqini.

وخرج بغير حالة الضرورة ما لم١ يوجد غير المستأجر الأول وقد شرط أن لا يؤجر لإنسان أكثر من سنة أو أن الطالب لا يقيم أكثر من سنة ولم يوجد غيره في السنة الثانية: فيهمل شرطه حينئذ كما قاله ابن عبد السلام.

Dikecualikan dengan ungkapan 'selain dalam keadaan darurat' yaitu apabila tidak ditemukan penyewa selain penyewa pertama, padahal disyaratkan agar tidak menyewakan kepada seseorang lebih dari satu tahun; atau murid tidak boleh tinggal lebih dari satu tahun dan tidak ditemukan murid lain pada tahun kedua: maka syaratnya diabaikan pada saat itu, sebagaimana dikatakan oleh Ibn 'Abd al-Salam.

فائدة [في بيان أحكام الوقف المتعلقة بلفظ الواقف] : الواو العاطفة للتسوية بين المتعاطفات: كوقفت هذا على أولادي وأولاد أولادي وثم والفاء للترتيب ويدخل أولاد بنات في ذرية ونسل وعقب وأولاد أولاد إلا إن قال على من ينسب إلي منهم فلا يدخلون

Faidah [tentang penjelasan hukum-hukum wakaf yang berkaitan dengan lafal wakif]: Huruf 'wawu' 'athaf berfungsi untuk menyamakan di antara hal-hal yang dihubungkan, seperti: 'Aku mewakafkan ini untuk anak-anakku dan anak-anak dari anak-anakku'. Sedangkan huruf 'thumma' dan 'fa' berfungsi untuk urutan (tertib). Dan anak-anak dari anak perempuan masuk dalam pengertian 'dzurriyyah' (keturunan), 'nasl' (anak cucu), ''aqib' (keturunan), dan 'awlad awlad' (anak-anak dari anak-anak), kecuali jika wakif berkata: 'kepada orang yang dinisbatkan kepadaku dari mereka', maka mereka tidak termasuk

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

حينئذ والمولى يشمل معتقا وعتيقا.

pada saat itu. Dan lafal 'al-mawla' mencakup mantan tuan yang memerdekakan (mu'tiq) dan budak yang dimerdekakan ('atiq).

تنبيه حيث أجمل الواقف شرطه اتبع فيه العرف المطرد في زمنه لأنه بمنزلة شرطه ثم ما كان أقرب إلى مقاصد الواقفين كما يدل عليه كلامهم ومن ثم امتنع في السقايات المسبلة على الطرق غير الشرب ونقل الماء منها ولو للشرب وبحث بعضهم حرمة نحو بصاق وعسل وسخ في ماء مطهرة المسجد وإن كثر.

Peringatan: Sekiranya wakif membiarkan syaratnya bersifat umum (global), maka diikuti kebiasaan ('urf) yang berlaku umum pada zamannya, karena hal itu berkedudukan seperti syaratnya, kemudian diikuti apa yang paling dekat dengan maksud para wakif sebagaimana ditunjukkan oleh ungkapan mereka. Oleh karena itu, pada tempat-tempat minum yang disediakan di jalan-jalan umum dilarang selain untuk diminum dan dilarang memindahkan air darinya meskipun untuk diminum; dan sebagian ulama membahas keharaman seperti meludah, membuang dahak, serta membersihkan kotoran di air tempat bersuci masjid meskipun airnya banyak.

وسئل العلامة الطنبداوي عن الجوابي والجرار التي عند المساجد فيها الماء إذا لم يعلم أنها موقوفة للشرب أو الوضوء أو الغسل الواجب أو المسنون أو غسل النجاسة؟ فأجاب إنه إذا دلت قرينة على أن الماء موضوع لتعميم الانتفاع: جاز جميع ما ذكر من الشرب وغسل النجاسة وغسل الجنابة وغيرها.

Al-Allamah Al-Thambadawi ditanya tentang kolam-kolam dan tempayan-tempayan di dekat masjid yang berisi air, apabila tidak diketahui apakah itu diwakafkan untuk minum, wudu, mandi wajib, mandi sunnah, atau membasuh najis? Beliau menjawab bahwa jika terdapat petunjuk (qarinah) yang menunjukkan bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan secara umum, maka boleh melakukan semua yang disebutkan, baik minum, membasuh najis, mandi jinabah, maupun yang lainnya.

ومثال القرينة: جريان الناس على تعميم لانتفاع من غير نكير من فقيه وغيره إذا الظاهر من عدم النكير: أنهم أقدموا على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب ووضوء وغسل نجاسة فمثل هذا إيقاع يقال بالجواز١.

Contoh qarinah tersebut: berlakunya kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan air secara umum tanpa ada sanggahan dari ahli fikih maupun lainnya, karena yang tampak dari ketiadaan sanggahan tersebut adalah bahwa mereka memang memanfaatkan air secara umum untuk mandi, minum, wudu, dan membasuh najis, maka kejadian seperti ini dikatakan boleh.

وقال إن فتوى العلامة عبد الله بامخرمة يوافق ما ذكره انتهى.

Beliau berkata bahwa fatwa Al-Allamah 'Abdullah Bamakhramah sesuai dengan apa yang beliau sebutkan. Selesai.

قال القفال وتبعوه: ويجوز شرط رهن من مستعير كتاب وقف يأخذه

Al-Qaffal berkata —dan diikuti oleh ulama lainnya—: Boleh mensyaratkan jaminan (rahn) dari peminjam kitab wakaf yang diambil

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

الناظر منه ليحمله على رده.

oleh nazir darinya demi mendorongnya untuk mengembalikannya.

وألحق به شرط ضامن.

Dan disamakan dengannya syarat adanya penjamin (dhamin).

وأفتى بعضهم في الوقف على النبي ص أو النذر له بأنه يصرف لمصالح حجرته الشريفة فقط أو على أهل بلد أعطي مقيم بها أو غائب عنها لحاجة غيبة لا تقطع نسبته إليها عرفا.

Sebagian ulama memfatwakan mengenai wakaf untuk Nabi SAW atau nazar untuk beliau bahwa hal itu disalurkan untuk kemaslahatan kamar (kubah) beliau yang mulia saja; atau wakaf untuk penduduk suatu negeri disalurkan kepada orang yang bermukim di sana atau orang yang tidak berada di sana karena suatu keperluan berupa kepergian yang secara 'urf tidak memutuskan nisbat dirinya ke negeri tersebut.

فروع قال التاج الفزاري والبرهان المراغي وغيرهما: من شرط قراءة جزء من القرآن كل يوم كفاه قدر جزء ولو مفرقا ونظرا وفي المفرق نظر.

Cabang-cabang masalah: Al-Taj Al-Fazari, Al-Burhan Al-Maraghi, dan lainnya berkata: Barang siapa yang disyaratkan membaca satu juz Al-Qur'an setiap hari, maka cukup baginya seukuran satu juz meskipun dibaca terpisah-pisah dan dengan melihat mushaf, namun mengenai pembacaan yang terpisah-pisah terdapat pandangan tersendiri.

ولو قال ليتصدق بغلته في رمضان أو عاشوراء ففات: تصدق بعده ولا ينتظر مثله نعم: إن قال فطرا لصوامه انتظره.

Seandainya seseorang berkata, "Hendaknya ia bersedekah dengan hasil usahanya (ghallah) pada bulan Ramadan atau hari 'Asyura," lalu waktu tersebut terlewat, maka ia bersedekah setelahnya dan tidak perlu menunggu waktu yang sama (di tahun berikutnya). Ya, jika ia berkata, "(Sebagai makanan) berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa di bulan itu," maka ia harus menunggunya.

وأفتى غير واحد بأنه لو قال على من يقرأ على قبر أبي كل جمعة يس بأنه إن حد القراء بمدة معينة أو عين لكل سنة غلة: اتبع وإلا بطل.

Beberapa ulama memberi fatwa bahwa seandainya seseorang berkata, "(Diwajibkan) atas siapa saja yang membaca Surah Yasin di atas kubur ayahku setiap hari Jumat," jika ia membatasi pembaca tersebut dengan jangka waktu tertentu atau menentukan hasil usaha (ghallah) untuk setiap tahunnya, maka hal itu diikuti. Jika tidak, maka (wakaf/wasiat) tersebut batal.

نظير ما قالوه من بطلان الوصية لزيد كل شهر بدينار إلا في دينار واحد انتهى.

Hal ini serupa dengan apa yang mereka katakan mengenai batalnya wasiat kepada Zaid berupa satu dinar setiap bulan, kecuali untuk satu dinar saja. Selesai.

وإنما يتجه إلحاق الوقف بالوصية: إن علق بالموت لأنه حينئذ وصية وأما الوقف الذي ليس كالوصية: فالذي يتجه صحته إذ لا يترتب عليه محذور بوجه لأن الناظر إذا قرر من يقرأ كذلك: استحق

Penyamaan wakaf dengan wasiat ini hanya berlaku jika dikaitkan dengan kematian, karena pada saat itu ia berstatus sebagai wasiat. Adapun wakaf yang tidak seperti wasiat, maka pendapat yang tepat adalah sahnya, sebab tidak menimbulkan dampak terlarang sama sekali. Hal ini karena jika nazir menetapkan seseorang untuk membaca (Al-Qur'an) seperti itu, maka orang tersebut berhak mendapatkan…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ما شرط ما دام يقرأه فإذا مات مثلا: قرر الناظر غيره وهكذا.

…apa yang disyaratkan selama ia membacanya. Jika ia meninggal dunia, misalnya, maka nazir menetapkan orang lain, dan demikian seterusnya.

ولو قال الواقف وقفت هذا على فلان ليعمل كذا: قال ابن الصلاح: احتمل أن يكون شرطا للاستحقاق وأن يكون توصية له لأجل وقفه فإن علم مراده: اتبع وإن شك: لم يمنع الاستحقاق وإنما يتجه فيما لا يقصد عرفا صرف الغلة في مقابلته وإلا كلتقرأ أو تتعلم كذا: فهو شرط للاستحقاق فيما استظهره شيخنا. ولوقف وأوصى للضيف: صرف للوارد على ما يقتضيه العرف ولا يزاد على ثلاثة أيام مطلقا ولا يدفع له حب إلا إن شرطه الواقف وهل يشترط فيه الفقر؟ قال شيخنا: الظاهر لا.

Seandainya wakif berkata, "Saya mewakafkan ini untuk Fulan agar ia melakukan ini dan itu," Ibnu ash-Salah berkata: Ada kemungkinan hal itu merupakan syarat untuk berhak menerima (hasil wakaf), dan ada kemungkinan itu berupa anjuran (tawshiyah) baginya karena wakaf tersebut. Jika maksudnya diketahui, maka itu diikuti; namun jika diragukan, tidak menghalangi hak penerimaannya. Hal ini hanya berlaku pada perkara yang secara urf (tradisi) tidak dimaksudkan untuk mengalirkan hasil usaha sebagai imbalannya. Jika sebaliknya, seperti "agar kamu membaca" atau "agar kamu mempelajari hal ini", maka itu merupakan syarat untuk berhak menerima menurut pendapat yang dikuatkan oleh guru kami. Jika seseorang mewakafkan atau berwasiat untuk tamu, maka disalurkan kepada orang yang datang berkunjung sesuai dengan tuntutan urf, dan tidak ditambahkan lebih dari tiga hari secara mutlak. Tidak diberikan biji-bijian kepadanya kecuali jika disyaratkan oleh wakif. Apakah dipersyaratkan fakir bagi tamu tersebut? Guru kami berkata: Yang tampak (zhahir) adalah tidak dipersyaratkan.

وسئل شيخنا الزمزمي عمال وقف ليصرف غلته للإطعام عن رسول الله ص: فهل يجوز للناظر أن يطعمها من نزل به من الضيفان في غير شهر المولد بذلك القصد أو لا؟ وهل يجوز للقاضي أن يأكل من ذلك إذا لم يكن له رزق من بيت المال ولا من مياسير المسلمين؟ فأجاب بأنه يجوز للناظر أن يصرف الغلة المذكورة في إطعام من ذكر ويجوز للقاضي الأكل منها أيضا لأنها صدقة والقاضي إذا لم يعرفه المتصدق ولم يكن القاضي عارفا به قال السبكي لا شك في جواز الأخذ له وبقوله أقول: لانتفاء المعنى المانع وإلا يحتمل أن يكون كالهدية ويحتمل الفرق بأن المتصدق إنما قصد ثواب الآخرة انتهى.

Guru kami, Al-Zamzami, ditanya mengenai barang wakaf yang hasil usahanya disalurkan untuk memberi makan atas nama Rasulullah SAW: Apakah boleh bagi nazir untuk memberi makan tamu-tamu yang datang kepadanya di luar bulan Maulid dengan niat tersebut atau tidak? Dan apakah boleh bagi seorang hakim (qadi) untuk makan darinya jika ia tidak memiliki tunjangan dari Baitul Mal maupun dari orang-orang kaya di kalangan kaum muslimin? Beliau menjawab bahwa Nazir boleh menyalurkan hasil usaha tersebut untuk memberi makan orang-orang yang disebutkan tadi, dan hakim juga boleh makan darinya karena hal itu adalah sedekah. Apabila pemberi sedekah tidak mengenal hakim tersebut dan hakim pun tidak mengenalnya, Al-Subki berkata: Tidak ada keraguan tentang kebolehan ia mengambilnya, dan saya pun berpendapat sesuai perkataannya, karena tidak adanya alasan yang melarang. Jika tidak demikian, ada kemungkinan ia berstatus seperti hadiah, dan ada kemungkinan ada perbedaan bahwa pemberi sedekah hanya menghendaki pahala akhirat. Selesai.

وقال ابن عبد السلام: ولا يستحق ذو وظيفة كقراءة أخل بها في

Ibnu 'Abd al-Salam berkata: Pemegang suatu tugas/jabatan (seperti pembacaan Al-Qur'an) tidak berhak menerima tunjangan jika ia melalaikannya pada…

ولموقوف عليه ريع,

[Matn] Dan bagi penerima wakaf (mauquf 'alaih) berhak atas hasil (ri'y/ghallah),

بعض الأيام.

…sebagian hari.

وقال النووي: وإن أخل استناب لعذر كمرض أو حبس بقي استحقاقه وإلا لم يستحق لمدة الاستنابة.

An-Nawawi berkata: Jika ia melalaikannya lalu ia menunjuk pengganti karena uzur seperti sakit atau dipenjara, maka haknya tetap ada. Jika tidak ada uzur, ia tidak berhak menerima tunjangan untuk masa penggantian tersebut.

فأفهم

Hal ini memberi pemahaman…

بقاء أثر استحقاقه لغير مدة الإخلال وهو ما اعتمده السبكي كابن الصلاح في كل وظيفة تقبل الإنابة: كالتدريس والإمامة.

…tetap berlakunya haknya untuk selain masa kelalaian, dan inilah pendapat yang dipegang oleh Al-Subki sebagaimana Ibnu ash-Salah dalam setiap tugas yang menerima penggantian (inabah), seperti mengajar dan menjadi imam.

ولموقوف عليه عين مطلقا أو لاستغلال ريعها لغير نفع خاص منها ريع وهو فوائد الموقوف جميعها: كأجرة ودر وولد حادث بعد الوقف وثمر وغصن يعتاد قطعه أو شرط ولم يؤد قطعه لموت أصله فيتصرف في فوائده تصرف الملاك بنفسه وبغيره ما لم يخالف شرط الواقف لان ذلك هو المقصود من الوقف وأما الحمل المقارن: فوقف تبعا لأمة أما إذا وقفت عليه عين لنفع خاص كدابة للركوب ففوائدها من در ونحوه للواقف.

Dan bagi penerima wakaf barang ('ain) secara mutlak atau untuk dimanfaatkan hasilnya bukan untuk pemanfaatan khusus darinya, berhak atas hasil (ri'y), yaitu seluruh manfaat barang yang diwakafkan: seperti uang sewa, susu, anak yang lahir setelah wakaf, buah, dan dahan yang biasa dipotong atau disyaratkan dan pemotongannya tidak menyebabkan matinya pohon induk. Maka ia boleh bertindak terhadap hasil-hasil tersebut sebagaimana tindakan para pemilik, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, selama tidak menyelisahi syarat dari wakif, karena itulah tujuan utama dari wakaf. Adapun janin yang ada saat pemakafan, maka ia menjadi wakaf mengikuti induknya. Namun jika suatu barang diwakafkan kepadanya untuk pemanfaatan khusus, seperti hewan tunggangan untuk dikendarai, maka hasil-hasilnya seperti susu dan sejenisnya adalah milik wakif.

ولا يجوز وطئ أمة موقوفة ولو من واقف أو موقوف عليه لعدم ملكها بل يحدان ويزوجها قاض بإذن الموقوف عليه لا له ولا للواقف.

Dan tidak boleh menggauli budak wanita yang diwakafkan, meskipun oleh wakif atau penerima wakaf, karena tidak adanya kepemilikan atasnya, bahkan keduanya dikenakan hukuman had (jika melakukannya). Hakim dapat menikahkannya atas izin penerima wakaf, tidak untuk penerima wakaf itu sendiri dan tidak pula untuk wakif.

واعلم أن الملك في رقبة الموقوف على معين أو جهة ينتقل إلى الله تعالى: أي ينفك عن اختصاص الآدميين.

Ketahuilah bahwa kepemilikan atas zat barang yang diwakafkan (raqabah), baik kepada perorangan tertentu maupun suatu pihak, berpindah kepada Allah Ta'ala, artinya terlepas dari kekhususan kepemilikan manusia.

فلو شغل المسجد بأمتعة وجبت الأجرة له فتصرف لمصالحه على الأوجه.

Maka jika masjid ditempati/dipenuhi barang-barang, wajib dibayar sewa untuk masjid tersebut, lalu uang sewa itu disalurkan untuk kemaslahatan-kemaslahatan masjid menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah).

ولا يباع موقوف وإن خرب,

Dan tidak boleh dijual barang yang diwakafkan meskipun telah rusak,

فائدة ومن سبق إلى محل من مسجد لإقراء قرآن أو حديث أو علم شرعي أو آلة له أو لتعلم ما ذكر أو كسماع درس بين يدي مدرس وفارقه ليعود إليه ولم تطل مفارقته بحيث انقطع عنه الألفة١: فحقه باق لان له غرضا في ملازمة ذلك الموضع ليألفه الناس وقيل يبطل حقه بقيامه وأطالوا في ترجيحه نقلا ومعنى أو للصلاة

Faedah: Barang siapa lebih dahulu menempati suatu tempat di masjid untuk membacakan/mengajarkan Al-Qur'an, hadis, ilmu syariat, ilmu alatnya, atau untuk mempelajari hal-hal tersebut, atau seperti mendengarkan pelajaran di hadapan seorang guru, lalu ia meninggalkannya dengan niat untuk kembali lagi ke tempat itu, dan kepergiannya tidak terlalu lama hingga memutus kebiasaannya dengannya, maka haknya tetap ada atas tempat tersebut. Sebab, ia memiliki tujuan untuk terus menempati tempat tersebut agar orang-orang terbiasa dengannya. Dan ada yang berpendapat bahwa haknya batal dengan berdirinya ia meninggalkan tempat tersebut, dan para ulama memperpanjang pembahasan dalam menguatkan pendapat ini baik secara riwayat maupun makna; atau (ia menempati tempat itu) untuk salat,

ولو قبل دخول وقتها أو قراءة أو ذكر وفارقه بعذر: كقضاء حاجة وإجابة داع فحقه باق ولو صبيا في الصف الأول في تلك الصلاة وإن لم يترك رداءه فيه فيحرم على غير العالم الجلوس فيه بغير إذنه أو ظن رضاه نعم: إن أقيمت الصلاة في غيبته واتصلت الصفوف: فالوجه سد الصف مكانه لحاجة إتمام الصفوف.

meskipun sebelum masuk waktunya, atau untuk membaca Al-Qur'an, atau berzikir, lalu ia meninggalkannya karena uzur seperti buang hajat atau menyambut panggilan seseorang, maka haknya tetap ada, meskipun ia seorang anak kecil di shaf pertama pada salat tersebut, dan walaupun ia tidak meninggalkan selendang/pakaiannya di tempat itu. Maka haram bagi orang lain yang mengetahui hal tersebut untuk duduk di tempatnya tanpa izinnya atau tanpa adanya perkiraan ia ridha. Ya, jika salat telah didirikan saat ia belum kembali dan shaf-shaf telah tersambung, maka pendapat yang kuat adalah mengisi shaf di tempatnya demi kebutuhan menyempurnakan shaf.

ذكره الأذرعي وغيره.

Hal ini disebutkan oleh Al-Adzra'i dan selainnya.

فلو كان له سجادة فيه فينحيها برجله من غير أن يرفعها بها عن الأرض لئلا تدخل في ضمانه.

Maka jika di tempat itu terdapat sejadahnya, ia boleh menggesernya dengan kakinya tanpa mengangkatnya dari tanah agar sejadah tersebut tidak masuk ke dalam tanggung jawab (dhaman) dirinya.

أما جلوسه لاعتكاف فإن لم ينو مدة بطل حقه بخروجه ولو لحاجة وإلا لم يبطل حقه بخروجه أثناءها لحاجة.

Adapun duduknya untuk itikaf, jika ia tidak berniat menentukan durasi waktunya, maka haknya batal dengan keluarnya ia dari masjid meskipun untuk suatu kebutuhan. Jika ia menentukan durasinya, maka haknya tidak batal dengan keluarnya ia di tengah-tengah masa itikaf karena suatu kebutuhan.

وأفتى القفال بمنع تعليم الصبيان في المساجد.

Al-Qaffal berfatwa melarang pengajaran anak-anak kecil di dalam masjid.

ولا يباع موقوف وإن خرب فلو انهدم مسجد وتعذرت إعادته:

Dan tidak boleh dijual barang yang diwakafkan meskipun telah rusak. Maka apabila sebuah masjid roboh dan tidak memungkinkan untuk dibangun kembali:

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

لم يبع ولا يعود ملكا بحال لإمكان الصلاة والاعتكاف في أرضه.

(Masjid tersebut) tidak boleh dijual dan tidak kembali menjadi hak milik pewakaf dalam keadaan apa pun, karena masih dimungkinkannya salat dan itikaf di atas tanahnya.

أو جف الشجر الموقوف أو قلعه ريح لم يبطل الوقف فلا يباع ولا يوهب بل ينتفع الموقوف عليه ولو بجعله أبوابا إن باب في الوقف لم يمكنه إجارته خشبا بحاله فإن تعذر الانتفاع به إلا باستهلاكه: كأن صار لا ينتفع به إلا بالإحراق: انقطع الوقف أي ويملكه الموقوف عليه حينئذ على المعتمد فينتفع بعينه ولا يبيعه.

Atau jika pohon yang diwakafkan menjadi kering atau tumbang ditiup angin, maka wakafnya tidak batal; sehingga tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan, melainkan pihak penerima wakaf (mauquf 'alaih) tetap memanfaatkannya, meskipun dengan menjadikannya pintu-pintu jika ada bagian wakaf yang membutuhkan pintu, atau jika ia tidak bisa menyewakannya sebagai kayu sebagaimana kondisinya. Namun jika sudah tidak memungkinkan lagi mengambil manfaat darinya kecuali dengan mengonsumsinya (menghancurkannya)—seperti tidak bisa dimanfaatkan lagi kecuali dengan membakarnya—maka terputuslah status wakafnya, artinya penerima wakaf menjadi pemiliknya pada saat itu menurut pendapat yang mu'tamad, sehingga ia boleh memanfaatkan fisiknya dan tidak boleh menjualnya.

ويجوز بيع حصر المسجد الموقوفة عليه إذا بليت بأن ذهب جمالها ونفعها وكانت المصلحة في بيعها وكذا جذوعه المنكسرة خلافا لجمع فيهما ويصرف ثمنها لمصالح المسجد إن لم يمكن شراء حصير أو جذع به.

Dan boleh menjual tikar-tikar masjid yang diwakafkan kepadanya apabila telah usang, yaitu dengan hilangnya keindahan dan kemanfaatannya serta terdapat kemaslahatan dalam menjualnya; demikian pula batang-batang kayu (tiang/atapnya) yang patah, berbeda dengan pendapat sekelompok ulama dalam dua masalah ini. Dan hasil penjualannya disalurkan untuk kemaslahatan-kemaslahatan masjid jika tidak memungkinkan untuk membeli tikar atau batang kayu baru dengannya.

والخلاف في الموقوفة ولو بأن اشتراها الناظر ووقفها بخلاف الموهوبة والمشتراة للمسجد فتباع جزما لمجرد الحاجة: أي المصلحة وإن لم تبل.

Dan perbedaan pendapat di atas berlaku pada barang yang diwakafkan, meskipun berupa barang yang dibeli oleh nazhir lalu diwakafkannya. Berbeda dengan barang yang dihibahkan dan yang dibeli untuk masjid, maka barang tersebut boleh dijual secara pasti hanya karena adanya kebutuhan—yaitu kemaslahatan—meskipun belum usang.

وكذا نحو القناديل.

Demikian pula sejenis lampu-lampu penerangan.

ولا يجوز استعمال حصر المسجد ولا فراشه في غير فرشه مطلقا سواء كانت لحاجة أم لا كما أفتى به شيخنا.

Dan tidak boleh menggunakan tikar masjid maupun karpetnya untuk selain alas (penghamparannya) secara mutlak, baik karena ada kebutuhan maupun tidak, sebagaimana difatwakan oleh guru kami.

ولو اشترى الناظر أخشابا للمسجد أو وهبت له وقبلها الناظر: جاز بيعها لمصلحة كأن خاف عليها نحو سرقة لا إن كانت موقوفة من أجزاء المسجد بل تحفظ له وجوبا ذكره الكمال الرداد في فتاويه.

Dan apabila nazhir membeli kayu-kayu untuk masjid atau kayu-kayu itu dihibahkan kepadanya lalu diterima oleh nazhir, maka boleh menjualnya demi kemaslahatan, seperti jika ia mengkhawatirkan kayu tersebut dari pencurian dan sejenisnya. Tidak demikian halnya jika kayu tersebut diwakafkan sebagai bagian dari struktur masjid, melainkan wajib disimpan/dijaga untuk masjid tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Al-Kamal Ar-Raddad dalam fatwa-fatwanya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

ولا ينقض المسجد إلا إذا خيف على نقضه فينقض يحفظ أو يعمر به مسجد آخر إن رآه الحاكم.

Dan masjid tidak boleh dirobohkan kecuali jika dikhawatirkan perubuhannya (kerusakannya), maka dirobohkan untuk disimpan atau digunakan memakmurkan (membangun) masjid lain jika hakim memandangnya demikian.

والأقرب إليه أولى ولا يعمر به غير جنسه كرباط وبئر كالعكس إلا إذا تعذر جنسه والذي يتجه ترجيحه في ريع وقف المنهدم أنه إن توقع عوده: حفظ له وإلا صرف لمسجد آخر فإن تعذر: صرف للفقراء كما يصرف النقض لنحو رباط.

Masjid yang paling dekat dengannya lebih utama. Dan tidak boleh dibangun dengannya bangunan yang bukan sejenis darinya seperti ribat (pondok/peristirahatan) dan sumur, begitu pula sebaliknya, kecuali jika jenisnya tidak memungkinkan. Pandangan yang kuat dalam hal hasil (pendapatan) wakaf masjid yang roboh adalah bahwa jika diharapkan (bisa) kembali berdiri: maka disimpan untuknya; jika tidak, maka disalurkan ke masjid lain; dan jika tidak memungkinkan, maka disalurkan kepada orang-orang fakir sebagaimana reruntuhan disalurkan ke sejenis ribat.

وسئل شيخنا عما إذا عمر مسجد١ بآلات جدد وبقيت آلاته القديمة: فهل يجوز عمارة مسجد آخر قديم بها أو تباع ويحفظ ثمنها فأجاب بأنه يجوز عمارة مسجد قديم وحادث بها حيث قطع بعدم احتياج ما هي منه إليها قبل فنائها ولا يجوز بيعه بوجه من الوجوه انتهى.

Syaikh kami ditanya tentang suatu masjid yang dibangun dengan bahan-bahan baru sementara bahan-bahan lamanya masih ada: apakah boleh membangun masjid lama lain dengannya ataukah dijual dan harganya disimpan? Beliau menjawab bahwa boleh membangun masjid lama atau yang baru dibangun dengannya selama dipastikan bahwa masjid asalnya tidak lagi membutuhkannya sebelum bahan itu rusak, dan tidak boleh menjualnya dengan cara apa pun. Selesai.

ونقل نحو حصير المسجد وقناديله كنقل آلته.

Memindahkan sejenis tikar masjid dan lampu-lampunya hukumnya seperti memindahkan bahan atau peralatan bangunannya.

ويصرف ريع الموقوف على المسجد مطلقا أو على عمارته في البناء ولو لمنارته وفي التجصيص المحكم والسلم وفي أجرة القيم لا المؤذن والإمام والحصر والدهن إلا إن كان الوقف لمصالحه فيصرف في ذلك لا في التزويق والنقش.

Hasil wakaf untuk masjid secara mutlak atau untuk pembangunannya disalurkan untuk bangunan masjid, meskipun untuk menaranya, serta untuk pengapuran yang kuat, tangga, dan upah pengurus (marbot), bukan untuk muazin, imam, tikar, dan minyak (lampu); kecuali jika wakaf tersebut diperuntukkan bagi kemaslahatan masjid (masalih), maka disalurkan untuk hal-hal itu, namun tidak untuk penghiasan dan ukir-ukiran.

وما ذكرته من أنه لا يصرف للمؤذن والإمام في الوقف المطلق هو مقتضى ما نقله النووي في الروضة عن البغوي لكنه نقل بعده عن فتاوى الغزالي أنه يصرف لهما وهو الأوجه كما في الوقف على مصالحه.

Apa yang saya sebutkan bahwa tidak disalurkan kepada muazin dan imam pada wakaf mutlak adalah konsekuensi dari apa yang dikutip oleh An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dari Al-Baghawi. Namun, setelah itu beliau mengutip dari Fatawa Al-Ghazali bahwa hal itu disalurkan kepada keduanya, dan ini adalah pandangan yang lebih kuat sebagaimana pada wakaf untuk kemaslahatan masjid.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ولو وقف على دهن لإسراج المسجد به أسرج كل الليل إن لم يكن مغلقا مهجورا.

Dan jika diwakafkan minyak untuk penerangan masjid dengannya, maka dinyalakan sepanjang malam jika masjid tersebut tidak terkunci lagi ditinggalkan (kosong).

وأفتى ابن عبد السلام بجواز إيقاد اليسير من المصابيح فيه ليلا احتراما مع خلوه من الناس واعتمده جمع.

Ibn 'Abdissalam berfatwa tentang bolehnya menyalakan sedikit lampu di dalamnya pada malam hari demi mengagungkan masjid meskipun kosong dari manusia, dan hal ini dipegang oleh sekelompok ulama.

وجزم في الروضة بحرمة إسراج الخالي.

Dan ditegaskan dalam Ar-Raudhah tentang keharaman memberi penerangan pada masjid yang kosong.

قال في المجموع: يحرم أخذ شيء من زيته وشمعه كحصاه وترابه.

Beliau berkata dalam Al-Majmu': Haram mengambil sesuatu dari minyak dan lilinnya sebagaimana batu kerikil dan tanahnya.

فرع ثمر الشجر النابت بالمقبرة المباحة مباح وصرفه لمصالحها أولى وثمر المغروس في المسجد ملكه إن غرس له فيصرف لمصالحه وإن غرس ليؤكل أو جهل الحال فمباح.

Cabang masalah: Buah dari pohon yang tumbuh di pemakaman umum adalah mubah, dan menyalurkannya untuk kemaslahatan pemakaman tersebut lebih utama. Sedangkan buah dari pohon yang ditanam di masjid menjadi milik masjid jika ditanam untuk masjid, sehingga disalurkan untuk kemaslahatannya; dan jika ditanam untuk dimakan atau tidak diketahui keadaannya, maka hukumnya mubah.

وفي الأنوار: ليس للإمام إذا اندرست مقبرة ولم يبق بها أثر: إجارتها للزراعة أي مثلا وصرف غلتها للمصالح وحمل على الموقوفة: فالمملوكة لمالكها إن عرف وإلا فمال ضائع: أي إن أيس من معرفته يعمل فيه الإمام بالمصلحة وكذا المجهولة.

Dalam kitab Al-Anwar: Seorang imam (penguasa) tidak berhak—apabila pemakaman telah tua/rusak dan tidak tersisa bekas dengannya—untuk menyewakannya untuk pertanian (sebagai contoh) dan menyalurkan hasilnya untuk kemaslahatan; dan ini dibawakan pada pemakaman wakaf. Sedangkan pemakaman milik pribadi adalah milik pemiliknya jika diketahui; jika tidak, maka menjadi harta yang telantar, artinya jika telah putus asa untuk mengetahui pemiliknya, maka imam bertindak berdasarkan kemaslahatan, demikian pula yang tidak diketahui statusnya.

وسئل العلامة الطنبداوي في شجرة نبتت بمقبرة مسبلة ولم يكن لها ثمر ينتفع به إلا أن بها أخشابا كثيرة

Al-Allamah At-Tunbudawi ditanya tentang pohon yang tumbuh di pemakaman umum yang tidak memiliki buah yang dimanfaatkan, hanya saja memiliki kayu yang banyak

تصلح للبناء ولم يكن لها ناظر خاص فهل للناظر العام أي القاضي بيعها وقطعها وصرف قيمتها إلى مصالح المسلمين فأجاب نعم: للقاضي في المقبرة العامة

yang layak untuk bangunan, dan tidak memiliki nazir (pengelola) khusus, apakah nazir umum yaitu qadhi (hakim) boleh menjualnya, menebangnya, dan menyalurkan nilainya (harganya) untuk kemaslahatan kaum muslimin? Maka beliau menjawab: Ya, hakim berhak pada pemakaman umum

ولو شرط واقف نظرا له أو لغيره اتبع وإلا فهو لقاض.

Jika wakif mensyaratkan hak pengelolaan untuk dirinya atau untuk orang lain, maka harus diikuti; jika tidak, maka hak pengelolaannya ada pada qadhi (hakim).

المسبلة بيعها وصرف ثمنها في مصالح المسلمين كثمر الشجرة التي لها ثمر فإن صرفها في مصالح المقبرة أولى.

yang umum untuk menjualnya dan menyalurkan harganya ke dalam kemaslahatan kaum muslimin seperti buah pohon yang berbuah. Namun menyalurkannya untuk kemaslahatan pemakaman tersebut lebih utama.

هذا عند سقوطها بنحو ريح وأما قطعها مع سلامتها فيظهر إبقاوها للرفق بالزائر والمشيع.

Ini adalah jika pohon tersebut tumbang disebabkan angin atau sejenisnya. Adapun menebangnya dalam keadaan selamat (sehat), maka yang tampak adalah membiarkannya tetap ada demi memberi kemudahan bagi peziarah dan pengantar jenazah.

ولو شرط واقف نظرا له أي لنفسه.

Dan jikalau orang yang berwakaf (wakif) mensyaratkan pengawasan (nazhir) untuk dirinya sendiri,

أو لغيره اتبع كسائر شروطه وقبول من شرط له النظر: كقبول الوكيل على الأوجه وليس له عزل من شرط نظره حال الوقف ولو لمصلحة وإلا يشرط لأحد فهو لقاض أي قاضي بلد الموقوف بالنسبة لحفظه وإجارته وقاضي بلد الموقوف عليه بالنسبة لما عدا ذلك على المذهب: لأنه صاحب النظر العام فكان أولى من غيره ولو واقفا أو موقوفا عليه.

atau untuk orang lain, maka syarat itu wajib diikuti sebagaimana syarat-syaratnya yang lain. Dan penerimaan (qabul) dari orang yang disyaratkan menjadi nazhir adalah seperti penerimaan seorang wakil menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah). Dan (wakif) tidak berhak mencopot nazhir yang telah disyaratkan pengawasannya pada saat berwakaf, meskipun untuk suatu kemaslahatan. Dan jika wakif tidak mensyaratkan nazhir bagi siapapun, maka hak pengawasan berada di tangan hakim (qadi), yaitu hakim negeri tempat barang yang diwakafkan berada dalam hal pemeliharaan dan penyewaannya, serta hakim negeri penerima wakaf (mowquf 'alaih) dalam hal selain itu menurut pendapat mazhab; karena hakim adalah pemilik pengawasan umum (al-nazhar al-'amm), sehingga ia lebih utama daripada yang lain, meskipun orang itu adalah wakif atau penerima wakaf.

وجزم الخوارزمي بثبوته للواقف وذريته بلا شرط ضعيف.

Adapun ketetapan Al-Khawarizmi bahwa pengawasan itu secara pasti menjadi hak wakif dan keturunannya tanpa syarat adalah pendapat yang lemah.

قال السبكي: ليس للقاضي أخذ ما شرط للناظر إلا أن صرح الواقف بنظره كما أنه ليس له أخذ شيء من سهم عامل الزكاة.

Al-Subki berkata: Hakim tidak berhak mengambil apa yang telah disyaratkan bagi nazhir kecuali jika wakif menegaskan bahwa pengawasannya dipegang oleh hakim, sebagaimana hakim juga tidak berhak mengambil sesuatu dari bagian amil zakat.

قال ابنه التاج: ومحله في قاض له قدر كفايته.

Putranya, At-Taj, berkata: Hal itu berlaku bagi hakim yang sudah memiliki bagian yang mencukupi kebutuhannya.

وبحث بعضهم أنه لو خشي من القاضي أكل الوقف لجوره جاز لمن هو بيده صرفه في مصارفه: أي إن عرفها وإلا فوضه لفقيه عارف بها أو سأله وصرفها.

Sebagian ulama berpendapat bahwa jika dikhawatirkan hakim akan memakan harta wakaf karena kezalimannya, maka boleh bagi orang yang memegang harta wakaf tersebut untuk menyalurkannya sendiri ke alokasi-alokasinya; yaitu jika ia mengetahuinya, jika tidak, maka ia menyerahkannya kepada seorang ahli fiqih yang mengetahuinya atau menanyakannya lalu menyalurkannya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

وشرط الناظر واقفا كان أو غيره العدالة والاهتداء إلى التصرف المفوض إليه.

Syarat bagi seorang pengawas (nazhir), baik ia adalah orang yang berwakaf (wakif) maupun orang lain, adalah bersikap adil dan mempunyai kecakapan (kemampuan) dalam mengelola urusan yang dikuasakan kepadanya.

ويجوز للناظر ما شرط له من الأجرة وإن زاد على أجرة مثله ما لم يكن الواقف فإن لم يشرط له شيء فلا أجرة له نعم: له رفع الأمر إلى الحاكم ليقرر له الأقل من نفقته وأجرة مثله كولي اليتيم وأفتى ابن الصباغ بأن له الاستقلال بذلك من غير حاكم.

Dan boleh bagi nazhir mengambil upah yang telah disyaratkan baginya meskipun melebihi upah standar (ujratul mitsli), selama ia bukan si wakif itu sendiri. Jika tidak disyaratkan sesuatu baginya, maka ia tidak berhak mendapat upah; namun ia boleh mengajukan perkara tersebut kepada hakim agar menetapkan baginya jumlah yang lebih kecil antara biaya nafkahnya dan upah standar, sebagaimana wali anak yatim. Dan Ibn Al-Shabbagh berfatwa bahwa ia berhak menetapkannya secara mandiri tanpa memerlukan hakim.

وينعزل الناظر بالفسق فيكون النظر للحاكم.

Nazhir terlepas (terazal) dari jabatannya disebabkan kefasikan, sehingga pengawasan berpindah kepada hakim.

وللواقف عزل من ولاه ونصب غيره إلا إن شرط نظره حال الوقف.

Dan wakif berhak mencopot orang yang telah diangkatnya dan mengangkat orang lain, kecuali jika ia telah mensyaratkan pengawasannya pada saat transaksi wakaf.

تتمة لو طلب المستحقون من الناظر كتاب الوقف ليكتبوا منه نسخة حفظا لاستحقاقهم: لزمه تمكينهم كما أفتى به بعضهم.

Penyempurna: Jika orang-orang yang berhak menerima wakaf meminta dokumen wakaf dari nazhir untuk mencatat salinannya demi menjaga hak-hak mereka, maka nazhir wajib memberi mereka kesempatan, sebagaimana yang difatwakan oleh sebagian ulama.