(الاسم وأقسامه)

(أسماء الأصوات)

(أسماء الأصوات)

أسماءُ الأصوات على نوعين نوعٌ يُخاطَبُ به ما لا يَعقِلُ من الحيوان أو صغار الإنسان، وهو يُشبِهُ اسمَ الفعلِ من حيثُ صِحَّة الإكتفاءِ به وإنما لم يُجعلِ إِسمَ فعلٍ، لأنهُ لا يحملُ ضميراً، ولا يقعُ في شيءٍ من تراكيب الكلام، بخلاف اسم الفعل. وذلك ما كان موضوعاً للزَّجر كهَلا (للفرَس) ؛ وعَدَسْ (للبغل، وغيرهما مما يُزجَرُ به الحيوانُ) ، وكَخْ (بفتح الكافِ وكسرِها، لزجرِ الطفلِ عن تناوُل شيءٍ، أو ليتقذَّرَ من شيءٍ، أو للدُّعاء كنِخْ (للبعير الذي يُناخُ) ، و"سَأْ" للحمار الذي يُورَدُ الماءَ، أو يُزجرُ ليمضي) . ونوعٌ يُحكى بِهِ صوتٌ من الأصوات المسموعة. كقَبْ (لِوَقْعِ السيف"، وغاقِ "لصوت الغُراب" وطَقْ "لصوت الحجر"، ووَبْهِ للصُّراخ على الميت" ولذلك بُني نحو سيبويه لأنه مختومٌ باسم صوت. وكلا النوعينِ من الأسماءِ المبنيَّة. وقد بُنيَ لأنه أشبهَ الحرف المُهمَلَ عنه العمل، في كونه يُستعملُ لا عاملاً ولا معمولاً. وقد يُسمى صاحبُ الصوت باسم صوته المنسوب إليه، كما يُسمّى الغُراب "غاقِ" أو باسم ما يُصوَّتُ لهُ به، كما يُسمى البغلُ "عَدَس"، ومنهُ قولُ الشاعر [من الرجز] إِذا حَمَلتُ بَدَني عَلى عَدَسْ … على الذي بينَ الحمار والفَرَسْ فلا أُباليَ مَنْ عَدَا ومَنْ جَلَسْ

*Asma' al-Ashwat* (kata benda suara) terbagi menjadi dua jenis: Jenis pertama adalah yang digunakan untuk menyapa hewan yang tidak berakal atau anak kecil manusia. Jenis ini menyerupai *ism al-fi'il* (kata benda yang bermakna kata kerja) dalam hal keabsahan mencukupkan diri dengannya. Namun, ia tidak digolongkan sebagai *ism al-fi'il* karena tidak mengandung *dhamir* (kata ganti) dan tidak menempati posisi dalam struktur kalimat, berbeda dengan *ism al-fi'il*. Contohnya adalah kata yang dibuat untuk *zajr* (hardikan/larangan) seperti "*halā*" (untuk kuda); "*adas*" (untuk bagal, dan hewan lain yang dihardik); dan "*kakh*" (dengan huruf *kaf* yang di-*fathah*-kan atau di-*kasrah*-kan, untuk menghardik anak kecil agar tidak mengambil sesuatu atau agar ia merasa jijik terhadap sesuatu); atau untuk *du'a'* (panggilan/perintah) seperti "*nikh*" (untuk unta agar menderam); dan "*sa'*" (untuk keledai yang dibawa ke air atau dihardik agar berjalan). Jenis kedua adalah yang digunakan untuk menirukan suatu suara yang terdengar. Seperti "*qab*" (untuk suara tebasan pedang), "*ghāqi*" (untuk suara burung gagak), "*thaq*" (untuk suara batu), dan "*wabh*" (untuk teriakan atas kematian). Oleh karena itu, kata seperti "*Sibawaih*" di-*mabni*-kan karena diakhiri dengan *ism shaut*. Kedua jenis ini termasuk dalam kategori *asma' mabniyyah* (kata benda yang statis). Ia di-*mabni*-kan karena menyerupai *harf muhmal* (huruf yang tidak beramal/tidak mempengaruhi *i'rab*) dalam hal penggunaannya yang tidak sebagai *'amil* (subjek yang mempengaruhi) maupun *ma'mul* (objek yang dipengaruhi). Terkadang pemilik suara dinamai dengan nama suaranya yang dinisbatkan kepadanya, sebagaimana burung gagak dinamai "*ghāqi*", atau dinamai dengan kata yang digunakan untuk memanggilnya, sebagaimana bagal dinamai "*adas*". Di antaranya adalah perkataan penyair: *Idzā hamaltu badanī 'alā 'adas… 'alā alladzī baina al-himāri wa al-faras… falā ubālī man 'adā wa man jalas* (Jika aku membawa tubuhku di atas 'Adas [bagal]… di atas hewan yang berada di antara keledai dan kuda… maka aku tidak peduli siapa yang berlari dan siapa yang duduk).

أي إِذا حملته على البغل. وحينئذٍ يُحكى على بنائه، وهو القياس، والمختارِّ عندَ المحققين، فتقول "رأيتُ غاقٍ"، بالكسر، "ركبتُ عَدَسْ" بالسكون. وقد يُعرَبُ لوقوعه موقعَ مُعرَبٍ، فيقال "رأيتُ غاقاً، وركبتُ عَدَساً".

Maksudnya, jika engkau membawanya di atas bagal. Dalam kondisi demikian, kata tersebut dihikayatkan (*yuhka*) sesuai dengan ke-*mabni*-annya, dan ini merupakan analogi yang berlaku (*al-qiyas*) serta pendapat terpilih di kalangan para peneliti tata bahasa (*al-muhaqqiqun*). Maka engkau katakan *ra'aitu ghaqin* (رَأَيْتُ غَاقٍ) dengan kasrah, dan *rakibtu 'adas* (رَكِبْتُ عَدَسْ) dengan sukun. Namun terkadang kata tersebut di-*i'rab* karena menempati posisi kata yang *mu'rab*, sehingga diucapkan *ra'aitu ghaqan* (رَأَيْتُ غَاقاً) dan *rakibtu 'adasan* (رَكِبْتُ عَدَساً).